• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETIKA KORUPSI MENJADI BUDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KETIKA KORUPSI MENJADI BUDAYA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KETIKA KORUPSI MENJADI

BUDAYA

Nama

: RACHMAD RIYADI

NIM

: 11.02.8037

Kelompok : A

Kelas

: 11.D3MI.02

(2)

Abstrak

Riyadi, Rachmad. “Ketika Korupsi Menjadi Budaya” Tugas, Manajemen Informatika, STMIK AMIKOM YOGYAKARTA.

Penulisan tugas ini dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan dengan sumber dari buku dan internet. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui mengapa korupsi ini menjadi hal yang tidak bisa dihilangkan sampai saat ini. Yang menjadi permasalahan adalah mengapa tindak pidana korupsi menjadi budaya dan tumbuh subur di Indonesia. Hal-hal yang melatarbelakangi tindakan tersebut juga menjadi tanda tanya di benak kita, sehingga perlu diungkap pula permasalah ini. Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh tindakan korupsi dan bagaimana cara untuk memberikan efek jera bagi para koruptor juga akan dibahas dalam tulisan ini. Dan dari kesimpulan yang didapat,akan dimasukkan saran-saran untuk permasalahan yang dibahas.

(3)

Riyadi, Rachmad. “Ketika Korupsi Menjadi Budaya” Tugas, Manajemen Informatika, STMIK AMIKOM YOGYAKARTA.

The writing assignment is done using methods from the literature with books and internet sources. The objective is to find out why corruption is a thing that can’t be eliminated until this moment. The problem is why the culture of corruption and thrives in Indonesia. Things that are behind these acts is also a question mark in our minds, so that these problems need to be revealed anyway. The impacts caused by the acts of corruption and how to provide a deterrent effect for the corruptors will also be discussed in this paper. And the conclusion is obtained, will be included suggestions for the subject matter covered.

(4)

Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan pemerintahan demokrasi, seluruh warga masyarakat ikut dalam proses penentuan wakil rakyat secara langsung. Mereka yang terpilih akan menduduki kursi parlemen, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional yang berada di Senayan. Masyarakat memberikan kepercayaan kepada mereka dengan harapan aspirasi-aspirasi masyarakat bisa tersalurkan dan dapat meningkatkan taraf hidupnya. Namun apa yang terjadi, mereka yang telah dipercaya masyarakat tidak sedikit yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan melakukan tindak pidana korupsi. Akan tetapi, korupsi tidak hanya terjadi dalam parlemen, namun telah terjadi di hampir semua aspek kehidupan baik di birokrasi kelembagaan negara, pemerintahan, dunia usaha milik negara maupun swasta, partai politik, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga pendidikan, bahkan sampai ke lembaga keagamaan.

Banyak hal yang mendasari terjadinya tindak pidana korupsi ini, dan yang paling mendasar adalah keinginan untuk memperkaya diri dan orang-orang di sekitarnya dan hal tersebut didukung oleh kesempatan yang diperoleh.

Dengan banyaknya kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, mengakibatkan kerugian yang dialami oleh negara ini tidak sedikit. Hal itu pun berdampak pada masyarakat kalangan bawah yang seharusnya mendapat fasilitas atau bantuan dana menjadi tidak bisa dilaksanakan. Sehingga bisa dikatakan bahwa negara Indonesia ini masih dalam keadaan terjajah, namun warganya sendiri yang menjajahnya, bukan negara lain.

Memang Indonesia bukan satu-satunya negara korupsi, namun Indonesia telah masuk dalam 10 besar negara terkorup di dunia. Hal ini bukan sebagai prestasi yang membanggakan, namun hal ini cukup memalukan. Korupsi pada saat ini maupun masa yang akan datang merupakan ancaman serius yang dapat membahayakan perkembangan kehidupan bangsa-bangsa pada umumnya, khususnya Bangsa Indonesia. Oleh karena itu sebagai generasi penerus bangsa,

(5)

kita mencoba untuk meminimalisir korupsi dengan selalu bersikap jujur, disiplin, dan tentu saja selalu dekat dengan Tuhan.

(6)

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah :

1. Apakah yang melatarbelakangi tindak pidana korupsi terjadi? 2. Mengapa korupsi menjadi budaya dalam pemerintahan Indonesia? 3. Apa saja dampak yang di timbulkan oleh tindak pidana korupsi? 4. Bagaimana cara agar pelaku korupsi (koruptor) merasa jera dengan

(7)

Pendekatan

Dalam membahas masalah korpusi yang terjadi di Indonesia, diperlukan pendekatan-pendekatan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh. Pendekatan-pendekatan tersebut meliputi pendekatan historis, pendekatan sosiologis dan pendekatan yuridis.

Korupsi yang terjadi di Indonesia memang bukan terjadi baru-baru ini saja, melainkan telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Soeharto. Pada saat praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merajalela, hampir seluruh instansi serta lembaga pemerintahan dan wakil rakyat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu secara demokratis. Sistem politik dikembangkan ke arah sistem “Birokratik Otoritarian” dan suatu sistem “Korporatik”. Sistem ini ditandai dengan konsentrasi kekuasaan dan partisipasi di dalam pembuatan keputusan-keputusan nasional yang berada hampir seluruhnya pada tanganpenguasa negara, kelompok militer, kelompok cendekiawan dan kelompok wiraswastawan oligopilstik dan bekerjasama dengan masyarakat bisnis internasional. Berbagai

macam program yang mengatasnamakan kepenttingan rakyat, namun

kenyataannya hanya menguntungkan sekelompok kecil yaitu para elit ekonomi dan para pejabat, sehingga hampir di seluruh tanah air banyak pejabat melakukan praktek KKN untuk kepentingan pribadi. Praktek korupsi kini berlanjut hingga masa kepemimipinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Banyak petinggi negara dan wakil rakyat yang terjerat hukum tindak pidana korupsi.

Banyak dampak negatif dari tindakan korupsi ini, diantaranya adalah semakin menurunnya kepercayaan masyarakat akan kinerja wakil rakyat sehingga dalam proses pemilihan umum banyak yang memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya alias golput. Dari sisi ekonomi, dampak yang ditimbulkan adalah semakin menurunnya kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat karena anggarannya semakin minim.

Selain menimbulkan dampak yang negatif bagi kehidupan masyarakat, korupsi juga bertentangan dengan pancasila dan melanggar undang-undang.

(8)

Undang-undang yang secara khusus menangani tindak pidana korupsi menurut United Nations Convention Against Corruptions adalah UU RI No 7 tahun 2006, UU RI No 30 tahun 2002, Penjelasan UU RI No 30 tahun 2002, UU RI No 31 tahun 1999, UU RI No 20 tahun 2001, UU RI No 28 tahun 1999, Penjelasan UU RI No 28 tahun 1999. Di Indonesia sendiri telah memiliki komisi yang bertugas untuk memberantas korupsi, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi, dan masih ada lagi lembaga swadaya masyarakat di bidang pemantauan dan pemberantasan korupsi yaitu Indonesian Corruption Watch (ICW) dan NGO lainnya.

(9)

Pembahasan

Korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Korupsi dewasa ini telah merajalela dalam hampir semua aspek kehidupan kita, baik di birokrasi kelembagaan negara, pemerintahan, dunia usaha milik pemerintah maupun swasta, partai politik, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga pendidikan bahkan lembaga keagamaan.

Yang melatarbelakangi tindak pidana korupsi di Indonesia biasanya adalah keinginan untuk mendapatkan kekayaan yang instan. Karena semakin seseorang memiliki uang maka taraf hidupnya akan semakin terjamin dan tentunya akan disegani oleh orang lain. Dalam masyarakat kita dewasa ini, peranan uang semakin besar dan sangat kuat pengaruhnya, bahkan ada kecenderungan uang telah menjadi ukuran segala-galanya, uang sudah dipertuhankan, apalagi dalam masyarakat kita yang semakin konsumtif, hedonistik dan pragmatik. Karena itulah kalau seseorang mau berkuasa di negeri ini, ingin menjadi presiden, gubernur dan bupati atau walikota, tidak akan mungkin dicapai tanpa uang. Mereka memerlukan tim sukses yang besar biayanya. Seseorang yang berkarakter dan berkualitas, tidak akan jadi presiden, gubernur, bupati atau walikota kalau tidak disokong oleh dana yang kuat. Bahkan muncul anggapan bahwa hukum negeri ini dapat dibeli dengan uang,sehingga kini KUHP yang semestinya Kitap Undang-undang Hukum Pidana diplesetkan menjadi Kasih Uang Habis Perkara.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup beberapa unsur, seperti perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi, merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, memberi atau

(10)

menerima hadiah (penyuapan), penggelapan dalam jabatan, pemerasan dalam jabatan, dan menerima gratifikasi.

Dalam melakukan tindak pidana korupsi, para koruptor menemukan kondisi yang sangat mendukung tindakannya tersebut. Kondisi-kondisi yang mendukung tindak pidana korupsi antara lain :

- Konsentrasi kekuasaan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik.

- Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah.

- Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal.

- Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.

- Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan “teman lama”.

- Lemahnya ketertiban hukum.

- Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa. - Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.

- Lemahnya keimanan terhadap Tuhan.

Modus operandi yang biasa dilakukan oleh para koruptor untuk melakukan tindak pidana korupsi biasanya :

- Memperbanyak atau memperbesar anggaran.

- Menyalurkan dana APBD kepada lembaga/yayasan fiktif. - Memanipulasi dana perjalanan dinas.

- Penggunaan dana sisa tanpa prosedur.

- Penyimpangan prosedur pengajuan dan pencairan dana kas daerah. - Memanipulasi proses pengadaan.

Kegiatan praktek korupsi bukan saja terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun telah terjadi sejak masa kepemimpinan Soeharto. Mereka sadar bahwa yang meraka lakukan adalah

(11)

tindakan yang melanggar pancasila dan melanggar hukum. Namun, mengapa korupsi tersebut masih tetap menjadi budaya hingga saat ini, selain adanya kondisi yang telah disebutkan diatas, karena adanya kesempatan yang sangat besar dan terbuka luas.

Pada era Soeharto, korupsi terjadi pada mereka yang berada di lingkungan pusat kekuasaan, karena saat itu pemerintah pusat sedemikian super power di dalam mengendalikan semua urusan secara sentralistik. Sedangkan pada saat ini, dimana kewenangan pemerintahan diserahkan kepada daerah (desentralisasi), maka praktek korupsi tidak hanya terjadi di lingkungan pusat, melainkan merajalela hingga elit daerah karena memiliki ruang yang sangat besar untuk melakukannya. Selain adanya kesempatan yang besar, lemahnya hukum juga mempengaruhi mengapa budaya yang tidak seharusnya dilestarikan ini masih eksis di Indonesia. Kelemahan hukum ini bisa terjadi karena ketidakmampuan para elit politik, terutama legislatif untuk menyusun dan merancang perangkat hukum pemberantasan korupsi atau ketidakmampuan para elit poitik, baik eksekutif maupun legislatif untuk membuat perangkat hukum pemberantasan korupsi yang ideal. Ketidakmampuan ini jelas ditunjukkan dengan dibuatnya perangkat hukum yang masih mengandung banyak celah yang dapat membuat elit politik tersebut keluar dari sanksi hukum. Hukum dibuat untuk kepentingan sendiri dan golongan, bukan benar-benar untuk memberantas korupsi secara nyata dan massif. Serta adanya asas praduga tidak bersalah,menjadikan tempat berlindungnya para koruptor yang mengerti lemahnya hukum di Indonesia.

Faktor berikutnya yang membuat korupsi masih subur di Indonesia adalah rendahnya komitmen para penegak hukum itu sendiri di dalam memberantas korupsi. Kelemahan ini juga mengandung bahwa upaya memberantas korupsi masih diupayakan setengah hati, bahkan justru terlibat di dalam kasus korupsi tersebut. Dalam beberapa tahun belakangan ini, lembaga pemerhati korupsi (NGO) seperti TII dan ICW, berdasarkan hasil survey, mereka sering menempatkan lembaga seperti kepolisian, pengadilan dan kejaksaan sebagai institusi negara terkorup. Padahal, semua rakyat Indonesia tahu bahwa ketiga

(12)

lembaga negara ini merupakan lembaga-lembaga yang paling berwenang menangani kasus-kasus tindak pidana korupsi. Dengan demikian, tidak heran jika rakyat masih sangat meragukan kinerja ketiga lembaga tersebut di dalam upaya memberantas korupsi. Sementara, satu-satunya lembaga negara yang masih memiliki kredibilitas yang cukup baik di mata rakyat, yaitu KPK, justru dilemahkan. Hal ini tentu agar korupsi masih bisa berlangsung.

Dampak korupsi yang sangat terlihat adalah timbulnya kesengsaraan rakyat. Di negara miskin korupsi menurunkan pertumbuhan ekonomi, menghalangi perkembangan ekonomi dan menggerogoti keabsahan politik yang akibat selanjutnya dapat memperburuk kemiskinan dan ketidakstabilan politik. Di negara maju korupsi mungkin tidak begitu berpengaruh terhadap perekonomian negaranya, tetapi korupsi dapat menggerogoti keabsahan politik di negara demokrasi yang maju industrinya, sebagaimana terjadi pula di negara berkembang. Korupsi mempunyai pengaruh yang paling menghancurkan di negara-negara yang sedang mengalami transisi seperti Indonesia. Apabila tidak dihentikan, korupsi dapat menggerogoti dukungan terhadap demokrasi dan sebuah ekonomi pasar.

