MENELIK STRATEGI PENGEMBANGAN ALUTSISTA MATRA LAUT DI INDONESIA
Studi Pada Pengadaan Helikopter Anti Kapal Selam (AKS) AS 565 Panther
Oleh Taufik Nurhidayatulloh
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 170410120022 – Indonesia
Email : [email protected]
Abstract
There are six prominent characters in expanding navy strength founded on geographic position, natural resources, climate region, extensive of area, society and government characteristic. These are divided into several strategies including Blue Water Navy, Green Water Navy and Brown Water Navy. In Supporting Indonesian policy on building maritime axis, Green Water Strategy confronts a variety of submarine threats and is poorly supported by military instrumental weapon system. Whereas Indonesia is recognized as maritime choke points and central of trading. Therefore the procurement of A S565 Panther Anti-Submarine Warfare to reactivate squadron 100 to watch over littoral area becomes essential. This study is conducted by qualitative method with case study approach and literature analysis. This paper aims to examine the strategy development of maritime security by procurement of A S565 Panther and provides six conditions in developing effective strategy of the procurement process.
Keywords : Instrumental Weapon System, Maritime Security, A S565 Panther
Abstrak
kemanan maritim melalui pengadaan Helikopter Panther AS565 serta memberikan enam kondisi dalam membangun efektifitas strategi dalam proses pengadaan helikopter ini.
Keywords : Alutsista, Keamanan Maritim, Helikopter Panther A S565
PENDAHULUAN
Memiliki wilayah geografis yang besar membuat Indonesia memiliki keuntungan signifikan terhadap pengelolaan sumber daya yang ada. Postur geografis yang dikelilingi dan dipisahkan oleh laut memberikan keuntungan kompetitif tersendiri bagi Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa peran laut secara signifikan memengaruhi berbagai aspek kehiduan dari sosial-budaya hingga kondisi ekonomi suatu negara. Fungsi laut secara umum dapat digambarkan kedalam enam kategori1 meliputi sumber makanan bagi
umat manusia, jalan raya perdagangan, sarana untuk penaklukan, tempat pertempuran-pertempuran, tempat bersenang-senang, dan alat pemisah atau pemersatu bangsa. Fungsi-fungsi tersebut telah secara universal dirasakan umat manusia. Seiring dengan berkembangnya fungsi laut dan penggunaan teknologi, maka dorongan terhadap penguasaan laut secara eksklusif oleh sekelompok orang semakin menyeruak. Jika
1 Didik Mohamad Sodik. Hukum Laut Internasional dan Pengaturannya di Indonesia (Bandung: Refika Aditama, 2011) hlm. 1
ditelusuri, perdebatan penguasaan laut dimulai sejak Imperium Roma yang ketika itu menguasai seluruh Lautan Tengah yang mengakibarkan suatu kondisi lautan yang bebas dari gangguan bajak laut sehingga semua orang dapat mempergunakan Lautan Tengah dengan aman. Konsepsi ini dinamakan
“res communis omnium”2dimana penggunaan
laut terbuka bagi setiap orang untuk melayari laut terbebas dari gangguan dan ancaman pengganggu dalam memanfaatkan dan menggunakan laut. Namun kondisi ini terbatas pada penggunaan yang tidak bertentangan dengan penguasaan laut secara mutlak oleh Imperium Roma. Dan disisi lain, dalam melaksanakan kekuasaannya banyak tanda yang menunjukan bahwa orang Romawi memandang laut dapat dimiliki, pemikiran ini tertuang pada hukum perdata Romawi. Konsep ini merupakan “res nullius” yang memberikan pandangan bahwa laut dapat dimiliki apabila berhastrat memilikinya bisa menguasai melalui pendudukan, suatu paham
yang didasarkan atas konsepsi “occupatio”3
(Meskipun upaya ini tidak memberikan penyelesaian yang langgeng pada sebuah persengkeataan. Setelah perjalanan panjang mengenai hukum penguasaan laut yang didasarkan pada hak penguasaan sumberdaya, pada 1982 berhasil dirumuskan Hukum Laut PBB atau Konvensi Hukum Laut 1982. Ketentuan yang merupakan perkembangan progresif dalam konvensi ini meliputi pelayaran internasional, negara kepulauan, zona ekonomi ekslusif, pengelolaan dan konservasi sumberdaya hayati di laut lepas, pulau, laut tertutup atau separuh tertutup, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut termasuk pencegahan pencemaran laut.
Pada perkembangannya, Negara-negara dikawasan Asia Tenggara sangat bergantung pada jalur maritim dalam membangun pengembangan pereknomian pada konteks perdagangan. Kawasan ini dikelilingi oleh Selat Lombok, Laut Sulawesi, Laut Sulu, dan Laut Cina Selatan. Wilayah yang melintang dari Selat Malaka hingga ke Laut Cina Selatan merupakan jalur tersibuk juga mencakup satu pertiga perdagangan global4. Maka proteksi
batas-batas laut pada wilayah negara terus berkembang hingga hari ini. Pengadaan 3 Ibid. hlm.4
4 Lihat Makmur Keliat, Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakan Bagi Indonesia, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol 13, No. 1, Juli 2009
alutsista berteknologi canggih terus dikembangkan. Tidak hanya dilakukan oleh negara-negara maju yang menempatkan anggaran keamanannya diatas 2% GDP namun juga oleh hamper seluruh kawasan guna melindungi kedaulatan negaranya. Pun demikian Indonesia yang memiliki matra laut tersendiri guna menangkal ancaman yang mengancam kedaulatan NKRI. Kebijakan penguatan kawasan laut juga diperkuat dengan arah kebijakan Presiden Jokowi yang memproyeksikan Indonesia sebagai poros maritime dunia. Namun ancaman dikawasan laut bukanlah hal yang baru. Masuknya kapal laut disekitar kawasan natuna pada tahun 2015 yang terlihat oleh kapal nelayan tanpa terdeteksi menjadi salah satu ancaman yang terus menggerogoti sumber daya alam Indonesia. Lebih lanjut sengkarut laut cina selatan yang berlangsung antara Tiongkok, Taiwan dan beberapa negara ASEAN menjadi ancaman yang nyata. Maka upaya menghidupkan kembali skuadron 100 yang pernah Berjaya pada 1960an akan dilakukan dengan pemesanan sebelas helikopter anti kapal selam Panther AS 565 buatan Airbus Helicopter yang bekerjasama dengan PT DI dalam proses instalasi.
Dari penjabaran mengenai potensi serta ancaman yang berlangsung terkait kedaulatan Indonesia khususnya pada kawasan laut, terdapat rumusan masalah sebagai berikut
“bagaimna strategi pengembangan kemanan matra laut pada pengadaan helikopter antikapal selam (AKS) usaha menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia?”
Maksud dan Tujuan
Maksud dari studi ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis pengembangan alutsista yang dilakukan oleh matra laut guna mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sasaran yang ditetapkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah :
- Menggambarkan perkembangan tantangan dan ancaman terkait kedaulatan Indonesia pada kawasan laut
- Menggambarkan usaha matra laut dalam pengadaan alutsista helikopter antikapal selam (AKS) sebagai upaya menjaga kedaulatan
- Menganalisis strategi pengembangan alutsista melalui pengadaan helikopter antikapal selam (AKS) Panther AS565
Tinjauan Teori
Jika melihat penjabaran mengenai strategi pada Merriam Webster’s Collegiate
Dictionary, strategi secara umum dipandang sebagai berikut:
“the science and art of employing the political, economic, psychological, and military forces of a nation or group of nations to afford the maximum support to adopted policies in peace or war ; the art of devising or employing plans or strategems toward a goal”5
Dijelaskan bahwa strategi merupakan sebuah ilmu dan seni dalam penggunaan berbagai instrument dalam mewujudkan sesuatu yang telah direncakan. Melihat perkembangannya strategi tidak hanya secara tradisional berkaitan dengan aktivitas militer, namun juga telah didefinisikan secara luas kedalam Five Ps
termasuk as plan, ploy, pattern, position, dan perspective6. Strategi berkaitan
dengan bagaimana pemimpin mencoba untuk membangun arahan untuk organisasi
dan menempatkannya kedalam
seperangkat tindakan yang telah ditentukan sebelumnya.
Sedangkan strategy as ploy, melihat strategi mendorong kepada domain kompetisi langsung, dimana ancaman serta cara lainnya digunakan dalam mendapatkan keuntungan. Lebih lanjut
strategy as pattern memfokuskan kepada
5 Lihat Merriam Websters’s Collegiate Dictionary 10th Edition
tindakan dimana bergerak menuju titik pertemuan yang menekankan pada konsistensi dalam perilaku organizasi.
Strategy as position memperlihatkan lingkungan kompetisi dimana bagaiamana digunakan untuk membuat pertahanan dan
strategy as perspective melihat bagaimana kehendak menyebar melalui kelompok masyarakat dan menjadi norma dan kebiasaan. Maka Mintzberg melihat strategi bukan hanya berkaitan dengan musuh atau kompetitor ataupun market, melainkan mengenai beberapa isu fundamental yang berkaitan dengan organisasi sebagai instrumen untuk tindakan dan persepsi kolektif. Strategi pun bertalian dengan seperangkat cara dalam menjalankan sesuatu seperti yang diungkap Bernard Brodie7 :
“Strategy is a "how to do it" study, a guide to accomplishing something and doing it efficiently. As in many other branches of politics, the question that matters in strategy is: Will the idea work? More important, will it be likely to work under the special circumstances under which it will next be tested?”
Lebih lanjut, dalam menjalankan strategi yang efektif, Mintzberg8 mengungkapkan
adanya dimensi penting meliputi adanya tujuan yang akan dicapai (the most
7 Dikutip Colin S. Gray. Strategy and History (New York : Routledge,2006) hlm.2
8 Henry Mintzberg, Op.Cit. hal 7
important objective to be achieved), kebijakan yang mendasari dan membatasi suatu tindakan (the most significant policies guiding or limiting action), serta program yang dilakukan guna mendapatkan tujuan tersebut (the major programs that are to accomplish). Sedangkan luttwak9 menjabarkan strategi
sebagai penggunaan metode dan kecerdikan dalam mengajak ataupun memaksa. Disamping itu, Mintzberg10
mengungkapkan adanya beberapa kriteria yang mendukung terkait efektivitas strategi. Adapun hal yang perlu dipertimbangkan meliputi :
a. Clear, decisive objective : Semua upaya yang dilakukan haruslah dimingerti, pasti, dan dapat diperoleh sehingga dapat memastikan keberlanjutan serta kohesi dalam melangsungkan sebuah strategi. b. Maintaining the initiative: sikap reaktif
berkepanjangan menyebabkan keresahan, munurunkan daya juang, serta menyerah terhap permasalahan yang mengemuka.
c. Concentration: Kompetensi khusus akan menghasilkan kesuksesan yang
9 Edward Luttwak dikutip Eligar Sadeh dalam Space Stratefy in the 21st Century (New York : Routledge,2013) hlm.17
besar terhadap pencapaian yang direncanakan.
d. Flexibility: Hasil yang didapatkan dari konsentrasi dan konsesi dimana memungkinkan aktor dibalik sebuah strategi menggunakan kembali sumberdaya yang ada pada posisi tertentu di waktu yang berbeda
e. Coordinated and committed leadership
: Apakah strategi menyediakan pemimpin yang bertanggungjawan dan berkomitmen dalam mencapai setiap tujuan utama? Pemimpin haruslah dipilih dan digerakan oleh keberpihakannya dan nilai yang sesuai dengan kebutuhan perannya. Strategi yang berhasil memerlukan komitmen, bukan hanya penerimaan.
f. Surprise : Strategi haruslah memiliki kecepatan dan ketepatan terhadap permasalahan yang mungkin muncul secara mendadak tanpa direncanakan. g. Security : Disamping itu, keamanan
dalam penggunaan sumberdaya dan sumber penting lainnya memerlukan sistem yang mampu mencegah adanya masalah yang muncul tanpa diduga.
Metode Penelitian
Penulis memutuskan menggunakan metode kualitatif di dalam skripsi ini. Keputusan ini didasarkan pada tingkat permasalahan yang terikat oleh
pengalaman sosial, nilai, serta dinamika masyarakat. Seperti yang digambarkan
Denzin dan Lincoln11 mengenai penelitian
kualitatif:
“Qualitative reseach involves the studied use and collection of a variety empirical materials- case study; personal experience; intropection; life story; interview; artifacts;cultural text and productions; observational, historical, interactional, and visual text- that describe routine and problematic moments and meaning in individuals’ live .”
Adapun studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dimana menekankan pada pemahaman mendalam mengenai mengapa sebuah tindakan individu, organisasi, proses, program, atau institusi diambil, diimplementasikan serta berbagai dampak yang ditimbulkan12.
Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah berbagai literatur.
Analisis Strategi Pengembangan Alustsista Matra Laut Melalui Pengadaan Helikopter Antikapal Selam (AKS) Panther AS 565
Terdapat sedikitnya enam karakteristik yang mempengaruhi pengembangan kekuatan laut didasarkan yang 11 Norman K. Denzin, Yvonna S. Lincoln, The Sage Handbook of Qualitative Research Third Edition (California:Sage Publication,2005), 3-4
memengaruhi kondisi laut suatu bangsa seperti letak geografis, sumber daya alam dan iklim, luaswilayah, karakter
masyarakat dan kareakter
pemerintahannya. Adapun proyeksi angkatan laut terbagi kedalam tiga bagian yaitu Blue Water Navy dimana menjangkau samudra dan perairan antar benua (kapal induk yang terdiri dari kapan induk sebagai inti, kapal jelajah, kapal selam dan kapal pendukung. Green Water13 Navy yaitu wilayah litoral hingga
batas terluar laut dangkal, wilayah kepulauan, dan pulau-pulau terluar suatu negara, dimensi jangkauannya bisa dicapai ribuan mil. (kekuatannya berupa kapal cepat rudal dan torpedo yang mampu menjangkau jarak 2000 mil). Dan terakhir adalah Brown Water Navy yaitu wilayah perairan di sekitar pantai atau yang biasa dikenal sebagai wilayah litoral. (terdiri dari kapal-kapal patroli dengan persenjataan defensif seperti meriam untuk tugas mendasar seperti orperasi anati dan perlindungan kegiatan ekonomi perairan). Ini yang menjadi kebijakan utama pengembangan alutsista matra laut.
13 konsep ini diolah dari Sam J (1984) dalam Makmur Keliat, Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakan Bagi Indonesia, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol 13, No. 1, Juli 2009
Kondisi ini dirasa penting karena aktivitas perairan di laut yang cukup penting khususnya negara asia tenggara membuat keamanan laut di Indonesia menjadi faktor vital dalam keamanan mengingat wilayah perairan Indonesia digunakan sebagai jalur lintas laut internasional. Selain itu, Indonesia memiliki empat dari 9 choke points14 dimana sangat vital sebagai jalur
transportasi laut untuk perdagangan dan jalur minyak, mencakup Selat Malaka, Selat Sunda,Selat Lombok, dan Ombai Wetar. Karena itu, secara geopolitik kondisi nasional Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan alutsista strategis.
Namun postur kekuatan laut Indonesia saat ini menunjukan karakter senjata TNI AL masih belum proporsional. Dalam menjalankan kebijakan green water navy, alutsista yang dimiliki hanya didukung oleh sebelas jenis kapal patroli sebanyak 120 buah, dengan tujuh fregate, 23 kapal corvette, serta 130 kapal pendukung dengan fungsi komando, penyapu ranjau, transport, pendarat, riset, dan survei maritim15. Adapun perbandingan alutsista
yang mendukung kemanan maritime adalah sebagai berikut16 :
Melihat kondisi tersebut penguatan matra laut yang yang digaungkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bukanlah menjadi isapan jempol semata, hal tersebut dibuktikan dengan rencana pembelian sebelas helicopter anti kapal selam (AKS)
dimana diproyeksikan dapat
menghidupkan skuadron 100 dimana mampu mengejar kapal selam illegal yang merampas sumber daya alam Indonesia dan mempertahankan keamanan maritim. Diharapkan dengan adanya pembelian ini dapat mendukung kuatnya tipe Green Water Navy. Ini menjadi program yang mendukung tujuan yang berakar pada kebijakan utama matra laut.
Helikopter buatan prancis ini akan hadir pada 2017. Langkah penghidupan kembali skuadron 100 yang pernah disegani pada eranya 1960 dinilai tepat. Minimnya matra penjaga kadulatan laut Indonesia sudah
lama menjadi polemik. Diera presiden Jokowi yang menempatkan poros maritime sebagai prioritas telah mendorong penguatan matra ini kedalam revisi rencana strategis MEF (Minimum Essential Force). Helikopter Panther dilengkapi dengan teknologi sonar DS-100 Helicopter Long Range Active Sonar (HELRAS). Alat tersebut mampu mendeteksi benda yang ada di kedalaman 500 meter dari permukaan laut. Lebih lanjut resolusi Doppler dan denyut yang panjang, alat tersebut mampu mendeteksi kapal selam meski melaju dengan kecepatan sangat rendah.17
Helikopter yang dipesan dipesan dengan
green condition kepada PT Dirgantara Indonesia yang mana bertanggungjawab dalam merakit sistem yang ada sebelum diserahkan kepada angkatan laut. Dimana diproyeksikan diselesaikan selama tiga tahun. Helikopter nantinya mampu beroperasi baik di kapan perang atauun land bases. Helikopter anti kapal selam ini juga dapat digunakan secara efektif
di pertasan Indonesia.
Secara umum Eurocopter AS 565 Panther merupakan helikopter yang diperuntukan bagi kegiatan milter pengembangan Eurocopter AS365 Dauphin dua mesin. Helikopter ini bisa digunakan dalam penyerangan dalam penyerbuan, fire support, anti kapal selam, menangkal ancaman permukaan, search and rescue, dan evakuasi medis.Diawali pada tahun 1980 Aerospatiale, sebuah perusahaan kapal terbang prancis, memutuskan mengembangkan helikopter guna keperluan militer yang dinamakan AS365 Panther. Hingga generasinya sekarang, Panther mampu melakukan berbagai operasi SAR, vertical replenishment, surveillance, special forces operation, anti-submarine warfare hingga Anti-surface warfare18.
Helikopter ini dibekali sepasang mesin turbomecca arriel turboshaf yang memungkinkan kondisi terdesak yang dapat menghidupkan mesin kedua pada saat mesin pertama tidak dapat digunakan. Panther dapat mengangkut sampai sepuluh tentara pada sekali penerbangan dengan dua pilot yang menerbangkan helikopter. Persenjataan yang dilengkapi pada armada ini diantaranya amnusi 20mm meriam
18 Airbus Helicopters yang diakses pada minggu 20 Desember 2015 pada 23.15
jarak jauh, 68mm roket, delapan misil air-to-air. Senjata ini diintgrasikan dengan penglihatan Crouzet HDH-2A dan autopilot. Dalam meningkatkan kemanan. Sebenarnya dalam kompetisi industri helikopter salah satu pesaing besar adalah Harbin Z-9 buatan Cina.19
Phillippe Monteux, Airbus Helicopters Executive, menekankan bahwa Panther AS565 merupakan salahsatu helikopter terbaik dikelasnya. Ia berujar :
“The Panther now becomes one of the world’s most capable light/medium anti-submarine warfare platforms, with an advanced ASW suite and the capability to operate from corvettes or small frigates,”20
Kondisi ini juga diperlihatkan dengan keberhasilan helikopter ini pada perang teluk dan operasi Atlanta pada 200821.
Kesimpulan
Dari analisis diatas, pembelian helikopter Panther AS565 buatan prancis ini penulis simpulkan sudah tepat didasarkan pada tujuan yang berakar pada kebijakan utama matra laut. Menghidupkan skuadran 100 guna menjaga keamanan marittim serta memperkuat proyeksi tipe green navy
yang menekankan keamanan litoral
19 Flightglobal. Opcit.
20 Flightglobal. Opcit
menjadi decisive objective dalam strategi ini. Namun dalam membuat strategi penguatan dan pengembangan kemanan maritime lebih efektif dibutuhkan enam kondisi penting yang harus diperhatikan seperti pertama membangun sinergitas dengan parlemen dalam setiap keputusan yang diambil dimana kebijakan sangatlah erat dengan aktivitas politik, jangan sampai kemudian strategi ini dipolitisasi sehingga mengakibatkan tertundanya strategi ini. Kedua dibutuhkan adanya konsistensi anggaran terkait penguatan alutsista matra laut yang dapat mendukung proses pengadaan yang berkelanjutan. Ketiga, dibutuhkan adanya usaha dalam membangun kompetensi sumber daya manusia yang harus dapat mengikuti teknologi yang dipergunakan. Kelima, komitmen pemimpin matra laut sesuai dengan kebutuhan perannya, jangan sampai situasi ini menjadi manipulasi kepentingan politik ataupun golongan. Keenam, sudah semestinya peningkatan alutsista menjadi prioritas dalam menangkal ancaman dimasa datang melihat postur alutsista Indonesia yang masih mengkhawatirkan dilapangan.
Daftar Pustaka
Didik Mohamad Sodik. Hukum Laut
Internasional dan Pengaturannya di
Indonesia (Bandung: Refika Aditama, 2011) hlm. 1
Mochtar Kusumaatmadja. Hukum Laut Internasional (Bandung: Bina Cipta, 1983) hlm.3
Makmur Keliat, Keamanan Maritim dan Implikasi Kebijakan Bagi Indonesia, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol 13, No. 1, Juli 2009
Merriam Websters’s Collegiate Dictionary 10th Edition
Henry Mintzberg, The Strategy Process Concepts Contexts Cases (New Jearsey:Pearson Education,2003) hal 3-5
Colin S. Gray. Strategy and History (New York : Routledge,2006) hlm.2
Eligar Sadeh dalam Space Stratefy in the 21st Century (New York : Routledge,2013) hlm.17
Norman K. Denzin, Yvonna S. Lincoln, The Sage Handbook of Qualitative Research Third Edition (California:Sage Publication,2005), 3-4
Robert K. Yin, Case Study Research Design and Methods(California:Sage Publication, 2009),17