• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Partisipan Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Partisipan Penelitian"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

48

HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Partisipan Penelitian 4.1.1. Lokasi Penelitian

SMK Tarunatama merupakan sekolah dengan status swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Sion Salatiga yang terletak di Jalan P. Diponegoro KM. 4, Desa Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Sekolah berdiri pada tanggal 8 November 2004. Pada tahun 2016 sekolah ini memiliki jumlah siswa keseluruhan 271 orang. Sekolah ini memiliki empat jurusan atau kompetensi keahlian yaitu Teknik Komputer dan Jaringan, Busana Butik, Teknik Sepeda Motor dan Akuntansi.

4.1.2. Partisipan Penelitian

Partisipan dalam penelitan ini yaitu semua siswi yang duduk di kelas X SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang sebanyak 31 partisipan.

4.2. Pelaksanaan penelitian 4.2.1. Tahap Persiapan

Peneliti melakukan penelitian di SMK Tarunatama Getasan, Kabupaten Semarang diawali dengan mengajukan izin penelitian secara tertulis melalui surat

(2)

pengantar dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana untuk melakukan studi pendahuluan pada bulan Februari dan kemudian surat ijin untuk melakukan penelitian pada bulan Mei – Juni 2016.

Setelah proses ijin selesai, peneliti diijinkan untuk melakukan penelitian dengan didampingi oleh salah satu staf pengajar (guru bimbingan konseling).

4.2.2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan pada 31 responden, yang dibagi dalam 5 gelombang sehingga pengisian kuesioner dapat didampingi dengan maksimal oleh peneliti. Pada penelitian ini kuesioner terdiri dari 29 pernyataan dan pertanyaan terkait pengetahuan dan sikap mengenai vulva hygiene dan kejadian keputihan.

4.2.3. Tahap Akhir Pelaksanaan

Pada tahap akhir, kuesioner yang sudah dibagikan kemudian diperiksa kembali oleh peneliti untuk memastikan bahwa semua item pernyataan dan pertanyaan sudah dijawab oleh para responden. Setelah itu peneliti melakukan skoring pada kuesioner tersebut untuk dilakukan pengolahan data.

(3)

4.3. Hasil Penelitian 4.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan untuk menentukan metode analisis yang akan digunakan dengan mengetahui data dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini menggunakan uji shapiro wilk karena jumlah responden yang sedikit (kurang atau sama dengan 50) (Sugiyono, 2010). Proses pengambilan keputusan didasarkan pada nilai p, jika nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdisitribusi tidak normal dan sebaliknya. Uji normalitas pada penelitian ini diketahui nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,270 > 0,05, yang artinya lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan data penelitian berdistribusi normal.

4.3.2 Uji Lineariatas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui bagaimana bentuk hubungan antara satu variabel bebas dengan variabel terikat (Sugiyono, 2010). Dikatakan linear jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Sebaliknya, data dikatakan tidak linear jika nilai signifikansi kurang dari 0,05.

Adapun ringkasan hasil uji linearitas sebagai berikut :

(4)

Tabel 4.1

Tabel Hasil Uji Linearitas

Variabel Sig Kriteria

X1*Y 0,806 Linear

X2*Y 0,981 Linear

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa nilai signifikasi semua variabel yang dihubungkan lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa antara varibel X berhubungan linear dengan variable Y.

4.3.3 Uji Homogenitas

Uji homogenitas untuk mengetahui varian dari beberapa populasi sama atau tidak. Pada uji homogenitas penelitian ini didapatkan nilai Asymp. Sig. 0,643 > 0,05.

Karena signifikasi lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata data mempunyai varian yang sama atau homogen.

4.3.3 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk melihat frekuensi pada setiap variabel yang digunakan baik variabel independent maupun dependent serta melihat gambaran demografis responden pada penelitian ini. Berikut adalah pembahasan mengenai analisis univariat yang dilakukan.

(5)

4.3.3.1 Demografi Responden Penelitian Berdasarkan Usia Demografi berikut ini bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi responden berdasarkan usia.

Tabel 4.2

Distribusi Responden berdasarkan usia di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang

Usia Frekuensi Persen (%)

14 Tahun 1 3,2 %

15 tahun 12 38, 7 %

16 Tahun 15 48,4 %

17 Tahun 3 9, 7 %

Jumlah Total 31 100 %

Tabel 4.2 di atas menjelaskan bahwa dari 31 responden, paling banyak responden berusia 16 tahun dengan presentase 48,4 % atau 15 orang dan yang paling sedikit adalah responden yang berusia 14 tahun dengan presentase 3,2 % sebanyak 1 orang.

4.3.3.2.Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Variabel Pengetahuan

Faktor pengetahuan disini adalah penilaian sejauh mana responden mengetahui tentang vulva hygiene dan kaitannya dengan kejadian keputihan terkait jenis- jenis keputihan, gejala keputihan, dan penanganan keputihan serta sikap vulva hygiene yang baik. Kriteria tinggi rendahnya pengetahuan ditentukan dengan presentase jumlah jawaban yang benar. Kategori baik jika

(6)

x ≥ 76 % (responden menjawab dengan benar 7 – 8 pernyataan), kategori cukup jika 56 % ≥ x < 75 % dari jawaban benar yang diberikan (responden menjawab dengan benar 5 - 6 pernyataan) dan kategori kurang jika <

56 % (responden menjawab dengan benar < 4 pernyataan). Total pernyataan untuk variabel ini ada 8 pernyataan yang ditunjukkan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3

Distribusi responden berdasarkan jumlah total masing- masing pernyataan tentang pengetahuan mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan pada siswi kelas X SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Kode Jenis Pernyataan

Jawaban Benar

Jawaban Salah

N % n %

B1 Membasuh atau membersihkan organ kewanitaan yang benar adalah dengan menggunakan sabun

21 67,7 10 32,2

B2 Mengganti pakaian dalam 1 kali dalam 1 hari sudah cukup

24 77,4 6 22,6 B3 Larutan antiseptik khusus vagina

baik digunakan setiap hari

17 54,8 14 45,1 B4 Membersihkan alat kelamin (vagina)

lebih baik selalu menggunakan larutan antiseptik khusus vagina setiap hari.

22 71 9 29

B5 Keputihan selalu disebabkan oleh kebersihan alat kelamin (vagina) yang buruk.

20 64,5 11 35,5

B6 Rasa gatal pada saat keputihan selalu normal

14 45,1 17 54,8 B7 Keputihan yang tidak normal adalah

yang berwarna bening seperti lendir

17 54,8 14 15,1 B8 Penggunaan pantyliners yang

dipakai selama lebih dari 6 jam meningkatkan resiko terjadi keputihan.

24 77,4 7 22,6

(7)

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pernyataan yang paling banyak jawaban “benar” oleh responden yaitu pernyataan dengan kode B2, B4 dan B8, sedangkan jawaban yang paling sedikit jawaban “benar”

yaitu pernyataan dengan kode B6. Berdasarkan kriteria hasil pengetahuan responden maka dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Tabel 4.4

Hasil pengukuran Variabel Pengetahuan pada siswi kelas X di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten

Semarang

Kategori Interval Frekuensi Persen (%)

Kurang < 56 % 8 25,8

Cukup 56 % ≥ x < 75 % 9 29,0

Baik x ≥ 76 % 14 45,2

Jumlah 31 100

Berdasarkan data pada tabel 4.4 nampak bahwa pengetahuan responden terdistribusi pada katagori baik dengan presentase 45,2 %, kategori cukup sebanyak 29,0

% dan kategori kurang sebanyak 25,8 %. Dari presentase yang ada ditemukan bahwa pengetahuan kebanyakan siswi terkait hal ini terletak pada kategori baik.

4.3.3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Sikap Faktor sikap yang dimaksud disini adalah penilaian sejauh mana sikap responden mengenai vulva hygiene

(8)

dan kaitannya dengan kejadian keputihan. Pada penelitian ini, sikap dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Terdapat 10 pernyataan dalam bentuk skala likert dengan total total maksimal 30 dan total total minimal 0. Kemudian dilakukan analisis dari total total untuk melihat atau mengklasifikasikan tingkatan sikap yang dimiliki responden, dimana rentang total dicari dengan rumus sebagai berikut (Umar, 2003) :

b n RS m

Keterangan

RS : Rentang Total m : Total tertinggi item n : Total terendah item b : Banyaknya Kategori

Berdasarkan rumus di atas rumus maka dapat dilihat bahwa kriteria rentang pengklasifikasian sikap untuk kategori baik adalah jika total total 22 – 33, kategori cukup jika total total 11–21, sedangkan kategori kurang jika total total > 11. Berikut adalah distribusi jawaban pada penelitian ini.

(9)

Tabel 4.5

Distribusi responden berdasarkan jumlah total masing- masing pernyataan tentang sikap mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan pada siswi kelas X SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa pernyataan yang paling banyak dijawab “benar” oleh responden yaitu pernyataan dengan kode C 10, sedangkan jawaban yang paling sedikit jawaban benar yaitu pernyataan dengan kode C1, C4, C5. Berdasarkan kriteria hasil maka sikap responden dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Kode Jenis Pernyataan Distribusi Jawaban (%)

STS TS S SS

C1 Kebersihan organ genetalia adalah hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya keputihan

- - 42 58

C2 Cara yang benar untuk membasuh daerah genitalia yaitu dari arah depan (vagina) kebelakang (anus)

6,4 - 25,8 67,8

C3 Membasuh alat genital dari depan ke belakang berfungsi untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina

3,2 - 25,8 71

C4 Cairan antiseptik pada daerah genetalia boleh dipakai setiap hari.

3,2 16,1 22,5 58 C5 Pemakaian cairan antiseptik khusus vagina

dapat menganggu keseimbangan bakteri normal dalam vagina.

3,2 25,8 12,9 58

C6 Saat menstruasi seharusnya mengganti pembalut 2-3 x sehari

6,45 3,2 19,3 71 C7 Pantyliners yang digunakan terlalu lama > 6

jam dapat meningkatkan resiko terjadinya keputihan

- 12,9 25,8 61,2

C8 Untuk selalu menjaga kebersihan daerah kelamin jangan menggunakan kloset duduk umum yang basah

22,5 77,4

C9 Jika terjadi keputihan yang sukar sembuh dengan pengobatan biasa tidak perlu dilakukan pemeriksaan rutin kepada dokter

3,2 16,1 9,7 71

C10 Apabila terdapat cairan vagina yang berwarna kekuningan hingga kehijauan dan berbau busuk, tidak harus segera diobati

3,2 3,2 9,7 83,8

(10)

Tabel 4.6

Hasil pengukuran Variabel Sikap pada siswi kelas X di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Kategori Interval Frekuensi Persen (%)

Kurang >11 0 0

Cukup 12 – 21 13 41,9

Baik 22 – 33 18 58,1

Jumlah 31 100 %

Berdasarkan data pada tabel 4.6, nampak bahwa sikap responden terdistribusi pada kategori baik dengan presentase 58,1 %, kategori cukup sebanyak 41,93 % dan kategori kurang 0 %. Dari presentase yang ada, ditemukan bahwa tingkatan sikap siswi memiliki nilai yang besar pada kategori baik.

4.3.3.4 Kejadian Keputihan

Kejadian keputihan yang dilihat pada bagian ini adalah jawaban pengalaman kejadian keputihan yang dialami responden. Pada penelitian ini digunakan 11 pertanyaan terkait karakteristik pada saat keputihan seperti warna, bau, gatal atau tidak dan frekuensi cairan yang keluar. Selanjutnya responden dikelompokkan menurut kategori keputihan fisiologis dan patologis. Pada penelitian ini responden yang menyatakan mengalami <5 gejala positif dikelompokkan menjadi keputihan fisiologis.

Responden yang menyatakan mengalami ≥ 6 gejala positif

(11)

dikelompokkan menjadi kelompok keputihan patologis.

Berikut adalah analisis total total pada kuesioner tentang kejadian keputihan.

Tabel 4.7

Distribusi responden berdasarkan kejadian keputihan yang pernah dialami siswi kelas X di SMK Tarunatama Kecamatan

Getasan, Kabupaten Semarang

Pengalaman Keputihan Frekuensi Persen (%)

Ya 31 100

Tidak 0 0

Jumlah 31 100

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa seluruh responden dalam penelitian ini pernah mengalami keputihan (100 %). Distribusi karakteristik gejala keputihan yang dialami oleh responden pada penelitian ini (table 4.8), diketahui bahwa responden yang mengalami keputihan dalam jumlah banyak yaitu 93,5 %, yang mengalami perubahan bau tidak sedap sebanyak 74,2 %, berbau amis seperti bau ikan sebanyak 19,3 %. Responden dengan perubahan warna cairan keabu-abuan sebanyak 3,2 %, perubahan warna cairan pekat susu sebanyak 74,2 %.

Responden dengan perubahan kekentalan cairan keputihan yaitu sebanyak 80,6 %. Responden dengan keputihan yang disertai gejala penyerta cairan berbuih menyerupai air sabun sebanyak 22,5 % , yang mengalami nyeri saat BAK sebanyak 58,0 %, yang mengalami gatal sebanyak 100 %

(12)

dan yang mengalami iritasi (kemerahan) sekitar vagina sebanyak 32,2 %.

Tabel 4.8

Distribusi responden berdasarkan karakteristik gejala keputihan pada siswi kelas X di SMK Tarunatama Kecamatan

Getasan, Kabupaten Semarang

Kategori Frekuensi Persen (%)

Jumlah Banyak 29 93, 5

Perubahan Bau : - Berbau tidak sedap

- Berbau amis seperti bau ikan

23 74,2

6 19,3

Perubahan Warna : - Berwarna Jernih - Berwarna Keabu-abuan - Berwarna Pekat susu

9 29,0

1 3,2

23 74,2

Cairan Kental 25 80,6

Gejala yang menyertai :

- Cairan berbuih menyerupai air sabun

- Nyeri saat BAK - Gatal

- Iritasi (kemerahan) sekitar Vagina

7 22,5

18 58,0

31 100

10 32,2

Berdasarkan data distribusi karakteristik keputihan yang dialami responden pada table 4.8 , maka dapat dikelompokan kategori kejadian keputihan responden sebagai berikut :

(13)

Tabel 4.9

Distribusi responden berdasarkan tanda-tanda keputihan patologis keputihan pada siswi kelas X di SMK Tarunatama

Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Karakteristik Keputihan

Tanda - tanda keputihan patologis yang ada

Frekuensi Persen (%)

Tidak ada Tanda -

(+) 1 1 3,2

(+) 2 (+) 3

(+) 4 1 3,2

(+) 5 8 25,8

(+) 6 14 45,1

(+) 7 4 12,9

(+) 8 2 6,4

(+) 9 1 3,2

(+) 10 (+) 11

Jumlah 31 100 %

Berdasarkan tanda dan gejala pada table 4.9 maka dapat kita simpulakan sebagai berikut :

Tabel 4.10

Hasil pengukuran Variabel kejadian keputihan pada siswi kelas X di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan, Kabupaten

Semarang

Kategori Frekuensi Persen (%)

Normal 10 32, 3

Tidak Normal 21 67, 7

Jumlah 31 100

(14)

Berdasarkan data pada tabel 4.10 dapat dilihat bahwa hasil pengukuran kejadian keputihan menunjukan sebagian besar responden (67,7 %) mengalami keputihan yang tidak normal dan 32,3 % responden mengalami keputihan yang normal.

4.4. Analisis Bivariat

Analisis bivariat ini dapat berfungsi untuk melihat apakah ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

4.4.1 Hubungan Antara Pengetahuan mengenai Vulva Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Tabel 4.11

Analisa Hubungan Antara Pengetahuan mengenai Vulva Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Keputihan Total P Value

Tidak Normal Normal

Pengetahuan

Kurang

7 1 8

87,5% 12,5% 100,0%

Cukup 8 1 9 0,027

88,9% 11,1% 100,0%

Baik 6 8 14

42,9% 57,1% 100,0%

Total 21 10 31

67,7% 32,3% 100,0%

Tabel tabulasi silang 4.10 di atas menjelaskan bahwa pengetahuan siswi mengenai vulva hygiene dan

(15)

hubungannya dengan kejadian keputihan menunjukan responden dengan tingkat pengetahuan kurang yang mengalami keputihan patologis yaitu 7 orang (87,5 %).

Responden dengan tingkat pengetahuan cukup yang mengalami keputihan patologis yaitu 8 orang (88,9 %).

Responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan patologis yaitu 6 orang (42,9 %).

Sedangkan responden dengan tingkat pengetahuan kurang yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (12,5 %).

Responden dengan tingkat pengetahuan cukup yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (11,1 %).

Responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 8 orang (57,1 %).

Dari hasil uji statistik kedua variabel dengan menggunakan Chi-Square Tests, diketahui nilai Asymp.

Sig. (2-sided) 0,027 < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan mengenai vulva hygiene dengan kejadian keputihan.

(16)

4.4.2 Hubungan Antara Sikap mengenai Vulva Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Tabel 4.12

Analisa Hubungan Antara Sikap mengenai Vulva Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Keputihan Total P Value Tidak Normal Normal

Sikap

Cukup

Count 12 1 13

% within Sikap 92,3% 7,7% 100,0%

Baik

Count 9 9 18 0,013

% within Sikap 50,0% 50,0% 100,0%

Total

Count 21 10 31

% within Sikap 67,7% 32,3% 100,0%

Tabel tabulasi silang 4.12 di atas menjelaskan bahwa sikap siswi mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan menunjukan responden dengan tingkat sikap cukup yang mengalami keputihan patologis yaitu 12 orang (92,3 %). Responden dengan tingkat sikap baik yang mengalami keputihan patologis yaitu 9 orang (50,0 %).

Sedangkan responden dengan tingkat pengetahuan cukup yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (7,7 %).

Responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 9 orang (50,0 %).

(17)

Dari hasil uji statistik kedua variabel dengan menggunakan Chi-Square Tests, diketahui nilai Asymp.

Sig. (2-sided) 0,013 < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap mengenai vulva hygiene dengan kejadian keputihan.

4.5 Pembahasan

4.5.1. Karakteristik Responden 4.5.5.1 Umur Responden

Umur adalah waktu sejak lahir atau pertama kali diadakan (Hoetomo, 2005). Dari analisis univariat dalam penelitian ini diperoleh bahwa umur responden pada penelitian ini yaitu 14 - 17 tahun. Rata-rata usia responden ini dapat digolongkan dalam kategori remaja menengah (Wong, 2008). Menurut Hurlock (2004), masa remaja adalah masa terjadinya proses pematangan organ reproduksi.

4.5.5.2 Pendidikan Responden

Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan mempengaruhi bagi kehidupan manusia. Menurut Azwar (2000), pendidikan akan membuat seseorang terdorong untuk mencari tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diterima kemudian akan menjadi pengetahuan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi tanggapan terhadap sesuatu

(18)

yang datang dari luar. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan terakhir responden yaitu sekolah menengah pertama (SMP) dan sedang menempuh pendidikan di Sekolah menengah kejuruan (SMK) kelas X jurusan akuntansi dan busana butik.

4.5.2. Pengetahuan Responden

Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan siswi terdistribusi pada kategori baik dengan presentase 45,2% (14 Responden), kategori cukup sebanyak 29,0% (9 Responden) dan kategori kurang sebanyak 25,8% (8 responden). Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Menthari Mokodongan (2015) tentang hubungan tingkat pengetahuan mengenai keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri di Manado dan Kotamobagu didapatkan hasil bahwa 68 % responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Berdasarkan distribusi jawaban responden tentang variabel pengetahuan, maka dapat kita lihat bahwa sebagaian besar responden tahu mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan, tetapi belum secara menyeluruh. Responden banyak menjawab “tidak tepat”

pada pernyataan seputar gejala-gejala keputihan dan hal

(19)

yang menyebabkan keputihan patologis dalam hal ini tentang penggunaan larutan anti septik.

Berdasarkan informasi dari responden dan guru di sekolah, siswi di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang belum pernah mendapat penyuluhan tentang keputihan secara khusus dari fasilitas kesehatan terdekat dan dalam silabus pembelajaran di sekolah tidak diajarkan materi tentang organ reproduksi dan keputihan sehingga sebagian dari responden hanya mencari informasi melalui internet. Hal-hal seperti ini tentunya mempengaruhi pengetahuan responden terkait vulva hygiene dan hubungannya dengan keputihan akibatnya ada sebagian responden belum memahami atau mengetahui tentang keputihan secara baik dan benar.

4.5.3. Sikap Responden

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswi terdistribusi pada kategori baik dengan presentase 58,1 % (18 orang), kategori cukup sebanyak 41,9 % (13 orang).

Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adawiyah (2015) pada siswi SMA se-derajat di wilayah Tangerang Selatan menyatakan bahwa 51,9 % memiliki sikap positif dan 48,1 % memiliki sikap negatif tentang kesehatan reproduksi dan kaitannya dengan kejadian keputihan.

(20)

Variabel sikap dalam penelitian ini diukur berdasarkan penanyaan langsung dan skala sikap melalui kuesioner.

Berdasarkan distribusi jawaban responden tentang variabel sikap, maka dapat kita lihat sikap responden mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan

sudah baik dan ada beberapa pada kategori cukup.

Responden banyak menjawab “tidak tepat” pada pernyataan pentingnya kebersihan organ genetalia kemudian hal yang menyebabkan keputihan dan hubungannya dengan penggunaan cairan antiseptik.

4.5.4. Kejadian Keputihan

Berdasarkan data pada tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil pengukuran kejadian keputihan menunjukan sebagaian besar responden dengan presentase 67,7 % (21 Orang) mengalami keputihan yang patologis dan 32,3 % (10 orang) mengalami keputihan yang fisiologis. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Adawiyah (2015) pada siswi SMA se-derajat di wilayah Tangerang Selatan yang menyatakan bahwa 53,3 % mengalami keputihan patologis dan 46,7 % mengalami keputihan fisiologis. Dalam penelitian ini didapatkan data yang mengarah pada keputihan yang bersifat patologis yaitu keputihan disertai

(21)

bau tidak sedap, cairan berwarna tidak jernih, gatal di daerah kemaluan dan frekuensinya banyak.

4.5.5. Hubungan Antara Pengetahuan mengenai Vulva Hygiene dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Berdasarkan hasil uji statistik kedua varibel, diketahui nilai Asymp. Sig. (2-sided) 0,027 < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan mengenai vulva hygiene dengan kejadian keputihan. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Annisa (2013) pada remaja berusia 13 – 17 tahun di kawasan pondok Cabe Iilir yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian keputihan (p value = 0,008).

Pengetahuan siswi mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan menunjukan bahwa responden dengan tingkat pengetahuan kurang yang mengalami keputihan patologis yaitu 7 orang (87,5 %) lebih banyak daripada yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (12,5 %). Responden dengan tingkat pengetahuan cukup yang mengalami keputihan patologis yaitu 8 orang (88,9 %) juga lebih banyak daripada responden dengan

(22)

tingkat pengetahuan cukup yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (11,1 %). Responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan patologis yaitu 6 orang (42,9 %) lebih sedikit daripada responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 8 orang (57,1 %). Dari hasil penelitian dapat kita lihat bahwa sebagian responden yang mengalami keputihan patologis merupakan responden dengan pengetahuan cukup dan kurang. Menurut Tanuwidjaya (2002), kesehatan seorang remaja dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki dimana ketika seorang remaja mengalami gangguan kesehatan, mereka dapat segera mengatasi sedini mungkin berdasarkan apa yang diketahui oleh remaja tersebut.

Berdasarkan hasil di atas maka dapat kita lihat bahwa pengetahuan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap apa yang harus dilakukan oleh seorang individu, ketika individu mempunyai pengetahuan yang baik terkait keputihan maka individu akan menghindari perilaku yang menyebabkan keputihan patologis. Ada juga penelitian yang pernah dilakukan oleh Amelia (2007) mengenai gambaran tingkat pengetahuan remaja putri di SMP Al-ikhlas Surabaya didapatkan hasil bahwa sebagian besar siswi memiliki

(23)

pengetahuan yang kurang tentang keputihan. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian kali ini, yang disebabkan karena perbedaan tingkat umur responden dan tingkat pendidikan SMP dan SMA. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa umur seseorang akan sangat berpengaruh pada tingkat pengetahuan seseorang. Responden pada penelitian ini merupakan klasifikasi remaja pertengahan dengan ciri khas remaja pertengahan yaitu remaja sedang mengembangkan cara berpikir mereka untuk dapat mengambil keputusan sendiri (Wong, 2008). Ketika seorang remaja memiliki pengetahuan yang baik maka akan mempersuasif remaja tersebut untuk berupaya supaya keputihan patologis tidak terjadi atau dapat mencegahnya. Adawiyah (2015) mengatakan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang kurang akan sangat mempengaruhi terbentuknya perilaku yang tidak baik atau sebaliknya. Oleh sebab itu semakin tinggi pengetahuan maka semakin kecil juga resiko terjadinya keputihan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit (Effendi, 2009).

(24)

4.5.6. Hubungan Antara Sikap mengenai Vulva Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Siswi Kelas X Di SMK Tarunatama Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Sikap siswi mengenai vulva hygiene dan hubungannya dengan kejadian keputihan menunjukan responden dengan tingkat sikap cukup yang mengalami keputihan patologis yaitu 12 orang (92,3 %) lebih besar daripada responden dengan tingkat sikap cukup yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 1 orang (7,7 %).

Responden dengan tingkat sikap baik yang mengalami keputihan patologis yaitu 9 orang (50,0 %) sama banyak dengan responden dengan tingkat pengetahuan baik yang mengalami keputihan fisiologis yaitu 9 orang (50,0 %). Dari hasil uji statistik kedua variabel dengan menggunakan Chi- Square Tests, diketahui nilai Asymp. Sig. (2-sided) 0,013 <

0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap mengenai vulva hygiene dengan kejadian keputihan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Wahyu Harjani (2007) di SMA Tunas Patria Ungaran, bahwa ada hubungan antara sikap remaja putri dengan kejadian keputihan. Namun hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Adawiyah (2015) dimana pada penelitian yang dilakukan tidak terdapat hubungan

(25)

antara sikap kesehatan reproduksi dengan kejadian keputihan yang berarti bahwa individu dengan sikap negatif maupun positif terhadap kesehatan reproduksi mempunyai peluang yang sama untuk terjadinya keputihan patologis.

Sikap adalah respon atau reaksi seseorang yang belum dalam bentuk perilaku terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2007). Perilaku tertutup ini memerlukan respon dan stimulus, hasil yang akhir dari sikap masing masing orang tentunya berbeda-beda tergantung jika seseorang menyukai stimulus tersebut maka akan mendekat dan sebaliknya (Budiman, 2013). Teori yang mendukung penelitian ini adalah teori yang dikemukakan Bloom, bahwa sikap sebagai bagian afektif yang selanjutnya akan menimbulkan respon dan akan diteruskan untuk mengambil suatu tindakan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa teori dan hasil penelitian terdahulu mendukung hasil penelitian ini, bahwa sikap yang baik kemungkinan besar akan memberikan pandangan seseorang untuk berperilaku baik pula, sehingga dalam hal ini remaja putri lebih meminimalkan kemungkinan terjadinya keputihan.

Notoadmodjo (2007) mengungkapkan bahwa dalam pembentukan perilaku, seseorang akan melalui beberapa

(26)

proses terlebih dahulu diantaranya yaitu pembentukan sikap. Oleh sebab itu dalam meningkatkan kesehatan organ reproduksi terkait keputihan, remaja putri sudah seharusnya memiliki sikap yang mendukung pencegahan dan penanganan keputihan seperti sikap yang baik dan benar mengenai vulva hygiene yang kemudian dapat mengaplikasikannya dalam bentuk perilaku yang baik dan benar pula. Dengan demikian semakin baik sikap remaja putri maka peluangnya untuk mengalami keputihan yang bersifat patologis akan semakin kecil.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan dan dari beberapa penelitian serupa, peneliti berpendapat bahwa sebagian besar ibu hamil trimester III mengalami gangguan

Dari hasil penelitian tingkat pengetahuan responden tentang Activity Daily Living (ADL) yang telah dilakukan terhadap 36 responden keluarga pasien stroke, kurang

Pada tabel 4.31 dapat diketahui bahwa dari 94 responden (100%), terdapat 0 responden (0%) menjawab “Sangat Tidak Setuju” mengenai pernyataan bahwa responden memahami isi

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 111 responden diketahui bahwa responden yang obesitas ternyata lebih banyak mengalami kejadian hipertensi yakni berjumlah 76

Lalu responden juga kurang setuju dengan penyataan bahwa responden mengetahui pemberitaan selebritis Gading dan Gisel pertama kali dari situs berita Tribunnews.com dengan jumlah

Berdasarkan tabel 4.2.27 menunjukan hasil dari banyaknya responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 48% responden bahwa Majalah Kehutanan Indonesia memiliki

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari berbagai macam sumber, responden 2 awalnya mengetahui KB Suntik atas saran dari bidan yang menolong responden, dalam

Dari data yang berhasil dikumpulkan berdasarkan pengetahuan responden terhadap tata cara penulisan daftar pustaka dengan benar dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat