1
MAKALAH
MISI PROFETIK ILMU DAN TANGGUNG JAWAB ILMUAN
Disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah Dosen Pengampu: Amirullah, S.Pd.I, M.A.
Disusun Oleh:
Devi Nuraidah - 2001105063 Fatimah Az Zahra - 2001105038
Arif Wiranata – 2001105051 Raflialdi – 2001105027 Flowrita Maylindasari - 2001105074
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
2022
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin, rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik. Tugas dengan judul “MISI PROFETIK ILMU DAN TANGGUNG JAWAB ILMUWAN” ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi tugas semester keempat untuk mata kuliah Islam untuk disiplin ilmu (IDI).Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam proses penyusunan makalah ini khususnya kepada dosen pengampu yaitu Amirullahyang bersedia membimbing dan mengarahkan kami dalam penyusunan makalah ini.Kami berharap agar makalah yang telah kami susun ini dapat memberikan inspirasi bagi pembaca dan penulis yang lain. Kami juga berharap agar makalah ini menjadi acuan yang baik dan berkualitas
3 DAFTAR ISI
PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
Latar Belakang...4
Rumusan masalah ……….4
Tujuan Penulisan ………..4
BAB II...4
PEMBAHASAN...5
Pengertian misi profetik ilmu...6
Pengertian Tanggung jawab ilmuwan...6
Pengertian Etika...6
Pengertian Profesi………..7
Profesionalisme dalam islam ...7
BAB III...10
PENUTUP...10
Kesimpulan...10
DAFTAR PUSTAKA...10
4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam sejarah kehidupan manusia ilmu telah menjadi aktor utama dalam membangun peradaban manusia sampai akhirnya dapat berbentuk peradaban semegah saat ini. Ilmu telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya dalam segala aspek kehidupan. Dengan kata lain, kehadiran ilmu telah merubah wajah dunia dari periode kuno sampai periode kontemporer. Alhasil, dengan kemajuan ilmu manusia dapat memberantas penyakit, memakai alat transportasi, membangun sarana irigasi, membangun sarana pemukiman, menikmati kemudahan komunikasi jarah jauh dan lain sebagainya (Bakhtiar, 2004:162). Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia telah berhutang banyak kepada ilmu. Ilmu telah banyak memberikan jalan keluar bagi manusia dalam mencapai tujuannya (Kusuma Ningrat, 2016). Perkembangan ilmu tidak lepas dari ilmuwan. Ilmuwan yang mengembangkan ilmu-ilmu yang ada saat ini, oleh karena itu ilmuwan memiliki tanggung jawab khusus terkait ilmu yang ditemukan.
Tanggung jawab seorang ilmuwan bukan saja dalam arti normatif, melainkan juga dalam arti kedudukan manusiaitu di antara manusia-manusia lain. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan sanggup melihat perubahan - perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat penemuan-penemuannya (Conny R. Semiawan, 1988). Dengan demikian seorang ilmuwan harus peka terhadap konsekuensi-konsekuensi etis ilmunya. Sebab dialah satu-satunya orang yang dapat mengikuti dari dekat perkembangan-perkembangan yang kongkret.
Tanggung jawab moral dan sosial seorang ilmuwan tidak dapat terlepas dari integritas ilmuwan tersebut, karena seorang ilmuwan sejati memiliki ciri integritas yang tinggi dan rasa keterlibatan dan tanggung jawab yang menyeluruh terhadap pekerjaan yang digelutinya, disamping itu juga harus ulet, jujur, hendaknya dibina dan dipertahankan(Surajiyo, 2019).
B. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan misi profetik ilmu dan tanggung jawab ilmuwan?
b. Bagaimana etika profesi seorang ilmuwan (kode etik ilmuwan/rekayasawan)?
c. Bagaimana profesionalisme dan tanggung jawab sosial ilmu?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan misi profetik ilmu dan tanggung jawab ilmuwan.
b. Untuk mengetahui etika profesi seorang ilmuwan (kode etik ilmuwan/rekayasawan).
c. Untuk mengetahui prosesionalisme dan tanggung jawab sosial ilmu.
