• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Ramalan Golongan Darah Terhadap Masyarakat Jepang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pengaruh Ramalan Golongan Darah Terhadap Masyarakat Jepang"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Penemuan golongan darah merupakan sebuah kemajuan pesat dalam

perkembangan sistem medis di dunia. Pada tahun 1900-an seorang ilmuwan asal

Austria, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi

dan Kedokteran untuk jasanya menemukan penggolongan darah yang biasa kita

kenal dengan penggolongan darah ABO. Penggolongan darah ABO membagi

golongan darah manusia menjadi O, A, B dan AB. Penggolongan darah ABO

sangat memudahkan dalam proses pendonoran darah bagi pasien yang

membutuhkan transfusi darah (proses pemindahan darah dari seseorang yang

sehat/donor ke orang sakit/resipien). Semakin berkembang teknologi, ilmuwan

dan peneliti terus mencari hal baru mengenai golongan darah. Sehingga, golongan

darah tidak hanya dikenal di bidang kedokteran saja, namun kini sudah mulai

berkembang di bidang psikologi. (http://rahasia-golongandarah.blogspot.com/

2013/12/penemu-golongan-darah-abo-karl.html)

Teori golongan darah awalnya berasal dari ideologi Nazi, pasukan tentara

Jerman. Jerman di bawah pimpinan diktator Adolf Hitler berusaha membuat etnis

mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari etnis lain, agar mereka bisa

menguasai dunia. Pada saat itu Jerman memiliki rasio golongan darah A dan O

yang tinggi, sehingga dibuatlah pengetahuan semu berupa teori palsu yang

(2)

2

1940-an pasukan unit SS (Schutzstaffel; Regu Perlindungan) Jerman memulai

praktik tato golongan darah di bawah ketiak untuk mengidentifikasi golongan

darah dan psikologis dari masing-masing prajuritnya. Konsep dari psikologi

golongan darah adalah mengetahui kepribadian dan watak seseorang melalui

empat jenis golongan darah yaitu O, A, B dan AB. Konsep psikologi golongan

darah akhirnya masuk ke Jepang, pada tahun 1916 seorang dokter berkebangsaan

Jepang bernama Kimata Hara menulis artikel tentang hubungan golongan darah

dan kepribadian (Animoster, 2013, Vol 177:86-87).

Kemudian seorang profesor bernama Takeji Furukawa melakukan

penelitian tentang golongan darah. Takeji Furukawa adalah seorang profesor di

Sekolah Guru Perempuan Tokyo (Tokyo Women’s Teacher’s School) yang

mempublikasikan papernya “The Study of Temperament Through Blood Type”

(Kajian Temperamen berdasarkan Golongan Darah) di jurnal Psychological

Research pada tahun 1927. Ia melakukan observasi terhadap perbedaan

temperamen kepada murid-murid yang belajar di sekolahnya dan mengambil

simpulan bahwa semua manusia dapat dibagi menjadi dua macam kepribadian.

Manusia bergolongan darah A yang intelek dan tenang dengan manusia

bergolongan darah B yang emosional dan mudah marah. Studi tersebut sempat

mendapat kritik karena dianggap tidak ilmiah dan tidak memiliki bukti-bukti yang

kuat. Terinspirasi dari tentara Jerman, konsep golongan darah ini sempat diadopsi

oleh Jepang pada tahun 1930-an untuk membentuk tentara-tentara unggul. Tentara

pada posisi yang lebih penting terdiri dari golongan darah tertentu. Setelah ini,

pemikiran dan teori mengenai kepribadian berdasarkan golongan darah sempat

(3)

