• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Titis S. Pitana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh: Titis S. Pitana"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Titis S. Pitana

(2)

Gagasan Nietzsche ini

didasarkan pada semangat pemberontakan atas

kemapanan yang dikuasai oleh agama dan ilmu yang berakibat munculnya

dominasi kekuasaan yang menjadikan manusia takluk dan menghamba pada

negara.

(3)

Sekilas tentang Nietzsche

Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra).Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zamannya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan).

Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme(Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung) dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).

(4)

Sekilas tentang Nietzsche...lanjutan

Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman

(Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern

Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para

penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut

Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk

mentransformasikan tragedi

hidup.

(5)

Nihilisme Nietzshean

mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan, ketika eksistensi dan kebenaran Tuhan

diragukan.

Hal ini segaris dengan pengalaman Descartes yang menemukan

eksistensi Tuhan ketika dia

memikirkannya.

(6)

Nihilisme di sini juga dipahami

sebagai 'kedatangan kekal yang

sama (atau dalam terminologi

Nietzsche: 'die Ewige Wiederkehr

des Gleichen') yang merupakan

siklus berulang-ulang dalam

kehidupan tanpa makna berarti

di baliknya seperti datang dan

perginya kegembiraan, duka,

harapan, kenikmatan, kesakitan,

ke-khilafan, dan seterusnya.

(7)

Apa yang terjadi ketika Tuhan mati atau sedang sekarat?

Setidaknya mati atau sekarat dalam pikiran manusia.

Kehidupan menjadi tidak bertujuan.

Oleh karenanya, manusia dengan sadar telah

menciptakan dan melahirkan tuhan-tuhan baru.

(8)

Kehendak akan kuasa, menurut Nietzsche,

mengandung arti penindasan yang disembunyikan dengan rapi. Atas dasar inilah

Nietzsche lalu menyimpul- kan, bahwa “pengetahuan”

dan “kebenaran” adalah versi-versi yang berhasil muncul dari kompetisi dari berbagai ide yang bersaing.

Inilah titik tolak Nietzsche untuk sampai pada

perspektivismenya, bahwa yang ada hanyalah ‘tafsir’

yang didasarkan pada

perspektif-perspektif dan bukan ‘fakta’ apa adanya.

(9)
(10)

Foucault disebut sebagai murid Nietzsche

terbesar yang menggugat otoritas kuasa yang didasarkan pada pemikiran bahwa “dunia

adalah kehendak untuk berkuasa dan tidak lain

dari itu” .

(11)

Genealogi Foucault memandang

kekuasaan tidak akan mati,

melainkan

bermetamorfosis menjadi

pendisiplinan

karena kekuasaan

dianggap sebagai

prinsip realitas dan

prinsip kebenaran.

(12)

Dalam melakukan

penelusuran historis, ia tidak menemukan kontinuitas

tetapi

diskotinuitas/keretakan

( repture ) sejarah, episteme, dan wacana (diskursus). Ia menegakkan prinsp

decentering of the subject . Jika terjadi pemusatan

subyek (subjek, logos) berbahaya, karena

menggiring pada dominasi

dan otoriterianisme.

(13)

Foucault, menolak pusat a t a u t i t i k t o l a k pemikiran. Kalau ‘pusat’

harus ada, maka pusat itu adalah bahasa atau teks. Oleh karenanya, setiap objek yang dapat ditangkap oleh manusia dapat dianggap sebagai teks.

Setiap teks sejatinya

merupakan diskursus

(wacana).

(14)

Rejim wacana dapat dilihat dalam berbagai peristiwa historis, dan di dalamnya terdapat permainan kebenaran (truth games). Kebenaran bukan sesuatu yang sudah ada, bukan pula sesuatu yang stabil, tetapi sesuatu yang terkait dengan sejarah yang selalu berubah. Kebenaran adalah hasil konstruksi budaya. Kebenaran berada dalam jaringan kuasa. Kebenaran juga dihasilkan oleh banyak bentuk paksaan atau pertentangan.

(15)
(16)

Menurut Giddens, terlalu prematur untuk membicarakan post-modern, karena masyarakat belum keluar dari modernitas dan masih hidup dalam fase radikalisasi modernitas. Masyarakat sedang bergerak dalam satu fase di mana akibat modernitas lebih radikal dan lebih universal dari pada fase

sebelumnya. Secara kualitatif muncul fenomena baru sebagai pembentukan ulang dunia modern dan mendorong masuk ke dalam pengalaman baru yang menggelisahkan.

Oleh karenanya, Giddens mengusulkan JALAN

KETIGA dengan teori STRUKTURASI

(17)

Strukturasi Giddens adalah penolakan untuk memandang agen dan struktur dalam keadaan

saling terpisah satu

sama lain.

(18)

Strukturasi Giddens memusatkan perhatian pada praktik sosial yang berulang yang menghubungkan antara agen dan struktur. Agen dan struktur ditempatkan sebagai s e s u a t u y a n g d w i - r a n g k a p , dimana seluruh tindakan sosial memerlukan struktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Dengan kata lain, agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas manusia. Proses seperti itu disebut sebagai proses dialektika, dimana praktik sosila (agen), struktur, dan kesadaran (keagenan) diciptakan.

(19)

Giddens menempatkan struktur dan pelaku sebagai dualitas yang saling mendukung Intinya adalah sebagai

berikut.

Pertama, manusia adalah subyek yang aktif dan kreatif.

Giddens menolak pendapat

bahwa manusia adalah boneka

ciptaan aturan-aturan dan

struktur-struktur eternal .

Menurutnya struktur berada di

luar individu.

(20)

Kedua, Struktur memiliki keberadaan yang sebenarnya dalam pola-pola pikir berisi aturan-aturan dan sumber-sumber (pengetahuan, kemampuan, dan kecakapan praktis) yang diperoleh seseorang melalui sosialisasi. Giddens menganggap struktur sebagai medium dan hasil dari tindakan. Struktur menjadi medium karena seseorang tidak dapat bertindak tanpa kemampuan dan pengetahuan yang sudah terbatinkan. Struktur menjadi hasil karena pola budaya yang luas direproduksi ketika digunakan. Strukturalisasi menangkap gambaran tentang hidup sosial sebagai proses timbal balik antara tindakan-tindakan individual dan kekuatan-kekuatan sosial. Manusia memproduksi tatanan sosial karena kebutuhan akan kepercayaan dan rasa takut akan ketidakpastian. Keinginan ini disebut keamanan ontologis. Kehidupan sosial dibuat rutin dan konvensional sehingga setiap orang merasa aman.

(21)

Dalam Strukturasi Giddens terdapat tiga elemen atau komponen

Rasionalisasi, maksudnya adalah

mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor, tetapi juga

memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien, karena aktor juga memiliki motivasi

untuk bertindak dan motivasi ini meliputi keinginan dan hasrat yang mendorong tindakan. Lebih jelasnya, sementara rasionalisasi dan

reflektivitas terus-menerus terlibat dalam tindakan, motivasi dapat

dibayangkan sebagai potensi untuk bertindak.

(22)

Kesadaran, dimana Giddens membedakan antara kesadaran

diskursif dan kesadaran praktis. Dalam kesadaran diskursif memerlukan

kemampuan dalam melukiskan

tindakan dalam kata-kata, sedangkan kesadaran praktis melibatkan tindakan yang dianggap benar oleh aktor, tanpa mampu mengungkapkan dengan kata- kata tentang apa yang dilakukan.

Selanjutnya, kesadaran praktis

merupakan sesuatu yang amat penting bagi teori strukturasi Giddens, artinya strukturasi Giddens lebih memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan aktor ketimbang apa yang

dikatakannya. Karenanya, penekanan pada kesadaran praktis ini adalah upaya membuat transisi halus dari agen ke agency (keagenan).

(23)

Agency (keagenan), yang dimaksud keagenan adalah peran individu, artinya apapun yang telah terjadi tidak akan menjadi struktur apabila individu tidak

mencampurinya. Hal tersebut berarti dalam keagenan kekuasaan yang lebih besar adalah pada agen, dimana agen mempunyai kemampuan untuk menciptakan

pertentangan dalam kehidupan sosial, dan bahkan

ditegaskan bahwa agen tidak akan berarti apa-apa apabila tanpa kekuasaan. Artinya, aktor berhenti menjadi agen

apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan.

(24)
(25)

Kata akhir tidak punya arti apa-apa karena tidak ada keyakinan lagi dengan sesuatu yang bisa disebut linieritas.

Sejarah pun tidak bisa dianggap selesai karena yang dianggap akhir dari sejarah sejatinya hanya berada pada tahap simulasi, seperti tubuh yang diawetkan. Pada tahap ini segala sesuatu tidak lagi nyata atau benar.

Sejarah tidak lagi mengandung makna karena telah berhenti mengacu kepada sesuatu yang nyata (real), tapi telah masuk dalam dunia hiperealitas, dimana segala sesuatu dimainkan secara berulang dan diulang lagi.

(26)

Realitas yang ada bukan lagi metafor dari realitas

sebelumnya karena yang ada hanya metamorfosis yang mendompleng metafor, yang merupakan titik radikal

sebuah sistem yang tidak ada lagi hukum atau tatanan

simbolis apa pun yang menjadi cara mengada

bahasa, kemungkinan adanya makna untuk

dikomunikasikan.

Metaforis adalah proses tanpa subjek, tanpa kematian, melampaui hasrat apa pun, yang ada hanyalah aturan- aturan permainan bentuk.

(27)

Kekuasaan sejatinya tidak ada karena

kekuasaan tidak

pernah memandang dirinya sebagai

kekuasaan. Kekuasaan hanyalah ruang

simulasi berdasarkan sudut pandang subjek.

Ruang simulasi dari hiperealitas dengan sudut pandang subjek itulah yang dapat melahirkan hasrat atau pesona karena objek hiperealitas tersebut merupakan simulakra dan telah bermetamorfosis menjadi tanda-tanda dan ditemukan akibat tanda-tanda tersebut.

(28)

Referensi

Dokumen terkait

Dibuat oleh: Zamtinah Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen tanpa ijin tertulis dari Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta Ketua Prodi : Diperiksa oleh:

Regresi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel tak bebas (dependent variable) dan variabel bebas (independent

Perancangan sistem informasi menggunakan Data Flow Diagram (DFD) yang digunakan untuk mendesaian sistem informasi musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang)

Dengan membandingkan nilai kuat medan listrik hasil simulasi pemetaan dan hasil perhitungan manual akibat dari perubahan kedalaman penanaman kabel diperoleh nilai

tiga dimensi yaitu (Law and Kelton, 1991) : a) Model Simulasi Statis dengan Model Simulasi Dinamis. Model simulasi statis digunakan untuk mempresentasikan sistem pada

Nomor 5: Pembeli B karena dengan gaya dorong yang sama antara pembeli A dan B, faktor yang mempengaruhi besarnya akselerasi kereta adalah massa benda. Pembeli A membawa kereta

Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini, meliputi : kondisi umum lokasi setiap kecamatan, jenis-jenis tumbuhan obat yang telah ditemukan, jenis-jenis penyakit yang

Upaya perkembangan Islam tergantung pada integritas dakwah yang sistematis, sehingga akan tercipta bila didukung oleh perangkat sarana dan prasarana yang memadai, seperti