• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - BAB I Kelar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - BAB I Kelar"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan

makhluk lain, ini semua dikarenakan manusia dibekali potensi yang luar biasa

yaitu berupa akal, akal juga yang membedakan manusia dari mahluk Allah yang

lain, keintlektualan dan bentuk jasad sempurna yang dianugrahkan Allah

kepadanya. Sehingga manusia mampu berfikir dan memungkinkan pula baginya

untuk mengamati, menganalisis apa-apa yang di ciptakan Allah di alam bumi ini.

Kemampuan manusia untuk berfikir inilah yang menjadikannya sebagai

makhlukNya yang di beri amanat untuk dapat beribadah kepadaNya serta diberi

tanggung jawab dengan segala pilihan dan keinginan. Akal pula yang menjadikan

manusia terpilih untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dan berkewajiban untuk

membangunnya dengan sebaik-baiknya.1

Dalam diri manusia terdapat dua daya sekaligus, yaitu daya fikir yang

berpusat di kepala dan daya rasa (qalbu) yang berpusat di dada. Untuk mengembangkan daya ini telah ditata sedemikian rupa oleh Islam, misalnya untuk

mempertajam daya rasa dapat dilakukan dengan cara beribadah seperti sholat,

zakat, puasa, haji dan lain-lain dan untuk mempertajam daya fikir perlu arahan

ayat kauniyah yakni ayat-ayat mengenai visi cosmos yang menganalisa dan

(2)

menyimpulkan yang melahirkan gagasan inovatif demi pengembangan peradaban

manusia sebagai kholifah di muka bumi.2

Al-Qur’an mengekspos keluhuran orang yang beriman dan berilmu sebagai

hamba-hamba Allah yang memiliki kedudukan tinggi. Bahkan, diberi gelar khusus

untuk mereka yang memiliki kedudukan ini, yang mampu mendayagunakan

anugrah Allah (potensi akal, kalbu, dan nafsu) pada sebuah panggilan, yaitu

UlulAlbab. Allah tidak menafikan potensi yang dianugrahkan olehNya kepada manusia agar tidak tergiur dan terpesona oleh hasil dirinya sendiri, sehingga

keterpesonaan itu membuat dirinya menjadi hamba dunia, karena kecintaan yang

berlebihan pada dunia.3

Sejalan dengan kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh manusia yang

dirahmatkan Sang Khaliq tersebut, maka manusia harus bias memposisikan diri sebagai mahluk yang tidak hanya memikirkan atau peduli terhadap dirinya sendiri,

tetapi harus senantiasa peduli dan peka terhadap keberadaan sekelilingnya,

sehingga potensi fikir dan dzikir senantiasa menyelimuti aktifitasnya sehari-hari.

Hal ini bukan hanya sebagai mahluk Allah yang paling sempurna tetapi juga

sebagai keharusan untuk menuju Insan Kamil yang di dalam Al-Qur’an sering disebut dengan istilahUlul Albab.

Menurut A.M. Saefudin, ia mengatatakan bahwa:“Ulul Albab adalah pemikir intlektual yang memiliki ketajaman analisis terhadap gejala dan proses alamiyah dengan metode ilmiah induktif dan deduktif, serta intlektual yang

2Syahrin harahap, Al-qur’an dan Sekularisasi, ( Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994) h. 50

3Toto Tasmara,Menuju Muslim Kaffah Menggali Potensi Diri, ( Jakarta: Gema Insani, 2000), h.

(3)

membangun kepribadian dengan dzikir dalam keadaan dan sarana ilmiah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia. Ulul albab

adalah intlektual muslim yang tangguh yang tidak hanya memiliki ketajaman analisis obyektif, tetapi juga subyektif.”4

Konsep Ulul Albab yang terdapat dalam Surat Ali Imran ayat 190-195 memberikan penjelasan bahwa orang yang berakal adalah orang yang melakukan

dua hal, yaitu tazakur yakni mengingat Allah dengan ucapan dan atau hati dalam situasi dan kondisi apapun dan tafakkurmemikirkan ciptaan Allah, yakni kejadian di alam semesta. Dengan melakukan dua hal tersebut, seseorang diharapkan ia

sampai kepada hikmah yang berada di balik proses mengingat dan berfikir, yaitu

mengetahui, memahami, menghayati bahwa dibalik fenomena alam dan segala

sesuatu yang ada didalamnya menunjukkan adanya sang pencipta, Allah SWT.5

Pendidikan sebagai suatu aktivitas yang sengaja dilakukan untuk

mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri peserta didik, baik

yang menyangkut ranah afektif (ruhiyah), kognitif (‘aqliyah) maupun

psikomotorik (jasadiyah). Pendidikan juga merupakan proses mengubah tingkah

laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya dengan

cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara

profesi-profesi asasi dalam masyarakat.6

4Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Islam, Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

Hingga Redifinii Islamisasi Ilmu Pengetahuan,( Jakarta: Nuansa, 2003) h. 268

5

M. Qurais Shihab,Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,(Jakarta: Lentera Hati), h. 308 et seq

6Omar Mohammad At-Toumi As-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan

(4)

Pendidikan dalam Islam memberikan norma obyektif yang bersumber

pada Al-Qurān dan Hadis. Al-Qurān sebagai sumber pedoman bagi umat

Islam mengandung nilai-nilai yang membudayakan manusia. Begitu pula

dengan nilai yang berkaitan dengan pendidikan, hampir dua pertiga ayat-ayat

dalam Al Qurān mengandung motivasi kependidikan bagi umat manusia.7

Ciri dari pendidikan Islam yaitu perubahan sikap dan tingkah laku sesuai

dengan petunjuk ajaran Islam, maka dengan kata lain, pendidikan Islam itu

merupakan upaya sadar dalam rangka pembentukan kepribadian muslim.8

Di sini dapat dipahami bahwa tugas pendidikan pada umumnya termasuk

pendidikan Islam pada khususnya adalah untuk membantu peserta didik agar

memiliki sifat-sifat kepribadian yang unggul dan kemampuan untuk

mewujudkan diri menjadi sosok yang sampai pada puncak piramid manusia.

Sosok manusia tersebut unggul dalam kehidupan material, sosial dan unggul

pula dalam kehidupan spiritual berdasarkan ajaran agama Islam. Ketiga

keunggulan tersebut bersifat saling menunjang, sehingga mampu mewujudkan

kehidupan yang selamat, bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.9Dengan

demikian, produksi ideal yang seharusnya dicapai oleh lembaga pendidikan

adalah manusia-manusia yang mempunyai kesiapan untuk mencapai

karakteristik cendekiawan atau intelektual.

7

M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner,(Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 33.

(5)

Karakteristik cendekiawan muslim yang dianggap kompeten membangun

masyarakat yang berperadaban tersebut dalam Al Qur'ān disebut sebagai Ulul Albab. Kata yang paling tepat untuk dirujuk dalam konteks makna dan tugas cendekiwan muslim dewasa ini adalah ulul albab, sebab dalam kata ulul albab

itulah kombinasi antara ulamā` dan pemikir itu terlihat dengan jelas. Kata ulul albab merupakan sebuah konsep yang penting dalam Al- Qurān berkaitan dengan hakikat sosial keberagamaan Islam.10Ulul albab inilah yang nantinya menjadi sebuah produksi sekaligus hasil pendidikan. Ulul albab dipahami sebagai seorang muslim yang beriman, memiliki wawasan keilmuan,

mengamalkan ilmunya dan memperjuangkan gagasan-gagasannya sampai

terwujud suatu tata sosial yang diridhai Allāh Swt.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji Relevansi Konsep Ulul Albab Yang Terdapat Dalam Surat Ali Imran Ayat 190-195 Dengan Tujuan Pendidikan Islam”. Dalam hal ini peneliti memfokuskan pembahasan pada pengkajianteks Al Qurān Surat Ali Imran Ayat 190-195 yang

mengandung kata ulul albāb. Langkah selanjutnya, dilakukan analisa untuk

melihat bagaimana relevansi konsep tersebut terhadap tujuan pendidikan Islam

saat ini, pembahasan akan dibingkai dalam kerangka pendidikan. Sehingga

diharapkan dari penelitian ini, akan ditemukan adanya desain format

10M. Dawam Rahardjo,Ensiklopedi al-Qur'ān: Tafsīr Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci

(6)

pendidikan Qur'ani yang mampu menghasilkan produksi dan hasilpendidikan

yang unggul dan berkualitas.

B. Batasan Masalah

Agar pembahasan masalah tidak melebar dari kajian yang dibahas, maka

peneliti memberikan batasan masalah, yakni peneliti memfokuskan penelitian pada

“Relevansi konsep Ulul Albab Dalam Q.S Ali Imron Ayat 190-195 Dengan

Tujuan Pendidikan Islam.”

Selanjutnya peneliti juga memberikan batasan dalam penelitiannya pada

waktu, dana, tenaga, teori-teori, dan supaya penelitian dapat dilakukan secara

mendalam maka tidak semua masalah yang telah didefinisikan akan diteliti. Untuk

itu maka peneliti memberikan batasan-batasan saat meneliti, serta metode-metode

saat pengumpulan data.11

C. RumusanMasalah

Dari latar belakang yang sudah peneliti paparkan diatas, maka dapat

dirumuskan beberapa permasalahan yaitu:

1. Bagaimanakah konsepulul albabyang terdapat pada Q.S Ali Imran ayat 190-195?

2. Apa hakikat tujuan pendidikan Islam?

11Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), h..

(7)

3. Bagaimana relevansi konsep Ulul Albabpada Q.S Ali Imran ayat 190-195 dengan tujuan pendidikan Islam?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui akan relevansi konsep Ulul Albab pada Q.S Ali Imran ayat 190-195 terhadap tujuan pendidikan Islam.

2. Mengetahui hakekat tujuan pendidikan Islam

E. Manfaat Penelitian

Adapun penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti.

Memberikan tambahan khazanah dalam pemikiran baru yang berkaitan

dengan relevansi konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imron 195-196

dengan tujuan pendidikan Islam.

2. Bagi Dunia Pendidikan

Dapat memberikan informasi tentang relevansi konsep Ulul Albab dalam

Al-Qur’an Surat Ali Imron 190-195 dengan tujuan pendidikan agama Islam dan

menyadarkan kita teradap hakikat pendidikan yang terkandung dalam ayat

Al-Qur’an tersebut. Untuk dapat berusaha menciptakan iklim pendidikan yang

(8)

F. Penelitian Yang Relevan

1. Rudin Haryono “Integrasi Akal (Fikir) Dan Spiritual (Dzikir) Dalam Q.S Ali

Imran Ayat 190-191 Dan Implementasinya Dalam Pendidikan Islam” 2011.

Penelitian ini berfokus kepada integrasi antara akal (fikir) dan spiritual (dzikir)

yang ada dalam ayat Al-Qur’an.

2. Harun Arrosyid “Hubungan Antara Karakteristik Ulul Albab Dalam Surat Ali

Imron Ayat 190-191 Dan Tujuan Pendidikan Islam” (2015). Penelitian ini lebih

memfokuskan kepada pembahasan dan pengkajian secara tematik (maudhi’i)

terhadap teks-teks alqur’an yang mengandung kata ulul albab untuk melihat

bagaimana implikasi konsep tersebut terhadap pendidikan islam.

3. Azizah Herawati “Kontekstual Konsep Ulul Albab Di Era Sekarang”Jurnal Ilmu Akidah dan Studi Keagamaan, Vol 3, No 1 Juni (2015). Tulisan ini lebih berfokus pada pembahasan profil ulul albab. Sebuah paparan tentang siapa itu

ulul albab, apa ciri-cirinya dan bagaimana penerapan ciri ulul albab di era

sekarang ini.

4. Siti, Murtaqiyah “Konsep Pendidikan Islam Dalam Tafsir Al- Qur’an Surat Ali

Imran Ayat 190 Sampai 195” (2012) Penelitian ini berfokus untuk mengetahui

bagaimana konsep pendidikan islam yang ada pada tafsir alqur’an surat

ali-imran ayat 190-195. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimanakah Konsep

Pendidikan Islam Dalam Tafsir Al- Qur’an Surat Ali Imran Ayat 190 Sampai

(9)

5. Ahmad Khosi’i“Makna Semantik Istilah Ulu lAlbâb DalamTafsir Al-Azhar”

(2015). Penelitian ini berfokus pada makna semantik istilah ulul albab dalam

kitab tafsir Al-azhar yang ditulis oleh Prof. Dr. Hamka.

6. Siti Rohmaturrosyidah Rahmawati,S.Pd.I“Pengembangan Kurikulum

Pendidikan Islam Dalam Pembentukan Kepribadian (Ulul Albab) Di Ma’had

Sunan Ampel Al-‘Aly Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim

Malang” (2015). Penelitian ini lebih berfokus pada pengembangan kurikulum

pendidikan islam di ma’had tersebut serta keberhasilanya untuk membentuk

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tiga konsep untuk mengkaji permasalahan yang ada, yang pertama dengan konsep Emerging Market perusahaan multinasional (PMN) yang

Berdasarkan latar uraian yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “ Penerapan Metode Pembelajaran Probing

Maka dari itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai performa dan peran serta keluarga pra sejahtera guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

Berawal dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut melalui skripsi yang berjudul “ Pengaruh Pemberian Reward Dan Punishment Terhadap

Tahap keempat, penulis akan memakai analisa balaghah untuk memahami ayat-ayat ams|a>l al-qur’a>n dalam surat ar-Ra’du dan surat Ibra>hi>m berdasarkan

Mencermati permasalahan di atas, maka penulis tertarik dan merasa perlu untuk mengkaji mengenai bagaimana proses penjaminan fidusia pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam mengenai permasalahan tersebut diatas untuk mengetahui secara

(tafakkur) yang mana sesuai dengan penjelasan yang ada dalam surat ali- Imran ayat 190-195 yang sudah dijelaskan pada bab di atas. Sedangkan dalam aspek afektif adalah