Misi Profetik Ilmu dan Tanggung jawab ilmuan
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Islam Dalam Disiplin Ilmu/IDI Dosen Pengampu : Amirullah, S.Pd.I., M.A
Disusun Oleh:
1. Muhamad Ikhsan Muzaki (1901075012) 2. Fahreji Fajar (1901075016) 3. Mochammad Alfeno S. M (1901075061) 4. Tiara Lulu Arafah latarisa (1901075054) 5. vika aulia Wulandari (1901075032) 6. Roby Setyadi (1901075045)
A. Pengertian misi profetik ilmu
Dalam KBBI, profetik diartikan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan kenabian atau ramalan. Dalam pandangan profetik, seorang Nabi dipahami sebagai sosok manusia yang diberi kemampuan oleh Tuhan nya (Dzat yang diyakini sebagai pencipta seluruh yang ada di dunia ini dan segala isinya) merupakan Yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan yang beraneka ragam, yang memiliki perbedaan-perbedaan baik dari suku maupun bangsa, Dzat atau Tuhan ini dikenal dengan nama yang berbeda di setiap agama yang diyakini. Dalam Islam, Tuhan yang ada dalam Islam ialah Allah SWT. Di kalangan orang Yahudi yakni Yehovah, pada orang-orang Hindu di Bali dikenal dengan Hyang Widhi, dan lainnya.
Dalam Islam Allah SWT memilih manusia-manusia istimewa untuk dapat berhubungan dengan nya baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui perantara Malaikat). Allah SWT memilih mereka untuk dapat menunjukan kebesaran Allah SWT kepada umat manusia yang ada di bumi. Hal tersebut dikenal dengan nama Mukjizat.
Mukjizat adalah keadaan yang luar biasa, sampai tidak dapat dijangkau dengan akal sehat atau nalar. Oleh sebabnya semua mukjizat hanya dapat dilakukan dengan izin Allah SWT.
Mukjizat yang diterima sejak mereka diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul sampai wafat. Kecuali mukjizat dari Nabi Muhammad yang dapat berlaku sampai akhir zaman. Bagi para umat muslim, mempercayai pengertian mukjizat ini adalah sebuah kewajiban. Semua
mukjizat yang telah ada dan diterima kepada para Nabi dan dipercayai oleh umat manusia,maka manusia dapat mengelola alam yang telah diwariskan oleh Allah SWT.
Sebagai manusia yang mempercayai Allah SWT dan mukjizat yang diberikan kepada para Nabi, maka untuk semua itu,kita juga harus memiliki ilmu di dalamnya. Allah SWT bahkan mengangkat derajat suatu bangsa karena ilmu sehingga mereka menjadi pemuka yang dipatuhi dan diikuti jejak langkahnya. Maka dapat dikatakan profetik ilmu yakni: Ilmu merupakan karunia yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia, yang menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaannya yang paling mulia diantara makhluk lainnya. Manusia diciptakan dengan pengetahuan agar manusia dapat menerima pengetahuan yang telah dianugrahkan kepadanya (Heddy Shri Ahimsa-Putra, 2019).
Maka misi pada profetik ilmu dapat dikatakan sebagai suatu cita-cita profetik yang diturunkan dari misi historis Islam. Yang terpenting didalamnya adalah dapat melayani umat, menjadi bagian dari inteligensi kolektif,mampu mengarahkan umat ke arah evolusi sosial secara rasional (Ferdiansyah, 2017).
B. Tanggung Jawab Seorang Peneliti atau Ilmuan
Dalam Bebagai macam cabang ilmu tentu saja memiliki seseorang atau lebih yang memiliki pendalaman yang mendalam tentang suatu cabang ilmu tersebut. dan dalam mecari sesuatu tentang suatu kajian yang berkaitan dengan ilmu tersebut tentu seorang ilmuan banyak melibatkan beberapa aspek sehingga mereka juga mempunyai tanggung jawab akan ilmu yang akan dihasilkan dan ditampilkan. Secara garis besar ilmuwan tetaplah bagian dari masyarakat, yang membedakannya adalah cara pikirnya sehingga mereka disebut sebagai ilmuan. Dan pada saat seorang ilmuan terjun ke masyarakat untuk meneliti dan kembai lagi untuk memberikan hasil maka sudah seharusnya hasil tentang apa yang diteliti itu dapat berguna dengan baik oleh masyarakat.
Banyak aspek tanggung jawab yang diemban oleh ilmuan, baik itu tanggung jawab moral, sosial, dan lain-lain. Berikut penjelasan terkait tanggung jawab dari seorang Ilmuan :
a. Tanggung Jawab Sosial
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa ilmuan merupakan bagian dari masyarakat. Tentu saja ilmuan merupakan masyarakat yang memiliki fungsi lebih didalamnya. Fungsi tersebut dapat dilihat dari apa yang mereka teliri, apakah penelitian mereka akan membawa manfaat untuk masyarakat atau tidak. Menurut Jujun Suriasumantri
dalam Surajiyo mengatakan bahwa konteksasi kebermanfaatan tentang apa yang dihasilkan oleh ilmuwan tersebut bukan hanya bermanfaat untuk satu atau bahkan hanya untuk segelintir orang saja, namun harus memiliki jangkauan kebermanfaatan yang sangat luas. Segala bentuk dari hasil penelitian sorang ilmuan baik itu teknologi atau sebagainya harus mampu menyentuh kebermanfaatan sehingga dapat digunakan oleh manusia dengan ruang lingkup yang luas (Surajiyo, 2019).
Pemilahan baik dan buruknya suatu penelitian tentu harus menjadi kunci untuk meminimalisir segala jenis kerusakan yang disebabkan oleh hasil penelitian yang akan seorang peniliti atau ilmuan lakukan. Oleh sebab itu seorang ilmuan harus mempunya aspek yang bisa dijadikan sebagai landasan mereka dalam memilah hal tersebut. sejarah sudah menulis banyak kasus yang memperlihatkan bagaimana hasil dari penelitian seorang ilmuan disalah gunakan. Contohnya adalah terciptanya sistematika perhitungan yang kelak menjadi bom atom yang pada akhirnya dijadikan senjata pemusnah massal.
b. Tanggung Jawab Moral
Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seorang ilmuan. Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuan. Kegiatan intelektual yang meninggikan kebenaran sebagai tujuan akhirnya mau tidak mau akan mempengaruhi pandangan moral. Kebenaran berfungsi bukan saja sebagai jalan pikirannya namun seluruh jalan hidupnya. Dalam usaha masyarakat untuk menegakkan kebenaran inilah maka seorang ilmuwan terpanggil oleh kewajiban sosialnya, bukan saja sebagai penganalisis materi kebenaran tersebut namun juga sebagai prototipe moral yang baik
C. Tanggung Jawab Ilmuan Dalam Islam
Dalam Abu Barzah Al-Islami, Rasulullah pernah berkata bahwa
“Tidak bergeser kedua telapak kaki hamba pada hari kiamat sehingga ia ditanya umurnya, hal apa yang dia habiskan, tentang ilmunya, dalam hal apa ia perbuat, tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya, hal apa yang diperbelanjakan, dan apa yang mereka gunakan dengan hartanya.”
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam islam tanggung jawab manusia khusunya seorang ilmuan adalah sangat berat. Karena mereka akan mengemban tentang seluruh hal yang berkaitan dengan ilmu yang mereka dapatkan, apakah ilmu itu bermanfaat
untuk sekitar dan lain-lain. Dengan karena itu maka sebagai calon pendidik kita harus menyebarkan ilmu kita dengan sebaik mungkin karena bisa saja dengan ilmu itu akan membawa kita ke alam surga nanti.
D. ETIKA KEILMUWAN a) Etika
1. Pengertian Etika Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.
Etika merupakan ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq), nilai mengenai benar dan salah yang dimuat suatu golongan atau masyarakat Dalam khazanah pemikiran Islam, etika diartikan sebagai al-akhlaq. Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlaq” berasal dari bahasa arab, jama’ dari bentuk mufrodnya khuluqun yang diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segisegi penyesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian serta erat hubungan khaliq yang berarti penciptaan makhluq yang berarti diciptakan.(Ii & Etika, n.d.) 2. Tujuan Etika
Menciptakan nilai moral yang baik. Etika harus benar-benar dimiliki dan diterapkan oleh setiap manusia, sebagai modal utama moralitas pada kehidupan di masyarakat.Etika yang baik, mencerminkan perilaku yang baik, sedangkan etika yang buruk, mencerminkan perilaku kita yang buruk dan akan menciptakan suatu keluaran yaitu berupa penilaian di masyarakat.
Objektif Teori Contoh Simpulan T 3. Macam-macam Etika
Menurut Bretens, etika dibedakan dalam tiga jenis yaitu etika diskriptif, etika normatif, dan meta etika. Sedangkan Menurut De Vos, etika terbagi menjadi dua saja yaitu etika diskriptif dan etika normatif. Etika diskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu- individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultursubkultur tertentu dalam suatu periode sejarah dan sebagainya
I. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan
rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
II. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normative memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
III. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teoriteori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat
di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
IV. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis: cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidankan,dan teori serta prinsip moral dasar yang ada
dibaliknya.(Farid, 2020)
Profesionalisme Ilmuwan Muslim
Rasa ingin tahu merupakan salah satu dorongan yang membuat manusia membawa kemajuan. Namun kemajuan yang diciptakan oleh manusia tidak dapat begitu saja terlepas dari semangat profesionalisme dan etika yang memadai, ilmu yang berkembang tanpa adanya landasan etik dapat mengancam peradaban manusia.
Profesionalisme merupakan keahlian khusus seseorang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Profesionalisme diartikan sebagai upaya seseorang dalam meningkatkan kedisplinan ilmunya, sehingga dapat mendalami ilmu yang dikuasainya.(Binti Muliati, n.d.) Jadi, profesionalisme adalah sikap bersungguh-sungguh seseorang dengan disiplin dan dedikasi untuk mencapai hasil kerja yang memuaskan.
Tujuan dan sarana dari ilmu harus mengandung nilai-nilai agama, maksudnya kegiatan ilmiah tidak boleh bebas dari nilai agama. Karena ilmuwan yang melepaskan diri dari nilai-nilai agama akan terperangkap arogansi intelektual dan menjadikan perkembangan ilmu yang dipesonalisasi dan dehumanisasi. Oleh karena itu, agama menjadi pengendali terhadap perkembangan ilmu, karena profesionalitas akan berhadapan langsung dengan dunia yang membutuhkan daya pertimbangan cepat untuk memutuskan suatu Tindakan yang akan diambil.
Seorang muslim dapat menjadikan sifat-sifat Nabi Muhammad sebagai landasan dalam mengembangkan profesionalisme seseorang. Yaitu:
Shidiq
Shidiq memiliki arti kejujuran. Untuk membangun profesionalisme seseorang, kejujuran memiliki peran yang penting dan sangat mendasar. Tanpa kejujuran apapun usaha yang dilakukan akan mengalami kehancuran.
Amanah
Amanah memiliki arti bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Jika seseorang diberikan suatu pekerjaan maka orang tersebut harus dapat melaksanakan pekerjaannya secara sungguh-sungguh.
Tabligh
Tabligh memiliki arti komunikatif. Seorang profesional harus dapat menyampaikan usahnya secara transparasi sehingga pekerjaannya dapat berjalan dengan baik
Fathanah
Fathanah artinya cerdas. Dengan memiliki kecerdasan seseorang professional dapat menangkap peluang dengan cepat dan tepat.
Profesionalisme menjadi penyebab majunya ilmu pengetahuan. Namun hal tersebut harus dilandasi dengan ketaqwaan sebagai pengontrol kemajuan ilmu. Islam dapat memicu perkembangan ilmu dan dapat mengendalikan kemajuan ilmu agar ilmuwan tidak terpengaruh pengkultusan ilmu atau pendewaan akal manusia.
Refrensi:
1. Ahimsa-Putra, H. S. (2019). Paradigma Profetik Islam: Epistemologi etos dan model.
UGM PRESS. (BUKU)
2. Ferdiansyah, F. (2017). Nilai Profetik Dan Pendidikan Islam Humanistik Dalam Novel 99 Cahaya Di Langit Eropa Karya Hanum Salsabiela Dan Ranggaalmahendra:
Kajian Semiotik Dan Relevansinya Dalam Pembelajaran Sastra Indonesia Di Sma. Kajian Linguistik dan Sastra, 2(1), 49-60.
3. Baihaqi, W. (2002). Tanggungjawab Ilmuwan Muslim Dalam Masyarakat. In Alqalam (Vol. 19, Issue 92, p. 146).
4. Surajiyo. (2019). Tanggung Jawab Moral dan Sosial Ilmuwan : Sikap Ilmiah Ilmuwan Di Indonesia. Prosiding Comnews 2019, 414–424.
5. AKSIOLOGI : ILMU, MORAL, TANGGUNG JAWAB SOSIAL ILMUWAN, DAN
REVOLUSI GENETIKA
(https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/d4c08843cfc73356ccaa48359 13cc7c0.pdf)
6. Farid. (2020). Etika Profesi. Etika Profesi, 89. https://prodi4.stpn.ac.id/wp-
content/uploads/2020/2020/Modul/Semester 7/MODUL_etika_d4 2019/etika profesi d4 2019.pdf
7. Ii, B. A. B., & Etika, A. (n.d.). Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Balai Pustaka, Jakarta, 1993. h. 5 1 20. 20–50.