1 BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tesis ini akan membahas mengenai alasan Pemerintah Turki menyepakati Strategic Cooperative Relationship (SCR) yang ditawarkan oleh Pemerintah China pada tahun 2010. Dilakukannya joint declaration tentang SCR oleh Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dengan Perdana Menteri Wen Jiabao pada tanggal 8 Oktober 2010 lalu di Ankara,1 telah berhasil menarik banyak perhatian dunia. Pasalnya, hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Turki telah sepakat untuk meningkatkan hubungan b ilateralnya dengan China, dimana sebelumnya hubungan diplomatik kedua negara cenderung stagnan dan bahkan merenggang ketika terjadinya konflik di Xinjiang pada Juli 2009 yang lalu.
Meningkatnya hubungan diplomatik Turki dengan China melalui kesepakatan SCR tersebut menimbulkan teka-teki bagi para pengamat politik luar negeri Turki. Mengingat perkembangan interaksi kedua negara yang tidak signifikan, meskipun kedua negara tersebut telah membangun hubungan diplomatiknya sejak tahun 1971.2 Selain itu, Turki dan China merupakan dua negara yang memiliki culture yang begitu berbeda, baik dalam bidang politik, ekonomi maupun sosial dan budayanya. Dimana China masih memegang erat budaya sosialis-komunis dalam kehidupan sehari-harinya, sementara Turki selalu condong pada kehidupan Barat yang menjunjung nilai-nilai demokrasi dan liberal.
Sebagaimana yang diketahui bahwa sejak menjadi sebuah negara Republik pada tahun 1923, Turki dibawah pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk mengalamai banyak perubahan besar dalam identitas bangsa dan negaranya. Dari sebuah negara yang begitu memegang erat nilai- nilai keislaman dan ketimuran dalam setiap sisi kehidupannya, Turki kemudian dipaksa
1
Ministry of Foreign Affairs of The People's Republic of China, Wen Jiabao Holds Talks with Turkish Prime Minister Erdogan, dipublikasikan pada 2010/10/08, diakses di http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/ wenjiabaozonglifangwenouyasiguo_665782/t759900.shtml, pada tanggal 17 Oktober 2016, pukul 17.58 WIB.
2
Selcuk Esenbel, Altay Atli, Turkey’s Changing Foreign Policy Stance: Getting Closer to Asia?, dipublish pada Sep 30, 2013, akses di http://www.mei.edu/content/turkey%E2%80%99s-changing-foreign-policy-stance-getting-closer-asia, pada tanggal 17/10/2016, pukul 10.36 WIB.
2 untuk mengganti identitas tersebut dengan menerapkan nilai-nilai barat seperti yang ada di negara-negara Eropa dan Amerika.
Perubahan dalam identitas Turki tersebut juga terjadi pada kebijakan luar negeri Turki yang selalu berorientasi barat. Sudah sejak lama Turki terus berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Barat, yakni melalui keanggotaannya di NATO (North Atlantic Treaty Organization) pada tahun 1952, dan juga permohonan keanggotaannya di Uni Eropa yang masih belum diterima hingga saat ini. Perubahan dalam politik luar negeri tersebut juga membuat Turki dan China berada pada kubu yang saling berseberangan pada masa perang dingin, yang membuat hubungan kedua negara saling bertentangan.
Hubungan antara Turki dan China mulai meningkat signifikan sejak tahun 2000, yang dilihat dari peningkatan volume perdagangan kedua negara yang cukup pesat. Namun demikian, hubungan Turki dan China justru kembali merenggang ketika terjadinya konflik Uyghur di Xinjiang, pada tanggal 5 Juli 2009. Kerusuhan tersebut menewaskan 184 orang dan lebih dari 1000 orang terluka, sehingga memb uat PM Erdogan bereaksi keras dengan menyebut peristiwa tersebut sebagai ‘bagian dari genosida’.3
Akan tetapi, pemerintah China yang tidak terima dengan pernyataan tersebut, mengklaim bahwa yang tewas dalam kejadian tersebut kebanyakan merupakan masyarakat etnis Han China. Sehingga menuntut PM Erdogan untuk menarik kembali ucapannya, karena dianggap mencampuri urusan internal negara China.4
Masyarakat etnis Uyghur yang berada di Xinjiang merupakan masyarakat muslim minoritas, yang masih memiliki ikatan etnis dan sejarah yang kuat dengan Turki. Dalam perkembangannya, hubungan antara masyarakat minoritas Uyghur dengan Turki merupakan sumber ketegangan antara Turki dan China selama beberapa dekade, dan merupakan penyebab dari sejumlah ketidaksepakatan antara Ankara dan Beijing sejak tahun 1971.5 Hal tersebut disebabkan karena adanya hak penjagaan de facto Turki, terhadap masyarakat etnis Turki d i Kaukasus dan Asia Tengah setelah runtuhnya Uni Soviet.6
3
Ivan Watson and Helena DeM oura, Turks criticize Chinese treatment of Uyghurs, dipublish pada July 12, 2009, akses di http://edition.cnn.com/2009/WORLD/europe/07/11/turkey.china.uyghurs/, pada tanggal 12/11/2016, pukul 12.17 WIB.
4 Galia Lavi, Gallia Lindenstrauss, China and Turkey: Closer Relations Mixed With Suspicion, Strategic Assessment, Volume
19, No. 2, July 2016.
5
Selcuk Colakoglu, Turkey’s Evolving Strategic Balance with China, Japan and South Korea, EastWestCenter.org/APB, Number 235, October 8, 2013.
6
Riza Kadilar, Andrew K. P. Leung, Possible Turkish-Chinese Partnership On A New Silk Road Renaissance By 2023, Turkish Policy Quarterly, Volume 2012, Number 2, Summer 2013.
3 Melihat fakta tersebut, maka menarik untuk diteliti apa sesungguhnya alasan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan bersedia menyepakati Strategic Cooperative Relationship dengan Pemerintah China pada tahun 2010 tersebut. Salah seorang pakar Hak Asasi Manusia di China, Jean-Pierre Cabestan, bahkan mengatakan bahwa sangat sulit bagi diplomat Turki untuk dapat sampai ke tahap hubungan tersebut.7 Apalagi mengetahui bahwa di Turki juga terdapat kelompok anti-China yang complain dengan kesepakatan SCR tersebut, karena dianggap hanya akan menjadikan Turki sebagai titik lompatan bagi China untuk mendapatkan pasar Uni Eropa.8 Apakah dengan adanya kesepakatan tersebut menandakan bahwa Turki saat ini sudah berpaling dari rekan setianya yakni negara-negara Eropa dan Barat? Dan jika benar, apakah hal tersebut menunjukkan bahwa Turki telah kecewa dengan kekuatan Barat sehingga mulai bergeser mencari partner baru dari wilayah Asia?
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas mengenai perubahan dalam politik luar negeri Turki dimasa pemerintahan Recep Tayyip Erdogan, k hususnya kebijakan yang menyepakati diadakannya Strategic Cooperative Relationship dengan pemerintah China tersebut, maka penulis hendak menemukan jawaban dari persoalan mendasar yang hendak diteliti berikut ini:
Mengapa pemerintah Turki menyepakati Strategic Cooperative Relationship dengan pemerintah China pada tahun 2010?
C. Tinjauan Pustaka
M. Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional di Jakarta, dalam tulisannya yang berjudul “Fenomena Recep Tayyip Erdogan dan Kepolitikan AKP di Turki”, juga menyoroti keberhasilan peran Erdogan beserta partainya dalam memulihkan perekonomian Turki, sehingga Ia mendapatkan apresiasi publik yang sangat tinggi dan mengantarkan Erdogan beserta partainya menang dalam empat kali pemilu di Turki sejak tahun 2003.
7
Julia Famularo, Erdogan Visit Xinjiang; Turkish leader Recep Tayyip Erdogan’s decision to visit Xinjiang surprised many. But Beijing ties come first, dipublikasikan pada 14 April 2012, akses di http://thediplomat.com/2012/04/erdogan-visits-xinjiang/, tanggal 28 Oktober 2016.
8
4 Secara ekonomi, dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya, tingkat inflasi turun sebesar 25%. GDP per kapita melonjak menjadi sebesar 5.500 Dolar AS. Pembangunan infrastruktur jalan mencapai 6.600 km dan hunian apartemen 270.000 unit. Nilai t ukar Lira Turki terhadap Dolar AS naik sebesar 55% sejak krisis pada April 2002. Perkembangan sektor energy juga mengesankan, meskipun harga minyak naik 36 kali. Tarif listrik tidak mengalami kenaikan, malahan produksi tenaga listrik melonjak 40%. Kementrian Energi telah membagikan 600.000 ton batubara kepada keluarga miskin.9
Selain itu Alfian juga dalam tulisannya tersebut mengemukakan mengenai strategisnya peran AKP dalam mendukung keberhasilan Erdogan sebagai Perdana Menteri khususnya dalam mengukuhkan prinsip-prinsip kepartaian dan pemerintahan Erdogan yang bersifat Moderat-Konservatif. Hal tersebutlah yang membuat Erdogan dan partai AKP dapat selalu diterima di kancah politik turki dan masyarakat. Sebagai partai AKP dipandang bersih dan professional, dimana pemerintahan Erdogan memberikan kemapanan dalam politik, keamanan dan ekonomi.
Tulisan Ziya Onis yang berjudul The triumph of conservative globalism: the political
economy of the AKP era, salah satu kunci keberhasilan Erdogan beserta partai AKP nya dalam
pemilu di Turki disebabkan oleh kinerja ekonomi yang kuat dalam “peraturan neoliberal”, yang dibantu oleh lingkungan likuiditas global yang menguntungkan ( memungkinkan Turki untuk menarik arus masuk modal asing yang besar untuk jangka pendek dan jangka panjang). Secara politik, pemerintahan AKP dinilai cukup efektif dalam mengelola krisis keuangan global, dan diuntungkan dengan kebijakan luar negerinya yang baru dan tegas.
Pemerintahan AKP berhasil membangun kinerja ekonomi yang mencolok dibanding era dekade kedua neo- liberalisme sebelumnya, yakni tahun 1990, dimana pertumbuhan ekonomi rendah dan terjadi ketidakstabilan ekonomi makro yang kronis. Ekonomi Turki mengalami tiga krisis ekonomi dalam waktu kurang dari satu dekade, pada tahun 1994, 2000, dan 2001. Krisis terakhir ini adalah yang terdalam satu di Turki selama era neo-liberal. Namun, krisis juga membuka jalan bagi gelombang baru reformasi regulasi di bawah tekanan kuat dari aktor eksternal seperti IMF dan Uni Eropa (EU), karena pemerintahan koalisi sebelumnya telah menunjukkan keengganan tertentu untuk melaksanakan reformasi.
Salah satu kunci penting keberhasilan AKP adalah pertumbuhan ekonomi dalam lingkungan inflasi yang rendah mampu menciptakan efek trickle down. Sehingga menyebabkan
5 PDB Per Kapita tumbuh secara drastis dimana kekayaan per kapita Turki tumbuh hampir menyamai rata-rata UE, dan tingkat kemiskinan turun dari 27% menjadi 18% (2002-2009).
Strategi AKP adalah semacam komunitarian, sebuah "jalan ketiga" sebagai respon terhadap globalisasi neo-liberal. Dimana sebagiannya merupakan cerminan dari semangat zaman baru, sebagai "sosial dan peraturan neo- liberalisme" yang semakin mengikat di tingkat global dan dipromosikan oleh lembaga keuangan internasional utama seperti IMF dan Bank Dunia. Disisi lain adanya warisan partai Islam, dan pentingnya hak- hak sosial, juga merupakan unsur penting dari gaya politik AKP. Yang penting dalam konteks ini adalah bahwa "sosial neo-liberalisme" AKP memungkinkan untuk melampaui batas-batas kelas politik dan membangun koalisi lintas-kelas berbasis dukungan luas dari politik, yang tidak akan mungkin terjadi di bawah gaya lama, yakni neo- liberalisme yang berdasarkan Konsensus Washington.
Dalam tulisannya yang lain, berjudul Beyond the 2001 financial crisis: the political
economy of the new phase of neo-liberal restructuring in Turkey, Ziya Onis juga menyebutkan
bahwa ekonomi politik Turki telah dibentuk ulang dengan mengkombinasikan antara domestik dan dinamika eksternal setelah terjadinya krisis. Kombinasi dari krisis financial dan kemungkinan menjadi anggota UE menjadi penolong untuk menciptakan sebuah keadaan yang tepat untuk merestrukturisasi model neoliberal, agar lebih sesuai dengan tujuan pertumbuhan ekonomi terus menerus.
Menurut Onis, Turki diuntungkan dengan kehadiran dua aktor eksternal. Persyaratan UE dan IMF menjadi saling berkaitan dalam hal insentif yang diberikan oleh UE dalam hal keanggotaan membuat pelaksanaan tugas disiplin IMF menjadi lebih mudah. Syarat-syarat dari UE menjadi variable penting dalam mempengaruhi pengaturan setelah krisis. Karena akan sangat sulit bagi negara seperti Turki untuk melakukan reformasi demokratisasi yang dramatis ditengah-tengah krisis ekonomi yang besar, tanpa tersedianya jangkar UE yang je las. Pada saat yang bersamaan, kemampuan para pembuat keputusan untuk mengimplementasikan reformasi demokrasi yang secara politik merupakan hal yang sulit, seperti pembatasan hukuman mati dan pengakuan hak- hak minoritas, difasilitasi dengan persepsi segmen utama modal nasional dan transnasional bahwa reformasi politik merupakan hal yang penting bagi stabilitas jangka panjang ekonomi. Pada kenyataannya, harapan yang semakin terlihat untuk menjadi keanggotaan UE tersebut telah membantu untuk meningkatkan prospek investasi dan menghasilkan tumbuhnya minat investasi asing dalam jangka panjang perekonomian Turki.
6 AKP telah mengadopsi orientasi reformis yang kuat. Komitmen yang tinggi terhadap kebijakan fiscal dan politik terkait UE dan reformasi ekonomi dibandingkan dengan partai-partai yang lainnya. AKP diuntungkan karena menjadi partai tunggal di pemerintahan Turki, karena aksinya akan terhambat jika harus masuk dalam partai koalisi. Reformasi koalisi di Turki diwujudkan dengan komponen domestic yang kuat. Pebis nis domestic, tidak hanya para konglomerat tetapi juga pebisnis kecil dan sedang mendukung reformasi ekonomi dan politik yang disarankan IMF dan UE. Hal tersebut dimaksudkan untuk membangun ekonomi yang berdasarkan peraturan.
Turki telah mampu mengetatkan anggaran yang disyaratkan IMF stelah periode 2001 dengan hasil inflasi dapat berkurang menjadi tingkat satu digit untuk pertama kalinya dalam 3 dekade. Meningkatnya kepercayaan terhadap kredibilitas komitmen pemerintah untuk melakukan stabilisasi dan reformasi disertai jatuhnya suku bunga riil, menandakan peningkatan yang signifikan dalam kepercayaan investor. Lonjakan investasi swasta yang signifikan, baik domestic maupun luar negeri, menjadi pusat kekuatan proses perbaikan dalam pengalaman ekonomi Turki sejak tahun 2001 yang bahkan menjadi lebih jelas selama masa jabatan pemerintahan AKP dari awal 2003 kedepan.
D. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan panduan penulis untuk melakukan penyusunan tesis. Teori digunakan untuk menjelaskan atau memprediksi apa yang terjadi dalam dunia sosial atau gejalanya. Guna menjelaskan permasalahan diatas, penulis akan terlebih dahulu membahas mengenai konsep Strategic Cooperative Relationship (SCR), Doktrin Strategic Depth dalam Politik Luar Negeri Turki, dan kemudian menggunakan konsep Two Levels Game dalam menganalisis pertanyaan penelitian di atas. Penggunaan ketiga pendekatan tersebut dinilai dapat membantu penulis untuk mengetahui alasan pemerintah Turki menyepakati Strategic Cooperative Relationship dengan pemerintah China pada tahun 2010 tersebut.
1. Konsep Strategic Cooperative Relationship (SCR)
Strategic Cooperative Relationship atau hubungan kerjasama strategis merupakan salah satu bagian dari kerangka diplomasi Strategic Partnership (kemitraan strategis), yang dibangun pemerintah China dalam melakukan hubungan bilateral dengan lingkungan luar negerinya. Konsep strategic partnership pada dasarnya bukanlah suatu hal baru, dan bukan pula berasal dari
7 China. Akan tetapi konsep tersebut d ikembangkan oleh Amerika dalam menjaga sekutu baratnya dimasa perang dingin. Tujuan dari strategic partnership tersebut dapat berbeda-beda dari yang level minimum dan bertahan, hingga ke tingkat aspirasional dan memaksimalisasi bentuk aliansi.10
China mulai mengembangkan konsep partnership dalam diplomasinya setelah berakhirnya perang dingin, dimana China mendirikan kemitraan strategis pertamanya dengan Brazil pada tahun 1993. Sehingga sejak saat itu, membangun kemitraan strategis telah menjadi salah satu dimensi diplomasi China yang paling menonjol.11 Dalam perkembangannya, diplomasi Strategic Partnership China telah difokuskan untuk membangun tatanan dunia yang lebih menguntungkan, sejalan dengan apa yang disebut diplomasi multidimensinya. Konsep seperti multipolaritas, tatanan dunia baru, demokratisasi dalam hubungan internasional, diversifikasi dan dunia yang harmonis secara berulang kali ditampilkan dalam dokumen strategic partnership.12
Menurut Dai, diplomasi China dengan negara-negara yang lain dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yakni: simple diplomatic relations (hubungan diplomatic yang sederhana/biasa), good-neighbourly friendships (persahabatan yang baik antar tetangga), traditional cooperative friendships (kerjasama persahabatan yang biasa), da n strategic partnerships (kemitraan yang strategis). Diantara tingkatan tersebut, diplomasi tingkat kemitraan yang strategis atau strategic partnerships dapat dibedakan lagi menjadi cooperative partnerships (mitra kerjasama), constructive partnerships (mitra pembangunan), comprehensive cooperative partnerships (mitra kerjasama yang menyeluruh), strategic cooperative partnerships (mitra kerjasama yang strategis), dan comprehensive strategic cooperative partnerships (mitra
kerjasama strategis yang menyeluruh).13
Kebanyakan strategic partnership biasanya dibangun melalui pernyataan bersama kedua pemimpin negara yang disiapkan selama kunjungan kenegaraan. Semua kemitraan strategis biasanya diumumkan secara terbuka oleh presiden atau perdana menteri China. Deklarasi bersama dalam penetapan kemitraan tersebut bervariasi dalam bentuk dan isinya, namun
10 Jingdong Yuan, Useful Alignments Or Just Convenient Labels? Dissecting China’s Strategic Partnerships Since the End of the
Cold War, dipresentasikan dalam International Studies Association Asia-Pacific Conference, 25-27 June 2016, Hong Kong, China
11
Feng Zhongping, Huang Jing, China’s strategy partnership diplomacy: engaging with a changing world, working paper n. 8 june 2014, dipublikasikan oleh All Fride, ISSN: 2254-6162 (Online).
12 Ibid. 13
LI, Chenyang, China–Myanmar Comprehensive Strategic Cooperative Partnership: A Regional Threat?, dalam Journal of Current Southeast Asian Affairs (2012), 31, 1, 53-72, dipublikasikan oleh GIGA German Institute of Global and Area Studies, Institute of Asian Studies and Hamburg University Press, ISSN: 1868-4882 (online)
8 mayoritas semuanya menyebutkan perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi. Isu- isu global seperti anti terorisme dan non proliferasi, dan juga kebudayaan atau pertukaran people to people juga yang termasuk sering dibicarakan. Beberapa isu yang lebih khusus diatur dengan negara-negara yang berbeda. Seperti isu perbatasan akan lebih ditingkatkan dengan negara-negara- negara-negara tetangga, isu hak asasi manusia ditujukan pada negara-negara barat, dan kerjasama militer denga negara-negara yang memiliki kedekatan politik atau negara yang penting. Sehingga dapat dipahami bahwa pada dasarnya praktek diplomasi strategic partnership China memiliki kriteria atau defenisi yang agak kabur.14
Pemerintah China memberikan label yang berbeda-beda dalam setiap hubungan bilateral yang dikembangkannya dengan berbagai negara, akan tetapi tidak ada keterangan yang jelas terkait kriteria dalam penetapan label yang berbeda-beda tersebut. Oleh sebab itu, sunguh sangat wajar jika tidak ada daftar resmi tentang kemitraan strategis yang dikeluarkan oleh pemerintah China. Salah satunya juga dikarenakan adanya kekhawatiran dari kementrian luar negeri China bahwa hal tersebut akan menimbulkan kebingungan dan kekecewaan yang tidak semestinya dari negara yang tidak diberi label sebagai mitra strategis China.
Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya peran China dalam konteks global, diplomasi strategic partnership China terus diperluas, dan menekankan pada pentingnya "hubungan/relations" antara negara-negara. Sehingga membuat perspective China tentang strategic partnership berbeda dengan yang dipahami oleh Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena perspective China yang melihat hubungan sebagai suatu komponen yang berguna untuk menciptakan suasana nyaman, atau konteks yang lebih menguntungkan (relasionalitas dan kontekstualitas). Beijing percaya bahwa konstruksi, pemeliharaan dan pengelolaan hubungan diplomatik hanya akan kondusif jika komponen-komponen yang membentuknya juga diperhitungkan.
Melalui konsep relasionalitas (hubungan), dapat juga dipahami bagaimana China menggunakan khasanah budayanya yang luas untuk melakukan urusan luar negerinya. Relasionalitas memiliki keunggulan di atas semuanya, karena hal tersebut merupakan cara anda berinteraksi, dengan siapa, dan keadaan yang terjadi yang benar-benar penting. Sementara proses, dipahami sebagai "gerakan hubungan" yang memiliki kemampuan dinamis untuk
14
Feng Zhongping, Huang Jing, China’s strategy partnership diplomacy: engaging with a changing world, working paper n. 8 june 2014, dipublikasikan oleh All Fride, ISSN: 2254-6162 (Online).
9 mengikuti peristiwa dan perubahan, yang memberikan dasar yang konkret untuk memahami tampilan yang mencolok dari sebuah hubungan. Dengan kata lain, bagi Cina yang sesuai adalah "hubungan strategis/strategic relationship" daripada "mitra strategis/strategic partnership".15 Sebagaimana deklarasi bersama antara pemerintah China dan Turki dalam Strategic Cooperative Relationship pada 8 Oktober 2010 yang lalu.
Dari penjelasan di atas dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Strategic Cooperative Relationship (SCR) merupakan sebuah kerangka diplomasi yang dibangun dan ditawarkan oleh pemerintah China kepada pemerintah Turki, untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Konsep yang ditawarkan oleh pemerintah China tersebut bertujuan untuk membangun tatanan dunia yang lebih menguntungkan, dengan meningkatkan intensitas kerjasama hubungan bilateral kedua negara, khususnya dalam isu perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi, anti terorisme dan non proliferasi, dan juga kebudayaan atau pertukaran people to people.
Kesepakatan SCR antara pemerintah Turki dan China diumumkan setelah PM Wen Jiabao melakukan kunjungannya ke Turki pada tanggal 7-10 Oktober.16 Dalam kesepakatan tersebut, kedua pemerintahan menandatangani delapan perjanjian kerjasama strategis, yakni:17
1. Sebuah perjanjian kerangka kerja untuk memperluas dan memperdalam perdagangan bilateral dan kerjasama ekonomi;
2. Sebuah nota kesepahaman untuk memulai suatu studi bersama tentang rencana pembangunan jangka menengah sampai jangka panjang dalam hal perdagangan bilateral dan kerjasama ekonomi.
3. Sebuah nota kesepahaman untuk meningkatkan kerjasama infrastruktur, konstruksi dan layanan konsultasi teknis di negara-negara ketiga.
4. Sebuah nota kesepahaman tentang komposisi dalam kelompok kerja bersama/gabungan untuk pembangunan jalur sutra baru.
5. Sebuah rencana untuk melaksanakan pertukaran budaya dan proyek kerjasama untuk tahun 2010-2013.
15 M oisés Lopes de Souza, The Logic Of The China’s Strategic Partnerships: Foundations And Motivations, Paper presented at
International Social Sciences and Business Research Conference on 4-5 December 2014, Kathmandu, Nepal.
16
Daily Sabah, Economic cooperation a priority in Turkey-China relations, dipublikasi pada 30 Juli 2015, akses di http://www.dailysabah.com/economy/2015/07/30/economic-cooperation-a-priority-in-turkey-china-relations, pada 23 Oktober 2016, pukul 06.24 WIB.
17
Fulya Ã, Zerkan, Turkey, China hail 'strategic cooperation' amid protests, ANKARA - Hurriyet Daily News | 10/8/2010 12:00:00 AM , akses di http://www.hurriyetdailynews.com/default.aspx?pageid=438&n=china-turkey -target-milestone-50-billion-dollars-of-trade-2010-10-08 pada tanggal 20 Oktober 2016,pukul 05.28 WIB.
10 6. Sebuah nota kesepahaman tentang kerjasama di bidang tek nologi informasi dan
komunikasi.
7. Sebuah nota kesepahaman untuk menjaga kerjasama dalam transportasi, infrastruktur dan kelautan.
8. Sebuah perjanjian tentang kerjasama kereta api.
2. Doktrin Strategic Depth dalam Politik Luar Negeri Turki
Doktrin Strategic Depth atau disebut juga dengan doktrin Davutoglu, mulai dikenal dalam politik luar negeri Turki setelah Ahmed Davutoglu menjabat sebagai penasehat dibidang Kementrian Luar Negeri Turki dimasa pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. Doktrin tersebut kemudian digunakan sebagai landasan dalam membangun visi politik luar negeri Turki yang baru.
Doktrin Strategic Depth merupakan sebuah konsep yang dituliskan oleh Ahmed Davutoglu dalam bukunya yang berujudul ‘Strategic Depth’, yang dipublikasikan pada tahun 2001. Dalam bukunya tersebut, Davutoglu mengembangkan visi strategis Turki berdasarkan kekayaan sejarah dan posisi geografis Turki yang menurutnya memiliki ‘strategic depth’ atau ‘kedalaman strategis’. Hal tersebut dikarenakan geopolitik, geocultural dan geoekonomi Turki berada pada posisi yang penting di dunia, sehingga Turki harus bisa memaksimalkan aset tersebut dalam politik luar negerinya. Sebagaimana yang digambarkan oleh Bulent Aras tentang doktrin Strategic Depth, yakni sebagai sebuah teori geopolitik untuk menciptakan sebuah negara yang kuat. Dimana dalam teori tersebut, Davutoglu menempatkan Turki sebagai sebuah negara yang kuat yang berada dalam lingkungan internasional yang berubah. 18
Berdasarkan potensi geografis dan sejarahnya tersebut, menurut Davutoglu Turki harus dapat membuat perannya sendiri yang sesuai dengan posisi barunya tersebut, dimana pada masa lalu Turki hanya merupakan bagian dari negara pinggiran. Peran baru Turki tersebut yakni harus menjadi salah satu yang menyediakan keamanan dan stabilitas, tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga untuk wilayah tetangganya, dengan cara mengambil peran yang lebih aktif, yang konstruktif untuk memberikan ketertiban, stabilitas dan keamanan di sekitarnya. 19
18
Bulent Aras, What is the “strategic depth” doctrine?,disampaikan pada konfrensi internasional “Turkish Foreign Policy in Changing World”, di Oxford pada tanggal 30 April-2 M ei 2010, dipublikasikan oleh South East European Studies at Oxford (SEESOX), University of Oxford, Februari 2011.
11 Ada lima prinsip dalam doktrin Strategic Depth yang menjadi landasan kebijakan luar negeri Turki, yakni: 20
1. Keseimbangan antara keamanan dan democracy (A Balance between security and democracy)
Prinsip ini berasal dari pemikiran bahwa hak kekuasaan sebuah rezim politik berasal dari kemampuannya untuk menyediakan keamanan untuk warganya. Namun keamanan tersebut tidak boleh mengorbankan kebebasan dan hak asasi manusia di negara itu. Karena tanpa adanya keseimbangan antara keamanan dan demokrasi dalam sebuah negara, maka negara tersebut tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengaruhnya di lingkungannya.
Keseimbangan antara keamanan dan kebebasan merupakan sebuah prinsip dalam politik luar negeri Turki, yang beranggapan bahwa keamanan Turki dapat direalisasikan dengan mengembangkan kebebasan baik di internal maupun di eksternal Turki. Oleh sebab itu, sejak tahun 2002 Turki telah melakukan usaha- usaha untuk mengembangkan kebebasan sipil tanpa meruntuhkan keamanan. Hal tersebut merupakan tujuan yang ambisius dan juga pantas, terutama sejak terjadinya 11 September, dimana ancaman teroris cenderung membatasi kebebasan sipil karena alasan keamanan.
2. Kebijakan ‘nol masalah dengan Tetangga’ (Zero problem policy toward Turkey’s neighbor)
Kebijakan ‘nol masalah dengan tetangga’ merupakan sebuah pendekatan yang dibangun berdasarkan gagasan bahwa Turki harus meningkatkan hub ungannya dengan semua tetangganya, dengan menyelematkan dirinya dari keyakinan bahwa ia terus dikelilingi musuh dan mengembangkan sikap bertahan.
Tujuan utama dari prinsip ini adalah untuk membentuk garis stabilitas disekitar Turki. Namun secara prinsip, konsep ini bertujuan untuk menyelesaikan kembali masalah yang ada dengan negara tetangga Turki dan negara-negara dekat. Sehingga prinsip ini juga dianggap sebagai kebijakan yang tidak realistik.21
Karena terkait langsung dengan kebijakan luar negeri yang lain, prinsip ini memiliki 6 pilar, yakni: keamanan yang sama untuk semua, integrasi ekonomi, menghargai perbedaan
20
Ibid.
12 budaya, kerjasama politik tingkat tinggi, sebuah kesadaran tingkat tinggi, dan memahami hubungan antara keamanan, stabilitas dan pembangunan.22
3. Mengembangkan hubungan dengan daerah tetangga dan sekitarnya ( Develop relations with neighboring regions and beyond)
Prinsip ini bermakna bahwa Turki harus dapat meningkatkan pengaruhnya di kawasannya, melalui kebijakan luar negerinya yang lebih aktif. Prinsip ini bertujuan agar Turki menjadi pemimpin dalam penyelesaian semua krisis di daerah tetangganya, dan Turki harus mengembangkan hubungan yang baik dengan negara-negara tetangganya.23
4. Kebijakan luar negeri yang multi-dimensional (multi-dimensional foreign policy)
Kebijakan luar negeri yang multi-dimensional memerlukan pengembangan hubungan yang serentak dengan aktor-aktor kebijakan luar negeri yang berbeda. Prinsip ini merujuk pada hubungan Turki yang serentak dan harmonis dengan aktor-aktor internasional yang berbeda dan juga pendekatan masalah yang berbeda-beda, dengan menggunakan prinsip multi-dimensional yang sama. Turki tidak boleh lagi mengikuti kebijakan luar negeri yang satu dimensi, yang hanya berdasarkan sebuah parameter tunggal. Dalam hal ini, bermakna bahwa kebijakan luar negeri Turki tidak lagi terbatas pada satu aktor negara atau kawasan saja.
Hubungan Turki dengan aktor-aktor global bertujuan untuk saling melengkapi dan meningkatkan ketersaling gantungan bersama, dan bukan sebagai perjanjian alternative atau pun kompetisi. Oleh sebab itu prinsip ini dirasa sangat penting untuk membuat Turki sebagai sebuah negara pusat.24
5. Diplomasi yang berirama (Rhythmic Diplomacy)
Berirama diartikan sebagai keselarasan antara gerak dan harmoni, karena gerak tanpa harmoni akan menyebabkan kekacauan, sebaliknya irama tanpa gerak juga tidak akan menghasilkan apa-apa.25 Dalam hal ini diplomasi yang berirama merupakan sebuah gaya tertentu dalam kebijakan luar negeri yang dilakukan di Turki, yang melihat Turki sebagai seorang aktor dalam semua institusi internasional dan semua isu-isu global.26 Dengan prinsip ini,
22 Ardan Zentürk, “Demokrasinin Dis¸Politika Boyutu”, Star, 1 Kasim 2010. 23
M urat Yesiltas, Ali Balci, “A Dictionary of Turkish Foreign Policy in the AK Party Era: A Conceptual Map”, published by Center for Strategic Research (SAM ), No. 7, M ay 2013.
24 Ahmet Davutoglu, “Türkiye Merkez Ülke Olmali”, Radikal, 26 February 2004
25 Ahmet Davutoglu, “Principles of Turkish Foreign Policy”, Speech at the Mayflower Hotel organised by SETA D.C.,
Washington, 8 December 2009.
26
Ahmet Davutoglu, “Türkiye’yi Markalas¸tiran ‘Ritmik Diplomasi’”, (Interview with Baki Günay), Netpano.com, 24 January 2005.
13 memungkinkan Turki untuk bergerak dari sebuah diplomasi yang statis menuju kondisi yang lebih dinamis.27
3. Konsep Two Levels Game
Keputusan pemerintah Turki dalam menyepakati tawaran pemerintah China untuk meningkatkan hubungan bilateral mereka pada level strategic cooperative relationship akan penulis analisa menggunakan gagasan Robert Putnam tentang konsep two levels game. Hal tersebut dikarenakan tindakan atau keputusan pemerintah Turki dalam mengambil suatu kebijakan luar negerinya, dalam hal ini menyepakati tawaran kerangka diplomasi dari pemerintah China tersebut, tentunya tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan domestik yang saling berpengaruh dengan lingkungan internasionalnya.
Sebagaimana yang dikatakan Putnam dalam bukunya yang berjudul Diplomcy and Domestic Politics: the Logic of Two Levels Game, bahwa politik domestik dan politik internasional saling mempengaruhi satu sama lain.28 Dalam tulisannya tersebut Putnam menyatakan bahwa proses pembuatan kebijakan luar negeri dibentuk melalui proses negosiasi dan diplomasi yang dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.29 Proses tawar menawar yang dilakukan oleh pihak bersangkutan akan berjalan dengan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor domestik dan faktor internasional, pihak bersangkutan yang dimaksud digambarkan dengan kepala pemerintahan, perwakilan pengusaha, pimpinan partai, kementrian dan pimpinan senat.30
Putnam menjelaskan bahwa dalam faktor domestik, kelompok–kelompok domestik akan berusaha mengejar kepentingan mereka dengan cara menekan pemerintah agar pemerintah mengadopsi kebijakan yang menguntungkan kelompok domestik tersebut, kelompok domestic tidak berdiri sendiri karena politisi yang mencari kekuasaan akan membangun koalisi dan bekerjasama bersama kelompok-kelompok domestik. Sedangkan faktor internasional, pemerintah berusaha untuk memaksimalkan kemampuan mereka untuk mengatasi tekanan domestik sambil meminimalisir konsekuensi yang dapat merugikan.31
27 Ahmet Davutoglu, “Is¸ Dünyasi Artik Dis¸ Politikanin Öncülerinden”, (Interview with Ahmet Han), Turkishtime, April-M ay
2004.
28
Robert D. Putnam. (1998). Diplomacy and Domestic Politics:The Logic of Two level games. International Organization , hlm. 427-433
29 A. Watson (2005). Diplomacy: The Dialouge Between States. Routledge. Hlm. 39-40 30
Robert D. Putnam (1998). “Diplomacy and Domestic Politics:The Logic of Two level games”. InternationaOrganization, hlm. 435.
14 Dalam konsep two-levels game, terdapat usaha untuk memperoleh kepentingan yang diinginkan oleh publik di ranah domestik, tanpa harus melewati limit atau batas toleransi yang dapat membawa konsekuensi negative pada level internasional. Sehingga dapat juga dipahami bahwa dalam konsep Two levels game, pengambil kebijakan dalam sebuah negara diumpamakan duduk diantara dua permainan, yaitu domestik dan internasional. Tujuan yang diambil pengambil keputusan ini adalah bagaimana cara untuk memenangkan kedua permainan, dengan mengamankan masa depan kepentingan domestik dan posisi negara di level internasional. Hasil kolaborasi dua hal ini akan saling mempengaruhi satu sama lain.
Melalui konsep ini, penulis akan menganalisa apa saja faktor domestik dan juga faktor internasional yang menyebabkan pemerintah Recep Tayyip Erdogan menyepakati strategic cooperative relationship yang ditawarkan pemerintah China pada Oktober 2010 tersebut.
E. Argumen Penelitian
Dari latar belakang dan kerangka teori yang penulis jelaskan di atas, maka hipotesa penulis atas alasan pemerintah Recep Tayyip Erdogan menyepakati strategic cooperative relationship dengan pemerintah China, yakni disebabkan oleh dua faktor :
1. Faktor domestik, dimana pemerintah Turki ingin meningkatkan perekonomian negaranya dengan menangkap peluang kerjasama ekonomi dalam kesepakan strategic cooperative relationship dengan pemerintah China. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kepentingan ekonomi atau kesejahteraan ekonomi merupakan salah satu kepentingan nasional yang biasanya menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh suatu pemerintah dalam menjalankan politik luar negerinya, apalagi kerangka diplomasi yang ditawarkan pemerintah China tersebut mayoritasnya berisi tentang perdagangan, investasi dan kerjasama ekonomi.
2. Faktor internasional, adanya cita-cita Turki untuk menjadi kekuatan regional, diduga juga sebagai alasan mengapa pemerintahan Erdogan bersedia menyepakati strategic cooperative relationship dengan pemerintah China tersebut. Untuk menjadi kekuatan regional yang mandiri maka Turki harus memiliki perekonomian yang kuat, yang tidak terlalu bergantung dengan pasar-pasar tertentu khususnya dikawasannya tersebut. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut yakni dengan melakukan
15 diversifikasi ekonomi, khususnya terhadap tujuan negara ekspornya, agar tidak selalu bergantung dengan pasar Barat dan Eropa sehingga me ndorong pertumbuhan perekonomian negara yang stabil dan independen. Disisi lain, adanya kesamaan visi antara Turki dan Cina khususnya dalam internasionalisasi perdagangan mereka, membuat kedua negara menyepakati strategic cooperative relationship tersebut.
F. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor- faktor apa saja yang membuat pemerintah Turki menyepakati Strategic Cooperative Relationship yang ditawarkan oleh pemerintah China pada tanggal 8 Oktober 2010 lalu, sehingga dapat menjelaskan apa sesungguhnya alasan pemerintah Turki menerima tawaran diplomasi dari pemerintah China tersebut.
Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memperkaya bahan kajian literature tentang Turki, khususnya tentang kemajuan pembangunan di Turki pasca kepemimpinan Kemalisme yang sangat sekuler tersebut. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan ataupun referensi, baik bagi para akademisi yang juga ingin meneliti tentang Turki, maupun bagi para pemangku kebijakan yang ingin melakukan pembangunan di negaranya.
G. Jangkauan Penelitian
Penelitian ini akan memfokuskan pembahasan pada apa sesungguhnya alasan yang menyebabkan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan menyepakati Strategic Cooperative Relationship yang ditawarkan pemerintah China pada Oktober 2010, padahal hubungan kedua negara cenderung stagnan dan bahkan sempat menegang pada tahun 2009.
Untuk lebih mempermudah penelitian ini maka penulis akan membatasi data-data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dimulai dari tahun 2003 sampai tahun 2014. Karena pada rentang waktu tersebut Recep Tayyip Erdogan menjabat sebagai Perdana Menteri di Turki.
H. Keaslian Penelitian
Sejauh yang penulis amati, belum ada yang menulis atau meneliti mengenai Kesepakatan Antara Pemerintah Turki dan China Dalam Strategic Cooperative Relationship Pada Tahun 2010. Khususnya dalam bentuk penelitian tesis, di Universitas Gadjah Mada.
16 I. Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian yang bersifat diskriptif dan kualitatif, yaitu memfokuskan pada pencarian sebab dan proses mengapa rumusan masalah dalam penelitian ini terjadi.
Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang serta prilaku yang diamati, sedangkan penelitian kuantitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data dalam bentuk angka-angka. Penulis menggabungkan dua jenis penelitian ini dikarenakan di perlukannya data-data kuantitatif untuk menunjang dalam mendiskripsikan permasalahan yang ada, dan sebagai bukti kuat dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
b. Data dan jenis data
Data adalah segala keterangan atau informasi mengenai segala hal yang be rkaitan dengan penelitian, data yang di butuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang tersusun dalam bentuk-bentuk yang tidak langsung seperti dokumen-dokumen yang berkaitan dengan rumusan permasalahan yang sedang di teliti.
c. Tekhnik pengumpulan data
Tekhnik yang digunakan oleh penulis dalm penelitian ini yaitu dengan melakukan studi kepustakaan, yang bersumber dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian yang akan di lakukan, baik berupa buku, jurnal ilmiah, surat kabar, hasil diskusi ilmiah, laporan media, artikel-artikel resmi pemerintah dan laporan lembaga-lembaga internasional mengenai permasalahan yang sedang diteliti.32
d. Teknik Analisa
Tekhnik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tekhnik per unutan kejadian dan waktu yang telah berlalu untuk mengetahui gejala dan kecenderungan-kecenderungan tertentu dari perubahan-perubahan realitas sosial di suatu negara, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat luas, menemukan fenomena dan sumber-sumber yang menyebabkan terjadinya persoalan yang sedang diteliti, kemudian di lakukan perbandingan dengan realitas sosial yang terjadi di negara lainnya.
17 J. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Pada bab pertama penulis akan menjelaskan mengenai latar belakang penelitian dan menjelaskan mengenai rumusan masalah, kerangka konseptual, hipotesa penelitian, tujuan penelitian, jangkauan penelitian, metode yang digunakan dala penelitian, dan juga sistematika penulisan.
Dalam bab dua, penulis akan memaparkan bagaimana dinamika hubungan Turki dengan China, dan bagaimana pula transformasi dalam politik luar negeri Turki dimasa pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. Penulis akan menjelaskan bagaimana politik luar negeri Turki dimasa pemerintahan Kemalis (khususnya di era pemerintahan Bulent Ecevit), dan menjelaskan pula perubahan dalam prinsip politik luar negeri Turki yang baru. Penulis melihat bahwa prinsip baru dalam politik luar negeri Turki juga sangat mempengaruhi keputusan pemerintahan Erdogan dalam menyepakati diplomasi SCR dengan pemerintah China tersebut.
Pada bagian ketiga dari penelitian ini, penulis akan menjelaskan tentang analisa terhadap faktor domestik, yang menyebabkan pemerintahan Turki bersedia menyepakati perjanjian SCR dengan pemerintahan China. Dalam hal ini, penulis akan membahas mengenai kondisi perekonomian Turki sebelum kesepakatan SCR tersebut disetujui. Sementara analisa terhadap faktor internasional yang menyebabkan pemerintah Turki menyepakati SCR akan penulis bahas dalam bab empat. Dan pada bagian terakhir dari penelitian ini penulis akan menjelaskan kesimpulan dari hasil keseluruhan penelitian yang telah dilakukan.