Pengertian Misi Profetik Ilmu dan Tanggung Jawab Ilmuwan
Disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagian tugas Pada mata kuliah Islam Dalam Disiplin Ilmu
Dosen Pengampu: Amirullah,M.A
Disusun oleh: Kelompok 3
Achmad Zacky Hariadi 1801025345 Ahmad Arief Fadillah 1801025409 Amelia Lutfian Nurunissa 1801025189
Elsi Siyasatul Islamiyah 1801025397 Fildzah Fitriani 1801025150
PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
ii
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Pengertian Misi Profetik Ilmu dan Tanggung Jawab Ilmuwan”.
Makalah ini disusun untuk dijadikan sebagai patokan pembelajaran misi profetik ilmu, tanggung jawab ilmuwan, bagaimana etika seorang ilmuwan bahkan tanggung jawab seorang ilmuwan di lingkungan masyarakat. Dengan kata lain, makalah ini dapat mengarahkan dan memberikan manfaat yang nyata bagi penulis dan pembaca. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan juga pembacanya.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita, Aamiin.
Jakarta, 20 Maret 2021 Kelompok 3
iii
Daftar Isi
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Bab I ... 1
Pendahuluan ... 1
a. Latar Belakang Masalah ... 1
b. Rumusan Masalah ... 3
c. Tujuan ... 3
Bab II... 4
Pembahasan ... 4
A. Pengertian Misi Profetik Ilmu ... 4
B. Tanggung Jawab Ilmuan ... 7
C. Etika Profesi dan Kode Etik Seorang Ilmuan ... 8
1. Etika Profesi Seoranng Ilmuan ... 8
2. Kode Etik Ilmuan ... 10
D. Profesionalisme dan tanggung jawab sosial ilmuwan ... 10
➢ Tanggung Jawab Ilmuwan di Masyarakat ... 11
Bab III ... 14
Penutup ... 14
A. Kesimpulan ... 14
B. Saran ... 15
Bab I Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan adalah proses dari usaha manusia untuk tahu.1 Tahu dalam pengertian ilmiah adalah kebenaran yang dicapai menggunakan metode pendekatan dalam sistem tertentu2. Ilmu sering di umpamakan sebagai cahaya, pelita, atau lentera yang dapat menerangi perjalanan hidup sesesorang. Dengan demikian mutu dan besarnya cahaya yang dicerminkan oleh kedalaman dan keluasan ilmu akan sangat menentukan luasnya jangkauan seseorang dalam menjalani hidup dan menguasai hidupnya. 3Menurut Kamus Bahasa Indonesia (1994), ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara tersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu. Sejalan dengan perjalanan waktu, ilmu pun terus berkembang dari yang awalnya sempit menjadi sangat luas. Kondisi tersebut mengakibatkan terbentuk cabang- cabang ilmu yang berlainan memungkinkan terbentuknya cabang ilmu baru,4 salah satunya ilmu sosial.
Ilmu sosial selama ini telah terlanjur dikembangkan dengan suatu asumsi bahwa ilmu dan agama adalah dua hal yang terpisah yang sangat kuat mempengaruhi perkembangan ilmu sosial. Asumsi inilah yang hingga saat ini masih dipegang oleh para ilmuwan sosial, terutama yang berhaluan dengan positivisme. Perkembangan peradaban modernlah yang kemudian memunculkan situasi perkembangan ilmu sosial semacam ini. Akibat kemunculan peradaban modern yang diawali dengan konflik hebat antara ilmu pengetahuan dan gereja, ilmu sosial yang terlahir dari perhelatan ini kemudian menolak agama sebagai bagian dari ilmu. Itu sebabnya, modernisme juga bisa dikatakan differentiation (pemisahan).5 Setelah mengalami perkembangan dan melampaui tahap apresiasi, para ahli ilmu-ilmu sosial di dunia ketiga banyak yang melakukan reaksi terhadap, baik pendekatan moderinisasi maupun pendekatan kebergantungan neo-marxis
1 Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara). 2008 Hal. 5
2 Suparlan Suhartono. Dasar-dasar Filsafat (Jogyakarta: Ar Ruz), 2001 Hal. 92 3 Ridwan Affandi. Ilmu sebagai lentera kehidupan. (Bandung: IPB Press), 2006, hal 1 4 Ibid, hal 4
2
dan analisis kelas marxis. Dari sinilah timbul gagasan untuk melakukan pribumisasi ilmuilmu sosial. Gagasannya cukup relevan, tapi realisasi perkembangannya cukup sulit, karena para pakar ilmu-ilmu sosial yang berpendidikan tinggi di barat itu sulit melepaskan diri dari kebergantungannya terhadap ilmu-ilmu sosial barat, baik non- marxis maupun marxis dan neo-marxis.6Peminjaman metodologi dari Barat memang tidak dapat dihindarkan. Tapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para ahli ilmu-ilmu sosial dunia ketiga. Pertama adalah merumuskan dan menghayati nilai-nilai yang bersumber pada ajaran-ajaran agama, guna mengetahui pandangan dunia, cita-cita dan motivasi pelaku- pelaku perubahan sosial masyarakat dunia ketiga. Kedua, mempelajari proses sejarah dan kondisi yang dialami oleh masyarakat didunia ketiga sehingga dapat diketahui, mengapa pelaku perubahan sosial berpikir, bersikap dan bertindak sebagaimana mereka melakukan hal itu. Ketiga, mengindentifikasikan struktur kelembangan yang memuat dan merefleksikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat setempat.7
Asal mula gagasan ilmu sosial profetik, seperti yang telah diakaui oleh Kuntowijoyo sendiri, terinspirasikan dari tulisan-tulisan Roger Garaudy dan Muhammad Iqbal. Dari pemikiran Garaudy, Kuntowijoyo mengambil fisafat profetiknya. Filsafat barat tidak mampu memberikan tawaran yang memuaskan karena hanya terombang-ambing dalam dua kutub, idealis dan materialis, tanpa berkesudahan. Filsafat barat itu lahir dari pertanyaan bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan, Garaudy memberikan saran agar mengubah pertanyaan itu menjadi bagaimana kenabian (wahyu) itu dimungkinkan? Filsafat Barat telah membunuh Tuhan dan manusia, karena itu ia mengajukan filsafat kenabian dengan mengakui wahyu.1
Sedangkan dari pemikiran Muhammad Iqbal, Kuntowijoyo mengambi etika profetiknya, dalam buku the reconstructionof religious thought in Islam, Iqbal mengutip kata-kata Abdul Quddus, Etika profetik seperti inilah yang mendasari lahirnya ilmu sosial profetik. Ilmu sosial profetik dimunculkan sebagai sebuah alternative kreatif ditengah konstelasi ilmu-ilmu sosial yang mempunyai kecendrung positivistik dan hanya berhenti pada usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas secara deskriptif untuk kemudian
6 Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi.(Bandung: Mizan), 1991. Hal 16 7 Ibid. hal 16-17
3
memaafkan keberadaanya.2 Melalui transendensi, Kuntowijoyo hendak menjawab problem hubungan agama dan ilmu sosial. Kuntowijoyo memaknai transendensi dalam arti keimanan kepada Allah yang diderivasikan dari Surat Ali Imran ayat 110:
Yang Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.3Melalui ayat ini pulalah ia meletakkan tiga pilar bagi ilmu sosial profetik yaitu humanisasi (ta’muruna bil ma’ruf), liberasi (tanhauna anil munkar) dan trasendensi (tu’minuna billah).4 Ketiga pilar inilah yang kemudian akan dipakai sebagai landasan untuk mengembangkan ilmu sosial profetik, serta akan menjadi ciri peragdigmatisnya. Penekanan Kuntowijoyo bahwa transendensi harus menjadi dasar dari dua unsurnya yang lain menunjukkan perhatian Kuntowijoyo terhadap signifikansi agama dalam proses theology bulding dalam ilmu sosial.5 Semua nilai yang digali Kuntowijoyo di atas, bersignifikansi sosial, artinya lebih menekankan pada aspek interaksi dengan sesama manusia.Ini tak lepas dari ide-ide Kuntowijoyo yang memang lebih banyak memperbincangkan persoalan sosial umat Islam.6
b. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian misi profetik ilmu dan tanggung jawab ilmuan? 2. Bagaimanakah etika profesi seorang ilmuan?
3. Bagaimana profesionalisme dan tanggung jawab sosial ilmuan?
c. Tujuan
1. Mengetahui pengertian misi profetik ilmu dan tanggung jawab ilmuan. 2. Menjelaskan etika profesi seorang ilmuan
3. Mengetahui bagaimana profesionalisme dan tanggung jawab ilmuan.
2 Muhammad Iqbal, Rekoustruksi Pemikiran Agama Dalam Islam. Terj.Ali Audah dkk. Prolog Ahmad Syafi’i Ma’rif
(Yogyakarta: Jalasutra, 2002), Hal 204-205
3 Depertemen Agama RI, Al-Quran Al-Karim dan Terjemahannya (Semarang: Karya Toha Putra, 2000), Hal 50 4 Kuntowijoyo,Muslim tanpa Msjid, Op.Cit, hal 106
4
Bab II Pembahasan A. Pengertian Misi Profetik Ilmu
Secara etimologis istilah profetik berasal dari bahasa inggris prophetic, yang artinya : (1) of or pertaining to a prophet: prophetic inspiration (dari atau berkaitan dengan seorang nabi: inspirasi kenabian); (2) of the nature of or containing prophecy: prophetic writings (dari sifat atau mengandung nubuat/kenabian: tulisan kenabian); (3) having the function or powers of a prophet, as a person (memiliki fungsi atau kekuasaan seorang nabi, sebagai pribadi); (4) predictive; ominous: propheticsigns; prophetic warnings (prediktif, menyenangkan: tanda-tanda kenabian, peringatan kenabian). 7 Istilah nabi berasal dari kata naba’, yang berarti warta (news), berita (tidings), cerita (story), dan dongeng (tale).8 Dalam kosa kata Arab sendiri, menurut Ibnu manzur kata nabi dinisbatkan pada akar kata al-nubuwah, al-nabawat, dan al-nabi, artinya: tanah yang tinggi, jalan. Jamaknya al-anbiya’ artinya: jalan yang dijadikan petunjuk dan seseorang yang dimuliakan karena kemampuannya.9 Hal ini sejalan dengan pendapat Imam Warasy dan Imam Nafi’ yang
7 http://dictionary.reference.com/browse/prophetic. Kata bahasa Inggris prophecy (kata benda) dalam arti "fungsi
seorang nabi" muncul di Eropa dari sekitar 1225, dari profecie Prancis Lama (abad ke-12), dan dari prophetia Latin Akhir, Yunani prophetia "karunia menafsirkan kehendak para dewa ", dari prophetes Yunani (lihat nabi). Makna "Yang diucapkan atau ditulis oleh seorang nabi". Nubuat Kata berasal dari kata kerja Yunani, προφημι (prophemi), yang berarti "untuk mengatakan sebelumnya, nubuatkan", yang merupakan kombinasi dari kata Yunani, προ dan φημι. Lihat lebih lanjut http://en.wikipedia.org/wiki/Prophecy
8 M. Dawam Rahardjo, 1997, Ensiklopedia Al-Quran, Jakarta: Paramadina, Hal. 302
5
menyatakan bahwa kenabian dari kata Arab nabiy’ dan kemudian membentuk kata nubuwah yang berarti kenabian. Di dalam Al-Qur’an kata nabi beserta derivasinya (seperti an-nabiyyῡn, an-nabiyyῑn, al-anbiyā, an-nubuwwah, disebutkan sebanyak 65 kali.10 Heddy Shri Ahimsa Putra dengan merujuk pada kata profetik yang berasal dari bahasa Inggris, mengartikan ‘prophet’, sebagai nabi, sedangkan prophetic’ diartikan sebagai (1) “Of, pertaining or proper to a prophet or prophecy”; “having the character or function of a prophet”; (2) “Characterized by, containing, or of the nature of prophecy; predictive”. Jadi makna profetik menurut Heddy Shri Ahimsa Putra mempunyai sifat atau ciri seperti nabi, atau bersifat prediktif/ memprakirakan. Profetik di sini dapat kita terjemahkan menjadi “kenabian”.11
Kenabian menurut Hamdani Bakran Adz-Dzakley, mengandung makna: “segala ikhwal yang berhubungan dengan seseorang yang telah memperoleh potensi kenabian”. Nabi adalah seorang hamba Allah yang telah diberi-Nya hikmah, kitab, kemampuan berkomunikasi dan berintegrasi dengan-Nya dan malaikat-Nya serta kemampuan mengimplementasikan kitab dan hikmah itu, baik dalam diri secara pribadi maupun umat manusia dan lingkungannya.12
Dalam al-Qur’an, kata nabi dan rasul memang dipergunakan secara bergantian. Untuk membedakan artinya, ulama melihat pada arti katanya. Dari asal katanya, istilah nabi menekankan segi kesanggupannya menerima berita Ilahi (wahyu).121 13
Hal ini sejalan dengan The Concise Encyclopedia of Islam, yang menyebutkan bahwa makna nabi adalah seorang yang menjalankan tugas kenabiannya dalam kerangka wahyu yang telah ada.14
Salah satu keterangan tentang terma nabi dan rasul dalam al-Qur’an diberikan oleh al- Qur’an surat al-An’am (6): 89, yang artinya: “Mereka adalah orang-orang yang telah Kami beri kitab, hukum dan kenabian (nubuwah). Karena itu jika mereka menolak hal (tiga
10 Moh. Roqib, 2011, Prophetic Education: Kontekstualisasi Filsafat dan Budaya Profetik dalam Pendidikan,
Purwokerto: STAIN Press bekerjasama dengan Buku Litera, Hal. 46-47.
11 Heddy Shri Ahimsa Putra, 2011, Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?, Makalah disampaikan dalam
“Sarasehan Profetik 2011”, diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM, di Yogyakarta, 10 Februari 2011, Hal. 5
12 0 Hamdani Bakran Adz-Dzakley, 2007, Prophetic Psychology: Psikologi Kenabian, Menghidupkan Potensi dan
Kepribadian Kenabian dalam Diri, Yogyakarta: Pustaka al-Furqon, Hal. 44.
13 Muqowim, 2001, Kenabian dalam Al-Qur’an, Jurnal Dakwah, No. 3 Th. II Juli-Desember 2001, Yogyakarta :
Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hal. 116. 113-129
6
kriteria) itu, niscaya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak mengingkarinya”. Menurut Muqowim, ayat di atas memberikan penjelasan bahwa nabi itu mempunyai tiga kriteria. Pertama, menerima wahyu yang kemudian terhimpun dalam suatu kitab; kedua, membawa hukum atau syari’at sebagai pedoman cara hidup, karena itu maka teladan nabi dan rasul itu merupakan sumber hukum, dan; ketiga, berkemampuan memprediksi berbagai hal di masa yang akan datang.15
Pada bagian lain, Al-Quran Surat al-Imran (3) : ayat 79, menyatakan yang artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Berdasarkan firman Allah tersebut, Moh. Roqib menyatakan bahwa nabi adalah hamba Allah yang ideal secara fisik (berbadan sehat dengan fungsi optimal), dan psikis ( berjiwa bersih dan cerdas) yang telah berintegrasi dengan Allah dan malaikat-Nya, diberi kitab suci dan hikmah, bersamaan dengan itu ia mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan dan mengkomunikasannya secara efektif.16
Kenabian adalah derajat tertinggi dan kehormatan yang diperoleh manusia dari Tuhan. Kenabian membuktikan superioritas dari aspek batin seseorang atas orang lainnya. Seorang nabi seperti cabang yang menjulur dari Illahi ke dunia manusia. Dia memiliki intelek tertinggi yang menembus ke dalam realitas dari segala benda dan peristiwa. Lebih jauh lagi, ia adalah makhluk yang ideal, sangat mulia dan aktif.17
Orang-orang biasa tidak dapat memperoleh pengetahuan nabi. Nubuwah (kenabian) adalah sebuah gelar atau anugerah yang tidak dapat dicari, akan tetapi diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang telah mencapai insan kamil (memiliki akal teoritis dan praktis) dengan cara memberikan wahyu kepadanya.
15 Muqowim, 2001, Kenabian dalam Al-Qur’an, Jurnal Dakwah, No. 3 Th. II Juli-Desember 2001, Yogyakarta :
Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hal. 116. 113-129
16 4 Menurut Syahrastani jiwa dan perangai nabi itu mesti memilki semua kesempurnaan natural, berkarakter unggul,
menjunjung kebenaran, jujur dalam berbicara. Lihat Moh. Roqib, Op. Cit, Hal. 47.
17 M. Fetullah Gulen, 2002, Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Hal.
7
B. Tanggung Jawab Ilmuan
Tanggung jawab sosial ilmuwan adalah suatu kewajiban seorang ilmuwan untuk mengetahui masalah sosial dan cara penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Tanggung jawab merupakan hal yang ada pada setiap makhluk hidup. Hal demikian dapat dilihat pada manusia yang menunjukkan tanggung jawabnya dengan merawat dan mendidik anaknya sampai dewasa. Tanggung jawab terdapat juga pada bidang yang ditekuni oleh manusia, seperti negarawan, budayawan, dan ilmuwan. Tanggung jawab tidak hanya menyangkut subjek dari tanggung jawab itu sendiri, seperti makhluk hidup atau bidang yang ditekuni oleh manusia akan tetapi juga menyangkut objek dari tanggung jawab, misalnya sosial,
mendidik anak, memberi nafkah dan sebagainya
(http://iqbalsatu.blogspot.com/2011/10/tanggung-jawab-sosial-ilmuwan-html).
Suriasumantri (2005:253) mengemukakan pengertian revolusi genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaitan dengan jasad manusia, namun penelaahan ini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, dan tidak membidik secara langsung manusia sebagai obyek penelaahan.
Jika dinyatakan bahwa ilmu bertanggung jawab atas perubahan sosial, maka hal itu berarti (1) ilmu telah mengakibatkan perubahan sscial dan juga (2) ilmu bertanggung jawab atas sesuatu yang bakal terjadi. Jadi tanggung jawab tersebut bersangkut paut dengan masa lampau dan juga masa depan. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa apa yang telah terjadi sebenarnya tidak mutlak harus terjadi dan apa yang bakal terjadi tidak perlu terjadi; hal itu semata-mata bergantung kepada keputusan manusia sendiri (Ihsan, 2010: 281). Menurut Abbas Hama (dikutip Surajiyo, 2008:153) Para ilmuwan sebagai orang yang professional dalam bidang keilmuwan sudah barang tentu mereka juga memiliki visi moral, yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah didalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah.
Menurut Abbas (dikutip Surajiyo, 2008:156) sedikitnya ada enam sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan yaitu :
8
1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), artinya suatu sikap diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dengan menghilangkan pamrih atau kesenangan pribadi.
2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan Mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Misalnya hipotesis yang beragam, metodologi yang masing-masing menunjukkan kekuatannya atau cara penyimpulan yang satu cukup berbeda walaupun masing-masing menunjukkan akurasinya.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indra serta budi (mind).
4. Adanya sikap yang mendasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian. 5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingg selalu ada dorongan untuk riset dan riset sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.
6. Harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan negara.
Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seorang ilmuan. Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuan. Kegiatan intelektual yang meninggikan kebenaran sebagai tujuan akhirnya mau tidak mau akan mempengaruhi pandangan moral. Kebenaran berfungsi bukan saja sebagai jalan pikirannya namun seluruh jalan hidupnya. Dalam usaha masyarakat untuk menegakkan kebenaran inilah maka seorang ilmuwan terpanggil oleh kewajiban sosialnya, bukan saja sebagai penganalisis materi kebenaran tersebut namun juga sebagai prototipe moral yang baik (Suriasumantri, 2000: 244).
C. Etika Profesi dan Kode Etik Seorang Ilmuan 1. Etika Profesi Seoranng Ilmuan
Aspek mendasar yang menjadi tantangan ilmuwan di era sekarang ini adalah etika. Realitas kehidupan yang sarat anomali dan kontradiksi dengan etika menjadi tantangan yang tidak mudah untuk ditundukkan. Pada kondisi semacam
9
ini, seorang ilmuwan sejati harus memiliki landasan etika yang kuat. Jika tidak maka ia akan kehilangan arah dan titik pijak dalam menjalankan tugas dan perannya.
Pertama, etika menjadi signifikan perannya saat seorang ilmuwan melakukan interaksi. Salah satu bentuk interaksinya adalah interaksi dengan kekuasaan. Seorang intelektual tidak boleh mengorbankan ilmunya untuk kepentingan praktis. Hal ini penting menjadi perhatian karena tidak jarang atas nama kepentingan diri dan pragmatisme, seorang ilmuwan mengorbankan nilai kebenaran. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya kaum intelektual itu telah berkhianat kepada fungsinya yang mendasar. 18
Kedua, selain interaksi dengan kekuasaan, etika juga penting dalam kaitannya dengan tugas mendasar seorang ilmuwan, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan harus dibungkus dengan bingkai etika moral yang jelas. Hal ini penting dilakukan agar ilmu pengetahuan yang dikembangkan tidak semena-mena terhadap kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan justru merusak terhadap kehidupan manusia. Produk keilmuwan harus bermanfaat untuk seluruh umat manusia. 19
Etika Profesi seorang ilmuwan yaitu sebagai berikut: 20
1) Tidak ada rasa pamrih, artinya suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dengan menghilangkan pamrih atau kesenangan pribadi.
2) Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap berbagai hal yang dihadapi
3) Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera.
18 Maftukhin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung: ILMUWAN, ETIKA DAN STRATEGI
PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI INDONESIA, Vol. 10, No. 1, Juni 2015, hlm. 207
19 M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan IntegratifInterkonektif (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006), h. 105
20 Najia Saida, “Etika Profesi Seorang Ilmuwan dan Kode Etik Ilmuwan”, diakses dari
10
4) Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan(belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5) Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan.
6) Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu dan kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan negara
2. Kode Etik Ilmuan
Kode etik merupakan acuan moral bagi peneliti dalam melaksanakan hidup, terutama yang berkenaan dengan proses penelitian untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan teknologi. Ini yang menjadi suatu bentuk pengabdian dan ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.21
1) Membaktikan diri pada pencarian kebenaran ilmiah 2) Bekerja dengan jujur
3) Dilarang memanipulasi data. 4) Dilarang plagiarisme
5) Selalu bertindak tepat, teliti dan cermat 6) Berlaku adil dan hormat terhadap orang lain.
7) Perlunya etika dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
D. Profesionalisme dan tanggung jawab sosial ilmuwan
Berbicara tentang tanggung jawab ilmuwan tentu lebih banyak berkaitan dengan aksiologi,bukan dalam epistemologi semata. Ada dua kutub yang berkenaan dengan aksiologi, pertama yang berpandangan bahwa seorang ilmuwan harus netral, tidak ikut bertanggung jawab22. Ia hanya dituntut dalam epistemologi, tetapi dari segi aksiologi berlepas diri. Kedua, bahwa seorang ilmuwan dibebani tanggung jawab seorang ilmuwan
21Najia Saida, “Etika Profesi Seorang Ilmuwan dan Kode Etik Ilmuwan”, diakses dari
https://prezi.com/p/kfnlna7e_5-z/etika-profesi-seorang-ilmuwan-dan-kode-etik-ilmuwan/, pada tanggal 19 Maret 2021 Pukul 20.00
11
menyangkut tanggung jawab moral segi profesional dan segi moral atau dimaksudkan dengan tanggung jawab segi profesional adalah dalam kaitan epistemologi, mencakup asas kebenaran, kejujuran, tanpa kepentingan langsung, menyadarkan kepada kekuaan argumentasi, rasional, obyektif ,kritis, terbuka, pragmatis, dan netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatis dalam menafsirkan hakikat realitas. Sedangkan yang dimaksud dengan tanggung jawab moral adalah dalam hubungan bentuk membentuk tanggung jawab sosial yakni pada dasarnya ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan manusia. Ilmu digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestarian lingkungan alam (Buseri K. , 2014)
Seorang ilmuwan sejati selalu terkait dengan tanggung jawab profesional dan tanggung jawab moral itu. Dia tidak bisa dipengaruhi oleh kekuatan apapun, politik, karisma tertentu, kelompok, golongan untuk berbuat tanpa didasari oleh kedua tanggung jawab tersebut.23 Sehubungan dengan politik yang menentukan keputusan berkenaan dengan penerapan ilmu dan teknologi dan karena keputusan politik itu mengikat semua orang dari suatu wilayah politik, maka ilmuwan harus betul-betul mampu bersikap sebagai ilmuwan sejati. Hubungan antara ilmuwan dan politik banyak dibicarakan yang antara keduanya mempunyai bidang garapan yang berbeda. Dan keduanya hanyaberbeda dari sudut fungsional namun dari segi tanggung jawab moral tetap harus sama. Ilmuwan terutama ilmuwan sosial, harus mampu secara obyektif, memberikan penilaian terhadap kondisi soisal sesuai dengan disiplin ilmunya untuk selanjutnya diketengahkan kepada masyarakat. seorang ilmuwan dalam kaitan dengan kondisi seperti yang dikemukakan diatas harus memiliki empat dasar menyangkut kebenaran, kejujuran, tidak mempunyai kepentingan langsung, menyadarkan diri pada kekuatan argumentasi untuk menilai kebenaran.
➢ Tanggung Jawab Ilmuwan di Masyarakat
Suriasumantri (2000:237) mengemukakan Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial.
23 Buseri, K.2014. Ilmu, Ilmuwan dan Etika Ilmiah. Al-Banjari, Vol.13, No.2, De, V. 1987. Pengantar Etika.
12
Kreativitas individu yang didukung oleh sistem komunikasi sosial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu yang berjalan secara efektif.24 Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Jika dinyatakan bahwa ilmu bertanggung jawab atas perubahan sosial, maka hal itu berarti ilmu telah mengakibatkan perubahan sosial dan juga ilmu bertanggung jawab atas sesuatu yang bakal terjadi. Jadi tanggung jawab tersebut bersangkut paut dengan masa lampau dan juga masa depan Ilmuwan berdasarkan pengetahuannya memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Umpamanya saja apakah yang akan terjadi dengan ilmu dan teknologi kita di masa depan berdasarkan proses pendidikan keilmuan sekarang. Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan juga harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari25. Tanggung jawab ilmu atas masa depan pertama-tama menyangkut usaha agar segala sesuatu yang terganggu oleh campur tangan ilmu bakal dipulihkan kembali. Campur tangan ilmu terhadap masa depan bersifat berat sebelah, karena sekaligus tertuju kepada keseimbangan dalam alam dan terhadap keteraturan sosial. Gangguan terhadap keseimbangan alam misalnya pembasmian kimiawi terhadap hama tanaman, sistem pengairan, dan sebagainya. Perlu diingat bahwa keberatsebelahan itu sebenarnya bukan hanya karena tanggung jawab ilmu saja, melainkan juga oleh manusia sendiri.26
Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Bukan saja jalan pikirannya mengalir melalui pola-pola yang teratur namun juga segenap materi yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dengan teliti. Seorang ilmuwan tidak menolak atau menerima sesuatu begitu saja tanpa suatu pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuwan dibandingkan dengan cara berpikir seorang awam.27Untuk memahami ihwal tanggung jawab manusia , kiranya baik juga
24 Suriasumantri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Hal-237 25 Suriasumatri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer Hal-241 26 Ihsan,Fuad Filsafat Ilmu Hal-282
13
diketengahkan dengan singkat alam pikiran Yunani Kuno. Menurut alam pikiran Yunani Kuno, ilmu adalah theoria, sedangkan keteraturan alam dan keteraturan masyarakat selalu menurut kodrat Ilahi. Setiap keteraturan adalah keteraturan ilahi dan alam (karena mempunyai keteraturan) bahkan dianggap sebagai Ilahi atau sebagai hasil pengaturan Ilahi 28. Di bidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil di depan bagaimana caranya bersifat obyektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggapnya benar, dan kalau perlu berani mengakui kesalahan. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Demikian juga dalam masyarakat yang sedang membangun maka dia harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan suri teladan. Jadi bila kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secarq intelektual maupun secara moral , maka salah satu penyangga masyarakat modern akan berdiri dengan kukuh. Berdirinya pilar penyangga keilmuan itu merupakan tanggung jawab sosial seorang ilmuwan. Tanggung jawab juga menyangkut penerapan nilai-nilai etis setepat-tepatnya bagi ilmu di dalam kegiatan praktis dan upaya penemuan sikap etis yang tepat, sesuai dengan ajaran tentang manusia dalam perkembangan ilmu.
14
Bab III Penutup A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian makalh tersebut sebagai berikut : 1. Misi profetik ilmu dan tanggung jawab ilmuwan yaitu sifat yang ada dalam diri seorang
nabi yang mempunyai ciri sebagai amnusia yang ideal secara spiritual individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat kearah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan.
2. Etika keilmuwan bertujuan agar manusia terinspirasi, termotivasi dan terpacu mengembangkan ilmu untuk kemaslahatan umat dan bukan untuk mencelakakan diri dan generasinya.
3. Tanggung jawab ilmuwan untuk menghantarkan kepada tujuan hakiki yaitu memajukan keselamatan manusia dan mewujudkan sebagaimana seharusnya dan mencegah kehancuran manusia.
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Moral adalah sistem nilai (sesuatu yang dijunjung tinggi) yang berupa ajaran (agama) dan paham (ideologi) sebagai pedoman untuk bersikap dan bertindak baik yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Jadi hubungan antara ilmu dan moral adalah sangat erat bahwa setiap usaha manusia untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman dari berbagai segi harus berpedoman pada ajaran agama dan paham ideologi dalam bersikap dan bertindak. Sementara itu tanggung jawab ilmuwan di masyarakat adalah suatu kewajiban seorang ilmuwan untuk mengetahui masalah sosial dan cara penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
15
B. Saran
Saran yang dapat penulis berikan yaitu sebaiknya kita sebagai mahasiswa harus mempunyai sifat profetik sehingga dapat menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan.
16
Daftar Pustaka
Gulen, M. F., & Santoso, T. W. B. (2002). Memadukan akal dan qalbu dalam beriman. PT RajaGrafindo Persada.
Muqowim, M. (2001). Mencari Format Baru Pendidikan Islam dalam Masyarakat Plural. Ta'dib:
Jurnal Pendidikan Islam, 4(2).
Masduki, M. (2017). Pendidikan Profetik; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 9(1), 1-22.
Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta. Prawironegoro, Darsono. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta : Nusantara Consulting.
Surajiyo. 2009. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun S. 2000. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Buseri, K. (2014). Ilmu, Ilmuwan dan Etika Ilmiah. Yogyakarta: Pengantar Etika. https://prezi.com/p/kfnlna7e_5-z/etika-profesi-seorang-ilmuwan-dan-kode-etik-ilmuwan/