SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada Konsentrasi Humas
Program Studi Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh: Salsabilla Al Fanny Zaen
6662090547
KONSENTRASI HUBUNGAN MASYARAKAT PRODI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Disaat datang kesulitan dan tidak ada seorangpun yang datang untuk membantu, disitu kita sadar bahwa cuma diri sendiri yang bisa bantu kita saat jatuh, BANGKIT DAN
LAKUKAN yang kita bisa dan GAPAI yang kita mau :))))
(Salsabilla Al Fanny Zaen)
Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, semua terasa begitu sulit, begitu tidak menyenangkan, hambar, kosong bahkan menakutkan?
Itu adalah saat allah mengizinkan kau untuk diuji, dan allah ingin mendengar rintihan serta doamu agar kau menyadari akan keberadaan- NYA,,,
Karena DIA tahu kau sudah mulai melupakan-NYA dalam kesenangan (QS 47:31, 32:21)
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini ku persembahkan untuk:
Mamah dan Bapak yang selalu berjuang untuk saya dan adik-adik, tanpa perjungan kalian saya tidak akan jadi apa-apa, perjuangan
ABSTRAK
SALSABILLA AL FANNY ZAEN. NIM. 6662090547. SKRIPSI. KINERJA
COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA BUMN DI
PROVINSI BANTEN.
Corporate sosial responsibility merupakan aktivitas perusahaan yang sedang menjadi sorotoan, karena sifatnya yang memaksa yaitu tercantum dalam UUD menjadikan para pelaku bisnis untuk dapat menjalankan aktivitas CSR di perusahaannya. Tidak terkecuali BUMN, yang merupakan setengah atau sepenuhnya sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Kurangnya sorotan mengenai kinerja CSR pada BUMN menjadi latar belakang peneliti ingin mengetahui hal tersebut, terutama pada BUMN di provinsi Banten. Ukuran Kinerja CSR merupakan salah satu sorotan utama dalam pelaksanaan CSR. Dengan adanya ukuran kinerja CSR kita dapat mengetahui keberhasilan dari aktivitas CSR.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori stakeholder, yang mengasumsikan bahwa melibatkan stakeholder sangat penting dalam setiap aktivitas CSR. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dimana peneliti berusaha mencoba untuk memaparkan dan menafsirkan data yang ada untuk memperoleh gambaran secara sistematis mengenai kinerja CSR pada BUMN di Provinsi Banten. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kinerja CSR pada BUMN di provinsi Banten.
Responden dalam penelitian ini adalah pegawai dari BUMN sebanyak 30 orang yang merupakan perwakilan dari masing-masing BUMN yang ada di Banten, pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan purposif sampling. Dimana responden dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh penulis. Hasil penelitian ini menjelaskan ukuran kinerja CSR dengan tingkat pemahaman CSR besar yaitu 71,5% dan ukuran kinerja CSR juga besar yaitu 76,72%.
ABSTRACT
SALSABILLA AL FANNY ZAEN. NIM. 6662090547. THESIS. THE PERFORMANCE OF COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) IN BUMN IN BANTEN PROVINCE.
Corporate social responsibility was an ongoing company activities become beam, because its forces and listed in the Constitution (UUD) making the businessmen run the company's CSR activities. BUMN were no exception, which was a half or fully owned by the government. Lack of beam on CSR performance on BUMN, made it as a background of researchers, especially BUMN in Banten Province. CSR performance was one of the main beam in the implementation of CSR. Based on that reason, CSR performances can determine the success of CSR activities.
In this study, researcher used stakeholder theory, which assumes that involving stakeholders was very important in any CSR activity. This study used a descriptive quantitative method in which researcher attempted to try, explain and interpret the data to obtain systematic overview of the CSR performance on BUMN in Banten Province. The purpose of this study was to determine the extent which CSR performance on BUMN in Banten Province.
Respondents in this study were employees of BUMN as many as 30 people who are representatives from each BUMN in Banten Province, the selection of respondents performed used purposive sampling. Respondents were selected based on criteria specified by researcher. The results of this study describe measure of CSR performance with the level of CSR understanding was 71.5% and measure of CSR performance was 76.72% as well.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadiranAllah SWT yang telah memberikan rakhmat, karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Kinerja CSR pada BUMN Provinsi Banten”. Solawat serta salam senantiasa kita sampaikan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Maksud dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi dan melengkapi salah satu syarat menempuh ujian sarjana program S1 (Strata Satu) pada program studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Hubungan Masyarakat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang selalu memotivasi dan memberikan dukungannya kepada peneliti. Penulis telah mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis dengan kerendahan hati menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.PD selaku Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atas kontribusinya sebagai pemimpin di kampus peneliti.
2. Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Ibu Neka Fitriyah, S.Sos., M.Si. selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
5. Ibu Andin Nesia, S.IK., M.I.Kom. selaku dosen pembimbing II skripsi sekaligus dosen penguji sidang, terima kasih sudah membantu memberikan arahan serta masukan untuk menyelesaikan skripsi ini. 6. Ibu Nina Yuliana S.Sos., M.Si selaku ketua penguji siadang skripsi. 7. Bapak Idi Dimyati, M.Ikom selaku anggota penguji sidang skripsi. 8. Bapak Yearry Panji S, S.Sos, M.Siselaku dosen pembimbing akademik
yang selalu memberikan perhatian dan motivasi selama masa perkuliahan.
9. Bapak/Ibu Dosen jurusan Ilmu Komunikasi yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis. Tak lupa juga untuk para staf dan karyawan jurusan Ilmu Komunikasi.
10. Kedua Orang Tua ku yang tercinta Bpk. Jaenudin dan Ibu Eni Widayati, yang selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya. Terima kasih atas doa dan dukunganya serta fasilitas yang selalu mengiringi dari awal kuliah sampe saat ini. Terimakasih atas perjuangan Bapak dan Mamah yang tak akan bisa terbalas kan sampai kapan pun. Tanpa doa, dukungan dan perjuangan kalian penulis tidak akan bisa sampai di jenjang yang saat ini.
11. Terimakasih untuk Nisfu maryana atas dukungan, motivasi, dan senantiasa membantu tanpa pamrih kepada penulis selama proses perjalanan kuliah dan saat skripsi, selalu bisa jadi sosok kakak dan guru yang baik buat penulis. Dan banyak memberikan pelajaran hidup yang berarti untuk penulis. Semoga kita bisa bersahabat selamanya.
12. Terimakasih untuk Mike Arviansyah atas dukungan, motivasinya dan selalu mendengarkan curhat-curhat ataupun keluh kesah penulis saat proses pengerjaan skirpsi ini.
kita lewati bareng-bareng. Semoga selalu terkenang dalam hati masing-masing dan jadi sahabat semalanya.
14. Untuk “Just For Fun” Nisfu Maryana,Fitri Febrianti, Ratna Nurbaiti, Putri Ferira, Annisa Dian F, Widya Rahmayanti, Uum Umaedah, Nita Puspitasari kalian teman terlucu dan terheboh yang pernah saya kenal, tidak ada kata sedih saat bareng kalian. Terima kasih karena telah memberikan arti kesenangan dan kebahagian dan terima kasih atas motivasinya selama ini.
15. Terima kasih untuk Ratu Dewi Noviandari, Antika Sawaludin, Andrianis Januar, Dan Rian Surya Gemilang yang selalu menemani penulis saat akhir-akhir semester ini. Kalian mamberi pergaulan yang luas dan artinya bebas dalam hidup penulis. Semoga kita bisa menjadi teman selamanya.
16. Teman-teman seperjuangan Ilmu Komunikasi atas segala suka dukanya selama masa perkulihan yang tidak bisa terlupakan oleh peneliti. Semoga menjadi kenangan terindah untuk kita semua.
Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan baik dari segi kemampuan penyajian maupun pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada, maka kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis untuk memperbaiki kesalahan dan melengkapi kekurangan. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Serang, Februari 2014
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
MOTTO DAN LEMBAR PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Rumusan Masalah... 11
1.3 Identifikasi Masalah... 12
1.4 Tujuan Penelitian... 12
1.5 Manfaat Penelitian... 13
1.5.1 Manfaat Teoritis... 13
1.5.2 Manfaat Praktis... 13
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1 Komunikasi Organisasi ... 14
2.2 Public Relations ... 20
2.2.1 Marketing Public Relations ... 24
2.3 Coorporate Sosial Responsibility ... 27
2.5 Kerangka Teori ... 38
4.1.4 Tugas Pokok dan Fungsi Kementerian BUMN ... 73
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Tabel Jumlah Sampel BUMN Banten Secara Proporsional.... 54
Tabel 3.2 Skala Likert ... 59
Tabel 3.3 Tingkat Reabilitas Berdasarkan Nilai Alpha ... 61
Tabel 3.4 Kriteria Analisis Deskriptif Presentase ... 63
Tabel 3.5 Case Processing Summary ... 64
Tabel 3.6 Item Total Statistics ... 64
Tabel 3.7 Jadwal Penelitian ... 67
Tabel 4.1 Tabel Data BUMN di Provinsi Banten ... 73
Tabel 4.2 Jenis Kelamin Responden ... 74
Tabel 4.3 Jenjang Pendidikan Responden ... 76
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Teori ... 40
Gambar 4.1 Arah Kebijakan BUMN ... 70
Gambar 4.2 Tugas Pokok dan Fungsi BUMN ... 73
Gambar 4.3 Jenis Kelamin ... 75
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Dokumentasi ... 204
Lampiran 2 Kuesioner Penelitian……… 205
Lampiran 3 Data Jawaban Responden……… 206
Lampiran 4 Struktur Organisasi... 217
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Banten merupakan salah satu provinsi yang memiiki banyak perusahaan industri yang mampu menciptakan dan mengahasilkan barang – barang yang berkualiatas. Perkembangan yang pesat dan canggih menjadikan faktor yang mendukung untuk selalu memproduksi produk seiring dengan laju bertambahnya jumlah penduduk di indonesia. Pertambahan tersebut membuat jumlah konsumen barang dan jasa ikut meningkat. Pertambahan tersebut menyebabkan perusahaan berjalan tanpa henti dalam memproduksi produk-produknya. Dengan pertumbuhan yang pesat menjadikan pertumbuhan ekonomi juga ikut bertumbuh pesat. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam UU No. 40 tahun 2007, diatur mengenai tanggung jawab sosial yang bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan itu sendiri, komunitas setempat, dan masyarakat pada umumnya. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung terjalinnya hubungan perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat, maka ditentukan bahwa perseroan yang kegiatan usahanya di bidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Coorporate social responsibility merupakan suatu bentuk kebijakan pemerintah yang dapat membantu perusahaan dalam memahami kebutuhan yang diinginkan oleh publicnya serta menjawab solusi public relatioans dalam menjalankan fungsinya dengan baik. Menurut Natufe Coorporate social responsibility diartikan sebagai :
Komitmen berkelanjutan kalangan bisnis untuk berprilaku etis dan memberikan sumbangan pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan.1 Dari definisi ini dapat dijabarkan bahwa Coorporate social responsibility mencakup kepada tiga aspek yaitu, mendorong kesejahteraan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup dan tanggung jawab sosial.
Adapun yang terkena dampak langsung dari UUD No 40 tahun 2007 adalah perusahaan BUMN. Dimana dalam UUD No 19 tahun 2003 BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
Ada banyak motifasi perusahaan menerapkan aktivitas CSR selain dari tuntutan peraturan hukum yang ada. Kesadaran bahwa lingkungan dan masyarakat
1
menentukan nasib sebuah perusahaan dapat dikatakan sebagai salah satu motivasi perusahaan melakukan CSR. Selain untuk menjaga eksistensi perusahaan, CSR juga diharapkan dapat memberikan manfaat lebih.
Perusahaan dalam hal ini tidak dapat dipisahkan dari masyarakat sekitar yang berada di lingkungan perusahaan. Banyak pengaruh yang diberikan oleh perusahaan yang berdampak pada lingkungan sekitar, baik positif maupun negatif. Mengurangi pengangguran merupakan dampak positif yang diberikan, sedangkan kebisingan, polusi serta pembuangan limbah yang tidak menentu merupakan suatu dampak negatif. Dalam mengatasi hal tersebut dibutuhkan peran seorang public relatioans untuk membantu menjadi fasilitator serta memediasi permasalahan tersebut.
Pengertian public relations menurut Institude of Public Relations, United Kingdom yang menyatakan bahwa, PR merupakan upaya yang disengaja, direncanakan, dan dilakukan terus menerus untuk membangun dan menjaga adanya saling pengertian antarorganisasi dengan publiknya.2
Melalui pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa public relations merupakan suatu upaya yang direncanakan dan bertujuan untuk menciptakan saling pengertian. Dapat diasumsikan bahwa kegiatan public relations merupakan kegiatan yang terorganisasi, dimana sebuah program telah direncanakan terlebih dahulu. Program yang direncanakan ini memiiki tujuan untuk dapat menciptakan
2
adanya saling pengertian antara organisasi dengan publiknya begitupun sebaliknya organisasi pun berusaha untuk memahami hal-hal yang menjadi kepentingan dari publiknya.
Fungsi seorang public relatioans menjadi sangat penting, menurut Betrand R Canfield fungsi seorang PR dibagi menadi 3 yaitu, it should serve the public interst (mengabdi kepada masyarakat), maintain good communications (memelihara komunikasi yang baik), and stress good morals and manners (menitik beratkan moral dan tingkah laku yang baik)3.
Pentingnya seorang public relations dalam suatu perusahaan sangat membantu perusahaan untuk membangun opini publik yang positif. Seorang public relatioans juga dituntut mampu mengerjakan banyak hal, ia harus bisa menjadi komunikator, seorang penasihat dan sekaligus seorang perencana kampanye yang baik. Karena public relatioans officer selalu menghadapi banyak pihak, mulai dari kalangan dalam serta kalangan luar seperti para agen, perantara konsumen dan sebagainya. Ia harus tahu benar menegenai seluk beluk perusahaanya dan mampu mewakilinya dalam berbagai kesempatan. Oleh sebab itu dibutuhkan public relatioans officer yang memahami betul pekerajaanya.
Berkaitan dengan program Coorporate social responsibility yang ditetapkan pemerintah untuk membantu mensejahterakan publicnya baik internal maupun eksternal. Seorang public relations officer harus memahami betul
3
mengenai program Coorporate social responsibility ini. Perlu disadari bahwa Public Relation menjadi unsur kunci bagi setiap program Coorporate Social Responsibility (CSR). Karena CSR menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlangsungan interaksi antara perusahaan dengan masyarakat maka konsistensi etika PR dalam menjalankan pekerjaannya menjadi sangat penting. Peran PR untuk memegang teguh etika begitu krusial karena sebagai kalangan profesional yang punya keahlian khusus, PR memiliki kekuasaan besar dalam membuat keputusan yang mempengaruhi setiap aspek masyarakat.
Konsep CSR sendiri mulai berkembang sangat pesat. Idealnya pelaksanaan CSR harus memenuhi tiga indikator yaitu keuntungan bagi perusahaan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Indikator pertama, keuntungan perusahaan, memiliki arti bahwa program CSR itu sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Jika CSR dipandang sebagai investasi masa depan, perusahaan akan mendapatkan manfaatnya di tahun-tahun mendatang. Setidaknya citra baik masyarakat akan memperpanjang umur perusahaan dan produk mereka akan diterima dengan baik.
dilakukan dengan berpartisipasi melestarikan budaya daerah melalui kesenian, sastra, dan musik daerah.
Indikator ketiga, kelestarian lingkungan. Program CSR tentu melihat lingkungan dan alam sekitar sebagai ekosistem yang patut dijaga kelestariannya. Program kebersihan lingkungan, penghijauan, serta penanaman pohon guna menjaga ketersediaan air dan kualitas udara. Misalnya, diawali dengan peningkatan kualitas produk yang ramah lingkungan, analisis dampak lingkungan terhadap sampah atau sisa produksi serta lingkungan pabrik yang nyaman dan aman terhadap keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan.
Akan tetapi realitanya masih banyak persepsi atau pemahaman yang salah menganai CSR itu sendiri. Ada banyak kesalahpahaman dalam CSR, yaitu : menyamakan Community Development (CD) dengan CSR, CSR hanya menonjolkan aspek sosial semata, Organisasi CSR Cuma Tempelan, atau CSR hanya bersifat kosmetik bagi citra perushaan.4
Bukan hanya pemahaman yang salah mengenai CSR itu sendiri akan tetapi masih banyak yang menjalankan CSR atas dasar aspek pemenuhan regulasi dan hukum semata, karena CSR itu sendiri telah di atur dalam UUD. Khususnya BUMN telah diatur dalam peraturan kementrian BUMN itu sendiri. Laju pertumbuhan hasil produksi yang pesat menjadikan pertumbuhan ekonomi BUMN di Provinsi Banten ikut tumbuh pesat. Akan tetapi tidak sebanding dengan
4
menurunnya jumlah kemiskinan di Provinsi Banten. Dari data yang peneliti dapatkan penurunan jumlah kemiskinan di Provinsi Banten tahun 2009 sampai 2011 menurun sebesar 1,89%.5 Padahal tiap-tiap perusahaan diwajibkan mengeluarkan 2% untuk pelaksanaan CSR itu sendiri. Tentunya hal ini tidak sebanding dengan laju pertumbuhan ekonomi yang pesat oleh peruahaan dalam setiap aktivitas perusahannya. Apalagi jumalah BUMN di Provinsi Banten tidak sedikit terdapat 32 BUMN. Seharusnya jumlah tersebut dapat menurunkan jumlah kemiskinan yang signifikan.
Selain itu terdapat kasus gizi buruk yang menempatkan Banten kedalam peringkat ketiga di Indonesia, data dari Dinas Kesehatan Banten menyatakan sebanyak 60.893 balita di Banten mengalami gangguan masalah gizi dan sebanyak 7.213 balita diantaranya mengalami gizi buruk dan 53.680 balita lainnya kekurangan gizi (data tahun 2013).6 Dari kedua uraian diatas seharusnya dengan adanya CSR tingkat kemiskinan dan gizi buruk di Provinsi Banten menurun secara signifikan. Dalam hal ini CSR BUMN di Provinsi Banten ikut andil untuk mengatasi hal tersebut, hal ini dikarenakan BUMN merupakan seluruh atau sebagian sahamnya dimiliki oleh negara. Oleh karena itu memiliki andil dalam membantu pemrintah daerah mengtasi permasalahan tersebut.
Cakupan wilayah di bagi menjadi 4 kategori ring. Yaitu (Kategori Ring 1), merupakn wilayah yang terkena dampak penting dan langsung dari kegiatan
55
www.Banten.BPS.go.id. pukul 23.30
6
perusahaan. (Kategori Ring 2), wilayah yang terkena dampak penting dan tidak langsung dari kegiatan perusahaan. (Kategori Ring 3), wilayah yang terkena dampak tidak penting dan tidak langsung dari kegiatan perusahaan. (Kategori Ring 4), wilayah diluar operasi perusahaan. Sebagian besar BUMN di Provinsi Banten memandang ring sebagai patokan pelaksanaan dari PKBL. Akibatnya pelaksanaan CSR tersebut tidak merata atau tidak menyeluruh. Masih ada sebagian wilayah di Provinsi Banten yang belum tersentuh oleh aktivitas CSR. salah satunya Kecamatan Kasemen, berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap narasumber menyatakan bahwa Kecamatan Kasemen belum tersentuh dengan aktivitas CSR, hal ini dikarenakan sebagian perusahaan memandang bahwa yang mendapatkan CSR perioritas merupakan masyarakat lingkungan perusahaan. Karena letaknya yang jauh dari perusahaan-perusahan yang ada di Banten baik BUMN maupun swasta,Kecamatan Kasemen luput dari perhatian aktivitas CSR.
Seharsunya pelaksanaan CSR dapat tersebar kepada seluruh wilayah yang ada di Banten, bukan hanya lingkungan sekitar perusahaan. Lingkungan sekitar perusahaan memang menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan CSR akan tetapi bukan berati melupakan wilayah lain yang juga memiliki keterbatasan. Ikut andilnya BUMN di Provinsi Banten dalam membantu pemerintah daerah menanggulangi masalah-masalah tersebut sangat dibutuhkan.
diambil dikarenakan melihat kemampuan dan sistem PKBL di lingkungan BUMN yang lemah, sehingga membuat program PKBL bermasalah dan tidak efektif.
“Saya minta tahun depan supaya dana ini disalurkan oleh lembaga -lembaga khusus yang berpengalaman dan profesional, memiliki kapasitas, SDM, dan reputasi untuk mengenai hal tersebut. Sehingga BUMN tidak lagi mengurusi itu (PKBL),” ungkap Dahlan di Jakarta, Selasa (19/6/2012)”7
Pernyataan tersebut sejalan dengan belum menurunnya tingkat kemiskinan dan juga gizi buruk serta cakupan wilayah yang belum menyeluruh yang terjadi di Provinsi Banten. Hal ini membuktikan bahwa kinerja CSR pada BUMN di provinsi Banten belum maksimal.
Mengenai pernyataan tersebut sampai saat ini pengelolaan PKBL di BUMN provinsi Banten masih dikelola sendiri. Belum adanya peraturan yg tertulis mengenai hal tersebut membuat BUMN di provinsi Banten masih mengelola PKBL sendiri. Bukan hanya itu banyak pertimbangan atas dasar pengalihan pengeloalaan PKBL tersebut, salah satunya CSR atau dalam BUMN disebut dengan PKBL merupakan salah satu bentuk pencitraan dari tiap perusahaan, bagaimana suatu perusahaan mendapatkan legitimasi (pengakuan) dari masyarakat untuk perusahaannya dan mendukung aktivitas dari perusahaan itu sendiri. Jika CSR dikelola oleh pihak lain maka bagaimana suatu perusahaan bisa mendapatkan legitimasi masyarakatnya.
7
Kinerja sendiri merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi (Armstrong dan Baron, 19985).8 Artinya adalah kinerja merupakan tentang bagaimana melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Pengukuran terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mngetahui apakah kinerja berjalan sesuai jadwal waktu yang ditentukan, atau apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Adapun 8 indikator kinerja kunci dalam implementasi CSR yaitu Leadership (Kepemimpinan), Proporsi Bantuan, Transparasi dan Akuntabilitas, Cakupan Wilayah (coverage Area), Perencanaan dan mekanisme monitoring dan evaluasi, Pelibatan Stakeholder (Stakeholder Enggagement), Keberlanjutan (Sustainability), Hasil Nyata (Outcome).
Dalam hubunganya dengan manajemen public relation, kinerja merupakan bagian dari manejemen PR itu sendiri, tidak hanya itu kinerja juga dapat menjadi tolak ukur keberhasilan manajemen PR dalam menjalankan prinsip-prinsip fungsi manajemen PR itu sendiri. Salah satunya public yang baik manciptakan penilaian kinerja yang baik, pengakuan dan penghargaan secara umum menguntungkan organisasi, khususnya mampu memelihara pelaksanaan komunikasi yang baik dengan publik sasarannya untuk membangun kinerja, pengakuan dan penghargaan umun dan menguntungkan.9 Pengukuran kinerja CSR dapat membantu PR dalam
8
Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta. PT. Grafindo Persada. Hal 7
9
proses keberhasilan manajemen PR itu sendiri dalam melaksanakan aktivitas CSR. Hasil dari kinerja CSR itu yang akan mengukur baik buruknya pandangan publik terhadap perusahaan.
Oleh karena itu dengan adanya uraian diatas maka dalam hal ini peneliti ingin mengatahui seberapa besar kinerja Coorporate social responsibility pada BUMN di provinsi Banten. Dalam penelitian ini peneliti berfokus kepada BUMN yang berada di wilayah Banten. Dikarenakan di wilayah Banten terdapat beberapa BUMN besar yang berpengaruh terhadap pendapatan negara dan juga Provinsi Banten terjangkau oleh peneliti. Adapun responden dari penelitian ini merupakan seluruh BUMN yang ada diprovinsi Banten sebanyak 32 BUMN yang ada diprovinsi Banten. Akan tetapi tidak semua BUMN memiliki kantor pelayanan di wilayah Banten.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah ;
“Seberapa besar kinerja coorporate social responsibility pada BUMN
1.3 IDENTIFIKASI MASALAH
Dari perumusan masalah di atas tersebut, maka masalah yang akan diteliti di identifikasikan sebagai berikut :
1. Seberapa besar tingkat pemahaman pegawai divisi program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) terhadap CSR?
2. Seberapa besar kinerja coorporate social responsibility pada BUMN di Provinsi Banten?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk dapat mengetahui seberapa besar tingkat pemahaman pegawai divisi program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) terhadap CSR. 2. Untuk dapat mengetahui seberapa besar kinerja coorporate social
1.5 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi pengembangan ilmu komunikasi khususnya bidang kehumasan untuk pengembangan ilmu coorporate sosial responsibility (CSR).
1.4.2 Manfaat Praktis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Organisasi
Komunikasi merupakan suatu bidang yang sangat penting dalam komunikasi. Komunikasi dalam organisasi adalah suatu proses penyampaian informasi, id-ide, diantara para anggota organisasi secara timbal balik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Komunikasi dalam organisasi sangat penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang bisa berhubungan dengan orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa menambah wawasan seseorang dalam bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari. Maka untuk membina hubungan kerja antar pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah membicarakan komunikasi secara lebih terperinci.
Goldhaber memberikan definisi komunikasi organisasi sebagai berikut :
“Organizational communications is the process of creating and exchanging messages within a network of interdependent relationship to cope with environmental uncertainly.”10
10
Ibid hal 67
Atau dengan kata lain komunikasi organisasai adalah proses mencipakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.
Dalam definisi ini mengandung tujuh konsep kunci dari komunikasi organisasi yaitu proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan dan ketidakpastian.
a) Proses
Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dianamis yang menciptakan saling menukar pesan antar anggotanya. Kerana gejala menciptakan dan menukar informasi ini berjalan terus-menerus dan tidak ada henti-hentinya maka dikatakan sebagai suatu proses.
b) Pesan
Pesan adalah susunan simbol yang penuh arti tentang orang, objek, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang. Dalam komunikasi organisasi kita mempelajari ciptaan dan pertukaran pesan dalam seluruh organisasi. pesan dalam organisasi dapat di dilihat menerut beberapa klasifikasi.
memo, pidato, percakapan, dll. Sedangkan pesan non verbal merupakan pesan yang tidak diucapkan atau tidak ditulis seperti, bahasa gerak badan, sentuhan, nada suara, ekspresi wajah dan sebagainya.
Pengklasifikasian yang kedua berdasarkan penerima yang diharapkan, dapat pula dibedakan atas pesan internal dan eksternal. Pesan internal khusus dipakai oleh karyawan dalam organisasi misalnya memo, buletin, dan rapat-rapat. Sedangkan yang dimaksud dengan pesan eksternal adalah untuk memenuhi kebutuhan organisasi sebagai sitem terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat umum misalnya iklan dan usaha hubungannya dengan masyarakat.
Pengklasifikasian yang ketiga berdasarkan menurut bagaimana pesan itu disebarluaskan atau metode difusi. Kebanyakan komunikasi organisasi disebarluaskan dengan menggunakan perangkat keras dang perangkat lunak. Yang termasuk kepada perangkat keras yaitu telepon, teleks, radio, video, komuputer dan sebagainya. Sedangkan pesan yang menggunakan metode perangkat lunak tergantung kepada kemampuan dan keterampilan dari individu terutama dalam berfikir, menulis, berbicara dan mendengar agar dapat berkomunikasi satu sama lain.
arus pesan dalam organisasi yaitu yang berkenaan dengan tugas-tugas dalam organisasi, pemeliharaan organisasi dan kemanusiaan.
c) Jaringan
Organisasi terdiri dari satu seri orang yang tiap-tiapnya menduduki posisi atau peranan tertentu dalam organisasi. ciptaan dan pertukaran pesan dari oarang-orang ini sesamanya terjadi melewati suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi ini mungkin mencakup hanya dua orang, beberapa orang, atau keseluruhan organisasi.
Hakikat dan luas dari jaringan ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain, hubungan peranan, arah dan arus pesan, hakikat seri dari arus pesan, dan isi dari pesan.
d) Keadaan Saling Tergantung
Konsep kunci komunikasi organisasi keempat adalah keadaan saling tergantung satu bagian dengan bagian lainnya. Hal ini telah menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh terhadap bagian lainnya dan mungkin juga kepada seluruh sitem organisasi.
e) Hubungan
Konsep kunci yang kelima dari komunikasi organisasi adalah hubungan. Karena organisasi merupakan suatu sitem terbuka, sistem kehidupan sosial maka untuk berfungsinya bagian-bagian itu terletak pada tangan manusia. Dengan kata lain jaringan melalui mana jalanya pesan dalam suatu organisasi dihubungkan oleh manusia.
Oleh karena itu hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkah laku komunikasi dari orang yang terlibat dalam suatu hubungan perlu dipelajari. Sikap, skil, moral dari seorang pengawas misalnya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan yang bersifat organisasi.
Hubungan manusia dalam organisasi berkisar mulai dari yang sederhana yaitu hubungan diantara dua orang atau dyadic sampai kepada hubungan yang kompleks, yaitu hubungan dalam kelompok-kelompok kecil, maupun besar, dalam organisasi.
f) Lingkungan
Sedangkan lingkungan eksternal dari organisasi adalah langganan, saingan dan tekhnologi.
g) Ketidakpastian
Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, melakukan suatu penelitian, pengembangan organisasi, dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks dengan integrasi yang tinggi.
2.2 Public Relations
Public Relations terdiri dari dua kata yaitu “Public” dan Relations. Istilah “public” daalam bahasa indonesia yaitu “publik” di artikan sebagai sekelompok
orang yang mempunyai minat yang sama dan perhatian yang sama terhadap suatu hal. Sedangkan “relations” berarti hubungan-hubungan sehingga jika digabungkan pengertian Public Relations diartikan sebagai hubungan-hubungan antara publik. Namun hal tersebut merupakan pengertian dari asal katanya saja. Sedangkan menurut Public Relations News adalah :
“Public Relations is the management function which evaluates publik attitudes indentifies the policies and procedures of an individual or an organization with the public interest and executes a program of action to earn public understanding and acceptance.”( publik relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik menyatakan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan publik, dan melaksanakan program kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publiknya).11
Public relations sangat erat kaitannya dengan manajemen dimana public relations mempunyai fungsi yang melekat dengan kegiatan manejemen, artinya jika ada suatu sistem manajemen sudah pasti didalamnya terkandung kegiatan Public Relations yang memfungsikan manajemen tersebut.
Sebagai fungsi manajemen, Public Relations berarti mempunyai kontribusi yang sangat penting untuk membantu melancarkan kegiatan manajemen terutama dalam membantu hal-hal yang berhubungan dengan upaya untuk menilai sikap publik terhadap organisasinya. Untuk itu Public Relations dituntut harus dapat
11
menyatakan kebujaksanaan kepada publiknya sesuai keputusan mnajemen organisasi, dimana fungsi itu dilakukan atas dasar kepentingan publiknya. Karena pada prinsipnya seorang PR harus dapat memengetahui dan menanggapi sikap publiknya dengan cara mengatur dan menekankan tanggung jawab manajemen guna melayani kepentingan publiknya. Untuk itu seorang PR harus benar-benar tahu kebijakan-kebijakan apa saja yang sudah diputuskan oleh organisasi dan selanjutnya harus dapat disampaikan kembali kepada publiknya. Untuk mendapatkan pengertian serta pengakuan dari publik terhadap organisasi, seorang PR harus dapat membuat program kerja yang dapat diterima oleh publiknya.
Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Public Relations News, definisi yang dikatakan oleh Frank Jefkins yaitu :
“ Publik Relations consist of all communications of planned communication. Outwards and inwards, between an organization and its publics for the purposes of achieving spesific objektives concerning mutual understanding”. (Public Relations merupakan keseluruhan bentuk komunikasi yang terencana. Baik itu keluar maupun kedalam, yakni antara suatu organisasi dengan publiknya dalam rangka mencapai tujuan yang spesifik atas dasar adanya saling pengertian).12
Dari pengertian diatas dapat dijabarkan bahwa pada prinsipnya public relation merupakan bagian dari komunikasi, dimana komunikasi ini tekanannya adalah pada komunikasi organisasi yang sasaran komunikasinya adalah untuk publik didalam organisasi dan publik didalam organisasi. Dimana landasan dari hal tersebut adalah adanya saling pengertian diantara keseluruhan publik yang
12
berkepentingan terhadap organisasi tersebut. Dengan adanya saling pengertian itulah dapat mencapai tujuan yang spesifik.
Tujuan dari PR ialah untuk menciptakan, memelihara, meningkatkan dan memperbaiki citra organisasi dimata publik yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi pada publik yang bersangkutan.13 Sedangkan jika dilihat dari fungsinya menurut Canfield yaitu :
a. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi
b. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik, baik publik ekternal maupun internal.
c. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.
d. Melayani publik dan menasihati pimpinan organisasi demi kepentingan umum. 14
Fungsi PR diatas lebih menekankan tentang PR sebagai jembatan penghubung antara perusahaan dan publik yang berkaitan dengan kepentingan perusahaan , baik itu eksternal maupun internal.
Untuk memahami fungsi PR tersebut memerlukan peranan PR yang sesuait dengan fungsinya. Menurrut Dozier & Broom, 1995. Peranan PR di bagi menjadi empat kategori, yaitu :
13
Ibid. Hal 43
14
1. Penasihat Ahli
Seorang praktisi PR yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah dengan publiknya.
2. Fasilitator Komunikasi
Dalam fasilitator komunikasi, praktisi PR sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengarkan apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Di sisi lain praktisi PR juga di tuntut untuk mampu menjelaskan kembali keinginan, kebijakan serta harapan organisasi kepada pihak publiknya. Dengan adanya komunikasi timbal balik tersebut diharapkan adanya saling pengetian, saling mempercayai, menghargai, medukung dan adanya toleransi yang baik dari kedua pihak.
3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah
4. Teknisi Komunikasi
Peranan teknisi komunikasi menjadikan praktisi PR sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi. Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing tingkatan, yaitu secara teknis kommunikas, baik arus maupun media komunikasi yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat atasan. 15
Dari ke empat peranan Public Relations diatas, dapat terlihat mana yang berperan dan berfungsi pada tingkatan manajerial skill, keterampilan hubungan antaraindividu dan keterampilan teknis dalam manajemen humas. Peran publik Relation diharapkan dapat menjadi “mata” dan “telinga” serta “tangan kanan” top
manajemen dalam organisasi atau lembaga.
2.2.1 Manajemen Public Relations
Public Relations sesungguhnya sebagai alat manajemen modern secara struktural merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan atau organisasi. Artinya PR bukanlah merupakan fungsi terpisah dari fungsi kelembagaan atau organisasi tersebuat alias bersifat melekat pada manajemen perusahaan. Hal ini menjadikan PR dapat menyelenggarakan komunikasi dua arah timbal balik antara
15
organisasi dengan publiknya. Peranan ini sangat menentukan sukses atau tidaknya misi, visi dan tujuan dari organisasi tersebut.
Peranan PR dalam manajemen suatu organisasi terlihat dengan adanya beberapa aktifitas pokok kehumasan yaitu :
1. Mengevaluasi sikap atau opini publik.
2. Mengidentifikasi kebijakan dan prosedur organisasi dengan kepentingan publiknya.
3. Merencanakan dan melaksanakan penggiatan aktivitas PR.16
Sedangkan pengertian manajemen PR itu sendiri menurut MC. Elreath, (Managing Systematic and Ethical Public Relations, 1993, Madison, Wisconsin : Brown & Mark adalah :
“Managing public relations means researching, planning, implementing and evaluating an array of communications activities sponsored by the organization; from small grup meetings to international satellite linked pree conference, from simple brochures to multimedia national campaigns, from open house to grassroots political campaigns, from public services announcement to crisis management.”17
Artinya manajemen humas bererti penelitian, perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian suatu kegiatan komunikasi yang disponsori oleh organisasi; mulai dari pertemuan kelompok kecil hingga berkaitan dengan konferensi pers internasional via satelit,dari pembuatan brosur hingga kampanye nasional malalui multi media, dari menyelenggarakan acara open house hingga kampanye politik, dari pengumuman pelayanaan publik hingga menangani kasus manajemen krisis.
16
Ibid hal 21
17
Adapun fungsi dan tanggung jawab manajemen PR yaitu untuk membangun suatu yang menguntungkan bagi terciptanya hubungan baik antara organisasi dengan publik sasarannya, dan melalui tanggung jawab tersebut merupakan ukuntabilitas bagi fungsi PR terhadap organisasinya. Berkaitan dengan fungsi PR pengaruh yang utamanya berkaitan dengan „hubungan tiga dasar
prinsip-prinsio fungsi manajemen publik relations yaitu :
a. Tujuan aktifitas fungsi public relations adalah untuk mengembangkan dan memelihara hubungan sosial dan lingkungan hidup yang baik sesuai dengan tujuan terbaik dari pihak organisasi yang dapat meningkatkan kemakmuran bersama. Artinya tanggung jawab sosial manajemen public relations untuk mengarahkan bagi keputusan pimpinan perusahaan atau organisasi untuk membantu pengembangan dan memelihara lingkungan sosial yang menguntungkan kedua belah pihak.
b. Publik relations yang baik menciptakan penilaiaan hasil kinerja yang baik, pengakuan dan penghargaan secara umum menguntungkan organisasi. khususnya, mampu memelihara pelaksanaan komunikasi yang baik dengan publik sasarannya untuk membangun kinera, pengakuan dan penghargaan umum yang menguntungkan.
c. Keberadaan organisasi hanya tergantung dari penerimaan pihak publik dan eksistensinya perusahaan tersebut dapat disesuaikan dengan hasil kontribusi terhadap kepentingan sosial sebagaimana pandangan yang sama dengan masyarakat sekitar. Artinya tergantung kemampuan manaemen public relations untuk menetapkan keputusan untuk meyakinkan kegiatan organisasi selalu memeprhatikan keseimbangan antara tujuan meraih keuntungan dan perhatian kepentingan publik di lain pihak. Ross (1977:50) berpendapat bahwa good public relations perceptions is sensing a situation or experience correcly from a public relations viewoint ( persepsi yang baik adalah memiliki perasaan terhadap pandangan suatu situasi atau pengalaman secara tepat).18
Fungsi utama dari manajemen public relations adalah mengevaluasi dan mengantisipasi efek dari setiap tujuan usulan , kebijakan , perencanaan dan kepentingan kegiatan pihak organisasi dengan pihak publiknya. Dalam hal ini
18
artinya manajemn PR harus berupaya apakah usulan tersebut dilaknsanakan dengan baik, serta metode yang digunakan tepat serta efectif dari sudut pandang tindakan publik relations.
2.3 Coorporte Sosial Responsibility
Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Magnan & Ferrel (2004) merupakan “ A business acts in socially responsible manner when its desicion and account for and balance diverse stake holder interest.”19
Definisi ini menekankan kepada perlunya memberikan perhatian secara seimbang terhadap kepentingan berbagai stakeholders yang beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh para pelaku bisnis melalui perilaku yang secara sosial bertanggung jawab.
Sedangkan Elkington (1997) mengemukakan bahwa sebuah perusahaan yang menunjukkan tanggung jawab sosialnya akan memberikan perhatian kepada peningkatan kualitas perusahaan (profit); masyarakat, khususnya komunitas sekitar (people); serta lingkungan hidup (planet bumi).20
Tanggung jawab sosial ini diarahkan baik ke dalam (internal) maupun ke luar (eksternal) perusahaan. Ke dalam, tanggung jawab ini diarahkan kepada pemegang saham dalam bentuk profitabilitas dan pertumbuhan. Perusahaan harus berjuang keras untuk memperoleh laba yang optimal dalam jangka panjang serta
19
A.B.Susanto. 2009. Reputation - Driven, CSR. Erlangga . Jakarta. Hal 10
20
senantiasa mencari peluang bagi pertumbuhan dimasa depan dan juga perusahaan harus mengoptimalkan profitabilitas sebagai upaya timbal balik kepada pemegang saham yang telah menginvestasikan sumber daya yang mereka punya guna mendukung berbagai aktivitas operasional perusahaan. Selain itu, tanggung jawab sosial juga diarahkan kepada karyawan yang telah memberikan kontribusi, bekerja keras dan berkorban demi kesuksesan perusahaan. Oleh karenanya perusahaan dituntut untuk memberikan kompensasi yang adil serta memberikan peluang pengembangan karir bagi karyawannya.
Ke luar, tanggung jawab sosial ini berkaitan dengan peran perusahaan sebagai pembayar pajak dan penyedia lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi masyarakat, serta memelihara lingkungan bagi kepentingan generasi mendatang.
Dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya, perusahaan memfokuskan perhatiannya kepada tiga hal, yaitu profit, lingkungan, dan masyarakat. Dengan diperolehnya laba, perusahaan dapat memberikan dividen bagi pemegang saham, mengalokasikan sebagian laba yang diperoleh guna membiayai pertumbuhan dan pengembangan usaha dimasa depan, serta membayar pajak kepada pemerintah.
korban bencana, namun juga berpartisipasi dalam usaha-usaha pelestarian dampak bencana melalui usaha-usaha pelestarian lingkungan sebagai tindakan preventif untuk meminimalisir bencana.
Perhatian terhadap masyarakat, dapat dilakukan dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas serta pembuatan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki diberbagai bidang. Kompetensi yang meningkat ini pada gilirannya diharapkan akan mampu dimanfaatkan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Jadi, dengan menjalankan tanggung jawab sosialnya, perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, namun juga turut berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitar dalam jangka panjang.
Pemahaman yang baik menenai CSR merupakan dasar bagi pelaksanakaan CSR itu sendiri. Jika pemahamnnya baik maka berpengaruh kepada penilaian suatu kinerja CSR itu sendiri. Dharma (2005) menyatakan bahwa penilaian kinerja didasarkan pada pemahaman, pengetahuan, keahlian, kepiawaian dan prilaku yang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik dan analisis tentang atribut perilaku seseorang sesuai kriteria yang ditentukan untuk masing-masing pekerjaan.21
21
Adapun 8 indikator kinerja kunci dalam implementasi CSR yaitu :
1. Leadership (Kepemimpinan)
a. Program CSR dapat dikatakan berhasil jika mendapatkan dukungan dari top management perusahaan.
b. Terdapat kesadaran filantropik dari pimpinan yang menjadi dasar pelaksanaan program.
2. Proporsi Bantuan
CSR dirancang bukan semata-mata pada kisaran anggaran saja, melainkan juga pada tingkatan serapan maksimal, artinya apabila areanya luas, maka anggarannya harus lebih besar. Jadi tidak dapat dijadikam tolak ukur, apabila anggaran besar pesti menghasilkan program yang bagus.
3. Transparasi dan Akuntabilita
a. Terdapat laporan tahunan (annual report)
4. Cakupan Wilayah (coverage Area)
Terdapan identifikasi penerima manfaat secara tertib dan rasional berdasarkan skala prioritas yang telahditetuka.
5. Perencanaan dan mekanisme monitoring dan evaluasi
a. Dalam perencanaan perlu ada jaminan untuk melibatkan multi-stakeholder pada setiap siklus pelaksanaan proyek b. Terdapat kesadaran untuk memperhatikan aspek-aspek
lokalitas (lokal wisdom), pada saat perencanaan ada kontribusi pemahaman, dan penerimaan terhadap budaya-budaya lokal yang ada.
6. Pelibatan Stakeholder (Stakeholder Enggagement)
a. Terdapat mekanisme koordinasi reguler dengan stakeholder. Utamnya masyarakat
b. Terdapat mekanisme yang menjamin pertisipasi masyarakat untuk dapat terlibat dalam siklus proyek.
7. Keberlanjutan (Sustainability)
a. Terjadi alih peran dari korrporate ke masyarakat
c. Adanya pilihan partner program yang bisa menjamin bahwa tanpa keikutsertaan perusahaan, program bisa tetap dijalankan sampai selesai dengan parner tersebut.
8. Hasil Nyata (Outcome)
a. Terdapat dokumentasi hasil yang menunjukan berkurangnya angka kesakitan dan kematian (dalam bidang kesehatan), atau berkurangnya angka buta huruf dan meningkatnya kemampuan SDM (dalam bidangpendidikan) atau parameter lainnya sesuai dengan bidang CSR yang dipilih oleh perusahaan.
b. Terjadinya perubahan pola pikir masyarakat
c. Memberikan dampak ekonomi masyarakat yang dinamis d. Terjadi penguatan komunitas (community empowerment).22
Fajar mengatakan bahwa perilaku para pengusaha dalam melaksanakan CSR pun beragam, dari kelompok yang sama sekali tidak melaksanakan sampai kelompok yang menjadikan CSR sebagai inti (core value) dalam menjalankan usahanya. Menurutnya pengusaha dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
A. Kelompok Hitam, adalah mereka yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. Mereka hanya menjalankan bisnis semata-mata hanya untuk kepentingan sendiri dan sama sekali tidak
22
mementingkan aspek lingkungan dan sosial sekelilingnya bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
B. Kelompok Merah, adalah meraka yang mulai melaksanakan praktik CSR, tetapi hanya memandangnya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungannya. Aspek lingkungan, sosial serta kesejahteraan masyarakat baru diperhatikan setelah adanya desakan. Kelompok ini termasuk kedalam kelompok satu yang mendapatkan tekanan dari stakeholdernya yang kemudian dengan terpaksa memeprhatikan isu lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat.
C. Kelompok Biru, adalah mereka yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif terhadap usahanya dan menilai CSR sebagai investasi, bukan biaya. Perusahaan yan termasuk kedalam kelompok ini melaksanakan CSR secara sukarela dan sungguh-sungguh.
dari masyarakat selalu siap membela keberlanjutan usaha keompok ini.23
Arus globaisasi telah memicu dinamika lingkungan usaha ke arah semakin liberal, sehingga mendorong setiap pembisnis melakukan perubahan pola usaha melalui penerapan nilai-nilai yang ada dalam prinsip Good Corporate Govermence (GCG). Berdasarkan pertimbangan nilai dan prinsip GCG, dalam rangka meningkatkan citra dan reputasi dan sebagai upaya untuk menunjang kesinambungan investasi, setiap pembisnis memerlukan tiga hal, yaitu :
1. Adil (fair) kepada seluruh stakeholder(tidak hanya kepada Shareholder).
2. Proaktif, berperan sebagai egent of change dalam pemberdayaan masyarakat didaerah operasi.
3. Efisien, berhati-hati dalam pengeluaran biaya yang sia-sia, terutama untuk penyleesaian masalah yang timbul dengan stakeholder fokus sekitar daerah operasi. 24
Berdasarkan sifatnya, pelaksanaan program CSR dapat dibagi dua, yaitu :
1. Program pengembangan masyarakat (Comunity Devleopment) 2. Program pengembangan hubungan atau relasi dengan publiknya
(Relations Development)25
Sasaran dari program CSR (CD dan RD) adalah : pemeberdayaan SDM lokal (pelajar, pemuda, dan mahasiswa), pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar daerah operasi, pembangunan faslitas sosial atau umum, pengembangan kesehatan masyarakat, dan sosial budaya.
23
Kadar Nurjaman& Khaerul Umam, Khaerul. 2012. Komunikasi dan Public Relations. Bandung. Pustaka Setia. Hal 129
24
Ibid hal 130
25
2.4 Teori Stakeholder
Perusahaan tidak hanya sekedar bertanggung jawab terhadap para pemilik (Shareholder) sebagaimana terjadi selama ini, namun bergeser menjadi lebih luas yaitu pada ranah sosial kemasyarakatan (stakeholder), selanjutnya disebut tanggung jawab social (Social responsibility). Fenomena seperti ini terjadi, karena adanya tuntutan dari masyarakat akibat negative externalities yang timbul serta ketimpangan social yang terjadi (Harahap, 2002) dalam buku Nor Hadi (2011,93). Untuk itu,tanggung jawab perusahaan yang semula hanya di ukur sebatas pada indicator ekonomi (economic focused) dalam laporan keuangan, kini harus bergeser dengan memperhitungkan factor-faktor social (social dimentions) terhadap stakeholder, baik internal maupun external.
Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun external yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi maupun dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh peruasahaan.
Dengan demikian, stakeholder merupakan pihak internal maupun external, seperti : pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya ), lembaga pemerhati lingkungan , para pekerja lingkungan perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat menpengaruhi dan dipengaruhi perusahaan.
Hummels (1998) dalam buku Nor Hadi (2011,94)
“…..…..(stakeholder are) individuals and group who have
prosess simply because they are affectet by the organization‟s practices,
policies and actions.”
Batasan stakeholder tersebut di atas mengisiaratkanbahwa perusahaan hendaknya memperhatikan stakeholder, karna mereka adalah pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung atas aktivitas serta kebijakan yang diambil dan dilakukan perusahaan. Jika perusahaan tidak memperhatikan stakeholder bukan tidak mungkin akan menuai protes dan dapat mengeliminasi legitimasi stakeholder.
Jones, Thomas dan Andrew (1999) dalam buku Nor Hadi (2011,94) menyatakan bahwa pada hakikatnya stakeholder theory mendasarkan diri pada asumsi, antara lain :
1. The corporation has relationship with many constituenty groups (stakeholder) that effect and are affected by its decisions (Freeman, 1984). 2. The theory is concerned with nature of these relationship in termsof both
processes and autcomes for the firm and its stskeholder.
3. The interest of all (legitimate) stakeholder have intrinsic value, and no set of interest is assumend to dominate the others (Clakson, 1995; Donaldson dan Preston 1995).
4. The theory focuses on managerial decisison making (Donaldson dan Preston 1995).
kerangka kebijakan danpengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu usaha dan jaminan going concern (Adam.C.H, 2002) dalam buku Nor Hadi (2011,95).
Esensi teori stakeholder tersebut di atas jika ditarik interkoneksi denagan teori legitimasi yang mengisyaratkan bahwa perusahaan hendaknya mengurangi expectation gap dengan masyarakat (pulik) sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengkuan) masyarakat, ternyata terdapat benang merah . Untuk itu,perusahaan hendaknya menjaga reputasinya yaitu dengan menggeser pola orientasi (tujuan) yang semula semata-mata di ukur dengan economicmeasurement yang cenderung shareholder orientation, kearah memperhitungkan factor social (social factors) sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan terhadap masalah social kemasyarakatan (stakeholder orientation).
2.5 Kerangka Teori
sekadar kegiatan yang sifatnya insidental, seperti pemberian bantuan untuk korban bencana dan bentuk sumbangan yang lainnya.
BUMN merupakan perusahaan yang sebagian atau sepenuhnya milik negara. Hal ini menjadikan BUMN menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan CSR. Bentuk perhatian BUMN terhadap csr di tunjukan dalam suatu peraturan kementrian BUMN dalam PER-05/MBU/2007 tanggal 27 April 2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Secara umum program PKBL dibagi dalam dua program besar yaitu Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. Program Kemitraan terkait dengan pengembangan ekonomi mikro. Sedangkan Program Bina Lingkungan meliputi bantuan untuk bencana alam, pendidikan/pelatihan, peningkatan kesehatan, prasarana/sarana umum, sarana ibadah dan pelestarian lingkungan.
yang menyatakan untuk BUMN tidak lagi menelola CSR atau pkbl menjadikan pertanyaan, seberapa besar kinerja CSR itu sendiri di dalam BUMN.
Gambar 2.1 kerangka teori
Sumber
Diambil dari Dwi Kartini
Dalam buku Coorporate Sosial Responsibility CSR
BUMN
Pemahaman tentang CSR
Indikator kinerja kunci dalam implementasi CSR 1. Leadership (kepemimpinan) 2. Proporsi Bantuan
3. Transparasi dan Akuntabilitas 4. Cakupan Wilayah
5. Perencanaan dan Mekanisme Monitoring dan Evaluasi 6. Pelibatan Stakeholder 7. Keberlanjutan (Sustainability) 8. Hasil Nyata (Outcome)
2.5 Operasional Variabel
Variabel Indikator Sub Indikator
CSR 1. Pemahaman CSR Sebagai sebuah faktor external yakni usaha untuk
berbasa- sebagai sebuah faktor internal untuk mengimplementasikan CSR menjunjjuka aspek sosial
semata.
CSR untuk perusahaan besar. CSR dipisahkan dari bisnis inti
b. Proporsi Bantuan
Perlu ada jaminan untuk melibatkan multistakeholder
h. Hasil Nyata (Outcome)
(Indikator Kinerja CSR, Prof. Dr. Dwi Kartini)
program dan hasil program pada diri masyarakat Adanya pilihan partner
program
Terdapat dokumentasi hasil yang menjukan berkurangnya parameter sesuai dengan bidang CSR yang dipilih perusahaan
Terjadi perubahan pola pikir perusahaan
Memberikan dampak ekonomi masyarakat yang dinamis Terjadi penguatan komunitas
terhadap program
Metode Kuantitatif Kuantitatif Kuantitatif
adminitrasi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Pengertian metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang artinya cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya. Sedangkan penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten.26
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metodelogi penelitian kuantitatif. Dimana riset kuantitatif menggambarkan atau menjelaskan suatu masalah yang hasilnya dapat digeneralisasikan.27 Dalam riset ini tidak terlalu mementingkan kedalaman data atau analisis. Periset hanya mementingkan keluasan data sehingga data dapat dianggap sebagai representasi dari seluruh populasi.
26
Rosady Ruslan. 2008. Metode Penelitian PR dan Komunikasi. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. Hal 24.
27
Rahmat Kriyantoro. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta. PT. Kharisma Putra Utama . Hal 57
Riset kuantitatif menuntut periset untuk bersikap obyektif dan memisahkan diri dari data. Artinya periset tidak boleh membuat batasan konsep maupun alat ukur data sekehandak dirinya sendiri. Riset harus obyektif dengan diuji terlebih dahulu apakah batasan konsep dan alat ukurnya sudah memenuhi prinsip reabilitas dan validitas.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dimana jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, factual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi/objek tertentu. Periset sudah mempunyai konsep kerangka konseptual melalui kerangka konseptual (landasan teori). Periset melakukan oprasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya. Riset ini untuk menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antara variabel.28
Sumardi suryabrata dalam metode penelitian mendefinisikan penelitian jenis deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian
28
yang bertujuan untuk menemukan hal-hal terebut dapat mencakup juga metode-metode desktiptif.29
Analisis deskriptif hanya memberikan gambaran mengenai objek penelitian yaitu tentang penelitian mengenai kinerja CSR pada BUMN di Provinsi Banten study pada seluruh BUMN di provinsi Banten”.
3.2 Teknik Penelitian
Berdasarkan pendekatan kuantitatif, maka dalam penelitian ini menggunakan teknik survei. Survei adalah teknik penelitian dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu.30
Dalam survei proses pengumpulan dan analisis data sosial bersifat sangat terstruktur dan mendetail melalui kuesioner sebagai instrumen utama untuk mendapatkan informasi dari sejumlah responden yang diasumsikan mewakili populasi secara spesifik
29
Sumardi Suryabrata. 2002. Metode penelitian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta . Hal 76
30
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
. 1. Kuesioner
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.31
Angket dalam penelitian ini berupa pertanyaan tertulis yang disebar kepada responden yaitu pegawai divisi humas pada BUMN di provinsi Banten. Angket tersebut merupakan data primer yang akan digunakan untuk menjawab masalah penelitian.
2. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu berupa pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen atau literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dokumentasi merupakan data sekunder yang bersifat tercetak yang bertujuan untuk melengkapi data tambahan penelitian.
31
3.4 Populasi dan Sample 3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber penelitian.32 Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai divisi program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) pada BUMN di provinsi Banten. Jika di total seluruh pegawai divisi PKBL di BUMN provinsi Banten sebesar 167 orang.
PT. Jiwasraya 4 orang PT. Pelabuhan Indonesia II 5 orang
PT. Pegadaian 3 orang PT. Taspen 2 orang
PT. PLN 3 orang PT. Biro Klasifikasi Indonesia 4 orang PT. POS Indonesia 3 orang PT. Angkasa Pura II 12 orang
PT. Telkom 5 orang PT. Jasamarga 6 orang
PT. Asabri 3 orang PT. Pertani 2 orang
PT. Askrindo 4 orang PT. Perkebunan Nusantara VIII
-
32
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti).33Sampel penelitian dari populasi yang diambil sebagian sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode proporsional cluster random sampling, dalam teknik ini, jumlah proporsi dalam tiap-tiap cluster dalam sampel ditentukan secara proporsional sesuai dengan besaranya dalam populasi.
Dalam menentukan sampel, penulis menggunakan pegawai pkbl aktif dari setiap BUMN yang ada di provinsi Banten yang berjumlah 167 orang dan kemudian ditarik menjadi sampel. Untuk menghitung ukuran sampel maka digunakan rumus Taro Yamane dengan presentasi 10% dengan tingkat kepercayaan 90%.Rumus Yamane ini digunakan untuk populasi yang besar yang didapat dari pandangan proporsi populasi. Rumus Yamane :
( )
Keterangan : n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi d = Presisi (Sampling Error)
Sehingga :
33
( )
= 62.54 = 62 orang
Dengan menggunakann presisi 10% dan besar populasi adalah 167 orang pemilih, maka diperoleh sampel responden sebanyak 62 orang pemilih. Selanjutnya untuk mendapatkan ukuran sampel secara proporsional dari setiap unit sampling (per BUMN), digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
N1 = Jumlah Sampel n1 = Jumlah Populasi n = Jumlah Responden N = Besar Populasi
Tabel 3.1
8,53 dibulatkan 9
21. PT.ASDP INDONESIAN FERRY