3

begitu diminati dan ditentang karena dianggap tidak konkret dan tidak memiliki

dasar yang hanya mengklasifikasikan kepribadian, watak dan kecocokkan dalam

empat kategori saja. Kepribadian berdasarkan golongan darah diangkat kembali

dan menjadi populer ketika seorang jurnalis bernama Masahiko Nomi menuliskan

buku berjudul “Understanding Affinity by Blood Type” (Memahami Persamaan

berdasarkan Golongan Darah) pada tahun 1971. Kesuksesan dari buku tersebut

disusul oleh 10 buku lainnya kemudian. Masahiko Nomi meninggal dunia pada

tahun 1981 dan setelah itu pembahasan mengenai golongan darah dilanjutkan oleh

Toshitaka Nomi, anaknya. Semakin banyaknya penelitian mengenai golongan

darah, semakin sering pula orang membaca, mendengar dan mengetahui tentang

golongan darah, hingga tanpa disadari menjadikan penggolongan darah sebagai

prediksi watak seseorang yang disebut dengan ramalan.

Ramalan adalah prediksi nasib di masa depan

(https://ganieindraviantoro.wordpress.com/kuliah/semester-1/islamic-religion-education/ramalan/). Sejak jaman prasejarah, ramalan sudah digunakan sebagai

petunjuk dan dipercayai akan kebenarannnya. Pada awalnya, ramalan biasanya

dilakukan dengan mengikuti pertanda dari alam seperti letak bintang di langit

untuk mengetahui arah, pergerakan binatang di lereng gunung untuk mengetahui

adanya gempa bumi, dan melihat tumbuhnya lumut di bebatuan untuk mengetahui

sumber air berasal. Namun seiring berkembangnya peradaban, ramalan juga

digunakan untuk memprediksi hal yang lebih spesifik secara individual seperti

prediksi mengenai karir, jodoh, dan kesehatan seseorang. Dewasa ini, ramalan dan

agama dianggap sama kedudukannya sebagai suatu hal yang diyakini dan

(4)

4

mempercayai ramalan adalah negara Jepang. Dalam agama Shinto yang mayoritas

dianut oleh masyarakat Jepang, ramalan menjadi salah satu cara untuk memahami

keinginan dari para dewa (Nobutaka,dkk., 2003:8-9).

Di Jepang kepercayaan terhadap ramalan menjadi pedoman hidup bagi

masyarakatnya, apapun yang akan dilakukan oleh masyarakat Jepang selalu

dikaitkan dengan ramalan. Ramalan di Jepang seperti menyatu dengan segala

aspek kehidupan seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Tradisi ramalan di

Jepang memang selalu dilakukan di sepanjang hidup masyarakatnya, misalnya

setiap tahun baru masyarakat Jepang berbondong-bondong datang ke Kuil untuk

bersyukur kepada dewa sekaligus mencari tahu ramalan mengenai kehidupan

mereka selama satu tahun kedepan. Masyarakat Jepang beranggapan hal yang

terjadi di masa depan bisa diramalkan pada masa sekarang, sehingga mereka

sangat percaya terhadap ramalan, bahkan mereka bisa sangat frustasi apabila

mereka mendapatkan ramalan yang dianggap negatif. Kepercayaan terhadap

ramalan sebenarnya tidak hanya diminati di Jepang saja, melainkan populer juga

di negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, namun di Jepang

ramalan sangat kuat pengaruhnya sehingga tidak bisa dilepaskan begitu saja dari

identitas masyarakatnya. Beraneka ragam jenis ramalan yang menjamur di

tengah-tengah kehidupan masyarakat Jepang antara lain ramalan shio (ramalan karakter

binatang yang disesuaikan dengan tahun kelahiran), ramalan bintang (ramalan

berdasarkan astrologi), ramalan garis tangan, ramalan kartu tarot, dan ramalan

golongan darah. Dibandingkan ramalan-ramalan lainnya, ramalan golongan darah

masih tergolong ramalan baru di Jepang, namun kepopuleran ramalan golongan

(5)

5

ribuan tahun. Masyarakat Jepang begitu meyakini ramalan golongan darah,

sehingga mereka berpikir ada golongan darah tertentu yang dianggap buruk.

Akibat dari adanya pengelompokkan berbagai hal berdasarkan golongan darah di

Jepang, muncul pengaruh yang menjurus kepada pendiskriminasian.

Dalam wikipedia dijelaskan bahwa diskriminasi merujuk kepada

pelayanan yang tidak adil terhadap

berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi

merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam

disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Di

Jepang ada istilah untuk pendiskriminasian, yaitu “hara” yang berasal dari kata

dalam bahasa Inggris harassment yang berarti pelecehan. Hara di Jepang sangat

bervariasi misalnya sekuhara (pelecehan seksual) dan pawahara

(pengintimidasian), sedangkan burahara merupakan istilah dari pelecehan

golongan darah. Burahara berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu blood type

(golongan darah) dan harassment (pelecehan) kemudian dalam bahasa Jepang

menjadi 「ブラッドタイプ・ハラスメント」(buraiddotaipu harasumento) dan

disingkat menjadi burahara (wikipedia). Istilah ini muncul sekitar akhir tahun

2000-an karena maraknya orang Jepang yang melakukan diskriminasi berdasarkan

golongan darah. Burahara bahkan membuat seseorang gagal mendapatkan

pekerjaan, dijauhi oleh lingkungan dan menjadi korban intimidasi disebabkan

adanya beberapa golongan darah tertentu yang dianggap buruk bagi masyarakat

(6)

6

Dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang, pengelompokkan golongan

darah meliputi hubungan pertemanan, hubungan asmara, pekerjaan dan

pengelompokkan anak-anak di TK (Taman Kanak Kanak) menjadi empat grup

berdasarkan golongan darah sebagai penelitian (Nomi, 2004:127-128). Tidak

hanya kehidupan sosial, banyak karya dan produk yang juga dibuat berdasarkan

pengelompokkan golongan darah seperti film yang berjudul “My Boyfriend is

Type B” (Pacarku Bergolongan Darah B), serial drama empat episode berjudul

“Ketsuekigata Betsu Onna ga Kekkon Suru Houhou” (Cara Menikahi Wanita

Yang Berlainan Golongan Darahnya), Audio CD Story berjudul “Ketsuekigata

Danshi” (Pria Golongan Darah), anime berjudul “Ketsuekigata-kun!” (Si

Golongan Darah), buku serial “Simple Thinking about Blood Type” (Cara Mudah

Memahami Golongan Darah) bahkan akhir tahun 2008, empat buku yang

termasuk dalam sepuluh buku terlaris di Jepang adalah buku yang membahas

tentang tipe golongan darah yang menentukan kepribadian. Menurut penerbit

Bungeisha, mengatakan empat seri buku yang masing-masing membahas

golongan B, O, A, dan AB, terjual lebih dari lima juta jilid. Selain itu, muncul

pula produk-produk berdasarkan empat tipe golongan darah seperti sabun mandi,

garam mandi, kondom, bahkan kuil di Jepang ada yang menjual omikuji (kertas

ramalan) golongan darah (http://asianlifestyledesign.com/2010/04/

japanese-blood-type-character-analysis/). Dengan latar belakang yang telah dijelaskan,

maka penulis akan membahas golongan darah tersebut melalui skripsi yang

berjudul “Analisis Pengaruh Ramalan Golongan Darah Terhadap

(7)

7 1.2. Perumusan Masalah

Setelah adanya penelitian terhadap psikologi golongan darah dan

berkembang menjadi kepercayaan golongan darah dalam bentuk ramalan di

Jepang, kemudian muncul istilah burahara yang menyudutkan golongan darah

tertentu mengakibatkan burahara benar-benar menjadi hal yang tidak bisa

dianggap sepele lagi. Meskipun awalnya tidak begitu banyak masalah yang

ditimbulkan dari pengelompokkan golongan darah, namun sekarang banyak yang

merasa dirugikan atas penerapan burahara yang berkembang pesat di

tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat Jepang. Burahara yang paling sederhana

dilakukan adalah seringnya orang Jepang menanyakan golongan darah pada saat

berkenalan dengan seseorang, dan langsung mengambil kesimpulan karakter dari

orang tersebut melalui golongan darahnya. Bahkan diskriminasi juga berlaku

untuk perekrutan karyawan baru, tidak sedikit perusahaan yang malah

menggunakan ramalan golongan darah sebagai salah satu cara penyeleksiannya.

Adapula profesi tertentu yang dianggap hanya cocok untuk golongan darah

tertentu saja. diskriminasi golongan darah juga diterapkan oleh masyarakat Jepang

pada saat menjalin pertemanan bahkan hubungan percintaan. Selain itu, Beberapa

sekolah pun menerapkan sistem pengelompokkan anak berdasarkan golongan

darah, dan banyak orangtua yang mendidik anak-anaknya berdasarkan golongan

darah.

Negara Jepang yang dikenal rasional dan canggih malah mempercayai

hal-hal yang tidak masuk akal seperti ramalan. Padahal ramalan sendiri hanyalah

hasil dari memprediksi suatu hal tertentu tanpa adanya dasar yang jelas, maka dari

(8)

8

kemajuan peradaban negara Jepang menjadi hal yang sangat kontras dengan

kepercayaan masyarakatnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam

bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana ramalan golongan darah dalam masyarakat Jepang?

2. Bagaimana pengaruh dari ramalan golongan darah dalam kehidupan

masyarakat di Jepang?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

Untuk memudahkan dalam menganalisa topik permasalahan, penulis

membatasi ruang lingkup pembahasan. Sehingga masalah yang akan dibahas

menjadi lebih terarah.

Di dalam penelitian ini, pembahasan akan terfokus pada dampak ramalan

golongan darah yang menyebabkan pendiskriminasian dalam kehidupan

masyarakat di Jepang, khususnya di lingkungan kerja, sekolah, pertemanan dan

hubungan percintaan. Selain itu, penulis akan menjelaskan lebih mendetail

tentang masing-masing golongan darah dan mengenai kepercayaan ramalan

(9)

9

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

1. Tinjauan Pustaka

Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, agama adalah suatu sistem kelakuan

dan perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia

kekuasaan dan kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian

memberi arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya

(http://jurnalapapun.blogspot.com / 2014 / 03 / pengertian- dan- definisi-

agama-menurut.html). Sedangkan peramalan merupakan suatu usaha untuk meramalkan

keadaan dimasa yang akan datang melalui pengujian keadaan dimasa lalu (Hery

Prasetya dan Fitri Lukiastuti, 2009:43 ). Meskipun ramalan dan agama merupakan

dua hal yang berbeda, namun keduanya memiliki persamaan yaitu tetap berlanjut

dan eksis keberadaannya selama masih ada yang meyakininya. Di Jepang, agama

bukan merupakan hal yang rutin dilakukan setiap hari melainkan adalah hal yang

erat kaitannya dengan setiap aspek kehidupan sosial dan ekonomi (Yamamoto,

1994: 204-205). Ramalan pun dijadikan sebagai hal yang lebih penting ketimbang

agama itu sendiri.

Istilah ramalan dalam bahasa Jepang adalah uranai (占い). Merupakan

istilah yang semata-mata muncul untuk menunjukkan “apa yang berada di

belakang, dan karenanya tidak terlihat” (Blacker, 2010:11). Menurut Noriyuki

Miyake (2011:11) Ramalan begitu populer di kalangan masyarakat Jepang.

Ramalan golongan darah yang memiliki ciri khas (terbagi menjadi empat; O, A, B,

dan AB) muncul pada masa perang dunia II, kini begitu banyak masyarakat

(10)

10

Setiap individu diciptakan Tuhan memiliki ciri khas masing-masing.

Dalam hal ini, golongan darah dianggap merupakan salah satu ciri khas yang

dimiliki oleh setiap individu dari lahir. Golongan darah tidak hanya sebagai

penentu jenis darah, melainkan juga dapat menjelaskan karakter seseorang.

Pengetahuan golongan darah dapat digunakan untuk bisa menyingkap berbagai

aspek karakter. Berdasarkan data yang banyak dan hasil observasi, ada bukti-bukti

yang mendukung adanya hubungan antara golongan darah ABO manusia beserta

fenomenanya (Nomi, 2009:6).

Namun, karena pengklasifikasian karakter berdasarkan golongan darah ini

masih baru, masih banyak kesalahpahaman. Kesalahpahaman tersebut akan

menghambat pemahaman terhadap orang lain sehingga memberikan dampak

buruk yang serius bagi pengembangan hubungan antarmanusia. Oleh karena itu,

selain memahami karakteristik masing-masing berdasarkan golongan darah, perlu

disertai juga dengan pemahaman karakter secara keseluruhan. Dengan demikian

kita akan jadi lebih akurat untuk menangkap karakter-karakter orang lain. Selain

itu, poin dan juga arah yang harus kita perhatikan menjadi lebih jelas (Nomi,

2009:8). Karena kesalahpahaman dapat menimbulkan pandangan baru mengenai

ramalan golongan darah yang menuju ke arah yang negatif yang menuju ke

pendiskriminasian. Pendiskriminasian yang muncul dari ramalan golongan darah

yang disebut burahara, membuat masyarakat Jepang meyakini baik buruknya

karakter seseorang dalam aspek kehidupan seperti hubungan kerja, pertemanan,

(11)

11 2. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori kepercayaan rakyat

(minkan shinkō) yang berdasarkan pada agama Shinto sebagai salah satu aliran

kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jepang. Menurut Miyake dalam

Situmorang (2013:28), yang dimaksud dengan minkan shinkō (kepercayaan

rakyat) adalah agama alami, yaitu tidak memiliki doktrin, tidak ada sistematika

pengajaran, tidak memiliki struktur lengkap dari pengikut, bersifat magis dan

tidak melembaga serta menunjukkan kelompok kepercayaan terus menerus.

Minkan shinkō adalah kepercayaan dimana orang menerima apa yang

mereka butuhkan dalam kehidupan melalui pengalaman hidup mereka. Hal inilah

yang menyebabkan praktek perdukunan, sihir dan ramalan menjadi bagian ajaran

dari minkan shinkō, karena dianggap hal-hal tersebut merupakan hasil dari

pengalaman dan bersifat magis

(http://www.newstatesman.com/blogs/the-faith-column/2007/06/birth-life-japanese-shinto). Karena dasar inilah ramalan golongan

darah dengan mudahnya masuk ke tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat

Jepang.

Penulis juga menggunakan teori konstruksi sosial untuk menelaah lebih

dalam bagaimana proses kepercayaan golongan darah bisa masuk ke

tengah-tengah kehidupan sosial di Jepang. Dalam teori konstruksi sosial dikatakan,

bahwa manusia yang hidup dalam konteks sosial tertentu melakukan proses

interaksi secara simultan dengan lingkungannya. Masyarakat hidup dalam

dimensi-dimensi dan realitas objektif yang dibentuk melalui momen eksternalisasi

(12)

12

Baik momen eksternalisasi, objektivasi maupun internalisasi tersebut akan selalu

berproses secara dialektik dalam masyarakat (Berger & Luckman, 1991:2).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan realitas sosial adalah hasil dari sebuah

konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Oleh karena itu,

kepercayaan golongan darah masuk dan melahirkan diskriminasi golongan darah

di dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang, yaitu hubungan kerja, pertemanan,

asmara dan mendidik anak.

Selain itu, penulis menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu

pendekatan yang menggunakan pengalaman hidup sebagai alat untuk memahami

secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana

pengalaman itu terjadi. Wawasan utama fenomenologi adalah “pengertian dan

penjelasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri”

(Aminuddin, 1990:108). Penelitian ini akan berdiskusi tentang suatu objek kajian

dengan memahami inti pengalaman dari suatu fenomena. Seperti penjelasan pada

tinjauan pustaka sebelumnya, telah terjadi sebuah fenomena di tengah-tengah

kehidupan masyarakat Jepang, yaitu ramalan golongan darah. Kuatnya keyakinan

terhadap ramalan dan kecilnya kepercayaan terhadap agama membuat masyarakat

Jepang dengan mudahnya membuat sebuah ramalan menjadi pedoman hidup

mereka.

Penulis juga menggunakan pendekatan semiotik. Menurut Syaom Barliana,

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi,serta relasi-relasi

simbol atau tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Semiotika

mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, sertarelasi antar

(13)

13

(http://www.academia.edu/1045086/S_E_M_I_O_T_I_K_A_TENTANG_MEMB

ACA_TANDA-TANDA). Dalam penelitian ini terdapat simbol atau tanda pada

penggolongan golongan darah yaitu, O, A, B dan AB atau lebih dikenal sebagai

Golongan Darah ABO. Masyarakat Jepang menyakini, simbol Golongan Darah

ABO tersebut dianggap memiliki keterkaitan dengan watak karakter dari

masing-masing pemiliknya.

1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui ramalan golongan darah dalam masyarakat Jepang.

2. Untuk mengetahui pengaruh dari ramalan golongan darah dalam

kehidupan masyarakat di Jepang.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis, diharapkan menambah pengetahuan tentang sejarah

munculnya kepercayaan ramalan golongan darah dan

perkembangannya sampai saat ini, dan apa yang menyebabkan

terjadinya serta dampak dari pendiskriminasian golongan darah dalam

kehidupan sosial di Jepang.

2. Bagi pembaca, penulis berharap agar penelitian ini bisa menambah

wawasan pembaca khususnya yang sedang belajar di bidang kajian

(14)

14

3. Bagi peneliti lain, penulis berharap agar penelitian ini bisa menambah

refrensi atau informasi yang berhubungan dengan kepercayaan

masyarakat atau ramalan.

1.6. Metode Penelitian

Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode

kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem

pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari metode

deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukian secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan

antarfenomena yang diselidiki (Nazir, 2003:54). Penulis berusaha menjabarkan

penelitian secara akurat dan berasal dari sumber yang dapat

dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode kepustakaan. Penulis

memperoleh sumber dari berbagai media cetak seperti buku, majalah, makalah,

jurnal, dan koran. Adapun media pendukung lainnya seperti internet digunakan

Referensi

Dokumen terkait

( [Saya] berpendapat bahwa karena muncul questioner bahwa kata “bir” berasal dari bahasa Belanda yang dikatakan di dalam bahasa Jepang, dari situlah bahasa Belanda mulai masuk.. (

3.3 Gairaigo yang digunakan untuk menghindari penggunaan kata-kata dari bahasa Jepang yang telah memiliki image atau gambaran tertentu mengenai sesuatu hal (eufimisme)……….....

Wasei eigo merupakan kosakata yang diciptakan oleh masyarakat Jepang dari bahasa Inggris, namun kata tersebut tidak ditemukan dalam bahasa Inggris standar, atau makna katanya

Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia dari sisi tata bahasa berasal dari bahasa Inggris, yaitu “ Narcotics ” yang berarti obat bius, yang sama artinya dengan kata

Pada beberapa game pembelajaran Bahasa yang ada di Playstore (Tebak Kata-Kata Bahasa Jepang, Cari Kata, dll) menerapkan sistem yang ada pada Gambar IV.2

Istilah debat berasal dari bahasa Inggris, yaitu debate. Istilah tersebut identik dengan istilah sawala yang berasal dari bahasa Kawi yang berarti berpegang teguh pada

Istilah wirausaha berasal dari kata enterpreneur (bahasa Perancis). Jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris sama dengan between taker atau go-between. Perkembangan

Ekonomi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu economy .Sementara kata ekonomy itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomike yang berarti pengelolahan