PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBANTUAN AUTOGRAPH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIK SISWA SMK MELALUI MODEL PENEMUAN TERBIMBING

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN

BERBANTUAN AUTOGRAPH UNTUK MENINGKATKAN

PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIK SISWA SMK

MELALUI MODEL PENEMUAN TERBIMBING

Wasriono1, Edi Syahputra2, Edy Surya3 1)

Pendidikan Matematika PPS Unimed Medan 2,3)

Dosen Pendidikan Matematika PPS Unimed Medan Email : wasriyouknow@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu produk berupa perangkat pembelajaran matematika dengan model penemuan terbimbing berbantuan Autograph dengan peta konsep pada materi aplikasi integral di kelas XII SMK yang meliputi : rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kegiatan siswa, dan buku siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Subjek dalam penelitian ini adalah ahli, guru, dan siswa kelas XII SMK.Validitas perangkat pembelajaran didasarkan atas pendapat validator, kepraktisan didasarkan pada respons guru dan siswa, dan keefektifan didasarkan pada, (1) ketuntasan minimal kemampuan pemahaman konsep matematik siswa, (2) aktivitas aktif siswa, dan (3) kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Dalam penelitian ini, tahapan yang dilakukan hanya sampai menghasilkan produk final dan tidak dilakukan implementasi secara luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran dengan model penemuan terbimbing berbantuan Autograph ini telah valid, praktis, dan efektif.

Kata kunci: Pengembangan perangkat,model penemuan terbimbing, kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.

ABSTRACT

The aims of this study to develop a product in the form of mathematics learning tool model Autograph guided discovery aided by the concept map on the integral application material in the twelfth grade class of vocational school which consist: lesson plan, student’s work sheet, and student’s textbook. The type of this study is the development of study. Subjects in this study were experts, teachers, and students. Validity of learning device based on the opinion of the validator, practicality based on the responses of teachers and students, and effectiveness is based on, (1) a minimum completeness ability of understanding mathematical concepts students, (2) active activity of students, and (3) the ability of teachers to manage learnings. In this study, the steps being taken only to produce the final product, and not be deployed widely yet. The results showed that the learning tool-aided model of guided discovery Autograph been valid, practical, and effective.

Keywords: Learning tools development, guided inquiry model, validity, practically, and effectiveness.

(2)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

PENDAHULUAN

Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas terkait dengan profesi guru sebagai tenaga pendidik, mengharuskan guru untuk mengembangkan kemampuan diri baik dari segi ilmu maupun kemampuan pedagogiknya. Menurut Kemendikbud (2014: 31) beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru untuk pengembangan diri antara lain : (1) penyusunan RPP, program kerja, dan/atau perencanaan pendidikan; (2) penyusunan kurikulum dan bahan ajar; (3) pengembangan metodologi mengajar; (4) penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik; (5) penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam pembelajaran ; dan (6) inovasi proses pembelajaran.

Sejalan dengan kurikulum di era 2000-an yakni KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) 2004, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006, dan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis pada kompetensi dengan pembelajaran yang konstruktivistik. Keterlaksanaan kurikulum berbasis kompetensi sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam

mengembangkan perangkat

pembelajaran, yakni pengembangan silabus, buku ajar, sumber dan media pembelajaran, model pembelajaran, instrumen asesmen, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (Akbar, 2013: 2).

Pengembangan perangkat pembelajaran sangat perlu diimplementasikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari di satuan pendidikan. Akan tetapi, praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah masih mengalami berbagai persoalan berkenaan dengan perangkat pembelajaran yang digunakan untuk mengoperasikan jalannya pembelajaran. Menurut anatomi permasalahan

implementasi kurikulum tahun 2013 guru masih bingung bagaimana harus mengelola pembelajaran sesuai roh kurikulum yang berbasis kompetensi yaitu (1) banyak indikator dan tujuan pembelajaran yang dirumuskan guru masih cenderung pada kemampuan kognisi, afeksi, dan psikomotor yang rendah, (2) bahan ajar yang digunakan guru masih cenderung kognitivistik, (3) pemanfaatan sumber dan media yang masih kurang, (4) model pembelajaran konvensional yang banyak diterapkan guru sehingga kurang memicu keaktifan siswa, dan (5) penilaian proses juga kurang berjalan optimal karena