Masalah korupsi merupakan masalah yang mengganggu, dan menghambat pembangunan nasional karena karupsi telah mengakibatkan terjadinya kebocoran keuangan negara yang justru sangat memerlukan dana yang sangat besar di masa terjadinya krisis ekonomi dan moneter. Terpuruknya perekonomian Indonesia yang terus menerus pada saat ini mempengaruhi sendi-sendi kehidupan di dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Karena itulah perlu segera diberantas tindak pidana korupsi ini. Upaya pemberantasan korupsi secara optimal haruslah dimulai dari pemimpin negeri ini. Sekedar komitmen saja untuk memberantas tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan tindakan tegas di dalam menegakkan komitmen tersebut. Tidak cukup hanya dengan berpidato atau mengeluarkan pernyataan saja untuk menegaskan komitmen tersebut, sementara minim tindakan tegas di lapangan. Pentingnya

(13)

pemimpin yang tegas juga memberikan koridor yang jelas bahwa pemberantasan korupsi bukan sekedar pemanis bibir semata atau menjaga image yang bersih.

Hukum yang diberlakukan kepada koruptor saat ini dinilai masih sangat ringan. Hukum masih bisa diperjualbelikan, bagi mereka yang berduit maka dalam menjalani hukuman pun tidak merasa sedang dihukum. Contohnya adalah fasilitas-fasilitas mewah yang berada dalam sel Gayus Halomoan Tambunan dan Artalyta Suryani. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Gayus bisa berlibur ke pulau Dewata. Remisi yang diberikan kepada koruptor pun sering kali melukai hati rakyat yang menginginkan hukuman yang seberat-beratnya bagi para koruptor. UU dan peraturan yang mengatur tentang remisi sebagaimana pasal 34 PP tahun 2006 seolah menjadi peluang para pelaku korupsi untuk menikmati hadiah yang bernama remisi tersebut. Pasal tersebut menerangkan bahwa semua tahanan akan mendapatkan remisi dengan bebrapa syarat diantaranya berkelakuan baik dan sudah menjalani sepertiga dari masa tahanan. Jika dilihat dari syarat tersebut, bukankah memang para koruptor memiliki kelakuan baik.

Pemberian remisi kepada para koruptor setidaknya akan meninggalkan dampak yang buruk. Pertama, akan memperburuk citra pemerintah di mata masyarakat. Pemerintah dipandang menjalankan setengah hati agenda

pemberantasan korupsi. Masyarakat menilai, pemerintah berpura-pura

menegakkan supremasi hukum. kemerdekaan “perampok” uang negara menegaskan, hukum sebagai panglima hanya bohong besar di Indonesia. Kedua, menghapus rasa keadilan masyarakat. Selama ini penangkapan para koruptor berlaku diskriminatif. Seorang koruptor banyak dibedakan dengan tahanan lainnya. Misalnya penemuan blackberry milik Nazaruddin atau fasilitas sel mewah milik Artalyta Suryani, sedangkan tahanan lain malah mendapatkan kekerasan. Ketiga, lemahnya aturan hukum di Indonesia. Pemberian remisi kepada pelaku korupsi tidak menekan potensi tindak pidana korupsi. Sebaliknya, hukum terhadap koruptor dianggap enteng dan tidak akan menimbulkan efek jera.

(14)

Koruptor seharusnya mendapatkan hukuman yang maksimal dan tidak diberikan remisi agar menimbulkan pembelajaran kepada masyarakat untuk tidak korupsi. Sebab perilaku mereka telah merugikan jutaan rakyat Indonesia. Kemudahan remisi hanya menimbulkan kerugian dan tidak sebanding dengan uang negara yang dikorupsi. Apalagi selama ini, penegak hukum sudah sering memberikan keistimewaan kepada koruptor.

Pemimpin negara ini harus belajar kepada negara-negara lain yang telah berhasil mengatasi kasus korupsi dengan baik. Hukum di negara-negara tersebut sangat keras terhadap para koruptor.

Dengan adanya hukum yang keras dan hukuman yang berat bagi koruptor, maka koruptor lainnya akan takut untuk melakukan korupsi. Hukuman-hukuman berat bisa berupa penghapusan remisi bagi koruptor, hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati. Walaupun banyak anggapan bahwa hukuman mati melanggar HAM, namun dalam UU No 20 tahun 2001 pasal 2 ayat (2), UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan “Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan.”

Beberapa tahun terakhir, Cina sangat giat melancarkan perang terhadap korupsi dengan menjatuhkan hukuman mati terhadap koruptor. Efektivitas penerapan pidana mati tersebut didasarkan juga pada alasan bahwasannya pidana mati itu lebih pasti dan tertentu dari hukuman penjara, karena hukuman perjara sering diikuti dengan kemungkinan melarikan diri karena pengampunan atau adanya pembebasan. Pidana mati sering dipertahankan, karena pada dasarnya pidana mati memakan ongkos yang jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan hukuman penjara seumur hidup. Hal ini dapat dijadikan contoh bagi Indonesia untuk menjatuhkan hukuman terhadap koruptor, khususnya koruptor kelas kakap.

(15)

Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan

Korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Korupsi dewasa ini telah merajalela dalam hampir semua aspek kehidupan kita, baik di birokrasi kelembagaan negara, pemerintahan, dunia usaha milik pemerintah maupun swasta, partai politik, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga pendidikan bahkan lembaga keagamaan.

Banyak hal yang melatarbelakangi tindak pidana korupsi ini, salah satunya adalah untuk memperkaya diri sendiri dan orang-orang sekitarnya secara cepat, dengan adanya kondisi-kondisi yang mendukung para koruptor untuk melakukan tindakannya tersebut. Lemahnya hukum yang berlaku di Indonesia menjadi ladang suburnya praktek korupsi. Para koruptor tidak merasa takut akan tindakannya melakukan pencurian uang negara karena hukum yang akan menjeratnya sangatlah ringan, apalagi dengan membayar uang dengan penegak hukum, maka fasilitas tambahan akan didapatkannya.

Dampak yang diakibatkan oleh tindak pidana korupsi itu sendiri tidaklah sedikit. Selain kerugian negara dalam bentuk materi, kerugian dalam bentuk politikpun akan dituai. Masyarakat menjadi tidak percaya lagi akan pemerintahan di Indonesia.

Agar korupsi di Indonesia dapat diminimalisir, bahkan diberantas, pemerintahan kita perlu mencontoh negara-negara yang telah sukses memerangi tindak pidana korupsi.

(16)

B. Saran

1. Membangunkan kesadaran masyarakat bahwa korupsi sama bahayanya dengan terorisme, sehingga menjadikan korupsi sebagai musuh bersama masyarakat.

2. Diperlukan penanaman budaya luhur kepada masyarakat (kejujuran, budaya malu, disiplin, kesederhanaan, daya juang).

3. Perlu ditingkatkan komitmen penegak hukum dalam

memberantas korupsi.

4. Diperlukan transparansi perencanaan program penganggaran. 5. Perlu diberlakukan hukuman yang berat bagi para koruptor,

seperti pemecatan dengan tidak hormat, penghapusan remisi, hukuman seumur hidup, dan hukuman mati sesuai dengan besarnya nominal yang dikorupsi untuk menimbulkan efek jera kepada mereka dan pembelajaran bagi masyarakat luas agar tidak melakukan tindakan korupsi.

6. Perlu diberlakukan perlakuan yang sama terhadap para koruptor dengan terdakwa kasus lainnya agar tidak meninggalkan citra buruk bagi lembaga penegak hukum.

(17)

Referensi http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi http://kampus.okezone.com/read/2011/09/13/95/501953/remisi-koruptor-sebuah-tradisi http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23713/4/Chapter%20I.pdf http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/533/44/ http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/ memerangi_korupsi_dprd.pdf

Kaelani,MS., 1998. Pendidikan Pancasila Yuridis Kewarganegaraan. Paradigma. Jogjakarta

Referensi

Dokumen terkait

Lilik Mulyadi mengatakan, implementasi dari teori restoratif salah satunya adalah pengembalian aset pelaku tindak pidana korupsi berupa tindakan hukum pidana,

dapat mengjangkau kejahatan korupsi tersebut, salah satunya adalah dengan menerapkan pembuktian terbalik terbatas dalam mengungkap tindak pidana korupsi yang sudah berakar

Tindak pidana korupsi adalah setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu1. korporasi dengan

Bentuk tindak pidana korupsi dan tindak pidana yang berkaitan dengan korupsi berdasarkan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi berupa: (1) Melawan hukum untuk

Untuk tindak pidana korupsi berdasarkan profesi dan jabatannya profesi advokat ikut menjadi subyek dalam menambah jumlah perkara tindak pidana korupsi bersama dengan

20/2001, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi (UU PTPK), dirumuskan dalam Pasal 2 ayat (1) merumuskan tindak pidana korupsi adalah : “setiap orang yang secara

20 Tahun 2001 Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi “ Setiap orang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri

Batasan perumusan unsur memperkaya dan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi dalam perkara tindak pidana korupsi secara terperinci tidak terdapat dalam pasal maupun