• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Ilmiah Fotokatalisis Tanaman Art

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Ilmiah Fotokatalisis Tanaman Art"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN ILMIAH

FOTOKATALISIS

TANAMAN ARTIFICIAL UNTUK PURIFIKASI UDARA RUANG

DISUSUN OLEH:

Adiputra Khomas

Ahmad Faisal

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

(2)

Page 1 of 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Asap rokok sudah merupakan hal yang lumrah kita temui dalam lingkungan kita

sehari-hari. Rokok sudah menjadi kebutuhan di hampir seluruh lapisan sosial masyarakat,

mulai dari pemilik perusahaan dan pemerintah sampai ke lapisan pengemis dan pemulung.

Data dari WHO pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 76,8 juta orang

yang merupakan perokok aktif. Data lain menyatakan bahwa 63.3% dari pria dewasa di

Indoenesia merupakan perokok aktif, sementara 4,5% wanita dewasa merupakan perokok

aktif. Larangan merokok yang belum tegas ditegakkan pemerintah menyebabkan masyarakat

dapat merokok hampir dimana saja dan kapan saja.Asap rokok merupakan salah satupolutan

udara yang sangat berbahaya baikbagi perokok aktif maupun perokok pasif(Shapiro, 2000;

Bazemore, 2006).

Rokok dapat disebut sebagai gudang bahan kimia, karena mengandung banyak sekali

senyawa-senyawa kimia berbahaya di dalamnya, seperti nikotin, tar, karbon monoksida,

aseton, metanol, arsen, dan berbagai bahan kimia berbahaya lainnya.Senyawa kimia yang

terdapat di dalam satu batang rokok mencapai sekitar 4000jenis senyawa (Yu, 2006). Dari

senyawa-senyawaitu, yang paling berbahaya dansekaligus paling banyak terdapat di

dalamasap rokok adalah karbon monoksida (CO).Asap rokok dapat menyebabkan kanker dan

juga penyakit kronis lainnya, seperti stroke, katarak, gangguan pernafasan seperti pneumonia.

Selain rokok, di udara di sekitar kita juga terdapat senyawa-senyawa berbahaya yang

disebut VOC (volatile organic compound). VOC merupakan senyawa kimia organic yang

dapat menguap pada kondisi suhu udara dan tekanan ruangan.Produk yang mengandung

VOC diantaranya adalah cat, lem, alat tulis, furniture, barang-barang elektronik, dll.VOC

tidak selalu dapat tercium baunya, karena terdapat VOC yang tidak berbau. Contoh VOC

sendiri adalah aseton, benzene, formaldehid, toluene, xilena, dll, dimana kandungan VOC

dalam ruangan lebih besar konsentrasinya dibanding luar ruangan (Adgate, et al, 2004)

Secara umum, degradasi polutanbiasanya dilakukan dengan proses adsorpsi.

Kendalanya, adsorben hanyamemindahkan polutan (dari fasa gas kepadatan adsorben)

tanpamenghancurkannya menjadi senyawa yangtidak toksik. Akibatnya sampai suatu

waktutertentu, adsorben akan mengalamikejenuhan dan tidak dapat mengadsorpsipolutan

lagi.Salah satu cara degradasi polutan yangkini dikembangkan adalah prosesfotokatalisis

(3)

Page 2 of 34 sebagai fotokatalisdalam aplikasi reaksi fotokatalitik karenakeunggulannya dibandingkan

jenissemikondutor lain (Litter, 1996; Wu, 2000).

Proses katalisis terjadi pada fasateradsorpsi (Richardson, 1989). Demikianpula halnya

dengan proses fotokatalisis. Halini menjadi masalah bagi prosesfotokatalisis karena

kebanyakansemikonduktor yang digunakan sebagaifotokatalis memilki daya adsorpsi

yanglemah. Untuk menutupi kekurangantersebut, maka proses fotokatalisis olehfotokatalis

semikonduktor perlu ditopangdengan suatu adsorben sebagai penyangga(El-Maazawi, 2000).

Dengan menggabungkanfotokatalis dan adsorben, diharapkankontak fotokatalis dengan

polutan menjadilebih efektif. Selain itu, adsorben yangdigunakan tidak perlu diregenerasi

karenapolutan yang menempel pada adsorbenakan didegradasi secara in situ olehfotokatalis

sehingga kejenuhan adsorbendapat dihindari (Torimoto, 1996; Matsuoka,2003; Slamet,

2007).

Bahan aktif pada penelitian ini adalah fotokatalis TiO2-P25 Degussa dengan senyawa

yang akan dites berupa zat pewarna seperti metilen blue minyak goreng sebagai noda

makanan. Hal yang menjadi tantangan dalam penelitian ini adalah responsivitas TiO2

terhadap sinar tampak. Oleh karena itu, diperlukan senyawa sebagai dopan untuk

meningkatkan daya responsivitas TiO2 tersebut. Beberapa peneliti di atas telah memodifikasi

TiO2 dengan beberapa senyawa seperti dengan Platina (IV) Klorida dan didopan dengan

Karbon (C/TiO2) (Mitoraj, et al., 2006). Hasilnya cukup bagus, akan tetapi senyawa dopan

yang digunakan merupakan senyawa yang kompleks dan cukup mahal.

Penelitian ini bertujuan untukmensintesis komposit TiO2-karbon aktif yang secara

efektif mampu mengadsorpsi dan menguraikan polutan-polutan udara menjadi senyawa

lainnya yang jauh lebih aman dibanding polutan-polutan tersebut. Penelitian ini

menggunakan karbon aktif sebagai dopan fotokatalis TiO2. Hal tersebut didasari atas

pertimbangan bahwa karbon aktif merupakan senyawa yang bersifat nontoksikdan dapat

meningkatkan responsivitas TiO2. Adapun alasan pemilihan fotokatalis TiO2 dalam penelitian

ini adalah karena sifatnya yang non-toksik (Sun, et al., 2003), memiliki aktivitas katalis yang

tinggi (Hermann, 1999), tahan terhadap fotodegradasidan relatif murah (Wikoxoa, 2000).

Adapun metodologi penelitian yang diusulkan adalah dengan melakukan preparasi

komposit C-TiO2 terlebih dahulu dengan mencampurkan TiO2-P25 Degussa dengan TEOS

dengan pengadukan magnetis, kemudian campuran ditambahkan karbon aktif yang kemudian

dilanjutkan dengan pelapisan C-TiO2 berupa lapisan tipis (thin film) ke pot tanaman hias dan

batu apung dengan metode dip coating.Kemudian dilanjutkan dengan pengeringan pt dan

(4)

Page 3 of 34 uji asap rokok untuk tanaman hias secara keseluruhan di dalam kotak uji yang telah dipenuhi

oleh asap rokok, yang dalam pengujiannya akan terlihat bahwa konsentrasi asap rokok akan

berkurang seiring berjalannya waktu sehingga dengan melakukan penelitian ini dapat

membuktikan hipotesis bahwa metode fotokatalisis yang diintegrasikan ke tanaman hias ini

berhasil dan dapat digunakan untuk mendegradasi polutan udara.

