• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Saffiyur Rahman al-Mubarakfury - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Saffiyur Rahman al-Mubarakfury - Test Repository"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM BUKU SIRAH NABAWIYAH

KARYA SAYAIKH SAFIYYUR RAHMAN

AL-MUBARAKFURY

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

SITI QOMARIAH

111 13 277

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(2)
(3)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM BUKU SIRAH NABAWIYAH

KARYA SAYAIKH SAFIYYUR RAHMAN

AL-MUBARAKFURY

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

SITI QOMARIAH

111 13 277

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

(4)

Dra. Maryatin, M.Pd Dosen IAIN Salatiga Persetujuan Pembimbing

Lampiran : 4 Eksemplar Hal : Naskah Skripsi Saudara : Siti Qomariah

Kepada

Yth. Dekan FTIK IAIN Salatiga Di Salatiga

Assalamualaikum Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya maka bersama ini, Kami kirimkan naskah skripsi saudara:

Nama : Siti Qomariah NIM : 111-13-277 Fakultas/ Jurusan : FTIK/ PAI

Judul : NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM

BUKU SIRAH NABAWIYAH KARYA SYAIKH

SAFIYYUR RAHMAN AL-MUBARAKFURY

Dengan ini kami mohon skripsi saudara tersebut di atas supaya segera dimunaqasyahkan. Demikian agar menjadi perhatian.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Tel. (0298) 6031364 Salatiga 50716

(5)
(6)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda-tangan, di bawah ini: Nama : SITI QOMARIAH NIM : 111 13 277

Fakultas : TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN Jurusan : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri bukan jiplakan karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Tel. (0298) 6031364 Salatiga 50716

(7)

MOTTO

Jika Kau bermalas-malasan Hari ini

Bagaimana Massa Tuamu.

Artinya:"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya

penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan

keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang

terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling

(dari keimanan) bagimu, maka katakanlah, “Cukuplah

Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya

kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang

memiliki ‘Arsy yang agung." (QS. At-Taubah ayat

(8)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh ketulusan hati dan segenap rasa syukur kepada Allah SWT, skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Ibu Daryanti dan Bapak Tukimin tercinta yang telah mendidik, membimbing, memberikan kasih sayang, do’a dan segalanya, yang menjadi perantaraku untuk

memperoleh tujuan hidupku, ilmu, iman, amal shalih dan ridho Allah.

2. Kakak dan adikku tercinta, Rohmad Siyamto dan Akhmad Habib yang selalu mendukung dan membantuku.

3. Anggota keluargaku yang selalu mendukungku dan selalu memberi semangat dan membantuku.

4. Diah Fajar Utami, Inna Laila Rahmah, Alisa Utami dan Tri Astutik yang selalu

memberi motivasi dan mendo’akanku.

5. Ema Riyanawati, Nurgiyanto, dan Munawaroh yang telah memberikan dukungan, do’a dan semangat untukku.

(9)

KATA PENGANTAR

ِمْيِحَّرلا ِن ْحْْ رلا ِالله ِمْسِب

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Yang Terdapat Dalam Buku Sirah Nabawiyah Karya Syaikh Saffiyur Rahman Al-Mubarakfury”. Shalawat serta

salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan para pengikut setianya.

Skirpsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

Penulis menyadari bahwa kemampuan yang penulis miliki sangatlah terbatas sehingga dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Arahan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah membantu terselesainya skripsi ini. oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd, selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. 3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.

(10)

5. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu kepada penulis.

6. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara tercinta yang telah memberikan dukungan moril dan materil serta do’a yang tiada henti-hentinya hingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat perjuangan yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun material dalam penulisan skripsi ini.

Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis, skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Salatiga, 15 Maret 2017

(11)

ABSTRAK

Qomariah, Siti, 2017. “Nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Saffiyur Rahman al-Mubarakfury”. Skripsi. Fakultas Tarbiyah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Maryatin, M.Pd

Kata Kunci: Nilai Pendidikan, Karakter, Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur

Rahman al-Mubarakfury.

(12)

Jenis penelitian skripsi ini adalah penelitian studi pustaka yang dilakukan dengan mengimpun dan menganalisi data yang bersumber dari perpustakaan, dengan metode library research dan literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan sumber data primer berupa buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman dan sumber data sekunder yang berupa buku pendidikan karakter. Adapun tekhnik analisis data yang dilakukan ada tiga tahap yaitu; metode dektutif yang dilakukan dengan menganalisi bab III pemikiran Syaikh Safiyyur Rahman dan bab IV untuk menarik peri kehidupan Rasulullah, kemudian metode Content Analysis dengan menganalisis isi untuk mengetahui nilai-niali yang terkandung dalam buku tersebut kemudian metode Reflektif Thinking yang digunakan untuk mengetahui relevansi antara pendidikan karakter dalam buku sirah nabawiyah dengan pendidikan Islam di Indonesia.

(13)

DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

LEMBAR BERLOGO ... ii

JUDUL... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN KELULUSAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... x

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian... 8

E. Penegasan Istilah ... 9

F. Fokus Penelitian... 13

G. Metode Penelitian ... 14

(14)

BAB II LANDASAN TEORI ... 20

A. Diskripsi Nilai Pendidikan Karakter ... 20

B. Tujuan Pendidikan Karakter ... 25

C. Media Pendidikan Karakter ... 26

D. Urgensi Pendidikan Karakter ... 27

E. Macam-Macam Pendidikan Karakter... 31

BAB III DESKRIPSI PEMIKIRAN SYAIKH SAFIYYUR RAHMAN ... 41

A. Biografi Penulis ... 41

B. Sistematika Penulisan Buku Sirah Nabawiyah ... 45

C. Sinopsis Buku Sirah Nabawiyah ... 48

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU SIRAH NABAWIYAH ... 76

A. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Buku Sirah Nabawiyah Karya Syaikh Safiyyur Rahman al-Mubarakfury ... 76

B. Relevansi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Buku Sirah Nabawiyah dengan Praktik Pendidikan Islam di Indonesia ... 104

BAB V PENUTUP ... 111

A. Kesimpulan ... 111

B. Saran ... 113 DAFTAR PUSTAKA

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Pustaka

2. Riwayat Hidup Penulis

3. Foto Profile Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury 4. Cover Buku Sirah Nabawiyah

5. Nota Pembimbing Skripsi 6. Lembar Konsultasi

(16)
(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Term pendidikan karakter (character education) relatif baru berjalan dalam lingkungan praktisi pendidikan Islam dibandingkan dengan istilah pendidikan nilai (value education). Istilah sejenis yang menambah kerancuan pemahaman adalah pendidikan akhlak, pendidikan agama, pendidikan moral, etika dan pendidikan budi pekerti. Para penggiat Islam mempertanyakan adakah titik persamaan dan perbedaan antara ketujuh istilah tersebut dan tidak cukupkah pendidikan agama untuk merangkum keseluruhan persoalan yang berhubungan dengan perilaku serta watak manusia.

(18)

Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah pendidikan nilai (Kirschenbaum, 2000:5) yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Berbeda dengan pendidikan nilai yang hanya berfokus pada pengetahuan dan ketrampilan siswa, pendidikan karakter lebih memfokuskan cara membentuk peserta didik melalui moralnya, karena karakter sendiri adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama (Golemen, 2001:11). Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan agama Islam yaitu: untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi pendidikan karakter dalam prespektif Islam adalah, upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimami ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist serta bertaqwa, berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam yang menjadi identitas bagi kaum Muslim.

(19)

karakter sebagai misi pertama dari 8 misi. Hal ini sebagaimana tercantum dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2005-2025, yakni; terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan pancasila, yang dirincikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks (Kemko Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, 2010:19).

(20)

dan SMK seluruh komponennya baik secara implisit dan eksplisit mengandung nilai-nilai karakter. Gagasan ini merupakan bentuk pembaharuan pendidikan guna untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional (Sadullah, 2014:75) serta pembangunan nasional. Sebagaimana tercantum dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Islam telah memiliki tokoh dengan karakter yang sangat indah, dialah Rasulullah Salallahu Alaihi wa Sallam. Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an adalah kitab Allah dan kalimat-kalimat-Nya yang

(21)

ۡ دَقَّل

Pakar tafsir, az-Zamakhsyari, ketika menafsirkan ayat di atas, mengemukakan 2 kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasulullah itu. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama (Quraish Shihab, 2002:244).

(22)

Siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas) merupakan sifat-sifat utama kerasulan yang beliau miliki. Pada peristiwa peletakan Hajar Aswad, beliau belum diangkat menjadi rasul. Namun, berbagai suku yang berseteru menghormati dan menyepakati saran beliau. Bahkan berbagai suku yang terlibat konflik dalam memasang Hajar Aswad, semua puas dengan solusi jitu yang disodorkannya sehingga beliau mendapat julukan Al-Amin (seseorang yang sangat terpercaya) dan jujur.

Pendidikan Islam pada masa Nabi saw merupakan masa “pembinaan” pendidikan Islam, di mana pada masa ini merupakan wujud pembelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Melalui Nabi saw lah, ayat-ayat dan isi kandungan al-Qur’an disampaikan kepada umat manusia. Proses penyampaian ayat dan petunjuk serta suri teladan yang diperlihatkan oleh nabi Muhammad Salallahu Alaihi wa Sallam itulah yang disebut dengan pendidikan (A.Susanto, 2010), sehingga karakter dan suri teladan Rasulullah saw dapat dijadikan sebagai materi Pendidikan Karakter yang paling baik dan paling sempurna.

(23)

internasional. Buku tersebut juga diyakini paling lengkap dan menyampaikan sejumlah peristiwa yang terlewatkan di buku-buku sirah yang lain. Sehingga, kumpulan kehidupan beliau di dalamnya mampu mengisi ketidakseimbangan materi pendidikan saat ini, mulai dari ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik.

Dengan pertimbangan latar belakang diatas maka penulis berniat menggali nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah (ar-Rachiiqu al-Makhtuum karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury, yang mengkaji perjalanan Rasullulah, dari sebelum lahirnya Rasulullah hingga perjuangan Rasullulah menyiarkan agama Islam, hingga wafatnya Rasulullah. Untuk itu, maka dalam penelitian ini penulis memberi judul: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU SIRAH NABAWIYAH KARYA SYAIKH SAFIYYUR RAHMAN AL-MUBARAKFURY. Penulis akan berusaha mengulas nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah yang didasarkan pada 18 nilai karakter yang tengah dikembangkan di Indonesia. Diharapkan nantinya dapat dijadikan referensi dalam pembimbingan karakter para pelajar dan juga masyarakat umum. B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

(24)

2. Bagaimana relevansi nilai-nilai pendidikan karater dalam buku Sirah Nabawiyah (ar-Rachiiqu al-Makhtuum) karya Syaikh Saffiyur Rahman Al-Mubarakfury dengan praktik pendidikan Islam di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui apa saja nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah (ar-Rachiiqu al-Makhtuum) karya Syaikh Saffiyur Rahman Al-Mubarakfurry.

2. Mengetahui relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam dalam buku Sirah Nabawiyah (ar-Rachiiqu al-Makhtuum) karya Syaikh Saffiyur Rahman Al-Mubarakfury dengan praktik pendidikan Islam di Indonesia. D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini dapat dikemukakan menjadi dua bagian, yaitu:

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai pendidikan karakter yang ada pada diri Rasulullah serta kontribusi teoritis bagi dunia pendidikan.

2. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat:

(25)

b. Memperbaiki pendidikan karakter yang lebih benar sesuai syari’at Islam, menjadi bahan tambahan dan penyempurnaaan kurikulum lembaga pendidikan Islam.

c. Meningkatkan efektifitas terhadap kehidupan sosial dan sebagai masukan yang membangun, guna untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan terutama pendidikan Islam.

E. Penegasan Istilah

Untuk menghindari penafsiran dan kesalah pahaman dalam mengemukakan pengertian dan penegasan judul skripsi ini maka dijelaskan sebagai berikut:

1. Nilai Pendidikan Karakter

Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, disukai, dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau kelompok orang sehingga prefrensinya tercermin dalam perilaku, sikap dan perbuatan-perbuatannya. (Ensiklopedia Pendidikan, 2009:106).

(26)

‘mesin’ pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar dan

merespon sesuatu (Kertajaya, 2010:3).

Pendidikan Karakter adalah pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah (Darma Kusuma, 2011:5).

Dengan demikian nilai pendidikan karakter adalah sesuatu nilai yang dianggap baik dan benar yang ditanamkan dengan pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu.

2. Sirah Nabawiyah

Pada hakikatnya, istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah (ajaran) yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada masyarakat manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Allah swt (al-Mubarakfuri oleh Suhardi, 1997:25).

(27)

kini sudah menjadi satu nama atau satu istilah disiplin ilmu yang tersendiri. (https://id.wikipedia.org/wiki/Sirah, diakses 3 oktober 2016)

Sirah Nabawiyah ini merupakan terjemahan dari kitab ar-Rahiiqul al- Makhtum. Sebagaimana judulnya buku ini membahas secara rinci perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memiliki keindahan yang patut untuk diteladani. Buku ini terdiri atas 54 bab pembahasan, yang dimulai dari latar belakang diterbitkan buku ini, latar belakang diterjemahkan buku ini, pengenalan terhadap penulis, kemudian dilanjutkan dengan bab 1, bab 2, hingga bab 54. Buku ini memamparkan secara rinci posisi bangsa Arab dan kaumnya, kelahiran Rasulullah, kehidupan Rasulullah, hingga pada wafatnya Rasullulah. Pada bagian akhir buku ini memberikan paparan tentang sifat dan akhlak Rasulullah, yang meliputi keindahan fisik dan kesempurnaan jiwa dan kemuliaan akhlak beliau.

Jadi, istilah Sirah Nabawiyah adalah perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang penuh hikmah, pembelajaran, dan risalah Islam.

3. Kitab ar-Rachiiqu al-Makhtuum

(28)

al-Makhtuum (موتخملا قيحرلا) merupakan sebuah judul kitab yang dibuat oleh penulis kitab tersebut untuk menarik minat agar pembaca mau menelusuri dan memperlajari sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bertema Sirah Nabawiyah.

4. Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury

Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfury adalah seorang cendekiawan muslim dan ulama yang lahir sekitar tahun 40-an di sebuah desa yang dekat dengan kota Banares, India. Selanjutnya beliau melanjutkan studi formalnya di India. Selama beberapa tahun, kemudian beliau menjadi dosen di Universitas Salafiyah, Banares, India. Beliau kemudian sibuk sebagai pimpinan redaksi sebuah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Universitas tersebut, yang bernama Muhaddits.

Tidak hanya itu saja Syekh Safiyyur Rahman ini juga terkenal dalam bidang intelektualnya dengan karyanya dalam bidang tafsir, hadist dan firaq. Karena kepiwaiannya beliau dalam bidang intelektual, akhirnya pada tahun 1936 H, karya beliau yang berjudul ar-Rachiiqu al- Makhtuum, Bahtsum Fis-Sirah An-Nabawiyyah ‘Alaa Shahibihaa Afdhalish-Shalaati

(29)

Ar-Rachiiqu al- Makhtuum, Bahtsum Fis-Sirah An-Nabawiyyah

‘Alaa Shahibihaa Afdhalish-Shalaati Was-Salaam dalam bahasa Indonesia

diberi judul Sirah Nabawiyah, yang diterjemahkan oleh Kathur Suhardi dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar Jakarta Timur.

Jadi, maksud dari judul skripsi diatas adalah pembelajaran dan penanaman nilai yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh, yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan dalam bentuk peneladanan nilai-nilai karakter yang mengacu pada tokoh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam buku Sirah Nabawiyah terjemahan kitab ar-Rachiiqu al- karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury.

F. Fokus Penelitian

Karakter Rasulullah adalah Al-Qur’an dengan segala kemulianya. Ada

99 nilai karakter Rasulullah dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Saffiyur Rahham, dari 99 karakter tersebut penulis rangkum menjadi 4 nilai, yang menjadi dasar karakter Rasulullah, yang meliputi sidiq, amanah, tablig, dan fatonah. Penelitian ini difokuskan pada 18 nilai karakter yang tengah dikembangkan di Indonesia.

(30)

tersebut meliputi; relegius, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, gemar membaca, menghargai prestasi, demokratis, peduli nsosial, bersahabat, peduli lingkungan, toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air dan cinta damai.

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian dan Pendekatan

Jenis penelitian skripsi ini adalah penelitian studi pustaka yaitu suatu penelitian yang dilakukan di ruang perpustakaan untuk menghimpun dan menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, periodikal-periodikal, seperti majalah-majalah ilmiah, dokumen-dokumen, dan materi perpustakaan lainnya, yang dapat dijadikan sumber rujukan untuk menyusun suatu laporan ilmiah (Abdurrahmat Fathoni, 2006:95-96).

Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai jenis penelitian skripsi ini adalah penelitian diskriptif yaitu sebuah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan gejala agama, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Metode deskriptif ini bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Moh. Nazir, 1988:63).

(31)

dituliskan oleh peneliti atas permintaan individu tersebut atau atas keinginan peneliti yang bersangkutan (Haris Herdiansyah, 2012:64). Sedangkan Denzin & Lincoln, 1994 (dalam Haris, 2012:65) mendefinisikan biografi sebagai suatu studi yang berdasarkan kepada kumpulan dokumen-dokumen tentang kehidupan seseorang yang melukiskan momen penting yang terjadi dalam kehidupannya tersebut.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif Literer yaitu pendekatan yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. Dalam hal ini hendak diuraikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury dan relevansinya dengan pendidikan Islam di Indonesia. 2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sisitematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Adapun tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

a. library research (penelitian kepustakaan). Maka peneliti menggunakan teknik yang diperoleh dari perpustakaan dan dikumpulkan dari kitab-kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan objek penelitian.

(32)

(2005:329), literatur merupakan penelitian yang berupa catatan-catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dan dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya monumental buku Sirah Nabawiyah terjemahan Kathur Suhardi dari kitab ar-Rachiiqu al-Makhtuum karya Syaikh Safiyurrahman Al- Mubarakfury.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Kedua sumber data penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Sumber Primer, adalah sumber yang langsung berkaitan dengan permasalahan yang didapat yaitu: Sirah Nabawiyah terjemahan Kathur Suhardi dari kitab ar-Rachiiqu al Makhtuum karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury.

(33)

4. Teknik Analisis Data

Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Dalam menganalisis data yang ada, penulis menggunakan dua metode yaitu:

a. Metode Deduktif

Metode deduktif adalah penelitian yang bertitik tolak dari penyataan yang bersifat umum dan menarik kesimpulan yang bersifat Khusus (Sukandarrumidi, 2006:40). Adapun tahapan penggunaan metode ini adalah metode deduktif ini digunakan untuk menganalisis pada bab III tentang biografi karya-karya penulis, dan sinopsis buku Sirah Nabawiyah, kemudian di bab IV digunakan untuk menarik peri kehidupan Nabi Muhammad menjadi berbagai nilai pendidikan karakter.

b. Metode Content Analysis

Metode Content Analysis (analisis isi) menurut Weber sebagaimana dikutip oleh Soejono dalam bukunya yang berjudul: Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan, adalah: “metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur

(34)

menganalisis terhadap makna atau pun isi yang terkandung dalam ulasan-ulsan buku Sirah Nabawiyah dan kaiatanya dengan nilai-nilai pendidikan karakter.

c. Metode Reflektif Thinking

Metode Reflektif thinking yaitu berfikir yang prosesnya mondar-mandir antara yang emperi dengan yang abstrak. Emperi yang khusus dapat saja menstimulasi berkembangnya yang abstrak yang luas, dan menjadikan mampu melihat relevansi emperi pertama dengan emperi-emperi yang lain yang termuat dalam abstrak baru yang dibangunnya (Muhadjir, 1991:66-67). Metode ini digunakan untuk melihat relevansi antara pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah dan nilai-nilai pendidikan karakter kontemporer.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang penulis maksud di sini adalah sistematika penyusunan skripsi dari bab ke bab. Sehingga skripsi ini menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini bertujuan agar tidak ada pemahaman yang menyimpang dari maksud penulisan skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab dengan sistematika sebagai berikut:

(35)

Bab II : Landasan Teori, bab ini akan menguraikan: Deskripsi pendidikan karakter, tujuan dan fungsi pendidikan karakter, media pendidikan karakter, urgensinya pendidikan karakter, dan macam-macam pendidikan karakter.

Bab III : Deskripsi Pemikiran Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury, bab ini akan menguraikan: Biografi penulis yang meliputi: biografi penulis dan karya-karya penulis. Selain itu dalam bab ini juga membahas sistematika penulisan buku dan sinopsis buku.

Bab IV : Analisis Nilai Pendidikan Karakter Dalam Buku Sirah Nabawiyah Karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury, bab ini akan diuraikan: nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury dan relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury dengan praktik pendidikan Islam di Indonesia.

(36)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

Nilai adalah alat yang menunjukan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan. Nilai memuat elemen pertimbangan ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan, sehingga dengan nilai ini seseorang individu memiliki ciri khasnya masing-masing (Ensiklopedia, 2009:106).

Nilai menurut Daroseo (1984:29), adalah “suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal, yang menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang karena sesuatu hal itu menyenangkan, memuasakan, menarik, berguna, menguntungkan, atau merupakan suatu sistem keyakinan”.

Jadi nilai adalah ide-ide setiap individu yang di anggap baik dan benar yang menjadi dasar pijakan individu tersebut untuk berperilaku. Ide ini dadasarkan atas sesuatu penghargaan atau kualitas terhadap suatu hal yang didapat oleh setiap individu.

(37)

pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradat. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai.

Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusian itu mencakup sekurang-kurangnya 3 hal mendasar, yaitu: (1) efektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul, serta kompetensi estetis, yang artinya pendidikan harus mampu menumbuh kembangkan sifat relegius dan budi pekerti anak serta kepekaan sifat sosial setiap peserta didik; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi, ini berarti bahwa pendidikan harus mampu membuat peserta didik mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi, serta mampu mengajarkan ilmu yang dimilikinya; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan tekhnis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

(38)

sarana untuk menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keslamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Sadullah, 2013:23).

Adapun pengertian karakter menurut Zubaedi (2011:10) mengacu pada serangkaian perilaku, motivasi, dan ketrampilan, menyatakan bahwa,

Karakter merupakan konsep ide setiap individu meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis, berperilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, dan sebagainya.

Pusat Bahasa Depdiknas mengartikan karakter sebagai “bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Dengan demikian, berkarakter berati berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Menurut Warsono (2010) karakter merupakan sikap dan kebiasaan seseorang yang memungkinkan dan mempermudah tindakan moral.

Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berati “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainya dikatakan orang berkarakater jelek. Sebaiknya, orang yang berperilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia (Bahroni, 2014: 7).

(39)

merupakan pula perekat budaya. Sedangkan nilai dari sebuah karakter digali dan dikembangkan melalui budaya masyarakat itu sendiri. Terdapat empat modal stategis yaitu sumber daya manusia, modal kultural, modal kelembagaan, serta sumber daya pengetahuan. Keempat modal tersebut penting bagi penciptaan pola pikir yang memiliki keunggulan kompetitif sebagai suatu bangsa (Narwati, 2011:27).

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang sungguh-sungguh dari seorang pendidik ke peserta didik untuk menanamkan nilai dengan kepribadian positif yang dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari).

Pelaksanaaan pendidikan karakter dan penerapannya dalam dunia pendidikan Islam sangatlah diperlukan. Pendidikan karakter disebut pendidikan akhlak, sebagai pendidikan nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam tindakan nyata, proses pembentukan nilai dan sikap yang didasari pada pengetahuan serta nilai moralitas yang bertujuan menjadikan manusia yang utuh dan insan kamil.

(40)

Pendidikan berdasarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Ismadi, 2014:1-2).

Menurut Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis, karakter bangsa Indonesia yaitu meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri sendiri, tidak disiplin, mengabaikan tanggung jawab, hipoktit, lemah kreativitas, etos kerja buruk, suka feodalisme, dan tidak punya malu. Karakter lemah tersebut menjadai realitas dalam kehidupan bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut sudah ada sejak Indonesia masih dijajah bangsa asing beratus-ratus tahun yang lalu. Karakter tersebut akhirnya mengkristalisasi pada masyarakat Indonesia. Bahkan ketika bangsa ini sudah merdekapun karakter tersebut masih melekat (Listyarti, 2012:4-5).

(41)

menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

B. Tujuan Pendidikan Karakter

Hasan (2010) mengatakan bahwa pendidikan karakter setidaknya mempunyai lima tujuan yaitu:

1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. 2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan

sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang relegius.

3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. 4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang

mandiri.

5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi serta penuh kekuatan.

Adapun menurut Zubaedi (2010), pendidikan karakter memiliki fungsi utama yaitu:

(42)

serta solidoritas sosial sebagaimana terkandung dalam falsafah hidup Pancasila.

2. Berfungsi untuk memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri dan sejahtera. 3. Berfungsi untuk menyaring budaya sendiri dan budaya bangsa lain yang

tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

C. Media Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media masa. Keluarga merupakan agen sosialisasi pertama bagi seorang individu. Keluarga memiliki peran yang penting bagi pendidikan, dimana melalui peran keluarga yang harmonis akan tercipta generasi bangsa yang tangguh. Keluarga yang harmonis senantiasa akan selalu memberikan sifat keteladanan yang baik. Pendidikan keluarga dapat diterima melalui pendengaran, penglihatan, dan pengamatan.

(43)

Sekolah dapat pula memfasilitasi pembentukan kepribadian siswa sesuai dengan nilai dan norma, mewariskan nilai-nilai budaya, serta mendorong partisipasi demokrasi masyarakat.

Media masa terdiri atas media cetak, dan media elektronik. Media masa memiliki peranana penting dalam proses sosialisasi. Kehadiran media masa sangat mempengaruhi tindakan dan sikap anggota masyarakat terutama anak-anak. Nilai-nilai dan norma yang disampaikan akan tertanam dalam diri anak melalui penglihatan maupun pendengaran yang dilihat dalam acara. Oleh karena itu, media masa bisa menjadi media yang efektif dan setrategis untuk menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai positif.

D. Urgensi Pendidikan Karkter

(44)

dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana karena perilaku menyimpang ini telah menjurus tindakan kriminal.

Kenakalan remaja semacam itu, pada dasarnya secara langsung atau tidak langsung juga disebabkan oleh “kenakalan orang tua”, yaitu perilaku

para orang tua yang tidak bisa dijadikan teladan: senang dengan konflik dan tindak kekerasan, perselingkuhan, dan ketidakjujuran yang ditandai semakin maraknya korupsi yang dilakukan pejabat publik baik dipusat maupun di daerah. Terkait hal itu, (Zuch di, 2009:39-40) mengemukakakan bahwa telah terjadi krisis moral ditengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini, yaitu krisis kejujuran, krisis tanggung jawab, tidak berfikir jauh ke depan, krisis kedisiplinan, krisis kebersamaan, dan krisis keadilan.

(45)

moral adalah karena pendidikan di Indonesia lebih menitik beratkan pada pengembangan intelektual atau kognitif semata, sedangkan aspek Soft kill atau non akademik sebagai unsur utama pendidikan karakter belum diperhatikan secara optimal.

Oleh karena itu, kini sudah saatnya para pengambil kebijakan, para pendidik, orang tua dan masyarakat senantiasa memperkaya persepsi bahwa ukuran keberhasilan tak selalu dilihat dari prestasi yang berupa angka-angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman-pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul. (Sugiarto, 2009:11-13) mengemukakan sejumlah kebiasaan kecil yang dapat menghancurkan bangsa sebagai berikut:

Pertama, kebiasaan-kebiasaan dalam memperlakukan diri sendiri, meliputi: meremehkan waktu, bangun kesiangan, terlambat masuk kantor, tidak disiplin, suka menunda, melanggar janji, menyontek, kebiasaan meminta, mengeluh, pesimis, merasa hebat, meremehkan orang lain, tidak sarapan, tidak terbiasa mengantri, banyak tidur, banyak nonton TV, dan terlena dengan kenyamanan atau takut berubah.

(46)

Ketiga, kebiasaan-kebiasaan yang merugikan ekonomi, meliputi: konsumtif, pamer, silau dengan kepimilikan orang lain, boros, kecanduan game, tidak menyusun rencana-rencana kehidupan, tidak biasa berpikir kreatif, dan mengabaikan peluang.

Keempat, kebiasaan-kebiasaan dalam bersosial, meliputi: tidak suka membaca, tidak suka mendengar pendapat orang lain, nepotisme, suap menyuap, politik balik modal, canggung dengan perbedaan, beragama secara sempit, lupa sejarah, unjuk rasa bayaran, tawuran, tidak belajar dari pengalaman, birokratif, provokatif, dan mudah terprovokasi.

Mengingat pentingnya karakter dalam membangun sumber daya manusia yang kuat, maka menurut (Hidayatullah, 2010:23) diperlukan pendidikan karakter yang dilakukan dengan tepat. Dapat dikatakan bahwa pembentukan karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menyertai semua aspek kehidupan termasuk di lembaga pendidikan. Sebagaimana pembentukan atau pendidikan karakter diintegrasikan ke semua aspek kehidupan sekolah. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dalam segala ucapan, sikap, dan perilakunya mencerminkan karakter yang baik dan kuat. Dengan pendidikan karakter yang efektif, diharapkan sekolah dapat menghasilkan lulusan orang “pandai” dan

(47)

E. Macam-Macam Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mengemban misi untuk mengembangkan watak-watak dasar yang seharusnya dimiliki oleh peserta didik. pendidikan karakter harus memiliki model dari pelaku pendidikan karakter itu sendiri, hal ini bertujuan untuk menguatkan dan mengukuhkan karakter peserta didik. dalam Islam pendidikan karakter didasarkan atas karakter SAFT (Shidiq, Amanah, Fathonah dan Tabliqh). Karakter ini didasarkan atas perilaku Rasulullah SAW, adapun penjabaranya adalah sebagai berikut:

1. Shidiq adalah sebuah kenyataan yang benar dan tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan, dan keadaan batinnya. Pengertian Shidiq ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir: (a) memiliki sistem keyakinan untuk merealisasikan visi, misi, dan tujuan; serta (b) memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur, dan berwibawa. 2. Amanah adalah kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan

sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten. Pengertian amanah ini dapat dijabarkan sebagai berikut: (a) rasa memiliki rasa handarbeni; (b) memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal; (c) memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup; dan (d) memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan (silahturrahmi)

(48)

Rincian karakteristik menurut Toto Tamara dalam Hidayatullah (2010:62) meliputi: (a) arif bijaksana; (b) integritas tinggi; (c) kesadaran untuk belajar; dan (d) sikap proaktif.

4. Tabligh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan tau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Pengertian tabliqh ini dapat dijabarkan dalam butir-butir: (a) memiliki kemampuan merealisasikan pesan atau misi; (b) memiliki kemampuan berinteraksi; dan (c) memiliki kemamampuan menerapkan pendekatan dan metode dengan tepat.

Pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada 9 pilar karakter dasar yaitu; (1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya; (2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; (3) jujur, (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, peduli, dan kerjasama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati; serta (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan (Bahroni, 2014:16).

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasi berasal dari 4 sumber yaitu:

(49)

Kedua, Pancasila, Indonesia ditegakan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada pembukaan UUD 1945 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam pasal-pasal dalam batang tubuh UUD 1945, artinya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, dan kemasyarakatan. Pendidikan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik yaitu warga negara yang memiliki kemampuan dan kemauan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Budaya, nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu dalam interaksi dan komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa.

Keempat, Tujuan Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sisitem pendidikan nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyatakan bahwa,

(50)

berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Depag. RI, 2006).

Berdasarkan keempat sumber nilai diatas, dapat diidentifikasikan sejumlah nilai untuk pendidikan karakter sebagai berikut:

1. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Pendidikan karakter dalam hubunganya dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu Relegius. Relegius merupakan sarana ibadah yang mendekatkan manusia dengan hal diluar jangkauanya, yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia dalam mempertahankan moralnya.

a. Relegius

(51)

2. Nilai-nliai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan diri sendiri. Nilai pendidikan karakter yang berhubungan dengan diri sendiri, terdapat sepuluh karakter diantaranya sebagai berikut:

a. Jujur

Jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan (Listiyarti, 2012:6). Jujur merupakan sifat dan sikap yang paling berharga bagi seseorang. b. Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibanya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya sendiri maupun orang lain dan lingkungan (Listiyarti, 2012:8). Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tindakan yang dilakukanya baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

(52)

c. Disiplin

Disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Listyarti, 2012:6). Pada dasarnya disiplin muncul dari kebiasaan hidup dan kehidupan belajar mengajar yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaanya. Disiplin adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.

d. Kerja keras

Kerja keras adalah perilaku yang menunjukan upaya sungguh-singguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Bahroni, 20014:18).

e. Kreatif

Kreatif adalah berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimilikinya ( Listiyarti, 2012:6). Nilai kreatif ini mengandung arti pengungkapan ide-ide seseorang terhadap suatu cara atau suatu pekerjaan yang menghasilkan inovasi baru.

f. Mandiri

(53)

memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan kemampuan mengatur sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya sehingga dapat menyelesaikan sendiri-sendiri masalah yang dihadapi tanpa meminta bantuan dari orang lain dan dapat bertanggung jawab terhadap segalan keputusan yang telah diambil.

g. Rasa ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar (Listiyarti, 2012:6).

Rasa ingin tahu merupakan naluri alami, rasa ingin tahu menganugerahkan manfaat kelangsungan hidup manusia. Semua orang pemikir besar, para jenius, adalah orang-orang dengan karakter penuh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu ini merupakan cerminan keaktifan seseorang dalam mempelajari sesuatu untuk menambah pengetahuan atau pemahaman seseorang.

h. Gemar membaca

(54)

3. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan sesama. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan sesama merupakan landasan seseorang untuk bertindak dengan sesamanya. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam hubunganya dengan sesama ini dapat diklasifikan menjadi beberapa nilai yaitu; menghargai prestasi, demokratis, peduli sosial, bijaksana, adil dan bersahabat. Adapun penjabaranya adalah sebagai berikut:

a. Menghargai prestasi

Menghargai Prestasi merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

b. Demokratis

Demokrasi adalah pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama (Dede Rosada, 2007:5).

(55)

c. Peduli sosial

Peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan (Listiyarti, 2012:7). Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makluk sosial, yaitu makluk yang senantiasa mengadakan hubungan dengan sesamanya. Kerja sama antar sesama akan berjalan baik apabila masing-masing pihak memiliki kepedulian sosial. Oleh karena itu sikap ini sangat dianjurkan dalam Islam. Sebagai makluk sosial sudah menjadi kewajibanya untuk memberi bantuan dan perhatian pada orang lain.

d. Bersahabat

Bersahabat adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain (Listiyarti, 2012:7).

4. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan lingkungan. Nilai pendidikan karakter yang berhubungan dengan lingkungan terdapat dua karakter yaitu: peduli lingkungan dan toleransi. Adapun penjabaranya sebagai berikut:

a. Peduli lingkungan

(56)

b. Toleransi

Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghadapi perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya (Listiyarti, 2012:6).

5. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubunganya dengan kebangsaan Terdapat tiga nilai karakter yang berhubungan dengan kebangsaan, yaitu: semangat kebangsaan, cinta tanah air dan cinta damai. Adapun penjabaranya adalah sebagai berikut:

a. Semangat kebangsaan

Semangat kebangsaan adalah cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya (Listiyarti, 2012:7).

b. Cinta tanah air

Cinta tanah air merupakan cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa (Listiyarti. 2012:7).

c. Cinta damai

(57)

BAB III

DESKRIPSI PEMIKIRAN

SYAIKH SAFFIYUR RAHMAN AL-MUBARAKFURY

A. Biografi Penulis

1. Sejarah hidup Syaikh Saffiyur Rahman

Nama lengkap Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury adalah Shafiyyur Rahman bin Abdullah bin Muhammad Akbar bin Muhammad Ali bin Abdul Mu’min bin Faqirullah Al-Mubarakfury Al-A’zhami. Syaikh

Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury lahir pada tanggal 6 Januari tahun 1943 Masehi di Mubarakpur, Uttar Pradesh, India. Keluarga beliau dinasabkan kepada kaum Anshar. Bahkan secara spesifik beliau merupakan keturunan dari Abu Ayyub Al-Anshari RA (https://en.wikipedia.prg/wiki/saffiyur).

(58)

beliau medapat gelar Alim dan Haiah Al-Ikhtibarat li Al-‘Uluum Asy -Syarqiyyah di Allahabad.

Setelah selesai pendidikanya, Syaikh Safiyyur Rahman banyak menghabiskan waktu untuk mengajar, berkhutbah, dan menyampaikan kajian umum serta berdakwah di daerah Allahabad, bahkan beliau menjadi pengajar selama 28 tahun di India dan beberapa tahun di Universitas Islam Madinah. Beliau mengajar di madrasah Faidh ‘Amm selama 2 tahun. Beliau juga mengajar di Universitas Ar-Rasyad di A’zhamkadah selama 1 tahun. Kemudian beliau mengajar di madrasah Darul Hadtis di Mu’afi selama 3 tahun. Kemudian beliau dipercaya sebagai pembantu ketua bagian pengajaran dan urusan internal. Kemudian beliau mendapatkan amanat sebagai wakil ketua umum yang bertanggung jawab terhadap urusan internal maupun eksternal lembaga sekaligus sebagai supervisor staff pengajar di Jami’ Saiwani selama 4 tahun akademik.

(59)

Karya beliau yang berjudul ar-Rachiiqu al- Makhtuum, Bahtsum Fis-Sirah An-Nabawiyyah ‘Alaa Shahibihaa Afdhalish-Shalaati Was-Salaam

berhasil meraih gelar sebagai juara pertama. Kemudian beliau melanjutkan proyek riset ilmiyah di pusat pelayanan sunnah dan Sirah Nabawiyah pada tahun 1409 H di Universitas Islam Madinah. Beliau juga bekerja di maktabah Darussalam di Riyadh sebagai pengarah dibagian Riset dan Tahqiq ilmiyah hingga beliau wafat. Beliau meninggal ketika shalat Jum’at pada 10 Dzulqa’adah 1427 H/1 Desember 2006 M di tempat kelahiran beliau,

Mubarkpur India )www.fimadani.com/syaikh-shafiyurrahman-al-mubarakfuri).

2. Karya-karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury

Syaikh Safiyyur Rahman banyak berkarya dalam bidang tafsir, hadits, mushthalah, sirah nabawiyah, dan dakwah. Seluruhnya karya beliau diterjemahkan dalam dua bahasa yaitu, Arab dan Urdu. Karya beliau diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Al-Bisyarat bi Muhammad fii Kutub Al-Hind wal Budziyyin 2. Al-Firqah An-Najiyyah; Khasha’ishuha wa Mizatuha 3. Al-Ahzab As-Siyasiyyah fii Al-Islam

4. Al-Mishbah Al-Munir; Tahdzib Tafsir Ibn Katsir

5. Ar-Rahiq Al-Makhtum, Bahtsum Fis-Sirah An-Nabawiyyah ‘Alaa Shahibihaa Afdhalish-Shalaati Was-Salaam

(60)

7. Garden Lights in the Biography Of The Chosen Prophet

8. Great Women of Islam Who Were Given The Good News of paradise 9. History of Madinah al-Munawaroh

10.History of Makkah al-Mukarramah

11.Ibrazul Haqqi wash Shawwab fii Mas’alatis Sufuri wal Hijab

12.Ithaful Kiram; Syarh Bulughil Maram

13.Minnatul Mun’im: Syarh Shahih Muslim

14.Raudhah Anwari fii Siratin Nabiyyil Mukhtar (versi ringkas tentang sirah Nabawiyah)

15.Tathwirusy Syu’ubi Wad Diyanati Fil Hind

16.When The Moon Split, A Biography Of Prophet Muhammad SAW 17.In Reply To the Mischief of Deniel of Hadith

Diatara karya-karya beliau ini, Ar-Rahiq Al-Makhtum, merupakan kitab yang paling terkenal didunia Islam, yang dalam versi bahasa Indonesia berjudul Sirah Nabawiyah. Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsum Fis-Sirah

An-Nabawiyyah ‘Alaa Shahibihaa Afdhalish-Shalaati Was-Salaam

diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Kathur Sukardi dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.

(61)

Bukhari dan Shahih Muslim. Beberapa kitab beliau telah diterjemahkan keseluruh bahasa dunia, dan beberapa hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Urdu.

B. Sistematika Penulisan Buku

Sistematika penulisan dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman Al-Mubarakfury sama seperti sistematika buku terjemahan pada umumnya. Halaman pertama adalah judul buku, kemudian halaman selanjutnya pengantar penerbit. Halaman berikutnya adalah pengantar penerjemah. Berbeda dengan buku terjemahan pada umumnya, sistematika penulisan buku ini juga melampirkan bagian sambutan Syaikh Muhammad Ali Al-Harakan selaku sekjen Rabithah Al-Alam Al-Islami, yang menunjukan bahwa buku terjemahan ini merupakan buku dengan kualitasnya kandungan isi yang terbaik. Bagian ini berisi alasan-alasan Syaikh Muhammad Ali Al-Harakan memilih buku Ar-Rahiq Al-Makhtum sebagai juara pertama dan beliau juga ikut serta mendistribusikan buku ini ke berbagai negara, dengan menterjemahkan kedalam bahasa negara lainya.

(62)

Lebih singkatnya sistematika penulisan buku Sirah Nabawiyah ini adalah sebagai berikut:

1. Pengantar Penerbit 2. Pengantar Penerjemah

3. Kata Sambutan Yang Mulia Syaikh Muhammad Ali Al Harakan 4. Pengantar Penulis

5. Daftar Isi

6. Pembahasan yang Terdiri Atas 5 Garis Besar yaitu:

a. Agama bangsa Arab dan gambaran masyarakat Arab jahiliyah Pada pembahasan bab ini dijelaskan secara rinci mengenai: 1) Letak bangsa Arab.

2) Kondisi agama 3) Kondisi politik 4) Kondisi sosial 5) Kondisi ekonomi

6) Akhlak masyarakat Arab.

b. Kelahiran dan Masa Nubuwah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam

Pada pembahasan ini dijelaskan secara rinci mengenai: 1) Kelahiran Rasulullah

2) Di tengah Bani Sa’ad

(63)

5) Di bawah asuhan paman tercinta 6) Masa Nubuwah

c. Dakwah periode Makkah

Pada pembahasan bab ini dijelaskan, bagaimana Rasulullah beserta kaumnya menyebarkan dakwah Islam di Makkah. Dalam mencapai misinya ini penulis jelaskan strategi yang dilakukan Rasulullah yaitu:

1) Dakwah secara sembunyi-sembunyi 2) Dakwah secara terang-terangan.

3) Hambatan-hambatan yang dilalui dalam periode Makkah d. Dakwah periode Madinah

Pada pembahasan bab ini penulis jelaskan, bagaimana perjalanan Rasulullah dan kaum muslimin menyebarkan Islam di Jazirah Arab. Adapun dalam pembahasan ini penulis secara rinci menjelaskan:

1) Perjalanan Rasulullah dalam menyebarkan Islam di Madinah 2) Penaklukan kota Makkah

e. Sifat dan akhlak Rasulullah

1) Sifat Rasulullah Shalallahi Alaihi wa Sallam, dan 2) Akhlak Rasulullah Shalallahi Alaihi wa Sallam. C. Sinopsis Buku

(64)

pokok pembahasan dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Safiyyur Rahman al-Mubarakfury ini. Dua pembahasan besar tersebut adalah, dakwah periode Makkah dan dakwah periode Madinah.

Namun sebelum kedua bab tersebut penulis paparkan, penulis akan lebih dulu memberikan gambaran mengenai gambaran bangsa Arab jahiliyah dan kelahiran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam serta massa nubuwah Rasulullah, dan penulis tutup dengan kajian mengenai sifat dan akhlak Rasulullah.

Adapun kelima pokok pembahasan tersebut, penulis jabarkan sebagai berikut:

1. Agama bangsa Arab dan gambaran masyarakat Arab jahiliyah a. Letak jazirah Arab

Arab merupakan daratan pasir yang gersang dan gundul. Jazirah Arab dibatasi laut Merah dan gurun Sinai di sebelah barat, di sebelah timur di batasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq berada di sebelah Selatan, di sebelah utara di batasi laut Arab yang bersambung dengan lautan India.

(65)

b. Agama bangsa Arab

Sebelum masa Nubuwah, kondisi bangsa Arab kala itu adalah bangsa yang terpinggirkan, sering berkecamuk perang, penuh dengan ketidakadilan, penurunan moral, penurunan akidah, hingga tak mengenal lagi asas ketauhidan yang dulu pernah diajarkan oleh Nabi Ismail dan Ibrahim ‘Alaihimssalam. Agama baru yang dianutnya adalah agama yang dibawa Amr bin Luhay ketika pulang berhijrah dari Syam. Amr bin Luhay melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai hal yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para Rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakanya di dalam Kab’ah. Setelah itu dia mengajak penduduk

Makkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Kebiasaan ini diikuti oleh orang-orang Hijaz, hal ini dikarenakan anggapan orang-orang Hijaz bahwa orang Makkah adalah pengawas ka’bah dan penduduk tanah suci.

Semenjak itulah mereka mulai membuat berhala kembali disembah, mereka menempatkan tiga berhala terbesar yaitu Manat yang di letakan di Musyallal di tepi laut Merah dekat Qudaid, kemudian mereka juga membuat Latta di Tha’if dan Uzza di Wadi Nakhlah. Setelah itu

kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di Hijaz (Muhhammad bin Abdul Wahab, 1375:12).

(66)

diantaranya adalah: (1) mereka mengelilingi berhala, berkomat-kamit di hadapanya, meminta pertolongan tatkala mendapat kesulitan dan dengan penuh keyakinan menganggap berhala tersebut dapat memberikan syafaat di sisi Allah; (2) mereka menunaikan haji dan thawaf di sekeliling berhala, menunduk dan sujud di hadapanya; (3) mereka bertaqarrub dengan menyajikan berbagai macam korban, menyembelih hewan piaraan hewan korban demi berhala dan menyebut namanya serta bertaqarrub dengan bernadzar menyajikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala.

Orang-orang Arab juga mengundi nasib mereka, dengan berpedoman terhadap Al-Azlam atau anak panah. Mereka mengundi nasib mereka yang berkaitan dengan perbuatan yang dikehendakinya, seperti berpergian dan menikah. Mereka juga percaya kepada perkataan para normal, peramal dan ahli nujum. Di kalangan mereka juga ada Ath-Thiyarah atau meramal nasib sial dengan sesuatu, seperti mereka mendatangkan seekor burung lalu melepaskanya, jika buruh ke arah kanan, maka mereka jadi berpergian ke tempat yang hendak di tuju dan hal itu dianggap sebagai pertanda baik dan sebaliknya.

(67)

dan silih berganti saat itu tak lebih hanya sebagai sarana pemenuh hawa nafsu akan harta dan wanita.

c. Kondisi politik

Kondisi politik di tiga wilayah yang ada di sekitar jazirah Arab merupakan garis menurun, merendah dan tidak ada tambahan yang mengarah ke atas. Manusia dapat di bedakan antara tuan dan budak, pemimpin dan rakyat. Para tuan, terlebih lagi seluruh Arab, berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, dan hamba diwajibkan membayar denda dan pajak. Lalu para pemimpin menggunakan kekayaan itu untuk foya-foya, mengumbar syahwat, bersenang-senang, memenuhi kesenangan dan kesewenang-wenangan. Sedangkan rakyat dengan kebutaanya semakin terpuruk dan dipenuhi kedzaliman dari segala sisi.

Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem diktator, yaitu mereka menyalahgunakan kewenangannya. Sementara kabilah-kabilah di jazirah Arab tidak pernah rukun, mereka lebih sering diwarnai permusuhan antar kabilah, perselisihan rasial dan agama.

d. Kondisi sosial

(68)

akan perang. Sekalipun begitu laki-laki tetap saja menjadi kepala keluarga yang harus ditaati.

e. Kondisi ekonomi

Kondisi ekonomi bangsa Arab mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja tanpa adanya perdamaian. Sementara kondisi seperti itu tidak terwujud di jazirah Arab kecuali pada bulan-bulan suci.

f. Akhlak masyarakat Arab

Akhlak orang Arab terkenal dengan sifat dermawan. Kedermawanan mereka terkenal jahiliyah. Mereka kerap sekali bersedekah kepada fakir miskin dari harta yang didapat dari hasil perjudian. Memenuhi janji, bagi mereka janji adalah hutang yang harus dibayar, bahkan mereka suka membunuh anaknya sendiri atau membakar rumahnya demi untuk memenuhi janji. Pantang mundur, jika mereka menginginkan sesuatu yang disitu ada keluhuran dan kemuliaan, maka tak ada satupun yang mampu mengalihkanya.

(69)

2. Kelahiran dan masa nubuwah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam a. Kelahiran Rasulullah

Muhammad SAW dilahirkan di tengah Bani Hasyim pada tanggal 9 Rabiul awal, permulaan tahu dari peristiwa gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan pada tanggal 22 April tahun 571 M. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Abdullah ayah beliau meninggal ketika beliau berusia enam bulan dalam kandungan Siti Aminah ibu beliau.

Setelah beliau di lahirkan, Aminah ibunda beliau mengirimkan utusan ke tempat kakeknya, Abdul Mutallib. Setelah Abdul Mutalib mendengar berita ini, maka Abdul Mutallib datang dengan penuh suka cita lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah seraya berdo’a kepada Allah. Dia

memberi nama Muhammad bagi beliau, dan beliau di khitan pada hari ke tujuh, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab.

b. Di tengah Bani Sa’ad

(70)

Di kisahkan Ibu Ishaq bahwa suatu ketika halimah beserta anak dan suaminya dan beberapa wanita keluar dai Bani Sa’ad, saat itu tengah

musim paceklik. Mereka pergi dengan tujuan mencari anak yang dapat di susuinya. Halimah berkata:

Itu terjadi pada musim paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa. Aku pergi sambil membawa keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor unta yang sudah tua dan tidak bisa diambil susunya lagi walau setetes, sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena harus menidurkan anak bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak dapat diharapkan. Meskipun begitu kami tetap melanjutkan perjalanan hingga ke Makkah.

Setiba di Makkah Halimah beserta rombongan mencari bayi yang akan mereka susui. Setiap wanita dari rombongan bani Sa’ad menolak untuk menyusui Rasulullah saw. Hal ini dikarenkan beliau yatim, sedang mereka mengharap imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak mereka susui. Setelah seluruh rombongan membawa bayi masing-masing, Halimah belum juga mendapati bayi. Akhirnya diperjalanan pulang Halimah memutuskan untuk menyusui Rasulullah.

Rasulullah di susui oleh Halimah bin Abu Dzu’ah selama dua

tahun. Selama dua tahun ini Halimah dan suaminya Harits bin Abdul-Uzza, merasakan berkah yang tiada terkira. Hal ini dituturkan Halimah sebagai berikut:

(71)

bayi kami. Suamiku menghampiri ontanya yang sudah tua, ternyata air susunya pun menjadi penuh. Kamipun memerahnya dan meminumnya hingga kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa indah bagi kami.

Setelah beliau berumur dua tahun Halimah berencana membawanya kembali kepada ibunya, meskipun sebenarnya Halimah masih berharap agar Rasulullah tetap berada di tengah-tengah keluarganya. Hal ini disebakan kehidupan Halimah dan keluarga dipenuhin keberkahan. Dengan hati yang tulus Halimah kembali membawa Rasulullah ke Bani Sa’ad.

(72)

c. Di pangkuan ibunda tercinta

Setelah beliau proses pembelahan dada tersebut, beliau kembali tinggal berasa Siti Aminah, ibunda beliau. Beliau tinggal bersama ibundanya hingga berumur 6 tahun. Beliau pergi bersama ibundanya untuk mengunjungi makam ayahnya di Yatrib. Beliau pergi ke Yastrib bersama ibunda dan pembatu wanitanya, Ummu Aiman. Setelah menetap selama sebulan, maka Aminah, Rasulullah dan Ummu Aiman bersiap untuk kembali ke Makkah, namun dalam perjalanan pulang Aminah jatuh sakit dan akhinya meninggal di Abwa’.

d. Dalam asuhan kakek

Kemudian beliau kembali ke Makkah dan tinggal bersama kakeknya, Abdul Muthalib. Beliau diasuh dengan penuh kasih sayang oleh kakeknya, bahkan kasih sayang kakeknya melebihi kasih sayangnya terhadap anak-anaknya.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Hasyim: “ada sebuah dipan yang diletakan di dekat Ka’bah untuk Abdul Muthalib.

Referensi

Dokumen terkait

Nabi Muhammad saw merupakan suri teladan yang baik secara keseluruhan. Karakternya dapat dijadikan sebagai bahan kurikulum pendidikan karakter yang selama ini kurang mengena.

Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban.. Yogyakarta:

Nabi Muhammad saw merupakan suri teladan yang baik secara keseluruhan. Karakternya dapat dijadikan sebagai bahan kurikulum pendidikan karakter yang selama ini kurang mengena.

Hasil yang penulis peroleh dari penelitian ini adalah: Nilai-nilai Pendidikan ahklaq yang terkandung dalam sirah nabawiyah tersebut adalah: (1) nilai pendidikan ahklaq

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Sirah Nabawiyah sangat relevan dengan pendidikan saat ini, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu dengan

Konsep pendidikan karakter menurut Syaikh Musthafa al- Ghalayaini dalam kitab Izhatun Nasyi‟in adalah usaha pembinaan nilai-nilai karakter baik yang sudah tertanam

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam Buku Ar-Rasul Shalallahu „Alaihi wa Sallam Karya Said Hawwa adalah Responsibility (tanggung jawab) ditunjukkan dengan sikap

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter apa saja yang terdapat di dalam buku Tunjuk Ajar Melayu karya Tenas Effendy dan