• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wahid Nashihuddin Pustakawan Pertama PDII-LIPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Wahid Nashihuddin Pustakawan Pertama PDII-LIPI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS, EKSISTENSI, DAN PEMBINAAN KARIR PROFESI PUSTAKAWAN:

TINJAUAN ANALISIS PROBLEM TREE DAN ANALISIS SWOT

Wahid Nashihuddin

Pustakawan Pertama PDII-LIPI email: [email protected]

PENDAHULUAN

Sebagai suatu profesi seharusnya pustakawan tidak dibedakan antara pustakawan

non-pemerintah (swasta) dan pustakawan pegawai negeri sipil (PNS). Pada hakekatnya, pustakawan

swasta dan pustakawan PNS memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, yaitu mengelola

perpustakaan dan mengembangkan ilmu kepustakawanan. Dalam era globalisasi ini, pustakawan

dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara kompeten dan profesional.

Mardiyanto (2010:24) telah menegaskan bahwa pustakawan sebagai suatu profesi lebih

ditekankan pada aspek kompetensi, yang berarti bahwa siapapun dia, asalkan memiliki

kompetensi dan bekerja di perpustakaan tanpa memandang perpustakaan negeri atau swasta

maka dapat disebut sebagai pustakawan. Ini berarti bahwa seorang pustakawan tidaklah

dibedakan dari jenis lembaganya, seperti pustakawan PNS dan pustakawan swasta, tetapi lebih

diakui sebagai suatu profesi yang memiliki kompetensi, tugas, dan tanggung jawab di

perpustakaan.

Berdasarkan eksistensinya di era library 2.0 sebagaimana yang dijelaskan oleh Zuntriana

(2010: 1) bahwa pustakawan telah diberi kesempatan untuk lebih banyak berbagi dan turut serta

mengambil peran dalam pembangunan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan

mereka dalam mendukung literasi anak bangsa, yang dapat dilakukan dengan cara menyediakan

informasi yang tersedia dimanapun dan kapanpun bagi pengguna yang membutuhkannya.

Artinya bahwa pustakawan dapat menjadi partner yang baik bagi pengguna (pemustaka) dalam

memanfaatkan sumber-sumber informasi. Pada era ini, pustakawan harus membekali dirinya

dengan kompetensi yang memadai agar mampu berkompetisi (berdaya saing) dengan profesi

informan lain, serta mampu menunjukkan dedikasi atas kinerjanya yang lebih baik kepada

lembaga dan masyarakat.

Upaya untuk meningkatkan eksistensi diatas tentunya sangat dipengaruhi oleh

perkembangan teknologi. Tantangan masa depan pustakawan sebagaimana yang dijelaskan oleh

Hernandono (1997) dalam Sumarsih (1999:36) adalah bagaimana meningkatkan dan mengakui

profesi pustakawan dalam era pasar bebas, khususnya yang terkait dengan produk dan jasa

informasi. Salah satu upaya untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan meningkatkan etos

kerja pustakawan dan kinerja manajemen perpustakaan yang lebih proaktif dan inovatif. Lebih

lanjut Nasuhaidi (1998:10-11) mengatakan bahwa dalam mengikuti perkembangan zaman

pustakawan harus dinamis, meskipun mengalami tantangan akibat: a) ketidakpuasan terhadap

gaji; b) kurangnya perhatian dan pengakuan profesi; c) minimnya peningkatan kemampuan dan

pengembangan diri; d) minimnya komunikasi ilmiah antar-pustakawan; e) tidak adanya otoritas

kemandirian pustakawan dalam pekerjaannya; f) ilmu pustakawan belum spesialis atau masih

umum; g) belum siapnya pustakawan menerima teknologi informasi; dan h) adanya kompetitor

dari para information broker, yaitu orang atau kelompok tertentu yang menyediakan informasi

untuk kepentingan bisnis.

Selain tantangan pustakawan di atas, kondisi pustakawan di Indonesia masih cukup

memprihatinkan. Kondisi ini terlihat dari kurangnya apresiasi atau reward bagi pustakawan

yang berprestasi, serta kurangnya perhatian lembaga atau pemerintah terhadap tunjangan

kesejahteraan pustakawan, khususnya pustakawan yang bekerja di lembaga

non-pemerintah/swasta. Nababan (2009:21) mengatakan bahwa prestasi kerja pustakawan,

khususnya pustakawan PNS yang menduduki jabatan fungsional pustakawan, baik front office

maupun back office masih jauh dari memuaskan. Pelayanan kepada pemustaka yang memuaskan

dan berkualitas masih jauh dari harapan. Penurunan kinerja tersebut disebabkan oleh kecilnya

nilai-nilai pada butir kegiatan pustakawan yang tercantum pada Keputusan Menpan

(2)

No.132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya,

yang dianggap belum memuaskan bagi pustakawan. Penurunan kinerja pustakawan dapat

berakibat tertundanya kenaikan jabatan dan pangkat pustakawan.

Meskipun pemerintah (dalam hal ini Perpustakaan Nasional RI) telah menyelenggarakan

program sertifikasi pustakawan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan status

profesi pustakawan swata, tetapi program tersebut belum mampu meningkatkan rasa percaya

diri dan kebanggaan bagi pustakawan. Kondisi tersebut terlihat dari sebagian besar pustakawan

yang telah tersertifikasi masih diberikan tugas oleh lembaga induknya sebagai tenaga teknis dan

administratif perpustakaan. Padahal, Kismiyati (2009:6) telah mengatakan bahwa tenaga teknis

perpustakaan adalah tenaga non-pustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi

perpustakaan, membantu pekerjaan fungsional yang dilaksanakan pustakawan, serta

melaksanakan pekerjaan lain dalam perpustakaan yang ditugaskan oleh atasannya untuk

efektivitas dan efisiensi pelayanan dan pengelolaan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan

pemustaka.

Masalah lain yang menyangkut status profesi pustakawan swasta di atas adalah pola

pembinaan karir bagi pustakawan swasta, sebagaimana yang dikatakan Sulistyo-Basuki (2014)

bahwa belum jelasnya pola pembinaan pustakawan swasta terlihat pada hal-hal berikut. 1) tidak

ditemukannya arti kata “pembinaan” dalam UU No 43 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah

nomor 14 tahun 2014 tentang pelaksanaan Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 tentang

Perpustakaan. 2) belum jelasnya besaran tunjangan pustakawan swasta.

STATUS DAN EKSISTENSI PROFESI

Pengertian status berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (2008) adalah

keadaan atau kedudukan (orang, badan, dsb) dalam hubungan dengan masyarakat di

sekelilingnya; berstatus artinya mempunyai status, berkedudukan. Ini berarti bahwa keberadaan

(existence) atau status seseorang/organisasi dapat dilihat dari cara pandang orang lain dalam

suatu lingkungan sosial. Eksistensi berarti hal berada, keberadaan. Zaenal (2007:16)

mendefinisikan eksistensi sebagai suatu proses yang dinamis, suatu, menjadi, atau mengada. Hal

tersebut sesuai dengan asal kata eksistensi yaitu exsistere, yang artinya keluar dari, melampaui,

atau mengatasi. Eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur dan mengalami

perkembangan atau kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan

potensi-potensinya.

Profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan/ keahlian (keterampilan,

kejujuran, dsb.) tertentu;

berprofesi berarti mempunyai profesi. Sedangkan profesional diartikan

sebagai sesuatu yang bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk

menjalankannya (KBBI, 2008). Abraham Flexner (1993) dalam Hermawan dan Zen (2006)

mengatakan bahwa profesi merupakan: a) pekerjaan intelektual; b) pekerjaan ilmiah (scientific);

c) pekerjaan praktikal (bukan teoritik); d) hal yang terorganisasi secara sistematis dan terstandar

(ada tolok ukur); e) pekerjaan altruisme yang berorientasi kepada masyarakat. Sulistyo-Basuki

(1992:244-245) mengatakan bahwa status profesi merupakan refleksi ketentuan yang mengatur

tingkat tanggung jawab, kualifikasi, prospek karir, tugas dan imbalan setiap posisi, tingkat

pelatihan, serta pengalaman yang diperlukan. Struktur profesi ini dibagi dalam empat tingkat,

yaitu: a) para profesional (teknisi dan asisten); b) profesional junior; c) profesional dengan

kualifikasi ganda; serta d) profesional senior dan manajer.

Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan bahwa status merujuk pada suatu

kedudukan seseorang, organisasi, atau badan usaha, yang dilihat dari cara pandang pihak/orang

lain terhadap keberadaanya (eksistensi) dalam suatu lingkungan sosial. Eksistensi dapat berubah

secara dinamis tergantung pada kemampuan dan aktualisasi diri dalam meningkatkan status

personal atau organisasinya. Jadi, eksistensi terhadap status profesi pustakawan sangat

tergantung dari kemampuan dan aktualisasi diri pustakawan untuk merubah status profesinya.

(3)

PROFESI PUSTAKAWAN

Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, bahwa

pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan

dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk

melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (Perpusnas, 2007). Berbeda dengan

definisi pustakawan yang dikatakan oleh Sutarno (2008:179), yaitu sebagai orang yang diangkat

dalam jabatan oleh pejabat yang berwenang dan diberikan tugas dalam jabatan perpustakaan,

dokumentasi, dan informasi atau jabatan lain dan diberikan hak sesuai dengan pegawai negeri

sipil (PNS).

Sudarsono (2010:47) telah menegaskan bahwa profesi pustakawan memang belum

sepenuhnya diterima sejajar dengan profesi lain. Pustakawan masih dianggap sebagai tenaga

administratif, padahal dalam rumusan dokumen International Federation of Library

Associations (IFLA) telah dinyatakan bahwa pustakawan adalah tenaga profesional yang

berfungsi sebagai penghubung aktif antara pemustaka dengan sumber daya informasi dan

pengetahuan. Untuk menuju profesionalisme pustakawan, harus ada Continuing Professional

Development (CPD) untuk pustakawan. Sudarsono (2010:49) menjelaskan, IFLA telah

menyebutkan bahwa untuk menuju profesionalisme pustakawan maka harus ada Continuing

Professional Development (CPD). Terdapat dua prinsip CPD IFLA, yaitu: 1) pendidikan

berkelanjutan dan pengembangan keprofesionalan sebagai tanggung jawab bersama antara

pribadi, lembaga, asosiasi profesi pustakawan, dan lembaga pendidikan perpustakaan dan

informasi; 2) semua inisiatif tentang sumber daya manusia dan etika keprofesionalan wajib

mengupayakan terjaminnya akses pustakawan pada kesempatan pengembangan profesionalitas

berkelanjutan. Mengacu pada konsep CPD tersebut, diketahui bahwa pustakawan merupakan

suatu profesi yang membutuhkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya.

Jika program CPD tersebut dilaksanakan oleh lembaga induk pustakawan, maka pustakawan

dapat menjadi mediator yang sangat penting dalam pemanfataan informasi dan pengetahuan.

Untuk itu, pustakawan sebagai tenaga profesional yang mandiri harus mencerminkan

kemampuannya (pengetahuan, pengalaman, keterampilan) dalam mengelola perpustakaan dan

mengembangkan ilmu kepustakawanan. Jika pustakawan masih dianggap sebagai tenaga teknis,

maka mereka juga belum dianggap mampu untuk berperan aktif dalam meningkatkan layanan

informasi dan memajukan lembaganya melalui program-program perpustakaan. Seharusnya

pustakawan yang telah tersertifikasi mendapatkan perhatian penuh dari lembaga dan

menjadikannya sebagai tenaga profesional untuk meningkatkan layanan perpustakaan dan

kemajuan lembaga induknya. Gunawan dan Vitriana (2010:47) mengatakan bahwa pustakawan

dapat disebut sebagai seorang profesional jika pustakawan mampu meningkatkan kemajuan

perpustakaan dan lingkungannya secara terus-menerus.

Pustakawan sebagai suatu profesi, haruslah memiliki ciri-ciri tertentu. Sudarsono (1990)

mengatakan bahwa pustakawan sebagai suatu profesi memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu: a)

profesi itu memberikan jasa yang amat penting bagi masyarakat; b) kesuksesan profesi

tergantung pada keahlian, prinsip-prinsip tertentu, dan teori yang diperoleh dengan pendidikan

formal; c) karena pekerjaan memerlukan spesialisasi, masyarakat mengakui hak profesi itu

untuk memberikan jasa, serta kekuasaan untuk menerima anggota baru dengan mengevaluasi

serta mengatur penampilan kerja dan perilaku anggotanya; d) pekerjaan profesi mencakup

pengambilan keputusan dan pemecahan soal yang harus didasarkan pada pengetahuan profesi

serta kebutuhan masing-masing pemakai jasa; e) profesi biasanya memiliki kode etik yang

diakui dan diterima oleh seluruh warganya; dan f) profesi dapat dikatakan sebagai panggilan

bagi seseorang.

Lebih lanjut, Hermawan dan Zen (2006) mengatakan bahwa ciri-ciri pustakawan yaitu:

a) memiliki lembaga pendidikan, baik formal maupun informal (pendidikan formal dapat

ditempuh pada tingkat diploma, sarjana, atau pascasarjana); b) memiliki organisasi profesi; c)

memiliki kode etik (sebagai acuan moral dalam melaksanakan tugas dan kewajiban

pustakawan); d) memiliki majalah ilmiah (sebagai sarana pengembangan ilmu dan komunikasi

antar anggota seprofesi); dan e) memiliki tunjangan profesi. Berdasarkan ciri-ciri di atas, maka

(4)

pustakawan merupakan suatu profesi yang dituntut untuk bekerja secara profesional dan dapat

mandiri dalam mengemban tugas dan pekerjaannya.

PEMBINAAN KARIR PUSTAKAWAN

Sulistyo-Basuki (1992:245) mengatakan bahwa sebagai karir, kemungkinan profesi

pustakawan dianggap sebagai profesi yang kurang terhormat ataupun kurang menjanjikan masa

depan yang baik. Akan tetapi bisa saja profesi ini menjanjikan lebih baik di masa depan karena

meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan masyarakat lebih menghargai

informasi. Dari kondisi tersebut diharapkan masyarakat akan lebih menghargai dan mengakui

pustakawan sebagai tenaga profesional serta pustakawan dapat menjadi aset yang berharga bagi

setiap orang. Hasil pertemuannya dengan fungsional arsiparis, disebutkan bahwa “membina”

artinya membantu pengembangan dan peningkatan SDM, sistem, manajemen, dan sebagainya.

Jika Perpusnas RI dapat menafsirkan kata “membina” seperti itu, maka tugas Perpusnas RI

adalah membina perpustakaan pemerintah maupun perpustakaan swasta.

Bentuk pembinaan pola karir pustakawan menurut Sulistyowati (2012:93-94) dapat

ditempuh dengan: a) mengikuti pendidikan formal ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan

informasi, program program diploma, sarjana, magister atau doktor; b) mengikuti pendidikan

dan pelatihan bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi; c) mengikuti seminar, loka

karya, workshop, konferensi, simposium, diskusi panel, pertemuan ilmiah dan sejenisnya; d)

mengikuti lomba-lomba di bidang perpustakaan, seperti pustakawan berprestasi, pustakawan

teladan; e) mengikuti salah satu organisasi atau kelembagaan bidang perpustakaan, misalnya

Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI); f) meningkatkan keahlian yang dimiliki terutama bidang

komputer dan bahasa Inggris; g) mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

yang semakin canggih; h) melakukan studi banding dan peninjauan ke berbagai perpustakaan

yang sudah maju; i) meningkatkan semangat dan motivasi kerja pustakawan dalam memberikan

pelayanan yang terbaik dan memuaskan pengguna; serta j) membuat tulisan dalam bidang

kepustakawanan.

Saat ini, Perpusnas RI telah merancang/merumuskan program pengembangan karir

pustakawan berbasis kompetensi, khususnya pembinaan karir bagi pustakawan jabatan

fungsional PNS. Pola karir jabatan fungsional pustakawan adalah pola pembinaan PNS yang

menggambarkan alur pengembangan karir yang menunjukkan keterkaitan dan keserasian antara

jabatan, pangkat, pendidikan dan pelatihan, kompetensi serta masa jabatan seseorang PNS sejak

pengangkatan pertama dalam jabatan tertentu sampai dengan pensiun. Sistem pembinaan karir

pustakawan tersebut diperlukan untuk menjamin penyelenggaraan tugas pemerintahan melalui

kepustakawanan, yang mampu memberikan keseimbangan akan terjaminnya hak dan kewajiban

pustakawan sesuai dengan misi ditiap satuan unit atau organisasi perpustakaan. Adapun tujuan

dari sistem pembinaan pola karir pustakawan tersebut adalah untuk: 1) mendayagunakan

kemampuan profesional yang disesuaikan dengan kedudukan yang dibutuhkan dalam setiap unit

organisasi perpustakaan; 2) mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia perpustakaan

sesuai dengan kompetensinya yang diarahkan pada misi perpustakaan serta visi badan induknya;

3) membina kemampuan, kecakapan, keterampilan secara efisien dan rasional, sehingga potensi

dan motivasi pustakawan tersalur secara objektif ke arah pencapaian tujuan organisasi di mana

perpustakaan berada; 4) menyediakan spesifikasi tugas, tanggung jawab, hak dan wewenang

pustakawan yang jelas serta terdistribusi secara seimbang pada seluruh jenjang jabatan

fungsional pustakawan; 5) memberikan gambaran tentang jabatan, kedudukan dan jalur yang

mungkin dapat dilalui dan dicapai pustakawan, serta persyaratan yang harus dipenuhi guna

mencapai jabatan fungsional pustakawan; 6) memberi kesempatan kepada pustakawan untuk

naik jabatan sesuai ketentuan yang berlaku; 7) menjadi dasar bagi setiap pimpinan perpustakaan

dalam rangka mengambil keputusan yang berkaitan dengan sistem managemen kepegawaian; 8)

menciptakan keterpaduan yang serasi antara kemampuan, keterampilan dan motivasi dengan

jenjang penugasan, agar jabatan fungsional pustakawan yang tersedia menghasilkan manfaat dan

kapasitas kerja yang optimal secara profesional (Perpusnas, 2011).

(5)

ANALISIS PROBLEM TREE

Menurut Vesely (2008), kerangka masalah analisis problem tree terdiri dari tiga bagian,

yaitu penyebab (impact), masalah pokok (main problem), dan akibat (causes). Analisis problem

tree digambarkan dengan diagram berikut ini.

Melalui analisis problem tree di atas, dapat ditentukan penyebab, masalah pokok, dan akibat

secara spesifik dan mengerucut. Meskipun tidak semua, tetapi ada salah satu masalah yang

dijadikan bahasan spesifik untuk dicarikan solusinya. Ada beberapa tahapan dalam penerapan

analisis problem tree yang juga akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1) mengidentifikasi dan membuat daftar beberapa permasalahan;

2) mengidentifikasi hal-hal yang menjadi masalah pokok;

3) mengidentifikasi sebab dan akibat yang timbul dari masalah pokok;

4) merumuskan draft tersebut ke dalam diagram problem tree analysis.

Berdasarkan teori dan pengamatan sementara, untuk mengalisis

status, eksistensi, dan

pembinaan karir profesi pustakawan dengan analisis

Problem Tree ini, dapat dijelaskan

sebagai berikut.

(6)

ANALISIS SWOT

Salah satu perangkat untuk mengevaluasi kinerja pustakawan dan perpustakaan adalah

dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Kenda (2010:6)

mengatakan bahwa analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi

dan mengevaluasi suatu masalah, proyek, atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal

(dalam) dan faktor ekseternal (luar). Lebih lanjut, McDonald (2007) menjelaskan analisis

SWOT sebagai suatu perangkat yang dapat membantu dalam mengidentifikasi gejala-gejala

permasalahan yang timbul di dalam suatu organisasi. Analisis SWOT dapat dijadikan pondasi

untuk menentukan strategi, perencanaan kerja, bahkan dalam menemukan ide-ide dalam

perencanaan kerja kedepannya. Analisis SWOT harus berisi indikator-indikator yang jelas

mengenai faktor kunci keberhasilan.

Eksistensi dan status pustakawan non-pemerintah belum diakui

Permasalahan yang ada

Permasalahan spesifik

(pola pembinaan karir pustakawan non-pemerintah yang belum diatur secara jelas)

Solusi inovatif penyelesaian masalah Belum diaturnya pola

pembinaan karir pustakawan non-pemerintah secara jelas

Belum adanya pengakuan pustakawan sebagai tenaga profesional dari

lembaga induknya Belum jelasnya standar pemberian tunjangan pustakawan non-pemerintah Kepala perpustakaan bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan dan informasi Masih melekatnya budaya nepotisme dalam perekrutan pustakawan non-pemerintah Belum adanya standar penilaian pekerjaan/ Juknis untuk pustakawan non-pemerintah Pustakawan bekerja multi tasking dilembaganya (one person library) Belum adanya program pelatihan khusus bagi pustakawan non-pemerintah dari PNRI UU No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan belum mengatur pola pembinaan karir pustakawan non-pemerintah Pemerintah (PNRI) perlu menetapkan kualifikasi/ persyaratan Kepala Perpustakaan Lembaga Non-Pemerintah Seleksi dan perekrutan pustakawan sesuai dengan kompetensi kepustakawanan dan kompetensi lain yang sesuai

kebutuhan lembaga Lembaga perlu mengadopsi Juknis Pustakawan PNS dan kualifikasi lain yang sesuai

kebutuhan Lembaga menetapkan rincian tugas pustakawan sesuai dengan kompetensinya Pustakawan mengikuti program sertifikasi profesi pustakawan; PNRI menyelenggaraka n program pelatihan khusus bagi pustakawan non-pemerintah misalnya short course dan Pemerintah perlu menetapkan PP/ Perka PNRI tentang

ketentuan pembinaan karir pustakawan non-pemerintah Rendahnya semangat kerja Kurangnya kesejahteraan Kurangnya

rasa percaya diri

Penyebab Masalah Pokok

(7)

Terkait dengan penerapan analisis SWOT untuk kinerja pustakawan, Sulistyowati

(2012:91-92) mengatakan bahwa analisis SWOT dapat mengevaluasi kinerja pustakawan pada

situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif, yaitu menempatkan situasi dan kondisi sebagai

faktor masukan yang dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing dengan gambaran

berikut ini.

1) Kekuatan (strength)

Kondisi pustakawan harus memiliki kualitas kinerja yang baik serta mampu

mendayagunakan segala potensi dan sumber daya perpustakaan secara optimal. Beberapa

sumber kekuatan dan sumber daya perpustakaan, yaitu sumber daya manusia (SDM),

koleksi, sarana dan prasarana, pengguna, anggaran, lingkungan kerja, dan mitra kerja.

2) Kelemahan (weakness)

Kelemahan perpustakaan merupakan kondisi perpustakaan yang tidak dapat berfungsi

dengan baik, karena adanya hambatan atau kendala yang mempengaruhi kinerja

pustakawan. Hambatan tersebut berupa sumber daya perpustakaan yang tidak memadai

dan buruknya sistem administrasi dan manajemen perpustakaan.

3) Kesempatan/peluang (opportunity)

Kesempatan/peluang senantiasa dihubungkan dengan ketersediaan anggaran/dana,

kebijakan dan perhatian pimpinan, komitmen pimpinan, sarana dan prasarana yang

memadai dalam mendukung pengembangan perpustakaan.

4) Ancaman (threat)

Ancaman bagi perpustakaan adalah maraknya perkembangan pusat-pusat informasi dan

dokumentasi, tempat hiburan dan acara televisi, serta status dan kedudukan (image)

perpustakaan. Jika image perpustakaan baik tentunya ada peran pustakawan yang besar

dalam memajukan perpustakaan.

Menurut Harrison (2010), analisis SWOT adalah penggambaran situasi-situasi yang

kemungkinan terjadi di dalam organisasi. Strengths dan Weaknesses terjadi pada situasi internal,

sedangkan opportunities dan threats terjadi pada situasi eksternal organisasi. Di bawah ini

gambaran situasi organisasi berdasarkan analisis SWOT. Kerangka analisis Problem Tree dan

analisis SWOT digambarkan sebagai berikut.

Berdasarkan teori dan pengamatan sementara, untuk mengalisis

status, eksistensi, dan

pembinaan karir profesi pustakawan dengan analisis SWOT

ini, dapat dijelaskan sebagai

berikut.

(8)

STRENGHTS (S) 1. Sertifikasi pustakawan 2. Peraturan pemerintah

tentang pola pembinaan karir pustakawan dan kualifikasi pengelola perpustakaan non-pemerintah/swata

3. Anggaran dan sarana yang memadai

WEAKNESSES (W)

1. Belum jelasnya pola pembinaan karir pustakawan non-pemerintah

2. Belum jelasnya standar penilaian kerja pustakawan non-pemerintah

3. Budaya nepotisme dalam perekrutan dan seleksi tenaga pustakawan 4. Kurangnya perhatian lembaga induk,

sehingga tidak ada pengembangan karir bagi pustakawan dan penetapan pimpinan perpustakaan bukan orang yang kompeten dibidangnya OPPORTUNITIES (O)

1. Kompetisi dengan

pustakawan lain (kompetitor) 2. Promosi jabatan

3. Peningkatan tunjangan/insentif

S + O

Meningkatkan citra (image) perpustakaan dan pustakawan

W + O

Merencanakan pengembangan karir pustakawan

THREATS (T) 1. Mutasi kerja

2. Penurunan level jabatan 3. Pemberhentian kerja

S + T

Meningkatkan kinerja dan kompetensi diri secara

berkesinambungan

W + T

Merubah cara pandang tentang fungsi dan peran perpustakaan dan pustakawan (tenaga teknis/administratif menjadi tenaga

profesional)

PENUTUP

Masalah status, eksistensi, dan pembinaan karir profesi pustakawan ini sebaiknya perlu

dilakukan kajian lebih mendalam. Diharapkan setelah adanya kajian, kita dapat menemukan dan

menentukan solusi yang tepat atas segala permasalahan yang terkait dengan peningkatan status

profesi pustakawan, baik pustakawan yang bekerja di lembaga pemerintah maupun swasta.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Hendry dan Novita Vitriana. 2010. Profesionalisme Pustakawan. Jurnal

kepustakawanan dan masyarakat membaca, XXVI (2), hlm.:47-60.

Harrison, Jeffrey P. 2010. Essentials of Strategic Planning in Healthcare. Chicago: Health

Administration Press.

Hermawan, Rachman dan Zen, Zulfikar. 2006. Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan

terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.

Hernadono. 1997. Pustakawan dan Angka Kredit: Kebijakan Pembinaan Tenaga Perpustakaan di

Indonesia dan Pelaksana Jabatan Pustakawan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

KBBI. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan

Nasional. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php (Diakses: 3/6/2015)

Kenda, N. 2010. Analisis SWOT Eksistensi Perposan Menyongsong Masyarakat Informasi

(Studi Kasus di Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo). Jurnal Penelitian

Komunikasi dan Opini Publik, hlm.: 1-16.

Kismiyati, Titik. 2009. Jabatan Fungsional Pustakawan Pasca Undang-Undang Nomor 43 Tahun

2007 tentang Perpustakaan. Media Pustakawan, Vol.16, No.1 dan 2 Agustus, hlm.: 5-8.

Mardiyanto, Fx. 2010. Perubahan ke Arah Kompetensi Pustakawan. WIPA, Vol.12, Edisi Juni,

hlm.: 20-27.

McDonald, Malcolm. 2007. Marketing Plans: How to Prepare Them, How to Use Them (6

th

ed.). Oxford: Elsevier.

Nababan, Hotman. 2009. Manajemen Stratejik: Langkah Tepat Peningkatan Kinerja

Pustakawan. Media Pustakawan, Vol.16, No.1 dan 2 Agustus, hlm,: 21-28.

Internal

(9)

Nasuhaidi. 1998. Menyiasati Peluang dan Tantangan Pustakawan Abad 21. Akses: Media

Komunikasi Dan Informasi. hlm.: 9-11.

Perpusnas. 2011. Program Pengembangan Karir Pustakawan Berbasis Kompetensi: Hasil

Rekomendasi Komisi 1. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Sudarsono, Blasius. 1990. Pustakawan Sebagai Tenaga Profesional dan Jabatan Fungsional

Pustakawan. BACA: Jurnal Dokumentasi, Informasi, dan Perpustakaan, Vol.15, No.3

Sulistyo-Basuki. 1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyo-Basuki.

2014.

Pola

Pembinaan

Pustakawan

Swasta.

https://sulistyobasuki.wordpress.com/2014/09/06/pola-pembinaan-pustakawan-swasta/

(12/5/2015).

Sulistyowati, E.Yani. 2012. Peranan Pustakawan dalam Membentuk Citra Perpustakaan. Info

Persadha, hlm.:89-98.

Sutarno, NS. 2008. Kamus Perpustakaan dan Informasi. Jakarta: Jala Permata.

Vesely, Arnost. 2008. Problem Tree: a Problem Structuring Heuristic. Central European Journal

of Public Policy, 2, 68-81.

Zaenal, Abidin. 2007. Analisis Eksistensial. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Zuntriana, Ari. 2010. Peran Pustakawan di Era Library 2.0. Visi Pustaka, Vol.12 No.2 Agustus,

hlm.: 1-6.

Referensi

Dokumen terkait

Variabel Bebas data produksi yang diambil bulan Januari 2013 – Desember 2013, Data permintaan yang diambil bulan Januari 2013 – Juni 2014, biaya produksi, biaya simpan, biaya set up

ST Segment Distance between S wave and beginning of T wave Measures time between ventricular depolarization and beginning of repolarization T Wave Rounded upright (positive)

laporan hasil observasi baik melalui lisan maupun tulisan. Kompetensi Dasar: 4.1 Menginterprestasi makna teks laporan hasil observasi baik secara lisan maupun

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan

Setting kuliah tutorial dapat dilakukan dengan diskusi kelompok kecil yang melibatkan mahasiswa yang berasal dari berbagai profesi kesehatan. Mereka.. membahas suatu

perlakuan perendaman dan letak posisi biji memberikan pengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan, tinggi tanaman dan berat kering, klorofil b dan klorofil total Namun

Ketidakpastian lingkungan sebagai variabel moderating pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terbukti