• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori

1. Makanan Pendamping ASI

a. Definisi MP-ASI

MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Pedoman Gizi Seimbang, 2014). Makanan ini harus jadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. Hal ini menunjukkan bahwa makanan pendamping ASI berguna untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung dalam ASI. Dengan demikian cukup jelas bahwa makanan tambahan bukan sebagai pengganti ASI tapi untuk melengkapi atau mendampingi ASI (Waryana, 2010).

b. Kriteria MP-ASI

Menurut WHO Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang dianggap baik adalah apabila memenuhi beberapa kriteria hal berikut :

1) Waktu pemberian yang tepat, artinya MP-ASI mulai diperkenalkan

pada bayi ketika usianya lebih dari 6 bulan dan kebutuhan bayi akan energi dan zat-zat melebihi dari apa yang didapatkannya melalui ASI

(2)

2) Memadai, maksudnya adalah MP-ASI yang diberikan memberikan energi, protein dan zat gizi mikro yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak.

3) Aman, makanan yang diberikan bebas dari kontaminasi

mikroorganisme baik pada saat disiapkan, disimpan maupun saat diberikan pada anak. Cuci tangan sebelum memberikan makanan kepada anak.

Mulai pemberian MP-ASI pada saat yang tepat sangat bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang bayi serta merupakan periode peralihan ASI ekslusif ke makanan keluarga. (Nasar, dkk, 2011). Harus diperhatikan bahwa pemberian MP-ASI terlalu dini maka asupan gizi yang dibutuhkan oleh bayi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, sistem pencernaan bayi akan mengalami gangguan, seperti sakit perut, sembelit dan alergi. Selain itu, seorang bayi yang diberi MP-ASI dini akan sulit tidur pada malam hari. (Krisnatuti, dkk, 2004).

Pada saat bayi berusia 6 bulan, umumnya kebutuhan nutrisi tidak lagi terpenuhi oleh ASI semata khususnya energi, protein dan beberapa mikronutrien terutama zat besi, seng dan vitamin A sejalan dengan bertambahnya usia bayi. Pemberian MP-ASI yang tidak tepat waktu, terlalu dini diberikan ataupun terlambat dapat mengakibatkan hal-hal yang merugikan.

(3)

Tabel 2.1 Akibat pemberian MP- ASI yang tidak tepat waktu

Sumber : Nasar dkk, 2011

Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat diberikan pada saat anak usia 6 bulan. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan pada anak usia setelah 6 bulan sudah dapat menerima asupan makanan dengan baik. Anak yang diberi makanan pendamping ASI pada saat usia kurang dari 6 bulan, akan mempunyai risiko untuk terpapar diare (Depkes RI,2007).

Menurut Soetjiningsih (2010) pemberian MP-ASI yang terlalu dini dapat mengakibatkan :

1) Bayi lebih sering menderita diare. Hal ini disebabkan cara menyiapkan makanan yang kurang bersih, juga karena pembentukan zat anti oleh usus bayi belum sempurna.

2) Bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu. Keadaan ini terjadi akibat usus bayi masih permeabel, sehingga mudah dilalui oleh protein asing.

3) Terjadi malnutrisi/gangguan pertumbuhan anak. Bila makanan yang diberikan kurang bergizi dapat mengakibatkan anak menderita KEP dan dapat terjadi obesitas jika makanan yang diberikan mengandung kalori yang terlalu tinggi.

Terlalu dini (<4 bulan) Terlambat ( >7 bulan )

Resiko diare, dehidrasi Potensial untuk terjadinya gagal

tumbuh

Produksi ASI menurun Defisiensi zat besi

Sensitisasi alergi Gangguan tumbuh kembang

(4)

4) Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah kenyang dengan MP-ASI yang diberikan, maka frekuensi menyusu menjadi berkurang akibatnya dapat menurunkan produksi ASI.

Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, zat gizi terbagi menjadi dua, yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi makro adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil atau sedikit tetapi ada dalam makanan. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi mikro adalah mineral dan vitamin.

Gizi seimbang adalah makanan yang dikonsumsi oleh individu sehari-hari yang beraneka ragam dan memenuhi 5 kelompok zat gizi dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan (Erna, 2004). Konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur (Pedoman Gizi Seimbang, 2014). Lima kelompok zat gizi tersebut adalah sebagai berikut :

1) Karbohidrat

Karbohidrat adalah zat gizi yang terdiri dari tiga elemen, yaitu atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Karbohidrat merupakan sumber energi terbesar dalam tubuh dan merupakan komponen nutrient (zat gizi) terbesar dalam makanan sehari-hari. Karbohidrat dalam tubuh manusia

(5)

hanya < 1 persen (Devi, 2010). Menurut Erna (2004) dalam makanan karbohidrat terdapat dalam tiga jenis, antara lain :

a) Monosakarida

Monosakarida di dalam makanan ada tiga jenis yang mempunyai arti gizi yaitu glukosa, fruktosa dan galaktosa. Karbohidrat jenis ini terasa manis

b) Disakarida

Di dalam bahan makanan nabati terdapat dua jenis disakarida yang dapat dicerna dan yang tidak dapat dicerna. Disakarida yang dapat dicerna disebut zat tepung (amilum) dan dekstrin. Disakarida yang tidak dapat dicerna ialah selulosa, pentose, dan galaktosa. Sedangkan disakarida dibagi menjadi tiga jenis yang mempunyai arti gizi, yaitu sukrosa, maltose, dan laktosa.

c) Polisakarida

Polisakarida terdiri dari rantai panjang dengan ratusan atau ribuan unit monosakarida. Jenis dari polisakarida terdiri dari pati, dekstrin, selulosa dan glikogen (Devi, 2010)

Karbohidrat banyak terdapat dalam makanan kaya pati (seperti nasi, mi, roti, umbi-umbian), buah-buahan, dan sayuran. Setelah masuk ke dalam tubuh, karbohidrat dipecah menjadi glukosa, yang merupakan sumber energi siap pakai, sehingga mudah dimanfaatkan oleh otak (Apriadji, 2007). Jumlah karbohidrat yang dikonsumsi disesuaikan dengan kebutuhan tubuh sebagai sumber energi. Berdasarkan distribusi

(6)

energi, karbohidrat harus menyumbang sebanyak 50-65 persen energi total (Devi, 2010)

2) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori berkonsentrasi tinggi, selain itu lemak juga mempunyai 3 fungsi, diantaranya sebagai sumber lemak esensial, sebagai pelarut vitamin A, D, E, K, serta memberi rasa sedap dalam makanan (Waryana, 2010). Lemak merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan aktifitas fisik bagi anak dan balita. Kebutuhan energi ini akan terpenuhi jika konsumsi lemak/minyak hanya menyumbang 15 persen atau kurang dari total energi yang dibutuhkan perhari. Sampai umur dua tahun, lemak yang dikonsumsi oleh anak disamping sebagai sumber energi, harus dilihat juga dari segi fungsi strukturalnya.

Lemak akan menghasilkan asam-asam lemak dan kolestrol yang ternyata dibutuhkan untuk membentuk sel-sel membran pada semua organ. Organ-organ penting seperti retina dan sistem saraf pusat terutama disusun oleh lemak. Asam lemak yang sangat dibutuhkan oleh jaringan tubuh tersebut terutama adalah asam lemak yang esensial. Asam lemah yang esensial adalah asam lemak yang tidak dapat dibuat didalam tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan, terdiri dari asam Linoleat, linulenat dan arakhidonat (Nurcholis, 2013). Kebutuhan tubuh terhadap lemak ditinjau dari sudut fungsinya, lemak sebagai sumber utama energi,

(7)

sebagai sumber asam lemak ganda tak jenuh dan sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K (Erna, 2004).

