• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kampanye Perbedaan Narsis dan Percaya Diri untuk Remaja.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kampanye Perbedaan Narsis dan Percaya Diri untuk Remaja."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha ABSTRACTION

(2)

ABSTRAKSI

Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang perbedaan narsis dan percaya diri

untuk remaja dan hal-hal yang mempengaruhinya. Dalam membahas tema ini penulis

bertujuan untuk memaparkan perbedaannya dan menjelaskan bahwa menjadi percaya

diri jauh lebih baik dari pada menjadi sekedar narsis. Tujuan pembahasan tema ini

adalah agar para remaja tidak menjadi narsis melainkan percaya diri. Makalah ini

menggunakan metode penelitian secara tidak langsung untuk membahas dan menjawab

masalah. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, untuk membuat remaja tidak

menjadi narsis digunakan cara yang simple namun bisa dengan mudah menyentuh

(3)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

Cover Dalam i

Lembar Pengesahan ii

Pernyataan Hasil Karya Pribadi iii

Pernyataan Publikasi Laporan Penelitian iv

Abstraction v

1.2Permasalahan dan Ruang Lingkup 3

1.2.1Rumusan Masalah 3

1.2.2 Ruang Lingkup Masalah 3

1.3Tujuan Perancangan 3

1.4Sumber dan Teknik Pengumpulan Data 3

1.5 Skema Perancangan 4

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Kampanye 5

2.1.1 Jenis Jenis Kampanye 6 2.1.2 Perencanaan Kampanye 7

2.1.3 Strategi Kampanye 8

2.2 Pengertian Narsisistik 8

2.2.1 Penyebab Narsisistik 11

(4)

2.3 Pengertian Percaya Diri 14 2.3.1 Ciri-Ciri Percaya diri 15 2.3.2 Cara Menumbuhkan Percaya Diri 16 BAB III DATA DAN ANALISI DATA

(5)

Universitas Kristen Maranatha 4.4.1 Logo 54 4.4.2 Conditioning 56 4.4.3 Informing 59 4.4.4 Reminding 68

4.5 Budget 74

BAB V KESIMPULAN 76

Daftar Pustaka 78

Daftar Istilah 80

Lampiran 81

Data Penulis 82

(6)
(7)

Universitas Kristen Maranatha

Gambar 4.4.4.4 70

Gambar 4.4.4.5 70

Gambar 4.4.4.6 72

Gambar 4.4.4.7 73

(8)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram1.5.1 4

Diagram 3.1.4.1.1 31

Diagram 3.1.4.1.2 31

Diagram 3.1.4.1.3 32

Diagram 3.1.4.1.4 32

Diagram 3.1.4.2.1 33

(9)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 3.2.1 31

Tabel 4.1.1.1 49

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Narsis akhir akhir ini sudah umum di ucapkan oleh sebagian orang. Perempuan, lelaki, dewasa, remaja bahkan orang tua sering menggunakan kata ini. Kata narsis biasanya di berikan untuk orang yang memiliki kecenderungan mencintai dirinya sendiri secara berlebihan dan terlihat dari tingkah laku maupun pola pikirnya. Hal yang biasanya sering dilakukan oleh orang yang di cap narsis adalah orang tersebut lebih suka membicarakan dirinya sendiri dan memuji-muji dirinya di hadapan orang lain baik sahabat maupun keluarga. Kadang pujian tersebut benar adanya namun besar kemungkinan pujian tersebut hanyalah omong kosong belaka. Jumlah narsis sebenarnya tidak banyak namun seiring perubahan jaman, teknologi yang makin maju, dunia kecantikan, fashion dan kesehatan yang berkembang pun ikut menjadi penunjang bertambahnya orang dengan gejala narsis.

Seseorang yang gemar berfoto ataupun berkaca di depan cermin biasanya akan dengan mudah diberikan panggilan narsis. Sigmund Freud, bapak ilmu jiwa menguraikan dalam tulisannya yang berjudul On Narcissism (1914) bahwa narsis mengacu pada NPD (Narcissistic Personality Disorder) yaitu sebutan untuk mengenali kondisi yang mengarah pada gangguan karakter individu yang menunjukkan kesombongan , egoisme dan kecintaan yang berlebihan pada diri sendiri.

(11)

Universitas Kristen Maranatha bahkan penolakkan dan kekerasan dapat menjadi penyebab kelainan kejiwaan narsisistik. Faktor penyebab lain yang juga memungkinkan seseorang terkena narsisistik adalah faktor genetik atau psikobiologi yang berhubungan dengan fungsi otak, prilaku dan cara pikir. Namun keadaan lingkunganpun bisa membuat seseorang menjadi narsis contohnya pujian yang terlalu berlebihan atau pengakuan oleh lingkungan sekitar yang sering di ulang-ulang tentang perilaku maupun fisik si penderita narsisistik . misalnya seseorang merasa dirinya cantik karena sering disebut-sebut sebagai seseorang yang cantik parasnya meskipun pada awalnya dia tidak merasa demikian. (sumber: http://duniapsikologi.dagdigdug.com/tag/narsis)

Hal ini berkaitan dengan ilmu desain komunikasi visual karena narsis merupakan gejala kejiwaan yang cukup umum, sehingga tidak menutup kemungkinan seorang desainer grafispun memiliki gejala narsisistik. Selain itu dalam ilmu DKV diperlukan kepercayaan diri yang cukup tinggi namun berbeda dengan narsisistik oleh karena itu perlu pengenalan tentang narsisitik agar tiap desainer grafis bisa mengoreksi dirinya untuk menjadi lebih baik. Topik ini penulis angkat agar kesalahpahaman tentang narsis yang selama ini terjadi bisa diluruskan sehingga, gejala maupun penyakit narsisistik bisa ditekan dalam masyarakat terutama remaja.

(12)

1.2Permasalahan dan Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan ditemukan permasalahan dan ruang lingkup sebagai berikut.

1.2.1 Rumusan Masalah

Dari latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 1). Apa yang dimaksud dengan narsisistik?

2). Bagaimana membedakan narsisistik dengan percaya diri?

1.2.2 Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup dalam pemecahan masalah lebih memfokuskan kepada remaja yang berusia antara 15 hingga 17 tahun, karena pada masa ini terjadi perubahan dan pola pikir yang signifikan. Karena itu peranan DKV akan dibutuhkan sebagai pendekatan terhadap remaja dan dewasa awal itu sendiri dengan memberi pengetahuan secara umum tentang narsisistik yang jarang diketahui oleh khalayak, dengan strategi kampanye yang akan dikembangkan dan ditujukan untuk masyarakat umum di Indonesia, khususnya pada kalangan remaja dan dewasa awal di masa sekarang ini.

1.2Tujuan Perancangan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah di uraikan berikut ini akan dirumuskan pokok pokok hasil dari tujuan perencanaan.

1).Pembaca dapat mendiskriptifkan dan menjelaskan apa yang di maksud dengan narsisistik.

2). Pembaca dapat menguraikan apa yang membedakan narsisistik dengan percaya diri.

1.3Sumber dan Teknik Pengumpulan data

(13)

Universitas Kristen Maranatha 1).Studi Pustaka:

Penulis mengumpulkan data-data dan informasi dari buku, literatur, jurnal dan situs yang ada untuk digunakan sebagai pijakan dalam menyampaikan informasi, agar informasi yang disampaikan dapat terjamin kebenarannya.

2).Kuesioner :

Penulis membuat pertanyaan seputar narsisistik yang akan di sebarkan ke berbagai kalangan untuk memperoleh data dan fakta yang relevan.

3).Wawancara:

Penulis membuat pertanyaan seputar narsisistik untuk di jawab dan didiskusikan dengan ahli di bidang psikologi.

1.5 Skema Perancangan

Berdasarkan poin-poin di atas dapat dibuat skema perancangan sebagai berikut.

Kesalahpahaman remaja akan narsisistik dan percaya diri

Pengumpulan Data

Literatur Survey Wawancara Situs

Hipotesa awal: Narsis itu penyakit sedangkan percaya diri merupakan sebuah keyakinan

Solusi

Pemahaman Batasan Narsisistik Pemecahan Masalah

Kampanye

(14)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Narsis merupakan suatu penyakit kejiwaan yang bisa berdampak buruk bagi kepribadian dan fisik seseorang. Narsis dan percaya diri itu berbeda, seseorang bisa dengan mudah menjadi narsis jika tidak mau berusaha dan lebih suka memperoleh segala hal dengan cara praktis, namun untuk menjadi orang yang percaya diri dibutuhkan pemahaman yang tepat dan benar.

Masyarakat biasanya memandang narsis sebagai hal yang biasa dan tidak perlu mendapatkan penanganan. Hal ini bisa dibenarkan bila penderita narsis tersebut belum tergolong ke dalam tingkat yang parah dan tidak mengganggu orang lain. Namun tanpa disadari kadang gangguan kejiwaan seperti narsis mengalami perkembangan ke arah yang lebih buruk. Dampaknya untuk remaja sendiri bisa terjadi pada hubungan di sekolah atau hubungan-hubungan interaksi dengan orang lain menjadi terganggu. Jika dibiarkan terus hal ini akan membuat si penderita narsis menjadi tidak bahagia dan semakin bingung dengan emosi yang ada di dalam dirinya. Dapat disimpulkan dua hal utama yang membentuk kepribadian narsis yaitu:

(15)

Universitas Kristen Maranatha 2.Bagaimana seseorang menutupi kekurangan, baik karena kurang kaya, kurang keren, kurang cantik dan seterusnya. Rasa kurang ini bisa digunakan untuk menjadi orang yang rendah hati tapi bila responnya negatif, akan sangat mungkin memunculkan motivasi minus, misalnya arogan tanpa alasan, membohongi orang lain untuk menutupi kekurangan, dan seterusnya.

5.2 Saran

Saran yang bisa di dapat dan digunakan dalam hasil laporan dan karya tugas akhir ini adalah:

- Pesan yang disampaikan harus bisa lebih terlihat dan lebih jelas agar dapat dengan mudah dimengerti oleh remaja.

- Pembuatan desain harus lebih kontras agar terlihat perbedaan yang mendasar sehingga dapat dengan mudah menyampaikan maksud dari kampanye ini.

- Pemilihan foto ataupun image harus menggunakan beberapa alternatif yang nantinya akan digunakan untuk mendapat gambar yang lebih baik, misalnya image dengan model yang gambarnya di ambil secara candid dan lain-lain. - Penggunaan elemen desain seperti garis dan warna harus bisa langsung tepat ke

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Anne, Gregory (2004). Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta : Pt Penerbit Erlangga.

Grunig, James (1984). Managing Public Relations. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Rosady, Ruslan (2007). Kiat dan Strategi: Kampanye Public Relations. Jakarta: Grasindo.

Twenge, Jean (2009). Narcissism Epidemic: Why There Are So Many Narcissists Now: US News.

Vaknin, Sam (2007). Malignant Self Love – narcissism revisited. Makedonia: Lidija Rangelovska.

Venus, Antar (2007). Manajemen Kampanye: Panduan Teoretis dan Praktis dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Jurnal dan hasil Penelitian

American Psychiatric Association (1994). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition. Washington, D.C : American Psychiatric Association. Markus, H., & Wurf, E. (1987). The dynamic self-concept: A social psychological

perspective. In M. R. Rosenzweig & L.W. Porter (Eds.), Annual Review of Psychology, 299-337.

Siska;Sudardjo;Purnamaningsih, Esti Hayu (2003). Kepercayaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa. Jurnal psikologi : Fakultas

(17)

Universitas Kristen Maranatha Internet

Abraham Lincoln. Diambil dari http://www.whitehouse.gov/about/presidents/

abrahamlincoln, 27februari 2011, 08:01:30 WIB

Freud, Sigmund (1914). On narcissism: An introduction. Di ambil dari

http://files.meetup.com/382157/Freud-On%20Narcissism.doc , 1 maret 2011, 11:21:25 WIB

Levine, J. D , Rona H (1994). The Dynamics and Treatment of Alcoholism. Diambil dari http://www.healthyplace.com/personality-disorders/malignant-self-love/the-narcissists-mother/menu-id-1469. 1 maret 2011, 10:22:25 WIB

Pengertian percaya diri. Diambil dari http://percayadiri.asmakmalaikat.com/ 24

februari 2011, 08:10:30 WIB

Percaya Diri Dalam Psikologi (2009). Diambil dari http://www.masbow.com/2009/08

/percaya-diri-dalam-psikologi.html, 7 Maret 2011, 22.00 WIB

Rasa Percaya Diri. Diambil dari Http//digilib/uns.ac.id, 7 Maret 2011,21.30 WIB

Siska;Sudardjo;Purnamaningsih, Esti Hayu (2003). Kepercayaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal pada mahasiswa. Diambil dari

http://skripsipsikologie.wordpress.com/2010/06/15/hubungan-persahabatan-dan-kepercayaan-diri-mahasiswa-baru/, 26 februari 2011, 11:20:01 WIB

Stella (2009). Penyebab Narsis Pada Remaja. Diambil dari

http://duniapsikologi.dagdigdug.com/tag/narsis, 26 februari 2011, 12:01:55 WIB Story of Narcissus. Diambil dari

http://www.mythencyclopedia.com/Mi-Ni/Narcissus.html, 2 Maret 2011, 19:12:01 WIB

T35(2008). Apa itu Narsisisme. Diambil dari http://muhammad-saw.t35.com/ApaItuNarsis.htm, 7 Maret 2011, 21.00 WIB

Visi dan misi. Di ambil dari http://www.dikmas.net/profil/visi-dan-misi.html, 3 Maret

2011, 15.30:20 WIB

WHO Indonesia (2011). Diambil dari http://www.who.or.id/ind/index.asp, 7 Maret 2011,

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat penelitian ini antara lain (1) untuk memperkaya dan menambah khasanah ilmu pengetahuan guna meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan model

Bagaimana peran desain komunikasi visual dapat memberikan pemahaman dan motivasi, menyadarkan akan pentingnya asupan gizi kepada anak untuk jajan cermat demi meningkatkan

Lagu ini diciptakan oleh Jonathan Prawira seorang komposer rohani yang juga cukup terkenal. Lagu-lagunya banyak digunakan dalam ibadah-ibadah gereja, dan juga digubah atau

mengontrol dirinya sendiri. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan penghargaan dan penghormatan dari orang lain. Aspek ini dapat berupa pengaruh dan wibawa

Buku ini memuat berbagai ilustrasi, teks dan teknik lift the flap di dalamnya yang diharapkan dapat menjadikannya media utama dan media komunikasi visual untuk

Menurut Levy dan Weitz (2001:576) dalam Andini (2013) menyatakan bahwa, “Suasana toko adalah desain lingkungan yang meliputi komunikasi visual, pencahayaan, warna, musik,

HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Devinda Yovika Program Studi : Program Studi Desain Komunikasi Visual

Berdasarkan akar penyebab di atas, diperlukan sebuah model pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan komunikasi matematis siswa, yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa