Abstrak
SRI DEVI SYAMSUDDIN. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU
DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI
KELURAHAN SABBAMPARU KECAMATAN WARA UTARA PALOPO 2013
(Sri Devi Syamsuddin,S.ST, Almin, Angriani)
Sri Devi S.,¹. RSUD Sawerigading Palopo
3
Prodi DIII Kebidanan 4STIKES Kurnia Jaya Persada
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik dan utama bagi bayi karena mempunyai kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi sesuai dengan pertambahan umur bayi. Namun pemberian ASI saja hinggabayi berusia 6 bulan masih sangat rendah hal ini terjadi karena banyak faktor diantaranya pekerjaan, pendidikan dan pengetahuan yang menjadi domain penting terbentuknya perilaku seseorang. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka pemberian ASI eksklusif oleh ibu-ibu.
Desain penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey untuk memperoleh hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan, dengan populasi sebanyak 82 orang dan sampel yang diperoleh dengan rumus Solvin 42 responden.
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas. Untuk hasil penelitian diolah menggunakan program SPSS 16.00 yaitu dengan analisis univariat dan bivariat.
Hasil penelitian menunjukkan dari Tingkat pengetahuan ibu sebagian besar berpengetahuan kurang sebanyak 18 ibu, 13 ibu memiliki pengetahuan cukup, dan baik 14 orang ibu.
Pemberian ASI esklusif oleh ibu di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara hanya 5 orang ibu yang sudah memberikan ASI eksklusif dan 40 orang ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Jadi ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan.
Saran yang diberikan, pengetahuan mengenai ASI eksklusif sudah ditingkatkan sebelum kehamilan maupun selama kehamilan sehingga saat ibu-ibu telah menyusui sudah mampu memutuskan nutrisi yang terbaik bagi bayinya.
Kata kunci : ASI EKSKLUSIF
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Air susu ibu (ASI) bukan hanya sekedar minuman. Namun ASI, merupakan satu-satunya
makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. ASI cukup mengandung
seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. Selain itu, secara alamiah ASI dibekali enzim pencernaan
susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. Disamping itu,
sistem pencernaan bayi belum memiliki cukup enzim pencernaan makanan. (Soetjiningsih,
1999:187)
Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13 persen
sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22/1000
kelahiran hidup, angka kematian balita 46/1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan
terselamatkan sebanyak 30 ribu. Namun yang patut disayangkan tingkat pemberian ASI secara
eksklusif masih sangat rendah yakni antara 39 persen hingga 40 persen dari jumlah ibu yang
melahirkan.
Promosi pemberian ASI masih terkendala oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang
manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dari
petugas kesehatan, dan keagresifan produsen susu formula mempromosikan produknya
kepada masyarakat dan petugas kesehatan. Padahal ASI merupakan makanan sempurna yang
dapat melindungi bayi dari berbagai jenis penyakit termasuk Infeksi Saluran Pernafasan Atas
(ISPA), diare, gangguan pencernaan kronis, kegemukan, alergi, diabetes dan tekanan darah
tinggi (Depkes RI, 2006).
Berdasarkan survei yang dilakukan World Health Organization (WHO) menemukan
hanya 2,6% bayi mendapat ASI eksklusif pada tahun 2007. Sedangkan survei yang dilakukan
oleh Office on Women’s Health di Amerika Serikat tahun 2000 ditemukan bahwa angka
rata-rata bayi menyusui saat pulang dari Rumah Sakit hingga usia 6 bulan diperkirakan di bawah
29% (Ariani dr,2007:4).
Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia tahun 2007 menunjukkan
penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama,
menjadi 27,9% pada 2007. UNICEF menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif 6 bulan di Indonesia
jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38% (Andreas, 2008).
Menurut hasil survei Dinkes Sul-Sel tahun 2014, bahwa jumlah bayi yang diberi ASI di
provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014 presentasenya mencapai 75,20% dari jumlah
kelahiran hidup, sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif sebanyak 57,48% pada tahun
2009 dan 57,05% pada tahun 2014 hal ini menunjukkan terjadi penurunan pemberian ASI
eksklusif (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2014:3).
Berdasarkan profil Dinkes Kota Palopo, bayi yang memperoleh ASI eksklusif hingga usia
6 bulan pada tahun 2013 hanya 38%. Dibandingkan dengan data tahun 2014, bayi yang
mendapat ASI secara eksklusif mencapai 47,02%.
Berdasarkan survei di wilayah Pustu Sabbamparu tahun 2013 bayi yang mendapat ASI
eksklusif hingga berusia 6 bulan terdapat 30 bayi (9%) dari 332 bayi.
Perintah menyusui tidak hanya diperintahkan oleh negara maupun berbagai instansi
kesehatan dan petugas kesehatan tetapi Allah SWT juga memerintahkan seperti halnya dalam
surah Albaqarah ayat 233. Mengingat pentingnya ASI eksklusif bagi bayi, ibu, keluarga dan
Negara maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara
Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di
Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah pada
penelitian ini sebagai berikut “Apakah ada Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan
Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi usia 6-12 Bulan Di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara
Utara Palopo Tahun 2013?”.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan yang ada, tujuan umum penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Pada
Bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013.
Sedangkan tujuan khususnya adalah : pertama, untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu
tentang ASI eksklusif di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013. Kedua,
untuk mengetahui pemberian ASI eksklusif oleh ibu menyusui di Kelurahan Sabbbamparu Kec.
pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12
bulan di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013.
Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis, sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan pelaksanaan
program bagi instalasi Departemen khususnya di Kelurahan Sabbamparu Palopo dalam
menyusun program perencanaan berkaitan dengan upaya ASI eksklusif bagi bayi 0-6 bulan.
Manfaat Ilmiah, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam pengembangan pengetahuan dan
keterampilan peneliti dibidang kesehatan khususnya kebidanan. Dan sebagai bahan acuan atau
pedoman institusi khususnya jurusan kebidanan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey untuk
memperoleh hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI
eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun
2013 dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur. Peneliti hanya melakukan
pengamatan, atau pengukuran terhadap berbagai variabel penelitian menurut keadaan apa
adanya dan tidak memberikan intervensi atau manipulasi pada subyek penelitian.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo selama 1 bulan
yaitu pada tanggal 20 Februari-18 Maret 2013.
Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi 0-12 bulan di
Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo Tahun 2013 yang berjumlah 82 orang.
Sampel adalah seluruh ibu menyusui yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan.
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu berdasarkan ciri atau sifat-sifat kriteria inklusi
dan eksklusi yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan data sesuai dengan fokus penelitian,
mempunyai bayi berusia 6-12 bulan, bersedia menjadi responden, bisa baca dan menulis, ibu
dan anak tinggal di wilayah Kelurahan Sabbamparu.
Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang terdiri atas pertanyaan yang telah
dikembangkan oleh peneliti sendiri meliputi tingkat pengetahuan ibu berdasarkan pengertian
ASI eksklusif, komposisi gizi dalam ASI, tahapan ASI, perbedaan ASI dan susu formula serta
manfaat ASI, bentuk pernyataan tertutup menggunakan skala guttman dengan dua alternative
pilihan jawaban “benar” dan “salah”. Skoring yang digunakan pernyataan bersifat positif
(favorable): nilai 1 untuk jawaban benar, nilai 0 untuk jawaban salah. Dan pernyataan bersifat
negatif (unfavorable): Nilai 1 untuk jawaban salah, nilai 0 untuk jawaban benar.
Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian diuji coba terlebih dahulu dengan
mengukur validitas dengan menggunakan rumus Korelasi Product moment, butir pernyataan
kuesioner dinyatakan valid jika diperoleh hasil perhitungan rhitung > rtabel. Data dikatakan valid
apabila berkorelasi positif (Pearson Correlation) dan uji nilai product moment signifikan kurang
dari 0,05 (atau jika menggunakan SPSS nilai α >0,576). Uji Reliabilitas menggunakan SPSS
16,00. Untuk jumlah responden 12, taraf signifikansi berdasarkan nilai r Product Moment 0,576.
Pengolahan dan Analisis Data
Sebelum dianalisis, data diolah terlebih dahulu dengan cara editing, coding, scoring dan
tabulating. Kemudian data dianalisa dengan cara, analisa univariat untuk mendeskripsikan
masing-masing variabel yaitu (variabel bebas) pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan
(variabel terikat) pemberian ASI eksklusif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan
persentase. Rumus yang dipakai untuk menghitung persentase adalah sebagai berikut :
P = (F/N) x 100%
Keterangan: P : persentase
F : jumlah jawaban yang benar
N : jawaban seluruh item pertanyaan
Selanjutnya hasil perhitungan yang diperoleh dikategorikan ke dalam tiga kategori yaitu:
Baik : Responden menjawab 51-100 % jawaban benar
Cukup : Responden menjawab 26-50 % jawaban benar
Analisa bivariat, dalam penelitian ini dilakukan pengujian statistik dengan uji chi square
atau χ2 untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif
dengan pemberian ASI eksklusif. Pengolahan data dilakukan menggunakan program SPSS.
Membandingkan χ2hitung dengan χ2tabel (df=2, taraf signifikan 5%, maka χ 2tabel = 5,991).
Jika χ2 hitung ≥ χ2 tabel maka H0 ditolak artinya signifikan.
Jika χ2hitung ≤ χ2tabel maka H0 diterima artinya tidak signifikan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Analisis Univariat
a. Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif
Tabel 5.4. Distribusi Tingkat Pengetahuan ibu menyusui tentang ASI Eksklusif di
Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Baik
Cukup
Kurang
14
13
18
31,1%
28,9%
40%
Total 45 100%
Sumber : Data Primer Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2013
Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 45 ibu menyusui, sebagian
besar ibu memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu (40%).
b. Pemberian ASI eksklusif
Tabel 5.5. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Kelurahan
Pemberian ASI
Eksklusif Frekuensi Persentase
Ya
Tidak
5
40
11%
89%
Total 45 100%
Sumber : Data Primer Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2013
Dari hasil penelitian tentang pemberian ASI eksklusif maka diketahui bahwa
terdapat 40 orang ibu (89%) yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya dan
hanya 5 orang ibu (11%) yang sudah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
Analisis Bivariat
Analisis korelasi bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif. Analisis bivariat
dilakukan dengan menggunakan rumus chi-square.
Tabel 5.6. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada
Bayi Usia 0-6 Bulan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2014
Tingkat
Pengetahuan
Pemberian ASI eksklusif
Total
X2 ρ
Ya Tidak
F % F % F %
Baik 5 35,7 9 64,3 14 100
12,455 0,002
Cukup 0 0 13 100 13 100
Kurang 0 0 18 100 18 100
Dari tabel di atas diketahui bahwa dari 14 orang (100%) yang tingkat
pengetahuannya baik, terdapat 5 orang ibu (35,7%) yang memberikan ASI eksklusif
pada bayinya. Responden yang mempunyai pengetahuan cukup, tidak memberikan ASI
eksklusif sebanyak 13 orang (100%). Sedangkan responden yang mempunyai
pengetahuan kurang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 18 orang (100%).
Uji chi square yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang ASI
eksklusif pada sampel dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Sabbamparu Kec.
Wara Utara, didapat chi square χ2 hitung = 12,455 > χ2 tabel = 5,991 dengan df = 2 dan
Asymp. Sig 0,002 < taraf signifikansi 0,05. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Ha
diterima, yang mempunyai arti bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan
Sabbamparu Kec. Wara Utara.
Pembahasan
1. Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 ibu menyusui, sebagian
besar ibu memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu (40%).
Terdapat 13 orang ibu (28,9%) yang memiliki tingkat pengetahuan cukup. Dan yang tingkat
pengetahuannya baik sebanyak 14 orang ibu (31,1%).
Pendidikan diperkirakan ada kaitannya dengan pengetahuan seseorang, hal ini
dihubungkan dengan tingkat pengetahuan seseorang bahwa seseorang yang berpendidikan
lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan tingkat
pendidikan yang rendah. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi,
umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan
kesehatannya. Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu dapat dipengaruhi oleh
pengetahuan dan informasi yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif. Menurut
Notoatmodjo (2003) ibu yang memiliki pengetahuan kurang cenderung memiliki perilaku
yang kurang baik dalam perilakunya. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Purwanti
(2004) bahwa para ibu beranggapan makanan pengganti ASI (susu formula) dapat
membantu ibu dan bayinya, sehingga ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada
Menurut saya, hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu juga dipengaruhi
oleh pendidikan, pengalaman dan informasi dari berbagai pihak seperti bidan, kader, dan
petugas kesehatan lainnya yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif. Pengetahuan atau
kognitif merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, salah
satunya kurang memadainya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif yang
menjadikan penyebab atau masalah dalam peningkatan pemberian ASI eksklusif.
2. Pemberian ASI Eksklusif
Dari hasil penelitian di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo tentang
pemberian ASI eksklusif maka diketahui bahwa terdapat 40 orang ibu (89%) yang tidak
memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya dan hanya 5 orang ibu (11%) yang sudah
memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Angka tersebut masih sangat rendah dari yang
diharapkan dimana Menteri Kesehatan RI mengharapkan pemberian ASI eksklusif pada
bayi 0-6 bulan mencapai 80% pada tahun 2013.
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan ataupun
minuman lain (air, madu, susu formula, bubur, dan lain-lain) selama 6 bulan. Pemberian ASI
secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu sampai 6 bulan, jika usia bayi sudah lebih
dari 6 bulan, maka harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. ASI dapat diberikan
sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun. ASI mempunyai komposisi dan
manfaat yang sangat baik untuk bayi maupun ibu. ASI mengandung zat gizi yang sangat
lengkap, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan,
hormone, enzim, dan zat kekebalan. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan
seimbang satu dengan lainnya. ASI merupakan nutrisi yang paling lengkap untuk
pertumbuhan bayi, sehingga tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.
Menurut saya, rendahnya pemberian ASI selain dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan ibu juga dipengaruhi beberapa faktor seperti kurangnya dukungan dari suami
dan keluarga (sosial ekonomi ibu), kultur atau kepercayaan, pengalaman, kesibukan dalam
bekerja, takut kehilangan daya tarik sebagai wanita (payudara kendor), memberikan
makanan pendamping ASI terlalu dini, gaya hidup dan semakin menjamurnya iklan
produsen susu formula yang menjanjikan berbagai keunggulan yang menyamai air susu ibu.
Sehingga di Kelurahan Sabbamparu pemberian ASI eksklusif masih sangat rendah.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui dari 14 orang (100%) yang tingkat
pengetahuannya baik, terdapat 5 orang ibu (35,7%) yang memberikan ASI eksklusif pada
bayinya. Responden yang mempunyai pengetahuan cukup, tidak memberikan ASI eksklusif
sebanyak 13 orang (100%). Sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang
tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 18 orang (100%).
Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Sabbamparu Palopo, ada hubungan yang
signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI
eksklusif, jadi dalam hal ini hipotesis kerja diterima, yang berarti bahwa semakin baik tingkat
pengetahuan ibu maka semakin baik kesadaran ibu untuk memberikan ASI eksklusif.
Sebagian besar ibu-ibu di Kelurahan Sabbamparu Palopo masih berpengetahuan kurang
(40%). Hal ini terutama tercermin dari pengetahuan ibu terhadap pengertian ASI eksklusif,
komposisi ASI, tahapan ASI, perbedaan pemberian ASI eksklusif dan susu formula, serta
manfaat ASI eksklusif.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003), ibu yang memiliki
pengetahuan kurang cenderung memiliki perilaku yang kurang baik dalam perilakunya.
Semakin tinggi pengetahuan ibu maka semakin besar kemungkinannya untuk memberikan
ASI eksklusif. Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu juga dipengaruhi oleh
pendidikan, pengalaman dan informasi yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif.
Pengetahuan atau kognitif merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang, salah satunya kurang memadainya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI
eksklusif yang menjadikan penyebab atau masalah dalam peningkatan pemberian ASI
eksklusif.
Asumsi saya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam
memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang manfaat ASI eksklusif,
maka seorang ibu akan memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Begitu juga sebaliknya,
semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif, maka semakin sedikit pula
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah: pertama, tingkat pengetahuan ibu di Kelurahan
Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan
kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu, 13 orang ibu memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan
yang tingkat pengetahuannya baik sebanyak 14 orang ibu. Kedua, pemberian ASI esklusif oleh
ibu menyusui di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo hanya 5 orang ibu yang
sudah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan terdapat 40 orang ibu yang tidak
memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Ketiga, ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu