• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANAMAN OBAT DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA BIOFARMAKA (UKBB) BOGOR PROVINSI JAWA BARAT SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANAMAN OBAT DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA BIOFARMAKA (UKBB) BOGOR PROVINSI JAWA BARAT SKRIPSI"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANAMAN OBAT DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA BIOFARMAKA

(UKBB) BOGOR PROVINSI JAWA BARAT

SKRIPSI

REZY VEMILINA ASRIL H34096089

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2011

(2)

ii RINGKASAN

REZY VEMILINA ASRIL. Analisis Risiko Pasca Panen Tanaman Obat di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan ANNA FARIYANTI).

Saat ini, adanya kecenderungan pola hidup kembali ke alam (back to nature) dengan keyakinan bahwa mengkomsumsi obat herbal relatif lebih aman dibanding dengan obat sintetik, maka berdampak tingginya permintaan dunia akan obat herbal. Dengan demikian prospek pasar tumbuhan obat Indonesia di dalam maupun di luar negeri semakin besar peluangnya. Peningkatan permintaan akan obar herbal ini, juga didukung oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia khususnya penduduk Indonesia. Pengolahan bahan baku obat herbal dalam bentuk simplisia mempengaruhi jumlah penawaran dari obat herbal itu sendiri.

Peluang ini membuat banyak perusahaan untuk menjadikan tanaman obat menjadi bisnis yang cukup menjanjikan. Salah satu perusahaan tersebut adalah PT Biofarmaka Indonesia.

PT Biofarmaka Indonesia salah satu perusahaan yang mengolah bahan baku obat herbal (simplisia) menjadi obat herbal dan jamu. PT Biofarmaka Indonesia berlokasi di Taman Kencana No.3 Bogor, Jawa Barat. PT Biofarmaka Indonesia memilik bahan baku obat herbal atau simplisia dari kebun Unit Konsevasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Permasalahan yang dihadapi oleh kebun UKBB adanya risiko pasca panen dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini dapat dilihat dari rendemen simplisia yang berfluktuatif setiap periodenya, selama proses pasca panen berlangsung.

Kebun UKBB telah melakukan kegiatan diversifikasi dalam menjalankan usahanya. Sehingga dapat dilakukan analisis alternatif untuk mengatasi risko pasca panen simplisia sebagai bahan baku obat herbal atau jamu yang dihadapi oleh kebun UKBB. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis usaha diversifikasi yang dilakukan oleh kebun Unit Konservasi Budiaya Biofarmaka (UKBB) dalam upaya menurunkan risiko, dan (2) menganalisis manajemen risiko pengolahan (pasca panen) bahan baku obat herbal yang dihadapi oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dalam menjalankan usahanya.

Penelitian ini dilakukan di kebun UKBB yang berlokasi di Blok C Biofarmaka, Kebun percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena kebun UKBB merupakan salah satu instansi yang membudidayakan tanaman obat yang ada di Indonesia, khusunya di Jawa Barat. Selain itu mempertimbangkan adanya ketersediaan data yang mampu menjawab kebutuhan dalam penelitian yang dilaksanakan. Waktu penelitian selama bulan Mei-Juni 2011. Penelitian ini menggunakan metode analisis risiko yaitu variance, standard variation, dan coefficient variation serta melihat pengaruh usaha diversifikasi (portofolio) dalam manangani risiko.

Sumber-sumber risiko pasca panen tanaman obat pada kebun UKBB anatara lain adalah keadaan cuaca (sinar matahari) yang tidak menentu, ketebalan dalam perajangan, peralatan pasca panen yang tidak memadai, serta tidak adanya alat pengatur suhu ruangan penyimpanan. Akibat sumber risiko tersebut terjadi

(3)

iii fluktuasi simplisia yang diproduksi dan kurang terpenuhinya standarisasi yang telah ditetapkan oleh Badan POM yaitu simplisia yang baik untuk bahan baku obat herbal adalah memiliki kadar air dibawah 10 persen.

Hasil penelitian dan perhitungan menunjukkan bahwa pada analisis usaha spesialisasi diperoleh nilai coefficient variation pada simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa masing-masing sebesar 0,086096;

0,170637; dan 0,152301. Angka tersebut menunjukkan bahwa setiap satu kilogram yang dihasilkan akan menghadapi risiko sebesar 0,086096 untuk simplisia temulawak. Begitu juga dengan pegagan, setiap satu kilogram pegagan yang dihasilkan akan menghadapi risiko sebesar 0,170637 dan setiap satu kilogram mahkota dewa yang dihasilkan akan menghadapi risiko sebesar 0,152301. Nilai coefficient variation yang paling tinggi adalah simplisia temulawak yang berarti simplisia pegagan memiliki risiko yang paling tinggi dari simplisia temulawak dan simplisia mahkota dewa. Hal ini disebabkan simplisia temulawak sangat rentan dengan proses pencucian, ketebalan perajangan dan keadaan cuaca (sinar matahari) yang tidak menentu.

Pada usaha diversifikasi, analisis risiko produksi yang dilakukan untuk dua jenis simplisia yaitu simplisia temulawak dengan simplisia pegagan, simplisia temulawak dengan simplisia mahkota dewa, dan simplisia pegagan dengan simplisia mahkota dewa. Analisis risiko portofolio dari kombinasi ketiga komoditi yaitu simplsia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa. Nilai koefisien korelasi yang digunakan pada kegiatan portofolio adalah positif satu (+) karena kombinasi produksi simplisia temulawak dengan simplisia pegagan, kombinasi simplisia temulawak dengan simplisia mahkota dewa, serta simplisia pegagan dengan simplisia mahkota dewa dilakukan secara bersamaan.

Berdasarkan nilai coefficient variation pada portofolio dua komoditi diperoleh hasil diversifikasi simplisia simplisia pegagan dengan simplisia mahkota dewa memiliki risiko paling tinggi yaitu 0,155937 jika dibandingkan dengan diversifikasi simplisia temulawak dengan pegagan dan diversifikasi simplisia temulawak dengan simplisia mahkota dewa sebesar 0,060381 dan 0,057399. Hasil analisis risiko portofolio untuk tiga jenis komoditi yaitu simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,140727. Apabila dibandingkan pada setiap diversifikasi, diversifikasi dengan tiga komoditi memiliki nilai coefficient variation lebih rendah dari diversifikasi dua komoditi yang artinya diversifikasi dengan tiga komoditi memiliki risiko yang lebih rendah. Akan tetapi, secara keseluruhan usaha diversifikasi dapat meminimalkan risiko yang ada.

Strategi pengelolaan risiko merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh risiko. Saat kebun UKBB telah melakukan strategi pengelolaan risiko yaitu diversifikasi produksi simplisia untuk mengurangi risiko dan penggunaan oven pada saat proses pengeringan untuk mengatasi risiko keadaan cuaca (sinar matahari) yang tidak menentu. Selain itu, penanganan risiko dapat juga dilakukan dengan penerapan teknologi yaitu penggunaan alat pengatur suhu ruangan penyimpanan serta peningkatan manajemen pada kebun UKBB untuk melakukan fungsi manajemen yang tepat dan terarah.

(4)

iv ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANAMAN OBAT DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA BIOFARMAKA

(UKBB) BOGOR PROVINSI JAWA BARAT

REZY VEMILINA ASRIL H34096089

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2011

(5)

v Judul : Analisis Risiko Pasca Panen Tanaman Obat di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor Provinsi Jawa Barat

Nama : Rezy Vemilina Asril

NIM : H34096089

Menyetujui, Pembimbing

Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi NIP 19640921 199003 2 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

i

(6)

vi PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Risiko Pasca Panen Tanaman Obat di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor Provinsi Jawa Barat” adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Oktober 2011

Rezy Vemilina Asril H34096089

(7)

vii RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Agam, Sumtera Barat pada tanggal 28 September 1987. Penulis adalah anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Asril.A dan Ibunda Afridawita, S.Pd.

Penulis menyelesaikan pendidikan di SD 06 Kamang Hilir, Kabupaten Agam pada tahun 2000 dan pendidikan menengah diselesaikan pada tahun 2003 di SMPN 01 Kamang Magek, Kabupaten Agam. Pendidikan lanjut menengah atas di SMAN 01 Kamang Magek, Kabupaten Agam diselesaikan pada tahun 2006.

Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Program Keahlian Manajemen Agribisnis Program Diploma Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006. Pada tahun 2009, penulis diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Peratnian Bogor melalui ujian masuk Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus. Selama mengikuti pendidikan, penulis aktif dalam kepanitian beberapa kegiatan yang diadakan di Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus serta aktif dalam organisasi eksternal kampus seperti organisasi daerah minang.

(8)

viii KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia_Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis Risiko Pasca Panen Tanaman Obat di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor Provinsi Jawa Barat”.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis antara risiko usaha spesialisasi dengan risiko usaha portofolio dalam menajalankan proses pasca panen tanaman obat serta strategi yang dapat digunakan dalam menangani risiko yang ada.

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bagi Kebun Unit Konsevasi Budidaya Biofarmaka (UKBB), penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam mengembangankan usahanya. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan membantu untuk penelitian selanjutnya.

Bogor, Oktober 2011

Rezy Vemilina Asril

(9)

ix UCAPAN TERIMAKASIH

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

2. Ir. Narni Farmayanti, MSi dan Dra. Yusalina, MSi selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktu serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS yang telah menjadi dosen yang telah menjadi pembimbing akademik dan seluruh dosen dan staf Program Sarjana Agribisnis Penyelengaraan Khusus Departemen Agribisnis.

4. Kepada kedua orang tua dan keluarga penulis yang tidak hentinya memberikan do’a dan dukungan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Agus Fachrudin Kosim dan Karyawan PT Biofarmaka Indonesia atas kesempatan, informasi, dan dukungan yang diberikan selama penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini.

6. Bapak Taopik Ridwan dan tenaga kerja kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) atas kesempatan, informasi, dan dukungan yang diberikan selama penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini.

7. Teman – teman seperjuangan dan teman – teman Ekstensi Agribisnis angkatan 7 atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi.

8. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuaannya.

Bogor, Oktober 2011 Rezy Vemilina Asril

(10)

x DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... ... xii

DAFTAR GAMBAR ... ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... ... xiv

I PENDAHULUAN ... ... 1

1.1. Latar Belakang ... ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... ... 10

1.4. Manfaat Penelitian ... ... 10

1.5.Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... ... 10

II TINJAUAN PUSTAKA ... ... 12

2.1. Perkembangan Tanaman Biofarmaka ... ... 12

2.2. Proses Pasca Panen pada Tanaman Biofarmaka ... ... 13

2.3. Penelitian Terdahulu Analisis Risiko ... ... 16

III KERANGKA PEMIKIRAN ... ... 18

3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis ... ... 18

3.1.1. Konsep Risiko ... 18

3.1.2. Sumber-Sumber Risiko ... 20

3.1.3. Manajemen Risiko ... 22

3.1.4. Konsep Penangan Risiko ... 24

3.2.Kerangka Pemikiran Operasional ... ... 25

IV METODE PENELITIAN ... ... 29

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... ... 29

4.2.Jenis dan Sumber Data ... ... 29

4.3.Metode Pengambilan Data ... 30

4.4.Metode Analisis ... 30

4.4.1. Analisis Deskriptif ... 30

4.4.2 Pengukuran Risiko ... 31

4.4.3 Definisi Operasional ... 35

V GAMBARAN UMUM KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA BIOFARMAKA ... ... 36

5.1 Sejarah Perusahaan ... ... 36

5.2. Organisasi dan Manajemen Kebun UKBB ... ... 37

5.3.Sumber Daya Perusahaan dan Kebun ... ... 39

5.3.1. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 39

5.3.2. Sumber Daya Fisik ... 40

5.3.3. Aspek Permodalan ... 40

5.4. Unit Usaha ... ... 40

5.4.1. Pengadaan Bahan Baku ... 41

5.4.2. Teknik dan Teknologi pada Kebun ... 41

5.4.3. Pemasaran ... 44

(11)

xi

VI ANALISIS RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKO ... ... 46

6.1.Analisis Risiko Pasca Panen ... ... 46

6.1.1. Sumber-Sumber Risiko ... 44

6.1.2. Penilaian Risiko Produksi Pada Kegiatan Spesialisasi ... 47

6.1.3.Penilaian Risiko Produksi Pada Kegiatan Diversifikasi ... ...49

6.2. Strategi Pengelolaan Risiko ... 60

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... ... 64

7.1. Kesimpulan ... ... 64

7.2. Saran ... ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... ... 66

LAMPIRAN ... ... 68

(12)

xii DAFTAR TABEL

Nomor Halaman 1 Nilai Poduk Domestik Bruto Hortikultura Berdasarkan Harga

Berlaku pada Tahun 2006-2009... ... 2

2 Perbandingan Luas Panen Tanaman Biofarmaka di Indonesia

pada Tahun 2008 dan 2009………. ... 3 3 Perbandingan Produksi Tanaman Biofarmaka di Indonesia

Tahun 2008 dan 2009...………... ... 4 4 Produktivitas Tanaman Biofarmaka Indonesia

pada Tahun 2008 dan 2009 ... ... 5 5 Luas lahan untuk Beberapa Komoditi di UKBB ... 36 6 Peluang pada Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan

Simplisia Mahkota Dewa dengan Kondisi Tinggi, Normal, dan

Rendah ... 50

7 Penilaian Expected Return Berdasarkan Produksi Simplisia

Temulawak, Simplisia Pegagan, dan Simplisia Mahkota Dewa .. 51 8 Penilaian Risiko Spesialisasi Simplisia Temulawak, Simplisia

Pegagan, dan Simplisia Mahkota Dewa pada Kebun UKBB ... ... 53

9 Penilaian Risiko Portofolio Komoditi Simplisia Temulawak,

Simplisia Pegagan, dan Simplisia Mahkota Dewa di Kebun

UKBB ... ... 55 10 Perbandingan Risiko Spesialisasi, Risiko Protofolio Dua Komoditi,

dan Risiko Portofolio Tiga Komoditi ... 56

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Hubungan Total Utility dengan Kekayaan ... ... 20

2 Proses Pengelolaan Risiko ... ... 24

3 Kerangka Pemikiran Operasional ... 28

4 Struktur Organisasi Kebun UKBB ... ... 38

5 Ruang Lingkup Kegiatan di Kebun UKBB ... ... 41

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Rendemen Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan

Simplisia Mahkota Dewa dengan Sinar Matahari ……….. 69 2 Rendemen Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan Simplisia

Mahkota dengan Menggunakan Oven ... 70 3 Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan Simplisia Mahkota

Dewa ... 70

(15)

1 I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara mega diversity untuk tumbuhan obat di dunia dengan keanekaragaman hayati tertinggi ke-2 setelah BraziRismawati. Dari 40 000 jenis flora yang ada di dunia sebanyak 30.000 jenis dijumpai di Indonesia dan 940 jenis di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat yang telah dipergunakan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun oleh berbagai etnis di Indonesia. Keanekaragaman hayati ini merupakan komoditi nasional yang bernilai tinggi untuk pengembangan industri agromedisin di dunia.

Adanya kecenderungan pola hidup kembali ke alam (back to nature) dengan keyakinan bahwa mengkomsumsi obat herbal relatif lebih aman dibanding dengan obat sintetik, maka berdampak tingginya permintaan dunia akan obat herbal sehingga prospek pasar tumbuhan obat Indonesia di dalam maupun di luar negeri semakin besar peluangnya1.

Masyarakat Indonesia sudah sejak ratusan tahun yang lalu memiliki tradisi memanfaatkan tumbuhan dari lingkungan sekitarnya sebagai obat tradisional.

Kecenderungan masyarakat mencari pemecahan terhadap masalah kesehatan melalui pengobatan tradisional sangat dirasakan akhir-akhir ini. Fenomena ini terus meningkat sejak krisis ekonomi tahun 1997 yang menyebabkan harga obat sintetik melonjak tinggi karena sebagian besar bahan baku obat sintetik tersebut merupakan komoditi impor.

Salah satu upaya pemerintah melalui Direktorat Jendral Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam mendukung pengembangan agroindustri tumbuhan obat herbal Indonesia adalah ditetapkannya 13 komoditi tumbuhan obat herbal unggulan yaitu temulawak, jati belanda, sambiloto, mengkudu, pegagan, daun ungu, sanrego, pasak bumi, daun jinten, kencur, pala, jambu mete, dan tempuyung dengan pertimbangan bahwa komoditi tersebut mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mempunyai peluang pasar, dan potensi produksi yang tinggi, serta berpeluang dalam pengembangan teknologi2.

1http://tanamanherbal.wordpress.com/, (18 Maret 2011)

(16)

2

2Peluang pengembangan obat tradisional Indonesia masih terbuka lebar karena permintaan pasar yang terus meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi dan menyadari mahalnya harga obat sintetik belakangan ini. Tingginya minat masyarakat akan obat herbal yang minim dengan efek samping , banyak perusahaan industri farmasi nasional menawarkan produk obat herbal dalam bentuk ekstrak tumbuhan obat (fitofarmaka) yang diolah dan dikemas secara modern. Di Indonesia sendiri telah berdiri beberapa perusahaan yang memanfaatkan tanaman obat (biofarmaka) sebagai bahan baku utama seperti PT Sido Muncul, PT Nyonya Meneer, dan PT Mustika Ratu.

Selain itu, dengan adanya usaha tanaman obat ini juga menambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu indikator ekonomi makro untuk mengetahui peranan dan kontribusi tanaman biofarmaka terhadap pendapatan nasional. Kontribusi tanaman obat (Biofarmaka) terhadap nilai PDB Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Produk Domestik Bruto Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku pada Tahun 2006-2009 di Indonesia

Komoditi Nilai PDB (dalam milyar rupiah)

2006 % 2007 % 2008 % 2009 %

Buah-buahan 35.448 51,65 42.362 55,16 42.660 53,13 30.595 34,60 Sayuran 24.694 35,98 25.587 33,32 27.423 34,15 48.437 54,78 Tanaman hias 4.734 6,89 4.741 6,17 6.091 7,59 5.496 6,21 Biofarmaka 3.762 5,48 4.105 5,35 4.118 5,13 3.897 4,41 Total 68.638 100 76.795 100 80.292 100 88.425 100 Keterangan : Hasil kajian Ditjen Hortikultura

Sumber : Direktorat Jendral Hortikultura, 2010(Diolah)

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa, nilai PDB biofarmaka mengalami peningkatan dari tahun 2006 ke 2007 sebesar 9,12 persen. Keadaan ini disebabkan oleh adanya peningkatan lahan produksi tanaman obat herbal dan peningkatan perdagangan tanaman obat herbal. Peningkatan luas lahan ini salah satunya merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang menetapkan 13 tanaman obat herbal menjadi komoditi utama Indonesia. Pada tahun 2008 dan 2009 nilai PDB Biofarmaka cukup stabil. Hal ini dapat menjadi peluang perkembangan tanaman obat (biofarmaka) di Indonesia.

2 http:// peluang-tanaman-rempah-dan-obat-sebagai-sumber-pangan-fungsional.com/, (21 Maret 2011)

(17)

3 Peluang perkembangan tanaman obat didorong dengan bertambahnya luas budidaya tanaman obat di Indonesia untuk 13 komoditi utama tanaman obat (biofarmaka). Daerah pertanaman tumbuhan obat-obatan (untuk 13 tanaman biofarmaka utama) menyebar di seluruh provinsi di Indonesia. Pengusahaan tumbuhan obat di Indonesia dalam skala luas dengan areal penanaman seluas 126.504.197 m2 yang dikelola oleh Ditjen Bina Produksi Hortikultura (Ditjen Perkebunan, 2004) pada tahun 2003 masih terbatas untuk 13 komoditi tumbuhan obat yaitu: jahe, lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temuireng, kejibeling, dringo, kapulaga, temukunci, mengkudu, dan sambiloto. Data tanaman biofarmaka yang dikumpulkan melalui laporan Statistik Pertanian Hortikultura (SPH) pada tahun 2009 mencakup 15 jenis tanaman dengan tambahan tanaman mahkota dewa dan lidah buaya. Perkembangan luas panen 15 tanamana obat utama pada tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan Luas Panen Tanaman Biofarmaka di Indonesia pada Tahun 2008 dan 2009

No. Komoditi Luas Panen (m2) Peningkatan/

Penurunan (%) Tahun 2008 Tahun 2009

1 Jahe 87.117.173 68.654.046 -21,19

2 Laos/Lengkus 23.489.099 23.847.358 1,53

3 Kencur 29.416.619 25.617.301 -12,92

4 Kunyit 59.092.996 54.544.926 -7,70

5 Lempuyang 4.932.905 5.453.103 10,55

6 Tamulawak 16.174.365 20.977.327 29,69

7 Temuireng 5..532.144 3.991.054 -27,86

8 Temukunci 1.837.517 2.488.178 35,41

9 Dringo/Dlingo 359.201 355.684 -0,98

10 Kapulaga 2.700.185 3.506.599 29,87

11 Mengkudu/Pace*) 984.935 699.332 -29,00

12 Mahkota Dewa*) 112.127 163.360 45,69

13 Kaji Beling 471.137 339.984 -27,84

14 Sambiloto 2.728.538 1.729.218 -36,62

15 Lidah Buaya 190.728 441.216 131,33

Keterangan : *) Luas Panen mengkudu dan mahkota dewa dalam satuan pohon Sumber : Direktorat Jendral Hortikultura, 2010

Tabel 2 menunjukkan bahwa luas panen tanaman biofarmaka mengalami peurunan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 9,66 persen untuk tanaman jenis rimpang, yaitu dari 227.952.019 meter persegi menjadi 205.928.977 meter

(18)

4 persegi. Komoditi non rimpang seperti mengkudu, kejibeling, dan sambiloto juga mengalami penurunan luas panen, sedangkan yang mengalami peningkatan luas panen adalah kapulaga, mahakota dewa, lidah buaya, temukunci, laos/lengkuas, temulawak, dan lempuyang. Perbandingan luas panen tanaman biofarmaka ini juga dapat dilihat perbandingan produksi pada tanaman biofarmaka. Perbandingan produksi tanaman biofarmaka untuk 15 komoditi utama tanaman biofarmaka dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan Produksi Tanaman Biofarmaka di Indonesia Tahun 2008 dan 2009

No. Komoditi Produksi (kg) Peningkatan/

Penurunan (%) Tahun 2008 Tahun 2009

1. Jahe 154.963.886 122.181.084 -21,16

2. Laos/Lengkus 50.092.846 59.332.313 18,44

3. Kencur 38.531.160 43.635.311 13,25

4. Kunyit 111.258.884 124.047.450 11,49

5. Lempuyang 7.621.045 8.804.375 15,53

6. Tamulawak 23.740.105 36.826.340 55,12

7. Temuireng 8.817.235 7.584.022 -13,99

8. Temukunci 3.096.643 4.701.570 51,83

9. Dringo/Dlingo 687.008 1.074.901 56,46

10. Kapulaga 21.230.881 25.178.901 18,60

11. Mengkudu/Pace*) 16.306.163 16.267.057 -0,24

12. Mahkota Dewa*) 17.089.485 12.066.850 -29,39

13. Kaji Beling 1.202.453 943.721 -21,52

14. Sambiloto 7.716.432 4.334.768 -43,82

15. Lidah Buaya 2.903.138 5.884.352 102,69

Keterangan : *) Luas Panen mengkudu dan mahkota dewa dalam satuan pohon Sumber : Direktorat Jendral Holtikultura, 2010

Peningkatan luas panen pada beberapa tanaman biofarmaka juga diikuti dengan peningkatan produksi tanaman biofarmaka tersebut. Secara umum tanaman biofarmaka jenis rimpang mengalami peningkatan produksi sebesar 2,35 persen dari tahun 2009. Komoditi tanaman biofarmaka yang mengalami peningkatan diataranya mahkota dewa, lidah buaya, temulawak, temukunci, kapulaga, dan laos/lengkuas. Namun ada beberapa tanaman biofarmaka jenis rimpang yang mengalami penurunan seperti jahe dan temuireng.

Produktivitas tanaman biofarmaka mengalami fluktuatif produksi setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari total produksi per luas lahannya setiap

(19)

5 tahunnya. Tanamana biofarmaka jenis rimpangan umumnya mengalami peningkatan dari tahun 2008 ke tahun 2009 kecuali temuireng dan temukunci mengalami penurunan produkstivitas. Tanaman biofarmaka jenis lainya yang mengalami peningkatan produktivitas adalah mengkudu, sambiloto dan lidah buaya. Produktivitas 15 tanaman biofarmaka dari tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Produktivitas Tanaman Biofarmaka Indonesia pada Tahun 2008 dan 2009

No. Komoditi Produktivitas (kg/m2)

Tahun 2008 Tahun 2009

1. Jahe 1,78 1,78

2. Laos/Lengkus 2,13 2,49

3. Kencur 1,31 1,70

4. Kunyit 1,88 2,27

5. Lempuyang 1,54 1,61

6. Tamulawak 1,47 1,76

7. Temuireng 1,59 1,90

8. Temukunci 1,69 1,89

9. Dringo/Dlingo 1,91 3,02

10. Kapulaga 7,86 1,34

11. Mengkudu/Pace*) 16,56 23,36

12. Mahkota Dewa*) 152,41 73,87

13. Kaji Beling 2,55 2,78

14. Sambiloto 2,83 2,51

15. Lidah Buaya 15,22 13,34

Keterangan : *) Luas Panen mengkudu dan mahkota dewa dalam satuan pohon Sumber : Direktorat Jendral Holtikultura, 2010(Diolah)

Tabel 4 menunjukkan produktivitas tanaman biofarmaka dari tahun 2008 ke tahun 2009. Beberapa jenis tanaman biofarmaka diatas adalah temulawak dari jenis rimpangan dan mahkota dewa dari jenis buah, serta pegagan dari jenis daun.

Saat ini pegagan belum menjadi 15 tanaman biofarmaka utama. Perubahan produktivitas tanaman biofarmaka dapat disebabkan oleh berbagai kejadian yang berpeluang terjadi baik dalam proses budidaya dan pasca panen tanaman obat serta pengolahan tanaman obat atau simplsia menjadi obat herbal. Perlakuan tanaman obat sebelum diolah menjadi obat herbal merupakan salah satu kegiatan yang dapat menentukan kualitas obat herbal yang akan dihasilkan.

(20)

6 Pengusahaan tanaman biofarmaka menjadi obat herbal atau jamu telah menyebar keseluruh Indonesia. Salah satu instansi di Jawa Barat yang memproduksi tanaman obat-obatan (biofarmaka) adalah Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) yang berlokasi di Blok C Kebun percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Kebun UKBB membudidayakan tanaman biofarmaka. Kebun UKBB membudidayakan 310 tanaman obat yang terdiri dari tanaman koleksi dan tanaman komersial. Diantara tanaman obat yang dibudidayakan di kebun UKBB adalah Sambiloto, Jati belanda, Sidaguri, Lidah buaya, Bangle, Brotowali, Pegagan, Daun ungu, Mahkota dewa, Mengkudu, Mimba, Jambu biji, Sirih hijau, Temulawak, Jahe, dan Kunyit. Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma), Pegagan (guazumae folium), dan Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa) merupakan komoditi utama pada setiap jenisnya di kebun UKBB.

Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma) merupakan tanaman obat jenis rimpang. Temulawak dapat dikonsumsi dalam bentuk kering (simplisia kering) maupun dalam bentuk yang telah diolah seperti serbuk atau kapsul.

Temulawak berkhasiat meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, pencegah kanker, anti oksidan dan anemia. Pegagan (guazumae folium) merupakan tanaman obat jenis daun. Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), dan penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika).

Pegagan dapat dikonsumsi langsung sebagai lalapan atau dikeringkan dan diseduh seperti teh. Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa) merupakan tanaman obat yang memanfaatkan buahnya. Mahkota dewa dapat mentralisir racun, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula, melancarkan peredaran darah, dan anti alergi. Mahkota dewa dapat dikonsumsi dalam bentuk simplisia kering atau yang sudah diolah seperti dalam bentuk kapsul.

Salah satu kegiatan kebun UKBB yang sangat mempengaruhi kualitas tanaman obat yang akan dihasilkan adalah kegiatan pasca panen. Kegiatan pasca panen tanaman obat sebelum menjadi obat herbal yang sering disebut juga dengan simplisia berupa penyortiran basah, pencucian, perajangan untuk jenis tanaman rimpang, pengeringan, dan penyortiran kering serta penyimpanan. Setiap proses

(21)

7 tersebut akan menimbulkan peluang kejadian yang dapat mendatangkan kerugian bagi perusahaan atau yang sering disebut dengan risiko usaha. Kurang optimalnya proses pasca panen tanaman obat ini dapat menimbulkan risiko seperti berkurangnya kualitas simplisia yang dihasilkan dan tidak dapat memenuhi standar dari Badan POM yaitu simplisia yang baik untuk diolah menjadi obat herbal adalah 10 persen. Penyimpanan simplisia yang terlalu lama dan tempat penyimpanan yang tidak baik menyebabkan simplisia busuk atau rusak dan akhirnya simplisia tidak dapat diproduksi.

Salah satu startegi manajemen risiko yang dapat mengurangi risiko yang ada, dapat dilakukan diversifikasi usaha. Berbeda dengan usaha spesialisasi yang hanya mengusahakan satu unit usaha (satu komoditi) maka usaha diversifikasi dilakukan dengan menggabungkan beberapa unit usaha yang ada dalam perusahaan sehingga apabila terjadi kegagalan salah satu unit usaha maka tidak akan menghabiskan komoditi yang ada atau mengurangi risiko yang dihadapai perusahaan.

1.2 Perumusan Masalah

Setiap kegiatan dalam usaha tanaman obat (biofarmaka) akan mempengaruhi kualitas obat herbal yang akan dihasilkan. Salah satu kegiatan yang menentukan hasil produksi obat herbal adalah pengolahan bahan baku obat herbal. Kegiatan pasca panen pada tanaman obat umumnya sama, namun memiliki perbedaan pada beberapa perlakuan pada setiap jenisnya. Pada simplisia yang berasal dari daun (pegagan) dan buah (mahkota dewa) tidak dilakukan perajangan seperti yang dilakukan terhadap rimpang (temulawak).

Salah satu yang mempengaruhi kualitas obat herbal yang akan dihasilkan adalah keadaan cuaca. Perubahan cuaca yang tidak menentu sangat mempengaruhi proses pengeringan tanaman obat karena, cahaya matahari yang dibutuhkan untuk proses pengeringan tanaman obat tidak maksimal. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terpenuhinya standar yang ditetapkan oleh Badan POM yaitu simplisia kering yang baik untuk diolah menjadi obat herbal adalah memiliki kadar air dibawah 10 persen.

Selain itu, proses pencucian yang tidak benar juga sangat mempengaruhi kualitas tanaman obat yang akan diolah menjadi obat herbal. Pencucian tanaman

(22)

8 obat dengan air yang tidak bersih akan menambah bakteri dan dapat menambah kontaminasi pada tanaman obat tersebut. Ketika pencucian dilakukan dalam waktu yang lama akan mengurangi zat yang bermanfaat dalam tanaman obat tersebut. Perhitungan waktu dan keadaan penyimpanan tanaman obat yang akan diolah menjadi obat herbal atau sering disebut simplisia juga mempengaruhi kualitas obat herbal yang akan dihasilkan. Pada kebun UKBB bak pencucian hanya terdapat satu buah, sedangkan banyak bak pencucian yang baik untuk simplisia basah minimal tiga bak pencucian. Dengan adanya kendala ini, proses pencucian berlangsung lama sehingga akan menyebakan simplisia akan cepat kehilangan kandungan yang dibutuhkan.

Ukuran perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia. Jika perajangan terlalu tipis dapat menambah kemungkinan berkurangnya zat yang terkandung dalam simplisia. Sebaliknya, jika terlalu tebal maka membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses pengeringan. Simplisia yang berasal dari daun lebih cepat kering dari simplisia yang berasal dari buah dan rimpang.

Apabila simplisia sulit dikeringkan atau hanya kering di permukaan simplisia maka akan mudah rusak atau busuk (Wardana, et al, 2002).

Kegiatan pasca panen khususnya kegiatan penyortiran yang dilakukan oleh kebun UKBB hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat simplisia basah atau pada saat pencucian simplisia. Pada saat simplisia sudah kering tidak dilakukan penyortiran lagi, sehingga ada kemungkinan simplisia bercampur dengan bahan- bahan lain seperti pasir atau tanah pada saat penjemuran. Selain itu, dengan tidak adanya kepastian permintaan simplisia pada kebun UKBB dapat berpengaruh pada proses penyimpanan simplisia yang ada di kebun UKBB. Semakin lama simplisia disimpan maka akan semakin berkurang kualitas simplisia tersebut.

Berbagai faktor penyebab risiko tersebut, membuat rendemen dari simplisia basah ke simplisia kering tidak sama setiap produksinya.

Salah satu alternatif untuk mengatasi risiko yang ada tersebut, kebun UKBB telah melakukan diversifikasi usaha yaitu dengan melakukan pengolahan pasca panen beberapa jenis simplisia tanaman obat. Kebun UKBB telah mengusahakan 310 jenis tanaman obat yang terdiri dari tanaman komersial dan tanaman koleksi. Menurut pihak kebun UKBB sendiri, dengan melakukan

(23)

9 diversifikasi ini telah dapat mengurangi risiko yang dihadapi dalam pasca panen tanaman obat. Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma), Pegagan (guazumae folium), dan Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa) merupakan komoditi utama pada setiap jenisnya di kebun UKBB.

Salah satunya faktor indicator risiko pada ketiga komoditi tersebut adalah rendemen dari setiap komoditi yang cukup berfluktuatif. Pada Lampiran 1 dapat dilihat, bahwa rendemen dari simplisia basah ke simplisia kering setiap komoditi berfluktuasi setiap bulannya selama setahun. Rendemen yang menjadi acuan adalah rendemen hasil pengeringan yang memanfaatkan sinar matahari. Hal ini dikarenakan, pengeringan dengan menggunakan sinar matahari tidak optimal sehingga akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari simplisia tersebut.

Berdasarkan informasi di lapangan, kualitas simplisia yang memanfaatkan sinar matahari kurang baik dan akan membutuhkan proses lain untuk meningkatkan kualitas simplisia tersebut.

Kuantitas simplisia yang memanfaatkan sinar matahari lebih berat dari kuantitas simplisia yang memanfaatkan alat pengeringan (oven), karena masih memiliki kadar air yang lebih banyak dari simplisia yang memanfaatkan oven.

Selain faktor sinar matahari, ada beberapa faktor lainnya yang dapat mempengaruhi rendemen dari setiap komoditi tersebut seperti ketebalan perajangan, proses pencucian, dan proses penyimpanan.

Selain itu, ketiga tanaman obat ini menjadi komoditi utama untuk kebun UKBB dikarenakan Pusat Studi Biofarmaka IPB dan kebun UKBB telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu dan kuantitas untuk simplisia yang diproduksi terutama simplisia temulawak. Beberapa usaha yang telah dilakukan oleh Pusat Studi Biofarmaka IPB dan kebun UKBB adalah mengikuti berbagai seminar atau talkshow mengenai tanaman obat dan melakukan kerjasama dengan pihak luar seperti dalam memasarkan produk untuk diekspor.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ada beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini :

1. Apakah diversifikasi pasca panen untuk tiga jenis simplisia tanaman obat dapat menurunkan risiko pada kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB)?

(24)

10 2. Bagaimana manajemen risiko yang dilakukan oleh kebun Unit Konservasi

Budidaya Biofarmaka (UKBB) untuk menangani risiko yang dihadapi ? 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukan diatas, maka tujuan penelitian dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Menganalisis usaha diversifikasi yang dilakukan oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dalam upaya menurunkan risiko.

2. Menganalisis manajemen risiko pengolahan (pasca panen) bahan baku obat herbal jamu yang dihadapi oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dalam menjalankan usahanya.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan gunakan memberikan manfaat sebagai :

1. Bagi Pemerintah sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pengolahan (pasca panen) bahan baku obat herbal atau jamu.

2. Bagi Peniliti sebagai penerapan ilmu yang telah diperoleh selama masa perkuliahan.

3. Bagi Perusahaan sebagai bahan pertimbangan yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha.

4. Bagi Pembaca sebagai sumber pengetahuan atau informasi tentang risiko yang dihadapi oleh pengusaha tanaman biofarmaka khususnya dalam proses pengolahn (pasca panen) bahan baku obat herbal atau jamu.

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian Analisis Risiko Pasca Panen Tanaman Obat di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka yang berlokasi di Blok C Biofarmaka, Kebun percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga memiliki keterbatasan yaitu :

1. Penelitian ini mengkaji proses pasca panen tanaman obat atau simplisia dari Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma), Pegagan (guazumae folium), dan Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa) karena ketiga komoditi tersebut merupakan komoditi unggulan pada masing-masing jenisnya di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB).

(25)

11 2. Penelitian ini memandingkan proses pasca panen yang memanfaatkan sinar matahari pada Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma), Pegagan (guazumae folium), dan Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa) dengan proses pasca panen menggunakan alat pengering (oven) pada Temulawak (curcumae xanthoriza rhizoma), Pegagan (guazumae folium), dan Mahkota Dewa (phaleria macrocarpa).

(26)

12 II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Tanaman Biofarmaka

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya genetik yang sangat besar yang berpotensi dalam pengembangan industri biofarmaka nasional. Diseluruh dunia pada saat ini diperkirakan terdapat 250.000 jenis tumbuhan yang telah digunakan sebagai bahan baku industri, Indonesia menggunakan 250 jenis tumbuhan telah digunakan sebagai bahan baku industri tanaman obat. Tanaman Obat atau Tanaman Biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan yang dikonsumsi dari bagian tanaman berupa daun, bunga, buah, umbi (rimpang) atau akar (Badan Pusat Statistik, 2005). Disisi lain, jumlah penduduk yang besar dan mempunyai warisan budaya dalam menggunakan produk herbal merupakan potensi yang besar untuk permintaan terhadap obat herbal. Selain itu, dengan adanya pola hidup masyarakat Indonesia kembali ke alam (back to nature) mendorong menigkatnya permintaan akan obat herbal.

Harga obat herbal yang relatif murah dan minim efek samping merupakan salah satu faktor meningkatnya permintaan akan obat herbal ini baik permintaan dalam negeri maupun luar negeri. Meningkatnya permintaan terhadap obat herbal atau jamu mendorong meningkatnya jumlah industri dan perusahaan obat tradisional setiap tahunnya. Pada tahun 2005 berdasarkan data Badan POM terdapat 326 pabrik jamu dan 59 diantaranya tergolong industri pabrik sedang besar, yang menggunakan 180 spesies tumbuhan obat dan aromatik dengan total bahan baku segar yang dibutuhkan per tahun ± 1.021.280 ton (Direktorat Jendral Hortikultura, 2008). Saat ini, produksi tanaman biofarmaka hampir tersebar di wilayah Indonesia dengan produksi tertinggi di daerah Jawa Barat.

Tanaman obat dan hasil olahannya mempunyai nilai ekonomi yang sangat signifikan baik dalam skala global maupun skala dalam negeri. Penggunaan obat herbal dari tahun ke tahunya terus meningkat. Volume ekspor tanaman biofarmaka pada tahun 2005 mencapai 8.590,45 ton dengan nilai ekspor US$ 5,12 juta (Direktorat Jendral Hortikultura, 2008). Penggunaan tanaman biofarmaka yang terus meningkat setiap tahunnya juga diikuti dengan pertumbuhan pasar farmasi Indonesia. Pertumbuhan obat farmasi pada tahun 2003 sebesar 17 triliyun

(27)

13 rupiah dan tahun 2005 meningkat menjadi 21,3 triliyun rupiah (naik 25,29 persen). Hal ini menggambarkan masih tingginya peluas pasar untuk obat herbal di Indonesia. Pada tahun 2006 Direktorat Jendral Hortikultura menetapkan 13 tanaman utama untuk tanaman biofarmaka. Namun pada tahun 2009, Direktorat Jendral Hortikultura menetapkan tanaman utama dari tanaman biofarmaka menjadi 15 komoditi. Hal ini dikarenakan makin banyaknya tanaman tanaman yang dapat dimanfaatkan menjadi obat.

2.2 Proses Pasca Panen pada Tanaman Biofarmaka

Penanganan pasca panen bertujuan agar mutu tanaman obat tetap terjaga dengan baik. Menurut Kitinoja dan Kader (1993) pasca panen dimulai sejak komoditi dipisahkan dari tanaman (dipanen) dan berakhir bila komoditi tersebut dikonsumsi. Menurut Wardana, et al, (2002) pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya. Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan waktu yang dibutuhkan untuk pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan pemanenan. Tujuan akhir kegiatan pasca panen adalah agar bahan nabati atau simplisia yang dihasilkan memiliki nilai jual tinggi. Proses pasca panen pada tanaman biofarmaka terdiri dari :

a. Penyortiran basah

Penyortiran basah dilakukan untuk memisahkan kotoran atau bahan asing lainnya dari bahan tanaman/simplisia, misalnya kotoran atau bahan asing pada simplisia jenis akar adalah tanah, kerikil, rumput, akar yang rusak, bagian tanaman lain selain akar, dan sebagainya. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan bahan organik asing tidak lebih dari 2 persen. Proses penyortiran pertaman ini bertujuan untuk menguragi jumlah pengotor yang ikut tertinggal untuk proses selanjutnya.

b. Pencucian

Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat pada simplisia. Pencucian juga berguna untuk mengurangi mikroba-mikroba yang terdapat pada simplisia. Karena itu, pencucian harus dilakukan dengan menggunakan air bersih seperti air dari mata air, air sumur, dan air PAM. Bila menggunakan air yang kotor akan menambah jumlah mikroba yang ada pada simplisia. Pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk

(28)

14 menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam simplisia.

Pencucian simplisia dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti perendaman bertingkat, penyemprotan, dan penyikatan.

c. Perajangan

Perajangan pada simplisia dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada simplisia yang tebal dan tidak lunak seperti akar, rimpang, dan batang. Ukuran perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia. Jika perajangan terlalu tipis dapat menambah kemungkinan berkurangnya zat yang terkandung dalam simplisia. Sebaliknya, jika terlalu tebal maka kandungan air dalam simplisia akan sulit dihilangkan. Apabila simplisia sulit dikeringkan atau hanya kering di bagian permukaan maka akan mudah busuk atau rusak.

d. Pengeringan

Syukur dan Hernani (1999) dan Wardana, et al, (2002) menyatakan bahwa pengeringan merupakan usaha untuk menurunkan kadar air bahan sampai tingkat yang diinginkan sehingga tidak mudah rusak dan dapat disimpan dalan jangka waktu yang lama. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10 persen. Waktu pengeringan biasanya bervariasi tergantung pada jenis simplisia dan metode yang digunakan. Metode pengeringan simplisia dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari atau secara modern dengan menggunakan alat pengering/oven. Syukur dan Hernani (1999) menyatakan dengan adanya keragaman dalam bentuk bahan baku simplisia maka ada perbedaan cara mengeringkan pada masing-masing bahan tersebut. Ada bahan yang dapat langsung dikeringkan dibawah sinar matahari, dikeringkan di bawah nauangan, dan ada pula pengeringan lambat atau pemeraman terlebih dahulu setelah panen. Berikut cara pengeringan beberapa bahan tanaman obat :

- Bahan yang berasal dari daun : pemanen dilakukan pada saat pagi atau sore hari untuk memperkecil kehilangan senyawa-senyawa yang dibutuhkan didalam daun. Daun dilayukan di bawah naungan dan tidak dijemur langsung dibawah sinar matahari. Untuk mencegah terjadinya fermentasi atau berjamur maka sebaiknya daun disimpan dalam keadaan kering pada kondisi dingin.

(29)

15 - Bahan yang berasal dari buah : bahan yang berasal dari buah bisa langsung

dijemur setelah dipanen.

- Bahan yang berasal dari rimpang : simplisia yang berasal dari rimpang terlebih dahulu dilakukan perajangan sebelum dilakukan penjemuran. Pada saat pengeringan dengan sinar matahari harus sering dibolak balik agar tidak terjadi fermentasi yang menyebabkan bahan jadi busuk.

e. Penyortiran kering

Penyortiran kering bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian tanaman yang tidak diinginkan dan benda-benda asing yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Setelah penyortiran selesai, simplisia yang dihasilkan ditimbang untuk menghitung rendemen hasil dari proses pasca panen yang dilakukan. Menurut Rismawati (2010) kriteria penyortiran berdasarkan pada warna, bentuk, berat, kerusakan mekanis, dan busuk, serta derajat kematangan.

f. Pengemasan

Syukur dan Hernani (1999) dan Wardana, et al, (2002) menyatakan bahwa dalam pengemasan simplisia harus menggunakan bahan yang bersih untuk menghindari terjadinya kontaminasi antara bahan kemasan dengan simplisia.

Selain itu, bahan pengemasan sebaiknya kering, dapat menjamin produk bahan yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit penanganan selanjutnya, dan dapat melindungi isi pada saat pengangkutan. Untuk pengemasan bahan yang telah dikeringkan dapat digunakan karung plastik, karung goni, dan peti kayu yang kedap udara.

g. Penyimpanan

Menurut Syukur, Hernani (1999) dan Rismawati (2010) penyimpanan adalah upaya untuk memperpanjang ketersediaan produk sehingga membantu memenuhi kebutuhan pemasaran, distribusi, dan penggunaan. Penyimpanan yang baik dirancang untuk mencegah menurunnya kelembaban, terjadinya pembusukan, dan perkecambahan dini, serta menghilangkan panas akibat respirasi. Wardana, et al, (2002) menyatakan bahwa sumber utama kerusakan simplisia adalah air, kelembaban, sinar matahari langsung, dan hama seperti kutu, rayap, dan tikus.

Kondisi penyimpanan yang ideal adalah ruangan yang dilengkapi dengan pengaturan kelembaban dan suhu yang tepat.

(30)

16 2.3 Penelitian Terdahulu Analisis Risiko

Kegiatan manajemen risiko dapat diawali dengan identifikasi terhadap sumber-sumber risiko pada pasca panen. Kegiatan indetifikasi risiko pada setiap komoditi dapat dilihat dari sumber sumber risiko yang mungkin akan terjadi dan telah terjadi. Setelah identifikasi sumber-sumber risiko dilakukan maka dapat dilakukan pengukuran risiko yaitu variance, standard deviation, dan coefficient variance. Alat ukur risiko ini digunakan untuk mengukur sejauh mana risiko yang dihadapi dalam menjalankan usaha terhadap hasil yang diperoleh perusahaan.

Semakin kecil nilai variance, standard deviation, dan coefficient variation nya maka semakin rendah risiko yang dihadapi.

Analisis risiko yang dilakukan oleh Safitri (2009) meneliti tentang Analisis Risiko Produksi Daun Potong Di PT Pesona Daun Mas Asri, Ciawi Kabupaten Bogor Jawa Barat, Silaban (2011) mengenai Analisis Risiko Produksi Ikan Hias pada PT Taufan Fish Farm di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat, serta Sianturi (2011) dengan Analisis Risiko Pengusahaan Bunga pada PT Saung Mirwan Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Analisis risiko yang dilakukan pada kegiatan spesialisasi pada masing- masing komoditi pada perusahaan tersebut. Analisis risiko yang dilakukan pada masing-masing komoditi dapat melihat berapa besar risiko yang dihadapi pada setiap komoditi yang diusahakan atau dibudidayakan.

Metode analisis risiko dengan variance, standard deviation, dan coefficient variaton dilakukan juga untuk usaha diversifikasi. Analisis risiko pada usaha diversifikasi dilakukan terhadap komoditi yang diusahakan secara bersamaan dan nantinya risiko yang dihadapi merupakan risiko gabungan komoditi yang diusahakan atau dibudidayakan. Analisis risiko lain yang dapat dilakukan adalah dengan meniliti risiko portofolio dilakukan oleh Firmansyah (2009) yang meneliti risiko portofolio pemasaran sayuran organik dengan judul penelitian Risiko Portofolio Pemasaran Sayuran Organik pada Perusahaan Permata Hati Organic Farm Kabupaten Bogor Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode analisis single-index portofolio dengan bantuan Software SPSS.

(31)

17 2.4 Penelitian Terdahulu Penanganan Risiko

Penanganan risiko sangat diperlukan dalam mengurangi dampak risiko yang terjadi. Penangan risiko yang dapat dilakukan pada penelitian Firmansyah (2009), dimana strategi penanganan risiko portofolio pemasaran sayuran organik adalah menjaga kestabilan pesanan produk agar berada pada kondisi penjualan normal atau penjualan tinggi yaitu dengan cara memperbanyak agen atau distributor serta melakukan kerjasama dengan supermarket-supermarket atu toko- toko.

Penangan risiko yang berbeda dilakukan dalam penelitian Safitri (2009) mengenai analisis risiko produksi daun potong, didapat penanganan risiko dengan melakukan kegiatan diversifikasi dan pola kemitraan. Penanganan risiko yang sama dilakukan dalam penelitian Silaban (2011) di PT Taufan Fish Farm adalah dengan kegiatan diversifikasi dengan memilih kombinasi komoditi yang paling rendah risikonya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sianturi (2011) menggunakan penanganan risiko dengan diversifikasi, penerapan teknologi baru, serta peningkatan manajemen perusahaan yang tepat dan terarah.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu diatas maka terdapat persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu terdapat pada alat analisis yang digunakan, yaitu dengan variance, standard deviation, dan coefficient variation seperti yang dilakukan pada penelitian Safitri (2009), Silaban (2011) dan Sianturi (2011).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah dari segi komoditi yang diteliti dan tempat penelitian. Penelitian ini meneliti komoditi tanaman biofarmaka khususnya temulawak, pegagan, dan mahkota dewa. Penelitian terdahulu seperti Safitri (2009) meneliti daun potong Asparagus bintang dan Philodendron merble, Firmansyah (2009) meneliti sayuran organik brokoli, wortel, tomat, dan jagung, Silaban (2011) meneliti ikan hias discus, lobster, dan manvis dan Sianturi (2011) melakukan penelitian pada komoditi bunga krisan, kalandiva, kalanchoe, dan kastuba.

(32)

18 III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan dalam penelitian yang berguna untuk membantu menjelaskan secara deskriptif berbagai aspek untuk pendukung dalam penelitian. Pengetahuan, teori, dan dalil tersebut diperoleh dari sumber bacaan atau literatur, jurnal, dan logika penulis.

3.1.1 Konsep Risiko

Risiko merupakan suatu kejadian yang dapat diramalkan dan mendatangkan kerugian bagi pengambil keputusahan atau pengusaha. Menurut Kountur (2006), risiko adalah kemungkinan kejadian yang menimbulakan kerugian. Risiko memiliki tiga unsur yang sangat pengting yaitu : 1) risiko itu adalah suatu kejadian, 2) kejadian tersebut masih mengandung kemungkinan yang bisa terjadi atau tidak bisa terjadi, dan 3) jika terjadi, ada akibat yang ditimbulkan berupa kerugian. Risiko menurut Umar (1998) adalah kesempatan timbulnya kerugian, peluang terjadinya kerugian, ketidakpastian, penyimpangan aktual dari yang diharapkan, terjadi jika probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan. Sedangkan menurut Gordon dan Dickson3 menyatakan bahwa risiko adalah sebagai berikut :

1. Risiko adalah ketidakpastian akan terjadinya peristiwa yang menimbulkan kerugian ekonomis.

2. Risiko adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi, dimana kadangkala kenyataan yang terjadi berbeda dengan hasil – hasil prediksinya.

3. Risiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak menguntungkan.

4. Risiko adalah kemungkinan kerugian (Risk is the chance of Loss).

5. Risiko adalah kombinasi dari berbagai keadaan yang mempengaruhinya (Risk is the combination of hazards), dll.

Risiko sering disamakan dengan ketidakpastian dan digunakan secara bersamaan. Namun secara ilmiah, risiko dan ketidakpastian itu memiliki arti yang

3 http://netrisk.ru/risk_management_for_projects “ Konsep Risiko dan Manjemen Risiko” (3 Mei 2011)

(33)

19 berbeda. Risiko merupakan peluang kejadian yang dapat diperhitungkan oleh pengambil keputusan, sedangkan ketidakpastian merupakan suatu peluang yang tidak dapat diperhitungan kejadiannya. Menurut Kountur (2008), ketidakpastian terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi yang menyangkut apa yang akan terjadi. Sedangkan risiko terjadi karena adanya pengaruh dari dalam perusahaan dan luar perusahaan. Pengaruh terjadinya risiko yang berasal dari luar perusahaan diantaranya terjadi karena kondisi dunia internasional sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi negara Indonesia, teknologi yang dapat menimbulkan inovasi usaha atau efesien dalam operasional usaha, peraturan pemerintah terhadap dunia usaha serta kekuatan ekonomi masyarakat dalam membeli produk yang dihasilkan perusahaan.

Pengaruh terjadinya risiko dari dalam perusahaan dapat berupa sumber daya manusia di perusahaan kurang ahli dibidangnya sehingga mempengaruhi produktivitas produk yang dihasilkan dan dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan. Selain itu. Kondisi keuangan perusahaan juga akan mempengaruhi risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan, apabila perusahaan banyak melakukan pinjaman maka pendapatan dari perusahaan tersebut akan berkurang karena sebagian pendapatan perusahaan dikeluarkan untuk membayar bunga pinjaman.

Dalam menghadapi risiko yang ada, setiap pelaku bisnis atau pengusaha memiliki pandangan dan prilaku yang berbeda terhadap risiko yang ada. Ada yang berusaha untuk menghindar, namun ada juga yang sebaliknya sangat senang menghadapi risiko sementara yang lain mungkin tidak terpengaruh oleh risiko tersebut. Menurut Kountur (2006), pembuat keputusan dalam menghadapi risiko dapat dijelaskan dalam Teori tentang utility (utility theory), menurut teori ini prilaku orang dalam menghadapi risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu orang yang tidak menyukai risiko (risk avversion), orang yang senang menghadapi risiko (risk taker), dan orang yang tidak terpengaruh dengan adanya risiko (risk netral). Ketiga kelompok orang tersebut dapat dijelaskan dengan melihat hubungan antara kekayaan dan manfaat (utility) seperti yang terlihat pada Gambar 1.

(34)

20 Total Utilitty (Util) Risk Taker

Risk Netral

Risk Avert

Kekayaan (Rp) Gambar 1. Hubungan Total Utility dengan Kekayaan Sumber : Kountur (2006)

Gambar 1 menunjukkan bahwa hubungan antara kekayaan dengan total utility yang didapat. Gambar di atas menjelaskan bahwa :

A. Risk Avert merupakan orang yang berusaha sebisa mungkin untuk menghindari risiko. Semakin banyak kekayaan yang didapat maka pertambahan manfatta (utility) dari kekayaan semakin kecil. Begitu pula sebaliknya semakin kecil kekayaan, semakin besar manfaat (utility) yang dikorbankan. Jika diaplikasikan kepada risiko, semakin rugi semakin besar penderitaan atas kerugian tersebut dibandingkan kenikmtan yang diperoleh jika menguntungkan.

B. Risk Netral merupakan orang yang tidak terpengaruh dengan ada atau tidaknya risiko. Rendah atau tingginya kekayaan yang didapat tidak berpengaruh terhadap manfaat yang diterima oleh pembuat keputusan.

C. Risk Taker menunjukkan bahwa utility yang diterima dengan adanya peningkatan kekayaan lebih besar dari utility yang dikorbankan dengan penurunan kekayaan pada jumlah yang sama. Kebahagiaan yang diterima jika berhasil lebih besar dari sengsara yang diderita jika rugi dengan jumlah yang sama.

3.1.2 Sumber-Sumber Risiko

Menurut Harwood et al (1999), ada beberapa sumber risiko yang dapat mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :

(35)

21 1. Risiko pasar yaitu pergerakan harga yang berdampak negatif terhadap perusahaan. Risiko pasar atau yang lebih dikenal dengan market risk merupakan risiko yang terjadi karena adanya pergerakan harga pada input dan output yang dihasilkan oleh perusahaan.

2. Risiko produksi yaitu risiko yang berasal dari kejadian-kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dan biasanya berhubungan dengan keadaan alam seperti curah hujan yang berubah secara tidak menentu, perubahan cuaca yang tidak sesuai dengan perkiraan, serta serangan hama dan gulma.

3. Risiko institusional yaitu risiko yang terjadi karena adanya perubahan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti kebijakan harga bibit tanaman, kebijakan harga, kebijakan penggunaan bahan kimia, maupun kebijakan ekspor dan impor.

4. Risiko sumber daya manusia yaitu risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang berkaitan dengan prilaku manusia, maupun hal-hal yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti kesalahan dalam pencatatan data, kesalahan dalam memberikan pupuk, mogok kerja, ataupun meninggalnya tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya.

5. Risiko finansial yaitu risiko yang dihadapi perusahaan dalam bidang finansial, seperti perubahan modal, perubahan bunga kredit bank, maupun perubahan UMR (Upah Minimum Regional).

Menurut Kountur (2008) risiko dapat diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan dan sudut pandang kejadian yang terjadi menjadi empat jenis, yaitu :

1. Risiko Dari Sudut Pandang Penyebab

Berdasarkan sudut pandang penyebab kejadian, risiko dapat dibedakan kedalam risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti perunbahan harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Risiko operasional disebabkan oleh faktor-faktor non euangan seperti manusia, teknologi, dan alam.

(36)

22 2. Risiko Dari Sudut Pandang Akibat

Dilihat dari sudut pandang akibat dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : a. Risiko murni versus risiko spekulatif

Risiko dianggap sebagai risiko murini jika suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulakn kerugian, tidak ada kemungkinan akan menghasilkan keuntungan seperti barang rusak karena terbakar, barang hilang karena banjir, kerusakan mesin, dan kahancuran gudang. Risiko spekulatif yaitu risiko dimana perusahaan mengharapkan terjadinya untung dan rugi seperti dalam usaha kerugian akibat spekulatif akan merugiakan individu tertentu tetapi akan menguntungkan individu lainnya.

b. Risiko statis versus risiko dinamis

Munculnya risiko statis ini dari kondisi keseimbangan tertentu. Contonya risiko murni statis adalah ketidakpastian terjadinya sambaran petir dan angin topan. Risiko dinamis mungkin murni mungkin juga spekulatif. Contoh risiko dinamis adalah urbanisasi, perkembangan teknologi yang kompleks dan perubahan undang-undang atau peraturan pemerintah.

c. Risiko subjektif versus risiko objektif

Risiko subjektif adalah ketidakpastian secara kejiwaan yang berasal dari sikap mental atau kondisi pemikiran seseorang. Risiko objektif adalah probabilitas penyimpangan aktual yang diharapkan (dari rata-rata) sesuai pengalaman. Risiko objektif lebih mudah diamati secara akurat dibandingkan dengan risiko subjektif karena dapat diukur.

3. Risiko Dari Sudut Pandang Aktivitas

Banyakanya risiko dari sudut pandang penyebab adalah sebanyak jumlah aktivitas yang ada. Segala aktivitas dapat menimbulkan berbagai macam risiko misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank yang dikenal dengan risiko kredit.

4. Risiko Dari Sudut Pandang Kejadian

Risiko yang dinyatakan bberdasarkan kejadian merupakan pernyataan risiko yang paling baik, misalnya terjadinya kebakaran.

3.1.3 Manajemen Risiko

Menurut Lam (2007) manajemen risiko dapat didefenisikan dalam pengertian bisnis seluas-luasnya. Manajemen risiko adalah mengelola keseluruhan

Referensi

Dokumen terkait