9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Utami dan Prasetiono (2016), melakukan penelitian tentang pengaruh TATO, WCTO, dan DER terhadap nilai perusahaan dengan ROA sebagai variabel intervening. Hasil penelitian menunjukkan TATO, DER, ROA berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, artinya tinggi rendahnya TATO, DER, ROA mempengaruhi naik turunnya nilai perusahaan, sedangkan WCTO tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Misran dan Chabachib (2017), melakukan penelitian tentang pengaruh Debt To Equity Ratio, Current Ratio dan Total Asset Turnover terhadap Price to Book Value dengan Return On Total Asset sebagai variabel intervening. Hasil penelitian menunjukkan Return On Total Asset, Total Asset Turnover, Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap Price to Book Value yang berarti setiap kenaikan Return On Total Asset, Total Asset Turnover, Debt To Equity Ratio akan diikuti oleh kenaikan nilai Price to Book Value, sedangkan Current Ratio tidak berpengaruh terhadap Price to Book Value yang berarti tinggi rendahnya Current Ratio tidak mempengaruhi Price to Book Value akan naik atau turun.
Halimah dan Komariah (2017), melakukan penelitian tentang pengaruh ROA, CAR, NPL, LDR, BOPO terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan ROA, CAR, dan LDR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, bahwa investor dalam berinvestasi atau menanamkan dana
memperhatikan ROA, CAR, dan LDR dalam meningkatkan nilai perusahaan, sedangkan NPL dan BOPO tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Nur’aidawati (2018), melakukan penelitian tentang pengaruh Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt To Equity Ratio dan Return On Total Asset terhadap harga saham dan dampaknya pada nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan Return On Total Asset dan Total Asset Turnover berpengaruh positif terhadap harga saham, artinya jika Return On Total Asset dan Total Asset Turnover meningkat, maka harga saham akan mengalami peningkatan, sedangkan Debt To Equity Ratio dan Current Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham, artinya tinggi rendahnya Debt To Equity Ratio tidak menentukan harga saham akan naik atau turun. Harga saham berdampak secara signifikan terhadap nilai perusahaan (Price to Book Value), artinya jika harga saham naik, maka nilai perusahaan akan meningkat.
Rini et al. (2018), melakukan penelitian tentang pengaruh Current Ratio, Total Asset Turnover dan Debt To Equity Ratio terhadap Price To Book Value dengan Return On Total Asset sebagai variabel intervening. Hasil penelitian menunjukkan Current Ratio dan Total Asset Turnover berpengaruh positif terhadap Price To Book Value, artinya jika Current Ratio dan Total Asset Turnover meningkat maka akan meningkankan Price To Book Value, sedangkan Debt To Equity Ratio dan Return On Total tidak berpengaruh terhadap Price To Book Value, artinya tinggi rendahnya Debt To Equity Ratio dan Return On Total tidak menentukan naik turunnya Price To Book Value.
Adita dan Mawardi (2018), melakukan penelitian tentang pengaruh struktur modal, Total Asset Turnover, dan likuiditas terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai variabel intervening. Hasil penelitian menunjukkan profitabilitas yang diproksikan dengan ROA, Total Asset Turnover, likuiditas yang diproksikan dengan CR, struktur modal yang diproksikan dengan DER berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, artinya tinggi rendahnya DER, TATO, CR, ROA mempengaruhi naik turunnya nilai perusahaan.
Widhiastuti et al. (2019), melakukan penelitian tentang pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan yang dimediasi oleh pengungkapan sustainability report. Hasil penelitian menunjukkan solvabilitas (Debt To Equity Ratio) dan profitabilitas (Return On Total Asset) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, berarti semakin tinggi solvabilitas (Debt To Equity Ratio) dan profitabilitas (Return On Total Asset) maka nilai perusahaan juga akan semakin tinggi, sedangkan likuiditas (Current Ratio) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, artinya tinggi rendahnya likuiditas (Current Ratio) tidak menentukan nilai perusahaan akan naik atau turun. Profitabilitas, solvabilitas dan likuiditas tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan yang dimediasi oleh pengungkapan sustainability report, artinya variabel pengungkapan sustainability report tidak dapat menjadi variabel mediasi pada pengaruh profitabilitas solvabilitas dan likuiditas terhadap nilai perusahaan.
Utami dan Welas (2019), melakukan penelitian tentang pengaruh Current Ratio, Return On Total Asset, Total Asset Turnover dan Debt To Equity
Ratio terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan Current Ratio berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, bahwa tingginya likuiditas dapat menunjukkan dana yang tersedia untuk pembayaran dividen, membiayai operasi perusahaan dan investasi sehingga kinerja perusahaan semakin membaik, dan Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, bahwa perusahaan mampu dalam memenuhi seluruh kewajibannya berdasarkan bagian modal yang dimiliki perusahaan, sedangkan Return On Total Asset dan Total Asset Turnover tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, bahwa tinggi rendahnya Return On Total Asset dan Total Asset Turnover tidak menentukan naik turunnya nilai perusahan.
Lase et al. (2019), melakukan penelitian tentang pengaruh likuiditas, aktifitas dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan profitabilitas (Return On Equity) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, bahwa profitabilitas berfluktuasi dan cenderung meningkat sehingga nilai perusahaan mengalami peningkatan, sedangkan likuiditas (Total Asset Turnover) dan aktivitas (Current Ratio) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, bahwa aktivitas berfluktuasi dan cenderung menurun.
Jannah et al. (2019), melakukan penelitian tentang pengaruh keputusan pendanaan dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan keputusan pendanaan yang diproksikan dengan Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, hal ini berarti mempengaruhi nilai perusahaan di mata pasar, dimana nilai perusahaan akan lebih tinggi jika sumber dana yang dimiliki perusahaan berasal dari modal
sendiri atau ekuitas, sedangkan kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah tidak semua variabel yang mempengaruhi nilai perusahaan digunakan, misalnya Return On Total Asset, Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return On Equity Ratio, Return On Investment, Earning Per Share, Total Asset Turnover, Inventory Turnover, Debt To Equity Ratio, Debt Ratio, Current Ratio. Penelitian ini hanya meneliti variabel independen yang masih inconsistent, yaitu Return On Total Asset, Total Asset Turnover, Debt To Equity Ratio terhadap hubungan dengan nilai perusahaan.
B. Tinjauan Pustaka 1. Signalling Theory
Menurut Connelly et al. (2011), isyarat atau signal adalah tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal-sinyal yang diberikan berupa informasi mengenai apa saja yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik yakni pemegang saham. Informasi ini penting bagi para investor dan para pelaku bisnis karena informasi tersebut menyajikan keterangan, catatan atau gambaran, baik untuk keadaaan masa lalu, saat ini, maupun masa depan bagi kelangsungan dan efeknya bagi perusahaan.
Menurut Connelly et al. (2011), teori signal dikembangkan dalam ilmu ekonomi dan keuangan untuk memperhitungkan kenyataan bahwa
orang dalam (insiders) perusahaan pada umumnya memiliki informasi yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan investor luar. Oleh karena itu sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan signal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik.
Menurut Rini et al. (2018), hubungan teori signal dengan Return On Total Asset yaitu apabila nilai Return On Total Asset meningkat, berarti perusahaan mampu menggunakan aktivanya secara produktif sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini dapat dijadikan signal untuk para investor dalam memprediksi seberapa besar perubahan nilai atas saham yang dimiliki. Bagi kreditur, ini dapat dijadikan signal untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar pokok dan harga pinjaman.
Menurut Rini et al. (2018), hubungan teori signal dengan Total Asset Turnover yaitu apabila nilai Total Asset Turnover semakin tinggi, maka menunjukkan bahwa perusahaan telah beroperasi pada volume yang memadai bagi kapasitas investasinya. Jadi semakin tinggi aktivitas yang ada pada perusahaan berarti semakin efiktif dalam mengelola aktivitas transaksi yang ada di perusahaan. Adanya tingkat efektivitas yang tinggi menunjukkan kesempatan bertumbuh perusahaan yang tinggi pada masa mendatang. Tentunya ini dapat dijadikan signal oleh para investor untuk melakukan investasi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek cerah di masa mendatang.
Menurut Rini et al. (2018), hubungan teori signal dengan Debt To Equity Ratio yaitu apabila nilai Debt To Equity Ratio semakin tinggi, maka menunjukkan bahwa perusahaan memiliki hutang yang besar dan semakin tinggi pula resiko yang ditanggung perusahaan. Selama ekonomi sulit atau suku bunga tinggi, perusahaan dengan Debt To Equity Ratio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan. Hal ini dapat menurunkan profitabilitas perusahaan dan ini dapat dijadikan signal untuk investor untuk tidak melakukan investasi pada perusahaan yang sedang mengalami situasi seperti ini.
Menurut Rini et al. (2018), hubungan teori signal dengan nilai perusahaan yaitu apabila harga saham meningkat, maka dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini dapat dijadikan signal bagi para investor untuk melakukan investasi.
2. Agency Theory
Menurut Jensen dan Meckling (1976), mendefinisikan teori agensi sebagai kontrak antara satu atau beberapa orang principal yang mendelegasikan wewenang kepada orang lain (agent) untuk mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan. Teori keagenan menjelaskan pemisahan antara manajemen (agent) dan pemegang saham (principal).
Tujuan pemisahan ini adalah agar tercapai keefektifan dan keefisienan dalam mengelola perusahaan dengan mempekerjakan agen terbaik dalam mengelola perusahaan. Akan tetapi agen mungkin akan mementingkan kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan prinsipal, disisi lain
prinsipal menginginkan return yang tinggi atas sumber daya yang diinvestasikan.
3. Return On Total Asset
Menurut Kasmir (2015), Return on Total Asset adalah rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan perusahaan. Return On Total Asset merupakan rasio yang dapat melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan. Rasio ini digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam mengelola setiap nilai aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.
Semakin besar nilai Return on Total Asset maka semakin bagus, karena perusahaan dianggap mampu dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya secara efektif untuk menghasilkan laba, jika laba mengalami peningkatan investor tertarik untuk berinvestasi dan akan membeli saham pada perusahaan tersebut. Permintaan saham yang meningkatan akan meningkatkan harga saham perusahaan, sehingga nilai perusahaan juga mengalami peningkatan.
Menurut Fahmi (2015), Return on Total Asset yang positif menunjukkan bahwa dari total aktiva yang dipergunakan untuk beroperasi, perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya apabila Return on Total Asset yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian. Menurut Brigham dan Houston (2010), profit yang tinggi memberikan indikasi prospek perusahaan yang baik sehingga dapat
memicu investor untuk ikut meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham yang naik menyebabkan nilai perusahaan meningkat. Menurut Brigham dan Houston (2010), Return on Total Asset dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 (rasio pengembalian atas total aset) = Laba bersih Total aset
4. Total Asset Turnover
Menurut Hery (2017), Total Asset Turnover adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keefektifan total aset yang dimiliki perusahaan dalam menghasilkan penjualan atau dengan kata lain untuk mengukur berapa jumlah penjualan yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Rasio ini melihat sejauh mana keseluruhan aset yang dimiliki oleh perusahaan terjadi perputaran secara efektif.
Semakin tinggi nilai Total Asset Turnover menunjukkan semakin efektifnya aset perusahaan dalam menghasilkan penjualan untuk memperoleh laba bagi perusahaan. Penjualan yang meningkat menunjukkan peluang bagi investor untuk berinvestasi dan akan membeli saham pada perusahaan tersebut. Permintaan saham yang meningkat akan memicu naiknya harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan mengalami peningkatan.
Menurut Harjadi (2014), naiknya harga saham juga membuat nilai PBV juga naik. Apabila rasio rendah itu merupakan indikasi bahwa perusahaan tidak beroperasi pada volume yang memadai bagi kapasitas
investasinya. Menurut Brigham dan Houston (2010), Total Asset Turnover dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 (rasio perputaran total aset) = Penjualan Total aset
5. Debt To Equity Ratio
Menurut Kasmir (2015), Debt To Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk menilai hutang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh hutang, termasuk hutang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan hutang.
Meningkatnya Debt To Equity Ratio berarti meningkatkan pula beban bunga yang ditanggung perusahaan. Semakin meningkatnya Debt To Equity Ratio mengakibatkan profitabilitas perusahaan mengalami penurunan. Jika rasio ini rendah menunjukkan bahwa perusahaan mampu melunasi hutangnya, sehingga investor tertarik untuk berinvestasi.
Pembelian saham yang meningkat akan meningkatkan permintaan saham dan memicu naiknya harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan mengalami peningkatan.
Menurut Awat (1998), Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya berdasarkan bagian modal yang dimiliki perusahaan. Menurut Awat (1998), Debt To Equity Ratio dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑇𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 (rasio hutang terhadap ekuitas) = Total utang Modal sendiri
6. Nilai Perusahaan
Persaingan bisnis dan ekonomi semakin meningkat pada era milenial saat ini. Sehingga perusahaan dituntut untuk mampu bersaing dan bertahan untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu memaksimalkan nilai perusahaan. Menurut Harjadi (2014), meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.
Menurut Samsul (2006), nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
Menurut Samsul (2006), berbagai upaya perlu dilakukan perusahaan untuk menjaga dan meningkatkan nilai perusahaan. Bagi perusahaan, nilai perusahaan merupakan cerminan pencapaian kinerja dan prospek pertumbuhan yang terukur dari reaksi investor atas harga saham perusahaan, nilai perusahaan yang mengindikasikan perusahaan memiliki kinerja yang baik sehingga menarik investor untuk menanamkan dananya pada perusahaan, sedangkan bagi investor perlu untuk memperhatikan nilai
perusahaan agar dana yang diinvestasikan tepat sasaran, sesuai dengan tujuan portofolio investasi yang telah dirancang.
Menurut Tandelilin (2010), nilai perusahaan dapat diukur dengan nilai harga saham yang dimiliki oleh perusahaan. Indikator nilai perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Price to Book Value (PBV).
Alasan memilih PBV sebagai indikator nilai perusahaan adalah untuk menunjukkan nilai harga saham di perdagangkan di atas nilai buku saham tersebut atau dibawah nilai buku saham tersebut.
Menurut Tandelilin (2010), semakin tinggi PBV menunjukkan semakin tinggi kinerja perusahaan dinilai oleh pemodal dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan menyebabkan semakin tinggi daya tariknya bagi investor untuk membeli saham tersebut, sehingga permintaan akan naik, dan akhirnya mendorong harga saham mengalami kenaikan. Menurut Fahmi (2012), PBV dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
PBV = Market price per share Book value per share
B. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh Return On Total Asset terhadap nilai perusahaan
Menurut Kasmir (2015), Return On Total Asset merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba yang diperoleh perusahaan diukur dari nilai aset yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi Return On Total Asset maka semakin baik keadaan suatu perusahaan. Menurut Fahmi (2015), Return On Total Asset yang positif menunjukkan bahwa dari total aktiva
yang dipergunakan untuk beroperasi mampu memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya apabila Return On Total Asset yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian.
Return On Total Asset yang tinggi memberikan indikasi prospek perusahaan yang baik dalam kemampuan perusahaan memanfaatkan aset yang dimilikinya secara efektif untuk memperoleh laba. Laba yang meningkat dapat memicu investor tertarik berinvestasi sehingga dapat meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham yang naik menyebabkan nilai perusahaan meningkat. Hal ini didukung oleh penelitian terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan Misran dan Chabachib (2017), Nur’aidawati (2018), Widhiastuti et al. (2019), menunjukkan bahwa Return On Total Asset berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
𝐇𝟏: 𝑹𝒆𝒕𝒖𝒓𝒏 𝑶𝒏 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐮𝐡 𝐩𝐨𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧
2. Pengaruh Total Asset Turnover terhadap nilai perusahaan
Menurut Hery (2017), bagi investor atau calon investor memiliki tujuan utama dalam berivestasi adalah mendapatkan keuntungan maksimum dan risiko yang minimum. Perusahaan yang memperoleh keuntungan maksimum adalah perusahaan yang dapat mengelola kinerja perusahaannya dengan baik seperti penggunaan aset perusahaan. Dalam mengelola penggunaan aset perusahaan perlu adanya perputaran aktiva yang menggunakan berbagai aktivanya dengan efektif sehingga dapat mengubahnya ke penjualan dan akan memperoleh laba.
Semakin tingginya nilai Total Asset Turnover menunjukkan semakin efektifnya aset perusahaan dalam menghasilkan penjualan untuk memperoleh laba bagi perusahaan dan dapat menunjukkan peluang bagi investor untuk berinvestasi. Pembelian saham yang meningkat akan meningkatkan permintaan saham dan memicu naiknya harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan juga meningkat.
Perusahaan yang memiliki perputaran aktivanya rendah menunjukkan bahwa jumlah aktivanya lebih besar dari pada penjualan sehingga tidak dapat memperoleh laba yang maksimum. Menurut Harjadi (2014), naiknya harga saham juga membuat nilai PBV juga naik. Hal ini didukung oleh penelitian terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan Misran dan Chabachib (2017), Nur’aidawati (2018), menunjukkan bahwa Total Asset Turnover berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
𝐇𝟐: 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕 𝑻𝒖𝒓𝒏𝒐𝒗𝒆𝒓 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐮𝐡 𝐩𝐨𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧
3. Pengaruh Debt To Equity Ratio terhadap nilai perusahaan
Menurut Kasmir (2015), Debt To Equity Ratio digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan hutang. Debt To Equity Ratio memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan, semakin rendah Debt To Equity Ratio maka kinerja perusahaan itu akan membaik.
Hal ini disebabkan karena perusahaan dapat menggunakan modal yang dimilikinya untuk membayar hutang dan sisanya dialokasikan untuk mengembangkan kegiatan operasi perusahaan. Semakin berkembang dan meningkatnya kegiatan operasi, maka laba yang dihasilkan perusahaan akan meningkat, sehingga investor tertarik berinvestasi. Pembelian saham yang meningkat akan meningkatkan permintaan saham dan memicu naiknya harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan mengalami peningkatan.
Meningkatnya Debt To Equity Ratio berarti meningkatkan pula beban bunga yang ditanggung perusahaan. Dengan semakin meningkatnya Debt To Equity Ratio mengakibatkan profitabilitas perusahaan mengalami penurunan. Hal ini didukung oleh penelitian terdahulu yaitu penelitian yang dilakukan Misran dan Chabachib (2017), Widhiastuti et al. (2019), Utami dan Welas (2019), menunjukkan bahwa Debt To Equity Ratio berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
𝐇𝟑: 𝑫𝒆𝒃𝒕 𝑻𝒐 𝑬𝒒𝒖𝒊𝒕𝒚 𝑹𝒂𝒕𝒊𝒐 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐮𝐡 𝐩𝐨𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧
Berdasarkan uraian hipotesis di atas, berikut ini adalah kerangka pemikiran yang menjadi pedoman dalam penilitian:
Gambar 2.1 Model Penelitian Empiris (H1)
(H2)
(H3) Return On Total Asset
(X1)
Nilai Perusahaan (Y)
Debt To Equity Ratio (X3)
Total Asset Turnover (X2)