• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dapat ditempuh dengan cara memaksimalkan nilai sekarang atau present values

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dapat ditempuh dengan cara memaksimalkan nilai sekarang atau present values"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Perusahaan memiliki tujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan menyejahterakan para pemegang saham. Memaksimalkan nilai pemegang saham dapat ditempuh dengan cara memaksimalkan nilai sekarang atau present values semua keuntungan pemegang saham yang diharapkan dapat diperoleh dimasa depan (Ermadhani Anggraini Putri, 2018). Nilai perusahaan merupakan hasil kerja manajemen dari beberapa dimensi diantaranya adalah arus kas bersih dari keputusan investasi, pertumbuhan dan biaya modal perusahaan (Aries, 2011).

Perusahaan harus mampu meningkatkan nilai perusahaannya karena semakin tinggi nilai perusahaan, semakin tinggi juga kepercayaan investor terhadap perusahaan. Bagi investor, nilai perusahaan merupakan konsep penting karena nilai perusahaan merupakan indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan (Hanifah, 2016).

Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah satunya adalah dengan harga pasar saham perusahaan, karena harga pasar saham perusahaan mencerminkan penilaian investor secara keseluruhan pada setiap ekuitas yang dimiliki. Harga pasar saham bertindak sebagai barometer kinerja perusahaan. Jika nilai perusahaan dapat diproksikan dengan harga saham maka memaksimumkan nilai peruahaan samadengan memaksimumkan harga pasar saham (Hardiyanti, 2012)

(2)

Harga pasar saham selalu mengalami kenaikan dan penurunan bahkan tiap detiknya. Sehingga dalam melakukan keputusan investasi, investor memerlukan analisis-analisis yang mendalam untuk menjamin keamanan dana yang diinvestasikan serta keuntungan yang diharapkan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham (Alwi, 2008 dalam jurnal Andrew Patar, 2014).

Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. Price to Book Value (PBV) adalah salah satu indikator yang digunakan investor untuk melihat keadaaan/posisi finansial suatu perusahaan. Price to Book Value digunakan untuk menilai apakah suatu perusahaan memiliki masa depan cerah untuk berinvestasi (Sari, 2013:2). Ada beberapa rasio untuk mengukur nilai perusahaan. Nilai perusahaan kemudian diindikasikan dengan menggunakan Price to Book Value (Chaidir, 2015:3).

Price to Book Value menunjukkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Price to Book Value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan ke depan. Price to Book Value digunakan untuk menilai harga suatu saham dengan membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku perusahan (book value). Rasio ini menunjukan bagaimana suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan (Anggraini, 2013)

(3)

Perusahaan yang berjalan baik, umumnya rasio Price to Book Valuenya mencapai di atas satu, yang menunjukan bahwa nilai pasar lebih besar dari nilai bukunya. Semakin rendah nilai Price to Book Value suatu saham maka saham tersebut dikategorikan undervalued. Nilai rendah Price to Book Value dapat disebabkan oleh turunnya harga saham, sehingga harga saham berada di bawah nilai bukunya atau nilai sebenarnya (Husnan, 2015).

Dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan, pihak manajemen perusahaan berusaha mengaplikasikan faktor-faktor yang dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor eksternal maupun faktor internal perusahaan. Salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan di masa depan adalah dengan melihat kinerja perusahaan (Sari, 2013).

Para investor membutuhkan informasi kinerja perusahaan melalui analisis kinerja sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Pada umumnya analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode konvensional yaitu analisis rasio keuangan (Brigham & Houston, 2013).

Analisis rasio keuangan sebagai alat pengukur akuntansi konvensional memiliki kelemahan utama, yaitu mengabaikan adanya biaya modal sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah berhasil menciptakan suatu nilai atau tidak. Untuk mengetahui kelemahan tersebut, dikembangkan suatu konsep baru yaitu Economic Value Added (EVA) yang mengukur nilai tambah (Value Creation) yang dihasilkan suatu perusahaan dengan cara mengurangi beban biaya

(4)

modal (cost of capital) yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan. EVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investasi (Hanafi, 2012:53).

Tujuan utama dari keputusan-keputusan keuangan adalah untuk memaksimumkan kemakmuran pemilik perusahaan. Bagi perusahaan yang terdaftar di bursa, harga saham biasa dipergunakan sebagai acuan. Para analis keuangan mengembangkan dua indikator kinerja, yaitu Market Value Added (MVA) dan Economic Value Added (EVA). Kemakmuran pemegang saham dapat dimaksimumkan dengan memaksimumkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas dengan ekuitas (modal sendiri) yang diserahkan ke perusahaan oleh para pemegang saham (pemilik peruahaan). Perbedaan ini disebut sebagai Market Value Added. Sementara Market Value Added menilai tambahan kemakmuran para pemilik perusahaan sejak perusahaan didirikan, Economic Value Added menilai efektifitas manajerial untuk satu tahun tertentu (Husnan, 2015).

Economic Value Added adalah pengukuran yang didasari nilai pemegang saham yang dihasilkan, baik itu bertambah maupun berkurang. Economic Value Added menyajikan suatu ukuran yang baik mengenai sampai sejauh mana perusahaan telah memberikan tambah pada nilai pemegang saham. Economic Value Added merupakan pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai yang merefleksikan jumlah absolut dari nilai kekayaan pemegang saham yang dihasilkan, baik bertambah maupun berkurang setiap tahunnya. Economic Value Added merupakan alat yang berguna untuk memilih investasi keuangan yang paling

(5)

menjanjikan dan sekaligus sebagai alat yang cocok untuk mengendalikan operasi perusahaan (Tunggal 2008:343).

Economic Value Added menyediakan insentif kuat bagi manajer untuk mencari dan mengimplementasikan investasi yang menciptakan nilai, Economic Value Added juga merupakan alat komunikasi yang efektif, baik untuk penciptaan nilai yang dapat dijangkau oleh manajer yang akhirnya mendorong kinerja perusahaan dan untuk berhubungan dengan pasar modal (David, 2001:17).

Penilaian nilai perusahaan diukur dengan ketentuan semakin tinggi Economic Value Added maka nilai perusahaan dapat dikatakan baik, sehingga terjadi proses perubahan pada nilai ekonomisnya. Sebaliknya, apabila nilai Economic Value Added negatif maka nilai perusahaan tersebut dikatakan kurang baik karena laba yang diperoleh tidak memenuhi harapan penyandang dana, sehingga tidak terjadi penambahan nilai ekonomis pada perusahaan, ada keadaan dimana Economic Value Added tidak mengalami kenaikan atau penurunan dikatakan keadaan tersebut nilai perusahaan secara ekonomis dalam keadaan impas (Rudianto, 2006:348).

Market Value Added adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan (termasuk ekuitas dan utang) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan. Investor menyerahkan modal ke dalam perusahaan dengan harapan manajer akan menginvestasikannya dengan produktif. Nilai pasar mencerminkan keputusan pasar mengenai bagaimana manajer yang sukses telah menginvestasikan modal yang sudah dipercayakan kepadanya, dalam mengubahnya menjadi lebih

(6)

besar. Semakin besar Market Value Added, semakin baik. Market Value Added negatif berarti nilai dari investasi yang dijalankan manajemen kurang dari modal yang diserahkan kepada perusahaan oleh pasar modal (David, 2001:27).

Dalam upaya memperoleh nilai perusahaan semaksimal mungkin, perusahaan seringkali tidak dapat mecapai target yang ditentukan. Seperti halnya pada Desember 2017 lalu pergerakan saham property dan real estate terkoreksi 7%, dari level 523, 96 menjadi 486, 89 pada 17 Desember 2017. Dengan menurunnya harga saham Property & Real Estate pada tahun 2017 di alami oleh salah satu emiten diantaranya PT. Citra Development Tbk. (CTRA), harga saham CTRA per 11 desember 2017 tercatat sebesar Rp 1.175 per saham. Angka tersebut turun 10% dari harga saham per 1 Januari 2017 sebesar Rp 1.305 per saham. Menurunnya harga saham juga sejalan dengan turunnya kinerja pendapatan pada kuartal III-2017 yang turun 2% menjadi Rp 4,34 triliun dari periode yang sama tahun lalu (Ringkang, 3 Januari 2018 tirto.id/apakah-saham-properti-masih-layak-dikoleksi-di-2018-cCCM).

Di periode yang sama, saham PP Properti (PPRO) juga melemah sebesar 21, 16%. Pelaku pasar sebaiknya melakukan trading saham properti. Sebab, masih akan sulit bagi saham properti untuk bangkit signifikan pada tahun 2018 (Kontan, Selasa 15 Mei 2018 investasi.kontan.co.id/news/harga-saham-properti-sudah-di-level-bawah).

(7)

Berbagai fenomena tersebut menunjukkan gejala-gejala nilai perusahaan yang kurang baik dari perusahaan jasa di Indonesia khususnya pada Perusahaan Property & Real Estate. Berikut disajikan perbandingan rasio Price to Book Value, Economic Value Added,dan Market Value Added pada beberapa perusahaan sub sektor Property & Real Estate.

Table 1.1 Perbandingan rasio Price to Book Value, Economic Value

Added, dan Market Value Added pada beberapa perusahaan sub sektor

Property & Real Estate. KODE

ENTITAS TAHUN PBV EVA MVA

SMRA 2013 2,4470 Rp399.985.470.974,04 Rp2.775.983.923.200,00 2014 4,0698 Rp309.569.165.292,96 Rp10.686.094.601.400,00 2015 3,9589 Rp226.943.750.356,55 Rp9.455.613.794.000,00 2016 3,0619 Rp77.928.819.819,41 Rp2.522.537.597.000,00 2017 2,0712 Rp193.060.174.251,27 Rp6.600.166.426.600,00 FMII 2013 3,6005 Rp6.498.622.959.833,76 Rp668.792.093.184,00 2014 4,2744 -Rp1.761.933.525.277,50 Rp563.513.671.543,00 2015 4,8887 Rp27.022.270.514,15 Rp1.698.601.224.916,00 2016 2,0224 Rp18.249.693.022,54 Rp222.474.604.368,00 2017 2,0550 Rp357.420.488,17 Rp1.373.808.750.112,00 Sumber: www.idx.co.id dan www.sahamok.com (data diolah)

Pada tabel 1.1 tampak fluktuasi yang terjadi pada rasio PBV dan pada nilai EVA dan MVA pada PT. Summarecon Agung Tbk., dan PT. Fortune Mate Indonesia Tbk. Tabel ini menggambarkan bahwa pada tahun 2014 di PT. Summarecon Agung Tbk terjadi kenaikan pada rasio PBV sebesar 1.62 kali, kenaikan ini diikuti dengan menurunnya nilai EVA sebesar Rp123.650.380.321. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada dimana menurunnya nilai EVA memiliki arti bahwa tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan kurang dari tingkat biaya modal atau tingkat biaya dari investor atas investasi yang dilakukannya, sehingga tidak

(8)

terjadi penambahan nilai ekonomis pada perusahaan. Sedangkan nilai pada PBV meningkat yang artinya terjadi kenaikan pada harga saham sehingga mampu menciptakan nilai perusahaan relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan.

Pada tahun 2014 di PT. Fortune Mate Indonesia Tbk. Terjadinya kenaikan pada rasio PBV sebesar 0.67 kali yang diikuti dengan menurunnya nilai pada MVA sebesar Rp 105.278.421.600,00 fenomena ini pun tidak sesuai dengan teori. Dimana nilai MVA menurun berarti nilai dari investasi yang dijalankan manajemen kurang dari modal yang diserahkan kepada perusahaan oleh pasar modal, Sedangkan nilai pada PBV meningkat yang menunjukan bahwa nilai pasar lebih besar dari nilai bukunya.

Fenomena ini yang mendorong peneliti untuk membahas mengenai kinerja pada sub sektor Perusahaan Property & Real Estate yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesaia (BEI), sebab sektor Property & Real Estate berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, karena sektor properti merupakan sektor padat karya (Panangian Simanungkalit, Senin 16 Juli 2018 http://id.beritasatu.com/home/kontribusi-signifikan-sektor-properti/177845).

Berdasarkan penelitian sejenis sebelumnya pernah dilakukan oleh Redaktur, dkk (2017) dengan judul Analisis perbandingan Economic Value Added dan Return On Investment (ROI) dalam Menilai Kinerja Keuangan Sub Sektor Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kinerja keuangan sub sektor farmasi jika diukur dengan analisis Economic Value Added menunjukan perusahaan yang memiliki kemampuan

(9)

menciptakan nilai ekonomi terbaik. Jika diukur dengan analisis Return On Investment (ROI) menunjukan bahwa PT. Merck, Tbk sebagai perusahaan dengan tingkat perputaran investasi terbaik. Hasil perhitungan Return On Investment (ROI) tidak dapat dijadikan sebagai acuan untuk menyimpulkan bahwa perusahaan berhasil melakukan proses penambahan nilai bagi perusahaan, tetapi hanya dijadikan sebagai pedoman bahwa perusahaan berhasil menciptakan keuntungan. Sedangkan hasil perhitungan Economic Value Added dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengemukakan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai tambah bagi perusahaan atau mampu menilai kinerja perusahaan secara cepat.

Selain itu penelitian yang dilakukan Kartini dan Gatot (2008) dengan judul Economic Value Added dan Market Value Added terhadap Return Saham menyimpulkan bahwa Economic Value Added dan Market Value Added secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Karena Economic Value Added diterapkan untuk mengukur perusahaan yang efisien, sementara harga saham mencerminkan yang akan terjadi di masa mendatang. Harga saham naik karena ekspektasi investor terhadap future. Hal ini menunjukan bahwa tolak ukur kinerja ini bukanlah faktor utama yang menentukan harga saham ataupun pembagian dividen.

Irena dkk (2017) dengan judul “Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Metode Economic Value Added” hasil dari penelitian ini menjelaskan perusahaan yang menghasilkan nilai Economic Value Added negatif berarti perusahaan-perusahaan tersebut tidak memberikan nilai tambah ekonomis bagi perusahannya selama tahun 2011-2015. Perusahaan yang menghasilkan nilai

(10)

Economic Value Added positif artinya manajemen perusahaan telah berhasil menciptakan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan selama tahun 2011-2015.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Wijaya dan Tjun-Tjun (2009), dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Economic Value Added terhadap Tingkat Pengembalian Saham pada perusahaan yang tergabung dalam LQ-45”. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa Pengaruh Economic Value Added terhadap tingkat pengembalian saham pada perusahaan yang tergabung dalam LQ-45. Adanya inkonsestensi yang ditunjukan dengan fenomena yang terjadi dan hasil penelitian terdahulu terhadap Nilai Perusahaan mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta membahas tentang:

“Pengaruh Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added

(MVA) terhadap Nilai Perusahaan (Survey pada Perusahaan Sub Sektor Property dan Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode

2013-2017)”.

1.2 Identifikasi Masalah

Sesuai dengan uraian diatas maka identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

(11)

2. Bagaimana pengaruh Market Value Added (MVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

3. Bagaimana pengaruh Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maksud dari penelitiab ini adalah untuk mengumpulkan data, mengolah data, dan menganalisis pengaruh signifikan antara variable independen terhadap nilai perusahaan pada perusahaan jasa sub sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017 yang akan disusun dalam bentuk skripsi.

1.3.2 Tujuan Penelitian

1. Pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

2. Pengaruh Market Value Added (MVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

(12)

3. Pengaruh Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) terhadap Nilai Perusahaan Survei pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.

1.4 Kegunaan Penelitian

Dengan adanya penelitian ini, penulis mengharapkan bahwa hasilnya dapat memberikan manfaat atas dua aspek, yaitu:

1. Aspek teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah informasi bagi penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan topik mengenai pengaruh Economic Value added dan Market Value Added terhadap Nilai Perusahaan.

2. Aspek Praktis

Hasil dari penelitian yang dilakukan peneliti, diharapkan dapat memberikan kegunaan praktis bagi pihak:

a. Bagi Penulis

Dapat memberikan pengalaman dan tambahan pengetahuan mengenai pengaruh Economic Value Adedd (EVA) dan Market

Value Added (MVA) terhadap Nilai Perusahaan dan

mengembangkan wawasan, khususnya di bidang akuntansi keuangan sesuai dengan teori yang didaptakan.

(13)

b. Bagi Investor

Diharapkan dapat menjadi informasi dalam mempertimbangkan keputusan dalam menilai suatu kinerja keuangan perusahaan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi.

c. Bagi Perusahaan

Diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna sebagai bahan masukan serta bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.

d. Bagi Akademisi

Diharapkan dapat menjadi referensi dan tambahan informasi dalam melakukan penelitian-penelitian sejenis berikutnya, dan menjadi tambahan literature dalam perkembangan ilmu akuntansi.

e. Bagi Masyarakat

Diharapkan dapat digunakan sebagai alat analisis untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang didasarkan pada informasi laporan keuangan.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh serta mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan sehubungan dengan masalah yang akan dibahas, maka penulis akan melakukan penelitian terhadap perusahaan jasa sub sektor Property dan Real Estate melalui website resami Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id, www.sahamok.com dan Perpustakaan Widyatama. Adapun waktu penelitian diestimasi milai dari bulan Oktober 2018 sampai dengan Januari 2019.

Gambar

Table  1.1  Perbandingan  rasio  Price  to  Book  Value,  Economic  Value  Added,  dan  Market  Value  Added  pada  beberapa  perusahaan  sub  sektor  Property & Real Estate

Referensi

Dokumen terkait

Nurul Isnaini Lutviana (2010) dalam penelitian yang berjudul “Evaluasi Penghimpunan dan Penyaluran Dana Zakat yang dilaksanakan di LAZIS Masjid

Analisis dilakukan terhadap hasil pengujian aktual dan pembebanan metode FEA dengan beban aktual sebesar 2000 N untuk horizontal dan vertical force, sesuai data yang

Hasil penelitian perlakuan konsentrasi larutan terbaik adalah konsentrasi agen hayati Pseudomonas fluorescens dan Paenibacillus polymyxa 10 ml/l (F) yang

Untuk menghitung prakiraan pelanggan bisnis digunakan persamaan 2.2 dengan variabel pelanggan publik, sedangkan parameter yang digunakan untuk laju pertumbuhan

Postur kerja operator dalam proses pemasangan stiker dengan menggunakan alat bantu pemasangan stiker seperti ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut.. commit

So the hypothesis state, “ there is any significant difference between the ability of writing recount text of the eighth grade students of SMP1 Mejobo Kudus in the

Apabila ada kalimat yang tersusun dari jumlah ismiyyah, yang didahului dengan lafadz ” ” maka kata yang pertama disebut isim ” ” dan kata yang kedua disebut khobar

Agar orang tua/wali murid atau siswa yang masih kesulitan memakai bahasa Jepang, agar dapat berbicara dengan guru wali kelas dan pihak sekolah, dapat memanggil penerjemah untuk