• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Maritim di Indonesia pada Era Klasik

N/A
N/A
Zain Ahdan

Academic year: 2024

Membagikan "Sejarah Maritim di Indonesia pada Era Klasik"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah Maritim di Indonesia pada Era Klasik

Zaini Ahdan

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya [email protected]

Abstrak

Sejarah maritim di Indonesia sudah ada sejak terbentuknya peradaban di bumi nusantara ini.

Masyarakat di nusantara tampaknya sudah ada interaksi dengan masyarakat yang tinggal di pedalaman dan bangsa luar. Metode yang digunakan adalah metode historis yaitu suatu metode yang berusaha mengungap suata permasalahan hingga menghasilkan suatu kesimpulan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk fokus pada sejarah Maritim di Indonesia pada era klasik. Kehidupan maritim masa Kerajaan Hindu-Budha tergambar dalam prasasti-prasasti berhuruf (Palawa dan Pranagari) sekitar abad ke-5 Masehi. Pada masa ini hadir kerajaan kerajaan di Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Di bawah kedua Kerajaan ini, bentangan wilayah yang luas dari kepulauan Nusantara pernah diintegrasikan ke dalam suatu kesatuan wilayah negara.

Kejayaan maritim nusantara tidak terlepas dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Pelabuhan Malaka yang saat itu menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.Perairan memiliki peran penting sebagai penggerak sejarah di Indonesia. Sejarah maritim yang berhubungan dengan perairan tidak hanya terbatas pada peristiwa yang terjadi di laut, tetapi juga peristiwa yang terjadi di sungai. Dalam pelayaran dan perdagangan, sungai menjadi jalur penghubung antara pedalaman dan pesisir.

Kata Kunci: Sejarah, Maritim, Laut

Abstract

Maritime history in Indonesia has existed since the formation of civilization on this archipelago. It seems that people in the archipelago already have interactions with people living in the interior and foreign countries. The method used is the historical method, namely a method that attempts to uncover a problem to produce a conclusion. The purpose of this article is to focus on Maritime history in Indonesia during the classical era. Maritime life during the Hindu-Buddhist Kingdom is depicted in lettered inscriptions (Palawa and Pranagari) around the 5th century AD. At this time there were kingdoms in the archipelago such as the Srivijaya and Majapahit Kingdoms. Under these two Kingdoms, vast expanses of the Indonesian archipelago were once integrated into a unified state territory. The maritime glory of the archipelago cannot be separated from the glory of the Srivijaya Kingdom. At that time, the Port of Malacca was the center of international trade in Southeast Asia. Waters have an important role as a driver of history in Indonesia. Maritime history related to waters is not only limited to events that occur at sea, but also events that occur in rivers.

In shipping and trade, rivers become connecting routes between the interior and the coast.

(2)

Keywords: History, Maritime, Sea

PENDAHULUAN [Times New Roman 11 bold]

Sejarah maritim di Indonesia sudah ada sejak terbentuknya peradaban di bumi nusantara ini.

Masyarakat di nusantara tampaknya sudah ada interaksi dengan masyaralat yang tinggal di pedalaman dan bangsa luar. Sejumlah situs di pesisir nusantara pada masa akhir prasejarah atau pra-Sriwijaya, seperti: Buni (Jawa Barat), Plawangan (Jawa Tengah), Gilimanuk (Bali Barat Daya), serta Sambiran dan Pcung (Bali Utara), menunjukkan telah adanya interaksi yang menjadi pintu gerbang masyarakat pesisir dengan daerah pedalaman maupun masyarakat pesisir dengan bangsa luar. Berdasarkan hal ini, tampaknya pada masa itu di pulau Sumatera dan pulau pulau lain telah terjadi hubungan yang bersifat dendritik. Hunian-hunian yang terletak di daerah pesisir diduga mempunyai hubungan dengan daerah dalam maupun luar Nusantara.

METODE

Metode yang digunakan adalah metode historis yaitu suatu metode yang berusaha mengungap suata permasalahan hingga menghasilkan suatu kesimpulan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk fokus pada sejarah Maritim di Indonesia pada era klasik. Untuk penulisan artikel ini, penulis mengambil sumber-sumber meliputi buku, artikel dalam buku, dan artikel dalam jurnal. Dalam artikel ini, dijelaskan metode kajian pustaka dan literatur untuk menganalisis atau menafsirkan suatu tujuan untuk mengetahui sejarah maritim di Indonesia berdasarkan fakta-fakta yang disajikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a) Kehidupan Maritim Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Kehidupan maritim masa Kerajaan Hindu-Budha tergambar dalam prasasti-prasasti berhuruf (Palawa dan Pranagari) sekitar abad ke-5 Masehi. Pada masa ini hadir kerajaan kerajaan di Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Di bawah kedua Kerajaan ini, bentangan wilayah yang luas dari kepulauan Nusantara pernah diintegrasikan ke dalam suatu kesatuan wilayah negara.

Berkembangnya Indonesia pada masa kerajaan Hindu-Buddha ini tidak terlepas dari hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama dan kebudayaan Hindu-Budha masuk ke Indonesia melalui kontak perdagangan. Hal ini menurut Claudius Ptolomeus, karena didorong oleh adanya kekayaan Indonesia akan emas, perak, dan rempah-rempah yang begitu menarik bagi para pedagang mancanegara.

b) Masa Kerajaan Sriwijaya

Kejayaan maritim nusantara tidak terlepas dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya adalah negara maritim yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pelayaran dan perdagangan.

Komoditas dagang berupa hasil hutan, hasil tambang, dan hasil bumi yang banyak digemari bangsa

(3)

Arab, Persia, dan Cina. Kerajaan Sriwijaya merupakaan kerajaan bahari yang cukup disegani. Pada abad ke-7, Sriwijaya melahirkan kebudayaan Buddha lewat pelayarannya.

Wilayahnya terbentang dari Kamboja, Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan mungkin Jawa Tengah. Kerajaan ini berkembang ke seluruh nusantara, melampaui batas negaranya dan menjadi otoritas utama di jalur perdagangan maritim. Beberapa ulama juga mencoba menggambarkan “kekuatan batin” kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan sumber Tionghoa, Slamet Muljana menggambarkan Kerajaan Siriwjaya sebagai kerajaan pesisir, negara dagang, dan negara yang menguasai lautan.Kerajaan pesisir, ibu kota Sriwijaya terletak di tepi laut.air,penghuninya tersebar di luar kota atau tinggal di rakit jerami. Ketika raja keluar, ia menaiki perahu yang dilindungi payung sutra dan ditemani oleh orang-orang yang membawa tombak emas.

Prajuritnya unggul dan lincah dalam berperang, baik di darat maupun di laut, dan keberanian mereka tidak ada bandingannya. Seorang ahli kelautan Perancis bernama Dr Yves Manguin dalam bukunya South Asian Ships mengatakan armada angkatan laut Sriwijaya sangat kuat. Armada dagang Sriwijaya berlayar ke negeri-negeri jauh di Asia Barat dan Asia Timur.

Sriwijaya pun berupaya memaksa kapal dagang asing singgah di wilayahnya. Memang Sriwijaya menguasai lalu lintas maritim dan jalur perdagangan internasional. Sriwijaya membangun pusat perdagangan internasional di pantai timur Sumatera. Pada abad ke-7 hingga ke-13, Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang makmur. Kerajaan Sriwijaya juga menjadi pusat pembelajaran agama Budha.

Arkeolog Wiseman Christie berpendapat Sriwijaya merupakan negara yang memiliki banyak pelabuhan (multiport state). Sejak abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi kekuatan budaya dan komersial yang mengesankan. Salah satu warisan Sriwijaya yang dianggap paling penting adalah bersatunya sejumlah besar penduduk berbahasa Melayu di kedua sisi Selat Malaka.

c) Masa Kerajaan Majapahit

Majapahit didirikan tahun 1293 oleh Raden Wijaya yang menjadi raja pertama dan bergelar Kertarajasa Jayawardana. Pemerintahannya diketahui berlangsung dengan aman dan tentram, rakyat pun hidup berkecukupan. Pada masa Majapahit, perdagangan di sekitar perairan Nusantara telah dikuasai oleh para pedagang Jawa yang merupakan pedagang kaya raya pada waktu itu. Banyak pedagang dari Tuban, Gresik, dan Jepara menetap di Pelabuhan Malaka yang saat itu menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.

Majapahit dikatakan dalam kondisi serius. Daerah-daerah terpencil tidak terkendali dan banyak daerah di Jawa Timur yang menolak mengakui kekuasaan raja. Untuk memerangi pemberontak Jawa ini, Gajah Mada melancarkan ekspedisi militer pertamanya. Segera setelah itu, ia kembali ke rumah dengan kemenangan dan berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan raja bahwa ia tidak akan menikmati palapa sampai seluruh wilayah kekuasaan raja terakhir Singasari berhasil dikembalikan ke kejayaannya.

d) Kehidupan Maritim Masa Kedatangan dan Peradaban Islam

(4)

Kemunculan Islam di Nusantara awalnya berkat partisipasi pedagang-pedagang Muslim dalam pelayaran samudera. Semula diperkenalkan oleh para pedagang Arab khususnya di jalur perdagangan di Samudera Hindia. Arus Islam ke Nusantara pada gilirannya juga melibatkan peran serta para pedagang dari India (terutama dari Gujarat), Persia, dan Cina. Pelembagaan Islam secara politik ditandai oleh kemunculan kerajaankerajaan Islam awal seperti Kerajaan Samudera Pasai di wilayah Aceh sejak abad 13 dan Kerajaan Demak di Jawa sejak abad 15, disusul oleh beberapa kerajaan Islam lainnya seperti Mataram Islam, Banten, Cirebon, Ternate, Tidore, dan lain-lain.

Sydney Jones (1984) mencatat bahwa pada abad 17 pengertian “umat” bagi Muslim yang saleh di Nusantara merupakan kode soliditas komunitas Islam yang tidak hanya sebatas wilayah kepulauan melainkan juga dengan seluruh dunia Islam. Hal ini dimungkinkan dikarenakan adanya jalur perdagangan serta penggunaan bahasa Arab sebagai lingua franca di sepanjang Samudera Hindia yang mampu menyatukan negara di pesisir pulau-pulau utama seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi ke dalam suatu kesatuan kekuatan Islam di Nusantara dan lebih jauh lagi ke dalam keseluruhan dunia Islam.

KESIMPULAN [Times New Roman 11 bold]

Perairan memiliki peran penting sebagai penggerak sejarah di Indonesia. Sejarah maritim yang berhubungan dengan perairan tidak hanya terbatas pada peristiwa yang terjadi di laut, tetapi juga peristiwa yang terjadi di sungai. Dalam pelayaran dan perdagangan, sungai menjadi jalur penghubung antara pedalaman dan pesisir.

Laut yang pada awalnya dipandang sebagai milik bersama, pada akhirnya menjadi ruang yang diperebutkan karena memiliki nilai ekonomis. Perairan laut dan sungai kini bukan sekadar jalur pelayaran dan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang eksploitasi sumber daya alam. Kebijakan- kebijakan baru tentang laut berperan dalam perubahan pandangan manusia mengenai laut. Hal ini berpengaruh pada arah penulisan sejarah maritim yang mengikuti perkembangan peristiwa.

Historiografi Indonesia tidak lagi didominasi oleh aktivitas perdagangan dan pelayaran antaretnik maritim di Nusantara, melainkan perseteruan antarbangsa mengenai konflik perbatasan (dispute).

DAFTAR PUSTAKA

Boomgaard, Peter (ed.). (2007). A World of Water. Leiden: KITLV Press.

Brown, C.S.G. (1994). Bajau. Yayasan Sejati: Jakarta. Budiawan. (2017).

Nasion & Nasionalisme: Jelajah Ringkas Teoritis. Yogyakarta: Ombak. Hardin, Garret. (1968).

“Tragedy of the commons” Science (162):1243-1248.

(5)

Hartono, Dimyati, Hukum Laut Internasional: Berbagai Aspek Pengamanan Pemagaran Yuridis Kawasan Nusantara Negara Republik Indonesia, Ditinjau dalam Hubungan Perkembangan Hukum Laut Internasional. (1977). Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Hatta, Gusti Muhammad. (2012). “Kata Sambutan” dalam Asep Karsidi, Sobar Sutisna dan Aris Poniman (Ed.), NKRI: Dari Masa Ke Masa. Bogor: Sains Press.

Schrieke, B,.J.O. (2016). Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia Jilid II. Yogyakarta:

Ombak.

Zadlazi, Asyhadi Mufsi. (2019). Hulu ke Hilir: Jaringan dan Sistem Perniagaan Sungai Kerajaan Srivijaya. Paradigma Jurnal Kajian Budaya Vol. 9 No. 1 2019.

Tim Peyusun Panitia Seminar Sejarah Tahun 1957. (2017). Laporan Seminar Sejarah 14-18 Desember 1957 di Yogyakarta. Yogyakarta: Ombak.

Zug, Sebastian. (2010). The Gift of Water. Berlin: LIT Verlag.

Kustia, AA, “Laut Dikapling”, Kompas, 02 Maret 2001, hlm 4.

Referensi

Dokumen terkait

Jadi sejarah dapat diartikan kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan sebagai peristiwa.. Abadi : Sejarah peristiwa yang tidak dapat diubah

Kegiatan perdagangan tidak terbatas di lembah sungai Indus saja. Masyarakat Mohenjo Daro kemungkinan besar telah berhubungan dagang dan pelayaran dengan bangsa- bangsa lain

Perseroan Terbatas Tanimbar Maritim adalah Badan Usaha Milik Daeraha. Kabupaten Maluku Tenggara Barat dibidang Budidaya

Daerah pelayaran lepas pantai terbatas adalah pelayaran di dalam 30 mil laut dari batas ke arah laut suatu daerah aman, termasuk perairan tenang atau

Letak Malayu yang sangat strategis di pantai Timur Sumatera dekat Selat Malaka, memegang peranan penting dalam dunia pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka yaitu antara

Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup yang terdapat di hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran air laut dan air tawar

Kerajaan Sriwijaya disebut sebagai kerajaan maritim lantaran terletak di wilayah yang strategis sehingga mampu menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama

Perdagangan gelap narkotika lintas negara melalui jalur laut di Indonesia memerlukan strategi keamanan maritim yang