1
Negara Hukum yang Berke-Tuhanan dan Pluralisme (sistem) hukum di Indonesia
Tristam P. Moeliono
Pendahuluan
Konstitusi kita sangat tegas: Indonesia adalah negara kesatuan, negara hukum (yang demokratis) sekaligus negara berke-Tuhan-an.1 Secara ringkas kedaulatan (kekuasaan tertinggi) negara atas rakyat dan wilayah (territorial) dikaitkan pada keberlakukan hukum, prinsip demokrasi dan kekuasaan Tuhan (Yang Maha Esa). Bagaimana pernyataan ini harus diterjemahkan ke dalam pemberlakuan dan keberlakuan satu sistem hukum nasional di negara hukum demokratis (di-) Indonesia? Apakah di wilayah kedaulatan Negara Indonesia artinya juga harus berlaku satu sistem hukum nasional (terikat ruang-waktu; relatif dan temporer) dan pada saat bersamaan juga sekian banyak hukum agama/keyakinan yang masing-masing menyatakan bahwa sumber hukum hanyalah (perintah) Tuhan (kekal-abadi dan pasti benar) dari agama mereka sendiri? Bagaimana kemudian seharusnya wujud negara dan hukum berkeTuhanan di Indonesia?
Ketentuan Pasal 27 UUD 1945 jelas menuntut adanya satu negara/pemerintahan yang memberlakukan sistem hukum bagi semua warga Indonesia. Kesamaan perlakuan dihadapan hukum dan pemerintahan (prinsip non-diskriminasi dalam negara hukum) seyogianya diberikan kepada semua warganegara tanpa kecuali, terlepas dari (perbedaan) identitas suku, ras dan agama.2 Dalam artian itu hubungan Negara (pemerintah) dengan orang-perorangan seyogianya hanya dikaitkan pada konsep warga-negara (citizenship) atau keanggotaan pada komunitas politik yang bernama negara.3 Tuntutan atau pengharapan serupa muncul bahkan jauh sebelum Indonesia menjadi fakta sejarah, yaitu ketika pada 1928 para pemoeda di Hindia Belanda menyatakan kesatuan bangsa, bahasa dan negara Indonesia (dan sama sekali tidak menyebutkan ke is a aa satu agama/keyakinan). Kesemua itu mengindikasikan adanya cita-cita memberlakukan satu pemerintahan dan satu sistem hukum bagi (suku-) bangsa di Hindia Belanda yang bersama-sa a e de ita di a ah pe jajaha pe erintah colonial. Dengan kata lain, solidaritas kebangsaan tumbuh kembang di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan mendahului berdirinya NKRI secara yuridis-formal.4
2
Lagipula mereka yang hidup berpuluh-puluh tahun kemudian setelah Indonesia merdeka tidak lagi merasakan langsung penderitaan konkrit yang dirasakan bersama di masa penjajahan, yakni yang secara khusus muncul dalam wujud pembedaan golongan dan pemberlakuan hukum yang berbeda (dan dianggap merendahkan) terutama bagi golongan bumiputera. Itu-pun seharusnya kita boleh bersyukur karena berbeda dengan Afrika Selatan (yang bahkan pasca kolonisasi masih memberlakukan kebijakan apartheid)9, golongan yang terpisah (Timur-Asing dan Bumiputera) masih dapat pindah golongan, setidaknya memilih untuk tunduk pada hukum golongan Eropa. Bahkan anak-anak kalangan bangsawan bumiputera dapat menikmati pendidikan setara dengan golongan Eropa, hal mana justru memunculkan generasi pemikir bumiputera (nasionalis) yang menuntut kemerdekaan. Kita sekarang ini hanya dapat membaca apa rasanya terdiskriminasi pada zaman itu (Hindia Belanda), sekalipun belum tentu mampu berempati. Alm. Pramoedya Ananta Toer, di dalam tetraloginya, melalui mata tokoh utama Minke (seorang bumiputera priyayi), mengisahkan konsekuensi hidup di zaman kolonial dan perlakuan diskriminatif yang harus dialami bangsa bumiputera.10 Di dalam dunia nyata, baik (alm.) M.Hatta (sebagai mahasiswa di Rotterdam) maupun Soekarno (di Hindia Belanda) bereaksi keras terhadap
ketidakadila st uktu al dalam bentuk diskriminasi/ketidaksamaan dihadapan hukum dan pemerintahan yang dilestarikan sistem hukum (pluralistic) Hindia Belanda saat itu.11
Namun ketika dunia berubah begitu jauh dan cepat, apakah semangat menentang ketidakadilan (sistem) hukum pemerintahan colonial (kolonialisme-imperialisme) masih menggugah dan mempersatukan masyarakat Indonesia yang de facto dikarakteristikan oleh perbedaan (suku, agama/keyakinan dan ras) dalam satu semangat kebangsaan (nasionalisme atau imagined solidarity)? Jawaban atas pertanyaan ini terkait dengan bayangan kolektif kita tentang cita negara-hukum (recht/staats-idee) serta tantangan hari ini dan masa depan yang dihadapi bangsa Indonesia. Dengan kata lain, pada tingkat lebih abstrak, kita setiap kali dipaksa untuk mempertanyakan kembali landasan keabsahan eksistensi Negara Indonesia, kekuasaan pemerintahan dan keberlakuan sistem hukum (nasional) dalam negara kesatuan Indonesia yang berdaulat.
Pertanyaan-pertanyaan di atas dalam ragam prakarsa pembaharuan hukum nasional jarang - bila tidak hendak dikatakan tidak pernah - dipikirkan kritis dan terbuka serta dalam suasana dialog/debat yang ditujukan pada pengembangan humanitas expleta et elequens.12 Di samping itu jarang atau tidak pernah ada tulisan yang mengaitkan negara hukum demokratis secara serius pada pandangan keTuhanan (dalam konteks keberagaman suku, ras, agama/keyakinan yang dianut) dan menelusuri konsekuensi dari itu pada landasan legitimasi kekuasaan politik dan keberlakuan (sistem) hukum nasional (yang niscaya dibuat demokratis dan sebab itu dapat dianggap) berlaku tanpa kecuali bagi setiap warga-negara. Terlalu cepat kita mengandaikan bahwa sejarah sudah selesai, NKRI sudah berdiri sejak 1945 dan nasionalisme (kebangkitan nasional) cukup dibuktikan dengan adanya Soempah Pemoeda pada 1928 atau pernyataan setia pada (asas tunggal) Pancasila. Juga tidak cukup pernyataan sikap atau politik dari partai politik atau unsur-unsur masyarakat lain bahwa NKRI untuk masyarakat bhineka tidak dapat ditawar-tawar. 13
3
(di-Indonesia)15 yang dipergunakan sebagai bahan ajar di fakultas hukum banyak merujuk teori-teori besar tentang legitimasi kekuasaan negara (demokrasi, kedaulatan negara-hukum) dan hukum (positivisme-naturalisme) namun tidak atau belum membumikannya ke dalam situasi Indonesia riil. Sekalipun sebagai bandingan yang banyak muncul dan perlu disebut di sini adalah tulisan tentang bagaimana seharusnya (agama) Islam berperan dalam kehidupan Negara.16
Dapat dibayangkan dalam diskusi seperti ini, fakta empirik perihal keberagaman budaya/agama dalam masyarakat Indonesia dan masalah-masalah yang muncul dari itu akan dinegasikan atau setidak-tidaknya dikecilkan. Persoalan dan bentrokan antar kelompok masyarakat, perebutan kekuasaan politik-ekonomi di tingkat lokal maupun nasional yang berasal dari fakta keragaman agama dan hubungan lintas agama dalam masyarakat pluralistik negara berkeTuhanan, seringkali dianggap tabu untuk dibincangkan dan diperdebatkan terbuka karena dianggap terlalu sensitif dan mudah menyulut emosi masyarakat.17 Demi menjaga keamanan dan ketertiban (atau kepentingan nasional) kita seringkali memilih untuk tidak mengkonfrontasi akar persoalan, misalnya bahwa nyata ada perlakuan diskriminatif terhadap kelompok minoritas atau bahwa bangsa Indonesia bukanlah masyarakat nir-konflik dan sengketa. Tampak nyata kita, setidak-tidaknya di ruang publik, secara sukarela melakukan self-censorship.18 Padahal bagaimanapun juga teori-teori besar tersebut sebagaimana layaknya teori harus dibenturkan pada realitas masyarakat, bangsa-negara dan hukum Indonesia. Dengan kata lain, harus dilakukan reality check dalam rangka verifikasi atau falsifikasi bahkan mungkin pencarian paradigma baru.
Upaya ke arah ini sudah dan masih dilakukan secara dominan oleh peneliti asing. Penelitian besar yang dikoordinasikan Tim Lindsey (Australia)19 atau Henk Schulte Noordhold (Belanda)20 misalnya memprakarsai studi empiri tentang perkembangan pemikiran negara, masyarakat dan sistem hukum Indonesia dari sejak kemerdekaan sampai dengan pasca reformasi. Salah satu hal yang diangkat ialah tentang perdebatan old state-new society atau new state-old society, landasan legitimitas kekuasaan pemerintahan Orde Baru: apakah sebagai beambtenstaat, negara korporasi, dan seberapa terkonsolidasinya kekuataan politik dan kedaulatan negara Indonesia.21 Juga dipersoalkan seberapa jauh pemerintahan pasca Orde Baru telah berubah dan mengubah tatanan negara dan hukum. Pertanyaan serupa menjadi tema tulisan-tulisan Vedi R Hadiz.22 Pokok soal baginya dari sudut pandang politik (yang niscaya bersentuhan dengan persoalan legitimasi): apa dan bagaimana kekuasaan politik dijalankan pasca reformasi?
4
... jelas bahwa ideologi Pancasila itu tidak dipahami secara sama oleh berbagai golongan agama di Indonesia, khususnya menyangkut sila pertama, yaitu Kepercayaan kepada Tuhan YME. Perbedaan, kerancuan atau ambivalensi pemahaman tentang makna sila pertama itu, meskipun tidak pernah secara terbuka diungkapkan, apalagi didiskusikan dan diperdebatkan -- kecuali di dalam Badan Konstituante sebelum pemungutan suara -- telah selalu mengancam persatuan bangsa dan keutuhan negara. Hal itu lebih lanjut mengakibatkan kerancuan identitas negara Indonesia, yang "bukan negara sekuler", tetapi juga "bukan negara agama".
Tulisan ini akan sekalipun mengikuti ihtiar para pendahulu di atas, secara tegas hendak menelusuri persoalan berbeda: wujud dan legitimasi negara Indonesia yang demokratis, berkeTuhanan dan dilandaskan pada hukum dalam masyarakat yang dicirikan kebhinekaan. Untuk mengulas persoalan di atas, maka akan ditelaah secara umum konsep sekuler(isasi atau -isme) yang umumnya dikaitkan pada pembentukan Negara (hukum) modern (sekuler) atau justru ditolak negara berkembang (non-sekuler). Hal ini dianggap penting karena pandangan tentang kedudukan agama (sistem kepercayaan/keyakinan) dalam kehidupan bermasyarakat-bernegara jelas akan berpengaruh terhadap penerimaan atau penolakan terhadap keberagaman agama/keyakinan (dan keberlakuan ragam sistem hukum) dalam suatu negara. Dalam hal ini akan ditelaah sikap dan pandangan umum terhadap gagasan pemisahan negara dengan agama di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Ini akan menjadi landasan bagi diskusi perihal pilihan sadar Indonesia untuk menjadi negara berkeTuhanan. Dalam hal ini pertanyaan pokok adalah negara hukum seperti apakah yang muncul dari negara modern berkeTuhanan? Lantas apa pengaruhnya terhadap legitimasi kekuasaan politik negara dan hukum negara? Pada bagian akhir akan diberikan sejumlah simpulan umum.
Sekularisme/secularisasi: persoalan pemisahan agama dari ranah penyelenggaraan kehidupan publik
Demi kemudahan pembahasan sejak awal perlu dibedakan dua konsep: sekularisme dengan sekularisasi. Keduanya berakar dari kata saeculum (dunia yang ada sekarang; temporer (di sini-saat ini) yang dikontraskan dengan realita yang abadi-kekal dan sebab itu tidak berubah). Untuk yang pertama, sekular(-isme) sudah mengindikasikan pandangan ideologis atau posisi politik tertentu.27 Pandangan yang dilandaskan –isme, sepanjang berkaitan dengan ihwal hukum dan negara, memandang pemisahan kehidupan politik (publicum) dari kehidupan keagamaan (privatum) sebagai keniscayaan. Negara dan hukum, dalam pandangan ini tidak boleh dilandaskan dan berpihak pada ajaran agama tertentu. Maka hukum negara dipandang terpisah tegas dari norma agama dan sebab itu sertamerta dianggap anti Tuhan. Kemungkinan besar kecondongan ini diakibatkan pencampuran sekularisme dengan pandangan (anti religi yang dikumandangkan) Karl Marx.28
5
berkembang untuk menjadi maju. Selain itu, gejala sekularisasi itupun bukan kata akhir dan tidak pernah final. Masih terbuka kemungkinan terjadi pembalikan: masyarakat kembali menjadi ultra-religius.
Pada saat sama harus dicermati bahwa ilmu pengetahuan modern justru berkembang ketika (K)ebenaran yang kekal-abadi (dan sebab itu diletakan di luar jangkauan pemikiran dan batas cakrawala kemampuan manusia) di edaka da i (k)e e a a sekule a g (sebab itu) dapat diungkap oleh akal manusia yang serba terbatas. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan terbukanya akses pendidikan (formal) tidak hanya pada biarawan di Eropa abad pertengahan mendorong pemikiran ah a ke e a a il iah a g e eda asio alis e/e pi is e da i ke e a a Ilahi isa tu uh kembang di luar Gereja dan ajaran agama (yang cenderung bersifat dogmatis). Lebih jauh berkembang pula pandangan bahwa kebenaran ilmiah yang dilandaskan pada pengamatan (observasi), pengujian (verifikasi/falsifikasi) pola dan kausalitas gejala alam/sosial justru, bahkan niscaya, jauh lebih unggul dari kebenaran Ilahi yang meski absolut dianggap semata-mata bersifat spekulatif dan sebab itu pula tidak atio al . Adalah pe ke a ga ke e a a il iah di lua Ge eja a g e do o g sekula isasi du ia dan sekaligus keyakinan (sekalipun masih dapat diperdebatkan) bahwa pandangan sekuler niscaya lebih unggul daripada yang non-sekuler.30
Maka gejala alam maupun sosial (baik pada tingkat personal atau kelompok) yang dahulu diterangkan sebagai bukti kecintaan/kepedulian Tuhan atau sebaliknya - ila a a u ul se agai e a a - adalahi wujud kemarahan Tuhan terhadap pendosa (individual atau kolektif), dianggap dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan (manusia) sebagai sekadar gejala alamiah (yang tidak membutuhkan intervensi -maupun perkenan Tuhan). Keberaturan (order) atau sebaliknya keteracakan sistematis (systematic chaos) yang muncul dalam alam semesta maupun dunia manusia (Makro-mikro Cosmos), dengan demikian, di demistifikasi atau desakralisasi. Apa yang dahulu dianggap sacral (berada di ranah Ilahi) dan sepenuhnya diterangkan sebagai anugerah atau wujud amarah Ilahi sekarang menjadi sepenuhnya gejala profan a g dapat dijelaska oleh il u a se a a asuk akal asio al-logis). Pandangan religious magis digantikan (sekalipun tidak (mungkin) sepenuhnya) oleh pandangan rational-empirik. Sebaliknya juga teramati gejala social berbeda, yaitu munculnya gejala de-sekularisasi, (di-)kembali(kan)-nya peran agama dan nilai-nilai keagamaan ke dalam kehidupan sosial-politik manusia dan hukum. Untuk yang pertama, dapat dicermati bahwa dunia-modern dan post-modern ternyata tidak berhasil menyingkirkan peran agama dalam kehidupan sosial politik (banyak negara berkembang).31 Seperti yang dapat dicermati terjadi di Indonesia sekarang ini, masyarakat menuntut agar pemerintah dan hukum lebih peduli dan mengadopsi nilai-nilai religius, terutama nilai-nilai yang mengatur kehidupan kemasyarakatan, bukan sekadar aturan yang mengatur tata cara ibadah (ritual). Keyakinan yang kiranya melandasi gerakan di atas ialah bahwa norma etis hanya dapat ditemukan di dalam agama dan sebaliknya tidak (mungkin) dapat ditemukan di dalam norma-norma hukum formal.32
6
bagian dari masyarakat) akan mencari makna kehidupan di luar dan di atas dunia materiil. Dinyatakan bahwa sebagai homo religiousus, manusia akan terus mencari makna lebih dalam (di balik dan melampaui kenyataan keseharian). Hal mana hanya mungkin diperoleh dari mengalami the Wholly Other (liyan) sebagai mysterium tremendum et fascinans.33 Dengan itu pula dunia dan kehidupan sehari-hari manusia (temporal) kembali dikonstruksikan sebagai kehadiran dan campurtangan yang sakral.34 Dengan kata lain, re-introduksi agama/kepercayaan ke dalam kehidupan modern/post modern juga dipicu oleh kebutuhan manusia dan masyarakat akan kepastian hidup penuh makna (yang tidak temporer dan rambang) di bawah the sacred canopy (universum symbolicum). Kebutuhan yang meningkat seiring ketidakpastian masa depan dan keterasingan personal yang dirasakan akut oleh banyak masyarakat negara berkembang berhadapan dengan misalnya modernisasi-globalisasi yang tidak selamanya perlu dan mutlak dialami sebagai berkah. 35 Sebagai reaksi balik, muncul pandangan bahwa kepastian makna dan tujuan hidup bermasyarakat maupun sebagai individu hanya dapat diberikan ajaran-ajaran agama/kepercayaan. Sesuatu hal yang tidak mungkin ditawarkan pandangan hidup (modern) yang sepenuhnya sekuler dan cenderung relativistik, bahkan cenderung nihilistik.36
Sebagai gejala social, maka sekularisasi dan de-sekuralisasi tidak muncul serupa dan sama di semua masyarakat. Di sini kita harus berbicara tentang derajat atau spektrum. Di Eropa dan masyarakat barat (modern dan post modern) lainnya, sekularisasi dianggap sebagai kenyataan dan muncul dalam berkurangnya ketergantungan masyarakat pada institusi Gereja maupun agama. Sekalipun tidak perlu langsung disimpulkan bahwa masyarakat (atau individu di masyarakat barat) otomatis menolak keberadaan Tuhan dan sepenuhnya menjadi ateis. Di beberapa negara, Inggris misalnya Anglican masih menjadi agama negara dan Ratu/Raja dipandang berkuasa dengan seizin dan berkat dari Uskup Agung Canterburry. Ilustrasi lain ialah Iran pasca Revolusi yang berubah dari negara sekuler menjadi sepenuhnya negara berlandaskan agama Islam (Syiah; setidaknya semasa pemerintahan Imam Khomeini). Masyarakat Iran dalam derajat tinggi mengalami de-sekularisasi dunia sosial-politik. Begitu pula di negara-negara berkembang (non-barat) kita dapat amati gejala sekularisasi dan de-sekularisasi dalam derajat yang berbeda-beda.
Lantas bagaimana di Indonesia? Sebelum menjawab soal ini kita bahas terlebih dahulu bagaimana sekularisasi (kehidupan politik dan hukum) muncul dalam lintasan sejarah kemunculan negara bangsa di Eropa dan menyebar keseluruh dunia.
Sekularisasi dan De-Sekularisasi kekuasaan politik sebagai proses dan pilihan sadar dalam sejarah
7
membentuk negara merdeka dan berdaulat (termasuk pemerintahan dan sistem hukum yang secara mutlak berlaku dalam batas-batas wilayah negara) harus dipahami sebagai hak yang melekat pada bangsa sebagai suatu hal yang alamiah (tidak niscaya karena anugerah Tuhan), hal mana ditegaskan American Declaration of Independence.39
Dapat dikatakan bahwa konsekuensi logis dari gejala sekularisasi (di bidang social-politik-hukum) adalah diterimanya pandangan bahwa Negara dan/atau hukum (Negara) tidak mesti berwujud perintah Tuhan (bersifat kekal-abadi dan memuat kebenaran Ilahi). Sebaliknya, hukum niscaya dipandang sebagai sepenuhnya buatan (karsa) manusia (dan sebab itu bersifat sementara dan tidak sempurna). Alhasil ketidaktaatan pada negara dan/atau hukum bukan urusan dosa yang harus diganjar dengan api neraka atau nestapa di bumi. Pada saat sama adalah juga keliru untuk kemudian menganggap hukum sebagai nir-susila. Bagaimanapun juga sebagai gantinya, Negara melalui hukum mengadopsi konsep salah ke dalam hukum pidana/perdata dan mengaitkanya dengan pertanggungjawaban hukum (liability based on fault) dan di dalam hukum pidana mengembangkan gradasi tingkat kebersalahan (dengan rencana, dengan maksud, karena salahnya, karena kelalaian) serta ancaman pidana yang berbeda-beda tergantung tingkat kesalahan tersebut. Dengan cara serupa, hukum perikatan, khususnya kontrak, selalu mengandaikan bahwa manusia harus dapat dipegang kata-katanya dan perjanjian sepatutnya dibuat dan dilaksanakan dengan itikad baik. Ini mengandaikan adanya manusia (dengan atau tanpa agama) yang bermoral atau setidak-tidaknya beradab.
Keberlakuan (sistem) hukum Negara (atau dalam masyarakat) dengan demikian tidak perlu dan niscaya dikaitkan pada perintah Tuhan (yang karena kekal-abadi berada di luar keniscayaan kehidupan manusia yang justru dibatasi ruang-waktu). Kedua-duanya dianggap semata-mata produk (karsa) manusia dan ketidaksempurnaan di dalamnya adalah karena manusia (dan masyarakat) de facto tidak (pernah) sempurna. Justru ketidaksempurnaan dalam hukum itulah yang setiap kali harus dikoreksi dan disesuaikan dengan kebutuhan manusia dan/atau masyarakat yang terus berubah. Sebab itu pula, peraturan perundang-undangan (hukum) dapat dikritik, diuji, dicabut atau diubah setiap saat bilamana dipandang perlu. Begitu pula dengan putusan hakim yang terhadapnya dapat diajukan banding, kasasi dan bahkan di negara common law yang dianggap terikat the binding force of precedent, hakim sebagaimana diajar oleh Holmes dan Roscoe Pound40, dianggap dapat mengembangkan pertimbangan hukum baru terhadap kasus-kasus yang dihadapkan padanya.
8
Urusan menjalankan ibadah (ritual keagamaan) sebab itu pula sepenuhnya dianggap masuk ranah privat yang tidak akan, bahkan boleh, dicampuri oleh negara dan hukum.41 Sebagaimana di-idealisasikan oleh Komaruddin Hidayat: 42
Do ai aga a a g p i e adalah di ila ah i di idu, kelua ga, da ko u itas, seda gka negara dibentuk untuk mengatur, melindungi, dan melayani warga negara dan masyarakat secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan identitas dan komunitas agama. Jadi negara hanya satu, seda gka aga a da ko u itas a isa e aga .
Dapat dibayangkan bahwa tidak sejak semula kekuasaan politik dipandang bersifat profan dan muncul di luar jangkauan kekuasaan yang Ilahi. Sebelumnya pemikir-pemikir tentang negara dari Eropa abad pertengahan secara umum berpendapat bahwa kekuasaan (politik-duniawi) yang berada di tangan raja/bangsawan harus tunduk pada kekuasaan religius. Raja dan/atau bangsawan sebagai manusia terpilih memegang kekuasaan atas dasar anugerah Tuhan dan dalam kapasitas itu tugas utamanya adalah menjalankan perintah Tuhan di atas bumi. Sebab itu pimpinan tertinggi dapat saja sekaligus pimpinan agama atau orang yang diurapi (dipilih dan ditunjuk) oleh pimpinan agama. Sekalipun begitu pemikiran tentang pemisahan kekuasaan ini sudah mulai muncul, misalnya dalam teori dua pedang.43 Pemikiran yang dapat ditelusuri pada perintah: berikan pada Kaisar apa yang jadi haknya dan pada Tuhan apa yang menjadi kewajiban kita .44 Namun di sini tetap tersirat kehendak bahwa kekuasaan duniawi (civitas terenna) mengabdi pada kepentingan Ilahi dan berupaya mewujudkan civitas Dei.45 Pandangan kenegaraan tentang bagaimana mengatur hubungan antara dan menata kekuasaan sekuler de ga aga a uka lah khas uda a a at. Pa da ga se upa juga u ul dala seja ah kekaisa a Cina maupun Jepang, ataui kekuasaan Faraoh atas Mesir selama ribuan tahun sebelum abad masehi. Solusi yang dijalankan sangat sederhana: Kaisar berkuasa karena memegang mandat langit atau sebagai turunan langsung dewa tertinggi dan sekaligus menjadi pimpinan agama atau setidak-tidaknya berkedudukan di atas pemimpin agama/keyakinan dominan saat itu.46
Pola pikir serupa misalnya muncul dalam kerajaan-kerajaan tradisional di nusantara. Raja-raja Hindu Budha di candi-candi yang tersebar di Jawa Tengah-Timur digambarkan sebagai titisan Dewa. Sebagai bandingan Sultan (kerajaan Islam tradisional, setidaknya di Jawa) adalah pemangku bumi (hamengkubuwana/mangkubumi), pusat jagat raya (pakubuwana) dan berkuasa karena memegang pulu g atau a gsit da i la git.47 Dalam posisi ini pula Sultan berkedudukan sebagai penatagama, yaitu pimpinan tertinggi umat religius. Pola pikir yang melandasi kerajaan Hindu-Budha dan Islam pra modern ini setidaknya di Nusantara dilandaskan pada pemahaman mandala (pusat lingkaran kekuasaan: negara dan semakin jauh: mancanegara).48 Raja/Sultan adalah pusat keadaban-ketertiban dan di luar itu adalah manca-negara yang asing (yang tidak teratur, kacau dan tidak beradab).
9
kekuasaan dari sudut pa da g i i tidak asuk akal. Tuha ha a aka e e ika ah u/pulu g pada satu orang (dalam satu waktu) dan tidak pada orang-orang lain untuk memerintah dan berkuasa.50 Sebab itu menentang atau mempertanyakan kekuasaan Raja/Kaisar/Pemegang Mandat Langit/Putera Matahari tidak saja dimaknai sebagai subversi dan pantas dihukum mati, namun lebih dari itu penodaan/penghinaan terhadap Yang Maha Kuasa darimana asal kekuasaan duniawi berasal. Pada masa awal Gereja (purba), penganut Kristen di Kekaisaran Roma diburu dan disalib karena dengan menyembah Tuhan yang berbeda, mereka menolak ke-Ilahian (dan legitimitas) dari kekaisaran Romawi. Namun ini dapat diperbandingkan dengan sikap masyarakat desa (di Jawa) yang relatif lebih otonom. Ketidaksukaa pada ja gkaua kekuasaa aja - muncul dalam wujud kewajiban membayar upeti (hasil panen atau gadis-gadis u tuk e gisi ha e aja – dapat diejewantahkan dengan bedol desa. Masyarakat (desa otonom) – berbeda dengan masyarakat petani di kerajaan-kerajaan feodal Eropa abad pertengahan – masih memiliki pilihan untuk ke luar dari rentang kendali kesultanan.
Lepas dari perbedaan antara kerajaan feodal di Eropa dan kerajaan-kesultanan di Jawa, pertanyaan terpenting dalam pola hubungan rakyat-raja seperti digambarkan di atas ialah seberapa jauh kedaulatan politik (dan sekuler dalam arti duniawi) harus dilandaskan pada kekuasaan yang bersumber hanya dari Tuhan?51 Persoalan ini juga terkait erat dengan pertanggungjawaban (hukum) pemegang kekuasaan dan siapa yang dapat mengontrol penggunaan kekuasaan yang muncul dari langit. Singkat kata, jika kekuasaan sepenuhnya berasal dan harus dikembalikan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, pertanggungjawaban politik dan hukum penguasa hanyalah pada sumber kedaulatannya di muka bumi. Bilapun ia jatuh dari tampuk kekuasaan (karena pemberontakan, misalnya), hal itu cukup dijelaskan dengan merujuk pada kenyataan penguasa telah berdosa (melanggar perintah Tuhan) dan sebagai hukuman anugerah atau pulung bisa direbut atau dialihkan pada yang lebih pantas. Kisah klasik pengambilalihan kekuasaan oleh Ken Arok dari Tunggul Ametung (penguasa sebelumnya) dari zaman Jawa kuno adalah ilustrasi dari hal di atas.
Tidak mengherankan bila penguasa sekuler berupaya menyingkirkan pesaing mereka dari panggung politik atau mengkooptasi kekuasaan religius (solusi Cina, Jepang dan kerajaan tradisional di Indonesia atau mendorong sinkretisme adat/agama). Namun hal ini tidak terjadi dan dapat dilakukan sekaligus dan tidak selalu dilakukan melalui sekularisasi. Alternatif lain, seperti juga telah diindikasikan di atas, adalah mengadopsi agama/keyakinan berbeda dari yang diajarkan kelompok penguasa religius. Misalnya terjadi ketika penguasa Mesir yang bersaing dengan pendeta Ammon Re, mengangkat diri sendiri sebagai Akhenaton (imam tertinggi ajaran yang berbeda/menyimpang). Pola serupa, dengan akhir berbeda, mungkin melandasi pula legenda adu kesaktian antara Kian Santang (Islam) dengan Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjadjaran yang berakhir dengan mengilangnya (ngahiyang) yang disebut terakhir.
10
memungkinkan raja-raja lainnya di daratan Eropa lainnya (seperti Belanda) melepas diri dari jangkauan kekuasaan politik Gereja (Katolik Roma) dan memisahkan diri dari siapapun yang pada waktu itu didukung oleh pimpinan tertinggi agama.
Perang (antar institusi politik sekuler pendukung institusi agama yang berpisah) yang kemudian berkecamuk di daratan Eropa pada abad pertengahan52 perlahan memunculkan keyakinan bahwa sudah sepatutnya keyakinan dan kepercayaan (agama) berada di ranah privat dan tidak perlu menjadi urusan public. Sebaliknya, negara cq pemerintah (dan itu artinya birokrasi pemerintahan) harus memajukan bonum commune: kebaikan bersama-kepentingan umum. Penyelenggaraan kekuasaan politik harus disterilkan dari urusan personal memenuhi kewajiban beribadah menurut agama/kepercayaan bahkan urusan percaya/tidak percaya pada Tuhan. Politik di sekularisasi atau di desakralisasi.
Konsekuensi dari itu ialah dasar dari perolehan kekuasaan politik dapat langsung dikaitkan pada perolehan kekuatan (ekonomi-militer) dan dibenarkan oleh teori politik yang dikembangkan Thomas Hobbes (negara leviathan atau totaliter) dan perolehan/perebutan kekuasaan dilakukan sangat pragmatic (Machiavelli).53 Dasar penyelenggaraan negara (hidup bersama) dipandang sangat suram: keterpaksaan menghindari kehancuran bersama karena manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Urusan perolehan dan mempertahankan kekuasaan politik diperkenankan dengan menghalalkan segala cara. Maka itu pula, hukum dalam negara leviathan adalah perintah dari yang berdaulat (dan artinya juga dihalalkan oleh tujuan Negara), yakni sebagaimana dibayangkan Jean Bodin.54 Masyarakat tidak punya pilihan lain terkecuali patuh pada negara (pemerintahan) dan hukum negara karena itu satu-satunya cara untuk hidup damai dan tertib. Paksaan dan penundukkan diri (dari yang lemah) pada yang lebih kuat (elite politik/militer/ekonomi) adalah alamiah. Hukum dengan demikian adalah (salah satu) alat yang dimiliki penguasa untuk memaksakan kehendak (John Austin).55 Konsekuensi dari pemikian ini ialah bahwa landasan (kekuatan/keberlakuan) hukum (formal) pada akhirnya adalah kemampuan negara untuk memaksakan kehendak, hal mana dapat diukur dari rentang kendali negara terhadap masyarakat.
Pemikiran tandingan dari itu (yang mungkin tidak alamiah) menyatakan bahwa kekuasaan politik bersumber pada kesepakatan (serupa dengan pemikiran Hobbes), namun bahwa kekuasaan tidak berpindah total pada negara. Pandangan yang diusung J.J. Rousseau56 dan John Locke57 mengandaikan adanya masyarakat yang cukup beradab (civilized society) dan mereka itulah yang bersepakat membentuk organisasi kekuasaan politik (state and government) yang dapat membentuk hukum (untuk mengatur/menata kehidupan bersama). Dalam pandangan ini lagipula, masyarakat tetap memiliki hak yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara (hak asasi manusia). Negara tidak lagi berkuasa total dan dibatasi oleh kewajibannya melindungi warga. Lebih jauh lagi, kedaulatan tertinggi negara, dengan tujuan pengendalian dan pencegahan penyalahgunaan kekuasaan, oleh Locke dan kemudian disempurnakan oleh Montesquieu dipecah dan dipisah ke dalam tiga wujud kekuasaan sekuler yang berbeda: legislative, eksekutif dan yudikatif.58
11
sekuler (bangsawan) dan Gereja, kejenuhan dan kelelahan akibat perang agama di daratan Eropa yang terpicu perpecahan dalam Gereja (Katolik-Protestan) dan pengembangan ilmu pengetahuan di dalam dan di luar Gereja. Kesemua itu pada akhirnya, memunculkan keputusan politik untuk memisahkan tegas penyelenggaraan kekuasaan duniawi (kehidupan profan/bersama yang dipercayakan kepada institusi negara) dengan penyelenggaraan kehidupan keagamaan (bukan lagi urusan negara melainkan sepenuhnya diserahkan pada masyarakat, bahkan individu). Dalam artian itu sekularisasi/sekularisme menjadi landasan awal terbentuknya negara bangsa (masyarakat) modern yang bersifat teritorial. Pengertian bangsa-pun dilepaskan dan dibedakan dari konsep masyarakat yang memiliki dan dipersatukan oleh satu worldview yang bersumberkan pada satu keyakinan/agama bersama (ummah/umat).59
Negara Bangsa Modern dan Pengembangan Sistem Hukum (di-) Indonesia yang (pasti) sekuler?
Seberapa jauh sebenarnya ide negara (dan sistem hukum) modern sekuler (yang berkembang di dunia barat atas dasar pengalaman sejarah yang berbeda) diterima dan diadopsi oleh negara-negara berkembang, terutama negara Asia-Afrika dan Amerika Latin yang mengalami kolonialisasi-imperialisasi? Apakah penolakan terhadap landasan hukum yang membenarkan kolonialisme-imperialisme sekaligus mengindikasikan penolakan terhadap gagasan negara modern-sekuler?60 Ini dikatakan dengan mencermati bahwa pada titik paling ekstrim, dalam dunia (termasuk dunia hukum) yang sepenuhnya sekuler, rasionalisme politik (dan juga pragmatisme yang mengiringinya) memunculkan peluang kekuasaa da huku digu aka se agai pe e a a dari kekejaman manusia terhadap sesama (pelanggaran berat ham) yang terjadi pada perang dunia I dan II (atau ditempat-tempat lain sesudahnya).
Menarik bahwa pada awal mula kekejaman manusia pada sesamanya yang tidak masuk akal (irasional) dan paradoxal sekaligus dirujuk sebagai bukti ketakacuhan atau ketakhadiran Tuhan. Manusia yang dihadapkan pada ketidakmasukalan kekejaman akan sekaligus menggugat Tuhan yang dianggapnya tidak lagi masuk akal. Bagaimana mungkin terjadi Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih membiarkan pembantaian manusia lain dalam jumlah besar dan tak acuh terhadap kekejaman luar biasa yang ditunjukan penguasa (dengan pembenaran ideologis apapun juga)? Melangkah lebih jauh, berhadapan dengan kekejaman sesama (termasuk bencana alam), maka keberadaan Tuhan tidak lagi dianggap penting, bahkan ditolak. Sisi kegelapan manusia (yang tidak dapat bersandar pada Tuhan) diungkap oleh Albert Camus yang dalam bukunya Sampar berbicara tentang suramnya eksistensialisme manusia.61 Lebih ekstrim adalah Nietzche yang berbicara tentang Tuhan yang sudah mati (dibunuh manusia).62 Tanpa adanya Tuhan atau di luar kehadiran Tuhan: apakah kekuasaan dan hukum dapat dikendalikan sendiri oleh manusia berdasarkan akal budinya?
12
Hu u ga ega a da aga a egitu melekat dalam akar sejarah bangsa ini. Relasi ini khususnya tercatat ketika bangsa ini merumuskan dasar negaranya. Terjadi ketegangan dan pe gulata ati a ta a kekuata asio alis sekule da asio alis Isla . Kedua a e ta u g dalam menentukan dasar negara, apakah akan bertumpu pada aspek kebangsaan atau
menjadikan agama (Islam) sebagai dasar negara.
Dua gagasan tentang Negara yang diajukan nasionalis sekuler dan nasionalis Islam di atas beranjak dari pemahaman berbeda tentang mengapa kita sebagai satu komunitas (bangsa) kemudian membentuk Negara. Ketika Pres. Soekarno (& M. Hatta sebagai mitra diam) membacakan proklamasi: Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan (dan membentuk Negara Indonesia), maka apa yang sebenarnya dimaksud dengan bangsa Indonesia itu? Apakah bangsa mencakup semua orang yang secara sada e ilih e jadi a ga Nega a ataukah kea ggotaa itu dite tuka juga atau te uta a oleh pilihan agama? Artinya kita harus terima konsekuensi, mereka yang berkeyakinan berbeda, bukan a ga Nega a atau setidak-tidak a uka a ga Nega a a g e keduduka seta a. Apakah ini cara terbaik membaca ketentuan Pasal 27 dan 29 UUD 1945?
Bagaimana pula mengaitkannya dengan cita negara hukum Indonesia yang oleh penjelasan UUD 1945 (yang dahulu dinyatakan merupakan bagian tidak terpisahkan dari konstitusi dan sama mengikatnya) disebut sebagai negara yang dijalankan tidak hanya atas dasar kekuasaan semata (machtstaat), namun juga atas dasar hukum (rechtsstaat). Di sini kita berhadapan dengan cita negara (staats-idee) dan cita hukum (rechts-idee) dan hal ini sudah mengimplikasikan sesuatu yang ideal atau dicita-citakan. Persoalannya ialah negara dan hukum seperti apakah yang muncul dalam bayangan atau ingatan kolektif kita atau setidak-tidaknya yang hendak kita citrakan keluar?
Sejumlah faktor harus dipertimbangkan. Pertama dan terutama adalah pencitraan diri Indonesia ke luar (kehadapan masyarakat internasional) sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim (moderat-toleran?) terbesar. Bahkan dengan kualifikasi itu menjadi negara anggota OKI dan pada 2013 menjadi tuan rumah dari semacam Olimpiade yang sejatinya dilandaskan pada persaudaran dan kompetisi sehat (sportivitas) di antara para olahragawan, namun dalam hal ini bersifat eksklusif untuk atlit muslim dari negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI).64
Tidak mengherankan pula bilamana pencitraan keluar tersebut turut melestarikan gagasan (setidaknya ke dalam negeri) perlu dan mutlaknya pendirian negara Indonesia yang berlandaskan syariah Islam.65 Perjuangan yang dilakukan di forum politik (perdebatan di PPKI pra kemerdekaan sampai era tahun
a di MP‘ a g e ahas pe u aha UUD 66
13
Negara (mencerdaskan kehidupan bangsa dll.) dalam kaitan dengan kepentingan umum. Negara ada semata-mata agar ummat dapat hidup melayani Tuhan sesuai aturan-aturan yang tidak dibuat Negara. Sekalipun demikian, dalam banyak kesempatan lain – setidaknya ke dalam - karakteristik kebhinekaan (suku, ras, agama/kepercayaan)68 yang lebih ditonjolkan, terutama berhadapan dengan tuntutan masyarakat (hukum) adat untuk mendapat pengakuan dari negara perihal keberlakuan sistem kepercayaan (kesederajatan dengan agama resmi) dan sistem hukum lokal (hukum adat) atau sekadar hak mereka atas sumberdaya tanah/air.69 Hal yang sama juga ditonjolkan, yaitu perlunya persatuan/kesatuan dalam perbedaan, ketika pe e i tah e ghadapi pe a g saudara a ta suku di Sampit (Dayak versus Madura)70, perang antar pendukung (sekalipun secara kategorikal tidak dapat sertamerta dianggap penganut ajaran) agama (Islam-Kristen) di Ambon-Maluku atau Poso (Sulawesi)71, atau ketika menghadapi riak-riak serupa dalam skala lebih terbatas di banyak tempat lain di Indonesia.72 Secara resmi pemerintah kemudian menghimbau masyarakat (yang sudah mengalami konflik horizontal dan terfragmentasi) untuk mengupayakan kembali hidup rukun-damai dengan memajukan sikap saling menghargai serta toleransi (akan perbedaan dan/atau keragaman). Sekalipun juga hal ini tidak mencegah tetap muncul dan berkembangnya (sebagaimana telah diuraikan di atas) wacana Indonesia harus menjadi negara berasaskan syariat Islam.
Dapat ditengarai bahwa kebijakan pemerintah yang ambigu di atas tidak menjawab persoalan konkrit ada dan banyaknya persinggungan bahkan konflik dalam lalulintas pergaulan hidup dari ragam kelompok yang dicirikan perbedaan suku, ras maupun agama/kepercayaan. Persoalan yang muncul, misalnya pada tataran pengembangan sistem hukum (nasional), misalnya, apakah sistem kepercayaan Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Samin atau Kejawen di Jawa Tengah/Timur (dan lebih banyak lagi di luar Jawa-Madura) harus diakui dan disandingkan oleh negara (kementerian agama) setara dengan agama-agama samawi + konghucu yang sudah terlebih dahulu diakui sebagai agama resmi. Bila diakui apakah sistem kepercayaan (hukum) masyarakat lokal (particular) berlaku hanya sepanjang menyangkut hukum keluarga (perkawinan, perceraian) ataukah lebih dari itu sehingga mencakup pula pengakuan dan penghormatan atas klaim masyarakat (hukum) adat untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan atas lebensraum mereka sendiri (tanpa adanya campur tangan negara maupun masyarakat di luar kelompok masyarakat adat/penganut kepercayaan tertentu)?
14
Sayangnnya persoalan pluralisme hukum dan konflik antara hukum negara dengan hukum (masyarakat) adat seperti ini tidak pernah diangkat dalam pembelajaran hukum adat di fakultas hukum di Indonesia. Padahal di luar dunia kampus sudah banyak bermunculan tulisan yang membahas persoalan ini. Antara lain, telaahan Ratna Lukito perihal pertemuan dan perbenturan hukum adat dan hukum Islam di Indonesia.74 Tulisan lain lebih terfokus pada hak masyarakat adat atas sumberdaya alam yang ditemukan dalam wilayah hak ulayat75: persoalan penting di sini ialah apakah dan bagaimana kemudian negara dapat memberlakukan hak menguasai negara yang diatur dalam ketentuan Pasal 33(3) UUD 1945 serta seberapa jauh hak-hak tradisional masyarakat (hukum) adat dianggap (dan diakui oleh Negara sebagai) masih hidup dan dianggap selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban?
Pada saat sama dapat dipertanyakan seberapa jauhkah studi-studi seperti ini betul mencerminkan keberagaman the living law masyarakat Indonesia sekaligus penghormatan atas keyakinan hidup mereka sebagai masyarakat otonom (dengan struktur dan sistem penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat yang berbeda) dalam NKRI yang (setidak-tidaknya yuridis formal) mengakui kebhinekaan? Kedua tulisan yang dirujuk di atas tidak menyinggung soal eksistensi agama/keyakinan tradisional dihadapan negara (kementerian agama) serta apa/bagaimana pengaruhnya terhadap penghormatan/pengakuan keragaman hukum (masyarakat adat). Lagipula, sekalipun ketentuan Pasal 29 (2) UUD 1945 menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk (bukan kelompok masyarakat) untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, jaminan demikian bersifat terbatas. Hanya sejumlah agama diakui sebagai agama resmi. Di luar itu, berkenaan dengan agama asli (dari masyarakat hukum adat), ketentuan Pasal 28I ayat(3) hanya menjamin bahwa:
Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan za a da pe ada a .
Fakta lain yang sama pentingnya ialah kewenangan pemerintah daerah otonomi (kota-kabupaten dan dalam derajat tertentu desa) untuk memberlakukan kebijakan (policy) maupun peraturan daerah (legislasi) yang bernuansa sangat local dan kadang merupakan penegasan diam-diam atau terus terang aka ke e lakua Piaga Jaka ta .76 Kasus khusus di sini adalah Nanggroe Aceh Darussalam yang dalam wilayahnya berwenang menerapkan syariat Islam dan siapapun yang berada di wilayahnya (muslim atau non-muslim) diwajibkan tunduk pada huku Isla e si NAD. Hukum yang juga ditegakkan melalui sarana polisi agama dan pengadilan yang berwenang menjatuhkan pidana badan menurut (hukum) agama. Fakta lain adalah kebangkitan (sistem hukum) ekonomi Islam dan perluasan yurisdiksi pengadilan agama (Islam).77 Namun dalam kaitan itu, M.B. Hooker mencermati:78
... e should ea i i d that the past e tu has de o st ated the f agile atu e of the Syariah in Indonesia. This is by no means a special case: the whole Muslim world has seen the reformulation of Syariah in Western terms, whether imposed by colonial rule or adopted as part of efo s ai ed at ode izatio . The “ a iah is o ut a shado of the lassi al
jurisprudence and a travesty of the figh literature. There is no room for creativity, even in the eakest se se. The Weste de i ed state is e e he e do i a t.
15
se agai kalkulasi politik u tuk e dapatka duku ga as a akat pe ilih a g e de u g eligius (dengan collateral damage: kelompok minoritas). Pengamatan kedua yang muncul ialah bahwa di panggung kehidupan sosial-politik suara yang muncul dominan adalah suara agama mayoritas. Tenggelam dalam hiruk pikuk itu ialah persoalan pengakuan atas kehidupan keagamaan/keyakinan dari masyarakat (hukum) adat serta hak masyarakat hukum adat untuk mengatur perikehidupan mereka atas dasar sistem keyakinan/agama mereka sendiri.
Persoalannya ialah seberapa jauh semua faktor di atas berpengaruh terhadap penegasan satu bangsa (bangsa Indonesia) dan pemberlakuan sistem hukum nasional yang berkeadilan dan tidak diskriminatif? Faktor-faktor di atas memaksa kita menelaah ulang konsep negara hukum Indonesia untuk masyarakat yang bhineka. Negara yang dijalankan bukan atas dasar kekuasaan semata (dari siapa: negara, kabupaten/kota otonom, masyarakat hukum adat dan bagaimana sumber kekuasaan dimaknai: religius/sekular?) namun juga atas dasar hukum (hukum siapa dan apakah hukum ini bersifat sekuler atau sakral?)
Masyarakat Magis-Religus dan/atau Negara berkeTuhanan di Indonesia
Sekalipun UUD 1945 dibuat dengan bercermin pada struktur negara dan pemerintahan yang dimaktubkan dalam IS/RR,79 landasan pemikiran tentang penyelengaraan kehidupan bernegara dan bermasyarakat jauh berbeda dari yang melandasi Hindia Belanda maupun Indonesia di bawah pendudukan Jepang. Satu perbedaan mendasar dapat ditengarai dalam struktur ketatanegaraan dan dirujuknya kedaulatan rakyat (bumiputera) sebagai landasan bernegara, hal mana tidak mungkin terjadi dalam negara koloni. Di dalam NKRI versi UUD 1945 (asli) kita temukan adanya MPR sebagai lembaga tertinggi negara pemegang kedaulatan rakyat. Rakyat menjelma dalam lembaga tertinggi (MPR: vertretungsorgan des Willens des Staatsvolkes).80 Presiden sebagai kepala pemerintahan dalam skema i i uka wakil piliha ak at a u pe ega g a dat dari lembaga tertinggi Negara (yang mewujudkan kedaulatan rakyat atau adalah perwakilan rakyat di dalam struktur-sistem organisasi kenegaraan). MPR mewakili keluarga (rakyat Indonesia) yang memberi mandat kepada Presiden (untuk bertindak sebagai kepala keluarga).
Selain itu, pada tataran berbeda, juga dapat dicermati bahwa ide bahwa kekuasaan harus dikendalikan dengan cara dipecah dan diberikan kepada institusi negara yang berbeda-beda secara prinsipil ditolak di Indonesia. Setidaknya pada zaman pemerintahan Orde Baru, UUD 1945 dimaknai sedemikian rupa sehingga kedaulatan rakyat sepenuhnya berada ditangan MPR dan dipegang oleh presiden selaku mandataris maupun kepala pemerintahan.81 Mandataris (mewakili negara) adalah kepala keluarga (negara) yang dalam konsep negara kekeluargaan wajib mengayomi rakyat. Dalam negara kekeluargaan ini lebih jauh lagi dinyatakan bahwa yang berlaku ialah penyebaran kekuasaan (antara MPR/DPR-Presiden dan lembaga-lembaga negara lainnya) bukan pemisahan tegas.82
16
tatanan negara dan pemerintah yang baru (dan masih terus berubah) ini relevan pertanyaan apakah negara (state) dan masyarakat (society) Indonesia masih dianggap satu kesatuan (manunggaling lan kawula gusti; negara kekeluargaan) ataukah entitas terpisah? Lebih lanjut ialah apa dan bagaimana hubungan citizen (dalam masyarakat pluralistik) dengan negara?
Apa yang juga tegas ditolak dalam penyelenggaraan kehidupan bersama (setidak-tidaknya secara formal) adalah paham individualism-liberalisme (dalam sistem ekonomi kapitalistik) yang diyakini melegitimasikan penindasan-penghisapan dan penjajahan bangsa-bangsa non Barat dan sebab itu harus ditolak. Sebagai gantinya dianut pendekatan komunalisme, kebersatuan negara dengan masyarakat yang diyakini khas budaya timur dan (secara karikatural) berbeda dari budaya barat yang individualis-liberal.84 Hasil akhirnya, sekalipun diperdebatkan bagaimana memaknainya, adalah paham negara integralistik (atau kekeluargaan?) versi M. Yamin.85 Dalam konstruksi ini hukum (sumber hukum formal: terutama Pancasila dan TAP MPR tentang GBHN) merupakan cerminan dari kehendak Negara (yang menyuarakan suara rakyat) dan karena itu wajib dijalankan sebaik-baiknya oleh pemegang mandat. Sarana yang dimiliki untuk menjalankan mandat adalah kebijakan negara cq pemerintahan yang diwujudkan antara lain dalam hukum formal (semua peraturan perundang-undangan yang ditempatkan di bawah Pancasila (sebagai sumber dari segala sumber hukum), UUD dan TAP GBHN).
Di sini tampaknya dua pendekatan berbeda: pendekatan sejarah (Savigny) dan ajaran hukum murni dari Kelsen (dan Nawiasky), dikombinasikan untuk membangun satu sistem hukum nasional bagi masyarakat Indonesia.86 Pancasila (dengan ketuhanan YME sebagai salah satu sila) dipostulatkan sebagai staatsfundamental norm. Dengan kata lain, pandangan hidup khas bangsa Indonesia yang bersifat absolut dan tidak berubah dan sebab itu harus dihormati sebagai sumber dari segala sumber hukum dan dasar kehidupan bernegara. Sedangkan aturan-aturan (UUD, TAP MPR dan turunannya) yang bersumber darinya dikonstruksikan sebagai kehendak negara yang wajib dijalankan sebaik-baiknya oleh kaula. Tidak mengherankan kemudian bila pemerintah Orde Baru mengembangkan dalam skala nasional tidak saja kewajiban pembelajaran ideologi Pancasila (pendidikan moral Pancasila, penataran P4 yang dikendalikan BP7) dalam rangka melandaskan bangunan hukum Indonesia pada etika Pancasila. Landasan moral dari (validitas dan legitimitas) hukum nasional adalah Pancasila. Pancasila (sebagai cerminan jiwa bangsa dan grundnorm) dengan meminjam pandangan Imanuael Kant, menjadi categorical imperative: landasan moral dari hukum yang wajib ditaati karena nilai intrinsic yang terkandung di dalamnya. Kita wajib taat pada hukum karena hukum adalah cerminan Pancasila yang merupakan grundnorm dan sekaligus cerminan jiwa bangsa Indonesia. Alhasil pemikiran dan pengembangan ilmu hukum di Indonesia kiranya sampai dengan sekarang cenderung berkutat dengan persoalan seberapa jauh sistem hukum yang ada sudah selaras dengan jiwa bangsa dan/atau grundnorm.
17
kesempatan sempit (kekosongan kekuasaan di Indonesia pasca kekalahan Jepang dalam perang dunia 2). Mungkin pula tepat untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan YME karena berdirinya dan bertahannya negara Indonesia pada waktu itu (1945) bahkan sampai dengan sekarang (2013) dengan segala permasalahannya adalah suatu keajaiban.
Kesepakatan tentang ini - kemerdekaan sebagai anugerah Tuhan - muncul tanpa perdebatan di forum-forum seperti BPUPKI, PPKI, Konstituante (1959) dan MPR/DPR pasca reformasi (1997-2004) dan mengkristal pula dalam penerimaan Pancasila (dengan sila pertama KeTuhanan YME) sebagai dasar bernegara dan hukum. Namun apa yang kemudian terus diperdebatkan adalah landasan bernegara: Apakah asio alis e seperti dalam Soempah Pemoeda yang sama sekali tidak menyinggung persoalan kesamaan keyakinan atau ke aki a pada Tuhan yang mempersatukan ummah di bawah satu agama Isla Piaga Jaka ta atau ke aki a pada Tuha atau tuhan saja? Apakah pada sila pertama harus atau tidak ditambahkan 9 kalimat dari piagam Jakarta bukan sekadar persoalan semantic, melainkan menyangkut persoalan identitas dan siapakah bangsa Indonesia yang memiliki hak menentukan nasib sendiri dengan membentuk negara berdaulat Indonesia?
Tersebutlah bahwa pengala a a gsa I do esia e hadapa de ga siste huku sekule Hi dia Belanda yang dilandaskan paham positivistic (& liberal-individualistik) berhasil meyakinkan kita untuk memilih landasan bernegara dan landasan hukum yang sama sekali berbeda. Sila pertama dari Pancasila: Ke-Tuhanan YME dimaknai bahwa penyelenggaraan kehidupan bernegara dan hukum di Indonesia harus dilandaskan pada kepercayaan dan keyakinan akan campurtangan Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa Negara berdasar ketuhanan Yang Maha Esa (tuhan dengan K kecil; sebagaimana ditulis dalam Pasal 29(1)). Konsekuensi logis adalah pemahaman landasan moral dari keberlakuan hukum adalah kepercayaan adanya Tuhan YME dan selanjutnya hukum harus dilandaskan atau bersumberkan pada ajaran-ajaran agama/kepercayaan masyarakat Indonesia.
Dengan itu Indonesia dengan tegas menolak sekularisme yang dianggap melandasi cara pandang pemerintah kolonial dan tercermin dalam sistem hukum kolonial. Sekalipun tidak terhindarkan bahwa masyarakat Indonesia (pada tataran empiric) mengalami gejala sekularisasi yang merupakan efek ikutan dari modernisasi. Argumentasi tambahan yang diajukan ialah kenyataan bangsa Indonesia adalah masyarakat yang magis-religius.
18
apakah digambarkan berasal/tidak dari kesalehan beragama). Keyakinan inipun kiranya berada dibelakang ihtiar mengkriminalisasi praktik santet atau perdukunan di dalam R-KUHPidana Indonesia. Bagaimana pula kita dalam konteks di atas harus memahami kekejian pembunuhan massal 1965/1967 di pelbagai wilayah di Indonesia dan kemudian juga kematian perdata (dalam wujud) kebijakan bersih diri-bersih lingkungan yang ditujukan pada mereka yang kebetulan anggota PKI atau menjadi anggota keluarga dekat/jauh, bahkan mahasiswa Indonesia yang juga kebetulan bersekolah di Negara-negara komunis (blok Timur). Menarik di sini bahwa tragedi kemanusiaan 1965/67 di Indonesia secara resmi dibenarkan dengan ide kesaktian Pancasila dan/atau keberpihakan Tuhan pada kaum beragama (Negara berketuhanan) yang mengizinkan pemunahan mereka yang menolak keberadaan dan hadirat-Nya. Berkaitan dengan ini dapat kita kaitkan pertanyaan tentang siapa yang berhak menjadi anggota dari nation Indonesia: a ga ega a a g sepe ti apakah a g e hak e e ut di i ka i a gsa da a ga ega a I do esia ? Atas dasar apakah persatuan-kesatuan (Negara-bangsa) Indonesia dibangun? Persoalan serupa melandasi pembenaran operasi pembunuhan misterius yang diperintahkan Soeharto pada 198387 dan kemudian juga tragedi kemanusiaan yang terjadi menjelang keruntuhan rezim Orde Baru atau menjadi landasan kebijakan pembiaran pelanggaran hak asasi kelompok-kelompok minoritas yang dianggap berbeda (dan tidak layak mendapat perlindungan Tuhan).88 Maka dengan mudah kekejian dibenarkan atas nama Tuhan yang disembah: mereka (satu komunitas) pantas mati karena tidak bertuhan atau sekadar bersalah memeluk agama berbeda. Di sini kita kembali berhadapan dengan pe soala agai a a e ak ai kea ggotaa a ga dala suatu Nega a a g seha us a e di i di atas semua golongan.
Layak dipertanyakan kemudian ketika kita berhadapan dengan tragedi kemanusian seperti di atas: di manakah Tuhan (dan betulkah ia Maha Pengasih?) ataukah ketika itu semua terjadi Tuhan berpaling atau justru menunjukkan kedahsyatan kemurkaanNya? Apakah Ia yang maha pengasih dan maha mengetahui mendengar dan peduli? Atau justru memberkati pembantaian manusia oleh manusia lain? Pada saat yang sama seberapa jauhkan kita dapat berpegang pada rasionalitas kebijakan negara (sekuler) dan hukum (yang juga sekuler)? Ulasan tentang the banality of evil (Hannah Arendt) menunjukkan bahwa perilaku kejam manusia terhadap manusia lainnya tidak perlu dikaitkan sama sekali dengan Tuhan atau bahkan setan.89 Kejahatan sangatlah manusiawi sekalipun juga sulit untuk dipahami mengapa dan bagaimana mungkin manusia yang dianggap rasional dapat begitu abai/tidak peduli (thoughless). Orang menjadi jahat tidak perlu karena yang bersangkutan dari sananya tidak berhatinurani atau keji. Bisa terjadi kekejian (dalam kehidupan sehari-hari) justru muncul sekadar karena kedangkalan pikiran atau sempitnya wawasan.
19
Jawaban Indonesia bukan negara agama (Islam) atau Tuhan dari satu agama tertentu jelas pula tidak memadai. Perdebatan yang muncul di sini berkaitan dengan ide kebenaran. Apakah harus ada satu kebenaran absolut dan kekal (maka hanya agama saya paling benar dan sebab itu saya paling berhak berkuasa dan otomatis siapa tidak bersama saya adalah musuh yang layak di berantas sampai ke akar-akarnya?) ataukah ada kebenaran paralel yang niscaya hidup berdampingan secara rukun (pluralisme agama atau sekadar pandangan: agamaku agamamu dapat ko-eksis tanpa mengisyaratkan konsesi apapun)?
Jika ke e a a kekal-absolut a g di ep e tasika Tuha – bukan kebenaran manusia yang relatif - betul harus dipahami sebagai tidak terpermanai (di luar dan mengatasi manusia bahkan dunia fana) bagaimana manusia menjangkau dan mentransformasikannya menjadi hukum (manusia)? Jawaban sederhana adalah melalui nabi atau wahyu dan pada akhirnya kitab. Namun ketika wahyu tuntas diturunkan dan dibukukan dalam kitab (selanjutnya Tuhan Yang Maha Kuasa dilarang [atau melarang diri sendiri?] menurunkan wahyu lagi pada siapapun juga), dalam kenyataan tetaplah manusia yang tidak sempurna (dalam kehidupan bersama) yang menafsirkan dan menjalankannya. Jawaban cepat lainnya ialah fakta bahwa Tuhan memberi akal (ratio) pada umat manusia. Adalah ratio manusia yang diterangi cahaya Ilahi yang akan menuntun manusia mencapai kebijakan/kebajikan dan atas dasar itu pula lahir hukum-hukum yang niscaya bijak.
Di sini kembali pertanyaan seberapa jauh sebenarnya agama yang diturunkan dalam sejarah dan berkembang dalam budaya (masyarakat) tertentu bersifat universalistik dan bagian-bagian manakah yang bersifat partikular. Agama samawi diturunkan di jazirah arab. Agama Yahudi jelas dikhususkan bagi bangsa Yahudi. Kristen dan Islam berkembang lintas budaya dan geografis dan di pelbagai wilayah memunculkan kekhasannya sendiri. Lalu pada tataran empirik kita dapat bertanya kebenaran versi Kristen atau Islam manakah? Lalu bagaimana dengan (agama) Budha-Hindu dalam pelbagai variannya atau KongHucu yang bahkan tidak merasa perlu mengembangkan konsep Tuhan Maha Esa?
Bagai a a ideologi Negara berketuhan-an diwujudkan dalam staatsidee dan rechtsidee? Kasat mata hal ini secara sederhana tercermin dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan peradilan. Baik peraturan perundang-undangan nasional (berdasarkan ketentuan Pasal 27 UUD berlaku tanpa kecuali bagi semua warganegara Indonesia) maupun putusan pengadilan selalu dibuka dengan irah-irah: Demi Keadilan dan KeTuhanan Yang Maha Esa, sekalipun kandungan muatan kedua dokumen ini sepenuhnya urusan duniawi yang itupun sangat sepele, seperti syarat kenaikan pangkat dosen atau prosedur pemilihan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di samping itu, pejabat negara harus mengangkat sumpah/janji sesuai kepercayaan yang dianutnya, yaitu untuk menjalankan kewajiban hukum melayani negara dan bangsa.
20
yang diimpor dari luar) dan untuk menganut keyakinan/kepercayaan dari leluhur harus dengan seizin atau di bawah pengawasan negara/pemerintah. Artinya adalah Negara cq. Kementerian Agama ataupun lembaga lain (MUI?) yang menentukan berdasarkan kekuasaan yang melekat pada dirinya (konstitusional; atributif ataupun delegatif) keyakinan apa yang boleh dianut warganegara Indonesia. Sesuatu yang secara logical sebenarnya bertentangan dengan jaminan kebebasan beragama-berkeyakinan yang dicantumkan dalam konstitusi (UUD 1945).
Apakah pendekatan simbolik dan pembatasan campurtangan negara melalui departemen/kementerian agama atau lembaga-lembaga lain (MUI/Walubi/KWI dll.) cukup untuk membuat kegiatan penyelenggaraan negara dan pemerintahan menjadi berlandaskan kehendak dan perkenan Tuhan adalah persoalan lain. Satu hal yang jelas ialah bahwa banyak orang di Indonesia berkeyakinan bahwa buruknya kualitas penyelenggaraan negara dan pemerintahan, misalnya yang ditunjukkan dengan maraknya korupsi atau banyaknya bencana alam (banjir/kebakaran hutan dstnya), adalah karena kurang atau rendahnya moralitas bangsa. Tidak mengherankan bahwa solusi segera yang ditawarkan adalah lebih taat beribadah.
Membangun Sistem hukum Nasional yang non-sekuler, non-unifikasi (fragmentaris)
Upaya membentuk satu hukum nasional, setidak-tidaknya pada era 1970-1980 diprakarsai oleh Mochtar Kusumaatmadja90dan Soenaryati Hartono.91 Dengan pengembangan teori/pandangan hukum nasional (peraturan perundang-undangan) sebagai sarana pembaharu masyarakat (instrumentalis) diupayakan pembentukan satu sistem hukum nasional modern yang melingkup dan melebur keanekaragaman hukum (adat, agama, colonial). Sebagai alat bantu dirujuk pula pemahaman sistem hukum Indonesia (TAP MPRS XX/1966) sebagai piramida. Dalam bangunan hukum ini keseluruhan sistem aturan formal (buatan negara) harus selaras dan bersumber pada sumber-segala sumber hukum Pancasila (dan tentunya keTuhanan Yang Maha Esa) atau pasca Orde Baru cukup pada UUD 1945 yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila. Inilah landasan hukum dari judicial review oleh Mahkamah Agung92, administrative review oleh Departmen/Kementerian Dalam Negeri93 dan sekarang ini juga constitutional review oleh Mahkamah Konstitusi.94 Dapat dibayangkan bahwa dengan itu hendak dibangun dan dijaga keutuhan satu sistem hukum nasional yang dilandaskan pandangan hidup masyarakat Indonesia (kekeluargaan-magis/religius atau berkeTuhanan).
21
alasan praktis, hukum acara yang diberlakukan bukanlah Rv. atau Sv. melainkan HIR/RbG yang dahulu diperuntukan untuk menjalankan kekuasaan kehakiman khusus bagi golongan bumiputera.95
Artinya diam-diam, pemerintah Indonesia secara sadar (atau justru tidak?) memberlakukan (kembali) cara pandang liberal-individualis (dan sekuler) yang dianggap melekat pada sistem hukum materiil-formil negara kolonial. Tidak jelas betul bagaimana dalam praktik, perangkat hukum kolonial dapat tetap berjalan dengan baik, yakni dilandaskan pada semangat dan cara pandang kekeluargaan (dan struktur-organisasi negara dan kekuasaan kehakiman yang berbeda) atau dijalankan secara konsisten sambil tetap menolak pandangan liberal-individual yang termuat di dalamnya. Kemungkinan ini semua hanya menyebabkan para penegak hukum termasuk ahli hukum di Indonesia mengalami cognitive dissonance96, karena mempelajari dan mempraktikan hukum barat yang pada saat sama secara prinsipiil menolak dasar keberlakuannya.
Baru kemudian dalam perjalanan waktu sistem hukum ini dibongkar pasang secara fragmentaris. Sistem kodifikasi yang dibangun pemerintah Belanda dan diadopsi oleh koloni (BW, WvK, Rv; WvS(Sr)-Sv.) dibongkar dengan memberlakukan peraturan perundang-undangan sektoral (yang berdiri sendiri dan terlepas satu sama lain). Pendekatan fragmentaris dan sektoral yang dijalankan sampai dengan sekarang dengan segala akibatnya pada ikhtiar menjaga kesatuan sistem hukum dan keselarasan antar aturan yang niscaya dijaga.97 Seberapa jauh kemudian pendekatan fragmentaris tersebut dapat dikatakan merupakan perwujudan cara pandang bangsa Indonesia yang magis religius, kekeluargaan dan berketuhanan yang dikontraskan dengan apa yang diyakini melandasi sistem politik dan hukum pemerintahan kolonial?
Di samping itu program unifikasi dan modernisasi (diam-diam melalui instrumentalisme hukum) juga sekularisasi di atas dari sistem hukum nasional Indonesia terbentur penolakan politik (sejumlah kecil atau justru mayoritas) kelompok Islam tatkala pemerintah berupaya membentuk satu hukum perkawinan bagi semua golongan penduduk. Ihwalnya sangat sederhana perbedaan pandangan tentang keabsahan perkawinan. Negara hendak mempertahankan konsep keabsahan perkawinan dari semua golongan penduduk (suku-ras-agama) digantungkan hanya pada pencatatan oleh catatan sipil (dinas kependudukan). Upacara agama dapat dilakukan sesudah atau sebelum pencatatan sipil. Namun yang berlaku dan mengikat dihadapan hukum negara hanyalah (upacara) pencatatan pernikahan oleh negara. Perkawinan (dan juga karena itu perceraian) dipandang sekadar sebagai hubungan keperdataan bukan sesuatu jalinan hubungan yang sacral dan perlu perkenan Tuhan. Kelompok (masyarakat Islam) menolak tegas pandangan sekuler ini dan menyatakan bahwa ikatan perkawinan harus disahkan menurut ketentuan agama terlebih dahulu dan pencatatan (untuk urusan administrasi kependudukan) adalah hal sekunder. Dengan demikian, perkawinan wajib dimaknai sebagai ikatan suci (bukan perjanjian) dan artinya pasangan dipersatukan (dalam nama) Tuhan sebagai suami-istri dengan segala hak dan kewajiban yang diuraikan oleh hukum agama. Pencatatan oleh Negara (direpresentasikan oleh Kantor Urusan Agama untuk mereka yang beragama Islam) menjadi de facto optional.
22
kekuatan keberlakuan hukum sepenuhnya kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Perintah Tuhan lagipula sudah sempurna termaktub dalam kitab suci dan (sekalipun tetap diperdebatkan) pintu ijtihad telah tertutup.98 Apa yang dapat dilakukan manusia (dan masyarakat muslim: ummah) pada akhirnya hanya dalam kepasrahan menaati perintah Tuhan sebagaimana sudah lengkap dan sempurna diungkap melalui wahyu Q u a a g a u de ikia oleh para pemeluk dilengkapi oleh Hadits).
Pada lain pihak, pemerintah juga tidak mengalah begitu saja. Pemerintah Indonesia memilih untuk memberlakukan tidak selu uh siste huku Isla u tuk golo ga pe duduk e aga a Isla , a u bagian-bagian dari sistem hukum ini yang terkait dengan hukum keluarga. Artinya yang berlaku dan diberlakukan di pengadilan agama bukanlah hukum Islam sebagaimana bebas dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat sendiri, namun hukum Islam sesuai tafsiran resmi pemerintah (MA). Kompilasi inilah yang digunakan dalam perkara sengketa nikah talak rujuk (dan pewarisan) yang diajukan kehadapan pengadilan agama (Islam).99
Situasi yang berubah ketika pemerintah Indonesia pada a juga menerima keberatan masyarakat muslim akan keabsahan u ga pe a ka . Bilamanana terminologi bunga dalam KUHPerdata dibedakan antara yang diperbolehkan dengan usury (di atas 6%; bunga berbunga) yang diancam dengan pidana oleh KUHPidana, juga bila menyangkut penjeratan utang, sebaliknya dari sudut pandang berbeda (hukum islam) pembedaan itu tidak dianggap penting. Bunga (dari hutang) apapun itu dan dalam konteks apapun dianggap haram. Lepas dari persoalan apakah betul praktik simpan-pinjam perbankan dengan bunga (umum-sekuler) dapat dipersamakan dengan usury (penghisapan melalui pemberlakuan bunga berbunga di atas kewajaran yang juga dilarang oleh KUHPerdata/KUHPidana), kompromi dari perbenturan tahap kedua antara hukum nasional dengan hukum agama (Islam) muncul dalam pembukaan bank, asuransi dan lembaga-lembaga keuangan syariah. Maka selanjutnya juga perjanjian tidak hanya mengikat dan menjadi hukum atas dasar consensus (kesepakatan bertimbalbalik; akad), namun atas dasar keselarasannya dengan perintah Tuhan. Selain itu seluruh sektor perekonomian (dari kelompok masyarakat muslim) wajib diselenggarakan atas dasar hukum agama. Dampak lainnya adalah perluasan kompetensi pengadilan agama, tidak lagi sekadar mengurus urusan cerai, namun semua sengketa keperdataan atas dasar yurisdiksi personal (muslim) atau berdasarkan rationae materiae (apa yang dipersengketakan diatur oleh hukum islam). 100
Dalam kasus ekstrim lain bahkan negara (dengan sistem hukum nasional) harus menyingkir dan merelakan satu wilayah di dalam lingkup NKRI memberlakukan hukum syariah. Maka di dalam negara kesatuan kita menerima adanya nanggroë (otonom: Aceh Darussalam) yang memberlakukan sistem hukum dengan asas dan landasan yang berbeda dengan sistem hukum nasional (sekalipun berkeTuhanan). Apa yang terjadi di NAD adalah dipenuhinya tuntutan yang termuat dalam Piagam Jakarta dan lebih dari itu. Namun juga pemerintah daerah otonom (kabupaten/kota) sejak 2004 memberlakukan perda-perda yang bernuansa syariah. Ini dapat dimulai dari kewajiban, misalnya berpakaian muslim bagi pejabat pemerintahan atau larangan bepergian/keluar rumah di malam hari bagi perempuan. 101
23
u tuk taat pada pe i tah Ya g Maha Kuasa elai kan kesepakatan yang terwujud dalam proses pembentukan perundang-undangan. Perintah Tuhan bukan lagi langsung tertuang dalam kitab suci dan itupun langsung tertuju pada manusia (dan masyarakat) melainkan harus diturunkan dan dirumuskan lebih lanjut dalam huku a g di e lakuka se a a de ok atis . Artinya dasar keberlakuan perintah Tuhan (ditafsirkan sebagai hukum atau bukan) pertama dilandaskan penerimaan atas dasar keyakinan pribadi dan kedua perintah Tuhan yang diterjemahkan ke dalam perda/quanun berlaku sebagai ketentuan yang keberlakuannya didukung dan dijaga oleh kekuasaan sekuler negara (baik dalam wujud satpol pp atau polisi agama).
Sebagai perbandingan, menarik dicermati bagaimana unifikasi hukum di bidang keagrariaan juga mendapat tentangan dari masyarakat hukum adat. UUPA 5/1960 adalah upaya unifikasi hukum tanah.102 Klaim negara sebagai satu-satunya kekuasaan politik yang legitim untuk mengatur mengelola sumberdaya alam dilandaskan pada pemikiran hak menguasai negara. Hak ulayat bukan lagi ada pada kelompok-kelompok masyarakat namun melekat pada negara sebagai hak publik. Lagipula karena kemerdekaan adalah anugerah, maka sumberdaya alam beserta segala isinya juga dimaknai sebagai anugerah Tuhan yang maha kuasa. Kekuasaan negara atas sumberdaya dapat dimaknai sebagai sesuatu yang meta iuris bukan sekadar karena tercantum dalam ketentuan Pasal 33 UUD 1945 atau UUPA. Di sinipun dapat diselipkan pertanyaan dalam hal terjadi kerusakan lingkungan hidup dan kemudian muncul bencana alam, apakah dapat ditafsirkan sekadar kita semua telah berdosa secara berjamaah dan penyelesaiannya adalah bertobat: meminta ampunan? Bagaimana wujud pertanggungjawaban pemerintah dan masyarakat bila anugerah tersebut disia-siakan atau disalahgunakan yang termanifestasikan dalam wujud degradasi lingkungan dan bencana?
Di manakah dapat kita temukan landasan pemberdayaan sumberdaya yang berkeTuhanan? Apa yang dapat kita temukan dalam hukum positif adalah peraturan perundang-undangan sektoral (kehutanan, migas dan pertambangan, termasuk dalam bidang pengembangan perkotaan-industri) dan pemberdayaan capital (dalam negeri/luar) untuk mengekplorasi dan eksploitasi. Ketika melalui concession, kontrak/karya atau production sharing contract atau perizinan, para pemegang modal (pengusaha ekonomi) diperkenankan mengekstrasi dan mengekploitasi, maka sumber daya berhenti dipahami sebagai anugerah, dan menjadi tidak lebih dari sekadar komoditi. Perhitungan ekonomi mengambil alih pemahaman sumberdaya sebagai anugerah atau sacral. Tidak lagi ada yang sacral dari hutan atau ladang persawahan yang diubah menjadi kawasan tambang atau industri demi kemajuan pembangunan perkotaan.
24
(legitimasi negara). Dapat dibayangkan bahwa yang diperjuangkan masyarakat hukum adat bukan hanya penguasaan atas sumberdaya alam yang berada dalam wilayah territorial yang diklaimnya dipe oleh se a a tu u te u u se elu I do esia ada , elai ka juga ke e asa u tuk mengatur perikehidupan berdasarkan nilai-nilai budaya dan kepercayaan local – yang tidak terangkum hanya dalam konsep hukum adat. Dengan itu pula sistem hukum nasional (dan landasan kekuasaan politik dari negara) dihadapkan dan dibenturkan pada sistem hukum local (masyarakat hukum adat) yang dibangun atas nilai-nilai budaya particular.
Apa yang tidak kentara bahwa tuntutan memberlakukan sistem hukum berbeda atas dasar pandangan hidup dan budaya local (termasuk sistem kepercayaan atau agama) tidak saja memunculkan pertanyaan tentang inklusivitas/eksklusivitas namun juga langsung mempertanyakan dasar keberlakuan sistem hukum nasional dan lebih jauh lagi legitimitas keberadaan NKRI sebagai suatu consensus bersama. Quo vadis?
Kesemua ini memaksa kita memikirkan kembali landasan pembenaran adanya kekuasaan politik (duniawi) yang terpusat (atau justru tersebar), dan kemanfaatan memperjuangkan dan mempertahankan sistem hukum nasional modern-post modern (yang mau tidak mau pasti bersifat demokratis dan sebab itu sekuler) yang terunifikasi di Indonesia. Pertanyaan tersulit adalah di mana dan bagaimana kita harus menempatkan Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi-budaya yang faktual dicirikan oleh kebhinekaan? Atau juga di mana Tuhan (dari agama dan keyakinan manakah?) harus ditempatkan dalam kerangka nation-state building?
Satu pertanyaan keras yang dapat dijadikan panduan untuk menjawab persoalan di atas ialah: ketika pemerintahan membiarkan dan menenggang praktik korupsi-kolusi-nepostisme secara masif apakah itu semua terjadi atas perkenan Tuhan (baik karena semua sudah ditentukan jalannya oleh Tuhan atau karena manusia diberkahi kebebasan untuk memilih) atau sebagai dampak dari penyelenggaraan negara yang berketuhanan? Pertanyaan sama relevan juga ketika kita berhadapan dengan fakta pembangunan (nasional: sebagai upaya mewujudkan tujuan bernegara) ternyata dijalankan dengan melanggar banyak hak asasi manusia baik pada tataran individual maupun komunal. Bagaimana Negara (ataukah pejabat negara?) harus mempertanggungjawabkan itu semua dihadapan Tuhan (di akhirat?) dan apakah itu berarti tidak perlu dipertanggungjawabkan perbuatan serupa dihadapan hukum dan masyarakat (di dunia, dihadapan pengadilan buatan manusia?). Diyakini pula bahwa kenyataan masyarakat Indonesia sedang disesah Tuhan (sebagai akibat dosa kolektif?) terbukti dari banyak dan meningkatnya angka kejahatan maupun bencana alam/lingkungan. Angka kriminalitas tinggi maupun bencana alam adalah juga bukti Tuhan memalingkan wajahnya dari bangsa Indonesia. Apakah pertobatan massal merupakan jalan keluar? Bagaimana hal itu harus dikaitkan dengan ihtiar tidak pernah selesai mengembangkan pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi-kolusi dan nepotisme?