keterbatasan kemampuan

mengembangkan instrumen asesmen. Kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan menjadi paradigma bahwa perangkat pembelajaran adalah kumpulan berkas-berkas dalam memenuhi kelengkapan administrasi di sekolah. Guru belum memanfaatkan perangkat pembelajaran sebagaimana mestinya. Bahkan, menurut Akbar (2013: 3) dari hasil KKG (Kelompok Keja Guru) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang seragam antara satu dengan sekolah lain, guru cenderung hanya sekedar copy paste perangkat pembelajaran mulai silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), format penilaian, dan lain sebagainya, walaupun kondisi dan kemampuan siswa yang diajarkan di setiap sekolah berbeda-beda.

Permasalahan guru dalam menggunakan perangkat pembelajaran juga ditemukan di SMK Negeri 2 Padangsidimpuan. Dari hasil pemantauan dan wawancara dengan 5 guru matematika serta tanya jawab dengan beberapa siswa yang diampu oleh guru tersebut diperoleh rangkuman kelengkapan perangkat pembelajaran

(3)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

Tabel 1. Hasil Pemantauan Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Guru SMK Negeri 2 Padangsidimpuan

Kode Guru

Lama Bertugas

Perangkat Pembelajaran Keterangan

RPP LKS Buku Ajar

A 25 tahun Ada Ada Ada

Pembuatan RPP setahun sekali, LKS dan buku ajar dari penerbit

B 20 tahun Ada Ada Ada

Pembuatan RPP setahun sekali, LKS dan buku ajar dari penerbit

C 12 tahun Ada Tidak ada

Ada

Pembuatan RPP setahun sekali dan buku dari penerbit

D 10 tahun Ada Tidak ada

Ada

Pembuatan RPP setahun sekali dan buku dari penerbit

E 9 tahun Ada Ada Ada

Pembuatan RPP setahun sekali, LKS dan buku ajar dari penerbit

Dari tabel kelengkapan perangkat pembelajaran 5 guru SMK Negeri 2 Padangsidimpuan dapat disimpulkan bahwa kelengkapan perangkat pembelajaran guru sejatinya sudah terpenuhi. Namun, guru masih cenderung menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dirancang hanya sekali untuk pembelajaran selama setahun yang berimplikasi dengan penggunaan model pembelajaran yang terus berulang tanpa memperhatikan tuntutan pendidikan dan karakteristik siswa yang selalu berubah. Guru juga cenderung menggunakan buku ajar dari penerbit sebagai satu-satunya sumber pembelajaran di kelas dan belum mengembangkan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) secara optimal dengan memanfaatkan teknologi dan informasi yang dapat membantu mempermudah penyampaian pembelajaran. Disamping itu, faktor dari luar yang sangat berpengaruh menentukan kemampuan pemahaman konsep matematik siswa adalah proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran matematika di kelas selama

ini masih cenderung terfokus pada hapalan rumus. Guru masih terbiasa dengan pembelajaran yang diawali dengan menyajikan materi, tanya jawab tentang pemahaman materi yang disampaikan guru, memberikan contoh soal dan membahas secara bersama-sama, serta pemberian latihan atau pekerjaan rumah sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa sebatas pengetahuan yang ada pada guru tanpa memberikan kesempatan siswa dalam mengembangkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Guru belum mengaktifkan kemampuan siswa untuk menggunakan ide atau gagasan yang memungkinkan siswa dapat mengekplor seluruh kemampuan yang dimilikinya dalam memahami suatu

konsep matematika. Senada dengan Soedjadi (dalam Trianto, 2009: 18) yang

menyatakan bahwa dalam kurikulum sekolah di Indonesia terutama pada mata pelajaran eksak (matematika, fisika, kimia) dan dalam pengajarannya selama ini terpatri kebiasaan dengan urutan

(4)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

(1) diajarkan teori/teorema/definisi ; (2) diberikan contoh-contoh ; dan (3) diberikan latihan-latihan soal.

Pembelajaran matematika selama ini masih berpusat pada guru sebagai sumber pengetahuan. Guru masih merasa kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah. Guru cenderung menggunakan metode ekspositori berupa ceramah, memberi contoh dan latihan soal yang ada pada buku teks. Pembelajaran juga kurang mendorong keaktifan siswa dalam berpikir, sehingga pada akhirnya proses pembelajaran di kelas masih diarahkan pada kemampuan anak menghafal informasi. Pembelajaran yang kurang melibatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran akan mengakibatkan kurangnya respon siswa terhadap komponen-komponen pembelajaran sehingga akan membatasi kemampuan berpikir siswa dalam menemukan konsep, memahami konsep, serta menggunakan prosedur yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika

Dari pemaparan fakta empiris ini, perlu adanya perangkat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran yang mengkondisikan siswa aktif dalam pembelajaran matematika. Matthew dan Kenneth (2013: 136) mengatakan,

“The Guided inquiry teaching approach was found suitable and effective in teaching of those aspects of the sciences and mathematics”. Model pembelajaran

penemuan terbimbing sesuai dan efektif dalam pengajaran untuk berbagai aspek dari matematika dan sains. Sejalan dengan Eggen dan Kauchak (2012: 201) yang mengatakan bahwa model temuan terbimbing selain mendorong pemahaman materi secara mendalam dan mengembangkan pemikiran siswa juga efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

Oleh karena itu, untuk menanamkan pemahaman konsep matematik siswa, komponen yang sangat

penting dalam pembelajaran matematika adalah perangkat pembelajaran dan media pembelajaran di dalam kelas. Perangkat pembelajaran merupakan bagian yang harus diperhatikan karena berhubungan langsung dengan materi pelajaran. Perangkat pembelajaran ini hendaknya juga tidak memberikan materi secara instan, akan tetapi mampu mengarahkan siswa dalam memahami konsep serta mampu membimbing siswa dalam memecahkan masalah. Dalam pengembangan perangkat pembelajaran guru perlu melakukan pengembangan berbasis teknologi yang dapat membantu pemahaman konsep siswa secara visual melalui gambar, warna, dan animasi. Pentingnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran dipertegas oleh Ayub, dkk (2009: 131) yang menyatakan bahwa teknologi sangat penting dalam pembelajaran matematika karena dapat meningkatkan pemahaman konsep yang sulit secara visual serta menciptakan cara memecahkan masalah.

Dari uraian di atas, Peneliti tertarik untuk menerapkan Autograph pada pembelajaran melalui model penemuan terbimbing dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif (Nieveen,1999).

METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ditetapkan, maka penelitian ini termasuk penelitian pengembangan (Developmental Research). model pengembangan

perangkat pembelajaran Thiagarajan, Semmel dan Semmel, yaitu model 4-D (define, design, develop, disseminate) yang telah dimodifikasi. Penelitian pengembangan ini dilaksanakan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran dan instrumen-instrumen yang diperlukan yang selanjutnya akan diujicobakan di kelas. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah perangkat pembelajaran matematika materi luas

(5)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

daerah dan volume benda putar tingkat SMK dengan model pembelajaran penemuan terbimbing berbantuan

software Autograph. Pengembangan

perangkat pembelajaran tersebut berupa perancangan perangkat pembelajaran mulai dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku Ajar Siswa (BAS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika (TKPKM).

Instrumen penelitian yang terdiri dari: lembar tes hasil kemampuan pemahaman konsep matematika siswa, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi pengelolaan pembelajaran, lembar respon siswa, dan lembar validasi perangkat pembelajaran.

Subjek Penelitian

Subjek ujicoba 1

pengembangan perangkat adalah siswa kelas XII Teknik Gambar1 SMK Negeri 2 Padangsidimpuan dengan banyak siswa 30 orang dan subjek ujicoba 2 adalah siswa kelas XII Teknik Gambar 2 Padangsidimpuan dengan banyak siswa 30 orang Tahun Pelajaran 2014-2015.

Rancangan Uji Coba Lapangan

Rancangan uji coba yang akan digunakan dalam pengembangan perangkat pembelajaran adalah dengan melakukan uji coba lapangan sebanyak dua kali. Uji coba lapangan pertama dilakukan untuk melihat apakah perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan sebelumnya telah efektif atau tidak. Jika pada uji coba pertama, perangkat pembelajaran belum dikatagorikan efektif, maka dilakukan revisi perangkat yang selanjutnya dilakukan uji coba lapangan kedua. Pada uji coba lapangan kedua selain melihat keefektifan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan, peneliti juga ingin melihat peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa pada tes hasil belajar pada uji coba

pertama dan tes hasil belajar pada uji coba kedua.

Pengembangan Instrumen Penelitian 1. Tes Kemampuan Belajar

Tes diberikan pada pertemuan awal (sebelum dilakukan pembelajaran) dan di pertemuan akhir pembelajaran (setelah seluruh topik diajarkan) dan instrumen tes pemahaman konsep ini dikembangkan sesuai dengan indikator pembelajaran luas daerah dan volume benda putar. Tes kemampuan pemahaman konsep matematik tersebut disusun berdasarkan pada kisi-kisi tes kemampuan pemahaman konsep matematik dan berpedoman pada indikator kemampuan pemahaman konsep matematik.

2. Lembar Pengamatan

Untuk mengetahui kualitas proses, dilakukan pengamatan terhadap: aktivitas siswa, kemampuan guru mengelola pembelajaran, dan respon siswa. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan. Masing-masing lembar pengamatan ini akan dijelaskan satu per satu yaitu sebagai berikut:

(a) Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang dibuat melalui model pembelajaran penemuan terbimbing.

(b) Lembar observasi kemampuan guru mengelola pembelajaran

Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan data tentang kemampuan guru dalam menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran melalui model pembelajaran penemuan terbimbing. Pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung (dari awal pembelajaran sampai berakhirnya pembelajaran) dan pengamatan dilakukan oleh 2 orang pengamat.

(6)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

3. Lembar Validasi

Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai pendapat para ahli (validator) terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun, sehingga menjadi acuan atau pedoman dalam merevisi perangkat pembelajaran.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dipaparkan hasil penelitian Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan telah diujicobakan dinyatakan telah valid, praktis, dan efektif. Hal tersebut disebabkan, perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan telah memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektivan: berdasarkan kriterianya:

a. Kelima validator menyimpulkan bahwa Rencana pelakasanaan pembelajaran, Buku ajar siswa, Lembar Kegiatan Siswa, dan tes pemahaman konsep dapat digunakan dengan revisi kecil pada kesalahan penulisan/ejaan naskah soal, dan revisi ini telah diperbaiki sesuai dengan coretan validator.

b. Rata-rata skor setiap aspek penilaian dari respon 30 siswa berada pada nilai lebih besar atau sama dengan 3 (≥ 3,0) dengan kriteria “Praktis”. Keseluruhan rata-rata skor terhadap penilaian perangkat pembelajaran berada pada kriteria “Praktis” yaitu sebesar 3,31.

c. Rata-rata skor setiap aspek penilaian dari 4 guru berada pada nilai lebih besar atau sama dengan 3 (≥ 3,0) dengan kriteria “Praktis”. Keseluruhan rata-rata skor terhadap penilaian perangkat pembelejaran berada pada kriteria “Praktis” yaitu sebesar 3,23. d. Rata-rata kemampuan guru mengelola

pembelajaran pada ujicoba I sebesar 3,37 dengan kriteria “cukup baik” sedangkan pada ujicoba II rata-rata 3,73 dengan kriteria “baik”.

e. Aktivitas siswa selama proses pembelajarandengan menggunakan

perangkat pembelajaran model penemuan terbimbing pada ujicoba I belum semua indikator masuk dalam wakru ideal sedangkan pada ujicoba II semua indikator sudah masuk dalam waktu ideal.

f. Tingkat ketuntasan kemampuan pemahaman konsep matematika yaitu secara klasikal sebesar 86,67%. Pada ujicoba I peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 17,08 % dari pretes ke postes dan pada ujicoba II peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 29,58% dari pretes ke postes.

