• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Observasi Wawancara Klinis & Sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Metode Observasi Wawancara Klinis & Sosial"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PERKULIAHAN

Metode

Observasi

Wawancara

Klinis & Sosial

Metode Observasi dan

Wawancara Sebagai Alat

Diagnostik

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Psikologi Psikologi

02

MK61103 Aulia Kirana M.Psi., Psikolog

Abstract

Kompetensi

Dalam perkuliahan ini akan

didiskusikan ilmu pernyataan sebagai alat diagnostik dalam observasi dan wawancara.

Mampu menjelaskan dan memahami metode observasi dan wawancara sebagai alat diagnostik.

(2)

Observasi dan Wawancara sebagai Alat

Diagnostik

Metode Observasi dan Wawancara dalam Diagnostik

Metode observasi dan wawancara merupakan metode assesment yang tertua dalam

psikologi. Sebagai contoh, lama sebelum assesment dengan menggunakan alat-alat tes dikenal, pemerintah Cina pada abad pertengahan telah menggunakan ujian lisan dalam mengevaluasi pegawai pemerintahannya. Metode observasi telah digunakan untuk mengobservasi perilaku verbal maupun non - verbal para pegawai tersebut. Begitu pula halnya dengan ujian masuk perguruan tinggi seperti Oxford University (Aiken, 1996). Dalam melihat perilaku manusia baik individu maupun kelompok terdapat dua karakteristik, yaitu

overt (observable) dengan metode observasi dan covert (unobservable) dengan metode

wawancara (Mash & Wolfe, 2010)

Metode observasi dan wawancara merupakan metode yang paling tua digunakan. Kedua metode ini untuk menghimpun data psikologis atau perilaku yang diperlukan. Dalam psikodiagnostik sebagai upaya untuk menegakkan diagnosis gejala psikologis berupa gangguan emosi atau kepribadian (orientasi: Klinis-Medis) untuk menemukan sumber dan dinamika penyebab, prognosis kesembuhan, dan intervensi yang terbaik dari segi waktu dan manfaat. Kedudukan observasi dalam psikodiagnostik ini juga terkait dengan proses penyelidikan untuk mengidentifikasi dan memahami variabel psikologis untuk penegakan diagnosis (Mash & Wolfe, 2010).

Kedudukan Observasi

Observasi dilakukan dan dibutuhkan dan dilakukan jika upaya untuk memperoleh informasi tersebut cocok dengan metode observasi. Beberapa perilaku yang membutuhkan observasi yaitu kemampuan bicara, kemampuan mendengar, kemampuan membaca lisan, interaksi sosial, kerja sama dalam kelompok, kemampuan motorik (Catwright & Catwright, dikutip dalam Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Observasi menjadi hal penting dalam ilmu dan profesi psikologi, karena secara mendasar dalam ilmu psikologi dan profesi psikolog observasi digunakan untuk kepentingan penelitian dan diagnosis. Kedua kepentingan tersebut itu sesuai dengan fungsi ilmu, yakni (a)

description, yaitu mendeskripsikan suatu gejala, (b) explanation, menjelaskan suatu gejala,

(3)

Dalam konteks riset atau penelitian, observasi digunakan sebagai suatu teori, menguji suatu teori dan membuktikan suatu teori. Observasi digunakan sebagai alat pengumpulan data dalam suatu penelitian untuk keperluan yang terkait teori tertentu (Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Dalam konteks diagnostik atau assessment, observasi digunakan untuk menaksirkan sejauh mana kemampuan-kemampuan individu berfungsi dengan baik atau adakah kemampuan individu yang kurang berfungsi dengan baik. Dalam area kemampuan mana individu membutuhkan dukungan dan bantuan, sehingga nantinya dapat ditentukan dukungan atau bantuan yang tepat bagi individu (Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Observasi sangat terkait dengan profesi psikolog. Ada beberapa alasan yang mendasari penggunaan teknik observasi dalam profesi psikolog, yakni sebagai berikut (Sugiyono, 2016).

(a) Melalui aktivitas profesionalnya psikolog memperoleh data langsung dari real life phenomenon. Data yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari ini sangat beragam. Salah satu teknik yang dipakai adalah observasi.

(b) Analisis tingkah laku (verbal report) yang dilakukan psikolog, orangtua, dan guru bisa berbeda, menyimpang, bisa salah atau tidak memadai dengan fenomena dari tingkah laku. Ini bisa terjadi, karena sering kali peristiwa penting tidak tercatat atau dicatat dengan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu, untuk memastikan mana yang sesuai dengan fenomenanya, maka dilakukan observasi.

(c) Pengukuran data melalui alat ukur lain (tes atau kuesioner) kadang bersifat nonspesifik, inferensial atau tidak sahih. Artinya, sudah bias oleh persepsi psikolog atau bias oleh kerangka konsep teori yang salah kaprah atau tidak tepat. Oleh kerana itu, teknik observasi dapat dipakai sebagai cara memperoleh data langsung tentang individu yang lebih akurat, tentunya dengan cara dan teknik serta inferensis yang tepat.

Berbeda dengan ilmu lain, ilmu psikologi memfokuskan pada perilaku manusia. Dengan demikian, observasi dalam psikologi diarahkan pada pengamatan akan perilaku manusia, baik perilaku verbal ataupun nonverbal. Tingkah laku yang diamati adalah segala gerakan verbal dan nonverbal yang dapat diamati dari luar dapat dilihat, didengar, dihitung, dan diukur.

Beberapa prinsip mengenai tingkah laku yang diamati, antara lain sebagai berikut.

(a) Pada dasarnya tingkah laku tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena sebab akibat dari suatu hal dan ini dapat berarti “banyak hal”. Tingkah laku tertentu tidak akan terjadi begitu saja tanpa adanya suatu rangsangan. Rangsangan yang memunculka tingkah laku tertentu bisa berasal dari lingkungan atau dari diri individu yang bersangkutan.

(b) Perbedaan tingkah laku individu adalah dalam derajat reaksi yang diperlihatkannya. Hal ini bergantung pada proses dalam diri individu atau karakteristik individu.

(4)

(c) Beberapa tingkah laku merupakan:

(1) Produk yang dapat diamati dari suatu proses yang terjadi dalam diri individu

(2) Produk yang dapat diamati dari sifat atau karakteristik tertentu individu, sehingga judgment dan interpretasinya akan menjadi berbeda.

Pengertian proses adalah semua aktivitas internal yang terjadi dalam diri individu, seperti aktivitas emosi, kognitif, atau aktiivitas fisiologis yang tidak diamati secara langsung, tetapi dapay disimpulkan dari tingkah laku itu secara keseluruhan. Perilaku yang diamati adalah perilaku saat ini yang dikaitkan dengan perilaku sebelumnya pada masa lalu untuk kemudian digunakan dalam oengambilan kesimpulan atau prediksi perilakunya pada masa yang akan datang agar kita dapat memahami individu.

Kedudukan Wawancara sebagai Alat diagnostik

Wawancara diadakan sebagai rujuan untuk masuk ke lembaga sosial atau rumah sakit jiwa. Wawancara sebagai alat diagnostik dilakukan untuk mengetahui penyebab dan

masalah yang terjadi pada klien. Wawancara yang dibutuhkan dengan teknik tharapeutic

seperti konseling dan psikoterapi dilaksanakan sebagai intervensi pada masalah yang

dialami klien. Jika wawancara dilaksanakan secara tepat, maka interviewer akan

memperoleh informasi yang lengkap mengenai permasalahan yang dialami oleh klien, seperti “pengaruh masa lalu yang memengaruhi dengan kondisi saat ini, Keterbatasan kien mengatasi masaahnya. Kemudian, jenis bantuan yang diharapkan dan mungkin dapat membantu kondisi saat ini (Ivey, Ivey, & Zalaquett, 2010).

Tingkah laku verbal dan non Verbal

Pengamatan terhadap tingkah laku ini menjadi kompleks, karena tingkah laku yang dimunculkan seseorang memiliki makna tertentu yang spesifik. Artinya tingkah laku tertentu yang dimaksudkan untuk makna tertentu pula terutama pada tingkah laku non verbal yang memerlukan pengamatan dan pengetahuan khusus untuk bisa memahami maknanya. Misalnya, ada seseorang yang melambaikan tangan. Apa yang dimaksudkanorang tersebut? Ada berbagai makna yang bisa kita ambil (Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Pertama, melambaikan tangan berarti memberi salam perpisahan kepada orang lain; kedua, melambaikan tangan berarti ingin memberitahukannkeberadaan dirinya terhadap orang lain; ketiga, melambaikan tangan berarti menolak permintaan orang lain; keempat, melambaikan tangan berarti melarang orang lain untuk melakukan sesuatu. Adanya makna dari lambaian tangan ini bisa menyulitkan untuk dipahami maksud dan tujuan seseorang dari apa yang disampaikan. Tentunya selain mengamati tingkah laku melambaikan tangan, kita juga perlu memperhatikan konteks tingkah laku melambaikan tangan itu terjadi. Bila

(5)

seseorang melambaikan tangan di terminal bis dan diseberang sana ada orang lain yang sedang membawa koper hendak naik bis. Ini bisa dimaknakan bahwa melambaikan tangan sebagai tanda untuk perpisahan (Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Bila kita mengkaji lebih jauh makna-makna yang muncul dari sebuha tingkah laku pada dasarnya mengandung arti komunikasi. Individu melakukan komunikasi pada dasarnya seseorang berupaya untuk menyampaikan maksud yang ada di dalam pikirannya kepada orang atau beberapa orang lain. Dalam penyampaian maksud bisa dilakukan secara verbal atau non verbal. Ada beberapa jenis komunikasi yang dikembangkan (Mulyana, 2005). Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi verbal (verbal communication) adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis atau lisan. Bahasa verbal merupakan sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Mulyana, 2005). Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Ada aturan-aturan yang ada untuk setiap bahasa yaitu fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatis. Komunikasi verbal terbagi menjadi dua, komunikasi dalam bentuk vokal dan non vokal. Perbedaannya komunikasi verbal dalam bentuk vokal seperti kata-kata berupa ucapan, sedangkan komunikasi verbal dalam bentuk non vokal berupa kata-kata berupa tulisan, seperti menulis pesan di media sosial (Mulyana, 2005).

Tingkah laku verbal (verbal behavior) adalah tindakan yg ditunjukkan individu disertai

adanya bahasa atau kata-kata. Bahasa dicerminkan dengan adanya perbendaharaan kata, penggunaan kalimat, intonasi, kecepatan berbicara dan humor.

Aspek dalam komunikasi verbal yaitu perbendaharaan kata-kata (vocabulary), kecepatan (racing), intonasi suara, humor, waktu yang tepat dan singkat. Menurut Larry L. Barker (dikutip dalam Mulyana, 2005), bahasa mempunyai tiga fungsi: (a) penamaan (naming atau labeling), (b) interaksi, dan (c) transmisi informasi.

Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.

Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.

Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.

(6)

Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal adalah pesan yang di sampaikan dalam komunikasi dalam bentuk non verbal, tanpa disertai dengan kata-kata. Komunikasi non verbal adalah setiap bentuk perilaku manusia yang langsung dapat diamati oleh orang lain dan yang mengandung informasi tertentu tentang pengirim atau pelakunya. Komunikasi dalam bentuk nonverbal terbagi menjadi dua macam, yaitu bentuk vokal dan non vokal. Komunikasi nonverbal dalam bentuk vokal dapat diamati ketika ada individu yang sedang menangis, berteriak, atau menggumam, sedangkan komunikasi non verbal dalam bentuk non vokal sebagai contoh gerak-gerik tubuh, ekspresi wajah, dan penampilan fisik (Kusdiyati & Fahmi, 2016).

Tingkah laku non verbal merupakan tindakan individu yang muncul tanpa disertai denhan kata-kata. dalam bentuk bahasa tubuh meliputi isyarat, pergerakan tubuh, dan penampilan fisik. Bentuk komunikasi nonverbal yaitu, (a) bahasa tubuh, (b) Kode atau tanda, (c) Tindakan atau perbuatan, (d) objek, (e) warna (Verderber, Rudolph, Kathleen, & Verderber, 2005).

Bahasa tubuh meliputi lambaian tangan, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, gerakan kepala, sikap atau postur tubuh, dan lain-lain.

Kode atau tanda merupakan komunikasi non verbal menggantikan kata-kata, misal : bendera kuning mengartikan ada orang yang meninggal.

Tindakan atau perbuatan marupakan tindakan tidak menggantikan kata-kata tetapi mengandung makna, misal menggebrak meja berarti marah, melambaikan tangan berarti salam perpisahan.

Objek yaitu objek tidak menggantikan kata-kata tetapi juga mengandung makna, misal: pakaian mencerminkan gaya hidup seseorang

Warna yaitu menunjukan warna emosional, cita rasa, keyakinan agama, politik, dan lain-lain, seperti: warna merah muda adalah warna feminim.

Beberapa ahli mencatat arti penting dari salah satunya Knap (dalam Mulyana, 2005), pesan nonverbal menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal, yaitu (a) repetisi, (b) substitusi, (c) kontradiksi, dan (e) aksentuasi.

Repetisi yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.

Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Sebagai contoh, tanpa mengucapkan sebuah perkataan, individu mampu mengetahui ketika menyetujui sesuatu dengan mengangguk-anggukkan kepala. Sebaliknya ketika tidak menginginkan sesuatu dengan menggelengkan kepala.

(7)

Kontradiksi yaitu menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan

verbal. Misalnya memuji teman yang meraih prestasi dengan mengatakan “saya bangga

dengan prestasimu”.

Komplemen yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air mata sebagai bukti dalam menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata atau kesedihan yang dialami oleh seseorang.

Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggaris bawahinya. Misalnya, apabila ada seseorang yang marah ia menunjukkan perilaku dengan memukul meja di kantor.

Kategori Tingkah Laku Non Verbal

Beberapa ahli membedakan tingkah laku nonverbal ke dalam beberapa kategori. Richmond & McCroskey (2005) membagi lambang tingkah laku nonverbal ke dalam 8 kategori, sebagai berikut (a) physical Appearance, (b) gesture and movement, (c) face and eye behavior, (d) vocal behavior, (e) space, (f) touch, (g) environment, dan (h) tim

Physical appearance (penampilan fisik) adalah segala sesuatu yang nampak pada diri dan dan dilihat oleh orang lain, termasuk bentuk tubuh dan pakaian yang dikenakan. Informasi yang mudah dilihat melalui tampilan fisik. Tampilan fisik mampu menilai dan mendapatkan kesan dengan cepat. Banyak informasi yang diperoleh dari tampilan fisik, antara lain: tinggi badan, bentuk tubuh, tata rambut kosmetik, cara berpakaian.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa tampilan fisik memiliki arti yang sangat penting dalam relasi interpersonal. Sering kali sifat dan kepribadian seseorang dilekatkan dengan tampilan fisik. Tampilan fisik menarik diangggap lebih unggul dan kompeten dibandingkan orang dengan tampilan fisik biasa saja. Tampilan fisik dapat mengungkapkan siapa diri seseorang, status, dan peran yang kita miliki. Selain itu, dapat mengungkapkan apakah individu termasuk orang yang memperhatikan perawatan diri, baik dalam kesehatan maupun kebersihan diri.

Pesan nonverbal dari bentuk dan ukuran tubuh dapat mengkomunikasikan pesan nonverbal. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa bentuk tubuh seseorang dan tempramen yang berhubungan sangat dekat. Ada tiga klasifikasi tipe tubuh yang dinamakan (a) somatotyping, (b) endomorph, (c) mesomorph (Kudiyati & Fahmi, 2016)

Tipe tubuh endomorph merupakan penanaman bagi individu yang memiliki bentuk tubuh

bulat, gemuk. Tipe ini sering digambarkan sebagai bentuk pir. Endomorph berhubungan

dengan tipe psikologis yang dinamakan viscerotonic. Tipe ini ditandai dengan karakter

(8)

Tipe tubuh mesomorph merupakan penanaman bagi individu yang memiliki bentuk tubuh segitiga berbahu lebar meruncing di paha. Orang-orang yang memiliki tipe tubuh seperti ini

sering digambarkan sebagai orang yang atletis. Mesomorph berhubungan dengan tipe

psikologis yang dinamakan somatotonic yang digambarkan sebagai tipe yang dominan,

percaya diri, energic, kompetisi, bersemangat, asertif, dan optimis.

Tipe tubuh ectomorph merupakan penanaman bagi individu yang memiliki bentuk tubuh yang ditaindai dengan menunjangnya tulang tubuh, kurus, dan tinggi. Orang-orang yang memiliki tipe tubuh ectomorph dicocokan dengan tipe psikologis yang bernama cerebrotonic yang ditandai dengan sifat tegang atau kaku, teliti, cermat, sensitif, pendiam atau suka menyendiri.

Penampilan dan pakaian mengkomunikasikan sejumlah informasi penting tentang dirinya. Jenis kain,warna, tekstur, dan corak yang menghiasi tubuh kita mengirim pesan tentang apa yang kita pikirkan, siapa kita, hubungan dengan orang lain, nilai, sikap, pilihan, tujuan, dan aspirasi kita.

Sybers & Roach (dikutip dalam Kusdiyati & Fahmi, 2016), berpakaian menunjukkan simbol dari status individu. Jika kita gagal berpakaian sesuai yang diharapkan, makakita cenderung percaya bahwa mobilitas pekerjaan kita dipengaruhi secara negatif; kita merasa bahwa kita harus berpakaian sesuai dengan pekerjaan kita untuk membuat orang lain terkesan; dan kita merasa bahwa orang lain menghubungkan pilihan kita dalam berpakaian dengan status sosial-ekonomi, tujuan, dan kepuasan.

Thourlby (dikutip dalam Kusdiyati & Fahmi, 2016), beberapa keputusan yang membuat seseorang memakai pakaian tertentu;

1. Taraf ekonomi 2. Taraf pendidikan 3. Kepercayaan 4. Posisi sosial

5. Taraf dari kesempurnaan 6. Latar belakang ekonomi 7. Latar belakang sosial 8. Latar belakang pendidikan 9. Taraf kesuksesan

10.Karakter moral

Artefak dan aksesoris yang dipergunakan untuk menghiasi tubuh dan pakaian disebut benda-benda pribadi, dan dapat mengatakan banyak hal mengenai diri kita seperti halnya pakaian. Aksesoris tersebut dapat berupa perhiasan, kacamata, topi, dompet, dapat mengkomunikasikan pada orang lain tentang kepribadian di balik itu semua. Banyak orang yang dikenali sangat erat dengan barang pribadi yang hampir tidak mungkin untuk

(9)

dipisahkan dengannya. Misalnya, jika seseorang sudah menikah, mengenakan tanda pengikat cincin sebagai pengikat pernikahan.

Artefak yang paling terkenal dan sering diteliti adalah kacamata. Sebuah kajian menunjukkan bahwa orang yang mengenakan kaca mata dianggap lebih pandai, rajin, dan jujur. Kajian lainnya menemukan bahwa perempuan yang memakai kaca mata dipandang sebagai orang yang konvensinal dan tidak imajinatif.

Gesture and movement (Kinesis Cues), studi yang mempelajari gesture dan gerakan

tubuh dikenal dengan istilah kinesics. Sering dikenal juga dengan istilah bahasa tubuh, yakni penggunaan gerakan-garakan tubuh untuk menyampaikan pesan. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah tangan dan lengan, posture, badan, gerakan tubuh. Ada dua

kelompok besar dalam mempelajari gerakan tubuh manusia yaitu gesture dan posture

(Harrigan & Jinni, 2005)

Gesture adalah penggunaan gerakan anggota tubuh, seperti tangan dan kaki untuk

menyampaikan pesan. Orang yang dalam keadaan emosional emosinya kurang terarah,

seperti: menggoyangkan kaki atau mengetuk-ngetuk jari ke meja. Posture adalah

penggunaan gerakan seluruh tubuh badan untuk menyampaikan pesan. Posture ini dapat

dilihat melalui cara berdiri, cara berjalan seseorang. Posture mampu merefleksikan citra diri, kepercayaan diri, dan keadaan emosi seseorang (Harrigan & Jinni, 2005).

(10)

Daftar Pustaka

Harrigan & Jinni A. (2005). “Proxemics, Kinesics, and Gaze.” The New Handbook of Methods in Nonverbal. Behavior Research: 137–198

Ivey, A. E., Ivey, M. B., & Zalaquett, C. P. (2010). Intentional interviewing and counseling:

facilitating client development in a multicultural society (7th ed.). Belmont, CA: Cengage Learning.

Kusdiyati. S & Fahmi. I. (2016). Observasi psikologi : ada proses pengukuran dan berbagai teknik untuk mampu memahami dan mendiagnosis variabel psikologis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mash, E.J & Wolfe, D. A. (2010) . Abnormal Child Psychology. 4th Ed. USA: Wadsworth. Mulyana. D. (2005). ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Verderber, Rudolph F., Kathleen. S, & Verderber (2005). Communicate (edisi ke-11 ed.).

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana pada program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial,

Sumber: Output SPSS, 2021 Berdasarkan tabel di atass, dapat disimpulkan bahwa model regresi untuk variabel independen yang diajukan oleh peneliti untuk diteliti bebas

BOLEH JADI SESEORANG TIDAK MAHU MEMBERIKAN PUJIAN KEPADA ORANG YANG LAYAK DIPUJI, KERANA ADA MAKSUD TERTENTU DALAM DIRINYA, ATAU KERANA RASA IRI HATI YANG DISEMBUNYIKAN, SEPERTI

  IP2  Win  adalah  software  yang  digunakan  untuk  mengolah  data  geolistrik 

Halaman utama website e-commerce memiliki beberapa menu yang dapat diakses oleh pengunjung. Halaman ini tampil saat pertama kali pengguna mengakses website e-commerce untuk

Pembicara yang tidak jelas dapat memberikan redudansi atau suara yang tidak berarti ke dalam informasi dengan cara mengulang kata- katanya, berhenti atau menggunakan

Meliputi daftar produk nutrisi, tabel kesetaraan dosis dari obat-obat yang mirip dengan obat kortikosteroid, formula nutrisi parenteral baku, pedoman perhitungan dosis bagi anak-anak,

Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur, masa kerja, pengetahuan dan motivasi bidan dengan pelaksanaan program Inisiasi Menyusus Dini di