(Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks)
Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh
Zakiyyah Azzah AL 45 13 060 136
Fakultas Hukum/Ilmu-Ilmu Hukum Universitas Bosowa Makassar
2017
Usulan Penelitian dan Penulisan Hukum Mahasiswa:
Nama : Zakiyyah Azzah AL
NIM : 4513060136
Program Studi : Ilmu-Ilmu Hukum
Minat : Hukum Pidana
No. Pendaftaran Judul : 06/Pid/FH/Unibos/II/2017 Tgl. Pendaftaran Judul : 23 Februari 2017
Judul Skripsi : Penyertaan Dalam Tindak Pidana Aborsi (Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) Telah diperiksa dan diperbaiki untuk dimajukan dalam ujian skripsi mahasiswa program strata satu (S1)
Makassar, 14 Agustus 2017
Disetujui:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. H. Abdul Salam Siku, S.H, M.H Hj. Siti Zubaidah, S.H, M.H
Mengetahui:
Dekan Fakultas Hukum
Dr. Ruslan Renggong, S.H, M.H
PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI
Pimpinan Fakultas Hukum Universitas Bosowa menerangkan bahwa:
Nama : Zakiyyah Azzah AL
NIM : 4513060136
Program Studi : Ilmu-Ilmu Hukum
Minat : Hukum Pidana
No. Pendaftaran Judul : 06/Pid/FH/Unibos/II/2017 Tgl. Persetujuan Judul : 23 Februari 2017
Judul Skripsi : Penyertaan Dalam Tindak Pidana Aborsi (Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) Telah disetujui skripsinya untuk diajukan dalam ujian skripsi mahasiswa program strata satu (S1)
Makassar, 14 Agustus 2017
Mengetahui:
Dekan Fakultas Hukum
Dr. Ruslan Renggong, S.H, M.H
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan berkat, rahmat, dan karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan kepada penulis sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya tidak lupa pula penulis panjatkan sedalam-dalamnya.
Hari ini penulis telah sampai pada tahap akhir penyelesaian studi setelah empat tahun menimba ilmu. Banyak rintangan yang telah penulis lalui selama kuliah, ada tawa juga ada sedih, ada susah maupun senang, kadang jenuh dengan rutinitas kampus, dan berbagai hal lain yang kadang membuat penulis kehilangan semangat untuk meneruskan kuliah. Tapi karena sebuah cita-cita, impian dan harapan untuk bisa membahagiakan kedua orang tua, akhirnya penulis bisa melalui semuanya dengan baik.
Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya serta rasa cinta yang sedalam-dalamnya kepada orang tua penulis, ayahanda Abd Latif S dan ibunda Erni Hakim yang telah menjadi kekuatan bagi penulis, yang mencintai dan menyayangi penulis tanpa lelah, dan dengan penuh perjuangan membesarkan penulis agar terus bisa tumbuh dan berkembang agar dapat menjadi pribadi yang berguna untuk bangsa dan negara. Sekali lagi penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kekuatan, cinta, dan perjuangan yang telah diberikan.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara-saudari penulis tercinta, Zahra Adzbah AL dan Zhafran Syakir AL
yang tidak bisa penulis pungkiri bahwa mereka juga bagian dari kekuatan dan semangat penulis.
Selama proses penyelesaian skripsi ini, penulis mendapati banyak kesulitan, akan tetapi kesulitan-kesulitan tersebut dapat dilalui berkat banyaknya pihak-pihak yang membantu, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Muh Saleh Pallu, M. Eng selaku Rektor Universitas Bosowa beserta staf dan jajarannya.
2. Bapak Dr. Ruslan Renggong, S.H, M.H selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Bosowa sekaligus penguji penulis.
3. Bapak Dr. H. Abdul Salam Siku, S.H, M.H selaku pembimbing I dan Ibu Hj. Siti Zubaidah, S.H, M.H selaku pembimbing II yang telah banyak membantu mengarahkan penulis dengan baik sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Bapak Basri Oner, S.H, M.H selaku penguji penulis.
5. Bapak Patta Aji selaku Ketua KTU Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang telah banyak membantu penulis selama kuliah.
6. Seluruh dosen, staf, serta civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang telah memberikan ilmu, nasihat, dan bantuan lainnya.
7. Bapak Ramli ST Simanjuntak S.H, M.H selaku ketua KPPU KPD Makassar beserta staf yang telah banyak memberi ilmu kepada penulis ketika penulis melaksanakan program KKN Tematik di KPPU KPD Makassar selama 45 hari.
Makassar yang menjadi narasumber penulis.
9. Bapak Mustari selaku staf izin penelitian mahasiswa di Pengadilan Negeri Makassar yang begitu sangat baik membantu penulis selama penelitian di Pengadilan Negeri Makassar.
10. Ibu Erna Hakim, S.H, M.H selaku staf bagian hukum Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM.
11. Bapak Ramli selaku Wakil Kepala Rutan Kelas 1 Makassar.
12. Teman-teman KKN Tematik angkatan 42 Fakultas Hukum Universitas Bosowa khususnya Team KPPU: Syahrul, Muh Asnan Yusfin, dan Afratiwi Nur.
13. Bripda Mahmudin, sahabat sekaligus kekasih penulis yang tidak pernah berhenti menyemangati dan memberi dukungan kepada penulis.
14. St. Kamariah Taulaby, teman kampus yang selalu menemani penulis dari awal perkuliahan sampai akhir perkuliahan.
15. Indrianti, sahabat terkasih yang selalu mengerti dan menemani penulis sejak 7 tahun yang lalu.
16. Teman-teman Kharisma Coccos Nucivera: Giat Ganianto, Muh Iqram, Adhe Nuzqur, Chrismanto, Ryan Anggriawan, Hariadi Valentino, Sri Handayani, Andi Rini, dan Reski Fausiah yang selalu menjadi senyum bagi penulis.
17. Geng Soleha: Irmawati, Siti Hutami, Rismayanti, dan Dian Indah yang selalu menjadi bahu tempat penulis bersandar ketika jenuh.
18. Sepupu penulis, Muhammad Al-qadry yang juga tengah menempuh pendidikan di universitas dan program studi yang sama dengan penulis.
Semoga tahun depan bisa menyusul.
19. Serta angkatan 2013 Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang tidak bisa penulis sebutkan satu-satu.
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak sekali kekurangan sehingga penulis mengharapkan berbagai kritikan dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk menyempurnakannya.
Makassar, 14 Agustus 2017
Zakiyyah Azzah AL Penulis
HALAMAN JUDUL ………. i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ………... ii
PERSETUJUAN UJIAN SKRISPI ………. iii
KATA PENGANTAR ………... iv
DAFTAR ISI ………... viii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ……… 1
1.2 Rumusan Masalah ………. 4
1.3 Tujuan Penelitian ……….…... 5
1.4 Kegunaan Penelitian ………..…… 5
1.5 Metode Penelitian ………. 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Penyertaan ……….. 8
2.2 Bentuk-bentuk Penyertaan ……… 10
2.3 Ketentuan Pidana Pelaku Penyertaan ……… 19
2.4 Pengertian dan Unsur-unsur Tindak Pidana ………... 21
2.5 Pengertian dan Unsur-unsur Tindak Pidana Aborsi ………….…. 24
2.5.1 Aborsi Menurut Ketentuan Perundang-Undangan di Indonesia ……….. 25
2.5.2 Aborsi Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ..… 27
2.5.3 Aborsi Menurut Undang-Undang Kesehatan ………... 30
2.5.4 Aborsi Menurut Hukum Islam ……….. 34
2.5.5 Aborsi Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) …. 36 2.6 Pengertian dan Unsur-unsur Pertanggungjawaban
Pidana ……….... 37 BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Bentuk Penyertaan Tindak Pidana Aborsi yang Terjadi
(Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) ………. 45 3.3 Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Penyertaan Tindak Pidana
Aborsi (Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) …..……… 52 BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ………... 59 4.2 Saran ……….. 60 DAFTAR PUSTAKA ………. 61
Di era modern seperti sekarang ini kita tidak lagi asing dengan istilah globalisasi. Pada era ini, perubahan terjadi dengan begitu sangat cepat, sehingga perubahan tersebut kadang kala belum siap disikapi. Salah satu perubahan yang paling nampak terjadi adalah perkembangan teknologi dalam berbagai bidang, khususnya internet yang berkembang kian canggih dan kian maju setiap harinya sehingga manusia pun mengalami perubahan dalam cara berfikir dan bersikap.
Namun sayangnya, perkembangan itu sendiri tidak hanya bergerak ke arah positif, tetapi juga memberi berbagai dampak negatif bagi moral suatu bangsa. Misalnya, banyaknya situs porno yang beredar di internet membuat masyarakat khususnya anak-anak remaja dapat mengaksesnya kapan saja. Dalam hal ini, salah satu dampak negatif yang ditimbulkan adalah pergaulan bebas yang kemudian menjurus kepada seks bebas yang dapat menyebabkan kehamilan di luar nikah dan menjadi pemicu terjadinya tindak pidana aborsi.
Melihat berbagai fakta yang terjadi saat ini, tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dalam lembah perzinahan (free sex), disebabkan terlalu jauhnya kebebasan mereka dalam bergaul. Faktor utama masalahnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat saat ini terhadap batas-batas pergaulan antara pria dan wanita. Disamping itu, selain karena perkembangan teknologi yang semakin maju, seks bebas juga hadir disebabkan karena lemahnya benteng keimanan seseorang.
Banyak remaja yang awalnya mereka hanya berpacaran seperti gaya pacaran
biasa, namun setelah lama menjalin hubungan pacaran, mereka mulai merasa bosan satu sama lain dan mencoba memulai hal baru. Mereka melakukan hubungan yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri yang akhirnya mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan dan kemudian memilih jalan untuk melakukan aborsi.
Keberadaan aborsi sudah merupakan suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri dan bahkan menjadi kajian yang menarik dan menjadi fenomena sosial di lingkungan masyarakat. Salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu adalah karena praktek aborsi terutama bagi ibu pada usia belia sebagai dampak dari seks bebas atau para orang dewasa yang tidak mau dibebani tanggung jawab dan tidak menginginkan kelahiran sang bayi di dunia ini. Anak yang seharusnya dianggap sebagai anugerah terindah dari Allah SWT justru dianggap sebagai suatu beban yang tidak diinginkan kehadirannya. Sedih memang, karena di satu sisi banyak sekali pasangan suami istri yang mendambakan seorang anak selama bertahun-tahun masa perkawinan, namun disisi lain ada pasangan yang membuang anaknya bahkan membunuh janin yang masih dalam kandungan tanpa pertimbangan nurani kemanusiaan.
Membahas persoalan aborsi, Kota Makassar menjadi salah satu kota yang tidak lepas dari permasalahan ini. Kota Makassar dikenal sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur dengan wilayah seluas 199,26 km2 dan jumlah penduduk yang terbilang banyak yaitu lebih dari 1,6 juta jiwa, sehingga menjadikan Kota Makassar menduduki urutan kelima dengan jumlah penduduk terpadat setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.
kehidupan, diantaranya perekonomian dan pendidikan. Laju pertumbuhan ekonomi di Kota Makassar berada di peringkat paling tinggi di Indonesia sehingga membuat penduduk dari kota dan daerah lain berdatangan untuk mencari nafkah di Kota Makassar. Begitu juga dengan pendidikan, mengenyam pendidikan di Kota Makassar memiliki nilai yang lebih dibanding dengan mengenyam pendidikan di daerah. Tidak dapat dipungkiri, outputnya pun jauh berbeda. Oleh karena itu, suatu dambaan bagi para remaja yang berada di daerah untuk bisa melanjutkan pendidikan di Kota Makassar.
Kedua bidang kehidupan tersebut kemudian menjadi masalah yang kompleks sehingga memudahkan terjadinya berbagai bentuk kejahatan yang dapat terjadi di Kota Makassar. Contohnya pada bidang perekonomian, karena banyaknya transmigran yang mencari nafkah di Kota Makassar, akhirnya terjadi persaingan usaha yang sangat ketat, sehingga sebagian orang yang ingin mendapatkan uang dengan cara yang instan lebih memilih untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Sedangkan dalam bidang pendidikan, remaja daerah yang bersekolah di Kota Makassar kurang dikontrol oleh orang tuanya, para remaja seakan baru menemukan kebebasan baru, dimana dalam hal ini membuat mereka lebih rentan untuk mendapat pengaruh negatif, salah satunya adalah pergaulan bebas yang menjurus kepada seks bebas.
Dari kedua permasalahan itu, tidak menutup kemungkinan bahwa akibat yang akan ditimbulkan adalah kehamilan yang kemudian memicu terjadinya tindak pidana aborsi.
Sejauh ini, persoalan aborsi pada umumnya dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindak pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 299, Pasal 346, Pasal 347, Pasal 348, dan Pasal 349 secara jelas dan tegas mengatur larangan melakukan aborsi dengan alasan apapun. Namun dalam hukum positif di Indonesia, pengaturan tindakan aborsi tidak hanya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana saja, tetapi juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang kemudian menimbulkan kontroversi di berbagai lapisan masyarakat karena mengatur mengenai aborsi dalam praktek medis.
Meski sudah ada aturan yang mengatur tentang tindakan aborsi, kenyataannya adalah aborsi tetap saja marak terjadi dengan berbagai cara dan alasan yang mendasarinya. Dalam prosesnya, tindakan aborsi ada yang dilakukan sendiri, ada pula yang menggunakan bantuan orang lain. Aborsi yang dilakukan sendiri misalnya seorang wanita yang sengaja memakan obat-obatan atau makanan yang dapat membahayakan janin atau sengaja melakukan perbuatan yang dapat menggugurkan janin. Sedangkan aborsi dengan bantuan orang lain misalnya seorang dokter atau bidan yang menggugurkan janin wanita atas persetujuan wanita itu sendiri. Apabila tindak pidana aborsi ini dibantu oleh orang lain, maka peristiwa pidana tersebut terdapat lebih dari satu orang pelaku, sehingga harus dicari pertanggungjawaban dan peranan dari masing-masing peserta dalam tindak pidana tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka Penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang tindak pidana aborsi dengan melakukan penelitian dan penulisan skripsi
Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks).
1.2 Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam penulisan ini tidak melebar, maka Penulis memberikan batasan dalam pembahasan, yaitu:
1. Bentuk penyertaan tindak pidana aborsi yang manakah yang terjadi (Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) ?
2. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana peserta penyertaan tindak pidana aborsi (Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks) ? 1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang diuraikan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bentuk penyertaan tindak pidana aborsi yang terjadi (Studi Kasus Putusan No. 2303/Pid.B/2016/PN.Mks).
2. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana terhadap peserta penyertaan tindak pidana aborsi (Studi Kasus Putusan No.
2303/Pid.B/2016/PN.Mks).
1.4 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan lingkup penelitian yang penulis telah uraikan diatas, maka kegunaan penelitian ini meliputi kegunaan praktis dan kegunaan teoritis, yaitu:
1. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan berguna bagi semua pihak, antara lain:
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan hukum di Indonesia, khususnya hukum pidana mengenai penyertaan dalam tindak pidana aborsi.
b. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi dan acuan bagi pihak-pihak yang membutuhkan misalnya untuk penulisan karya ilmiah ataupun penulisan skripsi yang menyangkut penyertaan dalam tindak pidana aborsi.
c. Agar hasil penelitian ini menjadi perhatian dan dapat digunakan bagi semua pihak yang bekerja di bidang hukum.
2. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan kajian untuk mengembangkan wawasan mengenai hukum, khususnya mengenai penyertaan dalam tindak pidana aborsi.
1.5 Metode Penelitian
1. Pendekatan Masalah
Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan yang bersifat yuridis sosiologis, dalam arti penelitian yang mengkaji data yang di dapat di lapangan dari hasil wawancara maupun hasil observasi.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Makassar, yaitu di Pengadilan Negeri Makassar.
3. Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis dan sumber data dalam penelitian ini, adalah:
Data yang diperoleh dari hasil penelitian langsung di Pengadilan Negeri Makassar dengan melakukan wawancara langsung dengan pihak terkait.
2) Data Sekunder
Data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan data-data laporan, arsip-arsip di Pengadilan Negeri Makassar, juga penelitian kepustakaan yang ada bahan hukum yang berkaitan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1) Penelitian Lapangan
Yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan Hakim di Pengadilan Negeri Makassar.
2) Penelitian Kepustakaan
Yaitu pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data-data laporan, arsip-arsip di Pengadilan Negeri Makassar, juga penelitian kepustakaan yang meliputi data yang ada pada peraturan perundang-undangan yang terkait dari bahan buku-buku hukum dan lainnya.
5. Analisis Data
Data yang berhasil dihimpun kemudian diolah dan disusun, serta dianalisis secara kualitatif. Kemudian dipaparkan secara deskriptif secara sistematik dalam bentuk laporan skripsi.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penyertaan
Banyak orang berkesimpulan bahwa dalam setiap tindak pidana hanya ada seorang pelaku yang akan dikenai hukuman pidana. Namun dalam prakteknya ternyata sering terjadi lebih dari seorang terlibat dalam tindak pidana. Di samping si pelaku, ada seseorang atau beberapa orang lain yang juga ikut turut serta didalamnya.
Suatu tindak pidana dapat dilakukan oleh seseorang dan dalam hal tertentu dapat juga dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama. Keterlibatan dari beberapa orang di dalam suatu tindak pidana merupakan bentuk kerja sama yang berlainan sifat dan bentuknya sesuai dengan perannya masing-masing.
Membahas mengenai keterlibatan seseorang dalam melakukan tindak pidana, hukum positif di Indonesia menyebutnya dengan kata penyertaan sebagaimana yang telah diatur dan disebutkan pada Buku Kesatu Bab V KUHP dan dituangkan ke dalam Pasal 55 dan Pasal 56, namun di dalam KUHP sendiri tidak dijelaskan mengenai apa sesungguhnya arti dari kata Penyertaan itu.
Para ahli hukum pidana mengartikan penyertaan dalam berbagai macam penafsiran, diantaranya:
1. WirjonoProdjodikoro(2003:117) mengartikan bahwa: penyertaan berarti turut sertanya seorang atau lebih pada waktu seorang lain melakukan tindak pidana.
2. Moeljatno (Amir Ilyas dan HaeranahDkk, 2012:55) merumuskan bahwa: ada penyertaan apabila bukan satu orang yang tersangkut dalam terjadinya perbuatan akan tetapi beberapa orang.
3. FransMaramis (2012:213) di dalam bukunyamemberikan penjelasan bahwa: penyertaan berarti peristiwa dimana lebih dari satu orang yang melakukan suatu tindak pidana.
4. SementaraS.RSianturi (Erdianto Effendi, 2011:174) menjelaskan bahwa: makna dari istilah penyertaan ialah dua orang atau lebih yang melakukan suatu tindak pidana atau dengan kata lain ada dua orang atau lebih mengambil bagian dalam mewujudkan suatu tindak pidana.
Ada yang mengatakan pula bahwa penyertaan adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta atau terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun secara fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana. Orang-orang yang terlibat dalam kerja sama yang mewujudkan tindak pidana, perbuatan masing-masing dari mereka berbeda satu dengan yang lain, demikian juga bisa tidak sama apa yang ada dalam sikap batin mereka terhadap tindak pidana maupun terhadap peserta yang lain.
Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalinlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya, dimana perbuatan yang satu menunjang perbuatan yang lainnya yang semuanya mengarah pada terwujudnya suatu tindak pidana. (AdamiChazawi, 2002:73)
Berdasarkan beberapa penafsiran daripara pakar hukum pidana yang telah penulis uraikan diatas,maka dapat diperoleh gambaran mengenai apa sesungguhnya yang dimaksud dengan penyertaan itu. Dengan demikian,penulis mengartikan bahwa penyertaan merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang (sedikitnya dua orang) dan semuanya itu memiliki peranan masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Selanjutnya penulis akan uraikan mengenai bentuk-bentuk penyertaan.
2.2 Bentuk-bentuk Penyertaan
Meskipun tidak memberikan penjelasan mengenai apa sesungguhnya arti dari kata “Penyertaan”, namun Pasal 55 dan 56 KUHP mengklasifikasikan bentuk-bentuk penyertaan. Pasal 55 KUHP yaitu bentuk penyertaan mengenai golongan yang disebut dengan para peserta atau para pembuat, dan Pasal 56 KUHPyaitu bentuk penyertaan mengenai golongan yang disebut pembuat pembantu.
Dalam pasal 55KUHP ditegaskan sebagai berikut:
(1) Dipidana sebagai pembuat tindak pidana
1. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan;
2. Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.
(2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, berserta akibat-akibatnya.
Sedangkan Pasal 56 KUHP menyatakan sebagai berikut:
Dipidana sebagai pembantu kejahatan :
1. Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan;
2. Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut diatas,FransMarimis (2012:214) mengelompokkan bentuk penyertaan kedalam dua golongan, yaitu:
1. Pembuat/Dader (Pasal 55 KUHP) yang terdiri dari : a. Yang melakukan (Pleger)
b. Menyuruh melakukan (Doenpleger) c. Turut serta melakukan (Medepleger) d. Sengaja menganjurkan (Uitlokker)
3. Pembantu/Medeplichtige (Pasal 56 KUHP) yang terdiri dari : a. Pembantu pada saat kejahatan dilakukan;
b. Pembantu sebelum kejahatan dilakukan.
Dibawah ini akan dijelaskan masing-masing bentuk delik penyertaan mengenai kapasitas seseorang dalam keterlibatannya dalam suatu delik sebagai pembuat maupun sebagai pembantu.
a. Yang Melakukan (Pleger)
Plegeradalah orang yang karena perbuatannya, melahirkan suatu tindak
pidana. Tanpa adanya perbuatan pleger, suatu tindak pidana tidak akan terwujud.
Dengan demikian syarat seorang plegersama dengan seorang dader (pelaku tunggal) yang perbuatannya harus memenuhi semua unsur tindak pidana.
(AdamiChazawi, 2002:85)
Sementara itu Erdianto Effendi (2011:176) memberikn pandangan bahwa:
Orang yang melakukan (pleger) adalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan tindak pidana dan dipandang paling bertanggungjawab atas kejahatan.
Selanjutnya, FransMaramis (2012:215)mengemukakan dalam bukunya bahwa: “Orang yang melakukan (plegen) atau pelaku (pleger) adalah orang yang perbuatannya mencocoki semua unsur dari suatu rumusan tindak pidana.”
Selain itu Sianturi (1986:339) menyatakan bahwa:
Pelaku (pleger) adalah barangsiapa yang telah mewujudkan atau memenuhi semua unsur delik dari sesuatu tindak pidana sebagaimana unsur-unsur itu dirumuskan dalam undang-undang.
Berdasarkan pengertian yang diuraikan para ahli diatas dapat disimpulkanbahwa pada hakikatnya pleger adalah pelaku tindak pidana yang memenuhi semua unsur dari tindak pidana.Dalam arti sempit adalah mereka yang melakukan tindak pidana, sementara dalam arti luas adalah mereka yang meliputi keempat klasifikasi pelaku diatas yaitu mereka yang melakukan perbuatan, mereka yang menyuruh melakukan, mereka yang turut serta melakukan, dan
mereka yang menganjurkan.Kriterianya cukup jelas, secara umum ialah perbuatannya telah memenuhi semua unsur tindak pidana (objektif) yang telah dirumuskan di dalam undang-undang.
b. Menyuruh Melakukan (Doenpleger)
Doenpleger adalah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan
orang lain, sedang perantara itu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban di depan hukum pidana. (Erdianto Effendi, 2011:177)
Menurut Abdul Salam Siku (2015:50)Doenplegeradalah:
Orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain, sedang perantara itu hanya diumpamakan sebagai alat. Dengan demikian ada dua pihak, yaitu pembuat langsung (auctorpsysicus/manusministra), dan pembuat tidak langsung (auctorintellectualis/moralis/manusdomina).
Lebih lanjut, Abdul Salam Siku (2015:50) merumuskan unsur-unsur doenpleger sebagai berikut:
1. Alat yang dipakai adalah manusia;
2. Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati);
3. Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan”.
Dari rumusan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam doenpleger, orang yang disuruh melakukan mempunyai status sebagai alat yang
digunakan oleh orang yang menyuruh melakukan, dan alat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.Selanjutnya, hal-hal yang menyebabkan alat tidak dapat dipertanggungjawabkan menurut BardaNawawiArief (1993:31) adalah sebagai berikut:
1. Bila ia tidak sempurna pertumbuhan jiwanya (Pasal 44 KUHP);
2. Bila ia berbuat karena daya paksa (Pasal 48 KUHP);
3. Bila ia berbuat karena perintah jabatan yang tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP);
5. Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan yang bersangkutan.
Sebagai hal yang penting dari apa yang diuraikan diatas mengenai hal-hal yang menyebabkan alat tidak dapat dipertanggungjawabkan adalah jelas bahwa orang yang disuruh melakukan itu tidak dapat di pidana, sebagai konsekuensi logis dari keadaan subjektif (batin: tanpa kesalahan, atau tersesatkan) dan atau tidak berdaya karena pembuat materiilnya tunduk pada kekerasan (objektif).
Jika yang disuruh lakukan dalam bentuk doenpleger ini adalah seorang anak kecil yang belum cukup umur, maka dalam hal ini mengacu pada Undang- Undang RI Nomor 11 Tahun 2012 Pasal 21 ayat (1) tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Pasal 21 ayat (1) menjelaskan bahwa :
Dalam hal Anak belum berumur 12 (dua belas) tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, Penyidik, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional mengambil keputusan untuk: a.
menyerahkannya kembali kepada orang tua/Wali; atau b.
mengikutsertakannya dalam program pendidikan, pembinaan, dan pembimbingan di instansi pemerintah atau LPKS di instansi yang menangani bidang kesejahteraan sosial, baik di tingkat pusat maupun daerah, paling lama 6 (enam) bulan.
Hal ini berarti anak dalam melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, diberi dua alternatif pemidanaan yaitu pertama diserahkan kembali kepada orang tuanya, dan yang kedua diikutsertakan dalam program pendidikan, pembinaan dan bimbingan pada instansi pemerintah.
Dalam doenpleger, terdapat dua ciri penting yang membedakannya dengan bentuk penyertaan lainnya. Pertama, melibatkan minimal 2 orang, dimana satu bertindak sebagai penyuruh yang menyuruh orang lain untuk melakukan suatu
tindak pidana, dan pihak lainnya bertindak sebagai yang disuruh yaitu orang yang melakukan tindak pidana atas suruhan si penyuruh.Kedua, secara yuridis, auctorpsysicus/manusministraadalah orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana atas tindak pidana yangdilakukannya, karena dalam dirinya terdapat hal-hal yang merupakan alasan pemaaf berdasarkan yang ditentukan didalam undang-undang.
c. Turut Serta Melakukan (Medepleger)
Di dalam KUHP tidak memberikan penerusan bila manakah dapat dikatakan sebagai orang turut serta melakukan suatu tindak pidana, tetapi hal ini timbul dalam praktik-praktik pendapat, melalui putusan pengadilan maupun dari doktrin pakar hukum pidana.
Berikut diuraikan pendapat beberapa para ahli tentang medepleger (Amir Ilyas dan Harenah, dkk. 2012:69-70) adalah:
1. Menurut MvT:
Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut berbuat atau turut serta mengerjakan terjadinya sesuatu.
2. Menurut Pompe, “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana”
itu ada tiga kemungkinan:
a. Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana. Misal dua orang dengan bekerjasama melakukan pencurian di sebuah gudang beras.
b. Salah seorang memenuhi semua unsur tindak pidana, sedang yang lain tidak. Misal dua orang pencopet (A dan B) saling bekerjasama, A menabrak orang yang menjadi sasaran, sedang B yang mengambil orang itu.
c. Tidak seorang pun memenuhi unsur-unsur tindak pidana seluruhnya, tetapi mereka bersama-sama mewujudkan tindak pidana itu. Misal dalam pencurian dengan merusak (Pasal 363 ayat (1) angka ke-5 KUHP), salah seorang melakukan pengrusakan pintu rumah yang menjadi sasaran, sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diberikan kepada kawannya yang merusak pintu tadi.
Dalam bentuk turut serta ini terdapat dua orang atau lebih yang dikatakan sebagaimedepleger, semuanya harus terlibat aktif dalam suatu kerjasama pada saat perbuatan pidana dilakukan.
Selanjutnya Abdul Salam Siku (2015:53) merumuskan syarat adanya medepleger yaitu:
1. Adanya kerjasama secara sadar (bewustesamenwerking). Kerjasama dilakukan secara sengaja untuk bekerja sama dan ditunjukkan kepada hal yang dilarang undang-undang.
2. Ada pelaksanaan bersama secara fisik
(gezamenlijkeuitvoering/physiekesamenwerking), yang menimbulkan selesainya delik yang bersangkutan.
Adanya kerjasama secara sadar adalah suatu bentuk kesepakatan/suatu kesamaan kehendak antara beberapa orang (pembuat peserta dengan pembuat pelaksana) untuk mewujudkan suatu tidak pidana secara bersama. Di dalam kerjasama secara sadar ini terdapat kehendak yang sama kuat yang ditujukan pada penyelesaian tindak pidana. Pembuat peserta mempunyai kepentingan yang sama dengan pembuat pelaksana untuk terwujudnya tindak pidana.
Tentang syarat kedua, bahwa mereka telah bersama-sama melaksanakan tindak pidana. Dari syarat ini terkandung makna bahwa wujud perbuatan masing- masing antara pembuat peserta dengan pembuat pelaksana tidak perlu sama, yang penting wujud perbuatan pembuat peserta itu sedikit atau banyak terkait dan mempunyai hubungan dengan perbuatan apa yang dilakukan pembuat pelaksana dalam sama-sama mewujudkan tindak pidana.
d. Sengaja Menganjurkan (Uitlokker)
Dalam bukunya, Mahrus Ali (2011:129) mengatakan:
Penganjur adalah orang yang menganjurkan orang lain untuk melakukan suatu perbuatan pidana dimana orang lain tersebut tergerak untuk memenuhi anjurannya disebabkan karena terpengaruh atau tergoda oleh upaya-upaya yang dilancarkan penganjur sebagaimana ditentukan dalam Pasal 55 ayat 1 angka 2 KUHP.
Sementara menurut Abdul Salam Siku (2015:56):
Penganjur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindakan pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang.
Penganjuran (uitlokker) sebenarnya mirip dengan menyuruh melakukan (doenpleger), yaitu melalui perbuatan orang lain sebagai perantara, namun terdapat dua perbedaan dari keduanya. Pertama, pada penganjuran, menggerakkan dengan sarana-sarana tertentu (limitatif) yang tersebut dalam undang-undang (KUHP), sedangkan menyuruh melakukan, menggerakkannya dengan sarana yang tidak ditentukan.Kedua, pada penganjuran, pembuat material dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan dalam menyuruh melakukan, pembuat material tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Syarat penganjuran yang dapat dipidana menurut Erdianto Effendi (2011:179) adalah:
1. Ada kesengajaan menggerakkan orang lain.
2. Menggerakkan dengan sarana/upaya seperti tersebut limitatif dalam KUHP.
3. Putusan kehendak pembuat material ditimbulkan karena upaya-upaya tersebut.
4. Pembuat material melakukan/mencoba melakukan tindak pidana yang dianjurkan.
5. Pembuat material dapat dipertanggungjawabkan.
Dari lima syarat yang disebutkan diatas, jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. Sedangkan syarat 3, 4, dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat material).
rinci mengenai unsur-unsur uitlokker, yaitu : 1. Unsur-unsur objektif, terdiri dari:
(a) Unsur perbuatan, ialah menganjurkan orang lain melakukan perbuatan;
(b) Caranya, ialah :
dengan memberikan sesuatu;
dengan menjanjikan sesuatu;
dengan menyalahgunakan kekuasaan;
dengan menyalahgunakan martabat;
dengan kekerasan;
dengan ancaman;
dengan penyesatan;
dengan memberi kesempatan dengan memberikan sarana;
dengan memberikan keterangan.
2. Unsur subjektif, yakni dengan sengaja.
Dari rumusan tersebut AdamiChazawi (2002:113) menyatakan ada 5 syarat dari seorang pembuat penganjur, yaitu :
(a) Tentang kesengajaan si penganjur, yang harus ditujukan pada 4 hal yaitu :
(1) Ditujukan pada digunakannya upaya-upaya penganjuran.
(2) Ditujukan pada mewujudkan perbuatan menganjurkan beserta akibatnya.
(3) Ditujukan pada orang lain untuk melakukan perbuatan (apa yang dianjurkan).
(4) Ditujukan pada orang lain yang mampu bertanggung jawab atau dapat dipidana.
(b) Dalam melakukan perbuatan menganjurkan harus menggunakan cara- cara menganjurkan sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 55 ayat (1) angka 2 tersebut.
(c) Terbentuknya kehendak orang yang dianjurkan (pembuat pelaksananya) untuk melakukan tindak pidana sesuai dengan apa yang dianjurkan adalah disebabkan langsung oleh digunakannya upaya- upaya penganjuran oleh si pembuat penganjur (adanya psychischecauseliteit).
(d) Orang yang dianjurkan (pembuat pelaksananya) telah melaksanakan tindak pidana sesuai dengan yang dianjurkan (boleh pelaksanaan itu selesai-tindak pidana sempurna atau boleh juga terjadi percobaannya);
(e) Orang yang dianjurkan adalah orang yang memiliki kemampuan bertanggung jawab.
Dari uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penganjuran (uitlokker) harus menggunakan cara-cara perbuatan menganjurkan sesuai Pasal 55 ayat (1) angka 2. Tidaklah boleh dengan menggunakan upaya lain.Hal ini yang membedakan antara pembuat penganjur dengan pembuat menyuruh.Pada pembuat penyuruh dapat menggunakan segala cara asalkan pembuat materiilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
e. Pembantuan (Medeplichtige)
Erdianto Effendi (2011:180) dalam bukunya menjelaskan jenis-jenis pembantuan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 56 KUHP. Jenis-jenis pembantuan tersebut antara lain:
1. Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan.
Cara bagaimana pembantuannya tidak disebutkan dalam KUHP.
Namun pembantuan ini mirip dengan medepleger (turut serta), namun perbedaannya terletak pada :
(a) Pada pembantuan, perbuatannya hanya bersifat membantu/menunjang. Sedangkan pada turut serta merupakan perbuatan pelaksanaan.
(b) Pada pembantuan, pembantu hanya sengaja memberi bantuan tanpa diisyaratkan harus kerjasama dan tidak bertujuan/berkepentingan sendiri. Sedangkan pada turut serta, orang yang turut serta sengaja melakukan tindak pidana, dengan cara bekerjasama dan mempunyai tujuan sendiri.
(c) Pembantuan dalam pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP).
Sedangkan turut serta dalam pelanggaran tetap dipidana.
(d) Maksimum pidana pembantuan adalah maksimum pidana yang bersangkutan dikurangi sepertiga. Sedangkan turut serta dipidana sama.
2. Pembantuan sebelum kejahatan dilakukan.
Pembantuan ini dilakukan dengan cara memberi kesempatan, sarana atau keterangan. Ini mirip dengan uitlokker (penganjuran), perbedaannya hanya pada niat/kehendak.Pada pembantuan, kehendak jahat pembuat material sudah ada sejak semula/tidak ditimbulkan oleh
kejahatan pada pembuat material ditimbulkan oleh si penganjur.
Dari keterangan diatas, sangatlah jelas perbedaan antara pembantuan dengan penyertaan. Dalam penyertaan pelaku peserta menyadari apa yang mereka lakukan dan mengambil bagian secara aktif dalam suatu tindak pidana. Sedangkan dalam pembantuan, partisipasi para pembantu bahkan kadang-kadang hanya sebatas memudahkan.
2.3 Ketentuan Pidana Pelaku Penyertaan
Sanksi diartikan sebagai tanggungan, tindakan, hukuman untuk memaksa orang menepati janji atau mentaati ketentuan undang-undang.Sanksi juga berarti bagian dari (aturan) hukum yang dirancang secara khusus untuk memberikan pengamanan bagi penegakan hukum dengan mengenakan sebuah ganjaran atau hukuman bagi seseorang yang melanggar aturan hukum itu, atau memberikan suatu hadiah bagi yang mematuhinya.
Jadi, sanksi itu sendiri tidak selalu berkonotasi negatif.Sedangkan tindakan diartikan sebagai pemberian suatu hukuman yang sifatnya tidak menderitakan, tetapi mendidik dan mengayomi.Tindakan ini dimaksudkan untuk mengamankan masyarakat dan memperbaiki pembuat, seperti pendidikan paksa, pengobatan paksa, memasukkan kedalam rumah sakit, dan lainnya.
Mahrus Ali dalam bukunya (2011:202) mengatakan bahwa:
Setiap perbuatan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang pasti ada konsekuensi yang timbul dari perbuatan tersebut.Ada sanksi yang harus diterima bagi seseorang itu.
Jenis tindak pidana kejahatan pada turut serta (medepleger), menyuruh (doenpleger), dan membujuk (uitlokker), diancam pidana yang sama dengan
pelaku kejahatan. Sedangkan membantu (medeplichtige) pada jenis tindak pidana kejahatan, ancaman pidananya lebih ringan dari pelaku yaitu dikurangi sepertiga.
Kemudian pada jenis tindak pidana pelanggaran pada turut serta (medepleger), menyuruh (doenpleger), dan membujuk (uitlokker), diancam pidana sama dengan pelaku pelanggaran. Sedangkan membantu (medeplichtige) pada jenis tindak pidana pelanggaran, tidak dikenai ancaman pidana.
Pasal 57 ayat 1 dan 2 KUHP berbunyi:
“Dalam hal pembantuan, maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dikurangi sepertiga dan apabila maksimum hukuman ini adalah hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, maka maksimum dalam hal ini dijadikan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.”
Sementara Pasal 57 ayat 3 dan 4 berbunyi:
“Pidana tambahan bagi pembantuan sama dengan kejahatannya sendiri, dan apabila menentukan pidana bagi pembantu, yang diperhitungkan hanya perbuatan yang sengaja dipermudah atau diperlancar olehnya, beserta akibat-akibatnya.”
Menurut ayat 3 Pasal 57 KUHP, hukuman tambahan dalam hal
“pembantuan” ini sama seperti si pelaku tunggal, si turut pelaku, si penyuruh, dan si pembujuk. Ayat 4 membatasi penentuan hukuman dalam hal “pembantuan” ini pada perbuatan-perbuatan yang oleh si pembantu dipermudah atau di dorong dengan sengaja.Dengan demikian, tidak dikenai hukuman seseorang yang membantu melakukan tindak pidana secara kurang berhati-hati (culpa).
Meskipun dalam Pasal 56 KUHP hanya disebutkan bantuan pada
“kejahatan”, namun oleh Pasal 60 KUHP ditegaskan lagi bahwa: “Membantu melakukan sesuatu “pelanggaran” tidak dikenai hukuman”.(WirjonoProdjodikoro, 2003:129)
Dalam kepustakaan hukum pidana, tidak ditemukan pengertian yang seragam tentang hukum pidana.Masing-masing ahli merumuskan pengertian hukum pidana berdasarkan alam pikiran yang berpengaruh pada saat para ahli tersebut merumuskan pengertian hukum pidana.Itulah sebabnya, sehingga belum ada pengertian hukum pidana yang disepakati sebagai pengertian yang lengkap dan sempurna. (RuslanRenggong, 2016:11)
Tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu Strafbaarfeit, yang juga dipakai dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia yang selanjutnya disingkat KUHP. Tetapi tidak ada penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud dengan Strafbaarfeit.
Biasanya tindak pidana disinonimkan dengan delik yaitu kata yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum. Dimana dalam kamus Besar Bahasa Indonesia delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana.
Menurut Moeljatno (2008:59) pengertian tindak pidana adalah “Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa yang melanggar”.
Dalam konsep KUHP, tindak pidana diartikan sebagai perbuatan melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana.
Sementara menurut Simons (Erdianto Effendi, 2011:97):
Tindak pidana adalah suatu tindakan atau perbuatan yang diancam dengan pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum, dan dilakukan dengan kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.
WirjonoProdjodikoro (2003:59) juga memberi penjelasan mengenai tindak pidana, yaitu: “Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana”.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat diartikan apa yang dimaksud dengan tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dapat bertanggungjawab yang mana perbuatan tersebut dilarang atau diperintahkan atau diperbolehkan undang-undang yang diberi sanksi berupa sanksi pidana.
Kemudian untuk mengetahui apakah suatu perbuatan dikategorikan sebagai tindak pidana, maka harus diketahui terlebih dahulu unsur-unsurnya.
Berikut terdapat beberapa unsur-unsur tindak pidana, diantaranya yaitu : Menurut Moeljatno (2008:69), unsur atau elemen tindak pidana adalah:
a. Kelakuan dan akibat (hasil dari perbuatan)
b. Hal ikhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan c. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana d. Unsur melawan hukum yang objektif
e. Unsur melawan hukum yang subjektif
Unsur (a) kelakuan dan akibat, untuk adanya perbuatan pidana biasanya diperlukan pula adanya (b) hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan, dimana hal ikhwal dibagi dalam dua golongan, yaitu yang mengenai diri orang yang melakukan perbuatan dan yang mengenai di luar diri si pelaku.
Adapun menurut YuliesTiena (2006:62) unsur tindak pidana dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi subjektif dan segi objektif:
1. Dari segi objektif berkaitan dengan tindakan, tindak pidana adalah perbuatan melawan hukum yang sedang berlaku, akibat perbuatan itu dilarang dan diancam dengan hukuman.
dilakukan seseorang secara salah. Unsur-unsur kesalahan si pelaku itulah yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana. Unsur kesalahan itu timbul dari niat atau kehendak si pelaku. Jadi, akibat dari perbuatan itu telah diketahui bahwa dilarang oleh undang-undang dan diancam dengan hukuman. Jadi memang ada unsur kesengajaan.
Lebih lanjut, Yulies Tina (2006:63) menambahkan bahwa suatu perbuatan agar dapat dikatakan sebagai tindak pidana harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Harus ada suatu perbuatan. Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang.
2. Perbuatan harus sesuai sebagaimana yang dirumuskan dalam undang- undang. Pelakunya harus telah melakukan suatu kesalahan dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
3. Harus ada kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, perbuatan itu memang dapat dibuktikan sebagai suatu perbuatan yang melanggar ketentuan hukum.
4. Harus ada ancaman hukumannya. Dengan kata lain, ketentuan hukum yang dilanggar itu mencantumkan sanksinya.
Sementara unsur-unsur tindak pidana menurut LedenMarpaung (2009:10), unsur-unsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Unsur Subjektif
Unsur yang berasal dari dalam diri si pelaku, yang terdiri atas : (a) Kesengajaan (dolus) atau ketidaksengajaan (culpa).
(b) Maksud pada suatu percobaan, seperti ditentukan dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP.
(c) Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan- kejahatan.
(d) Merencanakan terlebih dahulu
(e) Perasaan takut seperti yang terdapat dalam Pasal 308 KUHP.
2. Unsur Objektif
Unsur yang berasal dari luar diri pelaku, yang terdiri atas : (a) Perbuatan manusia berupa :
Perbuatan aktif dan perbuatan posessif;
Perbuatan pasif atau perbuatan negatif, yaitu perbuatan yang membiarkan atau mendiamkan.
(b) Akibat (Result) perbuatan manusia. Akibat tersebut membahayakan atau merusak, bahkan menghilangkan kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum.
Misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik, kehormatan, dan sebagainya.
(c) Keadaan-keadaan (circumstances)
Pada umumnya keadaan-keadaan ini dibedakan antara lain:
Keadaan pada saat perbuatan dilakukan;
Keadaan setelah perbuatan dilakukan;
Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum.
Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan si pelaku dari hukuman, adapun sifat melawan hukum yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.
Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa tindak pidana dilihat dari pengertian dan unsur-unsurnya adalah merupakan suatu tindakan atau perbuatan pada tempat, waktu, dan keadaan tertentu, yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu bertanggungjawab).
2.5Pengertian dan Unsur-unsur Tindak Pidana Aborsi
Aborsi menurut Mien Rukmini (2002:10) berasal dari kata abortus yang artinya gugur kandungan/keguguran.
Sementara Kusmaryanto (2002:203) mengartikan bahwa:
Aborsi adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum waktunya. Dengan kata lain “pengeluaran” itu dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja dengan campur tangan manusia baik melalui cara mekanik, obat ataupun cara lainnya.
Sedangkanaborsi dalam pengertian medis menurut LilienEka Chandra(2006:10) adalah:
Aborsi (baik keguguran maupun pengguguran kandungan) berarti terhentinya kehamilan yang terjadi diantara saat tertanamnya sel telur yang sudah di Rahim (blastosit) sampai kehamilan 28 minggu.Batas 28 minggu dihitung sejak haid terakhir itu diambil karena sebelum 28 minggu, janin belum dapat hidup.
sebagaimana diatur dalam Pasal 299, Pasal 346, Pasal 347, Pasal 348, dan Pasal 349. Bahkan pada Pasal 299 intinya mengancam hukuman pidana penjara maksimal empat tahun kepada seseorang yang memberi harapan kepada seorang perempuan bahwa kandungannya dapat digugurkan.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk bisa dijelaskan terjadinya aborsi, setidak-tidaknya ada tiga unsur yang harus dipenuhi:
1. Adanya janin yang merupakan hasil pembuahan antara sel sperma dan sel telur di dalam rahim.
2. Pengguguran itu adakalanya terjadi dengan sendirinya, tetapi lebih sering disebabkan oleh perbuatan manusia.
3. Keguguran itu terjadi sebelum waktunya, artinya sebelum masa kelahiran tiba.
2.5.1Aborsi Menurut Ketentuan Perundang-Undangan di Indonesia
Dalam pandangan hukum pidana di Indonesia, tindakan aborsi tidak selalu merupakan perbuatan jahat atau merupakan tindak pidana, hanya aborsiprovocatuscriminalis saja yang dikategorikan sebagai suatu tindak pidana, adapun aborsi yang lainnya terutama yang bersifat spontan dan medikalis, bukan merupakan suatu tindak pidana. (Mien Rukmini, 2002:22)
Makna kejahatan dalam aborsi sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut dalam suatu masyarakat tertentu, misalnya negara Canada yang deskriminalisasiaborsi secara radikal.Artinya, larangan aborsi dihapuskan begitu saja dari hukum pidana.Masyarakat memang memiliki penilaian tertentu untuk
persoalan ini.Dalam banyak hal yang melarang aborsi secara mutlak memang tidak memecahkan masalah, karena pada dasarnya masyarakat membutuhkan aborsi, menolak aborsisangatlah dilematis.
Di Indonesia sendiri, aborsi diatur dalam beberapa peraturan perundang- undangan yang terpisah. Di dalam peraturan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengatur pengguguran kandungan korban tindak pidana pemerkosaan.
Di dalam KUHP mengatur aborsi, yaitu dapat ditemukan dalam KUHP pada Buku ke II Bab XIV (tentang kejahatan terhadap kesusilaan) pada Pasal 299 menyebutkan bahwa seseorang yang sengaja mengobati wanita untuk menggugurkan kandungannya yaitu:
2. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat puluh ribu rupiah.
3. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan, atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
4. Jika yang bersalah, melakukan kerjaan tersebut, dalam menjalani pekerjaannya maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pekerjaan itu.
KUHP menjelaskan bahwa segala macam pengguguran kandungan adalah dilarang.Namun berbeda dengan Undang-Undang Kesehatan yang mengatur mengenai masalah pengguguran kandungan yang secara substansial.Dalam Undang-Undang Kesehatan tersebut penggugurankandungan diatur dalam Pasal 75 yang mana dalam undang-undang ini pengguguran kandungan dapat dilakukan apabila ada indikasi medis.
Di dalam KUHP, tindakan aborsi diatur dalam Buku ke dua Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan khususnya Pasal 299, dan Bab XIX Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan kedalam Kejahatan Terhadap Nyawa.
Berikut ini adalah uraian tentang pengaturan aborsi yang terdapat dalam pasal- pasal tersebut :
Pasal 299 :
(1) Barangsiapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.
(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan, atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346 :
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 :
(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 :
(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349 :
Jika seorang dokter, bidan, atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan Pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
Dari uraian diatas, Kusmaryanto (2002:40) menjelaskan bahwa yang dapat dihukum menurut KUHP dalam kasus aborsi ini adalah :
1. Tenaga medis atau dukun atau juru obat atau tabib yang melakukan pelaksanaan aborsi.
2. Wanita hamil yang menggugurkan kandungannya.
3. Orang-orang yang terlibat secara langsung dan menjadi penyebab terjadinya aborsi itu, dihukum dengan hukuman bervariasi.
Pada pasal 299 KUHP, melarang suatu perbuatan yang mirip dengan aborsi, tetapi tidak dengan penegasan bahwa harus ada suatu kandungan yang hidup.Bahkan tidak perlu bahwa benar-benar ada seorang perempuan hamil.Maka dari itu, Pasal 299 ini bersifat sangat preventif untuk dapat lebih efektif memberantas aborsi. (WirjonoProdjodikoro, 2003:75)
Merujuk kepada Pasal 346 KUHP, jika dilihat kembali rumusan Pasal 346 KUHP tersebut, maka dapat ditemukan unsur-unsur antara lain:
1. Perempuan hamil itu sendiri atau orang lain yang disuruhnya.
2. Dengan sengaja.
3. Menggugurkan atau mematikan kandungannya.
Setelah melihat unsur-unsur dari Pasal 346 KUHP, maka dapat disimpulkan bahwa yang dapat dikenakan hukuman menurut Pasal 346 KUHP
menggugurkan kandungannya sendiri.
Pasal 347 dan Pasal 348 KUHP sendiri terdapat persamaan dan perbedaan pada masing-masing pasal.Persamaannya adalah di dalam pasal tersebut sama- sama mengatur mengenai perbuatan menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan. Perbedaannya adalah pada Pasal 347 KUHP perbuatan menggugurkan atau mematikan kandungan tidak mendapatkan izin dari perempuan yang sedang mengandung atau dengan kata lain tanpa persetujuan dari si perempuan hamil. Sedangkan pada Pasal 348 KUHP menegaskan bahwa kegiatan aborsi tersebut dilakukan dengan adanya persetujuan dari perempuan yang bersangkutan.Namun walaupun ada persetujuan dari perempuan tersebut, menurut pasal ini kegiatan aborsi tetap tidak dibenarkan.Dan untuk ancaman hukuman, Pasal 347 KUHP adalah yang paling berat pidananya.
Pasal 349 KUHP menyebutkan bahwa seorang dokter, bidan atau juru obat yang membantu melakukan kejahatan yang tersebut pada Pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan Pasal 347 dan Pasal 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga. Di dalam pasal ini mengatur mengenai orang-orang tertentu yang dipidananyadiperberat.AdamiChazawi dalam bukunya (2001:124) mengemukakan bahwa ketentuan pemberatan pidana dalam pasal ini dapat dimaklumi sesuai dengan pertimbangan pemberatan pidana kepada mereka yang didasarkan pada pemikiran bahwa:
1. Sebagai orang yang ahli, tidak seharusnya keahlian itu disalahgunakan. Karena seharusnya ilmunya adalah untuk
kemanfaatan bagi kehidupan dan kesehatan manusia dan bukan sebaliknya;
2. Karena keahlian mereka itu akan memperlancar dan memudahkan terlaksananya kejahatan ini.
Dari ketentuan Pasal 346-349 KUHP dapat diketahui bahwa, aborsi menurut konstruksi yuridis peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan yang dilakukan dengan sengaja oleh seorang perempuan atau orang yang disuruh melakukan untuk itu.
Dalam hal ini, harus ada perempuan hamil yang atas kehendaknya ingin menggugurkan kandungan, sedangkan tindakan yang menurut KUHP dapat disuruh untuk melakukan itu adalah tenaga medis, dukun, juru obat, atau tabib.
Dalam proses pengguguran atau pembunuhan janin didalam kandungan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya: meminum obat yang dapat menggugurkan kandungan dan mematikan janin, juga dengan memasukkan alat kedalam rahim perempuan melalui lubang kemaluan perempuan agar janin dapat dikeluarkan.
2.5.3 Aborsi Menurut Undang-Undang Kesehatan
Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menggantikan Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, maka permasalahan aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan.
Secara eksplisit, dalam undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi dalam praktek medis yang kemudian mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan masyarakat.Meskipun undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam keadaan tertentu terdapat kebolehan.Ketentuan pengaturan aborsi dalam Undang-
77, dan Pasal 194.
Berikut adalah uraian lengkap mengenai pengaturan aborsi yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut:
Pasal 75 :
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
b. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan; atau
c. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalu konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lajut mengenai indikasi dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76 :
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh menteri.
Pasal 77 :
“Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggungjawab serta
bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturang perundang-undangan”.
Pasal 194 :
“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.
