21 4. Analisa
4.1 Peran Saksi Dalam Perkawinan Kristen di GMIT Efata Benlutu
Perkawinan Kristen merupakan persekutuan percaya, dimana dua pribadi yang berbeda harus mampu bersesuain agar menjadi satu tubuh, dalam membangun rumah tangga Kristen dengan berlandaskan kasih kepada Kristus.1 Dalam pernikahan tidak saja urusan dari kedua pasangan nikah sendiri tetapi juga soal keluarga dan kerabat dekat, karena kehadiran mereka juga sangat mempengaruhi pola kehidupan mereka setiap hari. Inilah kesempatan bagi imam
yang bertindak sebagai “saksi” untuk menyatakan jaminan bahwa seluruh gereja mendukung
mereka berdua. Peranan orang tua saksi ini sangat penting dalam kehidupan rumah tangga Kristen, karena saksi merupakan orang yang mempunyai informasi tangan pertama mengenai suatu kejadian dramatis melalui indra mereka (penglihatan, pandangan, penciuman, sentuhan) dan dapat menolong memastikan pertimbangan-pertimbangan penting dalam suatu kejahatan atau suatu kejadian.2 Sesuai dengan peran saksi dalam jemaat GMIT Efata Benlutu, di mana menurut mereka orang tua saksi mempunyai peran yang sangat penting dalam mendampingi rumah tangga yang baru terbentuk tersebut, karena mereka adalah pasangan baru yang belum mempunyai pengalaman dalam menjalani kehidupan berumahtangga. Sehingga pendampingan dari orang tua saksi itu sangat penting. Ini disebabkan oleh karena orang tua saksi merupakan orang yang menyaksikan secara langsung pernikahan mereka di hadapan pendeta dan juga jemaat. Tidak saja saksi mendampingi mereka dalam keadaan baik tetapi ketika ada konflik yang terjadi dalam rumah tangga tersebut, saksi juga harus hadir untuk memberikan jalan keluar dari permasalah yang sedang dihadapi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada jemaat Benlutu, walaupun mereka mengetahui pentingnya peran orang tua saksi kepada pasangan nikah, namun sebagian besar dari mereka belum menjalankan tugasnya sebagai orang tua saksi. Yang dilakukan oleh orang tua saksi hanya mendampingi pasangan nikah pada saat pernikahan. Kenyataan tersebut terlihat di mana orang tua saksi hanya melakukan komunikasi dengan pasangan nikah apabila bertemu dalam suatu acara tertentu seperti hari raya natal, ulang tahun perhikahan dari pasangan nikah. Adapun hal-hal yang menyebabkan di antaranya batasan jarak tempat tinggal antara saksi dengan
1 Abineno. J.L. Ch, Perkawinan, (Jakarta Pusat: Bpk Gumung Mulia, 1983), 16-18
22
pasangan nikah yang berjauhan dan dibatasi oleh kesibukan dari masing-masing pihak baik dari pihak saksi maupun dari pihak pasangan nikah.
Selain itu, apabila terdapat masalah dalam rumah tangga pasangan nikah, maka ada pasangan nikah yang membicarakannya dengan orang tua saksi namun ada juga pasangan nikah yang tidak terbuka mengenai persoalannya kepada orang tua saksi disebabkan oleh pasangan nikah tidak suka jika urusan rumah tangganya dicampuri oleh orang lain. Ada juga orang tua saksi yang mengetahui tugas dan tanggung jawabnya, namun bersikap pasif karena saksi menunggu untuk dihubungi oleh pasangan nikah walaupun ia tahu bahwa pasangan nikah mengalami masalah dalam rumah tangganya. Akibat kurangnya komunikasi dari kedua pihak menyebabkan orang tua saksi lupa kepada pasangan nikah yang harus didampinginya dan juga sebaliknya.
Tugas saksi yaitu untuk terus mendampingi dan mengarahkan serta mengawasi kedua mempelai yang telah menikah untuk selalu berkomitmen dengan apa yang telah mereka ikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat. Pendampingan dan pengarahan itu bertujuan untuk menjaga agar kedua mempelai menjalani dan membangun rumah tangga mereka sesuai dengan nilai-nilai yang di ajarkan oleh agama tapi juga yang di tuntut masyarakat berbudaya. Berdasarkan tugas-tugas saksi pernikahan tersebut maka penulis dapat mengatakan bahwa jemaat GMIT Efata Benlutu belum melaksanakan peran saksi dengan maksimal.
4.2Peraturan GMIT Tentang Tugas-Tugas Saksi Pernikah Serta Syarat-Syaratnya
Dalam GMIT peraturannya tentang tugas dan syarat saksi pernikahan bahwa saksi pernikahan sesuai peraturan perkawinan bagi satu pasangan nikah Kristen hendaknya dipilih dari anggota GMIT dan memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh GMIT sebagai berikut: sudah menikah, tidak berada di bawah tindak disiplin gereja, umur minimal 30 tahun serta dapat menjadi panutan/contoh dalam kehidupan berkeluarga dan berjemaat.3
Berdasarkan hasil penelitian di jemaat GMIT Efata Benlutu, dalam pemilihan orang tua saksi seringkali dilakukan berdasarkan keinginan sendiri tidak berdasarkan pada ketetapan GMIT. Pemilihan saksi yang dilakukan biasanya berdasarkan orang yang mempunyai jabatan yang tinggi di tempat tersebut, ataupun di tempat mereka bekerja tanpa mengetahui dengan
3 Majelis sinode GMIT, Hasil sidang sinode GMIT XXXX (Indonesia: Gereja Pola Tribuana
23
benar karakter dan tingkah laku dari calon orang tua saksi yang akan menjadi pendamping rumah tangga mereka. Adapun pemilihan saksi yang berasal dari luar jemaat GMIT, misalnya mereka mempunyai kenalan di daerah lain dan meminta untuk menjadi orang tua saksi mereka.
Pada beberapa kasus terdapat juga pasangan nikah yang berasal dari gereja lain namun menikah di gereja Efata Benlutu dan kemudian meminta salah seorang warga jemaat untuk menjadi saksi bagi kedua pasangan ini. Jemaat yang diminta menerima untuk menjadi saksi nikah, meskipun tidak mengenal dengan baik pasangan tersebut. Pasangan nikah memilih orang tua saksi yang tidak dikenali hanya sebagai pemenuhan syarat pernikahan, namun tidak memperhatikan tugas dan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh orang tua saksi. Faktor-faktor tersebutlah yang mengakibatkan orang tua saksi tidak melaksanakan tugasnya secara maksimal. Selain itu juga ada faktor kesibukan dari orang tua saksi, kurangnya komunikasi, serta tidak adanya keterbukaan karena ada pengaruh budaya malu. Penyebab lainnya dikarenakan orang tua saksi yang kurang mengerti mengenai persyaratan dan tanggung jawabnya, sehingga mereka tidak menjalankan tugas mereka secara benar.
Sesuai dengan ketentuan GMIT mengenai persyaratan, tugas dan tanggung jawab dari orang tua saksi serta hasil penelitian mengenai cara jemaat Efata Benlutu dalam penentuan saksi nikah maka penulis dapat mengatakan bahwa dalam penetapan saksi, beberapa syarat sudah dipenuhi tetapi ada juga syarat yang belum dipenuhi yakni syarat untuk menjadi teladan bagi pasangan nikah. Hal ini disebabkan karena pemilihan saksi nikah dilakukan hanya untuk memenuhi syarat pernikahan tanpa memperhatikan contoh dan teladan yang dapat diberikan saksi kepada pasangan nikah. Demikian juga, dalam pemilihan saksi nikah dilakukan oleh keluarga sehingga pasangan nikah tidak mengenal dengan baik orang tua saksi. Hal ini yang menyebabkan tidak adanya komunikasi yang baik dan juga kurangnya keterbukaan dari pasangan nikah kepada orang tua saksi yang seharusnya menolong, menutun dan membimbing mereka. Dengan demikian maka, pelaksanaanya saksi nikah di jemaat Efata Benlutu belum secara menyeluruh berperan dan melakukan tanggung jawabnya.
4.3Peran GMIT Efata Benlutu Terhadap Penetapan Saksi Pernikahan
24