• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konvensi Hak Penyandang Cacat. dan Protokol Opsional terhadap Konvensi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Konvensi Hak Penyandang Cacat. dan Protokol Opsional terhadap Konvensi"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

Konvensi

Hak

Penyandang

Cacat

dan

(2)

Konvensi Hak-hak Asasi Penyandang Cacat dan

Protokol Opsional terhadap Konvensi

The Convention on the Human Rights of Persons with Disabilities and

The Optional Protocol to the Convention

Konvensi ini disepakati pada tanggal 13 Desember 2006 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa

dengan Resolusi 61/106

dan terbuka untuk ditandatangani oleh negara-negara anggota PBB pada tanggal 30 Maret 2007

This Convention text was adopted on December 13, 2006 by the United Nations General Assembly

in Resolution 61/106

and opened for signature by States on March 30, 2007

Terjemahan tidak resmi oleh

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) Unofficially translated by

The National Human Rights Commission of Indonesia Diedit oleh/ Edited by

Handicap International - Indonesia Dokumen ini diterbitkan dengan bantuan hibah dari Uni Eropa melalui program

European Initiative for Democracy & Human Rights (EIDHR) dan Irish Aid. Pendapat/ pandangan yang dinyatakan dalam dokumen ini di luar tanggung jawab Uni Eropa atau Irish Aid.

This document has been produced with the financial assistance of the European Commission through the European Initiative for Democracy & Human Rights (EIDHR) programme and Irish Aid. The views expressed herein are those of the members of the Forum for Action on Disability Rights and can therefore in no way be taken to reflect the official opinion of the European Commission or Irish Aid.

(3)

Preface

The Convention on the Rights of Persons with Disabilities was translated by the National Human Rights Commission of Indonesia (Komnas HAM) as a part of their efforts to educate and raise awareness of various human rights issues.

HI expresses its gratitude to Komnas HAM for these efforts, which has made it possible for Disabled People’s Organisations (DPO) and other members of civil society throughout Indonesia to be aware of and learn about this important legal instrument.

Given that this translation has not been officially published by Komnas HAM, it may contain inaccuracies. Therefore, based on suggestions from local DPOs as our partners, as well as taking accounts to suggestions form other reliable sources that are

experienced in law and disability issues, we are presenting a revised Bahasa text that more closely reflects the official English version (the “true certified text”) from the UN. Nonetheless, this revised version should not be seen as authoritative and should not be used as the sole reference. It is for this reason that HI has published the revised Bahasa text alongside the English original for each corresponding Article.

i Preface i

i Kata Pengantar

Kata Pengantar

Naskah Konvensi Hak-hak Penyandang Cacat ini diterjemahkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai bagian dari upaya mereka mendidik dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan berbagai isu hak asasi manusia.

HI berterima kasih kepada Komnas HAM atas usahanya tersebut, yang telah memungkinkan organisasi-organisasi kecacatan dan anggota masyarakat sipil lainnya di seluruh Indonesia untuk mengetahui instrumen hukum yang penting ini.

Mengingat bahwa naskah terjemahan Konvensi ini belum pernah secara resmi dipublikasikan oleh Komnas HAM, maka ada

kemungkinan bahwa terjemahan ini mengandung ketidakakuratan. Oleh karena itu, berdasarkan masukan-masukan dan usulan-usulan dari berbagai organisasi penyandang cacat yang menjadi partner kami, serta mempertimbangkan usul atau saran dari berbagai sumber lainnya yang berpengalaman di bidang hukum serta isu kecacatan, HI menyajikan terjemahan yang telah direvisi sehingga ini lebih mencerminkan isi Konvensi versi bahasa Inggris yang resmi dari PBB. Akan tetapi, HI menghimbau pembaca untuk tidak menganggap dan menjadikan naskah Konvensi versi bahasa Indonesia ini sebagai satu-satunya sumber rujukan. Untuk itulah HI menerbitkan naskah Konvensi dalam bahasa Indonesia ini

bersisihan dengan naskah aslinya dalam bahasa Inggris untuk setiap pasal yang dimaksud.

(4)

ii ii

Segala informasi dan masukan berkaitan dengan isi naskah

Konvensi dalam bahasa Indonesia ini dapat ditujukan kepada HI dan atau Komnas HAM dengan alamat di bawah ini:

Handicap International Jl Magelang

Karangwaru Kidul TR II/22A, Tegalrejo Yogyakarta 55241

Tel/Fax: 0274 556 478/ 545 941 E-mail: [email protected] Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Jl. Latuharhary No. 4 B Menteng, Jakarta 10310 Telepon: 021 392 5230

Faksimile: 021 391 2026

E-mail: [email protected]

Kami sungguh-sungguh berharap Pemerintah Indonesia, sebagai negara yang telah menandatangani perjanjian penting ini, akan segera membuat terjemahan resmi yang benar-benar sesuai dengan dokumen aslinya, baik penyampaiannya dalam kata-kata maupun maksud isinya.

Handicap International - Indonesia

Any information and feedback concerning the content of the revised Bahasa Convention text may be addressed to HI and or Komnas HAM at the following addresses:

Handicap International Jl Magelang

Karangwaru Kidul TR II/22A, Tegalrejo Yogyakarta 55241

Tel/Fax: 0274 556 478/ 545 941 E-mail: [email protected] Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Jl. Latuharhary No. 4 B Menteng, Jakarta 10310 Tel: 021 392 5230

Fax: 021 391 2026

E-mail: [email protected]

We sincerely hope that the government of Indonesia, as a signatory state to this historic treaty, will soon produce an official translation that fully respects the original document both in letter and spirit.

Handicap International - Indonesia

Preface Kata Pengantar

(5)

Introduction

eople with disabilities of all ages live in every region and every community of Indonesia. They belong to all of this

P

country's races, social classes, cultural groups and religious groups. They should be using the schools, workplaces, shopping centers, neighbourhoods, public transport and government offices of their communities. People who use wheelchairs, canes, and sign language, people with intellectual disabilities, should be an ordinary part of our world.

In reality most people with disabilities are not visible in society. Physical barriers obstruct access of people with physical disabilities to public spaces and prevent free movement. Technological barriers prevent people with hearing and visual impairments from

communication. Social barriers in the form of attitudes and practices convey, explicitly or implicitly, that people with disabilities are either unwelcome or are considered less capable than everyone else. On March 30, 2007 the Indonesian government took a significant step in strengthening Indonesia's commitment to promote the human rights of people with disabilities by signing the UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities. This is the first human rights instrument that comprehensively addresses the needs and specific concerns of people with all types of disabilities. Organisations of people with disabilities and their allies from around the world strongly influenced the convention drafting process, providing unprecedented levels of substantive input. It is due to this participatory process that the Convention obligations reflect the priorities of people with disabilities from both developed and developing countries.

i Introduction iii

iii Pendahuluan

Pendahuluan

enyandang cacat dari semua kelompok umur hidup di setiap wilayah dan kelompok masyarakat di Indonesia. Mereka

P

merupakan bagian dari semua suku, kelas sosial, budaya, dan agama di negara ini. Dalam lingkungan masyarakatnya, mereka seharusnya memanfaatkan fasilitas umum di sekolah-sekolah, tempat kerja, pusat perbelanjaan, lingkungan rumah, transportasi umum dan kantor-kantor pemerintah. Pengguna kursi roda, pengguna tongkat, dan pengguna bahasa isyarat, serta orang-orang yang mengalami cacat mental (atau tunagrahita) seharusnya menjadi bagian yang wajar dari dunia kita.

Dalam kenyataannya, sebagian besar penyandang cacat tak terlihat di masyarakat. Kendala lingkungan fisik menghalangi akses orang-orang dengan cacat tubuh (atau tunadaksa) ke ruang publik dan membatasi ruang gerak mereka. Kendala teknologi menghalangi orang-orang yang mengalami cacat pendengaran (atau tunarunggu) dan cacat penglihatan (atau tunanetra) untuk berkomunikasi. Kendala sosial dalam bentuk sikap dan tindakan menunjukkan, secara eksplisit ataupun implisit, bahwa kehadiran penyandang cacat tidak diterima ataupun bahwa mereka dianggap kurang mampu dibanding orang lain.

Pada tanggal 30 Maret 2007, pemerintah Indonesia mengambil langkah penting dalam memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk

memajukan hak-hak asasi penyandang cacat dengan menandatangani naskah Konvensi PBB tentang Hak-hak Penyandang Cacat (Convention

on the Rights of Persons with Disabilities). Ini merupakan instrumen hak

asasi manusia pertama yang secara komprehensif membicarakan dan memberikan perhatian pada kebutuhan khusus orang-orang dengan segala jenis kecacatan. Organisasi-organisasi penyandang cacat dan aliansi mereka di seluruh dunia telah memberikan pengaruh yang besar dalam proses penyusunan Konvensi ini, yaitu dengan cara memberikan banyak masukan yang bernilai dan belum pernah ada sebelumnya. Karena proses yang partisipatoris inilah maka kewajiban yang tercantum dalam Konvensi tersebut mencerminkan prioritas penyandang cacat baik dari negara maju maupun negara sedang berkembang.

(6)

iv

Introduction

iv Pendahuluan

Konvensi tersebut membantu kita mengubah cara pandang

pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap penyandang cacat, meningkatkan pemahaman kita bahwa penyandang cacat memiliki hak asasi yang harus dilindungi. Akan tetapi, Konvensi tersebut tidak merumuskan hak-hak baru bagi para penyandang cacat. Sebaliknya, Konvensi tersebut memungkinkan penyandang cacat untuk menikmati hak-hak yang sama dengan orang lain melalui penegasan dan

penerapan konsep-konsep pokok hak asasi manusia, antara lain martabat, kesetaraan dan kebebasan untuk menentukan pilihan, sesuai keadaan mereka. Konvensi ini mengharuskan pemerintah untuk mengambil tindakan proaktif guna menyingkirkan kendala sikap, lingkungan fisik, dan komunikasi yang menghalangi para penyandang cacat berpartisipasi secara penuh di masyarakat.

Dengan menandatangani naskah Konvensi ini, pemerintah Indonesia telah menunjukkan niatnya untuk meratifikasi (mengesahkan)

Konvensi tersebut dalam waktu dekat. Setelah meratifikasi konvensi tersebut, Indonesia akan menjadi sebuah Negara Pihak pada Konvensi itu, dan pemerintah akan terikat secara hukum untuk melaksanakan kewajiban yang tercantum dalam Konvensi tersebut di tingkat nasional dan untuk melaporkan pelaksanaannya secara rutin kepada Panitia Pemantau PBB. Oleh karenanya, meratifikasi

Konvensi ini merupakan langkah pertama untuk membuat pemerintah bertanggung jawab secara nasional dan internasional dalam

pemenuhan hak-hak penyandang cacat di Indonesia.

Protokol Opsional terhadap Konvensi ini mengatur lebih lanjut mekanisme pengaduan internasional yang dapat digunakan oleh kelompok maupun perseorangan yang hak-haknya telah dilanggar jika mereka tidak mendapatkan keadilan di negara mereka. Pada saat Protokol Opsional ditandatangani dan disahkan, instrumen hukum ini tentunya akan semakin menguatkan hak penyandang cacat yang diatur dalam Konvensi tersebut. Namun, Pemerintah Indonesia tidak menandatangani Protokol Opsional ini.

The Convention will help us change the way the Indonesian government and society thinks about people with disabilities, encouraging the understanding that people with disabilities are holders of human rights that must be protected. However the Convention does not create new rights for people with disabilities. It instead enables people with disabilities to enjoy the same rights as other people by affirming and applying core human rights concepts, such as dignity, equality and the freedom to make one's own choices, to the situation of people with disabilities. It obliges governments to take proactive measures to remove the attitudinal, physical, and communications barriers that prevent people with disabilities' full participation in society.

By signing the Convention, the Indonesian government has signaled its intention to ratify it in the near future. Upon ratification, Indonesia will become a State Party to the Convention, and the government will be legally bound to implement the Convention obligations at the national level and to report on this implementation regularly to a UN monitoring committee. Ratification is therefore the first step to

making the government nationally and internationally accountable for fulfilling the rights of people with disabilities in Indonesia.

The Optional Protocol to the Convention additionally provides for an international complaints mechanism that individuals or groups whose rights have been violated can use if they cannot achieve justice in their country. This instrument could further strengthen the rights of people with disabilities stipulated in the Convention. However the Indonesian government did not sign the Optional Protocol.

(7)

v

Introduction

v Pendahuluan

Indeed, Indonesia has ratified several international conventions, dealing with the human rights of women and children, the prohibition against torture and racial discrimination, as well as civil, political, economic, social and cultural rights. However the government has not fully implemented these legal obligations, which has meant the continued marginalization of people with disabilities. Furthermore, while Indonesia has taken the positive step forward with a law that specifically protects the rights of people with disabilities - Law No 4, 1997 on People with Disabilities - this law both in its content and implementation has yet to ensure respect for, and protection and fulfillment of, all the rights of people with disabilities. It should be stressed therefore that the signing of the Convention by the Indonesian government will not on its own ensure full implementation.

The Indonesian government should, without delays, ratify the

Convention, reform national laws so that they are in harmony with its obligations and most importantly, fully implement these obligations. One such obligation of the government is that people with disabilities and their organizations must be included in decision making

processes shaping all stages of the Convention's implementation. The government should therefore provide information to the disability movement to enable their participation in these processes. This right to participate is one that people with disabilities and civil society fought for throughout the process of negotiating the Convention. This is a right that now imposes a responsibility on the disability

movement in Indonesia to educate themselves and others about human rights based advocacy for people with disability.

Memang pemerintah Indonesia telah meratifikasi beberapa konvensi internasional yang berkaitan dengan hak asasi perempuan dan anak-anak, larangan terhadap penganiayaan dan diskriminasi rasial, serta hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Akan tetapi, pemerintah belum menerapkan secara penuh kewajiban-kewajiban hukum yang tercantum di dalam berbagai Konvensi itu, dan ini berarti terus berlanjutnya marjinalisasi terhadap penyandang cacat. Terlebih lagi, walaupun Indonesia telah mengambil langkah positif dengan adanya undang-undang yang secara khusus melindungi hak-hak penyandang cacat, yaitu Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, undang-undang ini baik isi maupun pelaksanaannya belum menjamin adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap seluruh hak-hak

penyandang cacat. Karena itu harus ditekankan bahwa

penandatanganan naskah Konvensi oleh Pemerintah Indonesia tidak dengan sendirinya menjadi hal yang menjamin pelaksanaan secara penuh seluruh isi Konvensi tersebut.

Pemerintah Indonesia harus segera meratifikasi Konvensi ini, mereformasi peraturan perundang-undangan yang ada sehingga selaras dengan kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam Konvensi, dan yang paling penting melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut secara penuh.

Salah satu kewajiban pemerintah yang dimaksud di atas adalah bahwa penyandang cacat dan organisasi-organisasinya harus disertakan dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan seluruh tahapan pelaksanaan Konvensi. Oleh karenanya,

pemerintah harus memberikan informasi kepada gerakan kecacatan untuk memungkinkan mereka terlibat dalam proses ini. Hak

berpartisipasi ini merupakan suatu hak yang diperjuangkan oleh penyandang cacat dan masyarakat sipil sepanjang proses negosiasi Konvensi. Ini juga merupakan hak yang mendorong gerakan

kecacatan di Indonesia untuk ikut bertanggung jawab dalam mendidik diri sendiri dan orang lain mengenai advokasi yang berbasis hak asasi manusia bagi penyandang cacat.

(8)

Therefore, promoting the full implementation of the Convention has to be a common agenda for people with disabilities. It is for this reason that the disseminating of the text of the Convention and its Optional Protocol is necessary, so that people with disabilities in Indonesia will be aware of and understand the content of this document.

It is our hope that collaboration between people with disabilities, their representative organizations, other members of civil society, and with the government, from the local to the national level, will be

established in a collective effort to advocate on this important issue.

vi

Introduction

vi Pendahuluan

Dengan demikian, usaha mempromosikan pelaksanaan Konvensi secara penuh dan menyeluruh harus menjadi agenda bersama bagi penyandang cacat. Untuk alasan ini pula maka penyebarluasan naskah Konvensi dan Protokol Opsionalnya ini penting, sehingga penyandang cacat di Indonesia menyadari dan memahami isi dokumen tersebut.

Harapan kita adalah bahwa kerjasama antara para penyandang cacat, organisasi yang mewakili mereka, anggota masyarakat lainnya, dan dengan pemerintah, dari tingkat lokal hingga tingkat nasional, akan terjalin dalam suatu usaha bersama untuk

(9)

KONVENSI HAK-HAK PENYANDANG CACAT

Mukadimah

Negara-negara yang berpihak pada Konvensi ini (Negara-negara Pihak),

(a) Mengingat prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Piagam

Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengakui martabat dan harkat yang melekat dan hak-hak yang setara dan tidak dapat dicabut dari semua anggota umat manusia sebagai dasar dari kebebasan, keadilan, dan perdamaian di dunia,

(b) Mengakui bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam Deklarasi

Universal Hak Asasi Manusia dan dalam Kovenan-kovenan Internasional tentang Hak Asasi Manusia, telah menyatakan dan menyepakati bahwa setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang tercantum di dalamnya, tanpa pembedaan dalam bentuk apa pun,

(c) Menegaskan kembali tentang universalitas, sifat tidak

terbagi-bagi, kesalingtergantungan, dan kesalingterkaitan antara semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar dan kebutuhan

penyandang cacat untuk dijamin sepenuhnya penikmatan atas hak asasi manusia dan kebebasan mendasar tersebut tanpa

diskriminasi,

(d) Mengingat kembali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi,

Sosial, dan Budaya, Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak

Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia, Konvensi tentang Hak Anak, dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya,

CONVENTION ON THE RIGHTS OF PERSONS WITH

DISABILITIES

Preamble

The States Parties to the present Convention,

(a) Recalling the principles proclaimed in the Charter of the United

Nations which recognize the inherent dignity and worth and the equal and inalienable rights of all members of the human family as the foundation of freedom, justice and peace in the world,

(b) Recognizing that the United Nations, in the Universal Declaration

of Human Rights and in the International Covenants on Human Rights, has proclaimed and agreed that everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth therein, without distinction of any kind,

(c) Reaffirming the universality, indivisibility, interdependence and

interrelatedness of all human rights and fundamental freedoms and the need for persons with disabilities to be guaranteed their full enjoyment without discrimination,

(d) Recalling the International Covenant on Economic, Social and

Cultural Rights, the International Covenant on Civil and Political Rights, the International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women, the Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment, the Convention on the Rights of the Child, and the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families,

1

Preamble

(10)

(e) Mengakui bahwa kecacatan adalah suatu konsep yang

berkembang dan bahwa kecacatan adalah hasil dari interaksi antara orang-orang yang tidak sempurna secara fisik dan mental dengan hambatan-hambatan lingkungan yang menghalangi partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain.

(f) Mengakui pentingnya prinsip-prinsip dan panduan-panduan kebijakan yang termuat dalam Program Aksi Dunia tentang Penyandang Cacat dan dalam Peraturan Standar tentang Penyetaraan Kesempatan bagi Penyandang Cacat yang

mempengaruhi pemajuan, pembentukan, dan evaluasi kebijakan, perencanaan, program-program, dan aksi-aksi di tingkat nasional, regional, dan internasional demi memajukan penyetaraan

kesempatan bagi penyandang cacat,

(g) Menekankan pentingnya pengarusutamaan persoalan-persoalan penyandang cacat sebagai bagian yang integral dalam strategi-strategi pembangunan berkelanjutan yang berkaitan,

(h) Juga mengakui bahwa diskriminasi terhadap setiap orang atas dasar kecacatan adalah pelanggaran terhadap martabat yang melekat dan harga diri setiap manusia,

(i) Mengakui lebih lanjut keragaman penyandang cacat,

(j) Mengakui kebutuhan untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia semua orang penyandang cacat, termasuk mereka yang membutuhkan dukungan yang lebih intensif,

(k) Kekhawatiran bahwa, walaupun sudah terdapat berbagai instrumen dan kewajiban, penyandang cacat terus menghadapi hambatan dalam partisipasi mereka sebagai anggota yang setara dalam masyarakat dan mengalami pelanggaran terhadap hak asasi manusia di berbagai wilayah di dunia,

(e) Recognizing that disability is an evolving concept and that disability results from the interaction between persons with

impairments and attitudinal and environmental barriers that hinders their full and effective participation in society on an equal basis with others,

(f) Recognizing the importance of the principles and policy guidelines contained in the World Programme of Action concerning Disabled Persons and in the Standard Rules on the Equalization of

Opportunities for Persons with Disabilities in influencing the promotion, formulation and evaluation of the policies, plans, programmes and actions at the national, regional and international levels to further equalize opportunities for persons with disabilities, (g) Emphasizing the importance of mainstreaming disability issues as an integral part of relevant strategies of sustainable development, (h) Recognizing also that discrimination against any person on the basis of disability is a violation of the inherent dignity and worth of the human person,

(i) Recognizing further the diversity of persons with disabilities, (j) Recognizing the need to promote and protect the human rights of all persons with disabilities, including those who require more intensive support,

(k) Concerned that, despite these various instruments and

undertakings, persons with disabilities continue to face barriers in their participation as equal members of society and violations of their human rights in all parts of the world,

2

Preamble

(11)

(l) Mengakui pentingnya kerja sama internasional untuk memperbaiki kondisi kehidupan penyandang cacat di setiap negara, khususnya di negara-negara berkembang,

(m) Mengakui adanya kontribusi-kontribusi yang bernilai dan

potensial yang dilakukan oleh penyandang cacat bagi kesejahteraan dan keragaman dalam komunitas mereka, dan bahwa pemajuan akan penikmatan penuh hak asasi manusia dan kebebasan mendasar penyandang cacat serta partisipasi penuh penyandang cacat akan membangun rasa memiliki mereka serta peningkatan yang signifikan dalam pembangunan manusia, sosial, dan ekonomi masyarakat serta penghapusan kemiskinan,

(n) Mengakui pentingnya otoritas individu dan kemandirian bagi penyandang cacat, termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan mereka sendiri,

(o) Mempertimbangkan bahwa penyandang cacat harus memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam proses-proses pengambilan keputusan tentang kebijakan-kebijakan dan program-program, termasuk yang langsung berkaitan dengan mereka, (p) Khawatir tentang kondisi-kondisi yang sulit yang dihadapi oleh penyandang cacat yang menjadi subyek bentuk-bentuk diskriminasi berganda atau semakin memburuk atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya, kebangsaan, etnis, asal-asal usul indigenous atau sosial, kepemilikan, status kelahiran, agama atau status lainnya,

(q) Mengakui bahwa penyandang cacat perempuan dan anak-anak perempuan sering beresiko tinggi dalam mengalami kekerasan, penyiksaan, pengabaan, penganiayaan, atau eksploitasi baik di dalam maupun di luar rumah,

(l) Recognizing the importance of international cooperation for improving the living conditions of persons with disabilities in every country, particularly in developing countries,

(m) Recognizing the valued existing and potential contributions made by persons with disabilities to the overall well-being and diversity of their communities, and that the promotion of the full enjoyment by persons with disabilities of their human rights and fundamental freedoms and of full participation by persons with disabilities will result in their enhanced sense of belonging and in significant advances in the human, social and economic

development of society and the eradication of poverty,

(n) Recognizing the importance for persons with disabilities of their individual autonomy and independence, including the freedom to make their own choices,

(o) Considering that persons with disabilities should have the opportunity to be actively involved in decision-making processes about policies and programmes, including those directly concerning them,

(p) Concerned about the difficult conditions faced by persons with disabilities who are subject to multiple or aggravated forms of discrimination on the basis of race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national, ethnic, indigenous or social origin, property, birth, age or other status,

(q) Recognizing that women and girls with disabilities are often at greater risk, both within and outside the home of violence, injury or abuse, neglect or negligent treatment, maltreatment or exploitation,

3

(12)

(r) Mengakui bahwa penyandang cacat anak-anak harus menikmati semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar secara penuh atas dasar kesetaraan dengan anak-anak lain, dan mengingatkan kembali akan kewajiban Negara-negara Pihak pada Konvensi Hak Anak untuk mewujudkan tujuan tersebut,

(s) Menekankan kebutuhan untuk memasukkan perspektif gender dalam segala upaya untuk memajukan penikmatan penuh hak asasi manusia dan kebebasan mendasar penyandang cacat,

(t) Menggarisbawahi kenyataan bahwa mayoritas penyandang cacat hidup dalam kemiskinan, dan oleh karenanya mengakui kebutuhan penting untuk menangani dampak negatif kemiskinan terhadap penyandang cacat,

(u) Mengingat bahwa kondisi perdamaian dan keamanan atas dasar penghormatan penuh terhadap tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pelaksanaan instrumen-instrumen hak asasi manusia adalah sangat diperlukan bagi perlindungan penuh penyandang cacat, khususnya pada saat saat konflik bersenjata dan pendudukan wilayah oleh pihak asing,

(v) Mengakui pentingnya aksesibilitas terhadap lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan budaya, terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan serta terhadap informasi dan komunikasi, untuk

memampukan penyandang cacat agar dapat menikmati semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar,

(w) Menyadari bahwa individu, yang memiliki kewajiban terhadap individu lain dan terhadap masyarakat di mana ia berada, memiliki tanggung jawab untuk berupaya keras bagi pemajuan dan

pelaksanaan hak-hak yang diakui dalam instrumen-instrumen utama hak asasi manusia,

(r) Recognizing that children with disabilities should have full enjoyment of all human rights and fundamental freedoms on an equal basis with other children, and recalling obligations to that end undertaken by States Parties to the Convention on the Rights of the Child,

(s) Emphasizing the need to incorporate a gender perspective in all efforts to promote the full enjoyment of human rights and

fundamental freedoms by persons with disabilities,

(t) Highlighting the fact that the majority of persons with disabilities live in conditions of poverty, and in this regard recognizing the critical need to address the negative impact of poverty on persons with disabilities,

(u) Bearing in mind that conditions of peace and security based on full respect for the purposes and principles contained in the Charter of the United Nations and observance of applicable human rights instruments are indispensable for the full protection of persons with disabilities, in particular during armed conflicts and foreign

occupation,

(v) Recognizing the importance of accessibility to the physical, social, economic and cultural environment, to health and education and to information and communication, in enabling persons with disabilities to fully enjoy all human rights and fundamental freedoms, (w) Realizing that the individual, having duties to other individuals and to the community to which he or she belongs, is under a

responsibility to strive for the promotion and observance of the rights recognized in the International Bill of Human Rights,

4

(13)

(x) Percaya bahwa keluarga adalah unit kelompok yang paling alamiah dan mendasar dalam masyarakat dan berhak atas

perlindungan oleh masyarakat dan Negara, dan bahwa penyandang cacat dan anggota keluarga mereka harus menerima perlindungan dan bantuan yang diperlukan untuk memampukan keluarga agar dapat berkontribusi pada penikmatan hak-hak penyandang cacat secara penuh dan setara,

(y) Percaya bahwa suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral untuk memajukan dan melindungi hak-hak dan martabat penyandang cacat akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya penanganan kesenjangan sosial yang dialami oleh penyandang cacat dan memajukan partisipasi mereka dalam kehidupan sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya dengan

kesempatan yang sama, baik di negara berkembang maupun negara maju,

Telah menyepakati sebagai berikut:

Pasal 1 Tujuan

Tujuan dari Konvensi ini adalah untuk memajukan, melindungi, dan menjamin penikmatan semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar secara penuh dan setara oleh semua orang penyandang cacat, dan untuk memajukan penghormatan atas martabat yang melekat pada diri mereka.

Penyandang cacat termasuk mereka yang memiliki kerusakan fisik, mental, intelektual, atau sensorik jangka panjang yang dalam

interaksinya dengan berbagai hambatan dapat merintangi partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif berdasarkan pada asas kesetaraan.

(x) Convinced that the family is the natural and fundamental group unit of society and is entitled to protection by society and the State, and that persons with disabilities and their family members should receive the necessary protection and assistance to enable families to contribute towards the full and equal enjoyment of the rights of persons with disabilities,

(y) Convinced that a comprehensive and integral international convention to promote and protect the rights and dignity of persons with disabilities will make a significant contribution to redressing the profound social disadvantage of persons with disabilities and

promote their participation in the civil, political, economic, social and cultural spheres with equal opportunities, in both developing and developed countries,

Have agreed as follows:

Article 1 Purpose

The purpose of the present Convention is to promote, protect and ensure the full and equal enjoyment of all human rights and fundamental freedoms by all persons with disabilities, and to promote respect for their inherent dignity.

Persons with disabilities include those who have long-term physical, mental, intellectual or sensory impairments which in interaction with various barriers may hinder their full and effective participation in society on an equal basis with others.

5

Article 1

(14)

6

Article 2 Definitions

For the purposes of the present Convention:

“Communication” includes languages, display of text, Braille, tactile communication, large print, accessible multimedia as well as written, audio, plain-language, human-reader and augmentative and

alternative modes, means and formats of communication, including accessible information and communication technology;

“Language” includes spoken and signed languages and other forms of non spoken languages;

“Discrimination on the basis of disability” means any distinction, exclusion or restriction on the basis of disability which has the purpose or effect of impairing or nullifying the recognition, enjoyment or exercise, on an equal basis with others, of all human rights and fundamental freedoms in the political, economic, social, cultural, civil or any other field. It includes all forms of discrimination, including denial of reasonable accommodation;

“Reasonable accommodation” means necessary and appropriate modification and adjustments not imposing a disproportionate or undue burden, where needed in a particular case, to ensure to persons with disabilities the enjoyment or exercise on an equal basis with others of all human rights and fundamental freedoms;

Pasal 2

Definisi-definisi

Untuk tujuan Konvensi ini:

“Komunikasi” termasuk bahasa, penampilan teks, Braille, komunikasi tacktile, tulisan dalam ukuran besar, multimedia yang dapat diakses, dan juga berbagai cara, sarana, dan format komunikasi tertulis, audio, dalam bahasa sederhana (plain-language), dapat dibaca manusia (human-reader), serta augmentatif dan alternatif, termasuk teknologi informasi dan komunikasi yang dapat diakses;

“Bahasa” termasuk bahasa lisan dan bahasa isyarat serta bentuk-bentuk bahasa lainnya yang tidak diucapkan;

“Diskriminasi atas dasar kecacatan” berarti pembedaan, eksklusi, atau pembatasan apa pun atas dasar kecacatan yang bertujuan untuk atau berdampak pada perusakan atau penghapusan terhadap pengakuan, penikmatan atau pelaksanaan semua hak asasi

manusia dan kebebasan mendasar dalam hal politik, sosial, budaya, sipil, atau bidang lainnya, berdasarkan kesetaraan dengan orang-orang lain. Hal ini termasuk segala bentuk diskriminasi, termasuk penyangkalan atas akomodasi yang layak;

“Akomodasi yang layak” berarti modifikasi dan penyesuaian yang diperlukan dan tepat yang tidak memberikan beban yang tidak seimbang atau tidak semestinya ketika diperlukan dalam kasus-kasus tertentu, untuk menjamin penikmatan atau pelaksanaan semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar penyandang cacat atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain.

6

Article 2 Pasal 2

(15)

“Rancangan universal” berarti rancangan produk, lingkungan, program, dan pelayanan yang dapat digunakan oleh semua orang yang sedapat mungkin tidak membutuhkan adaptasi atau rancangan khusus. “Rancangan universal” tidak termasuk alat-alat pembantu untuk kelompok penyandang cacat tertentu yang memerlukannya.

Pasal 3

Prinsip-prinsip umum

Prinsip-prinsip dari Konvensi ini adalah:

(a) Penghormatan atas martabat yang melekat, otoritas individual termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan, dan

kemandirian orang-orang; (b) Nondiskriminasi;

(c) Partisipasi dan keterlibatan penuh dan efektif dalam masyarakat;

(d) Penghormatan atas perbedaan dan penerimaan penyandang cacat sebagai bagian dari keragaman manusia dan rasa kemanusiaan;

(e) Kesetaraan kesempatan; (f) Aksesibilitas;

(g) Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan;

(h) Penghormatan atas kapasitas yang berkembang dari penyandang cacat anak-anak dan penghormatan atas hak penyandang cacat anak-anak untuk melindungi identitas mereka.

“Universal design” means the design of products, environments, programmes and services to be usable by all people, to the greatest extent possible, without the need for adaptation or specialized design. “Universal design” shall not exclude assistive devices for particular groups of persons with disabilities where this is needed.

Article 3

General principles

The principles of the present Convention shall be:

(a) Respect for inherent dignity, individual autonomy including the freedom to make one’s own choices, and independence of persons;

(b) Non-discrimination;

(c) Full and effective participation and inclusion in society; (d) Respect for difference and acceptance of persons with

disabilities as part of human diversity and humanity; (e) Equality of opportunity;

(f) Accessibility;

(g) Equality between men and women;

(h) Respect for the evolving capacities of children with disabilities and respect for the right of children with disabilities to preserve their identities.

7

(16)

Article 4

General obligations

1. States Parties undertake to ensure and promote the full realization of all human rights and fundamental freedoms for all persons with disabilities without discrimination of any kind on the basis of disability. To this end, States Parties undertake:

(a) To adopt all appropriate legislative, administrative and other measures for the implementation of the rights recognized in the present Convention;

(b) To take all appropriate measures, including legislation, to modify or abolish existing laws, regulations, customs and practices that constitute discrimination against persons with disabilities;

(c) To take into account the protection and promotion of the human rights of persons with disabilities in all policies and programmes;

(d) To refrain from engaging in any act or practice that is inconsistent with the present Convention and to ensure that public authorities and institutions act in conformity with the present Convention;

(e) To take all appropriate measures to eliminate discrimination on the basis of disability by any person, organization or private enterprise;

(f) To undertake or promote research and development of

universally designed goods, services, equipment and facilities, as defined in article 2 of the present Convention, which should require the minimum possible adaptation and the least cost to meet the specific needs of a person with disabilities, to

promote their availability and use, and to promote universal design in the development of standards and guidelines;

8 8

Pasal 4

Kewajiban-kewajiban umum

1. Negara-negara Pihak berkewajiban untuk menjamin dan memajukan pemenuhan semua hak asasi manusia dan kebebasan mendasar bagi semua penyandang cacat tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun atas dasar kecacatan mereka. Untuk itu, Negara- negara Pihak berkewajiban untuk:

(a) Mengadopsi semua langkah legislatif, administratif, dan langkah lainnya yang tepat untuk pelaksanaan semua hak yang diakui dalam Konvensi ini;

(b) Mengambil semua langkah yang tepat, termasuk peraturan perundang-undangan, untuk memperbaiki atau menghapuskan hukum, kebiasaan, dan praktek-praktek yang diskriminatif terhadap penyandang cacat;

(c) Untuk mempertimbangkan perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia penyandang cacat dalam semua kebijakan dan program;

(d) Untuk menghindari keterlibatan dalam tindakan atau praktek apapun yang tidak sesuai dengan Konvensi ini dan untuk menjamin bahwa pihak berwenang publik dan institusi-institusi publik bertindak sesuai dengan Konvensi ini;

(e) Untuk mengambil semua langkah yang tepat untuk menghapuskan diskriminasi atas dasar kecacatan yang dilakukan oleh orang-orang, organisasi-organisasi, atau perusahaan-perusahaan swasta mana pun;

(f) Untuk melakukan atau memajukan penelitian dan

pengembangan barang-barang, pelayanan jasa, peralatan, dan fasilitas-fasilitas yang dirancang secara universal, sebagaimana didefinisikan dalam pasal 2 dari Konvensi ini, yang mewajibkan adanya adaptasi yang seminimum mungkin dan biaya serendah mungkin untuk memenuhi kebutuhan khusus seorang penyandang cacat, untuk memajukan ketersediaan dan kegunaannya, serta untuk memajukan rancangan universal dalam pengembangan standar-standar dan panduan-panduan;

Article 4 Pasal 4

(17)

9 9

(g) Untuk melakukan atau memajukan penelitian dan

pengembangan, serta untuk memajukan ketersediaan dan penggunaan teknologi-teknologi baru, termasuk teknologi informasi dan komunikasi, alat-alat bantu gerak, peralatan dan teknologi pendukung yang sesuai bagi penyandang cacat, dengan memberikan prioritas bagi teknologi-teknologi dengan biaya yang terjangkau;

(h) Untuk menyediakan informasi yang dapat diakses oleh penyandang cacat mengenai alat-alat bantu gerak, peralatan dan teknologi pembantu, termasuk teknologi-teknologi baru, serta bentuk-bentuk perbantuan lainnya, pelayanan dan fasilitas pendukung;

(i) Untuk memajukan pelatihan bagi para profesional dan staf yang bekerja dengan penyandang cacat mengenai hak-hak yang diakui dalam Konvensi ini dengan tujuan untuk

memberikan bantuan dan pelayanan sebagaimana dijamin oleh hak-hak tersebut.

2. Berkaitan dengan hak ekonomi, sosial, dan budaya, setiap Negara Pihak berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah dengan semaksimal mungkin menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia, sekiranya diperlukan, dalam kerangka kerja sama internasional, dengan tujuan untuk mencapai realisasi penuh hak-hak tersebut secara progresif, tanpa prasangka terhadap

kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam Konvensi ini yang harus segera diterapkan berdasarkan hukum internasional. 3. Dalam pembuatan dan pelaksanaan peraturan

perundang-undangan dan kebijakan untuk melaksanakan Konvensi ini, dan dalam proses-proses pengambilan keputusan lainnya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan penyandang cacat, Negara-negara Pihak harus benar-benar berkonsultasi dan secara aktif melibatkan penyandang cacat, termasuk penyandang cacat anak-anak, melalui organisasi-organisasi perwakilan mereka.

(g) To undertake or promote research and development of, and to

promote the availability and use of new technologies, including information and communications technologies, mobility aids, devices and assistive technologies, suitable for persons with disabilities, giving priority to technologies at an affordable cost;

(h) To provide accessible information to persons with disabilities

about mobility aids, devices and assistive technologies, including new technologies, as well as other forms of assistance, support services and facilities;

(i) To promote the training of professionals and staff working with

persons with disabilities in the rights recognized in the present Convention so as to better provide the assistance and services guaranteed by those rights.

2. With regard to economic, social and cultural rights, each State

Party undertakes to take measures to the maximum of its available resources and, where needed, within the framework of international cooperation, with a view to achieving progressively the full realization of these rights, without prejudice to those obligations contained in the present Convention that are immediately applicable according to international law.

3. In the development and implementation of legislation and policies

to implement the present Convention, and in other decision-making processes concerning issues relating to persons with disabilities, States Parties shall closely consult with and actively involve persons with disabilities, including children with disabilities, through their representative organizations.

Article 4 Pasal 4

(18)

10 10

4. Tidak satu pun dalam Konvensi ini yang akan mempengaruhi ketentuan-ketentuan yang lebih kondusif bagi realisasi hak-hak penyandang cacat yang tercantum dalam hukum Negara Pihak atau hukum internasional yang berlaku bagi Negara tersebut. Tidak boleh ada pembatasan apa pun atau derogasi terhadap hak asasi manusia dan kebebasan mendasar yang diakui oleh Negara Pihak pada Konvensi ini menurut hukum, konvensi-konvensi, peraturan, atau kebiasaan dengan alasan bahwa Konvensi ini tidak mengakui hak-hak atau kebebasan-kebebasan tersebut atau bahwa Negara Pihak mengakui hak-hak dan

kebebasan-kebebasan tersebut hanya pada tingkatan tertentu.

5. Ketentuan-ketentuan dalam Konvensi ini berlaku untuk semua bagian di negara-negara bagian tanpa pembatasan atau pengecualian apa pun.

Pasal 5

Kesetaraan dan nondiskriminasi

1. Negara-negara Pihak mengakui bahwa semua orang adalah setara didepan hukum dan menurut hukum, dan berhak atas perlindungan dan keuntungan yang sama dari hukum tanpa diskriminasi apapun.

2. Negara-negara Pihak harus melarang semua diskriminasi atas dasar kecacatan dan menjamin perlindungan hukum yang setara dan efektif bagi penyandang cacat dari diskriminasi atas dasar apapun.

3. Dalam rangka memajukan kesetaraan dan menghapuskan diskriminasi, Negara-negara Pihak harus mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjamin tersedianya akomodasi yang layak.

4. Nothing in the present Convention shall affect any provisions

which are more conducive to the realization of the rights of

persons with disabilities and which may be contained in the law of a State Party or international law in force for that State. There shall be no restriction upon or derogation from any of the human rights and fundamental freedoms recognized or existing in any State Party to the present Convention pursuant to law, conventions, regulation or custom on the pretext that the present Convention does not recognize such rights or freedoms or that it recognizes them to a lesser extent.

5. The provisions of the present Convention shall extend to all parts

of federal States without any limitations or exceptions.

Article 5

Equality and non-discrimination

1. States Parties recognize that all persons are equal before and

under the law and are entitled without any discrimination to the equal protection and equal benefit of the law.

2. States Parties shall prohibit all discrimination on the basis of

disability and guarantee to persons with disabilities equal and effective legal protection against discrimination on all grounds.

3. In order to promote equality and eliminate discrimination, States

Parties shall take all appropriate steps to ensure that reasonable accommodation is provided.

Article 5 Pasal 5

(19)

11 11

4. Langkah-langkah khusus yang dibutuhkan untuk mempercepat atau mencapai kesetaraan secara de facto bagi penyandang cacat tidak boleh dianggap sebagai diskriminasi atas dasar Konvensi ini.

Pasal 6

Penyandang cacat perempuan

1. Negara-negara Pihak mengakui bahwa penyandang cacat perempuan dan anak-anak perempuan menjadi subyek

diskriminasi ganda dan oleh karenanya harus mengambil langkah-langkah untuk menjamin penikmatan semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental mereka secara penuh dan setara. 2. Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah yang tepat

untuk menjamin pembangunan, pengembangan, dan

pemberdayaan penuh perempuan, dengan tujuan memberikan jaminan kepada mereka dalam usaha memperoleh dan menikmati hak asasi manusia dan kebebasan mendasar yang akui dalam Konvensi ini.

Pasal 7

Penyandang cacat anak-anak

1. Negara-negara Pihak harus melakukan semua langkah yang diperlukan untuk menjamin penikmatan hak asasi manusia dan kebebasan mendasar penyandang cacat anak-anak secara penuh atas dasar kesetaraan dengan anak-anak lain.

4. Specific measures which are necessary to accelerate or achieve de facto equality of persons with disabilities shall not be

considered discrimination under the terms of the present Convention.

Article 6

Women with disabilities

1. States Parties recognize that women and girls with disabilities are subject to multiple discrimination, and in this regard shall take measures to ensure the full and equal enjoyment by them of all human rights and fundamental freedoms.

2. States Parties shall take all appropriate measures to ensure the full development, advancement and empowerment of women, for the purpose of guaranteeing them the exercise and enjoyment of the human rights and fundamental freedoms set out in the present Convention.

Article 7

Children with disabilities

1. States Parties shall take all necessary measures to ensure the full enjoyment by children with disabilities of all human rights and fundamental freedoms on an equal basis with other children.

Article 6 & 7 Pasal 6 & 7

(20)

12 12

2. Dalam segala tindakan berkaitan dengan penyandang cacat anak-anak, kepentingan terbaik bagi si anak tersebut harus menjadi bahan pertimbangan utama.

3. Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa penyandang cacat anak-anak mempunyai hak untuk menyatakan pendapat mereka secara bebas mengenai berbagai hal yang mempengaruhi

kehidupan mereka atas dasar kesetaraan dengan anak-anak lain, di mana pandangan mereka tersebut dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kedewasaan mereka, dan menjamin bahwa penyandang cacat anak-anak disediakan bantuan yang tepat sesuai dengan kecacatan dan usia mereka demi perwujudan hak tersebut.

Pasal 8

Peningkatan kesadaran

1. Negara-negara Pihak harus segera mengadopsi langkah-langkah yang cepat, efektif dan tepat untuk:

(a) Meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat, termasuk di tingkat keluarga, berkaitan dengan penyandang cacat, dan memajukan penghormatan terhadap hak-hak dan martabat penyandang cacat;

(b) Memerangi stereotipe, prasangka, dan praktik-praktik membahayakan berkaitan dengan penyandang cacat, termasuk yang berdasarkan pada jenis kelamin dan usia, di seluruh bidang kehidupan;

(c) Memajukan kesadaran akan kemampuan dan kontribusi penyandang cacat.

2. In all actions concerning children with disabilities, the best interests of the child shall be a primary consideration.

3. States Parties shall ensure that children with disabilities have the right to express their views freely on all matters affecting them, their views being given due weight in accordance with their age and maturity, on an equal basis with other children, and to be provided with disability and age-appropriate assistance to realize that right.

Article 8

Awareness-raising

1. States Parties undertake to adopt immediate, effective and appropriate measures:

(a) To raise awareness throughout society, including at the family level, regarding persons with disabilities, and to foster respect for the rights and dignity of persons with disabilities;

(b) To combat stereotypes, prejudices and harmful practices relating to persons with disabilities, including those based on sex and age, in all areas of life;

(c) To promote awareness of the capabilities and contributions of persons with disabilities.

Article 8 Pasal 8

(21)

13 13

2. Langkah-langkah untuk tujuan tersebut termasuk:

(a) Memulai dan meneruskan kampanye publik yang efektif, yang dirancang untuk:

(i) Membangun penerimaan terhadap hak-hak penyandang cacat;

(ii) Memajukan persepsi positif dan kesadaran sosial yang tinggi terhadap penyandang cacat;

(iii) Memajukan pengakuan terhadap keahlian, nilai, dan kemampuan penyandang cacat, dan kontribusi mereka di tempat-tempat kerja dan pasar tenaga kerja;

(b) Mendorong suatu sikap penghormatan terhadap hak penyandang cacat di segala tingkatan dalam sistem pendidikan, termasuk bagi semua anak mulai dari usia muda;

(c) Mendorong semua bagian dari media untuk menggambarkan penyandang cacat dengan cara yang sesuai dengan tujuan dari Konvensi ini;

(d) Memajukan program-program pelatihan peningkatan kesadaran berkaitan dengan penyandang cacat dan hak-hak penyandang cacat.

Pasal 9 Aksesibilitas

1. Dalam rangka memampukan penyandang cacat untuk hidup secara mandiri dan berpartisipasi penuh dalam segala aspek kehidupan, Negara-negara Pihak harus melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin akses penyandang cacat terhadap lingkungan fisik, transportasi, informasi dan komunikasi, termasuk teknologi dan sistem informasi dan komunikasi, serta fasilitas dan pelayanan lalinnya yang terbuka atau disediakan bagi publik baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain. Langkah-langkah, yang di dalamnya harus

mencakup identifikasi dan penghapusan semua hambatan dan penghalang terhadap aksesibilitas, antara lain harus berlaku bagi:

2. Measures to this end include:

(a) Initiating and maintaining effective public awareness campaigns designed:

(i) To nurture receptiveness to the rights of persons with disabilities;

(ii) To promote positive perceptions and greater social awareness towards persons with disabilities;

(iii) To promote recognition of the skills, merits and abilities of persons with disabilities, and of their contributions to the workplace and the labour market;

(b) Fostering at all levels of the education system, including in all children from an early age, an attitude of respect for the rights of persons with disabilities;

(c) Encouraging all organs of the media to portray persons with disabilities in a manner consistent with the purpose of the present Convention;

(d) Promoting awareness-training programmes regarding persons with disabilities and the rights of persons with disabilities.

Article 9 Accessibility

1. To enable persons with disabilities to live independently and participate fully in all aspects of life, States Parties shall take appropriate measures to ensure to persons with disabilities access, on an equal basis with others, to the physical environment, to transportation, to information and

communications, including information and communications technologies and systems, and to other facilities and services open or provided to the public, both in urban and in rural areas. These measures, which shall include the identification and

elimination of obstacles and barriers to accessibility, shall apply to, inter alia:

Article 9 Pasal 9

(22)

14 14

(a) Bangunan, jalan, transportasi dan fasilitas lainnya, baik di dalam dan luar ruangan, termasuk sekolah, perumahan, fasilitas kesehatan, dan tempat kerja;

(b) Informasi, komunikasi, dan pelayanan lainnya, termasuk pelayanan elektronik dan pelayanan gawat darurat;

2. Negara-negara Pihak juga harus mengambil langkah-langkah yang tepat untuk:

(a) Membangun, menyebarluaskan, dan memonitor pelaksanaan standar-standar minimum dan panduan bagi aksesibilitas fasilitas dan pelayanan yang terbuka atau disediakan untuk publik;

(b) Menjamin bahwa lembaga swasta yang menawarkan fasilitas dan pelayanan yang terbuka atau disediakan untuk publik mempertimbangkan semua aspek dalam hal aksesibilitas bagi penyandang cacat;

(c) Menyediakan pelatihan bagi para pemangku kepentingan berkaitan dengan persoalan aksesibilitas yang dihadapi olehpenyandang cacat;

(d) Menyediakan tanda-tanda dalam tulisan Braille dan dalam bentuk yang mudah dibaca serta dipahami di bangunan-bangunan dan fasilitas lainnya yang terbuka bagi publik;

(e) Menyediakan berbagai bentuk bantuan dan mediasi, termasuk pemandu, pembaca, dan penerjemah bahasa isyarat yang profesional, untuk memfasilitasi aksesibilitas terhadap bangunan-bangunan dan fasilitas lainnya yang terbuka bagi publik;

(f) Memajukan bentuk-bentuk bantuan dan dukungan lainnya yang tepat bagi penyandang cacat untuk menjamin akses mereka terhadap informasi;

(g) Memajukan akses bagi penyandang cacat akan informasi serta teknologi dan sistem komunikasi terbaru, termasuk Internet; (h) Memajukan rancangan, pengembangan, produksi, dan distribusi

teknologi dan sistem informasi dan komunikasi pada tingkatan awal, sehingga teknologi dan sistem tersebut dapat diakses dengan biaya yang seminimal mungkin.

(a) Buildings, roads, transportation and other indoor and outdoor

facilities, including schools, housing, medical facilities and workplaces;

(b) Information, communications and other services, including

electronic services and emergency services.

2. States Parties shall also take appropriate measures :

(a) To develop, promulgate and monitor the implementation of

minimum standards and guidelines for the accessibility of facilities and services open or provided to the public;

(b) To ensure that private entities that offer facilities and services

which are open or provided to the public take into account all aspects of accessibility for persons with disabilities;

(c) To provide training for stakeholders on accessibility issues

facing persons with disabilities;

(d) To provide in buildings and other facilities open to the public

signage in Braille and in easy to read and understand forms;

(e) To provide forms of live assistance and intermediaries,

including guides, readers and professional sign language interpreters, to facilitate accessibility to buildings and other facilities open to the public;

(f) To promote other appropriate forms of assistance and support

to persons with disabilities to ensure their access to information;

(g) To promote access for persons with disabilities to new

information and communications technologies and systems, including the Internet;

(h) To promote the design, development, production and

distribution of accessible information and communications technologies and systems at an early stage, so that these technologies and systems become accessible at minimum cost.

Article 9 Pasal 9

(23)

15 15

Pasal 10 Hak hidup

Negara-negara Pihak menegaskan kembali bahwa setiap orang memiliki hak hidup yang melekat pada dirinya dan Negara-negara Pihak harus melakukan segala langkah yang diperlukan untuk menjamin penikmatan hak penyandang cacat yang efektif atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lainnya.

Pasal 11

Situasi-situasi beresiko dan darurat kemanusiaan

Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjamin perlindungan dan keamanan bagi penyandang cacat dalam situasi beresiko, termasuk situasi-situasi konflik bersenjata, darurat kemanusiaan, dan terjadinya bencana alam, sesuai dengan kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk hukum kemanusaiaan internasional dan hukum hak asasi manusia internasional.

Pasal 12

Pengakuan yang setara di depan hukum

1. Negara-negara Pihak menegaskan kembali bahwa penyandang cacat memiliki hak atas pengakuan di depan hukum.

2. Negara-negara Pihak harus mengakui bahwa penyandang cacat berhak menikmati kapasitas hukum atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain dalam berbagai aspek kehidupan.

Article 10 Right to life

States Parties reaffirm that every human being has the inherent right to life and shall take all necessary measures to ensure its effective enjoyment by persons with disabilities on an equal basis with others.

Article 11

Situations of risk and humanitarian emergencies

States Parties shall take, in accordance with their obligations under international law, including international humanitarian law and

international human rights law, all necessary measures to ensure the protection and safety of persons with disabilities in situations of risk, including situations of armed conflict, humanitarian emergencies and the occurrence of natural disasters.

Article 12

Equal recognition before the law

1. States Parties reaffirm that persons with disabilities have the right to recognition everywhere as persons before the law.

2. States Parties shall recognize that persons with disabilities enjoy legal capacity on an equal basis with others in all aspects of life.

Article 10, 11 & 12 Pasal 10, 11 & 12

(24)

16 16

3. Negara-negara Pihak harus melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menyediakan akses terhadap dukungan yang dibutuhkan oleh penyandang cacat dalam usaha memperoleh kapasitas hukum mereka.

4. Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa semua langkah yang berhubungan dengan usaha memperoleh kapasitas hukum mereka dengan menyediakan usaha perlindungan yang tepat dan efektif untuk mencegah pelanggaran sesuai dengan hukum hak asasi manusia internasional. Usaha perlindungan semacam itu harus menjamin bahwa langkah-langkah yang berhubungan dengan usaha memperoleh kapasitas hukum menghormati hak-hak, keinginan dan pilihan orang tersebut, bebas dari konflik kepentingan dan pengaruh yang berlebihan, proporsional dan disesuaikan dengan kondisi orang itu, hanya berlaku untuk jangka waktu yang sependek mungkin, dan menjadi subyek tinjauan berkala oleh yang berwenang atau suatu badan yudisial yang kompeten, independen, dan imparsial. Usaha perlindungan tersebut harus proporsional sehingga langkah-langkah tersebut dapat mempengaruhi hak dan kepentingan orang itu.

5. Tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam pasal ini, Negara-negara Pihak harus mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif untuk menjamin kesetaraan hak penyandang cacat untuk memiliki atau mewarisi harta kepemilikan, mengontrol urusan finansial mereka dan memiliki akses yang sama atas pinjaman bank, pinjaman dengan jaminan, dan bentuk-bentuk pinjaman lainnya, serta harus menjamin bahwa penyandang cacat tidak dirampas harta kepemilikannya secara sewenang-wenang.

3. States Parties shall take appropriate measures to provide access by persons with disabilities to the support they may require in exercising their legal capacity.

4. States Parties shall ensure that all measures that relate to the exercise of legal capacity provide for appropriate and effective safeguards to prevent abuse in accordance with international human rights law. Such safeguards shall ensure that measures relating to the exercise of legal capacity respect the rights, will and preferences of the person, are free of conflict of interest and undue influence, are proportional and tailored to the person’s circumstances, apply for the shortest time possible and are subject to regular review by a competent, independent and impartial authority or judicial body. The safeguards shall be proportional to the degree to which such measures affect the person’s rights and interests.

5. Subject to the provisions of this article, States Parties shall take all appropriate and effective measures to ensure the equal right of persons with disabilities to own or inherit property, to control their own financial affairs and to have equal access to bank loans, mortgages and other forms of financial credit, and shall ensure that persons with disabilities are not arbitrarily deprived of their property.

Article 12 Pasal 12

(25)

17 17

Pasal 13

Akses atas keadilan

1. Negara-negara Pihak harus menjamin akses atas keadilan yang efektif bagi penyandang cacat atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lainnya, termasuk melalui ketentuan tentang akomodasi yang prosedural dan sesuai dengan usia, dalam rangka memfasilitasi peran efektif mereka sebagai partisipan langsung maupun tidak langsung, termasuk sebagai saksi-saksi dalam semua proses peradilan, termasuk di tahap penyelidikan dan tahap-tahap awal lainnya.

2. Dalam rangka menjamin adanya akses yang efektif atas keadilan bagi penyandang cacat, Negara-negara Pihak harus memajukan pelatihan yang tepat bagi mereka yang bekerja di bidang

administrasi peradilan, termasuk polisi dan staf penjara.

Pasal 14

Kebebasan dan keamanan seseorang

1. Atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain, Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa penyandang cacat:

(a) Menikmati hak atas kebebasan dan keamanan;

(b) Tidak dirampas kebebasannya dengan cara yang melawan hukum atau secara sewenang-wenang, dan bahwa setiap perampasan terhadap kebebasan harus dilakukan sesuai dengan hukum, serta bahwa kondisi kecacatan tidak menjadi alasan bagi perampasan kebebasan.

Article 13

Access to justice

1. States Parties shall ensure effective access to justice for persons

with disabilities on an equal basis with others, including through the provision of procedural and age-appropriate accommodations, in order to facilitate their effective role as direct and indirect

participants, including as witnesses, in all legal proceedings, including at investigative and other preliminary stages.

2. In order to help to ensure effective access to justice for persons

with disabilities, States Parties shall promote appropriate training for those working in the field of administration of justice, including police and prison staff.

Article 14

Liberty and security of person

1. States Parties shall ensure that persons with disabilities, on an

equal basis with others:

(a) Enjoy the right to liberty and security of person;

(b) Are not deprived of their liberty unlawfully or arbitrarily, and that

any deprivation of liberty is in conformity with the law, and that the existence of a disability shall in no case justify a

deprivation of liberty.

Article 13 & 14 Pasal 13 & 14

(26)

18 18

2. Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa jika penyandang cacat dirampas kebebasannya melalui suatu proses, maka, atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lain, mereka berhak atas jaminan sesuai dengan hukum hak asasi manusia internasional serta harus diperlakukan sesuai dengan tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Konvensi ini, termasuk ketentuan mengenai

akomodasi yang layak.

Pasal 15

Kebebasan dari penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat 1. Tidak seorang pun boleh menjadi subyek penyiksaan atau

perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat. Khususnya, tidak seorang pun boleh menjadi subyek percobaan-percobaan medis atau ilmiah tanpa persetujuan yang diberikannya secara bebas.

2. Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah legislatif, administratif, yudisial, atau langkah-langkah lainnya untuk

mencegah penyandang cacat menjadi subyek penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat, atas dasar kesetaraan dengan orang-orang lainnya.

2. States Parties shall ensure that if persons with disabilities are

deprived of their liberty through any process, they are, on an equal basis with others, entitled to guarantees in accordance with

international human rights law and shall be treated in compliance with the objectives and principles of the present Convention, including by provision of reasonable accommodation.

Article 15

Freedom from torture or cruel, inhuman or degrading treatment or punishment

1. No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or

degrading treatment or punishment. In particular, no one shall be subjected without his or her free consent to medical or scientific experimentation.

2. States Parties shall take all effective legislative, administrative,

judicial or other measures to prevent persons with disabilities, on an equal basis with others, from being subjected to torture or cruel, inhuman or degrading treatment or punishment.

Article 15 Pasal 15

Referensi

Dokumen terkait

Belajar Alasan Perubahan Tanda Tangan Guru Memahami prinsip kotak proyeksi Menggambar obyek dengan proyeksi Amerika dan Eropa Menggambar obyek dengan proyeksi aksonometri

sendiri, karena memiliki relevansi yang relevansi yang kuat dengan profesionalisme bisnis. kuat dengan

Penulis menyadari bahwa selama menjadi mahasiswa Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana, penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa material maupun

Dewan komisaris yang efektif seharusnya dapat melakukan fungsi pengawasan terhadap manajemen dengan baik, sehingga dalam mengambil keputusan dalam upaya penghematan

Bila dalam proses hitung perataan jumlah titik ikat yang digunakan lebih dari 1 titik, maka penggunaan titik-titik ikat dengan klasifikasi orde yang sejenis (misal: orde 0

Dengan didasari hal tersebut terbentuklah tujuan untuk membuat aplikasi kamus portable bahasa Indonesia – Inggris – Jawa, yang dapat digunakan di perangkat mobile.. Agar user

Penegakan hukum terhadap korupsi – dalam hal putusan (vonis) hakim – tidak dapat dilepaskan dengan adanya faktor-faktor yang menentukan dalam proses penangannya di pengadilan,

Penelitian ini telah menguji adanya enam variabel independen yaitu produk, harga, lokasi, promosi, presentasi dan personil yang dapat mempengaruhi variabel dependen