I.Pendahuluan A.Latar Belakang
Perkembangan didalam pengangkutan udara sekarang ini sudah sangatlah pesat,hal itu dapat dirasakan dari semakin mudahnya untuk pergi ke lain tempat,mengirim barang ke daerah yang jauh sekalipun dalam waktu yang relatif singkat.Kemudahan-kemudahan yang tersebut tentu tidak akan pernah terlepas dari masalah-masalah yang muncul dalam dunia penerbangan.Diantara sekian banyak masalah,ada satu hal yang paling penting untuk ditelaah lebih dalam adalah pertanggung jawaban yang diberikan oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini pengangkut dan pemerintah sendiri sebagai pemgang otoritas tertinggi atas wilayah udara,karena dalam sebuah masalah tentu ada pihak yang harus bertanggung jawab.
Berdasarkan hal-hal diatas maka akan dibahas mengenai hal-hal yang ada didalam pertanggung jawaban pengangkutan udara.
B.Rumusan Masalah
II.Tinjauan Pustaka
Hukum pengangkutan udara adalah salah satu bagian dari hukum pengangkutan secara umum,definisi hikum pengangkutan udara atau hukum penerbangan dapat ditafsirkan sebagai hukum yang mengatur pengangkutan melalui udara,termasuk dinas-dinas bantuan didarat,pegawai-pegawai,dan alat-alat penerbangan serta orang-orang dan barang-barang yang diangkut melaui udara.
Hukum udara sendiri meliputi norma-norma hukum publik internasional yang mengatur tentang objek udara,misalnya tentang wilayah udara dan kedaulatan udara.
Hukum udara terbagi terbagi menjadi dua,yaitu hukum udara sipil dan hukum udara militer.hukum udara militer tidak akan dibahas dalam makalah ini karena,ketentuan militer berbeda,dengan kata lain aturan penerbangan sipil yang akan dibahas tidak berlaku untuk penerbangan militer.
Tanggung jawab pengangkut yang diatur dalam UURI No.1 Tahun 2009 mengacu pada konvensi internasional,hukum nasional,buku-buku para ahli dibidang hukum udara nasional,internasional maupun praktik hukum dibidang penerbangan,karena itu untuk mengetahui dengan baik tanggung jawab pengangkut yang diatur dalam UURI No.1 Tahun 2009 perlu mempelajari konvensi internasional maupun hukum nasional tersebut,namun sesuai judul awal maka akan dilihat pertanggung jawaban dari sudut hukum nasional Indonesia sendiri.
Sumber – sumber hukum udara di Indonesia,Indonesia sendiri berpedoman pada Undang-undang,Peraturan-peraturan,Perjanjian Internasional dan Persetujuan pengangkutan udara.
Dalam bab I diuraikan kebijakan baru angkutan udara nasional berdasarkan UURI No 1 tahun 2009 sejak orde lama,orde baru sampai era reformasi,yang meliputi modal angkutan udara niaga,kepimilikan pesawat,jaminan bank,sumber daya manusia,tarif penumpang,tarif jasa kebandarudaraan,dan penegakan hukum.
Dalam bab II diuraikan kebijakan orde lama,orde baru,dan era reformasi,modal angkutan udara niaga;komposisi saham ;kepemilikan pesawat udara;jaminan
bank;SDM;kerjasama antar perusahaan penerbangan;tarif penumpang yang meliputi tarif kelas ekonomi,tarif batas atas,tarif batas bawah,tarif non-ekonomi,mekanis penetapan besaran tarif pelayanan kebandarudaraan,mekanisme penetapan tarif penumpang kelas ekonomi,dan tarif lainnya.Sedangkan dalam Bab III diuraikan larangan pesawat udara asing terbang dalam negeri,angkutan udara niaga berjadwal,jejaring rute penerbangan,wajib angkut penumpang cacat,lanjut usia,anak-anak dan atau orang sakit,angkutan barang khusus,bahan dan atau barang berbahaya,tarif jasa pendaratan,penempatan dan penyimpanan pesawat udara penerbangan dalam negri,angkutan udara niaga tidak berjadwal,angkututan udara bukan niaga,angkutan udara perintis.
