• Tidak ada hasil yang ditemukan

: IMA IRMALASARI DEWI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ": IMA IRMALASARI DEWI"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

 

Oleh :

IMA IRMALASARI DEWI 0701045101

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA 2011

(2)

SKRIPSI

Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

 

Oleh :

IMA IRMALASARI DEWI 0701045101

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA 2011

(3)
(4)
(5)
(6)

PERSEMBAHAN  

“Besarnya nikmat‐Mu tak terhingga, sehingga keluh  lidahku menyebutnya, namun rasa syukur memudar  

di samping limpahan anugerahmu...” 

Bagaimana mungkin akan berhasil mensyukuri‐Mu  karena  syukurku  pada‐Mu  memerlukan  syukur  lagi... 

 

Kupersembahkan skripsi ini kepada :  Ibuku, apaku, adik‐adikku, keluargaku serta sahabat‐

sahabatku Nova Sri Wahyu Ningsih, Yunita Oktavia, dan  Neneng Neny atas do’a, dukungan  

dan kasih sayangnya. 

Amin... 

(7)

ABSTRAK

IMA IRMALASARI DEWI. NIM: 0701045101. Pengaruh Pendekatan Komunikatif Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas IV SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor. Skripsi. Jakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pendekatan konunikatif dengan menggunakan metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa di SDN Tanjungsari 02.

Populasi penelitian ini adalah 90 orang siswa kelas IV dari kelas a dan b.

Sampel penelitian 60 orang siswa, dari kelas IVa diambil 30 orang siswa, sedangkan dari kelas IVb diambil 30 orang siswa ditentukan dengan sampel random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penilaian berbicara di kelas kontrol (variabel X), dan instrumen penilaian berbicara di kelas eksperimen (variabel Y).

Dari hasil pengujian normalitas untuk data kelas kontrol diperoleh nilai = 0,1517, untuk n = 30 dengan taraf signifikan 0,05 adalah 0,161 dan kelas eksperimen diperoleh = 0,1375, Ltabel untuk n = 30 dengan taraf signifikan 0,05 adalah 0,161. < , sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua data dari kemampuan berbicara tersebut berdistribusi normal.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t, dari perhitungannya didapat thitung = 3,52 sedangkan ttabel = 2,0399yang berarti thitung > ttabel yang menyatakan H0

ditolak dan H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terhadap kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan pendekatan komunikatif siswa di SDN Tanjungsari 02.

(8)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Skripsi berjudul “Pengaruh Pendekatan Komunikatif Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas IV SDN Tanjung Sari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor”, skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar kesarjanaan di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna baik bentuk, maupun teknik penyajian oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.

Penulis menyadari bahwa tidaklah mungkin skripsi ini terwujud tanpa adanya bimbingan, pengarahan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada : 1. Dr. Sukardi, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.

2. Drs. H. Kusmajid Abdullah, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.

3. Dra. Rahmiati, M.Psi, selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.

(9)

4. Dr. Prima Gusti Yanti, M.Hum selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bimbingan pada penulis dalam menyususun skripsi.

5. Drs. H. Nawawi, M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi.

6. Bapak Yoyong Sutiono S.Ag. M.M selaku Kepala SDN Tanjungsari 02 7. Zaini Haruman selaku koordinator di sekolah yang telah memberikan izin

kepada penulis untuk dapat mengadakan penelitian.

8. Bapak Dadang, A.Md. Kom dan Ibu Eka Tri Kartika, S.Pd selaku guru kelas IV SDN Tanjungsari 02 yang telah membantu penulis untuk dapat melakukan penelitian.

Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Jakarta, September 2011

Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

PERSEMBAHAN... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR... v

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah... 6

E. Tujuan Penelitian... 7

F. Manfaat Penelitian... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Analisis Teori ... 9

1. Hakikat Pendekatan Komunikatif... 9

2. Hakikat Bahasa Indonesia ... 15

3. Hakikat Kemampuan Berbicara ... 20

(11)

B. Kerangka Berpikir ... 22

C. Pengajuan Hipotesis ... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25

B. Jenis Penelitian ... 25

C. Populasi dan Sampel Penelitian... 25

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 26

E. Teknik Pengumpulan Data ... 27

F. Teknik Analisis Data ... 31

1. Uji Prasyarat ... 31

a. Uji Normalitas ... 31

b. Uji Homogenitas... 33

2. Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 35

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 40

C. Pengujian Hipotesis ... 41

D. Pembahasan Hasil Penelitian... 42

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan... 43

B. Implikasi ... 43

C. Saran... 44

(12)

DAFTAR PUSTAKA ... 46 LAMPIRAN... 48 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 95

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Pembobotan Penilaian Berbicara ... 30

Tabel 3.2 Konversi Tingkat Kefasihan ... 31

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas Kontrol (X)... 35

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas Eksperimen (Y) ... 38

Tabel 4.3 Nilai Kemampuan Berbicara Kelas IV... 39

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Uji Normalitas ... 41

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas... 42

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji-t ... 43

Tabel 5.1 Instrumen Penilaian Berbicara Bahasa Indonesia ... 48

Tabel 5.2 Pembobotan Penilaian Berbicara ... 51

Tabel 5.3 Konversi Tingkat Kefasihan ... 51

Tabel 5.4 Kisi-Kisi Instrumen... 52

Tabel 5.5 Lembar Pengamatan Komunikati kelas Kontrol ... 57

Tabel 5.6 Lembar Pengamatan Komunikatif Kelas Eksperimen ... 64

Tabel 5.7 Hasil Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Kontrol ... 68

Tabel 5.8 Hasil Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Eksperimen... 69

Tabel 5.9 Nilai Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IVa SDN Tanjung Sari 02 (Kelas Kontrol)... 70

(14)

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara

Siswa Kelas Kontrol... 71

Tabel 5.11 Perhitungan Uji Normalitas Tes Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Kontrol... 75

Tabel 5.12 Nilai Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IVa SDN Tanjung Sari 02 (Kelas Eksperimen) ... 76

Tabel 5.13 Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Eksperimen... 77

Tabel 5.14 Perhitungan Uji Normalitas Tes Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Eksperimen ... 81

Tabel 5.15 Uji Homogenitas di Kelas Kontrol dan Eksperimen... 82

Tabel 5.16 Luas Di Bawah Lengkungan Kurve Normal Dari 0 S/D Z... 87

Tabel 5.17 Nilai Kritis L Untuk Uji Liliefors ... 88

Tabel 5.18 Nilai-Nilai Dalam Distribusi t... 89

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1 Grafik Histogram dan Poligon Kemampuan Berbicara

Kelas Kontrol SDN Tanjungsari 02 ... 37 Gambar 4.2 Grafik Histogram dan Poligon Kemampuan Berbicara

Kelas Eksperimen SDN Tanjungsari 02... 39

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Instrumen Penilaian Berbicara Bahasa Indonesia ... 48

Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen ... 52

Lampiran 3 RPP Kelas Kontrol ... 53

Lampiran 4 RPP Kelas Eksperimen... 59

Lampiran 5 Percakapan Komunikatif ... 66

Lampiran 6 Hasil Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Kontrol... 68

Lampiran 7 Hasil Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Eksperimen... 69

Lampiran 8 Nilai Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IVb SDN Tanjung Sari 02 (Kelas Kontrol) ... 70

Lampiran 9 Nilai Kemampuan Berbicara Siswa Kelas IVba SDN Tanjung Sari 02 (Kelas Eksperimen) ... 76

Lampiran 10 Uji Homogenitas di Kelas Kontrol dan Eksperimen ... 82

Lampiran 11 Analisis Data dengan Uji-t ... 84

Lampiran 12 Luas Di Bawah Lengkungan Kurve Normal Dari 0 S/D Z .... 87

Lampiran 13 Nilai Kritis L Untuk Uji Liliefors... 88

Lampiran 14 Nilai-Nilai Dalam Distribusi t ... 89

Lampiran 15 Foto Dokumentasi Kelas Kontrol... 90

Lampiran 16 Foto Dokumentasi Kelas Eksperimen ... 91

Lampiran 17 Surat Izin Mengadakan Riset... 93

Lampiran 18 Surat Keterangan Telah Mengadakan Riset ... 94

Lampiran 19 Daftar Riwayat Hidup... 95

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan teknologi tidak terlepas dari pendidikan membaca, anak- anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai cara, salah satunya dengan berbicara atau berbahasa. Dalam arti luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.1 Pendidikan dasar merupakan pendidikan yang lamanya 9 tahun yang diselenggarakan selama 6(enam) tahun di sekolah dasar (SD) dan 3 tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) atau satuan pendidikan yang sederajat.2

Pembelajaran di sekolah dasar salah satunya ada pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Pkn dan sebagainya. Dalam pembelajaran tersebut memerlukan pendekatan belajar yang perlu dilakukan sebagai alat penunjang pembelajaran.

Dalam pembelajaran di sekolah dasar, mata pelajaran yang diajarkan salah satunya adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran bahasa, banyak pendekatan yang dapat digunakan tetapi guru harus pandai menguasai konsep yang terkait dengan       

1 Muhibbin Syah. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. hlm. 10

2 Hera Lestari Mikarsa,dkk. 2007. Pendidikan Anak di SD. Jakarta : Universitas Terbuka. hlm 1.6-1.7

(18)

perkembangan dan pemerolehan bahasa anak. Keterampilan diperlukan agar semua aspek keterampilan berbahasa dapat berkembang dengan baik.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan pada pelajaran bahasa Indonesia adalah dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa mengarah pada pencapaian tujuan yang mengutamakan pemerolehan keterampilan berbahasa untuk berkomunikasi.3 Pendekatan komunikatif siswa diajarkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam hidup sehari-hari. Tujuannya agar siswa memahami pembelajaran tersebut lebih bermakna. Dengan pendekatan ini siswa lebih bisa berkomunikasi dengan baik dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini siswa lebih memahami makna arti bahasa Indonesia yang sesungguhnya, sehingga dapat diaplikasikan pada kehidupan nyata. Disamping itu, dengan pendekatan komunikatif ini juga dapat menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman.

Ada dua pendapat yang bertentangan di tengah pengajaran bahasa Indonesia. Di satu sisi, banyak keluhan yang dilontarkan oleh masyarakat terhadap penguasaan bahasa Indonesia siswa. Keluhan itu terutama karena siswa dianggap kurang mampu menggunakan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun secara tertulis. Di sisi lain, di sebagian siswa mengatakan pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah

      

3 Walija. 2007. Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Dasar. Bandung: Bunga Rampai.hlm.1

(19)

merasa bisa dan penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara tidak langsung siswa menjadi lemah dalam penangkapan materi.

Pada pendekatan komunikatif ini ada beberapa metode yang dapat digunakan, misalnya dengan menggunakan metode simulasi. Metode ini merupakan cara penyajian pelajaran dengan menggunakan situasi tiruan dalam proses belajar mengajar untuk memperoleh suatu pemahaman tentang hakikat suatu konsep, prinsip atau keterampilan tertentu.4 Pada metode simulasi, siswa dilibatkan langsung dalam situasi yang nyata. Misalnya siswa melakukan kegiatan bermain peran. Dengan bermain peran tersebut siswa akan memperolah pemahaman yang lebih jelas tentang diri orang yang diperankannya, sehingga siswa dapat mengekspresikan perannya itu kedalam nada bicaranya, suaranya, maupun ekspresi wajahnya. Pemberian materi ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa diperlukan untuk berbagai keperluan.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat beberapa kendala yang terjadi diperkirakan adanya kesalahan persepsi dari banyak kalangan, termasuk guru SD yang menganggap bahwa pelajaran bahasa Indonesia sudah selesai ketika siswa telah selesai mengerjakan soal, pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada umumnya cenderung statis dan rutin, seperti siswa diminta mengerjakan soal yang terdapat di dalam buku pegangan siswa atau LKS, dan guru hanya memberi nilai berdasarkan jawaban yang dikerjakan siswa tanpa mengetahui pemahaman siswa. Hal tersebut menyebabkan       

4 Suyatno, dkk. 2008. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: UHAMKA PRESS. hlm. 32

(20)

pembelajaran kurang menarik dan membosankan sehingga ketercapaian hasil pembelajaran kurang maksimal. Selain itu siswa lebih suka bermain dan bercanda dengan temannya karena menganggap mata pelajaran bahasa Indonesia itu mudah hanya membaca dan menulis. Siswa tak tahu apa sebenarnya yang diharapkan dari pelajaran bahasa Indonesia tersebut dan guru pun sering tidak mengindahkan harapan dari pelajaran bahasa Indonesia anak.

Seperti yang dijelaskan dalam Kurikulum 2004, bahwa standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia adalah : Kemampuan berbahasa, yang meliputi (1) mendengar, ialah mendengarkan, memahami, memberikan tanggapan terhadap gagasan, pendapat, kritikan dan perasaan orang lain dalam berbagai bentuk wacana lisan, (2) berbicara, ialah berbicara secara efektif dan efisien untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, kritikan, perasaan, dalam bentuk kepada berbagai mitra bicara sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan, (3) membaca, yaitu membaca dan memahami berbagai jenis wacana, baik secara tersurat maupun tersirat untuk berbagai tujuan, dan (4) menulis secara efektif dan efisien berbagai jenis karangan dalam berbagai konteks.5

Sesuai dengan fungsinya menyampaikan ide atau gagasan bahasa Indonesia dikomunikasikan kepada orang lain baik dalam bertutur kata lisan, menyampaikan pesan maupun dalam bentuk tulisan. Dalam mengkomunikasikan bahasa diperlukan pengetahuan dan keterampilan       

5 Depdiknas. 2003. Kurikulum. 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Umum. hlm. 4-5

(21)

menggunakan berbagai ragam bahasa yang dapat mendukung pengembangan pengetahuan, keterampilan, pemikiran dan sikap yang hendak dikomunikasikannya. Ide-ide atau gagasan itu akan muncul dalam sebuah proses, yaitu proses kegiatan belajar mengajar.

Di SDN Tanjungsari 02 ini terdapat beberapa masalah yang dialami oleh siswa pada pelajaran bahasa Indonesia terutama dalam kemampuan berbicara. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, salah satu keterampilan berbahasa adalah kemampuan berbicara. Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. 6

Dari pemaparan tersebut jelas sudah tidak tercapai apa yang menjadi keterampilan dasar dari pelajaran bahasa Indonesia dapat dibuat semenarik mungkin dan menyenangkan bagi anak, sehingga apa yang menjadi harapan dari pembelajaran bahasa Indonesia dapat tercapai dengan baik di SDN Tajungsari 02. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna ketercapaian keterampilan bahasa Indonesia.

B. Identifikasi Masalah

Setelah memperhatikan latar belakang diatas, penulis mengidentifikasi masalah menjadi.

1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara siswa kelas IV SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor?

      

6 Djago Tarigan. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan dan Kependudukan. hlm. 138

(22)

2. Bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dengan metode simulasi di kelas IV SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor?

3. Apakah pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode simulasi dapat mengembangkan kemampuan berbicara siswakelas IV SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor?

4. Apakah pendekatan komunikatif dengan metode simulasi berpengaruh terhadap kemampuan berbicara siswa kelas IV di SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka diketahui permasalahan yang muncul cukup luas, untuk itu lingkup permasalahannya penulis membatasi yaitu: “Pendekatan komunikatif dibatasi pada metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor”.

D. Perumusan Masalah

Setelah mempertimbangkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka rumusan masalah sebagai berikut:

“Adakah pengaruh pendekatan komunikatif dengan metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa di SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor”?

(23)

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan tujuan di atas maka tujuan penelitian yaitu :

1. Untuk menguji hipotesis penelitian dan untuk memperoleh data mengenai ada atau tidaknya pengaruh pendekatan metode komunikatif dengan metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IV SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor.

2. Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan pendekatan komunikatif berpengaruh terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas IV.

3. Untuk mengetahui pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor.

4. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat balam menerapkaan metode pembelajaran dan bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi di SDN Tanjungsari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor.

F. Manfaat Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan :

1. Bagi siswa untuk melatih agar mampu berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompoknya.

2. Bagi guru sebagai bahan bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan dan mempelajari dan pendekatan pembelajaran.

(24)

3. Bagi peneliti sebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mengenai pendekataan pembelajaran.

4. Bagi lembaga sebagai bahan rujukan bagi para guru SD dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui proses belajar mengajar di kelas.

 

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Analisis Teori

1. Hakikat Pendekatan Komunikatif

Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode.1 Salah satu pendekatan yang diajarkan pada pelajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.2 Pendekatan komunikatif mengarahkan pengajaran bahasa pada tujuan pengajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Pendekatan komunikatif siswa diajarkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam hidup sehari-hari.

Dengan kata lain, pendekatan komunikatif dapat diartikan sebagai pendekatan yang mengarahkan pada pembelajaran komunikasi yang tujuannya agar tujuan dari bahasa dapat tercapai dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

a. Ciri-ciri Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif memiliki ciri-ciri seperti yang dikemukakan Finoccaro dan Brumfit, Pendekatan komunikatif mempunyai ciri sebagai berikut:

      

1 Darmiyati Zuchdi. 1997. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud, hlm. 30.

2Dadan Djuanda. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. hlm 33.

(26)

a. Kebermaknaan sangat penting dibandingkan dengan struktur dan bahan bahasa.

b. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi, bukan mempelajari struktur, bunyi atau kosakata secara terpisah- pisah.

c. Tujuan yang ingin dicapai adalah kemempuan komunikasi (communicative competence), yaitu kemampun menggunakan sistem bahasa secara efektif dan betul.

d. Kelancaran menggunakan bahasa yang dapat diterima, menjadi tujun utama yang ingin dicapai. Keakuratan penggunaan bahasa dilihat dari konteks penggunaannya.

e. Materi pelajaran disusun dan ditahapkan melelui pertimbangan isi, fungsi, atau makna yang menarik.

f. Variasi kebahasaan merupakan konsep sentral dalam materi pelajaran dan metodologi.

g. Apabila diperlukan dan berguna bagi siswa, penerjemahan dapat dilakukan.

h. Jika diperlukan campur kode dengan bahasa ibu dapat dilakukan

i. Dialog, jika digunakan, berkisar pada fungsi-fungsi komunikatif dan biasanya tdak dihafalkan.

j. Bukan ucapan yang persis seperti ucapan penutur asli yang dicari, tetapi ucapan yang dapat dipahami.

k. Usaha untuk berkomunikasi dianjurkan sejak tingkat permulaan.

l. Bahasa yang diciptakan oleh individu-individu sering kali melalui trial and error.

m. Guru membantu siswa dengan cara apa pun yang mendorong siswa menggunakan bahasa yang dipelajari.

n. Siswa diharapkan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui kerja berpasangan atau kelompok, baik secara langsung maupun melalui tulisan.3

Dengan kata lain bahwa ciri dari pendekatan komunikatif adalah pembelajaran yang mengutamakan bahasa untuk berkomunikasi. Seperti di dalam kelas, biasanya bahasa digunakan untuk memberikan sambutan, memohon, memberikan informasi, memerintahkan, dan seterusnya walaupun pemakaiannya terbatas.

      

3 Bahan Ajar Cetak. 2007. Kapita Selekta Pembelajaran. Jakarta : Direktororat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 58-59

(27)

Adapun tujuan pengajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk :

a. Mengembangkan komunikasi komunikatif siswa, yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajari itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks.

b. Meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi.4

Dalam pendekatan komunikatif terdapat beberapa metode yang dapat digunakan. Salah satunya adalah metode simulasi. Metode simulasi merupakan cara penyajian pelajaran dengan menggunakan situasi tiruan dalam proses belajar mengajar untuk memperoleh suatu pemahaman tentang hakikat suatu konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.5 Dengan demikian, metode simulasi dapat dikatakan suatu cara pengajaran yang dilakukan dengan menyajikan tiruan untuk memperoleh suatu pemahaman terhadap mater yang disajikan.

Adapun tujuan penggunaan metode simulasi adalah sebagai berikut:

a. Melatih keterampilan tertentu yang bersifat praktis bagi kehidupan sehari- hari.

b. Membantu mengembangkan sikap percaya diri pedeserta didik.

c. Mengembangkan persuasi dan komunikasi.

d. Melatih peserta didik memecahkan masalah dengan memanfaatkan sumber-sumber yang dapat digunakan memecahkan masalah.

e. Meningkatkan pemahaman tentang konsep dan prinsip yang dipelajari.

      

4 Ibid. hlm. 59

5 Suyatno, dkk. 2008. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : UHAMKA PRESS. hlm. 32

(28)

f. Meningkatkan keaktifan belajar dengan melibatkan peserta didik dalam mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang sebenarnya.6

Selain itu, penggunaan metode ini dimaksudkan agar cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Pada metode ini, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi.

Selain memiliki tujuan, penggunaan metode simulasi memiliki beberapa alasan sebagai berikut:

a. Ada situasi atau peristiwa yang tidak dapat dihadirkan secara nyata dalam situasi sebenarnya, misalnya keadaan bulan dan rotasi bumi dan bulan, serta matahari atau keadaan kebakaran pasar, keadaan perang, dan sebagainya.

b. Terdapat konsep-konsep yang harus diresapi dan dan dirasakan peserta didik secara langsung, misalnya suasana perjuangan atau mempertahankan kemerdekaan, saling hormat- menghormati sesama manusia, dan sebagainya.

c. Menanamkan sikap-sikap normatif kepada peserta didik yang harus direfleksikan dalam apresiasi jiwa.

d. Agar peserta didik dapat berperan dan berkomunikasi dengan baik.7

Alasan yang lain dalam penggunaan metode simulasi ini adalah siswa dituntut untuk memecahkan masalahnya sendiri, sehingga akan menimbulkan sikap kreatif pada diri siswa dan sedikit demi sedikit akan menghilangkan rasa malas pada diri masing-masing siswa tersebut.

Kelebihan dari metode simulasi antara lain :

      

6 Mulyani Sumantri, dkk. 1998/1999. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. hlm. 161

7Ibid. hlm. 162

(29)

a. Memupuk daya cipta, sebab simulasi dilakukan sesuai dengan kreasi siswa masing-masing dalam membawakan peranannya.

b. Simulasi dapat dijadikan sebagai sebgai bekal siswa untuk menghadapi situasi sebenarnya yang akan dihadapi di lingkungan yang lebih luas.

c. Simulasi dapat membiasakan dan memberikan keterampilan kepada siswa untuk menanggapi dan bertindak secara spontan.

d. Memupuk keberanian dan kemantapan siswa didepan orang banyak.

e. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta pengalaman tidak langsung yang diperlukan siswa dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.

f. Siswa berkesempatan menyalurkan perasaan yang tependam, sehingga memperoleh kesegaran, kepuasan serta kesehatan jiwa kembali.

g. Dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang mungkin dimiliki siswa, misalnya dalam seni drama.

h. Siswa dapat belajar menghargai dan menerima pendapat orang lain.8

Dari kelebihan metode simulasi diatas, ada juga kelebihan lain yaitu metode simulasi dapat meningkatkan semangat siswa dalam belajar, karena metode ini dilakukan secara bersama-sama antara 2 orang atau lebih. Selain itu, dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa.

Walaupun teknik ini baik dan memiliki keunggulan, tetapi masih juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya ialah:

a. Efektivitas dalam memajukan belajar siswa belum dapat dilaporkan lebih riset.

b. Terlalu mahal biayanya.

c. Banyak orang meragukan hasilnya karena sering tidak diikutsertakannya elemen-elemen yang penting.

d. Menghendaki pengelompokkan yang fleksibel;perlu ruang dan gedung.

e. Menghendaki banyak imajinasi dan guru maupun siswa.

f. Menimbulkan hubungan informasi antara guru dan siswa yang melebihi batas.

g. Sering mendapat kritik dari orang tua karena dianggap permainan saja.9

      

8 Suyatno, Op. Cit. hlm. 32

(30)

Dengan kata lain pada metode simulasi ini kelemahan yang ada adalah siswa sering mengalami rasa malu dan takut saat melakukan simulasi, sehingga pelaksanaan simulasi menjadi kurang maksimal.

Biasanya pada saat similasi ini baik guru maupun siswa terlalu asyik dalam melakukannya sehingga dapat menimbulkan kurang tercapainya tujuan pelajaran yang diingikan, dan kadang-kadang proses simulasi tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam penerapan metode simulasi memiliki beberapa aturan sebagai berikut :

a. Siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok paling banyak lima orang.

b. Guru menyediakan topik-topik pembicaraan yang akan dibahas oleh setiap kelompok.

c. Guru berkeliling mengawasi kelompok dan sekali-kali melakukan tilang bahasa.

d. Kesalahan umum dibicarakan secara umum.

e. Diusahan agar anggota kelompok berani mengemukakan pendapat.

f. Guru mencatat kesalahan yang selalu muncul. Kesalahan ini dapat dimunculkan dalam evaluasi.

g. Untuk memperbaiki kesalahan, sebaiknya siswa yang memperbaikinya.

Aturan-aturan tersebut wajib diikuti oleh seluruh siswa dan guru, agar pelaksanaan simulasi dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang direncanakan.

Sehubungan dengan pernyataan di atas teknik simulasi baik sekali kita gunakan karena:

a. Menyenangkan siswa.

b. Menggalakkan guru untuk mengembangkan kreativitas siswa.

c. Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya.

d. Mengurangi hal-hal yang verbalitas atau abstrak.

       

9 Suyatno, Op. Cit. hlm. 23

(31)

e. Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam.

f. Menimbulkan semacam interaksi antar siswa, yang memberi kemingkinan timbulnya keutuhan dan kegotong-royongan serta kekeluargaan yang sehat.

g. Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban/kurang cakap.

h. Menumbuhkan cara berfikir yang kritis.

i. Memungkinkan guru bekerja dengan tingkat abilitas yang berbeda-beda.10

Jika teknik simulasi dilakukan dengan benar dan melaksanakan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, kemungkinan pelaksanaan simulasi ini akan berjalan dengan baik dan tujuan yang diinginkan bisa tercapai.

2. Hakikat Bahasa Indonesia

Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.11 Sedangkan menurut Santoso bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.12

Dengan kata lain bahasa adalah sebuah bunyi yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan seseorang, tetapi tidak semua bunyi dikatakan sebagai bahasa.

Menurut Keraf dalam Smarafradhipa memberikan dua pengertian bahasa, pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang       

10 Roestiyah N.K. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. hlm 22

11 http://wismasastra.wordpress.com/2009/05/25/apa-bahasa-itu-sepuluh- pengertian-bahasa-menurut-para-ahli/(31/01/2011)

12 Ibid

(32)

mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.13 Dengan demikian, bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang dapat digunakan oleh seseorang untuk menyampaikan sebuah pesan.

Adapun Fungsi bahasa sebagai berikut:

1) Alat untuk menjalankan administrasi negara. Ini berarti segala kegiatan administrasi kenegaraan, seperti surat- menyurat dinas, pendidikan dan sebagainya harus diselanggarakan dalam bahasa Indonesia.

2) Alat pemersatu berbagai suku bangsa di indonesia.

Komunikasi diantara suku bangsa yang berbeda kurang mungkin dilakukan dalam salah satu bahasa daerah dari anggota suku bangsa itu. Komunikasi lebih mungkin dilakukan dalam bahasa Indonesia. Karena komunikasi antar suku ini dilakukan dalam bahasa Indonesia, maka akan terciptalah perasaan “satu bangsa” di antara anggota suku- suku bangsa itu.

3) Media untuk menanpung kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah dapat ditampung dengan media bahasa daerah, tetapi kebudayaan nasional Indonesia dapat an harus ditampung dengan media bahasa Indonesia.14

Selain itu bahasa Indonesia pun harus pula mampu sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa yang memiliki latar belakang kebudayaan dan bahasa yang brebeda-beda. Bahasa Indonesia telah memungkinkan berbagai suku bangsa mencapai keserasian hidup dalam satu bangsa. Bahasa Indonesia sesuai fungsinya juga berperan sebagai alat pengungkapan perasaan dan telah sanggup pula mengungkapkan nuansa perasaan yang halus.

      

13 Ibid

14 Abdul Chaer. 2007. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta. hlm. 2

(33)

Dalam literatur bahasa, para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang ada 4, yaitu:

1) Sebagai alat berkomunikasi 2) Sebagai alat mengekspresikan diri

3) Sebagai alat berinteraksi dan beradaptasi sosial 4) Sebagai alat komunikasi. 15

Dengan kata lain dari fungsi bahasa ini sebagai alat komunikasi dan komunikasi ini dapat juga dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan isyarat. Tetapi dengan komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.16 Bahasa Indonesia sendiri, mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara di tengah-tengah berbagai macam bahasa daerah.

Dari sudut pandang linguistik, Bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.

Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa       

15 Lamuddin Finoza. 2006. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Diksi Ihsan Mulia. hlm. 2

16 Ibid

(34)

Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Adapun ragam bahasa Indonesia antara lain:

(1) Ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Biasa disebut dengan istilah idiolek. Setiap orang tentu mempunyai ragam atau “gaya” bahasa sendiri-sendiri yang sering tidak disadarinya. Perbedaan idiolek ini dapat kita lihat, sebagai contoh, “gaya” bahasa Sutan Takdir Alisyahbana, yang tidak sama dangan “gaya” bahasa Pramudya Ananta Toer.

(2) Ragam bahasa yang dugunakan oleh sekelompok anggota masyaarakat dari wilayah tertentu, biasanya disebut dengan istilah dialek. Misalnya ragam bahasa Indonesia di Jakarta, yang jelas tidak sama dengan ragam bahasa di masyarakat Medan, di Yogyakarta, atau pun di Denpasar.

(3) Ragam bahasa yang digunakan oleh oleh sekelompok anggota dari anggota sosial tertentu, biasanya disebut sisiolek. Misalnya ragam bahasa golongan terdidik, jelas tidak sama dengan ragam bahasa dari golongan buruh kasar, ataupun golongan masyarakat umum.

(4) Ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan suatu bidang tertentu, seperti kegiatan ilmiah, jurnalistik, sastra, hukum, matematkan dan militer. Ragam bahasa ini biasanya disebut dengan istilah fungsiolek. Ragam bahasa ilmiah ini biasanya logis dan eksak, tetapi ragam bahasa sastra penuh dengan kiasan dan ungkapan.

(5) Ragam bahasa yang digunakan dalam situasi formal atau situasi resmi, biasanya disebut dengan istilah ragam bahasa baku atau bahasa standar. Kaidah-kaidah dalam ragam bahasa baku, baik dalam bidang fonologi, morfologi, sintaktis maupun koosakata, biasanya digunakan sacara konsisten.

(6) Ragam bahasa yang digunakan dalamsituasi informal atau situasi tidak resmi, biasanga disebut dengan istilah ragam non baku atau nonstandar. Dalam ragam bahasa non baku ini kaidah-kaidah tata bahasa biasanya tidak digunakan secara konsisten, seringkali dilanggar.

(7) Ragam bahasa yang digunakan secara lisan yang biasa disebut bahasa lisan. Lawannya, ragam bahasa yang digunakan secara tertulis, atau yang biasa disebut bahasa tulisan atau bahasa tertulis. Ragam bahasa lisan tidak sama dengan bahasa tulisan.

Bahasa lisan dalam realisasinya sering dibantu dengan mimik,

(35)

gerak-gerik anggota tubuh, dan intonasi ucapan. Sedangkan dalam bahasa tulisan, mimik, gerak-gerik anggota tubuh, dan intonasi tidak dapat diwujudkan. Karena itu, agar komunikasi dalam bahasa tulisan dapat mencapai sasarannya dengan baik, maka harus diupayakan menyusun struktur kalimat dan penggunaan tanda-tanda baca sedemikian rupa, agar pembaca dapat menangkap bahasa tulisan itu dengan baik dan benar. 17 Dari pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa bahasa sangatlah penting dari kenyataaan berbahasa, seseorang lebih banyak berkomunikasi secara lisan dibandingkan dengan cara lain. dan alangkah baiknya kita dapat menguasai ragam-ragam bahasa tersebut dengan baik, agar kita dapat berkomunikasi secara efektif sesuai dengan tempat dan situasi tempat ragam itu digunakan.

Diungkapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi bahwa dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa harus dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai tentang bahasa.18 Keterampilan berbahasa sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, karena bahasa dapat digunakan sebagai alat komunikasi didalam kehidupan sehari-hari.

3. Hakikat Kemampuan Berbicara

Berbicara adalah tingkah laku, karena dalam berbicara tersirat juga kepribadian pembicara.19 Berbicara adalah bagian dalam komunikasi lisan.20 Berbicara adalah keterampilan menyampaikan       

17 Chaer. Op. Cit. hlm. 3

18 Dadan Djuanda. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 54

19 Djago Tarigan. Op. Cit. hlm. 150

20 Djago Tarigan. Op. Cit. hlm. 138

(36)

pesan melalui bahasa lisan.21 Dengan kata lain berbicara merupakan tingkah laku seseorang untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain melalui alat ucapnya. Seseorang yang melakukan pembicaraan dapat dikatakan dia telah melakukan komunikasi lisan.

Dalam setiap kegiatan berbicara selalu terlibat faktor seperti:

(a). Pembicara (b). Pembicaraan (c). Penyimak (d). Media

(e). Sarana (penunjang), (d).Interaksi22

Gambaran pribadi seseorang dapat diidentifikasi dengan berbagai cara, kita dapat menduganya melalui gerak-geriknya, tingkah lakunya, kesenangannya, dan cara bicaranya. Adapun tujuan berbicara dapat dibedakan atas lima golongan, yakni untuk :

1. Menghibur

2. Menginformasikan 3. Menstimulasikan 4. Meyakinkan 5. Menggerakkan23

Sehubungan dengan itu, tujuan pengajaran berbicara adalah sebagai berikut :

a. Siswa mampu menggunakan alat bicara secara tepat dan sempurna, baik volume maupun warna suara.

b. Siswa terlatih menggunakan bahasa Indonesia secara aktif sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dalam kegiatan- kegiatan formal.

c. Mampu berbicara dengan mudah, lancar, dan fasih.

d. Siswa dapat berbicara menurut sopan santun yang berlaku.

      

21 Ibid. hlm. 138

22 Ibid. hlm. 138

23 Ibid. hlm. 139

(37)

e. Siswa dapat melafalkan kata dan mengucapkan kalimat dengan intonasi yang betul.

f. Siswa terbiasa mengeluarkan pendapat secara lisan dalam berbagai situasi.

g. Membantu pembentukan pendengaran yang kritis.24

Berbicara merupakan salah satu kegiatan dalam berkomunikasi, sehingga saling berkaitan satu sama lain. Adapun konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni :

1) Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal 2) Berbicara adalah proses individu berkomunikasi

3) Berbicara adalah ekspresi kreatif 4) Berbicara adalah tingkah laku

5) Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari 6) Berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman 7) Berbicara sarana memperluas cakrawala

8) Kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat 9) Berbicara adalah pancaran pribadi.25

Setiap orang memiliki cara berbicara yang berbeda-beda di mana terdapat keragaman bahasa pada setiap orang, Adapun ciri pembicara ideal adalah sebagai berikut:

a. Memilih topik yang tepat b. Menguasai materi

c. Memahami pendengar d. Memahami situasi

e. Merumuskan tujuan yang jelas f. Memahami kemampuam linguistik g. Menjalin kontak dengan pendengar h. Menguasai pendengar

i. Memanfaatkan alat bantu j. Meyakinkan dalam penampilan k. Mempunyai rencana26

      

24 M. Atar Semi. 1993. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Bandung : Angkasa. hlm. 99

25 Djago Tarigan. Op. Cit. hlm. 143

26 Djago Tarigan. Op. cit. hlm. 190

(38)

Salah satu keterampilan berbahasa diantaranya adalah kemampuan berbicara.27 Kemampuan berbicara dapat diuraikan ke dalam berbagai bentuk kegiatan yang bervariasi. Kemampuan berbicara diantaranya adalah bertanya, menjawab, bercerita, berdialog, berdiskusi, menyapa, melaporkan, menanggapi, berpidato, mendeskripsikan, mewawancarai, bermain peran.

B. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori di atas, maka peneliti dapat mengemukakan yang dimaksud dengan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang mengutamakan tujuan pengajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam pendekatan komunikatif ini terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, salah satunya adalah metode simulasi.

Metode simulasi merupakan metode yang pengajarannya menggunakan situasi tiruan agar siswa lebih memahami suatu konsep dalam mata pelajaran bahasa indonesia.

Melalui metode simulasi pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan, disini siswa belajar sekaligus bermain. Siswa yang awalnya kurang percaya diri, setelah dilakukan metode ini rasa percaya diri siswa bertambah. Salah satu metode yang paling efektif dalam pembelajaran bahasa indonesia adalah dengan metode simulasi, meskipun tidak semua pokok       

27 Muchlisoh. 1993. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependudukan. hlm. 31

(39)

bahasan menggunakan metode ini. Oleh karena itu, guru harus menyesuaikan antara pokok bahasan dan metode yang akan digunakan, agar pembelajaran di kelas lebih hidup, efektif, menarik dan menyenangkan, serta kemampuan berbicara siswa dapat berkembang dengan baik.

Berbicara merupakan kemampuan mengungkapkan sesuatu melalui bahasa lisan. Berbicara merupakan tingkah laku seseorang untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain melalui alat ucapnya. Gambaran pribadi seseorang dapat diidentifikasi dengan berbagai cara, kita dapat menduganya melalui gerak-geriknya, tingkah lakunya, kesenangannya, dan cara bicaranya.

Dengan menggunakan metode simulasi ini diharapkan kemampuan berbicara siswa akan bertambah. Misalnya dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mampu menggunakan kata-kata yang baku dalam setiap pembicaraan, serta dapat mengungkapkan bahasa tersebut dengan baik, sehingga apa yang ingin disampaikan dari pembicaraan tersebut dapat dimengerti oleh pendengar.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metode simulasi dapat menanbahkan rasa percaya diri siswa serta kemampuan berbicara siswa dapat meningkat dengan mengunakan bahasa yang baik dan benar. Peneliti berusaha dengan menggunakan metode simulasi ini dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa di kelas IV SDN Tanjung Sari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor.

(40)

C. Pengajuan Hipotesis

Hipotesis diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.28 Dalam hal ini peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut : H0 : Tidak terdapat pengaruh pendekatan komunikatif dengan menggunakan

metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa.

H1 : Terdapat pengaruh pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode simulasi terhadap kemampuan berbicara siswa.

 

      

28 Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta. hlm. 71

(41)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN Tanjung Sari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada semester II tahun ajaran 2010/2011 dikelas IV SDN Tanjung Sari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor.

B. Jenis Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode simulasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada kemampuan berbicara siswa.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.1 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Tanjung Sari 02 Leuwiliang Kabupaten Bogor. Jadi populasi adalah semua benda yang tinggal secara bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi kesimpulan menjadi akhir dari suatu penelitian.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.2 Sampel yang digunakan adalah sampel random sampling dimana siswa yang diambil

      

1 Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta. hlm. 131

2 Ibid. hlm. 131

(42)

sebagian dari jumlah populasi yang dijadikan sebagai objek penelitian tahun ajaran 2010/2011.

Menurut Surakhmad di dalam buku Riduan berpendapat “apabila ukuran populasi sebanyak kurang dari 100, maka pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari ukuran populasi”.3

Populasi yang ada yaitu:

Jumlah siswa kelas IV di SDN Tanjung Sari 02 adalah:

kelas IVa = 46 siswa kelas IVb = 44 siswa

Jadi sampel yang akan digunakan adalah 30 siswa dari kelas IVa dan 30 siswa dari kelas IVb.

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional merupakan deskripsi tentang variabel yang diteliti. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode simulasi, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan berbicara siswa.

Pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode simulasi merupakan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, siswa belajar denga melakukan suatu dialog secara berkelompok.

      

3 Riduan. 2009. Belajar Mudah Penelitian. Bandung : Alfabeta. hlm. 65

(43)

Kemampuan berbicara pada pembelajaran bahasa Indonesia dalam penelitian ini berupa tes kekompakan siswa saat melakukan pembelajaran, sebelum dan sesudah diberikan pendekatan komunikatif dengan metode simulasi.

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian Berbicara

Untuk menentukan tingkat kemampuan berbicara digunakan alat- alat penilaian yang terdiri dari komponen-komponen tekanan, tata bahasa, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. penilaian tiap komponen tersebut disusun secara berkala: 1 sampai dengan 6, skor 1 berarti sangat kurang, sedang skor 6 berarti sangat baik. Adapun deskripsi kefasihan (proficiency description) untuk masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.

Tekanan

1. Ucapan sering tak dapat dipahami.

2. Sering terjadi kesalahan besar dan aksen kuat yang menyulitkan pemahaman, menghendaki untuk selalu diulang.

3. Pengaruh ucapan asing (daerah) yang memaksa orang mendengarkan dengan teliti, salah ucap yang menyebabkan kesalahpahaman.

4. Pengaruh ucapan asing (daerah) dan kesalahan ucapan tidak menyebabkan kesalahpahaman.

5. Tidak terjadi salah ucapan yang mencolok, mendekati ucapan standar.

6. Ucapan sudah standar (asing: sudah seperti penutur asli).

(44)

Tata Bahasa

1. Penggunaan tata bahasa hampir selalu tidak tepat

2. Adanya kesalahan dalam penggunaan pola-pola pokok secara tetap yang selalu mengganggu komunikasi.

3. Sering terjadi kesalahan dalam pola tertentu karena kurang cermat yang dapat mengganggu komunikasi.

4. Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam penggunaan pola tertentu, tetapi tidak mengganggu komunikasi.

5. Sedikit terjadi kesalahan, tetapi bukan pada penggunaan pola.

6. Tidak lebih dari dua kesalahan selama berlangsungnya kegiatan percakapan.

Kosa Kata

1. Penggunaan kosa kata tidak tepat dalam percakapan yang paling sederhana sekalipun.

2. Penguasaan kosa kata sangat terbatas pada keperluan dasar personal (waktu, makanan, transportasi, keluarga).

3. Pemilihan kosa kata sering tak tepat dan keterbatasan penguasaannya menghambat kelancaran komunikasi dalam masalah sosial dan profesional.

4. Penggunaan kosa kata teknis tepat dalam pembicaraan tentang masalah tertentu, tetapi penggunaan kosa kata umum bersifat berlebihan.

5. Penggunaan kosa kata teknis lebih luas dan cermat, kosa kata pun tepat sesuai dengan situasi sosial.

(45)

6. Penggunaan kosa kata teknis dan umum luas dan tepat sekali (asing:

seperti penutur asli yang terpelajar).

Kelancaran

1. Pembicaraan selalu terhenti dan terputus-putus sehingga pembicaraan menjadi macet.

2. Pembicaraan sangat lambat dan tak ajek kecuali untuk kalimat-kalimat pendek dan telah rutin.

3. Pembicaraan sering tampak ragu, kalimat tidak lengkap.

4. Penbicaraan kadang-kadang masih ragu, pengelompokkan kata kadang- kadang juga tak tepat.

5. Pembicaraan lancar dan halus, tetapi sekali-kali masih kurang ajek.

6. Pembicaraan dalam segala hal lancar dan halus (asing : seperti penutur asli yang terpelajar).

Pemahaman

1. Memahami sedikit isi percakapan yang paling sederhana.

2. Memahami dengan lambat percakapan sederhana, perlu penjelasan dan pengulangan.

3. Memahami dengan baik percakapan sederhana, dalam hal tertentu masih perlu penjelasan dan pengulangan.

4. Memahami agak baik percakapan normal, kadang-kadang pengulangan dan penjelasan.

5. Memahami segala sesuatu dalam percakapan normal, kecuali yang bersifat koloqial.

(46)

6. Memahami segala sesuatu dalam pembicaraan formal dan koloqial (asing : seperti penutur asli yang terpelajar).

a. Penyekoran dan Penafsiran Hasil Berbicara

Pemberian skor kepada masing-masing peserta dilakukan dengan mempergunakan tabel pembobotan (weighting table) seperti yang ditunjukkan dibawah ini. Angka-angka dalam tabel yang dimaksud hendaknya dilihat secara horisontal. Angka 1 sampai dengan 6 pada larik paling atas adalah skala tingkatan kemampuan atau deskripsi kefasihan seperti yang dikemukakan di atas.

Tabel 3.1

Pembobotan Penilaian Berbicara Deskripsi

Kefasihan 1 2 3 4 5 6

Tekanan 0 1 2 2 3 4 ...

Tata bahasa 6 12 18 24 30 36 ...

Kosa kata 4 8 12 16 20 24 ...

Kelancaran 2 4 6 8 10 12 ...

Pemahaman 4 8 12 15 19 23 ...

Jumlah ...

Penafsiran terhadap jumlah skor di atas dilakukan dengan mempergunakan (mencocokkan) tabel konversi sebagai berikut.

(47)

Tabel 3.2

Tabel Konversi Tingkat Kefasihan

Jumlah Skor Tingkat Kefasihan 16 – 25

26 - 32 33 - 42 43 - 52 53 - 62 63 - 72 73 - 82 83 - 92 93 – 99

0+*) 1 1+

2 2+

3 3+

4 4+

Tanda + (ples) menunjuk pada posisi (tingkatan) pertengahan di antara dua tingkatan, misalnya posisi antara 0 dan 1, antara 1 dan 2, dan seterusnya4.

F. Teknik Analisis Data 1. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Untuk mengetahui apakah hasil kemampuan berbicara siswa yang menggunakan pendekatan komunikatif dan pendekatan ekspositori berdistribusi normal atau tidak, dilakukan perhitungan uji normalitas dengan menggunakan uji lilliefors.

1) Hipotesis yang diajukan adalah:

: Data berasal dari populasi berdistribusi normal : Data berasal dari populasi berdistribusi tidak normal

      

4 Burhan Nurgiantoro. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.

Yogyakarta: BPFE. hlm. 283

(48)

2) Menentukan harga Lo (Lhitung)

a) Hitung rata-rata nilai skor sempel b) Hitung standar deviasi nilai skor sempel

c) Urutkan data sempel dari terkecil sampai terbesar , ,… untuk dijadikan bilangan baku , ,… dengan

menggunakan rumus : = s

x

ix

d) Keterangan:

: Bilangan baku : Rata-rata

S : Simpangan baku : Data ke - i

e) Tentukan besar peluang masing-masing nilai Z berdasarkan tabel Z (luas lengkungan dibawah kurva normal standar dari 0 ke z, dan disebut dengan F( ).

f) Hitung frekuensi kumulatif atas dari masing-masing nilai z, dan disebut dengan S ( ) kemudian dibagi dengan jumlah sempel (n).

g) Hitung selisih F ( )- S ( ) dan kemudian tentukan harga mutlaknya. Ambil harga yang paling besar dari nilai itu dinyatakan sebagai kemudian dibandingkan dengan Ltabel

(49)

Kriteria pengujian

Terima jika < Ltabel, maka data berdistribusi normal Tolak jika ≥ Ltabel, maka data tidak berdistribusi normal

b. Uji Homogenitas

Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji kesamaan variansi (uji F)

F =

kecil Varianster

besar Varianster

Langkah-langkah perhitungan adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis : = : ≠ Keterangan:

σ

12 : Variansi kelas eksperimen

σ

22 : Variansi kelas kontrol : Data homogen

: Data tidak homogen

2) Menentukan nilai Fhitung dengan rumus fisher, dengan mengetahui terlebih dahulu variansi kedua kelompok penelitian tersebut.

3) Mencari Ftabel

Untuk dk pembilang = dk penyebut dan α = 0, 05 maka dapat dilihat pada tabel F.

(50)

2. Analisis Data

Setelah dilakukan uji prasyarat, maka tahap berikutnya adalah tahap analisis data untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pendekatan komunikatif terhadap kemampuan berbicara siswa bahasa Indonesia. Rumus yang digunakan adalah :

t =

n s n s

x x

2 2 2 1 2 1

2 1

+

Kriteria pengujian:

Terima H0 jika thitung ≤ ttabel

Tolak H1 jika thitung ≥ ttabel

Mencari interpolasi pada tabel t

C = C0

( )

( B c

11

c B

oo

)

(B – B0)

B = nilai dk yang dicari

B0 = nilai dk pada awal nilai yang sudah ada B1 = nilai dk pada akhir nilai yang sudah ada C = nilai ttabel yang dicari

C0 = nilai ttabel pada awal nilai yang sudah ada C1 = nilai ttabel pada akhir nilai yang sudah ada  

     

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Berdasarkan hasil analisis melalui perhitungan dari rumus uji-t dari kelas kontrol dan kels eksperimen adalah sebagai berikut:

Untuk data kemampuan berbicara siswa kelas IVb SDN Tanjungsari 02, pada pokok bahasan bertelepon dengan metode konvensional, diperoleh nilai tertinggi 91 dan terendah 50 dengan rata-rata 67,93 dan standar deviasi 116,34.(lampiran 8 hlm 70-74)

Untuk lebih jelasnya data disajikan dalam bentuk distribusi berkelompok sebagai berikut :

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas Kontrol (X)

Frekuensi KelasInterval

(Nilai)

NilaiTengah

(Xi) Batas Nyata

Absolut Kumulatif Relatif

50-56 53 49,5-56,5 3 3 10%

57-63 60 56,5-63,5 9 12 30%

64-70 67 63,5-70,5 7 19 23,3%

71-77 74 70,5-77,5 5 24 16,6%

78-84 81 77,5-84,5 4 28 13,3%

85-91 88 84,5-91,5 2 30 6,6%

Jumlah 30 100%

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA Siswa Kelas Kontrol Rentangan ( R ) = Data tertinggi – Data terendah

=91 – 50

= 41

Banyak kelas ( K ) = 1 + 3,3. Log n

(52)

= 1 + 3,3 log ( 30 )

= 1 + 3,3 ( 1,477 )

= 1 + 4,777

= 5,777 dibulatkan menjadi = 6 Panjang kelas interval ( P ) =

=

6

41 = 6,833 dibulatkan menjadi 7

Berdasarkan tabel distribusi di atas, maka grafik histogram dan poligon dapat dibuat sebagai berikut :

Gambar 4.1

Grafik Histogram dan Poligon Kemampuan Berbicara Kelas IV SDN Tanjungsari 02

(53)

Hasil yang didapat dari kemampuan berbicara siswa kelas IVa SDN Tanjungsari 02 pada pokok bahasan bertelepon dengan pendekatan komunikatif diperoleh nilai tertinggi 96 dan terendah 55 dengan rata-rata 78,3 dan standar deviasi 143,56.(lampiran 9 hal 76-80)

Untuk lebih jelasnya data disajikan dalam bentuk distribusi berkelompok sebagai berikut :

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas Eksperimen (Y)

Frekuensi KelasInterval

(Nilai)

NilaiTengah

(Xi) Batas Nyata

Absolut Kumulatif Relatif

55-61 58 54,5-61,5 4 4 13,33%

62-68 65 61,5-68,5 3 70 10%

69-75 72 68,5-75,5 6 13 20%

76-82 79 75,5-82,5 4 17 13,33%

83-89 86 82,5-89,5 5 22 16,6%

90-96 93 89,5-96,5 8 30 26,6%

Jumlah 30 100%

Distribusi Frekuensi Kemampuan berbicara Siswa Kelas Eksperimen Rentangan ( R ) = Data tertinggi – Data terendah

= 96 – 55

= 41

Banyak kelas ( K ) = 1 + 3,3. Log n

= 1 + 3,3 log ( 30 )

= 1 + 3,3 ( 1,477 )

= 1 + 4,777

= 5,777 dibulatkan menjadi = 6 Panjang kelas interval ( P ) =

=

6

41 = 6,833 dibulatkan menjadi 7

(54)

Berdasarkan tabel distribusi di atas, maka grafik histogram dan poligon dapat dibuat sebagai berikut :

Gambar 4.2

Grafik Histogram dan Poligon Kemampuan Berbicara Kelas IV SDN Tanjungsari 02

(55)

Tabel 4.3

Nilai Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas IV SDN Tanjungsari 02

No Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

1 50 55

2 50 57

3 55 60

4 57 61

5 59 63

6 59 66

7 60 67

8 61 70

9 61 71

10 61 73

11 62 73

12 62 75

13 64 75

14 64 76

15 64 79

16 69 80

17 70 81

18 70 83

19 70 83

20 71 86

21 74 89

22 75 89

23 76 90

24 76 90

25 80 91

26 80 92

27 83 93

28 84 93

29 91 94

30 91 96

(56)

B. Pengujian Persyaratan Analisis

Sebelum melaksanakan pengukian hipotesis dilakukan uji persyaratan analisis, pengujian ini meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dihitung dengan menggunakan Liliefors, dari data hasil kemampuan kemampuan berbicara siswa untuk kelas kontrol diperoleh data Lhitung = 0,1517, Ltabel untuk n = 30 dengan taraf signifikan 0,05 adalah 0,161. Lhitung < Ltabel, (Lampiran 8 hlm 75), sedangkan untuk kelas eksperimen diperoleh nilai Lhitung = 0,1375, Ltabel untuk n = 30 dengan taraf signifikan 0,05 adalah 0,161. Lhitung < Ltabel, (Lampiran 9 hlm 81), sehingga dapat disimpulkan bahwa data kemampuan berbicara siswa untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen berdistribusi normal.

Tabel 4.4

Hasil Perhitungan Uji Normalitas

Sampel = 60 Lhitung Ltabel

Pendekatan Konvensinal (X) 0,1517 0,161 Pendekatan Komunikatif (Y) 0,1375 0,161

2. Uji Homogenitas

Uji Homogenitas atau uji kesamaan dua varian populasi dari dua kelompok dilakukan dengan uji Fisher. Dari hasil pengujian diperolah Fhitung 1,23 dan Ftabel 1,85 pada taraf signifikan 0,05 dengan dk pembilang = 29 dan dk penyebut = 29. karena Fhitung < Ftabel

(lampiran 10 hlm 82) maka dapat disimpulkan bahwa varian kedua kelompok tersebut homogen.

(57)

Tabel 4.5

Hasil Perhitungan Uji Homogenitas

Fhitung Ftabel

1,23 1,85

C. Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang diuji adalah : Ho :

μ

1

μ

2

H1 :

μ

1

μ

2

Keterangan :

Ho : Tidak terdapat pengaruh pendekatan komunikatif terhadap kemampuan berbicara bahasa Indonesia kelas IV.

H1 : Terdapat pengaruh pendekatan komunikatif terhadap kemampuan berbicara bahasa Indonesia kelas IV.

Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, maka dilakukan perhitungan dengan uji-t. Dari hasil perhitungan diperoleh thitung = 3,52 sedangkan ttabel = 2,0399 pada taraf signifikan α = 0,05 dengan derajat kebebasan = 58.(lampiran 11 hal 84-85)

Berarti thitung > ttabel yang menyatakan H0 ditolak dan H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen terhadap kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan pendekatan komunikatif siswa SDN Tanjungsari 02.

(58)

Tabel 4.6

Hasil Perhitungan Uji-t

N A thitung ttabel

60 0,05 3,52 2,0399

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil pengujian hipotesis dengan uji-t diketahui bahwa H1

diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara siswa yang diajar dengan menggunakan metode konvensional di kelas kontrol dan kemampuan berbicara siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan komunikatif di kelas eksperimen. Hasil pengujian sekaligus membuktikan bahwa ada pengaruh kemampuan berbicara siswa terjadi karena perbedaan perlakuan yang diberikan kepada setiap kelompok siswa.

Gambar

Tabel Pembobotan Penilaian Berbicara  Deskripsi  Kefasihan        1          2          3          4          5          6  Tekanan          0          1          2          2          3          4           .......

Referensi

Dokumen terkait

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut LKPP adalah lembaga Pemerintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan

Jaringan komunikasi merupakan penggambaran “who say to whom” (siapa berbicara kepada siapa) dalam suatu sistem sosial, menggambarkan komunikasi interpersonal, dimana

Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta... Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama

Akuntan yang menjalankan fungsi pemeriksaan secara bebas (indepeden) terhadap laporan keuangan perusahaan dan organisasi lain, dan hasil laporan keuangan dinyatakan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris hubungan antara persepsi mengenai konflik orang tua (conflict properties, self-blame, and threat) dengan

Menanamkan kepercayaan pada merek dan memberikan pelayanan yang memuaskan merupakan hal yang harus dilakukan oleh Carrefour sehingga para pelanggan bisa loyal, ketika

A-1 adalah fase baseline 1 yang dilakukan selama 4 sesi dan berfungsi untuk mengetahui kondisi subjek sebelum diberikan intervensi, B adalah intervensi yaitu

lGmpar tersebut, lalu para terdakwa mendekati pohon karet sambil mengamati situasi disekitar kebun telah aman, para terdakwa secara bersama-sama mengambil getah karet yang