• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA ILMIAH GURU SIMPOSIUM KEMENDIKNAS 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARYA ILMIAH GURU SIMPOSIUM KEMENDIKNAS 2015"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

i

KARYA ILMIAH GURU SIMPOSIUM KEMENDIKNAS 2015

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT DENGAN METODE LA TI HAM BA PADA KELAS VIII A

SMP NEGERI 2 GATAK, KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2015/2016

Oleh:

Isminatun, S.Pd., M.Pd.

HP: 081548695765 Email: [email protected]

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO DINASPENDIDIKAN

SMP NEGERI 2 GATAK Alamat: Trangsan, Gatak, Sukoharjo

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini adalah:

Nama : Isminatun, S.Pd., M.Pd.

NIP : 19660114 198703 2 005

Pangkat/Gol. Ruang : Pembina Tk. I/IV b Alamat Sekolah : SMP Negeri 2 Gatak

Jl. Trangsan, Gatak, Sukoharjo

Alamat Rumah : Kuyudan Baru 003/005 Makamhaji, Kartasura

Telah menyusun penelitian dengan judul:

Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Metode La Ti Ham Ba pada Kelas VIII A SMP Negeri 2 Gatak Tahun pelajaran 2015/2016.

Disahkan oleh Sukoharjo, 20 Oktober 2015

Kepala Sekolah, Peneliti,

Dra. Eny Widayati Isminatun, S.Pd., M.Pd.

NIP 19620224 198111 2 001 NIP 19660114 198703 2 005

(3)

iii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

PENDAHULUAN Abstrak ... 1

Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 2

Tujuan Penelitian... 3

LANDASAN TEORI 1. Membaca dan Tujuan Membaca ... 3

2. Membaca Cepat ... 4

3. Kecepatan Efektif Membaca ... 5

4. Metode La Ti Ham Ba ... 5

5. Penelitian yang Relevan ... 7

METODE PENELITIAN 1. Karakteristik Siswa ... 8

2. Tindakan ... 8

3. Cara Pengambilan Data ... 10

4. Indikator Keberhasilan ... 10

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10

1. Deskripsi Kondisi Awal ... 10

2. Deskripsi Siklus I ... 11

3. Deskripsi Sikulus II ... 12

4. Hasil penelitian ... 13

PENUTUP Simpulan ... 14

Saran ... 14

DAFTAR PUSTAKA ... 15

LAMPIRAN ... 16

(4)

1

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT DENGAN METODE LA TI HAM BA PADA KELAS VIII A

SMP NEGERI 2 GATAK, KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2015/2016

Isminatun, Guru Bahasa Indonesia pada SMP Negeri 2 Gatak Kabupaten Sukoharjo [email protected] HP 081548695765

ABSTRAK: Salah satu kompetensi dasar membaca pada standar kompetensi lulusan adalah menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit. Adapaun tujuan membaca cepat dalam pelajaran Bahasa Indonesia adalah siswa mampu menangkap gagasan, pengalaman, dan pendapat secara cepat dan tepat. Berdasarkan pengalaman penulis dalam membelajarkan membaca di SMP, kemampuan membaca siswa cenderung rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Gatak, Kabupaten Sukoharjo dengan penerapan metode La Ti Ham Ba.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode La Ti Ham Ba mampu menurunkan hambatan membaca serta mampu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dapat diketahui dari hasil tes pada kondisi awal rata-rata 67,50 pada siklus I rata- rata kelas 73, pada siklus II rata-rata 83. Dengan demikian, dari siklus I ke siklus II ada peningkatan sebesar 10. Adapun jika dilihat dari kondisi awal ada peningkatan sebesar 15,5. Peningkatan kecepatan membaca tampak pada kondisi awal rata-rata 194 kata per menit, siklus I rata-rata 235 kata per menit dan pada siklus II 252 kata per menit.

Kata Kunci: kemampuan, membaca cepat, metode La Ti Ham Ba

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Salah satu kompetensi dasar membaca pada standar kompetensi lulusan adalah menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit.

Adapun tujuan membaca adalah siswa mampu menangkap gagasan, pengalaman, dan pendapat secara cepat dan tepat. Cepat maksudnya, siswa dapat membaca dalam waktu yang singkat, sedangkan tepat berarti siswa dapat memahami atau menangkap gagasan, pengalaman, dan pendapat dalam bahan bacaan dengan benar. Sesuai dengan itu, Supriatna dan Erdina (2002: 59) menyatakan bahwa

(5)

2

tujuan utama membaca adalah menangkap informasi dalam bacaan dengan cepat dan tepat.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam membelajarkan membaca di SMP, kemampuan membaca siswa cenderung masih rendah. Ukuran keberhasilan membaca dapat didasarkan pada kemampuan siswa dalam memahami bacaan, dengan atau tanpa memperhitungkan waktu yang diperlukan siswa dalam menyelesaikan kegiatan membacanya. Adapun ukuran keberhasilan membaca cepat, selain didasarkan pada kemampuan siswa dalam memahami bacaan tentu dengan memperhitungkan waktu yang diperlukan siswa dalam menyelesaikan kegiatan membacanya.

Beberapa faktor yang penulis indikasikan sebagai penyebab lambannya siswa dalam membaca adalah (a) kebiasaan siswa dalam membaca, dan (b) kurang/belum adanya latihan membaca cepat yang dilakukan secara sistematis.

Menurut Soedarso (2002:4-9), kebiasaan membaca yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca adalah membaca dengan vokalisasi, membaca dengan subvokalisasi, membaca dengan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, membaca dengan menggunakan alat bantu penunjuk (telunjuk atau pena), dan regresi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap 28 siswa ditemukan data tentang kebiasaan buruk dalam membaca sebagai berikut.

Tabel 1. Persentase Kebiasaan Buruk dalam Membaca pada Kondisi Awal

NO KEBIASAAN MEMBACA JUMLAH

SISWA PERSENTASE (%)

1 Vokalisasi 19 68

2 Subvokalisasi 18 64

3 Menggerakkan kepala 23 82

4 Menggunakan alat bantu

penunjuk 17 61

5 Regresi 15 54

Rata-rata 18,4 65,8

Tabel di atas menunjukkan bahwa kebiasaan buruk membaca siswa masih sangat besar. Hal ini berdampak buruk terhadap kemampuan siswa dalam kecepatan

(6)

3

efektif membaca (KEM) para siswa. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mencari strategi dalam meningkatkan kemampuan membaca para siswa.

2. Perumusan Masalah

Berdasar latar belakang masalah di atas dapat diungkapkan permasalahan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah penerapan metode La Ti Ham Ba agar dapat meningkatkan keberhasilan pembelajaran membaca?

2. Apakah metode La Ti Ham Ba dapat meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Gatak?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Tujuan khusus penelitian ini adalah pada akhir penelitian tindakan kelas ini 75 % siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Gatak, Kabupaten Sukoharjo dapat membaca dengan baik serta kecepatan efektif membaca dan pemahaman bacaan meningkat secara signifikan.

LANDASAN TEORI

1. Membaca dan Tujuan Membaca

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (Tarigan, 2008:7). Menurut Nurgiantoro (2001:225) membaca adalah aktivitas mental untuk memahami apa yang dituturkan orang lain melalui media tulisan.

Dalam membaca cepat pun terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Bahkan, pemahaman inilah yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukannnya kecepatan (Soedarso, 2002:xiv). Akan tetapi, tidak berarti bahwa membaca lambat akan meningkatkan pemahaman. Bahkan, orang yang biasa

(7)

4

membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana pengendara mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya.

Tujuan membaca menurut Supriatna dan Erdina (2002: 61) adalah terampil memperoleh informasi dari bacaan secara cepat dan tepat. Tujuan tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pengajaran membaca yang tercantum dalam GBPP Bahasa Indonesia SLTP 1994, yaitu siswa mampu menangkap gagasan, pengalaman, pendapat yang tersirat dan tersurat secara cepat dan tepat (Depdikbud, 1993:70).

Lebih khusus, Tarigan (2008:9-11) mengemukakan tujuan membaca sebagai berikut:

a. memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, motonikal);

b. memahami signifikansi atau makna (antara lain maksud dan tujuan pengarang, reaksi pembaca).

c. Evaluasi (isi, bentuk)

d. Kecepatan membaca yang fleksibel.

2. Membaca Cepat

Membaca dapat diartikan sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap sebagai proses memahami maknanya yang terdapat dalam kata- kata yang tertulis dan dapat menjadi sarana untuk pembelajaran sepanjang hayat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca cepat diartikan sebagai membaca dalam hati dengan tujuan memperoleh informasi yang sebanyak- banyaknya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Depdiknas, 2008).

Sedangkan Seputarpendidikan003.blogspot.com menyatakan membaca cepat yaitu teknik membaca untuk mendapat informasi dengan cara membaca langsung ke permasalahan atau fakta yang dicarinya.

Pengertian tersebut tidak jauh berbeda dengan Efendi (2008: 1) yang mengartikan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan dengan menggunakan gerakan mata dan dilakukan tanpa suara yang

(8)

5

bertujuan untuk memperoleh informasi secara tepat dan cermat dalam waktu singkat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa membaca cepat merupakan kegiatan membaca yang memprioritaskan waktu dengan menggunakan gerakan mata, dibaca dalam hati, dan memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi yang banyak dengan tingkat pemahaman yang tinggi terhadap bahan yang dibacanya dalam waktu yang singkat.

Imron Rosidi mengemukakan bahwa membaca cepat adalah perpaduan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Membaca cepat merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan (http://guru-umarbakri.

blogspot.com).

Pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail yang penting, dan seluruh pengertian (Soedarso, 2002:58). Untuk memahami itu perlu: (1) menguasai perbendaharaan katanya, (2) akrab dengan struktur dasar dalam penulisan (kalimat, paragraf, tatatbahasa).

Usaha yang efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan: (1) mengorganisasikan bahan yang dibaca dalam kaitan yang mudah dipahami, dan (2) mengaitkan fakta yang satu dengan yang lain, atau dengan menghubungkan pengalaman atau konteks yang dialami.

Kemampuan tiap orang dalam memahami apa yang dibaca berbeda. Hal ini tergantung pada perbendaharaan kata yang dimiliki, minat, jangkauan mata, kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca, dan keluwesan mengatur kecepatan.

3. Kecepatan Efektif Membaca

Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan. Untuk mengetahui kecepatan efektif membaca dapat digunakan rumus (Depdiknas, 2005: 39) sebagai berikut.

(9)

6 SI kpm

x B Wm

K =... atau kpm

SI x B Wd

K (60) =...

Keterangan:

K : Jumlah kata yang dibaca

Wm : Waktu tempuh baca dalam menit Wd : Waktu tempuh baca dalam detik

B : Skor bobot perolehan tes yang dijawab benar SI : Skor ideal

Kpm : kata per menit 4. Metode La Ti Ham Ba

Metode La Ti Ham Ba merupakan metode yang sebenarnya merupakan kreasi dari penulis. La Ti Ham Ba merupakan akronim dari latihan (maksudnya banyak berlatih) dan tinggalkan hambatan membaca. Ide ini berawal dari rasa penasaran dan perenungan penulis akan ketidakberhasilan pembelajaran membaca, terutama pada pembelajaran membaca cepat. Berangkat dari rasa penasaran dan perenungan tersebut, penulis mencoba mencari sumber dan referensi untuk mencari solusi rendahnya kemampuan membaca cepat pada siswa SMP Negeri 2 Gatak.

Dalam penelusuran teori ditemukan bahwa dalam kegiatan membaca cepat, ada beberapa hal yang dapat menghambat kegiatan tersebut. Penghambat membaca cepat ini biasanya diturunkan karena kegiatan membaca yang dilakukan sewaktu masih kecil. Kebiasaan-kebiasaan membaca waktu kecil menjadi terbawa sampai dewasa.

Membaca dengan bersuara (vokalisasi), menggerakkan bibir, menunjuk kata demi kata dengan jari, menggerakkan kepala dari kiri ke kanan, seperti dilakukan semasa kanak-kanak, merupakan kegitan yang menghambat (Soedarso, 2002:5). Selain hambatan tersebut, ada hambatan yang sulit diatasi adalah regresi dan subvokalisasi.

Soedarso menjelaskan lebih rinci tentang hambatan-hambatan diatas sebagai berikut:

1. Vokalisasi

(10)

7

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara adalah salah satu hal yang mampu menghambat kecepatan dalam membaca cepat. Jika seseorang membaca dengan bersuara, maka seseorang melakukan dua pekerjaan sekaligus sehingga akan menghambat kecepatan membaca sekaligus pemahaman yang diperoleh. Itu berarti bahwa kita mengucapkan kata demi kata secara lengkap.

2. Gerakan Bibir

Menggerakkan bibir ketika kita sedang membaca akan membuat kecepatan membaca kita melambat. Itu sama saja dengan kita membaca dengan bersuara. Soedarso menambahkan kecepatan seseorang yang membaca dengan bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan seseorang yang membaca secara diam (Soedarso, 2002:5).

3. Gerakan Kepala

Kebiasaan menggerakkan kepala saat membaca merupakan kebiasaan yang timbul pada masa kanak-kanak. Kebiasaan itu timbul karena dulu jangkauan mata kita sewaktu masih kecil, kurang mencukupi. Setelah dewasa, walaupun jangkauan mata kita sudah mencukupi, kita sulit meninggalkan kebiasaan menggerakkan kepala karena sudah sering dilakukan.

4. Menunjuk dengan Jari

Kegiatan membaca dengan menunjukkan jari ini juga merupakan kebiasaan membaca yang dibawa sejak kecil. Dulu kita melakukan hal ini karena untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewatkan. Akan tetapi, setelah dewasa, sudah barang tentu kemampuan membaca kita semakin meningkat kebiasaan ini tetap dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan. Padahal membaca dengan menggunkan telunjuk jari atau benda lain dapat menghambat kecepatan membaca kita. Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata (Soedarso, 2002:7).

5. Regresi

Arif Wijaya menyatakan regresi ialah terjadinya pengulangan-pengulangan gerak mata pada unit-unit bahasa yang telah dibaca (arifwijaya.blogdetik.

(11)

8

com). Hal tersebut biasanya terjadi karena kurang memahami kalimat yang dibacanya. Kebiasaan tersebut menjadi hambatan yang sangat serius dalam membaca.

6. Subvokalisasi

Subvokalisasi ini adalah suara yang biasa “ikut membaca” di dalam pikiran kita. Jadi waktu kita membaca, di dalam pikiran kita seperti ada suara yang menyuarakan bacaan itu (kiwod.com). Menurut Dwi, subvokalisasi ini juga menghambat karena kita jadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang kita baca (dwi-n10tangsel.blogspot.com). Kebiasaan subvokalisasi ini akan menjadi penghambat pembaca dalam melakukan kegiatan membaca cepat, karena pembaca menjadi tidak fokus pada ide pokok bacaan tetapi terpecah menjadi cara pelafalannya juga.

Adapun cara mengatasai hambatan antara lain sebagai berikut. Penulis mengajak kepada para siswa untuk banyak berlatih dan berlatih. Prinsip

‘membaca adalah jendela dunia’ sering penulis provokasikan kepada siswa.

Mereka diharapkan untuk sering hadir ke perpustakaan untuk meminjam buku dan meningkatkan minat baca serta berlatih utuk membaca. Selain itu, ketika kegiatan pembelajaran di kelas, siswa diberi kesempatan untuk kerja berpasangan. Salah satu siswa membaca, siswa yang lain mengamati untuk menghitung waktu baca dan memperhatikan jika ada hambatan membaca yang dilakukan oleh mitra kerjanya. Kegiatan ini dilakukan hingga ada perkembangan yang cukup signifikan.

7. Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang pembelajaran membaca pernah dilakukan oleh Samsudin (Depdiknas, 2006) dalam makalahnya yang berjudul Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Melalui Latihan Persepsi Siswa Kelas III A SMP Negeri 3 Petarukan Tahun Pelajaran 2006/2007. Penelitian tersebut bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP

(12)

9

Negeri 3 Petarukan, Kabupaten Pemalang yang ditunjukkan dengan meningkatnya kemampuan efektif membaca (KEM) siswa.

Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian tersebut berusaha meningkatkan kemampuan atau kecepatan membaca siswa dengan metode La Ti Ham Ba, sedangkan penelitian sebelumnya berusaha meningkatkan kemampuan efektif membaca (KEM) dengan latihan persepsi.

METODE PENELITIAN 1. Karakteristik Kelas

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII A SMP Negeri 2 Gatak, Kabupaten Sukoharjo Tahun pelajaran 2015/2016 dengan jumlah peserta didik 28 siswa, yang terdiri atas 8 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

Kondisi awal pelaksanaan tindakan kelas ini terekam data sebagai berikut:

1. Masih rendahnya kemampuan membaca siswa.

2. Masih tingginya (65,8%) siswa yang melakukan kebiasaan buruk dalam membaca cepat.

3. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif secara optimal.

4. Membaca belum merupakan kebutuhan utama siswa.

5. Lingkungan kelas belum kondusif bagi kegiatan membaca (buku fiksi, nonfiksi, dan teks belum mencukupi untuk seluruh siswa).

2. Tindakan

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini diawali dengan kegiatan observasi sebagai penjajagan untuk memperoleh informasi dan gambaran terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, diteliti, dan tindakan yang telah dilakukan oleh guru serta dilanjutkan dengan membahas hasil observasi serta merencanakan dan menetapkan tindakan.

Penelitian ini menggunakan Pendekatan proses yang berkesinambungan, mulai dari proses pendeskrian kondisi awal untuk mengetahuikondisi yang

(13)

10

sesungguhnya dilanjutkan dengan tindakan siklus pertama, dan dilanjutkan pada siklus kedua. Penelitian tindakan kelas ini dalam setiap siklusnya meliputi; (a) perencanaan (planning), (b) pelaksanaan tindakan (acting), (c) observasi (observation) dan evaluasi hasil pengamatan, dan (d) refleksi (reflecting).

a. Perencanaan (Planning)

Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut.

1) Penyusunan rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran membaca cepat dengan metode La Ti Ham Ba.

2) Membuat media pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan.

3) Penyusunan alat evaluasi tindakan berupa:

a) Pedoman wawancara (untuk siswa, guru, dan kolaborator);

b) Lembar observasi kegiatan belajar mengajar;

c) Soal evaluasi dan tugas.

b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Tindakan dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat, meliputi:

1. Siswa dikelompokkan dalam pasangan-pasangan.

2. Siswa melakukan kegiatan membaca untuk menemukan kebiasaan membaca siswa, baik kebiasaan yang mendukung dan kebiasaan yang menghambat.

3. Siswa menemukan kebiasaan yang mendukung dan kebiasaan yang menghambat. Kebiasaan yang baik (mendukung) perlu dikembangkan dan kebiasaan yang menghambat (buruk) perlu ditinggalkan.

4. Siswa melakukan latihan membaca pemahaman dengan metode La Ti Ham Ba

5. Secara bergantian setiap pasangan melaksanakan kegiatan membaca cepat dan menjawab pertanyaan yang telah tersedia serta menghitung

(14)

11

KEM yang diperoleh pasangannya. Bacaan yang digunakan siswa pertama dan siswa kedua sama.

6. Guru bersama siswa menilai isi, proses, dan hasil menggunakan teknik ini.

7. Pemberian penguatan dan kesimpulan dari guru.

c. Observasi (Observation)

Observasi pelaksanaan tindakan/pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan juga dilaksanakan secara kolaboratif dengan mengolah data yang telah diperoleh dan memaknainya serta menentukan keberhasilan dan pencapaian tindakan dan atau hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan.

d. Refleksi (Reflecting)

Hasil observasi dan evaluasi dianalisis. Berdasarkan analisis ini guru peneliti bersama kolaborator dan siswa melakukan refleksi diri untuk menentukan perencanaan dan tindakan berikutnya. Refleksi juga didasarkan atas jurnal yang dibuat guru setelah selesai melaksanakan tindakan/pembelajaran.

3. Cara Pengambilan Data

Dari Penelitian tindakan kelas ini diperoleh data: (1) hasil belajar dan minat siswa, (2) suasana kegiatan pembelajaran, (3) refleksi diri dan perubahan-perubahan yang terjadi, dan (4) keterkaitan perencanaan dengan pelaksanaan.

Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan:

1. Data hasil belajar diperoleh dari hasil tes.

2. Data tentang minat belajar siswa diperoleh dari hasil angket minat siswa.

3. Data tentang situasi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kolaborator.

(15)

12

4. Data yang berkait dengan refleksi diri dan perubahan yang terjadi di kelas diambil dari jurnal yang dibuat oleh guru.

5. Data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan diperoleh dari rencana pelaksanaan pembelajaran dan hasil pengamatan proses pembelajaran.

4. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah semakin tingginya minat dan kemampuan membaca siswa, yang ditandai dengan : a. Sekurang-kurangnya 75% siswa berminat mengikuti pembelajaran Bahasa

Indonesia.

b. Sekurang-kurangnya 75% siswa berperan aktif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

c. Sekurang-kurangnya 75% siswa mempunyai kemampuan membaca cepat yang baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal pelaksanaan tindakan ini adalah kompetensi membaca pemahaman siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Gatak masih rendah. Hal ini dapat diketahui dari hasil tes kemampuan yang diselenggarakan pada awal kegiatan, hasilnya masih memprihatinkan. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam kegiatan membaca juga masih sering dilakukan oleh para siswa. Di antara hambatan yang masih ditemukan antara lain: membaca dengan vokalisasi, membaca dengan subvokalisasi, membaca dengan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, membaca dengan menggunakan alat bantu penunjuk (telunjuk atau pena), regresi, dan hasil tes pemahaman isi bacaan masih sangat rendah.

Berdasarkan data yang diperoleh, pada kondisi awal hasil tes pemahaman isi bacaan rata-rata 67.50. Kecepatan membaca per menit tanpa memperhitungkan pamahaman isi 284 kata per menit. Namun, setelah ditung KEM dengan memperhatikan pamahaman isi hanya 194 kata per menit. Ini menunjukkan bahwa

(16)

13

KEM siswa SMP Negeri 2 Gatak kelas VIII A masih rendah atau di bawah standar kemampuan siswa SMP.

2. Deskripsi Siklus I

Pada siklus I ini terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Perencanaan berupa penyusunan rencana pembelajaran, menyiapkan media, dan menetapkan skenario pembelajaran. Rencana pembelajaran disusun oleh guru. Rencana pembelajaran yang disusun mengisyaratkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dilaksanakan dengan langkah La Ti Ham Ba. Dalam hal ini sebelum membaca bahan bacaan dimulai dengan latihan dengan memperkaya bacaan yang dipinjam dari perpustakaan terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan membuat media. Media yang disiapkan berupa bahan bacaan yang difoto kopi sejumlah siswa. Selain itu, guru menyiapkan lembar pengamatan yang diisi oleh siswa ketika mengamati teman pasangannya yang sedang membaca.

Untuk melakukan kegiatan pengamatan dilakukan kegiatan berpasangan.

Meskipun sudah diberi pengarahan, karena sebelumnya jarang melakukan kegiatan berpasangan keramaian terjadi. Namun, hal itu dapat dikendalikan oleh guru. Hasil pengamatan kegiatan membaca menunjukkan bahwa ada beberapa hambatan dalam kegiatan membaca. Hambatan yang dimaksud sebagaimana terdapat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Persentase Hambatan Membaca pada Siklus I NO HAMBATAN MEMBACA JUMLAH

SISWA

PERSENTASE (%)

1 Vokalisasi 3 11

2 Subvokalisasi 3 11

3 Menggerakkan kepala 3 11

4 Menggunakan alat bantu penunjuk

18 64

5 Regresi 10 36

Jumlah 37 133

Rata-rata 133:5= 26.6%

(17)

14

Selain masih ditemukannya beberapa hambatan, juga hasil tes menunjukkan kekurangberhasilan dari pembelajaran tersebut. Meskipun demikian, sudah tampak adanya peningkatan kemampuan membaca cepat. Hasil tes membaca pemahaman isi, nilai terendah 35 dan nilai tertinggi 90. Adapun nilai rata-rata siswa adalah 73. Kecepatan membaca tanpa memperhitungkan pemahaman isi meningkat menjadi 323 kata per menit. Kecepetan efektif mambaca (KEM) dengan memperhatikan pamahaman isi juga meningkat menjadi 235 kata per menit. Meskipun suda aha peningkatan, karena target yang direncanakan belum tercapai, tindakan ini perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya, yakni siklus kedua.

3. Deskripsi Siklus II

Siklus II ini ditempuh karena pada siklus I hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Di samping itu, berbagai hambatan membaca masih ditemukan.

Sama dengan siklus I, siklus ini dimulai dengan perencanaan terlebih dahulu.

Setelah direncanakan pada skenario pembelajaran, tahapan pelaksanaan tindakan dilakukan berdasarkan rencana atau planning.

Tahapan pelaksanaan tindakan dimulai dengan guru mengkondisikan agar siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, guru mengingatkan kepada para siswa agar melakukan kegiatan latihan serta meninggalkan hambatan membaca yang sudah sering diingatkan. Latihan dan meninggalkan hambatan membaca (La Ti Ham Ba) dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman isi dan meningkatkan kecepatan membaca.

Pada siklus II tersebut pengamatan terhadap kebiasaan membaca siswa tetap dilakukan. Agar siswa bertanggung jawab untuk mengamati kebiasaan siswa lain maka kegiatan membaca dilakukan secara berpasangan. Ketika teman pasangannya melakukan kegiatan membaca siswa yang duduk di sampingnya mengamati dengan membawa dan mengisi lembar pengamatan yang telah disiapkan oleh guru. Hasil pengamatan kebiasaan membaca siswa sebagai berikut.

Tabel 3. Persentase Hambatan Membaca pada Siklus II

(18)

15

NO HAMBATAN MEMBACA JUMLAH

SISWA PERSENTASE (%)

1 Vokalisasi 0 0

2 Subvokalisasi 0 0

3 Menggerakkan kepala 0 0

4 Menggunakan alat bantu penunjuk 3 11

5 Regresi 2 7

Jumlah 5 18

Rata-rata 18:5=3.6%

Dibanding siklus I, pada siklus II sudah ada peningkatan kebiasaan baik dalam membaca. Hal ini dapat diketahui dari hambatan kegiatan membaca pemahaman yang berkurang drastis. Misalnya, pada siklus I masih ada yang melakukan vokalisasi, pada siklus II tidak ada sama sekali. Begitu pula kebiasaan membaca dengan subvokalisasi dan menggerakan kepala (kepala meggeleng ke kiri dan kanan) sudah tidak ditemukan lagi. Menggunakan alat bantu penunjuk masih ditemukan pada 3 orang siswa dan regresi masih dilakukan oleh 2 orang siswa.

Pemahaman siswa terhadap bacaan juga semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dari hasil tes II membaca pemahaman isi bacaan sebagai berikut.

Nilai terendah 60, nilai tertinggi 100 dan nilai rata-rata 83. Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa pun tampak ada peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari KEM yang diperoleh siswa rata-rata 252 kata per menit. KEM terendah siswa 176 kata per menit, sedangkan KEM tertinggi 379 kata per menit. Dengan demikian, target secara klasikal sudah tercapai.

4. Hasil Penelitian

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut.

1. Minat siswa untuk mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia terutama materi membaca lebih meningkat. Dengan dilaksanakannya kegiatan berpasangan siswa lebih aktif karena kegiatan dipantau oleh temannya yang kemudian dilaporkan dalam bentuk hasil pengamatan.

2. Tingkat kelancaran kegiatan membaca secara berpasangan dari siklus satu ke siklus berikutnya mengalami perkembangan.

(19)

16

3. Kebiasaan membaca siswa semakin lama semakin baik. Hambatan-hambatan yang dialami oleh siswa dalam membaca terkurangi. Hal ini dapat ditunjukkan dari perkembangan dari masing-masing siklus sebagai berikut. Pada kondisi awal hambatan membaca sebesar 62,2%, siklus I hambatan membaca sebesar 26,6%, siklus II turun menjadi 3,6%.

4. Dengan dipraktikkannya membaca dengan metode La Ti Ham Ba merangsang siswa untuk lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran membaca yang berdampak pada pemahaman membaca semakin meningkat. Hal ini dapat diketahui dari hasil ulangan/ tes membaca yang semakin lama semakin baik yakni pada kondisi awal nilai rata-rata 67,50 siklus I nilai rata-rata 73 dan pada siklus II nilai rata-rata 83.

PENUTUP 1. Simpulan

Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

a. Kegiatan pembelajaran membaca dengan metode La Ti Ham Ba dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan dapat meningkatkan semangat kerja sama.

b. Pembelajaran membaca dengan metode La Ti Ham Ba dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap isi bacaan.

2. Saran

a. Dalam setiap kegiatan pembelajaran hendaknya guru mencari metode yang dapat meningkatkan minat dan semangat kerja sama.

b. Perlu diupayakan untuk dapat meningkatkan kometensi siswa secara maksimal dalam setiap pembalajaran.

(20)

17 DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1993. GBPP Bahasa Indonesia SLTP. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia:

Pengembangan Kemampuan Membaca Cepat. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiantoro, Bambang. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.

Jogjakarta: BPFE.

Soedarso. 2002. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta:

Gramedia.

Supriatna, Agus dan Sinta Erdina. 2002. Buku 1 Penataran Tertulis Guru Bahasa Indonesia SLTP. Bandung: Depdiknas.

Tarigan, Henri Guntur. 2008. Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Dwi Antiningsih. 2010. http://dwi-n10tangsel.blogspot.com/2010/01/penghambat- membaca-cepat.html diunduh pada tanggal 24 Februari 2010 pukul 10.19 WIB.

Efendi, Yasrul. 2008. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Menngunakan Metode Speed Reading.

http://id.forums.wordpress.com/topic/peningkatan-kemampuan- membaca-cepat-dengan-menggunakan-metode-speed-reading diunduh pada tanggal 24 Februari 2015 pukul 11.14 WIB.

Imron Rosidi. 2009. http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/05/membaca- cepat.html di unduh pada tanggal 23 Februari 2015 pukul 19.34 WIB.

http://seputarpendidikan003.blogspot.co.id/2015/01/definisi-dan-teknik- membaca-cepat-agar.html diunduh pada tanggal 23 Februari 2015 pukul 19.52 WIB.

(21)

18 LAMPIRAN 1 : RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Gatak Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester : VIII (delapan)/ 1

Standar Kompetensi : 3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai Kompetensi Dasar : 3.3. Menyimpulkan isi suatu teks dengsn membaca cepat 250

kata per menit.

Alokasi Waktu : 1 x pertemuan ( 3 x 40 menit )

A. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat Menyimpulkan isi suatu teks dengsn membaca cepat 250 kata per menit.

B. Materi Pembelajaran

§ Membaca cepat

§ Rumus menghitung kecepatan baca

§ Metode meningkatkan kecepatan baca

§ Menguji pemahaman bacaan

v Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) C. Metode Pembelajaran

1. Pemodelan Demonstrasi 2. Kerja Berpasangan 3. Inkuiri

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan pertama 1. Kegiatan Awal.

Apersepsi :

§ Peserta didik dan guru bertanya jawab tentang Membaca dan jenis-jenis membaca

§ Peserta didik menyebutkan perbedaan membaca cepat dan membaca pemahaman

§ Pemberian motivasi 2. Kegiatan Inti

§ Eksplorasi

(22)

19 Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

a. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

b. memfasilitasi peserta didik meningkatkan kemampuan membaca cepat 250 kata per menit

§ Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

a. memfasilitasi peserta didik dan guru bertanya jawab tentang manfaat membaca cepat;

b. memfasilitasi peserta didik menyediakan teks bacaan yang sama dengan peserta didik lain;

c. memfasilitasi peserta didik membaca teks dan peserta didik lain mencatat waktu yang di capai secara bergantian;

d. memfasilitasi peserta didik membandingkan kecepatan membacanya dengan kecepatan ideal;

e. memfasilitasi peserta didik menemukan teknik meningkatkan kecepatan baca;

f. memfasilitasi peserta didik membaca dengan teknik membaca cepat;

g. memfasilitasi peserta didik menjawab pertanyaan bacaan yang ia baca;

h. memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

§ Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

a. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik;

b. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber;

c. memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;

d. memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.

3. Kegiatan Akhir

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman;

b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran dan tindak lanjut.

(23)

20 E. Media dan Sumber Belajar

Media:

laptop, LCD, power point Membaca Cepat, Print out teks bacaan dan soal, program Excel alat bantu penghitungan KEM, alat penghitung waktu (jam) Sumber:

Kramadibrata, Dewaki dkk. 2008. Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusbuk Depdiknas.

Sutopo, Maryati. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 2 untuk SMP/MTs Kelas VIII.

Jakarta: Pusbuk Depdiknas.

E. Penilaian

§ Penilaian dilaksanakan selama proses dan sesudah pembelajaran Indikator Pencapaian

Kompetensi

Penilaian Teknik

Penilaian

Bentuk

Penilaian Instrumen

· Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman

· Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%

· Mampu menyimpulkan isi teks bacaan

Observasi

Tes tertulis

Lembar observasi

Uraian

§ Bacalah teks yang telah disediakan oleh guru!

§ Jawablah pertanyaan berikut ini!

§ Tulislah simpulan bacaan dalam beberapa kalimat!

§ Pedoman penskoran

1. Bacalah sebuah teks yang telah disediakan kemudian hitunglah kecepatan bacamu dan temamu !

Pedoman penskoran

> 250 kata/menit 250 kata/menit < 250 kata/menit

skor 3 Skor 2 Skor 1

2. Tutup bacaan yang kamu baca, lalu jawablah pertanyaan bacaan berikut!

Pedoman penskoran

> 75% benar 60-75% benar 25-50% benar 10-25% benar

Skor 4 Skor 3 Skor 2 Skor 1

(24)

21

3. Buatlah kesimpulan isi bacaan/ teks yang kamu baca!.

Pedoman penskoran

Lengkap dan tepat Kurang lengkap dan tepat

Tidak lengkap dan tepat

skor 3 Skor 2 Skor 1

Mengetahui, Kepala Sekolah,

Dra. Eny Widayati

NIP 19620227198111 2 001

Gatak, September 2015 Guru Mapel,

Isminatun

NIP 19660114 198703 2 005

(25)

22

LAMPIRAN 2 : LEMBAR PENGAMATAN

LEMBAR PENGAMATAN MEMBACA CEPAT

— Nama :

— No Absen :

— Kelas :

— Mulai Pukul :

— Berakhir Pukul :

— Waktu :

— Jumlah Kata :

Saat membaca teman saya melakukan hal berikut.

No Pernyataan Ya Tidak

1 Vokalisasi 2 Subvokalisasi

3 Menggerakkan kepala

4 Menggunakan alat bantu penunjuk 5 Regresi

Gatak, …….. 2015 Pengamat,

………..

(26)

23 LAMPIRAN 3 : ANGKET SISWA

ANGKET SISWA

(MINAT TERHADAP PEMBELAJARAN MEMBACA) Nama :

No Abs : Kelas :

NO PERNYATAAN YA TIDAK

1 Saya tertarik mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia

2 Saya tertarik mengikuti pembelajaran membaca cepat

3 Saya tertarik mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan metode La Ti Ham Ba

4 Semula saya tidak tertarik dengan pelajaran membaca cepat

5 Dengan metode La Ti Ham Ba menjadikan saya senang membaca

6 Semula saya tidak tahu jika ada beberapa hambatan membaca cepat

7 Dengan metode La Ti Ham Ba hambatan membaca dapat saya tinggalkan

8 Metode La Ti Ham Ba dapat meningkatkan KEM saya

(27)

24

LAMPIRAN 4 : DOKUMEN KEGIATAN

Siswa mengawali kegiatan dengan berdoa

Kegaiatan berpasangan: seorang siswa membaca siswa pasangannya memperhatikan waktu dan mengamati pembaca

Kegiatan berpasangan dilakukan bergantian antara pembaca dan pengamat

(28)

25

Keseriusan dalam mengikuti kegiatan membaca cepat

(29)

26

LAMPIRAN 5 : CONTOH TEKS BACAAN DAN SOAL Juara Pertama Tingkat Nasional Berkat Kubis Merah

Kubis merah ternyata bukan hanya untuk dimakan. Sayuran yang memiliki kandungan vitamin C terbanyak dan merupakan sumber kalium dan asam folat ini ternyata juga potensial dijadikan bahan pewarna kain.

Amalia Dwi Ariska (13) membuktikan hal itu dalam penelitiannya. Siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Semarang ini kemudian mengikutsertakan hasil penelitiannya yang berjudul “Kubis Merah sebagai Alternatif Indikator Asam Basa” dalam lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna tingkat nasional untuk siswa SMTP Tahun 2007 yang diselenggarakan Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Ide itu saya peroleh waktu di kelas VII semester I. Waktu itu ada pelajaran mengenai asam basa netral. Disebutkan bahwa kubis merah dapat digunakan untuk indikator asam basa,” kata anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Suyono-Sri Widyastuti yang bercita-cita menjadi dokter.

Dalam wawancara itu, siswa yang ikut klub Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya tersebut didampingi oleh kepala sekolah SMPN 5 Semarang Suharto dan guru yang mendampinginya mengikuti babak final lomba tersebut di Subang, Jawa Barat, Fr. Suratmi.

Amalia menjelaskan, ekstrak kubis merah yang berwarna merah keunguan jika diberi larutan asam akan berubah warna menjadi merah. Bila diberi larutan basa akan menjadi biru. Larutan asam dapat diperoleh antara lain dari air jeruk, nanas, dan cuka. Larutan basa dapat diperoleh antara lain dari pasta gigi, soda, kud, maupun sabun mandi. Dari situ kemudian Amalia berpikir bahwa hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk pewarnaan kain. Dengan dibimbing para guru di sekolahnya, mulailah Amalia melakukan percobaan. Menurut Suratmi, percobaan tersebut tidak hanya sekali tetapi berkali-kali sampai hasilnya memuaskan.

“Pertama-tama kain putih direbus menggunakan ekstrak kubis merah.

Agar warnanya awet, air rebusan kain diberi tawas. Setelah kering, kain yang kemudian diberi motif jumputan itu diberi larutan asam untuk mendapatkan warna

(30)

27

merah pada dasar kain dan larutan basa untuk memperoleh warna biru,” kata Amalia sambil menunjukkan sejumlah saputangan bermotif jumputan yang menjadi media percobaannya.

Ditanya apakah akan melanjutkan penelitiannya tersebut, Amalia mengaku belum tahu. Ia pun mengaku tidak tahu akan digunakan untuk apa uang hadiah kejuaraan sebesar Rp5.000.000,00 tersebut.

Sumber: Kompas, Rabu 26 September 2007 (Jumlah kata: 335)

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1. Siapakah nama peneliti kubis merah tersebut?

2. Dalam rangka lomba apakah penelitian itu dilakukan?

3. Apa judul penelitian itu?

4. Kapan ide itu muncul?

5. Mengapa kubis merah dapat dijadikan pewarna kain?

6. Jika ekstrak kubis merah diberi larutan asam akan berubah warna apakah?

7. Berubah menjadi warna apakah jika diberi larutan basa?

8. Dari apakah larutan asam itu diperoleh?

9. Diperoleh dari apakah larutan basanya?

10. Bagaimanakah cara agar warna kain itu awet?

(31)

28

LAMPIRAN 6 : HASIL TES MEMBACA CEPAT (KEM VIII A PADA SIKLUS I)

NO NAMA SISWA

JUMLAH KATA

WAKTU (DETIK)

KM (D)

SKOR

(B) KEM

1 Alya Khusnul Qotimah 448 73 368.22 60 220.93

2 Anggun Damayanti 448 90 298.67 50 149.33

3 Anisa Nandita Rahmawati 448 60 448.00 80 358.40 4 Aprilia Anggaheni Pratiwi 448 85 316.24 75 237.18

5 Aprilia Kusumawati 448 80 336.00 70 235.20

6 Elvira Amelia 448 83 323.86 95 307.66

7 Erwinda Purnamasari 448 90 298.67 70 209.07

8 Fisca Damaras Alamsyah 448 105 256.00 70 179.20

9 Galuh Putri Pembayun 448 85 316.24 90 284.61

10 Ghivani Alya melyta 448 100 268.80 70 188.16

11 Hanifah Aena riski Mslikah 448 90 298.67 80 238.93

12 Ita Liani 448 80 336.00 70 235.20

13 Johan David Ronaldo 448 70 384.00 90 345.60

14 Levia Handayani 448 87 308.97 80 247.17

15 Miftakul Fauzi 448 100 268.80 90 241.92

16 Nuvitasari Febriyanti 448 95 282.95 40 113.18

17 Puput Larasati 448 75 358.40 50 179.20

18 Rafli Hidayat 448 70 384.00 80 307.20

19 Reza Dimas Saputra 448 85 316.24 60 189.74

20 Reynata Maharani Ribowo 448 81 331.85 80 265.48

21 Ridwan Nur Rochman 448 90 298.67 90 268.80

22 Rizwan Nur Wahid 448 70 384.00 80 307.20

23 Syafira Nofwanda 448 85 316.24 90 284.61

24 Syffira Azzahra Sabila Haq 448 98 274.29 70 192.00

25 Umi Nur Aini 448 85 316.24 70 221.36

26 Wahyu Nugroho 448 90 298.67 90 268.80

27 Yolanda Diah Listiani 448 90 298.67 60 179.20

28 Yopi Rangga Saputra 448 75 358.40 35 125.44

RATA-RATA 323.06 73 235.03

(32)

29

LAMPIRAN 7 : HASIL TES MEMBACA CEPAT (KEM VIII A PADA SIKLUS II)

NO NAMA SISWA

JUMLAH KATA

WAKTU (DETIK)

KM (D)

SKOR

(B) KEM 1 Alya Khusnul Qotimah 505 102 297.06 80 238

2 Anggun Damayanti 505 110 275.45 70 193

3 Anisa Nandita Rahmawati 505 80 378.75 80 303 4 Aprilia Anggaheni Pratiwi 505 105 288.57 70 202

5 Aprilia Kusumawati 505 93 325.81 70 228

6 Elvira Amelia 505 90 336.67 100 337

7 Erwinda Purnamasari 505 92 329.35 70 231

8 Fisca Damaras Alamsyah 505 98 309.18 70 216 9 Galuh Putri Pembayun 505 93 325.81 80 261 10 Ghivani Alya melyta 505 109 277.98 90 250 11

Hanifah Aena riski

Mslikah 505 120 252.50 80 202

12 Ita Liani 505 90 336.67 100 337

13 Johan David Ronaldo 505 100 303.00 90 273

14 Levia Handayani 505 95 318.95 80 255

15 Miftakul Fauzi 505 105 288.57 90 260

16 Nuvitasari Febriyanti 505 90 336.67 70 236

17 Puput Larasati 505 90 336.67 90 303

18 Rafli Hidayat 505 120 252.50 100 253

19 Reza Dimas Saputra 505 120 252.50 70 177 20

Reynata Maharani

Ribowo 505 93 325.81 90 293

21 Ridwan Nur Rochman 505 100 303.00 100 303

22 Rizwan Nur Wahid 505 121 250.41 80 200

23 Syafira Nofwanda 505 80 378.75 100 379

24

Syffira Azzahra Sabila

Haq 505 102 297.06 100 297

25 Umi Nur Aini 505 100 303.00 70 212

26 Wahyu Nugroho 505 110 275.45 90 248

27 Yolanda Diah Listiani 505 120 252.50 70 177 28 Yopi Rangga Saputra 505 110 275.45 70 193

RATA-RATA 303.00 83 252

Referensi

Dokumen terkait

Guru tidak mampu memotivasi siswa untuk berperan aktif dan bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan kelas, dikaitkan dengan materi yang sedang disampaikan. Jika belajar

Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber pangkalan data (Lihat 4.1 Tahapan Pengumpulan Data). Tahapan tersebut terdiri atas :

Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah pengenalan suara, dengan judul Penerapan Model Codebook untuk Transkripsi Suara ke Teks dengan Ekstraksi Ciri

Perioritas magang bagi guru produktif SMK di DU/DI merupakan sebuah inovasi pendidikan, karena yang selama ini dijalankan sesuai dengan struktur kurikulum SMK dan

[r]

Pakaian adat tradisional Lampung bila dicermati terdapat perbedaan antara lampung pesisir dengan lampung daratan tetapi pada dasar masih sama yaitu menggunakan

Tunggal Mitra Plantation Perkebunan Manggala 2 juga menggunakan pengendalian biaya agar perusahaan bisa mengetahui ada tidaknya penyimpangan yang telah terjadi , seperti apa

simulasi, (2) Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan, (3) Guru me- netapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang