8 BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Pengertian komunikasi
Komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Penyampaian pikiran ini biasanya merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan lainnya yang timbul dari lubuk hati. (Onong, 2013:84). Dalam skripsi yang penulis ambil menggunakan komunikasi persuasif, karena yang dimaksud dengan persuasif berarti mempengaruhi dengan cara membujuk. Dalam hal ini khalayak digugah baik pikirannya maupun perasaannya. Situasi yang mudah tersugesti ditentukan oleh kecakapan untuk menyugesti atau menyarankan sesuatu kepada komunikan dan khalayak berada dalam situasi mudah untuk dipengaruhi. Dari skripsi yang penulis ambil tentang Beauty Vlog Tasya Farasya dengan melakukan wawancara kepada anak-anak Public Relations disitu mereka tertarik untuk selalu menonton dan jadi tersugesti dengan apa yang Tasya bicaran mengenai make up yang dipakai.
2.2. Teori sosiologi Komunikasi
Sosiologi secara etimologi berasal dari kata socius yang berarti masyarakat dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara sederhana sosiologi diartikan sebagai ilmu yang secara khusus mnempelajari kehidupan masyarakat. Dunia sosiologi, seperti yang di tunjukkan Comte, tampak energik dan dinamis. Hanya dalam waktu relatif singkat cabang ilmu sosial murni ini telah menyita perhatian ilmuwan. Seperti yang dicatat seorang pakar komunikasi dari Indonesia lewat Zeitungwesen di Jerman dan jurnalisti di Amerika, perlahan-lahan sosiologi komunikasi berkembang sebagai disiplin ilmu tersendiri.
Secara komprehensif sosiologi komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi tersebut sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat yang didorong oleh efek media berkembang serta efek sosial macam apa yang
9
ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang didorong oleh media masa itu (Bungin, 2006:31)
2.3. Teori Imitasi
Secara umum imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan gaya hidup, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain (Sasmita, 2011). Namun imitasi tidak terjadi secara langsung melainkan perlu adanya sikap menerima, dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu. Melalui imitasi, seseorang belajar nilai dan norma di masyarakat atau sebaliknya, baik anak maupun orang dewasa belajar banyak hal dari pengamatan dan imitasi tersebut. Pengamatan yang dilakukan individu menghasilkan suatu perilaku imitasi yang dilihat dari orang sekitarnya, sehingga timbulah tingkah laku untuk meniru.
2.3.1. Tahapan orang melakukan Imitasi
Menurut Tarde (Gerungan, 2010), sebelum orang mengimitasi suatu hal, terlebih dahulu haruslah terpenuhi beberapa syarat yaitu :
- Memiliki minat atau perhatian yang cukup besar akan hal tersebut. - Mengagumi hal yang akan diimitasi
- Ingin memperoleh penghargaan sosial seperti yang ditiru 2.3.2. Faktor dalam melakukan Imitasi
Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima terhadap apa yang diamati. Ada beberapa faktor sehingga seseorang mengadakan perilaku imitasi sebagai berikut:
- Faktor Psikologis
Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologi lain yang berperan salah satunya adalah aspek kognitif. Yaitu bagaimana manusia memikirkan sesuatu dan melakukan interpretasi terhadap berbagai pengalaman yang diperoleh. Disamping itu aspek ini juga menjelaskan bahwa perilaku yang baru dapat diciptakan dengan observasi atau melihat suatu model yang dilihatnya secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga seseorang melakukan suatu imitasi tersebut.
10 - Lingkungan Keluarga
Imitasi sudah berlangsung sejak individu masih kecil dan dimulai dari lingkungan keluarga. Bagi anak lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang paling berpengaruh, setelah itu sekolah kemudian masyarakat. Keluarga adalah lingkungan terkecil yang dibangun oleh orangtua bersama anggota keluarga lainnya. pembentukan sifat atau karakter anak berhubungan dengan sosialisasi atau suatu proses penanaman nilai dan aturan dari orang tua kepada anak.
- Media Massa
Imitasi akan terus berkembang ke lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Imitasi dalam masyarakat semakin cepat dengan berkembangnya media massa, seperti tayangan televisi ataupun youtube. Dalam era komunikasi dapat dilihat bahwa media massa sebagai faktor yang sangat berpengaruh lebih dari yang lain, karena dilihat terus menerus dan berulang-ulang.
2.4. New Media
Apa yang seringkali disebut sebagai “media baru” atau “new media”, yang lambat laun mulai dikenal pada tahun 80-an, sesungguhnya merupakan perangkat media elektronik yang berbeda dengan penggunaan yang berbeda pula (Dennis McQuail, 2005:16). Saat ini, saluran media dicirikan dengan banyaknya pilihan yang membingungkan- terdapat ratusan saluran televisi kabel dan program siaran sesuai permintaan yang dapat dijumpai setiap hari, belum lagi internet yang memiliki isi beraneka ragam tanpa batas. Selanjutnya dan mungkin yang lebih penting saat ini teknologi media baru memberi peluang bagi selera dan mengkreasi isi media seperti blog, halaman Facebook, portal¸ dan catatan harian video Youtube. (Berger dkk, 2015; 381). Ciri yang membedakan media baru dengan media lama ialah konsepnya yang desentralisasi (pengadaan dan pemilihan berita tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemasok komunikasi), komunikasi yang timbal balik, isi penggunaan yang fleksibel dan juga kemampuan dari media baru ini tergolong tinggi, karena pengantaran melalui kabel dan satelit mengatasi hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pemancar siaran lainnya. Secara umum, media baru tidak saja telah menjembatani perbedaan pada beberapa media, tetapi juga perbedaan antara batasan kegiatan komunikasi pribadi dengan batasan kegiatan komunikasi politik.
11 2.4.1 New Media Sebagai Culture Technology
Dalam bukunya A New Media, Terry Flew ingin memfokuskan pada pembedaan teknologi yang perlu dipahami melalui hubungannya dengan budaya. Konsep dari cultural technologies sebagai cara untuk mengerti teknologi tidaklah mudah sebagai bentuk material yang mempunyai dampak pada budaya, tetapi lebih kepada bentuk dari budaya itu sendiri Pendekatan semacam ini memerlukan tiga level definisi dari teknologi. Mengerti teknologi tidak semudah seperti objek fisik, alat-alat dan artefak tetapi juga dalam istilah dari isi yang diproduksi dan didistribusikan, sistem pengetahuan dan artinya secara sosial yang mengiringi pengunaannya serta perkembangannya.
2.4.2 Karakteristik New Media
New Media sangat berkaitan erat dengan basis teknologi. Oleh karena itu, new media sering dikait-kaitkan denganpengembangan teknologi yang sekarang sedang berkembang pesat. Vin Crosbie (2002) dalam karyanya What is new media? menjelaskan ada tiga media komunikasi. Pertama media interpersonal yang disebut one to one. Media ini memungkinkan seseorang saling komunikasi atau tukar informasi dengan seseorang lainnya. Kedua dikenal sebagai mass media. Media ini digunakan sebagai sarana menyebarluaskan informasi dari satu orang ke banyak orang (one to many). Media komunikasi terakhir disebut new media. Media ini merupakan percepatan sekaligus penyempurnaan dari dua.
2.4.3 YouTube
YouTube merupakan salah satu bentuk media sosial berbasis video yang mulai naik daun sejak bulan Mei 2005. Kehadiran Youtube membawa pengaruh luar biasa kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang memiliki gairah di bidang pembuatan video, mulai dari film pendek, dokumenter, hingga video blog, tetapi tidak memiliki lahan “untuk mempublikasikan karyanya”. Youtube mudah dipergunakan, tidak memerlukan biaya tinggi, dan dapat diakses dimanapun. Dilansir dari statistik dalam situsnya sendiri, Youtube memiliki lebih dari satu milyar pengguna yang merupakan hampir sepertiga semua pengguna internet. Hingga Maret 2015, pembuat konten di Youtube sudah mengunggah 10.000 video, karena membuat akun atau channel di Youtube dan meraih pelanggan atau penayangan bisa menghasilkan uang. Lama kelamaan, makin banyak orang membuat akun Youtube yang membuka kesempatan sebagai lapangan pekerjaan. Tiap hari pengguna Youtube bisa
12
menonton ratusan juta jam video dan menghasilkan miliaran kali penayangan. Youtube menjangkau pemirsa rata-rata berusia 18 sampai 34 tahun. Beragam konten video bisa diakses dalam Youtube, mulai dari Musik, Film, Berita dan Informasi, Olahraga, Gaya hidup, Gaming, dan Vlog.
2.4.4 Beauty Vlog
Vlog atau Video Blog, sesuai namanya adalah blog berbentuk video. Lebih jelasnya lagi, Vlog adalah satu video berisi mengenai opini, cerita atau kegiatan harian yang biasanya dibuat tertulis pada blog. Sejak kemunculan Youtube di tahun 2005, maka pembuatan Vlog semakin populer. Vlog tidak bisa dikaterogikan dalam konten yang bersifat memberi pendidikan melainkan lebih kepada memberi informasi baik yang bersifat umum seperti tempat-tempat baru atau tren busana baru atau bisa juga informasi bersifat pribadi karena Vlog biasa ditampilkan dalam bentuk video yang berisi tentang kegiatan sehari-hari, pendapat mengenai sesuatu ataupun curahan hati (curhat) mengenai sesuatu.
2.5. Teori Referensi
Merupakan faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku konsumtif dimana kelompok referensi merupakan suatu kelompok yang memiiki nilai dan pandangan yang digunakan oleh individu yang termasuk di dalamnya. Di dalam suatu kelompok referensi terbentuk suatu tindakan dimana individu mengikuti keinginan kelompoknya dan tidak berfikir ataupun bertindak sebagai dirinya sendiri (Wahyudi,2013). Kelompok referensi dalam hal ini adalah Beauty Vlogger maupun pelajar itu sendiri dengan melihat tutorial video di youtube.
- Referensi cara make up: dari Beauty Vlog yang peneliti ambil yaitu Tasya Farasya disitu dia sering sekali memberikan contoh bagaimana cara merias wajah dari pemula yang sama sekali belum bisa merias wajah, make up untuk datang ke acara pesta, kuliah, make up sehari-hari dan dari vidio yang sering di upload bisa menjadi referensi mahasiswi dalam hal merias wajah mereka.
- Produk yang dipakai dalam vidio yang di unggah Tasya Farasya tersebut terdapat banyak sekali produk seperti wardah, emina dan sebaginya. Dari produk yang murah sampai mahal , dari yang bagus sampai jelek juga sering di review oleh Taya Farasya dan bisa dijadikan masukan saat membeli make up.
13
- Setiap mahasiswi yang menonton beauty vlog Tasya Farasya tersebut pasti tau bahwa Tasya sering kali bahkan hampir semua vidio yang dia unggah selalu menampilkan tips-tips bagaimana cara memilih bedak yang benar, foundation yang benar dan sebagainya.
2.6. Penelitian Terdahulu
Dibawah ini akan diuraikan 4 penelitian terdahulu yang digunakan sebagai rujukan untuk peneliti yang akan dilakukan yaitu :
- Penelitian pertama oleh Siti Aisyah (2017) : Judul skripsi Video Blog Sebagai Media Representasi Diri Vlogger Di Kota Makassar yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam vlogger dalam merepresentasikan dirinya di video blog tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan hasil pemanfaatan video blog sebagai media representasi dirinya pada ketiga vlogger yang menjadi narasumber pada penelitian ini dapat di temukan bahwa pemanfaatan video blog antara satu vlogger dengan vlogger yang lainnya berbeda berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan latar belakang kehidupan masing-masing.
Yang membedakan dengan skripsi yang penulis buat yaitu dalam skripsi ini membahas tentang representasi diri seorang Vlogger dalam video blognya, sedangkan skripsi yang penulis buat tentang referensi mahasiswa dalam menonton beauty vlog . Akan tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu membahas tentang beauty vlog berpengaruh di kalangan penonton atau tidak (Aisyah,2017).
- Penelitian kedua oleh Lita Donna Elianti (2017) : judul skripsi Makna Penggunaan Make Up Sebagai Identitas Diri yang bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah makna penggunaan make up sebagai identitas diri mahasiswi,faktor pendorong dan dampak penggunaan make up bagi mahasiswi, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan deskriptif dengan hasil Penggunaan make up dalam kehidupan sehari-hari tentunya membawa dampak tersendiri bagi mahasiswi pengguna make up, baik dampak positif dan juga dampak negatif yang timbul akibat dari penggunaan make up di kalangan mahasiswi. Terdapat juga makna penggunaan make up sebagai identitas diri bagi mahasiswi dipengaruhi oleh adanya interaksi dengan lingkungan sosial disekitarnya dan dari kepribadianya sendiri.
Dalam skripsi ini dan penulis buat sama-sama membahas tentang make up dapat meningkatkan percaya diri, akan tetapi yang membedakan dengan skripsi yang penulis buat yaitu skripsi ini membahas tentang penggunaan make up dalam kehidupan
sehari-14
hari di kalangan mahasiswi yang memberikan pengaruh baik maupun buruk, dengan menggunakan make up mahasiswi menjadikan itu identitas diri di lingungan sekitar agar lebih menarik dan juga percaya diri (Elianti, 2017).
- Penelitian ketiga oleh Afrilia Wening Anindya (2017): judul skripsi Representasi Kecantikan (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Akun Youtube Rachel Goddard) dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana representasi kecantikan perempuan yang ditampilkan pada akun youtube Beauty Vlogger Rachel Goddard metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan memperoleh hasil Cantik yang ideal masih merujuk pada kriteria yang ada, namun dengan adanya teknologi seperti video tutorial, cantik mengalami perluasan kriteria.
Dalam skripsi ini dan skripsi penulis buat sama-sama membahas tentang Beauty Vlog, akan tetapi yang membedakan dengan skripsi yang penulis buat yaitu dalam skripsi ini membahas tentang bagaimana sih wanita cantik itu menurut adanya Beauty Vlog dan apakah mempengaruhi para wanita dengan adanya Beauty Vlog tersebut (Anindya, 2017). - Penelitian keempat oleh Kristian Ruth Herlin Yunisha (2017): judul Pengaruh Terpaan
Beauty Vlog Terhadap Perilaku Perempuan Dalam Mempercantik Diri di Salatiga dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pengaruh terpaan Beauty Vlog terhadap perempuan dalam mempercantik diri di Salatiga. Peneliti menggunakan metode kuantitatif eksploratif, dan memperoleh hasil bahwa terpaan Beauty Vlog memberikan pengaruh terhadap perilaku mempercantik diri rendah yaitu sebesar 7,6%. Variabel intervening yang digunakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku mempercantik diri dan terpaan Beauty Vlog. Dalam skripsi ini dan skripsi penulis buat sama-sama membahas tentang Beauty Vlog, akan tetapi yang membedakan dengan skripsi yang penulis buat yaitu dalam skripsi ini membahas tentang pengaruh adanya Beauty Vlog terhadap perilaku perempuan di Salatiga dalam mempercantik diri, sedangkan yang penulis buat mengenai referensi Beauty Vlog terhadap mahasiswi. (Yunisha,2017).
15 2.7. Kerangka Pikir
Dalam skripsi ini penulis menggunakan new media salah satunya yaitu youtube, di dalam youtube pastinya kita banyak menemukan beberapa konten seperti ada vlog, prank, horror dan sebagainya yang menarik dan penulis tertarik untuk meneliti Beauty Vlog yaitu vlogger Tasya Farasya. Di dalam Beauty Vlog Tasya Farasya banyak berbagai macam make up yang bagus, cara agar make up tahan lama, cara memilih foundation yang bagus, cara pemula untuk merias wajah dengan benar dan agar terlihat natural, dari make up yang biasa saja sampai yang untuk pergi ke pesta dan untuk pernikahan semua ada di vlog Tasya Farasya. Dengan adanya Beauty Vlog tersebut banyak mahasiswi terutama fakultas Public Relations angkatan 2016 yang menjadikan Beauty Vlog tersebut sebagai referensi saat merias diri agar bisa di contoh cara make up yang benar dan baik. Maka dari itu penulis menggunakan teori Imitasi (meniru) dan juga Referensi.
Media Sosial (Youtube)
Vlogger Tasya Farasya
Beauty Vlog Tasya Farasya sebagai referensi bagi Mahasiswi Public Relations
angkatan 2016 Vlogs (Beauty Vlog)
New Media
Sosiologi Komunikasi dan teori Imitasi