3) Protein

Protein memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tubuh manusia membutuhkan 22 asam amino, namun hanya menghasilkan 13. Sembilan lainnya berasal dari makanan yang dikenal sebagai asam amino esensial (Prabantini, 2010). Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. Akan tetapi dalam praktik sehari-hari umumnya dapat ditentukan dari asalnya. Protein hewani biasanya mempunyai nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan protein nabati. Protein telur dan protein susu biasanya dipakai sebagai standar untuk nilai gizi protein.

Nilai gizi protein nabati ditentukan oleh asam amino yang kurang (asam amino pembatas), misalnya protein kacang-kacangan. Nilai protein dalam makanan orang Indonesia sehari-hari umumnya diperkirakan 60% dari pada nilai gizi protein telur (Sediaoetama, 2004).

4) Vitamin

Pada dasarnya dalam ilmu gizi, nutrisi atau yang lebih dikenal dengan zat gizi dibagi menjadi 2 macam, yaitu makronutrisi dan mikronutrisi. Makronutrisi terdiri dari protein, lemak, karbohidrat dan beberapa mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang besar. Sedangkan mikronutrisi (mikronutrient) adalah nutrisi yang diperlukan

(8)

tubuh dalam jumlah sangat sedikit (dalam ukuran miligram sampai mikrogram), seperti vitamin dan mineral (Sandjaja, 2009)

5) Mineral

Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan, berperan dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim (Almatsier, 2010).

c. Tahapan Pemberian MP-ASI

Menurut Depkes 2007 dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak, pemberian makanan pada bayi dan anak umur 6-24bulan yang baik dan benar adalah sebagai berikut :

1) Umur 6-12 bulan

a) Umur 6-9 bulan, kenalkan makanan pendamping ASI dalam bentuk

lumat mulai dari bubur susu sampai nasi tim lunak, 2 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sesuai umur :

6 bulan : 6 sendok makan 7 bulan : 7 sendok makan 8 bulan : 8 sendok makan

b) Umur 9-12 bulan, beri makanan pendamping ASI dimulai dari bubur nasi sampai nasi tim sebanyak 3 kali sehari. Setiap kali makan berikan sesuai umur

(9)

9 bulan : 9 sendok makan 10 bulan : 10 sendok makan 11 bulan : 11 sendok makan

c) Beri ASI terlebih dahulu kemudian makanan pendamping ASI

d) Pada makanan pendamping ASI, tambahkan telur/ ayam/ ikan/ tahu/

tempe/ daging sapi/ wortel/ bayam/ kacang hijau/ santan/ minyak pada bubur nasi

e) Bila menggunakan makanan pendamping ASI dari pabrik, baca cara

menyiapkannya, batas umur, dan tanggal kedaluarsa

f) Beri makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan, seperti bubur kacang hijau, biscuit, pisang, nagasari, dan sebagainya

g) Beri buah-buahan atau sari buah, seperti air jeruk manis dan air tomat saring

h) Bayi mulai diajarkan makan dan minum sendiri menggunakan gelas

dan sendok

2) Umur 1-2 tahun

a) Teruskan pemberian ASI sampai umur 2 tahun

b) Berikan nasi lembek 3 kali sehari

c) Tambahkan telur/ ayam/ ikan/ tempe/ tahu/ daging sapi/ wortel/ bayam/ kacang hijau/ santan/ minyak pada nasi lembek

d) Beri makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan, seperti kacang hijau, biskuit, pisang, nagasari, dan sebagainya

(10)

f) Bantu anak untuk makan sendiri

d. Faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI

1) Pengetahuan Ibu

Latar belakang pendidikan seseorang berhubungan dengan tingkat

pengetahuan, karena tingkat pendidikan akan mempengaruhi

kemampuan penerimaan informasi. Pemberian pengetahuan tentang pemberian MP-ASI yang baik dapat mengubah kebiasaan makan yang semula kurang menjadi lebih baik. Dengan pengetahuan yang cukup diharapkan seseorang dapat mengubah perilaku yang kurang benar sehingga dapat memilih bahan makanan bergizi serta menyusun menu seimbang sesuai dengan kebutuhan dan selera. Pada umumnya penyelenggaraan makan dalam rumah tangga sehari-hari dikoordinir oleh ibu. Ibu yang mempunyai pengetahuan tentang pemberian MP-ASI dan kesadaran gizi tinggi akan melatih kebiasaan makan yang sehat sedini mungkin kepada anaknya.

2) Status Ekonomi Sosial

Status ekonomi sosial keluarga sangat berhubungan erat dengan pemberian MP-ASI. Ukuran tingkat kesejahteraan keluarga dilihat dari komposisi pengeluaran untuk makanan dan non makanan. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi keluarga semakin berkualitas makanan yang dikonsumsi, begitu pula dengan pemberian MP-ASI akan lebih bermutu dari segi gizi dan keamanan.

(11)

3) Pengaruh tenaga kesehatan

Ada hubungan yang bermakna antara penolong persalinan dengan praktik pemberian MP-ASI dini, dimana ibu yang persalinannya ditolong oleh selain tenaga kesehatan akan 1,653 kali berisiko lebih dini memberikan MP-ASI kepada bayinya dibandingkan ibu yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan (Haeranah, 2004).

e. Permasalahan dalam pemberian MP-ASI

Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan, tetapi dengan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan masyarakat. Selain itu ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi berumur 6 bulan memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cernanya.

Menurut Ariani (2011) beberapa permasalahan dalam pemberian makanan bayi/anak umur 0-24 bulan :

1) Pemberian Makanan Pralaktal (Makanan sebelum ASI keluar)

Makanan pralaktal adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang, yang diberikan pada bayi yang baru lahir sebelum ASI keluar. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi, dan mengganggu keberhasilan menyusui.

(12)

2) Kolostrum dibuang

Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna kekuning-kuningan. Masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya. Kolostrum mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan mengandung zat gizi tinggi. Oleh karena itu kolostrum jangan dibuang.

3) Pemberian MP-ASI terlalu dini atau terlambat

Pemberian MP-ASI yang terlalu dini (sebelum bayi berumur 6 bulan) menurunkan konsumsi ASI dan gangguan pencernaan/diare. Kalau pemberian MP-ASI terlambat bayi sudah lewat usia 6 bulan dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak.

4) MP-ASI yang diberikan tidak cukup

Pemberian MP-ASI pada periode umur 6-24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Adanya kepercayaan bahwa anak tidak boleh makan ikan dan kebiasaan tidak menggunakan santan atau minyak pada makanan anak, dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi terutama energi dan protein serta beberapa vitamin penting yang larut dalam lemak.

5) Pemberian MP-ASI sebelum ASI

Pada usia 6 bulan, pemberian ASI yang dilakukan sesudah MP-ASI dapat menyebabkan ASI kurang dikonsumsi. Pada periode ini zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI. Dengan memberikan MP-ASI terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi

(13)

ASI berkurang, yang berakibat menurunnya produksi ASI . Hal ini dapat berakibat anak menderita kurang gizi. Seharusnya ASI diberikan dahulu baru MP-ASI.

6) Frekuensi pemberian MP-ASI kurang

Frekuensi pemberian MP-ASI dalam sehari kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

7) Pemberian ASI terhenti karena ibu kembali bekerja

Di daerah kota dan semi perkotaan, ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu yang bekerja karena kurangnya pemahaman tentang manajemen laktasi pada ibu bekerja. Hal ini menyebabkan konsumsi zat gizi rendah apalagi kalau pemberian MP-ASI pada anak kurang diperhatikan.

8) Kebersihan kurang

Pada umumnya ibu kurang menjaga kebersihan terutama pada saat menyediakan dan memberikan makanan pada anak. Masih banyak ibu yang menyuapi anak dengan tangan, menyimpan makanan matang tanpa tutup makanan/tudung saji dan kurang mengamati perilaku kebersihan dari pengasuh anaknya. Hal ini memungkinkan timbulnya penyakit infeksi seperti diare (mencret) dan lain-lain.

9) Prioritas gizi yang salah pada keluarga

Banyak keluarga yang memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar, seperti ayah atau kakak tertua dibandingkan

(14)

untuk anak baduta dan bila makan bersama-sama anak baduta selalu kalah.

Ketidaktahuan tentang akibat pemberian makanan pendamping ASI dini dan cara pemberiannya serta kebiasaan yang merugikan kesehatan. Secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab masalah gizi kurang pada anak, khususnya pada anak dibawah usia 2 tahun. Apabila seorang ibu mempunyai pengetahuan tentang cara pemberian makanan pendamping ASI yang benar akan lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan serta kesehatan anggota keluarganya (Notoatmodjo, 2003) f. Pengaruh pemanasan terhadap nilai gizi makanan

Penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Dalam pengolahan bahan pangan, penggunaan panas seringkali dilakukan dengan tujuan untuk menambah citarasa dan memperpanjang daya simpan produk pangan tersebut. Tetapi penggunaan panas pada pengolahan bahan pangan juga dapat mempengaruhi nilai gizi bahan pangan tersebut, termasuk zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Umumnya vitamin-vitamin (khususnya vitamin larut air) dan mineral tidak stabil terhadap panas.

Pengukusan dan perebusan adalah metode konvensional lainnya yang telah lama dikenal untuk memasak. Pada proses perebusan dapat menurunkan nilai gizi suatu bahan makanan lebih banyak dibandingkan dengan pengukusan. Bahan makanan yang langsung terkena air rebusan akan menurunkan nilai gizinya terutama vitamin-vitamin larut air (B

(15)

kompleks dan C), sedangkan vitamin larut lemak (ADEK) kurang terpengaruh (Arfah, 2013).

Salah satu pangan yang sangat rentan terhadap penurunan nilai gizi selama pemasakan adalah sayuran. Sayuran tidak mempunyai struktur biologis yang umum. Sayuran diperoleh dari berbagai bagian yang berbeda dari beranekaragam tumbuh-tumbuhan, misalnya daun, bunga, batang, buah. Sayur umumnya mempunyai beberapa sifat gizi yang hampir sama, yaitu berkadar air tinggi, dan mengandung karbohidrat tak dapat cerna (sellulosa) yang menyediakan serat dan merupakan sumber vitamin C, karoten, dan mineral terutama zat besi (Fe). Pengaruh utama pemasakan terhadap nilai gizi sayur-sayuran adalah hilangnya/rusaknya vitamin C, vitamin A dan Fe.

Kehilangan nilai gizi Fe pada sayuran hijau yang direbus (sayur bening) adalah 18%. Hasil penelitian Utami (1982) mengungkapkan bahwa kehilangan vitamin A selama pemasakan sayuran hijau dengan cara ditumis adalah 8-18%, sedangkan menurut Bender (1973) adalah 18%. Sayuran hijau dimasak dengan perebusan menyebabkan kehilangan vitamin A 14% (Nasoetion, Rihati, dan Sibarani, 1983 dalam Riyadi, 2013). Utami (1982) dalam Riyadi (2013) menyatakan bahwa sayuran hijau yang dimasak bersantan mengalami kehilangan vitamin A hanya sekitar 3 %, kandungan vitamin B1 pangan yang dimasak hilang sekitar 25% dan vitamin C hilang 50%.

(16)

Kentang merupakan umbi dari batang tanaman yang berkadar pati lebih tinggi daripada sebagian besar sayur-sayuran lain. Kehilangan vitamin

C akibat pengolahan pada kentang adalah 18-57%, tergantung cara

pengolahannya Penyeduhan dengan air panas kehilangan vitamin C-nya 18.5%, dikukus kehilangannya 20.3%, dan direbus kehilangannya 57.4% (Riyadi, 2013).

g. Penilaian Konsumsi Makanan

Konsumsi makanan merupakan faktor utama yang berperan terhadap status gizi seseorang. Metode pengukuran konsumsi pangan untuk individu, antara lain metode recall 24 jam, metode estimated food recall, metode penimbangan makanan (food weighing), metode dietary history, dan metode frekuensi makanan (food frequency).

Prinsip dari metode recall 24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini responden menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut.

Menurut Sanjur (1997) yang dikutip oleh Supariasa (2012) langkah-langkah pelaksanaan recall 24 jam adalah sebagai berikut:

a. Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan atau minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu, kemudian petugas melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran berat (gram).

(17)

b. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).

c. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan

(DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

Metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan dan

kekurangan. Adapun kelebihannya adalah sebagai berikut:

a. Mudah melaksanakannya serta tidak membebani responden. Biaya

relatif murah karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas.

b. Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden.

c. Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.

d. Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi

individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari. Kekurangan metode recall 24 jam antara lain:

a. Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari bila hanya dilakukan recall satu hari.

b. Ketepatan sangat tergantung pada daya ingat responden.

c. The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang

kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under

(18)

d. Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih atau terampil dalam menggunakan alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.

e. Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian. Keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara, maka untuk dapat meningkatkan mutu data recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari yang berbeda (tidak berturut-turut). Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1x24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif menggambarkan kebiasaan makanan individu (Supariasa, 2012).

2. Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutritur dalam bentuk variabel tertentu. Pengertian lain menerangkan status gizi merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya (Waryana, 2010). Faktor yang menyebabkan kurang gizi telah diperkenalkan UNICEF dan telah digunakan secara internasional, yang meliputi :

a. Pertama, penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan oleh makanan yang kurang tapi juga penyakit. Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau

(19)

demam dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang makannya tidak cukup baik maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Kenyataannya baik makanan maupun penyakit secara bersama-sama merupakan penyebab kurang gizi.

b. Kedua, penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial. Kondisi lingkungan adalah tersedianya air bersih, ventilasi yang memadai, lingkungan yang tidak dengan para perokok. Sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga.

Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Keunggulan antropometri antara lain alat yang digunakan mudah didapatkan dan digunakan, pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif, biaya relatif murah, hasilnya mudah disimpulkan, dan secara ilmiah diakui keberadaannya (Supariasa, 2012). Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Indeks Antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah Badan Menurut Umur (BB/U). Berat badan adalah

(20)

parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak.Kelebihan indeks ini antara lain lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis, berat badan dapat berfluktuasi, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil, dapat mendeteksi kegemukan. Kekurangan indeks BB/U adalah dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat oedema atau asites, memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak dibawah usia lima tahun, sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak pada saat penimbangan.

3. Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi

Gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan manusia yang berkualitas. Usia anak balita merupakan usia yang rawan, karena pertumbuhan pada usia anak balita sangat menentukan perkembangan fisik dan mental anak di usia remaja dan keberhasilan di saat dewasa. Pada usia ini anak juga berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan keadaan infeksi. Agar mencapai Gizi Seimbang maka perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (ASI), sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. MP-ASI yang diberikan harus mengandung zat gizi makro dan mikro yang cukup untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja.

(21)

Tubuh yang memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan mencapai status gizi yang optimal. Vitamin dan mineral diserap dalam sel dengan jumlah yang sangat kecil. Zat ini digunakan tubuh sebagai pengatur fungsi organ sehingga akan terjadi keteraturan dalam proses metabolism tubuh. Defisiensi zat mikro seperti vitamin dan mineral memberi dampak pada penurunan status gizi dalam waktu yang lama (Almatsier, 2010)

Konsumsi pangan yang tidak cukup energi biasanya juga kurang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. Konsumsi energi dan protein yang kurang selama jangka waktu tertentu akan menyebabkan gizi kurang, sehingga untuk menjamin pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan balita maka perlu asupan gizi yang cukup. Protein dalam hal ini mempunyai fungsi sebagai zat pembangun tubuh yaitu membentuk sel baru dan memperbaiki sel jaringan yang rusak. Oleh karena itu protein memiliki peran penting dalam pertumbuhan organ tubuh yang dapat berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Kondisi status gizi baik dapat dicapai bila tubuh memperoleh cukup zat-zat yang akan digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja untuk mencapai tingkat kesehatan optimal (Dewi, 2010). Di dalam sel, karbohidrat dan lemak mengalami proses pembakaran kimia yang akan menghasilkan energi. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal energi, sedangkan lemak menghasilkan 9,3 kkal energi. Oleh karena itu jika tubuh kekurangan karbohidrat dapat menyebabkan suplai energi

(22)

berkurang. Akibatnya, tubuh mencari alternatif zat gizi yang dapat menggantikan karbohidrat, yaitu lemak dan protein. Apabila peristiwa tersebut berlangsung terus tanpa suplai karbohidrat yang cukup, lemak tubuh akan terpakai dan protein yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan jadi berkurang. Akibatnya, tubuh semakin kurus dan menderita Kurang Energi Protein (KEP). Sebaliknya kelebihan konsumsi karbohidrat menyebabkan suplai energi berlebih. Energi yang berlebih tersebut akan disintesis menjadi lemak tubuh, sedangkan lemak yang telah tersedia dalam tubuh tidak terpakai untuk energi. Akibatnya, penimbunan lemak terus terjadi dan mengakibatkan kegemukan atau obesitas. Efek dari obesitas adalah timbulnya penyakit degeneratif, seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan stroke (Devi, 2010).

(23)

commit to user B. Kerangka Konsep Keterangan : = Variabel bebas = Variabel terikat Pemberian MPASI pada bayi usia 6-24

bulan

Gizi Seimbang

Karbohidrat & Lemak

Protein Vitamin & mineral Proses pembakaran kimia Nilai Gizi Hasil : Energi Memperbaiki sel-jaringan yang rusak Zat pengatur fungsi tubuh dan membantu proses

metabolisme

Status Gizi Bayi Waktu pemberian yang tepat Aman Pemanasan makanan (perebusan/pengukusan)

(24)

C. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi bayi usia 6-24 bulan

Gambar

Tabel 2.1 Akibat pemberian MP- ASI yang tidak tepat waktu

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya dilakukan uji signifikansi parameter dari setiap model regresi logistik univariat untuk mengetahui variabel-variabel prediktor mana yang berpengaruh

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul, “Hubungan

Pada kegiatan Peksiminas XIII tahun 2016 akan dipusatkan diKota Kendari yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan berbagai fasilitas yang dapat membantu para

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh independensi, keahlian profesional, pengalaman kerja dan motivasi terhadap efektivitas penerapan sistem pengendalian intern pada

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 29 April 2016 terhadap 10 orang anak remaja dari tingkat kelas di MTs Negeri 1 Lubuk Basung yang berbeda,

Karena dengan menerapkan marketing mix yang baik dan tepat maka ini akan dapat meningkatkan kepuasan konsumen sehingga timbul nya minat konsumen untuk terus mengunakan

&#34;eni&#34;bulkan keabnor&#34;alan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan &#34;eni&#34;bulkan keabnor&#34;alan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong

Melalui kegiatan pembelajaran menggunakan model Discovery Learning yang dipadukan dengan metode mind mapping dan pendekatan saintifik yang menuntun peserta didik