• Tidak ada hasil yang ditemukan

UBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU D"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

SRI DEVI SYAMSUDDIN. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU

DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI

KELURAHAN SABBAMPARU KECAMATAN WARA UTARA PALOPO 2013

(Sri Devi Syamsuddin,S.ST, Almin, Angriani)

Sri Devi S.,¹. RSUD Sawerigading Palopo

3

Prodi DIII Kebidanan 4STIKES Kurnia Jaya Persada

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik dan utama bagi bayi karena mempunyai kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi sesuai dengan pertambahan umur bayi. Namun pemberian ASI saja hinggabayi berusia 6 bulan masih sangat rendah hal ini terjadi karena banyak faktor diantaranya pekerjaan, pendidikan dan pengetahuan yang menjadi domain penting terbentuknya perilaku seseorang. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka pemberian ASI eksklusif oleh ibu-ibu.

Desain penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey untuk memperoleh hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan, dengan populasi sebanyak 82 orang dan sampel yang diperoleh dengan rumus Solvin 42 responden.

Penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas. Untuk hasil penelitian diolah menggunakan program SPSS 16.00 yaitu dengan analisis univariat dan bivariat.

Hasil penelitian menunjukkan dari Tingkat pengetahuan ibu sebagian besar berpengetahuan kurang sebanyak 18 ibu, 13 ibu memiliki pengetahuan cukup, dan baik 14 orang ibu.

Pemberian ASI esklusif oleh ibu di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara hanya 5 orang ibu yang sudah memberikan ASI eksklusif dan 40 orang ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Jadi ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan.

Saran yang diberikan, pengetahuan mengenai ASI eksklusif sudah ditingkatkan sebelum kehamilan maupun selama kehamilan sehingga saat ibu-ibu telah menyusui sudah mampu memutuskan nutrisi yang terbaik bagi bayinya.

Kata kunci : ASI EKSKLUSIF

(2)

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Air susu ibu (ASI) bukan hanya sekedar minuman. Namun ASI, merupakan satu-satunya

makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. ASI cukup mengandung

seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. Selain itu, secara alamiah ASI dibekali enzim pencernaan

susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. Disamping itu,

sistem pencernaan bayi belum memiliki cukup enzim pencernaan makanan. (Soetjiningsih,

1999:187)

Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13 persen

sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22/1000

kelahiran hidup, angka kematian balita 46/1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan

terselamatkan sebanyak 30 ribu. Namun yang patut disayangkan tingkat pemberian ASI secara

eksklusif masih sangat rendah yakni antara 39 persen hingga 40 persen dari jumlah ibu yang

melahirkan.

Promosi pemberian ASI masih terkendala oleh rendahnya pengetahuan ibu tentang

manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dari

petugas kesehatan, dan keagresifan produsen susu formula mempromosikan produknya

kepada masyarakat dan petugas kesehatan. Padahal ASI merupakan makanan sempurna yang

dapat melindungi bayi dari berbagai jenis penyakit termasuk Infeksi Saluran Pernafasan Atas

(ISPA), diare, gangguan pencernaan kronis, kegemukan, alergi, diabetes dan tekanan darah

tinggi (Depkes RI, 2006).

Berdasarkan survei yang dilakukan World Health Organization (WHO) menemukan

hanya 2,6% bayi mendapat ASI eksklusif pada tahun 2007. Sedangkan survei yang dilakukan

oleh Office on Women’s Health di Amerika Serikat tahun 2000 ditemukan bahwa angka

rata-rata bayi menyusui saat pulang dari Rumah Sakit hingga usia 6 bulan diperkirakan di bawah

29% (Ariani dr,2007:4).

Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia tahun 2007 menunjukkan

penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama,

(3)

menjadi 27,9% pada 2007. UNICEF menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif 6 bulan di Indonesia

jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38% (Andreas, 2008).

Menurut hasil survei Dinkes Sul-Sel tahun 2014, bahwa jumlah bayi yang diberi ASI di

provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014 presentasenya mencapai 75,20% dari jumlah

kelahiran hidup, sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif sebanyak 57,48% pada tahun

2009 dan 57,05% pada tahun 2014 hal ini menunjukkan terjadi penurunan pemberian ASI

eksklusif (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2014:3).

Berdasarkan profil Dinkes Kota Palopo, bayi yang memperoleh ASI eksklusif hingga usia

6 bulan pada tahun 2013 hanya 38%. Dibandingkan dengan data tahun 2014, bayi yang

mendapat ASI secara eksklusif mencapai 47,02%.

Berdasarkan survei di wilayah Pustu Sabbamparu tahun 2013 bayi yang mendapat ASI

eksklusif hingga berusia 6 bulan terdapat 30 bayi (9%) dari 332 bayi.