1.2. Rumusan Masalah

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengaplikasikan prinsip fotokatalisis untuk

tanaman hias yang dapat mendegradasi polutan, dalam hal ini digunakan asap rokok sebagai

polutan utamanya, dan memperhatikan keadaan sebelum dan sesudah proses fotokatalisis

secara cermat. Bagian dari tanaman hias yang akan digunakan dalam penelitian adalah bagian

pot (wadah) tanaman hias dan batu apung sebagai media pengganti unsur tanah pada tanaman

hias. Fotokatalis yang digunakan untuk percobaan ini adalah TiO2 Degussa P-25, dibantu

dengan adsorben karbon aktif untuk meningkatkan daya adsorpsi tanaman hias akan polutan.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Melihat kinerja fotokatalis yang terlapisi pada pot tanaman hias dan batu apung

melalui uji mikroskop dan asap rokok

2. Membandingkan hasil kinerja dari tanaman yang diberi fotokatalis, sebelum dan

sesudah pengujian berlangsung.

1.4. Batasan Masalah

Batasan dari penelitian ini adalah:

1. Rekayasa tanaman hias yang akan dilakukan hanya mencakup pelapisan C-TiO2 ke

pot tanaman hias dan penggunaan batu apung sebagai pengganti media tanah sehingga

tercipta tanaman hias yang mampu menjaga kualitas udara ruang.

2. Fotokatalis yang digunakan adalah TiO2-P25 Degussa yang didopan dengan karbon

aktif agar dapat meningkatkan daya adsorpsi terhadap polutan untuk membantu proses

degradasi.

3. TiO2 didoping dengan karbon aktif.

4. Metode pembuatan lapisan tipis (thin film) katalis komposit pada substrat adalah dip

coating.

(5)

Page 4 of 34

1.5. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang penelitian, perumusan masalah yang dibahas, tujuan

dilakukannya penelitian, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang tinjauan teori mengenai asap rokok, fotokatalisis, metode

coating, dan batu apung.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang metode pelaksanaan penelitian, peralatan dan bahan yang

digunakan dalam penelitian, prosedur penelitian, parameter penelitian, pengolahan

dan analisis data, dan cara penyimpulan serta penafsiran hasil penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang hasil yang didapatkan berdasarkan penelitian yang telah

dilaksanakan, terdiri dari uji mikroskop dan uji asap rokok.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang didapatkan berdasar penelitian yang telah

dilaksanakan dan beberapa hal yang disarankan untuk kepentingan pengembangan

(6)

Page 5 of 34

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. AsapRokok

Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih dari 4000 bahan kimia

beracun yang berbahaya dan dapat mengakibatkan maut. Dengan ini, setiap sedutan itu

menyerupai satu sedutan maut. Di antara kandungan asap rokok termasuklah aceton (bahan

pembuat cat), naftalene (bahan kapur barus), arsen, tar (bahan karsinogen penyebab kanker),

methanol (bahan bakar roket), vinyl chloride (bahan plastik PVC), phenol butane (bahan

bakar korek api), potassium nitrate (bahan baku pembuatan bom dan pupuk), polonium-201

(bahan radioaktif), ammonia (bahan pencuci lantai), dan sebagainya (Jaya, 2009). Racun

yang paling utama ialah tar, nikotin, dan karbon monoksida (Universiti Teknologi Malaysia,

2005).

Gambar 2.1. Kandungan Asap Rokok (Sumber: StockImage)

Terdapat penjelasan yang lebih jelas bagi beberapa jenis bahan yang terkandung

dalam rokok antara lain adalah sebagai berikut:

1) Nikotin

Komponen ini terdapat di dalam asap rokok dan juga di dalam tembakau yang tidak

dibakar. Nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf, juga menyebabkan tekanan darah

sistolik dan diastolik mengalami peningkatan.Denyut jantung bertambah, kontraksi otot

jantung seperti dipaksa, pemakaian oksigen bertambah, aliran darah pada pembuluh koroner

bertambah, dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. Nikotin meningkatkan kadar gula

darah, kadar asam lemak bebas, kolesterol LDL, dan meningkatkan agregasi sel pembekuan

darah. Nikotin memegang peran penting dalam ketagihan merokok (Sitepoe, 2000).

(7)

Page 6 of 34 2) Tar

Tar hanya dijumpai pada rokok yang dibakar. Eugenol atau minyak cengkeh juga

diklasifikasikan sebagai tar.Di dalam tar, dijumpai zat-zat karsinogen seperti polisiklik

hidrokarbon aromatis, yang dapat menyebabkan terjadinya kanker paru-paru.Selain itu,

dijumpai juga N nitrosamine di dalam rokok yang berpotensi besar sebagai zat karsinogenik

terhadap jaringan paru-paru (Sitepoe, 2000). Tar juga dapat merangsang jalan nafas, dan

tertimbun di saluran nafas, yang akhirnya menyebabkan batuk-batuk, sesak nafas, kanker

jalan nafas, lidah atau bibir (Jaya, 2009).

3) Karbon Monoksida

Gas ini bersifat toksik dan dapat menggeser gas oksigen dari transport hemoglobin.

Dalam rokok, terdapat 2-6% gas karbon monoksida pada saat merokok, sedangkan gas

karbon monoksida yang diisap perokok paling rendah 400 ppm (part per million) sudah dapat

meningkatkan kadar karboksi-hemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%. Kadar normal

karboksi-hemoglobin hanya 1% pada bukan perokok. Seiring berjalannya waktu, terjadinya

polisitemia yang akan mempengaruhi saraf pusat (Sitepoe, 2000).

4) Timah Hitam

Timah hitam merupakan partikel asap rokok. Setiap satu batang rokok yang diisap

mengandung 0,5 mikrogram timah hitam. Apabila seseorang mengisap 1 bungkus rokok

perhari, 10 mikrogram timah hitam akan dihasilkan, sedangkan batas bahaya kadar timah

hitam di dalam tubuh adalah 20 mikrogram/hari (Sitepoe, 2000).

2.2. Teknologi Fotokatalisis 2.2.1. Definisi Fotokatalisis

Fotokatalis merupakan suatu kombinasi antara proses fotokimia dan katalisis. Proses

fotokimia adalah proses sintesis (transformasi) secara kimiawi dengan melibatkan cahaya

sebagai pemiAgnya. Sedangkan katalis adalah substansi yang dapat mempercepat jalannya

reaksi dengan jalan mengubah jalur (mekanisme) reaksi tanpa ikut terkonsumsi pada reaksi

tersebut. Bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai fotokatalis ialah bahan-bahan yang

memiliki celah pita energi (energy bandgap) seperti kebanyakan logam transisi dan saat

dikenai cahaya maka energi cahaya tersebut dapat mengeksitasi elektron dari pita valensi

menuju pita konduksi. Ini terjadi jika energi cahaya yang diberikan sama atau lebih besar

daripada celah pita energi dari bahan tersebut.

Proses fotokatalis dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jenis katalisnya yaitu

(8)

Page 7 of 34 fotokatalitik yang terjadi pada fasa yang sama dan dengan bantuan oksidator seperti ozon

dan hidrogen peroksida, sedangkan proses fotokatalis heterogen ialah proses fotokatalisis

yang terjadi antara dua fasa atau lebih dan biasanya dibantu oleh cahaya atau katalis padat.

Proses fotokatalis heterogen merupakan teknologi berdasarkan iradiasi fotokatalis

semikonduktor seperti titanium dioksida (TiO2), seng oksida (ZnO) ataupun kadmium sulfida

(CdS).