5 BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pengertian Misi Profektif dan tanggung jawab keilmuan
Profetik berasal dari kata prophet yang berarti nabi. Istilah “profetik” merujuk pada istilah kenabian, Sedangkan dalam Oxford Dictionary “prophetic” adalah 1) “of, pertaining or proper to a prophet or prophecy”; “having the character funcion of a prophet”; ”having the characterized by, containing, or of the nature of prophecy; predictive”,sehingga pengertian profetik identik dengan seseeorang yang memiliki sifat atau ciri layaknya seorang nabi atau bisa orang diperkirakan diprediksikan memiliki sifat seperti seorang nabi (Makruf, 2017: 245- 245)(diambil dari artikel (Dewi et al., 2020)). Misi pendidikan profetik tidak terlepas dari misi utama Nabi yang diutus oleh Allah untuk memperbaiki karakter dan perilaku ummat, perbaikan karakter dan perilaku merupakan bagian sangat penting untuk membangun kualitas hidup dan peradaban manusia(Syarif, 2014). Misi profetik yang dimaksud adalah pendidikan yang manusiawi, dalam terminologi Islam sering disebut sebagai insan kamil (manusia seutuhnya),syumul (universal dan komprehensif), dan manusia takwa (nilai spiritual)(Arifuddin, 2019). Tanggung jawab etis merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu, dalam kaitan ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab ada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatng dan bersifat universal, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia(Sya’roni, 2016).
B. Pengertian Profesi
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut DE GEORGE : PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi.
6
Secara leksikal, perkataan profesi itu ternyata mengandung berbagai makna dan pengertian. Pertama, profesi itu menunjukkan dan mengungkapkan suatu kepercayaan, bahkan suatu keyakinan atas sesuatu kebenaran atau kredibilitas seseorang . Kedua, profesi itu dapat pula menunjukkan dan mengungkapkan suatu pekerjaan atau urusan tertentu . Good’s Dictionary of Education lebih menegaskan lagi bahwa profesi itu merupakan suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di perguruan tinggi dan diatur oleh suatu kode etika khusus.
Dari berbagai penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa profesi itu pada hakekatnya merupakan suatu pekerjaan tertentu yang menuntut persyaratan khusus dan istimewa sehingga meyakinkan dan memperoleh kepercayaan pihak yang memerlukannya. Pada umumnya masyarakat awam memaknai kata profesionalisme bukan hanya digunakan untuk pekerjaan yang telah diakui sebagi suatu profesi, melainkan pada hampir setiap pekerjaan. Pemain profesional adalah pemain yang berhak mendapatkan bayaran sebagai imbalan dari kesetaraannya dalam pertandingan.
Ada anggapan umum derajat pemain profesional lebih tinggi dari pemain amatir, meskipun dari segi keterampilan teknis, pemain profesional tidak selalu lebih baik daripada pemain yang statusnya masih amatir. Tradisi pemain profesional tumbuh di negara-negara Barat, di mana olahraga merupakan obyek bisnis. Patutkah disalahkan penggunaan istilah yang serampangan itu?
Tidak, karena istilah profesi bukan monopoli kalangan tertentu. Proses usaha menuju ke arah terpenuhinya persyaratan suatu jenis model pekerjaan ideal itulah yang dimaksudkan dengan profesonalisasi.
Pernyataan di atas itu mengimplikasikan bahwa sebenarnya seluruh pekerjaan apapun memungkinkan untuk berkembang menuju kepada suatu jenis model profesi tertentu.
Dengan mempergunakan perangkat persyaratannya sebagai acuan, maka kita dapat menandai sejauh mana sesuatu pekerjaan itu telah menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dan/atau seseorang pengemban pekerjaan tersebut juga telah memiliki dan menampilkan ciri-ciri atau sifat- sifat tertentu pula yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional . Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan yang kemudian berkembang makin matang. Selain itu, dalam bidang apapun profesionalisme seseorang ditunjang oleh tiga hal. Tanpa ketiga hal ini dimiliki, sulit seseorang mewujudkan profesionalismenya. Ketiga hal itu ialah keahlian, komitmen, dan keterampilan yang relevan yang membentuk sebuah segitiga sama sisi yang ditengahnya terletak profesionalisme.
