ANALISIS POLA PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY/

142  Download (0)

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus:Baitul Maal Wa TamwilSwadaya Pribumi PT Holcim Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

Oleh :

Utut Septi Asrianti

NRP: I34061244

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(2)

In general, this research aims to know and find out form of Corporate Social Responsibility (CSR) activities as a community development efforts in supporting the company’s success with the community environment. The specific objective is to (1) explains how to view the company policy which is based on tripple bottom line principe and describe the implementation of CSR as a community development efforts, (2) explain the level of participation depends on social class (3) explain the impact of CSR activities company that felt by the public. The method used in this study are qualitative and quantitative data. Sample taken as many as 45 respondents who represent the Kembang Kuning village community. Based on research results, as a whole can be explained that the CSR activies especially BMT Swadaya Pribumi is a good programme because depends on community participation. But there are several things can be suggested.

Keywords: Corporate Social Responsibility (CSR), community participation, community development

(3)

RINGKASAN

UTUT SEPTI ASRIANTI. Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Upaya Pengembangan Masyarakat. Studi Kasus Baitul Maal Wa Tamwil Swadaya Pribumi PT Holcim Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat(Di bawah bimbingan FREDIAN TONNY)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pelaksanaan CSR sebagai upaya pengembangan masyarakat dalam mendukung keberhasilan perusahaan dengan masyarakat disekitar lingkungannya. Adapun tujuan khususnya adalah (1) menjelaskan kebijakan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk yang berbasis prinsip triple bottom line(3P) dan menjelaskan pola pelaksanaan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk dalam implementasinya terkait pengembangan masyarakat, (2) menjelaskan tingkat partisipasi masyarakat CSR berdasarkan pelapisan sosial (3) menjelaskan dampak yang diperoleh masyarakat sekitar perusahaan dari pelaksanaan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk.

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Dimana metodenya yakni triangulasi dan survei. Sedangkan strategi kualitatif yang digunakan yakni studi kasus. Proses triangulasi terdiri dari pengamatan berperan serta, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen. Penelitian dilakukan di tiga lokasi yakni PT Holcim Indonesia Tbk, BMT Swadaya Pribumi, dan Desa Kembang Kuning. Penelitian secara keseluruhan dilakukan sejak awal April 2010 hingga akhir Mei 2010.

Subjek tineliti terdiri dari informan dan responden. Dalam hal ini informan adalah pihak perusahaan, pihak BMT, dan nasabah BMT. Teknik yang digunakan adalah teknik “bola salju” (snowball sampling). Sedangkan untuk pemilihan responden digunakan stratified random sampling. Hal ini dilakukan untuk membuat homogen suatu masyarakat yang bersifat heterogen dengan membaginya ke dalam lapisan tertentu tertentu. Sampel yang diambil yakni 45 responden.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari subjek tineliti yang terdiri dari informan dan responden melalui wawancara mendalam dan pengamatan terkait tanggung jawab sosial perusahaan PT Holcim Indonesia Tbk. Data skunder didapatkan dari dokumen-dokumen perusahaan terkait profil perusahaan, struktur organisasi, kebijakan, pilar CSR, program-program CSR. Sedangkan wawancara responden dilakukan dengan alat bantu kuisioner.

Data yang terkumpul kemudian diolah. Pengolahan data kualitatif dengan teknik dan analisis data yang dilakukan yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan data kuantitatif, diolah dengan proses editing, coding, scoring, entry, cleaning, dan analisis data dengan menggunakan Microsoft Excel dan SPSS 15 for Windows. Kemudian dilakukan tabulasi silang untuk menjelaskan hubungan kausal dan uji somers’d dengan alfa 5 persen.

Hasil penelitian menunjukan bahwa kebijakan PT Holcim Indonesia Tbk berbasis pada triple bottom line. Motivasi pelaksanaan BMT Swadaya Pribumi yang merupakan CSR dari PT Holcim Indonesia Tbk bersifat pilantropi hingga

(4)

corporate citizenship. Cara pandang perusahaan yakni internal driven, dimana hal ini dapat dilihat dari perencanaan hingga kini. Sedangkan stakeholders yang terlibat yakni internal dan eksternal. Mekanisme pelaksanaan yakni partisipatif dimana seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama. Model penyaluran yakni kombinasi antara bekerja sama dengan institusi lainnya dan bersama membangun lembaga tertentu.

Penelitian yang dilakukan yakni membandingkan antara komunitas yang ikut dalam CSR BMT Swadaya Pribumi dan komunitas yang tidak terkena dampak CSR BMT Swadaya Pribumi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat partisipasi berada pada tahapan konsultasi hingga kontrol masyarakat. Hal ini terlihat juga pada setiap pelapisan sosial dari komunitas yang terkena dampak CSR dan tidak terkena dampak CSR. Selain itu berdasarkan pada tingkat pelapisan sosial dan tangga partisipasi maka dapat dilihat dampak yang terjadi dengan adanya CSR. Dampak ini diukur berdasarkan perbedaan antara komunitas yang ikut dalam CSR dan tidak ikut dalam CSR. Hasil penelitian menunjukan dampak yang signifikan terjadi adalah pada dampak ekonomi di seluruh lapisan sosial. Sedangkan untuk dampak sosial, lapisan sosial bawah belum mengalami dampak yang signifikan.

Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan saran, yaitu: 1) Sebaiknya kegiatan CSR dalam hal ini BMT Swadaya Pribumi memperbaiki dan meningkatkan sistemnya dengan mempertimbangkan perbedaan lapisan sosial yang ada di masyarakat. Sehingga terbentuk upaya pemberdayaan di seluruh lapisan sosial. 2) Perlu adanya sosialisasi yang lebih besar dalam penyelenggaraan kegiatan CSR perusahan sehingga masyarakat luas lebih mengetahui dan merasakan manfaatnya. 3) Sebaiknya diadakan suatu kegiatan yang dapat menjangkau dan mendorong seluruh lapisan sosial dalam meningkatkan kesejahteraannya bersama-sama. 4) Monitoring dan evaluasi sebaiknya dilakukan juga oleh para nasabah BMT Swadaya Pribumi dari seluruh lapisan sosial dan masyarakat umum melalui suatu acara temu wacana seluruh pihak terkait.

(5)

ANALISIS POLA PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY/ CSR) DALAM

UPAYA PENGEMBANGAN MASYARAKAT

(Studi Kasus: Baitul Maal Wa TamwilSwadaya Pribumi PT Holcim Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor,

Provinsi Jawa Barat)

Oleh:

UTUT SEPTI ASRIANTI I34061244

Skripsi

Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

Judul Studi : Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Resposibility/CSR) dalam Upaya Pengembangan Masyarakat

(Studi Kasus: Baitul Maal Wa Tamwil Swadaya Pribumi PT Holcim Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawab Barat)

Nama Mahasiswa :Utut Septi Asrianti Nomor Mahasiswa : I34061244

Major : Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS. NIP. 19580214 198503 1 004

Mengetahui,

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Ketua

Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003

(7)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS POLA PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) DALAM UPAYA PENGEMBANGAN MASYARAKAT” BELUM PERNAH DIAJUKAN DAN DITULIS PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI

MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK

MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK/ LEMBAGA LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Juni 2010

Utut Septi Asrianti I34061244

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Utut Septi Asrianti yang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 September 1988. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara, berasal dari pasangan H. Asrohandi dan Tuti Rusmiati. Penulis memiliki tiga kakak perempuan yang bernama Iin Diastuti, Fika Dwianti, dan Evi Triastuti. Semenjak kecil, sekolah, dan sampai saat ini penulis tinggal di kawasan Depok-Jawa Barat. Penulis juga menamatkan pendidikannya di TK Wisanggeni tahun 1994, SDN Anyelir 1 Depok tahun 2000, SLTP Negeri 2 Depok 2003, dan SMA Negeri 3 Depok tahun 2006. Setelah itu pada Juli 2006 diterima di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Selama mengikuti pendidikan formal, penulis pernah mengikuti berbagai macam organisasi, kepanitiaan, seminar, kursus bahasa asing dan berbagai perlombaan baik tingkat Sekolah dan Perguruan Tinggi. Adapun kursus bahasa Asing yang penulis pernah ikuti yakni BBC dan Lembaga Indonesia Amerika (LIA). Semasa sekolah penulis aktif dalam pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Selain itu semasa sekolah penulis pernah menjadi juara 3 juara baca puisi tingkat SMA se Jabodetabek. Selama masa kuliah, beberapa kegiatan yang pernah diikuti oleh penulis yakni asisten Dosen Mata Kuliah Komunikasi Bisnis, IAAS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences) LC-IPB Sebagai Divisi Eksternal, DPM FEMA (Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia) sebagai divisi Eksternal, HIMASIERA (Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) sebagai Divisi Jurnalistik. Moderator dalam Bukti Cinta Lingkungan oleh BEM FEMA 2009, Moderator dalam acara Be Good Journalist (BONJOUR) 2008 dan 2009, Moderator dalam Acara Seminar Kupas Tuntas Herbal oleh Eko Agrifarma 2009, Divisi Humas Danus Indonesian Ecology Expo (INDEX) 2009, Divisi Humas dalam acara Film and Journalistic Festival in Harmony 2009, Sie. Acara dalam Konfrensi IAAS IPB 2008, Divisi Tata Tertib dalam MPF FEMA (Masa Perkenalan Fakultas Ekologi Manusia) 2008, Bendahara dalam MPD KPM

(9)

(Masa Perkenal Departemen KPM) 2008, Ketua KPR FEMA (Komisi Pemilihan Raya Fakultas Ekologi Manusia) 2008, sie, Acara dalam Speech Contest IAAS 2007, sie. Humas dalam Acara International Education Expo 2007. Juara II Penyaji Terbaik Tingkat Nasional Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional (PIMNAS XXI) 2008, pembicara dalam masa perkenalan Departemen Sains KPM 2009, Pembicara dalam masa perkenal Fakultas Ekologi Manusia 2008, peserta dalam seminar “ Grand Launcihing Leadership and Entrepreneurship School” 2008. Peserta dalam seminar “ Topic Citizen Journalist” ANTV 2008, Peserta dalam Building on Success IAAS 2008, Finalis lomba baca puisi dalam “Cool and Keen in Art IPB Contest” 2007, finalis lomba jurnalistik presenter dalam Jurnalistic Fair 2007 dan Peserta dalam dialog Nasional Peduli Pendidikan “Towards World Class University” 2007.

(10)

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, kasih sayang, karunia, ridho, dan kenikmatan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) dalam Upaya Pengembangan Masyarakat” (Studi Kasus Baitul Maal Wa Tamwil PT Holcim Indonesia Tbk di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) di bawah Bimbingan Ir. Fredian Tonny, MS.

Penulisan skripsi ini merupakan syarat kelulusan mata kuliah KPM 499.

Skripsi ini merupakan suatu karya ilmiah yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Melalui skripsi ini, penulis mencoba untuk mengetahui pola pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan PT. Holcim Indonesia Tbk khususnya pada program community development yang dijalankan perusahaan dan manfaatnya bagi masyarakat sekitar.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen Pembimbing, serta pihak-pihak yang membantu Penulis, baik langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan penulisan skripsi. Demikian skripsi ini penulis sampaikan semoga bermanfaat.

Bogor, Juni 2010

(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi dengan judul “Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Resposibility/CSR) dalam upaya pengembangan masyarakat (studi kasus: Baitul

Maal Wa Tamwil Swadaya Pribumi PT Holcim Indonesia di Desa Kembang

Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)” ini berhasil diselesaikan.

Dalam penulisan skripsi ini penulis telah memperoleh bantuan, dorongan, semangat dan dukungan dari beberapa pihak baik secara langsung atau secara tidak langsung sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik, karena tanpa bantuan dan dukungan dari mereka, mungkin penulisan studi pustaka ini tidak akan terselesaikan.

1. Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS, atas kesabarannya membimbing, berdiskusi, dan memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

2. Keluarga tersayang, Bapak, Mama, dan tiga Kakak Perempuan tercinta serta abang Alfi yang tiada henti memberikan kasih sayang, doa, dukungan dan semangat kepada penulis.

3. Ibu Yatri Kusumastuti, Koordinator Dosen Komunikasi Bisnis. Terima kasih ibu atas kasih sayangnya dan memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menjadi asisten dosen selama 1 tahun.

4. Dr. Satyawan Sunito, selaku pembimbing akademik selama penulis menjadi mahasiswa Sains KPM.

5. Ibu Nuraeni W Prasodjo, MS dan bapak Dwi Sadono, Msi selaku dosen penguji dalam sidang penulis. Terima kasih atas masukannya dan bimbingannya.

6. Pihak Community Relation PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong, Bapak Dharmawan Reksodiputro selaku manajer, bapak Sazili yang telah membimbing dan menjadi tentor penulis selama penelitian, bapak Ary Wahyu, dan Bapak Yitno. Terima kasih penulis ucapkan atas bantuan, dukungan,

(12)

kebaikan, dan bimbingan kepada penulis selama melakukan proses penelitian di PT Holcim Indonesia Tbk.

7. Kepada pihak BMT Swadaya Pribumi, bapak Sulaeman dan pengelola. Terima kasih atas kesediaannya, dukungannya, dan doanya bagi penulis.

8. Seluruh masyarakat desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor yang telah bersedia menjadi responden dan informan bagi penulis. Terima kasih atas kebaikan hati dan perhatiannya kepada penulis. 9. Sahabat-sahabatku tercinta, Amel, Ayu, Nadra, Rani dan Arif yang selalu

berbagi cerita, berbagi informasi, canda dan tawa serta masukan dan motivasi kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.

10. Sahabat dan keluarga di kost tazkia tercinta, ka yani, ka wilna, riri, anya, ajan, dan lainnya terima kasih atas kasih sayangnya kepada penulis selama ini. 11. Seluruh keluarga KPM 43 atas perhatian, kasih sayang dan kebersamaannya

sampai saat ini. Semoga kita semua sukses di masa depan.

12. Seluruh Dosen KPM IPB, terima kasih telah memberikan ilmunya, dukungan dan perhatian nya kepada penulis.

13. Mba Maria, Mba Ica, dan seluruh staf KPM yang telah banyak membantu penulis dalam mengurus administrasi selama masa perkuliahan.

14. Serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Terima kasih semua, semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmat dan karunia Nya kepada kita semua. Amiin.

Bogor, Juni 2010

(13)

DAFTAR ISI

halaman

DAFTAR ISI……… viii

DAFTAR TABEL……… xi

DAFTAR GAMBAR………... xii

DAFTAR LAMPIRAN………... xiii

BAB I PENDAHULUAN……… 1

1.1 Latar Belakang………... 1

1.2 Perumusan Masalah………... 3

1.3 Tujuan Penelitian………... 5

1.4 Kegunaan Penelitian……….. 5

BAB II PENDEKATAN KONSEPTUAL………. 6

2.1 Tinjauan Pustaka……… 6

2.1.1 Pengembangan Masyarakat………. 6

2.1.1.1 Pengertian Pengembangan Masyarakat.. 6

2.1.1.2 Model Pengembangan Masyarakat……. 7

2.1.1.3 Asas dan Prinsip Pengembangan Masyarakat………. 8 2.1.1.4 Peran Serta Masyarakat……….. 15

2.1.2 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/ CSR……… 16

2.1.2.1 Definisi dan Konsep CSR……….. 16

2.1.2.2 Motivasi dan Bentuk Penyaluran CSR... 21

2.1.2.3 Pihak-Pihak Terkait dalam CSR………. 25

2.1.2.4 Cara Pandang dan Implementasi CSR… 27 2.1.2.5 Hubungan Pengembangan Masyarakat dan CSR………. 30 2.2 Kerangka Pemikiran……….. 35 2.3 Hipotesis Pengarah……… 36 2.4 Hipotesis Uji……….. 36 2.5 Definisi Konseptual………... 36 2.6 Definisi Operasional……….. 38

BAB III METODE PENELITIAN……… 40

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……… 40

3.2 Pendekatan Penelitian……… 40

3.3 Teknik Pemilihan Informan dan Responden………. 41

3.4 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data……… 42

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data……….. 43

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI………. 45

4.1 PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong……… 45

4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan……….. 45

4.1.2 Visi dan Misi………. 46

4.1.3 SDM dan Struktur Organisasi………... 47

(14)

4.2 BMT Swadaya Pribumi………. 50

4.2.1 Sejarah Singkat BMT……… 50

4.2.2 Visi dan Misi BMT……… 51

4.2.3 Struktur Organisasi……… 52

4.2.4 Produk Pembiayaan………... 52

4.2.5 Produk Simpanan……….. 54

4.2.6 Persyaratan……… 55

4.3 Ikhtisar……….. 56

BAB V KEBIJAKAN CSR BERBASIS TRIPLE BOTTOM LINE DAN POLA PELAKSANAAN CSR PT HOLCIM INDONESIA 57 5.1 kebijakan PT Holcim berbasis 3P………. 57

5.1.1 Enam pilar kebijakan CSR PT Holcim Indonesia. 60 5.1.2 BMT Swadaya Pribumi………. 62

5.1.3 Konsep, Area, dan Fokus CSR Holcim………… 64

5.2 Pola Pelaksanaan CSR………... 65 5.2.1 Motivasi………. 66 5.2.2 Cara Pandang………. 67 5.2.3 Pemangku Kepentingan………. 68 5.2.4 Mekanisme Pelaksanaan……… 69 5.2.5 Model Penyaluran……….. 70 5.3 Ikhtisar………... 74

BAB VI TINGKAT PARTISIPASI DADN DAMPAK EKONOMI-SOSIAL CSR BERDASAR PELAPISAN SOSIAL……… 75 6.1 Karakteristik Komunitas CSR dan Komunitas Bukan CSR……….. 75

6.1.1 Jenis Kelamin……… 75

6.1.2 Pekerjaan………... 75

6.1.3 Pendidikan………. 76

6.1.4 Pendapatan………. 77

6.2 Tingkat Partisipasi Masyarakat……….. 77

6.2.1 Tingkat Partisipasi Masyarakat yang Terkena Dampak CSR dan Tidak Terkena Dampak CSR……... 78 6.2.2 Tingkat Partisipasi Masyarakat Berdasarkan Lapisan Sosial………. 80 6.2.2.1 Tipe Manipulatif………. 82 6.2.2.2 Tipe Terapi………. 83 6.2.2.3 Tipe Pemberitahuan……….... 84 6.2.2.4 Tipe Konsultasi………... 85 6.2.2.5 Tipe Penentraman ………. 86 6.2.2.6 tipe Kemitraan……….... 87

6.2.2.7 Tipe Pendelegasian Kekuasaan…………. 88

6.2.2.8 Tipe Kontrol Masyarakat………... 89

6.3 Dampak Bagi Masyarakat………... 90

6.3.1 Dampak Ekonomi……….. 90

6.3.2 Dampak Sosial………... 91

6.4 Ikhtisar………... 92

(15)

SOSIAL PERUSAHAAN DALAM UPAYA PENGEMBANGAN MASYARAKAT………..

BAB VIII PENUTUP………. 97

8.1 Kesimpulan……… 97

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Tiga Model Pengembangan Masyarakat………... 8

Tabel 2. Tangga Partisipasi Masyarakat………. 15

Tabel 3. Karakterisasi Tahap-Tahap Kedermawanan Sosial Perusahaan………

25 Tabel 4. Jumlah Dana CSR PT Holcim Indonesia Tbk …………. 49

Tabel 5. Proses Persiapan Pelaksanaan BMT………. 52

Tabel 6. Fokus dan Cakupan Area CSR………. 65

Tabel 7. Persentase Komunitas Dampak CSR Berdasarkan Jenis Kelamin………..

75 Tabel 8. Persentase Komunitas Bukan Dampak CSR Berdasarkan

Jenis Kelamin………

75 Tabel 9. Persentase Komunitas Dampak CSR Berdasarkan

Pekerjaan……... 76 Tabel 10. Persentase Komunitas Bukan Dampak CSR Berdasarkan

Pekerjaan………...

76 Tabel 11. Persentase Komunitas Dampak CSR Berdasarkan

Pendidikan……...

76 Tabel 12. Persentase Komunitas Bukan Dampak CSR Berdasarkan

Pendidikan……….

77 Tabel 13. Persentase Komunitas Dampak CSR Berdasarkan

Pendapatan……...

77 Tabel 14. Persentase Komunitas Bukan Dampak CSR Berdasarkan

Pendapatan………. 77

Tabel 15. Tingkat Partisipasi Masyarakat……….. 80

Tabel 16. Persentase Variabel Ekonomi Pada Komunitas Dampak

CSR……... 90 Tabel 17. Persentase Variabel Ekonomi Pada Komunitas Bukan

CSR………....

91 Tabel 18. Persentase Dampak Ekonomi ………... 91 Tabel 19. Persentase Variabel Sosial Pada Komunitas CSR………. 92 Tabel 20. Persentase Variabel Sosial Pada Komunitas Bukan CSR.. 92

(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran Analisis Pola

Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Upaya Pengembangan Masyarakat………...

36

Gambar 2 Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong……….

51

Gambar 3 Struktur Organisasi BMT………. 53

Gambar 4 Tingkat Partisipasi Masyarakat……… 78

Gambar 5 Tingkat Partisipasi Masyarakat yang Terkena Dampak

CSR... 79 Gambar 6 Tingkat Partisipasi Masyarakat yang Tidak Terkena

Dampak CSR………...

80 Gambar 7 Tingkat Partisipasi Masyarakat Dampak CSR Berdasarkan

Lapisan Sosial………...

81 Gambar 8 Tingkat Partisipasi Masyarakat Bukan Dampak CSR

Berdasarkan Lapisan Sosial……….. 81

Gambar 9 Tipe Manipulatif Pada Komunitas Dampak CSR………… 82

Gambar 10 Tipe Manipulatif Pada Komunitas Bukan Dampak CSR… 83 Gambar 11 Tipe Terapi Pada Komunitas Dampak CSR………... 83 Gambar 12 Tipe Terapi Pada Komunitas Bukan Dampak CSR……... 84 Gambar 13 Tipe Pemberitahuan Pada Komunitas Dampak CSR……... 84 Gambar 14 Tipe Pemberitahuan Pada Komunitas Bukan Dampak CSR 85 Gambar 15 Tipe Konsultasi Pada Komunitas Dampak CSR………... 85 Gambar 16 Tipe Konsultasi Pada Komunitas Bukan Dampak CSR…... 86 Gambar 17 Tipe Penentraman Pada Komunitas Dampak CSR……….. 86 Gambar 18 Tipe Penentraman Pada Komunitas Bukan Dampak CSR.. 87 Gambar 19 Tipe Kemitraan Pada Komunitas Dampak CSR………... 87 Gambar 20 Tipe Kemitraan Pada Komunitas Bukan Dampak CSR….. 88 Gambar 21 Tipe Pendelegasian Kekuasaan Pada Komunitas Dampak

CSR………. 88

Gambar 22 Tipe Pendelegasian Kekuasaan Pada Komunitas Bukan Dampak CSR………....

89 Gambar 23 Tipe Kontrol Masyarakat Pada Komunitas Dampak CSR... 89 Gambar 24 Tipe Kontrol Masyarakat Pada Komunitas Bukan

Dampak CSR………...

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1 Dokumentasi………. 103

Lampiran 2 Panduan Pertanyaan Untuk Wawancara

Mendalam…... 105

Lampiran 3 Matriks Alokasi Waktu Penelitian………. 110

Hasil Pengolahan Data Statistik Tingkat Partisipasi…. 111 Lampiran 4 Matriks Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis

Data...

115

(19)

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang memiliki keanekaragaman dalam hal adat istiadat, bahasa, kepercayaan, norma, dan nilai budaya lainnya. Tidak hanya dalam hal budaya, keanekaragaman di Indonesia juga terlihat pada perbedaan potensi yang dimiliki setiap wilayah, struktur sosial masyarakat, dan tingkat perekonomian serta kesejahteraan masyarakat antar suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut dapat menjadi suatu kekayaan bagi bangsa Indonesia, namun juga dapat menjadi hambatan bagi perkembangan bangsa jika tidak diatur dengan sebaik mungkin. Oleh karenanya dibutuhkan adanya kerjasama yang baik dan saling mendukung serta menguntungkan antara seluruh stakeholderterkait seperti masyarakat, pemerintah dan swasta.

Pihak swasta atau perusahaan memiliki peranan dalam mengembangkan potensi suatu wilayah atau masyarakat. Namun pada kenyataanya, tidak bisa dipungkiri bahwa masih terdapat perusahaan yang tidak bertanggung jawab, baik terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan perusahaan tersebut. Kerugian yang dapat dialami masyarakat tersebut diantaranya adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pemiskinan, marginalisasi kelompok-kelompok yang rentan, punahnya habitat dan berbagai spesies hingga menipisnya lapisan ozon (Sukada, 2006). Pada akhirnya kerugian ini akan berdampak pula pada perusahaan tersebut, dimana akan terjadi hambatan pada stabilitas dan keberlangsungan perusahaan.

Perubahan zaman setiap waktunya memberikan pengaruh bagi kebijakan perusahaan terutama dalam hubungannya dengan masyarakat. Era keterbukaan ini menuntut perusahaan untuk lebih dapat mempertanggungjawabkan usahanya kepada publik. Sehingga beberapa perusahaan terutama perusahaan multinasional berlomba untuk menarik simpati masyarakat melalui tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility). Terdapat perusahaan yang telah sadar akan tanggung jawabnya, namun masih ada juga perusahaan yang

(20)

beranggapan bahwa ini adalah beban bagi mereka dan merupakan kewajiban pemerintah saja.

Menurut Gaza Trevino (2001) dalam Responsbilidad Socialy Etica mengakui perlu adanya tanggung jawab sosial dan etis1. Tanggung jawab sosial sebagai usaha optimal tiap perusahaan untuk menghasilkan kegunaan, bahkan keuntungan bagi dirinya. Sebaliknya, bila merugi, ia akan menjadi beban bagi masyarakat dan negara. Namun pada implementasinya tanggung jawab sosial ini masih belum sesuai dengan kaidah seharusnya. Masih terdapat perusahaan yang mengatasnamakan tanggung jawab sosial namun untuk kepentingan formalitas saja dimana tanggung jawab sosial merupakan sekedar fungsi kehumasan, citra perusahaan dan reputasi atau kepentingan perusahaan untuk meningkatkan nilai saham di bursa. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan ketidakefektifan pada pola pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan dan kepercayaan masyarakat kepada perusahaan.

Keefektifan ini hendaknya ditinjau dari motivasi perusahaan dalam melaksanaan tanggung jawab sosialnya. Motivasi perusahaan akan berdampak pada visi, misi perusahaan dan strategi yang akan dibuat dalam pola pelaksanaan tanggung jawab sosial ini (Corporate Social Responsibility). Beragam bentuk pola pelaksanaan tanggung jawab sosial antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya akan dapat dilihat dari sejauh mana terjadi peningkatan dalam masyarakat baik dalam kehidupan sosial, kondisi lingkungan, tingkat pendidikan serta aksi pemberdayaan lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu penelitian lebih lanjut mengenai analisis pola pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang dapat memberikan keuntungan bagi seluruh pihak terkait baik internal dan eksternal.

PT Holcim Indonesia Tbk adalah salah satu perusahaan semen yang terbesar di Indonesia. PT Holcim Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik Indonesia dengan mayoritas saham sebesar 77,3 persen dimiliki dan diawasi oleh Holderfin BV Ltd, anak perusahaan dari Grup Holcim. Grup Holcim sendiri merupakan produsen semen, agregat dan beton siap pakai terkemuka di dunia

1Robert Bala.2007.Tanggung Jawab Sosial dan Etis.www.csrindonesia.com. CSR Indonesia Newsletter Vol.

(21)

yang berkantor pusat di Swiss. Komitmen PT Holcim Indonesia Tbk pada profesionalisme dan tanggung jawab sosial perusahaan terbukti pada salah satu program CSR yang dilaksanakan pada bidang peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yakni Baitul Maal Wa Tamwil Swadaya Pribumi yang berlokasi di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Baitul Maal Wa Tamwil Swadaya Pribumi merupakan lembaga keuangan mikro yang didirikan sejak 9 Juni 2006 melalui kerjasama dari pihak PT Holcim Indonesia Tbk, para tokoh masyarakat, pemerintah setempat dan masyarakat di Kecamatan Klapanunggal. Hal yang akan menjadi pertanyaan secara garis besar dari penjelasan di atas yakni bagaimana implementasi CSR yang berbasis pada pengembangan masyarakat dalam mendukung keberhasilan perusahaan dan masyarakat di sekitarnya.

1.2 Perumusan Masalah

Istilah Triple Bottom Line dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya “Cannibals with Forks, The Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”. Melalui buku tersebut, Elkington memberi pandangan bahwa perusahaan yang ingin berkelanjutan haruslah memperhatikan 3P (People, Planet, dan Profit). Selain mengejar profit, perusahaan juga memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Namun, hingga saat ini masih terdapat perbedaan pandangan dan keraguan mengenai konsep serta pola pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Hal ini terkait dengan motivasi, kebijakan, dan implementasi dari kegiatan tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Pada sebagian kalangan, CSR masih dianggap sebagai kegiatan charity atau kedermawanan sosial perusahaan tanpa adanya sifat keberlanjutan dan pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, dapat dirumuskan bahwa: apakah kebijakan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk telah berbasis prinsip tripple bottom line dan bagaimana pola pelaksanaan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk dalam implementasinya terkait pengembangan masyarakat? Pelaksanaan CSR tidak terlepas dari tingkat partisipasi masyarakat dalam proses

(22)

pelaksanaannya. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk melihat upaya yang dilakukan perusahaan terhadap masyarakat di sekitarnya yang bersifat heterogen. Apakah ada perbedaan penerimaan antara masyarakat yang beragam ini terhadap kegiatan CSR yang dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, maka: bagaimana tingkata partisipasi masyarakat dalam kegiatan CSR menurut pelapisan sosial? Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR melibatkan beberapa stakeholder terkait. Dimana kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan pihak perusahaan, melainkan juga pemerintah, komunitas ataupun masyarakat secara umum. Dalam pola pelaksanaan CSR hendaknya didasarkan pada prinsip pengembangan masyarakat. Sehingga pelaksanaan ini tidak hanya sebagai kegiatan kedermawanan sosial demi pembangungan image perusahaan belaka, melainkan memberikan input dan output yang baik serta bermanfaat bagi perusahaan dan masyarakat yang berkelanjutan. Sehingga dapat dilihat bahwa: bagaimana dampak ekonomi dan sosial CSR terhadap masyarakat berdasarkan pelapisan sosial?. Peranan masyarakat sekitar bagi pelaksanaan operasional suatu perusahaan memberikan pengaruh yang cukup besar. Oleh karenanya dibutuhkan adanya kerjasama yang baik antara masyarakat dan perusahaan bagi kesejahteraan bersama. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi masyarakat yang heterogen akan memberikan input dan output yang berbeda dalam setiap program yang dilaksanakan. Oleh karena itu: bagaimana hubungan antara tingkat partisipasi, dampak ekonomi dan sosial CSR menurut pelapisan sosial?

(23)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini yaitu untuk menggambarkan bagaimana implementasi CSR yang berbasis pada pengembangan masyarakat dalam mendukung keberhasilan perusahaan dan masyarakat di sekitarnya. Adapun tujuan utama tersebut dapat dijawab melalui tujuan-tujuan khusus penelitian yakni untuk mengetahui dan menjelaskan:

1. Kebijakan tanggung jawab sosial PT Holcim Indonesia Tbk yang berbasis prinsip triple bottom line (3P) dan pola pelaksanaannya dalam implementasinya terkait pengembangan masyarakat.

2. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan CSR menurut pelapisan sosial.

3. Dampak sosial dan ekonomi CSR terhadap masyarakat berdasarkan pelapisan sosial.

4. Tingkat partisipasi dan dampak ekonomi serta sosial CSR menurut pelapisan sosial.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para pihak yang berminat maupun yang terkait dengan masalah CSR, khususnya kepada:

1. Peneliti yang ingin mengkaji lebih jauh mengenai CSR dalam rangka pengembangan masyarakat.

2. Kalangan akademisi, dapat menambah literatur dalam mengkaji CSR. 3. Kalangan non akademisi, pemerintah, dan swasta dapat bermanfaat

sebagai sebuah bahan pertimbangan dalam penerapan CSR yang berbasiskan pengembangan masyarakat.

(24)

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengembangan Masyarakat

2.1.1.1 Pengertian Pengembangan Masyarakat

Sebagaimana asal katanya, pengembangan masyarakat terdiri dari dua konsep yaitu “pengembangan” dan “masyarakat”. Secara singkat, pengembangan merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya. Sementara masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu (Mayo, 1998: 162 dalam Suharto, 2005): pertama, masyarakat sebagai sebuah “tempat bersama” yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau kampung di wilayah desa. Kedua, masyarakat sebagai “kepentingan bersama” yakni kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas.

Menurut Johnson (1984) dalam Suharto (2005), pengembangan masyarakat merupakan spesialisasi atau setting praktek pekerjaan sosial yang bersifat makro. Secara singkat, pengembangan masyarakat memiliki tempat khusus dalam khazanah pendekatan pekerjaan sosial, meskipun belum dapat dikategorikan secara tegas sebagai satu-satunya metode milik pekerjaan sosial (Mayo, 1998 dalam Suharto, 2005). Dalam diskursus akademis pekerjaan sosial, pengembangan masyarakat lebih dikenal sebagai Community Organization atau Community Development (Gilbert dan Specht, 1981 dalam Suharto, 2005) atau bimbingan sosial masyarakat (Soetarso, 1991dalam Suharto, 2005). Di Australia, Inggris dan beberapa negara Eropa, pengembangan masyarakat disebut sebagai pekerjaan kemasyarakatan (community work), penyembuhan sosial (social treatment), perawatan sosial (social care) atau perawatan masyarakat (community care) (Twelvetrees, 1993: Payne, 1986 dalam Suharto, 2005). Pengembangan Masyarakat dapat didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya

(25)

terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya (AMA, 1993 dalam Suharto 2005).

2.1.1.2 Model Pengembangan Masyarakat

Jack Rothman dalam klasiknya yang terkenal, Three Models of

Community Organization Practice (1968) dalam Suharto (2005),

mengembangkan tiga model yang berguna dalam memahami konsepsi tentang Pengembangan Masyarakat: (1) pengembangan Masyarakat lokal (locality development), (2) perencanaan sosial, dan (3) aksi sosial. Paradigma ini merupakan format ideal yang dikembangkan terutama untuk tujuan analisis dan konseptualisasi.

Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Anggota masyarakat dipandang bukan sebagai sistem klien yang bermasalah melainkan sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi. Pengembangan masyarakat lokal pada dasarnya merupakan proses interaksi antara anggota masyarakat setempat yang difasilitasi oleh pekerja sosial. Pekerja sosial membantu meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. Pengembangan masyarakat lokal lebih berorientasi pada “tujuan proses” (process goal) daripada tujuan tugas atau tujuan hasil (task or product goal). Setiap anggota masyarakat bertanggung jawab untuk menentukan tujuan dan memilih strategi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Pengembangan kepemimpinan lokal, peningkatan strategi kemandirian, peningkatan informasi, komunikasi, relasi, dan keterlibatan anggota masyarakat merupakan inti dari proses pengembangan masyarakat lokal yang bernuansa bottom-up. Model pengembangan masyarakat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(26)

Tabel 1. Tiga Model Pengembangan Masyarakat

Parameter Pengembangan

Masyarakat Lokal Perencanaan Sosial Aksi Sosial

Orientasi tujuan Kemandirian, integrasi dan kemampuan masyarakat (tujuan proses)

Pemecahan masalah social yang ada di masyarakat (tujuan tugas/hasil)

Perubahan struktur kekuasaan proses, lembaga dan sumber (tujuan proses &tugas) Asumsi mengenai

struktur masyarakat dan kondisi masalah

Keseimbangan, kurang kemampuan dalam relasi dan pemecahan masalah

Masalah sosial nyata: kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja Ketidakadilan, kesengsaraan, ketidakmerataan, ketidaksetaraan Asumsi mengenai kepentingan masyarakat Kepentingan umum atau perbedaan-perbedaan yang dapat diselaraskan

Kepentingan yang dapat diselaraskan atau konflik kepentingan

Konflik kepentingan yang tidak dapat diselaraskan: ketiadaan sumber Konsepsi mengenai

kepentingan umum Rationalist-unitary Idealist-unitary Realist-individualist Orientasi terhadap struktur kekuasaan Struktur kekuasaan sebagai kolaborator, perwakilan Struktur kekuasaan sebagai pekerja dan sponsor

Struktur kekuasaan sebagai sasaran aksi, dominasi elit kekuasaan harus dihilangkan Sistem klien atau

sistem perubahan Masyarakat secara keseluruhan Seluruh atau sekelompok

masyarakat termasuk masyarakat fungsional

Sebagian atau sekelompok anggota masyarakat tertentu Konsepsi mengenai

klien atau penerima pelayanan

Warga masyarakat

atau negara Konsumen Korban

Peranan masyarakat Partisipan dalam proses pemecahan masalah

Konsumen atau

penerima pelayanan Pelaku, elemen, anggota Peranan pekerja social Pemungkin,

koordinator, pembimbing

Peneliti, analis, fasilitator,

pelaksanaan program

Aktivis, advokasi: agitator, broker, negotiator

Media perubahan Mobilisasi

kelompok-kelompok kecil Mobilisasi organisasi formal Mobilisasi organisasi massa dan politik Strategi perubahan Pelibatan masyarakat

dalam pemecahan masalah

Penentuan masalah dan keputusan melalui tindakan rasional para ahli

Katalis dan pengorganisasi masyarakat untuk mengubah struktur kekuasaan

Teknik perubahan konsensus dan diskusi kelompok, partisipasi, brain storming, role playing, bimbingan dan penyuluhan

Advokasi, andragogy, perumusan kebijakan, perencanaan program

Konflik atau unjuk rasa, konfrontasi atau tindakan langsung, mobilisasi massa, analisis kekuasaan, mediasi, agitasi, negosiasi, pembelaan

2.1.1.3 Asas-Asas dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat (community development) sebagai suatu perencanaan sosial perlu berlandaskan pada asas-asas: (1) komunitas dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan; (2) mensirnegikan strategi

(27)

komprehensif pemerintah, pihak-pihak terkait (related parties) dan partisipasi warga; (3) membuka akses warga atas bantuan profesional, teknis, fasilitas, serta intensif lainnya agar meningkatkan partisipasi warga; dan (4) mengubah prilaku profesional agar lebih peka pada kebutuhan, perhatian, dan gagasan warga komunitas (Ife, 1995dalamNasdian, 2006).

Ife (1995) dalam Nasdian (2006) memaparkan 26 prinsip pengembangan masyarakat (community development) seperti berikut:

a. Prinsip ekologis, ada beberapa prinsip dalam kaitannya dengan masalah ekologi yaitu:

1) Holistik. Dimana prinsip ini melandaskan pada falsafah yang berorientasikan pada lingkungan dengan memperhatikan pada kehidupan dan alam atau lingkungan.

2) Keberlanjutan. Program pengembangan masyarakat berada dalam kerangka sustainability yang berupaya untuk mengurangi ketergantungan kepada sumber daya yang tidak tergantikan dan menciptakan alternatif serta tatanan ekologis, sosial, ekonomi, dan politik yang berkelanjutan di tingkat lokal. Prinsip ini membutuhkan penggunaaan secara minimal dari sumberdaya yang tidak dapat diperbarui. Hal ini berimplikasi pada masyarakat setempat dalam hal penggunaan lahan, gaya hidup, konservasi, transportasi, dan lain-lain.

3) Keanekaragaman. Merupakan salah satu aspek penting prinsip ekologis, dimana di alam keanekaragaman akan menjadi siklus kehidupan. Pada pembangunan masyarakat prinsip dalam ini menekankan penghargaan terhadap nilai-nilai permasalahan yang ada, desentralisasi, jejaring, dan komunikasi yang setara, serta teknologi yang mudah untuk diterapkan pad tingkat yang lebih rendah.

4) Pembangunan bersifat Organik. Penerapan pembangunan yang bersifat organik melalui suatu pengertian bahwa terdapat hubungan yang kompleks antara warga komunitas dan

(28)

lingkungannya. Komunitas lebih organik ketimbang mekanik karena cara kerja komunitas tidak mengikuti hukum sebab-akibat. 5) Keseimbangan. Di alam keseimbangan dinamis akan menjaga

keseimbangan alam secara keseluruhan. Dimana merubah keseimbangan ini akan mengubah tatanan kehidupan. Dalam sebuah sistem, kehilangan keseimbangan akan menimbulkan resiko kegagalan lingkungan, dalam perspektif pembangunan masyarakat prinsip keseimbangan diarahkan pada keseimbangan antara kepentingan global dan lokal, keadilan gender, responsibilitas, dan keadilan dalam hukum.

b. Prinsip keadilan sosial

6) Konfrontasi dengan Kebatilan Struktural. Prinsip ini mengakar pada perspektif keadilan sosial dalam pengembangan masyarakat. Seorang community workers harus dapat menyadari adanya cara dimana tekanan pada suatu kelas, gender, dan suku bangsa berlangsung kompleks. Seorang community workers perlu lebih kritis tehadap latar belakang warga komunitas, ras, jenis kelamin, sikap berdasarkan kelas warga komunitas, dan partisipasi warga komunitas pada struktur penindasan tersebut.

7) Memusatkan perhatian pada wacana yang merugikan. Wacana kekuasaan dan penindasan perlu menjadi perhatian dalam

community development. Worker perlu untuk memiliki

kemampuan mengidentifikasi dan menguraikan wacana kekuasaan dan untuk memahami bagaimana wacana tersebut secara efektif mengistimewakan dan memberdayakan sebagian orang, sekaligus juga memarginalkan dan menitikberdayakan sebagian orang yang lainnya.

8) Pemberdayaan. Makna pemberdayaan adalah “membantu” komunitas dengan sumberdaya, kesempatan, keahlian, dan pengetahuan agar kapasitas komunitas meningkat sehingga dapat berpartisipasi untuk menentukan masa depan warga komunitas.

(29)

9) Mendefinisikan kebutuhan. Prinsip ini sangat penting dalam menentukan prioritas kebutuhan pembangunan masyarakat. Ada dua hal dalam penentuan kebutuhan: (1) pembangunan masyarakat dilakukan atas dasar kesepakatan dari berbagai elemen, (2) memperhatikan preseden yang ditimbulkannya dan memperhatikan prinsip keadilan sosial dan keseimbangan ekologis.

10) Hak Asasi Manusia. Program pengembangan masyarakat harus mengacu kepada prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia yang meliputi hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk ikut serta dalam kehidupan kultural, hak untuk memperoleh perlindungan keluarga, dan hak untuk “self determination”.

c. Menghargai nilai-nilai lokal

11) Pengetahuan lokal. Prinsip ini mendasarkan pada pentingnya untuk memperhatikan pengetahuan lokal dalam pembangunan masyarakat, dimana masyarakat sampai dengan kelas bawah mampu mengidentifikasi dan melakukan validasi tentang pengetahuan tersebut.

12) Budaya lokal. Globalisasi budaya telah mengambil identitas budaya masyarakat di seluruh dunia, bahwa budaya lokal dapat menunjukan kemampuannya dalam mendukung pembangunan masyarakat, ini mengingat bahwa budaya lokal tidaklah statis namun dinamis. Bahkan prinsip ini sesuai dengan hak asasi manusia, inklusif berkelanjutan, dan juga diarahkan oleh masyarakat dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan. 13) Sumber daya lokal. Pemanfaatan sumber daya lokal lebih baik

daripada menggunakan sumberdaya atau bantuan dari pihak luar. Penggunaan ini mencakup seluruh bentuk, meliputi keuangan, teknis, sumber daya alam akan dapat mendorong bermacam-macam cara dalam pembangunan masyarakat.

14) Keterampilan lokal. Dalam pembangunan masyarakat “pihak luar” harus mengetahui ada ketrampilan lokal yang dapat dimanfaatkan.

(30)

Memaksimalkan ketrampilan lokal lebih baik dalam pembangunan masyarakat. Untuk itulah dalam melakukan pembangunan masyarakat harus berjalan dua arah antara luar dan masyarakat. 15) Menghargai proses lokal. Pemaksaan solusi spesifik, struktur atau

proses dari luar komunitas jarang dapat bekerja. Ini menjadi salah satu rasionalitas dari community development bahwa segala sesuatu tidak dapat bekerja dengan baik jika dipaksakan dari luar komunitas. Oleh karena itu pendekatan community development tidak dapat dipaksakan, tetapi harus terbangun dengan sendirinya dalam komunitas dengan cara yang sesuai dengan konteks spesifik dan sensitif terhadap kebudayaan masyarakat lokal, tradisi, dan lingkungan.

d. Proses

16) Proses, hasil, dan visi. Penekanan pada proses dan hasil menjadi isu utama dalam pembangunan masyarakat. Pendekatan pragmatis cenderung akan melihat hasil, sehingga bagaimana upaya untuk memperoleh hasil tersebut tidaklah begitu penting. Namun pendapat ini ditentang oleh banyak pihak, karena proses dan hasil pada hakekatnya merupakan dua hal yang saling berkaitan. Proses pada dasarnya harus merefleksikan hasil, demikian juga hasil merupakan refleksi dari proses. Dalam konteks ini, moral dan etika dalam memperoleh hasil akan menjadi pusat perhatian.

17) Keterpaduan Proses. Proses bekerja dikomunitas dan perlu “dekat” dengan penelitian dan pengkajian agar proses integrasi dapat dipertahankan.

18) Peningkatan kesadaran. Prinsip ini membantu anggota masyarakat dalam melakukan pencarian pontensi dalam kehidupan , menghubungkan dengan struktur yang ada, mendiskursus kekuatan, dan tekanan. Ada empat aspek atau tahap, yaitu menghubungkan anggota masyarakat dan politik, membangun hubungan dialogis, berbagi pengalaman dalam menghadapi tekanan dan membuka kesempatan untuk aksi. Prinsip ini

(31)

merupakan bagian penting dalam pemberdayaan dan juga pembangunan masyarakat.

19) Partisipasi. Partisipasi dalam pengembangan komunitas harus menciptakan peran serta yang maksimal dengan tujuan agar semua orang dalam masyarakat tersebut dapat dilibatkan secara aktif pada proses dan kegiatan masyarakat.

20) Konsensus dan kerjasama. Penerapannya adalah agar orang-orang yang terlibat dalam proses mencari penyelesaian terhadap suatu masalah dan betul-betul menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah yang baik. Pendekatan konsensus bekerja dengan persetujuan. Tujuannya menghasilkan solusi yang menjadi milik bersama. Pendekatan pengembangan komunitas berusaha membuat kerjasama pada tindakan masyarakat setempat, dengan cara membuat orang-orang bersama dan mencari untuk memberi imbalan pada prilaku kerjasama. Dengan berkoperasi akan mampu “sharing” perasaan dan permasalahan yang dihadapi sehingga dalam jangka panjang akan mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi bersama dalam komunitas.

21) Pembangunan Terpadu. Proses pengembangan masyarakat tidak berjalan secara parsial, tetapi merupakan satu kesatuan proses pembangunan yang mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, lingkungan, dan personal. Keenam aspek tersebut penting dan saling terkait satu sama lain. Program pengembangan masyarakat yang hanya menekankan satu aspek saja akan menghasilkan ketidakseimbangan dalam pembangunan.

22) Tanpa Kekerasan. Prinsip ini berusaha menemukan cara untuk melawan berbagai bentuk kekerasan atau paksaan yang nyata, seperti: militerisme, paksaan fisik dalam bentuk-bentuk seperti hukuman fisik, hukuman mati, kebrutalan polisi, dan lain-lain. Pengembangan masyarakat dilaksanakan tanpa kekerasan struktural, yakni dengan cara tanpa mengubah lembaga yang ada dan struktur sosial masyarakat.

(32)

23) Inklusif. Penerapan prinsip ini menekankan agar community workers tetap menghargai orang lain walaupun orang tersebut berlawanan pandangan. Meskipun tidak setuju dengan gagasan, nilai, dan politik suatu komunitas tetapi tetap menghargainya dan berupaya merangkulnya daripada mengasingkan mereka.

24) Membangun Komunitas. Prinisip ini mencari cara dimana setiap orang dapat memberikan kontribusi dan menjadi dihargai oleh yang lain. Oleh karena itu, program pengembangan masyarakat mencakup penguatan interaksi sosial di tingkat komunitas, mengajak kebersamaan, menterjemahkan melalui dialog, pemahaman, dan tindakan sosial.

e. Prinsip global dan lokal

25) Hubungan antara global dan lokal. Saat ini seluruh dunia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh globalisasi, sehingga tidak bisa lagi hidup, namun juga lokalitas menjadi fokus dalam pembangunan. Gerakan global akan berdampak pada seluruh komunitas dan memberikan kontribusi dalam permasalahan dan isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat. Sehingga, setiap community worker harus bisa memahami kondisi global dengan baik sebagaimana dia memahami kondisi lokal, serta bagaimana keduanya berinteraksi di tingkat komunitas.

26) Praktik anti penjajah. Penjajahan (kolonialisme) dapat mempengaruhi community worker di segala situasi. Penjajahan dapat menjadi suatu ideologi ekstrim yang menggiurkan, karena hanya dengan tahapan yang pendek dengan mempercayai bahwa

community worker adalah seseorang yang mempunyai sesuatu

yang ditawarkan dan dengan menghargai suatu latar belakang kebudayaan yang dimiliki dan pengalaman praktik menjajah. Ini akan mengabadikan dominansi penjajah.

(33)

2.1.1.4 Peran Serta Masyarakat

Pada prakteknya terdapat berbagai jenjang peran serta masyarakat, dimana jenjang ini ditentukan oleh seberapa jauh masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap seluruh proses penataan ruang. Peran serta masyarakat tertinggi adalah peran serta yang yang benar-benar memberikan otoritas pada komunitas atau masyarakat. sebagaimana dikatakan Arstein (1969) terdapat ladder of citizen participationatau tangga partisipasi masyarakat. hal ini dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Tangga Partisipasi Masyarakat

no Tangga/

Tingkatan Partisipasi

Hakekat Kesertaan Tingkatan

Pembagian Kekuasaan 1 Manipulasi Permainan oleh pihak tertentu Tak ada partisipasi

2 Terapi Sekedar agar masyarakat tidak

marah atau mengobati

3 pemberitahuan Sekedar pemberitahuan searah atau sosialisasi

Sekedar justifikasi agar masyarakat mengiyakan

4 Konsultasi Masyarakat didengar, tetapi tidak selalu dipakai sarannya

5 Penentraman Saran masyarakat diterima

namun tidak selalu

dilaksanakan

6 Kemitraan Timbal balik dinegosiasikan Tingkatan kekuasaan ada di masyarakat 7 Pendelegasian

kekuasaan

Masyarakat diberi kekuasaan (sebagian atau seluruh program)

8 Kontrol

masyarakat Sepenuhnya dikuasai oleh masyarakat

Sumber:Arstein (1969) dalamSetiawan (2003)2

Pada tabel tersebut menjelaskan bahwa berbagai tingkatan kesertaan dapat diidentifikasikan mulai dari tanpa partisipasi sampai pelimpahan kekuasaan. Pengelola tradisional selalu enggan untuk melewati tingkat tanpa partisipasi dan tokenism dengan keyakinan bahwa masyarakat biasanya apatis. Sebaliknya, masyarakat semakin meningkat kesadarannya dengan mengharapkan partisipasi yang lebih bermanfaat, termasuk pula pelimpahan sebagian kekuasaan.

Peran serta masyarakat dapat dilakukan dalam beberapa kali selama proses analisa dan perencanaan. Smith (1982) dalam Setiawan (2003) menyarankan bahwa perencanaan dapat dilakukan dalam tiga tahap yakni pertama, normatif.

(34)

Dimana keputusan diambil untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan. Kedua, strategik. Dimana keputusan dibuat untuk menentukan sesuai yang dapat dilakukan. Ketiga, operasional. Dimana keputusan dibuat untuk menentukan apa yang dilakukan. Menurut Smith banyak program partisipasi masyarakat dilakukan pada tahap operasional. Walaupun demikian Smith dan ahli lainnya seperti Korten (1983), Howell (1987) atau Pinkerton (1989) dalam Setiawan (2003) menyarankan bahwa kemitraan seharusnya dilakukan lebih awal dalam proses perencanaan, sehingga anggota masyarakat dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang lebih awal dan penting.

2.1.2 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

2.1.2.1 Definisi dan Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR

Kedermawanan perusahaan menurut Saidi (2003) sesungguhnya adalah kedermawanan sosial dalam kerangka kesadaran dan komitmen perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Tanggung jawab ini merupakan salah satu dari empat bentuk tanggung jawab yang dimilikinya, tiga lainnya adalah tanggung jawab perusahaan secara ekonomi untuk menghasilkan laba, tanggung jawab dalam menaati hukum dan tanggung jawab etis.

Menurut pandangan konsep modern, perusahaan tidak dapat dipisahkan dari para individu yang terlibat di dalamnya dan stakeholder di luar perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan bertanggung jawab secara internal bagi kelangsungan usahanya serta memiliki tanggung jawab sosial pada publik. Menurut pandangan ini, masyarakat adalah sumber dari segala sumber daya yang dimilikinya dan direproduksinya. Para profesional yang bekerja memiliki tanggung jawab ganda, kepada pemilik dan kepada publik. Konsep ini dikenal dengan non-fiduciary responsibility.

Pada filantropi, seseorang atau suatu pihak tidak sekedar memberi untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan mereka. Tetapi yang penting pemberian tersebut harus mempedulikan siapa, untuk apa, dan apa dampaknya agar benar-benar membawa manfaat bagi yang menerima. Pada konteks perusahaan, Steiner (1994) dalam Nursahid (2006) memberikan definisi tentang filantropi yakni pemberian sejumlah uang, waktu, produk atau jasa untuk membantu kebutuhan

(35)

atau untuk mendukung bekerjanya lembaga-lembaga menuju kesejahteraan manusia yang lebih baik.

Tanggung Jawab Sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuntungan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi keuangan, sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut (triple bottom line). Sinergi tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan.

Berdasar pada Trinidad and Tobaco Bureau of Standards (TTBS), Corporate Social Responsibility (CSR) diartikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komuniti lokal, dan masyarakat secara lebih luas (Sankat Clement K,

2002 dalam Zainal, 2006). Sedangkan The World Business Council for

Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR sebagai komitmen

bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komuniti-komuniti setempat dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup (fox, et al, 2002dalam Zainal, 2006). Terkait dengan definisi tersebut, beberapa hal yang dapat digaris bawahi yakni pertama, bahwa CSR merupakan komitmen dari bisnis atau usaha. Kedua, CSR berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi dan kualitas kehidupan masyarakat. Artinya bahwa model CSR hendaknya untuk pembangunan yang berkelanjutan, dimana tanggung jawab sosial perusahaan bukan hanya sebatas pada kedermawanan dari perusahaan, namun menyangkut pada pengelolaan CSR sehingga dapat memberikan dampak positif pada kualitas kehidupan komuniti lokal dan masyarakat serta kapasitas ekonomi. Perihal ketiga yakni karyawan dan keluarganya, komuniti lokal dan masyarakat secara luas dan keseluruhan merupakan dimensi-dimensi yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan CSR.3

3Rabin Ibnu Zainal.2006.Best Practices: Corporate Social Responsibility (CSR) “Sebuah pengalaman

(36)

Hess dan Siciliano juga memberikan penjelasan mengenai CSR dengan membedakannya melalui dua pendekatan yakni Classical Economy Approachdan Activist Approach (Hess dan Sicilliano, 1996:53-55 dalam Soemanto, 2007). Pendekatan The Classical Economy Approach melihat bahwa CSR dilakukan dengan mematuhi peraturan dan kode etik yang berlaku dalam masyarakat, yaitu tidak menyebabkan kerugian konsumen, pekerja, atau lingkungan sekitar, dengan tetap mengupayakan keuntungan perusahaan. Pendekatan kedua yakni Activist Approach melihat perusahaan memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada pemilik perusahaan, tetapi kepada semua pihak yang memiliki kepentingan atas perusahaan4.

Sementara itu, Mark Goyder (Iriantara, 2004:77 dalam Rahman, 2009) membagi bentuk CSR menjadi dua:

a) Membentuk tindakan atas program yang diberikan terhadap komunitas dan nilai yang menjadi acuan dari CSR. Pembagian ini merupakan tindakan terhadap luar korporat, atau kaitannya dengan lingkungan di luar korporat seperti komunitas dan lingkungan alam. Bagaimana sebuah korporat menerapkan dan atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan komunitas sekitarnya.

b) Mengarah ke tipe ideal yang berupa nilai dalam korporat yang dipakai untuk menerapkan atau mewujudkan tindakan-tindakan yang sesuai dengan keadaan sosial terhadap komunitas sekitarnya. Intrepetasi yang benar dari CSR adalah ekspresi dari tujuan perusahaan dan nilai-nilai dalam seluruh hubungan yang dibangun. Nilai-nilai yang ada diartikan berbeda dengan norma yang ada dalam perusahaan.

Menurut Rahman (2009) Bentuk program CSR memiliki dua orientasi. Pertama, internal yakni CSR yang berbentuk tindakan atas program yang diberikan terhadap komunitas. Kedua, eksternal yakni CSR yang mengarah pada tipe ideal yang berupa nilai dalam korporat yang dipakai untuk menerapkan atau

Palembang:Badan penerbit Fakultas Ekonomi Unsri di dukung oleh partenership for Governance Reform in Indonesia, Uni Eropa, dan P3EM FE Unsri.

4Bakdi Soemanto dkk.2007.Sustainable Corporation “implikasi hubungan harmonis perusahaan dan

(37)

mewujudkan tindakan-tindakan yang sesuai keadaan sosial terhadap komunitas sekitarnya.

Menurut Wibisono (2007) istilah Triple Bottom Line dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya “Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”. Elkington mengembangkan konsep triple bottom line dalam istilah economic prosperity (profit), environmental quality (planet) dansocial justice (people).

1. Profit(keuntungan)

Profit merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan utama dari setiap kegiatan usaha. Profit sendiri pada hakikatnya merupakan tambahan pendapatan yang dapat digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Sedangkan aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi biaya, sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat memberikan nilai tambah semaksimal mungkin.

2. People(masyarakat pemangku)

Menyadari bahwa masyarakat merupakan stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan mereka, terutama masyarakat sekitar, sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Maka sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat lingkungan, perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesarnya kepada masyarakat.

3. Planet (lingkungan)

Unsur ketiga yang mesti diperhatikan juga adalah lingkungan. Jika perusahaan ingin eksis dan akseptable maka harus disertakan pula tanggung jawab kepada lingkungan. Lingkungan sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang kehidupan. Hubungan dengan lingkungan adalah hubungan sebab akibat. Dimana jika manusia merawat lingkungan, maka lingkungan akan memberikan yang terbaik, begitu pula sebaliknya.

Lingkup penerapan CSR secara gagasan Prince of Wales International

Business Forum dalamWibisono (2007) mengusung lima pilar yakni:

(38)

Berkaitan dengan internal perusahaan untuk menciptakan SDM yang andal, di sisi lain, perusahaan juga dituntut melakukan pemberdayaan masyarakat.

2. Strengtening economies

Perusahaan harus memberdayakan ekonomi masyarakat sekitarnya, agar terjadi pemerataan kesejahteraan.

3. Assesing social chesion

Upaya menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar, agar tidak menimbulkan konflik.

4. Encourging good governance

Perusahaan dalam menjalankan bisnisnya mengacu pada Good Corporate

Governance(GCG).

5. Protecting the environment

Mengharuskan perusahaan untuk menjaga lingkungan sekitarnya

Dalam prakteknya di lapangan, menurut Rahman (2009) suatu kegiatan disebut CSR ketika memiliki sejumlah unsur berikut:

1. Continuity dan sustainability atau berkesinambungan dan berkelanjutan merupakan unsur vital dari CSR. Suatu kegiatan amal yang berdasar trend ataupun insidental, bukanlah CSR. CSR merupakan hal yang bercirikan pada long term perspective bukan instant, happening atau pun booming. CSR adalah suatu mekanisme kegiatan yang terencanakan, sistematis, dan dapat dievaluasi.

2. Community empowerment atau pemberdayaan komunitas. Membedakan

CSR dengan kegiatan yang bersifat charityatau pun philantrophysemata. Tindakan-tindakan kedermawanan meskipun membantu komunitas, tetapi tidak menjadikannya mandiri. Salah satu indikasi dari suksesnya sebuah program CSR adalah adanya kemandirian yang lebih pada komunitas, dibandingkan dengan sebelum program CSR hadir.

3. Two ways. Artinya program CSR bersifat dua arah. Korporat bukan lagi berperan sebagai komunikator semata, tetapi juga harus mampu mendengarkan aspirasi dari komunitas. Ini dapat dilakukan dengan need

(39)

assessment, yaitu sebuah survei untuk mengetahui needs, desire, interest danwantsdari komunitas.

Menurut Iriantara (2004) dalamRahman (2009), ada tiga perspektif terkait dengan CSR:

1. Kapital reputasi

Memandang penting reputasi untuk memperoleh dan mempertahankan pasar. CSR dipandang sebagai strategi bisnis yang bertujuan untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan dengan menjaga kepercayaan stakeholder.

2. Ekososial

Memandang stabilitas dan keberlanjutan sosial dan lingkungan sebagai strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis korporat.

3. Hak-hak pihak lain

Memandang konsumen, pekerja, komunitas yang terpengaruh bisnisnya dan pemegang saham, memiliki hak untuk mengetahui tentang korporat dan bisnisnya.

2.1.2.2 Motivasi dan Bentuk Penyaluran Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR

Kedermawanan sosial perusahaan juga berhubungan dengan beberapa hal, antara lain adalah motivasi yang mendorong perusahaan untuk melakukan kedermawanan sosial, cara pengambilan keputusan dan nilai-nilai yang akan dicapai dalam memberikan sumbangan. Hal-hal tersebut merupakan hal yang penting untuk diketahui dalam rangka menggali potensi dana lokal, karena selama ini ada kecendrungan dana lokal lewat sumbangan sosial perusahaan tersalurkan dalam area yang sangat variatif sesuai dengan keinginan perusahaan penyumbang5.

Menurut Onny S Prijono (1994) dalam Saidi (2003) dicatat bahwa sumbangan perusahaan pada dasarnya berbasis pada pemberian individu dan cukup sulit membedakan seorang pemilik atau ekskutif puncak dengan perusahaan yang diwakilinya. Sifatnya yang cenderung individual, motif sumbangan sosial

5Zaim Saidi dkk.2003.Sumbangan Sosial Perusahaan “Profil dan Pola Distribusinya di Indonesia Survei 226

(40)

yang diberikan perusahaan juga berorientasi pada sesuatu yang bersifat transendental. Sehingga dana yang tersalur dari perusahaan lebih mengarah pada kegiatan yang bersifat transeden seperti panti asuhan, panti jompo, tempat ibadah, dan bencana alam.

Menurut Steiner (1994) dalam Nursahid (2006) terdapat sejumlah alasan mengapa perusahaan memiliki program-program filantropi atau kedermawanan sosial yaitu pertama, untuk mempraktikan konsep “good corporate citizenship”. Kedua, untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan ketiga, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia terdidik. Kedermawanan sosial biasanya di dasari dua motif sekaligus, yakni: motivasi untuk menyenangkan atau membahagiakan orang lain (altruisme) pada satu sisi dan pada saat yang bersamaan terjadi pula bias kepentingan perusahaan di sisi lain.

Studi PIRAC menggambarkan pola-pola kedermawan perusahaan. Dilihat dari sifat dan bentuknya, sebagian besar sumbangan yang diberikan perusahaan yang bersifat insidentil dan dalam bentuk natura (in-kind).Sumbangan natura diberikan antara lain dalam bentuk: produk perusahaan, jasa profesional, pemakaian sarana perusahaan, peralatan bekas pakai, keterlibatan perusahaan dalam kepengurusan lembaga sosial, dorongan agar staf perusahaan menjadi volunteer, kampanye penggalangan dana di lingkungan perusahaan, dan beriklan di penerbitan yang dikelola lembaga swadaya masyarakat. Sementara sumbangan secara tunai diberikan dalam bentuk: hibah, joint promotion, iuran anggota, special event, payroll giving, dan zakat perusahaan.

Sejumlah model penyaluran sumbangan juga teridentifikasi dalam studi Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC). Ada empat model penyaluran sumbangan, yakni: pertama, perusahaan menjalankan kedermawanan secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial tanpa perantara. Kedua, sumbangan diberikan melalui organisasi atau yayasan sosial yang didirikan oleh perusahaan atau grupnya. Ketiga, perusahaan bermitra dengan pihak lain seperti LSM, instansi pemerintah, universitas dan media massa. Keempat, perusahaan ikut mendirikan atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan tertentu.

Figur

Tabel 1. Tiga Model Pengembangan Masyarakat

Tabel 1.

Tiga Model Pengembangan Masyarakat p.26
Gambar 1. Bagan Alir Kerangka Pemikiran Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan dalam Upaya Pengembangan Masyarakat

Gambar 1.

Bagan Alir Kerangka Pemikiran Analisis Pola Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Upaya Pengembangan Masyarakat p.53
Gambar 2.Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong

Gambar 2.Struktur

Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong p.68
Gambar 3. Struktur Organisasi BMT Swadaya Pribumi

Gambar 3.

Struktur Organisasi BMT Swadaya Pribumi p.70
Tabel 6. Fokus dan Cakupan Area CSR PT Holcim Indonesia Tbk

Tabel 6.

Fokus dan Cakupan Area CSR PT Holcim Indonesia Tbk p.83
Gambar 3. Tingkat Partisipasi Masyarakat

Gambar 3.

Tingkat Partisipasi Masyarakat p.96
Gambar 4. Tingkat Partisipasi Bagi Masyarakat yang Terkena Dampak CSR

Gambar 4.

Tingkat Partisipasi Bagi Masyarakat yang Terkena Dampak CSR p.97
Gambar 5. Tingkat Partisipasi Masyarakat yang Bukan Dampak CSR

Gambar 5.

Tingkat Partisipasi Masyarakat yang Bukan Dampak CSR p.98
Gambar 6. Tingkat Partisipasi Masyarakat Dampak CSR Berdasarkan Pelapisan  sosial

Gambar 6.

Tingkat Partisipasi Masyarakat Dampak CSR Berdasarkan Pelapisan sosial p.99
Gambar 9. Tipe Manipulatif Pada Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 9.

Tipe Manipulatif Pada Komunitas Bukan Dampak CSR p.101
Gambar 11. Tipe Terapi Pada Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 11.

Tipe Terapi Pada Komunitas Bukan Dampak CSR p.102
Gambar 13. Tipe Pemberitahuan Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 13.

Tipe Pemberitahuan Komunitas Bukan Dampak CSR p.103
Gambar 15. Tipe Konsultasi Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 15.

Tipe Konsultasi Komunitas Bukan Dampak CSR p.104
Gambar 17. Tipe Penentraman Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 17.

Tipe Penentraman Komunitas Bukan Dampak CSR p.105
Gambar 19. Tipe Kemitraan Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 19.

Tipe Kemitraan Komunitas Bukan Dampak CSR p.106
Gambar 21. Tipe Pendelegasian Kekuasaan Pada Komunitas Bukan Dampak CSR

Gambar 21.

Tipe Pendelegasian Kekuasaan Pada Komunitas Bukan Dampak CSR p.107
Gambar 23. Tipe Kontrol Masyarakat Pada Komunitas  Bukan  Dampak CSR

Gambar 23.

Tipe Kontrol Masyarakat Pada Komunitas Bukan Dampak CSR p.108
Tabel 19.Persentase Variabel Sosial Bagi Komunitas CSR Pelapisan

Tabel 19.Persentase

Variabel Sosial Bagi Komunitas CSR Pelapisan p.110
Gambar 1. PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik  Narogong

Gambar 1.

PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Narogong p.121
Gambar 8. Nasabah BMT Swadaya Pribumi  dengan usaha warung makanan

Gambar 8.

Nasabah BMT Swadaya Pribumi dengan usaha warung makanan p.122
Gambar 7. Nasabah BMT Swadaya Pribumi  dengan usaha beras

Gambar 7.

Nasabah BMT Swadaya Pribumi dengan usaha beras p.122

Referensi

Memperbarui...