• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Risiko Produksi Budidaya Temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Risiko Produksi Budidaya Temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor."

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RISIKO BUDIDAYA TEMULAWAK

DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA

BIOFARMAKA (UKBB) BOGOR

SYAFRINA ANDRIANI LUBIS

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

7

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Risiko Budidaya Temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2014

(4)
(5)

2

ABSTRAK

SYAFRINA ANDRIANI LUBIS. Analisis Risiko Produksi Budidaya Temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor. Dibimbing oleh ANNA FARIYANTI.

Temulawak merupakan salah satu tanaman obat yang banyak manfaatnya. Usaha budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka menghadapi tantangan berupa risiko produksi. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi budidaya temulawak di UKBB dengan menggunakan analisis deskriptif, 2) menganalisis probabilitas dan dampak dari sumber risiko produksi budidaya temulawak di UKBB dengan menggunakan alat analisis Value at Risk dan metode Z-Score, dan 3) menganalisis berbagai alternatif yang dapat diterapkan untuk menangani risiko produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya temulawak di UKBB. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa budidaya temulawak di UKBB mengalami penurunan produksi dipicu oleh organisme pengganggu tanaman yang menyerang bibit temulawak ataupun tanaman temulawak yang sedang dibudidayakan, kesalahan dalam melakukan seleksi bibit, serta musim hujan.

Kata kunci: budidaya, penurunan produksi, risiko, temulawak

ABSTRACT

SYAFRINA ANDRIANI LUBIS. Cultivation Curcuma Xanthorriza ROXB Production Risk Analysis in Biopharmaca Conservation Station (BCCS) Bogor.

Supervised by ANNA FARIYANTI.

(6)

cultivation in BCCS. Based on the results of analysis show that the cultivation of Curcuma Xanthorriza ROXB in BCCS decreased production triggered by plant pests that attack the seeds of Curcuma Xanthorriza ROXB or Curcuma Xanthorriza ROXB plants are being cultivated, the error in the selection of seeds, and the rainy season.

(7)

5

ANALISIS RISIKO BUDIDAYA TEMULAWAK

DI KEBUN UNIT KONSERVASI BUDIDAYA

BIOFARMAKA (UKBB) BOGOR

SYAFRINA ANDRIANI LUBIS

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

4

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah Analisis Risiko, dengan judul Analisis Risiko Budidaya Temulawak Di Unit Kebun Konservasi Biofarmaka (UKKB), Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku dosen pembimbing, Dr. Ir. Netti Tinaprilla, MM sebagai dosen penguji, Dra. Yusalina, MSi selaku wakil komisi pendidikan, serta Saudara Riko Saudur Panjaitan selaku pembahas seminar yang telah banyak memberi saran. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Taopik Ridwan dan tenaga kerja di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) Bogor, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada papa, mama, serta seluruh keluarga, atas doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, September 2014

(12)
(13)

8

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 6

Ruang Lingkup Penelitian 7

TINJAUAN PUSTAKA 7

Agribisnis Budidaya Temulawak 7

Risiko Agribisnis Hortikultura 9

Sumber-sumber Risiko Usaha Budidaya Hortikultura 9 Peluang dan Dampak Risiko Produksi Hortikultura 9 Strategi Alternatif Risiko Usaha Budidaya Hortikultura 10

KERANGKA PEMIKIRAN 11

Kerangka Pemikiran Teoritis 11

Definisi dan Konsep Risiko 11

Sumber-Sumber Risiko 12

Manajemen Risiko 14

Pengukuran Risiko 15

Penanganan Risiko 16

Kerangka Pemikiran Operasional 18

METODE PENELITIAN 20

Lokasi dan Waktu Penelitian 20

Jenis dan Sumber Data 21

Metode Pengumpulan Data 21

Metode Pengolahan dan Analisis Data 22

Analisis Kualitatif (Deskriptif) 22

Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko (Probabilitas) 22

Analisis Dampak Risiko 24

Pemetaan Risiko 25

Alternatif Strategi 26

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27

Sejarah Perusahaan 27

Organisasi dan Manajemen Kebun UKBB 28

Sumberdaya Perusahaan dan Kebun 29

Unit Usaha 30

Pengadaan Bahan Baku 30

Proses Budidaya 30

Proses Pasca Panen 31

Pemasaran (Distribusi) 33

HASIL DAN PEMBAHASAN 34

(14)

Analisis Probabilitas Risiko Produksi 39

Analisa Dampak Risiko Produksi 41

Pemetaan Risiko Produksi 43

Strategi Penanganan Risiko Produksi 45

KESIMPULAN DAN SARAN 49

Kesimpulan 49

Saran 49

DAFTAR PUSTAKA 50

(15)

DAFTAR TABEL

1 Nilai PDB Indonesia menurut lapangan usaha dan laju pertumbuhan

2011-2013 1

2 Perkembangan PDB hortikultura atas dasar harga berlaku di Indonesia tahun

2008 -2010 3

3 Perkembangan produksi tanaman biofarmaka di Indonesia 2009-2012 3 4 Jumlah produksi temulawak kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka 6

5 Luas lahan untuk beberapa komoditi di UKBB 27

6 Jumlah kegagalan produksi temulawak di Kebun Unit Konservasi

Budidaya Biofarmaka (UKBB) 35 7 Jumlah kematian temulawak untuk setiap sumber risiko 36 8 Perbandingan probabilitas risiko dari sumber risiko produksi 40 9 Dampak risiko dari masing-masing sumber risiko produksi 42 10 Status risiko dari sumber risiko produksi 43

DAFTAR GAMBAR

1 Risiko agribisnis 12 2 Proses pengelolaan risiko 15

3 Peta preventif risiko 16

4 Peta mitigasi risiko 17

5 Kerangka operasional penelitian 20

6 Peta Risiko 26

7 Struktur Organisasi Kebun UKBB 28

8 Ruang lingkup kegiatan di UKBB 30

9 Alur kegiatan budidaya temulawak UKBB 34

(16)
(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian merupakan subsektor agribisnis yang dapat diandalkan dalam pergerakan perekonomian Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari kontribusinya terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan nilai PDB Indonesia atas dasar harga berlaku, PDB tahun 2013 naik sebesar Rp 854,6 triliun yaitu dari Rp 8.229,4 triliun pada tahun 2012 menjadi sebesar Rp 9.084,0 triliun pada tahun 2013. Struktur produk domestik bruto menurut lapangan usaha dari tahun 2011 sampai 2013 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Nilai PDB Indonesia menurut lapangan usaha dan laju pertumbuhan tahun 2011-2013

Lapangan usaha

Atas dasar harga berlaku (Triliun Rupiah)

Laju Pertumbuhan 2012-2013

2011 2012 2013 Triliun Rupiah (%) Pertanian,perikanan,

kehutanan,dan peternakan

1.091,4 1.193,5 1.311,0 117,5 9,85

Pertambangan dan

penggalian 877,0 970,8 1.020,8 50,0 5,15

Industri pengolahan 1.806,1 1.972,5 2.152,6 180,1 9,13 Listrik, gas, dan air

bersih 55,9 62,2 70,1 7,9 12,70

Kontruksi 753,6 844,1 907,3 63,2 7,49

Perdagangan, hotel,

dan restoran 1.023,7 1.148,7 1.301,5 152,8 13,30

Pengangkutan dan

komunikasi 491,3 549,1 636,9 87,8 15,99

Keuangan,realestate,

dan jasa perusahaan 535,2 598,5 583,0 84,5 14,11

Jasa-jasa 785,0 890,0 1.000,8 110,8 12,45

Produk Domestik

Bruto 7.419,2 8.229,4 9.084,0 854,6 10,38

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2014

(18)

buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat-obatan (biofarmaka). Pengembangan tanaman biofarmaka dapat menciptakan lapangan kerja, sehingga memberikan tambahan penghasilan petani dan memberikan manfaat dalam bidang kesehatan.

Tanaman obat-obatan (biofarmaka) sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat-obatan herbal. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008) tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan yang dikonsumsi dari bagian tanaman berupa daun, bunga, buah, umbi (rimpang) atau akar. Tanaman biofarmaka pada tahun 2010 terdapat 13 komoditas unggulan antara lain temulawak, jahe, kejibeling, sambiloto, mengkudu, dringo, laos, kunyit, temuireng, kencur, kapulaga, temukunci dan lempuyang kemudian pada tahun 2011 bertambah menjadi 15 jenis tanaman dengan masuknya tanaman mahkota dewa dan lidah buaya. Komoditas tersebut dipilih dengan memperhatikan, bahwa 15 jenis tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi, mempunyai peluang pasar, dan potensi produksi yang tinggi, serta berpeluang dalam pengembangan teknologi1.

Peluang pengembangan obat tradisional Indonesia masih terbuka lebar, karena permintaan pasar yang terus meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi dan mahalnya harga obat sintetik. Obat alami yang minim efek samping dapat meningkatkan minat masyarakat, sehingga beberapa perusahaan industri farmasi nasional menawarkan produk obat alami dalam bentuk ekstrak tumbuhan obat (fitofarmaka) yang diolah dan dikemas secara modern. Menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sampai tahun 2011 terdapat 1.426 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari 319 industri berskala besar seperti PT Sidomuncul, PT Air Mancur, PT Nyonya Meneer, PT Mustika Ratu serta 1107 industri berskala kecil seperti Dayang Sumbi, Indo Farma danCV Temu Kencono2.

Penilaian terhadap kinerja sektor hortikultura juga dapat diukur dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Nilai produk domestik bruto (PDB) yang umum dipakai sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan peran dan kinerja suatu sektor usaha terhadap perekonomian nasional serta perkembangan sektor tersebut dari waktu ke waktu memperlihatkan bahwa sektor hortikultura memegang peranan strategis dalam memberikan kontribusi bukan hanya untuk PDB kelompok pertanian secara umum, tetapi untuk Indonesia secara nasional. Nilai produk domestik bruto (PDB) komoditas hortikultura mulai tahun 2008 hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.

1

Rosa. 2010. Tanaman Herbal. http://www.wordpress.com. [18 Maret 2011]

2

(19)

3

Tabel 2 Perkembangan PDB hortikultura atas dasar harga berlaku di Indonesia tahun 2008-2010

Kelompok Hortikultura Nilai PDB

2008 2009 2010

dalam milyar rupiah

Buah-Buahan 42.660 48.437 46.721

Sayuran 27.423 30.506 30.106

Tanaman Hias 5.085 5.494 5.039

Tanaman Biofarmaka 4.118 3.897 6.958

Total 79.286 88.334 88.824

Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura, 2011

Nilai produk domestik bruto (PDB) biofarmaka mengalami peningkatan disetiap tahunnya. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa kontribusi komoditas hortikultura cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008 hingga tahun 2010 dengan presentasi pertumbuhan yang berbeda-beda. Pada tahun 2008, secara keseluruhan komoditas hortikultura memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara sebesar Rp 4.118 milyar, tahun 2009 sebesar Rp 3.897 milyar dan tahun 2010 sebesar Rp 6.958 milyar. Peningkatan nilai produk domestik bruto dapat menjadi peluang perkembangan tanaman biofarmaka di Indonesia. Peluang perkembangan tersebut didorong dengan bertambahnya produksi tanaman obat (biofarmaka). Perkembangan produksi tanaman biofarmaka pada tahun 2009 sampai dengan 2012 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Perkembangan produksi tanaman biofarmaka di Indonesia tahun 2009- 2012

KOMODITAS Produksi Pertumbuhan

2009 2010 2011 2012 2011-2012

Kg %

Jahe 122.181.084 107.734.608 94.743.139 109.448.310 15,52 Lengkuas 59.332.313 58.961.844 57.701.484 48.959.625 -15,15 Kencur 43.635.311 29.638.127 34.016.850 39.687.597 16,67 Kunyit 124.047.450 107.375.347 84.803.466 89.580.450 5,63 Lempuyang 8.804.375 8.520.161 8.717.497 7.645.828 -12,29

Temulawak 36.826.340 26.671.149 24.105.870 43.229.709 79,33

Temuireng 7.584.022 7.140.926 7.920.573 8.123.842 2,57 Temukunci 4.701.570 4.358.236 3.951.932 4.456.541 12,77 Dringo 1.074.901 754.551 611.608 1.045.790 70,99

Rimpang 408.187.366 351.154.949 316.572.419 352.177.692 11,25

Kapulaga 25.178.901 28.550.282 47.231.297 32.062.491 -32,12 Mengkudu/Pace 16.267.057 14.613.481 14.411.737 12.570.867 -12,77 Mahkota Dewa 12.066.850 15.072.118 12.072.154 10.733.653 -11,09 Kejibeling 943.721 1.139.223 949.017 804.035 -15,28 Sambiloto 4.334.768 3.845.063 3.286.262 2.339.727 -28,80 Lidah Buaya 5.884.352 4.308.519 3.958.741 3.846.619 -2,83

(20)

Tanaman Biofarmaka yang tercantum dalam Tabel 3 terdiri dari 15 komoditas jenis rimpang dan non-rimpang. Komoditas-komoditas tersebut mengalami peningkatan produksi setiap tahunnya. Pertumbuhan yang cukup signifikan dari tahun 2011 hingga tahun 2012 pada temulawak sebesar 79,33%. Peningkatan persentase pertumbuhan temulawak tersebut menjadi peluang besar untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan tanaman temulawak sebagai bahan baku produksi.

Temulawak (Curcuma Xanthoriza ROXB) merupakan bahan yang sangat strategis untuk dikembangkan mengingat banyaknya manfaat yang ditunjukkan oleh bahan aktif kurkuminoid. Beberapa manfaat temulawak adalah dapat melancarkan ASI, antioksidan, menurunkan lemak darah dan dapat merangsang nafsu makan. Temulawak banyak digunakan sebagai bahan baku produksi obat herbal, karena temulawak mengandung salah satu senyawa aktif yaitu kurkuminoid. Hasil penelitian Liang (1985), kurkuminoid rimpang temulawak berkhasiat menetralkan racun, menghilangkan rasa nyeri sendi, menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah pembentukan lemak dalam sel hati dan sebagai antioksidan. Secara kimiawi, kurkuminoid pada rimpang temulawak merupakan turunan dari diferuloilmetan yakni senyawa dimetoksi diferuloilmetan (kurkumin) dan monodesmetoksi diferuloilmetan (desmetoksikurkumin). Menurut Sidik (1993) kandungan kurkuminoid dalam rimpang temulawak kering berkisar 3,16 persen. Sedangkan kadar kurkumin dalam kurkuminoid rimpang temulawak sekitar 58-71 persen dan desmetoksikurkumin berkisar 29-42 persen. Selain itu, temulawak juga mengandung senyawa-senyawa kimia yang dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit diantaranya jantung, diabetes, keputihan, dan darah tinggi. Trend back to nature mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi obat-obatan herbal. Selain minim efek samping dan harga obat herbal yang relatif murah, memanfaatkan temulawak sebagai obat herbal merupakan warisan budaya dari nenek moyang bangsa Indonesia. Fenomena ini baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak positif terhadap permintaan temulawak dipasaran, sehingga mengakibatkan permintaan dan nilai perdagangan temulawak cenderung mengalami peningkatan.

Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) merupakan salah satu unit usaha Pusat Studi Biofarmaka IPB yang bergerak dalam budidaya tanaman obat dan mengolah tanaman biofarmaka menjadi tanaman herbal. Perusahaan tersebut memiliki lahan seluas 2,8 Ha dan memproduksi 310 jenis komoditas tanaman obat. Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dalam menjalankan usahanya menghadapi risiko produksi. Risiko produksi tersebut salah satunya diindikasikan dari adanya fluktuasi produksi temulawak dalam menghasilkan simplisia selama bulan Maret 2012 hingga Februari 2013.

Sumber-sumber risiko yang telah disebutkan sebelumnya, belum dapat dipastikan mampu menggambarkan keseluruhan sumber risiko produksi yang masih mungkin terdapat dalam kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi yang benar-benar terdapat pada kegiatan budidaya temulawak.

(21)

5

temulawak, maka perlu dilakukan kegiatan untuk mengelola risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Pengambilan keputusan yang tepat dapat menentukan risiko yang dihadapi dapat dihindari ataupun dikurangi. Upaya-upaya tersebut untuk dapat meminimalisasi risiko yang akan dan belum terjadi. Perusahaan harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber yang menyebabkan terjadinya risiko. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi yang benar-benar terdapat pada kegiatan budidaya temulawak di Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB).

Perumusan Masalah

Pusat Studi Biofarmaka merupakan suatu lembaga yang meneliti dan mengembangkan tanaman biofarmaka. Pusat Studi Biofarmaka memiliki tiga sub divisi yaitu kebun Unit Konsevasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) sebagai tempat budidaya tanaman biofarmaka dan produksi simplisia basah dan simplisia kering, Laboratorium Pelayanan sebagai tempat penelitian dan pengembangan tanaman biofarmaka, dan PT Biofarmaka Indonesia sebagai unit yang bergerak dalam kegiatan produksi obat yang berbahan baku tanaman biofarmaka untuk dikomersialkan. Produk yang dihasilkan oleh Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka dari kegiatan budidaya adalah simplisia basah dan simplisia kering. Simplisia tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan herbal. Simplisia yang dihasilkan dari kegiatan budidaya haruslah terjaga kontinuitas produksinya. Kontinuitas produksi tanaman biofarmaka dipengaruhi oleh proses budidaya tanaman obat itu sendiri.

Kegiatan budidaya temulawak yang dilakukan sering menghadapi risiko yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor yang bersumber dari alam. Beberapa faktor yang diindikasikan sebagai sumber risiko produksi diantaranya perubahan musim, kesalahan pembudidaya dalam seleksi bibit, serangan hama dan penyakit. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan penurunan produksi temulawak sebagai bahan baku obat herbal. Salah satu indikasi adanya risiko produksi dalam kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dapat dilihat dari adanya fluktuasi produksi temulawak dengan satuan luas lahan yang sama pada bulan Maret 2012 hingga Februari 2013 yang dapat dilihat pada Tabel 4.

(22)

Tabel 4 Jumlah produksi temulawak di kebun unit konservasi budidaya biofarmaka

Sumber : Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka, 2013

Sumber-sumber risiko produksi berdasarkan keterangan yang diperoleh dari proses identifikasi awal pada kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka tentu belum dapat dipastikan akan menggambarkan keseluruhan faktor-faktor yang menjadi sumber risiko produksi. Oleh karena itu, menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi lainnya yang benar-benar terdapat pada kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dengan harapan dapat dihasilkan suatu strategi penanganan risiko yang dapat diterapkan di lokasi penelitian untuk meminimalkan dampak dan probabilitas dari sumber-sumber risiko tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Apa saja sumber-sumber risiko yang terdapat pada budidaya temulawak pada Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB)?

2. Bagaimana probabilitas dan dampak dari risiko dari sumber-sumber risiko produksi budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB)?

3. Bagaimana strategi dalam mengantisipasi risiko yang terjadi pada budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB)?

Tujuan Penelitian

(23)

7

1. Mengidentifikasi sumber-sumber risiko budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB)

2. Menganalisis probabilitas dan dampak risiko yang disebabkan sumber-sumber risiko produksi pada budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka.

3. Menganalisis strategi penanganan yang dapat dilakukan oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka untuk mengendalikan sumber-sumber risiko produksi dalam kegiatan budidaya temulawak.

Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup kajian masalah yang diteliti adalah analisis risiko budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Penelitian ini hanya mengkaji pada komoditas temulawak. Penentuan dari masing-masing sumber risiko dihitung dari estimasi jumlah kematian batang temulawak melalui perhitungan bobot dari masing-masing sumber kegagalan.

TINJAUAN PUSTAKA

Agribisnis Budidaya Temulawak

Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Batang temulawak memiliki daun 2-9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31-84cm dan lebar 10-18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43-80cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9-23cm dan lebar 4-6cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8-13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4,5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25-2cm dan lebar 1cm (Sardiantho, 2009).

(24)

yang terkandung dalam tepung temulawak berjumlah 3,16%. Kurkuminoid pada rimpang temulawak terdiri dari dua jenis yaitu kurkumin dan desmetoksikurkumin, mempunyai warna kuning, berbentuk serbuk dengan aroma yang khas, rasa sedikit pahit, tidak bersifat toksik, serta larut dalam aseton, alkohol, asam asetat dan alkali hidroksida (Purseglove, 1981). Selain itu, berdasarkan penelitian, manfaat temulawak kini diketahui juga dapat mengatasi penyakit anemia, menurunkan kolesterol, melancarkan peredaran darah, mengatasi gumpalan darah, mengobati demam, malaria, penyakit campak, mengatasi pegal linu, sakit pinggang, reumatik, mengobati keputihan, ambeien, sembelit, batuk, asma, radang tenggorokan, hingga radang saluran pernapasan, mengobati eksim, jerawat, radang empedu, serta meningkatkan stamina (Harlin, 2013).

Temulawak adalah bahan baku biofarmaka yang menduduki urutan kedua setelah jahe. Kebutuhan industri obat terhadap temulawak adalah 3.000 ton/tahun (Pusat Studi Biofarmaka IPB, 2002). Untuk memenuhi kebutuhan temulawak, maka diperlukan sistem budidaya yang berkelanjutan diantaranya dengan penggunaan benih unggul bermutu tinggi. Benih merupakan faktor input yang paling menentukan produktivitas tanaman disamping lahan untuk pertanian. Tingkat keberhasilan budidaya suatu tanaman lebih kurang 40 persen ditentukan oleh kualitas benih. Kebutuhan benih temulawak adalah 1,5-2 ton/ha. Mengingat kebutuhan benih yang sangat banyak, maka perlu diusahakan cara yang efisien dalam penggunaan benih, misalnya dengan memperkecil ukuran benih rimpang atau pemanfaatan rimpang cabang (Sukarman et al., 2011).

Persiapan benih dimulai dengan memisahkan rimpang induk dengan rimpang cabang sesuai dengan kebutuhan. Rimpang dibersihkan dari tanah, dan dicuci sampai bersih, kemudian rimpang induk dibelah membujur dan melintang sesuai perlakuan. Untuk memacu pertumbuhan tunas, benih/rimpang direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin konsentrasi 0,2% selama 30 menit, kemudian disemai dan ditutup dengan plastik hitam selama 1 minggu (Makin dan Rumayanto, 1985).

Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik organik maupun anorganik untuk mengganti kehilangan unsur hara dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor lingkungan yang baik (Sutedjo, 1994). Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambah persediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil tanaman (Sumarsono dan Sigit, 2001).

(25)

9

Dosis pupuk yang digunakan pada budidaya temulawak untuk lahan seluas 1 ha yaitu 20 ton pupuk kandang, 200 kilogram Urea, 200 kilogram SP-36, dan 200 kilogram KCl. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam, sedangkan SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam. Urea diberikan 3 kali, yaitu pada saat tanam, tanaman berumur 1 dan 2 bulan setelah tanam (BST) masing-masing 1/3 dosis (Rahardjo dan Rostiana, 2009).

Risiko Agribisnis Hortikultura

Beberapa penelitian terdahulu mengenai risiko, khususnya yang membahas tentang aspek produksi diperlukan sebagai informasi dalam melakukan penelitian. Hasil penelitian terdahulu diperlukan sebagai bahan pembelajaran untuk melakukan penelitian selanjutnya. Risiko agribisnis pada penelitian risiko produksi budidaya temulawak belum banyak dilakukan sehingga peneliti mengacu pada penelitian terdahulu terkait dengan risiko-risiko pada tanaman hortikultura. Risiko agribisnis pada budidaya temulawak meliputi sumber-sumber risiko, peluang dan dampak risiko, strategi alternatif,dan metode analisis risiko.

Sumber-Sumber Risiko Usaha Budidaya Hortikultura

(26)

Peluang dan Dampak Risiko Produksi Hortikultura

Peluang dan dampak pada risiko produksi tanaman hias dipladenia crimson oleh Sofiani (2011) mengemukakan bahwa risiko produksi tanaman hias

dipladenia crimson masih sangat tinggi yaitu kemungkinan terjadinya

penyimpangan hasil pada setiap kali produksi sebesar 44,5 persen dibandingkan dengan risiko produksi bunga potong mawar sebesar 23 persen (Permana, 2011). Wisdya (2009) menyatakan faktor cuaca merupakan status risiko terbesar dari risiko produksi anggrek Phalaenopsis. Status risiko merupakan perkalian dari probabilitas dan dampak yang terdapat dari sumber-sumber risiko yang terdapat pada masing-masing analisis risiko produksi tanaman hortikultura.

Asril (2011), Purwanti (2011), Sofiani (2011), dan Safitri (2008) menghitung penilaian risiko dengan cara menghitung nilai variance, coefficient variation dan standard deviation. Ketiga ukuran tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Nilai variance sebagai penentu ukuran nilai yang lain. Misal standard deviation merupakan akar kuadrat dari variance, sedangkan coefficient variation merupakan rasio dari standard deviation dengan nilai ekspektasi return. Nilai return yang diperoleh dapat berupa pendapatan, produksi, atau harga.

Strategi Alternatif Risiko Usaha Budidaya Hortikultura

Purwanti (2011) mengemukakan terdapat dua alternatif pengelolaan risiko dalam manajemen risiko produksi sayuran hidroponik yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif dilakukan dengan cara peningkatan pengaturan suhu green house dan sistem karantina, peningkatan kualitas perawatan, memperbaiki dan merawat fasilitas fisik, dan mengembangkan sumber daya manusia. Sedangkan strategi mitigasi yang dilakukan adalah sayuran yang terkena hama dan penyakit tidak dapat dijual sehingga disarankan untuk diolah menjadi pupuk kompos untuk dijual ke masayarakat sekitar, sayuran yang berbentuk kecil dijual dalam bentuk mix salad, dan sayuran yang rusak dijual ke masyarakat sekitar untuk dijadikan pakan ternak.

Strategi pengelolaan manajemen risiko produksi bawang merah dari hasil penelitian Utami (2009) yaitu pengaturan pola tanam bawang merah yang sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim. Dalam melakukan pengaturan pola tanam, petani bawang merah tidak hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu tahun (diversifikasi tanaman). Safitri (2008) dan Asril (2011) mengemukakan bahwa strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menangani risiko adalah cara diversifikasi produk dimana terdapat dua jenis komoditas dalam satu luasan lahan. Dengan adanya diversifikasi produk maka akan dapat menutupi kegiatan produksi yang mengalami penurunan. Dalam hal ini dapat dilakukan pola tanam yakni kegagalan pada salah satu kegiatan usahatani masih dapat ditutupi dari kegiatan usahatani lainnya. Oleh karena itu diversifikasi usahatani merupakan strategi yang baik untuk meminimalkan risiko sekaligus melindungi dari fluktuasi produksi.

(27)

11

pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tanaman seperti intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi dan terpaan angin dan air hujan serta organisme pengganggu tanaman, sehingga diperoleh lingkungan tempat tumbuh yang optimal.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari penelusuran teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian. Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini, akan dijelaskan sebagai berikut:

Definisi dan Konsep Risiko

Manusia selalu dihadapkan dengan risiko sehingga risiko menjadi bagian dari manusia. Begitu juga dengan perusahaan, perusahaan akan selalu berhadapan dengan risiko. Ketidakmampuan perusahaan dalam menangani berbagai risiko yang dihadapi akan merugikan perusahaan.

Istilah risiko dan ketidakpastian secara teoritis mempunyai pengertian yang berbeda, meskipun seringkali kedua istilah tersebut digunakan secara bersama-sama. Risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagai pembuat keputusan dalam bisnis (Robison dan Barry, 1987). Pada umumnya peluang terhadap suatu kejadian dalam kegiatan bisnis dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan data historis atau pengalaman selama mengelola kegiatan usaha. Adanya risiko dalam kegiatan bisnis seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap pelaku bisnis. Risiko menunjukkan kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian bagi pelaku bisnis yang mengalaminya (Harwood et al., 1999). Umar (1998) memberikan beberapa pengertian mengenai risiko, diantaranya (a) risiko adalah kesempatan timbulnya kerugian; (b) risiko adalah probabilitas timbulnya kerugian; (c) risiko adalah ketidakpastian; (d) risiko adalah penyimpangan aktual dari yang diharapkan dan; (e) risiko adalah probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan.

(28)

Pengaruh terjadinya risiko dari dalam perusahaan dapat berupa sumber daya manusia di perusahaan kurang ahli dibidangnya sehingga mempengaruhi produktivitas produk yang dihasilkan dan dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan. Selain itu, kondisi keuangan perusahaan juga akan mempengaruhi risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan, apabila perusahaan melakukan pinjaman dalam jumlah besar maka pendapatan dari perusahaan tersebut akan berkurang karena sebagian pendapatan perusahaan dikeluarkan untuk membayar bunga pinjaman. Terjadinya risiko dalam agribisnis dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Risiko Agribisnis

Sumber : Kountur, 2008

Kountur (2008) menjelaskan ada tiga unsur penting dari sesuatu yang dianggap sebagai risiko yaitu: (1) Merupakan suatu kejadian (2) Kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan, bisa terjadi atau tidak dan (3) Jika terjadi, akan menimbulkan kerugian. Menurut Darmawi (2005), risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan atau tidak

terduga. Penggunaan kata “kemungkinan” tersebut sudah menunjukkan adanya

ketidakpastian. Ketidakpastian merupakan kondisi yang menyebabkan timbulnya risiko, sedangkan kondisi yang tidak pasti tersebut timbul karena berbagai hal, antara lain:

1. Jarak waktu antara perencanaan kegiatan hingga kegiatan itu berakhir. Semakin panjang jarak waktu, maka akan semakin besar ketidakpastiannya.

2. Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan

3. Keterbatasan pengetahuan atau keterampilan mengambil keputusan.

Berdasarkan kejadian yang dialami pelaku bisnis, maka risiko dan ketidakpastian yang dihadapi oleh para pelaku bisnis dapat bersifat personal. Hal ini berarti diantara pelaku bisnis tertentu akan melihat suatu kejadian sebagai risiko karena mampu menentukan peluang kejadian tersebut dari pengalaman yang pernah dialami. Sedangkan pelaku bisnis lainnya melihat kejadian yang sama sebagai ketidakpastian karena sulit dalam menentukan peluang kejadian tersebut.

Salah satu indikasi adanya risiko dalam kegiatan bisnis dapat dilihat dari adanya variasi, fluktuasi atau volatilitas dari hasil yang diharapkan pelaku bisnis. Beberapa contoh indikasi adanya risiko dalam bisnis diantaranya adanya fluktuasi

Ketidakpastian

Input

Proses

Risiko

(29)

13

produksi, fluktuasi harga output, atau fluktuasi pendapatan untuk setiap satuan yang sama.

Sumber - Sumber Risiko

Menurut Harwood et al. (1999), ada beberapa sumber risiko yang mempengaruhi perusahaan baik langsung maupun tidak langsung antara lain: 1. Risiko pasar yaitu pergerakan harga yang berdampak negatif terhadap

perusahaan. Risiko pasar atau yang lebih dikenal dengan market risk merupakan risiko yang terjadi karena adanya pergerakan harga pada input dan output yang dihasilkan oleh perusahaan.

2. Risiko produksi yaitu risiko yang berasal dari kejadian-kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dan biasanya berhubungan dengan keadaan alam seperti curah hujan yang berubah secara tidak menentu, perubahan cuaca yang tidak sesuai dengan perkiraan, serta serangan hama dan penyakit.

3. Risiko institusional yaitu risiko yang terjadi karena adanya perubahan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti kebijakan harga bibit tanaman, kebijakan harga, kebijakan penggunaan bahan kimia, maupun kebijakan ekspor dan impor.

4. Risiko sumber daya manusia yaitu risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang berkaitan dengan perilaku manusia, maupun hal-hal yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti kesalahan dalam pencatatan data, kesalahan dalam memberikan pupuk, mogok kerja ataupun meninggalnya tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya.

5. Risiko finansial yaitu risiko yang dihadapi perusahaan dalam bidang finansial, seperti perubahan modal, perubahan bunga kredit bank maupun perubahan Upah Minimum Regional (UMR).

Berdasarkan beberapa klasifikasi sumber risiko menurut Harwood et al. (1999), maka sumber risiko yang secara umum dihadapi oleh Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) adalah risiko produksi.

Risiko juga dapat diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkannya, aktivitas yang dilakukannya, dan sudut pandang kejadian yang terjadi (Kountur, 2008):

1. Risiko dari Sudut Pandang Penyebab

Risiko jika diklasifikasikan dalam sudut pandang penyebab kejadian, risiko ada dua macam yaitu: (1) Risiko keuangan dan (2) Risiko Operasional. Risiko keuangan adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti risiko harga, tingkat bunga dan mata uang asing. sedangkan risiko operasional adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor non-keuangan seperti manusia, teknologi dan alam.

2. Risiko dari Sudut Pandang Akibat

(30)

keuntungan. Risiko spekulatif adalah risiko yang tidak saja memungkinkan terjadinya kerugian, tetapi juga memungkinkan keuntungan.

3. Risiko dari Sudut Pandang Aktivitas

Aktivitas yang dapat menimbulkan risiko, misalnya risiko pemberian kredit oleh bank disebut risiko kredit, seseorang yang melakukan perjalanan menghadapi risiko disebut risiko perjalanan, sehingga jumlah risiko dari sudut pandang aktivitas sebesar jumlah aktivitas yang ada.

4. Risiko dari Sudut Pandang Kejadian

Kejadian adalah salah satu bagian dari aktivitas, sehingga dalam suatu aktivitas pada umumnya terdapat beberapa kejadian. Risiko kejadian dinyatakan berdasarkan kejadiannya, misalnya terjadinya kebakaran maka disebut risiko kebakaran. Cara-cara mengelola risiko dapat diketahui dengan bentuk kejadian dari risiko tersebut.

Manajemen Risiko

Perusahaan dalam menjalankan kegiatannya selalu dihadapkan pada berbagai macam risiko, sehingga manajemen diharapkan dapat mengelola berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Menurut Kountur (2004), manajemen risiko adalah cara-cara yang digunakan untuk menangani berbagai permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko. Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Penanganan risiko yang baik dapat meminimalkan kerugian yang terjadi, sehingga biaya dapat menjadi lebih kecil dan perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Darmawi (2005) menyatakan bahwa manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi dalam pengambilan keputusan. Manajemen risiko sebagai pengelolaan variabilitas pendapatan oleh seorang manajer untuk mengurangi tingkat kerugian yang diakibatkan oleh keputusan yang diambil.

Menurut Kountur (2008) manajemen risiko perusahaan adalah cara bagaimana menangani semua risiko yang ada di dalam perusahaan tanpa memilih risiko tertentu saja. Penanganan risiko dapat dianggap sebagai salah satu fungsi dari manajemen. Ada beberapa fungsi manajemen yang telah diketahui yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengendalian (controling) atau dikenal dengan istilah POAC. Dengan demikian ditambahkan satu fungsi lagi yang sangat penting yaitu menangani risiko.

(31)

15

sangat diperlukan karena walaupun ada unit di dalam perusahaan yang melakukan pekerjaan manajemen risiko, bukan berarti tanggung jawab risiko lepas dari setiap manajer. Manajer yang membawahi suatu unit bertanggung jawab atas risiko yang terjadi pada unitnya (Kountur, 2008).

Tujuan manajemen risiko adalah untuk mengelola risiko dengan membuat pelaku usaha sadar akan risiko, sehingga laju organisasi bisa dikendalikan. Strategi pengelolaan risiko merupakan suatu proses yang berulang pada setiap periode produksi dapat dilihat pada Gambar 2.

PROSES OUTPUT

Gambar 2 Proses Pengelolaan Risiko Sumber : Kountur, 2008

Penanganan risiko yang ada dalam perusahaan diperlukan suatu proses yang dikenal dengan istilah proses pengelolaan risiko (Siregar, 2010). Proses manajemen atau proses pengelolaan risiko dapat dimulai dengan mengidentifikasi sumber risiko krusial apa saja yang terjadi di perusahaan. Sumber risiko ini dapat terbagi menjadi tiga bagian, yaitu risiko lingkungan, risiko proses, dan risiko informasi. Tahap ini akan menghasilkan output berupa daftar risiko yang kemudian akan dilakukan pengukuran risiko atau penilaian risiko. Setelah dilakukan penilaian terhadap risiko maka dapat dilakukan penanganan risiko dengan strategi penanganan risiko yang ada.

Pentingnya manajemen risiko diantaranya adalah untuk menerapkan tata kelola usaha yang baik, menghadapi kondisi lingkungan usaha yang cepat berubah, mengukur risiko usaha, pengelolaan risiko yang sistematis serta untuk memaksimumkan laba. Konsep manajemen risiko yang penting untuk penilaian suatu risiko diantaranya tingkat maksimum kerusakan yang akan dialami perusahaan jika terjadi suatu peristiwa yang menimbulkan risiko atau disebut dengan eksposur, besarnya kemungkinan suatu peristiwa yang berisiko, besarnya kerusakan yang akan dialami oleh perusahaan, waktu yang dibutuhkan untuk terekspos dalam risiko (Lam, 2007).

Evaluasi

Penanganan Risiko Pengukuran Risiko

Identifikasi Risiko Daftar Risiko

1. Peta Risiko

2. Status Risiko

(32)

Pengukuran Risiko

Risiko merupakan suatu kejadian dimana kejadian tersebut mengandung kemungkinan, yaitu bisa saja terjadi atau bisa saja tidak. Jika kejadian tersebut terjadi, maka ada akibat kerugian yang ditimbulkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kemungkinan terjadinya risiko maka akan semakin besar pula tingkat risikonya dan semakin tinggi akibat kerugian yang ditimbulkan dari adanya risiko maka akan semakin besar pula tingkat risikonya.

Pengukuran kemungkinan (probabbility) terjadinya risiko bertujuan untuk mengetahui risiko yang akan timbul atas pengambilan keputusan perusahaan. Menurut Darmawi (2005), sesudah risiko diidentifikasi, maka selanjutnya risiko tersebut harus diukur untuk menentukan derajat kepentingannya dan untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya. Sedangkan menurut Kountur (2008) pengukuran risiko dilakukan untuk mengetahui status risiko dan peta risiko. Status risiko menunjukkan urutan kejadian-kejadian yang berisiko. Status yang besar menunjukkan risiko yang besar dan status yang kecil menunjukkan risiko yang lebih kecil. Status risiko belum bisa memberikan informasi tentang apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, kejadian-kejadian yang berisiko (merugikan) yang telah teridentifikasi harus diketahui posisinya dalam peta risiko. Peta risiko adalah suatu grafik yang menggambarkan kedudukan risiko di antara dua sumbu dimana sumbu vertikal dari grafik tersebut menggambarkan kemungkinan dan sumbu horizontal menggambarkan akibat. Berdasarkan status risiko dan peta risiko, manajemen dapat melakukan penanganan risiko sesuai dengan posisi risiko yang telah terpetakan dalam peta risiko, sehingga proses penanganan risiko dapat dilakukan dengan lebih tepat sesuai dengan status risikonya.

Kountur (2006) menyatakan bahwa untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko digunakan nilai standar dengan menghitung rata-rata kejadian berisiko, nilai standar deviasi dari kejadian berisiko, dan mencari probabilitas terjadinya risiko produksi. Kemungkinan dan akibat yang terdapat dalam penelitian ini berupa penyimpangan yaitu penyimpangan produksi yang sebenarnya dengan produksi yang diharapkan untuk komoditi temulawak.

Penanganan Risiko

Menurut Kountur (2008) berdasarkan peta risiko dapat diketahui strategi penanganan risiko yang tepat untuk dilaksanakan. Strategi penanganan risiko dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Preventif

Preventif dilakukan untuk menghindari terjadinya risiko. Strategi ini dilakukan apabila probabilitas risiko besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya: (a) membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur, (b) mengembangkan sumber daya manusia dan (c) memasang atau memperbaiki fasilitas fisik. Penanganan risiko menggunakan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 3.

(33)

17

Besar

Kecil

Kecil Besar Dampak (Rp)

Gambar 3 Peta Preventif Risiko Sumber: Kountur, 2008

Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2. Kegiatan preventif yang dilakukan oleh perusahaan, maka risiko yang memiliki frekuensi kejadian besar akan pindah pada kuadran risiko dengan frekuensi kejadian kecil. Strategi untuk menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2 adalah strategi preventif. Strategi ini akan membuat sedemikian rupa sehingga risiko-risiko yang berada pada kuadran 1 bergeser ke kuadran 3 dan risiko-risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 4.

2. Mitigasi

Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan dengan menggunakan strategi mitigasi dapat bergeser ke kuadran yang memiliki dampak risiko yang kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian rupa sehingga risiko yang berada di kuadran 2 akan bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada di kuadran 4 akan bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko (Kountur, 2008). Mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 4.

Probabilitas (%)

Besar

Kecil

Kecil Besar Dampak (Rp)

Gambar 4 Peta Mitigasi Risiko Sumber: Kountur, 2008

Kuadran 1 Kuadran 2

Kuadran 3 Kuadran 4

Kuadran 1

Kuadran 2

Kuadran 3

(34)

Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Beberapa cara yang termasuk kedalam strategi mitigasi adalah sebagai berikut:

a. Diversifikasi

Diversifikasi adalah cara menempatkan aset dibeberapa tempat sehingga jika salah satu terkena musibah, maka tidak akan menghabiskan semua aset yang dimiliki. Diversifikasi merupakan salah satu cara pengalihan risiko yang paling efektif dalam mengurangi dampak risiko.

b. Penggabungan

Penggabungan ini merupakan salah satu cara penanganan risiko yang dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan kegiatan penggabungan dengan pihak perusahaan lain. Strategi ini contohnya adalah perusahaan melakukan merger atau melakukan akuisisi.

c. Pengalihan risiko

Pengalihan risiko (transfer of risk) merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak risiko ke pihak lain. Cara ini bertujuan untuk mengurangi kerugian yang dihadapi oleh perusahaan. Cara ini dapat dilakukan melalui asuransi, leasing, outsourcing dan hedging.

Asuransi dilakukan dengan cara mengasuransikan harta perusahaan yang dampak risikonya besar, sehingga mengurangi dampak kerugian dari risiko tersebut karena sudah dialihkan kepada pihak asuransi. Leasing adalah cara dimana suatu aset digunakan, tetapi kepemilikannya ada pada pihak lain. Jika terjadi sesuatu pada aset tersebut, maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas aset tersebut.

Outsourcing adalah cara dimana pekerjaan diberikan kepada pihak lain, sehingga kita tidak menanggung kerugian seandainya pekerjaan yang dilakukan gagal. Sementara itu, Hedging adalah cara pengurangan dampak risiko dengan cara mengalihkan risiko melalui transaksi penjualan atau pembelian. Beberapa cara Hedging diantaranya adalah forward contract, future contract, option dan swap.

Kerangka Pemikiran Operasional

(35)

19

Tuntutan akan permintaan pasar yang cukup tinggi menjadikan usaha budidaya tanaman biofarmaka menjadi usaha yang menjanjikan, tetapi usaha tersebut tidak bebas dari risiko sebagaimana usaha-usaha lainnya. Secara umum, risiko utama yang sering terjadi pada kegiatan budidaya tanaman biofarmaka adalah risiko produksi. Adanya risiko produksi tersebut menimbulkan hambatan untuk menghasilkan simplisia dengan kualitas dan kuantitas yang diharapkan.

Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) merupakan salah satu usaha yang bergerak dalam budidaya tanaman obat dan mengolah tanaman biofarmaka menjadi tanaman herbal. Perusahaan tersebut memiliki lahan seluas 2,8 Ha dan memproduksi 310 jenis komoditas tanaman obat. Penelitian ini akan diambil komoditas temulawak (Curcumae Xanthoriza Roxb). Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dalam menjalankan usahanya menghadapi risiko produksi. Risiko produksi tersebut salah satunya diindikasikan dari adanya fluktuasi produktivitas tanaman biofarmaka dalam menghasilkan simplisia selama bulan Maret 2012 hingga Februari 2013. Sementara itu, faktor-faktor yang terindikasi sebagai sumber risiko produksi diantaranya kondisi cuaca dan organisme pengganggu tanaman. Risiko produksi yang terjadi akan mengakibatkan fluktuasi produktivitas dan pendapatan perusahaan.

Sumber-sumber risiko yang telah disebutkan sebelumnya, belum dapat dipastikan mampu menggambarkan keseluruhan sumber risiko produksi yang masih mungkin terdapat dalam kegiatan budidaya tanaman biofarmaka yang dijalankan kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi yang benar-benar terdapat pada kegiatan budidaya temulawak.

Langkah awal yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi apa saja yang dihadapi oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Analisis lain yang akan dilakukan adalah dengan mengidentifikasi upaya penanganan risiko produksi yang dilakukan oleh kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Analisis ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif melalui observasi, wawancara, dan diskusi mengenai upaya penanganan risiko produksi yang telah diterapkan.

Analisis yang selanjutnya dilakukan adalah analisis probabilitas dan dampak risiko produksi budidaya temulawak akibat adanya sumber-sumber risiko. Pengukuran probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dilakukan dengan metode nilai standar (z-score), sedangkan pengukuran dampak risiko dilakukan dengan menggunakan analisis Value at Risk (VaR). Analisis dilakukan menggunakan data produksi temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dari bulan Maret 2012 hingga Februari 2013. Hasil analisis ini akan menunjukkan status risiko, sehingga dapat diketahui risiko mana yang lebih krusial dibandingkan dengan risiko-risiko produksi lainnya di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB).

(36)

kerangka pemikiran operasional penelitian secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Risiko Budidaya Temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka Bogor

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di salah satu unit usaha Pusat Studi Biofarmaka IPB yaitu Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka yang berlokasi di Blok C Biofarmaka, kebun percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Pemilihan kebun UKBB sebagai tempat penelitian dilakukan dengan sengaja

(purpossive) karena kebun UKBB merupakan salah satu instansi yang

membudidayakan tanaman obat yang ada di Indonesia khusunya di Jawa Barat dan mempertimbang adanya ketersediaan data yang mampu menjawab kebutuhan dalam penelitian yang akan dilaksanakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2013.

Luas lahan kebun UKBB ini adalah 2,8 hektar. Jumlah tanaman obat yang dibudidayakan saat ini ada 310 jenis tanaman obat dengan komoditi utamanya yaitu temulawak, sambiloto, dan mahkota dewa. Pusat Studi Biofarmaka juga memiliki kebun di Sukabumi dengan luas lahan 9000 meter persegi dan

Sumber-sumber Risiko

1. Kesalahan dalam melakukan seleksi bibit 2. Musim hujan

3. Organisme Pengganggu Tanaman

Fluktuasi Produksi Harga Produk

Status Risiko

Frekuensi Kejadian

(37)

21

membudidayakan delapan jenis tanaman obat. Pusat Studi Biofarmaka melakukan pembinaan terhadap dua petani tanaman obat di Sukabumi. Bibit untuk kebun di Sukabumi masih dipasok dari kebun yang ada di Cikabayan.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, pencatatan, dan wawancara langsung dengan pimpinan, pembimbing lapang, dan karyawan untuk mengetahui jumlah produksi, luas lahan produksi, proses budidaya tanaman obat, sumber risiko produksi, penyebab risiko yang terjadi di perusahaan dan mengetahui bagaimana proses penanganan risiko yang telah dilakukan perusahaan.

Data sekunder adalah jenis data yang sudah diterbitkan. Data sekunder berupa data statistik, buku, jurnal, dan bahan pustaka lain yang relevan dengan topik dan komoditas penelitian yang diperoleh dari studi literatur berbagai buku, skripsi, internet, dan instansi terkait seperti Direktorat Jendral Hortikultura, Perpustakaan Pertanian, PSESK, dan Pusat Studi Indonesia (LSI).

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian yang akan dilaksanakan dilakukan dengan cara:

1. Melakukan observasi atau pengamatan. Observasi dilakukan dengan melihat dan mengamati secara langsung proses budidaya temulawak yang dilakukan di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB).

2. Melakukan wawancara dan diskusi dengan manajer, pembimbing lapang dan karyawan, sehingga data yang digunakan menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan, khususnya mengenai hal-hal yang berpotensi menjadi sumber-sumber risiko produksi pada budidaya temulawak. Adapun data yang digunakan untuk penelitian ini dilakukan beberapa pendekatan dengan cara:

- Data hasil produksi diperoleh dari data historis perusahaan

- Data untuk menentukan berbagai sumber risiko yang terjadi dilapangan didapatkan melalui wawancara kepada pembimbing lapang yang juga sebagai koordinator di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB).

(38)

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dari hasil wawancara dalam mengidentifikasi sumber risiko produksi temulawak yang kemudian dianalisis dengan metode deskriptif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode nilai standar atau z-score dan metode Value at Risk. Metode z-score dilakukan untuk menghitung seberapa besar probabilitas sumber risiko yang berasal dari data produksi dan metode VaR dilakukan untuk menghitung dampak dari sumber risiko yang berasal dari data harga penjualan per kilogram temulawak yang merupakan sumber-sumber risiko produksi budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Data tersebut kemudian diolah menggunakan metode analisis risiko dengan bantuan Microsoft office excel. Pemetaan dilakukan untuk menggambarkan kedudukan risiko, sehingga dapat menetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai pada budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) menggunakan analisis deskriptif yaitu data kualitatif.

Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu sel kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu peristiwa pada masa mendatang (Siregar, 2010). Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Analisis deskriptif dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi sumber risiko produksi dalam kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Analisis dilakukan dengan mengaitkan teori risiko yang ada dengan kondisi di lapangan, sehingga didapatkan strategi penanganan risiko produksi temulawak untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh risiko produksi yang terdapat di budidaya temulawak pada kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dan pada akhirnya risiko produksi temulawak dapat diminimalisasi.

Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko (Probabilitas)

(39)

23

Kemungkinan terjadinya risiko dapat ditentukan dengan data historis yang ada pada masa sebelumnya. Data historis yang digunakan adalah data produksi dari bulan Maret 2012 hingga Februari 2013 yang dimiliki kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Probabilitas merupakan pengukuran pertama yang dilakukan secara kuantitas sehingga mengungkapkan seberapa besar probabilitas risiko terjadi atas pengambilan keputusan. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah dengan metode nilai standar (z-score).

Z-score adalah suatu angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu nilai menyimpang dari rata-ratanya pada distribusi normal. Dengan mengetahui z-score kita bisa mengetahui besarnya kemungkinan suatu ukuran atau suatu nilai yang berbeda lebih besar atau lebih kecil dari rata-ratanya. Pada penelitian ini yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi. Kountur (2008), menerangkan langkah yang dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini adalah: 1. Menghitung rata-rata kejadian berisiko

Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata temulawak yang diproduksi oleh Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka adalah:

N

Dimana :

xi = Jumlah kematian temulawak dari setiap siklus pada masing-masing sumber risiko

n = Jumlah setiap siklus kejadian pada setiap sumber risiko x = Nilai rata-rata kematian temulawak dari setiap sumber risiko 2. Menghitung nilai standar deviasi (s) dari kejadian berisiko

s =

2

Dimana :

s = Standar deviasi dari setiap sumber risiko budidaya temulawak xi = Nilai kematian temulawak per siklus dari setiap sumber risiko x = Nilai rata-rata kematian temulawak dari setiap siklus sumber risiko n = Jumlah setiap siklus kejadian pada setiap sumber risiko budidaya temulawak

3. Menghitung nilai standar (z-score) risiko

Z = x - S

Dimana :

z = Nilai z-score dari setiap sumber risiko

x = Batas risiko yang dianggap masih dalam taraf normal

(40)

Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z-score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z (normal).

4. Menghitung probabilitas terjadinya risiko produksi

Setelah nilai z-score dari produksi temulawak di kebun Unit Kebun Konservasi Biofarmaka (UKBB) diketahui, maka selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi tanaman biofarmaka berisiko mendatangkan kerugian. Dengan pencarian nilai z pada sisi kiri dan bagian atas, pertemuan antara nilai z pada isi tabel merupakan probabilitas yang dicari.

Analisis Dampak Risiko

Metode yang paling efektif untuk mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Setiap kali terjadi risiko akan memberikan dampak kerugian. Pada umumnya, kerugian dapat dihitung dalam rupiah sehingga terjadinya risiko pada kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dapat diketahui besarnya kerugian yang diderita dalam rupiah. Apabila ada kerugian yang diderita diwaktu yang lalu, berarti dapat dihitung besarnya kerugian yang akan diderita apabila risiko terjadi. Adapun rumus menghitung kerugian adalah :

Kerugian= Jumlah kematian temulawak x Harga temulawak

Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan budidaya temulawak di kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumber-sumber risiko. Kountur (2008), menerangkan rumus yang digunakan untuk menghitung VaR adalah:

VaR = + z

Dimana :

VaR = Besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh setiap sumber risiko

= Nilai rata-rata kerugian akibat setiap sumber risiko

z = Nilai z diperoleh dari tabel distribusi normal dengan nilai alfa 5 persen n = Banyaknya kerugian dari setiap siklus yang terdapat pada setiap sumber risiko

(41)

25

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menghitung VaR adalah sebagai berikut:

1. Menentukan risiko

2. Mengumpulkan data historis tentang besarnya kerugian dalam rupiah yang diderita atas risiko tersebut.

3. Menghitung rata-rata kerugian 4. Menghitung standar deviasi

5. Menentukan tingkat keyakinan yang diinginkan

6. Mencari nilai z sesuai dengan tingkat keyakinan yang telah ditetapkan 7. Menghitung Var

Pemetaan Risiko

Proses yang dilakukan sebelum merumuskan strategi penanganan risiko adalah melakukan pengukuran risiko. Pengukuran risiko yang dilakukan akan menghasilkan status risiko dan peta risiko. Status risiko adalah ukuran yang menunjukkan tingkatan risiko dari beberapa sumber risiko produksi yang akan diidentifikasi dan dianalisis. Status yang besar menunjukkan risiko yang besar dan sebaliknya status risiko yang kecil menunjukkan risiko yang lebih kecil. Nilai dari status risiko diperoleh dari perkalian antara probabilitas dan dampak dari masing-masing sumber risiko produksi temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB). Kountur (2006), menerangkan rumus yang digunakan untuk menghitung status risiko adalah:

Status Risiko (SR) = Probabilitas (P) x Dampak (D)

Dimana :

SR = Urutan dari setiap sumber risiko budidaya temulawak

P = Kemungkinan terjadinya risiko produksi pada budidaya temulawak D = Dampak atau kerugian dari setiap sumber risiko produksi temulawak

(42)

Kuadran 1 Kuadran 2

Kuadran 3 Kuadran 4

Gambar 6 Peta risiko

Sumber : Kountur, 2008

Pemetaan risiko dapat dilakukan dengan menggunakan matriks frekuensi atau kemungkinan dan signifikansi (dampak) risiko. Peta risiko adalah suatu grafik yang menggambarkan kedudukan risiko diantara dua sumbu dimana sumbu vertikal dari grafik tersebut menggambarkan kemungkinan, dan sumbu horizontal menggambarkan akibat. Diagram pemetaan yang dimaksud dapat dilihat pada gambar 3. Pada kuadran 1 didefinisikan sebagai area yang memiliki tingkat probabilitas dan dampak besar. Risiko yang terdapat pada kuadran ini termasuk ke dalam prioritas I (utama). Kuadran 2 merupakan area yang dihuni oleh risiko-risiko dalam prioritas II. Risiko yang terdapat pada kuadran ini memiliki tingkat dampak kejadian kecil, namun probabilitasnya besar bila risiko tersebut menjadi kenyataan. Kuadran 3 memiliki tingkat dampak kejadian yang besar namun probabilitas (frekuensi kejadiannya) rendah. Kejadian risiko yang terdapat pada kuadran ini akan menyebabkan gangguan yang tidak signifikan untuk mempengaruhi kegiatan produksi temulawak. Sedangkan kuadran 4 memuat risiko dengan tingkat probabilitas yang rendah. Risiko yang ada pada kuadran ini memiliki dampak kecil pada pencapaian tujuan dan target perusahaan.

Alternatif Strategi

Menurut Kountur (2008) sebelum dapat menangani risiko, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak. Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas besar dan kecil ditentukan oleh

Besar

Kecil

Kecil Besar

Probabilitas (%)

(43)

27

manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya 20 persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan dibawah 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur, 2008). Sedangkan untuk batas antara dampak besar dan dampak kecil dari risiko produksi budidaya temulawak di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka yaitu sebesar Rp 705.000.

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sejarah Perusahaan

Pusat Studi Biofarmaka merupakan suatu lembaga yang meneliti dan mengembangkan tanaman biofarmaka. Pusat Studi Biofarmaka berlokasi di Taman Kencana, Bogor. Pusat Studi Biofarmaka memiliki tiga sub divisi yaitu kebun Unit Konsevasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) sebagai tempat budidaya tanaman biofarmaka dan produksi simplisia basah dan simplisia kering, Laboratorium Pelayanan sebagai tempat penelitian dan pengembangan tanaman biofarmaka, dan PT Biofarmaka Indonesia sebagai unit yang bergerak dalam kegiatan produksi obat yang berbahan baku tanaman biofarmaka untuk dikomersialkan.

Penelitian ini dilakukan di Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) dibangun pada tahun 1999 dengan luas lahan sekitar 2,8 hektar. Luas lahan untuk masing-masing komoditi dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Luas lahan untuk beberapa komoditi di UKBB

Komoditi Luas Lahan (m2)

Temulawak 904

Jahe 30

Tempuyung 13

Temu putih 20

Kunyit 66

Kencur 40

Pegagan 60

Brotowali 30

Sambiloto 10

Meniran 10

Sidaguri 30

Mahkota Dewa 900

Jati Belanda 1500

Lidah Buaya 10

Mengkudu 10

(44)

Kebun ini berfungsi sebagai konservasi dan budidaya tanaman biofarmaka, sebagai tempat penelitian, dan sebagai kunjungan wisata alamiah. Kebun ini terdiri dari beberapa bagian yaitu areal display tanaman biofarmaka, areal budidaya (produksi) tanaman biofarmaka, serta areal pembibitan dan koleksi. Beberapa tanaman biofarmaka telah melakukan uji kandungan bioaktif sebagai bahan obat yang dilakukan pada laboratorium layanan di Pusat Studi Biofarmaka IPB.

Sub divisi PT Biofarmaka Indonesia sebagai Satuan Usaha Akademik (SUA) bertugas mengembangkan produk dan membuat contoh-contoh produk, baik berbasis penelitian dan paten serta memberikan berbagai informasi mengenai biofarmaka. Seiring dengan berkembangnya manajemen sub divisi dan adanya keinginan untuk mempertajam tujuan Pusat Studi Biofarmaka IPB mensinergiskan komersialisasi produk biofarmaka dan pelayanan masyarakat serta adanya permintaan dari para stackholder, maka pada tahun 2005 dibentuklah perseroan terbatas dengan nama PT Biofarmaka Indonesia atau disingkat dengan PT Biofarindo.

Organisasi dan Manajemen Kebun UKBB

Walaupun tiga sub divisi Pusat Studi Biofarmaka IPB dibawah satu naungan, namun ketiga sub divisi ini memiliki manajemen masing-masing, baik dalam organisasi, manajemen, maupun keuangan. Kebun UKBB tetap dibawah naungan Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB. Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB membawahi Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Budidaya Biofarmaka. Setelah Kepala Divisi tersebut langsung membawahi Manajer Operasional Kebun UKBB. Manajer Operasional Kebun UKBB membawahi Manajer Teknik Kebun UKBB dan pegawai. Struktur organisasi yang digunakan adalah struktur organisasi tipe lurus karena kebun UKBB mempunyai fungsi kerja yang terfokus pada produksi dan tidak terlalu membutuhkan banyak karyawan. Struktur organisasi kebun UKBB dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Struktur Organisasi Kebun UKBB (2012)

Sumber : Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka

Berikut adalah tugas dan wewenang dari setiap jabatan tersebut :

Kepala Pusat Studi Biofarmaka

Kepala Divisi Pengembangan SDA dan Budidaya Biofarmaka

Manajer Operasional UKBB

Manajer Teknik UKBB

Gambar

Tabel 1  Nilai PDB Indonesia menurut lapangan usaha dan laju pertumbuhan
Tabel 3  Perkembangan produksi tanaman biofarmaka di Indonesia tahun 2009-
Tabel 4  Jumlah produksi temulawak di kebun unit konservasi budidaya biofarmaka               Maret 2012-Februari 2013
Gambar 1  Risiko Agribisnis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan Kegiatan Pemuliaan Padi di Kebun Percobaan Instalasi Penelitian Muara - Bogor.. (Dibimbing oleh YUDIWANTI W. KUSUMO

Dari hasil kegiatan spesialisasi risiko produksi berdasarkan produktivitas pada tanaman brokoli, bayam hijau, tomat dan cabai keriting diperoleh bahwa risiko produksi yang

Pada Tabel 10 dapat dilihat tingkatan risiko dari empat sumber risiko produksi pada usaha budidaya jamur tiram di Yayasan Paguyuban Ikhlas. Dari informasi status risiko tersebut

Peranan penting Sub Bidang Seleksi dan Pembibitan pada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PKT KRB – LIPI) adalah

Identifikasi Tonggeret (Hemiptera: Cicadidae) di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas Berdasarkan Rekaman Suara.. Dibimbing oleh

Di Malaysia tanaman ini digunakan sebagai tanaman obat (akar dan daunnya) dan bahan baku bangunan (kayunya). Status konservasi M minutum sampai saat ini belum

Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui nilai ekonomi dari pusat konservasi tumbuhan Kebun Raya Bogor, intensitas pengunjung serta faktor- faktor yang

Penelitian penyerapan karbon dioksida oleh tanaman hutan kota di Kebun Raya