• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perekonomian dunia saat ini lebih menuju kepada tren ekonomi pasar bebas. Joseph Stiglitz dalam karyanya yaitu Joseph Stiglitz and The Critique of Free Market Analysis berpendapat bahwa pada dasarnya ekonomi pasar bebas yang digalakkan akan mampu menguntungkan semua pihak selama dijalankan sebagaimana mestinya (Stiglitz, 2006). Namun pasar bebas tidak memberikan keuntukan terhadap semua pihak, khususnya bagi negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan negara-negara berkembang belum memiliki kapasitas yang sama dengan negara maju dalam berkompetisi di kancah global. Oleh karenanya, perlu adanya peningkatan kapasitas ekonomi bagi setiap negara khususnya bagi negara berkembang, tidak hanya untuk berkompetisi di pasar global, namun juga menjadi aktor unggulan di dalamnya.

Terjadinya pertumbuhan dan transformasi yang sangat cepat dari negara-negara berkembang menjadi fenomena yang menarik dalam lebih dari dua dekade terakhir. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional (PMN) yang berassal dari negara yang perekonomiannya sedang bangkit atau diistilahkan dengan Emerging Market Economy (EME). Menariknya, perkembangan PMN negara EME terus bertransformasi dan menunjukkan peningkatan yang luar biasa dengan aktif melakukan ekspor kapital (modal) dan menjadi pelaku bisnis penting pada level internasional, dimana sebelumnya mereka adalah pengimpor kapital dari negara maju (Mas'oed, 2013). Meskipun PMN dari negara maju hingga saat ini tetap menjadi sumber utama dari investasi luar negeri langsung (FDI), namun arus keluar dari perusahaan-perusahaan emerging economy terus mengalami peningkatan secara signifikan.

(2)

2

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) merupakan perusahaan asal Indonesia yang telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan yang mencakup seluruh tahapan produksi makanan mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku, hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar, yang beberapa tahun ini aktif mendirikan pabrik-pabrik baru di berbagai negara dan muncul sebagai perusahaan latecomer mengejar ketertinggalannya untuk menjadi perusahaan multinasional (PMN) dan meningkatkan daya saing industri produk olahan makanan sehingga menjadi aktor penting dalam kompetisi perdagangan global. Indofood yang dulunya merupakan perusahaan nasional berskala besar di Indonesia yang berbentuk konglomerat kini aktif melakukan manuver ekonomi melalui ekspor kapital dengan berbagai strategi dan model untuk dapat memasuki pasar internasional. Manuver-manuver tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh negara Brazil, India, China, dan Afrika Selatan kini diikuti oleh Indonesia untuk mengembangkan perusahaan multinasionalnya untuk membeli, mengakuisisi, dan melakukan joint venture di negara-negara maju di kawasan Afrika, Amerika dan Eropa.

Walaupun perkembangannya belum sebesar China, PMN Indonesia melalui Indofood mampu melakukan perubahan dari semula sebuah perusahan yang diidentifikasikan sebagai perusahaan kecil menjadi sebuah perusahaan modern dan profesional yang beroperasi secara multinasional yang kini produknya telah tersebar di seluruh dunia dan memiliki anak perusahaan di beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, Brazil, Mesir, Ethiopia, Kenya, Turki, Serbia, Sudan, Nigeria, Maroko, dan lainnya (Indofood, 2017). Sedangkan produknya bisa di temui tidak hanya di kawasan Asia dan Afrika, tetapi mulai merambat ke wilayah Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Indofood menarik untuk diteliti karena; pertama, dibandingkan dengan Golden Agri Resources yang merupakan anak perusahaan Sinar Mas yang berdiri tahun 1996 yang memproduksi minyak untuk memasak, margarin, dan mentega melalui perkebunan kelapa sawit Indonesia (GAR, 2017). Golden Agri Resources baru mulai mendirikan perusahaan lain di Singapura dan China tahun 1999, tetapi saham

(3)

3

perusahaan Golden Agri Resources telah diakuisisi oleh Singapura. Kedua, PT Nutrifood Indonesia yang berdiri tahun 1979 di Semarang merupakan salah satu perusahaan produksi makanan dan minuman kesehatan yang bernutrisi di Indonesia (nutrifood, 2015). Sejak tahun berdirinya sampai saat ini, PT Nutrifood melalui produknya yaitu Tropicana Slim, Nutrisari, HiLo, L-Men, dan WRP tidak hanya mengembangkan produksinya di pasar Indonesia, tetapi telah berhasil mengembangkan pasar ekspornya ke negara-negara berkembang lain. PT Nutrifood Indonesia mulai mengembangkan produksinya ke luar negeri yaitu Nigeria, Vietnam, Srilanka, Bangladesh, Yamen, Fiji, Australia, dan Afghanistan yang didukung oleh Nutri Interglobal Exporindo (NINE) yang merupakan strategi bisnis dari PT Nutrifood Indonesia.

Berdasarkan perbandingan perusahaan-perusahaan Golden Agri Resources dan PT. Nutrifood Indonesia, dibandingkan dengan Indofood, terlihat hal yang menarik karena Indofood bisa mengembangkan produksinya tanpa diakuisisi pihak lain. Indofood telah mengakuisisi beberapa perusahaan dan telah membangun pabrik di beberapa negara. Sedangkan perusahaan lain di Indonesia, seperti Golden Agri Resources dapat mendirikan pabrik di luar negeri setelah sahamnya diakuisisi oleh pihak Singapura, dan PT. Nutrifood Indonesia yang berdiri lebih dahulu yakni sejak 1979, dalam perkembangan produknya masih sebatas bentuk ekspor terhadap negara-negara lain, belum sampai mendirikan pabrik di lebih dari satu negara-negara.

Sebagaimana dijelaskan dalam laporan tahunannya, bahwa Indofood ini didirikan sebagai perusahaan yang kepemilikan sahamnya adalah gabungan perseroan terbatas dan juga CAB Holdings Limited asal Hongkong sebagai bahan restrukturisasi PT Indofood Sukses Makmur Tbk. CAB Holdings Limited merupakan pabrik minyak kelapa sawit (CPO) di bawah kendali PT Indofood Sukses Makmur, yang dikendalikan oleh keluarga Salim yang merupakan pendiri dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui perusahaan induk First Pacific Company Limited, suatu perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Hong Kong dengan kepemilikan saham sebesar 50,7 persen. Anthony Salim yang merupakan Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur

(4)

4

memiliki kepentingan dan memegang kendali baik secara langsung maupun tidak langsung di First Pacific Company Limited. Grup perusahaan Indofood ini merupakan produsen makanan dan minuman olahan terbesar yang penjualan dan pendapatannya menempati posisi terdepan dan terbesar di Indonesia, yang kini aktif sebagai perusahaan latecomer untuk mengembangkan perusahaannya dengan mendirikan beberapa pabrik di luar negeri. Aktifitas utama perusahaan ini antara lain terlibat dalam eksplorasi, pengembangan, produksi makanan dan minuman olahan, pemasaran, dan perdagangan produk olahan. Sehingga tujuan dari penelitian ini ingin melihat strategi yang digunakan oleh Indofood agar dapat bersaing dalam sistem perdagangan global. Selanjutnya juga ingin melihat strategi yang digunakan oleh Indofood yang merupakan perusahaan latecomer sebagai perusahaan multinasional yang sedang berkembang dapat berhasil diterapkan dalam memenangkan kompetisi global.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yaitu:

1. Bagaimana strategi PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai perusahaan multinasional yang sedang berkembang dalam kompetisi global?

2. Mengapa strategi yang dijalankan dapat berhasil dalam memenangkan kompetisi global?

C. Reviu Literatur

Reviu literatur dalam proposal tesis ini menekankan pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai perusahaan yang berasal dari negara sedang berkembang yang beranjak sebagai perusahaan multinasional. Reviu diawali dengan pembahasan awal mula bagaimana upaya sebuah perusahaan nasional mampu berkembang hingga menjadi aktor yang berpengaruh terhadap negara emerging market di kancah

(5)

5

multinasional. Perusahaan multinasional dari negara-negara yang sedang berkembang atau emerging market dalam beberapa tahun terakhir ini telah memasuki catatan sejarah bagi perkembangan ekonomi politik global. Fenomena ini telah memunculkan berbagai macam penelitian yang ada, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa, adanya perhatian mengenai strategi dari pengembangan produktifitas emerging enterprises sehingga dapat turut andil dalam kompetisi global. Pembahasan mengenai emerging market perusahaan asal negara sedang berkembang sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, seperti Mochtar Mas’oed dalam bukunya yang berjudul “Kebangkitan PMN dari Selatan: Konteks Historik dan Struktural Global dalam Adidaya Ekonomi dari Selatan” (Mas'oed, 2013). Pembahasan ini menyebutkan bahwa bentuk dari emerging economy ini merujuk pada negara-negara yang mengalami transisi dalam sistem politik dan ekonominya, dan mengalami pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara cepat. Penelitian yang dilakukan oleh Mochtar Mas’oed dalam bukunya lebih banyak membahas mengenai fenomena kebangkitan dari perusahaan multinasional dari selatan dan proses terjadinya hal tersebut. Dimana kemunculan emerging economy ini nantinya akan mendorong pertumbuhan global ke arah yang lebih dinamis. Kemunculan aktor-aktor baru ini menjadi cambuk tersendiri bagi pemain lama di dunia perdagangan internasional. Para pemain lama yang notabene merupakan industri-industri mapan dari negara maju harus bersaing untuk memenangkan pasar dengan perusahaan asal negara yang sedang berkembang.

Sejalan dengan Mochtar Mas’oed, adanya penelitian mengenai emerging market juga pernah dibahas oleh Kelly Hallinan dalam artikelnya yang berjudul “The Role of Emerging Markets in Investment Portfolios” yang menyebutkan bahwa kajian mengenai emerging multinational corporations ini dianggap penting karena pengaruh yang diberikannya sangat besar, tidak hanya dalam konteks sistem produksi dan keuangan internasional, tetapi juga dalam perdagangan internasional (Hallinan, 2011). Selain adanya perusahaan dari negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa) yang telah mengalami perkembangan pesat, munculnya aktor-aktor baru

(6)

6

dari beberapa negara Asia Tenggara, Eropa Timur, dan Amerika Latin merupakan bukti bahwa semakin banyak perusahaan multtinasional baru yang siap menjadi aktor dalam emerging economy dan bersaing dalam kompetisi global.

Adapun ketika Indonesia melalui salah satu perusahaannya yang mulai berkembang menjadi aktor emerging market yaitu melalui Indofood seperti yang dicantumkan melalui website consultantsmind.com yang menunjukkan bahwa terdapat 100 perusahaan yang pertumbuhannya semakin pesat yang tergolong sebagai emerging market dunia, salah satu perusahaan asal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (consultantsminds.com, 2014). Penelitian yang terkait dengan Indofood telah dibahas oleh Khoiriyati dalam bukunya, yang menurutnya suatu perusahaan emerging market dapat menerapkan beberapa cara, utamanya seperti melalui cara aliansi, merger dan akuisisi, joint venture, hingga usaha greenfield (Khoiriyati, 2013). Sedangkan akuisisi sendiri merupakan cara yang lebih dominan dibandingkan dengan aliansi.

Sejalan dengan PT Indofood Sukses Makmur, aktor emerging market bisa ditemui di India, salah satunya adalah perusahaan Tata Motors. Tata Motors yang merupakan perusahaan multinasional yang sedang berkembang yang bergerak dalam bidang otomotif juga melakukan strategi untuk mengembangkan produknya. Adapun Murali Patibandla menjelaskan bahwa adanya upaya upgrading baik dalam produknya, interchain, fungsional, maupun prosesnya, dapat mempengaruhi laju pertumbuhan Tata Motors menjadi perusahaan emerging market (Patibandla, 2010). Selain itu, adanya akuisisi dan joint venture serta managing Corporate Social Responsibility (CSR) dapat juga berlaku sebagai upaya perusahaan untuk berkompetisi di pasar global. Adanya dukungan pemerintah India juga diperlukan untuk menaikkan laju pertumbuhan Tata Motors terhadap pasar internasional.

Melalui penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti perusahaan multinasional yang merupakan aktor baru dalam emerging market diatas, maka penulis tertarik untuk membahas secara mendalam terkait strategi yang digunakan Indofood sebagai perusahaan multinasional baru yang sedang berkembang

(7)

7

dalam kompetisi global. Sebelumnya dalam penelitian Khoiriyati tidak secara rinci membahas mengenai strategi Indofood untuk bersaing menjadi perusahaan multinasional baru dalam kompetisi global.

D. Landasan Konseptual

Untuk memahami fenomena emerging market yang mulai mengisi perdebatan seputar kajian ekonomi politik global maka keberadaan konsep yang dapat menjelaskan fenomena tersebut sangat diperlukan sehingga nantinya akan mempermudah dalam memahami isu yang ada, mengenai mengapa dan bagaimana perusahaan tersebut muncul dan turut andil dalam kompetisi global. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tiga konsep untuk mengkaji permasalahan yang ada, yang pertama dengan konsep Emerging Market perusahaan multinasional (PMN) yang digunakan untuk menjelaskan mengenai bagaimana emerging market tersebut muncul dan upaya apa yang dilakukan dalam melakukan ekspansi internasional; yang kedua dengan konsep LLL (Learning, Linkage, dan Leverage) sebagai penjelasan strategi yang digunakan oleh perusahaan dari negara berkembang untuk dapat menjadi perusahaan multinasional, dan yang ketiga melalui konsep kompetitif global dimana didalamnya memuat hubungan atara home countries, supplier country, customer country yang termasuk distribution dan sales, partner country, dan juga competitor countries yang keseluruhannya digunakan untuk menentukan peluang dan tantangan secara kompetitif di pasar global.

1. Konsep Emerging Multinational Corporations (EMNCs)

Multinational Corporations atau Perusahaan Multinasional (PMN) ialah suatu perusahaan yang mengendalikan operasi atau aset yang menghasilkan pendapatan di lebih dari satu negara (Jones, 2005). PMN dimiliki oleh investor di negara-negara asalnya dan menanamkan modal dalam ekonomi negara tuan rumah. Investasi yang dilakukan PMN bisa berwujud; Pertama, kegiatan membeli saham

(8)

8

perusahaan di luar negeri, dari individu institusi, tanpa ikut mengendalikan manajemen perusahaan tersebut. Kedua, berwujud pendirian usaha di negara tuan rumah atau investasi langsung (FDI). PMN melakukan FDI dengan cara memiliki atau mengandalikan asset di negara tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membeli perusahaan yang sudah ada atau dengan cara membangun perusahaan baru (greenfield investment). Tindakan aktif suatu perusahan adalah ketika suatu perusahaan membangun cabang usaha di negara asing dengan hak kepemilikan penuh, yang merupakan contoh paling jelas investasi oleh PMN. Jika perusahaan hanya sekedar mengekspor produk ke negara lain, berarti perusahaan tersebut melakukan tindakan pasif.

Terdapat beberapa model kontraktual yang bersifat equity arrangement maupun non-quity arrangement. Contoh dari equity arrangement adalah joint venture, dimana suau perusahaan melakukan usaha yang dimiliki secara bersama dengan perusahaan lain. Sedangkan contoh mengenai non-equity arrangement, yaitu

1) Licensing, yang melibatkan kontrak antara perusahaan-perusahaan independen untuk alih teknologi, hak, atau sumber daya.

2) Franchising, yaitu satu perusahaan memberi hak kepada perusahaan negara lain untuk melakukan bisnis dengan cara tertentu selama periode tertentu dan di tempat tertentu.

3) Cartel, yaitu kesepakatan antar perusahaan untuk mempertahankan harga atau membatasi output.

4) Strategic alliances, yaitu kesepakatan antar perusahaan untuk saling berbagi fasilitas atau bekerjasama mengembangkan suatu produk baru 5) Merger and acquisition, yaitu menggabungkan beberapa perusahaan

dengan perusahaan asing dan melakukan akuisisi terhadap perusahaan tersebut (Jones, 2005).

Bisa juga diartikan sebagai perusahaan internasional yang berasal dari pasar negara berkembang dan terlibat dalam Foreign Direct Investment (FDI), dimana mereka melakukan kontrol yang efektif dan melakukan kegiatan nilai tambah di satu atau lebih negara asing (Luo & Tung, 2007). Perusahaan multinasional dari negara

(9)

9

berkembang sifatnya lebih heterogen, berbeda dengan mereka yang berasal dari negara maju atau negara-negara industri baru. Strategi EMNCs untuk bersaing di pasar global dapat dianalisis salah satunya adalah dengan strategi springboard. Melalui strategi springboard (batu loncatan) dapat diketahui bahwa kemunculan PMN yang sedang berkembang dilakukan melalui ekspansi internasional sebagai batu loncatan untuk mendapatkan sumber daya yang memungkinkan dapat digunakannya dalam proses kompetisi di pasar global. Strategi ini dilakukan melakukan leapfrog, yaitu loncatan-loncatan yang dilakukan oleh emerging market PMN untuk menghadapi perusahaan multinasional yang sudah mapan. Hal tersebut dilakukan gunanya adalah sebagai upaya mengurangi hambatan-hambatan pasar dan institutional di dalam negeri yang nantinya akan dihadapi oleh perusahaan multinasional yang sedang berkembang tersebut.

Luo dan Tung dalam Baitsatul Badiah (Badiah, 2014) menjelaskan bahwa alasan dilakukannya ekspansi sebagai upaya springboard meliputi:

1. Ekspansi dilakukan guna mengatasi kelemahan kompetitif mereka, yaitu dengan akuisisi dan merger PMN yang sudah maju sehingga memudahkan dalam meningkatkan reputasi internasional mereka

2. Akuisisi dan merger dilakukan oleh PMN yang sedang berkembang sebagai upaya untuk mengatasi kelemahan mereka dalam memperoleh akses konsumen di pasar global dan hal-hal yang bersifat teknis lainnya, misalnya teknologi yang lebih canggih

3. Ekspansi dilakukan sebagai upaya untuk mengamankan negaranya dari dominasi PMN dari negara maju, yaitu melalui akusisi atau investasi greenfield

4. Ekspansi dilakukan untuk mengurangi hambatan perdagangan global, umumnya yang bersifat non-tariff barriers

5. Adanya hambatan institusional domestik juga menjadi pendorong dalam melakukan ekspansi global dan mencari wilayah yang lebih kondusif dan mendukung produktifitas industri mereka

6. Ekspansi dilakukan untuk melindungi preferensi perdagangan dari negara-negara berkembang dengan cara reserve investment

(10)

10

7. Ekspansi dilakukan untuk menangani kelemahan kompetitif diantara EMNCs yang lain.

Dari uraian diatas, suatu EMNCs yang melakukan upaya springboard dapat disebut juga dengan upaya mereka mencari aset dan kesempatan. Mencari aset disini berarti bahwa upaya untuk memajukan dan memperbaharui teknologi, transfer pengetahuan dari industri maju melalui berbagai jalinan kerjasama, fasilitas penelitian dan pengembangan, upaya memperoleh tenaga kerja yang mumpuni, penguatan brand, perluasan jaringan, perbaikan manajemen perusahaan dan sumber daya alam. Sedangkan dalam mencari aspek kesempatan, emerging MNCs melakukan upaya springboard adalah untuk mengembangkan operasi perusahaan keluar dari wilayahnya. Selain itu, perusahaan tersebut juga mendapatkan trend yang terjadi di pasar negara tujuan investasi.

Indofood sendiri merupakan perusahaan yang tidak hanya memiliki pasar di tingkat nasional saja, namun telah merambah pasar luar negeri. Selain itu, dalam mengembangkannya, PT Indofood Sukses Makmur juga melakukan joint venture dengan perusahaan lain di luar negeri, juga menggunakan cara lisensi terhadap salah satu produknya, yaitu Indomie. Selain itu, Indofood telah banyak mengakuisisi saham perusahaan di negara asing yang bertujuan untuk meningkatkan resource bahan baku pembuatan produk Indofood dan mengukuhkan posisi mereka utuk mempercepat pertumbuhan perusahaan. Selain itu, untuk mencapai tujuannya, perusahaan harus kompetitif dan datang bersama gagasan “pasar global”, bukan lagi pasar “nasional”. Disamping itu juga, aspek teknologi, informasi, dan komunikasi menjadi sangat berpengaruh terhadap posisi perusahaan untuk jangka panjang serta keuntungan kompetitif yang diperoleh.

2. Konsep LLL (Linkage, Leverage, Learning)

Karakteristik utama dari perusahaan multinasional negara sedang berkembang yang berbeda dengan negara maju adalah PMN tersebut sering digolongkan sebagai

(11)

11

Late Comer Firm (LCF). Perusahaan multinasional dikategorikan sebagai LCF jika memenuhi beberapa unsur, diantaranya: Pertama, Industry entry yakni LCF terjun dalam industri dalam waktu yang relatif belakangan, perusahaan tersebut juga muncul dari negara-negara yang baru saja memasuki perkembangan perekonomian. Kedua, Resources yakni perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan yang masih miskin akan sumber daya, teknologi, dan pasar. Ketiga, Strategic intent yakni perusahaan tersebut memiliki tujuan mengejar ketertinggalannya dari perusahaan yang sudah mapan. Keempat, Competitive Position yakni perusahaan memiliki keunggulan kompetitif seperti mampu beroperasi dengan biaya rendah.

Performa suatu perusahaan tidak hanya dilihat dengan adanya peran pemerintah sebagai lembaga yang berkuasa dalam memberikan kebijakan yang mendukung internasionalisasi perusahaan, namun juga menekankan pada tiga hal penting sebagai strategi emerging market yang diusulkan Mathews yaitu linkage, learning, leverage (Mathews, 2002). Perusahaan multinasional baru bisa berkembang dalam pasar global dengan konsep LLL (Linkage, Leverage, Learning), yaitu sebuah konsep yang menitikberatan pengamatan pada sumber daya (resources) yang dianggap mempengaruhi pola strategi khas para late comer (Matthews, 2006). Selebihnya, linkage merupakan hubungan eksternal late comer firm (LCF) dengan pemerintah, lembaga think-thank terkait, dan juga kluster industri untuk memenangkan persaingan dalam perdagangan global. Sedangkan learning merupakan aktivitas yang dapat dilihat dari proses belajar dari PMN yang sebelumnya telah mapan, transfer pengetahuan dari perusahaan asing, dan juga penciptaan pengetahuan oleh tim Research and Development. Terakhir melalui leverage, lebih kepada memanfaatkan sumber daya internal dan eksternal untuk menciptakan inovasi dan produk unggulan perusahaan.

Berbeda dari perusahaan negara industri maju, perusahaan emerging market cenderung berinvestasi ke luar negeri karena dipengaruhi oleh dorongan dari pemerintah negara tersebut. Dilihat dari keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan, PMN dari emerging market juga berbeda dengan PMN dari negara maju. Sebuah perusahaan akan memiliki keunggulan kompetitif ketika resources yang

(12)

12

mereka miliki merupakan sesuatu yang bernilai dan langka, non-imitable dan non-transferable. Sedangkan para perusahaan latecomer justru mengarahkan perhatian mereka terhadap resources yang bersifat langka, mudah ditiru (easy imitable), dan effortless transferable. Untuk mengembangkan perusahaan sekaligus mengejar ketertinggalan mereka dari perusahaan-perusahaan multinasional di negara maju, perusahaan-perusahaan dari emerging market menerapkan konsep LLL yakni Linkage dimana dalam rangka mengejar ketertinggalan, LCF menjalin hubungan dengan pemain lama yang lebih berpengalaman, Leverage: dengan melakukan tahap linkage, perusahaan akan dapat meningkatkan (leverage) kemampuan dan pengetahuan perusahaan terhadap teknologi dan akses pasar, Learning : linkage dan leverage tidak serta merta mendatangkan kesuksesan, dua hal tersebut harus diikuti dengan proses learning untuk dapat mengembangkan perusahaan lebih lanjut.

Strategi yang diterapkan oleh PMN dalam meluaskan jaringannya mengembangkan strategi yang berbeda ketika mereka berekspansi ke negara maju dengan yang diterapkan ketika mereka beroperasi di negara berkembang. Strategi yang dikembangkan oleh LCF menyebutkan beberapa strategi yang dilakukan yaitu merger dan akuisisi lintas negara, serta greenfield, dan ekspansi investasi. Konsep tentang LLL dalam studi ini akan bertujuan untuk menganalisis dan menunjukkan performa dan jalan yang ditempuh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai PMN dari negara sedang berkembang yang relatif berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh PMN dari negara maju. Sehingga nantinya penelitian ini akan memberikan informasi baru mengenai strategi perusahaan dari negara berkembang utuk melebarkan pasar mereka ke tingkat internasional.

3. Konsep Kompetisi Global

Kompetisi global yang terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini menuntut upaya strategi bisnis dan kemampuan teknologi yang mahir di berbagai sektor usaha. Dalam era globalisasi persaingan bisnis dapat berubah menjadi sangat tajam, baik di

(13)

13

pasar domestik maupun di pasar internasional. Kompetisi atau daya saing bergantung pada produktivitas jangka panjang, yang mana peningkatannya memerlukan lingkungan bisnis yang mendukung inovasi produk, proses, dan manajemen.

Strategi kompetitif global menempatkan dirinya terhadap dua tantangan global, yaitu sebuah perusahaan harus mampu mengatasi permintaan dari pasar global dan juga menanggapi keberagaman dari pasar lokal mereka. Untuk mengatasinya, bisnis global harus mengalihkan keuntungannya kepada dimensi yang luas dan juga variasi lokal dari pasar global. Hal tersebut dapat menggunakan analisis dari strategi G5 untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Analisis “star” yang dimaksud adalah hubungan atara home countries, supplier country, customer country yang didalamnya termasuk distribution dan sales, partner country, dan juga competitor countries yang keseluruhannya digunakan untuk menentukan peluang dan tantangan secara kompetitif di pasar global (Spulber, 2007). Suatu perusahaan lebih memilih strategi terbaik untuk perusahaannya, yaitu antara bidang keterampilan dari perusahaan tersebut, ataupun didasarkan pada peluang pasar. Selanjutnya, perusahaan tersebut menerapkan strateginya demi mendapatkan keuntungan yang kompetitif.

Strategi perusahaan merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan utama atau kebijakan perusahaan dengan rangkaian tindakan dalam sebuah pernyataan yang saling mengikat. Strategi perusahaan biasanya berkaitan dengan prinsip-prinsip secara umum untuk mencapai misi yang dicanangkan perusahaan, serta bagaimana perusahaan memilih jalur yang spesifik untuk mencapai misi tersebut.

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan salah satu perusahaan publik yang bergerak di bidang manufaktur, distribusi, dan pemasaran produk makanan olahan dan minuman seperti produk mie instan, tepung terigu, susu, makanan ringan, minyak goreng, dan lainnya. Pada tahun 2017, Indofood menjadi salah satu perusahaan sedang berkembang yang telah memasuki level global (ForbesIndonesia, 2017). Oleh karenanya, Indofood harus memiliki strategi perusahaan yang memungkinkan dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk terus bertahan di pasar domestik dan berkembang ke dalam pasar global. Selain itu, Indofood juga harus mempersiapkan diri

(14)

14

menghadapi persaingan dengan perusahaan makanan dunia, salah satunya adalah dengan perusahaan Nestle.

E. Argumen Utama

Untuk menjawab rumusan masalah diatas, maka dapat diperoleh beberapa argumen utama, yaitu:

1. Melalui strategi linkage, learning, dan leverage PT Indofood Sukses Makmur Tbk berhasil menjadi PMN yang sedang berkembang dan sebagai late comer firm dalam emerging market.

2. Strategi ini diyakini dapat berhasil karena PT Indofood Sukses Makmur Tbk melakukan produktivitas jangka panjang, joint venture, akuisisi dan lisensi. Selain itu juga menggunakan G5 strategi (home country, supplier countries, customer countries, partner country, dan competitor countries) agar mampu berkompetisi dalam industri produk makanan dan minuman olahan secara global.

F. Metodologi

Metode yang dipakai oleh penulis adalah metode kualitatif. Metode pengambilan data yang penulis gunakan dengan cara studi literatur melalui buku-buku yang relevan dengan objek studi yang diteliti, jurnal-jurnal ilmiah yang terkait dengan strategi perusahaan multinasional yang sedang berkembang, artikel-artikel ilmiah yang diambil dari berbagai macam situs internet (annual report dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, annual report Indomie dari beberapa negara, dan situs berita yang terkait dengan strategi emerging market PT. Indofood Sukses Makmur Tbk).

Penulis juga menggunakan metode pengolahan data melalui analisis media dengan cara mengelompokkan berita-berita ke dalam subbab-subbab dan kemudian

(15)

15

disimpulkan. Hal ini ditujukan untuk mengetahui terkait strategi-strategi yang digunakan, dan menambah informasi hubungan kausalitas antara strategi perusahaan dengan posisi perusahaan sebagai perusahaan multinasional baru yang sedang berkembang. Dari data yang dihasilkan melalui metode kualitatif tersebut, penulis gunakan untuk membantu mendapatkan informasi dan menjawab rumusan masalah yang dikaji.

Adapun alur pemikiran dari tesis yang akan penulis kaji adalah sebagai berikut:

Diagram 1.1 Alur Pemikiran Tesis

G. Sistematika Penulisan

Pada Bab I berisi tentang pengantar yang meliputi: latar belakang masalah mengenai PT Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai perusahaan multinasional yang sedang berkembang. Permasalahan mengenai kemunculan emerging market multinational corporations dan strategi yang diterapkan Indofood dalam berkompetisi di pasar global akan diuraikan secara singkat dalam bab ini. Kemudian dilanjutkan dengan rumusan masalah, argumen utama, reviu literatur, kerangka konseptual, metodologi, serta kontribusi terkait tesis ini.

Strategi PT Indofood Sukses Makmur sebagai perusahaan multinasional yang sedang berkembang

-Linkage, Learning, Leverage

- Akuisisi dan joint venture beberapa perusahaan - Analisis home country, supplier countries,

customer countries, partner countres, competitor coutries

Pembuktian strategi PT Indofood Tbk dengan

studi literatur (buku, jurnal, artikel), analisis

media dengan pihak terkait

Implementasi strategi yang dilakukan oleh PT

Indofood Tbk sehingga dapat berkompetisi

secara global

Strategi tersebut berhasil dijalankan oleh PT

Indofood Sukses Makmur Tbk dan dapat memenangkan kompetisi

(16)

16

Pada Bab II akan membahas mengenai kebangkitan dari negara-negara berkembang dalam kerangka Emerging Market Multinational Corporations sebagai bagian dari fenomena ekonomi politik global yang dilanjutkan dengan pembahasan tentang profil PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai perusahaan multinasional yang sedang berkembang.

Bab III akan menjelaskan mengenai strategi yang dilakukan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui strategi linkage, learning dan leverage.

Pada Bab IV akan berisikan penjelasan mengenai strategi kompetitif global dan upaya ekspansi internasional PT Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai upaya mempertahankan posisinya dalam kompetisi global

Pada Bab V akan berisi kesimpulan atau hasil dari penelitian.

H. Kontribusi

Beberapa penelitian sebelumnya telah meneliti PT Indofood Sukses Makmur Tbk dari sisi strategi manajemen dalam negeri. Sedangkan penelitian ini berkontribusi untuk membahas strategi dari perspektif ilmu hubungan internasional dan menggunakan alat analisis HI yang dijalankan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk, sebab belum banyak yang meneliti terkait hal tersebut. Selain itu, belum ada penelitian yang menggunakan analisis media terhadap penentuan strategi perusahaan, sehingga menambah variasi terhadap penelitian-penelitian sebelumnya.

Gambar

Diagram 1.1 Alur Pemikiran Tesis

Referensi

Dokumen terkait

Sebaliknya, jika pasar yang tidak memiliki daya tarik maka akan di tinggalkan oleh konsumen dan pasar tersebut tidak dapat berkembang dengan baik, bahkan pasar tersebut

1 M.. Hal ini me nunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Pertukaran keanggotaan kelompok belajar

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan peramalan penyaluran bahan bakar minyak untuk persedian tahun 2016 berdasarkan data pada tahun 2013-2015 dan menentukan

Uraian tugas kepala ruangan yang ditentukan oleh Depkes (1994) dalam melaksanakan fungsi perencanaan adalah (1) Merencanakan jumlah dan kategori tenaga keperawatan serta tenaga

Ia juga mengajak relawan dari mahasiswa IPB University terutama yang tinggal di dalam kampus untuk bersama-sama membantu memberikan makan kucing secara

Khusus untuk akses jurnal online yang dilanggan pihak Perpustakaan UGM yang merupakan bagian dari jurnal elektronik belum pernah dikaji sebelumnya, terutama untuk

Tindak pelanggaran kode etik oleh humas Presiden AS dalam film Wag The Dog tersebut dilakukan secara berkelanjutan di media massa untuk menutupi kebohongan demi kebohongan

Karyawan akan melakukan segala cara (dedikasi) agar organisasi mampu mencapai kesuksesan. Dalam diri karyawan yang komitmennya tinggi terjadi proses identifikasi, adanya