Perintah menyusui tidak hanya diperintahkan oleh negara maupun berbagai instansi

kesehatan dan petugas kesehatan tetapi Allah SWT juga memerintahkan seperti halnya dalam

surah Albaqarah ayat 233. Mengingat pentingnya ASI eksklusif bagi bayi, ibu, keluarga dan

Negara maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara

Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di

Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah pada

penelitian ini sebagai berikut “Apakah ada Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan

Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi usia 6-12 Bulan Di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara

Utara Palopo Tahun 2013?”.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan yang ada, tujuan umum penelitian ini adalah untuk

mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Pada

Bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013.

Sedangkan tujuan khususnya adalah : pertama, untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu

tentang ASI eksklusif di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013. Kedua,

untuk mengetahui pemberian ASI eksklusif oleh ibu menyusui di Kelurahan Sabbbamparu Kec.

(4)

pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12

bulan di Kelurahan Sabbbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013.

Manfaat Penelitian

Manfaat Praktis, sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan pelaksanaan

program bagi instalasi Departemen khususnya di Kelurahan Sabbamparu Palopo dalam

menyusun program perencanaan berkaitan dengan upaya ASI eksklusif bagi bayi 0-6 bulan.

Manfaat Ilmiah, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan

memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.

Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam pengembangan pengetahuan dan

keterampilan peneliti dibidang kesehatan khususnya kebidanan. Dan sebagai bahan acuan atau

pedoman institusi khususnya jurusan kebidanan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Desain penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey untuk

memperoleh hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI

eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun

2013 dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur. Peneliti hanya melakukan

pengamatan, atau pengukuran terhadap berbagai variabel penelitian menurut keadaan apa

adanya dan tidak memberikan intervensi atau manipulasi pada subyek penelitian.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo selama 1 bulan

yaitu pada tanggal 20 Februari-18 Maret 2013.

Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi 0-12 bulan di

Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo Tahun 2013 yang berjumlah 82 orang.

Sampel adalah seluruh ibu menyusui yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan.

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu berdasarkan ciri atau sifat-sifat kriteria inklusi

dan eksklusi yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan data sesuai dengan fokus penelitian,

(5)

mempunyai bayi berusia 6-12 bulan, bersedia menjadi responden, bisa baca dan menulis, ibu

dan anak tinggal di wilayah Kelurahan Sabbamparu.

Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data

Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang terdiri atas pertanyaan yang telah

dikembangkan oleh peneliti sendiri meliputi tingkat pengetahuan ibu berdasarkan pengertian

ASI eksklusif, komposisi gizi dalam ASI, tahapan ASI, perbedaan ASI dan susu formula serta

manfaat ASI, bentuk pernyataan tertutup menggunakan skala guttman dengan dua alternative

pilihan jawaban “benar” dan “salah”. Skoring yang digunakan pernyataan bersifat positif

(favorable): nilai 1 untuk jawaban benar, nilai 0 untuk jawaban salah. Dan pernyataan bersifat

negatif (unfavorable): Nilai 1 untuk jawaban salah, nilai 0 untuk jawaban benar.

Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian diuji coba terlebih dahulu dengan

mengukur validitas dengan menggunakan rumus Korelasi Product moment, butir pernyataan

kuesioner dinyatakan valid jika diperoleh hasil perhitungan rhitung > rtabel. Data dikatakan valid

apabila berkorelasi positif (Pearson Correlation) dan uji nilai product moment signifikan kurang

dari 0,05 (atau jika menggunakan SPSS nilai α >0,576). Uji Reliabilitas menggunakan SPSS

16,00. Untuk jumlah responden 12, taraf signifikansi berdasarkan nilai r Product Moment 0,576.

Pengolahan dan Analisis Data

Sebelum dianalisis, data diolah terlebih dahulu dengan cara editing, coding, scoring dan

tabulating. Kemudian data dianalisa dengan cara, analisa univariat untuk mendeskripsikan

masing-masing variabel yaitu (variabel bebas) pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan

(variabel terikat) pemberian ASI eksklusif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan

persentase. Rumus yang dipakai untuk menghitung persentase adalah sebagai berikut :

P = (F/N) x 100%

Keterangan: P : persentase

F : jumlah jawaban yang benar

N : jawaban seluruh item pertanyaan

Selanjutnya hasil perhitungan yang diperoleh dikategorikan ke dalam tiga kategori yaitu:

Baik : Responden menjawab 51-100 % jawaban benar

Cukup : Responden menjawab 26-50 % jawaban benar

(6)

Analisa bivariat, dalam penelitian ini dilakukan pengujian statistik dengan uji chi square

atau χ2 untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif

dengan pemberian ASI eksklusif. Pengolahan data dilakukan menggunakan program SPSS.

Membandingkan χ2hitung dengan χ2tabel (df=2, taraf signifikan 5%, maka χ 2tabel = 5,991).

Jika χ2 hitung ≥ χ2 tabel maka H0 ditolak artinya signifikan.

Jika χ2hitung ≤ χ2tabel maka H0 diterima artinya tidak signifikan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Analisis Univariat

a. Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif

Tabel 5.4. Distribusi Tingkat Pengetahuan ibu menyusui tentang ASI Eksklusif di

Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo Tahun 2013

Pengetahuan Frekuensi Persentase

Baik

Cukup

Kurang

14

13

18

31,1%

28,9%

40%

Total 45 100%

Sumber : Data Primer Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2013

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 45 ibu menyusui, sebagian

besar ibu memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu (40%).

b. Pemberian ASI eksklusif

Tabel 5.5. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Kelurahan

(7)

Pemberian ASI

Eksklusif Frekuensi Persentase

Ya

Tidak

5

40

11%

89%

Total 45 100%

Sumber : Data Primer Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2013

Dari hasil penelitian tentang pemberian ASI eksklusif maka diketahui bahwa

terdapat 40 orang ibu (89%) yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya dan

hanya 5 orang ibu (11%) yang sudah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Analisis Bivariat

Analisis korelasi bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat

pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif. Analisis bivariat

dilakukan dengan menggunakan rumus chi-square.

Tabel 5.6. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

Bayi Usia 0-6 Bulan di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo 2014

Tingkat

Pengetahuan

Pemberian ASI eksklusif

Total

X2 ρ

Ya Tidak

F % F % F %

Baik 5 35,7 9 64,3 14 100

12,455 0,002

Cukup 0 0 13 100 13 100

Kurang 0 0 18 100 18 100

(8)

Dari tabel di atas diketahui bahwa dari 14 orang (100%) yang tingkat

pengetahuannya baik, terdapat 5 orang ibu (35,7%) yang memberikan ASI eksklusif

pada bayinya. Responden yang mempunyai pengetahuan cukup, tidak memberikan ASI

eksklusif sebanyak 13 orang (100%). Sedangkan responden yang mempunyai

pengetahuan kurang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 18 orang (100%).

Uji chi square yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang ASI

eksklusif pada sampel dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Sabbamparu Kec.

Wara Utara, didapat chi square χ2 hitung = 12,455 > χ2 tabel = 5,991 dengan df = 2 dan

Asymp. Sig 0,002 < taraf signifikansi 0,05. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Ha

diterima, yang mempunyai arti bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat

pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan

Sabbamparu Kec. Wara Utara.

Pembahasan

1. Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 ibu menyusui, sebagian

besar ibu memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu (40%).

Terdapat 13 orang ibu (28,9%) yang memiliki tingkat pengetahuan cukup. Dan yang tingkat

pengetahuannya baik sebanyak 14 orang ibu (31,1%).

Pendidikan diperkirakan ada kaitannya dengan pengetahuan seseorang, hal ini

dihubungkan dengan tingkat pengetahuan seseorang bahwa seseorang yang berpendidikan

lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan tingkat

pendidikan yang rendah. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi,

umumnya terbuka menerima perubahan atau hal-hal baru guna pemeliharaan

kesehatannya. Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu dapat dipengaruhi oleh

pengetahuan dan informasi yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif. Menurut

Notoatmodjo (2003) ibu yang memiliki pengetahuan kurang cenderung memiliki perilaku

yang kurang baik dalam perilakunya. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Purwanti

(2004) bahwa para ibu beranggapan makanan pengganti ASI (susu formula) dapat

membantu ibu dan bayinya, sehingga ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada

(9)

Menurut saya, hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu juga dipengaruhi

oleh pendidikan, pengalaman dan informasi dari berbagai pihak seperti bidan, kader, dan

petugas kesehatan lainnya yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif. Pengetahuan atau

kognitif merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, salah

satunya kurang memadainya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif yang

menjadikan penyebab atau masalah dalam peningkatan pemberian ASI eksklusif.

2. Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil penelitian di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Palopo tentang

pemberian ASI eksklusif maka diketahui bahwa terdapat 40 orang ibu (89%) yang tidak

memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya dan hanya 5 orang ibu (11%) yang sudah

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Angka tersebut masih sangat rendah dari yang

diharapkan dimana Menteri Kesehatan RI mengharapkan pemberian ASI eksklusif pada

bayi 0-6 bulan mencapai 80% pada tahun 2013.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan ataupun

minuman lain (air, madu, susu formula, bubur, dan lain-lain) selama 6 bulan. Pemberian ASI

secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu sampai 6 bulan, jika usia bayi sudah lebih

dari 6 bulan, maka harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. ASI dapat diberikan

sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun. ASI mempunyai komposisi dan

manfaat yang sangat baik untuk bayi maupun ibu. ASI mengandung zat gizi yang sangat

lengkap, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan,

hormone, enzim, dan zat kekebalan. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan

seimbang satu dengan lainnya. ASI merupakan nutrisi yang paling lengkap untuk

pertumbuhan bayi, sehingga tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.

Menurut saya, rendahnya pemberian ASI selain dipengaruhi oleh tingkat

pengetahuan ibu juga dipengaruhi beberapa faktor seperti kurangnya dukungan dari suami

dan keluarga (sosial ekonomi ibu), kultur atau kepercayaan, pengalaman, kesibukan dalam

bekerja, takut kehilangan daya tarik sebagai wanita (payudara kendor), memberikan

makanan pendamping ASI terlalu dini, gaya hidup dan semakin menjamurnya iklan

produsen susu formula yang menjanjikan berbagai keunggulan yang menyamai air susu ibu.

Sehingga di Kelurahan Sabbamparu pemberian ASI eksklusif masih sangat rendah.

(10)

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui dari 14 orang (100%) yang tingkat

pengetahuannya baik, terdapat 5 orang ibu (35,7%) yang memberikan ASI eksklusif pada

bayinya. Responden yang mempunyai pengetahuan cukup, tidak memberikan ASI eksklusif

sebanyak 13 orang (100%). Sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang

tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 18 orang (100%).

Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Sabbamparu Palopo, ada hubungan yang

signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI

eksklusif, jadi dalam hal ini hipotesis kerja diterima, yang berarti bahwa semakin baik tingkat

pengetahuan ibu maka semakin baik kesadaran ibu untuk memberikan ASI eksklusif.

Sebagian besar ibu-ibu di Kelurahan Sabbamparu Palopo masih berpengetahuan kurang

(40%). Hal ini terutama tercermin dari pengetahuan ibu terhadap pengertian ASI eksklusif,

komposisi ASI, tahapan ASI, perbedaan pemberian ASI eksklusif dan susu formula, serta

manfaat ASI eksklusif.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003), ibu yang memiliki

pengetahuan kurang cenderung memiliki perilaku yang kurang baik dalam perilakunya.

Semakin tinggi pengetahuan ibu maka semakin besar kemungkinannya untuk memberikan

ASI eksklusif. Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan ibu juga dipengaruhi oleh

pendidikan, pengalaman dan informasi yang didapat oleh ibu tentang ASI eksklusif.

Pengetahuan atau kognitif merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang, salah satunya kurang memadainya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI

eksklusif yang menjadikan penyebab atau masalah dalam peningkatan pemberian ASI

eksklusif.

Asumsi saya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam

memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang manfaat ASI eksklusif,

maka seorang ibu akan memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Begitu juga sebaliknya,

semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif, maka semakin sedikit pula

(11)

PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: pertama, tingkat pengetahuan ibu di Kelurahan

Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan

kurang yaitu sebanyak 18 orang ibu, 13 orang ibu memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan

yang tingkat pengetahuannya baik sebanyak 14 orang ibu. Kedua, pemberian ASI esklusif oleh

ibu menyusui di Kelurahan Sabbamparu Kec. Wara Utara Kota Palopo hanya 5 orang ibu yang

sudah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan terdapat 40 orang ibu yang tidak

memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Ketiga, ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu

Gambar

Tabel 5.6. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

Referensi

Dokumen terkait

• PJAA: Siapkan dana Rp350 miliar untuk pelunasan

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, besarnya masukan energi pada proses pengolahan di setiap tahapan proses mulai dari pelayuan pucuk teh, penggilingan dan

Menurut anda, apa aspek yang paling penting dari lembaga kursus bahasa Inggris.. Materi yang up

Dampak yang dapat terlihat jelas dengan perkembangan obyek wisata ini ialah, lebih mendorong masyarakat yang tinggal disekitar obyek wisata untuk lebih aktif dan

Salah satu acara unggulan pada stasiun televisi Trans 7 dan merupakan salah satu program acara terlama, jejak petualang hadir sebagai tayangan dokumenter untuk memberikan

However, the data for several variables that have a theoretical relationship to the demand and supply of railroad grain transportation service is not published quarterly,

Strategi DRTA (Directed Reading Thinking Activity) adalah strategi mengajar membaca yang memfokuskan keterlibatan siswa dengan teks, karena siswa memprediksi dan

Penulisan ilmiah ini membahas tentang cara pembuatan aplikasi katalog permahan kemang pratama dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh Macromedia flash 5.0 Aplikasi perumahan