• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERADAAN USAHA GADAI SWASTA DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEBERADAAN USAHA GADAI SWASTA DI INDONESIA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

KEBERADAAN USAHA GADAI SWASTA DI INDONESIA

OLEH

I NYOMAN MUDANA.SH.,MH.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN2016

(2)

Judul KegiatlUl

KodelNama RwnpunIlmu KetuaPeneliti

A Nama Lengkap B. NillN

C. Jabatan Fungsional D. Program Studi E. NomorHP f. Surel (e~D.laiI)

Lama Penelitian Keseluruhan Biaya Penelitian Keseluruhan

KEBERADAAN USAHA GADA! SWASTA Dr lNOONESIA

Ilmu Hukwn

I Nyolllml Mu~ SR, MH

Jlrnu Hukwn :085935355602

90 Hari

Mengerahui,

Ketua Bagian Hukwn Keperdataan FH.Unud

.

,

2016

(I N Mud.." SH,MH)

~~)

NIPINIK.195612301986011001 NlPNlK.195503061984031003

(3)

KATAPENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syuleur kepada Ide Sang Hyang Widhi WasaJ Tuhan Yang Maha Esa, akhimya laporan penelitian ini dapat disusun dengan Judul "Keberadaan Us.h.

Gadai Swasta di Indonesia"

Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempuma karena banyak kekurangan disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengalaman dalam bidang teon maupn praktik.

Berkenaan dengan itu peneliti mengharapkan kritik, saran, bimbingan ,serta petunjuk-petunjuk dari semua pihak untuk penyempurnaan laporan ini.

Keberhasilan dalam penyusunan laporan pene1itian ini tidak terlepas dari bantuan dan

dorongan dari pihak lain, baik berupa moril maupun materii!. Untuk itu dengan segala honnal peneliiti ucapkan terima kasih .

Denpasar 12 Juni 2016

(4)

DAFTAR lSI JUDUL

PENGANTAR i

LEMBAR PENGESAHAN ii

ABSTRAK iii

DAFTAR lSI _ _.. _ _ _.. __ __ ..iv

BAB.I.PENDAHULU AN __ _ .. 1

Ll_Latar Belakang Masalah _ _ _ __ _.. __ _ __ .. _ __ 1

1.2. Rumusan Masalah , 3

1.3. Metode Penelitian 4

1.3.1. Jenis Penelitian , "., ,.,., ,." 4

1.3.2. Jenis Pendekatan " ", , ", ", ,." ",.", ",." "" ,4

1.3.3 -Sumber Bahan Hukum .. 5

1.3.4. Bahan Hukum Primer 5

L3 5. Bahan Hukum Sekunder .. 6

1.3 _6. Telrnik Pengumpulan Bahan Hukum . .__ . .. 6

1.3.7. Teknik Analisis Bahan Hukum " "", "." "" ", .. , ",." ,.7

BAB. II. Hasil Dan Pembabasan 8

11.1. Pengertian Gadai " ." ",.", " .. , , 8

-0 . . - 0

n-2 _

Sifal-Sifa! Gadai . . 9

D.3_ Subyek Gada; ... ... ... .... . .. __ .. .. 13

IL4_ Obyek Gadai .. .. -0 . . __ -0 -0 • 13

11.5. Proses TeIjadinya Gadai 13

n.6. Pengaturan Usaha Gadai Swasla 17

BAB III. Kesimpulan dan Saran 19

1. Kesimpulan " "., , 19

-0 - 0 . . . - 0

2_ Saran .. .. 19

DAFTARPUSTAKA

III

(5)

Desain Industri sangat erat hubungannya dengan hak Clpta. "arena unsur estetika dalam Desain Industri merupakan unsur yang selalu ada bilamana melakukan pendaftaran Desain Industri. Unsur estetika yang merekat pada desain industr. pada dasarnya dapat berasal dari pendesaln sendiri , tetapi juga atau mungkin terjadi milik penciptan pihak lain. Oleh karena itu sering didalam pendaftara desain industri pihak pemohon mengalami permasalahan hukum bark berupa penolakan dari Oirjen HKI maupun mengalami upaya pembatalan dari pihak lain, yang mendalilkan dirinya sebagai pihak yang berhak atas desain industri tersebut. Permasalahan hukum yang hendak diteliti dalam penefitian inj berkaitan dengan keabsahan desain industri yang berbasis hak cipta pihak lain.

Metode penelitian ini menggunakan metode yuridis normative. Dan berdasarkan hasil penelitian ini disimpufkan bahwa pendaftaran desain industri yang be basis hak cipta pihak lain semestinya disertai dengan izin pihak pencipta.

Kata kuncl. Pendaftaran , Desain Industri, berbasis Hak Cipta pihak lain.