PEMBAHASAN PENELITIAN Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan diuraikan gambaran dan penafsiran ini terhadap data hasil penelitian. Gambaran dan penafsiran ini dilakukan terhadap keamampuan pemahaman konsep matematika, aktivitas aktif siswa, kemampuan guru mengelola pembelajaran, serta respon siswa dan respon siswa terhadap komponen-komponen perangkat pembelajaran. Hasil penelitian di atas sangat beralasan, bila diperhatikan terhadap karakteristik-karakteristik yang ada

pada model pembelajaran penemuan terbimbing berbantuan

Autograph, secara teoritis model

penemuan terbimbing memiliki beberapa kelebihan dan bila kelebihan itu diterapkan dengan maksimal di kelas, sangat memungkinkan proses dan hasil pembelajaran akan lebih baik. Berikut ini akan dijelaskan tentang keterkaitan hasil penelitian yang diperoleh, keterkaitan dengan teori belajar dan hasil penelitian lain yang relevan.

1. Produk Pengembangan Perangkat

yang Valid Melalui Model

Penemuan terbimbing berbantuan

Autograph

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa produk pengembangan perangkat pembelajaran

(7)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

dikatakan valid apabila penilaian dari kelima validator terhadap keseluruhan perangkat pembelajaran berada pada kategori “cukup valid”. Hasil validasi

terhadap keseluruhan perangkat pembelajaran yang dikembangkan disajikan pada tabel 4.2 berikut ini:

Tabel 2. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran

No Perangkat yang dikembangkan Kategori

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Valid

2 Buku Ajar Siswa (BAS) Valid

4 Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Valid

6 Tes Kemampuan Pemahaman Konsep

Matematika (TKPKM) Valid

2. Produk Pengembangan Perangkat

yang Praktis Melalui Model

Penemuan terbimbing berbantuan

Autograph

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya pada , bahwa produk pengembangan perangkat pembelajaran dikatakan praktis apabila penilaian respon siswa dan respon guru mempunyai kategori praktis. Dari perhitungan pada ujicoba terbatas perangkat pembelajaran model penemuan terbimbing berbantuan

Autograph yang meliputi rencana

pelaksanaan pembelajaran, buku ajar siswa, lembar kegiatan siswa, dan tes kemampuan pemahaman konsep adalah perangkat pembelajaran yang praktis.

3. Produk Pengembangan Perangkat

yang Efektif Melalui Model

Penemuan terbimbing berbantuan

Autograph

Keefektifan produk

pengembangan perangkat dalam penerapan model penemuan terbimbing pokok bahasan aplikasi integal, dapat dilihat dari 3 indikator, yakni: 1) siswa dikatakan telah memahami konsep apabila terdapat 85% siswa yang mengikuti tes telah memiliki kemampuan pemahaman konsep minimal (≥ 65), 2) aktivitas siswa selama kegiatan belajar

memenuhi kriteria toleransi waktu ideal yang ditetapkan, 3) kemampuan guru mengelola pembelajaran minimal berada pada kategori cukup baik, Produk pengembangan perangkat dikatakan efektif apabila memenuhi ketiga indikator di atas. Berikut ini diuraikan hasil penelitian keefektifan produk pengembangan perangkat pembelajaran yang melalui model penemuan terbimbing :

a. Peningkatan Kemampuan

Pemahaman Konsep Matematika

Siswa Menggunakan Perangkat

Pembelajaran Model Penemuan Terbimbing

Berdasarkan hasil postes pemahaman konsep matematika siswa pada ujicoba I terdapat 22 siswa yang mengikuti tes memiliki nilai ketuntasan minimal yaitu ≥ 65 atau sebesar 73,33% dari 30 orang siswa dan pada ujicoba II terdapat 26 siswa yang mengikuti tes memiliki nilai ketuntasan minimal yaitu ≥ 65 atau sebesar 86,67% dari 30 orang siswa. Hal ini menunjukkan pemahaman konsep matematika siswa menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan model pembelajaran penemuan terbimbing mengalami peningkatan dari ujicoba I ke ujicoba II.

(8)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

b. Aktivitas Siswa Terhadap

Pembelajaran Menggunakan

Perangkat Pembelajaran Model

Penemuan Terbimbing berbantuan

Autograph

Bila ditinjau dari aktivitas siswa, terdapat peningkatan kadar aktivitas aktif siswa dimana pada ujicoba I terdapat 1 kategori pengamatan aktivitas aktif siswa yang belum berada pada batas toleransi yang ditentukan, selanjutnya pada ujicoba II semua kategori pengamatan aktivitas aktif siswa sudah berada pada batas toleransi yang ditentukan. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi antara guru dengan siswa atau sesama siswa, mengakibatkan suasana kelas menjadi kondusif, dan setiap siswa melibatkan kemampuannya secara maksimal.

Bila dikaitkan aktivitas siswa dalam proses penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan teori Piaget (Suparno, 1991:87) menyatakan bahwa interaksi sosial, dalam kegiatan belajar baik dengan teman-teman satu kelompok maupun di luar kelompok mempunyai pengaruh besar dalam pemikiran anak. Melalui interaksi ini, anak akan dapat membandingkan pemikiran dan pengetahuan yang telah dibentuknya dengan pemikiran dan pengetahuan orang lain. Pada bagian lain Jhon Dewey (Trianto, 2009: 91) menjelaskan belajar penemuan adalah interaksi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah itu pemecahannya dengan baik. . .

c.Kemampuan Guru Mengelola

Pembelajaran Menggunakan

Perangkat Pembelajaran Model

Penemuan Terbimbing Berbantuan

Autograph

Pada ujicoba I diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan guru mengelola pembelajaran berada pada kriteria cukup baik, untuk ujicoba II kemampuan guru mengelola pembelajaran berada pada kriteria baik untuk ujicoba II.

Bila ditinjau dari teori belajar yang ada, hasil penelitian di atas sangatlah beralasan. Model pembelajaran penemuan terbimbing mengikuti apa yang dikemukan oleh Vygotsky (Arends, 2008: 47) yang memberikan penekanan pada scaffolding, yaitu memberikan sejumlah besar bantuan berupa pertanyaan ketika terjadi kemacetan (stagnasi berpikir), kemudian mengurangi bantuan tersebut secara bertahap dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Vygotsky juga menekankan peran guru pada tahapan memberi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat petunjuk dan aktif ketika ada kesulitan yang dialami siswa melalui arahan, dorongan, membantu mereka pada saat terjadi stagnasi berpikir dan proses selanjutnya lebih ditekankan kepada keaktifan siswa, sehingga pembelajaran tidak berpusat lagi pada guru.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut:

1. Tingkat kevalidan perangkat pembelajaran yang terdiri dari (i) rencana pelaksanaan pembelajaran, (ii) lembar kegiatan siswa, (iii) buku ajar siswa, dan (iv) tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa termasuk dalam kategori valid oleh tim validator dengan pengertian bahwa perangkat pembelajaran dapat digunakan dengan sedikit revisi. 2. Tingkat kepraktisan perangkat

(9)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

dikembangkan dengan menggunakan model penemuan terbimbing disimpulkan berdasarkan pada: respon siswa dan respon guru terhadap komponen perangkat pembelajaran pada kategori “praktis” dengan pengertian bahwa perangkat pembelajaran dapat digunakan dengan baik.

3. Efektifitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing, disimpulkan berdasarkan pada: (i) Tercapainya ketuntasan klasikal pemahaman konsep matematika siswa pada ujicoba II dengan persentase 86,67%, (ii) kadar aktifitas aktif siswa memenuhi kriteria toleransi waktu ideal yang ditetapkan, (iii) kemampuan guru mengelola pembelajaran berada pada kriteria “cukup baik” pada ujicoba I dan berkriteria “baik” pada ujicoba II. 4. Peningkatan kemampuan pemahaman

konsep matematika siswa menggunakan perangkat pembelajaran model penemuan terbimbing berbantuan Autograph pada topik aplikasi integral adalah dari persentase pencapaian kemampuan pemahaman konsep matematika pada setiap ujicoba yaitu : (i) Pada ujicoba I peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 17,08 % dari pretes ke postes dengan indikator yang paling meningkat adalah indikator “Menjelaskan konsep Riemann dengan pendekatan luas daerah” sebesar 50%, dan (ii) pada ujicoba II peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 29,58% dari pretes ke postes dengan indikator yang paling meningkat adalah indikator“ Menjelaskan konsep Riemann dengan pendekatan luas daerah” sebesar 48%.

SARAN

Berdasarkan simpulan penelitian di atas, pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Bagi guru yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran menggunakan model penemuan terbimbing pada topik yang lain pada pelajaran matematika atau pada mata pelajaran lain yang sesuai dapat merancang sendiri perangkat pembelajaran yang diperlukan dengan memperhatikan komponen-komponen pembelajaran dan karakteristik dari materi pelajaran yang akan dikembangkan.

2. Peneliti hendaknya lebih mampu mengefisienkan waktu yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.

3. Peneliti sebaiknya benar-benar melakukan persiapan seperti :

a. Memastikan ketersediaan fasilitas laboratorium komputer yang benar-benar dapat dipakai pada saat penelitian.

b. Sebelum melakukan penelitian, peneliti menginstal terlebih dahulu

software Autograph ke dalam

seluruh komputer yang akan digunakan dalam penelitian. c. Melatih siswa dalam menggunakan

menu yang terdapat dalam

Autograph sebelum melakukan

penelitian agar tidak terjadi kendala pada saat melakukan penelitian.

d. Peneliti harus mampu menghadapi masalah virus yang muncul saat penelitian.

(10)

Wasriono, Edi Syahputra, Edy Surya. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbantuan Autograph untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematik Siswa melaluin Model Penemuan Terbimbing. Jurnal Paradikma, Vol. 8, Nomor 3, Desember 2015, hal 52-61.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S. 2013. Instrumen Perangkat

Pembelajaran. Bandung,

Remaja Rosda Karya

Arends, R. 2008. Learning to Teach,

Belajar untuk Mengajar. Edisi

Ketujuh. Jilid Dua.

(diterjemahkan oleh Soedjipto, Helly, P. dan Soedjipto, Sri, M.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ayub, A. F. M., Tarmizi, R.A., Bakar K.

A., & Yunus, S.M. 2009. Integration of Autograph Technology for Learning Algebra. European Journal of

Social Sciences. 9(1) :129-146

Eggen, P & Kauchak, D. 2012. Strategies

for Teacher Teaching Content and Thinking Skills. New Jersey, Prentice Hall.

Kemendikbud. 2014. Tentang pengembangan kemampuan guru professional.

Matthew, B.M & Kenneth, I.O. 2013. Study on the Effects of Guided Inquiry. Teaching Method on Students Achievement in logic.

the International Research

Journal .2(1) : 134 -140

Nieveen, N. 1999. Design Approaches

and Tools in Education and Training .Kluwer Academic .

Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan

Matematika di Indonesia,

(konstatasi keadaan masa

kinimenuju harapan masa

depan). Direktorat Jenderal

Pendidikan Tinggi. Depdiknas. Suparno, Paul. 1991. Filsafat

Konstruktivisme Dalam

Pendidikan. Jakarta : Kanisius.

Tarmizi, R.A., Yunus, A. S. M., Ayub, A. F. M., & Bakar, K. A. 2008. A comparison of malaysian secondary students perceived Ease of use and usefulness of Dynamic mathematical software. International Journal

Of Education And Information Technologies. 2(3) : 194-201.

Thiagarajan, S. Semmel, DS. Semmel, M. 1974. Instructional

Development for Training

Teachers of Exceptional

Children. A Sourse Book.

Blomingtn: Central for Innovation on Teaching The Handicapped.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif : Jakarta : Kencana Prenada

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :