i
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN ALAT UKUR ISLAMIC PERSONALITY SCALE (IPS)
Oleh :
Cintami Farmawati, M.Psi
Mendapatkan Dana Penelitian BOPTN Tahun 2018
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
TAHUN 2018
Kategori: Penelitian
Pembinaan/Kapasitas Pemula
ii
PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN ALAT UKUR ISLAMIC PERSONALITY SCALE (IPS)
Oleh :
Cintami Farmawati, M.Psi
Mendapatkan Dana Penelitian BOPTN Tahun 2018
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
TAHUN 2018
iii LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
A. Judul : Penyusunan dan Pengembangan Alat Ukur Islamic PersonalityScale (IPS)
B. Bentuk Penelitian : Lapangan
C. Kategori : Penelitian Pembinaan/Kapasitas Pemula D. Peneliti
a. Nama Lengkap : Cintami Farmawati b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Pangkat/Gol/Ruang : III/b
d. NIP : 19860815 201608 D2 105 e. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
f. Bidang Keahlian : Psikologi
g. Jurusan/Prodi : Tasawuf dan Psikoterapi E. Anggota Peneliti : -
F. Unit Kerja : FUAD IAIN Pekalongan G. Jangka Waktu : 4 (empat) bulan
H. Biaya Penelitian : Rp. 12.500.000,-
(Dua Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)
Pekalongan, 17 September 2018 Mengetahui,
Ketua LP2M IAIN Pekalongan Peneliti
Dr. Maghfur, M.Ag Cintami Farmawati, M.Psi NIP. 19730506 200003 1 003 NIP. 19860815 201608 D2 105
Disahkan,
Rektor IAIN Pekalongan
Dr. Ade Dedi Rohayana, M.Ag
NIP. 197101151998031005
iv SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Cintami Farmawati, M.Psi. Atas nama kejujuran akademik, dengan ini menyatakan bahwa hasil penelitian ini adalah karya sendiri, bukan hasil plagiasi karya orang lain/skripsi/tesis/disertasi, dan bukan tema riset yang sedang diteliti atau diajukan ke lembaga donor. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis/diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan isi pernyataan ini, maka saya bersedia mengembalikan dana bantuan penelitian dan menerima sanksi dari Lembaga.
Demikian surat pernyataan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Pekalongan, 17 September 2018 Yang Menyatakan,
Cintami Farmawati, M.Psi (Peneliti) (………..)
v KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah peneliti telah dapat menyusun laporan penelitian, yang berjudul “Penyusunan dan Pengembangan Alat Ukur Islamic Personality Scale (IPS)”. Penyusunan laporan penelitian ini dijelaskan secara ringkas tentang beberapa hal yang terkait dengan penyelenggaraan penelitian seperti: pengertian dan tipologi kepribadian dalam Islam, karakteristik kepribadian Islam, perumusan tujuan, materi dan mekanisme penyusunan dan pengembangan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS).
Atas terselesaikannya penelitian ini, peneliti mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada: (1) Dr. H. Ade Dedi Rohayana, M.Ag (Rektor IAIN Pekalongan) yang telah mendukung penelitian dosen; (2) Dr. Maghfur, M.Ag (Ketua LP2M IAIN Pekalongan) yang telah mengkoordinir penelitian, meningkatkan kemampuan peneliti, mengadakan kegiatan ilmiah berkaitan penelitian serta pengurusan HAKI; (3) Mahasiswa/wi IAIN Pekalongan, Universitas Pekalongan dan Stikes Muhammadiyah Pekalongan, atas kesediaannya menjadi responden penelitian.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT peneliti berserah diri dan sadar bahwa penelitian ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh kerena itu, sangat diperlukan kritik dan saran untuk perbaikannya. Mudah-mudahan penelitian ini bermanfaat dan dianggap sebagai amal salih dan jariyah yang dapat menghantarkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun akhirat. Aamiin!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pekalongan, 17 September 2018
Peneliti
vi DAFTAR ISI
Halaman Cover ... ii
Lembar Identitas dan Pengesahan ... iii
Surat Pernyataan Keaslian ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi... vi
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel ... vi
Daftar Lampiran ... vi
Abstrak ... xi
Bab I : Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian... 4
D. Manfaat Penelitian... 5
Bab II : Tinjauan Pustaka ... 6
A. Teori Islamic Personality Scale ... 6
B. Pengukuran Islamic Personality Scale ... 30
C. Pengembangan Islamic Personality Scale ... 33
D. Penelitian Yang Relevan ... 44
E. Kerangka Berpikir ... 46
F. Hipotesis ... 49
Bab III : Metode Penelitian ... 50
A. Pendekatan Penelitian ... 50
B. Definisi Operasional ... 51
C. Subjek Penelitian ... 52
D. Teknik Pengumpulan Data ... 52
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 53
F. Teknik Analisis Data ... 56
Bab IV : Hasil Dan Pembahasan... 57
A. Hasil Penelitian ... 57
vii
B. Pembahasan ... 63
Bab IV : Penutup ... 65
A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 66
Daftar Pustaka ... 67
Lampiran ... 70
viii DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagan Alur Pemgembangan Alat Ukur ... 35
Gambar 2.2 Penetapan Kawasan (Domain) Ukur ... 36
Gambar 4.1 Scree Plot Eigenvalue ... 63
ix DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Karakteristik Usia dan Jenis Kelamin ... 57
Tabel 4.2 Instrument Islamic Personality Scale (IPS) ... 58
Tabel 4.3 Analisis Item Islamic Personality Scale (IPS) ... 59
Tabel 4.4 Skor Kaiser – Meyer – Olkin dan Barlett’s ... 60
Tabel 4.5 Persentase Total Varians Explained ... 61
Tabel 4.6 Faktor Leading ... 62
x DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I. SK dan Kontrak Penelitian ... 71
Lampiran II. Surat Izin Penelitian ... 75
Lampiran III. Alat Ukur Islamic Personality Scale ... 81
Lampiran IV. Distribusi Data Try Out ... 83
Lampiran V. Distribusi Data Penelitian ... 85
Lampiran VI. Hasil Validitas Alat Ukur ... 89
Lampiran VII. Hasil Reliabilitas Alat Ukur ... 92
xi PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN ALAT UKUR
ISLAMIC PERSONALITY SCALE (IPS) Cintami Farmawati
Tasawuf & Psikoterapi IAIN Pekalongan [email protected]
Abstrak:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perilaku yang menimpa umat Islam seperti perilaku radikalisme beragama, bom bunuh diri yang tidak dapat dianalisis dengan teori-teori psikologi kepribadian Barat. Teori psikologi kepribadian Barat menganggap perilaku tersebut merupakan patologis, sementara dalam psikologi kepribadian Islam diyakini sebagai perilaku yang mencerminkan aktualisasi diri.
Tujuan penelitian adalah untuk menyusun dan mengembangkan instrumen yang dapat mengukur Islamic Personality Scale (IPS) yang didasarkan pada kerangka teoritis kepribadian menurut ajaran Islam serta menguji validitas dan reliabilitasnya Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berjenis konstruksi alat ukur psikologi. Subjek penelitian adalah 550 mahasiswa dari tiga universitas yang berbeda yang dipilih secara quota sampling. Data diperoleh melalui uji coba alat ukur, validitas internal dan pengembangan alat ukur. Analisis data menggunan Alpha Cronbach dan Confirmatory factor analysis. Hasil penelitian menunjukkan koefisien reliabilitas skor yang dicapai dalam penelitian ini tinggi, yaitu sebesar 0.876, dengan koefisien reliabilitas masing-masing variabel (komponen) bergerak dari nilai 0.863 sampai dengan 0.879. Kepribadian Islam pada subjek penelitian meliputi kepribadian ammarah (15,45%), kepribadian lawwamah (44,55%) dan kepribadian muthmainnah (40%).
Abstract:
This research is motivated by behavioral phenomena that afflict Muslims such as religious radicalism, suicide bombings that cannot be analyzed by theories of psychology of Western personality. Western personality psychology theory considers this behavior to be pathological, while in psychology Islamic personality is believed to be a behavior that reflects self-actualization. The aim of the research is to develop and develop instruments that can measure the Islamic Personality Scale (IPS) based on the theoretical framework of personality according to Islamic teachings and test the validity and reliability of this study. The research subjects were 550 students from three different universities who were selected by quota sampling. Data is obtained through testing of measuring instruments, internal validity and development of measuring instruments. Data analysis using Cronbach's Alpha and Confirmatory factor analysis. The results showed that the reliability coefficient of the score achieved in this study was high, which was equal to 0.876, with the reliability coefficient of each variable (component) moving from the values of 0.863 to 0.879 Islamic personality in the research subjects included ammarah personality (15,45%), lawwamah personality (44.55%) and mutmainah personality (40%).
Keywords: Islamic Personality Scale (IPS), Validity and Reliability
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak di lahirkan, setiap orang bertumbuh dan berkembang menurut masa dan irama perkembangan sendiri-sendiri, membawa daya kemampuan kodratnya sendiri- sendiri, yang ditumbuhkembangkan lingkungannya sendiri pula, sehingga hasilnya merupakan suatu yang kompleks dan unik. Keunikan yang disebabkan karena kekomplekan dan unik, yang seakan-akan tidak seorangpun ada persamaan dengan orang lain dalam hal apapun.
1Semua manusia diciptakan dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan masing-masing, karenanya tidak ada istilah manusia yang sempurna.
Kelebihan maupun kekuranganpun bisa terletak dari berbagai sisi, dimana manusia telah mempunyai hal ini sejak dia di lahirkan ke dunia. Kekurangan dan kelebihan akan membawa sebuah efek yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia karena pada dasarnya manusia enggan di sebut memiliki kekurangan melainkan mereka bangga jika dalam dirinya terdapat banyak kelebihan.
Sebuah kekurangan dapat berdampak buruk jika manusia tidak menyadari dan menerimanya, sehingga hal tersebut bisa mempengaruhi kehidupannya khususnya pada segi kepribadian. Jika seseorang tidak mau menerima ataupun menyadari kekurangan yang ia miliki, maka akan membawa sebuah kepribadian yang buruk.
Oleh karena itu, dalam hal membentuk sebuah kepribadian yang islami sangat di perlukan karena jika tidak dapat dibina sejak awal akan sulit untuk di rubah.
1Agus Sujanto dkk, Psikologi Kepribadian, (Jakarta Bumi Aksara 2009), hlm. 156
2 Fenomena perilaku yang menimpa umat Islam akhir-akhir ini tidak dapat dianalisis dengan teori-teori psikologi kepribadian Barat. Perilaku radikalisme beragama, bom bunuh diri yang populer dengan sebutan bom syahid, maraknya jamaah zikir dan muhasabah, atau senyuman Amrozi saat hendak divonis mati adalah sederetan perilaku yang unik dan membutuhkan analisis khusus dari teori-teori psikologi kepribadian Islam. Boleh jadi dalam teori psikologi kepribadian Barat perilaku tersebut merupakan patologis, sementara dalam psikologi kepribadian Islam diyakini sebagai perilaku yang mencerminkan aktualisasi atau realisasi diri.
Pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat penting dalam agama Islam. Hal ini karena Islam tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tetapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan, antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.
Kepribadian Islam menjadi isu yang menarik dalam pembahasan mengenai akhlakul karimah dalam beberapa tahun terkahir. Kepribadian Islam disini memang bawaan atau bahkan pengaruh lingkungan dimana manusia tertentu hidup. Jika seseorang terlahir dari seorang ayah yang baik atau sholeh dan dengan seorang ibu yang mempunyai kepribadian Islam baik pula kemungkinan besar anak mereka bakal mempunyai seorang anak yang tidak jauh dari kepribadian Islam orang tuanya.
2Pada zaman sekarang yang bisa disebut era globalisasi, masyarakat telah banyak mengikuti trend yang berkembang bahkan mereka tidak jarang melakukan berbagai hal yang kadang menciptakan suatu kepribadian yang buruk. Akibatnya
2Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995, hlm. 3).
3 banyak masyarakat yang meninggalkan aturan agama demi agar tidak ketinggalan trend dan gaya hidup yang serba idealis. Dampak yang sangat terasa dengan gaya hidup yang seperti ini adalah merosotnya akhlak dan kepribadian yang baik kepada sesama manusia, banyak masyarakat yang kadang lalai dengan masalah ini yang berdampak buruk pada kehidupannya.
Kepribadian dalam konteks terminologi Islam dapat disebut akhlak sedangkan dalam studi keislaman lebih di kenal dengan istilah Syakhsiyah.
Syakhsiyah berasal dari kata syakhshun yang berarti pribadi. Abdul Mujib menjelaskan bahwa kepribadian adalah intregasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.
3Menurut para ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kperibadian bukan hanya mengenai tingkah laku yang dapat diamati saja, melainkan juga termasuk di dalamnya apakah sebenarnya individu itu.
4Konsep atau alat ukur kepribadian Islam harus segera tampil untuk menjadi acuan normatif bagi umat Islam. Perilaku umat Islam tidak sepatutnya dinilai dengan kacamata teori kepribadian Barat yang sekuler, karena keduanya memiliki frame yang berbeda dalam melihat realita. Perilaku yang sesuai dengan perintah agama seharusnya dinilai baik, dan apa yang dilarang oleh agama seharusnya dinilai buruk.
Agama memang menghormati tradisi (perilaku yang ma’ruf), tetapi lebih mengutamakan tuntunan agama yang baik (khayr).
53Syamsu Yusuf LN, & A. Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, (Jakarta PT Remaja Rosda Karya 2011), hlm. 29
4Baharuddin, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis terhadap Fenomena, (Jogjakarta, ARRUZZ Media 2009), hlm. 191
5Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2017), hlm. 65
4 Penelitian tentang penyusunan dan pengembangan Islamic Personality Scale (IPS) pentingmengingat di Indonesia sampai saat ini belum ada instrumen yang secara khusus dipergunakanuntuk mengukur atau menilai kepribadian Islam karena perkembangan pemahaman tentang konstruk kepribadian Barat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan, maka peneliti membatasi pembahasan pada Penyusunan dan Pengembangan Alat Ukur Islamic Personality Scale (IPS). Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaiamana cara menyusun dan mengembankan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS)?
2. Bagaimana hasil uji validitas dan reliabilitas alat ukur Islamic Personality Scale (IPS)?
C. Tujuan Penelitian
Pengembangan alat ukur baru dalam bidang psikologi penting dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan mengembangkan instrumen dalam mengukur kepribadian Islam yang didasarkan pada kerangka teoritis kepribadian menurut ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Sunnah serta menguji validitas dan reliabilitasnya.
Penelitian ini diharapkan menghasilkan sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kepribadian Islam yang memenuhi standard psikometris,
66Suryabrata, Sumadi, Pengembangan Alat Ukur Psikologis. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2000), hlm.
37
5 yakni validitas dan reliabilitas. Dengan begitu, hasil pengukuran skala dapat diandalkan di samping juga dijadikan sebagai acuan atau model untuk mengembangkan alat ukur serupa di waktu mendatang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoritis berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan memberikan sumbangan informasi pada teori kepribadian Islam khususnya bidang Psikologi Islam dalam menyusun dan mengembangkan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) beserta pengujian validitas dan reliabilitasnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang menunjukkan
penyusunan dan pengembangan alat ukur Islamic Personality Scale (IPS) yang
dapat memberikan informasi terkait tentang pentingnya kepribadian Islam dalam
kehidupan pribadi maupun dalam kelompok atau organisasi. Bagi subjek,
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tipe kepribadian Islam dirinya
sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Islamic Personality Scale
1. Dasar-Dasar Pemahaman Kepribadian Islam
Kepribadian merupakan terjemahan dari personality (Inggris), persoonlijkheid (Belanda), personnalita (Prancis), personlichkeit (Jerman), personalita (Itali), dan personalidad (Spanyol). Akar kata masing-masing sebutan itu berasal dari kata Latin “persona” yang berarti “topeng”, yaitu topeng yang dipakai oleh seorang actor drama atau sandiwara.
1Atau juga dari kata Latin “personare”
yang berarti to sound through (suara tembus).
2Dalam Bahasa Arab kontemporer, kepribadian ekuivalen dengan istilah syakhshiyyah.
Term syakhshiyyah bukan satu-satunya term yang dipergunakan untuk menunjukkan makna personality. Ronald Alan Nicholson misalnya, menyebut dua istilah yang menjadi sinonimnya, yaitu al-huwiyyah (dari kata huwa/dia) dan al- dzatiyyah.
3Sementara dalam leksikologi Bahasa Arab, dikenal juga istilah nafsiyyah yang berasal dari kata nafs, istilah inniyyah (dari kata ana/saya), dan istilah khuluqiyyah atau akhlaq. Istilah yang terakhir ini (akhlaq) lebih banyak ditemukan di dalam literatur Islam klasik. Definisi kepribadian Islam dapat dilihat dari tiga persepktif, yaitu makna etimologi kepribadian Islam, makna terminologi kepribadian Islam dan makna psikologi kepribadian Islam.
1 Simpson, D.P., Cassell’s Latin Dictionary; Latin-Inglish, (New York: MacMillan Publishing Co., 1982), hlm. 442
2 Crow, Lester D. and Alice Crow, Psikologi Pendidikan, Terjemahan A. Kasijan, (Surabaya: Bina Ilmu 1984), hlm. 262
3 Ronald Alan Nicholson, Fi al-Tashawwuf al-Islami wa Tarikhihi, Terj. Abu al-‘Ala al-‘Afifi, (Cairo:
Lajnah al-Ta’lif wa al-Tarjamah wa al-Asyr, 1969), hlm. 108-109
7 a. Makna Etimologi Kepribadian Islam
Personality berasal dari kata “person” yang secara bahasa memiliki arti: (1) an individual human being (sosok manusia sebagai individu); (2) a common individual (individu secara umum); (3) a living human body (orang yang hidup); (4) self (pribadi); personal existence or identity (eksistensi atau identitas pribadi); dan (6) distinctive personal character (kekhususan karakter individu).
4Sedangkan dalam bahasa Arab, pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyyah, inniyah, dzatiyyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri. Masing-masing term ini meskipun memiliki kemiripan makna dengan kata syakhshiyyah, tetapi memiliki keunikan tersendiri.
5Oleh sebab itu dirasa perlu untuk menjelaskan masing-masing term tersebut dan kemudian memilih satu diantaranya untuk mewakili padanan term personality.
1) Huwiyyah dan Inniyyah
Huwiyyah berasal dari kata huwa (kata ganti orang ketiga tunggal) yang berarti “dia”. Kata huwiyyah disalin ke dalam bahasa Inggris dengan term identity atau personality. Kata identity menunjukkan maksud al-fardiyyah (individuality). Identity adalah diri atau aku-nya individu; kepribadian; atau suatu kondisi kesamaan dalam sifat-sifat karakteristik yang pokok.
6Sedangkan individuality adalah segala sesuatu yang membedakan individu
4 Noah Webster, Webster’s New Twentieth Cuntury Dictionary of the English Language Unabridged, (New York: William Collins Publishers, 1980), hlm. 1338. J. Coulson dkk., The New Oxford Illustrated Dictionary, (Oxford: Oxford University Press, 1982), hlm. 1256. H.W. Fowler and F.G Fowler, The Concise Oxford Dictionary of Current English, (Oxford: At the Clarendo Press, 1980), hlm. 824.
5 Masing-masing istilah itu jika disebut secara bersamaan maka masing-masing istilah memeiliki makna tersendiri, sesuai dengan spesifikasi masing-masing istilah. Namun apabila disebut salah satunya maka istilah yang disebut itu mewakili istilah yang lain.
6 J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), hlm. 237.
8 dengan individu yang lain; kualitas unik individual; dan integrasi dari sifat- sifat individu.
7Menurut al-Farabi seorang psikolog-falsafi Muslim yang dikutip oleh Abdul Mujib dalam buku kepribadian dalam psikologi Islam, mengemukakan bahwa huwiyyah berarti eksistensi individu yang menunjukkan keadaan, kepribadian dan keunikannya yang dapat membedakan individu tersebut dengan individu yang lain.
8Pengertian di atas menunjukkan bahwa kata huwiyyah memiliki ekuivalen makna dengan personality. Istilah huwiyyah dalam literatur keislaman menunjukkan arti kepribadian.
9Dalam terminologi tasawuf, Istilah huwiyyah tdak dapat disejajarkan dengan personality. Kata huwa dinisbatkan pada alam gaib atau Tuhan yang berarti ke-Dia-an Tuhan. Meskipun dalam beberapa pengertian disebutkan adanya ekuivalen makna antara huwiyyah dan personality, namun muncul suatu persoalan yang mendasar yaitu mengapa tidak menggunakan istilah inniyyah
10yang berasal dari kata ana (aku). Pertanyaan itu perlu ditemukan, sebab terdapat perbedaan yang fundamental antara personality, yang berasal dari kata huwa dengan kata ana.
117 J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), hlm. 244.
8 Ma’an Ziyadah, al-Mawsu’ah al-Falsafah al-‘Arabiyyah, (Arab: Inma’ al-‘Arab, 1986), Jilid I, hlm.
821.
9 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm.
27.
10 Kata inniyah di sini memiliki kesamaan makna dengan huwiyyah, yaitu sama-sama berarti personality. Bedanya, huwiyyah adalah personality individu disimpulkan oleh orang lain, sedang inniyah adalah personality individu yang disimpulkan dari pengamatan diri sendiri.
11 Dalam terminologi Tasawuf, istilah inniyah (ke-Aku-an) merupakan “subjek” Ilahi yang secara logis berlawanan dengan “objek” Ilahi (huwiyyah/ke-Dia-an). Ketika Yang Mahamutlak turun dari
‘ama’ (kebutaan), ia melewati tiga tahapan manifestasi yang mengubah kesederhanaannya, yaitu kesatuan (ahadiyyah), ke-Dia-an (huwiyyah) dan ke-Aku-an (inniyyah). Amatullah Armstrong, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Terj. MS Nasrullah, Judul asli “Sufi Terminology (al-Qamus al-Shufi): The Mystical Language of Islam”, (Bandung: Mizan, 1998), hlm.
31.
9 Istilah huwiyyah menempatkan individu sebagai diri-objek, dalam arti satu konstruk kepribadian individu yang dipelajari atau diamati oleh indivdu lain melalui teknik interview, pengisian angket atau pengamatan secara langsung.
Sedangkan istilah inniyyah menempatkan individu sebagai diri-subjek dalam arti satu konstruk kepribadian individu yang dihasilkan dari pengamatan diri sendiri, melalui teknik autobiografi dan inventarisasi diri (self-inventory).
122) Dzatiyyah
Term dzat lazimnya dipakai oleh para teolog (mutakallimin) untuk menunjukkan zat Allah yang sunyi dari segala sifat.
13Secara etimologi, Dzatiyyah memiliki arti identity, personality dan subtectivity. Dalam terminologi psikologi, dzatiyyah memiliki arti “tendensi (mayl) individu pada dirinya yang berasal dari substansi sendiri”.
14Sedang yang dimaksud tendensi (tendency) adalah satu set atau satu disposisi untuk bertingkah laku dengan satu cara tertentu.
15Dalam terminologi tasawuf, dzatiyyah berarti intrinsik, inheren dan esensi diri. Dzatiyyah menuntut pengagungan dari dari zat-zat relatif (alam semesta) kepada Zat Yang Mutlaq, yaitu Allah. Pengagungan ini bersifat instrinsik, yang apabila ditiadakan maka akan kehilangan dzatiyyahnya.
1612 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm.
28.
13 Aliran Teologi yang meniadakan sifat (nafi al-sifat) Allah adalah aliran Mu’tazilah. Menurut kaum Mu’tazilah, jika Allah itu berzat dan bersifat, berarti Dia tidak Esa, karena zat-Nya kekal dan sifat- Nya pun juga kekal, sehingga terjadi banyak kekekalan (ta’addud qudama) pada-Nya, yaitu kekekalan beberapa sifat. Allah mengetahui, berkuasa, beriradah dan sebagainya dengan zat-Nya bukan dengan sifat-Nya. Allah ‘Alim (Maha Mengetahui) dengan zat-Nya, bukan dengan sifat-Nya.
14 Ma’an Ziyadah, al-Mawsu’ah al-Falsafah al-‘Arabiyyah, (Arab: Inma’ al-‘Arab, 1986), Jilid I, hlm.
453.
15 J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), hlm. 503
16 Amatullah Armstrong, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Terj. MS Nasrullah, Judul asli “Sufi Terminology (al-Qamus al-Shufi): The Mystical Language of Islam”, (Bandung:
Mizan, 1998), hlm. 62.
10 3) Nafsiyyah
Term nafsiyyah berasal dari kata “nafs” yang berarti pribadi. Orang Arab sering menyesali dirinya dengan sebutan nafsî (oh diriku atau oh pribadiku!).
Shafi’i menerjemahkan kata nafs sebagai “…personality, self, or level of personality developmental”.
17(kepribadian, diri pribadi, atau tingkat perkembangan kepribadian).
4) Syakhshiyyah
Syakhshiyyah berasal dari kata “syakhsh” yang berarti “pribadi”. Kata itu kemudian diberi ya’ nisbah, sehingga menjadi kata benda buatan (mashdar shina’i) syakhshiyyah yang berarti “kepribadian”. Dalam kamus bahasa Arab modern istilah syakhshiyyah digunakan untuk maksud personality (kepribadian). Dalam literatur keislaman modern, term syakhshiyyah telah banyak digunakan untuk menggambarkan dan menilai kepribadian individu.
Sebutan syakhshiyyat al-Muslim memiliki arti kepribadian orang Islam.
Pergeseran makna ini menunjukkan bahwa term syakhshiyyah telah menjadi kesepakatan umum untuk dijadikan sebagai padanan dari personality.
185) Akhlaq
Term akhlaq
19(bentuk jamak dari kata khuluq). Secara etimologis, akhlaq berarti character, disposition dan moral constitution. Al-Ghazali berpendapat bahwa manusia memiliki citra lahiriah yang disebut dengan khalq, dan citra
17 Subandi, “Psikologi Islami dan Sufisme”, dalam Fuad Nashori (editor), Membangun Paradigma Psikologi Islam, (Yogyakarta: Sipress, 1994), hlm. 94.
18 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm.
32.
19 Dalam wacana psikologi, kata akhlaq memiliki ekuivalen dengan kata karakter. Ilmu Akhlaq sama artinya dengankarakterologi Islam. Allport yang disitir oleh Sumadi Suryabrata menyatakan bahwa karakter (=akhlaq) itu sama dengan kepribadian, tetapi dipandang dari sudut “penilaian” baik buru, senang-benci, menimpa-menolak suatu tingkah laku berdasarkan norma-norma yang dianut.
Sedangkan istilah kepribadian dipandang dari sudut “penggambaran” manusia apa adnya tanpa disertai penilaian. Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Rajawali, 1990), hlm. 2-3.
11 batiniah yang disebut dengan khuluq.
20Khalq merupakan citra fisik manusia, sedangkan khuluq merupakan citra psikis manusia. Berdasarkan kategori ini maka khuluq secara etimologi memiliki arti gambaran atau kondisi kejiwaan seseorang tanpa melibatkan unsur lahirnya.
21Menurut Rajab yang dikutip oleh Abdul Mujib dalam buku kepribaian dalam psikologi Islam, Ilmu Akhlak adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku yang seharusnya dikerjakan atau ditinggalkan seseorang. Sedangkan Psikologi adalah suatu ilmu yang hanya mempelajari apa adanya tingkah laku itu.
22Term akhlak muncul bersamaan dengan munculnya Islam. Nabi Muhammad SAW. diutus didunia untuk menyempurnakan atau memperbaiki kepribadian umatnya. Sabda beliau:
ِقَلاْخَلأْا َحِلاَص َمِِّمَتُلأِ ُتْثِعُب اَمَّنِإ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (kepribadian) yang baik”.
23b. Makna Terminologi Kepribadian Islam
Pengertian kepribadian dari sudut terminologi memiliki banyak definisi, karena hal itu berkaitan dengan konsep-konsep empiris dan filosofis tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian. Konsep-konsep empiris dan filosofis disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan, fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup, dan metodologi yang dipakai rumus. Oleh sebab itu, tidak satupun
20 Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), Juz III, hlm. 58.
21 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm.
33.
22 Manshur Ali Rajab, Ta’ammulat fi Falsafat al-Akhlaq, (Mesir: Maktabat al-Anjalu al-Mishr, 1961), hlm. 13
23 HR Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 207), Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (No. 45).
12 definisi yang subtantif kepribadian dapat diberlakukan secara umum, sebab masing- masing definisi dilatar belakangi oleh konsep-konsep empiris dan filosofis yang berbeda-beda. Dengan begitu tidak berkelebihan jika Allport - dalam studi kepustakaannya - menemukan sejumlah 50 definisi mengeinai kepribadian yang berbeda-beda yangdigolongkan kedalam sejumlah kategori.
24Allport mendefinisikan kepribadian secara sederhana dapat dirumuskan dengan definisi “what a man really is” (manusian sebagai mana adanya).
25Maksudnya, manusia sebagaimana sunnah atau kodratnya, yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Definisi yang luas dapat berpijak pada struktur kepribadian, yaitu integrasi sistem kalbu, akal dan hawa nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.
“definisi ini sebagai bandingan dengan definisi yang dikemukakan oleh para psikolog psikoanalitik seperti Sigmun Freud
26dan Cherly Gustav Jung.
27Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai struktur biologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis kepribadiannya.
Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan struktur psikofisik kepribadain manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya, yaitu (1) qalbu yang memiliki fitrah keTuhanan (ilahiyah) sebagai aspek supra-kesadaran manusia yang
24 Menurut Allport definisi kepribadian dapat digolongkan menjadi tujuh macam, yaitu: (1) arti etimologi dan sejarah timbulnya pengertian itu; (2) arti-arti teologis; (3) arti-arti filosofis; (4) arti-arti yuridis; (5) arti-arti sosiologis; (6) arti-arti lahiriah; dan (7) arti-arti psikologis. Sedangkan sarlito wirawan mengakategorikan definisi-definisi kepribadian dengan: (1) definisi anekawarna; (2) definisi integratif dan konfiguratif yang menenkankan pada pengorganisasian sifat-sifat yang ada pada pribadi seseorang; (3) definisi hierarki; dan (4) definisi penyesuaian diri. Calvin S. Hall dan Gadner Lindzey, Teori-Teori Sifat dan Behavioristik, Terj. Yustinus, judul asli, “Theories of Personality”, (Yogyakarta:
Kanisius, 1993), hlm. 24. Selanjutnya disebut Hall dan Lindzey, Sifat). Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 87.
25 Hall dan Lindzey, Sifat, op.cit., hlm. 24. Muhammad Mahmud Mahmud, Ilm al-Nafs al-Ma’ashir fi Dhaw ‘i al-Islam, (Jeddah: Dar al-Syuruq, 1984), hlm. 363. Elizabeth B. Hurlock, Child Development, (New York: McGraw-Hill, 1978), hlm. 525.
26 Kepribadian adalah “integrase dari id, ego dan super ego”. J.P. Chaplin, hlm. 362. Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), hl. 362.
27 Kepribadian adalah “integrase dari ego, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, kompleks- kompleks, arkhetip-arkhetip, persona dan anima”. Ibid
13 berfungsi sebagai daya emosi (rasa); (2) akal yang memiliki fitrah kemanusiaan (isaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya kognisi (cipta); dan (3) nafsu yang memiliki fitrah kehewanan (hayawaniyyah) sebagai aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya konasi (karsa).
Ketiga komponen fitrah nafsani ini berintegrasi untuk mewujudkan suatu tingkah laku.
Dilihat dari sudut tingkatannya maka kepribadian itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (KeTuhanan), kesadaran (kemanusiaan), dan pra- atau bawah kesadaran (kebinatangan). Sedangkan dari sudut fungsinya, kepribadain merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi, dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dan sebagainya) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dan sebagainya).
c. Makna Psikologi Kepribadian Islam
Perumusan makna psikologi kepribadian Islam memiliki arti bagaimana Islam mendefinisikan kepribadian dari sudut pandang psikologis. Frame kajiannya tetap pada studi Islam yang menelaah terhadap fenomena perilaku manusia dari sudut pandang psikologis, sebab satu-satunya wacana yang eksis hanyalah Islam, sementara psikologi disini hanya satu pendekatan studi dalam studi Islam.
Berdasarkan pengertian kepribadian di atas maka yang dimaksud dengan
Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah
laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam,
sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hidup di
dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai
berikut.
14 Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi.
Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologi kepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah, khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat.
Kedua, yang berhubungan dengan tingkah laku manusia. Psikologi Kepribadain Islam mempelajari tingkah laku manusia. Dalam bentuk potensial, seluruh tingkah laku manusia telah memilki takdir atau sunnatullah yang ditetapkan oleh Tuhan, meskipun takdir yang dimaksud memiliki banyak pilihan. Namun dalam bentuk aktual, manusia diberi kebebasan untuk mengekspresikannya, sehingga menimbulkan dinamika tingkah laku. Setiap tingkah laku memiliki citra (image) dan keunikan tersendiri sesuai sesuai apa yang terdapat pada pelakunya. Tingkah laku disini bisa berupa tingkah laku lahir maupun tingkah laku batin atau kedua-duanya.
Tingkah laku lahir ada yang mencerminkan tingkah laku batinnya dan ada juga yang berbeda, baik mencerminkan atau tidak semuanya disebut dengan tingkah laku.
Ketiga, berdasarkan pendekatan psikologis. Studi tentang kepribadian dapat
didekati dengan beberapa pendekatan, misalnya filsafat, psikologi, antropologi, dan
sebagainya. Psikologi Kepribadain Islam merupakan studi kepribadian Islam yang
dipandang dari sudut psikologi. Studi ini setidak-tidaknya menggambarkan apa dan
15 bagaimana tingkah laku manusia menurut pandangan Islam yang ditimbulkan dari jiwanya.
Keempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik.
Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia. Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi. Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik. Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.
Kelima, untuk meningkatkan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.
Psikologi kepribadian Islam syarat akan nilai, yang dapat menghantarkan kebahagiaan hidup manusia. Kebahagian yang dimaksud tidak terbatas pada kebahagiaan duniawi yang sifatnya temporer dan semu, tetapi juga kebahgiaan ukhrowi yang sifatnya abadi dan hakiki. Pda aspek ini, Psikologi Kepribadain Islam bukan sekedar memotret dan mengidentifikasi tingkah laku (bicara apa adanya), melainkan juga mengungkap bagaimana seharusnya tingkah laku itu. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas norma-norma baik-buruk yang telah ditetapka oleh Sang Khalik. Oleh karena tujuan ini maka studi Psikologi Kepribadain Islam diharapkan memiliki implikasi penting dalam kehidupan manusia.
2. Struktur Kepribadian Islam
Menurut James Drever, struktur adalah “komposisi pengaturan bagian-
bagian komponen, dan susunan suatu kompleks keseluruhan.” Sedangkan J.P.
16 Chaplin mendefinisikan struktur dengan “satu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat relative stabil, menetap dan abadi.”
28Berdasarkan definisi tersebut, struktur kepribadian dapat diartikan sebagai “integrasi dari sifat-sifat dan sistem-sistem yang menyusun kepribadian.” Atau lebih tepatnya
“aspek-aspek kepribadian yang bersifat relative stabil, menetap, dan abadi serta merupakan unsur-unsur pokok pembentukan tingkah laku individu.” Kurt Lewin dari Psikologi Medan menyatakan bahwa struktur kepribadian adalah cara melukiskan sebagai suatu entitas yang terpisah dari hal-hal lainnya yang ada di dunia.
29Struktur kepribadian yang dimaksudkan disini adalah aspek-aspek atau elemen-elemen yang terdapat pada diri manusia yang karenanya kepribadiaannya terbentuk. Pemilihan aspek ini mengikuti pola yang dikemukakan oleh Khayr al-Din al-Zarkali. Menurut al-Zarkali, bahwa studi tentang diri manusia dapat dlihat melalui tiga sudut, yaitu:
301. Jasad (fisik); apa dan bagaimana organisme dan sifat-sifat uniknya;
2. Jiwa (psikis); apa dan bagaimana hakikat dan sifat-sifat uniknya; dan 3. Jasad dan jiwa (psikofisik); berupa akhlak, perbuatan, dan sebagainya.
Ketiga kondisi tersebut dalam terminologi islam lebih dikenal dengan term al- jasad, al-ruh, dan al-nafs. Jasad merupakan aspek biologis atau fisik manusia, ruh merupakan aspek psikologis atau psikis manusia, sedang nafs merupakan aspek psikofisik manusia yang merupakan sinergi antara jasad dan ruh.
28 James Drever, Kamus Psikologi, Terj. Nancy Simanjutak, (Jakarta: Bina Aksara, 1986), hlm. 467.
James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono, (Jakarta: Rajawali, 1989), hlm.
489.
29 Calvin S. Hall dan Gadner Lindzey, Teori-Teori Sifat dan Holistik (Organismik-Fenomenologis, Terj. Yustinus, judul asli, “Theories of Personality”, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 279-307.
30 Khayr al-Din al-Zarkali (editor), Ikhwan al-Shafa’, Rasail Ikhwan al-Shafa’ wa Khala al-Wafa, (Beirut: Dar Shadir, 1957), Juz II, hlm. 319.
17 Berdasarkan pemahaman tersebut maka aspek-aspek diri manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu aspek fisik yang disebut dengan struktur jismiyyah atau jasadiyyah; aspek psikis yang disebut dengan struktur ruhaniyyah; dan aspek psikofisik yang disebut dengan struktur nafsaniyyah. Masing-masing aspek ini memiliki natur, potensi, hukum dan ciri-ciri tersendiri.
1.
Struktur Jisim
Jisim
31adalah aspek diri manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik.
Organisme fisik manusia lebih sempurna dibanding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Pada aspek ini, proses penciptaan manusia memiliki kesamaan dengan hewan ataupun tumbuhan, sebab semuanya termasuk bagian dari alam fisikal. Setiap alam biotik-lahiriah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air.
32Sedangkan manusia merupakan makhluk biotik yang unsur-unsur pembentukan materialnya bersifat proporsional antara keempat unsur tersebut, sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang terbaik penciptaanya. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Tin ayat 4
31 Term al-jism sama artinya dengan al-jasad, hanya saja jisim lebih umum daripada jasad. Menurut al-Khalil, term jasad tidak boleh dipergunakan untuk selain species manusia, sedangkan jisim untuk seluruh tubuh pada umumnya. Kata al-jasad dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 4 kali dalam 4 surat.
Dua diantaranya menyebutkan fisik manusia (QS Yusuf: 8; Al-Qashash: 34), sedang dua yang sisanya menyebutkan tubuh lembuh (QS Al-A’raf: 148; Thaha: 88). Sedangkan kata al-jism diulang sebanyak dua kali dalam dua surat, yang keduanya menyebut fisik manusia (QS Al-Baqarah: 247; Al- Munafiqun: 4)
32 Diantara yang berpendapat demikian adalah Ibn Sina dan Ikhwan al-Shafa. Menurut Ibn Sina aqal kesepuluh tidak mampu lagi mewujudkan aqal sejenisnya. Ia hanya mampu memancarkan bumi, roh manusia dan materi dasar dasar penciptaan, yaitu api, tanah, air dan udara. Sementara Ikhwan al-Shafa menyebut empat unsur tersebut sebagai unsur alam terendah (‘anashir al-‘alam, al-sufla) yang kemudian menjadi materi gabungan, yaitu asap, lumpur, mineral, tumbuhan, hewan dan manusia. Api memiliki natur panas, udara memiliki natur dingin, air memiliki natur basah, dan tanh memiliki natur kering. Lihat di Sirajudin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains, dan al- Qur’an, (Jakarta: RajaGrafindo, 1994), hlm. 156. ‘Abd al-Lathif Muhammad al-‘abd, Al-Insan fi FikrIkhwan al-Shafa, (Cairo: Maktabat al-Anjaluw al-Mishiriyat, tt), hlm. 120-149. De Boer T.J., The History of the Philosophy in Islam, Alih Bahasa Edward R. Jones (New York: Dover Publication Inc, 1967), hlm. 131.
18 disebutkan: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
2.
Struktur Ruh
Keunikan esensial psikologi kepribadian Islam dengan psikologi kepribadian yang lain adalah masalah strutur ruh. Karena ruh, seluruh bangunan kepribadian manusia dalam islamm menjadi khas. Ruh merupakan substansi (jawhar) psikologis manusia yang menjadi esensi keberadaannya, baik di dunia ataupun di akhirat. Hal itu berbeda dengan psikologi kepribadian barat yang hanya menerjemahkan ruh dengan spirit yang accident (‘aradh). Sebagai substansi yang esensial, ruh membutuhkkan jasad untuk aktualisasi diiri, bukan sebaliknya. Ruh yang menjadi pembeda antara eksistensi manusia dengan makhluk lain.
333.
Struktur Nafs
Ahli jiwa-falsafi memfokuskan perhatiannya pada akal, sehingga konsep pembagian jiwanya hanya mencakup daya kognisi dan daya konasi. Sedangkan ahli jiwa-tasawufi lebih memfokuskan perhatiannya pada cita rasa (dzawq), sehingga konsep pembagian jiwanya hanya mencakup daya emosi dan daya konasi. Sementara ahli jiwa falsafi-tasawufi mengungkap tiga daya yang terdapat pada jiwa manusia, yaituu kognisi, konasi, dan emosi. Pendapat terakhir ini lebih relevan untuk diskursus psikologi, walaupun diperlukan modifikasi sebagian
33 Iblis terstuktur dari hawa nafsu dan tidak memiliki struktur aqal telah mengalami kesalahan dalam mempersepsi diri manusia. Iblis hanya melihat manusia dari sudut jasadiyah yang tercipta dari tanah, dan tidak melihat dari sudut ruhaniah yang tercipta dari alam amar Allah. Dari sudut jasmani, tanah bias saja lebih buruk dari api, sehingga iblis menduga bahwa dirinya lebih mulia daripada manusia.
Namun dari sudut ruhani, jiwa manusia lebih lengkap daripada jiwa iblis, sehingga manusia lebih mulia darinya.
19 term-termnya tanpa mengubah esensinya. Dengan begitu maka pembagian nafsani manusia adalah:
34a.
Daya qalb yang berhubungan dengan emosi (rasa) yang berhubungan dengan aspek-aspek afektif;
b.
Daya ‘aqal yang berhubungan dengan kognisi (cipta) (kognitif) yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif;
c.
Daya hawa nafs yang berhubungan dengan konasi (karsa) yang berhubungan dengan aspek-aspek psikomotorik.
3. Dinamika Kepribadian Islam
Allah SWT menciptakan struktur kepribadian manusia dalam bentuk potensial. Struktur tidak secara otomatis bernilai baik ataupun buruk, sebelum manusia berusaha untuk mengaktualisasikan. Aktualisasi struktur sangat tergantung pada pilihan manusia, yang mana pilihannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Upaya manusia untuk memilih dan mengaktualisasikan potensi tersebut memiliki dinamika proses, seiring dengan variabel-variabel yang memengaruhi. Dinamika kepribadain Islam dibagi menjadi tiga yaitu:
35a. Dinamika Struktur Jasmani
Struktur jasmani merupakan aspek biologis dari struktur kepribadian manusia.
Aspek ini tercipta bukan dipersiapkan untuk membentuk tingkah laku tersendiri, melainkah sebagai wadah atau tempat singgah struktur ruh. Kedirian dan kesendirian struktur jasmani tidak akan mampu membentuk suatu tingkah laku lahiriah, apalagi tingkah laku batiniah.
34 Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm. 87-164.
35 Ibid, hlm. 113.
20 Struktur jasmani memiliki daya atau energi yang mengembangkan proses fisiknya. Energi ini lazimnya disebut dengan daya hidup. Daya hidup kendatipun sifatnya abstrak, tetapi ia belum mampu menggerakkan suatu tingkah laku. Suatu tingkah laku dapat terwujud apabila struktur jasmani telah ditempati struktur ruh.
Proses ini terjadi pada manusia ketika usia empat bulan didalam kandungan. Saat ini manusia memiliki struktur nafsani. Oleh karena fitrah struktur jasmani seperti inilah maka ia tidak mampu bereksistensi dengan sendirinya.
Konsep kepribadian Islam seperti itu berbeda dengan persepsi psikologis iblis.
Iblis menduga bahwa substansi dirinya lebih baik daripada substansi manusia. Ia tercipta dari apai sedanag manusia tercipta dari tanah. Api yang menjadi bahan dasar penciptaan iblis lebih baik naturnya daripada tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Allah SWT berfirman: “Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah” (QS Shad: 76). Menurut Ikhwan al-Shafa, iblis mengalami kesalahan persepsi dalam melihat keutuhan manusia. Iblis hanya melihat aspek fisik manusia tanpa melihat aspek ruhaninya.
36Oleh karena kesalahan persepsi ini ia enggan bersujud pada Adam a.s. ketika ditiupkan ruh padanya.
Banyak pakar kontemporer yang telah menentukan bahwa, substansi manusia sama dengan substansi binatang. Diantara mereka misalnya Lemettrie (1709- 1751) seorang materialism,
37Darwin (1809-1882) seorang evolusionisme,
38dan
36 Abd al-Lathif Muhammad al-‘Abd, al-Insan fi Fikr Ikhwan al-Shafa, (Cairo: Maktabat al-Anjalu al- Mishriyat, tt), hlm. 159.
37 Menurutnya, manusia adaalah suatu mesin. Ia tidak memiliki perbedaan dengan hewan, bahkan jiwanya merupakan produk dari pertumbuhan badan. Endang Saefuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), hlm. 3.
38 Menurutnya, manusia sejajar dengan hewan dan kejadiannya dari sebab-sebab mekanik. Darwin terkenal sebagai pencetus teori seleksi alam dan ilmu turunan. Ibid.
21 Haeckel (1834-1919) seorang biologisme-animalisme.
39Persepsi iblis tersebut kemudian disempurnakan dengan konsep bahwa manusia adalah hewan yang berpikir, berpolitik, bersosial, berbudaya, berjiwa, berbahasa, menyadari dirinya sendiri dan bertanggungjawab atas perbuatannya. Penyempurnaan definisi manusia ini hanya menyentuh pada aspek-aspek yang instrumental, belum pada aspek substansial. Dalam Islam, manusia adalah manusia, makhluk Allah SWT yang memikul amanah sebagai hamba dan Khalifah-Nya. Ia bukan hewan yang bebas dari taklif, melainkan makhluk mendataris Tuhan. Sekalipun manusia berpotensi untuk mengaktualisasikan naluri kehewanannya, bukan ia lebih hina daripada hewan, tetapi ia tetap makhluk yang bernama manusia, yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
b. Dinamika Struktur Ruhani
Struktur ruhani merupakan aspek psikologis dari struktur kepribadian manusia.
Aspek ini tercipta dari Amar Allah yang sifatnya ghaib. Ia diciptakan untuk jadi substansi sekaligus esensi kepribadian manusia. Eksistensinya tidak hanya dialam imateri, tetapi juga dialam materi (setelah bergabung dengan fisik), sehingga ia lebih dulu dan lebih abadi adanya. Dari pada stuktur jasmani. Naturnya suci dan mengejar pada dimensi-dimensi spiritual. Kedirian dan kesendiriannya mampu bereksistensi meskipun sifatnya didunia imateri. Suatu tingkah laku “ruhaniah”
dapat terwujud dengan kesendirian struktur ruhani. Tingkah laku menjadi aktual apabila struktur jasmani menjadi satu dengan struktur ruhani.
Firman Allah SWT…: “Sesungguhnya shalatku, ibadah hajiku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan sekalian alam.” (QS Al-An’am: 162). Allah
39 Menurutnya, tidak ada sangsi bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh binatang yang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui. Ibid., hlm. 3-4.
22 SWT dalam firman tersebut merupakan asal dan tujuan dari segala kepribadian yang ada. Dikatakan “asal” karena komponen atau struktur kepribadian diciptakan dan diatur oleh-Nya. Penciptaan dan pengaturannya telah ditetapkan dialam perjanjian (mitsaq) sebelum kejadian material ada. Dikatakan “tujuan” karena semua tindakan atau tingkah laku manusia hanya untuk merealisasikan perjanjian- Nya. Dia-lah yang menjadi tujuan hakiki kehidupan manusia. Apabila kepribadian seseorang tertuju pada-Nya berartia ia rela menempatkan dirinya pada tujuan yang hakiki, sebab Dia Maha segala-galanya. Kepribadain semacam ini tidak akan disia-siakan oleh-Nya melainkan diberi kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki pula. Sebaliknya, suatu kepribadain yang tidak termotivasi dan tetuju pada-Nya berarti ia rela menempatkan dirinya pada posisi yang paling hina, sebab ia tidak mengetahui Zat yang Maha Besar. Kepribadian semacam ini kelak akan mendapatkan siksaan yang pedih.
c. Dinamika Struktur Nafsani
Struktur nafsani merupakan struktur psikofisik dari kepribadian manusia. Struktur
ini diciptaakn untuk mengaktualisasikan semua rencana dan perjanjian Allah
SWT, kepada manusia dialam arwah. Aktualisasi itu berwujud tingkah laku atau
kepribadain. Struktur nafsani tidak sama dengan sruktur jiwa sebagai mana yang
difahami dalam psikologi Barat. Ia merupakan paduan integral antara struktur
jasmani dan struktur ruhani. Aktifitas psiskis tanpa fisik merupakan sesuatu yang
ghaib, sedang aktifitas fisik tanpa psikis merupakan mesin atau robot. Kepribadian
manusia yang terstruktur dari nafsani bukanlah seperti kepribadian malaikat dan
hewan yang diprogram secara deterministik. Ia mampu berubah dan dapat
menyusun drama kehidupannya sendiri. Kehidupan semacam itu akan terwujud
23 apabila terjadi interaksi aktif antar aspek fisik dan aspek psikis dari struktur nafsani.
4. Tipologi Kepribadian Dalam Islam
Tipologi kepribadian dalam Islam adalah tipologi manusia yang bersumber dari norma Islam, tidak semata-mata perilaku manusia tanpa dikaitkan dengan nilai.
Penentuan tipologi kepribadian Islam didasarkan atas kerangka: (1) struktur nafsani kepribadian Islam (hawa nafsu, aqal dan qalbu) berikut dinamikanya; (2) menggunakan paradigma bagaimana seharusnya bukan sekedar apa adanya, yang karenanya terdapat unsur-unsur penilaian baik-buruk. Dalam hal ini, aksiologi Islam merupakan weltanschauung dalam mengkonstruksi fakta, sehingga tidak ada keterpisahan antara ilmu dan nilai keislaman, sehingga dalam kepribadian Islam tidak sekedar mendeskripsikan sifat-sifat manusia, tetapi juga menilai baik-buruknya;
(3) berorientasi teosentris, sebab kriteria yang digunakan bersumber dari norma wahyu Ilahi melalui pendekatan deduktif, sekalipun tanpa menghilangkan ijtihad manusia (dalam konteks ini para psikolog atau ilmuwan psikologi).
40Penentuan tipologi kepribadian dalam Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah banyak ragamnya. Keragaman itu disebabkan sudut pandang dalam melihat dan mengklarifikasi ayat atau hadits Nabi SAW tentang kepribadian. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan menggunakan kata kunci tha’ifah, fariq, firqah, hizb wa man dan minhu, serta ayat-ayat tertentu yang secara khusus menunjukkan tipologi manusia terdapat banyak pola penggolongan manusia, yang mana penggolongan itu disesuaikan dengan konteks ayat atau hadis yang diturunkan.
40 Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm. 166.
24 Tipologi pertama dengan pola berlawanan seperti positif versus negative atau baik versus buruk. Dalam QS Al-Baqarah ayat 1-20; Al Imran ayat 72; Al-A’raf ayat 87; dan Al-Shaf ayat 14, disebutkan tiga tipe manusia, yaitu:
a.
Tipe Mukmin
Tipe Mukmin yaitu mereka yang beriman atau percaya kepada yang ghaib seperti (Allah, malaikat, dan ruh) menunaikan shalat, menafkahkan rezekinya kepada fakir miskin dan yatim piatu, beriman kepada kitab Allah, dan beriman kepada hari akhir. Tipe ini digolongkan sebagai tipe dengan beruntung (muflih) karena telah mendapatkan petunjuk. QS Al-Baqarah ayat 3-5: "(Yaitu) mereka yang beriman kepada ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka “yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab- kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin dengan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.
b.
Tipe Kafir
Tipe Kafir yaitu mereka yang ingkar terhhadap hal-hal yang dipercayai sebagai seorang mukmin. Tipe seperti ini digambarkan sebagai tipe yang sesat karena terkunci hati, pendengaran dan penglihatannya dalam masalah kebenarannya.
QS Al-Baqarah ayat 6-7. “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi
mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan mereka tidak
juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka,
dan pendengaran mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat”.
25
c.
Tipe Munafik
Tipe Munafik yaitu mereka yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, tetapi imannya hanya di mulut belaka, senantiasa hatinya ingkar. Mereka ingin menipu Allah dan orang mukmin, walaupun sebenarnya ia menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. QS Al-Baqarah ayat 8-14: “Di antara mereka ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:
“Kami telah beriman”. Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".
Tanpa mengecilkan beberapa tipologi di atas, dalam penelitian ini akan
digunakan ada tiga tipe manusia, yaitu tipe yang berkepribadian ammarah,
26 kepribadian lawwamah, dan kepribadian muthmainnah. Hal ini didasarkan atas konsistensi dengan pembahasan struktur kepribadian dalam Islam.
41a. Tipologi Kepribadian Ammarah
Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang cenderung melakukan perbuatan- perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan perbuatan tercela. Ia mengikuti tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan (pleasure principle) syahwati. Bentuk- bentuk tipologi kepribadian ammarah adalah, syirik, kufur, riya’, nifaq, zindiq, bid’ah, sihir, membangga-banggakan kekayaan, dan lain-lain.
b. Tipologi Kepribadian Lawwamah
Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang mencela perbuatan buruknya setelahm memperoleh cahaya kalbu. Ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya dan kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabkan oleh watak gelap (zhulma-niyyah)-nya, tetapi kemudian diingatkan oleh nur Ilahi, sehinnga ia bertaubat dan memohon ampunan (istighfar). Bentuk- bentuk tipologi kepribadian ini sulit sekali untuk ditentukan, sebab ia merupakan kepribadian antara, yakni antara kepribadian ammarah dan muthmainnah, yang bernilai netral. Maksud netral disini dapat berarti:
1) Tidak memiliki nilai buruk atau nilai baik, tetapi dengan nilai gesekan motivasi, netralitas suatu tingkah laku akan menjadi baik atau menjadi buruk.
2) Ia bernilai baik menurut ukuran manusia, tetapi belum tentu baik menurut ukuran Tuhan, seperti rasionalitas, moralitas, dan sosialitas yang dimotivasi oleh antroposentris (insaniyah).
41 Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2017), hlm. 170-175.