www.antarajatim.com
KKP: Unair Pelopori "Blue Economy"
Surabaya (Antara Jatim) - Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr Suseno Sukoyono, menilai Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah memelopori "Blue Economy" dalam teori dan praktik.
"Saya datang kemari, karena Unair memelopori Blue Economy melalui kerja sama riset dengan KKP, bahkan Unair juga mengimplementasikan riset itu melalui kerja sama dengan kalangan bisnis," katanya setelah berbicara dalam seminar nasional di Auditorium Rektorat Unair Surabaya, Selasa. Didampingi Dekan Fakultas Perikanan Unair Prof Dr drh Sri Subekti BS DEA, ia menjelaskan Blue Economy bukan sekadar ekonomi yang ramah lingkungan atau tidak ada polusi/limbah seperti dalam "Green Economy".
"Blue Economy itu seperti ekosistem yang mengandaikan perekonomian seperti daur ulang yang tidak ada polusi atau limbah (ramah lingkungan), tapi juga tanpa sisa, karena semuanya terpakai dalam proses perekonomian yang ada," katanya. Menurut dia, pihaknya sejak tahun 2010 juga sudah menjalin kerja sama dengan Unair untuk mengembangkan "Blue Economy" dalam riset dan juga dalam praktik lapangan di Situbondo, Lamongan, Pacitan, dan sebagainya.
"Kami juga bekerja sama dengan Unair untuk menggelar simposium perikanan internasional pada Maret 2014, tapi bukan sekadar simposium, melainkan ikhtiar untuk menyambung jaringan tiga pilar ABG (academy, bussinesman, government), baik nasional maupun internasional," katanya. Di hadapan ratusan mahasiswa dalam seminar itu, Suseno menegaskan bahwa potensi ekonomi di sektor perikanan dan kelautan itu sangat menjanjikan, bahkan banyak negara-negara lain yang tertarik.
"Karena itu, kami akan mengembangkan lembaga sertifikasi profesi dan standar profesi perikanan dan kelautan khas Indonesia, agar potensi yang ada lebih mampu dijawab putra-putri bangsa ini, karena mereka sebenarnya punya kemampuan untuk itu," katanya. Apalagi, lautan Indonesia merupakan wilayah "Marine Mega-Biodiversity" terbesar di dunia yang memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut, dan 950 species biota terumbu karang. "Untuk Blue Economy, pemerintah memprioritaskan ikan segar, rumput laut, dan udang," katanya.
Secara terpisah, Dekan Fakultas Perikanan Unair Prof Dr drh Sri Subekti BS DEA menjelaskan pihaknya memang telah menjalin kerja sama riset, terutama untuk penyakit perikanan dan cara mengatasinya. "Riset itu kami implementasikan dalam kerja sama pengembangan rumput laut di kawasan pantai utara Madura dari Sampang hingga Sumenep, tapi kerja sama sejak tahun 2010 itu masih ada belum tuntas karena terkait dengan pola pikir masyarakat yang tidak mudah diubah," katanya.
Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama praktik lapang untuk mahasiswa perikanan di Balai Riset Ikan di Situbondo. "Di sana, para mahasiswa melakukan riset lapangan tentang ikan kerapu," katanya. Ia menambahkan Unair juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan kawasan wisata mangrove di Wonorejo, Surabaya, dan kawasan eko wisata di Pulau Tabuan, Banyuwangi. (*)
www.wartaekonomi.co.id
KKP: UNAIR PELOPORI "BLUE ECONOMY"
WE.Co.ID, Surabaya - Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Dr Suseno Sukoyono menilai Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah memelopori "Blue Economy" dalam teori dan praktik. "Saya datang kemari, karena Unair memelopori Blue Economy melalui kerja sama riset dengan KKP, bahkan Unair juga mengimplementasikan riset itu melalui kerja sama dengan kalangan bisnis," katanya setelah berbicara dalam seminar nasional di Auditorium Rektorat Unair Surabaya, Selasa (1/10/2013).
Didampingi Dekan Fakultas Perikanan Unair Prof Dr drh Sri Subekti BS DEA, ia menjelaskan Blue Economy bukan sekadar ekonomi yang ramah lingkungan atau tidak ada polusi/limbah seperti dalam "Green Economy". "Blue Economy itu seperti ekosistem yang mengandaikan perekonomian seperti daur ulang yang tidak ada polusi atau limbah (ramah lingkungan), tapi juga tanpa sisa, karena semuanya terpakai dalam proses perekonomian yang ada," katanya.
Menurut dia, pihaknya sejak tahun 2010 juga sudah menjalin kerja sama dengan Unair untuk mengembangkan "Blue Economy" dalam riset dan juga dalam praktik lapangan di Situbondo, Lamongan, Pacitan, dan sebagainya. "Kami juga bekerja sama dengan Unair untuk menggelar simposium perikanan internasional pada Maret 2014, tapi bukan sekadar simposium, melainkan ikhtiar untuk menyambung jaringan tiga pilar ABG (academy, bussinesman, government), baik nasional maupun internasional," katanya.
Di hadapan ratusan mahasiswa dalam seminar itu, Suseno menegaskan bahwa potensi ekonomi di sektor perikanan dan kelautan itu sangat menjanjikan, bahkan banyak negara-negara lain yang tertarik. "Karena itu, kami akan mengembangkan lembaga sertifikasi profesi dan standar profesi perikanan dan kelautan khas Indonesia, agar potensi yang ada lebih mampu dijawab putra-putri bangsa ini, karena mereka sebenarnya punya kemampuan untuk itu," katanya.
Apalagi, lautan Indonesia merupakan wilayah "Marine Mega-Biodiversity" terbesar di dunia yang memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut, dan 950 species biota terumbu karang. "Untuk Blue Economy, pemerintah memprioritaskan ikan segar, rumput laut, dan udang," katanya. Secara terpisah, Dekan Fakultas Perikanan Unair Prof Dr drh Sri Subekti BS DEA menjelaskan pihaknya memang telah menjalin kerja sama riset, terutama untuk penyakit perikanan dan cara mengatasinya. "Riset itu kami implementasikan dalam kerja sama pengembangan rumput laut di kawasan pantai utara Madura dari Sampang hingga Sumenep, tapi kerja sama sejak tahun 2010 itu masih ada belum tuntas karena terkait dengan pola pikir masyarakat yang tidak mudah diubah," katanya. Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama praktik lapang untuk mahasiswa perikanan di Balai Riset Ikan di Situbondo. "Di sana, para mahasiswa melakukan riset lapangan tentang ikan kerapu," katanya. Ia menambahkan Unair juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan kawasan wisata mangrove di Wonorejo, Surabaya, dan kawasan eko wisata di Pulau Tabuan, Banyuwangi. (Ant)
www.beritajatim.com
Fakultas Perikanan Unair Bahas Potensi Hasil Laut
Surabaya (beritajatim.com) - Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Surabaya mengadakan seminar Nasional bertema 'Potensi dan Tantangan Ekspor Komoditas Perikanan Indonesia Sebagai Penunjang Blue Economy'.
Seminar ini diadakan di Ruang Garuda Mukti Lantai 5 Kantor Manajemen Kampus C Universitas Airlangga mulai pukul 08.00 hingga pukul 13.30.
Mahasiswa yang diundang antara lain mahasiswa dari Universitas Brawijaya Malang, Universitas Diponegoro Malang dan Universitas Airlangga Surabaya.
Seorang Mahasiswa dari Universitas Diponegoro Semarang bernama Udinafi mengungkapkan bahwa sebenarnya seminar ini bertujuan untuk mengingatkan potensi hasil laut yang bisa
dimaksimalkan dengan baik. "Sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari dan bisa diberdayakan dari hasil laut ini," ungkapnya.
Seminar ini juga menceritakan potensi alam yang dimiliki oleh Indonesia. "Saat ini hasil laut tidak hanya diolah secara tradisional tapi juga bisa dimanfaatkan secara modern,"ungkp Mutia peserta Seminar asal Universitas Airlangga.
Sejumlah peserta juga mengkritisi pemerintah yang tidak konsisten dengan janji yang mereka katakan termasuk pergantian pimpinan yang berarti kebijakanpun berubah. [roc/ted]
Sambut AEC, KKP Siapkan Lembaga Sertifikasi
Daya Saing SDM Kelautan dan Perikanan Akan Ditingkatkan
Surabaya - Untuk menunjang sumberdaya manusia yang berkualitas dalam menghadapi Asean Economy Comunity (AEC), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan Lembaga Sertifikasi Profesi dimana setelah menjalankan pendidikan ini dan akan ada sertifikat yang akan diberikan, serta ada tempat uji kompetensinya tentang sektor kelautan dan perikanan.
"Harus mempunyai sertifikasi ini, semisalnya dari orang Malaysia maka harus mengambil sertifikasi ini terlebih dahulu sehingga tidak mudah bagi negara lain untuk masuk berusaha di Indonesia dalam sektor kelautan dan perikanan," kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Suseno Sukoyono seusai menghadiri acara seminar Nasional Kelautan dan Perikanan yang bertemakan 'Potensi dan Tantangan Ekspor Komoditas Perikanan Indonesia Sebagai Penunjang Blue Economy' di Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (1/10).
Suseno juga mengatakan terdapat balai yang telah disediakan oleh KKP untuk belajar dan dilakukan uji kompetensi dalam sektor kelautan dan perikanan ini. Akan disiapkan standar-standar profesi dalam uji kompentensi ini. "Kita sudah siapkan strategi bagi negara-negara lain dalam sektor kelautan dan perikanan ini untuk menjelang AEC ini," ujar dia.
Mengenai persaingan sumberdaya manusia dalam sektor kelautan dan perikanan, lanjut dia, apabila melihat lulusan akademisi yang bagus dan jaringan yang kuat sehingga bisa berkompetisi dengan negara lain. Intinya sumberdaya perikanan harus mengelola sumberdaya manusia dan mengambil langkah-langkah yang terbaik dalam pengelolaannya. "Dengan bekerjasama dengan pihak akademisi maka akan bisa mendukung adanya sumberdaya manusia yang berkualitas dalam sektor kelautan dan perikanan," ungkap Suseno.
Peran Kampus
Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan kelautan Universitas Airlangga, Sri Subekti Bendryman menjelaskan pihaknya telah lama bekerjasama dengan KKP dalam menunjang atas sumberdaya manusia yang berkualitas. Semisalnya, para mahasiswa melakukan praktek lapangan yang menggunakan fasilitas KKP sehingga kerjasama ini tetap terjalin. "Kita kan perguruan tinggi adalah dalam hal sumberdaya manusianya, sedangkan KKP mempunyai sarana atau fasilitasnya sehingga kita melakukan kerjasama," ungkap dia.
Peran perguruan tinggi, lanjut dia, akademisi meluluskan mahasiswanya yang siap pakai dan berguna bagi kebutuhan dalam sektor kelautan dan perikanan ini. Sudah ada 200 lebih lulusan dari Universitas Airlangga jurusan Perikanan dan Kelautan serta lulusan ini sudah terserap hampir 100 % dalam sektor kelautan dan perikanan ini. "Meskipun sudah ada AEC ini, lulusan kami sudah disiapkan untuk mendapatkan tantangan yang akan terjadi dalam persaingan nanti," tandas Sri.
Sri juga menjelaskan bahwa yang harus ditingkatkan adalah international language sehingga bisa berkompetisi dengan negara lain. Bagaimana harus diperkuat dengan pemahaman bahasa Inggris yang mencukupi dan diharapkan bisa bersaing dengan negara lain.
"Begitupula dengan pihak akademisi melakukan riset-riset yang dilakukan guna mendapatkan suatu penemuan baru untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan ini," ungkap dia.
Dia juga menjelaskan perlunya adanya kerjasama dengan kementerian, akademisi dan pihak bisnis sehingga sektor Kelautan dan perikanan ini dapat berjalan dengan baik. Perlunya keterlibatan swasta dan pemerintah sangat besar guna mencapai blue economy.
"Universitas Airlangga ini ikut mendorong atas kerjasama pihak terkait sehingga bisa menjamin akan percepatan pembangunan dalam sistem blue economy," tambah Sri.
Lembaga
Sertifikasi
Kelautan
dan
Perikanan
Siapkan SDM Berkualitas
LAUT Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumber daya alam yang dapat dijadikan modal dasar dalam rangka pembangunan nasional. Pasalnya, bisnis di bidang kelautan dan perikanan sangat menjanjikan, bahkan banyak negara-negara lain yang tertarik. Sehubungan dengan membangun sumber daya alam kelautan dan perikanan ialah mengelola sumber daya manusia (SDM)-nya.
Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Suseno Sukoyon mengatakan hal itu pada seminar nasional Kelautan dan Perikanan yang bertemakan "Potensi dan Tantangan Ekspor Komoditas Perikanan Indonesia Sebagai Penunjang Blue Economy" di Universitas Airlangga, Surabaya, kemarin. Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas SDM salah satu faktor penting untuk mewujudkan industrialisasi kelautan dan perikanan. Salah satunya perlu ada SDM sebagai pelaku industri yang mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk.
Hal itu penting dilakukan dalam rangka menyambut KTT Asia Pacific Economi Cooperation (APEC) 2013 dan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economy Community/AEC) 2015 yang salah satu konsekuensinya bebas bergeraknya tenaga kerja antarnegara. Untuk menunjang sumberdaya manusia yang berkualitas dalam menghadapi AEC, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan lembaga sertifikasi profesi.
"Kami akan mengembangkan lembaga sertifikasi profesi dan standar profesi perikanan dan kelautan khas Indonesia, agar potensi yang ada lebih mampu dijawab putra-putri bangsa ini. Apalagi, mereka sebenarnya punya kemampuan untuk itu," tutur Suseno. Lembaga sertifikasi profesi yang dimaksud ialah setelah selesai menjalankan pendidikan, bisa mengikuti lembaga setifikasi, serta ada tempat uji kompetensinya tentang sektor kelautan dan perikanan.
Misalnya, ada orang Malaysia mau masuk kerja di Indonesia, maka harus mengambil sertifikasi itu terlebih dahulu di Indonesia. Sehingga tidak mudah bagi negara lain untuk masuk berusaha di Indonesia di sektor kelautan dan perikanan. Selain menyiapkan lembaga sertifikasi, pihaknya juga menyediakan balai yang telah disediakan KKP untuk belajar dan akan dilakukan uji kompetensi di sektor kelautan dan perikanan.
Nanti akan disiapkan standar-standar profesi dalam uji kompentensi ini. Atau sebaliknya, tenaga kerja Indonesia keluar negeri bisa berbahasa Inggris, tetapi lebih fokus ke perikanan. "Kita sudah siapkan strategi bagi negara-negara lain dalam sektor kelautan dan perikanan ini untuk menjelang AEC ini," ujarnya.
Ekonomi biru
Mengenai persaingan SDM di sektor kelautan dan perikanan, lanjut Suseno, apabila melihat lulusan akademisi yang bagus dan jaringan kuat, bisa berkompetisi dengan negara lain. Intinya sumber daya perikanan harus mengelola SDM dan mengambil langkah-langkah terbaik dalam pengelolaannya. "Kerja sama dengan pihak akademisi, maka bisa mendukung SDM berkualitas di sektor kelautan dan perikanan. Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah memelopori blue economy (ekonomi biru) dalam teori dan praktik," ujarnya. Unair mempelopori ekonomi biru melalui kerja sama riset dengan KKP. Unair juga mengimplementasikan riset itu melalui kerja sama dengan kalangan bisnis. "Kami juga bekerja sama dengan Unair untuk menggelar simposium perikanan internasional pada Maret 2014. Tapi bukan sekadar simposium, melainkan ikhtiar untuk
menyambung jaringan tiga pilar ABG (academy, bussinesman, government), baik nasional maupun internasional," kata Suseno.
Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair Sri Subekti Bendryman menambahkan, pihaknya telah lama bekerjasama dengan KKP dalam menunjang atas SDM berkualitas.
Misalnya, para mahasiswa melakukan praktik lapangan yang menggunakan fasilitas KKP. Jadi, kerja sama ini tetap terjalin sejak tahun 2010 guna mengembangkan ekonomi biru dalam riset dan juga praktik lapangan di Situbondo, Lamongan, Pacitan, dan sebagainya. "Kita perguruan tinggi dalam hal SDM-nya, sedangkan KKP mempunyai sarana atau fasilitasnya sehingga kita melakukan kerjasama," ujarnya.
Peran perguruan tinggi, lanjut Sri, akademisi meluluskan mahasiswanya yang siap pakai dan berguna bagi kebutuhan di sektor kelautan dan perikanan. Sudah ada 200 lebih lulusan dari Unair jurusan Perikanan dan Kelautan. Lulusan ini sudah terserap hampir 100 persen di sektor kelautan dan perikanan. "Meski sudah ada AEC, lulusan kami telah disiapkan untuk mendapatkan tantangan yang akan terjadi dalam persaingan nanti," katanya.
Sri juga mengatakan, yang harus ditingkatkan ialah international language, sehingga bisa berkompetisi dengan negara lain. Harus diperkuat dengan pemahaman bahasa Inggris yang mencukupi dan diharapkan bisa bersaing dengan negara lain. "Begitu pula dengan pihak akademisi melakukan riset yang dilakukan guna mendapatkan suatu penemuan baru untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan," katanya. (vin)