• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYAKIT JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor) DI PERKEBUNAN KARET DENGAN FAKTOR PEMBATAS BERUPA GENANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENYAKIT JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor) DI PERKEBUNAN KARET DENGAN FAKTOR PEMBATAS BERUPA GENANGAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bandung, 2 Maret 2019 291

PENYAKIT JAMUR UPAS (

Corticium salmonicolor

) DI PERKEBUNAN KARET DENGAN

FAKTOR PEMBATAS BERUPA GENANGAN

PINK DISEASE (

Corticium salmonicolor

) IN RUBBER PLANTATION WITH PUDDLES

LIMITING FACTOR

1Intan Berlian, 2Riko Cahya Putra

1,2Balai Penelitian Getas (Pusat Penelitian Karet),

Jl. Patimura Km 6. Salatiga, Jawa Tengah, 50702 Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Tanaman karet merupakan komoditas perkebunan unggulan setelah sawit. Tanaman ini masih diminati oleh para investor meskipun harga karet alam mengalami fluktuasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Seiring bertambahnya pengusahaan perkebunan karet, ketersediaan lahan yang sesuai untuk penanaman karet semakin berkurang dan pada akhirnya penanaman dilakukan pada lahan-lahan yang kurang sesuai. Pada dasarnya, pengusahaan tanaman karet di lahan yang kurang sesuai bisa dilakukan namun ada beberapa kendala dalam budidayanya. Salah satunya adalah masalah penyakit tanaman. Penelitian ini dilakukan di Kebun Kawung milik PT Perkebunan Nusantara IX pada bulan November 2017. Kondisi lahan penelitian mempunyai faktor pembatas berupa genangan dengan kelembaban tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan berkembangnya penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor). Pengamatan yang dilakukan pada minggu kedua bulan November 2017 menunjukkan kejadian penyakit mencapai 3,24% dan meningkat menjadi 6,31% pada minggu keempat. Sedangkan intensitas penyakit pada minggu kedua bulan November 2017 adalah 1,98% dan meningkat menjadi 3,33% pada minggu keempat. Berdasarkan hasil penelitian, pengusahaan tanaman karet pada lahan tergenang harus diikuti dengan manajemen lahan dan penyakit terutama penyakit jamur upas.

Kata kunci: jamur upas, karet, genangan

ABSTRACK

Rubber plants are major plantation commodities after oil palm. The plants are still in demand by investors even though the price of natural rubber has fluctuated in the past 5 years. As long as the increase in rubber plantation business, the availability of land that suitable for rubber cultivation was decreased and rubber is planted on not suitable land. Basically, the cultivation of rubber plants in not suitable land can be done but there are some problems in its cultivation. One of them is caused by plant disease. This research was conducted at the Kawung Plantation owned by PT Perkebunan Nusantara IX in November 2017. The research land conditions have a limiting factor in the form of puddles with high humidity. This condition was causes the development of pink disease (Corticium salmonicolor). Observations in the second week of November 2017 showed the incidence of the disease reached 3,24% and increased to 6,31% in the fourth week. While the intensity of the disease in the second week of November 2017 was 1,98% and increased to 3,33% in the fourth week.

(2)

Bandung, 2 Maret 2019 292 Based on the results of the study, the cultivation of rubber in puddles land must be followed by management of diseases, especially pink diseases.

Key words: pink disease, puddle land, rubber

PENDAHULUAN

Tanaman karet merupakan komoditas unggulan perkebunan kedua di Indonesia setelah sawit. Data Dirjenbun tahun 2016 sampai dengan bulan September menunjukkan volume ekspor dari komoditi karet sebanyak 1.889.164 ton dan menghasilkan devisa negara mencapai 2.387.574.000 US$. Produksi karet di Indonesia berasal dari perkebunan karet rakyat dan perkebunan besar (BUMN dan perusahaan swasta). Rata-rata luas perkebunan rakyat mendominasi 85% dari total area perkebunan karet di Indonesia dan sisanya (15%) merupakan perkebunan karet milik swasta serta BUMN. Sampai saat ini, tanaman karet masih diminati oleh para investor meskipun harga karet alam mengalami fluktuasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Luas perkebunan karet di Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia diikuti negara Malaysia dan Thailand. Salah satu faktor pendukung luasnya perkebunan karet di Indonesia adalah terpenuhinya syarat tumbuh berupa iklim tropis yang sama dengan daerah asalnya di lembah Amazon, Brasil. Curah hujan di Indonesia juga mendukung untuk pengembangan karet yaitu 1500 – 4000 mm/tahun dengan rata-rata bulan kering 0-4 bulan per tahun (Susetyo & Hadi, 2012).