Fotokatalisis heterogen bisa terjadi pada berbagai medium baik fasa gas, cairan organik

murni ataupun fasa berair. Proses keseluruhan yang terjadi pada fotokatalisis heterogen dapat

dibagi menjadi lima tahap, yaitu:

1. Difusi reaktan dari fasa fluida menuju permukaan katalis.

2. Absorbsi reaktan paling sedikit satu jenis reaktan.

3. Reaksi dalam fasa teradsorpsi.

4. Desorpsi produk dari permukaan katalis.

5. Pemisahan (perpindahan massa) produk dari daerah interfasa.

Gambar 2.2.Tahapan – tahapan pada suatu reaksi fotokatalis heterogen (Sumber: Fogler)

Dari gambar 2.2 di atas dapat dilihat mekanisme reaksi fotokatalis heterogen. Reaksi

fotokatalis terjadi pada fasa pengabsorp (tahapan ketiga). Tahapan-tahapan tersebut sama

dengan tahapan-tahapan pada katalis heterogen. Perbedaannya hanya pada model aktivasi

katalis dimana aktivasi termal pada katalis diganti dengan aktivasi foton.

(9)

Page 8 of 34 Bahan semikonduktor dapat dimanfaatkan sebagai fotokatalis karena memiliki daerah

energi kosong yang disebut dengan celah pita energi (band gap energy), yang berada diantara

batas pita valensinya. Besarnya celah pita energi ini dapat diukur dengan menggunakan

panjang gelombang cahaya yang lebih baik dalam mengeksitasi elektron.Pada semikonduktor

yang memiliki celah pita energi yang lebar, elektron pada pita valensi tidak bisa tereksitasi

menuju pita konduksi. Akan tetapi jika diberikan suatu energi dari luar maka elektron dari

pita valensi dapat mencapai pita konduksi dan akan terbentuk lubang (holes) sebanyak

elektron yang berpindah.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi fotokatalitik pada semikonduktor

menyangkut struktur pita yang dimilikinya, yaitu:

1. Celah pita energi (band gap energy).

2. Posisi terbawah dari pita konduksi.

3. Posisi teratas dari pita valensi.

Struktur pita dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini.

Gambar 2.3. Gambar daerah energi pada semikonduktor (Sumber: Amemiya)

Ketika suatu katalis semikonduktor dari tipe chalcogenide (oksida (TiO2, ZnO, ZrO2,

CeO2) atau sulfida (CdS, ZnS)) dikenai cahaya yang memiliki energi lebih besar atau sama

dengan energi celah pita semikonduktor, maka akan terjadi peristiwa fotoeksitasi yaitu

perpindahan elektron dari pita valensi ke pita konduksi. Peristiwa ini menghasilkan hole (h+) pada pita valensi. Dengan kata lain proses fotoeksitasi menghasilkan elektron pada pita

konduksi dan hole pada pita valensi. Reaksi yang terjadi pada fenomena ini ialah:

(10)

Page 9 of 34 Pasangan elektron dan hole yang terbentuk akan menempuh beberapa jalur yaitu

berekombinasi dalam partikel (volume recombination) , berekombinasi pada permukaan

partikel (surface recombination) atau partikel pada fasa ruah dalam waktu yang sangat

singkat (nanosekon) sehingga melepaskan energi dalam bentuk panas. Reaksi kombinasi

keduanya dapat ditulis menjadi:

e- + p+ N + E (2.2)

Gambar 2.4. Skema proses fotoekstitasi pada bahan semikonduktor (Sumber: Hermann)

Selain rekombinasi, masing-masing pasangan elektron (e-) dan hole (p+) dapat bereaksi dengan spesies donor (D) atau akseptor (A) yang teradsorb di permukaan partikel. Dengan

kata lain, elektron pada pita konduksi yang mencapai permukaan mereduksi substrat (A) atau

pelarut pada permukaan partikel, sedangkan hole pada pita valensi yang yang mencapai

permukaan akan mengoksidasi substrat (D) baik secara langsung maupun tidak langsung

(melalui pembentukan radikal hidroksil). Persamaan reaksinya ialah:

h + semikonduktor  e- + h+ (2.3)

A (ads) + e- A- (ads) (2.4)

D (ads) + h- D+ (ads) (2.5)

Sifat oksidator kuat yang dimiliki oleh semikonduktor akan memiliki sejumlah besar

hole (h+) yang akan menyerang H2O yang melekat pada permukaan semikonduktor sehingga

akan terbentuk radikal hidroksil . Radikal ini akan meningkatkan sifat hidrofilik permukaan. Reaksi yang terjadi ialah:

H2O + h+ + H+ (2.6)

Sedangkan O2 yang ada diudara akan bertindak sebagai elektron akseptor dan

(11)

Page 10 of 34

O2 + e- (2.7)

Selain itu, hole (h+), radikal hidroksil dan ion superoksida yang dihasilkan juga dapat digunakan untuk mengoksidasi kontaminan organik yang melekat di permukaan.

Semikonduktor yang akan menjadi fokus pada penelitian ini ialah titanium dioksida

(TiO2). Adapun pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan katalis TiO2 ialah karena

TiO2 memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang Cukup baik, antara lain:

 Mempunyai energi celah pita (band gap) yang sesuai untuk proses fotokatalis sehingga memudahkan terjadinya eksitasi elektron ke pita konduksi dan pembentukan

hole pada pita valensi saat diinduksikan cahaya ultraviolet.  TiO2 tahan terhadap photodegradasi.

 Mampu menyerap sinar ultraviolet dengan baik.

 Memiliki kestabilan kimia dalam interval pH yang besar (0 sampai 14)  Bersifat inert dan tidak larut dalam reaksi baik secara biologis maupun kimia.

 Tidak beraAgn.

 Secara umum memiliki aktivitas fotokatalis yang lebih tinggi dibandingkan dengan fotokatalis lain seperti ZnO, CdS, WO3, dan SnO2.

 Memiliki kemampuan oksidasi yang tinggi.

 Relatif murah.

Titanium dioksida secara alami terdiri dari 3 bentuk kristal, yaitu anatase, brookite dan

rutile. Kristal-kristal ini terkadang memiliki pengotor seperti besi, kromium, ataupun

vanadium dalam jumlah yang kecil. Perbedaan diantara ketiga bentuk kristal dari TiO2 dapat

dilihat pada Tabel 2.1. Anatase merupakan bentuk alotrofik yang paling aktif dibandingkan

bentuk lainnya.Secara termodinamika, bentuk anatase lebih stabil dan pembentukannya

secara kinetik lebih baik pada suhu rendah.Temperatur rendah ini dapat menjelaskan luas

permukaan yang tinggi untuk adsorpsi dan untuk katalisis.

Gambar 2.5.

Struktur Kristal TiO2:

Anatase(kiri),

(12)

Page 11 of 34 Tabel 2.1. Perbandingan sifat dari berbagai bentuk kristal TiO2 (Sumber: Othmer, 1997, p:236-237)

Sifat Anatase Brookite Rutile

Bentuk Kristal Tetragonal Orthorombik Tetragonal

Band gap, Ev 3.25 3.05 Tidak tersedia

Banyaknya TiO2/ unit sel 4 8 2 Volume per TiO2 ,nm3 0.03407 0.03211 0.03122

Massa jenis teoritis, kg/m3 3895 4133 4250

Tingkat kekerasan, skala Moh 5.5 – 6 5.5 – 6 7 – 7.5

Kedua bentuk kristal TiO2yaitu anatase ataupun rutile dapat menyerap sinar ultraviolet.

Jangkauan sinar yang dapat diserap oleh rutile lebih besar akan tetapi bentuk anatase

memiliki aktivitas katalitik yang lebih besar. Hal ini dikarenakan perbedaan struktur energi

diantara kedua jenis kristal dimana pita konduksi dari kristal anatase lebih dekat dengan

posisi pita valensi sehingga kekuatan reduksi dari kristal anatase ini menjadi lebih besar

dibandingkan rutile (Amemiya, 2004). Dengan adanya perbedaan posisi pita konduksi inilah

maka secara keseluruhan aktivitas fotokatalitik dari kristal anatase lebih besar dibandingkan

kristal berbentuk rutile.

2.2.3. Aplikasi Fotokatalisis Menggunakan TiO2

Penggunaan TiO2 sebagai fotokatalis telah banyak diterapkan pada berbagai bidang dan

masih berpotensi besar untuk dikembangkan pada bidang-bidang lainnya. Berikut akan

dijelaskan mengenai aplikasi dari fotokatalisis menggunakan TiO2.

Gambar 2.6.Aplikasi Fotokatalis TiO2

(13)

Page 12 of 34

Fogging (pengabutan / pengembunan) terjadi pada permukaan material karena adanya

kondensasi uap air sehingga terbentuk tetes embun.Material hidofobik (takut air) seperti kaca

dan plastikmenolak air sehingga cenderung membentuk butiran embun. TiO2 juga memiliki

hidrofilisitas yang tinggi sehingga bila dilapisi pada kaca dan plastik akan mencegah

pembentukan butiran air sehingga tetesan air yang jatuh pada permukaan berlapis TiO2 akan

tersebar membentuk lapisan tipis. Kabut yang terbentuk di berbagai lokasi dan kondisi

tertentu paada berbagai kaca dan cermin dapat diatasi dengan teknologi ini.

Gambar 2.7.

Perbandingan Kaca Yang Dilapisi TiO2 Dan Yang Tidak Dilapisi TiO2

2.2.3.2.Self-Cleaning

Seringkali ditemui banyak dinding yang berada di luar ruangan, misalnya kaca pada

gedung bertingkat mudah sekali kotor akibat polusi yang dikarenakan oleh debu,

partikel-partikel kecil serta minyak. Ketika permukaan yang kotor dilapisi dengan fotokatalis TiO2,

dengan sifat superhidrofilik yang dimiliki TiO2, maka air akan membentuk sebuah lapisan

tipis di atas lapisan TiO2 tersebut. Ketika suatu waktu kotoran menempel, maka kotoran yang

menempel akan terbawa oleh air saat hujan dan permukaan akan tetap terjaga kebersihannya.

Hal ini akan mengakibatkan penghematan dari segi pembersihan permukaan dengan sabun

(14)

Page 13 of 34 Gambar 2.8. Mekanisme Self-Cleaning TiO2

2.2.3.3.Sterilisasi Bakteri dan Jamur

TiO2 memiliki kemampuan mencegah pertumbuhan substansi seperti bakteri dan jamur.

Hal itu terjadi karena TiO2 tidak hanya membunuh sel bakteri, tetapi juga menguraikannya

dengan cara menghanAgrkan dinding sel bakteri sehingga cairan bakteri akan keluar dan

bakteri akan mati karena dehidrasi. TiO2 ternyata lebih efektif dibandingkan dengan agen

anti-bakteri lainnya. Faktanya, pembersihan bakteri dengan TiO2 adalah 3 kali lebih kuat

daripada klorin dan 1,5 kali lebih kuat daripada ozon. Hal ini terjadi karena TiO2 selain

membersihkan bakteri yang ada di permukaan, ia juga menghentikan perkembangbiakannya.

Gambar 2.9. Mekanisme disinfeksiE.coli oleh fotokatalis (Sunada ; 2003)

2.2.3.4.Purifikasi Udara dan Deodorisasi

Untuk penjernihan udara, fotokatalisis TiO2 dapat menghanAgrkan Volatile Organic

Compound (VOC) dalam fasa gas.VOC sendiri adalah senyawa yang pada kondisi normal

berada pada fasa padat dan cair, misalnya alkana, fenol, senyawa aromatik, asetaldehida,

formaldehida, asam organik dan lainnya.

Senyawa tersebut dapat terdegradasi melalui proses fotokatalitik yang akan memutus

ikatan senyawa dan mengoksidasi senyawa tersebut menjadi CO2, H2O dan asam mineral.

Adapun senyawa anorganik yang dapat didegradasi adalah ion logam transisi, sianida dan

nitrat sehingga TiO2 dapat mendegradasi senyawa NOx, SOx, CFC, gas penyebab efek rumah

(15)

Page 14 of 34

2.2.3.5.Purifikasi Air

Pada purifikasi air, proses fotokatalisis ini akan mendegradasi senyawa-senyawa

organik non-biodegradable. Pengolahan limbah cair secara kimiawi ini dapat mempengaruhi

tuntasnya proses mineralisasi polutan-polutan menjadi CO2 dan senyawa berhalogen menjadi

ion-ion halida. Sementara, dekomposisi parsial pencemar organik yang non-biodegradable

seperi senyawa aromatik berhalogen, dengan metode ini senyawa dapat diubah langsung

menjadi senyawa yang biodegradable.

2.2.3.6.Anti – Korosi

Aplikasi lain dari fotokatalisis adalah proteksi korosi pada logam. Dengan adanya

iradiasi sinar UV, TiO2akan memberikan elektron ke permukaan logam sehingga mencegah

logam teroksidasi dan logam menjadi terproteksi dari korosi.

2.2.3.7.Tempat Penggunaan Fotokatalis TiO2

Aplikasi TiO2 dapat diterapkan dimana saja, mulai dari rumah, kantor, restoran, rumah

sakit, laboratorium, toko binatang peliharaan, supermarket, pabrik, industri, panti jompo,

sekolah dan lain-lain. Dengan pemakaian TiO2 sebagai fotokatalis di tempat-tempat tersebut,

maka tempat-tempat tersebut dapat dikurangi jumlah bakteri, odor, polutan udara dan air serta

pada kaca dan plastik yang dilapisi oleh TiO2akan menjadi jernih dan dapat melakukan

pembersihan secara mandiri.

(16)

Page 15 of 34

2.2.4. Usaha-usaha untuk Meningkatkan Aktivitas Fotokatalisis di Bawah Sinar Tampak

Untuk meningkatkan fotokatalisis di bawah sinar tampak dapat dilakukan dengan

penambahan aditif kimia berupa elektron donor atau garam karbonat untuk menghambat

reaksi balik. Selain itu, dapat dilakukan doping ionik seperti doping ion logam dan doping

anion. Pada percobaan kali ini dilakukan doping anion, oleh karena itu akan dibahas lebih

lanjut mengenai doping anion.

Penggunaan dari dopan anion relatif lebih baru daripada dopan ion logam. Namun,

keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu agar fotokatalis TiO2 dapat berespon terhadap

sinar tampak. Perbedaannya, tidak seperti ion logam, anion lebih jarang menimbulkan

recombination center dan akibatnya akan lebih efektif dalam meningkatkan aktivitas

fotokatalitik menunjukkan beberapa dopan pengganti seperti C, N, F, P, dan S untuk O dalam

TiO2 anatase.

Semikonduktor TiO2 dengan struktur anatase memiliki energi band gap yang lebar

(3,28 eV) yang menyebabkan TiO2 hanya aktif terhadap sinar dengan panjang gelombang

lebih pendek atau setara dengan panjang gelombang sinar UV-A. Untuk dapat memproduksi

hidrogen dengan energi yang murah maka diharapkan energi foton dapat digunakan dari sinar

matahari yang sebagian besar terdiri dari sinar tampak. Berdasarkan penelitian yang telah

dilakukan oleh Asahi, pemberian nitrogen ke dalam TiO2 dapat meningkatkan aktivitas

fotokatalisis TiO2 pada sinar tampak.

Dopan nitrogen dapat membuat katalis lebih responsif terhadap sinar tampak oleh

karena pencampuran p states dari N dengan 2p dari O dapat menaikkan pita valensi untuk

dapat memperkecil band gap dari TiO2, sementara posisi dari pita konduksi tetap. Dengan

mengecilnya band gap, maka respon terhadap sinar akan semakin melebar ke arah panjang

gelombang sinar tampak. Ditemukan bahwa pencampuran p states dari N dengan 2p dari O

dapat menaikkan pita valensi untuk memperkecil band gap dari TiO2, sementara posisi pita

konduksi tetap.

2.3. Metode Coating Katalis Komposit pada Substrat

Untuk dapat membentuk lapisan tipis (thin film) katalis komposit N-TiO2 pada substrat

dapat dilanjutkan dengan metode coating. Berdasarkan tujuan aplikasinya, teknik coating ada

berbagai jenis seperti yang diperlihatkan dalam Tabel 2.2:

(17)

Page 16 of 34

No. Teknik Coating Aplikasi

1. Chain on edge Untuk bagian luar atau dalam diameter suatu substrat

2. Hand spray coating Untuk seluruh bagian dari permukaan substrat yang kaya

akan seng, molydisulfida, dan PTFE

3. Tumble spray Untuk substrat yang besar maupun kecil dalam

konfigurasi yang kontinyu (tak berujung)

4. Dip coating Untuk substrat yang jumlahnya banyak dan bentuknya

sederhana

5. Dip and spin coating Untuk substrat yang berukuan kecil yang memiliki kontur

khusus seperti paku, klip, o-ring, baut, dan mur

6. Dip and drain coating  Pada bagian yang terlalu besar untuk dip and spin

coating

 Pada bagian yang terlalu mudah pecah

 Pada bagian yang hanya bisa dijangkau dengan cara khusus

 Pada bagian tertentu saja dari substrat (partial coating)

7. Flow coating  Untuk substrat yang ukurannya besar dan memiliki

bentuk yang ganjil atau susah untuk di-coating dengan

dip coating.

Umumnya, pemilihan teknik coating didasarkan atas karakteristik substrat yang akan

di-coating. Dalam penelitian ini substrat yang akan digunakan berupa serat daun nanas. Serat

nanas yang akan di-coating jumlahnya Cukup banyak dan bentuknya juga sederhana. Oleh

karena itu, agar seluruh permukaan serat dapat terlapisi oleh katalis komposit, metode yang

dapat digunakan adalah metode dip coating. Tahapan pada metode dip coating dapat dilihat

pada Gambar 2.14 berikut:

(18)

Page 17 of 34 Metode dip coating dilakukan dengan mencelupkan substrat ke dalam suatu wadah

yang berisi material coating (Wikipedia, 2010). Selang beberapa waktu tertentu, substrat

diangkat dari wadah, kemudian dikeringkan, sehingga membentuk lapisan tipis (thin film).

Substrat yang telah ter-coating dapat dikeringkan dengan caraforce-drying atau baking.

Kualitas lapisan yang terbentuk dari metode ini tergantung pada viskositas material

coating.Jika ingin kualitas lapisan yang terbentuk tinggi, maka viskositas material coating

harus konstan.

Metode dip coating sangat cocok digunakan untuk jumlah substrat yang Cukup banyak

dan memiliki bentuk yang sederhana. Metode ini juga sangat cocok digunakan untuk material

yang poros yang memiliki permeabilitas. Transfer efisiensi dari metode ini juga sangat tinggi.

Hal ini memungkinkan seluruh permukaan substrat ter-coating tanpa terkeAgali. Selain itu,

karena metodenya sederhana, maka alat-alat yang dibutuhkan pun juga sangat sederhana dan

sedikit.

2.6 Batu Apung sebagai Penyangga

Batu apung (pumice) adalah jenis batuan yang berwarna terang, mengandung buih

yang terbuat dari gelembung berdinding gelas, dan biasanya disebut juga sebagai batuan

gelas volkanik silikat. Batu apung mengandung SiO2, Al2O3, Fe2O3, Na2O, K2O, MgO, CaO,

TiO2, SO3, dan Cl, dengan pH 5, bobot isi ruah 480 – 960 kg/cm3, peresapan air 16,67%,

berat jenis 0,8 gr/cm3.

Batu apung terbentuk apabila magma asam muncul ke permukaan dan bersentuhan

dengan udara luas secara tiba-tiba. Buih gelas alam dengan gas yang terkandung didalamnya

mempunyai kesempatan untuk keluar dan magma membeku dengan tiba-tiba. Batu apung

umumya terdapat sebagai fragmen yang terlempar pada saat gunung api meletus dengan

ukuran dari kerikil sampai bongkah.

Batu apung berwarna putih abu-abu, kekuningan sampai merah, tekstur vesikuler

dengan ukuran lubang yang bervariasi baik berhubungan satu sama lain atau

tidak struktur skorious dengan lubang yang terorientasi. Kadang-kadang lubang tersebut

terisi oleh zeolit atau kalsit. Batuan ini tahan terhadap pembekuan embun (frost), tidak begitu

higroskopis (mengisap air), mempunyai sifat pengantar panas yang rendah.dan kekuatan

tekan antara 30-20 kg/cm2.

Pengembangan penggunaan TiO2 sebagai fotokatalis mempunyai hambatan yaitu

(19)

me-Page 18 of 34

recyclekatalis. Akibatnya, hanya sedikit publikasi evolusi katalis setelah beberapa proses

recycle. Filtrasi dapat dieliminasi dengan membuat immobilized photocatalyst pada

penyangga padat (Blake, 1997). Dilaporkan bahwa permukaan yang berporous seperti batu

apung dapat diimpregnasi dengan TiO2 dan digunakan sebagai immobilized photocatalyst.

(Rao, 2003).

(a) (b)

Gambar 2.14 Mikrograf dari batu apung berbentuk pellet (perbesaran 250): (a) batu apung biasa; (b)

diimpregnasi dengan TiO2 P25. (Rao, 2003)

Komposisi utama dari batu apung adalah mineral silikat amorf. Silika sendiri adalah

substrat yang potensial untuk struktur kristal anatase (Chuan, 2004). Dengan demikian,

efektivitas dan nilai ekonomis fotokatalis TiO2 berstruktur anatase yang digunakan di bawah

sinar tampak menjadi lebih tinggi.

Tetraetil orto silikat (TEOS) dapat digunakan sebagai sumber SiO2 yang berfungsi

sebagai perekat antara TiO2 dengan karbon aktif ataupun antara katalis dengan preparatnya

(Slamet, 2009).Dalam penelitian ini TEOS digunakan untuk merekatkan fotokatalis TiO2

dengan batu apung karena komposisi utama batu apung adalah silika.TEOS memiliki rumus

molekul Si(OC2H5)4.Biasanya digunakan sebagai crosslinking agent dalam polimer bersilika

(Bulla, 1998).

(a) (b)

Gambar 2.15Molekul TEOS (a) Gambar 3D (www.amarketplaceofideas.com), (b) Struktur Molekul TEOS

(20)

Page 19 of 34

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Prosedur Penelitian

Secara umum, diagram alir penelitiannya adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1Diagram Alir Penelitian

Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini adalah prosedur penelitiannya:

1. Menyiapkan penyangga katalis berupa batu apung dengan ukuran terkecil agar

ia mengambang.

2. Menyiapkan komposit katalis C-TiO2

3. Melakukan preparasi katalis ke penyangga.

4. Melapisi beberapa bagian tanaman artificial (pot dan batang) dengan katalis.

5. Melakukan pengujian fungsi degradasi polutan udara ruang dengan

menggunakan asap rokok

6. Melakukan analisis terhadap hasil pengujian dan mengambil kesimpulan

(21)

Page 20 of 34 Penyangga katalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah batu apung.Berikut

ini adalah diagram alir preparasi penyangga katalis:

Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini adalah prosedur preparasi penyangganya:

1. Merendam batu apung di dalam ember berisi air agar semua partikel-partikel

pengotor seperti tanah dan pasir bisa lepas.

2. Menyikat batu apung sampai bersih (biasanya sampai terlihat agak putih)

dengan sikat biasa.

3. Memotong batu apung dengan ukuran terkecil yang masih bisa

mengambang.Ukuran batu apung diperkecil untuk meningkatkan kontak antara

larutan deterjen yang akan didegradasi dengan permukaan katalis. Pemotongan

batu apung disituasikan tetap dapat mengambang agar katalis yang

disangganya dapat teraktivasi di bawah sinar tampak.

4. Memisahkan batu apung yang masih mengambang dengan yang tenggelam,

batu apung yang digunakan ialah batu apung yang masih mengambang,

sebagai indikasi batu apung tersebut tidak mengandung pengotor.

5. Menimbang batu apung sesuai dengan kebutuhan dalam percobaan.

3.1.2 Prosedur Preparasi Katalis

Merendam batu apung di dalam ember berisi air

Menyikat batu apung sampai bersih dengan sikat biasa

Memotong batu apung dengan ukuran terkecil yang masih bisa mengambang dengan palu

Memisahkan batu apung yang masih mengpung dan yang tenggelam

Mengeringkan batu apung dengan alat hair dryer

(22)

Page 21 of 34 Tahap-tahap untuk mensintesis katalis TiO2 adalah sebagai berikut.

1. Menimbang 2.5 g TiO2 Degussa P-25.

2. Menyiapkan 75 ml aquadest.

3. Mencampurkan TiO2 Degussa P-25 ke dalam aquadest di dalam beaker glass.

4. Melakukan sonikasi selama 30 menit agar suspensi menjadi homogen.

5. Menambahkan 0.83 ml TEOS (tetra etil orto silikat) ke dalam larutan

TiO2sebagai perekat antara katalis dengan penyangga.

6. Menambahkan karbon aktif 0.625 g kedalam campuran.

7. Melakukan sonikasi selama 15 menit agar suspensi menjadi homogen.

(23)

Page 22 of 34

3.1.3 Pendesainan Tanaman Artificial

Berikut adalah tahapan pendesinan tanaman artificial yang akan digunakan:

Gambar 3.2Pendesaian Tanaman Artificial

Untuk lebih jelasnya, berikut tahapan pendesianannya:

1. Membeli tanaman artificial umum dengan ukuran sedang

2. Melakukan pelapisan katalis pada bagian pot dan batang tanaman

3. Menempelkan lampu LED pada tanaman artificial sebagai sumber foton proses

fotokatalis sekaligus menambah nilai estetikanya

3.1.4 Preparasi Katalis ke Penyangga

Katalis yang digunakan adalah fotokatalis TiO2 komersial yaitu Degussa P-25 yang

berukuran nano dengan diameter 8 nm. Dalam penelitian ini akandilakukan pelapisan

katalis kedua material, yaitu (1) batu apung dan (2) pot dan batang tanaman hias. Berikut

ini adalah diagram alir preparasi katalis pada penyangga:

(1) Preparasi Katalis ke Batu Apung

Tanaman Artificial

Lampu LED

Katalis TiO2

Tanaman Artificial

Untuk Purifikasi

(24)

Page 23 of 34 (2) Preparasi Katalus ke Pot dan Batang Tanaman Artificial

3.1.5 Pengujian

Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat uji berupa kotak yang kedap

udara dimana didalamnya terdapat lampu UV sebagai sumber foton proses fotokatalis.

Asap rokok dipilih sebagai polutan ruang udara untuk menguji fungsi dari tanaman

artificialnya, karena kandungannya mewakili senyawa-senyawa yang dapat

mencemari udara ruang seperti toluene, acetone, benzene. Pengujian dilakukan secara

kualitatif dengan mengamati kekeruhan kotak uji selama pengujian dan mengamati

terbentuknya uap air sebagai hasil degradasi polutan asap rokok oleh proses

Menyiapkan batu apung yang telah ditreatment sebelumnya

Menyiapkan 1 set alat dip-coating

Dengan bantuan alat dip-coating, batu apung dicelupkan ke dalam katalis

Mengeringkan batu apung dengan menggunakan hair dryer

Melakukan hal yang sama sebanyak 5 kali

Menyimpan batu apung yang telah di-coating ke dalam wadah yang bersih dan kedap udara

mengulangi langkah pelapisan katalis sebanyak 3 kali Mengeringkan dengan Hair Dryer

Melapisi dengan katalis

Membuat kontur yang kasar pada permukaan pot tanaman Melakukan pengamplasan pada bagian yang akan dilapisi

(25)

Page 24 of 34 fotokatalis, serta mengamati perubahan bau asap rokok pada akhir pengujian dan

membandingkannya dengan sebelum diuji.

3.2 Alat Penelitian

3.2.1 Peralatan Preparasi Penyangga

Tabel 3.1Tabel Alat Preparasi Penyangga

No. Nama Alat Jumlah Spesifikasi Alat

1 Ember 1 buah Kapasitas 4 liter, warna hitam

2 Sikat 3 buah Dua sikat besar, dan satu sikat kecil

3 Kompor gas 1 buah Kompor Gas Sanken, tabung gas ukuran 12 kg

4 Panci 1 buah Panci kecil berbahan aluminium

5 Piring 1 buah Piring plastic

3.2.2 Peralatan Preparasi Katalis

Tabel 3.2Peralatan Preparasi Katalis

No. Jenis Alat Spesifikasi/ Jumlah Alat

1 buah Untuk mengaduk campuran

8. Ultra Sonic

Bath

1 set Untuk mengaduk campuran dalam

(26)

