• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL 70% BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes PENYEBAB JERAWAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL 70% BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes PENYEBAB JERAWAT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

143 UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL 70% BIJI PEPAYA (Carica papaya L.)

TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes PENYEBAB JERAWAT

Fitriyanti*, M. Fahrul Ricky Norhavid, Hafiz Ramadhan

Program Studi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari Banjarbaru. *Email: [email protected]

ABSTRAK

Pepaya terkenal sebagai tanaman berkhasiat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya biji Pepaya yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa apa saja yang terkandung dalam biji Pepaya, dan bagaimana pengaruh konsentrasi ekstrak etanol 70% biji Pepaya terhadap daya hambat bakteri

P. acnes. Pada uji efektivitas ini metode penelitian yang digunakan adalah metode difusi

sumuran. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak etanol 70% biji papaya terhadap penghambatan bakteri p acnes. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, ekstrak positif mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan tanin. Hasil uji efektivitas ekstrak etanol 70% biji pepaya dengan konsentrasi 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, dan 20% menggunakan metode difusi sumuran menunjukan bahwa ekstrak etanol 70% biji

Pepaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri P. acnes dengan kemampuan menghambat

tertinggi pada konsentrasi 100% yaitu sebesar 8,083 mm (kategori daya hambat sedang). Sedangkan konsentrasi terendah yaitu 20% dengan zona hambat sebesar 3,383 mm (kategori daya hambat lemah).

Kata kunci : Biji pepaya, jerawat, antibakteri, Propionibacterium acnes.

ABSTRACT

Papaya is popular as a nutritious plant that can cure various diseases, one of which is Papaya seeds which can be used as an antibacterial. This study aims to determine what is contained in papaya seeds, and how to distinguish the concentration of ethanol extract of 70% papaya seeds on the inhibitory power of against P. acnes bacteria. In this study, the research method used diffusion method. This method is used to determine the effect of ethanol extract 70% papaya seeds on the growth of P. acne bacteria. Based on the results of the phytochemical compound like alkaloid, saponin, and tannin. Effectiveness test of ethanol extract 70% papaya seeds with concentrations of 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, and 20% using diffusion method Show that ethanol extract 70% Papaya seeds can inhibit bacterial growth with a maximum concentration of 100% that is equal to 8.083 mm (medium category inhibition zone). The lowest concentration is 20% with an inhibition zone of 3,383 mm (weak category inhibitory zone).

(2)

144

PENDAHULUAN

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat ditetapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Indriaty & Mefi, 2015). Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional adalah tanaman Pepaya (Carica

papaya L.). Biji Pepaya secara tradisional

dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri penyebab jerawat, Biji Pepaya diketahui mengandung senyawa kimia seperti golongan fenol, alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang diduga memiliki khasiat sebagai antibakteri (Milind & Gurdita, 2011).

Bakteri penyebab jerawat yang

umum dikenal adalah Propionibacterium

acnes. Mekanisme terjadinya jerawat oleh

bakteri P. acnes yaitu dengan merusak

stratum corneum lapisan kulit paling luar

dan paling tipis pada pelupuk mata, pipi,

dan dahi, serta stratum germinativum

lapisan keratinosit yang terletak di dasar epidermis tepat di atas dermis dengan cara mensekresikan bahan kimia yang menghancurkan dinding pori. Kondisi ini

dapat menyebabkan inflamasi, asam lemak dan minyak kulit tersumbat kemudian mengeras. Jika jerawat disentuh maka inflamasi akan meluas sehingga padatan asam lemak dan minyak kulit yang mengeras akan membesar sehingga terjadi

jerawat (Hartini et. al, 2012 :

Athikomkulchai et.al, 2008).

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada pengujian

adalah batang L, swab kapas, rotary

evaporator, dan waterbath. Bahan yang

digunakan pada pengujian adalah biji

Pepaya (Carica papaya L.varietas

California) yang diperoleh di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pelarut etanol 70%, media agar MHA, Nutrient

agar steril, Na-CMC 0,5%, serbuk

magnesium, FeCl3, HCl, kloroform, aquades,

ammonia, H2SO4, reagen Mayer, wagner,

biakan bakteri Propionibacterium acnes,

dan cakram uji antibiotik klindamisin.

Jalannya Penelitian

Pembuatan Ekstrak Etanol 70% biji Pepaya

Biji Pepaya sebanyak 1kg di sortasi basah dialiri air bersih dan kemudian dikeringkan. Sebanyak 340 gram diekstraksi menggunakan metode maserasi

(3)

145

dengan perbandingan simplisia : pelarut etanol 70% (1:4). Hasil maserasi diuapkan dengan rotary evaporator, dan dipekatkan

dengan waterbath sampai didapatkan

bobot tetap yaitu 19,9 gram (5,852%).

Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak biji Pepaya. a. Uji Alkaloid : Ekstrak 2 ml ditambah 3 tetes kloroform dan 2 tetes ammonia kemudian panaskan selama 2 menit kemudian disaring, bagi menjadi 3 tabung masing-masing ditetesi HCl 2 N sebanyak 1 tetes kemudian masing-masing tabung di uji dengan pelarut mayer, wegner, dan dragendroff (Sangi et al., 2008).

b. Uji Flavonoid : Ekstrak 2 ml ditambah serbuk magnesium dan ditambahkan 3 tetes HCl pekat. Keberadaan flavonoid ditandai

dengan terbentuknya warna jingga

kemerahan (Sangi et al., 2008).

c. Uji Saponin : Ekstrak 2 ml ditambahkan aquades panas kemudian dikocok kuat selama 10 menit. Diamkan selama 1-3 menit kemudian tetesi dengan HCl 2 N sebanyak 2 tetes jika masih ada buih stabil maka positif saponin (Fatimawali dan Frenly, 2014).

d. Uji Tanin : Ekstrak 2 mL direaksikan dengan larutan FeCl3 sebanyak 3 tetes, jika terjadi warna biru tua atau hitam

kehijauan menunjukkan adanya tannin

(Sangi et al., 2008).

Uji Efektivitas Antibakteri

Pada metode sumuran ini sampel uji dibuat sumur pada media Agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.

Analisis Data

Data hasil yang didapat dari pengujian

metode difusi sumuran dianalisis

menggunakan SPSS dengan uji

pendahuluan yaitu uji normalitas dan homogenitas kemudian dilanjutkan dengan

uji Kruskall-Wallis, dan analisis post hoc

menggunakan uji Mann-Whitney.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dilakukan uji kandungan senyawa kimia Adapun Hasil skrining fitokimia ekstrak biji papaya positif mengandung alkaloid, saponin, dan tannin. Adapun hasil pengujian efek antibakteri dapat dilihat pada Gambar 1 dan Tabel 1.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menggunakan metode sumuran ekstrak biji Pepaya konsentrasi 40% sampai

(4)

146

100% memiliki diameter zona hambat rata- rata diatas 5mm (kategori sedang). Pada konsentrasi 20% sampai 30% memiliki diameter zona hambat < 5mm (kategori lemah). Konsentrasi 100% memiliki nilai rata paling tinggi, sedangkan nilai

rata-rata terendah terdapat pada konsentrasi 20%. Hasil tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar diameter zona hambat yang didapat. kemampuan dalam membunuh suatu bakteri semakin besar.

Gambar 1. Hasil uji efektivitas antibakteri ekstrak etanol 70% biji Pepaya terhadap bakteri

P. acnes dengan metode sumuran (a) Konsentrasi 1) 20%, 2) 30%, 3) 40% ; (b)

Konsentrasi 4) 50%, 5) 60%, 6) 70% ; (c) Konsentrasi 7) 80%, 8) 90%, dan 9) 100%

Tabel 2. Rata-rata Diameter Zona Hambat Tiap Konsentrasi Ekstrak Biji Pepaya Terhadap

Pertumbuhan Bakteri P. acnes Dengan Metode Sumuran

Konsentrasi ekstrak

Rata-rata Diameter Zona

Hambat (mm)±Standar Deviasi Kategori Zona Hambat

100% 8,083±1,726 Sedang 90% 7,833±2,055 Sedang 80% 6,667±1,939 Sedang 70% 6,733±1,357 Sedang 60% 5,367±1,850 Sedang 50% 5,533±1,365 Sedang 40% 5,067±0,838 Sedang 30% 4,216±0,604 Lemah 20% 3,383±0,510 Lemah

Kontrol Positif 20,667±0,577 Kuat

Kontrol Negatif 0 Tidak ada zona hambat

Keterangan Zona Hambat : (>20 mm : Sangat Kuat); (10-20 mm : Kuat); (5-10 mm : Sedang) ; (< 5 mm : Lemah) (Pratama, 2005).

(5)

147

Hasil yang didapat telah sesuai dengan pernyataan Pelczar dan Chan (1988). Menurut Roslizawaty (2013), meningkatnya konsentrasi zat menyebabkan meningkatnya kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai antibakteri, sehingga Dari hasil penelitian diatas dilakukan uji analisis data

menggunakan SPSS. Hasil dari uji

normalitas diperoleh nilai sig sebesar 0.00 yang berarti nilai (p<0.05) maka data tersebut dapat dikatakan tidak terdistribusi normal. Kemudian dilanjutkan dengan uji

homogenitas, hasil uji homogenitas

diperoleh nilai sig sebesar 0.127 yang berarti nilai (p>0.05) maka data tersebut dapat dikatakan homogen.

Uji non parametrik Kruskal- Wallis, diperoleh hasil nilai sig sebesar 0.003 yang berarti nilai (p<0.05), artinya terdapat

perbedaan yang signifikan terhadap

masing- masing kelompok. Pada

konsentrasi 100% sampai 20% memiliki nilai signifikasi sebesar 0,046 terhadap kontrol positif yang berarti nilai signifikasi <0.05 maka dapat disimpulkan terdapat

perbedaan hasil zona hambat yang

signifikan pada konsentrasi 100% sampai

20% dengan kontrol positif. Pada

konsentrasi 100% sampai 20% memiliki nilai signifikasi sebesar 0,037 terhadap

kontrol negatif yang berarti nilai signifikasi <0.05 maka dapat disimpulkan terdapat

perbedaan hasil zona hambat yang

signifikan pada konsentrasi 100% sampai 20% dengan kontrol negatif.

Mekanisme kerja alkaloid sebagai antibakteri adalah dengan cara

mengganggu komponen penyusun

peptidoglikan pada sel bakteri sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel (Widodo, 2007). Mekanisme kerja tanin sebagai antibakteri adalah menghambat enzim reverse transcriptase dan DNA topoisomerase sehingga sel bakteri tidak dapat terbentuk. Mekanisme kerja saponin sebagai antibakteri adalah menurunkan

tegangan permukaan sehingga

mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel dan mengakibatkan senyawa intraseluler akan keluar (Nuria et al. 2009).

KESIMPULAN

Kandungan golongan senyawa aktif dari ekstrak etanol 70% biji Pepaya (Carica

papaya L.) pada penelitian ini adalah

alkaloid, saponin, dan tanin. Konsentrasi efektif ekstrak etanol 70% biji

Pepaya (Carica papaya L.) dalam

(6)

148

Propionibacterium acnes dengan metode

sumuran adalah konsentrasi 100% dengan zona hambat sebesar 8,083 mm dengan kategori sedang sebagai zat antibakteri.

DAFTAR PUSTAKA

Athikomulchai, S., Rith, W. Sujimon, T. Panida, V. Paisarn, K. Prapan, S.J. dan Nijsiri, R. 2008. The Development of Anti-Acne Products from Eucalyptus Globules dan Psidium Guajava oil. Journal Health Res. 22 (3) : Hal 109-113

Fatimawali, I., dan W.Frenly. 2014. Aktivitas Diuretik Dan Skrining

Fitokimia Ekstrak Etanol Biji

Pepaya (Carica Papaya L.) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar

(Rattus Norvegicus). PHARMACON

Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT.

Hartini, Sri. Fahrezi, Anand. G.

Supomo, dan Joko. 2012. 10 Cara

Paling Jitu Mengatasi Jerawat dan

Komedo. Yogyakarta: Nuha Medika.

Indriaty,I.P.B.S.,M.T.,Mefi.2015.Kai an

Beberapa Tumbuhan Obat Yang

Digunakan Dalam Pengobatan

Malaria Secara Tradisional.

SPIRAKEL, Hal 28-37.

Milind, P., dan Gurditta. 2011. Basketful Benefits of Papaya.

IRJP. 2(7) : Hal 6-12.

Nuria, M.C., A. Faizatun, dan Sumantri.

2009. Uji Antibakteri Ekstrak

Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha

cuircas L.) terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus ATCC

25922, Escherichia coli ATCC

25922, dan Salmonella typhii ATCC 1408. Jurnal Ilmu-ilmu pertanian.

5:26-37.

Pelczar, J.M. dan Chan, E.C.S. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi Jakarta: UI Press.

Pratama, M.R. 2005. Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora

persica) Terhadap Pertumbuhan

Bakteri Streptococcus mutans dan

Stapylococcus aureus Dengan

Metode Difusi Agar. [Skripsi]. Bogor. IPB.

Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.

Roslizawaty, Ramadani, M.D., Fakhrurrazi dan Herri alfian. 2013. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan

Rebusan Sarang Semut

(Myrmecodia sp) Terhadap Bakteri

Escherichia coli. Jurnal Medika

(7)

149

Sangi, M. M.R.J. Runtuwene, H.E.I Simbala, dan V.M.A Makang. 2008. Analisis Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara. Manado. Jurusan Kimia Fakultas MIPA UNSRAT.

Gambar

Gambar  1.  Hasil  uji  efektivitas  antibakteri  ekstrak  etanol  70%  biji  Pepaya  terhadap bakteri  P

Referensi

Dokumen terkait

ekstrak metanol batang pepaya mengandung alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus,

Hasil skrining fitokimia menunjukan ekstrak etanol daun awar-awar mengandung senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang memiliki aktivitas antibakteri..

Hasil Analisa Spektrofotometer Serapan Atom Ekstrak Etanol Biji Pepaya 25% + Suspensi

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui senyawa antibakteri yang terkandung dalam biji pepaya (Carica papaya L.), untuk mengetahui efektivitas antibakteri

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak biji pepaya terhadap bakteri Escherichia coli dan mengetahui potensi antibakteri ekstrak biji papaya

Senyawa Penyusun Biji Papaya Jika diurai, maka kandungan biji papaya antara lain alkaloid, steroid, tanin, dan juga minyak atsiri. Secara mendetil, kandungan biji

Tujuan dari penelitian ini yaitu melakukan skrining fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa alkaloid, triterpenoid dan steroid, flavonoid, tannin, saponin dan menetukan

Hal ini kemungkinan terjadi karena dalam ekstrak etanol daun sempur air mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin yang diketahui dapat