(6)

I.LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan yang modern dewasa ini, uang dalam kegiatan sehari-hari selalu saja dibutuhkan untuk membeli atau membayar berbagai keperluan. Kemajuan tehnologi yang begitu pesat berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat yang semakin pragmatis, selalu kebutuhannya ingin dipenuhi secara cepat dan instan. Masyarakat modern selalu dimanjakan oleh kemajuan teknologi tersebut dan juga menyediakan begitu banyak kebutuhan yang semakin meningkat kwalitasnya. Tetapi jika kebutuhan yang ingin dicapai atau dibeli tidak didukung oleh uang yang cukup dimilikinya maka timbulah masalah. Solusi yang biasanya diambil, mau tidak mau dengan mengurangi untuk membeli berbagai keperluan yang dianggap tidak penting tetapi untuk keperluan yang penting terpaksa harus dipenuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbagai sumber yang ada.

Pegadaian sebagai satu-satu perusahaan BUMN di Indonesia yang menyelenggarakan bisnis gadai dan sarana pendanaan alternatif telah dikenal sejak lama dan banyak dikenal masyarakat Indonesia terutama dikota kecil. Selama ini pegadaian selalu identik dengan kesusahaan dan kesengsaraan, orang yang datang biasanya berpenampilan lusuh dengan wajah tertekan. Pegadaian telah berubah dengan membangun citra baru yaitu cukup membawa agunan seseorang terbuka peluang untuk mendapatkan pinjaman sesuai dengan jumlah taksiran nilai taksiran barang tersebut. Agunan dapat berupa apa saja asalkan berupa barang bergerak dan bernilai ekonomis. Kemudahan yang diberikan itu meningkatkan para konsumen untuk mendapatkan pinjajaman sehingga Pegadaian tidak pernah sepi lebih-lebih menjelang hari raya.

Situasi yang demikian mengundang para pemilik modal swasta untuk ikut berpartisipasi didalam usaha gadai. Sehingga banyak bermunculan reklame-reklame yang menawarkan pinjaman uang dengan bunga rendah proses cepat, “cukup BPKB uang cair”. Disisi lain

(7)

perkembangan usaha gadai swasta disamping memberi manfaat bagi masyarakat, juga akan berpengaruh tehadap persaingan usaha yang sehat dalam pasar pegadaian,mengingat belum adanya undang-Undang yang mengatur tentang pendirian pegadaian swasta.

` Kepala Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Firdaus Djaelani menuturkan salah satu cara menggerakkan ekonomi dengan memiliki banyak usaha gadai. Salah satu contohnya Pegadaian. Lembaga ini menawarkan bunga dan cepat. Sejumlah Negara pun memanfaatkan usaha gadai untuk menggerakkan ekonomi. Salah satunya Filipina. “dengan Usaha Pegadaian maka dana lebih mudah dicairkan jadi masyarakat mudah dapat dana sehingga ekonomi akan tumbuh. Memang butuh terobosan .” Kata Firdaus, saat acara Fokus Grouf Discussion Peran OJK di Industri Jasa Keuangan dalam mendukung Perekonomian Nasional, di Bandung.1

Walaupun KUHPer telah diberlakukan sejak pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, namun sampai sekarang masih adanya kerancuan pemahaman didalam masyarakat mengenai eksistensi Gadai sebagai lembaga jaminan utang. Sehingga munculah berbagai istilah dalam usaha yang berkaitan dengan gadai dengan nama Pegadaian. Rumah Gadai, dan lain- lainnya,yang maksudnya adalah usaha pimjam meminjam uang dengan jaminan benda bergerak yaitu gadai. Atas permasalahan usaha pegadaian tersebut memancing munculnya pemasalahan legalitas dari jenis usaha tersebut.

Pengaturan gadai ditentukan berdasarkan ketentuan Pasal 1150 sampai Pasal 1160 KUHPerdata buku II Bab XX, didalam pasal 1150 KUHPerdata menyatakan bahwa gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh oleh kreditur atas suatu benda yang diserahkan oleh debitur untuk menjamin piutangnya.

1 http://bisnis.liputan6.com/read/2289536/ojk-bakal -tertibkan-bibnis -gadai-swasta.

(8)

Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, gadai dikontruksikan sebagai perjanjian accesoir (tambahan) , sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian pinjam-meminjam uang.

Penyerahan benda oleh debiturnya dimaksudkan semata-mata untuk memberikan jaminan. Oleh karena tidak ditentukan siapa saja yang boleh menerima gadai maka penerima gadai dapat dilakukan baik oleh perseorangan maupun badan hukum. Berdasarkan uraian tersebut diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul “KEBERADAAN USAHA PEGADAIAN SWASTA DI INDONESIA”

I.2. Rumusan Masalah.

Berdasarkan uraian latar belakang sebagaimana tersebut diatas dalam penelitian ini diupayakan untuk memberikan jawaban dan solusi atas permalahan yang dihadapi sekitar usaha gadai swasta yaitu;

1. Apakah usaha Pegadaian/Rumah Gadai swasta memiliki legalitas di Indonesia ?

2. Bagaimanakah model pengaturan usaha gadai swasta yang semestinya dilakukan di Indonesia?.

(9)

I,3. Metode Penelitian

I.3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan penelitian Normatif. Yang dimaksud dengan penelitian normatif adalah dalam penelitian mendekati permasalahan dari segi hukum yakni berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang diikuti dengan melibatkan bahan pustaka atau data sekunder yang mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum, penelitian terhadap sistematik hukum, dan hubungannya.

1.3.2 Jenis Pendekatan

Adapun pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum antara lain pendekatan Perundang-undangan (the statute approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang bersangkutan dengan kasus yang ditangani, pendekatan konseptual (conceptual approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan beranjak dari perundang-undangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum, Pendekatan Sejarah (historical Approach) adalah pendekatan yang dilakukan dalam kerangka untuk memahami filosofi aturan hukum dari waktu ke waktu, serta memahami perubahan dan perkembangan filosofi yang melandasi aturan hukum tersebut. Cara pendekatan ini dilakukan dengan menelaah latar belakang dan perkembangan pengaturan mengenai isu hukum yang dihadapi, pendekatan perbandingan (comparative approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan Undang- Undang satu negara dengan Undang- Undang suatu negara atau lebih mengenai hal yang sama, dan pendekatan kasus (the case approach) adalah pendekatan yang dilakukan terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (in chart).

(10)

Dari jenis pendekatan hukum yang telah dipaparkan, dalam penelitia ini jenis pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Perundang-Undangan (statue approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan Perundang-Undangan dilakukan dengan menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang berhubungan dengan isu hukum yang sedang ditangani2. Kemudian mengumpulkan data dengan melihat fakta-fakta yang ada di lapanagan.

Latar belakang penggunaan pendekatan Perundang-Undangan (statue approach) karena penulisan ini membahas dan menelaah mengenai pengaturan pengaplikasian Desain Industri pada produk yang sama dengan Merek yang berbeda yang bersumber kepada Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Kemudian permasalahan ditelaah kembali dengan pendekatan konseptual yang dilakukan dengan beranjak dari perundang- undangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.

I.3.3. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sekunder. Bahan primer adalah baham hukum yang bersumber dari perwujudan asas dan kaidah hukum untuk menganalisa permasalahan berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang besumber dari penelitian kepustakaan yaitu data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumber pertamanya, melainkan bersumber dari bahan yang sudah terdokumenkan dalam bentuk bahan- bahan hukum. Bahan hukum tersebut terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

I.3.4. Bahan Hukum Primer

2 Peter Mahmud Marzuki, 2011, Penelitian Hukum, Cetakan 7, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 93

(11)

Terdiri dari bahan hukum primer yang bersumber dari Perundang- Undangan yaitu :

a. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri

b. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek

c. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2005 Tentang Pelaksanaan Undang- Undang Desain Industri Tahun 2000

1.3.5. Bahan Hukum Sekunder : a. Buku-buku Hukum b. Jurnal-jurnal Hukum

c. Karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat dalam media masa.

d. Kamus / ensiklopidia hukum, dan

e. internet dengan menyebutkan nama situnya, serta bahan-bahan yang menunjang kelengkapan bahan-bahan primer dan sekunder yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas.

I.3.6. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik studi dokumen, teknik obsevasi dan pengamatan yang mencakup bahan hukum primer berupa perundang-undangan yang terkait dengan rumusan masalah dan bahan hukum sekunder berupa buku-buku hukum, jurnal-jurnal, hukum serta karya ilmiah atau pandangan ahli hukum tentang pengaturan aplikasi Desain terhadap produk yang sama dengan Merek berbeda dari persfektif Undang-Undang Desain Industri.

(12)

I.3.7. Tehnik Analisis Bahan Hukum

Dalam penelitian ini bahan hukum primer dan sekunder yang sudah terkumpul dianalisa secara kualitatif berdasarkan permasalahan yang diangkat kemudian diolah dengan tehnik deskripsi yaitu menyajikan aspek-aspek dengan menjelaskan dan menggambarkannya dengan jelas dan dianalisa kebenarannya. Selain Teknik Deskripsi, dalam penelitian hukum normatif juga terdapat Teknik Evaluasi dan Teknik Argumentasi.

Teknik Evaluasi adalah penilaian berupa tepat atau tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar atau salah, sah atau tidak sah oleh peneliti terhadap suatu pandangan, proposisi, pernyataan rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan primer maupun dalam bahan hukum sekunder. Sedangkan Teknik Argumentasi merupakan teknik yang tidak bisa dipisahkan dari teknik evaluasi karena penilaian harus didasarkan pada alasan- alasan yang bersifat penalaran hukum. Dalam pembahasan permasalahan hukum makin banyak argumen makin menunjukan kedalaman penalaran hukum.

(13)

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

II.1. Pengertian Gadai

Dalam KUHPerdata dikenal adanya hak kebendaan yang bersifat memberi kenikmmatan dan hak kebendaan jaminan. Hak kebendaan yang bersifat member jaminan senantiasa tertuju pada benda milik orang lain , benda milik orang lain dapat berupa benda bergerak maupun benda bergerak. Untuk benda milik orang lain yang berupa benda bergerak maka hak kebendaan tersebut hak gadai. Sedangkan benda jaminan milik orang lain yan berupa benda tidak bergerak maka hak kebewndaan tersebut adalah hipotik,dan/atau Hak Tanggungan.

Gadai merupakan jaminan dengan menguasai bendanya sedangkan hipotik merupakan jaminan tanpa menguasai bendanya. Jaminan dengan menguasai bendanya bagi kreditur akan lebih aman karena mengingat pada benda bergerak mudah untuk dipindahtangankan dalam arti dijual lelang jika debitur wanprestasi, walaupun mudah untuk berubah nilainya.

Gadai merupakan jaminan dengan menguasai bendanya sudah dikenal sejak lama tapi tidak begitu banyak dipergunakan, kadang-kadang hanya sebagai jaminan tambahan dari jaminan pokok yang lain. Hal demikian terjadi karena terbentur pada inbezitstelling pada gadai, pada hal si debitur masih membutuhkan benda jaminan tersebut. Tetapi pada perkembangannya dewasa ini justru sebaliknya, dimasyarakat banyak ditemukan usaha-usaha gadai bermunculan. Hal demikian dapat dikatakan jaminan dengan menguasai bendanya sangat dibutuhkan.

Pasal 1150 gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berpiutang atau oleh orang lain atas

(14)

namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada pihak yang berpiutang untuk mengambil pelunasan dari barang-barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainya dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan setelah barang itu digadaikan ,biaya mana harus didahulukan.

Dari difinisi tersebut dapat dikatakan bahwa gadai merupakan perjanjian riil, yaitu perjanjian yang disamping kata sepakat diperlukan perbuatan suatu perbuatan nyata (dalam hal ini penyerahan kekuasaan atas barang gadai). Penyerahan itu dilakukan oleh debitur pemberi gadai dan ditujukan kepada kreditur penerima gadai. Namun demikiaan sesuai dengan 1132 ayat(1)Kitab Undang-Undang Perdata penyerahan itu boleh ditujukan kepada pihak ketiga asalkan disetujui bersama antara debitor dan kreditur. Penguasaan gadai harus mutlak beralih dari pemberi gadai, karena pasal 1152 ayat (2)Kitab Undang-Undang Hukum Perdata secara tegas melarang pengasaan barang gadai oleh debitur atau pemberi gadai. Jika hal ini dilanggar gadai itu akan batal3.

II.2. Sifat-Sifat Gadai.

Memperhatikan difinisi gadai sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1150 KUHPerdata tersebut diatas ternyata belum lengkap terungkap semua sifat-sifat gadai. Untuk mengetahui sifat-sifat gadai dapat ditemukan dalam ketentuan-ketentuan lain dari KUHPerdata.

Adapun sifat-sifat dari gadai adalah ;

1. gadai adalah hak kebendaan .

dalam pasal 1150 KUHPerdata tidak menyebutkan sifat ini namun demikian sifat kebendaan ini dapat diketahui dari pasal 1152 ayat (3) KUHPerdata yang mengatakan

3 Gunawan Wijaya&Ahmad Yani,2000.Jaminan Fidusia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

(15)

bahwa “pemegang gadai mempunyai hak revindikasi”. Dari pasal 1977 ayat (2) KUH Perdata, apabila barang gadai hilang atau dicuri “. Oleh karena hak gadai mengandung hak revindikasi maka hak gadai merupakan hak kebendaan sebab revindikasi merupakan ciiri khas dari hak kebendaan.

Hak kebendaan dari hak gadai bukanlah hak untuk menikmati suatu benda seperti eigendom , hak bezzit, hak pakai dan sebagainya. Memang benda gadai harus diserahkan kepada kreditur tetapi tidak untuk dinikmati melainkan untuk menjamin piutangnya dengan mengmbil penggantian dari benda tersebut guna membayar piutangnya.

2. Hak gadai bersifat accessoir.

Hak gadai hanya merupakan tambahan dari perjnjian pokoknya, yang merupakan perjanjian pinjam uang. Sehingga boleh dikatakan bahwa seseorang akan mempunyai hak gadai apabila ia mempunyai piutang. Jadi hak gadai merupakan hak tambahan atau acessoir, yang ada atau tidaknya bergantung dari ada dan tidaknya piutang yang merupakan perjanjian pokoknya. Dengan demikian gadai akan hapus jika perjanjian pokonya hapus .Beralihnya piutang membawa serta beralihnya hak gadai , hak gadi berpindah pada orang lain bersama-sama dengan piutang yang dijamin dengan hak gadai tersebut ,sehingga hak gadai tidak mempunyai kedudukan yang berdiri sendiri melainkan accessoir dengan perjanjian pokoknya .

3. Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi

Karena hak gadai tidak dapat dibagi-bagi , maka dengan diu bayarnya sebagian hutang tidak kan membebaskan sebagian dari benda gadai .Hak gadai tetap membebani benda gadai secara keseluruhan .Dalam pasal 1160 KUHPerdata disebutkan bahwa “tak dapatnya hak gadai dibagi-bagi dalam hal kreditur ,atau debitur meninggal dunia dengan

(16)

meninggalkan beberapa ahli waris .ketentuan ini tidak merupakan hukum yang memaksa ,sehingga para pihak dapat menentukan sebaliknya atau dengan perkataan lain sifat tak dapat dibagi-bagi dalam gadai ini dapat di simpangi apabila telah diperjanjikan terlebih dahulu oleh para pihak.

4. Hak gadai adalah hak yang didahulukan

Hak gadai adalah hak yang didahulukan .Ini dapat di ketahui dari ketentuan pasal 1133 dan 1150 KUHPerdata .Karena piutang dengan hak gadai mempunyai hak untuk didahulukan daripada piutang piutang lainya , maka kreditur pemegang gadai mempunyai hak mendahulukan ( deoit de preference ).

5. Benda yang menjadi hak gadai adalah benda bergerak , baik yang bertubuh maupun tidak bertubuh .

6. Hak gadai adalah hak jaminan yang kuat dan mudah penyitaannya .

Menurut pasal 1134 ayat 2 KUHPerdata dinyatakan bahwa hak gadai dan hipotik lebih diutamakan dari pada privilege ,kecuali undang-undang menentukan sebaliknya .

Dari bunyi pasal tersebut jelas bahwa hak gadai mempunyai kedudukan yang kuat .Disamping itu kreditur pemegang gadai adalah termasuk kreditur separatis . Selaku separatis ,pemegang gadai tidak terpengaruh oleh adanya kepailitan si debitur .

Kemudian apabila si debitur wanprestasi ,pemegang gadai dapat dengan mudah menjual benda gadai tanpa memerlukan perantara hakim ,asalkan penjualan benda gadai di lakukan di muka umum dengan lelang dan menurut kebiasaan setempat dan harus memberitahukan secara tertulis lebih dahulu akan maksud-maksud yang akan dilakukan oleh pemegang gadai apabila tidak ditebus ( pasal 1155 yo 1156ayat 2 KUHPerdata )

(17)

.Jadi disini acara penyitaan lewat juru sita dengan ketentuan-ketentuan menurut hukum acara perdata tidak berlaku bagi gadai .

II.3 . Subyek Gadai

Unutuk memhami subyek gadai perlu dikertahui lebih dahulu perjanjian yang tersangkut di dalamnya . Sebagaimana halnya dengan perjanjian-perjanjian jaminan pada umumnya ,jika seseorang membuat suatu perjanjian jaminan maka sebenarnya didalamnya terkandung dua jenis perjanjian .Pertama adalah perjanjian hutang piutang uang (sebagai perjanjian pokok ) dan kedua adalah perjanjian jaminan (yang bersifat accessoir) .Subyek dari masing-masing perjanjian tersebut ada dua .Dalam perjanjian pokok subyeknya adalah kreditur dan debitur sedang dalam perjanjian jaminan subyeknya adalah pemberi jaminan dan pemegang jaminan .Kreditur adalah pihak yang memberi hutang (pihak berpiutang) ,sedang debitur adalah pihak yang berhutang .Pemberi jaminan adalah pihak yang menyediakan (memberikan )jaminan ,dan pemegang jaminan adalah pihak yang menerima jaminan .Dalam hal masing-masing subyek dalam kedua perjanjian tersebut terpisah satu dengan yang lain ,maka dalam perjanjian jaminan terdapat empat subyek .JIka debitur adalah pemberi jaminan dan kreditur adalah pemegang jaminan ,maka dalam dua jenis perjanjian tersebut hanya terdapat dua subyek.Kemungkinan lain adalah kreditur dan pemegang jaminan berada dalam satu tangan ,sedang debitur dan pemberi jaminan terpisah (atau sebaliknya , dimana debitur dan pemberi jaminan terpisah sedang kreditur dan pemegang jminan berada dalam satu tangan ) , Dalam keadaan demikian maka terdapat tiga subyek .

Dalam hal gadai ,pemeberi gadai biasanya adalah debitur sendiri , namun dapat juga dilakukan oleh orang lain atas nama debitur .Jadi disini ada seseorang yang mengdaikan barang miliknya untuk hutang yang di buat oleh debitur .

(18)

Demikian juga pemegang gadai biasanya adalah kreditur sendiri yang dapat menuntut barang gadai yang dijaminkan padanya .

II.4 .Obyek Gadai

Obyek dari gadai adalah segala benda bergerak ,baik yang bertubuh maupun tidak bertubuh hal ini dapat dilihat dalam pasal 1150 yo 1152 ayat 1 ,1152 bis ,dan 1153 KUHPersdata.Namun benda bergerak yang tidak dapat dipindah tangankan tidak dapat digadaikan .

Dalam pasal 1152 ayat 1 KUHPerdata disebut tentang hak gadai atau surat-surat bawa dan seterusnya ,demikian juga dalam pasal 1153 bis disebutkan bahwa untuk meletakkan hak gadai atas surat surat tunjuk diperlukan endorsement dan penyerahan suratnya .Penyebutan untuk surat-surat ini dapat menimbulkan kesan yang keliru mengenai obyek gadai . Surat bawa maupun surat tunjuk bukanl;ah obyek gadai .Yang menjadi obyek gadai adalah piutang-piutang yang di buktikan dengan surat itu .Hak-hak lain juga dapat di gadaikan ,misalnya hak oktrooi ,hak merek ,hak paten (hak kekayaan intelektual )

II.5 Proses terjadinya gadai

Unutk terjadinya gadai harus dipenuhipersyaratan persyarat yang ditentukan sesuai dengan jenis benda yang di gadaikan adapun cara-cara terjadinya gadai adalh sebagai berikut ; 1. Cara terjadinya gadai pada benda bergerak bertubuh

a. perjanjian gadai

Dalam hal ini debitur dengan kreditur mengadakan perjanjian pinjam uang (kredit) dengan janji sanggup memberikan benda bergerak sebagai jaminan gadai atau perjanjian untuk memeberikan hak gadai (perjanjian gadai ).

Perjanjian ini bersifat consensual dan obligatoir .

(19)

Dalam pasal 1151 KUHPerdata disebutkan bahwa “perjanjian gadai dapat dibuktikan dengan segala alat yang diperbolehkan bagi pembuktian perjanjian pokok”.Dari ketentuan itu dapat disimpulkan bahwa bentuk perjanjian gadai tidak terikatdengan pormalitas tertentu (bebas), sehingga dapat dibuat secara tertulis maupun lisan .

b. Penyerahan benda gadai

dalam pasal 1152 ayat 2 KUHPerdata disebutkan “tidak hak gadai atas benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan si debitur ataupun yang kembali dalam kekuasaan debitur atas kemauan si kreditur “.Dengan demikian hak gadai terjadi dengan dibawanya barang gadai ke luar dari kekuasaan si debitur pemberi gadai .Syarat bahwa barang gadai harus di bawa keluar dari kekuasaan si pemeberi gadai ini merupkan syarat “inbezitstelling”.Inbezitstelling adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam gadai .Barang dikatakan di bawa keluar dari kekuasaan pemberi gadai jika barang gadai di serahkan oleh pemberi gadai kepada kreditur atau pihak ketiga (sebagai pemegang gadai) yang disetujui oleh kreditur .Mengingat benda gadai harus dibawa keluar dari kekuasaan pemeberi gadai maka di perlukan suatu penyerahan .Penyerahan benda gadai dapat dilakukan secara nyata ,simbolis,tradition brevi manu ,ataupun tradito longa manu penyerahan secara constitutum possessorium tidak menimbulkan hak gadai karena tidak memnuhi syarat inbezitstelling .

2 . Cara terjadinya gadai atas pada piutang atas bawa (atas tunjuk atau aantoonder ) a. Perjanjian gadai

Antara debitur dan kreditur dibuat perjanjian untuk memberikan hak gadai .Perjanjian ini bersifat consensiual ,obligatoir dan bentuknya bebas .

b. Penyerahan surat buktinya pasal 1152 ayat 1 KUHPerdata menyebutkan bahwa “gadai surat atas bawa terjadi ,dengan menyerahkan surat itu kedalam tangan pemegang gadai atau pihak

(20)

ketiga yang disetujui oleh kedua pihak “.Perlu diketahui bahwa piutang atas bawa (atas tunjuk ) selalu ada surat buktinya ,surat bukti ini mewakili piutang . Surat (piutang) atas bawa (atas tunjuk)adalah surat yang dibuat debitur ,dimana diterangkan bahwa ia berhutang sejumlah uang tertentu kepada pemegang surat surat mana diserahkannya kedalam tanagan pemegang .Pemegang berhak menagih pembayaran dari debitur dengan mengembalikan surat atas bawa itu kepada debitur contoh ; gadai surat / piutang atas bawa (atas tunjuk) misalnya setifikat deposito .Sertifikat deposito ,menurut bank indosnesia adalah bukti surat hutang yang dikeluarkan oleh bank atas sejumlah uang yang dipercayakan kepadanya untuk jangka waktu tertentu .Sertifikat deposito dekeluarkan atas bawa dapat diperjual belikan sewaktu-waktu dan di jaminkan untuk suatu kredit dari bank

3. Cara terjadinya gadai pada piutang atas order (aanorder) a. Perjanjian gadai

Antara debitur dan kreditur membuat perjanjian gadai yang bersifat consensual ,obligator dan bentuknya bebas .

b. Adanya endorsement yang diikuti dengan penyerahan suratnya .

Pasal 1152 bis KUHPerdata menyebutkan bahwa “untuk mengadakan hak gadai piutang atas tunjuk diperlukan adanya endorsement pada surat hutangnya dan diserahkannya surat hutang kepada pemegang gadai “. PIutang atas tunjuk ini juga selalu ada surat buktinya ,dimana surat bukti ini mewakili piutang .Endosement adalah pernyataaan penyerahan piutang yang di tanda tangani kreditur (endorsement) yang bertindak sebagai pemberi gadai harus memuat nama pemegang gadai (geendosserde).Bentuk gadai piutang atas order ,misalnya wesel , Wesel adalah surat yang mengandung perintah dari penerbit atau trekker kepada tersangkut (betrokken) unutuk

(21)

membayar sejumlah uang keopada pemegang (houder) . Hak yang timbul dari wesel itu ,oleh pemegang wesel dapat diletakkan sebagai jaminan kredit keoada pemeberi kredeit .

4. Cara terjadinya gadai atas nama (opnam)

a. perjanjian gadai debitur dengan kreditur membuat perjanjian gadai . perjanjian ini bersiufat consensual ,obligatur dan bentuknya bebas . b. adanya pemeberiahuan kepada debitur dari piutang yang di gadaikan

pasal 1153 KUPerdata menyebutkan bahwa “hak gadai piutang atas nama diadakan dengan memberitahukan akan penggadaiannya (perjanjian penggadainya )kepada debitur

“.Dalam pemberitahuan ini debitur dapat meminta bukti tertulis perihal penggadaiannya dan persetujuan dari pemberi gadai .Setelah itu debitur hanya dapat membayar hutangnya kepada pemegang gadai .Bentuk pemberitahuan ini dapat dilakukan baik secara tertulis maupun secara lisan .Pemeberitahuan dengan perantaraan juru sita perlu diadakan apabila debitur tidak bersedia memberikan keterangan tertulis tentang pesetujuan pemberian gadai itu .

Dalam gadai piutang atas nama tersangkut tiga pihak seperti pada penyerahan piutang atas nama (cessie) .Gadai piutang atas nama juga di namakan gadai cessie karena disini yang di gadaikan adalah piutang atas nama , sedangkan penyerahan piutang atas nama dilakukan dengan cessie .Perbedaan antara cessi dengan gadai piutang atas nama adalah sebagai berikut :

1. Bentuk perjanjian Cessie :

Harus dibuat dengan akta ,baik dengan akta otentik maupun akta dibawah tangan (PASAL 6013 KUHPerdata ).

Gadai piutang atas nama :

Bentuk perjanjiannya tidak terikat pada formalitas tertentu / bebas pasal 1151 KUHPerdata .

(22)

2. Pemberitahuan kepada debitur Cessie :

Dengan dibuatnyya akte cessie maka perbuatan hukum adanya cessie itu sudah selesai dan pemberitahuan kepada debitur (cessus) hanya merupakan uapaya agar mengikat ,yaitu agar ia menjadi wajib membayar sah kepada cessionaries (pemegang saham ).