C. Pengertian Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “etika adalah ilmutentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajibanmoral. Kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilaimengenai yang benar dan salah yang dianut masyarakat. Dari asal usul kata, "Etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang berarti adat istiadat/kebiasaan yang baik. Perkembangan etika studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya. Kemudian
7
secara etimologi Etika berasal dari bahasa Yunani adalah "Ethos", yang biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu "Mos" dan dalam bentuk jamaknya "Mores", yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
D. Pengertian Etika Profesi
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai definisi etika profesi. Menurut
Muchtar (2016), etika profesi merupakan aturan perilaku yang memiliki kekuatan mengikat bagi setiap pemegang profesi. Sementara itu, Lubis (1994) berpendapat etika profesi merupakan sikap hidup berupa kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan keterlibatan penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas. Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa etika profesi bertujuan agar setiap orang tetap berada dalam nilai-nilai profesional, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi profesi yang dipegangnya.
Dari beberapa pengertian diatas makadapat diambil kesimpulan bahwa etika profesi
merupakan norma yang mengikat secaramoral hubungan antar manusia, yang dapatdituangkan dalam aturan, yang disusun dalamkode etik suatu pr ofesi, dalam hal ini adalah
norma per ilaku yang mengatur hubunganauditor dengan klien, auditor dengan rekanseprofesi, auditor dengan masyar akat danterutama dengan diri sendiri.
Profesional secara bahasa berarti orang yang mempunyai keahlian tertentu. Adapun menurut istilah professional, berarti orang yang melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan keahliannya dan ia mengabdikan diri pada penggunaan jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan dan keahliannya. Profesionalisme dalam Islam definisi profesionalisme adalah suatu pandangan untuk selalu berfikir berpendirian bersikap dan bekerja sungguh-sungguh dengan disiplin jujur penuh dedikasi untuk mencapai hasil kerja yang memuaskan.
E. Profesionalisme Dalam Islam
Definisi profesionalisme adalah suatu pandangan untuk selalu berfikir, berpendirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, dengan disiplin, jujur, penuh dedikasi untuk mencapai hasil kerja yang memuaskan.
1.Profesionalisme yaitu dengan bekerja sesuai dengan kemampuan atau potensinya yang tercantum dalam Q.S Al-An’am ayat 135, Az-Zumar ayat 39, dan Huud ayat 93.
2.Bekerja dengan sungguh-sungguh dan memberikan hasil yang terbaik tercantum dalam Q.S Al-Mulk ayat 2.
3.Bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang diampunya tercantum dalam Q.S Al-Isra ayat 84.
8
• Menurut Al - Qur'an
Akhlak Islam yang di ajarkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW, memiliki sifat -sifat yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Ini dapat dilihat pada pengertian sifat - sifat akhlak Nabi sebagai berikut :
Nilai Islam yang Mendasari Profesionelisme 1. SHIDDIQ (KEJUJURAN)
Kejujuran adalah hal yang paling penting dan sangat mendasar untuk membangun profesionalisme dalam diri seseorang. Semua bentuk usaha yang dikerjakan bersama akan menjadi hancur ketika salah satu anggotanya tidak menjunjungi tinggi kejujuran.
2. Amanah (bertanggung jawab dan terpercaya)
Sikap bertanggung jawab adalah sifat yang sangat dibutuhkan untuk membangun profesionalisme dalam diri seseorang. Selain bertanggung jawab seseorang tersebut juga harus dapat dipercaya. Jika satu pekerjaan atau urusan yang telah diembankan kepadanya, orang tersebut harus melaksanakan dengan sabik – baiknya
3. Tabligh (Komunikatif, Menyampaikan dan Transparan)
Salah satu ciri sikap profesional adalah sikap komunikatif, menyampaikan, dan transparan. Dengan memiliki sifat komunikatif, seorang muslim akan memiliki rasa tanggung jawab pada pekerjaan yang dijalaninya dan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan orang lain.
4. Fathanah (cerdas)
Dengan memiliki kecerdasan seseorang yang profesional akan dapat memiliki dan menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Jika suatu organisasi atau perusahaan di pimpin oleh kepemimpinan yang cerdas, maka pemimpin tersebut akan tanggap dalam memahami dan menyelesaikan problematika yang ada.
5. Tanggung Jawab Seorang Ilmuwan
7 tanggung jawab seorang ilmuwan menurut DR. Yusuf Al-Qaradawi :
1.Bertanggung jawab dalam hal menjaga, agar ilmu yang sudah di dapat tidak hilang.
2.Bertanggung jawab dalam memperkuat ilmu yang sudah di dapat itu menjadi meningkat.
3.Bertanggung jawab dalam mengamalkannya.
9
4.Bertanggung jawab dalam menyampaikan kepada orang yang sedang mencarinya, agar ilmu tersebut bersih (terbayar zakatnya).
5.Bertanggung jawab dalam mempublish, agar manfaat ilmu tersebut semakin luas.
6.Bertanggung jawab dalam menyiapkan generasi yang akan mewariskan ilmu tersebut.
7. Ikhlas untuk Allah, agar ilmu tersebut diterima Allah SWT.
• Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan
Ilmuwan juga harus mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk, yang pada hakikatnya seorang ilmuwan mempunyai landasan moral atau landasan etika yang kuat sebagai penuntun dalam berkarya dan berinovasi.
BAB 3 PENUTUP
KESIMPULAN
Jadi demikianlah pendidikan Islam dan misi profetik yang sedemikian memberikan gambaran kepada kita akan entingnya keduanya sebagai dua mediasi dalam satu ideologis untuk mencapai tujuan, yaitu akhlaqul kariimah .
Beberapa gambaran diatas tentunya belumlah cukup untuk memuaskan rasa keinginan tahuan kita dan belumlah menjadi konsep yang matang. Apa bila dalam penggalian wacananya hanya sampai di sini saja. Masih banyak lagi yang perlu ditempuh.
Daftar isi
Kusuma Ningrat, H. (2016). Etika Keilmuan Dan Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan (Sebuah Kajian Aksiologis). Biota, 8(1).
Surajiyo. (2019). Tanggung Jawab Moral dan Sosial Ilmuwan : Sikap Ilmiah Ilmuwan Di Indonesia. Prosiding Comnews 2019, 414–424.
Arifuddin, A. (2019). Konsep Pendidikan Profetik (Melacak Visi Kenabian Dalam Pendidikan).
Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 9(2), 319.
https://doi.org/10.22373/jm.v9i2.4782
Dewi, E. R., Hidayatullah, C., Oktaviantari, D., Raini, M. Y., & Islam, F. A. (2020). Al-
10
Muaddib :Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman KONSEP KEPEMIMPINAN PROFETIK.
| Issn Cetak, 5(1), 147–159. http://dx.doi.org/10.31604/muaddib.v5i1.147-159
Sya’roni, M. (2016). ETIKA KEILMUAN: Sebuah Kajian Filsafat Ilmu. Jurnal THEOLOGIA, 25(1), 245–270. https://doi.org/10.21580/teo.2014.25.1.346
Syarif, Z. (2014). Pendidikan Profetik Dalam Membentuk Bangsa Religius. Tadrîs Volume 9 Nomor 1 Juni 2014, 9(1), 1–16.
Hanafi, Halid. Dkk. 2019. Ilmu Pendidikan Islam. Sleman. CV Budi Utama
Surojiyo. 2019. Tanggung Jawab Moral Dan Sosial Ilmuwan Sikap Ilmiah Ilmuwan Di Indonesia.
Prosiding Comnews 2019 (Hal. 415-424). Comnews.
Juwariyah. 2004. Islam Dan Filsafatilmu Dalam Pengembangan Pendidikan. Kependidikan Islam, Vol. 2, No. 1.
(kumparan.com)