PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL

142 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL

SKRIPSI

Oleh :

NOVIANA SARI

K1508043

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Noviana Sari

Nim : K1508043

Jurusan/Program Studi : Pendidikan Teknik Kejuruan/Pendidikan Teknik Bangunan

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul ” PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL ” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

Surakarta, Juli 2012

(3)

commit to user

iii

PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL

Oleh :

NOVIANA SARI

K1508043

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan

Pendidikan Teknik Kejuruan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(4)

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, Juli 2012

Pembimbing I, Pembimbing II,

(5)

commit to user

v

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Kamis Tanggal : 12 Juli 2012

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sutrisno, M.T, M. Pd Sekretaris : Drs. Bambang Sulistyo Budhi Anggota I : Ir. Chundakus Habsya, M. Ars Anggota II : Budi Siswanto, S. Pd, M. Ars

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

a.n. Dekan

Pembantu Dekan I

(6)

ABSTRAK

Noviana Sari. PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2012.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pencahayaan alami di tipe perumahan kecil dan menengah, mengetahui bahwa sistem bukaan yang baik menghasilkan pencahayaan alami yang nyaman, mengetahui bahwa vegetasi berpengaruh terhadap pencahayaan alami dalam ruangan.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif-deskriptif. Penelitian di laksanakan di tiga lokasi perumahan yaitu Perumahan Griya Prima Klaten, Perumahan Cipta Griya Bersinar Klaten, dan Perumahan Pesona Sawahan Boyolali. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive. Jumlah sampel ada 18 rumah, yang terdiri dari 7 rumah di Perumahan Griya Prima Klaten, 8 rumah di Perumahan Cipta Griya Bersinar Klaten, dan 3 rumah di Pesona Sawahan Boyolali. Teknik pengumpulan data dengan pengukuran menggunakan alat, angket, dan dokumentasi. Alat yang digunakan pengukuran dalam penelitian ini adalah light meter dan humidity. Light meter untuk mengukur intensitas cahaya sedangkan humidity untuk mengukur suhu udara dan kelembaban. Teknik analisa data menggunakan statistik deskriptif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 66,45 % pencahayaan alami di obyek penelitian kurang memenuhi persyaratan, bukaan berpengaruh terhadap cahaya matahari yang masuk dalam ruangan, dan adanya vegetasi dapat mempengaruhi pencahayaan alami dalam ruangan. Ditemukan faktor-faktor lain, selain bukaan dan vegetasi yang menyebabkan pencahayaan alami di obyek penelitian kurang baik yaitu teras yang lebar, rumah berhubungan langsung dengan bangunan sekitar, dan pengembangan rumah yang kurang memperhatikan segi pencahayaan alami.

Simpulan penelitian ini adalah 66,45 % pencahayaan di obyek penelitian kurang memenuhi persyaratan, sistem bukaan yang baik akan menghasilkan pencahayaan alami yang nyaman, vegetasi berpengaruh terhadap terhadap pencahayaan alami dalam ruangan.

(7)

commit to user

vii MOTTO

Cukuplah Allah yang menjadi Penolongku di setiap Kesulitan, Penentram Jiwa disaat Kecemasan, Pelindungku disaat Ketakutan, Penguatku disaat Goncangan

Masalah menghantam.

“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai dengan satu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan

yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap” (QS. Al Insyirah (94) : 5-8)

“Kejarlah akheratmu, maka dunia akan mengikutimu”

Aku stres tetapi aku tidak trauma oleh ketakutan. Aku masih mampu belajar! Aku masih mampu berjuang! Aku akan bertahan hidup dan aku akan mewujudkanmu,

Impianku!

Tak terhitung orang mengatakan bahwa ini tak bisa dilakukan atau itu tampaknya akan gagal. Keberanianku akan menentang itu.

(8)

PERSEMBAHAN

Dari hati yang tulus, terbingkai rasa syukur pada Allah- Rabb semesta alam, Ku persembahkan karya ini untuk :

Ibu dan Ayah

Berkat iringan doa yang selalu Ibu dan Ayah lantunkan untuk Ananda, rahmat Allah selalu menyertai Ananda, hingga Ananda bisa bertahan menghadapi setiap

episode hidup. Terima kasih pula untuk setiap doa, cucuran keringat, letih, dan rintihan tangisan Ibu dan Ayah di setiap sepertiga malam demi Ananda.

Adik-Adikku Tersayang :

Lylya Octaviani dan Yulia Ambar Wati. Terima kasih atas bantuan, persaudaraan, dan letupan semangat kalian selama ini.

Kedua Dosen Pembimbingku :

Pak Chun dan Pak Budi. Dengan segenap hormat, Ku ucapkan terima kasih atas bantuan, arahan, bimbingan, dan kesabaran selama proses bimbingan skripsi.

Sungguh bersyukur mendapat pembimbing seperti beliau-beliau. Dosen pembimbing bagaikan pelita ilmu dalam kegelapan kebodohan.

Teman-Teman Kos Arum, Sidomulyo, Makam Haji

Norma, Fitroh, Anis, Mbak Muji, Tika, Anita, Hani, dll, yang tak bisa ku sebutkan namanya satu per satu. Tiada teman yang sebaik kalian hingga ku merasa bagaikan keluarga dalam balutan ukhuwah islamiyah. Terima kasih atas bantuan,

motivasi, dan kebersamaan selama ini.

Teman-Teman Seperjuangan, PTB 2008

(9)

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu yang diharapkan. Skripsi ini berjudul “PENCAHAYAAN ALAMI RUMAH TINGGAL”

Dalam menyusun skripsi ini penulis mendapat bantuan dari banyak pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Drs. Sutrisno, S.T, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ida Nugroho Saputro, ST. M.Eng selaku Ketua Program Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Abdul Haris Setyawan, S.Pd., M.Pd selaku Koordinator Skripsi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 5. Ir. Chundakus Habsya, M.Ars selaku Dosen pembimbing I, yang telah

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun proposal skripsi. 6. Budi Siswanto, S.Pd, M.Ars selaku Dosen pembimbing II, yang telah

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun proposal skripsi. 7. Teman-teman mahasiswa Program Teknik Bangunan angkatan tahun

2008.

(10)

Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai acuan pelaksanaan penelitian dan semua pihak yang memerlukannya

Surakarta, Juli 2012

(11)

commit to user

B. Identifikasi Masalah ... ... 2

C. Pembatasan Masalah... ... 3

D. Perumusan Masalah... ... 3

E. Tujuan Penelitian... ... 3

F. Manfaat Penelitian... ... 4

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... ... 5

1. Rumah dan Perumahan... ... 5

2. Pencahayaan Alami... ... 16

3. Syarat Pencahayaan Alami yang Nyaman... 19

4. Kenyamanan ... ... 21

(12)

C. Kerangka Berfikir... ... 25

D. Hipotesis ... ... 27

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... ... 28

1. Tempat Penelitian ... ... 29

2. Waktu Penelitian ... ... 33

B. Rancangan Penelitian ... ... 33

1. Studi Penelitian ... ... 33

2. Tahap Penelitian... ... 34

C. Populasi dan Sampel... ... 36

1. Populasi ... ... 36

2. Sampel ... ... 36

D. Teknik Pengambilan Sampel ... ... 37

E. Pengumpulan Data ... ... 38

1. Sumber Data ... ... 38

2. Teknik Mendapatkan Data... ... 38

F. Validasi Instrumen Penelitian ... ... 41

G. Analisis Data ... ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... ... 45

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... ... 53

C. Pengujian Hipotesis ... ... 54

1. Pengujian Hipotesis 1 ... ... 54

2. Pengujian Hipotesis 2 ... ... 54

3. Pengujian Hipotesis 3 ... ... 107

D. Pembahasan Hasil Analisis Data.... ... 117

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan ... ... 124

(13)

commit to user

xiii

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1. Denah Rumah Tipe 36... 7

2.2. Tampak Depan Rumah Tipe 36 ... 8

2.3. Denah Rumah Tipe 45... 9

2.4. Tampak Depan Rumah Tipe 45 ... 9

2.5. Denah Rumah Tipe 54... 10

2.6. Tampak Depan dan Perspektif Rumah Tipe 54... 11

2.7. Denah Rumah Tipe 60... 12

2.8. Perspektif Rumah Tipe 60 ... 12

2.9. Denah Rumah Tipe 70... 13

2.10. Perspektif Rumah Tipe 70 ... 14

2.11. Terang Langsung ... 16

2.12. Terang Tidak Langsung... 17

2.13. Sudut Sinar Datang ... 17

2.14. Pemantulan Cahaya Di Permukaan Benda ... 18

2.15. Vegetasi sebagai kontrol radiasi ... 21

2.16. Diagram Kerangka Berfikir ... 26

3.1. Peta Lokasi Sawahan, Ngemplak, Boyolali ... 28

3.2. Site Plan Perumahan Pesona Sawahan... 29

3.3. Peta Lokasi BelangWetan, KlatenUtara, Klaten... 29

3.4. Site Plan Perumahan Griya Prima... 30

3.5. Peta Lokasi Kalikotes, Kalikotes, Klaten... 31

3.6. Site Plan Perumahan Cipta Griya Bersinar ... 32

(15)

commit to user

xv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1. Penelitan Relevan ... 23