Berbeda dengan KUHP yang tidak memberikan ruang sedikit pun terhadap tindakan aborsi, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan memberikan ruang terhadap terjadinya aborsi.
Jika melihat rumusan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan tampaklah bahwa dengan jelas undang-undang ini melarang aborsi kecuali untuk jenis abortus provocatusmedicalis (aborsi yang dilakukan untuk menyelamatkan jiwa si ibu dan atau janinnya).
NjowitoHamdani (1992:215) mengemukakan bahwa:
Dalam dunia kedokteranAborsiprovocatusmedicalisdapat dilakukan jika nyawa si ibu terancam mati dan juga dapat dilakukan jika anak yang akan lahir diperkirakan mengalami cacat berat dan diindikasikan tidak dapat hidup diluar kandungan. Misalnya janin menderita kelainan EctopiaKordalis (janin yang akan dilahirkan tanpa dinding dada sehingga terlihat jantungnya), Rakiskisis (janin yang akan lahir dengan tulang punggung terbuka tanpa ditutupi kulit), maupun Anensefalus (janin akan lahir tanpa otak besar).
Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan juga diperbolehkan untuk melakukan tindakan aborsi didalam undang-undang ini. Pada kondisi beberapa akibat pemaksaan kehendak pelaku, seorang korban perkosaan akan menderita secara fisik, mental, dan sosial.
Dan kehamilan akibat perkosaan akan memperparah kondisi mental korban yang sebelumnya telah mengalami trauma berat peristiwa perkosaan tersebut.
merta dilakukan walaupun alasan-alasannya telah terpenuhi.Rumusan Pasal 75 ayat (3) menyatakan bahwa tindakan aborsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.Artinya, bahwa sebelum dilakukan aborsi harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu baik sebelum maupun setelah tindakan yang dilakukan oleh konselor yang berkompeten dan berwenang.
Penjelasan Pasal 75 ayat (3) menyebutkan bahwa yang dapat menjadi konselor adalah dokter, psikolog, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan setiap orang yang mempunyai minat dan memiliki keterampilan untuk itu dan telah memiliki sertifikat sebagai konselor. Hal ini penting mengingat aborsi adalah tindakan yang sangat berbahaya yang jika dilakukan tidak benar akan membawa dampak kematian serta beban mental yang berat bagi si perempuan.
Selanjutnya Pasal 77 memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggungjawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak professional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi daripada indikasi medis.
Kemudian bagi siapa saja yang tidak mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku pada Pasal 75, 76, dan 77 dianggap melakukan tindakan abortus
provocatuscriminalis dan akan dikenakan sanksi pidana yang berat sesuai dengan
yang diuraikan pada Pasal 194. Ancaman pidana yang diberikan terhadap pelaku aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang ini diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Undang-Undang Kesehatan ini memang terlihat seakan-akan memberikan keleluasaan untuk tindak pidana aborsi, padahal sebenarnya tidak demikian.Undang-undang ini justru melarang keras aborsi kecuali hal-hal yang telah diuraikan diatas.Bahkan ancaman hukuman bagi pelaku aborsi yang dilarang dalam undang-undang ini jauh lebih berat daripada ancaman hukuman yang ada didalam KUHP.
2.5.4 Aborsi Menurut Hukum Islam
Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi kesucian kehidupan.Hal ini dibuktikan dengan sejumlah ayat dalam al-Quran yang menjelaskan hal tersebut. Ketentuan-ketentuan ini dapat kita lihat dalam al-Quran, antara lain :
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah- olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”(QS. Al- Maidah:32)
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.”(QS. Al-Isro’:31)
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (QS. Al- Isro’:33)
jelas bahwa kehidupan manusia itu suci sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dihancurkan (diakhiri) kecuali dilakukan karena suatu sebab atau alasan yang benar.
Dalam bahasa Arab, aborsi disebut dengan al-ijhadh dan isqath al- haml.Adapun aborsi (isqath al-haml) dalam pengertian terminologis adalah
pengguguran janin yang dikandung perempuan dengan tindakan tertentu sebelum sempurna kehamilannya, baik dalam keadaan hidup atau mati sebelum si janin bisa hidup diluar kandungan namun telah terbentuk sebagian anggota tubuhnya.
Yusuf Qardawi (1996:779) mengatakan bahwa:
Pada dasarnya hukum aborsi adalah haram, meskipun tingkatan keharamannya bertingkat-tingkat sesuai dengan perkembangan kehidupan janin. Pada usia 40 hari pertama tingkat keharamannya paling ringan, bahkan kadang-kadang boleh digugurkan kecuali ada alasan yang lebih kuat lagi menurut ukuran yang ditetapkan ahli fiqh. Keharamannya itu bertambah kuat dan berlipat ganda setelah kehamilan berusia 120 hari yang oleh hadist diistilahkan telah memasuki tahap peniupan ruh.
Sementara IbnNajib al-Hanafi(M. Nu’aimYasin, 2006:233) mengemukakan bahwa:
Seorang wanita hamil yang terancam bahaya karena anak yang di dalam perutnya, anaknya tidak boleh digugurkan.Tetapi jika anaknya sudah mati di dalam perut tidak apa-apa digugurkan, dan jika masih hidup itu tidak diperbolehkan. Karena menghidupkan seorang jiwa dengan membunuh jiwa lain tidak diperkenankan didalam syariat.
Sedangkan menurut pandangan Huzaemahdkk (2007:99), yaitu:
Aborsi hanya bisa dilakukan jika umur kehamilan tidak lebih dari 40 hari.
Pasalnya proses kejadian manusia dalam ilmu kedokteran dan al-Quran dan Hadist menyebutkan bahwa janin dalam kandungan manusia berusia 40 hari sudah ditiupkan ruh. Jika aborsi tersebut dilakukan pada janin didalam kandungan yang berusia 40 hari, sama artinya dengan menghilangkan nyawa manusia.
Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa para ulama sepakat untuk mengharamkanaborsi yang dilakukan pada waktu janin sudah diberi nyawa (ruh). Perbuatan itu di pandang sebagai tindakan pidana (jarimah) yang tidak halal dilakukan oleh seorang muslim, sebab pengguguran janin sama halnya dengan pembunuhan terhadap manusia yang telah sempurna wujudnya.
Sedangkan menurut Ahmad AzharBasyir (1994:171) dijelaskan bahwa:
Aborsi yang bisa dilakukan sebab khawatir bila janin dibiarkan tumbuh sampai waktunya lahir sehingga dapat mudarat pada ibunya, bahkan berakibat kematian maka syariat Islam membenarkan adanya aborsi guna menyelamatkan nyawa ibu. Namun dalam kasus ini, kehidupan ibu benar- benar telah nyata, sedangkan bayi diyakinkan tidak akan lahir dalam keadaan hidup.
Dalam menentukan hukum aborsi, ulama tidak hanya berhenti pada tahap kesimpulan tektualnya saja bahwa aborsi itu sama dengan membunuh, tetapi lebih dari itu. Ulama berusaha menelusuri berbagai faktor yang terkait dengan persoalan subtantif menyangkut hakekat makna pembunuhan.Kapan suatu tindakan aborsi bisa dikategorikan sebagai kejahatan (jarimah).
2.5.5Aborsi Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Fatwa Majelis Ulama Indonesia pusat Nomor 4 Tahun 2005 tentang Aborsi menyatakan secara tegas bahwa aborsi adalah haram hukumnya sejak terjadinya implantasiblastosis pada dinding rahim ibu, namun aborsi dibolehkan karena adanya uzur yang bersifat darurat ataupun hajat. Dalam ketentuan umum Fatwa Majelis Ulama Indonesia dijelaskan, darurat adalah suatu keadaan dimana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati ataupun hampir mati, sedangkan hajat adalah suatu keadaan dimana seseorang