• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 14 Juli 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 14 Juli 2012"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

PERFORMA PERTUMBUHAN UDANG WINDU Penaeus monodon STRAIN

TUMBUH CEPAT YANG DIPELIHARA DENGAN KEPADATAN RENDAH

PADA KONDISI SALINITAS TINGGI

Muhammad N. Syafaat*, Syarifuddin Tonnek dan Abdul Mansyur Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau Jl. Makmur Dg Sitakka 129 Maros 90512, Sulawesi Selatan

*Penulis untuk korespondensi, E-mail: [email protected]

Abstrak

Diantara kendala yang dihadapi pada pemeliharaan udang windu adalah kondisi salinitas yang tinggi pada musim kemarau yang dapat mencapai > 50 ppt. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai performansi pertumbuhan udang windu tumbuh cepat yang dipelihara dengan kepadatan rendah pada kondisi salinitas tinggi. Satu unit tambak dengan

luas 4000 m2 disekat menjadi dua bagian dengan luasan masing-masing sekat ± 2000 m2. Tiap

sekat A dan B dimasukkan udang windu yang terlebih dahulu ditokolkan selama 60 hari. Sekat A ditebari tokolan udang windu tumbuh cepat dan sekat B dimasukkan udang windu kontrol dengan berat awal rata-rata 3,69 g (A) dan 2,13 g (B) dan kepadatan masing-masing 2 ekor/meter.

Sampling dilaksanakan tiap 2 minggu untuk mengukur berat rata-rata dengan lama pemeliharaan

selama 22 minggu atau 5 bulan 2 minggu. Pada akhir penelitian diambil sampel sebanyak 100 ekor/sekat untuk mengetahui sex rasionya. Pengukuran kualitas air berupa salinitas, suhu, dan pH dilakukan secara insitu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang windu yang dipelihara baik pada perlakuan A (tumbuh cepat) maupun perlakuan B (kontrol) mampu bertahan hidup pada kondisi salinitas tinggi (>40 ppt) yang berlangsung selama 4 bulan dan dapat bertumbuh. Pada perlakuan A diperoleh berat akhir rata-rata dan produksi yang lebih tinggi dibanding pada perlakuan B, namun nilai FCR dan sintasan pada perlakuan B lebih baik.

Kata kunci: pertumbuhan, udang windu, kepadatan rendah, salinitas tinggi Pengantar

Udang windu sebagai salah satu komoditas andalan perikanan senantiasa mendapat perhatian untuk peningkatan produksi ditengah berbagai macam kendala yang dihadapi dalam pembudidayaannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perakitan strain unggul melalui selektif breeding. Selektif breeding dilaksanakan untuk mendapatkan calon induk udang windu dengan sifat fenotipe dan genotipe yang lebih baik (Wardana et al., 2008). Induk hasil selektif

breeding diharapkan mampu menghasilkan larva yang berkualitas dengan tingkat pertumbuhan

yang baik dan tahan terhadap penyakit selama pemeliharaan. Pada tahun 2010, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, berhasil memproduksi larva udang windu unggul dengan karakter tumbuh cepat dan SPF.

Keberhasilan produksi benur udang windu tumbuh cepat ini perlu ditindaklanjuti dengan serangkaian uji coba pemeliharaan di tambak untuk melihat performansinya sebelum diperkenalkan kepada masyarakat. Salah satu teknik pemeliharaan udang windu yang banyak diaplikasi petambak adalah budidaya dengan kepadatan rendah. Pemeliharaan udang windu dengan kepadatan rendah diharapkan mengurangi kompetisi pakan dan pemangsaan diantara udang, sehingga diperoleh pertumbuhan dan sintasan yang lebih tinggi. Mansyur & Mangampa (2007) menyebutkan bahwa dengan kepadatan rendah petambak dapat menghasilkan ukuran panen yang lebih besar dengan nilai jual yang memadai. Pemeliharaan dengan kepadatan rendah juga diharapkan menjadi satu teknologi standar dalam pemeliharaan udang windu di tambak untuk dipersiapkan sebagai calon induk.

Diantara kendala yang dihadapi selama pemeliharaan udang windu di tambak, yaitu kondisi salinitas yang tinggi pada musim kemarau yang dapat mencapai > 50 ppt. Menurut Ye et

al. (2009), salinitas merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat penting dalam budidaya

perairan. Meskipun udang windu yang dikenal bersifat euryhaline mampu bertahan pada kisaran salitas 1–57 ppt (Chen, 1990 cit Ye et al., 2009), namun dijelaskan oleh Ye et al. (2009) bahwa level optimal salinitas untuk pertumbuhan, kelangsungan hidup dan efisiensi produksi adalah kerapkali bersifat spesifik spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi

(2)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

mengenai performansi pertumbuhan udang windu tumbuh cepat yang dipelihara dengan kepadatan rendah pada kondisi salinitas tinggi.

Bahan dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan di instalasi tambak Takalar, Balitbang budidaya air payau,

Maros. Satu unit tambak dengan luas 4000 m2 disekat menjadi dua bagian dengan luasan

masing-masing sekat adalah 2000 m2. Tiap sekat A dan B ditebari udang windu yang telah ditokolkan

selama 60 hari. Sekat A ditebar udang windu tumbuh cepat dan sekat B dimasukkan udang windu kontrol dengan berat awal rata-rata 3,69 g (sekat A) dan 2,13 g (sekat B) dan kepadatan masing-masing 2 ekor/meter. Sampling dilaksanakan setiap 2 minggu untuk mengukur berat rata-rata dengan lama pemeliharaan 22 minggu atau 5 bulan 2 minggu. Pada akhir penelitian, diambil sampel sebanyak 100 ekor/sekat untuk mengetahui sex rasionya.

Kegiatan penelitian dimulai dengan persiapan tambak sesuai dengan protap persiapan budidaya udang, yaitu: pengeringan/pengolahan tanah dasar, pemberantasan hama, dan pengapuran dosis 250–300 kg/Ha. Selanjutnya, dilakukan pemasukan air dan aplikasi klorin. Setelah aplikasi klorin dilakukan pemupukan menggunakan pupuk anorganik urea dan TSP (1:1) dosis 50-100 kg/ha. Pemberian probiotik hasil fermentasi diberikan tiap 3 hari setelah memasuki 2 bulan masa pemeliharaan sampai akhir penelitian. Kultur bakteri probiotik dengan dosis rata-rata 3,5–5,5 l/Ha dikultur melalui proses fermentasi selama 3 hari dengan media tepung ikan, dedak halus, yeast, dan molase, serta air tambak. Dosis dan metode media fermentasi sesuai dengan pedoman yang sudah ada.

Pengukuran kualitas air berupa salinitas, suhu, dan pH dilakukan secara insitu. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik dan dibahas secara deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Beberapa parameter seperti pertumbuhan, sintasan, produksi, FC, dan sex rasio disajikan pada Tabel 1. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada perlakuan A diperoleh berat akhir rata-rata dan produksi yang lebih tinggi dibanding pada perlakuan B, namun nilai FCR dan sintasan pada perlakuan B lebih baik.

Tabel 1. Pertumbuhan, sintasan, produksi, FCR dan sex rasio yang diperoleh pada akhir

penelitian.

Parameter Perlakuan

A B

Luas tambak (m2) 2000 2000

Padat penebaran (ek/m) 2 2

Berat awal rata-rata (gr/ekor) 3,69 2,13

Berat akhir rata-rata (gr/ekor) 29,67±5,501 22,06±4,515

Pertumbuhan Mutlak (gr) 25,98 19,93

Laju pertumbuhan harian (gr/hari) 0,18 0,14

Sintasan (%) 84,03 93,8 Produksi (kg) 99,72 82,76 FCR 2,26 1,82 Size (ek/kg) 33,7 45,33 Sex rasio (♂ : ♀) 53 : 47 57 : 43 Berat rata-rata (♂) 27,96±3,373 21,3±3,972 Berat rata-rata (♀) 31,61±6,711 23,05±5,025 Pembahasan

Pertumbuhan dan Sintasan

Pertumbuhan Udang windu selama pemeliharaan diperoleh berat akhir rata-rata untuk perlakuan A (29,67 g/ekor), sedangkan perlakuan B (22,06 g/ekor) dengan laju pertumbuhan harian untuk A (0,18 g/hari) dan B (0,14 g/hari) (Tabel 1). Pertumbuhan yang diperoleh lebih lambat dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan oleh Sundadarajan et al. (1979) yang memelihara P. monodon di tambak tanah dengan padat penebaran 2 ekor/m, dipelihara selama 80

(3)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

hari tanpa pemberian pakan tambahan diperoleh berat akhir rata-rata 32.26 g (berat awal rata-rata 0,5 g) dengan laju pertumbuhan harian sebesar 0,39 g/hari. Salah satu faktor yang diduga menyebabkan rendahnya pertumbuhan udang windu yang diperoleh adalah kondisi salinitas yang tinggi selama pemeliharaan (Gambar 1). Pada salinitas yang tinggi, transformasi energi banyak dimanfaatkan untuk proses osmoregulasi daripada untuk pembentukan daging, sehingga pertumbuhan menjadi lambat (Gunarto et al., 2010). Penaeus monodon mengalami proses osmoregulasi yang efisien pada kisaran salinitas 15-30 ppt dan proses isosmotik pada kisaran 23-25 ppt (Cawthorne et al., 1983 dalam Allan & Maguire, 1992; Pillay,1993). Salinitas optimum untuk budidaya P. monodon adalah 25 ppt (20-30 ppt), perubahan salinitas sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan energi dalam tubuh udang (Ye et al., 2009).

Gambar 1. Grafik pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon) selama penelitian (▲:

Tumbuh cepat, ■ : Kontrol ).

Sintasan yang diperoleh pada perlakuan A, yaitu 84,03%, lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan B sebesar 93,8%. Nilai sintasan yang tinggi pada kedua perlakuan, yakni (>80%), meskipun dipelihara pada kondisi salinitas tinggi, dimungkinkan karena udang windu bersifat euryhaline dan teknologi budidaya menggunakan kepadatan rendah disertai pemberian pakan tambahan, sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup meskipun pertumbuhan yang diperoleh tidak optimal. Krants & Norris (1975) dalam Sundadarajan et al. (1979) mengemukakan bahwa sintasan 60–80% pada budidaya udang windu dapat diperoleh jika dipelihara pada kondisi yang sesuai selama pemeliharaan tanpa adanya predator dan temperatur serta salinitas berada pada sub-optimal.

Produksi dan FCR

Produksi yang diperoleh untuk perlakuan A sebesar 99,72 kg (498,6 kg/ha) dan B sebesar 82,76 kg (413,8 kg/ha). Produksi udang yang dipelihara dengan teknologi ekstensif dapat mencapai 1000 kg/ha pada saat panen dan panen bisa dilakukan 3 kali dalam setahun (Lee dan Wickins, 1992). Sebagai perbandingan, produksi yang diperoleh pada pemeliharaan udang windu dengan kepadatan 2 ek/m pada kisaran salinitas (10,9- 22,42 ppt) sebesar 514,7 kg/ha (1000– 1500 kg/ha/thn) (Sundararajan et al.,1979). Chakraborthi et al. (1986) melaporkan produksi udang windu yang diperoleh pada tiga lokasi berbeda berkisar 250–329,3 kg/ha atau 500–987,9 kg/ha/thn dengan kisaran salinitas 5-30 ppt dan kepadatan 4 ek/m. Terlihat bahwasanya produksi yang diperoleh pada kondisi salinitas tinggi (>40 ppt) cenderung lebih rendah dibandingkan dengan produksi pada kondisi salinitas yang lebih rendah.

FCR untuk perlakuan A dan B, yaitu berturut-turut 2,26 dan 1,82. Nilai FCR yang diperoleh cukup tinggi, hal ini diduga karena kondisi lingkungan kurang mendukung khususnya salinitas yang relatif tinggi selama pemeliharaan. Pada salinitas yang tinggi, transformasi energi banyak dimanfaatkan untuk proses osmoregulasi daripada untuk pembentukan daging, sehingga pertumbuhan menjadi lambat (Gunarto et al., 2010). Perubahan salinitas sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan energi dalam tubuh udang (Ye et al., 2009).

0 5 10 15 20 25 30 35 60 74 90 106 120 135 149 163 177 190 205 219 228 P e rt u m b u h a n ( g )

(4)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

Sex Ratio

Rasio perbandingan antara jantan dan betina yang diperoleh pada akhir penelitian relatif seimbang pada masing-masing perlakuan dimana sex ratio untuk perlakuan A (53 : 47) dan perlakuan B (57 : 43). Hasil pengamatan juga menunjukkan berat rata-rata betina untuk masing-masing perlakuan terlihat lebih berat dibanding jantan. Pada perlakuan A, berat rata-rata betina 31,61 g dan jantan 27,96 g. Pada perlakuan B, berat rata-rata betina 23,05 g dan jantan 21,3 g. Kualitas Air

Data monitoring kualitas air berupa suhu, salinitas, dan pH selama penelitian disajikan dalam bentuk grafik sebagaimana berikut ini:

Gambar 2. Pengukuran salinitas selama penelitian dengan interval tiap 14 hari.

Gambar 3. Pengukuran suhu selama penelitian dengan interval tiap 14 hari.

Gambar 4. Pengukuran pH selama penelitian dengan interval tiap 14 hari.

Salinitas tertinggi selama pemeliharaan, yaitu 58 ppt pada hari ke-115 (3-10-2011). Kondisi salinitas tinggi pada hari ke-115 diperparah dengan nilai pH yang juga tinggi, namun suhu perairan

berada pada kisaran optimal yaitu 28oC. Salinitas yang tinggi dapat mengakibatkan gas-gas

kurang terlarut seperti oksigen, sehingga jika salinitas meningkat maka ketersediaan oksigen terlarut berkurang (Irianto, 2005). Kelarutan gas-gas akan semakin rendah jika bersamaan dengan tingginya salinitas, suhu perairan juga tinggi (Tabel 2).

7.4 7.6 7.8 8 8.2 8.4 8.6 8.8 9 9.2 1 1 4 2 8 4 3 5 6 7 0 8 4 9 8 1 1 5 1 3 0 1 4 5 1 6 9 P h Hari 0 10 20 30 40 50 60 1 1 4 2 8 4 3 5 6 7 0 8 4 9 8 1 1 5 1 3 0 1 4 5 1 6 9 S a lin it a s ( p p t) Hari 0 5 10 15 20 25 30 35 40 1 1 4 2 8 4 3 5 6 7 0 8 4 9 8 1 1 5 1 3 0 1 4 5 1 6 9 S u h u ( O C ) Hari

(5)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

Tabel 2. Kelarutan oksigen dalam air (mg/l) pada suhu dan salinitas yang bervariasi pada tekanan udara yang jenuh 1 atm.

Suhu (oC) Salinitas (ppt) 0 8,75 17,5 26,25 35 0 14,6 13,8 13,0 12,1 11,3 5 12,8 12,1 11,4 10,7 10,0 10 11,3 10,7 10,1 9,6 9,0 15 10,2 9,7 9,1 8,6 8,1 20 9,2 8,7 8,3 7,9 7,4 25 8,4 8,0 7,6 7,2 6,7 30 7,6 7,3 6,9 6,5 6,1 35 7,1 - - - - 40 6,6 - - - -

(Sumber: Munro (1978) cit Irianto (2005))

Kondisi salinitas tinggi (> 40 ppt) selama penelitian yang berlangsung lebih dari 4 bulan (Gambar 2) masih dapat ditoleransi oleh udang windu yang dipelihara dan dapat bertumbuh (Gambar 1). Hal ini dimungkinkan karena udang windu termasuk organisme perairan yang bersifat euryhaline. Menurut Chen (1990) cit Ye et al. (2009), P. monodon memiliki kisaran toleransi yang luas terhadap salitas yaitu 1–57 ppt. Setiap organisme perairan, memiliki batas toleransi terhadap salinitas. Meskipun organisme perairan dapat hidup pada kondisi yang melewati batas optimal, namun pertumbuhan dan reproduksi mereka akan terpengaruh (Pillay, 1993). Pertumbuhan yang baik pada udang windu diperoleh antara 10-25 ppt (Pillay, 1993), sementara Liao (1986) cit Ye et

al. (2009) menyebutkan bahwa kisaran salinitas yang sesuai untuk budidaya udang windu, yaitu

10–35 ppt. Afrianto & Liviawaty (1991) menyebutkan bahwa salinitas air yang cocok untuk digunakan mengisi tambak budidaya udang windu berkisar antara 15-20 ppt.

Selama masa pemeliharaan dalam kondisi salinitas tinggi, parameter kualitas air lainnya seperti suhu dan pH sempat mencapai batas optimum. Nilai suhu tertinggi diperoleh pada hari

ke-145 (2-11-2011) yang mencapai 34oC dan Nilai pH tertinggi, yaitu 9 diperoleh pada hari ke-43 s/d

56 dan hari ke-98 s/d 115. Boyd (1990) dalam Ferreira et al. (2011) menyebutkan nilai suhu yang

direkomendasikan, yaitu 28-300C dan nilai pH berkisar 8-9.Peningkatan nilai suhu dan pH yang

melebihi batas optimum bersamaan dengan tingginya kadar salinitas dapat memperburuk kondisi perairan seperti rendahnya kelarutan oksigen dalam perairan (Tabel 2). Kondisi salinitas yang tinggi selain berpengaruh terhadap kelarutan gas-gas juga diduga berpengaruh terhadap pH perairan. Menurut Allan & Maguire (1992), pada beberapa kasus didapatkan bahwa penurunan nilai salinitas kemungkinan dibarengi dengan penurunan pH. Hasil pengamatan nilai salinitas dan pH selama penelitian ini juga cenderung menunjukkan hal tersebut, di mana pada hari ke-115 nilai salinitas yang tinggi bersamaan dengan nilai pH yang tinggi pula dan selanjutnya pH cenderung mulai menurun bersamaan dengan penurunan nilai salinitas (Gambar 2 dan 4).

Salah satu upaya penanganan yang dapat dilakukan pada kondisi suhu tinggi, yaitu penggunaan kincir yang berfungsi untuk menghomogenkan kondisi perairan tambak melalui pengadukan selain membantu difusi oksigen ke dalam air. Selama masa pemeliharaan, tidak digunakan kincir karena udang dipelihara dengan kepadatan rendah dan pertimbangan efisiensi. Selain itu, aplikasi probiotik di tambak juga merupakan salah satu upaya untuk menunjang keberhasilan budidaya udang windu pada kondisi lingkungan yang ekstrim misalnya pada kondisi salinitas tinggi. Menurut Gunarto & Hendrajat (2008), penggunaan probiotik dalam budidaya di tambak merupakan keharusan dalam SOP (standard operating procedure), di samping faktor-faktor lain, seperti penggunaan benur berkualitas dan bersifat SPF, penggunaan tandon atau sistem resirkulasi, penerapan biosekuritas, persiapan tambak maksimal, penggunaan pakan berkualitas, dan lainnya.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Udang windu yang dipelihara, baik Perlakuan A (kontrol) maupun perlakuan B (strain tumbuh cepat) mampu bertahan hidup pada kondisi salinitas tinggi (>40 ppt) yang berlangsung selama 4 bulan dan dapat bertumbuh. Pada perlakuan A diperoleh berat akhir rata-rata dan produksi yang lebih tinggi dibanding pada perlakuan B, namun nilai FCR dan sintasan pada perlakuan B lebih baik.

(6)

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

,

14 Juli 2012

Saran

Teknik penjarangan dan pemberian pakan tambahan, sebaiknya diaplikasikan selama pemeliharaan udang windu dalam kondisi salinitas tinggi untuk menunjang keberhasilan budidaya khususnya budidaya skala tradisional. Selain itu, aplikasi probiotik dan pengoperasian kincir selama kondisi salinitas tinggi juga dianjurkan untuk membantu menjaga kestabilan perairan. Daftar Pustaka

Afrianto, E. & E. Liviawaty. 1991. Teknik pembuatan tambak udang. Penerbit kanisius. Yogyakarta. 132 hal.

Allan,G.L. & G.B. Maguire. 1992. Effects of pH and Salinity on survival, growth, and osmoregulation in Penaeus monodon Fabricius. Aquaculture 107:33-47.

Chakraborti, R.K., D.D. Halder, N.K. Das, S.K. Mandal & M.L. Bowmik.1986. Growth of Penaeus

monodon fabricius under different environmental conditions. Aquaculture 51:189-194.

Ferreira, N.C., C. Bonetti & W.Q. Seiffert. 2011. Hydrological and Water Quality Indices as management tools in marine shrimp culture. Aquaculture 318 (425-433).

Gunarto., Muliani, & A. Mansyur. 2010. Pengaruh aplikasi sumber C-karbohidrat (Tepung tapioka) dan fermentasi probiotik pada budidaya udang windu penaeus monodon pola intensif di tambak. Jurnal Riset Aquaculture 5(3):393-409.

Gunarto & E.A. Hendrajat. 2008. Budidaya udang vanamei, Littopenaeus vannamei pola semi intensif dengan aplikasi beberapa jenis probiotik komersial. Jurnal riset akuakultur Vol.3(3): 339-349.

Irianto, A. 2005. Patologi ikan teleostei. Gadjah mada university press. 255 hal.

Lee, D.O’C. & J.F. Wickins. 1992. Crustacean farming. John Wiley & Sons,Inc,New York. 392 hal. Mansyur, A.& M. Mangampa. 2007. Membangkitkan kembali gairah petambak melalui budidaya

udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan kepadatan rendah. Media akuakultur 2(2):62-66.

Murdjani, Z. Arifin, D. Adiwijaya, U. Komaruddin, A. Nur, A. Susanto, A. Taslihan, K. Ariawan, M. Mardjono, E. Sutikno, Supito, M.S. Latief, C. Cokarkin & T.P. Proyoutomo. 2007. Penerapan best management practices (BMP) pada budidaya udang windu (Penaeus monodon Fabricus) intensif. Departemen kelautan dan perikanan, Direktorat jenderal perikanan budidaya, Balai besar pengembangan budidaya air payau, Jepara. 67 hal.

Pillay, T.V.R. 1993. Aquaculture (Principles and Practices). Fishing News Books, A division of Blackwell Scientific Publication Ltd. 575 hal.

Sundararajan, D., S.V.C. Bose & V. Venkatesan. 1979. Monoculture of tiger prawn, Penaeus

monodon fabricius, in a brackishwater pond at madras,India. Aquaculture 16:73-75.

Suyanto,S.R. & A. Mujiman. 1982. Budidaya Udang Windu. Penebar swadaya. Jakarta. 213 hal. Wardana, I.K., A. Muzaki, Fahrudin, I.G.N. Permana & Haryanti. 2008. Selektif breeding udang

windu Penaeus monodon dengan karakter pertumbuhan dan SPF (specific pathogen free).

Jurnal Riset Aquaculture 3(3):301-312.

Ye, L., S. Jiang, Q. Yang, W. Wen & K. Wu. 2009. Effects of salinity on growth and energy budget of juvenile Penaeus monodon. Aquaculture 290:140-144.

Tanya Jawab -

Gambar

Tabel 1.   Pertumbuhan,  sintasan,  produksi,  FCR  dan  sex  rasio  yang  diperoleh  pada  akhir  penelitian
Gambar 1. Grafik  pertumbuhan  udang  windu  (Penaeus  monodon)  selama  penelitian  ( ▲ :  Tumbuh cepat,  ■  : Kontrol )
Gambar  2.  Pengukuran  salinitas  selama  penelitian  dengan  interval  tiap  14 hari

Referensi

Dokumen terkait

Morfologi koloni bakteri Vibrio patogen yang menyerang pada kasus Vibriosis umumnya berwarna hijau (green colony) jika ditumbuhkan di media agar-agar TCBS dengan

Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat mengetahui parameter físika, kimia dan biologi perairan pada zona perairan Teluk Jeneponto, untuk kemudian menganalisis

Morfologi Danau Batur yang menurut Hehanussa & Haryani (2009) merupakan tipe danau tertutup (enclosed lake) dengan karakteristik tidak ada outlet dengan

Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar materi genetik Chaetoceros hasil penelitian mengandung materi genetik yang sama dengan Chaetoceros yang ada

Berbagai penelitian mengenai pasca panen perikanan telah lama dilakukan di Indonesia. Pada umumnya, penelitian yang dilakukan terkait dengan aspek kimiawi pada ikan dan

Menurut Siahainenia (2008), tingginya populasi kepiting bakau berukuran kecil di Mayangan diduga akibat rendahnya kelimpahan makanan alami yang terkait dengan daya

Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan , 14 Juli 2012 Sintasan yang diperoleh pada penelitian ini berkisar 79,35 - 82,90% lebih rendah

Peningkatan kandungan bahan organik air tambak yang tidak dibarengi dengan penurunan total alkalinitasnya seperti pada petak tambak B2 dan B3, ternyata menghasilkan rata-rata sintasan