3.1. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian ... 33

3.2. Daftar Populasi ... 36

3.3.IESNA Recommended Iluminance Value... 39

3.4. Kisi-Kisi Angket ... 41

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

(17)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Cahaya mutlak diperlukan dalam ruangan. Pencahayaan mempunyai beberapa fungsi, antara lain memberikan rasa nyaman bagi orang-orang di dalamnya, menciptakan efek-efek tertentu, serta mempengaruhi kesehatan mata. Berdasarkan sumber cahayanya, pencahayaan terdiri dari dua jenis yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pencahayaan alami merupakan pencahayaan yang berasal dari sumber matahari baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pencahayaan buatan sering disebut pencahayaan elektrik karena bersumber dari lampu. Pada penelitian ini, akan memfokuskan pada pencahayaan alami.

(18)

Cahaya alami yang nyaman harus sesuai dengan persyaratan kenyamanan visual dan termal. Sebagian besar desain rumah di beberapa perumahan kurang memperhatikan aspek pencahayaan alami sehingga persyaratan kenyamanan visual dan termal tidak terpenuhi. Kedua kenyamanan tersebut berhubungan erat dengan sistem bukaan dan vegetasi. Syarat-syarat bukaan yang harus dipenuhi untuk menghasilkan pencahayaan yang nyaman adalah luasan dan arahnya. Vegetasi dapat mengurangi cahaya matahari yang masuk ke ruangan dan dapat menurunkan suhu udara. Tapi, saat ini masih banyak perancangan dan pengembangan rumah kurang memperhatikan persyaratan pencahayaan yang nyaman.

Oleh karena itu, penulis merancang sebuah penelitian tentang pencahayaan alami di lokasi perumahan kemudian ditinjau berdasarkan syarat-syarat pencahayaan alami yang nyaman. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam perancangan dan pengembangan rumah dengan memperhatikan pencahayaan alami yang nyaman.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :

1. Sebagian besar desain rumah di perumahan kurang memperhatikan aspek pencahayaan alami.

2. Pencahayaan alami yang kurang memenuhi persyaratan menyebabkan ruangan menjadi gelap.

(19)

commit to user

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah agar masalah yang dikaji dalam penelitian ini menjadi terarah, maka dibuat batasan masalah sebagai berikut :

1. Pencahayaan yang diukur adalah pencahayaan alami.

2. Penelitian dilaksanakan pada lokasi, tipe perumahan, dan ruang-ruang yang ditentukan sebagai obyek penelitian seperti yang diuraikan dalam metode penelitian.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencahayaan alami akan ditinjau yaitu mengenai bukaan dan vegetasi.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah pencahayaan alami di lokasi penelitian memenuhi syarat pencahayaan yang nyaman?

2. Apakah sistem bukaan yang baik akan menghasilkan pencahayaan alami yang nyaman?

3. Apakah vegetasi berpengaruh pada pencahayaan alami dalam ruangan?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan pembatasan masalah di atas maka tujuan penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Mengetahui kondisi pencahayaan alami di lokasi penelitian.

(20)

yang nyaman.

3. Mengetahui vegetasi yang berpengaruh terhadap pencahayaan alami dalam ruangan.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bisa memberi manfaat dan solusi terhadap permasalahan penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah pengetahuan tentang pencahayaan alami dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

b. Menjadi referensi untuk penelitian lain yang relevan.

2. Manfaat Praktis

a. Menjadi acuan bagi pemilik rumah dalam mendesain ulang dan mengembangkan rumahnya.

(21)

commit to user

5 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Rumah dan Perumahan

Ada beberapa pengertian mengenai rumah dan perumahan. Menurut Intan Sari Zaitun Rahma (2010) pengertian properti perumahan adalah tanah kosong atau sebidang tanah yang dikembangkan, digunakan, atau disediakan untuk tempat kediaman, seperti single family houses, apartemen, rumah susun.

Berdasarkan Undang-Undang No 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman

a. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.

b. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

c. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan.

Menurut Intan Sari Zaitun Rahma (2010), residental properti dibagi menjadi single family residental dan multy family residental. Properti perumahan bisa dikategorikan kepada beberapa jenis:

a. Rumah tinggal, dapat dibedakan menjadi rumah elit, rumah menengah, rumah sederhana, dan rumah murah.

(22)

kondominium.

Menurut Intan Sari Zaitun Rahma (2010), rumah memiliki dua arti penting yaitu :

a. Rumah sebagai kata benda, menunjukkan bahwa tempat tinggal (rumah dan tanah sebagai komoditi).

b. Rumah sebagai kata kerja, menunjukkan suatu proses dan aktivitas manusia yang terjadi dalam pembangunan, pengembangan maupun sampai proses penghuninya.

Menurut SKB Menteri Dalam Negeri, Menteri PU, Menteri Perumahan Rakyat tahun 1992, properti perumahan dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu :

a. Rumah sederhana adalah rumah yang dibangun di atas tanah dengan luas kaveling antara 54 m² sampai 200 m² dan biaya pembangunan per m² tidak melebihi dari harga satuan per m² tertinggi untuk pembangunan perumahan dinas pemerintah kelas C yang berlaku.

b. Rumah menengah adalah rumah yang dibangun di atas tanah dengan luas kaveling antara 200 m² sampai 600 m² dan atau biaya pembangunan per m² antara harga satuan per m² tertinggi untuk pembangunan perumahan dinas pemerintah kelas C sampai A yang berlaku.

c. Rumah mewah adalah rumah yang dibangun di atas tanah dengan luas kaveling antara 600 m² sampai dengan 2000 m² dan atau biaya pembangunan per m² di atas harga satuan per m² tertinggi untuk pembangunan perumahan dinas kelas A yang berlaku.

(23)

commit to user

Menurut Suparno Sastro (2004 : 23 - 105), tipe perumahan dibagi menjadi: a. Perumahan tipe kecil, antara lain : 36, 45, 54

1) Rumah tinggal Tipe 36

Rumah tinggal tipe ini sangat minim perlengkapan ruangnya, tetapi sangat cocok untuk keluarga kecil yang hanya mempunyai satu atau dua anak. Bila ditinjau dari sisi daya beli, rumah tipe ini memang lebih terjangkau daripada tipe yang lebih besar seperti tipe 45, tipe 54, dan sebagainya.

Apabila mempunyai luasan tanah yang masih cukup luas dengan mendirikan rumah tipe 36 ini, pemilik masih banyak pilihan untuk bisa mengembangkan rumah dengan bentuk dan luas sesuai keinginan. Namun, apabila luasan tanah yang tersedia sangat terbatas (terletak pada lokasi perumahan), pemilik harus memperhitungkan seefisien mungkin penggunaan dan penataan ruang pada rumah tipe ini. Pada umumnya, rumah tipe 36 mempunyai dua ruang tidur, ruang makan, ruang tamu, dan kamar mandi.

(24)

Gambar 2.2. Tampak Depan Rumah Tipe 36 Sumber : (Sastro, 2004 : 24)

2) Rumah tipe 45

Rumah tipe 45 memang termasuk dalam kategori bangunan yang kecil, akan tetapi sudah lebih longgar penataan ruangnya bila dibanding dengan tipe dibawahnya. Dengan menempatkan dua ruang tidur (ruang tidur utama dan ruang tidur anak) di sekeliling ruang keluarga dan ruang makan, akan diperoleh kesatuan tatanan ruang yang terpadu dan harmonis serta berkesan longgar.

(25)

commit to user

Gambar 2.3. Denah Rumah Tipe 45 Sumber : (Sastro, 2004 : 25)

(26)

3) Rumah tinggal tipe 54

Ukuran 54 memang belum termasuk ukuran yang bisa disebut besar, namun sebenarnya ukuran ini sudah cukup luas bagi sebuah keluarga kecil yang ingin mempunyai sarana papan untuk kelangsungan hidupnya.

(27)

commit to user

Gambar 2.6. Tampak Depan Rumah Tipe 54 Sumber : (Sastro, 2004 : 28)

b. Perumahan tipe sedang dan menengah, antara lain : 60, 70, 74, 110, 116, 120

1) Rumah tinggal tipe 60

Pada rumah tipe ini, cukup banyak kebutuhan ruang yang bisa dimasukkan. Meskipun demikian, pemilik tetap harus memperhatikan pola tatanan ruang dan sirkulasi dalam bangunan tersebut. Pola tatanan ruang dan pengaturan sirkulasi yang buruk akan berkesan sesak dan tidak nyaman karena crossing (benturan) yang terjadi antara sesama pengguna ruang.

(28)
(29)

commit to user

2) Rumah tinggal tipe 70

Penggunaan lahan secara efisien dan sesuai tuntutan fungsi bangunan serta kegiatan yang akan diwadahi dalam rumah, maka tipe 70 merupakan tawaran sebuah tipe yang cukup besar untuk sebuah keluarga kecil (orang tua dan dua orang anak).

Penataan ruang adalah penempatan ruang sesuai fungsi dan jenis kegiatan yang terjadi di dalamnya, misalnya ruang tamu bisa diletakkan di belakang teras, ruang keluarga, dan rumah makan diletakkan di belakang ruang tamu, ruang tidur utama maupun ruang tidur anak harus diletakkan pada bagian yang tidak bising sehingga akan terasa nyaman saat digunakan untuk istirahat. Pada umumnya, rumah tipe ini terdiri dari satu kamar tidur utama, dua kamar tidur anak, ruang keluarga, ruang tamu, dapur, garasi, dan kamar mandi.

(30)

Gambar 2.10. Perspektif Rumah Tipe 70 Sumber : (Sastro, 2004 : 32)

3) Rumah tinggal tipe 74

Rumah tinggal tipe 74 ke atas biasanya bisa menampung sejumlah ruang yang dibutuhkan oleh keluarga dengan jumlah anggota lebih dari 5 orang. Setidaknya, dalam rumah tersebut bisa dibuat minimal tiga ruang tidur dan satu ruang tidur pembantu.

Selain itu, bila ditinjau dari segi luasan, luas 74 cukup terasa lapang apabila digunakan oleh penghuninya. Dengan dihadirkannya ruang makan dan ruang tengah di tengah ruang-ruang yang lain, meskipun rumah ini lebih besar, tetap akan memberikan kesan akrab terhadap sesama anggota keluarga.

(31)

commit to user

biasanya sebuah keluarga yang tidak tergolong kecil memang membutuhkan pembantu melakukan tugas-tugas rumah tangganya.

c. Perumahan tipe besar dan mewah, antara lain : 150, 255, 264, 277, 278, 300, 300, 308, 315, 422

Sebuah bangunan rumah tinggal yang mempunyai luas lebih dari 150 m², pasti mempunyai jumlah ruang yang banyak dengan luasan setiap ruang yang lebih besar, begitupun ruang sirkulasinya. Unsur-unsur kesatuan dan keseimbangan aksesibilitas pencapaian dalam setiap ruang yang dihadirkan dalam rumah tersebut harus dipertimbangkan dengan baik agar tidak menimbulkan kesenjangan dalam pemakaian oleh penghuninya.

Penataan ruang dalam sebuah rumah yang besar dan mempunyai banyak ruang membutuhkan pertimbangan lebih kompleks. Untuk itu, agar di dalam rumah tersebut bisa tercipta rasa nyaman, tenang, lapang, terang, ruang-ruang tersebut harus ditata sesuai hakikat fungsi masing-masing. Terlebih lagi, ruang-ruang tersebut bersifat umum dan lebih bising bila dibandingkan dengan ruang-ruang yang lain seperti ruang tidur, kamar mandi, ruang kerja, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa tipe perumahan dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Perumahan tipe kecil, antara lain tipe 36, 45, 54.

2. Perumahan tipe sedang dan menengah, antara lain tipe 60, 70, 74, 110, 116, 120

(32)

2. Pencahayaan Alami

a. Definisi Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang bersumber dari cahaya matahari. Pencahayaan alami yang baik sekitar jam 08.00 sampai dengan jam 16.00 waktu setempat, terdapat cukup banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan (Suwantoro, 2006 : 1). Pencahayaan alami memberi manfaat visual, thermal, dan psikologis selain kegunaan praktis berupa pengurangan energi untuk pencahayaan buatan. Intensitas sinar matahari berubah sesuai dengan waktu, musim dan lokasi. Sinar matahari dapat dibaurkan oleh awan, kabut, uap air, dan dipantulkan dari tanah atau permukaan lain yang berada di sekitar bangunan.

b. Terang Alami

1) Terang langsung

Gambar 2.11. Terang Langsung

Sumber : (Handout Fisika Bangunan FPTK UPI, 2010)

Keterangan : 1. Cahaya langsung dari matahari pada bidang kerja. 2. Cahaya pantulan dari benda-benda sekitar.

3. Cahaya pantulan dari halaman, yang untuk kedua kalinya dipantulkan oleh langit-langit dan dinding ke arah bidang kerja.

(33)

commit to user

Gambar 2.12. Terang Tidak Langsung

Sumber : (Handout Fisika Bangunan FPTK UPI, 2010)

c. Pemantulan Cahaya Matahari

1) Tingkat terang pantulan

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat terang pantulan : - Sudut datang sinar

Semakin besar sudut datang sinar, semakin lemah sinar yang dipantulkan dibandingkan dengan jika sinar tersebut jatuh tegak lurus pada bidang pantul.

Gambar 2.13. Sudut Sinar Datang Sumber : (Hajar Suwantoro, 2006) - Tekstur permukaan benda

(34)

Gambar 2.14. Pemantulan Cahaya Di Permukaan Benda Sumber : (Hajar Suwantoro, 2006)

- Warna cahaya dan warna bidang

Warna cahaya dan warna bidang juga menentukan tingkat terang pantulan. Misalnya, warna biru jatuh pada bidang warna yang gelap seperti hijau, maka sinar tersebut akan dipantulkan dengan intensitas yang kecil.

- Keadaan udara pada saat itu

Semakin bersih udara dari partikel-partikel debu dan asap, maka sinar yang terkena cahaya semakin terang karena tidak terhalang oleh partikel-partikel tersebut.

- Jarak antara sumber cahaya dan bidang pantul

Semakin jauh sumber cahaya dari bidang pantul, maka semakin lemah kekuatan iluminansi cahaya yang dipantulkan, atau dapat dikatakan, kekuatan iluminansi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber cahaya dengan bidang pantul.

2) Bidang pantul dengan pencahayaan ruang

(35)

commit to user

3. Syarat Pencahayaan Alami yang Nyaman

a. Bukaan

1) Fungsi bukaan

a) Untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk supaya tidak terlalu berlebihan tetapi juga mencukupi kebutuhan cahaya dalam sebuah ruangan.

b) Menambah fungsi dari segi estetika pada ruang dan bangunan. 2) Luasan Bukaan

Luasan bukaan ideal untuk mendapatkan pencahayaan alami yang nyaman adalah 10-20 % dari luas lantai.

3) Arah bukaan terhadap mata angin

a) Indonesia terletak di daerah tropis, menyebabkan intensitas matahari cukup tinggi sehingga fasad yang terbuka sebaiknya menghadap ke selatan atau ke utara. Hal ini dimaksudkan untuk meniadakan radiasi langsung dari cahaya matahari pada pagi dan sore hari.

b) Bukaan pada sisi timur untuk memasukkan cahaya pagi dan bukaan pada sisi barat berpotensi menciptakan panas karena cahaya matahari sore, yang jika masuk ke dalam rumah membutuhkan waktu cukup lama untuk hilang.

c) Jika memang terpaksa bukaan menghadap barat, radiasi cahaya matahari langsung dapat dikurangi dengan adanya tirai, jalusi atau kisi-kisi, overstek, dan kanopi.

b. Vegetasi

Menurut Mohammad Pranoto S (2008), potensi vegetasi dalam menentukan kondisi mikroklimatik yaitu:

1) Sebagai kontrol radiasi sinar matahari 2) Sebagai kontrol angin

3) Sebagai kontrol kelembaban dan temperatur

(36)

mengarahkannya, mereduksi suhu udara pada siang hari sekitar 15° F, dan kondisi tertentu dapat meningkatkan suhu udara di malam hari, dimana hal ini sangat diinginkan di beberapa jenis iklim, yaitu di daerah beriklim moderat dan iklim dingin.

Beberapa prinsip pemilihan vegetasi menurut Mohammad Pranoto S (2008) adalah sebagai berikut :

1) Vegetasi dapat mereduksi akumulasi salju dipermukaan tanah, atau sebagai perisai radiasi sinar matahari.

2) Vegetasi khususnya dengan daun jarum, dapat digunakan untuk menangkap kabut, serta dapat meningkatkan pencapaian sinar matahari pada permukaan tanah.

3) Pepohonan yang berdaun rontok dapat menyaring direct sunlight selama musim panas, sehingga mereduksi beban pendinginan (cooling load) bangunan. Sebaliknya, pada musim dingin, menyaring sinar sehingga mereduksi beban pemanasan (heating load) pada bangunan.

4) Area hijau dapat menjadi lebih dingin pada siang hari, dan biasanya sedikit melepas panas pada malam hari.

Untuk menciptakan kondisi yang nyaman dalam suatu bangunan, perlu dilakukan pengendalian atau kontrol radiasi sinar matahari baik yang diserap ataupun yang dipantulkan kembali ke atmosfer. Pada dasarnya peran vegetasi dalam kontrol radiasi ini adalah pantulan dengan :

1) Mengendalikan efek radiasi melalui filtrasi sinar matahari (direct radiation)

2) Kontrol permukaan tanah (ground surface) 3) Kontrol re-radiasi

(37)

commit to user

Gambar 2.15. Vegetasi sebagai kontrol radiasi Sumber : (Mohammad Pranoto S , 2008)

4) Kenyamanan

Kenyamanan adalah bagian dari salah satu sasaran karya arsitektur. Kenyamanan terdiri atas kenyamanan psikis dan kenyamanan fisik.

a. Kenyamanan psikis yaitu kenyamanan kejiwaan (rasa aman, tenang, gembira, dll) yang terukur secara subyektif (kualitatif).

b. Kenyamanan fisik dapat terukur secara obyektif (kuantitatif), yang meliputi kenyamanan spasial, visual, auditorial dan termal.

Kenyamanan termal merupakan salah satu unsur kenyamanan yang sangat penting, karena menyangkut kondisi suhu ruangan yang nyaman. Untuk menyelenggarakan aktivitasnya di dalam ruang agar terlaksana secara baik, manusia memerlukan kondisi fisik tertentu di sekitarnya yang dianggap nyaman. Salah satu persyaratan kondisi fisik yang nyaman adalah suhu nyaman, yaitu suhu kondisi termal udara di dalam ruang yang tidak mengganggu tubuhnya.

(38)

mempengaruhi kenyamanan ruang. Sementara itu, pengaruh kelembaban udara pada kenyamanan ruang tidak sebesar pengaruh suhu udara. Faktor kecepatan udara juga mempengaruhi kenyamanan termal, dimana semakin besar kecepatan udara akan berpengaruh terhadap semakin rendahnya suhu kulit manusia.

(39)

commit to user

B. Penelitian Relevan

Berapa penelitian yang relevan dan dijadikan referensi pada penelitian ini adalah Tabel 2.1. Penelitian Relevan

1. Untuk mengetahui seberapa besar terang cahaya alami dalam suatu ruangan. 2. Untuk mengetahui

(40)
(41)

commit to user

C. Kerangka Berfikir

Berdasarkan uraian pada kajian pustaka maka dapat disimpulkan kerangka berfikir sebagai berikut :

Perumahan merupakan lingkungan pemukiman yang padat. Letak bangunan yang berderet dan saling berhimpitan satu sama lain mengakibatkan minimalnya bukaan yang tersedia. Bukaan hanya ada pada posisi depan saja sehingga cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan tidak bisa maksimal. Sistem pencahayaan yang buruk tersebut menyebabkan suasana ruangan menjadi gelap. Hal ini akan mengganggu kenyamanan visual dan termal. Selain itu, suasana gelap juga akan menuntut penggunaan lampu saat siang hari. Penggunaan lampu yang berlebihan akan meningkatkan konsumsi energi listrik sehingga biaya pemakaian lisrik juga akan meningkat. Salah satu solusi dalam masalah ini adalah pengoptimalan cahaya alami. Oleh karena itu, perlu suatu penelitian untuk mengetahui kondisi pencahayaan alami dalam suatu rumah. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil beberapa sampel di perumahan tipe kecil dan menengah, baik yang masih standar maupun yang sudah pengembangan.

(42)
(43)

commit to user

D. Hipotesis

1. Pencahayaan alami di obyek penelitian kurang memenuhi persyaratan pencahayaan yang nyaman.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan dibeberapa perumahan sebagai berikut :

a. Perumahan Pesona Sawahan yang beralamat di Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

b. Perumahan Griya Prima Timur yang beralamat di Belang Wetan, Klaten Utara, Klaten.

(45)

commit to user

Gambar 3.2. Site Plan Perumahan Pesona Sawahan, Boyolali Sumber : survey lapangan

(46)
(47)

commit to user

(48)
(49)

commit to user

2. Waktu Pelaksanaan Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret tahun 2012. Berikut ini tabel alokasi waktu kegiatan penelitian yang penulis rencanakan :

Tabel 3.1. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian

No Kegiatan

Tahun 2012

Februari Maret April Mei Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2

Pada tahap ini dilakukan pencarian literatur, bahan, referensi buku, dan sumber lain yang mempunyai hubungan dengan hal yang akan dibahas oleh peneliti. Adapun materi yang perlu dipersiapkan antara lain tentang :

a. Perumahan

(50)

f. Teori fisika bangunan tentang pencahayaan alami g. Jurnal-jurnal penelitian yang relevan

2. Tahap Penelitian

Tahapan penelitian dijelaskan sebagai berikut : a. Tahap Pertama

Tahap pertama disebut tahap survey. Pada tahap ini, peneliti melakukan survey ke beberapa perumahan sebagai pertimbangan dalam memilih obyek penelitian.

b. Tahap Kedua

Tahap ini disebut tahap penentuan keputusan. Setelah peneliti melakukan survey di beberapa lokasi perumahan, peneliti memutuskan mengambil obyek penelitian yang berlokasi di :

1) Perumahan Pesona Sawahan yang beralamat di Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

2) Perumahan Griya Prima Timur yang beralamat di Belang Wetan, Klaten Utara, Klaten.

3) Perumahan Cipta Griya Bersinar yang beralamat di Kalikotes, Kalikotes, Klaten.

c. Tahap Ketiga

Tahap ketiga disebut tahap penelitian. Pada tahap ini peneliti mengambil data langsung dari lapangan dengan cara pengukuran fisik (menggunakan alat), pengukuran adaptif (menggunakan angket), dan pengamatan kondisi rumah. Adapun jenis kegiatan penelitian secara rinci adalah sebagai berikut:

1) Pengukuran fisik dengan alat pengukur pencahayaan yaitu light meter merk Lutron LX-107.

(51)

commit to user

d. Tahap Keempat

Tahap ini disebut sebagai tahap analisis data. Data hasil pengukuran, kemudian dianalisis dengan teknik statistik diskriptif.

e. Tahap Kelima

Tahap ini disebut penentuan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan ini berdasarkan dari analisis data pada tahap sebelumnya, sebagai jawaban dari hipotesis yang telah dirumuskan.

(52)

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2010:80), pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah rumah tinggal tipe kecil dan menengah. Berikut ini di sajikan daftar jumlah populasi dari masing-masing lokasi perumahan :

Tabel 3.2. Daftar Populasi No. Nama

Perumahan

Jumlah Rumah per Tipe Jumlah

1. Pesona

(53)

commit to user

D. Teknik Pengambilan Sampel

Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, diperlukan suatu teknik pengambilan sampel yang tepat. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel bertujuan atau purposive sample.

Menurut Suharsimi Arikuntoro, sampel bertujuan atau purposive sample dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini dilakukan karena adanya keterbatasan tenaga sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar. Jumlah keseluruhan sampel ada 18 sampel yang tersebar ditiga lokasi perumahan. Kriteria pengambilan sampel tersebut berdasarkan tipe rumah dan arah bangunan terhadap mata angin, yaitu sebagai berikut :

1. Pengambilan sampel menyesuaikan dengan kondisi di obyek penelitian. 2. Tiap satu tipe rumah dan satu arah bangunan diambil satu sampel.

a. Perumahan Griya Prima Timur, Klaten berjumlah 7 sampel 1) Tipe 54+ menghadap timur laut

2) Tipe 36+ menghadap selatan 3) Tipe 54 menghadap timur 4) Tipe 21+ menghadap barat 5) Tipe 45 menghadap barat daya 6) Tipe 21 menghadap barat 7) Tipe 70 menghadap barat

b. Perumahan Cipta Griya Bersinar, Klaten berjumlah 8 sampel 1) Tipe 29+ menghadap selatan

(54)

c. Perumahan Pesona Sawahan, Boyolali berjumlah 3 sampel 1) Tipe 21+ menghadap selatan

2) Tipe 36+ menghadap selatan 3) Tipe 45+ menghadap selatan

E. Pengumpulan Data

1. Sumber Data

Sumber data dalam pelaksanaan penelitian ini dikelompokan menjadi dua macam yaitu :

a Data Primer adalah data yang difungsikan sebagai data utama yang diperoleh secara langsung.

b Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi dan informasi penunjang yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan.

Data yang dipergunakan untuk analisis hasil penelitian adalah data primer, sedangkan data sekunder dipergunakan untuk menunjang analisis data.

2. Teknik Mendapatkan Data

Teknik mendapatkan data dalam penelitian ini ada tiga cara, yaitu : a. Pengukuran dengan Light Meter

(55)

commit to user

Tabel 3.3. IESNA Recommended Illuminance Value Illuminance

General illuminance throughout room :

A 20-30-50

(2-3-5)

Public spaces with dark surroundings

B 50-75-100

(5-7.5-10)

Simple orientation for short temporary visits.

C 100-150-200

(10-15-20)

Working spaces where visual tasks are only occasionally performed.

(Sumber : Egan & Olgyay, 2002 : 34) b. Pengukuran dengan Humidity

Pengukuran ini dilakukan pada ruang-ruang yang telah ditentukan yaitu ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, dan dapur dengan menggunakan alat pengukur suhu dan kelembaban udara yaitu humidity pada pusat kegiatan. Data hasil pengukuran dikatakan memenuhi syarat suhu dan kelembaban yang nyaman jika sesuai dengan standar yang direkomendasikan oleh SNI 03-6572-2001 tentang Tata Cara Sistem Perancangan Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung yaitu :

1) Suhu udara nyaman adalah 20,5º C – 27,1º C 2) Kelembaban udara nyaman adalah 40 % - 50 % c. Pengukuran dengan kuesioner atau Angket

(56)

Arikunto (2006:128) menyatakan bahwa angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi, atau hal-hal yang ia ketahui.

Jenis kuesioner atau angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yaitu kuesioner yang pilihan jawabannya sudah disediakan oleh peneliti, sehingga membantu responden untuk menjawab dengan cepat.

Pemberian skor tiap item pertanyaan menurut skala Likert dalam Sugiyono (2009:93) yaitu sebagai berikut :

1) Skor 5 untuk alternatif jawaban sangat nyaman. 2) Skor 4 untuk alternatif jawaban nyaman. 3) Skor 3 untuk alternatif jawaban cukup nyaman. 4) Skor 2 untuk alternatif jawaban tidak nyaman. 5) Skor 1 untuk alternatif jawaban sangat tidak nyaman.

(57)

commit to user

Berikut ini kisi-kisi angket yang akan dipakai sebagai instrumen penelitian : Tabel 3.4. Tabel Kisi-Kisi Angket

No Aspek Indikator Nomor Item Jumlah

1. Kenyamanan visual

- Nyaman dengan silau matahari.

Menurut Sugiyono, valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur.

Uji validitas akan dilakukan dengan menggunakan metode korelasi person yang dalam program SPSS 19 yaitu mengkorelasikan setiap pertanyaan dengan nilai total pertanyaan. Selanjutnya nilai signifikansi korelasi dapat diketahui melalui r tabel dengan taraf kesalahan 5 %.

Dasar pengambilan keputusan :

a. Jika r hitung > r tabel, maka ítem pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).

(58)

Ítem pertanyaan dinyatakan valid berarti layak untuk digunakan sebagai instrumen dalam penelitian, sedangkan ítem pertanyaan dinyatakan tidak valid berarti tidak bisa digunakan sebagai instrumen dalam penelitian.

2. Uji Reabilitas Instrumen

Menurut Sugiyono, reliabel berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Uji reabilitas akan dilakukan dengan metode alpha cronbach dalam program SPSS 19 dengan taraf kesalahan 5 %

Dasar pengambilan keputusan :

a. Jika α> r tabel, maka ítem pertanyaan dinyatakan reliabel. b. Jika α< r tabel, maka ítem pertanyan dinyatakan tidak reliabel.

G. Analisis Data

Data-data diperoleh dari hasil pengukuran, akan digunakan sebagai bahan masukan dalam analisa data. Analisa data adalah cara untuk mengolah angka, menguji hipotesis, dan untuk memperoleh kesimpulan.

1. Hipotesis Pertama

Hipotesis pertama adalah pencahayaan alami di obyek penelitian kurang memenuhi persyaratan yang nyaman. Hipotesis ini akan di uji dengan statistik deskriptif.

(59)

commit to user

a. Hipotesis

Ho = pencahayaan memenuhi standar Ha = pencahayaan tidak memenuhi standar b. Rumusan Hipotesis

Tabel 3.5. Rumusan Hipotesis 1 Fungsi

(60)

a. Luasan

Luasan bukaan ideal untuk mendapatkan pencahayaan alami yang nyaman adalah 10-20 % dari luas lantai.

b. Arah bukaan terhadap mata angin

Arah bukaan idealnya yang paling baik adalah menghadap selatan dan utara. Hal ini dimaksudkan untuk meniadakan radiasi langsung saat pagi dan sore hari. Namun, jika terpaksa menghadap barat atau timur, radiasi matahari bisa dihindari dengan rekayasa desain.

3. Hipotesis Ketiga

Hipotesis ketiga adalah vegetasi berpengaruh pada pencahayaan alami dalam ruangan. Pengujian hipotesis ini menggunakan analisis deskriptif. Data hasil pengukuran dengan light meter akan dianalisis berdasarkan pertimbangan vegetasi, yaitu :

a. Tinggi rendahnya pohon berpengaruh pada pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan.

b. Jarak pohon dengan rumah berpengaruh pada pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan.

c. Lebar tajuk pohon berpengaruh pada pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan.

(61)

commit to user

45

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

1. Data Hasil Pengukuran

a. Data Pengukuran Fisik

Pengukuran fisik adalah pengukuran dengan menggunakan alat ukur. Data

hasil pengukuran dapat dilihat pada lampiran I. Adapun data hasil pengukuran

fisik ada 2 macam, yaitu :

1) Data hasil pengukuran pencahayaan dengan alat light meter.

2) Data hasil pengukuran suhu dan kelembaban udara dengan humidity.

b. Data Hasil Pengukuran Adaptif

Pengukuran adaptif adalah pengukuran dengan menggunakan angket atau

kuesioner. Data hasil pengukuran adaptif dapat dilihat pada lampiran II.

2. Data Lokasi Penelitian

a. Data Umum

1) Perumahan Griya Prima Timur

a) Nama developer : PT. Inti Griya Prima Sakti

b) Lokasi Perumahan : Belang Wetan, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah

c) Batasan-batasan kawasan

Utara : Permukiman

Selatan : Permukiman

(62)

2) Perumahan Cipta Griya Bersinar

a) Nama developer : CV. Cipta Griya Propertindo

b) Lokasi Perumahan : Kalikotes, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah

c) Batasan-batasan kawasan

Utara : Persawahan

Selatan : Permukiman

Barat : Persawahan

Timur : Persawahan

3) Perumahan Pesona Sawahan

a) Lokasi Perumahan : Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah

b) Batasan-batasan kawasan

Utara : Persawahan

Selatan : Persawahan

Barat : Persawahan

Timur : Permukiman

b. Data Khusus

Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi penelitian dan setiap lokasi

(63)

commit to user

1) Tipe 54+ Menghadap Timur Laut

2) Tipe 36+ Menghadap Selatan

(64)

5) Tipe 45 Menghadap Barat Daya

(65)

commit to user

b. Perumahan Cipta Griya Bersinar, Klaten

1) Tipe 29+ Menghadap Selatan

(66)

4) Tipe 36 Menghadap Barat

(67)

commit to user

7) Tipe 70 Menghadap Timur

(68)

1) Tipe 21+ Menghadap Selatan

2) Tipe 36+ Menghadap Selatan

(69)

commit to user

1. Uji Validitas Angket

Uji validitas angket digunakan untuk mengetahui status valid atau tidaknya

tiap butir pertanyaan dalam angket. Jika butir pertanyaan dinyatakan tidak valid,

berarti butir pertanyaan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai instrumen

pengukuran dalam penelitian.

