• Tidak ada hasil yang ditemukan

Development of Bakaran Village Special Batik Motif for Men s Clothing Products

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Development of Bakaran Village Special Batik Motif for Men s Clothing Products"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

A.06| 1

PENGEMBANGAN MOTIF BATIK KHAS DESA BAKARAN UNTUK PRODUK

BUSANA PRIA

Development of Bakaran Village Special Batik Motif for Men’s Clothing Products

Masiswo, Agus Haerudin

Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl. Kusumanegara No 7 Yogyakarta 55166

Korespondensi Penulis

Email : [email protected]

Kata kunci: Batik, Motif, desa Bakaran, laut, industri.

Keywords: Batik, Motif, Bakaran village, sea, industry.

ABSTRAK

Bakaran adalah sebuah desa yang ada di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati yang mempunyai industri batik sejak dulu. Desain motif batik desa Bakaran kurang berkembang dan pasarnya semakin menurun.

Perkembangan masyarakat sekarang menuntut untuk meningkatkan pengembangan motif batik desa Bakaran yang dapat diterima oleh pasar. Tujuan dari pengembangan motif batik Bakaran untuk menciptkan motif batik khas yang dapat meningkatkan alternatif pilihan motif batik yang ada di pasar.

Metode pengembangan desain motif batik Bakaran dengan cara menggali informasi data melalui wawancara, survey, studi literatur untuk penciptaan motif batik yang selanjutnya dibuat produk busana. Pengembangan desain motif batik Bakaran didasarkan pada data lingkungan alam desa Bakaran yang meliputi lahan tambak udang, ikan dan habitat laut. Pembuatan contoh produk terpilih untuk busana berjumlah tiga dan diuji tingkat ketahanan luntur warnanya dan penilaian publik atau konsumen terhadap daya tarik estetika karya motif batik. Hasil pengembangan desain menunjukkan bahwa dari tiga contoh produk menghasilkan ketahanan luntur warna terhadap pencucian rata-rata baik dan daya tarik estetika motif batik yang tertinggi adalah pada “Motif ikan dan rumput laut latar sisik”. Hasil pengembangan motif batik Bakaran dapat diterapkan ke industri supaya bermanfaat untuk kemajuan klaster indutri batik di desa Bakaran, kabupaten Pati.

ABSTRACT

Bakaran is a village in Juwana sub-district, Pati district, which has a batik industry for a long time. The batik design of Bakaran village is less developed and the market is decreasing. The development of society now demands to increase the development of Bakaran village batik motifs that can be accepted by the market. The purpose of developing the Bakaran batik motif is to create a distinctive batik motif that can increase the alternative choices of batik motifs on the market. The method of developing the design of the Bakaran batik motif is by digging up data information through interviews, surveys, literature studies for the creation of batik motifs which are then made into fashion products.

The development of the Bakaran batik motif design is based on data on the natural environment of Bakaran village which includes shrimp ponds, fish and sea habitats. Three samples of selected products for clothing were made and tested for their level of color fastness and public or consumer assessments of the aesthetic appeal of batik motifs. The results of the design development show that of the three product samples, the average color fastness to washing is good and the highest aesthetic appeal of batik motifs is in "Motif ikan dan rumput laut latar sisik". The results of the development of the Bakaran batik motif can be applied to industry so that it is useful for the progress of the batik industry cluster in Bakaran village, Pati district.

(2)

A.06 | 2 PENDAHULUAN

Bakaran adalah desa yang ada di kecamatan Juwana kabupaten Pati. Desa Bakaran terdiri dari dua yakni Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon. Saat ini, desa Bakaran mampu menjadi ikon Pati yaitu dengan karya budaya masyarakat. Banyak budaya ditemukan di Juwana terutama di desa Bakaran, sehingga masyarakat menamakan daerah seni budaya.

Salah satu karya budaya masyarakat yang mampu menjadi perhatian masyarakat luas adalah karya batik tulis. Mata pencaharian masyarakat desa Bakaran antara lain petani, nelayan, perajin, pedagang, buruh swasta, dan pegawai pemerintah. Kondisi alam desa Bakaran meliputi tanah sawah,

tambak

(lahan untuk ternak udang, ikan dan pembuatan garam) serta pesisir pantai utara (Desa Bakaran, 1988).

Desa Bakaran berada di wilayah pesisir utara Jawa Tengah sehingga budaya pesisir kelautan menjadi bagian yang cukup kuat. Karena berada pada kondisi alam kelautan, maka proses kreatif dan pengelolaan alam ke dalam budaya kehidupan masyarakat Bakaran terbentuk. Salah satu dari budaya pesisir Bakaran adalah industri batik yang terinspirasikan dari budaya pesisir.

Karya batik di desa Bakaran mampu mengangkat citra daerah dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Corak batik Bakaran sangat khas dan unik (Prahutama

et al.,

2010) yang motifnya sangat berbeda dengan batik-batik lain walaupun asal mulanya dari budaya batik yang sama yaitu budaya keraton. Hal ini disebabkan karena sudah terjadi perpaduan kebudayaan pedalaman dan pesisir yang akhirnya karya masyarakat ini unik.

Motif batik tulis Bakaran berdasarkan geografis dan filosofis motif dan warna yang mendapat pengaruh dari Surakarta dan Yogyakarta mempunyai mempunyai ciri tersendiri, yaitu warna hitam dan coklat pada motif batik tradisional. Contoh unsur corak/motif batik tradisional desa Bakaran meliputi:

Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Namtikar, Limanan, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Nogo Royo, Gandrung, Rawan,Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggaran, Kedele Kecer, Puspo Baskora, ungker Cantel, blebak lung

.

Usaha industri batik desa Bakaran tentu diperlukan pengembangan dari berbagai aspek, salah satunya adalah pengembangan desain batik. Menurut Moekijat dalam Dian Helina (Herlina, 2018) pengembangan adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan (hasil) pekerjaan, baik yang sekarang maupun untuk masa yang akan datang, dengan cara memberikan informasi, mempengaruhi sikap atau menambah kecakapan.

Pengembangan desain batik yang dimaksud adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk menambah tingkat kualitas bentuk rupa dari motif batik yang sudah ada.

Batik merupakan lukisan atau gambar pada kain mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting (Oktora, 2019). Pendapat ini hampir sama dikatakan oleh Nian S Djumeno dalam Maziyah (Maziyah

et al.,

2016) yang mengatakan bahwa batik pada dasarnya sama dengan melukis diatas sehelai kain putih, sebagai alatnya dipakai canting dan bahan melukisnya dipakai

malam

.

(3)

A.06 | 3 Lingkungan alam daerah tempat tinggal banyak mempengaruhi proses kreatif para perajin dengan kemampuan tenaga produksinya dan kemampuan para desainer-desainernya dalam membuat suatu produk. Proses desain berada hampir disemua bidang pekerjaan tidak terkecuali dalam bidang industri kecil menengah (IKM) batik.

Desain adalah organisasi atau susunan bagian-bagian yang saling berkaitan dan membentuk suatu keseluruhan yang terkoordinasi. Sejalan dengan itu Sidik dan Prayitno dalam Ardiyanti (Ayu, 2013) menyatakan bahwa desain adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti; garis, warna, ruang, tekstur, cahaya dan lain sebagainya, sedemikian rupa, sehingga menjadi kesatuan organik dan harmonis di antara bagian-bagian dengan keseluruhannya. Mendesain adalah merancang suatu benda apakah itu berupa benda pakai, atau benda seni, harus didasari suatu data untuk memperoleh desain yang baik sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Berdasarkan beberapa pendapat dan uraian di atas, mendesain adalah proses pemikiran yang sistematis dalam merencana suatu benda, agar dapat mencapai suatu hasil yang optimal. Desain yang optimal harus dibuat sesuai dengan tujuan dan keperluannya, harus tampak menyenangkan bagi orang- orang yang berhubungan dan harus sangat harmonis dengan lingkungan sekitarnya.

Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi budaya pesisir kelautan, tambak udang, ikan bandeng untuk dikembangkan dalam motif batik dan diaplikasikan pada produk busana. Melalui pengembangan motif batik ini diharapkan dapat menjadi alternatif pilihan para konsumen di pasar batik.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode pengembangan motif batik bersumber dari inspirasi budaya pesisir Bakaran, tambak udang, ikan bandeng serta wawancara, survey dan studi literatur. Wawancara dilakukan kepada perajin batik, sedangkan survey dikerjakan langsung dengan melihat situasi dan kondisi industri batik, tambak udang dan pesisir pantai Juwana. Bahan yang digunakan dalam proses pengembangan motif batik desa Bakaran untuk busana adalah kertas pola, kain mori primmisima, malam batik, pewarna sintetis Napthol. Peralatan yang digunakan adalah canting batik, bak pencelupan/pewarnaan, keceng untuk

nglorod

, kompor batik, gawangan.

Metode penciptaan pengembangan motif batik dikerjakan dengan tiga tahapan yaitu:

tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Tahap eksplorasi yaitu aktivitas penjelajahan menggali sumber ide, pengumpulan data & referensi, pengolahan dan analisa data, hasil dari penjelahan atau analisis data dijadikan dasar untuk membuat rancangan atau desain. Tahap perancangan yaitu memvisualisasikan hasil dari penjelajahan atau analisa data kedalam berbagai alternatif desain (sketsa), untuk kemudian ditentukan rancanagn/sketsa terpilih, untuk dijadikan acuan dalam pembuatan rancanagan final perwujudan karya. Tahap perwujudan yaitu mewujudan rancangan terpilih/final menjadi model prototipe sampai ditemukan kesempurnaan karya sesuai dengan desain/ide, dan diproduksi.

(4)

A.06 | 4 Metode pengujian terhadap hasil kain batik dengan acuan SNI ISO 105–C06:2010, Tekstil – Cara uji tahan luntur warna – Bagian C06: Tahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan komersial. Sedangkan pengukuran untuk tingkat kesukaan motif batik (estetika) dengan memberikan quesuiner kepada 35 responden.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pola tingkah laku, adat istiadat merupakan perwujudan dari budaya suatu daerah. Desa Bakaran yang berada di wilayah pesisir utara jawa tengah mempunyai banyak ragam budaya dan mata pencaharaian. Di wilayah yang berpekerjaan pembesaran udang dan ikan bandeng, nelayan, mencari ikan di lautan. Di Bakaran juga ada tradisi sedekah laut, yaitu rasa bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi banyak rezeki dari laut. Ada banyak lahan tambak udang dan ikan bandeng serta garam yang dikerjakan oleh masyarakat desa Bakaran. Ini menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan ataupun pengembangan motif batik. Bahwa ragam hias batik merupakan ekspresi keadaan diri dan lingkungan budaya sekitarnya (Sukanadi, 2015).

Lingkungan alam dan kehidupan budaya pesisir mencerminkan kegiatan industri batik di desa Bakaran. Lingkungan alam dan budaya pesisir menjadi pandangan hidup yang dapat dihadirkan dalam industri batik. Pandangan hidup (filsafat hidup) dari manusia atau masyarakat pencipta, yang mempunyai arti harapan-harapan tertentu. Hal-hal tersebut dalam dunia industri maupun berkesenian sangat mempengaruhi proses desain motif batik.

Batik menurut SNI (Setandar Nasional Indonesia, 2014) kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan secara perintangan menggunakan

malam

(lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki makna. Batik berarti menitikkan malam panas dengan canting sehingga membentuk corak yang terdiri atas titik dan garis.

Proses penciptaan dan pengembangan motif batik dapat bersumber dari alam sekitar (Na’am, 2018). Hasil pengembangan motif batik berupa tiga desain motif batik yang bersumber inspirasi dari budaya pesisir kelautan, tambak udang dan ikan bandeng.

Pengembangan motif-motif tersebut didapat dari berbagai sumber inspirasi yang dikerjakan dengan pengolahan bentuk, garis, warna, keseimbangan, dan unsur-unsur rupa lainnya.

Penempatan motif pada bidang-bidang tertentu merupakan bagian langkah untuk menciptakan suatu hiasan lebih menarik dan indah. Ini kaitannya produk batik sebagai benda yang siap dipasarkan kepada konsumen yang mempunyai selera yang bermacam- macam. Peminat produk batik bukan hanya orang yang mengerti dan memahami akan suatu filosofi motif batik tetapi jugan karena keindahan bentuk visual semata. Pengolahan budaya pesisir daerah dapat dibuat sama persis dengan apa yang ada tetapi juga dapat dirubah sesuai dengan kemampuan olah artistik dalam motif batik. Jadi hiasan yang diterapkan disuatu produk bukan semata-mata dibuat begitu saja tetapi dibuat dengan penuh perasaan dan pikiran. Karena untuk menciptakan suatu yang indah memang tidak mudah dan sifatnya

(5)

A.06 | 5 relatif, yang secara subyektif akan berbeda apresiasinya sesuai dengan latar belakang sosial dan budaya masing-masing orang.

Penerapan motif batik khas daerah Bakaran didasarkan pada latarbelakang sosial kultural masyarakat Bakaran. Bakaran merupakan daerah pesisir utara yang masyarakatnya berpenghasilan dari pertanian, nelayan. Hasil laut, tambak udang, ikan bandeng merupakan ciri khas dari penghasilan masyarakat Bakaran. Kondisi kultural inilah yang menjadi ide untuk mengembagkan motif batik di desa Bakaran. Motif yang dihadirkan meliputi biota laut, ikan, udang dan bentuk-bentuk hasil laut lainnya.

Hasil dari desain motif ini selanjutnya diproses batik untuk dibuat produk dalam bentuk busana. Adapun proses pembuatan batik melalui tahapan mendesain motif batik, mempola ke kain, membatik/

mencanting,

mewarna dan

nglorod

/melepas lilin batik. Pada setiap tahapan memerlukan perencanaan kerja, pengawasan dan evaluasi, untuk menghasilkan produk batik yang berkualitas. Proses produksi batik memiliki tahapan proses yang secara teknis ditentukan oleh keahlian masing-masing tenaga kerja dengan spesialisasi khusus.

Setiap tahapan proses membuat batik harus sesuai standar proses produksi supaya menghasilkan produk batik yang berkualitas dengan cara melakukan pengendalian mutu pada setiap tahapan produksi (Rusydah & Utomo, 2019). Kualitas produk batik minimal dilihat dari hasil cantingan yang rapi, hasil pewarnaan yang baik dan memiliki ketahanan luntur yang baik, serta keseluruhan desain motif memiliki makna tertentu. Di setiap tahapan proses memerlukan kecermatan, kesabaran, ketelitian dan melibatkan ekspresi jiwa yang indah, supaya dapat mewujudkan hasil karya seni batik yang berkualitas dan estetik.

Pengembangan Desain Motif Batik Desa Bakaran

Pengembangan merujuk pada suatu perubahan yang mendasar dari hal yang bersifat lama diolah menjadi bentuk baru, artinya suatu usaha perbaikan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas. Pengembangan desain ragam hias/motif batik batik dapat meningkatkan jangkuan perluasan pasar yang bermuara pada nilai tambah ekonomi masyarakat (Murwati & Masiswo, 2013).

Berdasarkan pada budaya pesisir kelautan desa Bakaran dibuat alternatif rancangan pengembangan desain motif batik yang mencerminkan desa Bakaran. Proses penciptaaan desain motif batik melalui mengorganisasikan unsur-unsur rupa, memadukan dan menyusunnya, agar diperoleh bentuk yang menarik dan memuaskan. Unsur-unsur rupa tersebut harus diatur atau diorganisasikan sehingga menjadi susunan yang harmonis dan mempunyai kesatuan yang utuh. Prinsip-prinsip desain dapat memberikan suatu kesempurnaan secara tepat sampai pada terbentuknya susunan motif batik yang menarik dan memuaskan. Proses penciptaan atau pengembangan desain motif batik memerlukan kecermatan, kesabaran, ketelitian dan melibatkan ekspresi jiwa yang indah, supaya dapat mewujudkan hasilkarya seni batik yang berkualitas dan estetik (Masiswo & Atika, 2016).

(6)

A.06 | 6 Berkaitan dengan keberlangsungan motif tradisional desa Bakaran yang sudah ada, maka penciptaan pengembangan desain motif batik ini sebagai upaya untuk menambah referensi pengetahuan tentang desain batik baru dan mengeksplorasi budaya pesisir Bakaran.

Hal tersebut dilakukan dengan harapan untuk lebih mengkaji dan mengembangkan kreatifitas dalam upaya penciptaan desain motif batik baru dalam suatu bentuk-bentuk produk busana. Pengembangan ornamen ini lebih menekankan pada representasi bentuk- bentuk biota laut yang diterapkan pada kain dengan teknik batik. Sehingga dengan pengembangan motif batik dapat menjadi identitas desa Bakaran. Seperti dinyatakan oleh Suliyati (Suliyati & Yuliati, 2019) bahwa batik dan motifnya bisa menjadi suatu identitas.

Penerapan kehidupan budaya pesisir kelautan desa Bakaran dimanifestasikan pada produk busana batik merupakan salah satu sarana menghias kain kain/pakaian. Hasil penciptaan pengembangan desain motif batik diinspirasi dari rumput laut, udang dan ikan bandeng dapat dilihat pada Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 3. Dari inspirasi tersebut dibuat rancangan desain motif batik dalam produk busana tampak pada Gambar 4, Gambar 5 dan Gambar 6.

Gambar 1. Rumput Laut Gambar 2. Udang Gambar 3. Ikan Bandeng

Gambar 4. Motif Ikan dan Rumput Laut Latar Sisik

Gambar 5. Motif Udang Gambar 6. Motif Ikan Bandeng

Setiap motif batik yang dirancang mengkonsepsikan kehidupan budaya pesisir kelautan desa Bakaran. Makna dari pengembangan motif ini hanyalah mencitrakan kehidupan yang ada di desa Bakaran. Bukhari seorang perajin batik Bakaran mengatakan bahwa banyak para perajin di Bakaran membuat motif batik yang berkaitan dengan lingkungan sekitar seperti ikan (wawancara, 12 Febuari 2019). Pengembangan motif batik ini sebagai bahan sandang yang disesuaikan dengan tata nilai estetik serta kondisi sosial dan budaya masyarakat. Upaya pengembangan motif batik desa Bakaran untuk busana disesuaikan dengan situasi dan

(7)

A.06 | 7 kondisi yang ada. Mengingat tingkat kehidupan manusia semakin maju, tuntutan kebutuhan manusia semakin berkembang sehingga dibutuhkan desain motif baru batik desa Bakaran.

Hasil dari desain motif ini selanjutnya diproses batik untuk dibuat produk dalam bentuk busana seperti tampak pada Gambar 7, Gambar 8, dan Gambar 9.

Hasil Produk Busana Batik dan Pengujian

Desain yang yang telah dirancang diaplikasikan dalam bentuk prototipe produk batik berupa busana.

Gambar 7. Motif ikan dan rumput laut latar sisik

Gambar 8. Motif udang Gambar 9. Motif ikan udang

Pemilihan warna didasarkan pada kebutuhan akan warna-warna yang cerah. Warna merah masih digunakan karena merupakan warna khas dalam kebudayaan desa Bakaran.

Teknik pembuatan produk batik menggunakan teknik batik tulis dan pewarna yang digunakan menggunakan jenis zat warna sintetis napthol dan indighosol.

Produk batik diuji berdasarkan standar tekstil yang berlaku di Indonesia. Acuan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang digunakan adalah pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian (SNI 105-C06-2010). Adapun hasil uji dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil uji ketahanan luntur terhadap pencucian

No Nama Penurunan warna Penodaan warna

1 Batik motif ikan dan rumput laut latar sisik 4 (Baik) 4 (Baik)

2 Batik Motif ikan bandeng 4 (Baik) 4 (Baik)

3 Batik Motif udang 4 (Baik) 4 (Baik)

Tabel 1 menunjukkan bahwa ketahanan luntur kain batik terhadap pencucian ketiga sampel menunjukkan hasil baik. Hal ini disebabkan oleh proses pewarnaan batik yang memenuhi standar proses pewarnaan dan bahan pewarna yang dalam kondisi masih baik.

Pewarna batik dapat meresap dan mengikat ke kain dengan baik dan tidak mudah lepas atau luntur dan menghasilkan warna yang cerah. Zat pewarna sintetis adalah zat pewarna yang umum digunakan, penggunaan zat pewarna sintetis baik untuk batik dan kerajinan tekstil

(8)

A.06 | 8 yang lain, karena penggunaannya jauh lebih mudah, hasil pewarnaannya lebih cerah dan mempunyai ketahanan luntur yang baik (Wahyuni & Diba, 2017). Hasil ketahanan luntur yang baik akan menghasilkan motif batik yang berkualitas juga, karena tampilan warna yang tetap kuat dan goresan-goresan lilin batik serta bagian-bagian yang terwarna tetap cerah dan jelas.

Tabel 2. Hasil uji kesukaan motif batik (estetika)

No Nama Motif Kurang Cukup Baik Baik sekali

1 Batik motif ikan dan rumput laut latar sisik 2 8 16 9

2 Batik Motif ikan bandeng 5 13 11 6

3 Batik Motif udang 8 12 10 5

Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa sejumlah 35 responden lebih menyukai

Batik Motif Ikan Dan Rumput Laut Latar Sisik

. Kesukaan tersebut didasarkan pada keseimbangan, proporsi, harmoni, irama yang ada pada bentuk motif, warna, ukuran, dan bidang dalam keseluruhan unititas motif batik. Secara visual goresan motif memiliki kerapihan dan tampilan warna tajam serta merata. Hal ini menunjukkan kualitas yang baik dari sebuah batik, yang dikerjakan dengan kesabaran, ketekunan dan keterampilan yang baik. Proses pembuatan dan penempatan motif batik pada suatu produk dengan mempertimbangkan pengorganisasian elemen-elemen visual yang ada. Artinya penempatan suatu motif bisa ditampilkan secara penuh pada suatu produk tetapi juga bisa ditampilkan pada bagian- bagian tertentu pada suatu produk. Upaya pengembangan desain motif batik berbasis budaya pesisir desa Bakaran memperhatikan unsur-unsur dan prinsip seni rupa berupa titik, garis, bentuk, dan bidang untuk mewujudkan sebuah karya seni batik yang indah (Tannady, 2013).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Pengembangan penciptaan desain motif batik desa Bakaran untuk busana bermotif batik dikerjakan dengan memperhatikan unsur-unsur keindahan visual yang berlatar pesisiran untuk menghasilkan batik yang estetik. Seperti pada

Motif ikan dan rumput laut latar sisik.

Produk busana menjadi alternatif produksi yang dapat menjadi alternatif pilihan para konsumen.

Saran

Perajin batik desa Bakaran perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan teknologi proses batik supaya hasil yang dicapai sesuai dengan syarat mutu yang terdapat di Standar Nasional Indonesia. Perihal tersebut dilakukan supaya klaster batik Bakaran dapat lebih maju berkembang.

(9)

A.06 | 9 KONTRIBUSI PENULIS

Penulisan karya tulis ini dikerjakan oleh Masiswo selaku kontributor utama dan Agus Haerudin selaku kontributor anggota.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami ucapkan terima kasih kepada kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik, serta bapak Bukhari selaku perajin batik di desa Bakaran atas pemberian informasi dan data untuk kelengkapan karya tulis ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, A. P. (2013). Nirmana-Komposisi Tak Berbentuk Sebagai Dasar Kesenirupaan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta. Jurnal Ilmiah WIDYA, 1(2).

Desa Bakaran. (1988). Profil Desa Bakaran. 3–5.

Herlina, D. (2018). Pegawai, Pengembangan Kantor, D I Dan, Arsip Daerah, Perpustakaan Sumedang, Kabupaten. Journal of Regional Public Administration (JRPA),2(1).

Masiswo, M., & Atika, V. (2016). Aplikasi Ornamen Khas Maluku untuk Pengembangan Desain Motif Batik. Dinamika Kerajinan Dan Batik: Majalah Ilmiah, 31(1), 21.

https://doi.org/10.22322/dkb.v31i1.1048

Maziyah, S., Mahirta, M., & Atmosudiro, S. (2016). Makna Simbolis Batik Pada Masyarakat Jawa Kuna.

Paramita: Historical Studies Journal, 26(1), 23. https://doi.org/10.15294/paramita.v26i1.5143 Murwati, & Masiswo. (2013). Rekayasa Pengembangan Desain Motif Batik Khas Melayu. 7, 67–72.

Na’am, M. F. (2018). Kearifan Lokal Motif Batik Semarang Sebagai Ide Dasar Model Kreatif Desain Kaus Digital Printing. TEKNOBUGA, 6(1), 16–34. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/2359-4431-1-PB (2).pdf

Nasional, B. S. (2014). Batik - Pengertian dan istilah.

Oktora, N. (2019). Studi Batik Tanah Liek Kota Padang ( Studi Kasus di Usaha Citra Monalisa ) Abstrak. 08(April).

Prahutama, A., Saputra, R., Statistika, D., Informatika, D., Komoditi, P., & Daerah, U. (2010).

Pengembangan Ukm Batik Bakaran Sebagai Batik Khas Kabupaten Pati Jawa Tengah. Senadimas Unisri, 6(September), 146–157. http://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/sndms/article/view/3279 Rusydah, M., & Utomo, Y. T. (2019). Analisis Manajemen Pengendalian Mutu Produksi pada Bakpiapia

Djogja Tahun 2016 Berdasar Perencanaan Standar Produksi. 18(1).

Sukanadi, I. M. (2015). Studi Dan Penciptaan Motif Nitik. Corak Jurnal Seni Kriya, 4 no.1(Studi Dan Penciptaan Motif Nitik Di Sentra Batik Kembangsongo Bantul), 39–52.

file:///C:/Users/ASUS/Downloads/2359-4431-1-PB (2).pdf

Suliyati, T., & Yuliati, D. (2019). Pengembangan Motif Batik Semarang untuk Penguatan Identitas Budaya Semarang. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 4(1), 61. https://doi.org/10.14710/jscl.v4i1.20830 Tannady, H. (2013). Perancangan Kios Informasi Prima Canteen Berupa Virtual Account. 2(1), 1–13.

Wahyuni, U. I., & Diba, F. A. W. (2017). Perbandingan Zat Pewarna Ekstrak Daun Dan Serasah Tengkawang (Shorea Macrophylla Ashton ) Yang Terfiksasi Terhadap Kayu Sengon ( Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen). 5(3), 748–756.

(10)

A.06 | 10 Lembar Tanya Jawab

Moderator : Masiswo Notulis : Mutiara Triwiswara 1. Penanya : Sugiyem (UNY)

Pertanyaan : Dilihat dari judul, makalah ini mengenai pengembangan motif.

Akan tetapi pada metode ada uji ketahanan luntur warna.

Pertanyaan saya: apakah ada perbedaan resep ataupun jenis zat warna yg digunakan? Ataukah ada perbedaan ukuran resep pewarnanya sehingga diuji ketahanan luntur warna?

Jawaban : Di BBKB sudah pernah dilakukan penelitian mengenai standar proses untuk pembuatan batik. Penelitian ini sudah dikerjakan sesuai standar pewarnaan menggunakan Naphtol dan Indigosol, sudah diuji dan hasilnya baik. Jika tidak sesuai standar, misalnya pada pewarnaan menggunakan indigosol asamnya kurang, ketahanan lunturnya rendah, jika asamnya lebih dari standar maka akan merusak kain. Pencelupan dilakukan 3 kali.

2. Penanya : Arif Suharson (ISI Yogyakarta)

Pertanyaan : Batik hasil Desa Bakaran sering dikatakan hasil warnya pudar setelah dipakai 2-3 kali saja apakah unsur pewarnaan sintetis salah atau bagaimana? Mohon penjelasannya.

Jika proses pewarnaannya tidak sesuai resep dan prosedur standar maka kualitas warnanya akan kurang baik atau dapat merusak kain.

Gambar

Gambar 1. Rumput Laut  Gambar 2. Udang  Gambar 3. Ikan Bandeng
Gambar 7. Motif ikan dan  rumput laut latar sisik
Tabel 2.  Hasil uji kesukaan motif batik (estetika)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil kajian ini dijangkakan dapat memberi maklumbalas yang boleh digunakan untuk menambahbaik kualiti kehidupan mahasiswa di Kolej Tun Ghafar Baba, membantu pihak

Biržiška stabteli prie to, kad būtent lietuvių literatūros isto - rija (kuria užsiima tiek patys lietuviai, tiek vokiečių, lenkų, rusų autoriai, t. lietuvių literatūros

Terkait dengan kewajaran penyajian Laporan keuangan yang disusun terdiri dari Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan arus kas, Laporan Pembagian Hasil Usaha di

Meskipun persentase penggunaan biaya variabel untuk operasional lebih besar dibandingkan persentase biaya tetap untuk investasi, atau secara rata-rata total biaya mencapai

Prostaglandin dalam lambung merupakan sitoprotektor, akibat sintesisnya yang berkurang karena hambatan aspirin maka ketahanan mukosa (faktor defensif) lambung

Objek Pajak Konstruksi Umum Objek Pajak Konstruksi Khusus Penilaian Individual LKOK Proses CAV Program CAV Pengecekan Nilai Nilai Objek.. Nilai tidak Dapat

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut. Mengetahui perbedaan yang signifikan kemampuan membaca pemahaman cerpen antara peserta didik yang mendapat

Kondisi domain kognitif awal peserta yang berada dalam level pemahaman (comprehension) teori SIG menunjukkan peserta telah pada level 2 pembelajaran SIG (pengetahuan à