Dalam bab IV diuraikan angkutan udara niaga berjadwal niaga berjadwal luar negeri;tarif jasa pelayanan penumpang pesawat udara penerbangan luar negeri,tarif jasa pelayanan penerbangan internasional;tarif jasa pendaratan,penempatan dan penyimpanan pesawat udara internasional;angkutan udara niaga internasional;angkutan udara tidak berjadwal luar negeri,perjanjian bermuda 1946;dan perjanjian angkutan udara
bilateral.Sedangkan dalam Bab V diuraikan kegiatan usaha penunjang angkutan udara;agen perjalanan umum;dan perwakilan perusahaan penerbangan asing;usaha pengujian peralatan penunjang pelayanan darat pesawat udara;ekspedisi muatan pesawat udara;usaha jasa pengurusan transportasi;pelaksanaan angkutan udara dan Bab VI diuraikan asuransi penerbangan dan dana kecelakaan pesawat.
Dawalm Bab VII diuraikan konsep tanggung jawab hukum yang terdiri dari tanggung jawab hukum berdasarkan kesalahan,kesalahan,tanggung jawab praduga bersalah,tanggung jawab hukum tanpa bersalah,ajaran hukum,tanggung jawab hukum dalam hukum
internasional dan tanggung jawab hukum nasional.Sedangkan dalam Bab VIII diuraikan kepemilikan pesawat udara,cape town convention of 2001 yang terdiri dari objek
pengadaan pesawat udara,pendaftaran pesawat udara,pendaftaran pesawat udara dan penghapusannya;kuasa memohon penghapusan dan ekspor.
III.Pembahasan
Sebelum memasuki pembahsan mengenai pembahasan tentang pertanggung jawaban dalam dunia pengangkutan udara,ada baiknya memahami terlebih dahulu mengenai arti dari tanggung jawab.Pengertian dari tanggung jawab sangatlah luas,namun demikian menurut Peter Salim dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok besar,masing-masing tanggung jawab dalam arti accountability,responsibility,dan liability.Demikian pula menurut Henry Campbell Black.
Tanggung jawab dalam arti accountability biasanya berkaitan dengan keuangan atau pembukuan,dapat pula diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan
pembayaran.Tanggung jawab dalam arti responsibility dapat diartikan sebagai “ikut memikul beban” akibat suatu perbuatan atau juga dapat diartikan kewajiban memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi.Sedangkan tanggung jawab dalam arti Liability didalam kamus besar Indonesia dapat pula berarti menanggung segala sesuatu yang terjadi akibat dari perbuatan yang dilakukan atau perbuatan orang lain yang bertindak untuk dan atau atas namanya.
Tanggung jawah hukum pengangkut berdasarkan hukum nasional diatur dalam Staatsblad 1939 nomor 100,KUHPerdata,UU no 83 tahun 1958,UU no 15 tahun 1992,Peraturan Pemerintah no 40 tahun 1995 dan UU no 1 tahun 2009.
a) KUHPerdata, menurut pasal 1367 tanggung jawab hukum kepada orang yang menderita kerugian tidak hanya terbatas perbuatan sendiri,melainkan juga perbuatan karyawan,pegawai,agen,perwakilannya yang bertindak untuk dan atas namanya apabila menimbulkan kerugian pada orang lainmsepanjang orang tersebut bertindak sesusai dengan tugas dan kewajiban yang diberikan padanya.Tanggung jawab pengangkut berdasarkan kesalahan juga terdapat dalam pasal 28 ayat (2) huruf a. Undang-undang No. 13 tahun 1992.
b) Ordonasi Pengangkutan Udara Stb.1939-100,terdiri dari 5 bab dan 40 pasal mengatur tentang tanggung jawab hukum perusahaan penerbangan dalam negeri.Stb.1939 nomor 100 tidak berlaku untuk transportasi tanpa
bayaran,transportasi perdana yang dimaksudkan untuk percobaan,penerbangan luar biasa yang menyimpang dari normal,transportasi pos melalui
Hal-hal yang penting didalam pengangkutan udara dalam hal pertanggung jawaban: 1) Dokumen transportasi,dokumen pengangkutan terdiri dari tiket
penumpang,tiket bagasi,surat muatan udara.
2) Tiket penumpang,hal yang wajib diberikan oleh perusahaan kepada penumpang yang memuat tempat dan tanggal pemberian,tempat
keberangkatan dan tujuan,pendaratan yang direncanakan,tempat-tempat pendaratan antara dengan hak perusahaan penerbangan untuk mengubah tempat pendaratan asal tidak mengubah tempat pendaratan asal tidak menpengaruhi tujuan pengangkutan,nama dan alamat
pengangkut,pemberitahuan bahwa pengangkuta tersebut berlaku ketentuan ordonasi pengangkutan udara Stb.1939-100.
3) Tiket bagasi 4) Airway bill
Hak dan Kewajiban Pihak Pengangkut Khususnya Pengangkut Udara Serta Hak dan Kewajiban Pihak Pemakai Jasa
1. Hak dan Kewajiban Pihak Pengangkut Khususnya Pengangkut Udara
Timbulnya kewajiban antara kedua belah pihak dalam hal ini pemakai jasa angkutan dan pengusaha angkutan udara adalah, didahului dengan adanya perjanjian yang dilakukan dan disetujui sebelumnya, walaupun perjanjian yang disepakati bersama im bersifat standar dalam arti berasal dari pihak pengusaha angkutan yang sudah dirumuskan sedemikian rupa sehingga para pemakai jasa tinggal menyetujuinya baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Mengenai hak, dan kewajiban pihak pengangkut ketentuannya sudah diatur di dalam Ordonansi Pengangkutan Udara (OPU), selain itu terdapat pula dalam ketentuan khusus lainnya den tidak menyimpang dari ketentuan undang-undang.
Hak pengangkut yang terdapat pula dalam Ordonansi Pengangkutan Udara antara lain adalah sebagai berikut:
1. Di dalam pasal 7 ayat (1), disebutkan bahwa pengangkut berhak untuk meminta kepada pengirim barang atau untuk membuat surat muatan udara.
3. Pengangkut juga berhak menolak pengangkutan penumpang jika ternyata identitas penumpang tidak jelas.
4. Hak pengangkut yang dicantumkan dalam tiket penumpang yaitu hak untuk
menyelenggarakan angkutan kepada perusahaan pengangkutan lain, serta pengubah tempat-tempat pemberhentian yang telah disetujui, semuanya tetap ada ditangan pengangkut udara.
5. Hak untuk pembayaran kepada penumpang atau pengirim barang atas barang yang telah diangkutnya serta mengadakan peraturan yang perlu untuk pengangkutan dalam batas-batas yang dicantumkan Undang-undang.
Kewajiban pengangkutan udara dalam Ordonansi Pengangkutan Udara adalah sebagai berikut :
1. Pengangkut harus menandatangani surat muatan udara segera setelah muatan barang-barang diterimanya ( Pasal 8 ayat 2 ).
2. Bila pengangkut tidak mungkin melaksanakan perintah-perintah dari pengirim, pengangkut harus segera memberitahukan Kepada pengirim ( Pasal 15 ayat 3 ) Sedangkan kewajiban-kewajiban pengangkut pada umumnya antara lain adalah : 1. Mengangkut penumpang atau barang-barang ketempat tujuan yang telah ditentukan. 2. Menjaga keselamatan, keamanan penumpang, bagasi barang dengan sebaik-baiknya. 3. Memberi tiket untuk pengangkutan penumpang dan tiket bagasi.
4. Menjamin pengangkutan tepat pada, waktunya.
5. Mentaati ketentuan-ketentuan penerbangan yang berlaku
Hak dan Kewajiban Pihak Pemakai Jasa Adapun hak dari pemakai jasa angkutan penumpang udara pada umumnya adalah :
2. Penumpang atau ahli waris dapat menuntut ganti rugi apabila is mendapat kerugian yang diakibatkan kecelakaan pesawat terbang dalam penerbangan, dan kelalaian pengangkutan.
Sedangkan kewajiban pemakai jasa angkutan penumpang pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. Penumpang wajib membayar biaya angkutan udara atau tiket.
2. Penumpang wajib memberitahu kepada pengangkut mengenai barang-barang yang dibawainya.
3. Penumpang berkewajiban mentaati peraturan-peraturan pengangkutan udara serta syarat-syarat perjanjian pengangkutan
Contoh kasus
:Kasus terjadi ketika saya menaiki pesawat sriwijaya air,dimana saya mempunyai barang di dalam bagasi pesawat berupa 1 buah koper.Ketika sampai ditujuan saya mendapati bahwa koper saya telah rusak dan kehilangan sepasang sepatu yang ada di dalam koper,saya lalu melakukan komplain ke pihak sriwijaya air,namun pihak sriwijaya air tidak mau
memberikan ganti rugi terkait hilangnya sepatu saya,mereka beralasan tidak bisa memberikan ganti kerugian karena tidak mengetahui isi dari bagasi saya,karena memang tidak diinfokan isi dari koper.padahal saya meiliki tanda bagasi yang berarti menjalankan kewajiban atau bukti bahwa telah melakukan memasukan bagasi sesuai aturan yang ada,dapat dilihat dibawah ini :
Menurut Pasal 150 UU No. 1/09 Dokumen pengangkutan dalam pengangkutan udara terdiri dari : (Pasal 150 UU No. 1/09)
a. tiket penumpang pesawat udara;
b. pas masuk pesawat udara (boarding pass);
c. tanda pengenal bagasi (baggage identification/claim tag); dan d. surat muatan udara (airway bill).
udara tentang kewajiban pengangkut,namun dari pihak sriwijawa air sendiri menggunakan (mungkin) pendapat yang berdasar dari ordonasi angkutan udara bahwa tidak bisa dilakukan ganti rugi karena tidak diketahui sebenarnya apa isi dari bagasi tersebut.setelah dilihat dari dua sudut pandang tersebut,didapatkan memang tidak ada yang bisa disalahkan atau dibenarkan satu sama lain,karena itu akan kembali lagi pada realita dunia penerbangan Indonesia yang dalam memasukan bagasi memang tidak dilakukan pendataan terhadap isi dari bagasi,sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk meminta ganti rugi kehilangan barang di bagasi pesawat.terkecuali,yang hilang adalah benda seperti koper yang biasanya dilabeli stiker/tanda diluarnya,namun tidak termasuk pada barang-barang yang ada di dalam koper tersebut.
Dari hal-hal telah diketahui diatas,sangat jelas bahwa setiap pihak memiliki hak dan kewajibannya masing-masing yang semuanya haruslah dijaga.Semua hal tersebut kini telah diatur dalam aturan hukum yang mengikat kepada semua pihak,maka dari itu semua pihak haruslah bertindak sesuai dengan aturan yang telah ada agar tidak ada yang merasa,baik itu pengguna pengangkutan udara maupun pihak pengangkut.
Selain itu setelah melihat contoh kasus diatas,sangat dirasakan bahwa undang-undang mengenai pengangkutan udara Indonesia belumlah dapat memberikan keadilan yang
jelas,masih banyak yang harus dibenahi khususnya dalam hal pertanggung jawaban,ini sudah sangat mendesak karena tidak bisa dipungkiri dunia penerbangan Indonesia tengah
berkembang pesat,jadi mau tidak mau kita akan menghadapi banyak masalah-masalah baru yang belum ada aturannya atau yang sudah diatur tapi belum dirasa bisa mencakup masalah tersebut.
Suherman.E .Tanggung Djawab Pengangkut dalam Hukum Udara Indonesia.1962.Bandung. Prof.Dr.H.K. Martono,S.H.,LLM dan Ahmad Sudiro,S.H.,M.H.,M.M : Hukum Angkutan Udara berdasarkan UU RI No.1 Tahun 2009.Rajawali Press.2010.Jakarta.
https://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-pengangkutan/pengangkutan-udara-dengan-asuransi/
http://nobyta-hukumudaraindonesia.blogspot.com/
Mengenai Tanggung Jawab Pengangkutan Udara di Indonesia
Dosen : Retno Wulansari
Disusun Oleh :