Metode keputusan untuk uji validitas angket dalam SPSS 19 yaitu :

a. Jika r hitung > r tabel, maka ítem pertanyaan berkorelasi signifikan

terhadap skor total (dinyatakan valid).

b. Jika r hitung < r tabel, maka ítem pertanyan tidak berkorelasi signifikan

terhadap skor total (dinyatakan tidak valid).

Pada tabel output uji validitas instrumen (lampiran III), dapat disimpulkan

sebagai berikut :

Berdasarkan output ada 10 item pertanyaan yang tidak valid dan 20

pertanyaan yang valid. Item pertanyaan yang valid memenuhi syarat r hitung > r

tabel berarti item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total. Maka,

item pertanyaan yang digunakan dalam penelitian berjumlah 20 item. Nilai r tabel

dicari pada kolom taraf kesalahan 0,05 dan jumlah data (n) = 18, maka didapat

nilai r tabel adalah 0,468.

a. Uji Reliabilitas Angket

Uji reliabilitas angket digunakan untuk mengetahui status reliabel atau

tidaknya tiap butir pertanyaan dalam angket. Jika butir pertanyaan dinyatakan

tidak reliabel, berarti butir pertanyaan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai

instrumen pengukuran dalam penelitian.

Metode keputusan untuk uji reliabilitas angket dalam SPSS 19 yaitu :

a. Jika α> r tabel, maka ítem pertanyaan dinyatakan reliabel.

(70)

disimpulkan sebagai berikut :

Berdasarkan hasil output didapat nilai alpha sebesar 0,920, nilai ini kemudian

dibandingkan dengan nilai r tabel. Nilai r tabel dicari pada kolom taraf kesalahan

0,05 dan jumlah data (n) = 18, maka didapat r tabel adalah 0,468. Oleh karena

nilai r hitung = 0,920 > r tabel = 0,468 maka dapat disimpulkan bahwa item-item

tersebut reliabel.

C. Pengujian Hipotesis

1. Uji Hipotesis Pertama

Hipotesis pertama menyatakan bahwa pencahayaan alami di obyek

penelitian belum memenuhi persyaratan yang nyaman. Hipotesis ini di uji dengan

menggunakan teknik analisis diskriptif. Teknik pengujian ini menyajikan data

hasil pengukuran pencahayaan alami dalam bentuk tabel dan dianalisis

berdasarkan standar pencahayaan alami yang nyaman. Hasil pengujian hipotesis

pertama terdapat pada lampiran V.

2. Uji Hipotesis Kedua

Hipotesis kedua menyatakan bahwa sistem bukaan yang baik akan

menghasilkan pencahayaan alami yang nyaman. Hipotesis ini diuji dengan

menggunakan analisis diskriptif. Berdasarkan kajian teori, syarat bukaan yang

menghasilkan pencahayaan alami yang nyaman adalah sebagai berikut :

a. Luas Bukaan

Luasan bukaan ideal untuk mendapatkan pencahayaan alami yang nyaman

(71)

commit to user

Berdasarkan kajian teori diatas, maka data hasil penelitian ini dapat

dianalisis sebagai berikut :

a. Perumahan Griya Prima Timur, Klaten

1. Tipe 54+ Menghadap Timur Laut

a) Ruang Tamu

1) Luas Bukaan

Di ruang tamu ada dua jenis bukaan yaitu jendela dan bovenlight.

Masing-masing jenis bukaan tersebut berjumlah 2. Jendela berukuran ± 60 cm x

120 cm dan bovenlight± 60 cm x 30 cm.

Luas bukaan = (2 x (60x120) cm) + (2 x (60x30) cm) = 18.000 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 20 % ( memenuhi syarat )

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke timur laut sehingga tidak terkena radiasi

matahari secara langsung.

Analisis :

Luas bukaan memenuhi syarat dan arah bukaan terhindar dari

radiasi matahari secara langsung. Namun hasil pengukuran dengan light

meter menunjukkan bahwa pencahayaan tidak memenuhi syarat. Hal ini

(72)

cahaya yang masuk berupa pantulan. Kondisi seperti ini menyebabkan

kenyamanan visual kurang baik. Pengukuran kenyamanan termal

menunjukkan suhu udara 32° C dan kelembaban udara 70 % .

b) Ruang Tidur 1

1) Luas Bukaan

Di ruang tidur ini terdapat satu jendela dengan ukuran ± 60 cm x 120 cm.

Luas bukaan = 60 cm x 120 cm = 7.200 cm²

Luas lantai = 400 cm x 400 cm = 160.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 4,5 % ( tidak memenuhi syarat)

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke timur laut sehingga tidak terkena radiasi

matahari secara langsung.

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat dan arah bukaan tidak terkena

radiasi matahari secara langsung sehingga hasil pengukuran dengan light

meter tidak memenuhi syarat. Hal ini disebabkan karena luas bukaan yang

tidak memenuhi syarat dan adanya perluasan bangunan (warung) di

depannya. Kondisi seperti ini menyebabkan kenyamanan visual kurang

baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 32° C dan

kelembaban udara 75 %.

c) Ruang Tidur 2

Di ruang ini tidak ada bukaan, baik itu jendela maupun bovenlight.

Kondisi ruangan menjadi gelap sehingga jika beraktivitas di ruang ini saat

siang hari, harus menyalakan lampu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan disekitarnya dan

(73)

commit to user

Di ruang makan tidak ada jendela, tapi mendapat pantulan dari jendela

yang berada di ruang tamu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan disekitarnya dan

bangunan tetangga. Posisi ruang seperti ini tidak memungkinkan adanya

bukaan pada dinding, tapi memungkinkan adanya bukaan di atap

(skylight). Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan visual kurang

baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 32° C dan

kelembaban udara 75 %.

e) Dapur

Di dapur tidak ada bukaan. Kondisi ruangan menjadi gelap sehingga jika

beraktivitas di ruang ini saat siang hari, harus menyalakan lampu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan di sekitarnya

dan bangunan tetangga. Posisi ruang seperti ini tidak memungkinkan

adanya bukaan pada ketiga sisi dinding, tapi masih memungkinkan adanya

bukaan pada satu sisi dinding yaitu dinding yang berbatasan dengan ruang

terbuka (tempat jemuran). Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan

visual kurang baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu

udara 33° C dan kelembaban udara 77 %.

(74)

1) Luas Bukaan

Di ruang tamu ada dua jenis bukaan yaitu jendela dan bovenlight.

Masing-masing jenis bukaan tersebut berjumlah 6 buah. Jendela

berukuran ± 60 cm x 120 cm dan bovenlight± 60 cm x 40 cm.

Luas bukaan = (6 x (60x120) cm) + (6 x (60x30) cm) = 54.000 cm²

Luas lantai = 300 cm x 500 cm = 150.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 36 % ( melebihi syarat )

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke selatan sehingga tidak terkena radiasi

matahari secara langsung.

Analisis :

Luas bukaan melebihi syarat dan arah bukaan tidak terkena radiasi

matahari secara langsung. Berdasarkan teori yang ada, seharusnya cahaya

yang masuk juga melebihi syarat, tapi hasil pengukuran dengan light

metermemenuhi syarat. Hal ini di sebabkan karena ada vegetasi di depan

bukaan dan adanya dinding penghalang di teras. Kondisi ini

menyebabkan kenyamanan visual baik. Pengukuran kenyamanan termal

menunjukkan suhu udara 30° C dan kelembaban udara 77 %.

b) Ruang Tidur 1

1) Luas Bukaan

Di ruang tidur ini ada skylight yang berupa genteng kaca dan

masing-masing berdimensi ± 60 cm x 20 cm, berada di sudut ruangan.

Luas bukaan = 60 cm x 20 cm = 1.200 cm²

Luas Lantai = 300 cm x 250 cm = 75.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 1,6 % ( tidak memenuhi syarat)

(75)

commit to user

menunjukkan suhu udara 30° C dan kelembaban udara 78 %.

c) Ruang Tidur 2

Di ruang ini tidak ada bukaan, baik itu jendela, bovenlight, maupun

skylight. Kondisi ruangan menjadi gelap sehingga jika beraktivitas di

ruang ini saat siang hari, harus menyalakan lampu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan di sekitarnya

dan bangunan tetangga. Posisi ruang seperti ini tidak memungkinkan

adanya bukaan pada dinding, tapi masih memungkinkan adanya bukaan di

atap (skylight). Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan visual

kurang baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara

30° C dan kelembaban udara 78 %.

d) Ruang Makan.

1) Luas Bukaan ( ditinjau dari pencahayaan seluruh ruangan )

Di ruang makan ada skylight berupa empat genteng kaca dengan ukuran

masing-masing ± 30 cm x 20 cm yang berada di atas pusat kegiatan.

Luas bukaan = 4 x (30 cm x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 2,6 % ( tidak memenuhi syarat)

2) Luas Bukaan ( ditinjau dari sistem pencahayaan setempat )

Luas bukaan = 4 x (30 cm x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 150 cm x 100 cm = 15.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 16 % ( memenuhi syarat)

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, posisi bukaan berpotensi

menghasilkan tingkat pencahayaan yang tinggi, tapi hasil pengukuran

dengan light meter tidak memenuhi syarat (jika ditinjau dari pencahayaan

seluruh ruangan). Hal ini di sebabkan karena kurangnya luas bukaan. Tapi,

jika ditinjau dari sistem pencahayaan setempat, pengukuran dengan light

(76)

menunjukkan suhu udara 30° C dan kelembaban udara 80 %.

e) Dapur

1) Luas Bukaan ( ditinjau dari pencahayaan seluruh ruangan)

Di ruang makan ada skylightberupa empat genteng kaca dengan

masing-masing berukuran sekitar 30 cm x 20 cm yang berada di atas pusat

kegiatan.

Luas bukaan = 4 x (30 cm x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 2,6 % (tidak memenuhi syarat)

2) Luas Bukaan ( ditinjau dari pencahayaan setempat)

Luas bukaan = 4 x (30 cm x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 200 cm x 100 cm = 20.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 12 % ( memenuhi syarat)

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, posisi bukaan berpotensi

untuk menghasilkan tingkat pencahayaan yang tinggi, dan hasil

pengukuran dengan light meter tidak memenuhi syarat (bila ditinjau dari

pencahayaan seluruh ruangan). Hal ini di sebabkan karena luas bukaan

kurang. Tapi jika ditinjau dari sistem pencahayaan setempat, hasil

pengukuran dengan light meter memenuhi syarat. Kondisi di ruang ini

menyebabkan kenyamanan visual yang baik pada pusat kegiatan.

Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 31° C dan

(77)

commit to user

a) Ruang Tamu

1) Luas Bukaan

Di ruang tamu ada dua jenis bukaan yaitu jendela dan bovenlight.

Masing-masing jenis bukaan tersebut berjumlah 2 buah. Jendela berukuran ± 60

cm x 120 cm dan bovenlight± 60 cm x 40 cm.

Luas bukaan = (2 x (60x120) cm) + (2 x (60x30) cm) = 18.000 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 20 % ( memenuhi syarat )

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke timur sehingga tingkat pencahayaan alami

dalam ruangan paling terang saat pagi hari.

Analisis :

Luas bukaan memenuhi syarat dan arah bukaan menghasilkan

terang paling tinggi saat pagi hari, sehingga hasil pengukuran dengan light

meter memenuhi syarat. Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan

visual baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 31°

C dan kelembaban udara 71 %.

b) Ruang Tidur 1

1) Luas Bukaan

Di ruang tidur ini ada bukaan berupa dua jendela dan dua bovenlight.

(78)

Luas bukaan = (2 x (60x120) cm) + (2 x (60x30) cm) = 18.000 cm²

Luas lantai = 400 cm x 400 cm = 160.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 11,25 % ( memenuhi syarat)

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke timur sehingga tingkat pencahayaan alami

dalam ruangan paling terang saat pagi hari.

Analisis :

Luas bukaan memenuhi syarat, arah bukaan menghasilkan tingkat

penerangan paling tinggi saat pagi hari, tapi hasil pengukuran dengan light

meter tidak memenuhi syarat (terlalu silau). Kondisi di ruang ini

menyebabkan kenyamanan visual baik. Pengukuran kenyamanan termal

menunjukkan suhu udara 33° C dan kelembaban udara 70 %.

c) Ruang Tidur 2

Di ruang ini tidak ada bukaan. Kondisi ruangan menjadi gelap sehingga

jika beraktivitas di ruang ini saat siang hari, harus menyalakan lampu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan di sekitarnya

dan bangunan tetangga. Posisi ruang seperti ini tidak memungkinkan

adanya bukaan pada dinding, tapi masih memungkinkan adanya bukaan di

atap (skylight). Hal ini menyebabkan pengukuran dengan light metertidak

memenuhi syarat. Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan visual

kurang baik.

Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 32° C dan

kelembaban udara 80 %.

d) Ruang Makan

1) Luas Bukaan ( ditinjau dari pencahayaan seluruh ruangan )

(79)

commit to user

Perbandingan = x 100 % = 3,2 % (tidak memenuhi syarat)

2) Luas Bukaan ( ditinjau dari sistem pencahayaan setempat )

Luas bukaan = 4 x (30 cm x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 150 cm x 90 cm = 13.500 cm²

Perbandingan = x 100 % = 17,7 % ( memenuhi syarat)

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, posisi bukaan berpotensi

menghasilkan tingkat penerangan yang tinggi, tapi hasil pengukuran

dengan light metertidak memenuhi syarat (bila ditinjau dari pencahayaan

seluruh ruangan). Hal ini disebabkan karena adanya luas bukaan kurang.

Tapi, jika ditinjau dari sistem pencahayaan setempat, hasil pengukuran

dengan light meter memenuhi syarat. Kondisi di ruang ini menyebabkan

kenyamanan visual yang baik pada pusat kegiatan. Pengukuran

kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 30° C dan kelembaban udara

80 %.

e) Dapur

1) Luas Bukaan (ditinjau dari pencahayaan ke seluruh ruangan)

Di ruang makan ada skylightberupa empat genteng kaca dengan ukuran ±

30 cm x 20 cm yang berada di atas pusat kegiatan.

Luas bukaan = 4 x (30 x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 300 cm x 250cm = 75.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 3,2 % ( tidak memenuhi syarat)

2) Luas Bukaan (ditinjau dari sistem pencahayaan setempat)

Luas bukaan = 4 x (30 x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 150 cm x 70cm = 10.500 cm²

Perbandingan = x 100 % = 22,8 % ( melebihi syarat)

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, posisi bukaan berpotensi

(80)

seluruh ruangan). Hal ini di sebabkan karena adanya luas bukaan kurang.

Tapi, jika ditinjau dari sistem pencahayaan setempat, hasil pengukuran

dengan light meter melebihi syarat. Kondisi di ruang ini menyebabkan

kenyamanan visual yang berlebihan (silau) pada pusat kegiatan.

Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 30° C dan

kelembaban udara 80 %.

4. Tipe 21+ Menghadap Barat

a) Ruang Tamu

1) Luas Bukaan

Di ruang tamu ada dua jenis bukaan yaitu jendela dan bovenlight.

Masing-masing jenis bukaan tersebut berjumlah dua. Jendela berukuran ± 60 cm x

120 cm dan bovenlight± 60 cm x 30 cm.

Luas bukaan = (2 x (60x120) cm) + (2 x (60x30) cm) = 18.000 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 20 % ( memenuhi syarat )

(81)

commit to user

penerangan paling tinggi saat sore hari, tapi hasil pengukuran dengan light

meter tidak memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan adanya teras yang

cukup lebar ± 3 meter. Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan

visual kurang baik. Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu

udara 32° C dan kelembaban udara 73 %.

b) Ruang Tidur 1

Perbandingan = x 100 % = 8 % (tidak memenuhi syarat)

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke barat sehingga tingkat pencahayaan alami

dalam ruangan paling terang saat sore hari.

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, arah bukaan berpotensi

menghasilkan tingkat penerangan paling tinggi saat sore hari, dan hasil

pengukuran dengan light meter tidak memenuhi syarat. Kondisi di ruang

ini menyebabkan kenyamanan visual kurang baik. Pengukuran

kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 32° C dan kelembaban udara

76 %.

c) Ruang Makan

1) Luas Bukaan (ditinjau dari pencahayaan seluruh ruangan)

(82)

Luas bukaan = 2 x (30 cm x 20) cm = 1.200 cm²

Luas lantai = 150 cm x 90 cm = 13.500 cm²

Perbandingan = x 100 % = 8,8 % ( tidak memenuhi syarat)

Analisis :

Luas bukaan tidak memenuhi syarat, posisi bukaan berpotensi

menghasilkan tingkat penerangan paling tinggi, dan hasil pengukuran

dengan light metertidak memenuhi syarat (baik ditinjau dari pencahayaan

seluruh ruangan maupun sistem pencahayaan setempat). Hal ini

disebabkan karena adanya luas bukaan kurang. Kondisi di ruang ini

menyebabkan kenyamanan visual yang kurang baik pada pusat kegiatan.

Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 31° C dan

kelembaban udara 75 %.

d) Dapur

1) Luas Bukaan (ditinjau dari pencahayaan seluruh ruangan)

Di dapur ada skylight berupa empat genteng kaca dengan ukuran

masing-masing ± 30 cm x 20 cm yang berada di atas pusat kegiatan.

Luas bukaan = 4 x (30 x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 250 cm x 250 cm = 62.500 cm²

Perbandingan = x 100 % = 3,84 % ( tidak memenuhi syarat)

2) Luas Bukaan (ditinjau dari sistem pencahayaan setempat)

Luas bukaan = 4 x (30 x 20) cm = 2.400 cm²

Luas lantai = 200 cm x 60 cm = 12.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 20 % (memenuhi syarat)

Analisis :

(83)

commit to user

kenyamanan visual yang baik pada pusat kegiatan. Pengukuran

kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 30° C dan kelembaban udara

80 %.

5. Tipe 45 Menghadap Barat Daya

a) Ruang Tamu

1) Luas Bukaan

Di ruang tamu ada dua jenis bukaan yaitu jendela dan bovenlight.

Masing-masing jenis bukaan tersebut berjumlah dua. Jendela berukuran ± 60 cm x

120 cm dan bovenlight± 60 cm x 30 cm.

Luas bukaan = (2 x (60x120) cm) + (2 x (60x30) cm) = 18.000 cm²

Luas lantai = 250 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 20 % ( memenuhi syarat )

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke barat daya sehingga radiasi matahari langsung

dapat dihindari.

Analisis :

Luas bukaan memenuhi syarat, arah bukaan dapat menghindari

radiasi matahari secara langsung, tapi hasil pengukuran dengan light meter

tidak memenuhi syarat. Hal ini disebabkan karena adanya vegetasi di

(84)

32° C dan kelembaban udara 72 %.

b) Ruang Tidur 1

Di ruang ini tidak ada bukaan, baik itu jendela, bovenlight, maupun

skylight. Kondisi ruangan menjadi gelap sehingga jika beraktivitas di

ruang ini saat siang hari, harus menyalakan lampu.

Analisis :

Posisi ruang berhubungan langsung dengan ruangan di sekitarnya

dan bangunan tetangga. Posisi ruang seperti ini tidak memungkinkan

adanya bukaan pada dinding, tapi masih memungkinkan adanya bukaan di

atas. Kondisi di ruang ini menyebabkan kenyamanan visual kurang baik.

Pengukuran kenyamanan termal menunjukkan suhu udara 31° C dan

kelembaban udara 75 %.

c) Ruang Tidur 2

1) Luas Bukaan

Di ruang tidur ini ada bukaan berupa satu buah jendela dan satu

bovenlight. Masing-masing jendela berdimensi ± 60 cm x 120 cm dan

bovenlight berdimensi ± 60 cm x 30 cm.

Luas bukaan = (60x120) cm + (60x30) cm = 9.000 cm²

Luas lantai = 300 cm x 300 cm = 90.000 cm²

Perbandingan = x 100 % = 10 % ( memenuhi syarat)

2) Arah Bukaan Terhadap Mata Angin

Arah bukaan menghadap ke barat daya sehingga radiasi sinar matahari

dapat dihindari.

Analisis :

Luas bukaan memenuhi syarat, arah bukaan dapat menghindarkan

radiasi matahari secara langsung, tapi hasil pengukuran dengan light meter

Figur

Tabel Halaman
Tabel Halaman. View in document p.15
Tabel Analisa Hipotesis Pertama............................................................................
Tabel Analisa Hipotesis Pertama . View in document p.16
Gambar 2.1. Denah Rumah Tipe 36
Gambar 2 1 Denah Rumah Tipe 36. View in document p.23
Gambar 2.2. Tampak Depan Rumah Tipe 36
Gambar 2 2 Tampak Depan Rumah Tipe 36. View in document p.24
Gambar 2.3. Denah Rumah Tipe 45
Gambar 2 3 Denah Rumah Tipe 45. View in document p.25
Gambar 2.5. Denah Rumah Tipe 54
Gambar 2 5 Denah Rumah Tipe 54. View in document p.26
Gambar 2.6. Tampak Depan Rumah Tipe 54
Gambar 2 6 Tampak Depan Rumah Tipe 54. View in document p.27
Gambar 2.7. Denah Rumah Tipe 60
Gambar 2 7 Denah Rumah Tipe 60. View in document p.28
Gambar 2.9. Denah Rumah Tipe 70
Gambar 2 9 Denah Rumah Tipe 70. View in document p.29
Gambar 2.10. Perspektif Rumah Tipe 70
Gambar 2 10 Perspektif Rumah Tipe 70. View in document p.30
Gambar 2.11. Terang Langsung
Gambar 2 11 Terang Langsung. View in document p.32
Gambar 2.12. Terang Tidak Langsung
Gambar 2 12 Terang Tidak Langsung. View in document p.33
Gambar 2.14. Pemantulan Cahaya Di Permukaan Benda
Gambar 2 14 Pemantulan Cahaya Di Permukaan Benda. View in document p.34
Gambar 2.15. Vegetasi sebagai kontrol radiasi
Gambar 2 15 Vegetasi sebagai kontrol radiasi. View in document p.37
Tabel 2.1. Penelitian Relevan
Tabel 2 1 Penelitian Relevan. View in document p.39
Gambar 2.16. Diagram Kerangka Berfikir
Gambar 2 16 Diagram Kerangka Berfikir. View in document p.42
Gambar 3.1. Peta Lokasi, Sawahan, Ngemplak, Boyolali
Gambar 3 1 Peta Lokasi Sawahan Ngemplak Boyolali. View in document p.44
Gambar 3.2. Site Plan Perumahan Pesona Sawahan, Boyolali
Gambar 3 2 Site Plan Perumahan Pesona Sawahan Boyolali. View in document p.45
Gambar 3.4. Site Plan Perumahan Griya Prima Timur, Klaten
Gambar 3 4 Site Plan Perumahan Griya Prima Timur Klaten. View in document p.46
Gambar 3.5. Peta Lokasi Kalikotes, Kalikotes, Klaten
Gambar 3 5 Peta Lokasi Kalikotes Kalikotes Klaten. View in document p.47
Gambar 3.6. Site Plan Perumahan Cipta Griya Bersinar, Klaten
Gambar 3 6 Site Plan Perumahan Cipta Griya Bersinar Klaten. View in document p.48
Tabel 3.1. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian
Tabel 3 1 Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian. View in document p.49
Gambar 3.7. Diagram Alur Penelitian
Gambar 3 7 Diagram Alur Penelitian. View in document p.51
Tabel 3.2. Daftar Populasi
Tabel 3 2 Daftar Populasi. View in document p.52
Tabel 3.3. IESNA Recommended Illuminance Value
Tabel 3 3 IESNA Recommended Illuminance Value. View in document p.55
Tabel 3.4. Tabel Kisi-Kisi Angket
Tabel 3 4 Tabel Kisi Kisi Angket. View in document p.57
Tabel 3.5. Rumusan Hipotesis 1
Tabel 3 5 Rumusan Hipotesis 1. View in document p.59
tabel berarti item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total. Maka,
Maka . View in document p.69

Referensi

Memperbarui...