Gadai piutang atas nama :

Pemberitahuan merupakan hal yang mutlak harus dilakukan supaya hak gadai terjadi .Setelah adanya pemberitahuan ,debitur tidak lagi dapat membayar hutangnya kepada kreditur/

pemeberi gadai ,melakukan kepada pemegang gadai . 3.Cara Pem,beritahuan

Cessie :

Pemeberitahuan kepada cessus hanya akan dilakukan dengan exploit jurusita /betokening ,apabila cessus tidak mau menerima dan tidaak mw mengakui adanya cessie.

Gadai piutang atas nam :

Pemeberitahuan dapat dilakukan secara bebas ,dapt secar lisan atau tertulis . II.6. Pengaturan Usaha Gadai Swasta

Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya bahwa didalam KUHPerdata tidak ada persyaratan bagi kreditur dalam perjanjian pinjam uang yang menjadi perjanjian pokok dari gadai yang menentukan bahwa kreditur harus mempunyai izin usaha gadai.

Undang-Undang yang mengatur tentang perizinan usaha yang berkaitan dengan pemberian pinjaman terdapat dilam UUPerbankan. Namun sebagamana diketahui bahwa Undang-Undang Perbankan hanya mengatur terhadap kegiatan usaha yang menarik dana dari masyarakat yang kemudian menyalurkannya kembali kemasyarakat melalui kredit.

(23)

Berdasarkan sejarah pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan Bank van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari Pemerintah Daerah setempat ("liecentie stelsel”)

Namun metode tersebut berdampak buruk pemegang lisensi menjalankan praktik rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan pemerintah berkuasa (Inggris). Oleh karena itu metode "liecentie stelsel" diganti menjadi "pacth stelsel" yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayar pajak yang tinggi kepada pemerintah daerah.

Pada saat Belanda berkuasa kembali, pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama. Pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan "cultuur stelsel" di mana dalam kajian tentang pegadaian saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah dan tanggal 1 April 1901 didirikan Pegadaian Negara pertama di Sukabumi, Jawa Barat. Selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian

(24)

BAB III

Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan tersebut didalam bab-bab sebelumnya dapat dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Usaha gadai yang dilakukan oleh pelaku-pelaku usaha swasta tidak mempunyai dasar ligalitas, sehingga dapat dikatakan sebagai usaha yang tidak sah.

2. Jenis usaha pegadaian di Indonesia hanya diperkenankan kepada pihak Badan Usaha Milik Negara.

2. Saran.

1. Untuk menjamin kepastian hukum bagi para pengusaha dalam bidang pegadaian hendaknya segera dilakukan pengaturan usaha pegadaian yang baru yang dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk berusaha dibidang usaha tersebut, sehingga persaingan yang sehat dapat dirasakan dalam usaha pegadaian. Selama ini dirasakan terjadinya monopoli didalam usaha pegadaian.

2. Untuk menjaga dan memberikan perlindungan kepada konsumen dibidang Usaha Gadai Swasta hendaknya pemerintah segera membuatkan aturan yang dapat menetapkan kewajiban bagi pelaku usaha gadai swasta untuk memenuhi perizinan, sehingga didalamnya dapat dibebankan kepadanya kewajiban berkenaan dengan keselamatan, dan keamanan penyimpanan benda jaminan, dan pelaksanaan pelelangan yang tertib dan transparan.

(25)

.

1. Gunawan Wijaya&Ahmad Yani,2000.Jaminan Fidusia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta 2. Peter Mahmud Marzuki, 2011, Penelitian Hukum, Cetakan 7, Kencana Prenada Media

Group, Jakarta,

Referensi

Dokumen terkait

tidak lagi diserap oleh ileum di dalam usus besar akan mengalami konjugasi dan kemudian diubah menjadi bermacam-macam asam empedu sekunder antara lain yang terpenting adalah

Sehingga penyusunan laporan skripsi berjudul “Sistem Informasi Akademik Nilai Siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Kemuning Sambit Berbasis Web” dapat

Berdasarkan hasil analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata n -Gain keterampilan berpikir orisinil siswa

Pengeplotan ini adalah untuk memvisualisasikan hasil pengolahan data, yanag pertama yaitu nilai anomali TEC di setiap stasiun pengamatan, dan yang kedua adalah posisi

Jumlah pendamping sosial yang meningkat Pemahanan dan Keterampilannya tentang PMKS 148 Desa / Kelurahan 148 Desa / Kelurahan 148 Desa / Kelurahan 148 Desa / Kelurahan

Tidak ada kata lain yang bisa penulis ucapakan selain rasa Syukur dan terima kasih penulis kepada sang Juru Selamat penulis, Guru dari segala Guru, dan Pribadi yang selalu ada

Oleh karena itu penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sempel lainnya seperti , auditor dan dosen jurnal ini juga hanya fokus membahas PSAK No.55(revisi 2006)

Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka perlu pengaturan dan penyesuaian