Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
PENDAMPINGAN PEMBUATAN ANEKA OLAHAN RUMPUT LAUT SEBAGAI UPAYA PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT KEPULAUAN SAPEKEN
SUMENEP
Nurwidodo1, Abdulkadir Rahardjanto2, Husamah3, Mas’odi4
1
Alamat Korespondensi: Jl. Raya Tlogomas 246 Malang, Telp/Fax. 0341-464318 E-mail: 1)[email protected], 2)[email protected], 3)[email protected],
4)mas’[email protected],
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan pendampingan pembuatan aneka olahan rumput laut sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep, sebagai wujud implementasi program pengabdian IbW-CSR Petani Rumput Laut Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep Tahun II (2017). Metode pelaksanaan kegiatan IbW-CSR ini mengacu kepada analisis situasi program-program yang disepakati bersama dengan mitra berupa diskusi, sosialiasi, workshop, dan praktik langsung. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan apa yang diharapkan pada bagian pendahuluan dan uraian hasil dan pembahasan maka dapat dismpulkan bahwa wujud implementasi kegiatan IbW-CSR tahun II berupa pendampingan pembuatan aneka olahan rumput laut sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat, yaitu 1) sosialisasi kegiatan IbW-CSR ke Muspika Sapeken, Pemda Sumenep, dan tokoh-tokoh masyarakat;2 ) koordinasi dengan mitra; 3) persiapan dan pelaksanaan pelatihan pembuatan olahan rumput laut; 4) komunikasi penggalian informasi dan pengurusan izin nomor P-IRT ; 5) kunjungan ke lokasi budidaya di pulau Sadulang, analisis situasi dan potensi serta kompetensi masyarakat untuk mengolah rumput laut; 6) pendampingan masyarakat mitra melalui pengadaan alat pembuatan tepung dan sarana produksi ; 7) pendampingan teknik pengemasan olahan rumput laut, pengadaan alat/bahan produksi, dan pameran produk ; dan 8) penjajakan awal kerjasama dengan koperasi dan pengenalan produk ke pasar/konsumen. Kegiatan telah dilaksanakan dengan sukses dan sesuai rencana.
Kata kunci: aneka olahan, potensi daerah, rumput laut, Sapeken sejahtera.
1. PENDAHULUAN
Kecamatan (Kepulauan) Sapeken merupakan kecamatan terjauh dan paling timur (terluar) dari Kabupaten Sumenep [1, 2, 3]. Akses menuju Kepulauan Sapeken cukup sulit akibat faktor geografis dan sarana penunjang transportasi belum memadai [4], sehingga menyebabkan kecamatan ini semakin terisolir, mengalami kesenjangan, dan jauh tertinggal dari kecamatan lainnya, khususnya dari Sumenep daratan. Sebenarnya Kepulauan Sapeken memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) berbasis bahari/kelautan yang cukup besar dan sangat potensial untuk dikembangkan [5,6], salah satunya adalah budidaya rumput laut [7].
2 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
Menyikapi kondisi tersebut, maka perlu upaya pendampingan masyarakat untuk mengatasi masalahh yang mereka hadapi. Aktualisasi peran perguruan tinggi terutama pada aspek tridharma bidang pengabdian kepada masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembangunan dan mempengaruhi perubahan-perubahan dalam masyarakat. Peran dan fungsi perguruan tinggi juga dapat diwujudkan melalui upaya membangun proses pembelajaran dalam masyarakat secara luas untuk mendorong terciptanya transformasi sosial [9], termasuk dalam bidang kelautan [10].
Sehubungan dengan itu, dilaksanakan program pengabdian IbW-CSR Petani Rumput Laut Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep. Pada tahun I (2016) Tim IbW-CSR telah melakukan berbagai kegiatan, yaitu (a) pemetaan/kajian potensi budidaya dan aspek SDM masyarakat, (b) penyediaan sarana dan prasarana budidaya, penyediaan bibit, dan pelaksanaan budidaya rumput laut, (c) sosialisasi program dengan pejabat terkait (desa dan dusun) dan pembentukan kelompok masyarakat (POKMAS) bernama Sapeken Sejahtera, (d) sosialisasi dan pelatihan terkait dengan budidaya rumput laut, (e) sosialisasi dan pencanangan gerakan sadar gizi pelajar kepulauan berbasis sumberdaya laut dan hasil olahannya khususnya rumput laut, (f) observasi ke daerah budidaya, (g) pendampingan penguatan semangat berbudidaya, dan (h) uji kandungan rumput laut kepulauan [11].
Rekomendasi tahun I adalah perlunya pendampingan masyarakat dalam hal pembuatan berbagai olahan rumput laut, penggunaan teknologi, dan pengemasan bahkan bila perlu pengurusan izin ke pihak terkait yaitu izin Pangan Industri Rumah Tangga/P-IRT [11]. Hal ini juga sejalan dengan kajian Nurwidodo et al [8] serta Astutik & Santoso [12] bahwa secara umum petani rumput laut di Kepulauan Sapeken memiliki pengetahuan yang rendah sehingga menyebabkan kurangnya kreasi dan inovasi dalam mengelola hasil panen/pasca panen yang sesuai dengan permintaan pasar. Menurut Nurwidodo et al [13] pula bahwa khusus untuk Kepulauan Sapeken, terkait dengan rumput laut memang terjadi perubahan budaya kerja, sehingga hal ini memerlukan pendampingan khusus. Sehubungan dengan hal tersebut, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan pendampingan pembuatan aneka olahan rumput laut sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep, sebagai wujud implementasi program pengabdian IbW-CSR Petani Rumput Laut Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep Tahun II (2017).
2. METODE
Metode pelaksanaan kegiatan IbW-CSR ini mengacu kepada analisis situasi program-program yang disepakati bersama dengan mitra yaitu Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd dan
Kelompok Masyarakat (POKMAS) “Sapeken Sejahtera”, sebagaimana diuraikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Metode Pelaksanaan IbW-CSR Kecamatan Sapeken Sumenep Tahun II (2017) Tahun Program/Kegiatan Selama tahun II dan uraian langkah
solusi atas persoalan yang disepakati Metode Pelaksanaan
II
2. Memfasilitasi petani mitra untuk menjadi anggota koperasi
nelayan yang telah ada
Diskusi, sosialisasi,
workshop, praktek langsung
3. Pengenalan dan implementasi berbagai usaha diversifikasi
pembuatan aneka olahan rumput laut
Diskusi, sosialisasi,
workshop, praktek langsung
4. Penyediaan dan pendampingan penggunaan teknologi
tepat guna dalam penanganan/pengolahan rumput laut pasca panen (pembuatan tempung dan pembuatan adonan)
Pengadaan alat, pelatihan dan pendampingan
5. Pengembangan program dengan memfasilitasi pengurusan
P-IRT dan uji pemasaran
Praktek langsung
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
olahan rumput laut, dan alat untuk pengemasan olahan rumput laut. Secara khusus tim juga membuatkan 1 paket alat untuk penepung dan pengolah rumput laut yang terdiri dari 8 unit. Alat-alat lain yang digunakan dalam pengabdian adalah Alat-alat ujicoba resep, buku resep, sarana transportasi kunjung lapang, media presentasi, sampel makanan olahan rumput laut, notebook untuk mencatat kegiatan dan kamera untuk dokumentasi.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi atau kunjung langsung ke lokasi pengabdian, melakukan diskusi dan sosialisasi serta workshop yang didokumentasikan melalui catatan-catatan, pengarsipan sampel produk-produk yang digunakan dan dihasilkan, serta melalui dokumentasi kamera. Data-data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun kegiatan yang telah dilakukan dalam pengabdian IbW-CSR Petani Rumput Laut Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep, khususnya yang berkaitan dengan tema publikasi ini adalah sebagai berikut.
3.1 Sosialisasi Kegiatan IbW-CSR ke Muspika Sapeken, Pemda Sumenep, dan Tokoh-tokoh Masyarakat
Sosialisasi Kegiatan IbW-CSR dilaksanakan atas undangan dari PT Kangean Energy Indonesia (KEI ltd). Tim IbW-CSR yang diwakili oleh Bapak Husamah, M.Pd., melaksanakan sosialisasi dan presentasi kegiatan sesuai dengan rancangan dalam proposal. Tim diberikan waktu (sebagai pembicara secara panel) pada acara Sosialisasi Industri Hulu Migas kepada para stakeholder yang diselenggarakn di Trawas Mojokerto oleh SKK Migas-KEI ltd. Adapun dokumentasi kegiatan tersebut disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Sosialisasi Kegiatan IbW-CSR ke Muspika Sapeken, Pemda Sumenep, dan Tokoh-tokoh Masyarakat (Keterangan: (a) perwakilan tim-duduk di tengah- sebelum menjadi pemateri, bersama perwakilan KEI dan camat Sapeken; (b) perwakilan tim-nomor dua dari kanan pada barisan depan-bersama peserta; (c) berfoto bersama Camat, Kapolsek, Danramil, dan Tim
KEI-(a)
(b)
4 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
nomor satu dari kanan; dan (d) Perwakilan berdiskusi dengan tokoh masyarakat dan perwakilan Pemda Sumenep-nomor 1 dari kanan.
Peserta kegiatan sosialisasi tersebut berjumlah 40an orang yang terdiri dari Camat Sapeken, MUSPIKA, para Kepala Desa se-Kecamatan Sapeken atau yang mewakili, Tim KEI, warga dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Sapeken, dan Penggagas Koperasi di Sapeken. Hasil kegiatan tersebut adalah adanya dukungan dari semua agar IbW-CSR dapat berhasil, sehingga potensi-potensi daerah Kepulauan Sapeken dapat diangkat ke level yang lebih tinggi yang pada ujungnya akan mendorong kesejahteraan masyarakat.
3.2 Koordinasi dengan Mitra
Tim melakukan koordinasi dengan Mitra yaitu Kangean Energy Indonesia (KEI ltd). Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Perwakilan KEI Surabaya. Kegiatan diikuti oleh Ketua Tim Pengabdian (Bapak Drs. Nurwidodo, M.Kes), Anggota Tim Pengabdian (Husamah, S.Pd., M.Pd dan Bapak Dr., Abdulkadir Rahardjanto, M.Si.), Bapak Hanip Suprapto (Manager Public Government Affair KEI ltd), dan Bapak Syarip Hidayatullah (Community Development KEI perwakilan Surabaya). Adapun dokumentasi kegiatan tersebut disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Koordinasi dengan mitra (dilaksanakan di Kantor KEI ltd Perwakilan Surabaya)
Tim memaparkan target luaran dan metode pelaksanaan pengabdian di tahun II. Tim mengingatkan pula bahwa sebagaimana dalam komitmen saat menyusun proposal tahun II, pihak KEI ltd setuju menyalurkan bantuan kepada nelayan/petani rumput laut Kepulauan Sapeken khususnya desa Pagerungan Kecil, sehingga mereka memiliki alternatif penghasilan dan kegiatan di saat tidak mengurusi rumput laut. Berdasarkan koordinasi tersebut, hasil yang dicapai adalah KEI ltd menyatakan bahwa mereka akan segera menyalurkan bantuan dalam bentuk subsidi biaya pengadaan alat penepung rumput laut. Kegiatan ini juga menghasilkan adanya kesamaan persepsi tentang kegiatan yang dilakukan bersama, kontribusi dan peran masing-masing, dan masukan dari KEI kepada tim berdasarkan pengalaman pemberdayaan masyarakat (khususnya terkait kultur masyarakat setempat).
3.3 Persiapan dan Pelaksanaan Pelatihan Pembuatan Olahan Rumput Laut
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017 Gambar 3. Cover dan Daftar Isi buku resep
Pada saat pelaksanaan kegiatan tim memberikan sampel-sampel dodol dan manisan rumput laut, sehingga peserta mengetahui secara jelas standar dodol yang dijual di pasaran. Tim juga memberikan contoh tepung rumput laut atau karagenan yang dapat diolah mejadi aneka olahan. Sebelum melakukan pelatihan kepada ibu-ibu nelayan, terlebih dahulu tim melakukan pelatihan kepada 5 orang nelayan/petani yang menjadi perwakilan, atau yang menjadi koordinator nelayan
(Perwakilan POKMAS “Sapeken Sejahtera”). Beberapa resep diujicobakan untuk memperoleh
komposisi yang tepat. Pelatihan dilaksanakan di rumah kordinator POKMAS “Sapeken Sejatera” Pagerungan Kecil, Bapak Husni Mubarak, dimana bukti kegiatan tersebut ditunjukkan pada Gambar 4. Selanjutnya Kegiatan dilaksanakan di Pulau Pagerungan Kecil, diikuti oleh 30 peserta; bertempat di MTs Al-Barkah Pulau Pagerungan Kecil Sapeken Sumenep. Bukti kegiatan tersebut disajikan pada Gambar 5.
6 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
Gambar 5. Pelatihan pembuatan olahan rumput laut di desa Pagerungan Kecil kecamatan Sapeken kabupaten Sumenep.
3.4 Komunikasi Penggalian Informasi dan Pengurusan Izin Nomor P-IRT
Perwakilan tim, yaitu Bapak Mas'odi, M.Pd. (anggota dari STKIP PGRI Sumenep) melakukan penggalian informasi dna konsultasi mengenai syarat-syarat/mekanisme pengajuan Sertifkat Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep. Dalam diskusi bersama dengan staf/petugas Dinkes Sumenep, didapatkan informasi bahwa pengusul harus mengisi blanko usulan dan memastikan semua persyaratan terpenuhi. Disarankan bahwa perlu dikumpulkan beberapa orang pembuat olahan rumput laut/produk hasil laut untuk kemudian diberikan pelatihan oleh Dinkes. Dalam hal ini dapat pula bekerjasama dengan Disperindag dalam hal pendampingan produksi, pengemasan, dan pemasaran. Selain itu, berdasarkan diskusi bersama dengan staf/tim dari KEI ltd di STKIP PGRI Sumenep dilakukan kunjungan ke Disperindag Kabupaten Sumenep.
Hasil kegiatan tersebut adalah didapatkannya informasi bahwa untuk mendapatkan Sertifikat PIRT pemohon dpaat datang saja langsung ke Dinas Kesehatan Kabupaten dimana tempat produksi berdomisili dengan membawa dokumen-dokumen yang diperlukan, yait (1) Fotokopi KTP penanggung jawab; (2) Pas foto 3X4 sebanyak 2 lembar; (3) Surat keterangan domisili usaha dari kantor camat. (4) Denah lokasi atau bangunan tempat produksi. (5) Sertifikasi penyuluhan pangan dari penanggung jawab.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
Gambar 6. Tim IbW-CSR, Bapak Mas’odi melakukan Komunikasi dan Penggalian Informasi terkait P-IRT dengan petugas di Dinkes Sumenep
Atas dasar informasi pada pertemuan sebagaimana pada Gambar 6 tersebut, tim kembali mendatangi Dinkes untuk berkonsultasi terkait izin P-IRT. Tim juga telah melengkapi berbagai persyaratan pengajuan P-IRT. Tim ditemui oleh Kabid Jaminan dan Sarana Kesehatan Dinkes Sumenep, Ibu dr. Erliyati, M.Kes dan staf yang mengurusi perizinan yaitu Bapak Saiful Bahri. Berdasarkan pertemuan tersebut, didapatkan hasil bahwa berdasarkan amanat Bupati Sumenep, Dinkes akan memberikan kemudahan dalam perizinan P-IRT sebagai upaya mensukseskan program 1000 IRT yang dicanangkan Bupati. Tim harus segera memberikan sampel makanan dan mengirimkan mitra binaan untuk berkonsultasi dan mendapatkan pelatihan singkat di Dinas Kesehatan. Adapun pelatihan secara lengkap akan dilaksanakan setelah kuota peserta terpenuhi. Bukti kegiatan tersebut ditunjukkan pada Gambar 7.
8 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
Beberapa minggu berikutnya, Dnas Kesehatan Kabupaten Sumenep mengeluarkan SK P-IRT dimana beberapa produk yang dihasilkan mitra (POKMAS Sapeken Sejahtera) telah dapat dipasang nomor P-IRTnya, yaitu tepung rumput laut, stick rumput laut, manisan rumput laut, dodol rumput laut, wingko rumput laut, ceker rumput laut, dan bakso ikan rumput laut.
Tim juga telah mencoba mendapatkan informasi awal terkait pengajuan atau pengurusan label Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tim telah berkunjung ke Kantor MUI Jawa Timur. Berdasarkan diskusi maka pengajuan akan diusahakan dilakukan pada tahun III (2018). Bukti kegiatan ditunjukkan pada Gambar 8.
Gambar 8. Tim IbW-CSR, melakukan penggalian informasi sertifikasi halal MUI
3.5 Kunjungan ke Lokasi Budidaya di Pulau Sadulang, Analisis Situasi dan Potensi Serta Kompetensi Masyarakat Untuk Mengolah Rumput Laut
Tim melakukan koordinasi dengan ketua POKMAS Sapeken Sejahtera yang menjadi mitra, yaitu Bapak Husni Mubarak. Kelompok ini pada Tahun I menjadi pilot project warga Pagerungan Kecil yang memulai budidaya rumput laut. Karena kondisi dan suasana budidaya yang lebih mendukung, maka mereka membudidaya di Pulau Sadulang Besar (15 menit perjalanan laut dari Pulau Pagerungan Kecil). Masyarakat Sadulang Besar pun semakin banyak yang bertahan membudidayakan rumput laut.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
Gambar 9. Tim IbW-CSR, melakukan kunjungan ke lokasi budidaya rumput laut di Pulau Sadulang Besar, sebagai upaya analisis situasi dan potensi serta kompetensi masyarakat untuk mengolah rumput laut (Keterangan: (a) petani rumput laut menaikan rumput laut kering ke perahu untuk dijual; (b) dan (c) tim menunjukkan rumput laut yang sedang dijemur; (d) tim belajar cara menali rumput laut kepada ibu-ibu yang bekerja; (e) dan (f) tim melakukan wawancara dengan ibu-ibu yang membantu menali/mengikat bibit rumput laut.
3.6 Pendampingan Masyarakat Mitra Melalui Pengadaan Alat Pembuatan Tepung Dan Sarana Produksi
Salah satu kendala masyarakat dalam mengolah rumput laut menjadi berbagai olahan adalah proses yang sangat panjang, rumput laut jika diolah masih berbau amis, dan tidak memiliki alat untuk mengolah. Berdasarkan hasil diskusi dengan ketua kelompok, mitra (KEI Ltd), dan tim maka disepakati perlu penyediaan mesin/alat pembuat tepung karagenan. Berdasarkan hasil survey maka ditemukan satu bengkel/CV yang selama ini dapat membuat berbagai alat yang relatif lebih murah dengan kualitas yang baik. Maka, tim telah memesan alat pembuat tepung karagenan ke CV Karya Brawijaya seharga Rp. 80 juta (belum termasuk PPH). Biaya pemesanan alat ditanggung bersama dengan KEI ltd (dibagi dua). Dokumentasi kegiatan disajikan pada Gambar 10.
Dalam kegiatan ini, tim juga memberikan bantuan biaya pembangunan fondasi bangunan dimana nantinya tempat ini menjadi tempat produksi, dan tempat alat, serta memberikan bantuan modal usaha (pembenahan alat-alat budidaya rumput laut, pembuatan gudang/bilik sederhana). Bukti kegiatan ini ditunjukkan pada Gambar 11.
(a)
(b)
(c)
(d)
10 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
Gambar 10. Pengadaan alat penepung dan pengolah rumput laut (Keterangan Gambar (a) dan (b) diskusi dengan perwakilan bengkel terkait gambaran alat yang akan dibuat; (c) penjelasan terkait perkembangan alat oleh tim kepada perwakilan KEI ltd; (d), (e) dan (f) kunjungan bersama dengan mitra untuk melihat perkembangan pembuatan alat di bengkel CV Karya Brawijaya.
Gambar 11. Tim IbW berfoto bersama perwakilan POKMAS Sapeken Sejahtera dengan latar bangunan tempat yang akan digunakan sebagai pusat produksi aneka olahan rumput laut dan tempat alat.
(a)
(b)
(c)
(d)
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
(c)
Setelah alat jadi/selesai, tim mengundang perwakilan POKMAS Sapeken Sejahtera untuk belajar teknik penggunaan alat penepung rumput laut sampai mahir. Bukti kegiatan ini ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 12. Ketua danPerwakilan POKMAS Sapeken Sejahtera melakukan ujicoba dan belajar pemakaian alat pengolah rumput laut (penepung dan pembuat adona olahan rumput laut).
Setelah alat jadi/selesai dan telah dicoba oleh POKMAS serta telah diyakini bahwa alat dapat bekerja sesuai harapan, selanjutnya dilakukan serah terima alat. Pada saat kegiatan ini diadakan penjelasan mengenai alat, penandatanganan berita acara dan penjelasan mengenai prospek kegiatan IbW-CSR kepada perwakilan DPPM UMM, KEI ltd, dan POKMAS Sapeken Sejahtera. Bukti kegiatan ditunjukkan pada Gambar 13.
Adapun alat yang diberikan berjumlah 1 paket yang terdiri dari 8 unit berupa bak pembilas, bejana masak, blender, alat pengaduk, spinner, oven 6 rak, bak perendam, dan alat penepung (dissmill). Dengan adanya alat tersebut diharapkan POKMAS mampu menghasilkan aneka olahan rumput laut sehingga secara ekomi masyarakat petani rumput laut akan lebih berdaya secara ekonomi. Daerah kepulauan Sapeken pun akan memiliki aneka produk unggulan.
(a)
(b)
12 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk
Gambar 13. Acara serah terima peralatan secara simbolis (Keterangan: (a) ramah tamah dan diskusi yang dihadiri oleh Tim IbW-CSR; tim KEI ltd, POKMAS Sapeken Sejahtera; Direktur dan Wakil Direktur DPPM UMM; (b) penyerahan secara simbolis alat dari KEI ke tim IbW; (c) foto bersama; (d) penyerahan alat dari tim IbW ke POKMAS; (e) penandatangan berita acara oleh ketua Tim IbW-CSR; (f) penandatangan berita acara oleh manajer KEI; (g) penandatangan berita acara oleh POKMAS; dan (h) penandatangan berita acara oleh Wakil Direktur DPPM UMM.
3.7 Pendampingan Teknik Pengemasan Olahan Rumput Laut, Pengadaan Alat/Bahan Produksi, dan Pameran Produk
Kegiatan dilaksanakan di Pulau Pagerungan Kecil Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Setelah sebelumnya melakukan pendampingan bagaimana pembuatan aneka olahan rumput laut, selanjutnya tim melakukan pendampingan pengemasan rumput laut sesuai dengan standar. Tim menyiapkan beberapa jenis kemasan, bahan-bahan pembuatan aneka olahan, penyediaan alat pres/sealing machine, penyediaan hand sealer, dan peralatan-peralan pendukung lainnya. Tim juga membantu membuatkan logo/maskot produk dan membantu desain kemasan. Adapun bukti kegiatan ini ditujukkan pada Gambar 14.
Gambar 13. Logo/maskot dan contoh produk aneka olahan rumput laut yang diproduksi oleh POKMAS Sapeken Sejahteran.
(f)
(e)
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
3.8 Penjajakan awal kerjasama dengan koperasi dan pengenalan produk ke pasar/konsumen Tim telah melakukan lobbying dan diskusi awal dengan ketua dan pengurus koperasi yang baru berdiri di kepulauan dan koperasi ini masih belum berjalan maksimal karena masalah sumber daya dan kompetensi. Dengan kegiatan ini diharapkan pada tahun 2018 atau tahun III produk-produk yang dihasilkan dapat dipasarkan dan atau dikelola melalui koperasi. Anggota POKMAS pun akan menjadi anggota aktif koperasi. Hal ini akan bermanfaat dalam memperkuat usaha, dan menjadi jaminan keberlanjutan usaha. Bukti kegiatan ini disajikan pada Gambar 14.
Selanjutnya dilakukan pula pengenalan produk ke pasar/konsumen. Kegiatan dilaksanakan berupa mengikutkan produk dalam pameran yang dilaksanakan oleh Pemprov Jawa Timur. Di AJtim Expo Produk-produk tersebut dipajang menjadi bagian kegiatan CSR SKK MIgas-KEI ltd. Berdasarkan informasi tim KEI, produk-produk tersebut cukup menarik minat konsumen. Beberapa produk dibeli dan lansung dikonsumsi oleh pengunjung stand. Bukti kegiatan tersebut disajikan pada Gambar 15.
Gambar 14. Penjajakan awal kerjasama dengan koperasi
14 SENASPRO 2017 | Seminar Nasional dan Gelar Produk 4. KESIMPULAN
Berdasarkan apa yang diharapkan pada bagian pendahuluan dan uraian hasil dan pembahasan maka dapat dismpulkan bahwa wujud implementasi kegiatan IbW-CSR tahun II berupa pendampingan pembuatan aneka olahan rumput laut sebagai upaya penguatan ekonomi masyarakat, yaitu 1) sosialisasi kegiatan IbW-CSR ke Muspika Sapeken, Pemda Sumenep, dan tokoh-tokoh masyarakat;2 ) koordinasi dengan mitra; 3) persiapan dan pelaksanaan pelatihan pembuatan olahan rumput laut; 4) komunikasi penggalian informasi dan pengurusan izin nomor p-irt ; 5) kunjungan ke lokasi budidaya di pulau Sadulang, analisis situasi dan potensi serta kompetensi masyarakat untuk mengolah rumput laut; 6) pendampingan masyarakat mitra melalui pengadaan alat pembuatan tepung dan sarana produksi ; 7) pendampingan teknik pengemasan olahan rumput laut, pengadaan alat/bahan produksi, dan pameran produk ; dan 8) penjajakan awal kerjasama dengan koperasi dan pengenalan produk ke pasar/konsumen. Kegiatan telah dilaksanakan dengan sukses dan sesuai rencana.
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Tim IbW-CSR menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kemenristek Dikti yang telah mendanai kegiatan ini baik pada tahun I, II dan III. Terima kasih pula kepada Direksi Kangean Energy Indonesia (KEI ltd) yang berada di bawah koordinasi SKK-Migas, yang berkenan menjadi mitra khususnya Manager Public Government Affair, tim Community Development
perwakilan Surabaya, dan manajer Community Development di lapangan offshore pagerungan yang telah memberikan berbagai fasilitas, data, kemudahan, dan bantuan dana pengadaan alat pengolahan rumput laut.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kangean Energy Indonesia. 2013. Pemetaan sosial di sekitar wilayah operasi lapangan gas Pagerungan.
Bogor: Kangean Energy Indonesia Ltd dan Fakultas Ekologi Manusia IPB.
[2] Satriyati, E. dan Rahayu, D. 2010. Upaya pengentasan kemiskinan di Madura sebagai model pengembangan
tanggung jawab sosial. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 23(2):119-129.
[3] Suprajaka, Suryandari, R. Y. dan Subagio, H. 2012. “Metro island” sebuah konsep baru dalam pengelolaan
sumber marin: Kes Pulau Sapeken, Indonesia. Malaysia Journal of Society and Space, 8(4):105 -118).
[4] Alfaqih, I. 2014. Implementasi Bantuan Langsung Masyarakat dalam Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM)-Mandiri di Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Skripsi
tidak diterbitkan. Surabaya: FISIP UPN Veteran Jawa Timur.
[5] Romadhon, A. 2012. Penilaian Keberlanjutan Ekosistem Pulau Kecil Melalui Pendekatan Socio Ecological
System dalam Menentukan Kapasitas Ekosistem di Pulau Sapeken, Madura. Prosiding Seminar
Nasional Kedaulatan Pangan dan Energi, Fakultas Pertanian, UTM.
[6] Romadhon, A., Yulianda, F., Bengen, D. G. & Adrianto, L. 2013. Perencanaan Pembangunan Gugus Pulau
Sapeken Secara Berkelanjutan: Penilaian Daya Dukung Kawasan Bagi Pengembangan Wisata. TATA
LOKA. 15(3): 218-234.
[7] Hidayah, Z. 2012. Model Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh dalam Pendugaan
Kesesuaian Perairan untuk Budidaya Kerang Mutiara di Kepulauan Kangean Madura. Prosiding
Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, Universitas Gadjah Mada, 14 Juli 2012.
[8] Nurwidodo, Rahardjanto, A., Husamah, Mas’odi, & Mufrihah, A. 2017. Potensi, Kendala, dan Strategi
Pengembangan Budidaya Rumput Laut Berbasis Kolaborasi di Daerah Kepulauan Sapeken Kabupaten
Sumenep. PROSIDING SEMINAR NASIONAL III TAHUN 2017. Diselenggarakan oleh Prodi
Pendidikan Biologi-FKIP dengan PSLK Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 29 April 2017.
[9] Hudha, A. M. Husamah & Hadi S. 2011. Pendampingan pengembangan perangkat pembelajaran laboratorium untuk menunjang pelaksanaan bagi guru IPA Biologi SMP Muhammadiyah 1 Malang.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2017
[10] Baskoro, M. S. & Nugroho, T. 2011. Peran Perguruan Tinggi dalam Mengakselerasi Pembangunan
Kelautan dan Perikanan dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir dan Nelayan. Seminar
Nasional Perikanan dan Kelautan FAPERIKA UR.
[11] Nurwidodo, Rahardjanto, A., Husamah, Mas’odi, & Mufrihah, A. 2016. Laporan Akhir Program
IbW-CSR Petani Rumput Laut Kepulauan Sapeken Kabupaten Sumenep. Malang: DPPM-UMM.
[12] Astutik, Y. dan Santoso, E. B. 2013. Prioritas Wilayah Pengembangan Industri Pengolahan Perikanan di
Kabupaten Sumenep. Jurnal Teknik POMITS. 2(1):C20-C24.
[13] Nurwidodo, Rahardjanto, A., Husamah, Mas’odi, & Mufrihah, A. 2016. Proposal Program IbW-CSR