Selain itu terdapat

kriteria kesesuaian lahan yang harus

dipenuhi berupa topografi, persentase

batu dipermukaan, kedalaman efektif,

lapisan gambut, lapisan sulfat masam,

drainase, tekstur tanah, dan pH (Pusat

Penelitian

Karet,

2017).

Seiring bertambahnya pengusahaan perkebunan karet, ketersediaan lahan yang sesuai untuk penanaman karet semakin berkurang dan pada akhirnya penanaman dilakukan pada lahan-lahan yang kurang sesuai. Pada dasarnya, pengusahaan tanaman karet di lahan yang kurang sesuai bisa dilakukan namun ada beberapa kendala dalam budidayanya.

Kebun Kawung merupakan salah satu perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara IX (BUMN) yang mempunyai komoditas utama tanaman karet. Luas kebun karet yang ditanam di Kebun kawung adalah 1.347,06 ha dengan faktor pembatas mayoritas berupa genangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor) pada budidaya tanaman karet yang ditanam dengan faktor pembatas genangan dan menentukan rekomendasi pengendalian.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini didasarkan dari hasil pengawalan investasi tanaman karet belum menghasilkan (TBM) pada bulan November 2017 di Afdeling Kawung, Kebun Kawung milik PT Perkebunan Nusantara IX. Tanaman karet yang digunakan untuk penelitian adalah klon PB260 umur 4 tahun (TBM 4). Luas areal yang di amati yaitu 1 ha dan terdiri dari 555 tanaman karet dengan jarak tanam 3x6 m. Pengamatan intensitas penyakit dilakukan setiap dua

(3)

Bandung, 2 Maret 2019 293 minggu sekali selama bulan November

2017.

Pengamatan kejadian penyakit (KP) dilakukan dengan menghitung jumlah tanaman terserang dan jumlah seluruh tanaman yang diamati (tanaman terserang dan tanaman sehat). Selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus (Matitaputty, 2014):

100%

x

b

a

a

penyakit

Kejadian

Keterangan : KP = Kejadian Penyakit a = Jumlah buah terserang b = jumlah buah sehat .

Pengamatan intensitas penyakit (IP) jamur upas dilakukan berdasarkan pemberian skor pada tanaman yang diamati dengan menggunakan nilai skala serangan sebagai berikut :

Tabel 1. Skala kerusakan untuk menentukan intensitas penyakit jamur upas (Fairuzah

et

al

., 2014)

skala keterangan

0 Tidak ada serangan

1 Terdapat sebaran seperti sarang laba-laba, melekat pada permukaan kulit 2 Lateks menetes di antara benturan

sarang laba-laba

3 Pada jaringan terserang terdapat selaput (miselia jamur) tebal

berwarna kemerahan, ada lateks yang menetes berwarna coklat, daun pada ranting menguning

4 Jaringan kulit mebusuk, berwarna kehitaman, bila kulit dikelupas akan terlihat jaringan kayu, ada

keterlibatan serangga, daun pada ranting gugur, jaringan terinfeksi patah

5 Cabang atau ranting yang terserang

mati, patah pada bagian cabang utama

Berdasarkan hasil skala kerusakan ditentukan persentase intensitas penyakit jamur upas dengan rumus :

100%

x

Z

x

N

v)

x

(n

penyakit

Intensitas

Keterangan :

n = jumlah tanaman sembuh dari setiap kategori

v = nilai skala dari setiap kategori N = jumlah tanaman yang diamati Z = Nilai skala dari kategori kesembuhan tertinggi

Data pendukung seperti capaian lilit batang setiap tahun mulai TBM 1 - TBM 4 dan faktor lingkungan diperoleh dari data Kebun Kawung.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan

Lahan tanaman karet di Afdeling Kawung mempunyai tekstur tanah kelas geluh lempung debuan yang mempunyai sifat jenuh air. Pada kondisi ini drainase bersifat lambat dan mengakibatkan genangan terutama saat musim penghujan. Upaya manajemen tanaman yang ditanam di lahan genangan sudah diupayakan dengan pembuatan saluran drainase dan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang. Saluran drainase dibuat memanjang mengikuti kontur dengan jarak antar saluran yaitu 12 m. Upaya ini dilakukan agar akar tanaman karet tidak busuk dan tanaman karet dapat tumbuh baik.

(4)

Bandung, 2 Maret 2019 294

Gambar 1.Pembuatan saluran drainase (a) dan aplikasi pupuk kandang (b) Karet dikatakan tumbuh dengan baik

jika memenuhi standar ukuran yang telah ditentukan yaitu 60% populasi tanaman mempunyai lilit batang standar dan atau superior sesuai umur tanaman. Standar lilit batang akhir TBM 1, TBM 2, TBM 3 dan TBM 4 berturut-turut adalah 8 cm, 18 cm, 30 cm dan 40 cm (Rouf et al., 2013). Hasil pengukuran lilit batang tanaman percobaan pada setiap akhir tahun selama 4 tahun menunjukkan variasi persentase capaian lilit batang. Pada saat TBM 1 - TBM 3 terlihat capaian lilit batang standar dan atau superior tidak sampai 60% dan baru terjadi peningkatan pertumbuhan ketika TBM 4. Hal ini disebabkan pada saat TBM masih muda akar lateral tanaman karet belum banyak tumbuh dan mulai berkembang ketika tanaman sudah berumur 4 tahun. Keragaan tanaman karet saat umur 4 tahun sudah mempunyai tajuk rimbun dan saling menaungi antar tanaman.

Tabel 2. Laju pertumbuhan lilit batang

tanaman karet dari TBM 1 sampai TBM 4

Gejala penyakit

Pengamatan serangan patogen Cortisium salmonicolor dimulai ketika sudah ada gejala penyakit di pangkal cabang tanaman karet. Hasil pengamatan di lokasi penelitian menunjukkan sudah ada variasi stadium gejala serangan jamur upas. Variasi tersebut terdiri dari stadium rumah laba-laba, bintil, kortisium, dan nekator. Stadium rumah laba-laba adalah fase awal terjadinya serangan yang ditandai dengan munculnya miselium tipis berwarna putih mengkilat seperti sutera, fase kedua yaitu stadium bintil dengan ciri-ciri miselium jamur menyerupai bintil berwarna pink, fase ketiga yaitu stadium kortisium dengan ciri-ciri miselium jamur berwarna putih, keluar latek berwarna coklat kehitaman dari bagian yang terserang dan fase terakhir adalah stadium nekator dimana yang ditandai dengan matinya jaringan kayu (Soekirman & Budi, 2007)

Penularan jamur berlangsung melalui penyebaran spora oleh bantuan angin. Jamur menghasilkan banyak spora di lapisan kerak berwarna pink atau merah muda pada batang yang terserang. Pengerokan pada bagian ini dapat menyebabkan penyebaran spora.

Klasifikasi Presentase lilit batang TBM

I 2 3 4 ………….%………… Superior 23,6 26,5 6,40 10,3 Standar 27,3 30,2 38,6 52,4 Inferior 49,0 43,3 54,9 37,3 a b

(5)

Bandung, 2 Maret 2019 295

Gambar 2. Gejala jamur upas pada stadium rumah laba-laba (a), bintil (b), kortisium (c), dan nekator (d)

Kejadian penyakitdan Intensitas Penyakit Hasil pengamatan pertama yaitu pada minggu kedua bulan November 2017 menunjukkan kejadian penyakit mencapai 3,24% dari 555 tanaman dan meningkat menjadi 6,31% pada minggu keempat. Sedangkan intensitas penyakit pada minggu kedua bulan November 2017 adalah 1,98% dan meningkat menjadi 3,33% pada minggu keempat. Kejadian penyakit dan intensitas penyakit terus meningkat seiring dengan curah hujan yang semakin tinggi dan kelembaban lebih dari 95%. Jumlah curah hujan dan hari hujan di lokasi penelitian pada bulan Oktober yaitu 291 mm (17 hari hujan) dan 271 mm (20 hari hujan) pada bulan November. Suhu berkisar antara 25-28 oC. Kelembaban tinggi disebabkan oleh tajuk tanaman yang sudah saling menaungi antar tanaman ditambah adanya genangan pada saluran drainase.

Menurut Shamsuri et al., (1997) pelepasan basidiospora C. salmonicolor terjadi selama hujan maupun 15 jam setelah hujan berlangsung. Tingginya kepadatan inokulum basidiospora tersedia selama dan setelah hujan menjelaskan mengapa timbulnya penyakit jamur upas biasa terjadi selama periode hujan. Kisaran suhu di bawah kanopi karet yang sesuai untuk perkembangan C. salmonicolor

adalah 21 - 33 oC dan optimal pada suhu 28 oC. Kisaran suhu tersebut juga cocok untuk perkecambahan basidiospora yang berada dalam kisaran 18 - 32 oC. Perkembangan gejala penyakit jamur upas masih dapat terjadi selama musim kemarau dengan curah hujan sporadis (Christians et al., 1986).

Penyakit jamur upas (Cortisium salmonicolor) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet dan ditemukan di negara-negara yang mengusahakan tanaman karet. Umumnya tanaman yang diserang adalah tanaman muda umur 3-7 tahun pada kebun dengan kelembaban tinggi. Penyakit menyerang pangkal cabang yang mengakibatkan matinya cabang atau tajuk tanaman dan serangan lanjut mengakibatkan tanaman mati (Gezahgne et al., 2003). Penyakit ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman karet di Jawa oleh Zimmermann pada tahun 1901, kemudian di Kalimantan dan menyebar ke Malaysia, Sri Lanka, India Selatan, negara yang termasuk Indo-china, Filipina, Kamboja, Brasil, Meksiko, Peru, Kamerun, Pantai Gading dan Kongo (Hilton, 1958). Di Indonesia, serangan jamur upas mencapai 5.204 – 10.962 ha pada tahun 2010 - 2016 atau 0,14 – 0,32% dari total lahan perkebunan karet. Serangan tersebut

(6)

Bandung, 2 Maret 2019 296 tersebar di 11 provinsi di Indonesia, namun

utamanya banyak terjadi di provinsi yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Kerugian yang diakibatkan oleh penyakit jamur upas di perkebunan karet Indonesia mencapai IDR 1.010.148.190,40 – 33.456.461.249 pada tahun 2010-2016 (Ditjenbun, 2016).

Penyakit jamur upas tidak hanya menyerang tanaman karet namun dapat juga menyerang tanaman lain seperti Theobraomae cacao (Akrofi et al., 2014; Kwarteng et al., 2018), Reutealis trisperma (Florina et al., 2017), apel (Prashad, 2013), jeruk (Lakshmi, 2014), Eucalyptus camaldulensis (Gezahgne et al., 2003), kopi (Defitri, 2016), Acacia spp. (Sebastianes et al., 2007) dan Anacardium occidentale (Asogwa et al., 2008).

Pengendalian Penyakit

Pada umumnya, gangguan penyakit jamur upas dari segi teknis tidak mudah diatasi secara preventif karena sulit untuk menduga bagian tanaman karet yang terlebih dahulu akan dihinggapi jamur upas. Dari segi ekonomi, memperlakukan seluruh tanaman karet dengan fungisida dalam rangka mencegah penyakit dianggap relatif mahal. Oleh karena itu sampai saat ini pengendalian jamur upas selalu dilakukan melalui tindakan kuratif.

Hasil penelitian kejadian dan intensitas penyakit jamur upas di lahan genangan menunjukkan bahwa daerah genangan rawan terhadap penyakit jamur upas. Oleh karena itu perlu tindakan yang lebih intensif dan komprehensif untuk manajemen penyakit. Monitoring penyakit dengan early warning sistem (EWS) sangat dianjurkan untuk dilakukan. Pengamatan dini terhadap penyakit dapat dilakukan oleh seorang pengamat khusus setiap 2 minggu

sekali, hal ini dikarenakan perkembangan penyakit jamur upas sangat cepat. Tindakan lain guna mendukung EWS penyakit jamur upas, yaitu:

1. Mencegah terjadinya kondisi lingkungan yang terlalu lembab, misalnya dengan membuat atau memperbaiki saluran pembuangan air, mengendalikan gulma secara intensif, dan memelihara tanaman penutup tanah kacangan secara optimal. 2. Untuk lokasi-lokasi yang selalu

berkabut dan selalu lembab karena faktor alami seperti lembah atau daerah aliran sungai, maka pengelolaan kelembaban dapat diupayakan dengan mengatur jarak tanam yang optimal (tidak terlalu rapat) atau dengan populasi tidak lebih dari 600 pohon per hektar. 3. Pengendalian jamur upas

menggunakan fungisida dapat dilakukan dengan fungisida sederhana Bubur Bordeaux. Cara pembuatan bubur bordeaux adalah melarutkan terusi 1 kg dalam 5 liter air kemudian dituangkan ke dalam kapur tohor 5 kg yang sebelumnya sudah dilarutkan dengan 5 liter air. Penuangan sebaiknya tidak terbalik. Aplikasi dilakukan dengan pengolesan pada daerah yang sakit termasuk 20-40 cm pada bagian sehat yaitu di atas maupun di bawah gejala. Arah pengolesan perlu diperhatikan dari bagian sehat ke bagian sakit. Pengolesan Bubur Bordeaux dilakukan dengan interval 2 minggu sekali hingga tanaman pulih.

4. Bubur Bordeaux hanya dapat digunakan pada karet TBM, karena bahan aktif Cu dapat mencemari lateks jika diaplikasikan pada karet TM.

(7)

Bandung, 2 Maret 2019 297 5. Pada karet TM, pengendalian dapat

dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif Tridemorf dengan interval 2 minggu sekali.

6. Memotong cabang yang mati dengan batas 30 cm ke arah pangkal dari jaringan yang telah mati, selanjutnya dibakar. Sebelum dipotong, cabang dioles dengan fungisida untuk mencegah spora tersebar.

7. Pada blok yang terserang berat oleh jamur upas sebaiknya tidak dimasuki oleh pencari kayu bakar, karena perpindahan kayu sakit ke tempat lain sangat berpotensi menyebarkan jamur upas ke tanaman karet di blok lain. 8. Apabila diperlukan manajemen tajuk

(dengan pemangkasan) terhadap tajuk-tajuk yang tumpang tindih dapat dilakukan dengan teliti dan hati-hati. Setiap pemotongan cabang, bagian yang dipotong langsung dioles dengan dengan Bubur Bordeaux atau fungisida berbahan aktif Tridemorf. Tujuan dari pemangkasan ini adalah untuk mengurangi kelembaban.

9. Fungisida lain yang dapat digunakan yaitu karbendazim, benomil dan hormon tumbuh Antiko F96.

10. Di daerah-daerah yang rawan penyakit jamur upas sebaiknya tidak menanam klon-klon yang rentan.

KESIMPULAN

1. Penyakit jamur upas rawan menyerang tanaman karet pada lahan genangan. 2. Pengusahaan tanaman karet pada lahan

tergenang harus diikuti dengan manajemen lahan dan penyakit terutama penyakit jamur upas.

DAFTAR PUSTAKA

Akrofi, A. Y., Amoako-Atta, I., Assuah, M. & Kumi-Asare E . 2014. Pink Disease Caused by Erythricium salmonicolor (Berk. & Broome)Burdsall: An Epidemiological Assessment of its Potential Effect on Cocoa Production in Ghana. J Plant Pathol Microb, 5(1), 1-6. http://dx.doi.org/10.4172/2157-7471.1000215.

Asogwa, E. U., Hammed, L. A. & Ndubuaku, T. C. N. 2008. Integrated production and protection practices of cashew (Anacardium occidentale) in Nigeria. African Journal of Biotechnology, 7 (25),4868-4873.

https://doi.org/10.5897/AJB08.074 Christians, J.S., Fliege, F.H. & Schloesser, E.

1986. On the Release, Survival and importance of Basidiospores of Corticium salmonicolor, the Pathogen Causing Pink Disease. J. Plant Diseases and Protection, 93(4), 397.

Defitri, Y. 2016. Pengamatan beberapa penyakit yang menyerang tanaman kopi (Coffea sp) di desa Mekar Jaya kecamatan Betara kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jurnal Media Pertanian, 1 (2), 78 - 84.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2016. Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Jakarta. Fairuzah, Z., Dalimunthe, C. I. & Daslin, A.

2014. Efektivitas Bakteri Antagonis (Pseudomonas sp.) untuk Mengendalikan Penyakit Cabang Jamur Upas (Corticium salmonicolor). Jurnal Penelitian Karet, 32 (1), 37- 44. Florina, D., Wahyuno, D. dan Siswanto.

2017. Kepekaan Erythricium salmonicolor Penyebab Penyakit Jamur

(8)

Bandung, 2 Maret 2019 298 Upas pada Kemiri Sunan terhadap

Suhu, Cahaya, dan Fungisida. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 13 (2), 35– 42.

https://doi.org/10.14692/jfi.13.2.35 Gezahgne, A., Roux, J. & Wingfield, M. J.

2003. First report of pink disease on Eucalyptus camaldulensis in Ethiopia. Plant Pathology, 52, 402.

https://doi.org/10.1046/j.1365-3059.2003.00824.x

Hilton, R. N. 1958. Pink Disease of Hevea Caused by Corticium salmonicolor Berk, et Br. Journal of the Rubber Research Institute of Malaya 15 (5), 275-292.

Kwarteng, F.G., E. Cornelius, E., Acquah, K. K & Asare, E. K. 2018.Morphological and Molecular Identification of the Fungus Associated with Pink Disease of Cocoa (Theobroma cacao L) in the Eastern Region of Ghana International. Journal of Pathogen Research, 1(1), 1-8. Lakshmi, T. N., Gopi,V., Sankar,T.G.,

Sarada,G., Lakshmi L.M., Ramana, K.T.V. & Gopal, K. 2014. Status of Diseases in Sweet Orange and Acid Lime Orchards in Andhra Pradesh, India. Int. J. Curr. Microbiol. App. Sci, 3(5), 513-518.

Matitaputty, A., Amanupunyo, H.R.D., & Rumahlewang, W. 2014. Kerusakan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) akibat penyakit penting di kecamatan Taniwel kabupaten Seram bagian barat. Jurnal Budidaya Pertanian, 10 (1),6-9.

Prashad, D. 2013. Studies on epidemiology and management of pink canker (Corticium salmonicolor Berk. & Br.) in apple. Thesis. Dr. Y. S. Parmar University of Horticulture and Forestry. India

Pusat Penelitian Karet. 2017. Studi kelayakan pembangunan pabrik pengolahan karet PT. Parwata Rimba di Provinsi Kalimantan Tengah. Pusat Penelitian Karet. Bogor.

Rouf, A., Setiono, & Pamungkas, A. S. 2013. Urgensi sensus lilit batang sejak TBM I sebagai strategi meningkatkan keragaan dan keseragaman tanaman karet. Warta Perkaretan, 32(2), 95 - 104.

Sebastianes, F.L. de. S., Maki, C.S., Fernando Dini Andreote, F.D., Araujo, W.L., & Pizzirani-Kleiner, A.A. 2007. Genetic variability and vegetative compatibility of Erythricium salmonicolor isolates. Sci. Agric. (Piracicaba, Braz.), 64 (2), 162-168.

Shamsuri, M.H., Omar, M. & Napi, D. 1997. Studies on Epidemiology of Pink Disease and the Effect of Temperature on Mycelial Growth of Corticium salmonicolor of Hevea Rubber. Journal national Rubber Research, 12(1), 58-66.

Soekirman, P. & Budi, S. 2007. Pengenalan dan Pengendalian Penyakit Tanaman Karet. Balai Penelitian Getas, Pusat Penelitian Karet.

Susetyo, I. & Hadi, H. 2012. Pemodelan produksi tanaman karet berdasarkan potensi klon, tanah, dan iklim. Jurnal Penelitian Karet, 30 (1), 23 - 35.

/doi.org/10.5897/ Gezahgne, Wingfield, https://doi.org/10.1046/j.1365-3059.2003.00824.x

Gambar

Gambar 1.Pembuatan saluran drainase (a) dan aplikasi pupuk kandang (b)  Karet  dikatakan  tumbuh  dengan  baik
Gambar 2. Gejala jamur upas pada stadium  rumah  laba-laba (a),  bintil (b), kortisium  (c), dan  nekator (d)

Referensi

Dokumen terkait

harzianum formulasi granular dengan berbagai campuran media dalam mengendalikan penyakit Jamur akar putih ( Rigidoporus microporus ) pada tanaman karet.. Penelitian ini dilaksanakan

Adapun judul dari skripsi ini adalah “UJI EFEKTIFITAS CHITOSAN UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus (Swart: Fr) van Ov.) PADA TANAMAN KARET

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Distribusi Peta Awal Serangan Penyakit Jamur Akar Putih (Jap) ( Rigidoporus microporus (Swartz: Fr)) pada beberapa Perkebunan Karet

Meskipun pada karet Colletotrichum terutama menyerang daun, jamur yang sama juga dapat menyerang semua bagian hijau dari tanaman karet, termasuk buah, dan juga

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Distribusi Peta Awal Serangan Penyakit Jamur Akar Putih (Jap) (Rigidoporus microporus (Swartz: Fr)) pada beberapa Perkebunan Karet

adanya serangan penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh jamur.

Ceratocystis fimbriata menyebabkan penyakit pada bidang sadap tanaman karet (Hevea brasiliensis), yang menyebabkan jamur abu-abu atau busuk pada panel sadap yang

SELEKSI DAN UJI POTENSI CENDAWAN DARK SEPTATE ENDOPHYTE SEBAGAI AGENSIA HAYATI PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus) PADA TANAMAN KARET.. Article   in   Jurnal