• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 Anak usia 1-3 tahun berada pada masa pertumbuhan cepat setelah masa bayi.

Meskipun lajunya menurun dibanding saat bayi, pada masa ini berat dan panjang badan anak akan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0.23 kg dan 1 cm setiap bulannya. Perkembangan kognitif dan emosional juga terus meningkat, bertambah keterampilannya sejalan dengan bertambah usianya (Wooldridge, 2011). Agar tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, maka diperlukan dukungan gizi yang yang baik (National Health and Medical Research Council, 2012).

Namun demikian, seperti halnya laju pertumbuhan yang menurun, pada usia 1-3 tahun terjadi pula penurunan nafsu dan asupan makan (Wooldridge, 2011).

Sehingga tidak jarang ibu mengeluh adanya kesulitan makan pada anak, terutama variasi pangan yang sedikit atau pilih-pilih makanan (picky eating) (Ekstein et al., 2010). Perilaku sulit makan dapat berawal dari pola makan ibu yang kurang baik, sehingga semakin bervariasi makanan ibu, maka anak akan semakin mudah menerima berbagai macam makanan (Ashman et al., 2014; Fisk et al., 2011).

Sebaliknya, ibu dengan kebiasaan makan yang buruk juga akan mendapati anaknya lebih suka mengkonsumsi makanan serupa (Gugusheff et al., 2013). Cara ibu dalam memberikan makan juga memiliki pengaruh pada perilaku makan anak.

Tekanan yang diberikan ibu atau pengasuh dalam memberikan makan dapat menyebabkan anak menjadi picky eater (Galloway et al., 2005; Gregory et al., 2010; Powell et al., 2011).

Pola pemberian makan pada awal kehidupan juga sangat berpengaruh pada perilaku makan anak selanjutnya. Pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan, terbukti dapat mengurangi 4 kali risiko anak menjadi pemilih makanan. MP-ASI hendaknya diberikan tidak terlalu dini ataupun terlambat. Pemberian MP-ASI sebelum 6 bulan, akan meningkatkan risiko anak menjadi picky eater sebesar 2,5 kali (Shim et al., 2011). Idealnya variasi makanan padat hendaknya dikenalkan

(2)

pada rentang usia 6-9 bulan, karena anak akan menjadi lebih pemilih apabila makanan dikenalkan saat usianya lebih dari 9 bulan (Coulthard et al., 2009).

Picky eater merupakan masalah yang serius. Tergantung dari metode yang

digunakan, prevalensi picky eater bervariasi antara 5,6 - > 50% (Tharner et al., 2014). Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa prevalensi sulit makan pada anak pra sekolah terkait picky eater antara lain kurangnya variasi pangan (58.1%), penolakan pada sayur, buah, daging, dan ikan (55,8%), dan kesukaan pada metode pemasakan tertentu sebesar 51,2% (Shim et al., 2011). Dilihat dari usia, prevalensinya juga secara konsisten meningkat sejalan dengan peningkatan usia dari 4-24 bulan, yaitu berkisar antara 17-47% pada laki-laki dan 23-54% pada perempuan (Carruth et al., 2004). Sedangkan penelitian Cano et al. (2015) menunjukkan bahwa prevalensi picky eater tertinggi pada usia 3 tahun (27,6%) apabila dibandingkan dengan usia 1,5 maupun 6 tahun. Di Indonesia, hasil penelitian Imawati (2010), yang mengalami sulit makan sebesar 23,9%, yang 45,5% diantaranya adalah picky eater.

Masalah makan pada anak dapat berakibat jangka panjang pada pertumbuhan dan perkembangan. Anak picky eater akan mendapatkan zat gizi dari makanan yang terbatas dalam hal variasinya, sehingga berpotensi mengalami kekurangan gizi, dan risiko lebih besar pada usia kurang dari 3 tahun (Ekstein et al., 2010).

Dubois et al. (2007) juga menemukan bahwa picky eater memiki risiko 2 kali lebih besar untuk menjadi underweight pada usia 4.5 tahun dibandingkan anak yang tidak pernah menjadi picky eater. Underweight akan mengganggu perkembangan kecerdasan, proses belajar, lebih rentan terhadap infeksi, meningkatkan keparahan penyakit, hingga meningkatkan mortalitas (Ekstein et al., 2010)

Berdasarkan latar belakang di atas dan masih terbatasnya penelitian mengenai picky eater pada anak di Indonesia khususnya Yogyakarta, maka peneliti tertarik

melakukan penelitian guna mengetahui apakah variasi pangan ibu, lama ASI saja, usia mulai MP-ASI, variabilitas pangan pada usia dini, serta tekanan untuk makan berhubungan dengan terjadinya picky eater pada anak usia 2-3 tahun, di wilayah kerja Puskesmas Gamping II, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

(3)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah variasi pangan ibu berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

2. Apakah lama ASI saja berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

3. Apakah usia mulai makanan padat berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

4. Apakah variabilitas pangan pada usia dini berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

5. Apakah tekanan untuk makan berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

6. Apakah variasi pangan ibu berhubungan dengan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun?

7. Apakah lama ASI saja berhubungan dengan variasi pangan pada anak usia 2- 3 tahun?

8. Apakah usia mulai makanan padat berhubungan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun?

9. Apakah variabilitas pangan pada usia dini berhubungan dengan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun?

10. Apakah tekanan untuk makan berhubungan dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui hubungan variasi pangan ibu dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun.

2. Mengetahui hubungan lama ASI saja dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun.

3. Mengetahui hubungan usia mulai makanan padat dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun.

(4)

4. Mengetahui hubungan variabilitas pangan usia dini dengan kejadian picky eater pada anak usia 2-3 tahun.

5. Mengetahui hubungan tekanan untuk makan dengan kejadian picky pada anak usia 2-3 tahun.

6. Mengetahui hubungan variasi pangan ibu dengan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun.

7. Mengetahui hubungan lama ASI saja dengan variasi pangan pada anak usia 2- 3 tahun.

8. Mengetahui hubungan usia mulai makanan padat dengan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun.

9. Mengetahui hubungan variabilitas pangan usia dini variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun.

10. Mengetahui hubungan tekanan untuk makan dengan variasi pangan pada anak usia 2-3 tahun.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman peneliti mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan picky eater pada anak usia 2-3 tahun.

2. Bagi Peneliti Lain

Sebagai bahan acuan atau referensi bagi penelitian selanjutnya.

3. Bagi Pembuat Kebijakan

Memberi gambaran besar masalah picky eater pada anak usia 2-3 tahun di Sleman, Yogyakarta untuk selanjutnya dapat diambil langkah penanganan, sehingga dapat mencegah dampak buruk lebih lanjut.

4. Bagi Masyarakat

Mengidentifikasi dan menangani picky eater pada anak usia 2-3 tahun utamanya di lokasi penelitian agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

(5)

E. Keaslian Penelitian 1. Persamaan

Variabel yang diteliti pada penelitian di bawah ini (Tabel 1) meliputi variabel variasi pangan ibu dan anak, pola pemberian ASI dan MP-ASI, tekanan saat pemberian makan, dan kesulitan makan pada anak. Terdapat kesamaan variabel dengan variabel yang akan diteliti, namun tidak ada satu penelitian dari Tabel 1 yang mencakup semua variabel yang akan diteliti oleh peneliti.

Persamaan yang lain terdapat pada salah satu penelitian yang menggunakan desain cross sectional seperti pada penelitian yang akan dilakukan, serta persamaan metode penentuan picky eater dengan salah satu penelitian.

2. Perbedaan

Penelitian yang telah ada (Tabel 1) tidak mencakup keseluruhan variabel yang akan diteliti pada satu penelitian, setiap penelitian memiliki perbedaan baik pada variabel bebas maupun terikat. Perbedaan yang lain pada subyek, sebagian besar desain penelitian, dan tempat penelitian. Namun demikian, hal yang paling membedakan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian yang telah ada terletak pada penilaian variasi pangan ibu dan anak yang menggunakan skor variasi pangan dalam 1 minggu.

(6)

No Peneliti Jurnal Judul Subyek Metode Variabel Hasil 1 Tharner et

al. (2014)

International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity

Toward an operative diagnosis of fussy / picky eating : a latent profile approach in a population- based cohort

4914 anak usia 4 tahun pada populasi berbasis kohort

Kohort prospektif

Bebas: Perilaku makan Terikat: Picky/Fussy eatingin children

Prevalensi fussy eating sebesar:

5.6%. Fussy eater lebih berasal dari keluarga berpendapatan lebih rendah, asupan sayuran lebih rendah, asupan gula-gula dan snack lebih tinggi, dan lebih underweight saat usia 4 tahun.

2 Galloway et al.

(2005)

Journal of the American Dietetic Association

Parental Pressure, Dietary Patterns, and Weight Status among Girls Who Are “Picky Eaters”

173 anak perempuan kulit putih pada usia 7 dan 9 tahun beserta ibunya.

Kohort prospektif

Bebas: asupan buah dan sayur pada ibu dan penggunaan tekanan saat memberikan makan saat anak berusia 7 tahun Terikat : picky eating dan asupan makanan saat anak berusia 9 tahun.

Ibu dengan konsumsi sayur dan buah yang lebih banyak akan lebih tidak menekan anak untuk makan dan anak menjadi lebih tidak picky, serta mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah. Anak picky eater lebih sedikit mengkonsumsi sayur dan buah.

3 Coulthard et al., (2009)

Maternal and Child Nutrition

Delayed introduction of lumpy foods to children during the complementary feeding period affects child ’ s food acceptance and feeding at 7 years of age

7821 ibu dengan anak yang lahir di tahun 1991/1992

Kohort prospektif

Bebas: Pengenalan makanan padat pada berbagai usia

Terikat:Intake makanan dan kesulitan makan saat anak berusia 7 tahun

Anak-anak yang dikenalkan makanan padat setelah 9 bulan akan makan dengan variasi lebih sedikit dibanding yang

dikenalkan pada usia 6-9 bulan.

Pada usia 7 tahun mereka juga lebih memiliki masalah makan.

4 Fitriani, et al. (2009)

Publikasi Ilmiah FKM Unsri

Gambaran penyebab kesulitan makan pada anak prasekolah usia 3-5 tahun di Perumahan Top Amin Mulya Palembang

59 anak prasekolah usia 3-5 tahun

Cross sectional

Merupakan penelitian deskriptif mengenai penyebab kesulitan makan pada anak

Proporsi sulit makan: 59,3 % dan variasi makan anak sedang sebesar 22%. Anak yang sulit makan, makan dengan disuapi dan makan sambil bermain.

(7)

No Peneliti Jurnal Judul Subyek Metode Variabel Hasil 5 Fisk et al.

(2011)

British journal of Nutrition

Influences on the quality of young children ’ s diets : the importance of maternal food choices

1640 ibu dan anak usia 3 tahun di Inggris

Kohort prospektif

Bebas: kualitas diet ibu Terikat: kualitas diet anak.

Ibu dengan kualitas diet yang baik, usia lebih tua, pendidikan lebih tinggi, IMT lebih rendah, tidak merokok, dan hidup dengan pasangan, akan cenderung memiliki anak dengan kualitas diet yang baik.

6 Shim et al.

(2011)

Journal of the American Dietetic Association

Associations of infant feeding practices and picky eating behaviors of preschool children

129 ibu yang memiliki anak usia 2-3 tahun

Retrospektif Bebas: Praktek pemberian makan saat bayi

Terikat: Perilaku picky eater saat pra sekolah

Pengenalan MP-ASI sebelum 6 bulan meningkatkan risiko picky eater sebesar 2.5 kali, sedangkan ASI eksklusif 6 bulan

menurunkan risiko picky eater hingga 4 kali.

7 Powell et al. (2011)

Appetite Food avoidance in children . The influence of maternal feeding

practices and behaviours

104 ibu dan anaknya yang berusia 3-6 tahun di Inggris

Cross sectional

Bebas: Umur, jenis kelamin, dan temperamen anak, pengendalian makan oleh ibu dan praktek pemberian makan.

Terikat: Perilaku penolakan makan pada anak.

Pemberian tekanan pada anak saat makan secara signifikan menjadi prediktor dari perilaku penolakan makanan pada anak.

8 Imawati (2010)

Skripsi Kaitan antara pengasuhan dan kesulitan makan dengan status gizi balita di Kelurahan Loktabat Selatan Kotamadya Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan

92 ibu dan balita

Cross sectional

Bebas: Pengasuhan anak dan kesulitan makan Terikat: Status gizi balita

Tidak ada kaitan bermakna antara pengasuhan dengan kesulitan makan balita dan status gizi balita, namun ada kaitan

bermakna antara kesulitan makan dan status gizi balita.

Referensi

Dokumen terkait

Dari lima gelombang data, penelitian ini menggu- nakan data dari gelombang tiga (tahun 2000) dan lima (tahun 2014) dimana sampel yang diambil adalah anak usia 15-17 tahun pada

Additional future research should investigate whether the reliability and validity of responses to branched and unbranched questions are the same across

Pada Biaya Overhead untuk pembebanan bahan pembantu dan pabrik misalnya pada biaya listrik dan biaya sewa, dan juga belum memasukkan biaya penyusutan.. Untuk

X di Surabaya ini, peneliti hanya melakukan audit operasional untuk aktivitas yang terkait proses penjualan saja dengan jangka waktu pengambilan data dari bulan Juni hingga

Hal ini diduga unsur hara yang berasal dari kompos TKKS lebih mencukupi dan tersedia untuk diserap akar tanaman kedelai sehingga mampu meningkatkan hasil bobot biji.. Pemberian

Oleh karena itulah perbuatan zina yang dilakukan oleh orang telah menikah (Zina muhshan) termasuk salah satu dari tiga orang yang darahnya diharamkan. Diriwayatkan oleh

Cipta, 2004), hal.. dalam belajar mata pelajaran tertentu. Dalam proses pembelajaran anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Secara umum

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif antara profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap harga saham.. Dengan menggunakan taraf signifikan sebesar 5%