• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada Bab ini membicarakan tentang hasil penelitian yang dilakukan di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BABV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada Bab ini membicarakan tentang hasil penelitian yang dilakukan di"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

5.1 Umum

Pada Bab ini membicarakan tentang hasil penelitian yang dilakukan di Laboraturium Bahan Konstruksi Teknik dan pembahasan mengenai hasil penelitian yang diperoleh. Hasil penelitian yang diperoleh meliputi : berat jenis agregat kasar, berat jenis agregat halus, gradasi pasir, nilai slump, persentase penambahan superplasticizier, hasil pengujian kuat tarik, kuat geser, kuat lentur dan permeabilitas.

5.2 Data-data hasil pengujian laboraturium

Data-data pengujian bahan dilaboraturium yang meliputi pengujian pemeriksaan berat jenis dan kadar air pasir, pemeriksaan berat jenis dan kadar air kerikil, pemeriksaan berat volume agregat kasar, modulus halus butir (MHB) agregat halus, dan gradasi pasir. Untuk lebih lengkapnya terlampir pada lampiran II.

Dari hasil pengujian di laboraturium diperoleh berat jenis jenuh kering muka pasir = 2,621 gr/cm3, berat jenis jenuh kering muka agregat kasar = 2,643 gr/cm3, Modulus Halus Butir = 2,7345, dan hasil analisa ayakan masuk daerah : 2

(dua) dan Jenis pasir : agak kasar.

Agregat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan beton, pada beton biasanya terdapat sekitar 60% sampai 80% volume agregat.

Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen, dan rapat, dimana agregat yang kecil berfungsi sebagai pengisi celah yang ada di antara agregat yang berukuran besar (Nawy, 1990). Agregat untuk beton harus memenuhi ketentuan dari mutu dan cara uji agregat beton dalam Standar Industri Indonesia ataupun persyaratan dari ASTM tentang Specificationfor Concrete Agregate (Wahyudi dkk, 1997).

40

(2)

5.3

Pengaruh pengurangan air dan penambahan Superplasticizier terhadap

workabilitas

Tabe 5.1 Hasil uji slump/c \55 MPa

Variasi

Pengurangan

air

(%)

fas

slump

awal

(mm)

penambahan superplasticizier

terhadap berat semen (%)

slump

akhir

(mm)

B 35 - OSP 0 0,40 90 0,4511 170,0

B 35 - 5SP 5 0,38 10 0,5639 180,0

B35-10SP 10 0,36 0 0,9023 162,5

B35- 15SP 15 0,34 0 1,3534 182,5

B 35 - 20SP 20 0,32 0 1,5789 189,0

B 35 - 25SP 25 0,30 0 1,9173 180,0

B 35 - 30SP 30 0,28 0 2,4812 185,0

Tabel 5.2 Hasil uji slump/c 40 MPa

Variasi

B 40 - OSP B 40 - 5SP B 40 - 10SP B40-15SP B 40 - 20SP B 40 - 25SP B 40 - 30SP

Pengurangan

air

10 15 20 25 30

fas

0,36 0,34 0,32 0,31 0,29 0,27 0,25

slump

awal

(mm)

65 0

0

penambahan superplasticizier

terhadap berat

semen

0,8125 1,0156 1,1172 1,2187 1,5234 1,5234 2,4375

slump

akhir

(mm) 182,5 190,0 197,5 197,0 185,0 183,5 192,5

(3)

3 0 -

^e ^ 2,5 - 2,4812

Ph CZ5 X!1

OS

2,0 -

1,5789 ^^T

1,5 -

^^.^—K^"^ 1,9173

s

es c

1,0- 0,4511

0,9023 ^"*

1,3534

a.' 0,5 i 0 0 -

1 0^5639

0 5

! | : —J

10 15 20 25 30

Pengurangan air (%i-*—grafik pengurangan air i

j dengan penambahan SP !

Gambar 5.1 Hub. Pengurangan air dengan Penambahan superplasticizierf c35 MPa

dengan slump > 150 mm.

10 15 _.

•j —♦-»GrafikPengurangan air

PellgUrahgati air (% detigan penambahan SP 40 i

20_ J£_ JQ_

MPa

Gambar 5.2 Hub. Pengurangan air dengan Penambahan superplasticizierfc 40 MPa

dengan slump > 150 mm.

Ket: SP : Superplasticizier

Dalam penelitian ini memakai bahan tambah superplasticizier (Sikament NN)

yang dilakukan sedikit demi sedikit untuk mengontrol slump yang diinginkan. Dari

(4)

segi workabilitas, berapapun slump yang diinginkan dapat dibuat, tetapi masalah

yang akan timbul adalah pada prosespengerasan awal dan kuat tekan beton.

Workabilitas (kemudahan pengerjaan) beton dapat dilihat dari nilai slump yang terjadi. Semakin besar nilai slump berarti tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton semakin tinggi, demikian pula sebaliknya. Nilai slump yang ingin dicapai setelah penambahan superplasticizier adalah >150 mm. Slump rencana pada penelitian ini adalah 30-60 mm, tetapi tabel 5.1 dan 5.2 diatas memperiihatkan data

slump awal yang melebihi nilai slump rencana tersebut. Hal ini dikarenakan

perbedaan kondisi agregat, karena kurangnya pengawasan terhadap agregat menyebabkan kondisi agregat ada yang berbeda dalam tiap pengadukan.

Pada tabel 5.1 untuk/c 35 MPa dapat dilihat bahwa pada variasi B35-0A-SP nilai slump awal yang didapat dari hasil pengujian slump sebelum penambahan superplasticizier adalah sebesar 90 mm, setelah dilakukan penambahan superplasticizier sebesar 0,4511% dari berat seman nilai slump naik menjadi 170 mm

atau mengalami kenaikan sebesar 80%, ini menunjukkan bahwa workabilitas adukan

beton yang terjadi semakin tinggi dengan ditambahkannya Sikament-NN kedalam

adukan beton, superplasticizier (Sikament NN) itu sendiri digolongkan sebagai High

Range Water- Reducer mampu meningkatkan kinerja kelecakan atau workabilitas

adukan beton dan mengurangi terjadinya bleeding dan segregation.

Pada variasi B35-5A-SP slump awal hanya 10 mm, hal ini menunjukkan bahwa workability beton sangat kecil sehingga sangat sulit pada proses pengerjaannya, dan setelah dilakukan penambahan superplasticizier sebesar 0,5639%

dari berat semen nilai slump naik menjadi 180 mm atau mengalami kenaikan sebesar 170%, dengan kenaikan nilai slump tersebut maka workabillity dari beton juga naik sehingga memudahkan dalam proses pengerjaannya.

Pada hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan pengurangan air

(sebagai pelumas) maka slump yang diperoleh akan lebih rendah dari slump rencana

yaitu 30-60 mm dan semakin banyak pengurangan air (sebagai pelumas) maka

(5)

superplasticizier yang di butuhkan juga semakin banyak. Kriteria kekefektifan

penambahan superplasticizier akan berkurang seiring meningkatnya workabilitas adukan (Naelan dkk, 1994). Hal ini terbukti pada variasi B35-30A-SP, dimana

kebutuhan superplasticizier meningkat yaitu 2,4812 %dari berat semen, sehingga

menyebabkan hasil yang diperoleh tidak lagi efektif. Selain itu didalam butiran semen

mengandung ion negatif, sehingga jika bereaksi dengan superplasticizier akan membuat beton menjadi lebih plastis/encer sehingga workabilitas beton menjadi lebih

tinggi (Smith, dkk).

Swamy (1989) juga mengatakan bahwa dengan pemakaian superplasticizier akan meningkatkan workabilitas sebesar 12%. Hal ini sesuai dengan pegadukan beton variasi B35-0A-SP dengan peningkatan workabilitas dari 90 mm menjadi 170 mm atau sekitar 80%. Kombinasi fas rendah dengan superplasticizier tinggi dengan sendirinya menghasilkan adukan beton lebih kohesif dan memiliki sifat mengalir yang baik, bleeding dan segregation dapat dikatakan tidak terjadi, walaupun ada relatif kecil sehingga boleh diabaikan (Ilham, 2003).

Pengadukan beton untuk semua variasi yang ada di tabel 5.1 dapat mencapai nilai slump lebih dari 150 mm dengan sifat-sifat workabilitasnya hampir sama.

Campuran pasta semen teriihat berwarna agak kecoklatan yang menunjukkan bahwa antara pasta dengan superplasticizier sudah tercampur dengan merata. Pada saat proses pengadukan, campuran beton yang sudah diberi superplasticizier diaduk selama kurang lebih 40 - 65 menit, hal ini dimaksudkan agar beton segar yang baru dituang tidak langsung mengeras sebelum dilakukan proses pemadatan pada selinder (Hastoro dan Syafrudin, 2005). Dari hasil penelitian diperoleh juga bahwa semakin

lama adukan beton berada di mesin molen maka adukan akan semakin merata dan

pengerasan diawal dapat dihindari. Dari tabel 5.1 teriihat bahwa nilai slump setelah

penambahan superplasticizier akan meningkat lebih dari 150 mm. Hal ini sesuai

dengan yang dikatakan Swamy (1989), bahwa dengan penggunaan superplasticizier

nilai slump yang didapat antara 15-25 cm.

(6)

5.4 Pengaruh pengurangan air terhadap Kuat Tarik-Belah beton

Menurut SK SNI M-60-1990-03 Kuat tarik-belah benda uji selinder beton merupakan nilai kuat tarik tidak langsung dari benda uji beton berbentuk selinder

yang diperoleh dari hasil pembebanan benda uji yang diletakkan mendatar sejajar

dengan permukaan meja penekan mesin uji tekan.

Tabel 5.3 Hubungan kuat tarik dengan pengurangan air (fc 35 MPa)

Variasi

B35-0A-SP B35-5A-SP B35-10A-SP B35-15A-SP B35-20A-SP B35-25A-SP B35-30A-SP

Pengurangan

a i r

0 5

10 15 20 25 30

Penambahan

SP terhadap

berat semen (%)

0,4511 0,5639 0,9023 1,3534 1,5789 1,9173 2,4812

kuat tekan

/c (MPa)

34,6624 36,1256 45,9095 50,9440 52,2445 61,9080 70,0269

fct (MPa)

3,6309 4,3004 4,4984 4,7647 4,8381 5,2036 4,4014

kuat tarik

penambahan

% 0,0000 18,4409 23,8931 31,2287 33,2485 43,3158 21,2225

0,56VA

3,2970 3,3659 3,7944 3,9970 4,0477 4,4062 4,6862

Tabel 5.4 Hubungan kuat tarik dengan pengurangan air (fc 40 MPa)

Pengurangan

Penambahan kuat tekar

Variasi SP terhadap

air (%) berat

semen (%)

fc (MPa)

B40-0A-SP 0 0,8125 41,9822

B40-5A-SP 5 1,0156 45,6540

B40-10A-SP 10 1,1172 46,3109

B40-15A-SP 15 1,2187 49,0151

B40-20A-SP 20 1,5234 51,6245

B40-25A-SP 25 1,5234 54,0931

B40-30A-SP 30

2,4375 1

62,1899

fct (MPa)

3,1356 3,5126 3,6325 3,8132 4,3075 4,4310 5,4439

kuat tarik

penambahan

%

0,0000 12,0251 15,8490 21,6116 37,3752 41,3131 73,6181

0,56<fc

3,6284 3,7838 3,8109 3,9206 4,0236 4,1187 4,4162

Ket: Data Kuat tekan diambil dari data bersama Sutrino dan Hardiman, 2006

% kuat tarik

terhadap

10,4749 11,9041 9,7984 9,3529 9,2604 8,4054 6,2853

% kuat tarik

terhadap

7,4688 7,6940 7,8438 7,7797 8,3439 8,1914 8,7537

P/'%-- <>'

,,w\

(7)

6 -

5 -

£3 -

«

•**2. ~

S

•*1 ~

0

4,7647 ^ 0 ,

^ -»- 5,2036 ^->s^

_^@— 4,8381 ^*©

&-—•""—4,3004 4'4984 4>4(?14

3,6309

; j

-Air 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%

+ SP 0,4511% 0,5639% 0,9023% 1.3534% 1,5789% 1,9173% 2,4812%

jumlah pengurangan air (%) j

Gambar 5.3 Hub.kuat tarik dengan pengurangan air pada mutu beton/c 35 MPa

dengan slump > 150 mm.

- Air 0% 5% 10%

5,4439

15% 20% 25% 30%

+ SP 0,8125% 0,0156% 1,1172% 1,2187% 1,5234% 1,5234% 2,4375%

pengurangan air (%)

Gambar 5.4 Hub.kuat tarik dengan pengurangan air pada mutu beton fc 40 MPa

dengan slump > 150 mm.

Pada tabel 5.3 untuk/c 35 MPa dan 5.4 untuk/c 40 MPa memperiihatkan

bahwa kenaikan kuat tekan tidak selalu berbanding lurus dengan kuat tarik. Kenaikan

(8)

kuat tekan yang tinggi hanya diiringi dengan kenaikan kuat tarik yang rendah. Seperti yang teriihat pada tabel 5.3, pada variasi/c 35 MPa mulai dari 0% pengurangan air sampai pada 25% mengalami kenaikan kuat tarik dan mencapai nilai optimum pada

pengurangan air 25% yaitu sebesar 5,2036 MPa atau 43,3158% dari nilai kuat kuat

tarik B35-0A-SP. Pada variasi B35-30A-SP nilai kuat tarik lebih rendah 4,4014 MPa

atau sebesar 21,2225% dari nilai kuat tarik B35-0A-SP.

Dari hasil pengujian pada tabel 5.3 dan 5.4 data yang ditampilkan merupakan data hasil analisis, untuk setiap variasi pengurangan air ada 3 sampel benda uji

(lampiran V). Pada tabel diatas memperiihatkan hubungan kuat tarik secara teoritis

0,56v/c. Pengguanaan rumus secara teoritis ini hampir mendekati data yang

diperoleh secara aktual dilaboraturium. Winter, dkk (1993) menambahkan bahwa pengunaan rumus secara teoritis akan terus mengalami kenaikan kuat tarik seiring dengan kenaikan kuat tekan, sedangkan secara aktual kenaikan kuat tekan tidak selalu berkorelasi baik dengan kenaikan kuat tarik sehingga data yang diperoleh sacara aktual tidak selalu mengalami kenaikan kuat tarik yang tinggi.

Pada tabel 5.3 untuk/c 35 MPa teriihat bahwa prosentase kuat tarik terhadap kuat tekan antara 6,2853 - 11,9041%. Hasil penelitian ini mendekati yang dikatakan

oleh Dipohusodo (1994), bahwa kuat tarik berkisar antara 9 -15% dari kuat tekan.

Berbeda dengan yang ditampilkan pada tabel 5.4 untuk/c 40 MPa, bahwa kuat tarik yang diperoleh berkisar antara 7,4688 - 8,7537% dari nilai kuat tekannya. Hasil penelitian ini kurang sesuai dengan yang diperoleh Dipohusodo (1994).

Pada variasi beton dengan /c 35 MPa dengan pengurangan air 0% sampai 25% mengalami kenaikan kuat tarik seiring dengan penambahan superplasticizier,

sedangkan pada 30% pengurangan air mengalami penurunan kuat tarik. Kenaikan

kuat tarik dapat disebabkan oleh pengurangan air, pengurangan jumlah air (sebagai

pelumas) dapat meningkatkan kuat tekan, walaupun kenaikan kuat tekan tidak

berkorelasi baik dengan kekuatan tarik. Kekuatan tarik beton juga dipengaruhi oleh

kekuatan ikatan antara adukan semen yang telah mengeras dengan agregat, sedang

(9)

yang menentukan kekuatan antar-ikatan tersebut adalah pemilihan dalam penggunaan bahan agregat halus dan agregat kasar. Winter dkk, (1993) mengatakan bahwa kekuatan tarik begaimanapun ditentukannya, ternyata tidak berkorelasi baik dengan kuat tekan/c. Dengan penggunaan bahan agregat kasar dan agregat halus kekuatan tarik terutama sekali tergantung pada kekuatan ikatan antara adukan semen yang telah

mengeras dengan agregat.

Penurunan kuat tarik yang terjadi dapat diakibatkan oleh pengunaan superplasticizier yang melebihi dosis yang dianjurkan, sedangkan pada petunjuk penggunaan superplasticizier (Sikament-NN) dosis yang syaratkan antara 0,6 - 1,5%

dari berat semen, sehingga workabilitas beton menjadi tinggi/encer dan pengikatan agregat oleh pasta semen menjadi kurang baik. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Smith dkk, (1989) bahwa penurunan yang terjadi pada B35-30A-SP juga dapat disebabkan oleh butiran dalam semen yang mengandung ion-ion negatif, sehingga jika bereaksi dengan superplasticizier akan membuat beton menjadi lebih plastis/encer sehingga workabilitas beton menjadi lebih tinggi dan menyebabkan

pengikatan pasta oleh semen menjadi kurang baik.

Pada variasi /c 40 MPa kuat tarik maksimal diperoleh pada B40-30A-SP yaitu 5,4439 MPa atau 73,6181% dari nilai kuat tarik B40-0A-SP. Kenaikan kuat

tarik dapat diakibatkan oleh banyaknya semen yang ada dalam pasta sedangkan jumlah air rencana hanya sedikit sehingga menyebabkan kekuatan beton meningkat, dengan banyaknya jumlah semen yang ada dalam adukan maka ikatan antara agregat dengan semen menjadi lebih kuat. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Mulyono (2004), bahwa jika air yang berada diantara bagian-bagian semen jumlahnya sedikit menyebabkan jarak antara butiran-butiran semen menjadi pendek, akibatnya masa semen lebih menunjukkan keterikatannya (ikatannya menjadi lebih kuat).

Ramachandran (1979), mengatakan bahwa dengan menambahkan superplasticizier,

pengurangan air sebesar 25% dan 30% dapat dilakukan tanpa harus mengurangi

workabilitas dan kekuatan karakteristik beton. Dengan variasi pengurangan air yang

bertambah, menyebabkan nilai ratio air-semen menjadi berkurang, maka untuk

(10)

mencapai kekuatan tinggi dan menjaga workabilitas dilakukan penambahan superplasticizier yang harus disesuaikan untuk menghindari agar segregation, bleeding, dan efek samping lainnya tidak terjadi. Kelecakan beton segar akan berkurang apabila terjadi pengurangan kandungan air, oleh karena itu agar kelecakan

tetap terjaga maka perlu ditambahkan superplasticizer.

5.5 Pengaruh pengurangan air terhadap Kuat Geser beton

Tujuan dari uji geser pada penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat geser langsung beton, yang sampai saat ini belum ada pedoman pengujian yang baku.

Metode pengujian geser langsung ini dikembangkan oleh Ilham (2004) pada beton

kinerja tinggi.

Tabel 5.5 Hubungan kuat geser dengan pengurangan air (fc 35 MPa)

Variasi

Pengurangan

air (%)

Penambahan SP

terhadap

berat semen (%)

kuat tekan

fc (MPa)

kuat geser

% kuat geser

terhadap fc fsh

(MPa) penambahan

%

1/6V/c

(MPa)

B35-0A-SP 0 0,4511 34,6624 6,3392 0,0000 0,9812 18,2884

B35-5A-SP 5 0,5639 36,1256 6,6061 4,2098 1,0017 18,2864

B35-10A-SP 10 0,9023 45,9095 7,6638 20,8952 1,1293 16,6933

B35-15A-SP 15 1,3534 50,9440 7,6786 21,1283 1,1896 15,0726

B35-20A-SP 20 1,5789 52,2445 8,7153 37,4819 1,2047 16,6817

B35-25A-SP 25 1,9173 61,9080 9,0630 42,9677 1,3114 14,6395

B35-30A-SP

30 1

2,4812 70,0269 8,4255 32,9108 1,3947 12,0318

(11)

Tabel 5.6 Hubungan kuat geser dengan pengurangan air (fc 40 MPa)

Variasi

Pengurangan

air (%)

Penambahan SP

terhadap

berat semen (%)

kuat tekan

fc (MPa)

kuat geser

% kuat geser

terhadap

fc fsh

(MPa) penambahan

% 1/6V/c

B40-0A-SP 0 0,8125 41,9822 4,5720 0,0000 1,0799 10,8903

B40-5A-SP 5 1,0156 45,6540 5,9007 29,0634 1,1261 12,9249

B40-10A-SP 10 1,1172 46,3109 6,7334 47,2760 1,1342 14,5396

B40-15A-SP 15 1,2187 49,0151 6,8011 48,7573 1,1668 13,8756

B40-20A-SP 20 1,5234 51,6245 8,8757 94,1327 1,1975 17,1928

B40-25A-SP 25 1,5234 54,0931 9,0448 97,8308 1,2258 16,7207

B40-30A-SP

Kp-t • r w c

30 2,4375 62,1899 9,1018 99,0791 1,3143 14,6356

£1 2,0 i0,9812 1,0017 *'1293 1,1896 1,2047 UH4

0,0 4-

- Air Oo/o 5%

1,3947

10% 15% 20% 25% 30%

+ SP 0,4511% 0,5639% 0,9023% 1.3534% 1,5789% 1,9173% 24812%

Pengurangan air •Aktual•Teoritis

Gambar 5.5 Hub.kuat geser dengan pengurangan air pada mutu beton/c 35 MPa

dengan slump ^ 150mm

(12)

Tabel 5.6 Hubungan kuat geser dengan pengurangan air (fc 40 MPa)

Variasi

Pengurangan

Penambahan SP

kuat

tekan kuat geser

% kuat geser

air (%) terhadap fc fsh

berat

semen (%)

(MPa) (MPa) penambahan

%

1/6V/c

(MPa)

terhadap

fc

B40-0A-SP 0 0,8125 41,9822 4,5720 0,0000 1,0799

.i ^

10,8903

B40-5A-SP 5 1,0156 45,6540 5,9007 29,0634 1,1261 12,9249

B40-10A-SP 10 1,1172 46,3109 6,7334 47,2760 1,1342 14,5396

B40-15A-SP 15 1,2187 49,0151 6,8011 48,7573 1,1668 13,8756

B40-20A-SP 20 1,5234 51,6245 8,8757 94,1327 1,1975 17,1928

B40-25A-SP 25 1,5234 54,0931 9,0448 97,8308 1,2258 16,7207

B40-30A-SP

Vt>.t • n o t e

30 2,4375 62,1899 9,1018 99,0791 1,3143 14,6356

& 2,0 0,9812 1,0017 ^l293 1,1896 1,2047 1>3H4

0,0 4-

Air 0% 5%

1.

,3947

10% 15% 20% 25% 30%

+SP 0,4511% 0,5639% 0,9023% 1.3534% 1,5789% 1,9173% 2,4812%

Pengurangan air 11 TeoritisAktual !

Gambar 5.5 Hub.kuat geser dengan pengurangan air pada mutu beton/c 35 MPa

dengan slump > 150 mm

(13)

10,0 -

~ 8,0 -

i- 6,0 1

« i

- 4,0 -

* 2,0-

1

>^5720

1,0799

5,9007

1,1261

6,8011

'"8,8757

1,1975

9,0448

1,2258

9,1018

>

i 1,3143 6,7334

1,1342 1,1668

0,0 i

;

1

•Air 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%

+SP 0,8125% 0,0156% 1,1172% 1,2187% 1,5234% 1,5234% 2,4375%

pengurangan air

Gambar 5.6 Hub.kuat geser dengan pengurangan air pada mutu beton/c 40 MPa

dengan slump > 150 mm

Pada tabel 5.5 dengan /c 35 MPa dan pengurangan air 0% sampai 25%

mengalami kenaikan kuat geser. Pada tabel 5.6 dengan variasi beton/c 40 MPa dan pengurangan air 0% sampai 30% mengalami kenaikan kuat geser, sehingga diperoleh

nilai kuat geser maksimum pada pengurangan air 30%.

Data secara teoritis yang menunjukkan hubungan antara kuat geser dengan kuat tekan/c menghasilkan perbandingan nilai kuat geser yang sangat kecil, berbeda dengan hasil yang diperoleh secara aktual. Pengujian kuat geser secara langsung menghasilkan nilai kuat geser yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang cara teoritis, sehingga jika cara teoritis yang digunakan maka faktor aman yang dipakai

akan terlalu besar. Dari hasil pengujian pada tabel 5.5 dan 5.6 teriihat bahwa prosentase kuat .geser terhadap kuat tekan antara 10,8903 - 18,2884%. Hasil

penelitian tersebut mendekati penelitian yang dilakukan Menon dkk (1993), yaitu

antara 10% - 20% dari kuat tekan beton, dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa

semakin besar pengurangan air (sebagai pelumas) maka kuat tekan akan semakin

besar walaupun tidak diikuti dengan kenaikan kuat geser yang besar pula.

(14)

Dikutib dari ASTM (American Society for Testing and Materials) C.1018, bahwa ada 3 parameter dalam menentukan kuat geser dari benda uji yaitu : bentuk, rasio tebal dengan panjang, dan konfigurasi pembebanan. semakin besar aspek rasio tebal dengan panjang maka semakin besar kuat gesernya, kuat geser terbesar terjadi pada B40-30A-SP, selain itu kuat lekatan antara semen dan agregat (bond strength) juga berpengaruh menahan gaya geser yang terjadi akibat pembebanan. Dari hasil pengamatan, yang ditunjukkan dengan banyaknya agregat yang terbelah

dibandingkan agregat yang tercabut/terlepas. Pada pengamatan secara visual pada

saat pengujian, agregat yang terbelah menunjukan beton memiliki kekuatan lekatan

yang baik antara agregat dengan pasta semen.

Penurunan kuat geser yang terjadi dapat diakibatkan oleh pengunaan superplasticizier yang melebihi dosis yang dianjurkan, sedangkan pada petunjuk penggunaan superplasticizier (Sikament-NN) dosis yang syaratkan antara 0,6 - 1,5%

dari berat semen, sehingga workabilitas beton menjadi tinggi/encer dan pengikatan agregat oleh pasta semen menjadi kurang baik. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Smith dkk, (1989) bahwa penurunan yang terjadi pada B35-30A-SP juga dapat disebabkan oleh butiran dalam semen yang mengandung ion-ion negatif, sehingga jika bereaksi dengan superplasticizier akan membuat beton menjadi lebih plastis/encer sehingga workabilitas beton menjadi lebih tinggi dan menyebabkan pengikatan pasta oleh semen menjadi kurang baik. Ilham, (2004) menambahkan bahwa beton dengan campuran superplasticizier dosis tinggi tidak mengeras dalam 24 jam atau dapat mengeras dalam 24 jam tapi masih teriihat lembab, maka kemungkinan kuat tekan beton rendah, hal ini disebabkan superplasticizier dalam campuran beton melampaui titik jenuh. Akibatnya hidrasi semen menjadi terhambat,

dan ikatan antar matriks semen dan agregat juga terhambat, maka kekuatan menjadi

lemah.

(15)

5.6 Pengaruh pengurangan air terhadap Kuat Lentur beton

Menurut SK SNI M-60-1990-03 Pengujian kuat lentur beton dilakukan

terhadap benda uji balok dengan dua tumpuan dan dua titik pembebanan. Sehingga didapat momen maksimum pada daerah L/3 tepat di tengah-tengah bentang. Kuat lentur beton merupakan kemampuan balok beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda uji patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap

satuan luas.

Tabel 5.7 Hubungan kuat lentur dengan pengurangan air (fc 35 MPa)

Variasi

Pengurangan

Penambahan SP

kuat tekan kuat lentur

% kuat lentur

air (%) terhadap

berat

semen (%)

fc (MPa) (MPa)

penambahan

%

terhadap fc

B35-0A-SP 0 0,4511 34,6624 5,0455 0,0000 14,5562

B35-5A-SP 5 0,5639 36,1256 4,1054 -18,6317 11,3644

B35-10A-SP 10 0,9023 45,9095 4,1623 -17,5047 9,0663

B35-15A-SP 15 1,3534 50,9440 5,2165 3,3882 10,2396

B35-20A-SP 20 1,5789 52,2445 5,4096 7,2170 10,3545

B35-25A-SP 25 1,9173 61,9080 6,6182 31,1707 10,6904

B35-30A-SP 30 2,4812 70,0269 6,4573 27,9808 9,2212

(16)

Tabel 5.8 Hubungan kuat lentur dengan pengurangan air (fc 40 MPa)

Variasi

Pengurangan

air (%)

Penambahan SP

terhadap

berat

semen (%)

kuat tekan

/c (MPa)

kuat lentur

% kuat lentur

terhadap fc (MPa)

penambahan

%

B40-0A-SP B40-5A-SP B40-10A-SP B40-15A-SP B40-20A-SP B40-25A-SP B40-30A-SP

0 5 10 15 20 25 30

0,8125 1,0156 1,1172 1,2187 1,5234 1,5234 2,4375

41,9822 45,6540 46,3109 49,0151 51,6245 54,0931 62,1899

4,1046 4,0903 4,1490 6,8599 7,4945 5,7226 5,9785

0,0000 -0,3494

1,0806 67,1267 82,5863 39,4190 45,6541

9,7770 8,9593 8,9590 13,9955 14,5173 10,5792 9,6134 Ket: Data Kuat tekan diambil dari data bersama Sutrisno dan Hardiman, 2006

+ SP 0,4511% 0,5639% 0,9023% 1,3534% 1,5789% 1,9173% 2,4812%

Pengurangan air (%)

Gambar 5.7 Hub.kuat lentur dengan pengurangan air pada mutu beton/c 35 MPa dengan slump i> 150 mm

(17)

5,9785

Air 0 10 15 20 25 30

+ SP 0,8125% 1,0156 1,1172% 1,2187% 1,5234% 1,5234% 2,4375%

Pengurangan Air (%)

Gambar 5.8 Hub.kuat lentur dengan pengurangan air pada mutu beton/c 40 MPa dengan slump ^ 150 mm

Hasil pengujian kuat lentur sebagaimana ditunjukkan pada tabel dan gambar diatas bahwa peningkatan kuat lentur tidak berbanding lurus dengan pengurangan air dan penambahan superplasticizier. Pada variasi /c 35 MPa kuat lentur optimum diperoleh pada variasi B35-25A-SP yaitu 6,6182 MPa atau meningkat sebesar 31,1707%) dari B35-0A-SP, kemudian pada variasifc 40 MPa kuat lentur optimum terietak pada B40-20A-SP yaitu sebesar 7,4945 MPa atau 82,5863% dari kuat lentur

B40-0A-SP.

Pada tabel diatas memperiihatkan data hasil pengujian bahwa prosentase peningkatan kuat lentur terhadap kuat tekan untuk/c 35 MPa yaitu antara 9,0663%- 14,5562%, sedangkan pada /c 40 MPa prosentase kuat lentur terhadap kuat tekan adalah 8,9590%-14,5173%. Hasil ini hampir mendekati dengan yang dikemukakan oleh Jackson, (1983) bahwa kekuatan lentur bervariasi mulai dari 9,13%-19,09% dari kuat tekan selinder beton. Untuk/c 40 MPa pada variasi B40-5A-SP dan B40-10A- SP prosentase kuat lentur hanya 8,9593% dan 8,9590% dari nilai kuat tekan. Hal ini

(18)

dikarenakan setiap peningkatan dari kuat tekan tidak selalu diiringi dengan kenaikan kuat lentur yang linear dan pada variasi B40-5A-SP terjadi penurunan kuat lentur.

Peningkatan kuat lentur yang terjadi dapat diakibatkan oleh ratio air-semen

yang rendah, ratio air-semen yang rendah dapat meningkatkan kuat tekan, walaupun

kenaikan kuat tekan tidak selalu diiringi dengan kenaikan kuat lentur yang tinggi.

Dari hasil penelitian diatas menyajikan data bahwa kuat lenmr optimum berada pada 25% dan 20% pengurangan air berturut-turut untuk kuat tekan rencana 35 dan 40 MPa. Selain itu yang mempengaruhi peningkatan kuat lentur adalah kandungan semen yang tinggi pada mortar beton. Banyaknya jumlah semen yang ada pada mortar beton akan memepengaruhi lekatan antara agregat dengan semen. Mulyono, (2004) mengatakan bahwa jika air yang berada diantara bagian-bagian semen jumlahnya sedikit menyebabkan jarak antara butiran-butiran semen menjadi pendek, akibatnya masa semen lebih menunjukkan keterikatannya (ikatannya menjadi lebih kuat). Wahyudi, dkk (1997) juga mengatakan bahwa pada umumnya beton mutu tinggi memiliki sifat-sifat kandungan semen tinggi, ratio air-semen rendah, penggunaan agregat mutu tinggi, agregat berkadar air rendah dan penggunaan

material pozzolana.

Penurunan kuat lenmr yang terjadi dapat diakibatkan oleh tidak sesuainya pengurangan kandungan air dengan penambahan dosis superplasticizier yang ditambahkan yaitu sebesar 2,4375% dari berat semen, sedangkan pada petunjuk penggunaan superplasticizier (Sikament-NN) dosis yang syaratkan antara 0,6 - 1,5%

dari berat semen, sehingga workabilitas beton menjadi tinggi/encer dan pengikatan agregat oleh pasta semen menjadi kurang baik. Penelitian yang dilakukan Baronio (1990), menghasilkan kuat tekan optimal dengan menggunakan superplasticizer 1,5%

dari berat semen. R.C Smith dan C.K Andres (1989), dalam material ofconstructions mengatakan bahwa superplasticizier yang melapisi partikel semen kemudian memisahkan dan melepaskan semen dari ikatan, akibat air pelapisan ini juga menyebabkan muatan negatif pada partikel semen yang mengakibatkan adanya gaya

(19)

tolak menolak antar partikel sehingga menimbulkan tingkat workabilitas yang tinggi tanpa peningkatan nilai fas atau menimbulkan bleeding dan segregation.

5.7 Pengaruh pengurangan air terhadap Permeabilitas beton

Permaebilitas beton terhadap air merupakan faktor penting yang mempengaruhi durabilitas struktur beton yang berhubungan langsung dengan air, Permeabilitas beton berpengaruh terhadap durabilitas struktur beton dimana dapat menahan masuknya senyawa kimia yang dapat merusak beton. Permeabilitas beton dipengaruhi oleh antara lain faktor air-semen, kadar semen, kondisi lingkungan lokal dan material pembuat beton (Sugiharto, dkk 2004).

Tabel 5.9 Hubungan pengurangan air, penambahan superplasticizier dan permeabilitas beton (fc 35 MPa)

Variasi

Pengurangan Penambahan

SP terhadap

fas permeability

air (%) berat semen

(%)

(cm/dt)

penambahan %

B35-0A-SP 0 0,4511 0,4000 0,000528 0,0000

B35-5A-SP 5 0,5639 0,3800 0,000486 -7,8947

B35-10A-SP 10 0,9023 0,3600 0,000417 -21,0526

B35-15A-SP 15 1,3534 0,3400 0,000403 -23,6842

B35-20A-SP 20 1,5789 0,3200 0,000306 -42,1053

B35-25A-SP 25 1,9173 0,3000 0,000278 -47,3684

B35-30A-SP 30 2,4812 0,2800 0,000264 -50,0000

(20)

Tabel 5.10 Hubungan pengurangan air, penambahan superplasticizier dan permeabilitas beton (fc 40 MPa)

Variasi

Pengurangan

air (%)

Penambahan

SP terhadap

berat semen

fas permeability

(cm/dt)

(%) penambahan %

B40-0A-SP 0 0,8125 0,3602 0,000389 0,0000

B40-5A-SP 5 1,0156 0,3422 0,000375 -3,5714

B40-10A-SP 10 1,1172 0,3242 0,000361 -7,1429

B40-15A-SP 15 1,2187 0,3062 0,000333 -14,2857

B40-20A-SP 20 1,5234 0,2882 0,000333 -14,2857

B40-25A-SP 25 1,5234 0,2702 0,000278 -28,5714

B40-30A-SP 30 2,4375 0,2521 0,000264 -32,1429

Pada kajian ini yang diukur hanya waktu penetrasi dan kedalaman penetrasi.

Data yang ditampilkan pada tabel merupakan data hasil analisis, tiap variasi pengurangan air ada satu sampel uji permeabilitas (lampiran V). Dari tabel diatas dapat dilihat hubungan antara pengurangan air, penambahan superplasticizier dan permeabilitas beton. Pada variasi beton dengan/c 35 MPa dan/c 40 MPa dengan

pengurangan air 0% sampai 30% kedalaman penetrasi air semakin kecil seiring

dengan penambahan kadar superplasticizier, sehingga diperoleh nilai kedap air maksimum pada pengurangan air 30%.

Dari hasil pengujian permeabilitas diatas dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan superplasticizier, beton menjadi lebih impermeable (kedap air). Selain itu sifat beton yang impermeable dapat disebabkan oleh banyaknya kandungan semen yang ada pada campuran beton sedangkan penggunaan air yang berfungsi sebagai pelumas dikurangi hingga 30%. Kandungan semen yang banyak pada mortar beton menyebabkan porositas dan kadar pori pada beton berkurang sehingga ikatan antara agregat dengan semen menjadi lebih kuat dan penetrasi air untuk masuk kedalam beton menjadi kecil. Pengurangan kandungan air (sebagai pelumas) yang disertai dengan penambahan superplasticizier dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan

(21)

kinerja/workabilitas dan menghasilkan beton yang lebih impermeable. Mulyono, (2004) mengatakan bahwa tujuan pengurangan faktor air-semen adalah untuk mengurangi porositas pada beton sehingga menghasilkan beton mutu tinggi.

Sugiharto, dkk (2004) melakukan penelitian tentang permeabilitas beton dan mendapatkan kedalaman penetrasi terkecil adalah 0,0370 cm/dt, dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan superplasticizier sampai dosis tertentu dapat menghasilkan workabilitas beton yang tinggi dan beton yang lebih impermeable.

Pengurangan air mengakibatkan penurunan kinerja/workablitas beton sehingga beton menjadi lebih porous atau memiliki kadar pori tinggi. Dengan penambahan superplasticizier workabilitas beton dapat meningkat sehingga porositas dan kadar pori beton dapat berkurang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ilham, dkk (2004) bahwa superplasticizier dapat mengurangi porositas dan kadar pori pada beton akibat pengurangan kandungan air. Penambahan superplasticizier dengan dosis yang tepat disertai dengan perawatan dan pengerjaan adukan yang baik, mampu meningkatkan workabilitas dan kekuatan beton secara tidak langsung, tetapi bila tidak maka akan menghasilkan penurunan terhadap kuat tekan beton. Kondisi kepadatan beton juga dapat mempengaruhi permeabilitas beton, kepadatan beton dapat dilihat dari berat beton sebelum dilakukan pengujian. Kepadatan beton dipengaruhi oleh banyaknya agregat yang ada pada benda uji, dan sedikitnya pori yang terdapat pada beton. Wahyudi dkk, (2004) mengatakan bahwa proporsi air yang sedikit akan memberikan kekuatan yang tinggi pada beton, tetapi kelecakannya akan berkurang.

Selain itu beton dengan ratio air-semen yang kecil juga akan menghasilkan beton yang kedap air, namun mutu beton tetap dipengaruhi cara pemadatan dan daya kerja, pemadatan yang kurang baik akan menimbulkan sarang kerikil (honeycomb) yang mengakibatkan beton menjadi keropos.

(22)

5.8 Pengaruh pengurangan air dan penambahan superplasticizier terhadap kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kuat lentur

danpermeabilitasbeton

Tabel 5.11 Hubungan pengurangan air dan penambahan

superplasticizier

terhadap kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kuat

lenturdanpermeabilitasbeton(fc35MPa) PenguranganPenambahankuattekankuattarikkuatgeserkuatlenturpermeabillity Variasi air(%)SPterhadap beratsemen (%)

fas /c(MPa)/ct(MPa)fsh(MPa)/It(MPa)(cm/dt) B35-0A-SP00,45110,4034,66243,63096,33925,04550,000528 B35-5A-SP50,56390,3836,12564,30046,60614,10540,000486 B35-10A-SP100,90230,3645,90954,49847,66384,16230,000417 B35-15A-SP151,35340,3450,94404,76477,67865,21650,000403 B35-20A-SP201,57890,3252,24454,83818,71535,40960,000306 B35-25A-SP251,91730,3061,90805,20369,06306,61820,000278 B35-30A-SP302,48120,2870,02694,40148,42556,45730,000264

(23)

Tabel5.12Hubunganpenguranganairdanpenambahansuperplasticizierterhadapkuattekan,kuattarik,kuatgeser,kuat lenturdanpermeabilitasbeton(fc40MPa) PenguranganPenambahankuattekankuattarikkuatgeserkuatlenturpermeabillity Variasi air(%)SPterhadap beratsemen (%)

fas fc(MPa)fct(MPa)fsh(MPa)/It(MPa)(cm/dt) B40-0A-SP00,81250,360241,98223,13564,57204,10460,000389 B40-5A-SP51,01560,342245,65403,51265,90074,09030,000375 B40-10A-SP101,11720,324246,31093,63256,73344,14900,000361 B40-15A-SP151,21870,306249,01513,81326,80116,85990,000333 B40-20A-SP201,52340,288251,62454,30758,87577,49450,000333 B40-25A-SP251,52340,270254,09314,43109,04485,72260,000278 B40-30A-SP302,43750,252162,18995,44399,10185,97850,000264 Ket:DataKuattekandiambildaridatabersamaSutrisnodanHardiman,2006

(24)

Air 0 5 10 15 20 25 30

r-SP 6,4511% 0,5639% 0,9023% 1.3534% 1,5789% 1,9173% 2,4812%

Pengurangan air (%)

-Kuat Tekan (MPa) -Kuat Geser (MPa)

-Kuat Tarik (MPa) -Kuat Lentur (MPa)

Gambar 5.9 Hubungan kuat pengurangan air, penambahan superplasticizier, kuat tekan, tarik, geser dan lentur beton fc 35 MPa

(25)

- Air

+ SP

0 10 15 20 25

0,8125% 0,0156% 1,1172% 1,2187% 1,5234% 1,5234%

Pengurangan air (%)

-Kuat Tekan (MPa) -Kuat Geser (MPa)

•Kuat Tarik (MPa) !

-Kuat Lentur (MPa)l

30 2,4375%

Gambar 5.10 Hubungan kuat pengurangan air, penambahan superplasticizier, kuat tekan, tarik, geser dan lentur beton /c 40 MPa

(26)

Pada tabel 5.11 dan gambar 5.9 untuk/c 35 MPa atau tabel 5.12 dan gambar 5.10 untuk/c 40 MPa diatas dapat dilihat hubungan antara pengurangan air yang berfungsi sebagai pelumas dan penambahan superplasticizier terhadap kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kuat lentur dan permeabilitas beton. Pengurangan jumlah air (sebagai pelumas) akan meningkatkan kuat tekan beton, peningkatan kuat tekan beton terjadi seiring dengan pengurangan air dan bertambahnya superplasticizier. Kriteria kekefektifan penambahan superplasticizier akan berkurang seiring meningkatnya workabilitas adukan (Naelan dkk, 1994). Penambahan superplasticizier hanya berfungsi untuk meningkatkan kinerja/workabilitas beton, dengan pengurangan air kuat tekan beton akan meningkat tetapi workabilitas beton segar akan lebih rendah dari slump rencana yaitu30-60 mm, untuk menjaga agar workabilitas beton sesuai dengan slump rencana maka ditambahkan superplasticizier sedikit-demi sedikit hingga mencapai slump yang diinginkan yaitu 150 mm. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Swamy (1989), bahwa dengan penggunaan superplasticizier nilai slump yang didapat antara 150 - 250 mm.

Pengurangan jumlah air yang berfungsi sebagai pelumas juga mempengaruhi kuat tarik, kuat geser dan kuat lentur beton. Peningkatan yang terjadi pada kuat tarik, kuat geser dan kuat lentur tidak sebesar dengan peningkatan yang terjadi pada kuat tekan. Hal ini dikarenakan peningkatan kuat tekan tekan tidak selalu berkorelasi baik dengan peningkatan pada kuat tarik, kuat geser dan kuat lentur. Pada kuat tekan nilai maksimum diperoleh pada pengurangan air 30% berbeda dengan kuat tarik dan geser, nilai optimum diperoleh pada 25% pengurangan air untuk/c 35 MPa. Pada/c 40 MPa nilai kuat tarik dan geser maksimum pada 30% pengurangan air, sedangkan nilai kuat lenturnya maksimum pada 20% pengurangan air. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kuat tekan tidak selalu diiringi dengan peningkatan kuat tarik, geser dan

lentur.

Peningkatan kuat tarik, geser dan lentur dapat diakibatkan oleh pengurangan ah, pada/c 35 MPa nilai kuat tarik, geser dan lentur optimum pada pengurangan air

(27)

25%). Pada/c 40 MPa nilai kuat tarik dan geser maksimum pada 30% pengurangan air, dan nilai kuat lentur optimum pada 20% pengurangan air.

Kekuatan beton juga dipengaruhi oleh kekuatan ikatan antara adukan semen yang telah mengeras dengan agregat, sedang yang menentukan kekuatan antar-ikatan tersebut adalah pemilihan dalam penggunaan bahan agregat halus dan agregat kasar, faktor lain yang mempengaruhi adalah banyaknya semen yang ada dalam pasta sedangkan jumlah air rencana hanya sedikit sehingga menyebabkan kekuatan beton meningkat, dengan banyaknya jumlah semen yang ada dalam adukan maka ikatan antara agregat dengan semen menjadi lebih kuat. Mulyono (2004), menambahkan bahwa jika air yang berada diantara bagian-bagian semen jumlahnya sedikit menyebabkan jarak antara butiran-butiran semen menjadi pendek, akibatnya masa semen lebih menunjukkan keterikatannya (ikatannya menjadi lebih kuat).

Penurunan kekuatan beton setelah mencapai nilai optimum disebabkan oleh pengunaan superplasticizier yang melebihi dosis yang dianjurkan, sedangkan pada petunjuk penggunaan superplasticizier (Sikament-NN) dosis yang syaratkan antara 0,6 - 1,5% dari berat semen, sehingga workabilitas beton menjadi tinggi/encer dan pengikatan agregat oleh pasta semen menjadi kurang baik. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Smith dkk, (1989) bahwa penurunan yang terjadi disebabkan oleh butiran dalam semen yang mengandung ion-ion negatif, sehingga jika bereaksi dengan superplasticizier akan membuat beton menjadi lebih plastis/encer sehingga workabilitas beton menjadi lebih tinggi dan menyebabkan pengikatan pasta oleh semen menjadi kurang baik. Ilham (2004) menambahkan bahwa beton dengan campuran superplasticizier dosis tinggi tidak mengeras dalam 24 jam atau dapat mengeras dalam 24 jam tapi masih teriihat lembab, maka kemungkinan kuat tekan beton rendah, hal ini disebabkan superplasticizier dalam campuran beton melampaui titik jenuh. Akibatnya hidrasi semen menjadi terhambat, dan ikatan antar matriks semen dan agregat juga terhambat, maka kekuatan menjadi lemah.

Pada tabel diatas dapat dilihat, bahwa dengan penambahan superplasticizier, beton menjadi lebih impermeable (kedap air). Selain itu sifat beton yang impermeable

(28)

dapat disebabkan oleh banyaknya kandungan semen yang ada pada campuran beton sedangkan penggunaan air dikurangi hingga 30%. Kandungan semen yang banyak pada mortar beton menyebabkan porositas dan kadar pori pada beton berkurang sehingga ikatan antara agregat dengan semen menjadi lebih kuat dan penetrasi air

untuk masuk kedalam beton menjadi kecil. Pengurangan kandungan air (sebagai

pelumas) yang disertai dengan penambahan superplasticizier dengan dosis yang tepat

dapat meningkatkan kinerja/workabilitas dan menghasilkan beton yang lebih

impermeable. Dari data permeabilitas diatas, beton dengan pengurangan air dan

penambahan superplasticizier akan lebih impermeable serta menghasilkan

kinerja/workabilitas beton yang lebih baik bila dibandingkan dengan beton tanpa

pengurangan air tetapi dilakukan penambahan superplasticizier. Mulyono, (2004)

mengatakan bahwa tujuan pengurangan faktor air-semen adalah untuk mengurangi

porositas pada beton sehingga menghasilkan beton mutu tinggi.

Gambar

Tabe 5.1 Hasil uji slump/c \ 55 MPa
Gambar 5.2 Hub. Pengurangan air dengan Penambahan superplasticizierfc 40 MPa
Tabel 5.3 Hubungan kuat tarik dengan pengurangan air (fc 35 MPa)
Gambar 5.4 Hub.kuat tarik dengan pengurangan air pada mutu beton fc 40 MPa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian asumsi yang dapat digunakan pada penelitian ini adalah pentingnya makna mataraga dan tolopena yang menjadi simbol komunikasi budaya pada proses ritual

selanjutnya, hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat mengubah paradigma di masyarakat tentang daun putri malu sebagai tanaman semak belukar menjadi tanaman obat

Karena ada beberapa faktor yang membatasi produksi optimal seperti (bahan baku, kapasitas mesin, tenaga kerja, modal/dana dan jumalah permintaan atau jumlah penjualan) maka

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Hubungan Caregiver Self-efficacy dengan

Karyawan yang percaya bahwa kebutuhan mereka sesuai dengan tuntutan pekerjaan mereka cenderung untuk menyarankan cara- cara baru dalam melakukan sesuatu dan membantu

Potongan harga merupakan diskon produk atau harga marginal rendah yang diberikan untuk mempengaruhi konsumen dalam berbelanja agar lebih impulsif Iqbal

Perbedaan dari ketiga video profile tersebut dengan Perancangan Video Profil sebagai Media Informasi Pada Lorin Solo Hotel adalah dilihat dari konsep video dengan

Dilihat dari langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam proses pembelajaran terdiri dari 5 tahapan adalah peserta didik dibagi menjadi