Page 25 of 34

3.2.3 Peralatan Pelapisan Katalis ke penyangga

Tabel 3.3Peralatan Pelapisan Katalis ke Penyangga

No. Nama Alat Jumlah Fungsi

1 Deap Coating

Set

1 set Untuk melakukan pelapisan katalis pada

batu apung

2 Hair Dryer 1 buah Untuk proses pengeringan

3 Beaker gelas 2 buah Untuk menampung katalis

4 Kuas 1 buah Alat bantu untuk pelapisan katalis pada

tanaman artificial

5 Amplas 1 buah Untuk mengamplas batang dan permukaan

pot

6 Obeng 1 buah Untuk membentuk kontur kasar pada

permukaan pot

3.3 Bahan Penelitian

3.3.1 Bahan Preparasi Penyangga

Tabel 3.4Bahan Preparasi Penyangga

No. Nama Bahan Jumlah Spesifikasi Bahan

1 Air 2 liter -

2 Batu Apung 100 gram Batu apung dataran rendah, putih

3.3.2 Bahan Preparasi Katalis

Tabel 3.5Bahan Preparasi Katalis

No. Nama Bahan Jumlah Spesifikasi Bahan

1 Air 75 ml -

2 TiO2 2.5 g Degussa P-25, diambil dari Lab.RPKA

(27)

Page 26 of 34

3 TEOS 0.83 ml -

(28)

Page 27 of 34

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Preparasi Katalis

Katalis pada percobaan ini dipreparasi dengan menggunakan TiO2 P-25 Degussa.

TiO2 P-25 Degussa merupakan material standar untuk reaksi katalis, dimana sturuktur

kristalnya yang mengandung anatase dan rutile dengan rasio 3:1, dan ukurannya yang

berskala nanomaterial (luas permukaan yang besar) sehingga mampu memberikan

aktifitas fotokatalis yang baik (Ohno et al., 2001). Tahap pertama dalam pembuatan

katalis ini, TiO2 P-25 Degussa disuspensikan dengan aquadest dan diaduk dengan

menggunakan ultra sonic bath.Air yang dipilih dalam percobaan ini ialah aquadest (air

dari proses penyulingan) yang memiliki tingkat kemurnian lebih tinggi dari air keran

biasa. Perlunya kemurnian air ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontaminasi zat-zat

yang nantinya dapat menggangu proses kerja fotokatalis. Adapun pengadukan suspensi

TiO2 P-25 Degussa dan air dengan menggunakan ultra sonic bath ini agar terjadi

campuran yang homogen, selain itu karena TiO2 P-25 Degussa berupa serbuk dengan

skala nano, pengaduka tanpa menggunakan ultra sonic bath tidak mampu memecah

aglomerasi antara partikel TiO2 P-25 Degussa.

Tahapan selanjutnya ialah menambahkan TEOS kedalam campuran TiO2 P-25

Degussa dan aquadest.TEOS dapat digunakan sebagai sumber SiO2 yang berfungsi

sebagai perekat antara TiO2 dengan karbon aktif ataupun antara katalis dengan

preparatnya.(Slamet, 2009). TEOS memiliki rumus molekul Si(OC2H5)4 biasanya

digunakan sebagai crosslinking agent dalam polimer bersilika (Bulla, 1998). Sehingga

dalam percobaan ini, TEOS memiliki fungsi utama untuk melekatkan TiO2 dengan

(29)

Page 28 of 34 Selain bertujuan untuk menambah daya rekatnya, TEOS juga dapat berfungsi sebagai

adsorben polar yang dapat menarik molekul air, karena kandungan SiO2 nya.Karena

TEOS yang larut dengan air, pengadukan hanya dilakukan dengan pengaduk biasa tanpa

menggunakan ultra sonic bath.

Untuk membuat katalis nanokomposit TiO2-karbon aktif, sejumlah serbuk karbon

aktif ditambahkan ke dalam sol TiO2 yang telah dibuat. Rasio berat TiO2:karbon aktif

yang digunakan adalah sebesar 85%:15% (Slamet, 2007).Penggunaan karbon aktif ini

bertujuan untuk dapat meningkatkan kemampuan adsorben dari katalis.Daya adsorpsi

yang lemah merupakan masalah bagi proses fotokatalisis. Untuk menutupi kekurangan

tersebut, fotokatalis perlu dikombinasi dengan suatu material adsorben (El-Maazawi et

al., 2000).Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa penambahan adsorben, dalam

hal ini karbon aktif pada fotokatalis TiO2, dapat meningkatkan laju degradasi berbagai

senyawa organik (Torimoto et al., 1996) dan dekomposisi toluene (Liuet al., 2006).

Selain itu, penambahan dopan non-logam karbon aktif ini dapat digunakan untuk

memodifikasi band gap energy TiO2 sehingga dapat aktif terhadap sinar tampak. Telah

dilakukan penelitian mengenai pemberian dopan C pada TiO2 yang menunjukan bahwa

aktifitas fotokatalis nanotubes TiO2 meningkat dengan nilai band gap yang turun hingga

~2,2 eV (Mohapatra et al.,2007).

Pada percobaan ini katalis dilapiskan pada penyangga batu apung.Kandungan utama

batu apung ialah silika. Silika merupakan substrat yang potensial untuk struktur Kristal

(30)

Page 29 of 34 Selain itu, menurut Rao (2002), permukaan yang berporous seperti batu apung dapat

diimpregnasi dengan TiO2 dan digunakan sebagai immobilized photocatalyst.

4.2 Analisis Hasil

4.2.1Pengujian Mikroskop

Pengujian dengan mikroskop ini bertujuan untuk melihat dan memastikan apakah

katalis C-TiO2 yang telah dicoating menempel pada permukaan batu apung.

Pengujian ini menggunakan mikroskop elektronik dengan perbesaran 20x dan 400x.

berikut ialah gambar hasil pengujiannya.

Dari perbandingan gambar diatas, terlihat dengn jelas adanya perbedaan antara

batu apung yang belum dilapisi dengan batu apung yang telah dilapisi oleh

C-TiO2.Warna dasar TiO2 ialah putih, namun karena didopan dengan karbon yang

memiliki warna dasar hitam, katalis menjadi berwarna ungu gelap.Seperti yang ada

pada gambar (kanan) batu apung berubah warna dari terang menjadi ungu gelap.

Selanjutnya untuk mengetahui sebaran TiO2 pada permukaan batu apung, pengujian

dilakukan dengan perbesaran yang lebih besar yaitu 400x. Hasil perbesaran 400x

(31)

Page 30 of 34 Pada perbesaran 400x, terlihat dengan jelas bagian permukaan batu apung baik

sebelum dan setelah dilakukan pelapisan katalis C-TiO2.Pada permukaan batu apung

yang telah dilapisi katalis, terlihat adanya bintik bintik hitam yang mengindikasikan

telah terlapisi oleh karbon aktif dan lapisan putih yang menunjakan bahwa TiO2 juga

telah terlapisi dengan baik pada batu apung.

4.2.2Pengujian Asap Rokok

Pengujian fungsi utama untuk degradasi polutan udara ruang ini dilakukan secara

kualitatif dengan menggunakan asap rokok sebagai sumber polutan udaranya.

Pemilihan asap rokok sebagai sumber polutan untuk pengujian ini karena, kandungan

asap rokok yang terdiri dari bermacam-macam senyawa organic seperti toluene,

formladehida, benzene, acetone yang mana senyawa ini juga termasuk kedalam

golongan senyawa VOC yang banyak terdapat pada furniture ruangan, sehingga

pemilihan ini cocok untuk mewakili secara keseluruhan polutan udara yang banyak

terdapat pada ruangan. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan kotak uji,

setelah 6 jam pengujian terlihat adanya perubahan seperti:

a. Kabut asap rokok yang menyelimuti kotak uji terlihat berkurang dan kotak

uji menjadi lebih jernih.

b. Terbentuk tetesan air dibawah kotak uji sebagai hasil dari degradasi VOC

(asap rokok).

c. Walaupun masih tercium bau asap rokok pada kotak uji, namun jika

dibandingkan dengan awal pertama dilakukan pengujian, pengamatan

(32)

Page 31 of 34 Tahap pertama dalam proses pendegradasian ini ialah tertariknya senyawa

organik kepermukaan batu apung oleh karbon aktif. Seperti yang telah dijelaskan

pada bagian sebelumnya, karbon aktif dalam percobaan ini berfungsi untuk

mengadsorbsi senyawa organik, sehingga dapat mempercepat laju degradasi senyawa

organik (Torimoto et al., 1996).Pada saat yang bersamaan juga terjadi adsorbs air

kepermukaan, dimana tertariknya molekul air yang ada diudara kepermukaan dibantu

oleh SiO2 yang merupakan material penyusun utama batu apung. Senyawa SiO2

merupakan senyawa yang sangat higoskopis yang mampu menyerap air disekitarnya

dengan cepat. Dengan fenomena adsorbs tersebut, baik air maupun senyawa organik

akan tertarik ke permukaan berkontak dengan katalis TiO2.

Setelah senyawa organik dan air berkontak dengan katalis TiO2, dengan bantuan

lampu UV sebagai sumber foton terjadilah proses degradasi dengan proses

fotokatalis.

Lampu UV sebagai sumber foton memberikan fotonya ke katalis TiO2 yang

menyebabkan electron (e-) dari pita valensi (valence band) tereksitasi menuju pita konduksi dan meninggalkan hole (h+) di pita valensi. Hole (h+), bereaksi dengan air yang tertarik kepermukaan katalis akan membentuk radikal hidroksil ( ฀), berdasarkan reaksi:

Selain itu, electron yang tereksitasi ke pita konduksi juga dapat bereaksi dengan

oksigen yang terdapat pada udara, reaksi electron dengan oksigen menghasilkan

(33)

Page 32 of 34 kembali dengan air yang tertarik kepermukaan sehingga menghasilkan radikal

hidroksil ( ฀) , berdasarkan reaksi:

Radikal hidroksil ( ฀) merupakan oksidator yang sangat kuat, yang mampu mengoksidasi berbagai macam senyawa organik termasuk senyawa organik pada

asap rokok. Oleh sebab itulah pada pengujian yang telah dilakukan terjadi penurunan

kekeruhan kabut asap rokok, akibat dari degradasi senyawa asap rokok oleh proses

fotokatalis. Adapun reaksi yang terjadi pada proses pendegradasian ini adalah

sebagai berikut:

Setiap senyawa organic yang berhasil didegradasi oleh radikal hidroksil tersebut

akan terurai menjadi gas CO2 dan juga air. Produk terakhir yang disebutkan berhasil

dibuktikan secara kualitatif pada pengujian ini. Setelah 6 jam dilakukan pengujian

terbentuk tetesan air pada bagian alas kotak uji, yang mengindikasikan telah terjadi

reaksi degradasi senyawa organik asap rokok tersebut.

Dengan berkurangnya senyawa organik akibat degradasi fotokatalis,

menyebabkan bau khas rokok juga berkurang. Walaupun tidak dapat

didokumentasikan pada pengujian ini, dengan menggunakan panca indra penulis,

terbukti terjadi penurunan intensitas bau khas rokok setelah pengujian.

(a) (b)

(34)

Page 33 of 34

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah,

1. Berdasarkan pengujian dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa batu apung

sudah terlapisi TiO2 - C pada bagian permukaannya.

2. Berdasarkan uji fungsi dengan menggunakan kotak uji yang terisi asap rokok, setalah

sekitar 6 jam lampu UV sebagai sumber foton dinyalakan, terlihat kabut asap rokok

berkurang, terbentuk tetesan air dan intensitas bau rokok berkurang dimana hal

tersebut membuktikan tanaman artificial yang dilapisi dengan TiO2 mampu

(35)

Page 34 of 34

DAFTAR PUSTAKA

Bulla, D. A. (1998). Deposition of Thick TEOS PECVD silicon oxide layers for integrated

optical waveguide application. Thin Solid Film, 60-64.

Chuan, X. Y. (2004). Preparation and photocatalytic performanceof anatase-mounted natural

porous silica pumice, by hydrolysis under hydrothermal condotions. Appl. Catal.

B:Environ, 255-260.

Mohapatra, S. M. (2007). Design of a Highly Efficient Photoelectrolytic Cell for Hydrogen

Generation by Water Splitting Appkication of TiO2-C Nanotubes as a Photoanode

and Pt/TiO2 Nanotubes as a Cathode. The Journal of Physical Chemistry, 8677-8685.

Ohno. (2001). Morphology of a TiO2 Photocatalyst (Degussa, P-25) Consisting of Anatase

and Rutile Crystalline Phases. Journal of Catalysis, 82-86.

Rao, K. V. (2003). Imoobilization of TiO2 on pumice stone for the photocatalytic

degradation of dyes and dye industry pollutans. Appl. Catal. b: Environ, 77-85.

Slamet, R. F. (2009). Disinfeksi Bakteri E.Coli Secara Fotokatalitik Dengan Katalis

Gambar

Gambar 2.1. Kandungan Asap Rokok (Sumber: StockImage)
Gambar 2.2.Tahapan – tahapan pada suatu reaksi  fotokatalis heterogen (Sumber: Fogler)
Gambar 2.3. Gambar daerah energi pada semikonduktor (Sumber: Amemiya)
Gambar 2.4. Skema proses fotoekstitasi pada bahan semikonduktor (Sumber: Hermann)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diduga dengan pemberian TKKS tinggi 2/3 bagian dari media tanah dengan NPK 2 g/tanaman dapat menyediakan unsur hara N, P, K dalam meningkatkan pertumbuhan

Pada pengamatan 21 HST perlakuan media tanah + cocopeat yang dikombinasikan dengan kerapatan tanaman 20 per wadah menghasilkan bobot segar per tanaman terbaik

Media tanam selain tanah yang dapat digunakan antara lain air, busa, kerikil, rockwool, pasir, serbuk gergaji, gambut, sabut kelapa, perlit, batu apung, kulit kacang, poliester,

Dari hasil penelitian ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa pot organik dapat digunakan sebagai wadah media tumbuh untuk pembibitan tanaman kehutanan dengan bahan

Diduga dengan pemberian TKKS tinggi 2/3 bagian dari media tanah dengan NPK 2 g/tanaman dapat menyediakan unsur hara N, P, K dalam meningkatkan pertumbuhan

Dari hasil penelitian ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa pot organik dapat digunakan sebagai wadah media tumbuh untuk pembibitan tanaman kehutanan dengan bahan dasar

Faktor eksternal yang banyak mempengaruhi pertumbuhan tanaman coklat, sehingga pertumbuhannya baik pada tanah tanpa dipupuk yakni karena penggunaan media tanam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon pertumbuhan tanaman sengon terbaik pada media tanah campuran pascatambang batu kapur adalah perlakuan P1 pemberian asam humat tunggal yang