1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Normalisasi hubungan Cina dan Jepang telah berlangsung lebih dari empat puluh tahun, namun hubungan bilateral kedua negara ini selalu mengalami pasang surut. Mengingat sejarah masa lalu yang cukup pelik, berbagai permasalahan masih mewarnai hubungan kedua negara, termasuk soal perbatasan wilayah. Salah satu konflik perbatasan yang masih berlanjut hingga saat ini adalah perebutan Kepulauan Diaoyu/Senkaku1 yang letaknya sangat strategis bagi jalur pelayaran kapal, kaya akan sumber daya ikan, dan diperkirakan mengandung cadangan minyak yang begitu besar.2 Pada tahun 1968, berdasarkan survei yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), disimpulkan bahwa besarnya bahan organik yang didepositkan dari Sungai Kuning dan Yangtse menyebabkan lautan di sekitar kepulauan ini menjadi salah satu yang mengandung cadangan minyak dan gas terbesar di dunia.3 Selain itu, dengan letaknya yang berada di ujung continental shelf Laut Cina timur, kepemilikan Kepulauan Diaoyu menjadi penting untuk menggambarkan perbatasan maritim antara Cina dan Jepang. Apalagi, Cina dan Jepang sama-sama merupakan negara yang berpartisipasi dalam the United Nations Convention on the Law of the Sea of 1982 (UNCLOS),4 yang menekankan bahwa kepulauan adalah faktor yang menentukan untuk pengklaiman Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang memberikan priviliges pengelolaan sumber daya alam yang terdapat di wilayah tersebut.5
Sejak tahun 1970, konflik tentang perebutan Kepulauan Diaoyu telah berkembang menjadi salah satu masalah yang paling sulit dan sensitif dalam hubungan bilateral Cina dan Jepang serta juga telah menarik perhatian internasional. Jepang dan Cina sama-sama mengklaim kepulauan ini sebagai bagian dari wilayah mereka, terlebih sejak PBB
1
Cina menyebut wilayah sengketa ini sebagai Kepulauan Diayou, sedangkan Jepang menyebutnya sebagai Senkaku. Mengingat skripsi ini berusaha menganlisis perubahan sikap Cina di era Hu Jintao yang lebih asertif terhadap Jepang, maka nama wilayah yang akan digunakan adalah Diayou.
2
Zhongqi Pan, ‘Sino-Japanese Dispute over the Diaoyu/Senkaku Islands: The Pending Controversy from the Chinese Perspective’, Journal of Chinese Political Science, vol. 12, no.1, 2007, pp. 71-72.
3 W.B. Heflin, ‘Diayou/Senkaku Islands dispute: Japan and China, Oceans Apart’, Asian-Pacific Law & Policy Journal, vol.18,no.1, 2000, p. 2.
4
Menurut Pasal 55, 56, dan 57 UNCLOS, sebuah negara boleh mendirikan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)-nya “melebihi dan berbatasan dengan laut teritorialnya” yang bisa diperpanjang hingga 200 nautical miles dari garis dasar dimana lebar teritorial itu diukur.
5
Chi Manjiao, ‘The Unhelpfulness of Treaty Law in Solving the Sino-Japan Sovereign Dispute over the Diaoyu Islands,’ U.PennsylvaniaEast Asia Law Review, vol.6, 2011, p. 166.
2
mengatakan bahwa kepulauan ini mengandung cadangan gas yang begitu besar. Mungkin itu sebabnya mengapa sejak awal konflik ini, Cina cenderung mengambil posisi status quo. Bahkan saat Amerika Serikat mengembalikan kekuasaan administrasi pasca Perang Dunia II kepada Jepang, termasuk penyerahan Kepulauan Diaoyu, Cina tetap belum memberikan protes dengan alasan menunggu waktu yang tepat, setidaknya hingga masa-masa krisis telah berlalu.6
Sikap Cina terhadap Jepang terkait dengan perebutan kepulauan ini mulai terlihat mengalami perubahan pada masa pemerintahan Hu Jintao. Salah satunya terlihat ketika pada 7 September 2010 Jepang menahan 14 orang awak kapal Cina beserta kaptennya yang menabrak dua kapal penjaga pantai Jepang disekitar Kepulauan Diaoyu.7 Insiden ini akhirnya menimbulkan masalah serius dalam hubungan diplomatik kedua negara karena Jepang menolak untuk membebaskan para kru kapal tersebut. Presiden Hu Jintao mulai menunjukkan sikap yang lebih asertif terhadap Jepang, yaitu dengan membatalkan semua pertemuan formal dengan Jepang pada tingkat kementerian. Bahkan, Cina memutuskan untuk menghentikan ekspor barang tambang rare earth mineral (REM) ke Jepang.8 Selanjutnya, Cina juga melarang penerbangan internasional dari Jepang menuju ke wilayahnya, yang tentu saja mengganggu produktivitas para pengusaha Jepang yang memiliki kepentingan di Cina. Hal ini juga mengganggu ekonomi domestik Jepang yang bertumpu pada ekspor dengan Cina sebagai mitra dagang nomor satu.9
Pada awal November 2012 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan bahwa Kepulauan Diaoyu telah menjadi subjek dalam yurisdiksi perjanjian kerjasama keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat (U.S.-Japan Security Treaty). Hal ini berdampak pada peningkatan perselisihan dan tensi dalam hubungan Cina-Amerika Serikat.10 Masih di bulan yang sama, dalam pertemuan dengan Presiden Obama di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda secara jelas dan resmi untuk kesekian kalinya mengajak Cina ke Mahkamah Internasional guna memecahkan permasalahan sengketa kepulauan ini. Lagi-lagi Cina menolak ajakan
6
Jin Kai, ‘Structural Distrust Undermining a Senkaku Diaoyu Solution’, TheDiplomat (daring), 6 October 2013, <http://thediplomat.com/2013/10/06/structural-distrust-undermining-a-senkakudiaoyu-solution/>, diakses pada 10 Oktober 2013.
7
‘Q&A: China-Japan Islands Row’, BBC News (daring), 29 April 2013,
<http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11341139>, diakses pada11 Juni 2013.
8
Mari Yamaguchi, ‘China Rare Earth Exports to Japan Still Halted’, The Associated Press (daring), 21 October 2010, <http://www.businessweek.com/ap/financialnews/D9J02PF01.htm>, diakses pada 9 Mei 2013.
9
M. Fackler, ‘Japan Retreats with Release of Chinese Boat Captain’, The New York Times (daring), 24 September 2010, <http://www.nytimes.com/2010/09/25/world/asia/25chinajapan.html?pagewanted=all&_r=0>, diakses pada tanggal 8 Mei 2013.
10
3
tersebut dan menganggapnya tidak perlu karena pulau itu jelas-jelas milik Cina dan direbut oleh Jepang.11 Terlepas dari Cina mengklaim kepulauan tersebut baik secara historis maupun kependudukannya sejak awal, namun ia masih kekurangan bukti untuk menunjukkan kontrol yang efektif atas kepulauan tersebut.12
Konfik perebutan Kepulauan Diayou menjadi menarik bukan hanya karena kandungan minyak yang sangat besar yang diperkirakan berada di wilayah tersebut. Lebih dari itu, konflik ini dapat dikatakan sebagai simbol utama yang begitu mempengaruhi dinamika hubungan Cina dan Jepang. Konflik ini juga bisa dikatakan sebagai ‘kendaraan’ nasionalisme Cina dan Jepang, dimana kedua negara menaruh perhatian yang serius mengingat ia berkaitan erat dengan harga diri nasional mereka. Terlebih bagi Cina yang memang menempatkan kedaulatan dan integritas nasional sebagai salah satu prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya.13
Penulis melihat bahwa sepanjang perjalanan konflik perebutan kepulauan ini, baru pada masa pemerintahan Hu Jintao-lah Cina mulai menunjukkan sikap yang lebih tegas atau asertif pada Jepang. Untuk itulah penulis tertarik untuk menganalisis penyebab terjadinya perubahan sikap Cina ini. Analisis perubahan sikap kebijakan luar negeri Cina ini juga menjadi penting mengingat posisi Cina di dunia internasional yang kini semakin diperhitungkan sebagai pemain utama di berbagai bidang mulai dari ekonomi, politik hingga keamanan di dunia internasional.
1.2 Pertanyaan penelitian
Atas dasar latar belakang di atas, penulis mengajukan pertanyaan penelitian berikut:
Mengapa Cina di era Hu Jintao lebih asertif terhadap Jepang terkait konflik perebutan Kepulauan Diaoyu?
1.3 Kerangka konseptual
Pasca krisis ekonomi yang melanda Amerika serikat dan negara-negara lainnya pada tahun 2008, kita bisa menemukan berbagai sikap asertif Cina terhadap negara lain, terutama Amerika Serikat, Taiwan, dan Jepang. Cina yang sebelumnya masih menganut
11
‘Ini Alasan Mengapa Jepang Lebih Berhak atas Pulau Senkaku’, Tribun News (daring), 20 November 2012, <http://www.tribunnews.com/internasional/2012/11/20/ini-alasan-mengapa-jepang-lebih-berhak-atas-pulau-senkaku>, diakses pada15 September 2013.
12
Jin Kai, ‘Structural Distrust Undermining a Senkaku Diaoyu Solution’.
13
4
paham low profile seperti yang dianjurkan oleh Deng Xiaoping mulai berubah menjadi lebih asertif dalam mempertahankan kepentingan nasional utamanya. Saat ini memang belum ada kesepakatan khusus mengenai definisi dari kata "asertif" dalam literatur hubungan internasional. Beberapa akademisi menggunakan kata asertif untuk mengacu pada aktivitas konstruktif dalam hubungan internasional. Ada juga yang menggunakan kata asertif untuk mendeskripsikan imperialistis, nasionalistis atau anti normative behaviour. Alastair Iain Johnston dalam tulisannya "How New and Assertive Is China’s New Assertiveness" mengartikan sikap asertif Cina sebagai suatu sikap dalam diplomasinya yang secara eksplisit mengancam aktor lain dengan kerugian yang lebih besar dari sebelumnya untuk melindungi kepentingan nasionalnya sendiri. Misalnya Kemarahan Cina kepada Amerika Serikat atas penjualan senjata ke Taiwan pada Januari 2010 serta respon Cina yang keras atas penahanan kapten kapal nelayan Cina pada september 2010 lalu. 14
Tidak jauh berbeda dari Johnston, Suisheng Zhao dalam tulisannya China's New Foreign Policy “Assertiveness”: Motivations and Implications menggambarkan sikap Cina sangat tegas terhadap negara-negara lain dalam mengamankan kepentingan nasional dan tidak berkompromi dengan kepentingan negara lain sebagai bentuk dari sikap Cina yang asertif. Pada bulan Juli 2009, saat dialog pertama China-US Strategic & Economy , salah satu anggota kabinet Cina Dai Binguo mengatakan kepada wakil Amerika Serikat bahwa terdapat tiga kepentingan utama Cina, yakni meneruskan keamanan sistem politik dan negara, mempertahankan kedaulatan negara dan integritas teritorial, serta mempromosikan perkembangan ekonomi dan kestabilan masyarakat.15
Terdapat sejumlah faktor yang telah mendorong sikap asertif Cina. Menurut Suisheng Zhao, faktor utama yang mendorong sikap asertif Cina adalah kepercayaan diri para pemimpin Cina yang semakin meningkat akan kemampuan negara ini untuk menghadapi negara asing seiring dengan peningkatan kekuatan ekonomi yang pesat. Ketika krisis ekonomi telah melemahkan kebanyakan negara-negara Barat, institusi finansial Cina malah mengejutkan dunia dengan keseimbangan dan kuatnya kapitalisasi pasar Cina. Pada tahun 2009, Cina juga telah menggantikan Jerman sebagai negara eksportir terbesar dan menggantikan posisi Jepang sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia pada tahun 2010. Dengan kekuatan ekonominya juga, Cina telah
14
A.I. Johnston, 'How New and Assertive Is China’s New Assertiveness?', International Security, vol. 37, no. 4, 2013, pp. 2-3.
15
Suisheng Zhao, ‘China's New Foreign Policy “Assertiveness”: Motivations and Implications,’ Istituto Per Gli Studi Di Politica Internazionale, no. 54, May 2011, pp. 2-3.
5
membeli surat-surat utang AS senilai total $1,1 triliun, sekitar 7% dari total utang negara AS atau sekitar 25% dari total surat utang yang dijual. Hal ini telah menjadikan Cina sebagai negara kreditur terbesar AS.16 Selain itu, Cina juga memanfaatkan kekuatan ekonominya untuk terus melakukan modernisasi militernya.
Cina dan Jepang tercatat memiliki hubungan perdagangan terbesar ketiga di dunia.17 Cina merupakan negara tujuan 21% ekspor Jepang dan negara investor terbesar di Jepang dengan total Foreign Direct Investment (FDI) sebesar $560 juta.18 Selain itu, Jepang juga memiliki ketergantungan akan rare earth mineral (REM), dimana impor rare-earth mineral dari Cina sangat vital bagi industri komponen semikonduktor yang menjadi penopang industri manufaktur Jepang saat ini. Cina merupakan negara yang memiliki cadangan REM paling banyak sehingga bisa dikatakan bahwa ia memonopoli pasar REM dunia.19 Ketergantungan Jepang akan Cina di bidang ekonomi ini mendorong Cina untuk lebih asertif terhadap Jepang dalam kasus perebutan kepulauan Diaoyu. Cina tidak segan untuk lebih asertif terhadap Jepang sekalipun ia mengetahui bahwa Kepulauan Diaoyu telah menjadi subjek dalam yurisdiksi perjanjian kerjasama keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat. Sebagaimana halnya Jepang, Amerika Serikat juga memiliki kepentingan ekonomi yang besar dengan Cina.
Sedangkan Minxin Pei dalam tulisannya yang berjudul Assertive Pragmatism: China’s Economic Rise and its impact on Chinese Foreign Policy mengatakan bahwa kebijakan politik luar negeri Cina yang asertif disebabkan oleh sifat alamiah politik Cina. Menurut Pei, di antara sifat alamiah yang membuat Cina bersikap asertif dalam kebijakan luar negerinya adalah sistem pemerintahan yang otokratis dan nasionalisme Cina.20 Sekalipun Cina telah mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat, namun ia tetap mempertahankan sistem politik yang otoritarian dan para pemimpinnya pun telah bersumpah untuk tidak mengadopsi demokrasi gaya Barat. Cina menganut sistem kekuasaan monopartai: Partai Komunis Cina (PKC) menjadi satu-satunya partai yang memegang kekuasaan dan mengendalikan pemerintahan. Ditekankan oleh Pei, sistem
16
A. Censky, ‘Our love-hate relationship with China’, CNNMoney (daring), 13 February 2012,
<http://money.cnn.com/2012/02/13/news/economy/china_us_relations/index.htm>, diakses 12 November 2013.
17
‘Improving Japan-China relations and the global trading system’, East Asia Forum (daring), 18 January 2010, <http://www.eastasiaforum.org/2010/01/18/improving-japan-China-relations-and-the-global-trading-system/>, diakses pada19 Juni 2013.
18
‘What’s at Stake in China-Japan Spat: $345 Billion to Start’, Wall Street Journal (daring), 17 September 2013, <http://blogs.wsj.com/Chinarealtime/2012/09/17/whats-at-stake-in-China-japan-spat-345-billion-to-start/>, diakses pada 6 Mei 2013.
19
M. Yamaguchi, ‘China Rare Earth Exports to Japan Still Halted’.
20
Minxin Pei, Assertive Pragmatism: China’s Economic Rise and its impact on Chinese Foreign Policy, IFRI Security Studies Department, Brussels, 2006, p. 5.
6
politik otokrasi dimana PKC memonopoli kekuasaan adalah sifat alamiah dari politik Cina yang tidak bisa diubah; mengubahnya sama saja dengan menjatuhkan Cina yang dideklarasikan pada tahun 1949. Bahkan, mempertahankan kekuasaan PKC di Cina telah menjadi salah satu tujuan utama Cina dalam politik luar negerinya.21
Sebagai negara yang pernah menjadi korban imperialisme Barat, Cina memiliki memori yang kuat akan penghinaan yang mereka terima dari negara asing. Kebangkitan Cina juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah penjajahan ini. PKC berhasil menciptakan suatu mitos bahwa ia adalah unsur yang berhasil mengangkat martabat bangsa serta memperjuangkan kepentingan Republik Rakyat Cina (RRC). Nasionalisme yang berlebihan akan berlanjut kepada xenofobia dan menjadi alat yang ampuh untuk membangkitkan semangat anti-Barat.22 Dalam konteks ini, Jepang dianggap oleh Cina sebagai bagian dari kekuatan Barat. Hubungan Jepang dan Cina memang tidak pernah dapat dilepaskan dari sejarah masa lalu yang kelam, terutama mengingat Jepang pernah menjajah Cina. Dengan semakin memanasnya konflik perebutan Kepulauan Diaoyu, rasa nasionalisme rakyat Cina semakin menguat seperti diekspresikan melalui demonstrasi besar-besaran pada bulan November 2010 merespon tindakan Jepang menyandera nelayan Cina yang memasuki perairan Kepulauan Diaoyu.
Seperti telah dijelaskan, salah satu kepentingan utama Cina dalam politik luar negerinya adalah untuk terus mempertahankan sistem politiknya, termasuk kekuasaan PKC, serta menjaga kestabilan ekonomi dan sosial. Para pemimpin Cina sadar bahwa mereka harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan untuk isu-isu sensitif di Cina, seperti isu kepemilikan Kepulauan Diaoyu ini. Untuk itulah PKC menggunakan tingginya rasa nasionalisme masyarakat untuk mendapatkan dukungan atas tindakan asertifnya kepada Jepang. Dengan begitu, pemerintah Cina mengharapkan kestabilan masyarakat Cina dapat terjamin; kepercayaan masyarakat kepada pemerintah akan semakin meningkat sehingga tidak akan menganggu kekuasaan PKC. Sikap Cina yang asertif terhadap Jepang tersebut sekaligus untuk mendapatkan respek internasional serta sebagai pembuktian kekuatan Cina kepada negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang selama ini dicurigai Cina memiliki tujuan untuk mengendalikan pengaruh dan kekuatan Cina di level global.23 21 Minxin Pei, p. 6. 22 Minxin Pei, p. 7. 23 Suisheng Zhao, p. 1.
7 1.4 Hipotesis
Kebijakan luar negeri Cina di era Hu Jintao yang lebih asertif terhadap Jepang dalam hal konflik perebutan Kepulauan Diaoyu ini disebabkan oleh setidaknya dua faktor. Pertama, peningkatan kekuatan ekonomi Cina yang berdampak pada modernisasi militer Cina dan ketergantungan Jepang pada Cina. Hal ini telah meningkatkan kepercayaan diri para pemimpin Cina di masa pemerintahan Hu Jintao akan kemampuan mereka dalam menghadapi dan menekan Jepang agar mengikuti kemauan Cina. Kedua, sifat alamiah politik Cina dalam hal sistem pemerintahan yang otokratis dengan kekuasaan Partai Komunis Cina yang begitu besar dan nasionalisme masyarakat Cina yang begitu kuat. PKC berusaha memanfaatkan nasionalisme masyarakat Cina dalam konflik ini dengan bersikap asertif kepada Jepang dengan harapan tidak hanya untuk mendapatkan kepentingan ekonomi di Kepulauan Diaoyu, namun juga untuk menjaga kestabilan sosial politik dalam negeri sehingga kekuasaan PKC tidak terganggu.
1.5 Struktur Penulisan
Skripsi ini akan terdiri dari empat bab. Setelah bab pendahuluan, pada Bab Kedua penulis akan menerangkan secara singkat latar belakang konflik perebutan Kepulauan Diaoyu untuk lebih memperjelas objek penelitian. Di sini penulis akan menunjukkan kebijakan-kebijakan luar negeri Cina pada masa pemerintahan Hu Jintao terhadap Jepang terkait konflik perebutan kepulauan Diaoyu untuk menunjukkan sikap Cina yang lebih asertif terhadap Jepang.
Di Bab Ketiga, penulis akan menganalisis mengapa Cina pada masa pemerintahan Hu Jintao bersikap lebih asertif tehadap Jepang dengan menggunakan konsep-konsep yang telah dijelaskan, yaitu kekuatan ekonomi dan sifat alamiah sistem politik Cina. Skripsi akan ditutup dengan Bab Keempat, yang akan memberikan kesimpulan dan inferens yang bisa ditarik dari hasil penelitian.