BIBLIO COUNS
Jurnal Kajian Konseling dan Pendidikan
ISSN 2620-3103 (online) DOI: https://doi.org/10.30596/bibliocouns.v4i2.6057 Received January 2021; Revised Juni 2021; Accepted August 2021
92
Optimizing School Engagement for Students Through Group Counseling Services during a Pandemic: A Literature Review
Ainun Nadhirah1*, Intan Wijaya Kusumawati2, Abdul Muhid1.
1Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia.
2SMA Negeri 1 Pamekasan, Indonesia.
*Correspondence: [email protected]
Abstract
The covid-19 pandemic has an impact on all areas of life including education. The establishment of a distance learning system presents new challenges for schools, teachers, parents, and students at both junior and senior high school levels. This condition becomes a threat if students are unable to adjust to be involved and play an active role in the learning process. Active engagement is a personal asset for students to help adaptively overcome various challenges and academic demands in school. The provision of group counseling services is one of the efforts that can be made by the school to improve student school engagement. The purpose of this study was to find out the form of group counseling services in improving student school engagement during the pandemic. This research uses literature review method with data collection technique that collects articles and books from several bases of journal articles online. The results showed that increased school engagement of students in learning in schools can be done through the provision of group counseling services using the appropriate approach.
Keyword : Group Counseling Services; School Engagement; Covid-19.
Abstrak
Pandemi covid-19 membawa dampak pada seluruh bidang kehidupan termasuk pendidikan. Dengan ditetapkannya sistem pembelajaran jarak jauh memberikan tantangan baru bagi pihak sekolah, guru, orang tua, maupun siswa baik pada jenjang Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Kondisi ini menjadi ancaman apabila siswa tidak dapat menyesuaikan diri untuk terlibat dan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Keterlibatan yang aktif merupakan aset pribadi bagi siswa untuk membantu secara adaptif dalam mengatasi beragam tantangan serta tuntutan akademik di sekolah. Pemberian layanan konseling kelompok adalah satu upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah untuk meningkatkan school engagement siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk layanan konseling kelompok dalam peningkatan school engagement siswa pada masa pandemi. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan teknik pengumpulan data yakni mengumpulkan artikel dan buku dari beberapa pangkalan artikel jurnal secara online. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan school engagement siswa dalam pembelajaran di sekolah dapat dilakukan melalui pemberian layanan konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan yang sesuai.
Kata Kunci : Layanan Konseling Kelompok; School Engagement; Covid-19.
How To Cite : Nadhirah, A., Kusumawati, I. W., & Muhid, A. (2021). Optimizing School Engagement for Students Through Group Counseling Services during a Pandemic: A Literature Review. Biblio Couns: Jurnal Kajian Konseling dan Pendidikan, 4(2), 92-99.
This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.© 2021 by author
93 PENDAHULUAN
Pemerintah menetapkan kebijakan sekolah dari rumah bagi siswa baik jenjang SD, SMP, dan SMA sederajad serta Perguruan Tinggi di seluruh wilayah khususnya yang ditetapkan sebagai zona merah. Dimulainya tahun ajaran baru pada Juli 2020 di tengah pandemi yang masih terus meluas membuat sebagian pihak sekolah menetapkan blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran daring dan luring. Kondisi ini mengharuskan pihak sekolah, guru, dan siswa melakukan adaptasi dengan proses belajar mengajar agar kompetensi akademik tetap tercapai. Bagi siswa peralihan dari SD menuju SMP atau SMP menuju SMA yang baru saja memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi, tentu kondisi ini memberikan tantangan ganda selain harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru mereka juga dituntut untuk bisa menerima sistem pembelajaran yang berbeda karena adanya pandemi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Safena Ningsih dkk (2020) ditemukan bahwa siswa laki-laki dan perempuan memiliki gejala stres belajar daring selama masa pandemi covid-19. Gejala stres yang ditunjuukkan oleh siswa laki-laki sebesar 79,49% dan 84,62% pada siswa perempuan. Dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk berperan aktif dan terlibat dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan demi tercapainya kompetensi akademik. Keterlibatan ini merupakan bentuk perilaku engagement. School engagement berhubungan dengan keadaan psikologis siswa yang dibentuk secara positif dan dipertahankan untuk mendukung interaksi siswa dengan kegiatan pembelajaran (Skinner &
Pitzer, 2012). Fredricks dkk (2004) menyebutkan bahwa school engagement dapat dibagi menjadi tiga komponen yakni behavioral, emotional, dan cognitive. Keterlibatan perilaku (behavioral engagement) mengacu pada perilaku siswa dalam pembelajaran dan tidak adanya perilaku buruk. Oleh sebab itu indikator dari keterlibatan ini sebagian besar berupa perilaku yang dapat diamati seperti peran aktif siswa di kelas (Wang et al., 2018). Namun berbeda dengan indikator keterlibatan emosional (emotional engagement) yang cenderung tidak dapat diamati. Begitu juga dengan keterlibatan kognitif (cognitive engagement) yang mencakup dorongan internal yang tidak dapat diukur yakni seperti kamauan siswa dalam mengerahkan upayanya dalam pembelajaran (Wang et al., 2018). Oleh karenanya siswa diharapkan dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan pada lingkungan sekolah khususnya di masa pandemi yang nantinya dapat berpengaruh terhadap prestasi akademiknya. Namun untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya khusus dalam meningkatkan school engagement siswa.
Berkaitan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah, kegiatan belajar mengajar harus tetap berlangsung secara jarak jauh dengan dikendalikan oleh guru dan orang tua di rumah (Zaharah et al., 2020). Putri (2020) berpendapat bahwa peran guru BK dalam mengatasi beragam hambatan yang dialami peserta didik dan pengembangan life skill harus tetap berjalan. Beragam upaya dapat dilakukan pihak sekolah baik melalui guru pelajaran dan guru BK dalam memberikan edukasi untuk mengajak siswa agar mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, peran guru BK menjadi penting untuk mendampingi siswa khususnya siswa yang baru saja memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Layanan konseling kelompok merupakan salah satu konsep layanan bimbingan dan konseling sekolah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan school engagement siswa kelas X terutama siswa yang memiliki school engagement yang rendah. Gibson dan Mitchell (2011) mendefinisikan konseling kelompok sebagai aktivitas yang mengacu pada kegiatan kelompok untuk memperoleh informasi berdasarkan pengalaman melalui aktivitas kelompok yang terencana dan terorganisir. Afriani dkk (2020) menjelaskan bahwa konseling kelompok adalah bentuk kegiatan informasi dalam rangka membantu sekelompok siswa untuk menemukan rencana dan keputusan yang tepat atas permasalahan yang dihadapi. Konseling kelompok dilakukan dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang tumbuh (Prayitno dalam Afriani dkk., 2020). Siswa dapat terdorong untuk mengembangkan sifat positif, pikiran, dan perasaan yang mengarah pada perilaku efektif melalui layanan konseling kelompok, yaitu peningkatan kemampuan dengan terciptanya keterikatan penuh pada sekolah (Gibson & Mitchell, 2011).
94
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan cara yang tepat dan efektif untuk meningkatkan school engagement siswa di sekolah khususnya pada masa pandemi yakni melalui pemberian layanan konseling kelompok.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka (literature review). Kajian pustaka dilakukan dengan menghimpun artikel-artikel terkait pertanyaan penelitian dari tahun 2010 sampai tahun 2020. Sebagian besar artikel diperoleh dari jurnal bimbingan dan konseling, psikologi, dan pendidikan baik jurnal nasional maupun internasional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan artikel dan buku terkait melalui pencarian di pangkalan artikel jurnal seperti GARUDA, ScienceDirect, Google Schoolar, dan Directory of Open Access Journal (DOAJ) dengan kata kunci “konseling kelompok/group counseling” dan “school engagement”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Layanan Konseling Kelompok di Sekolah pada Masa Pandemi Covid-19.
Konseling kelompok adalah bentuk teknik bimbingan yang dilakukan dengan memanfaatkan suasana kelompok sebagai treatment namun tetap berfokus pada konseli secara individual (Natawijaya, 2009). Ciri dari layanan konseling kelompok adalah menghidupkan dinamika dalam kelompok dalam mengentaskan permasalahan individu yang menjadi peserta layanan. Konseling kelompok memberikan kemudahan bagi individu dengan adanya motivasi dan dorongan yang diperoleh untuk mengoptimalkan potensi guna mencapai aktualisasi diri. Selain itu bentuk interaksi antara konseli bersifat dinamis, intens dan konstruktif di bawah bimbingan konselor (Siregar, 2018). Dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah bentuk intervensi yang dilakukan dalam setting kelompok dengan mengedepankan dinamika hubungan antar anggota kelompok untuk membantu memecahkan permasalahan individual. Corey (2013), menyebutkan tujuan dari pemberian layanan konseling kelompok yang meliputi (1) pencapaian perkembangan perilaku positif dan keterampilan interpersonal yang efektif pada siswa; (2) memodifikasi perilaku siswa khususnya dalam hal ini adalah school engagement melalui proses pemberdayaan kelompok;
(3) membantu siswa menemukan perilaku baru yang aplikatif.
Pembelajaran blended learning atau paduan antara pembelajaran daring dan luring selama masa pandemi menjadi pilihan di berbagai sekolah terutama SMA dengan tetap mematuhi protokol kesehatan untuk kegiatan tatap muka. Pemberian layanan konseling kelompok juga tetap dapat dilakukan secara langsung/tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Penelitian yang dilakukan oleh Dianasari dan Wijayanti (2020) menerapkan konseling kelompok pada masa pandemi dengan pemanfaatan media berupa video untuk memaparkan strategi self-management kepada para siswa sebelum kemudian dilakukan proses konseling kelompok dengan menetapkan tujuan konseling terlebih dahulu.
Aklima dkk (2020) juga melakukan penelitian yang serupa dengan menerapkan pemberian layanan bimbingan kelompok untuk mengurangi prokrastinasi akademik siswa pada masa pandemi covid-19. Layanan bimbingan kelompok yang diberikan melalui dua siklus ini mampu secara efektif menurunkan perilaku prokrastinasi akademik karena siswa bisa memanfaatkan dinamika kelompok yang dibangun dalam layanan tersebut.
Konseling kelompok mampu menjadi layanan kuratif yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan siswa (Natawijaya, 2009) khususnya selama pembelajaran di masa pandemi covid-19. Penelitian lain yang dilakukan sebagai bentuk adaptasi pelaksanaan layanan BK di masa pandemi adalah penelitian yang dilakukan oleh Edmawati (2020) dengan memanfaatkan media video conference yang dapat diakses guru BK dan siswa dalam melaksanakan konseling kelompok CBT untuk meningkatkan psychological well-being siswa.
Edmawati (2020) juga berpendapat bahwa sebagai penyelenggara layanan konseling,
95
seorang konselor harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dalam memberikan layanan pada siswa di era revolusi 4.0 yakni dengan memberikan layanan BK berbasis IT. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan guru BK dalam menggunakan teknologi terkini menjadi kunci guna memberikan layanan BK yang optimal di masa pandemi covid-19.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nadeak dan Juwita (2020) ditemukan bahwa sebagian besar pemanfaatan aplikasi yang dapat digunakan untuk menunjang pemberlajaran daring antara lain adalah google classroom, Zoom, dan WhatsApp serta hanya sebagian kecil respondennya menggunakan aplikasi lainnya. Satriah dkk (dalam Putri, 2020) menyebutkan bahwa pemberian layanan konseling daring membutuhkan sejumlah media dan fasilitas tertentu serta penguasaan teknologi yang harus dimiliki. Koutsonika (dalam Putri, 2020) juga menyebutkan bahwa dalam mewujudkan layanan konseling daring diperlukan konselor yang mahir dalam berkomunikasi melalui internet.
School Engagement Siswa di Masa Pandemi Covid-19
Keterlibatan siswa di sekolah atau yang biasa dikenal sebagai school engagement dapat diidentifikasi melalui tiga aspek engagement yakni: (1) behavioral engagement atau bentuk keterlibatan siswa dalam memenuhi kegiatan akademik, sosial, dan ekstrakulikuler, (2) emotional engagement atau sikap terhadap komponen sekolah (guru, teman, dan kegiatan akademik), dan (3) cognitive engagement atau bentuk perhatian serta kesediaan siswa untuk memperoleh pelajaran (Fredricks et al., 2004). Arlinkasari dan Akmal (2017) berpendapat bahwa school engagement merupakan bentuk sikap positif yang digambarkan melalui adanya keterikatan siswa dengan kegiatan akademik, dimana siswa yang memiliki school engagement yang baik akan termotivasi dan memiliki self-regulated learning yang baik pula.
Penelitian yang dilakukan oleh Verhoeven dkk (2021) menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat school engagement yang tinggi adalah mereka yang memiliki pemahaman berkelanjutan mengenai tujuan pembelajarannya di sekolah meliputi hal apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi pelajar yang baik serta pentingnya terlibat dalam kegiatan sekolah juga dalam konteks rumah dan teman sebaya. School engagement siswa salah satunya dipengaruhi oleh school climate yang mencakup rasa aman, hubungan antar siswa dan guru, suasana belajar, serta sarana yang memadai (Laudya & Savitri, 2020).
Febrilia dkk (2020) mengemukakan dalam penelitiannya ditemukan bahwa pembelajaran daring yang dilakukan di masa pandemi menjadikan peserta didik sangat responsif terhadap notifikasi, mereka menjadi semangat dan memiliki motivasi serta ketertarikan terhadap proses pembelajaran. Hal ini berbeda dengan temuan Ningsih (2020) dalam penelitiannya, ia menyebutkan bahwa terdapat dampak negatif dari adanya pembelajaran daring yakni karena keterbatasan kuota internet yang harus digunakan terus- menerus, kurang optimalnya pembelajaran yang ditandai dengan rendahnya pemahaman materi dan interaksi yang terbatas. Pembelajaran yang dilakukan pada masa pandemi covid- 19 memberikan tugas tambahan bagi guru maupun orang tua di rumah. Verhoeven dkk (2021) menyebutkan bahwa guru berperan dalam meningkatkan school engagement siswa dengan membangun pola hubungan berkesinambungan yang konstruktif untuk siswa antara rumah dan sekolah melalui pemberian penghargaan atas upaya-upaya yang dilakukan dibandingkan dengan pencapaiannya. Artinya, selama pembelajaran di masa pandemi baik guru maupun orang tua di rumah perlu memberikan apresiasi atas setiap usaha yang dilakukan siswa sebagai bentuk partisipasinya pada kegiatan sekolah terlebih jika siswa mampu mencapai prestasi akademik yang baik. Semakin baik sikap, perilaku, dan kognitif yang ditunjukkan siswa atas tuntutan akademik dapat mengurangi potensi siswa mengalami academic burnout, begitu juga sebaliknya (Arlinkasari & Akmal, 2017). Satyaninrum (2019) mengungkapkan bahwa school engagement berkontribusi positif terhadap resiliensi akademik remaja dimana behavioral engagement menjadi aspek yang paling besar pengaruhnya dibandingkan aspek emotional engagement dan cognitive engagement.
96
Peningkatan School Engagement Siswa Kelas X Melalui Layanan Konseling Kelompok
Beragam penelitian terdahulu telah dilakukan mengenai pemberian layanan konseling kelompok untuk meningkatkan school engagement pada siswa di sekolah. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Saputra dkk (2017) yang menyatakan bahwa siswa yang telah memperoleh layanan bimbingan kelompok mengalami peningkatan school engagement melalui pengukuran yang dilakukan sebelum dan sesudah pemberian layanan konseling. Dengan kata lain, layanan bimbingan kelompok efektif dalam mengingkatkan school engagement siswa yang ditandai dengan meningkatnya seluruh indikator school engagement yang meliputi; behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement.
Sumantri dkk (2018) juga melakukan penelitian yang serupa tentang pemberian layanan konseling kelompok untuk meningkatkan school engagement pada siswa kelas VII.
Konseling kelompok dipilih atas pertimbangan usia remaja siswa yang pada umumnya ditandai dengan bergesernya peran orang tua dengan peran kelompok atau teman sebaya yang dianggap lebih penting. Konseling kelompok dilaksanakan melalui beberapa sesi dan memiliki tujuan masing-masing. Tiap sesi menggunakan faktor terapeutik dalam konseling kelompok dan disesuaikan dengan dimensi school engagement. Komunikasi yang terbentuk akan memunculkan feedback dan insight yang nantinya dapat secara positif saling mempengaruhi antar anggota.
Penelitian serupa lainnya yang dilakukan dengan pemberian layanan konseling kelompok di sekolah dalam meningkatkan classroom engagement melalui strategi self- management adalah penelitian yang dilakukan oleh Dwistia dkk (2016). Penelitian ini mengemukakan bahwa konseling kelompok dengan teknik self-management efektif untuk meningkatkan classroom engagement siswa. Keberhasilan dari layanan dapat diketahui melalui peranan yang dilaksanakan oleh konselor selaku pemimpin kelompok dan anggota kelompok pada setiap tahapan proses konseling yang dilaksanakan sehingga anggota kelompok mampu menemukan solusi paling efektif dari permasalahan yang dialami.
Disamping itu, perlu untuk memahami hal apa yang menyebabkan rendahnya school engagement pada siswa. Fredricks dkk (2004) menyebutkan terdapat tiga faktor yang mempengaruhi school engagement, yaitu: school-level, classroom context, dan individual needs. Finn (dalam Bilge dkk., 2014) menemukan hubungan yang signifikan antara school engagement dan kesuksesan akademik artinya, semakin tinggi school engagement yang dimiliki siswa dapat berpengaruh positif pada kemampuannya dalam mengatasi tuntutan dan permasalahan akademik di sekolah. Melalui pemberian layanan konseling kelompok, siswa dapat saling memberikan pengalaman dan informasi mengenai beragam permasalahan akademik yang dihadapi. Afriani dkk (2020) berpendapat bahwa dengan pemberian layanan konseling kelompok, secara bersama-sama siswa dapat diajak untuk menyampaikan gagasannya mengenai sesuatu, topik penting, serta mengembangkan nilai dan langkah- langkah bersama untuk menangani permasalahannya. Penelitian yang dilakukan oleh Fredricks dkk (2004) menyebutkan bahwa dengan adanya sikap positif dan penerimaan dari teman sebaya memiliki korelasi dengan emotional engagement siswa yang juga dapat meningkatkan behavioral engagement (Insani & Savitri, 2020). Selain itu penelitian Insani dan Savitri (2020) juga menegaskan bahwa adanya peers support berupa dukungan emosional, instrumental, informasi, dan apparsial dapat meningkatkan school engagement siswa kelas X.
Folastri dan Itsar (dalam Afriani dkk., 2020) menyebutkan bahwa fasilitator/konselor bertugas memberikan petunjuk dan dukungan kepada anggota kelompok serta mengatur topik layanan.
Selain itu Folastri dan Rangka (dalam Arifyanto dkk., 2020) menjelaskan bahwa melalui pelaksanaan layanan konseling kelompok, siswa dapat memperbaiki dan mengembangkan pemahaman dirinya dan orang lain sedangkan terbentuknya perubahan sikap adalah tujuan yang didapat secara tidak langsung dari kegiatan konseling kelompok. Pengembangan model konseling kelompok ini sendiri beragam sesuai dengan pendekatan yang hendak diterapkan
97
dalam pemberian layanan dan guru BK dapat menyesuaikan penggunaan teknik yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa guru Bimbingan dan Konseling perlu menemukenali tingkat school engagement yang ada pada siswanya. Layanan konseling kelompok adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk bisa meningkatkan school engagement siswa dalam pembelajaran di sekolah.
Berdasarkan temuan ini peneliti menyarankan agar guru Bimbingan dan Konseling dapat mengupayakan peningkatan school engagement siswa melalui pemberian layanan konseling kelompok. Selain itu bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti layanan konseling kelompok dengan teknik tertentu juga dengan masalah, metode, dan subjek penelitian yang berbeda berkaitan dengan layanan bimbingan konseling di masa pandemi.
REFERENSI
Afriani, D., Folastri, S., & Syahputra, Y. (2020). Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok dalam Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di SMKN 59 Jakarta. Psychocentrum Review, 2(2), 98–106. https://doi.org/10.26539/pcr.22356
Aklima, Y., Supriyanto, A., & Antara, U. (2020). Upaya Mengurangi Prokrastinasi Akademik Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok (pada Masa Pandemi Covid-19 di SMA Negeri 1 Muara Batu). Prosiding Pendidikan Profesi Guru Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan, 919–927.
Arifyanto, A. T., Silondae, D. P., & Darma, M. A. A. (2020). Implementasi Layanan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Adversity Quotient Siswa Sekolah Menengah Pertama. Psychocentrum Review, 2(1), 37–47.
Arlinkasari, F., & Akmal, S. Z. (2017). Hubungan antara School Engagement, Academic Self- Efficacy dan Academic Burnout pada Mahasiswa. Humanitas (Jurnal Psikologi), 1(2), 81.
https://doi.org/10.28932/humanitas.v1i2.418
Bilge, F., Tuzgol Dost, M., & Cetin, B. (2014). Factors Affecting Burnout and School Engagement among High School Students: Study Habits, Self-Efficacy Beliefs, and Academic Success. Educational Sciences: Theory and Practice, 14(5), 1721–1727.
Corey, G. (2013). Theory and Practice of Group Counseling (Ninth). Cengage Learning.
Dianasari, A., & Wijayanti, K. F. (2020). Upaya Meningkatkan Mmotivasi Belajar di Masa Pandemi Covid-19 Melalui Konseling Kelompok dengan Strategi Self Management.
HELPER: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 37(1), 7–11.
Dwistia, H., Purwanto, E., & Sunawan. (2016). Keefektifan Konseling Kelompok Dengan Strategi Self Management Dalam Meningkatkan Classroom Engagement Siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 5(2), 113–118. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jubk
Edmawati, M. D. (2020). Strategi konseling kelompok dengan teknik CBT Berbasis daring untuk meningkatkan psychological well being siswa di tengah pandemi COVID-19.
Prosiding Seminar Bimbingan Dan Konseling, 99–106.
98
Febrilia, B. R. A., Nissa, I. C., Pujilestari, P., & Setyawati, D. U. (2020). Analisis Keterlibatan dan Respon Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring Menggunakan Google Clasroom di Masa Pandemi Covid-19. FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Matematika, 6(2), 175–184.
Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109.
Gibson, R. L., & Mitchell, M. H. (2011). Bimbingan dan Konseling. Pustaka Belajar.
Insani, D. R., & Savitri, J. (2020). Pengaruh Penghayatan Peers Support terhadap School Engagement Siswa Kelas X SMA “X” Bandung. PSYCHE: Jurnal Psikologi, 2(2), 15–27.
Laudya, D., & Savitri, J. (2020). Pengaruh School Climate terhadap School Engagement pada Siswa SMA “X” Kota Bandung. Humanitas, 4(3), 239–252.
Nadeak, B., & Juwita, C. P. (2020). Kepemimpinan kepala sekolah dalam menjaga tata kelola sekolah selama masa pandemi Covid-19. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 8(3), 207–
216.
Natawijaya, R. (2009). Konseling Kelompok; Konsep Dasar dan Pendekatan. Rizqi Press.
Ningsih, Safena, Yandri, H., Sasferi, N., & Juliawati, D. (2020). An Analysis of Junior High School Students’ Learning Stress Levels during the COVID-19 Outbreak: Review of Gender Differences. Psychocentrum Review, 2(2), 69–76.
Ningsih, Sulia. (2020). Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19. JINOTEP (Jurnal Inovasi Dan Teknologi Pembelajaran): Kajian Dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran, 7(2), 124–132.
Putri, V. D. (2020). Layanan Bimbingan dan Konseling Daring Selama Masa Pandemi Covid- 19. Coution: Journal of Counseling and Education, 1(2), 7–16.
Saputra, L. O. A. R., Suarni, W. O., & Aspin. (2017). Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok dalam Meningkatkan School Engagement Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kontunaga.
Jurnal BENING, 1(2), 51–61.
Satyaninrum, I. R. (2019). Pengaruh school engagement, locus of control, dan social support terhadap resiliensi akademik remaja. TAZKIYA Journal of Psychology, 2(1), 1–20.
Siregar, S. W. (2018). Konsep Dasar Konseling Kelompok. HIKMAH, 12(1), 78–97.
Skinner, E. A., & Pitzer, J. R. (2012). Developmental dynamics of student engagement, coping, and everyday resilience. In Handbook of research on student engagement (pp.
21–44). Springer.
Sumantri, Y. O., Farid, M. S., & Rosita, T. (2018). Layanan Konseling Kelompok untuk Meningkatkan School Engagement pada Siswa Kelas VII di SMP Negeri 1 Cisarua.
FOKUS, 1(3), 82–93. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jbk
Verhoeven, M., Zijlstra, B. J. H., & Volman, M. (2021). Understanding school engagement:
The role of contextual continuities and discontinuities in adolescents’ learner identities.
Learning, Culture and Social Interaction, 28(September 2020), 100460.
https://doi.org/10.1016/j.lcsi.2020.100460
99
Wang, M. Te, Kiuru, N., Degol, J. L., & Salmela-Aro, K. (2018). Friends, academic achievement, and school engagement during adolescence: A social network approach to peer influence and selection effects. Learning and Instruction, 58(June), 148–160.
https://doi.org/10.1016/j.learninstruc.2018.06.003
Zaharah, Z., Kirilova, G. I., & Windarti, A. (2020). Impact of corona virus outbreak towards teaching and learning activities in Indonesia. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar- I, 7(3), 269–282.