• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENA KREATIF: JURNAL PENDIDIKAN November 2019, Volume 8, Nomor 2, Hal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENA KREATIF: JURNAL PENDIDIKAN November 2019, Volume 8, Nomor 2, Hal"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

November 2019, Volume 8, Nomor 2, Hal 155-165

MOTIVASI MAHASISWA DALAM BELAJAR BAHASA INGGRIS DI PERGURUAN TINGGI

Mifta Rahman1, Dewi Ismu Purwaningsih2, Ufi Ruhama’3

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi D-3 Ilmu Perpustakaan, [email protected]

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, [email protected] Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, [email protected]

Abstrak

Pada proses pembelajaran, motivasi memiliki peranan yang penting karena motivasi dapat menumbuhkan minat dalam belajar. Penelitian ini akan dilakukan pada mahasiswa semester 1 program studi D3 Perpustakaan FKIP Untan dengan tujuan untuk mendeskripsikan motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu menggambarkan kejadian yang telah ada dengan menggabungkan kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu kuesioner, observasi, dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 1 program studi D3 Perpustakaan FKIP Untan yang mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa semester 1 program studi D3 Perpustakaan FKIP Untan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar bahasa Inggris, yang terdiri dari faktor internal dan eksternal.

Kata kunci: minat belajar, motivasi internal, motivasi eksternal

I. PENDAHULUAN

Motivasi merupakan usaha yang dilakukan untuk menciptakan situasi tertentu sehingga seseorang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dapat diperoleh dari faktor luar atau dalam diri sesorang. Pada proses pembelajaran, motivasi memiliki peranan yang penting karena motivasi dapat menumbuhkan minat dalam belajar. Seseorang yang memiliki motivasi akan belajar lebih giat daripada orang yang tidak memiliki motivasi.

Penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara motivasi dan keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Inggris (Christiana, I. O, 2009: 30, Choosri, C dan Intharaksa, U, 2011: 1, and Alizadeh, M, 2016: 11).

Bahasa Inggris telah diajarkan dari tingkat Sekolah Dasar hingga di tingkat Universitas. Di Program Studi D-3 Perpustakaan FKIP Universitas Tanjungpura, bahasa Inggris diajarkan selama 3 semester, yaitu semester 1, 2, dan 4. Pada semester 1, mahasiswa mendapat mata kuliah Bahasa Inggris Dasar, semester 2 mahasiswa mendapat mata kuliah Bahasa Inggris Terapan, dan semester 4 mahasiswa mendapat mata kuliah Bahasa Inggris Korespondensi.

(2)

Penelitian ini akan dilakukan pada mahasiswa semester 1 program studi D3 Perpustakaan FKIP Untan. Mahasiswa pada semester pertama perlu mengetahui motivasi yang dimiliki untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Ihsan (2016: 33) menyatakan bahwa motivasi perlu untuk diketahui sebelum seseorang mengikuti sebuah program. Selain itu, motivasi yang dimiliki mahasiswa dapat mendorongnya untuk belajar dengan lebih giat, misalnya motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris adalah agar dapat berbicara dengan orang asing, maka mahasiswa tersebut akan belajar bahasa Inggris lebih keras agar dapat berbicara dengan orang asing.

Dosen juga memiliki peranan penting untuk mengetahui motivasi yang dimiliki oleh mahasiswanya. Dosen dapat menggunakan motivasi mahasiswa sebagai pertimbangannya dalam memilih metode dan strategi mengajar yang tepat. Dosen yang telah mengetahui tingkat motivasi belajar mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris dapat melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mahasiswa sehingga tujuan pembelajaran dapat terpenuhi. Yufrizal (2007: 11) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan dalam belajar bahasa Inggris diantaranya adalah motivasi dan perilaku dalam berbahasa Inggris. Dengan demikian, penelitian mengenai motivasi belajar mahasiswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris penting untuk dilakukan.

II. STUDI PUSTAKA

Teori mengenai motivasi telah ada sejak tahun 1950an yang disebabkan oleh pengaruh dari teori behaviorisme (Oletic and Ilic, 2014: 24). Motivasi merupakan sesuatu yang berhubungan dengan psikologis, tingkat laku dan minat serta tidak dapat dilihat (Ihsan, 2016:

32). Motivasi mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam pembelajaran, motivasi menjadi satu diantara faktor yang dapat meningkatkan minat dalam belajar. Dornyei dalam Xiao (2010: 61) menjelaskan pentingnya motivasi terhadap pembelajaran bahasa Inggris yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Motivasi memiliki korelasi positif dan mempengaruhi hasil belajar (Warti, 2016 dan Sobandi, 2017).

Gardner in Long, et al. (2013: 136 – 137) menyatakan terdapat empat aspek dalam motivasi belajar bahasa Inggris, yaitu tujuan seseorang dalam belajar, adanya usaha untuk belajar, keinginan untuk meraih tujuan, dan sikap dalam belajar. Indikator motivasi belajar terdiri dari adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya

(3)

kegiatan yang menarik dalam belajar, dan adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan dapat belajar dengan baik (Uno, 2010).

Pembelajaran yang efektif adalah ketika pembelajaran tersebut mencerminkan suasana baru di sekelilingnya dan mengubah pandangan pebelajar berdasarkan pada cerminan tersebut (Kim, 2014). Suardi (2018: 10) menyebutkan dua unsur penting dalam belajar, yaitu pemahaman dan perubahan dalam diri seseorang. Dalam proses belajar, seseorang akan mengalami interaksi yang dapat berasal dari dalam atau luar diri sendiri. Dengan interaksi ini akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam diri individu tersebut. Proses belajar berhasil apabila adanya perubahan dari dalam diri individu yang belajar. Perubahan ini harus terarah dan sesuai dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berhubungan dan dianut oleh masyarakat.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu menggambarkan kejadian yang telah ada. Dalam penelitian ini menggabungkan kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan tingkat motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris dan faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris. Sedangkan metode kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan uraian mengenai motivasi serta faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa.

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 1 program studi D3 Perpustakaan FKIP Untan yang mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris Dasar. Penelitian ini akan dilakukan selama 6 bulan yaitu dari bulan Juli sampai dengan bulan November 2019. Pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data antara lain kuesioner, observasi, dan wawancara.

a) Kuesioner

Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah motivasi belajar mahasiswa.

Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Penggunaan kuesioner tertutup ini berdasarkan pada kelebihan kuesioner tertutup yaitu data yang mudah diolah, responden yang tidak perlu menuliskan buah pikirannya, pengisian yang menggunakan waktu yang singkat, dan dapat menjaring responden yang relatif banyak (Sudaryono, 2013). Adapun bobot skor pada jawaban mahasiswa dirincikan sebagai berikut.

4 = Sangat setuju 3 = Setuju

2 = Tidak setuju

(4)

1 = Sangat tidak setuju b) Observasi

Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi langsung, yaitu melakukan observasi pada proses pembelajaran di kelas. Peneliti mengisi lembar observasi dengan memberikan centang yang sesuai dengan kondisi pada saat pembelajaran berlangsung.

Lembar observasi menggunakan skala bertingkat, yaitu dengan bobot nilai sebagai berikut.

5 = Baik sekali 4 = Baik 3 = Cukup 2 = Kurang 1 = Kurang sekali c) Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab lisan yang dilakukan secara sistematis guna mencapai tujuan penelitian (Sutoyo, 2012). Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas yaitu peneliti tidak menggunakan instrumen wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono, 2014).

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis secara kuantitatif. Data yang diperoleh dari angket diolah menggunakan statistik deskriptif. Peneliti menghitung skor yang diperoleh dari angket dan nilai mahasiswa. Data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi skor mean dan tabel nilai distribusi frekuensi. Untuk menghitung persentase dan frekuensi menggunakan rumus sebagai berikut (Bungin, 2014).

Keterangan:

N = Jumlah kejadian Fx = Frekuensi individu

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

M Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa semester I program studi D-3 Ilmu Perpustakaan.

Angket dibagikan kepada mahasiswa. Terdapat 26 mahasiswa yang mengisi angket yang terdiri dari 4 mahasiswa dan 22 mahasiswi. Selain itu, data penelitian diambil berdasarkan wawancara. Angket dan wawancara digunakan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut.

1) Persepsi mahasiswa mengenai bahasa Inggris

(5)

a. Minat belajar bahasa Inggris

Gambar 1. Minat mahasiswa belajar bahasa Inggris

b. Pembelajaran bahasa Inggris di kelas.

Gambar 2. Persepsi mengenai pembelajaran bahasa Inggris di Kelas

c. Adanya pengaruh pengajar terhadap minat belajar bahasa Inggris

Gambar 3. Adanya pengaruh pengajar terhadap minat belajar bahasa Inggris

(6)

Dari hasil analisis data, ditemukan terdapat 65,4% mahasiswa yang menyukai bahasa Inggris dan 34,6% mahasiswa yang tidak menyukai bahasa Inggris. Tidak ada mahasiswa yang menganggap bahwa pembelajaran bahasa Inggris di kelas tidak menyenangkan. Dari seluruh mahasiswa, terdapat 69,2% menganggap pembelajaran bahasa Inggris menyenangkan, 19,2% mahasiswa menganggap pembelajaran bahasa Inggris kurang menyenangkan, dan 11,5% menganggap pembelajaran bahasa Inggris sangat menyenangkan.

Mahasiswa menganggap bahwa belajar bahasa Inggris menyenangkan di kelas. Dari hasil wawancara ditemukan bahwa pembelajaran bahasa Inggris menyenangkan karena pengajar yang baik, seru, dan asik. Selain itu, mahasiswa berpendapat bahwa menggunakan bahasa Inggris dapat meningkatkan kepercayaan diri. Penggunaan bahasa Inggris dapat menunjukkan intelijensi seseorang.

Metode pengajaran bahasa Inggris dapat menjadi alasan mahasiswa dalam menyukai atau tidak menyukai belajar bahasa Inggris. Metode pengajaran bahasa Inggris yang menyenangkan dapat membuat mahasiswa tertarik dalam belajar bahasa Inggris. Menurut Budiana dan Djuwari (2018: 201) mahasiswa dapat tertarik belajar bahasa Inggris jika pengajarnya mengetahui strategi menarik dalam mengajar. Sebaliknya, metode pengajaran yang tidak sesuai juga membuat bahasa Inggris menjadi tidak menyenangkan, misalnya pembelajaran yang terlalu serius dan kurang menyenangkan.

Pengajar yang memberikan tugas yang terlalu banyak juga menyebabkan pembelajaran bahasa Inggris menjadi tidak menyenangkan. Pengajar juga mempengaruhi pembelajaran bahasa Inggris menjadi kurang menyenangkan. Sebanyak 92,3% menyatakan bahwa pengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap minat mahasiswa untuk belajar bahasa Inggris dan sisanya 7,7% mahasiswa menyatakan bahwa pengajar tidak berpengaruh terhadap minat untuk belajar bahasa Inggris. Usman, dkk (2016: 141) menyatakan bahwa siswa memiliki motivasi untuk belajar bahasa Inggris karena pengajarnya baik, yaitu memiliki karakter dan kompetensi pengajar.

Faktor lain yang menyebabkan pembelajaran bahasa Inggris di kelas dapat menjadi kurang menyenangkan yaitu bahasa Inggris sulit dimengerti seperti pengucapan yang sulit dan tidak hapal kosakata. Mahasiswa lainnya menyatakan adanya ketakutan ketika mengucapkan salah dan bahasa Inggris membosankan. Hal ini juga dialami oleh pebelajar bahasa Inggris di Asia. Penelitian telah menunjukkan bahwa kesulitan dalam bahasa Inggris dikarenakan pebelajar takut membuat kesalahan dalam menggunakan bahasa

(7)

Inggris dan adanya masalah dalam menguasai kosakata sehingga membuat kesulitan dalam memahami bacaan (Khattak, dkk dan Souvannasy dalam Souriyavongsa, dkk., 2013).

Menurut mahasiswa, kemampuan bahasa Inggris yang paling sulit dikuasai oleh mahasiswa adalah tata bahasa 65,4%. Kemampuan bahasa Inggris yang tersulit selanjutnya adalah kosa kata 57.7%. Selanjutnya kemampuan berbicara dirasakan sulit oleh 53,8% mahasiswa. Kemampuan bahasa Inggris yang tersulit selanjutnya, yaitu mendengar (46,2%), membaca (19.2%). Pada skill menulis, mahasiswa tidak memiliki kesulitan. Tidak ada mahasiswa yang memilih menulis sebagai skill yang sulit. Hal tersebut berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa menulis merupakan keterampilan yang paling sulit untuk dikuasai oleh pebelajar bahasa kedua, bahkan bagi penutur bahasa tersebut karena dalam menulis memerlukan proses yang panjang (Humpreys, 2003 dan Richards, 1990 dalam Gharabally, 2015).

Faktor pendukung kesuksesan dalam berbahasa Inggris yaitu dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu dari diri sendiri, diantaranya rajin mempraktekkan bahasa Inggris, gigih, dan memiliki motivasi dalam belajar. Faktor eksternal meliputi pengajar dan metode yang digunakan oleh pengajar tersebut dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Williams dan Burner dalam Usman, dkk (2016: 134 – 135) menyatakan bahwa pengajar adalah faktor eksternal yang dapat memengaruhi kesuksesan atau kegagalan dalam belajar yang didukung oleh proses pembelajaran yaitu aktivitas dan materi pembelajaran, umpan balik, dan suasana kelas.

2) Motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris

Untuk mengetahui motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris, maka digunakan kuesioner yang diadaptasi dari Gadner’s Attitude/Motivation Test Battery (Gardner, 1960).

Motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Motivasi Mahasiswa Belajar Bahasa Inggris

No PERNYATAAN SS S KS TS STS

1 Saya belajar bahasa Inggris agar dapat berbicara dengan orang asing secara lancar.

46,2% 53,8% - - -

2 Saya belajar bahasa Inggris agar dapat memahami budaya asing.

30,8% 53,8% 15,4% - - 3 Saya belajar bahasa Inggris agar dapat

membaca berita, mendengarkan lagu atau menonton film berbahasa Inggris.

38,5% 53,8% 3,8% 3,8% -

4 Saya belajar bahasa Inggris agar membuat 15,4% 46,2% 30,8% 7,7% -

(8)

saya lebih dihormati orang lain.

5 Saya belajar bahasa Inggris agar saya mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

26,9% 53,8% 15,4% 3,8% - 6 Saya belajar bahasa Inggris untuk

melanjutkan studi di luar negeri.

38,5% 53,8% 3,8% 3,8% - 7 Saya senang belajar bahasa Inggris karena

materi dan pembelajarannya menyenangkan.

11,5% 65,4% 23,1% - -

8 Saya selalu mempraktekkan materi bahasa Inggris yang baru saya dapatkan.

- 57,7% 24,6% 7,7% - 9 Saya selalu menantikan jadwal

pembelajaran bahasa Inggris.

- 61,5% 26,9% 7,7% 3,8

% 10 Saya senang belajar bahasa Inggris karena

saya selalu mendapatkan nilai yang bagus di kelas bahasa Inggris.

11,5% 46,2% 42,3% - -

11 Saya merasa bersalah jika saya gagal dalam belajar bahasa Inggris.

19,2% 57,7% 19,2% - 3,8

% 12 Saya akan mendapatkan nilai yang lebih

tinggi jika saya belajar bahasa Inggris lebih giat.

34,6% 57,7% 7,7% - -

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa motivasi belajar bahasa Inggris mahasiswa yaitu agar dapat berbicara dengan orang asing secara lancar. Semua mahasiswa menjawab setuju pada item pernyataan ini. Berbicara merupakan kemampuan yang paling penting karena berbicara merupakan satu keahlian yang diperlukan untuk melakukan percakapan (Leong dan Ahmadi, 2017).

Selain itu, motivasi kedua mahasiswa belajar bahasa Inggris adalah untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Nilai yang tinggi dapat menjadi satu penghargaan dan nilai yang jelek dapat menjadi konsekuensi bagi mahasiswa yang diberikan oleh pengajar. Mendapatkan nilai yang rendah dapat membuat mahasiswa yang tidak menguasai bahasa Inggris menjadi frustasi dan menjadi tidak termotivasi (Qashoa, 2006). Selanjutnya, Littlejohn dalam Qashoa (2006) menyatakan bahwa seorang pengajar seharusnya dapat memunculkan motivasi mahasiswa bahwa mereka dapat menguasai bahasa Inggris.

Memahami budaya asing juga merupakan motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris. Hal ini berbeda dari hasil penelitian Qashoa (2006) yang menyebutkan bahwa tidak ada responden yang memilih mereka memperlajari bahasa Inggris untuk mengenal literatur Amerika maupun Inggris.

Mata kuliah bahasa Inggris bukan merupakan subjek yang dapat memotivasi mahasiswa untuk belajar bahasa Inggris. Hal tersebut dapat dilihat dari pilihan mahasiswa pada kuesioner. Tidak ada mahasiswa yang menjawab sangat setuju pada item menantikan jadwal

(9)

pembelajaran bahasa Inggris, bahkan 3,8% mahasiswa menjawab sangat tidak setuju. Dengan demikian, pengajar bahasa Inggris harus bekerja lebih keras untuk membuat bahasa Inggris menjadi subjek yang dinantikan oleh mahasiswa.

V. KESIMPULAN

Mahasiswa Program Studi D-3 Perpustakaan FKIP Untan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar bahasa Inggris. Faktor tertinggi yang berpengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa yaitu keinginan mahasiswa untuk dapat berbicara dengan orang asing dan mendapatkan nilai tinggi dalam kelas bahasa Inggris. Sebaliknya, mahasiswa tidak memiliki motivasi tinggi pada kelas bahasa Inggris yang terlihat dari respon mahasiswa yang rendah dalam menantikan kelas bahasa Inggris.

Motivasi mahasiswa juga dipengaruhi oleh pengajar dan metode pembelajaran yang digunakan di dalam kelas. Pengajar memiliki peranan penting dalam memotivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris. Mahasiswa menyukai belajar bahasa Inggris jika pengajarnya memiliki karakter yang baik dalam mengajar dan mahasiswa tidak menyukai bahasa Inggris jika pengajarnya memberikan tugas yang banyak dan tidak dapat membawa kelas menjadi menyenangkan. Menggunakan metode pembelajaran yang sesuai juga dapat memotivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Alizadeh, M. 2016. The Impact of Motivation on English Language Learning. International Journal of Research in English Education (1) 1: 11 – 15.

Budiana, K.M. dan Djuwari. 2018. The Non-Native Students’ Motivation in Learning English at STIE Perbanas Surabaya. Journal of Language and Literature 12 (2): 195 – 202.

Bungin, B. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Choosri, C dan Intharaksa, U. 2011. Relationship between Motivation and Students’ English Learning Achievement: A Study of the Second-year Vocational Certificate Level Hatyai Technical College Students. Proceedings the 3rd International Conference on Humanities and Social Sciences: 1 – 15.

Christiana, O.I. 2009: 34, Influence of Motivation on Students’ Academic Performance. The Social Sciences Jurnal (4) 1: 30 – 36.

(10)

Gharabally, M. A. 2015. The Writing Difficulties Faced by L2 Learners and How to Minimize Them. International Journal of English Language and Linguistics Research (3) 5: 42 – 49.

Ihsan, M.D. 2016. Students’ Motivation in Speaking English. Journal of English Educators Society (1) 1: 31 – 48.

Kim, J. 2014. College EFL Learner’s Speaking Motivation under English-medium Instruction Policy. The Journal of Asia TEFL (11) 1: 37 - 64.

Leong, L.M. dan Ahmadi, S.M. 2017. An Analysis on Factors Influencing Learners’ English Speaking Skill. International Journal of Research in English Education 34 – 41.

Long, C., et. al. 2013. The Study of Student Motivation on English Learning in Junior Middle School-A Case Study of No.5 Middle School in Gejiu. English Language Teaching CCSENET Journal (6) 9 : 136 – 145.

Oletic, A dan Ilic, N. 2014. Intrinsic and Extrinsic Motivation for Learning English as a Foreign Language. ELTA Journal (2) 2: 23 – 38.

Qashoa, S.H.H. 2006. Motivation among Learners of English in the Secondary Schools in the Eastern Coast of the UAE. Disertasi: Institut of Education British University in Dubai.

Sobandi. 2015. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas VIII Mts Negeri 1 Pangandaran. Jurnal Diksatrasia vol 1 No 2 Agustus 2017 hal 306 - 310.

Souriyavongsa, T, dkk. 2013. Factors Causes Students Low English Language Learning: A Case Study in the National University of Laos. International Journal of English Language Education 1 (1): 179 -192.

Suardi, M. 2018. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta. Deepublish.

Uno, H. B. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi Aksara.

Usman, B, dkk. 2016. The Influlence of Teacher’s Competence towards the Motivation of Students in Learning English. Jurnal Studies in English Language and Education, vol 3 nomor 2. Hal 134 – 146.

Warti, E. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa di SD Angkasa 10 Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur. Jurnal Mosharafa volume 5 nomor 2 Mei 2016. Hal 177 - 185.

Xiao, J. 2010. Motivation and Beliefs in Distance Language Learning: The Case of English Learners at SRTVU, an Open University in China. The Journal of ASIA TEFL (7) 3 : 59 – 91.

(11)

Yufrizal, H. 2007. An Introduction to Second Language Acquisition. Bandung: Pustaka Reka Cipta.

Gambar

Gambar 1. Minat mahasiswa belajar bahasa Inggris
Tabel 1. Motivasi Mahasiswa Belajar Bahasa Inggris

Referensi

Dokumen terkait

Sementara pada bulan Oktober 2015 dalam wawancara yang dilakukan peneliti dengan Pak Arif, menuturkan sebuah peristiwa yang terjadi di Kemiri 1 di mana salah seorang

Metode penelitian kuantitatif dapat diartiksan sebagai metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau

H 0 : variabel independent (inisiator, motivator, edukator, komunikator dan fasilitator) secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

Desain Penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, kemudian

Teknik tersebut digunakan untuk menguji hubungan antara kedua variabel yaitu variabel X kegiatan bermain peran makro dengan variabel Y Keterampilan Berbicara, dengan rumus

Omamen yang digunakan pada bangunan fasilitas olah raga dan rekreasi air dikategorikan menurut keutamaan bangunan. Adaptasi ornamen pada rumah dengan tingkat sosial

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda,

Objektivasi adalah hasil yang didapatkan dari proses tahapan eksternalisasi, dari tahapan eksternalisasi penyesuaian diri dalam kehidupan realitas sosial