UJI ADAPTASI PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) ASAL JAWA BARAT
SKRIPSI
OLEH :
ELISA M SINAGA
080307018/PEMULIAAN TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
UJI ADAPTASI PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) ASAL JAWA BARAT
SKRIPSI
OLEH :
ELISA M SINAGA
080307018/PEMULIAAN TANAMAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
Judul Skripsi : Uji Adaptasi Pertumbuhan Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal Jawa Barat
Nama : Elisa M Sinaga
NIM : 080307018
Program Studi : Agroekoteknologi Minat : Pemuliaan Tanaman
Disetujui oleh, Komisi Pembimbing:
(Ir. Eva Sartini Bayu, MP) (Ir. Isman Nuriadi Ketua Anggota
)
Mengetahui,
(Ir. T. Sabrina, M.Agr, Sc, Ph.D Ketua Program Studi Agroekoteknologi
)
ABSTRAK
ELISA M SINAGA : Uji Adaptasi Pertumbuhan Beberapa Varietas
Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal Jawa Barat, dibimbing oleh EVA SARTINI BAYU dan ISMAN NURIADI.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan varietas bawang merah asal Jawa Barat yang mampu beradaptasi di daerah Medan. Penelitian dilakukan di lahan masyarakat di daerah Simalingkar, Kecamatan Tuntungan (± 25 m dpl) pada bulan Juni-September 2012.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan Varietas yang terdiri dari lima varietas. Tiga varietas asal Jawa Barat yakni, varietas Katumi, varietas Kuning, dan Varietas Sembrani, dan dua varietas lokal yaitu varietas Medan dan varietas Tuk-Tuk, perlakuan diulang sebanyak empat kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Duncan Berjarak Ganda (DMRT).
Hasil analisis data menunjukkan bahwa varietas berbeda nyata terhadap jumlah anakan, berat basah per sampel, berat kering per sampel, diameter umbi, tinggi umbi dan susut bobot umbi dan produksi ton/ha. Dan berbeda tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, umur panen, berat basah per plot dan berat kering per plot
Kata kunci : varietas, adaptasi bawang merah
ABSTRACT
ELISA M SINAGA: Adaptation Test on Growth of Onion Varieties (Allium ascalonicum L.) Origin of West Java, and guided by EVA SARTINI BAYU and
ISMAN NURIADI.
This research was aimed to gain onion varieties from West Java that able to adapt in Medan area. This research was conducted on level land in Simalingkar, Tuntungan District (± 25 meters above sea) in June-September 2012. This research used Randomized Block Design (RBD) treatment consisting of five varieties. Three varieties from West Java are Katumi, Yellow and Sembrani variety, and two local varieties are Medan and Tuk-Tuk variety, the treatment was replicated four times. The data obtained were analyzed using analysis of variance followed by Duncan Test (Duncan’s Multiple Range Test/ DMRT).
The results of showed that varieties significantly different with number of tillers, wet weight plant sample, dry weight plant sample, bulb diameter, bulb height and bulb weight shrinkage and production. And not significantly different with plant height, number of leaves, harvest, wet weight plant plot and dry weight plant plot
Key words: variety, adaptation of onion
RIWAYAT HIDUP
Elisa M Sinaga lahir di Sabulan pada tanggal 4 September 1989 dari Ayah S.
Sinaga dan Ibu A. Pandiangan. Penulis anak pertama dari tujuh bersaudara.
Penulis lulus SD pada tahun 2002 di SD Swasta Yayasan Bonapasogit Sejahtera (YBS) Porsea, lulus SMP SD Swasta Yayasan Bonapasogit Sejahtera (YBS) pada tahun 2005, lulus SMA N 1 Balige pada tahun 2008 dan pada tahun 2008 penulis lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur UMB-SPMB dengan Program Studi Pemuliaan Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Selain aktif akademis penulis juga anggota dan mengikuti kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa Budidaya Pertanian (HIMADITA) tahun 2008-2011. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di PTPN IV Unit Kebun Gunung Bayu, Pematang Siantar.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Adapun judul skripsi ini adalah “Uji Adaptasi Pertumbuhan Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Asal Jawa Barat” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Komisi Pembimbing, yaitu Ibu Ir. Eva Sartini Bayu, MP selaku Ketua dan Bapak Ir. Isman Nuriadi selaku Anggota yang telah banyak memberi saran dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Terimakasih yang setulusnya untuk kedua orangtua penulis, Ayahanda S. Sinaga dan Ibunda A. Pandiangan, kepada adik-adik, serta teman-teman, yang telah banyak mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharapsemoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Januari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA ... 5
Botani Tanaman ... 5
Syarat Tumbuh ... 6
Iklim ... 6
Tanah ... 7
Varietas ... 9
Adaptasi Varietas ... 12
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman ... 16
Heritabilitas ... 18
BAHAN DAN METODE ... 20
Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
Bahan dan Alat ... 20
Metode Penelitian ... 20
PELAKSANAAN PENELITIAN ... 24
Persiapan Lahan ... 24
Persiapan Bibit ... 24
Penanaman ... 24
Pemeliharaan ... 24
Penyiraman ... 24
Penyulaman ... 24
Penyiangan ... 24
Pembumbunan ... 25
Pemupukan ... 25
Pengendalian Hama dan Penyakit ... 25
Panen ... 26
Pengamatan Parameter ... 26
Tinggi Tanaman (cm) ... 26
Jumlah Daun (helai) ... 26
Jumlah Anakan per Rumpun (siung) ... 26
Umur Panen (hari) ... 27
Bobot Basah Umbi Per Rumpun (g) ... 27
Bobot Kering Umbi Per Rumpun (g) ... 27
Bobot Basah Umbi Per Plot (g) ... 27
Bobot Kering Umbi Per Plot (g) ... 27
Susut Bobot Umbi (%) ... 27
Bentuk Umbi dan Warna Umbi ... 28
Diameter Umbi (cm) ... 28
Tinggi Umbi (cm) ... 28
Produksi (ton/ha) ... 28
Heritabilitas ... 28
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29
Hasil ... 29
Pembahasan ... 42
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 47
Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Hal.
1. Sidik Ragam dan Komponen Pendugaan Ragam ... 22
2. Rataan tinggi tanaman pada saat 2, 3, 4 dan 5 MST ... 29
3. Rataan jumlah daun pada saat 2,3, 4 dan 5 MST ... 30
4. Rataan umur panen (hari) setiap varietas ... 31
5. Rataan jumlah anakan per rumpun (umbi) setiap varietas ... 31
6. Rataan bobot basah umbi (g) per rumpun setiap varietas ... 32
7. Rataan bobot kering umbi (g) per rumpun setiap varietas ... 33
8. Rataan bobot basah umbi (g) per plot setiap varietas ... 33
9. Rataan bobot kering umbi (g) per plot setiap varietas ... 34
10. Rataan susut bobot umbi (%)setiap varietas ... 34
11. Rataan diameter umbi (cm) setiap varietas ... 35
12. Rataan tinggi umbi (cm) setiap varietas ... 36
13. Bentuk dan warna umbi setiap varietas bawang merah ... 36
14. Rataan produksi (ton/ha) setiap varietas ... 39
15. Nilai duga heritabilitas (h2) masing-masing peubah amatan ... 39
16. Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing varietas ... 41
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
1. Bagan penelitian ... 51
2. Bagan penanaman pada plot ... 52
2. Jadwal kegiatan penelitian ... 53
3. Deskripsi varietas bawang merah ... 54
4. Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm) 2 MST ... 59
5. Sidik ragam tinggi tanaman (cm) 2 MST ... 59
6. Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm) 3 MST ... 59
7. Sidik ragam tinggi tanaman (cm) 3 MST ... 59
8. Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm) 4 MST ... 60
9. Sidik ragam tinggi tanaman (cm) 4 MST ... 60
10. Tabel pengamatan tinggi tanaman (cm) 5 MST ... 60
11. Sidik ragam tinggi tanaman (cm) 5 MST ... 60
12. Tabel pengamatan jumlah daun (helai) 2 MST ... 61
13. Sidik ragam jumlah daun (helai) 2 MST ... 61
14. Tabel pengamatan jumlah daun (helai) 3 MST ... 61
15. Sidik ragam jumlah daun (helai) 3 MST ... 61
16. Tabel pengamatan jumlah daun (helai) 4 MST ... 62
17. Sidik ragam jumlah daun (helai) 4 MST ... 62
18. Tabel pengamatan jumlah daun (helai) 5 MST ... 62
19. Sidik ragam jumlah daun (helai) 5 MST ... 62
20. Tabel pengamatan umur panen (hari) ... 63
21. Sidik ragam umur panen (hari) ... 63
22. Tabel pengamatan jumlah anakan per rumpun (siung) ... 63
23. Sidik ragam jumlah anakan per rumpun (siung) ... 63
24. Tabel pengamatan bobot basah umbi per rumpun (g) ... 64
25. Sidik ragam bobot basah umbi per rumpun (g) ... 64
26. Tabel pengamatan bobot kering umbi per rumpun (g) ... 64
27. Sidik ragam bobot kering umbi per rumpun (g) ... 65
28. Tabel pengamatan bobot basah umbi per plot (g) ... 65
29. Sidik ragam bobot basah umbi per plot (g) ... 65
30. Tabel pengamatan bobot kering umbi per plot (g) ... 66
31. Sidik ragam bobot kering umbi per plot (g) ... 66
32. Tabel pengamatan susut bobot umbi (%) ... 66
33. Sidik ragam susut bobot umbi (%) ... 66
34. Tabel pengamatan diameter umbi (cm) ... 67
35. Sidik ragam diameter umbi (cm) ... 67
36. Tabel pengamatan tinggi umbi (cm) ... 67
37. Sidik ragam tinggi umbi (cm) ... 67
38. Tabel pengamatan produksi (ton/ha) ... 68
39. Sidik ragam produksi (ton/ha) ... 68
40. Nilai duga heritabilitas (h2) masing-masing karakter ... 68
41. Nilai duga heritabilitas (h2) masing-masing varietas ... 69
42. Lampiran Foto... 70
43. Data BMKG ... 73
PENDAHULUAN Latar Belakang
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maka pengusahaan budidaya bawang merah telah menyebar di hampir semua provinsi di Indonesia.
Meskipun minat petani terhadap bawang merah cukup kuat namun dalam proses pengusahaannya masih ditemui berbagai kendala, baik kendala yang bersifat teknis maupun ekonomis (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Bawang merah mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, dan senyawa yang berfungsi sebagai anti-mutagen dan anti-karsinogen. Dari setiap 100 gram umbi bawang merah kandungan airnya mencapai 80-85 g, protein 1,5 g, lemak 0,3 g, karbohidrat 9,3 g. Adapun komponen lain adalah beta karoten 50 IU, tiamin 30 mg, riboflavin 0,04 mg, niasin 20 mg, asam askorbat (vitamin C) 9 mg. Mineralnya antara lain kalium 334 mg, zat besi 0,8 mg, fosfor 40 mg, dan menghasilkan energi 30 kalori (Tarmizi, 2010).
Produksi bawang merah provinsi Sumatera Utara pada tahun 2009 menurut Dinas Pertanian yang dikutip dari BPS (2010) adalah 12.655 ton, sedangkan kebutuhan bawang merah mencapai 66.420 ton. Dari data tersebut terlihat bahwa produksi bawang merah Sumatera Utara masih jauh di bawah kebutuhan (BPS, 2010).
Masih minimnya produksi komoditas bawang merah di Sumatera Utara, membuat impor komoditas tersebut terus melonjak dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2011, Sumut
telah menerima bawang impor sebanyak 19.975 ton baik dari luar negeri ataupun bibit dari luar Sumut.
Saat ini ketersediaan bibit bawang merah mengalami kesulitan karena keterbatasan varietas lokal yang ada, karena petani lebih memilih untuk mengembangkan varietas asal impor, seperti varietas impor Ilokos dan Tanduyung yang ukurannya lebih besar, kandungan airnya lebih banyak serta warnanya lebih pucat, sementara aromanya jauh lebih rendah dibandingkan bawang merah varietas lokal. Meski demikian, bawang merah varietas ini
dinilai lebih tahan terhadap serangan hama bawang sehingga banyak ditanam petani (Basuki, 2005).
Varietas lokal adalah varietas yang sudah lama dibudidayakan pada agroekosistem setempat, seperti Tuk-Tuk dan Medan, Kuning, Sembrani, dan lainnya. Tersedianya varietas lokal yang beragam memberikan banyak pilihan kepada petani, di samping dapat mengurangi penggunaan benih impor. Penggunaan benih bawang merah impor untuk konsumsi oleh petani sangat berpotensi menularkan patogen yang terbawa benih ke wilayah Indonesia, karena bawang tersebut tidak dihasilkan lewat proses serifikasi benih. Sementara di dalam negeri tersedia cukup banyak varietas lokal dengan karakter berumbi besar dan berdaya hasil tinggi.
Untuk itu, perlu dilakukan pengujian daya varietas-varietas unggul lokal Indonesia agar dapat diidentifikasi keunggulan produktivitas varietas tersebut di daerah lain atau dengan pengujian berulang pada berbagai lingkungan tumbuh (daerah) yang bervariasi.
Contohnya adalah varietas unggul di Jawa Barat (Kuning, Sembrani dan Katumi) dilakukan uji adaptasi di Medan.
Adaptasi bertujuan untuk mengembangkan jenis tanaman introduksi pada daerah yang baru. Pada akhirnya adaptasi diharapkan menghasilkan produksi yang lebih baik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan jenis tanaman tertentu ( Allard, 2005).
Terdapat dua macam adaptasi yakni adaptasi umum dan khusus. Adaptasi umum diartikan sebagai kemampuan varietas untuk dapat cepat menunjukkan sifat baiknya pada berbagai macam lingkungan. Sedang adaptasi khusus, hanya menunjukkan keistimewaan pada lingkungan tertentu. Pada pemuliaan masing-masing mempunyai arti tersendiri. Varietas dengan adaptasi umum dimaksudkan untuk dapat ditanam pada daerah luas baik berbeda lokasi maupun musim. Sedang varietas dengan adaptasi khusus diarahkan untuk lingkungan
tertentu yang biasanya mempunyai perbedaan ekstrim dengan tempat lain (Poespodarsono, 1988).
Dalam penelitian ini menggunakan varietas lokal (Medan dan Tuk-Tuk) sebagai pembanding (kontrol), agar dapat diketahui daya hasil dan adaptasi verietas asal Jawa Barat tersebut di daerah Medan.
Tujuan Penelitian
Untuk mendapatkan varietas bawang merah asal Jawa Barat yang mampu beradaptasi di daerah Medan dan dibandingkan dengan varietas lokal yaitu, varietas Medan dan Tuk-Tuk.
Hipotesis Penelitian
Terdapat varietas bawang merah asal Jawa Barat yang mampu beradaptasi di daerah Medan dan dibandingkan dengan varietas lokal (Medan dan Tuk-Tuk).
Kegunaan Penulisan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Menurut Tjitrosoepomo (1993), tanaman bawang merah diklasifikasikan dalam division Spermatophyta, subdivision Angiospermae, kelas Monocotyledonae, ordo Liliaceae, family Liliales, genus Allium, dan spesies Allium ascalonicum L.
Bawang merah merupakan tanaman semusim membentuk rumpun yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 50 cm. Perakarannya berupa akar serabut yang tidak panjang dan tidak terlalu dalam berada dalam tanah (Hidayat dan Rosliani, 2003).
Tanaman bawang merah memiliki batang sejati disebut “discus” yang bentuknya seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekat perakaran dan mata tunas (titik tumbuh). Di bagian atas discus berbentuk batang semu yang tersusun dari pelepah daun.
Batang semu inilah yang kemudian berubah bentuknya menjadi umbi lapis atau bulbus (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Daun yang baru tumbuh dari tunasnya belum tampak lubang di dalamnya dan baru kelihatan setelah tumbuh membesar. Pada cakram (discus) diantara lapis kelopak daun terdapat tunas lateral atau anakan, sementara ditengah cakram adalah tunas utama (tunas apikal) yang tumbuhnya lebih dulu, kemudian akan menjadi bakal bunga (primordia bunga).
Keadaan ini menunjukkan bahwa tanaman bawang merah bersifat merumpun. Setiap umbi
yang tumbuh dapat menghasilkan sebanyak 2-20 tunas baru yang akan tumbuh dan berkembang menjadi anakan yang masing-masing juga menghasilkan umbi (Setiyowati, 2001).
Bunga bawang merah merupakan bunga majemuk berbentuk tandan yang bertangkai dengan 50-200 kuntum bunga. Pada ujung dan pangkal tangkai mengecil dan di bagian tengah menggembung, bentuknya seperti pipa yang berlubang di dalamnya. Tangkai
tandan bunga ini sangat panjang, lebih tinggi dari daunnya sendiri dan mencapai 30-50 cm.
Sedangkan kuntumnya juga bertangkai tetapi pendek antara 0,2-0,6 cm (Wibowo, 2007).
Bentuk umbi bawang merah tidak banyak berbeda dengan bawang bombay. Pada umbi bawang bombay dari luar tidak jelas tampak adanya umbi yang terbungkus oleh beberapa lapisan yang cukup tebal, sedang pada umbi bawang merah umbi ganda ini tampak jelas sebagai benjolan ke kanan dan ke kiri, mirip “siung” bawang putih (Damiri, 1998).
Biji bawang merah berwarna yang sudah tua akan berwarna hitam, dengan ukuran dapat mencapai 4-6 mm. Dalam biji tanaman bawang merah terdapat embrio yang berbentuk bulan sabit (Tyndall,1983).
Syarat Tumbuh Iklim
Bawang merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan cuaca cerah, terutama yang mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat
tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 m dpl) dengan curah hujan 300 - 2500 mm/th dan suhunya 250C - 320C. Jenis tanah yang baik untuk budidaya tanaman
bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial dengan pH 5,5-7 (DEPTAN, 2012).
Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal
70% penyinaran), suhu udara 25-320C, dan kelembaban nisbi 50-70%
(Sumarni dan Hidayat, 2005).
Suhu yang ideal untuk tanaman bawang merah adalah 25-300C, tetapi masih toleran terhadap temperatur 220C walaupun hasilnya tidak begitu baik. Pada penanaman di bawah 220C sering tidak membentuk umbi sama sekali. Dengan kelembaban udara nisbi 80%-90%
bawang merah dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta hasil yang optimal (Setiyowati, 2001).
Di Indonesia bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut. Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di dataran tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih rendah (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Tanah
Tanaman bawang merah memerlukan tanah berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, gembur, banyak mengandung bahan organik yaitu lempung berpasir atau berdebu, tanah alluvial atau latosol berpasir dengan struktur bergumpal, memiliki drainase/aerasi baik, mengandung bahan organik yang cukup, dan reaksi tanah tidah masam (pH tanah 5,6-6,5.), tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang merah (DEPTAN, 2012).
Jenis tanah yang paling baik untuk bawang merah adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu. Jenis tanah ini mempunyai aerasi dan drainase yang baik karena
mempunyai perbandingan yang seimbang antara fraksi liat, pasirdan debu (Hidayat dan Rosliani, 2003).
Pupuk dasar yang digunakan pada pemupukan bawang biasanya adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang sapi dengan dosis 10-20 ton/ha atau pupuk kandang ayam dengan dosis 5-6 ton/ha atau kompos khususnya pada lahan kering. Selain pupuk P (SP-36) yang diaplikasikan 2-3 hari sebelum tanam, Balitsa merekomendasikan penggunaan pupuk organik (kompos) sebanyak 5 ton/ha diberikan bersama pupuk TSP/SP 36. Pemberian pupuk organik tersebut untuk memelihara dan meningkatkan produktivitas lahan. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa kompos tidak meningkatkan hasil bawang
merah secara nyata, tetapi mengurangi susut bobot umbi (dan bobot basah menjadi bobot kering jemur) kurang lebih 5% (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Tanah-tanah yang masam atau basa kurang atau bahkan tidak baik untuk pertumbuhan bawang merah. Jika tanahnya terlalu masam dengan pH di bawah 5,5, gram alumiunium yang terlarut dalam tanah akan bersifat racun sehingga tumbuhnya tanaman akan menjadi kerdil.
Kalau terlalu basa dengan pH di atas 7 atau di atas 6,5, gram mangan tidak dapat diserap oleh tanaman, akibatnya umbinya menjadi kecil dan hasilnya rendah. Kalau tanahnya berupa tanah gambut yang pH-nya di bawah 4, perlu pengapuran dahulu agar umbinya dipanen besar- besar. Yang paling baik untuk lahan bawang merah adalah tanah yang mempunyai keasaman sedikit agak asam sampai normal, yaitu pH-nya antara 6,0-6,8. Keasaman dengan pH antara 5,5 – 7.0 masih termasuk kisaran keasaman yang dapat digunakan untuk lahan bawang merah, tetapi yang paling baik adalah antara 6,0 – 6,8 (Wibowo, 2007).
Varietas
Varietas adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk dan pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji dan ekspresi karakter atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dengan jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami pertumbuhan (Allard, 2005).
Menurut Samadi dan Cahyono (2000), sampai saat ini varietas atau kultivar jenis bawang merah cukup banyak, bahkan telah menjadi tanaman lokal yang berkembang di berbagai daerah, misalnya bawang Bima Brebes, Sumenep, Lampung, Maja, Medan, Ampenan dan lainnya, yang satu sama lain tampak perbedaannya karena bentuk dan warna.
Perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman tanaman. Program genetik yang akan diekspresikan pada satu fase atau keseluruhan fase pertumbuhan yang berbeda dapat diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang mencakup
bentuk dan fungsi tanaman. Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetik selalu mungkin terjadi sekalipun bahan tanaman yang digunakan berasal dari jenis tnaman (varietas) yang sama (Sitompul dan Guritno, 1995).
Varietas atau klon introduksi perlu diuji adaptabilitasnya pada suatu lingkungan untuk mendapatkan genotif unggul pada lingkungan tersebut. Pada umumnya suatu daerah memiliki kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap genotif. Respon genotif terhadap faktor lingkungan ini biasanya terlihat dalam penampilan fenotipik dari tanaman yang bersangkutan (Darliah, dkk, 2001).
Varietas Kuning memiliki umur panen 56-66 hari, tinggi tanaman 35,3 cm, jumlah anakan 7-12 umbi per rumpun. Bentuk daun silindris seperti pipa, warna daun hijau kekuning-kuningan, jumlah daun per rumpun 34-37 helai. Bentuk bunga seperti payung, warna bunga putih, jumlah bunga 100-142. Jumlah buah/tangkai 70-96 (rata-rata 83). Bentuk biji bulat, gepeng, keriput, warna biji hitam. Bentuk umbi bulat, ujung meruncing, warna umbi merah gelap, berat umbi 5-15 g/umbi, potensi produksi umbi 6,00-21,39 ton/ha, susut bobot umbi basah-kering sebesar 21,50-22,00% (Berita Resmi PVT, 2008).
Varietas Katumi memiliki umur panen 53-56 hari, tinggi tanaman 40,48 cm, jumlah anakan 9-11 umbi per rumpun. Daunnya berbentuk daun silindris seperti pipa, warna daun hijau muda, jumlah daun per rumpun 53-66 helai, jumlah daun per umbi 5-6 helai, kemampuan berbunga agak sukar, umur bunga 29-40 hst, bentuk bunga seperti payung, warna bunga putih, jumlah bunga/tangkai 105-290 (rata-rata 179.9). Jumlah buah/tangkai 65- 85 (75). Bentuk biji bulat, gepeng, keriput, warna biji hitam, berat 1000 biji 3,6 g. Bentuk umbi bulat, bagian leher batang kecil, warna umbi merah, berat umbi rata-rata 5-20 g, diameter umbi 2-2,5 cm, tinggi umbi 2,51-2,83 cm, potensi produksi umbi 24,1 ton/ha, susut berat 30,85%. Sifat khusus varietas ini adalah cocok ditanam didataran rendah dan medium, agak tahan terhadap musim hujan baik pada musim kemarau (Berita Resmi PVT, 2008).
Varietas Sembrani memiliki umur panen 54-56 hari, tinggi tanaman 47,72 cm (44,3- 56,2 cm), jumlah anakan 4-5 umbi per rumpun, bentuk daun silindris agak pipih ditengah, warna daun hijau muda, jumlah daun per rumpun 24-32 helai, jumlah daun per umbi 6-7 helai. Memiliki kemampuan berbunga agak sukar, umur bunga 28-37 hst, bentuk bunga seperti payung, warna bunga putih, jumlah bunga 120-290 (rata-rata 205). Jumlah buah/tangkai 70-80 (80). Bentuk biji bulat, gepeng, keriput, warna biji hitam, berat 1000 biji 3,8 g. Memiliki bentuk umbi bulat, bagian leher agak besar, warna umbi merah pucat, berat umbi rata-rata 5-30 g, diameter umbi 2-3.5 cm, tinggi umbi 3,28-3,77 cm, potensi produksi umbi 24,4 ton/ha, susut berat 25,45%. Sifat khusus varietas ini adalah cocok ditanam di dataran rendah dan medium, baik pada musim kemarau dan tidak tahan terhadap musim hujan, daerah pengembang Cirebon, Tegal, Brebes, Nganjuk, dapat dimakan dalam bentuk salad dan acar (Berita Resmi PVT, 2008).
Varietas Tuk-Tuk memiliki umur ± 85 hari dengan tinggi tanaman ± 50cm. Bentuk daun bulat berongga, warna daun hijau dan banyak daun 7 - 14 helai. Bentuk bunga seperti payung, berwarna putih. Bentuk umbi bulat, berwarna merah muda – merah kecoklatan dengan ukuran 3,5 – 5,0 cm. Bentuk biji bulat pipih berkeriput berwarna hitam, berat per umbi basah 20-40 g, susut bobot umbi (basah-kering simpan) adalah ± 34,4 %. Hasil umbi basah ± 32 ton/ha (Lampiran Keputusan Menteri Pertanian, 2007).
Varietas Medan memiliki umur panen ± 70 hari, tinggi tanaman 26,9-41,3 cm, jumlah anakan 6-12 umbi per rumpun. Daunnya berbentuk daun silindris berlubang seperti pipa, warna daun hijau, jumlah daun per rumpun 22-43 helai, kemampuan berbunga mudah yakni 52 hari, bentuk bunga seperti payung, warna bunga putih, jumlah bunga/rumpun 2-6. Jumlah buah/tangkai 60-100. Bentuk biji bulat, gepeng, keriput, warna biji hitam. Bentuk umbi bulat dengan ujung runcing berwarna merah, potensi produksi umbi 7,4 ton/ha, susut bobot 25%.
Sifat khusus varietas ini adalah cocok ditanam didaerah rendah maupun dataran tinggi, tahan terhadap busuk umbi (BPTP Jawa Timur, 2009).
Adaptasi Varietas
Suatu organisme akan mengadakan reaksi terhadap perubahan alam lingkungan yang diterimanya. Usaha untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan disebut adaptasi. Dengan demikian berarti adaptasi adalah suatu perubahan dalam populasi akibat kegiatan masing-masing individu yang menyusunnya, untuk menyesuaikan diri terhadap setiap penambahan dan perubahan lingkungan yang diberikan (Ismail, 2001).
Adaptasi bertujuan untuk mengembangkan jenis tanaman introduksi pada daerah yang baru. Pada akhirnya adaptasi diharapkan menghasilkan produksi yang lebih baik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan jenis tanaman tertentu ( Allard, 2005).
Terdapat dua macam adaptasi yakni adaptasi umum dan khusus. Adaptasi umum diartikan sebagai kemampuan varietas untuk dapat cepat menunjukkan sifat baiknya pada berbagai macam lingkungan. Sedang adaptasi khusus, hanya menunjukkan keistimewaan pada lingkungan tertentu. Pada pemuliaan masing-masing mempunyai arti tersendiri. Varietas dengan adaptasi umum dimaksudkan untuk dapat ditanam pada daerah luas baik berbeda lokasi maupun musim. Sedang varietas dengan adaptasi khusus diarahkan untuk lingkungan
tertentu yang biasanya mempunyai perbedaan ekstrim dengan tempat lain (Poespodarsono, 1988).
Suatu varietas dapat dikatakan adaptif apabila dapat tumbuh baik pada wilayah penyebarannya, dengan produksi yang tinggi dan stabil, mempunyai nilai ekonomis tinggi, dapat diterima masyarakat dan berkelanjutan. Setiap tumbuhan mempunyai mekanisme adaptasi yang memungkinkan tumbuhan tersebut dapat hidup secara berdampingan dengan lingkungannya. Menjelaskan tentang parameter lingkungan menentukan habitat ekologi bagi banyak jenis tanaman budidaya. Faktor-faktor yang berinteraksi dengan mekanisme fisiologi
tumbuhan untuk beradaptasi antara lain ialah suhu, lama penyinaran, angin, dan kelembapan.
Faktor-faktor utama tadi dapat hidup dan berproduksi. Pada pemulia tanaman mempertimbangkan respons genetik terhadap lingkungan sebagai sekelompok gen adaptasi yang penting untuk keperluan produksi (Meliala, 2011).
Terdapat dua kemungkinan penyebab suatu varietas beradaptasi baik, yaitu:
a. Varietas terdiri dari satu macam genotip yang mempunyai susunan genetik atau kombinasi gen sedemikian rupa sehingga mampu mengendalikan sifat morfologi dan fisiologi yang dapat menyesuaikan diri pada lingkungan tertentu atau peubah lingkungan.
Misalnya pada varietas tanaman menyerbuk sendiri atau klon
b. Varietas terdiri dari sejumlah genotipa yang berbeda, dimana masing-masing genotipa mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap perbedaan kisaran lingkungan.
Misalnya pada tanaman menyerbuk silang varietas lokal yang terdiri dari macam-macam genotipa.
(Poespodarsono, 1988).
Lingkungan yang sering mempengaruhi tanaman adalah lingkungan yang terdapat dekat di sekitar tanaman dan disebut lingkungan mikro. Faktor ini tergantung dari gen tanaman menerima respon dari lingkungan tersebut. Gen dari tanaman tidak dapat menyebabkan berkembangnya suatu karakter terkecuali bila mereka berada dalam kondisi yang sesuai. Jika mereka berada dalam kondisi yang tidak sesuai maka tidak ada pengaruh gen terhadap berkembangnya karakteristik dengan mengubah tingkat keadaan lingkungan (Allard, 2005).
Ada beberapa varietas atau kultivar yang berasal dari dari daerah-daerah tertentu, seperti Sumenep, Bima, Lampung, Maja dan sebagainya, yang satu sama lain memiliki perbedaan yang jelas. Perbedaan produktivitas dari setiap varietas/kultivar tidak hanya bergantung pada sifatnya, namun juga banyak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi daerah,
iklim, pemupukan pengairan dan tanah merupakan faktor penentu dalam produktivitas maupun kualitas umbi bawang merah (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Penampilan suatu tanaman pada suatu lingkungan tumbuhnya merupakan dampak kerja sama antara faktor genetik dengan lingkungan. Penampilan suatu genotip pada lingkungan yang berbeda dapat berbeda pula, sehingga sampai seberapa jauh interaksi antara genotip dan lingkungan (GxE) merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diketahui dalam program pemuliaan ataupun dalam rangka pengembangannya (Mangoendidjojo, 2000).
Tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuhnya baik secara fisik, kimia maupun biologis. Comstock dan Moll (1963) membagi lingkungan menjadi dua kategori, yaitu: (1) Lingkungan mikro, suatu lingkungan dimana satu tanaman bersaing dengan tanaman lain yang tumbuh bersamaan waktunya dan tempat. Hal ini termasuk sifat fisik dan kimia seperti jenis tanah, perbedaan cuaca, radiasi sinar matahari, hama dan penyakit yang ada pada lingkungan tanaman tersebut tumbuh. Menurut Roy (2000), lingkungan mikro memberikan dampak variasi galat pada analisis statistik. Kategori (2) Lingkungan makro, lingkungan yang berhubungan skala lokasi atau area pada satuan periode. Lingkungan makro merupakan kumpulan dari lingkungan mikro, dimana setiap lingkungan mikro memberikan dampak yang berbeda pada lingkungan makronya. Dengan kata lain lingkungan makro merujuk pada kondisi iklim, tanah serta manajemen penamaannya (pemupukan, pengairan, kerapatan tanaman, tanggal tanam, curah hujan, dan lain-lain) (Kusumah, 2010).
Daya tumbuh dan pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam. Faktor dalam salah satunya adalah sifat genetik dari varietas tersebut. Sedangkan faktor luar adalah iklim, suhu, kelembaban, curah hujan, ketersediaan hara dan intensitas sinar matahari. Menurut Suwandi dan Azirin (1995), bawang merah varietas Kuning yang ditanam pada agroekosistem dataran medium memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan varietas Keling dan Bima Brebes.
Secara genetis, varietas – varietas bawang merah mempunyai kemampuan yang berbeda untuk bertahan dan berproduksi. Berdasarkan deskripsinya, bawang merah varietas Filipina termasuk varietas yang agak tahan terhadap hujan dan sangat sesuai ditanam di dataran rendah; varietas Medan dapat ditanam di segala musim, sehingga bawang jenis ini biasanya digunakan untuk mengisi kekurangan stok di musim penghujan.
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Pertumbuhan tanaman sering didefinisikan sebagai pertambahan ukuran, berat dan jumlah sel. Menurut Sitompul dan Guritno (1995), pertambahan ukuran tubuh tanaman secara keseluruhan merupakan hasil dari pertambahan ukuran bagian-bagian (organ-organ) tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel.
Pertumbuhan tanaman terjadi mengikuti beberapa fase atau aspek perubahan dan merupakan kombinasi dari dua atau lebih perubahan tersebut, yaitu:
1. Pertambahan dalam volume sel. Biasanya berhubungan dengan pertambahan jumlah dan total volume dari sel, yang disebabkan oleh pertambahan jumlah protoplasma
2. Pertambahan ukuran sel, organ atau tanaman secara keseluruhan.
(Setiyowati, 2001).
Tumbuhan mengalami dua fase pertumbuhan yang berbeda, yaitu:
a. Fase pertumbuhan vegetatif
Pada fase ini terjadi pembentukan dan perkembangan akar, batang dan daun. Fase ini berhubungan dengan tiga proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel dan tahap pertama dari diferensiasi sel. Pembelahan sel terjadi pada pembentukan sel-sel baru yang memerlukan karbohidrat dalam jumlah besar. Pembelahan terjadi di dalam jaringan-jaringan meristematik pada titik tumbuh akar, batang serta kambium.
Perpanjangan sel terjadi pada perbesaran sel-sel baru. Tahap pertama dari diferensiasi sel atau pembentukan jaringan terjadi perkembangan jaringan primer yang memerlukan
karbohidrat. Tinggi tanaman dan jumlah daun merupakan ukuran yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan vegetatif tanaman.
b. Fase pertumbuhan generatif
Pada fase ini terjadi pembentukan dan perkembangan bunga, buah dan biji serta umbi yang merupakan jaringan penyimpan cadangan makanan. Fase ini memerlukan banyak suplai karbohidrat yang berupa pati dan gula. Pada saat tanaman memasuki fase generatif, fase vegetatif yang merupakan pembelahan dan pembesaran sel tanaman tidak
berhenti dan masih berlanjut, hanya berubah dalam kecepatannya (Sitompul dan Guritno, 1995).
Pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari tanaman itu sendiri berupa gen dan hormon dan faktor eksternal yang berasal dari luar tanaman berupa energi cahaya, suhu, kelembaban, unsur hara, udara, air dan lain-lain (Poerwowidodo, 1992).
Menurut Sitompul dan Guritno (1995) produksi merupakan hasil tanaman yang dapat dipanen per luasan tanah tertentu. Produksi tanaman juga merupakan biomassa yang dibentuk oleh tanaman selama masa hidupnya atau selama masa tertentu yang digunakan untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Biomassa tanaman meliputi semua bahan tanaman yang secara umum berasal dari hasil fotosintesis, serapan unsur hara dan air yang diolah melalui proses biosintesis. Pengukuran biomassa total tanaman dengan penimbangan berat basah dan berat kering tanaman yang merupakan parameter paling baik digunakan sebagai indikator pertumbuhan dan produksi tanaman. Menurut Goldsworthy dan Fisher (1992), berat basah tanaman merupakan berat tanaman pada waktu masih berstatus memiliki kandungan air.
Sedangkan berat kering tanaman merupakan berat tanaman yang telah kehilangan airnya.
Paling sedikit 90% bahan kering tanaman adalah hasil fotosintesis. Selain itu bahan kering tanaman dipandang sebagai manifestasi dari semua proses dan peristiwa yang terjadi dalam pertumbuhan tanaman.
Heritabilitas
Proporsi variasi merupakan sumber yang penting dalam program pemuliaan karena dari jumlah variasi genetik ini diharapkan terjadi kombinasi genetik yang baru. Variasi keseluruhan dalam suatu populasi merupakan hasil kombinasi genotipe dan pengaruh lingkungan. Nilai heritabilitas secara teoritis berkisar dari 0 sampai 1. Nilai 0 ialah bila seluruh variasi yang terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan, sedangkan nilai 1 bila seluruh variasi disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian nilai heritabilitas akan terletak antara kedua nilai ekstrim tersebut (Welsh, 2005).
Heritabilitas mengandung dua pengertian yaitu pengertian sempit dan pengertian luas.
Dalam pengertian sempit heritabilitas diartikan sebagai nisbah antara besaran ragam aditif yang merupakan bagian dari ragam genetik total dengan ragam fenotipenya, sedangkan heritabilitas dalam pengertian luas adalah nisbah antara besaran ragam genetik dengan ragam fenotipe sifat bersangkutan.
H2= σ2G/ σ2P
(Hanson, 1963)
Semakin tinggi nilai heritabilitas suatu sifat semakin besar pengaruh genetiknya dibanding lingkungan. Untuk sifat yang memiliki nilai heritabilitas sedang, menunjukkan bahwa sifat ini tidak dapat digunakan sebagai kriteria seleksi pada awal, seleksi pada sifat tersebut lebih baik dilakukan pada generasi selanjutnya (Sudarmadji dan Sudarmono, 2007).
Fungsi penting dari heritabilitas adalah bersifat prediktif pada generasi berikutnya.
Nilainya dapat memperlihatkan nilai fenotipe yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai breeding value (Hadie, 2000).
Keragaman genetik alami merupakan sumber bagi setiap program pemuliaan tanaman. Jika perbedaan antara dua individu yang mempunyai faktor lingkungan yang sama dapat diukur, maka perbedaan ini berasal dari variasi genotip kedua tanaman tersebut.
Keragaman genetik menjadi perhatian utama para pemuliaan tanaman, karena melalui pengelolaan yang tepat dapat dihasilkan varietas baru yang lebih unggul (Welsh, 1991).
Kriteria nilai heritabilitas dalam arti luas mengikuti Whirter (1979) dalam Endeh Masnenah (1997) dengan ketentuan sebagai berikut :
- H < 0,20 = heritabilitas rendah - 0,20 < H < 0,50 = heritabilitas sedang - H > 0,50 = heritabilitas tinggi (Mursito, 2003).
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lahan masyarakat di Perumnas Simalingkar, Kecamatan Tuntungan, Medan dengan ketinggian ± 25 m di atas permukaan laut. Penelitian dimulai pada bulan Juni sampai dengan September 2012.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang merah varietas Katumi, Kuning, Sembrani, Medan dan Tuk-Tuk, kompos dan pupuk SP-36 sebagai pupuk dasar, pupuk urea, dan KCl sebagai pupuk susulan, fungisida, dan insektisida sebagai pestisida.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul untuk mengolah lahan, gembor digunakan saat menyiram lahan, penggaris untuk mengukur sampel, timbangan analitik untuk menimbang berat, pacak sampel untuk menandai sampel, plank lahan untuk menandai lahan, label untuk menandai plastik, kalkulator sebagai alat bantu hitung, jangka sorong untuk mengukur diameter umbi, handsprayer untuk membantu aplikasi pestisida, plastik bening untuk tempat umbi bawang, kamera sebagai alat dokumentasi dan alat tulis untuk menuliskan data hasil pengamatan dan untuk mengolah data.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 5 perlakuan varietas bawang merah yaitu :
V1 : Varietas Katumi V2 : Varietas Kuning V3 : Varietas Sembrani V4 : Varietas Medan V5 : Varietas Tuk-Tuk
Varietas Lokal
Jumlah ulangan (blok) : 4
Jumlah plot : 20
Jumlah tanaman/plot : 25
Jumlah tanaman sampel/plot : 9 Jumlah tanaman sampel seluruhnya : 180 Jumlah tanaman seluruhnya : 500
Jarak tanam : 20 cm x 15 cm
Luas plot : 100 cm x 80 cm
Jarak antar plot : 30 cm
Jarak antar blok : 50 cm
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam model linier sebagai berikut:
Yij = µ + αi+ ßj + εij
(i = 1,2,3,4 dan j = 1,2,3,4,5) dimana :
Yij = Hasil pengamatan pada blok ke-i terhadap perlakuan varietas ke-j.
µ = Nilai tengah rata-rata.
αi = Efek blok ke-i.
βj = Efek varietas ke-j.
εij = Efek galat percobaan pada blok ke-i terhadap perlakuan varietas ke-j.
Jika data yang dianalisis dengan sidik ragam berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda rataan berdasarkan Uji Duncan Berjarak Ganda (DMRT) pada taraf 5%
(Steel dan Torrie, 1995).
Tabel 1. Sidik Ragam dan Komponen Pendugaan Ragam Sumber
Keragaman
Derajat bebas (db)
Jumlah Kuadrat (JK)
Kuadrat Tengah (KT)
Taksiran Kuadrat Tengah
Ulangan (b-1) JKU KTU σ2e + a σ2b
Genotipe (a-1) JKG KTG σ2e + b σ2g
Error (a-1)(b-1) JKE KTE σ2e
Total ab-1 JKT KTT
Keragaman Genotipe dan Fenotipe
Keragaman sifat dihitung melalui analisis sidik ragam yang dikemukakan oleh Singh dan Chaudary (1977) dalam Tempake dan Luntungan (2002) adalah sebagai berikut :
KT Genotipe - KTE σ2g =
r KTE = σ2e
σ2p= σ2g+ σ2e
keterangan :
σ2p = Ragam Fenotipe σ2e = Ragam Galat σ2g = Ragam Genotipe r = Ulangan
Heritabilitas
Menurut Stansfield (1991) untuk menganalisis apakah hasil peubahamatan merupakan fenotip disebabkan lingkungan atau fenotip, maka digunakan heritabilitas, berdasarkan rumus:
σ2g σ2g
h2 = = , dimana σ2p = σ2g+ σ2e
σ2p σ2g+ σ2e
dimana :
h2 = heritabilitas σ2g = varians genotipe σ2p = varians fenotipe σ2e = varians lingkungan
Menurut Mursito (2003), kriteria nilai heritabilitas adalah sebagai berikut :
− Heritabilitas tinggi > 0,5
− Heritabilitas sedang = 0,2-0,5
− Heritabilitas rendah < 0,2
PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan
Areal pertanaman yang digunakan dibersihkan dari gulma dan sampah-sampah yang ada pada areal tersebut. Kemudian dibuat plot-plot percobaan dengan ukuran 100 cm x 80 cm, jarak antar blok 50 cm dan jarak antar plot 30 cm.
Persiapan Bibit
Penampilan umbi bibit segar dan sehat, bernas dan warnanya cerah. Sebelum ditanam, kulit luar umbi bibit yang mengering dibersihkan.
Penanaman
Umbi bibit ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 15 cm. Lubang tanam dibuat sedalam rata-rata setinggi umbi. Umbi bawang merah dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan gerakan seperti memutar sekrup. Setelah tanam, seluruh lahan disiram.
Pemeliharaan Penyiraman
Penyiraman dilakukan satu kali dalam sehari pada pagi hari dan selanjutnya dikurangi bila tanah masih dalam keadaan basah atau lembab.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam (MST) untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya tidak baik.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk menghindari persaingan tanaman dengan gulma.
Penyiangan dilakukan secara manual yaitu mencabut langsung gulma pada tanaman plot atau dengan menggunakan cangkul untuk gulma yang ada di sekitar plot atau parit lahan penelitian. Dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST dan 5 MST.
Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan untuk mencegah umbi yang muncul dipermukaan tanah dan untuk menjaga agar tanaman tidak mudah rebah, merangsang pertumbuhan tanaman.
Dilakukan bersamaan dengan penyiangan pada saat tanaman berumur 2 MST dan 5 MST.
Pemupukan
Pemberian pupuk dasar dilakukan setelah lahan selesai diolah. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik (kompos) sebanyak 5 ton/ha (600 gr/plot) yang diberikan bersama pupuk P (SP-36) 200 kg/ha (24 gr/plot), yang diaplikasikan 3 hari sebelum tanam.
Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali. Pemupukan I dengan menggunakan pupuk urea dan KCl dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam dan susulan II pada umur 1 bulan sesudah tanam, masing-masing ½ dosis. Jumlah pupuk yang diberikan adalah N sebanyak 150 kg Urea/ha (18 gr/plot) dan K 100 kg KCl/ha (12 gr/plot) yang diaplikasikan bersama.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif deltamethrin 25 cc/l, sedangkan pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida dengan bahan aktif mancozeb 80%. Dilakukan dengan menyemprotkan pada tanaman yang terkena serangan atau sebagai pencegahan serangan hama ataupun penyakit.
Dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST dan 6 MST.
Panen
Adapun kriteria panen umbi bawang merah adalah setelah daun menguning, batang tampak lemah sehingga daun rebah, umbi telah memadat, berisi dan apabila keluar dari tanah warnanya tampak cerah. Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman secara hati-hati agar umbinya tidak rusak atau tertinggal. Pemanenan dilakukan pada siang hari. Teknik pemanenan dengan cara mencabut daun tanaman bawang secara menyamping agar daun tidak
putus dan umbi tidak tertinggal dalam tanah. Umbi yang telah dipanen, dibersihkan untuk dikeringanginkan selama 2 minggu.
Peubah Amatan Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur dengan cara menyatukan daun-daun bawang merah, kemudian diukur dari batas terendah diatas pemukaan tanah hingga batas tertinggi yaitu puncak daun tanaman. Pengukuran dilakukan setiap minggu mulai dari tanaman berumur 2 sampai 5 MST.
Jumlah Daun per Rumpun (helai)
Jumlah daun dihitung dengan menghitung seluruh daun yang telah membuka sempurna termasuk daun yang sudah kering. Pengukuran dilakukan setiap minggu mulai dari tanaman berumur 2 sampai 5 MST.
Jumlah Anakan per Rumpun (siung)
Jumlah anakan yang muncul dari umbi dihitung saat panen pada masing-masing sampel.
Umur Panen (hari)
Umur panen dihitung saat dilakukannya pemanenan pada setiap tanaman. Dihitung pada setiap varietas.
Bobot Basah Umbi per Rumpun (g)
Bobot basah umbi dihitung pada setelah panen. Umbi tanaman terlebih dahulu dibersihkan dari tanah yang melekat, selanjutnya ditimbang bobot basah setiap rumpun dari masing-masing plot.
Bobot Kering Umbi per Rumpun (g)
Bobot kering umbi dihitung setelah umbi dikeringanginkan di ruangan. Lama pengeringan selama 2 minggu.
Bobot Basah Umbi per Plot (g)
Bobot basah umbi per plot dihitung setelah panen, umbi tanaman dibersihkan dari tanah yang melekat. Ditimbang bobot basah umbi setiap plot.
Bobot Kering Umbi per Plot (g)
Bobot kering umbi per plot dihitung setelah umbi dikeringanginkan di ruangan selama 2 minggu.
Susut Bobot Umbi (%)
Susut bobot umbi setiap varietas dihitung setelah umbi dipanen dan dikeringanginkan selama 2 minggu, dengan syarat umbi bersih dari tanah serta daun telah dipotong lebih kurang 1 cm dari umbi dan dipisahkan akar dari umbi.
Dihitung dengan rumus :
Bobot umbi sebelum dijemur – Bobot umbi setelah dijemur Susut bobot (%) = x100%
Bobot umbi sebelum dijemur
Bentuk Umbi
Bentuk umbi diamati setelah umbi dipanen dan dikeringanginkan. Bentuk umbi yang dilihat pada masing-masing sampel dari setiap varietas.
Warna Umbi
Sama halnya dengan bentuk umbi, warna umbi diamati setelah umbi dipanen dan dikeringanginkan, dilihat dari tiap-tiap varietas.
Diameter Umbi (cm)
Diameter umbi diukur dengan menggunakan jangka sorong pada bagian umbi yang membesar atau membengkak. Pengukuran dilakukan setelah umbi dikeringanginkan.
Tinggi Umbi (cm)
Tinggi umbi diukur dengan menggunakan penggaris setelah umbi dipanen dan dikeringanginkan.
Produksi (ton/ha)
Produksi umbi ditimbang setelah tanaman dipanen dan didikeringanginkan selama ± 2 minggu dengan syarat umbi bersih dari kotoran serta daun telah dipotong 1 cm dari umbi.
Produksi diperoleh setelah umbi dikeringkan dan didapat berat umbi kering per rumpun.
Dihitung dengan rumus :
Produksi = x Bobot kering x populasi/Ha Heritabilitas
Heritabilitas dihitung untuk tiap peubah amatan. Dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan rumus yang terdapat pada metode penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Dari data hasil pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap jumlah anakan, bobot basah umbi per sampel, bobot kering umbi per sampel, diameter umbi, tinggi umbi, susut bobot umbi dan produksi. Namun berbeda tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, umur panen, bobot basah umbi per plot dan bobot kering umbi per plot.
Tinggi Tanaman (cm)
Data tinggi tanaman bawang merah saat 2, 3, 4, dan 5 MST dapat dilihat pada Lampiran 9, 11, 13 dan 15 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 10, 12, 14, dan 16.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda tidak nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah saat 2, 3, 4, dan 5 MST.
Rataan tinggi tanaman setiap varietas saat 2, 3, 4 dan 5 MST dapat dilihat Tabel 2.
Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada saat 2, 3, 4 dan 5 MST
Perlakuan Minggu Setelah Tanam (MST)
2 3 4 5
V1 (Katumi) 22,74 28,84 34,48 39,46
V2 (Kuning) 21,08 26,58 31,3 36,4
V3 (Sembrani) 20,24 26,66 31,86 37,29
V4 (Medan) 19,25 23,95 29,62 35,27
V5 (Tuk-Tuk) 18,06 24,26 29,2 34,11
Jumlah Daun (helai)
Data pengamatan jumlah daun tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 17, 19, 21, dan 23 dan sidik ragamnya dapat dilihat di Lampiran 18, 20, 22, dan 24.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun pada saat 2, 3, 4, dan 5 MST.
Tabel 3. Rataan Jumlah Daun (helai) pada saat 2,3, 4 dan 5 MST.
Perlakuan
Minggu Setelah Tanam (MST)
2 3 4 5
V1 (Katumi) 13,58 17,69 22,83 25,58
V2 (Kuning) 12,81 16,58 20,61 23,44
V3 (Sembrani) 14,17 17,78 22,56 25,17
V4 (Medan) 12,25 16,25 22,25 24,81
V5 (Tuk-Tuk) 13,97 17,47 21,64 24,42
Umur Panen (hari)
Data pengamatan umur panen tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 25 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 26.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda tidak nyata terhadap umur panen (hari).
Rataan umur panen setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Umur Panen (hari) setiap Varietas
Perlakuan Umur panen (hari)
V1 (Katumi) 55,00
V2 (Kuning) 60,00
V3 (Sembrani) 56,00
V4 (Medan) 63,25
V5 (Tuk-Tuk) 57,25
Jumlah Anakan per Rumpun (siung)
Data pengamatan jumlah anakan per rumpun tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 27 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 28.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap jumlah anakan per rumpun.
Rataan jumlah anakan per rumpun setiap varietas dapat dilihat di Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Jumlah Anakan per Rumpun (siung) setiap Varietas
Perlakuan Jumlah Anakan (siung)
V2 (Kuning) 7,28 a
V4 (Medan) 7,19 a
V1 (Katumi) 6,14 ab
V3 (Sembrani) 4,58 b
V5 (Tuk-Tuk) 4,47 b
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan jumlah anakan tertinggi terdapat pada varietas Kuning dengan 7,28 yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Tuk-Tuk dengan 4,47 anakan.
Bobot Basah Umbi per Rumpun (g)
Data pengamatan bobot basah umbi per rumpun tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 30 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 31.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap bobot basah umbi per rumpun.
Rataan bobot basah umbi per rumpun setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Bobot Umbi Basah (g) per Rumpun setiap Varietas
Perlakuan Bobot Basah Umbi per Rumpun (g)
V3 (Sembrani) 28,41 a
V5 (Tuk-Tuk) 27,96 ab
V4 (Medan) 25,76 ab
V2 (Kuning) 24,18 b
V1 (Katumi) 22,27 b
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa rataan rataan bobot umbi basah per rumpun tertinggi terdapat pada varietas Sembrani 28,41 g yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Katumi 22,27 g.
Bobot Kering Umbi per Rumpun (g)
Data pengamatan bobot kering umbi per rumpun tanaman bawang merah dapat dilihat
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap bobot kering umbi per rumpun.
Rataan bobot umbi kering per rumpun setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan Bobot Kering Umbi (g) per Rumpun setiap Varietas
Perlakuan Bobot Kering Umbi per Sampel (g)
V3 (Sembrani) 22,36 a
V4 (Medan) 20,74 ab
V5 (Tuk-Tuk) 20,09 ab
V2 (Kuning) 19,21 bc
V1 (Katumi) 16,84 c
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa rataan rataan bobot umbi kering per rumpun tertinggi terdapat pada varietas Sembrani 22,36 g yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Katumi 16,84 g.
Bobot Basah Umbi per Plot (g)
Data pengamatan bobot basah umbi per plot tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 36 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 37.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda tidak nyata terhadap bobot basah umbi per plot.
Rataan bobot basah umbi per plot setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Bobot Basah Umbi (g) per Plot setiap Varietas
Perlakuan Bobot Umbi Basah per Plot (g)
V1 (Katumi) 739,88
V2 (Kuning) 629,80
V3 (Sembrani) 675,64
V4 (Medan) 758,84
V5 (Tuk-Tuk) 683,72
Bobot Kering Umbi per Plot (g)
Data pengamatan bobot kering umbi per plot tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 38 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 39.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda tidak nyata terhadap bobot kering umbi per plot.
Rataan bobot kering umbi per plot setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Bobot Kering Umbi (gr) per Plot setiap Varietas Perlakuan Bobot Kering Umbi per Plot (g)
V1 (Katumi) 560,80
V2 (Kuning) 542,60
V3 (Sembrani) 547,12
V4 (Medan) 611,52
V5 (Tuk-Tuk) 508,20
Susut Bobot Umbi (%)
Data pengamatan susut bobot umbi tanaman bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 40 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 41.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap susut bobot umbi.
Rataan susut bobot umbi (%) setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Susut Bobot Umbi (%) Setiap Varietas
Perlakuan Susut Bobot Umbi (%)
V5 (Tuk-Tuk) 28,14 a
V1 (Katumi) 25,81 a
V3 (Sembrani) 21,29 b
V2 (Kuning) 20,55 b
V4 (Medan) 19,48 b
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa rataan susut bobot umbi tertinggi terdapat pada varietas Tuk-Tuk 28,14 % yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Medan 19,48 %.
Diameter Umbi (cm)
Data pengamatan diameter umbi per tanaman sampel bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 41 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 42.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap diameter umbi.
Rataan diameter umbi per tanaman sampel setiap varietas dapat dilihat di Tabel 11.
Tabel 11. Rataan Diameter Umbi (cm) Setiap Varietas
Perlakuan Diameter Umbi (cm)
V3 (Sembrani) 2,40 a
V5 (Tuk-Tuk) 2,35 ab
V1 (Katumi) 2,20 abc
V4 (Medan) 2,11 bc
V2 (Kuning) 1,92 c
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa rataan diameter umbi tertinggi terdapat pada varietas Sembrani 2,40 cm yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Kuning 1,92 cm.
Tinggi Umbi (cm)
Data pengamatan tinggi umbi dapat dilihat pada Lampiran 44 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 45.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap tinggi umbi.
Rataan tinggi umbi setiap varietas dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Rataan Tinggi Umbi (cm) Setiap Varietas
Perlakuan Tinggi Umbi (cm)
V5 (Tuk-Tuk) 3,23 a
V3 (Sembrani) 3,11 a
V1 (Katumi) 2,59 b
V4 (Medan) 2,46 bc
V2 (Kuning) 2,22 c
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa tinggi umbi rataan tinggi umbi tertinggi terdapat pada varietas Tuk-Tuk 3,23 cm yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Kuning 2,22 cm.
Bentuk dan Warna Umbi
Bentuk umbi dan warna umbi pada setiap varietas bawang merah berbeda-beda, dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Bentuk dan Warna Umbi setiap Varietas Bawang Merah
NO Varietas Bentuk Umbi Keterangan/Gambar
1 V1 (Katumi) - Umbi bulat melonjong - Merah
2 V2 (Kuning) - Umbi bulat dengan ujung meruncing
- Merah Gelap
3 V3 (Sembrani) - Umbi bulat - Merah Pucat
4 V4 (Medan) - Umbi bulat dengan ujung meruncing
- Merah Pucat
5 V5 (Tuk-Tuk) - Umbi bulat
- Merah Kecoklatan
Produksi (ton/ha)
Data pengamatan produksi bawang merah dapat dilihat pada Lampiran 49 dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 50.
Berdasarkan data pengamatan dan sidik ragam dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap produksi.
Rataan produksi setiap varietas dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15. Rataan Produksi (ton/ha) setiap Varietas
Perlakuan Produksi (ton/ha)
V3 (Sembrani) 7,35 a
V4 (Medan) 7,06 bc
V5 (Tuk-Tuk) 6,76 ab
V2 (Kuning) 6,40 bc
V1 (Katumi) 5,62 c
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.
Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa rataan produksi umbi tertinggi terdapat pada varietas Sembrani dengan produksi 7,45 ton/ha yang berbeda nyata dengan rataan terendah pada varietas Katumi dengan produksi 5,61 ton/ha.
Heritabilitas
Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing karakter dapat dilihat pada Tabel 15. Dari data yang diperoleh nilai duga heritabilitas berkisar antara 0,00 – 0,80. Berdasarkan kriteria heritabilitas diperoleh lima peubah amatan yang mempunyai nilai heritabilitas tinggi, dua peubah amatan yang mempunyai nilai heritabilitas sedang dan lima peubah amatan yang mempunyai nilai heritabilitas yang rendah.
Nilai heritabilitas untuk peubah amatan dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Nilai Duga Heritabilitas (h2) masing-masing Peubah Amatan
Peubah Amatan Nilai Heritabilitas (h2)
Tinggi Tanaman (cm) 0,10 r
Jumlah daun (helai) 0,00 r
Umur Panen (hr) 0,15 r
Jumlah Anakan (siung) 0,52 t
Bobot Basah per sampel (g) 0,48 s
Bobot Kering per Sampel (g) 0,53 t
Bobot Basah per Plot(g) 0,00 r
Bobot Kering per Plot (g) 0,00 r
Susut Bobot Umbi (%) 0,79 t
Diameter Umbi (cm) 0,46 s
Tinggi Umbi (cm) 0,80 t
Produksi (ton/ha) 0,49 s
Keterangan: r (rendah; <0,2), s (sedang; =0,2-0,5), t (tinggi; >0,5)
Dari Tabel 16 diketahui bahwa nilai heritabilitas tinggi terdapat pada jumlah anakan (siung), bobot kering umbi per sampel (g), susut bobot umbi (%),dan tinggi umbi (cm). Nilai heritabilitas kriteria sedang terdapat pada bobot basah umbi per sampel (g), diameter umbi (cm) dan produksi (ton/ha). Sedangkan Nilai heritabilitas kriteria rendah terdapat pada tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), umur panen (hari), bobot basah umbi per plot (g), dan bobot kering umbi per plot (g).
Dari Tabel 16 diketahui bahwa nilai heritabilitas tertinggi pada parameter tinggi umbi (0,80), sedangkan nilai heritabilitas terendah terdapat pada jumlah daun, bobot basah per plot dan bobot kering umbi per plot (0,00).
Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing varietas juga dapat dievaluasi dan dapat dilihat pada Tabel 17. Nilai duga heritabilitas (h2) tersebut berkisar antara 0,01 – 0,74.
Tabel 17. Nilai Duga Heritabilitas (h2) untuk masing-masing Varietas
Peubah Amatan
Nilai heritabilitas (h2) V1
(Katumi)
V2 (Kuning)
V3 (Sembrani)
V4 (Medan)
V5 (Tuk-Tuk) Tinggi Tanaman (cm) 0,11 r 0,43 s 0,01 r 0,45 s 0,42 s Jumlah daun (helai) 0,33 s 0,27 s 0,27 s 0,42 s 0,37 s
Umur Panen (hr) 0,11 r 0,31 s 0,41 s 0,57 t 0,12 r
Jumlah Anakan (siung) 0,09 r 0,33 s 0,15 r 0,67 t 0,26 s Bobot Basah per sampel (g) 0,19 r 0,32 s 0,22 s 0,51 t 0,27 s Bobot Kering per Sampel (g) 0,29 s 0,34 s 0,25 s 0,52 t 0,31 s Bobot Basah per Plot(g) 0,22 s 0,04 r 0,16 r 0,57 t 0,38 s Bobot Kering per Plot (g) 0,30 s 0,10 r 0,16 r 0,57 t 0,26 s Susut Bobot Umbi (%) 0,25 s 0,43 s 0,16 r 0,57 t 0,33 s Diameter Umbi (cm) 0,44 s 0,25 s 0,16 r 0,12 r 0,52 t
Produksi (ton/ha) 0,25 s 0,25 s 0,30 s 0,58 t 0,29 s Keterangan: r (rendah; <0,2), s (sedang; =0,2-0,5), t (tinggi; >0,5)
Dari Tabel 17 dapat diketahui bahwa nilai heritabilitas tertinggi adalah pada varietas Medan dengan peubah amatan tinggi umbi (0,74), sedangkan nilai heritabilitas terendah terdapat pada varietas Sembrani dengan peubah amatan tinggi tanaman (0,01).
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas yang diuji berbeda nyata terhadap peubah amatan jumlah anakan, yaitu jumlah anakan tertinggi terdapat pada varietas Kuning (7,28 anakan) dan terendah pada varietas Tuk-Tuk (4,47 anakan). Dari deskripsi tertera bahwa jumlah anakan Katumi memiliki kisaran 9-11 umbi, Kuning 7-12 umbi, dan Sembrani 4-5 umbi. Jumlah anakan yang didapat dari hasil pengamatan mencapai kisaran data deskripsi. Selain itu faktor genetik dari setiap varietas yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena faktor genetik lebih dominan pada populasi tanaman ini, yang ditunjukkan dengan nilai heritabilitas pada peubah amatan jumlah anakan adalah tinggi (0,52). Terdapat kemungkinan bahwa varietas ini dapat beradaptasi dengan baik. Hal ini dikemukakan oleh Poespodarsono (1988) yang menyatakan bahwa ada dua kemungkinan penyebab suatu varietas beradaptasi dengan baik, yaitu varietas terdiri dari satu macam genotip yang mempunyai susunan genetik sedemikian rupa sehingga mampu mengendalikan sifat morfologi dan fisiologi yang dapat menyesuaikan diri pada lingkungan dan varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda, masing-masing mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap perbedaan kisaran lingkungannya.
Varietas juga menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap bobot basah umbi dan bobot kering umbi per rumpun. Varietas Medan dan Tuk-tuk berbeda nyata dengan varietas Katumi, Kuning dan Sembrani pada bobot basah umbi, namun pada bobot kering umbi perbedaan yang nyata hanya ditunjukkan pada antara varietas asal Jawa Barat (Katumi, Kuning dan Sembrani). Rataan bobot basah umbi dan bobot kering umbi tertinggi terdapat pada varietas Sembrani (28,41 g dan 22,36 g), sedangkan rataan terendah pada varietas Katumi (22,27 g dan 22,36 g). Dari nilai heritabilitas diperoleh kriteria sedang (0,48), hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi antara genetik dari varietas dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, namun proporsi antara varietas dan lingkungan berada
dalam kondisi yang seimbang. Hal ini berarti varietas tersebut berada dalam kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya, apabila tidak dalam kondisi yang sesuai maka tidak akan ada perkembangan karakter tanaman tersebut. Hal ini dikemukakan oleh Allard (2005) yang menyatakan bahwa lingkungan yang sering mempengaruhi tanaman adalah lingkungan yang terdapat di sekitar tanaman, tergantung dari gen tanaman menerima respon dari lingkungan tersebut. Gen tanaman tidak dapat menyebabkan berkembangnya suatu karakter terkecuali bila mereka dalam kondisi yang sesuai. Jika berada dalam kondisi yang tidak sesuai maka tidak ada pengaruh gen terhadap berkembangnya karakteristik dengan mengubah tingkat keadaan lingkungan.
Varietas juga menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap data susut bobot umbi.
Dimana susut bobot umbi tertinggi terdapat pada varietas Tuk-Tuk sebesar 25,30%.
Berdasarkan data deskripsi diperoleh data bahwa susut bobot umbi pada varietas Tuk-Tuk adalah sebesar ±34,4%, varietas Katumi 30,85%, varietas Kuning 21,50-22%, varietas Sembrani 25,45, dan varietas Medan sebesar 25%. Susut bobot umbi lebih rendah daripada di data deskripsi. Dari setiap varietas susut bobot umbi rata-rata susut ± 5%. Hal ini disebabkan adanya pengaruh pemberian pupuk organik berupa kompos yang diberikan bersama pupuk SP-36 yang dapat mengurangi susut bobot umbi. Selain memelihara dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, kompos juga berpengaruh ke susut bobot umbi bawang tersebut menjadi berkurang, meskipun pemberian kompos tidak berpengaruh terhadap peningkatan hasil. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Sumarni dan Hidayat (2005) yang menyatakan bahwa pemberian pupuk organik tersebut untuk memelihara dan meningkatkan produktivitas lahan. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa kompos tidak meningkatkan hasil bawang merah secara nyata, tetapi mengurangi susut bobot umbi (dari bobot basah menjadi bobot kering jemur) sebanyak ± 5%.