• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdagangan Maritim di Indonesia Kerajaa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perdagangan Maritim di Indonesia Kerajaa"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Perdagangan Maritim di Indonesia

(Kerajaan Makassar)

Asri Hayati Nufus (1406612483)

IMAGE 1 Makassar c. 1750. View from the landward side, looking west; the path on the left would be the Hogepad to Bontualaq. J. M. Aubert

(Rijksmuseum Amsterdam Amsterdam, RP-T-00-3234).

Indonesia telah melakukan perdagangan maritim sejak lama. Pada masa klasik hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti kedukan bukit dari kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tanggal 25 maret 19851 yang telah menguasai jalur perdagangan maritim, walaupun tidak secara eksplisit dijelaskan pada prasasti ini. Selain itu, telah banyak bukti mengenai perdagangan maritim yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, khususnya kerajaan-kerajaan yang mempunyai kota pelabuhan besar seperti Kerajaan Sriwijaya yang dikenal sebagai negara Maritim. Pengertian kata maritime pada KBBI (2007:716) adalah berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. kemudian arti kemaritiman adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. Dari pengertian tersebut berarti maritim berkenaan dengan laut, pelayaran, dan perdagangan.

(2)

Sumber Data Sejarah

Makassar terletak di pantai selatan Pulau Sulawesi. Pulau Makassar terletak antara Kalimantan Barat dan Kepulauan Maluku di sebelah timur dan kepulauan Sulu yang merupakan wilayah negara Philipina di sebelah utara dan Kepulauan Nusa Tenggara di sebelah selatan. Wilayah kerajaan Makassar meliputi Tombolo, Langkiang, Saumata, Parang-Parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, dan Keling.

Kerajaan Makassar merupakan dua kerajaan yang bersatu karena diikat oleh perjanjian setia disertai sumpah antara raja Gowa dan Tallo serta gelarang dibalai kerajaan. Kerajaan Gowa dan Tallo sejak awal sudah memiliki Bandar niaga yang lumayan ramai. Kerajaan Tallo sendiri sudah melakukan pelayaran ke Jawa, Malaka, dan Banda. Karena perkembangan kerajaan Tallo ini, akhirnya mendapatkan perhatian dari kerajaan Gowa yang menginginkan Tallo berada dalam kuasanya. Akhirnya, setelah perjanjian setia itu, Raja Gowa bertindak sebagai raja, dan Tallo sebagai mangkubumi.

Menurut Poelinggomang (2004:41) perkembangan Makassar disebabkan karena tiga faktor: yang pertama yaitu letaknya yang strategis dan berada di tengah-tengah jalur perdagangan, seperti yang telah disebutkan bahwa Makssar terletak diantara Sulawesi Selatan dan Kalimantan yang ramai dikunjungi oleh pelayar-pelayar lokal, maupun yang akan berlayar ke kawasan Asia Pasifik. Hal ini juga diungkapkan oleh Biarawan asal Spanyol, Domingo Navarrete dalam perjalanannya dari Manila ke China, bahwa Makassar sudah berkembang sangat pesat. Kedua, intervensi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dalam dunia perdagangan telah mengalihkan kegiatan perniagaan ke Makassar, seperti Portugis yang menguasa Malaka pada tahun 1511 setelah mengkhianati perjanjian damainya dengan Sultan Malaka yang berjanji tidak akan menyerang kota Malaka. Ketiga, peranan penduduk di daerah tersebut sebagai pedagang dan pelaut yang melakukan pelayaran niaga ke daerah-daerah produksi dan Bandar niaga lainnya, yang kemudian diperdagangkan ke Bandar Makassar. Catatan Tome Pires yaitu The Suma Oriental pun menyebutkan bahwa Makassar telah menjalin perdagangan dengan Malaka, Borneo, Siam, dan daerah-daerah yang berada diantara Pahang dan Siam.

Makassar sebagai Kota Niaga

(3)

kerajaan Majapahit. Tetapi, Makassar benar-benar berkembang secara pesat pada pertengahan abad ke 16, karena dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

1. Faktor dari dalam berupa tumbuhnya kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) menjadi kerajaan yang menghimpun dan melindungi negeri-negeri orang Makassar di sepanjang pesisir jazirah selatan Sulawesi. Hal ini disebabkan banyak terjadinya persaingan antara kerajaan-kerajaan lain seperti Wajo, Soppeng, dan Bone. Setiap kerajaan akhirnya menghimpun kekuatan agar tidak terjadi kekalahan yang akan mengakibatkan keruntuhan kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut akhirnya melakukan usaha-usaha yang berupa mendirikan benteng-benteng pertahanan dan pangaklan-pangkalan militer untuk menyerang yang menjadi tempat konsolidasi kekuatan serta memperluas wilayah. Perluasan wilayah Kerajaan Makassar meliputi pelabuhan-pelabuhan penting seperti Selayar dan Buton, Samarinda dan Kutai di Kalimantan Timur, Sumbawa di kepulauan Sunda Kecil, juga Kesultanan Bima yang memang sejak awal sudah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Makassar. Apalagi dengan adanya sejarah raja Bima yang diislamakan oleh raja Makassar, mengakibatkan Bima setia pada Makassar sampai akhir.

2. Faktor dari luar, yaitu kedatangan orang-orang bangsa Eropa ke Nusantara untuk berniaga. Seperti yang telah disebutkan bahwa bangsa Eropa berlayar ke Asia Tenggara khususnya ke daerah penghasil rempah-rempah dan pelabuhan-pelabuhan penting seperti Aceh, Pasai, dan Kota China yang terletak di Sumatera. Pelabuhan Bantam dan Batavia yang berada di Jawa, Manila di Philipina, dan pelabuhan Malaka yang akhirnya dikuasai Portugis pada tahun 1511. Karena itu, Makassar yang saat itu sedang berkembang akhirnya dilirik oleh Portugis. Apalagi dengan Maluku yang berada di bawah kekuasaan Makassar. Karena kejatuhan Malaka pula berpengaruh besar terhadap Makassar, karena akhirnya pusat penyebaran Islam berpindah ke bagian Timur Nusantara yang akhirnya diterima oleh Gowa-Tallo pada permulaan abad ke XVII di Makassar dan Makassar menjadi salah satu daerah penyiaran agama Islam.

(4)

Aktivitas pelayaran dan perdagangan yang menjadi faktor utama membuat kerajaan akhirnya melakukan ekspansi ke daerah-daerah pelabuhan penting seperti Selayar, Buton, Seram, Buru, Timur, Bima, dan Flores. Hal yang penting pula adalah system perdagangan berupa system commenda atau partnership yang melibatkan raja, kaum bangsawan, dan orang kaya ikut dalam berbagai usaha pelayaran dan perdagangan. Hal lainnya adalah karena teknologi yang terdapat pada kerajaan Giwa-Tallo, yaitu sebagai kerajaan Maritim memiliki konsep kelautan yang jelas, perkembangan teknologi transportasi laut dan alat penangkapan ikan.

Kebijakan Perdagangan Bebas

Makassar sebagai salah satu kerajaan Maritim yang sukses dalam bidang perdagangannya. Makassar dengan gagah berani tetap mempertahankan prinsip kebebasan di laut dan melawan monopoli VOC.

Prinsip Mare Liberum (laut bebas) menjadi dasar kebijakan yang sangat penting bagi Makassar. Para saudagar dari berbagai kelompok, suku, bangsa, dan agama diperbolehkan dengan bebas berdagang di Bandar niaga Makassar. Raja menjamin keadilan dan keamanan bagi semua para pedagang.

Raja dengan tegas menolak perdagangan yang tidak adil, jujur, dan bersifat monopoli. Hal ini tercermin pada sikap Sutan Alauddin yang jelas-jelas menolak monopoli yang dilakukan oleh Belanda dan mengakhiri perdagangan dengan Portugis yang sama-sama menginginkan monopoli.

Beliau mengatakan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama bagi semua dan bukan hanya sebagian kelompok saja. Sikap inilah yang menjadikan Makassar sebagai Bandar yang ramai, dan berkembang.

Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa

(5)

Pasal Perihal 1 Sewa Muatan perahu

2 Perahu yang disuruh dinakhodai

3 Barang dagangan yang kembali karena tidak laku 4 Nakhoda yang mengubah haluannya

14 Orang yang memberikan barang-barangnya sebagai pembayaran 15 Rangeng-rengeng (teman) yang diberi membawa barang dagangan 16 Pedagang yang mati dalam pelayaran

Pasal 21 mengenai amanat Amanna Gappa menjelaskan betapa pentingnya posisi Amanna Gappa:

Amanat Amanna Gappa, kepada seluruh orang Wajo di Ujung Pandang, telah disetujui oleh kepala seluruh orang Wajo di Sumbawa, di Paser, dan waktu mereka duduk mengadakan pertemuan (di Ujung Pandang) (amanat tersebut) dicantumkan didalam buku, supaya diikuti turunan mereka, diwarisi oleh anak cucunya dan oleh seluruh pedagang yang lain.

Sumber Data Arkeologi

 Temuan jenis mata uang di Museum Benteng Somba Opu.

(6)

 Perahu Layar diukir dengan motif naga dan terdapat relief kaligrafi bertuliskan

“Sultan Abdul Malik Tuban” ini ditemukan di pulau Selayar berupa tumpukan kepingan perahu layar niaga. Belum dapat dipastikan Sultan Abdul Malik merupakan nama kapal atau nama pemiliknya. Diduga kapal ini berasal dari Jawa abad XVI-XVII.

 Benteng Somba Opu merupakan benteng pertahanan kerajaan Gowa. Saat ini, benteng

ini telah beralih fungsi menjadi museum. Dapat ditemukan meriam dari zaman kolonial.

 Gedung-gedung peninggalan bangsa Eropa

Kelebihan dan Keterbatasan Data

1. Sumber data sejarah dinilai lengkap. Karena, dimulai dari sumber dari dalam negeri seperti kitab Amanna Gappa, kitab Nagarakrtagama sangat membantu mengenai pelayaran dan perdagangan kerajaan Gowa Tallo. Dari kitab Nagarakrtagama

diperoleh informasi bahwa Gowa-Tallo telah bekerja sama dengan Majapahit. Apalagi dengan catatan-catatan perjalanan dari Tome Pires dan Biarawan yang akan berlayar ke Manila yang membantu menguatkan bahwa memang Makassar telah menjadi pelabuhan yang berkembang serta telah berlayar ke bandar-bandar lainnya.

(7)

Daftar Pustaka

Boechari. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2012.

Hall, Kennet R. Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii. Chapter 1, Trade and Statecraft in Early Southeast Asia. Hamid, Abd Rahman. Sejarah Maritim Indonesia.Yogyakarta: Penerbit Ombak. 2013.

Rasjid, Abdul dan Gunawan, Restu. Makassar sebagai Kota Maritim. Jakarta: Penerbitan Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional. 2000

Anwar, Muhammad Vibrant. Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar: Studi Kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653. Skripsi Sarjana pada FS UI Depok: Tidak diterbitkan. 1996

Sutherland, Heather. Whose Makassar? Claiming Space in a Segmented City. Journal of Comparative Studies in Society and History. Vrije Universiteit Amsterdam. 2011

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/2013/12/02/benteng-rotterdam/

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Undang Undang No.21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pasal 1 ayat (1), perdagangan orang adalah tindakan perekrutan,

Dalam ketentuan umum Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak pidana Perdagangan Orang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan

dalam Pasal 26 undang – undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang bahwa persetujuan korban perdagangan orang tidak.. menghilangkan

21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang lebih kurang telah berlaku selama 15 (lima belas) tahun, selanjutnya diperlukan kegiatan

Berdasarkan Undang-undang ini, mekanisme perlindungan Merek terkenal, selain melalui inisiatif pemilik Merek tersebut sebagaimana telah diatur dalam Pasal 56 ayat

Selain itu, dengan kehadiran pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat Sulawesi Selatan, yakni Makassar dan Parepare, serta di pesisr timur Sulawesi Selatan yakni, Pallime

Menurut Undang Undang No.21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pasal 1 ayat (1), perdagangan orang adalah tindakan perekrutan,

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh penilaian kinerja terhadap produktivitas kerja pegawai pada dinas perdagangan provinsi Sulawesi selatan di Makassar..